Pusat Sejarah Islam
Bab 35 dari 55

Ar-Raji', Bi'r Ma'unah & Bani an-Nadhir

Dua musibah menimpa para sahabat pengajar Al-Qur'an di ar-Raji' dan Bi'r Ma'unah. Bani an-Nadhir berkhianat lalu diusir. Setelah itu ada Dzat ar-Riqa', Badar al-Akhirah dan ghazwah Dumatul Jandal.

3–5 HSumber: Ibnu Hisyam
Sekilas

Isi bab ini

Bab ini memuat ar-Raji', Bi'ru Ma'unah, pengepungan dan pengusiran Bani an-Nadhir, Perang Dzatu ar-Riqa', Badar terakhir, dan Daumatul Jandal menurut Ibnu Hisyam, termasuk kisah Khubaib dan Zaid, ayat-ayat yang turun sesudah peristiwa-peristiwa itu, shalat khauf, dan kisah Jabir.

Ar-Raji'

Enam sahabat berangkat bersama utusan Adhal dan al-Qarah; Khubaib bin 'Adi dan Zaid bin ad-Datsinah dijual di Makkah.

Bi'ru Ma'unah

Al-Mundzir bin 'Amr berangkat bersama empat puluh sahabat pilihan; hanya Ka'ab bin Zaid yang selamat dari medan.

Bani an-Nadhir

Dikepung enam hari menurut Ibnu Hisyam; mereka pergi ke Khaybar dan Syam, dan hanya dua orang yang masuk Islam.

Dzatu ar-Riqa' dan Badar terakhir

Shalat khauf di Nakhl, lalu beliau menunggu Abu Sufyan di Badar selama delapan malam.

Peta

Madinah, Badar, dan Khaybar

Titik Makkah, Madinah, Badar, Khaybar, dan Daumatul Jandal diambil dari Wikipedia. Badar berkoordinat presisi rendah.

Madinah, Badar, dan Khaybar
Tempat yang disebut Ibnu HisyamPerjalanan (garis perkiraan)
    Alur kisah

    Dari ar-Raji' sampai Daumatul Jandal

    Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.

    Shalat khauf di Dzatu ar-Riqa'

    Dua riwayat tentang tata cara shalat khauf yang disebut Ibnu Hisyam, digambar sebagai sketsa. Ibnu Hisyam tidak menyebut jumlah pasukan beliau di Dzatu ar-Riqa', dan sketsa ini bukan peta berskala.

    Riwayat Jabir bin 'Abdullah (dua raka'at bersama setiap kelompok) Rakaat 1-2musuhKelompok 1 + beliauKelompok 2 (menghadap musuh)lalu kelompok 1 salamRakaat 3-4musuhKelompok 1 (sudah salam)Kelompok 2 + beliaulalu salam Riwayat Ibnu 'Umar (dua shaf, satu raka'at bersama imam) Rakaat pertamamusuhImam + shaf 1Shaf 2 (menghadap musuh)ruku' dan sujudBertukar tempatmusuhShaf 1 mundur, menggantikan shaf 2Shaf 2 majukeduanya bergerakRakaat keduamusuhShaf 1 (menghadap musuh)Imam + shaf 2lalu satu rakaat sendiri-sendiri

    Kotak berwarna emas menandai yang sedang shalat bersama beliau; kotak terang menandai yang menghadap musuh atau menunggu. Dari Ibnu Hisyam: menurut Jabir, beliau shalat dua raka'at dengan kelompok pertama lalu salam, kemudian kelompok yang tadinya menghadap musuh datang dan beliau mengimami dua raka'at lagi, lalu salam. Menurut Ibnu 'Umar, imam shalat bersama shaf pertama sementara shaf kedua menghadap musuh; setelah ruku' dan sujud, shaf pertama bergerak mundur dan menggantikan shaf kedua, shaf kedua maju, dan imam ruku' serta sujud bersama mereka satu raka'at; kemudian masing-masing shaf shalat satu raka'at sendiri-sendiri.

    Jumlah pasukan dan lamanya, menurut sumber. Kolom Wikipedia bukan dari Ibnu Hisyam; kami menambahkannya untuk pembanding.

    PeristiwaIbnu HisyamHaykalWikipedia
    Ar-Raji'6 sahabat; jumlah lawan dari Hudzail tidak disebut6 sahabat; 3 terbunuh, 3 ditawanbelum kami periksa
    Bi'ru Ma'unahal-Mundzir bin 'Amr dan 40 sahabat pilihan; jumlah lawan tidak disebutjumlah tidak disebut40 (Ibnu Ishaq) atau 70 (Sahih al-Bukhari)
    Bani an-Nadhirjumlah pasukan tidak disebut; 6 hari20 hari dan malam; 'Abdullah bin Ubay menjanjikan 2.000sekitar 800; 6 malam (15 pada riwayat lain)
    Dzatu ar-Riqa'jumlah tidak disebut; Ghathafan "sangat besar"400 orang; kembali setelah 15 hari400 atau 800 (juga ditulis 400-700); 15 hari
    Badar terakhirmenunggu 8 malam; jumlah tidak disebutQuraisy 2.000 di bawah Abu Sufyan; menunggu 8 haribelum kami periksa
    Daumatul Jandaljumlah tidak disebutjumlah tidak disebutbelum kami periksa

    Sumber Wikipedia: https://en.wikipedia.org/wiki/Expedition_of_Bir_Maona, https://en.wikipedia.org/wiki/Invasion_of_Banu_Nadir, dan https://en.wikipedia.org/wiki/Expedition_of_Dhat_al-Riqa. Pembagian satuan atau keahlian pasukan tidak disebut oleh Ibnu Hisyam untuk peristiwa-peristiwa ini.

    Perbedaan sumber

    Urutan peristiwa. Ibnu Hisyam memuat ar-Raji', Bi'ru Ma'unah, Bani an-Nadhir, Dzatu ar-Riqa', Badar terakhir, lalu Daumatul Jandal. Haykal memuat ar-Raji', Bi'r Ma'unah, Bani an-Nadhir, Badar terakhir, lalu Dzat ar-Riqa' dan Dumat al-Jandal, sehingga Dzatu ar-Riqa' dan Badar terakhir berbalik urutan. Haykal menulis ar-Raji' bertarikh 625 M.

    Ar-Raji'. Ibnu Hisyam menyebut utusan dari 'Adhal dan al-Qarah yang meminta pengajar, menyebut nama keenam sahabat, dan menceritakan gugurnya 'Ashim bin Tsabit dengan lebah dan banjir. Haykal menulis bahwa sekelompok orang meminta pengajar dan bahwa tuan rumah mereka mengkhianati mereka di ar-Raji'; ia tidak menyebut lebah, banjir, maupun 'Ashim, dan menulis nama "'Abdullah bin Thalib" sedangkan Ibnu Hisyam menulis "'Abdullah bin Thariq". Haykal menambahkan percakapan Abu Sufyan dengan Zaid bin ad-Datsinah, yang tidak ada pada bagian Ibnu Hisyam dalam bab ini; Ibnu Hisyam menambahkan kisah Mawiyyah dan setandan anggur.

    Bi'ru Ma'unah. Ibnu Hisyam menyebut al-Mundzir bin 'Amr dengan empat puluh sahabat pilihan. Haykal menulis "bersama orang-orang pilihan lain" tanpa jumlah. Ibnu Hisyam menyebut Ka'ab bin Zaid dibiarkan terluka di antara para korban, sedangkan 'Amr bin Umayyah ditawan lalu dibebaskan; Haykal menulis bahwa tidak seorang pun selamat kecuali Ka'ab bin Zaid dan 'Amr bin Umayyah. Ibnu Hisyam menyebut Rabi'ah bin 'Amir bin Malik menikam 'Amir bin ath-Thufail dengan tombak; Haykal menulis bahwa Abu Bara' mengirim anaknya, al-Raji, untuk membunuh 'Amir. Haykal menambahkan bahwa beliau berduka sebulan penuh dan memohon kepada Allah pada setiap shalat pagi agar dapat membalas; hal itu tidak ada pada bagian Ibnu Hisyam dalam bab ini.

    Bani an-Nadhir. Ibnu Hisyam menyebut beliau datang untuk meminta bantuan diyat ditemani Abu Bakar, 'Umar, dan 'Ali, dan 'Amr bin Jahasy naik ke atas rumah untuk menjatuhkan batu; pengepungan enam hari. Haykal menulis beliau datang dekat Quba' bersama sepuluh sahabat dan 'Amr bin Jahsy masuk ke rumah yang dindingnya disandari beliau secara mencurigakan, tanpa menyebut batu. Haykal menambahkan ultimatum sepuluh hari lewat Muhammad bin Maslamah, pesan 'Abdullah bin Ubay yang menjanjikan dua ribu pejuang, pengepungan "dua puluh hari dan malam", perintah menebang kurma, dan izin membawa tiga muatan unta bagi tiap orang; Ibnu Hisyam menyebut izin membawa harta yang dapat diangkut unta kecuali alat perang. Keduanya menyebut Khaybar dan Syam, dan dua orang yang masuk Islam. Khan menyebut pengusiran Bani Nadheer di ¶86 sesudah Perang Khandaq, setelah pengepungan "hampir sebulan", dan tidak menyebut ar-Raji', Bi'r Ma'unah, Dzatu ar-Riqa', Badar terakhir, maupun Daumatul Jandal.

    Badar terakhir. Ibnu Hisyam menyebut beliau menunggu delapan malam dan Abu Sufyan sampai Majinnah dari arah Zhahran (sebagian ulama menyebut sampai 'Usfan). Haykal menulis Abu Sufyan mengirim Nu'aim ke Madinah untuk menakut-nakuti, dua ribu pejuang Quraisy berangkat dan pulang dua hari kemudian, kaum Muslimin menunggu delapan hari dan berdagang dengan keuntungan, dan 'Abdullah bin 'Abdullah bin Ubay memerintah Madinah; hal-hal itu tidak ada pada bagian Ibnu Hisyam dalam bab ini.

    Dzatu ar-Riqa'. Ibnu Hisyam menyebut Ghathafan dalam jumlah sangat besar, perang tidak berkobar, shalat khauf, Ghaurats, dan kisah Jabir, tanpa jumlah pasukan beliau. Haykal menyebut empat ratus orang, musuh melarikan diri meninggalkan perempuan dan harta, dan beliau pulang setelah lima belas hari; ia tidak menyebut Ghaurats maupun kisah Jabir.

    Daumatul Jandal. Ibnu Hisyam menyebut beliau pulang sebelum tiba karena tidak ada perlawanan. Haykal menyebut oase di perbatasan Hijaz dan Syam, suku-suku lari ketika mendengar beliau datang, dan harta mereka yang tertinggal dapat dibawa kaum Muslimin sebagai rampasan.

    1. Utusan Adhal dan al-Qarah

      Enam sahabat dikirim untuk mengajar

      Seusai Perang Uhud, utusan dari Adhal dan al-Qarah meminta beliau mengirim sahabat untuk mengajarkan agama dan Al-Qur'an. Beliau mengirim enam sahabat dengan Martsad bin Abu Martsad sebagai pemimpin. Di ar-Raji', mata air Hudzail, utusan itu berkhianat dan berteriak meminta bantuan orang-orang Hudzail.

      Baca selengkapnya

      Telah menuturkan kepada kami 'Abdul Malik bin Hisyam dia berkata: Telah menuturkan kepada kami Ziyad bin 'Abdullah al-Bakkai dari Muhammad bin Ishaq al-Muththalabi dia berkata: telah mengatakan pada saya 'Ashim bin 'Umar bin Qatadah berkata: Seusai Perang Uhud, utusan dari 'Adhal dan al-Qarah datang menemui beliau.

      'Adhal dan al-Qarah berasal dari anak keturunan al-Haun bin Khuzaimah bin Mudrikah. Mereka berkata kepada beliau: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya di kalangan kami ada orang-orang yang telah masuk Islam, oleh sebab itu, sudi kiranya Anda mengirimkan beberapa orang sahabatmu yang akan mengajarkan agama, membaca al-Qur'an, dan mengajarkan syariat Islam kepada kami." Maka beliau mengirim enam orang sahabat yang menyertai kepulangan utusan 'Adhal dan al-Qarah. Keenam sahabat tersebut adalah sebagai berikut: Martsad bin Abu Martsad al-Ghanawi sekutu Hamzah bin 'Abdul Muththalib. Khalid bin al-Bukair al-Laitsi sekutu Bani 'Adi bin Ka'ab, 'Ashim bin Tsabit bin Abu al-Aqlah saudara Bani 'Amr bin 'Auf bin Malik bin al-Aus, Khubaib bin 'Adi saudara Bani Jahjahi bin Kulfah bin 'Amr bin 'Auf, Zaid bin ad-Datsinah bin Muawiyah saudara Bani Bayadhah bin 'Amr bin Zuraiq bin 'Abdu Haritsah bin Malik bin Ghadzbu bin Jusyam bin al-Khazraj, 'Abdullah bin Thariq sekutu Bani Dzafar bin al-Khazraj bin 'Amr bin Malik bin al-Aus. Beliau menunjuk Martsad bin Abu Martsad sebagai pemimpin rombongan keenam orang sahabatnya tadi.1

      Maka keenam sahabat Nabi itu berangkat menyertai utusan 'Adhal dan al-Qarah. Ketika sampai di ar-Raji', sebuah nama mata air Hudzail dari arah Hijaz, di depan al-Had'ah, tiba-tiba utusan 'Adhal dan al-Qarah mengkhianati keenam sahabat tadi dan berteriak meminta bantuan kepada orang-orang Hudzail. Utusan 'Adhal dan al-Qarah berkata kepada keenam sahabat tersebut: "Demi Allah, kami tidak hendak membunuh kalian, kami hanya ingin mendapatkan sesuatu dari orang-orang Quraisy dengan menahan kalian. Kalian berhak atas janji Allah bahwa kami tidak akan membunuh kalian. Martsad bin Abu Martsad, Khalid bin al-Bukair, dan 'Ashim bin Tsabit berkata: "Demi Allah, kami tidak menerima janji atau kesepakatan dari orang musyrik untuk selama-lamanya."2

    2. Gugurnya 'Ashim bin Tsabit

      Lebah dan banjir

      'Ashim bin Tsabit, yang berjuluk Abu Sulaiman, melawan orang-orang Hudzail hingga gugur bersama dua sahabatnya. Orang-orang Hudzail hendak mengambil kepalanya untuk dijual kepada Sulafah, tetapi lebah-lebah menghalangi mereka, lalu banjir besar membawa pergi jenazahnya.

      Baca selengkapnya

      Julukan 'Ashim bin Tsabit adalah Abu Sulaiman. Ia melawan orang-orang Hudzail hingga terbunuh beserta dua orang sahabat setianya. Ketika 'Ashim bin Tsabit terbunuh, orang-orang Hudzail hendak mengambil kepalanya untuk dijual kepada Sulafah binti Sa'ad bin Syahid. Sebelumnya, Sulafah binti Sa'ad bin Syahid bernazar sesudah kedua anaknya tewas di Perang Uhud, bahwa apabila bisa memungut kepala 'Ashim bin Tsabit ia pasti menyiramkan minuman keras ke tulang tengkoraknya. Namun keinginannya ini dihalau lebah-lebah yang berkerumun. Lebah-lebah itu menghalau orang-orang Hudzail hingga tidak mampu mendekat kepada 'Ashim bin Tsabit. Mereka berkata: "Biarkan lebah-lebah tersebut hingga petang hari. Kalau mereka sudah pergi, kita ambil jenazahnya." Namun Allah Ta'ala mengirim banjir besar yang kemudian membawa pergi jenazah 'Ashim. Sebelumnya 'Ashim bin Tsabit bersumpah kepada Allah bahwa ia tidak akan pernah mau disentuh oleh tangan orang musyrik dan ia tidak menyentuhnya selama-lamanya karena orang musyrik najis.3

    3. Tiga sahabat ditawan

      Dibawa ke Makkah, 'Abdullah bin Thariq di Dahran

      Zaid bin ad-Datsinah, Khubaib bin 'Adi, dan 'Abdullah bin Thariq menyerah dan dibawa orang-orang Hudzail ke Makkah untuk dijual. Di Dahran, 'Abdullah bin Thariq berontak dengan mengambil pedang dan dihantam batu hingga wafat; Khubaib dan Zaid dibawa terus ke Makkah.

      Baca selengkapnya

      Adapun Zaid bin ad-Datsinah, Khubaib bin 'Adi dan 'Abdullah bin Thariq, mereka putus asa dan menyerahkan diri kemudian dijadikan tawanan oleh orang-orang Hudzail Setelah itu, orang-orang Hudzail membawa ketiganya ke Makkah dan menjualnya di sana. Kala mereka tiba di Dahran, tiba-tiba 'Abdullah bin Thariq berontak kemudian mengambil pedang. Orang-orang Hudzail tak tinggal diam mereka menghantamnya dengan batu hingga ia meninggal dunia. Dengan demikian kuburan 'Abdullah bin Thariq kini berada di Dahran. Sedang Khubaib bin 'Adi dan Zaid bin at-Datsinah, tetap dibawa oleh Hudzail ke kota Makkah.

      Orang-orang Hudzail menawarkan Khubaib bin 'Adi dan Zaid bin ad-Datsinah kepada orang-orang Quraisy agar ditukar dengan dua tawanan orang-orang Hudzail di Makkah.14

    4. Khubaib dan Zaid dibeli

      Abu Ihab, Shafwan bin Umayyah, dan Mawiyyah

      Abu Ihab membeli Khubaib untuk dibunuh sebagai balas dendam atas kematian ayahnya. Shafwan bin Umayyah membeli Zaid untuk dibunuh sebagai balasan atas kematian ayahnya, Umayyah bin Khalaf; Zaid dibunuh oleh budak Shafwan, Nisthas, di at-Tan'im. Mawiyyah, mantan budak wanita Hujair bin Abu Lahab, menuturkan bahwa ia melihat Khubaib memegang setandan anggur.

      Baca selengkapnya

      Khubaib bin 'Adi di beli Abu Ihab at-Tamimi sekutu Bani Naufal dari 'Utbah bin al-Harits bin 'Amir bin Naufal. Abu Ihab adalah saudara seibu dari al-Harits bin 'Amir. Ia sengaja membeli Khubaib bin 'Adi untuk dibunuh sebagai balas dendam atas kematian ayahnya.3

      Al-Harits bin 'Amir adalah paman Abu Ihab (saudara ibunya) dan Abu Ihab berasal dari Bani Usaid bin 'Amr bin Tamim. Ada yang menyebutkan bahwa Abu Ihab berasal dari Bani Udas bin Zaid bin 'Abdullah bin Darim dari Bani Tamim.1

      Zaid bin ad-Datsinah dibeli Shafwan bin Umayyah untuk dihabisi sebagai balas dendam atas kematian ayahnya, Umayyah bin Khalaf.3

      Shafwan bin Umayyah mengutus budaknya. Nisthas, membawa Zaid bin ad-Datsinah ke at-Tan'im bersama dengan orang-orang Quraisy. Zaid ad-Datsinah dibunuh oleh Nisthas. Sementara Khubaib bin 'Adi, 'Abdullah bin Abu Najih berkata kepadaku bahwa ia diberitahu Mawiyyah mantan budak wanita Hujair bin Abu Lahab yang saat itu telah masuk Islam dan berkisah:

      Khubaib bin 'Adi ditawan di rumahku. Suatu hari, aku mengintip dan mendapatinya ia sedang memegang setandan anggur dan memakannya sebagiannya, padahal sepanjang yang aku tahu di tempat ini tidak ada anggur yang bisa dimakan (pada saat itu)."5

    5. Shalat dua rakaat Khubaib

      Di at-Tan'im sebelum dibunuh

      Di at-Tan'im, Khubaib meminta izin shalat dua rakaat sebelum dibunuh dan diizinkan. Ia disebut sebagai muslim pertama yang melakukan shalat sunnah dua rakaat ketika hendak dibunuh. Setelah diikat di atas kayu, ia berdoa.

      Baca selengkapnya

      'Ashim bin 'Umar bin Qatadah berkata: Orang-orang Quraisy menyeret Khubaib bin 'Adi ke luar Makkah hingga tatkala mereka tiba di at-Tan'im dan bermaksud menyalibnya, ia berkata kepada mereka: "Bisakah aku shalat dua raka'at terlebih dahulu sebelum menghabisiku?" Mereka berkata: "Silahkan." Khubaib bin 'Adi mengerjakan shalat dua raka'at dengan sempurna dan baik. Setelah itu, ia menemui mereka dan berkata: "Demi Allah andaikata kalian tidak akan mengira aku takut mati dengan mengulur waktu shalatku, niscaya aku mengulurnya."3

      'Ashim bin 'Umar bin Qatadah berkata: Khubaib bin 'Adi adalah muslim pertama kali yang melakukan shalat sunnah dua raka'at bagi kaum Muslimin ketika hendak dibunuh.

      'Ashim bin 'Umar bin Qatadah berkata lebih lanjut: Maka orang-orang Quraisy mengangkat Khubaib bin 'Adi ke atas kayu. Ketika mereka telah mengikatnya, ia berkata: "Ya Allah, sesungguhnya risalah Nabi-Mu telah kami sampaikan, maka sampaikan pada beliau apa yang mereka perbuat terhadapku esok hari. Ya Allah, pastikan jumlah mereka, musnahkanlah mereka secara terpisah, dan jangan biarkan satu orang pun dari mereka lolos."

    6. Ayat tentang peristiwa ar-Raji'

      Surat al-Baqarah ayat 204-207

      Menurut Ibnu Ishaq dari Ibnu 'Abbas, setelah musibah di ar-Raji' orang-orang munafik bergumam mencela para korban, lalu turun ayat-ayat dalam surat al-Baqarah tentang ucapan mereka dan tentang orang yang menjual dirinya karena mencari keridhaan Allah. Ibnu Hisyam menambahkan arti kata dan dua bait syair.

      Baca selengkapnya

      Wahyu-wahyu yang turun tentang peristiwa ar-Raji' seperti dikatakan kepadaku oleh mantan budak keluarga Zaid bin Tsabit dari 'Ikrimah mantan budak Ibnu 'Abbas atau dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu 'Abbas yang berkata: Ketika utusan menuju ar-Raji' yang di dalamnya ada Martsad dan 'Ashim ditimpa musibah, orang-orang munafik bergumam: "Alangkah celakanya orang-orang yang terbunuh itu. Andaikata mereka berdiam diri di tengah keluarganya." Kemudian turunlah ayat tentang ucapan orang-orang munafik tersebut dan kebaikan yang diperoleh sahabat-sahabat Rasulullah atas semua musibah yang mereka alami. Allah Ta'ala berfirman:3

      Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu. (QS. al-Baqarah: 204), yakni orang-orang yang secara lisan menyatakan keislamannya. Dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya (QS. al-Baqarah: 204) yang bertentangan dengan apa yang mereka ucapkan.

      Padahal ia adalah penantang yang paling keras (QS. al-Baqarah: 204).

      Yakni, ia selalu mendebat jika mengkritikmu saat berbicara denganmu.

      Al-aladdu artinya adalah kebencian yang memuncak. Sedangkan jamaknya adalah ludd. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:1

      Dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang (QS. Maryam: 97).

      Al-Muhalhal bin Rabi'ah al-Taghlibi yang bernama asli adalah Imruul Qais ada pula yang menyebutkan namanya adalah 'Adi bin Rabi'ah:

      Sesungguhnya di bawah batu-batu itu ada yang keras dan yang lunak

      Ada pembantah yang lebih keras yang tiada sanggup berbicara pada musuhnya

      Ini adalah syair miliknya.1

      Al-Thirimmmah bin Hakim al-Thai berkata menyifati bunglon:

      Dia melihat di atas pokok akar dengan angkuh

      Laksana seorang yang mampu mengalahkan musuh dalam debatnya

      Ini adalah syair miliknya.

      Allah berfirman:3

      Dan apabila ia berpaling (dari kamu) (QS. al-Baqarah: 205). Yakni keluar dari sisimu dia berjalan di muka bumi 'Untuk mengadakan kerusakan padanya dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak dan Allah tidak menyukai kebinasaan (QS. al-Baqarah: 205), Yakni, Allah tidak menyukai dan tidak meridhai amal perbuatannya.

      Selanjutnya Allah berfirman, Dan apabila dikatakan kepadanya, "Bertakwalah kepada Allah," bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa, maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya. Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya (QS. al-Baqarah: 206-207). Maknanya adalah mereka menjual nyawa mereka kepada Allah dengan berjihad di jalan-Nya hingga mereka tewas terbunuh. Mereka adalah utusan Rasulullah ke ar-Raji'

      Yasyri nafsahu yakni menjual dirinya, syaraw maknanya adalah menjual (ba'uu).16

    7. Quraisy di dekat Khubaib

      Nama-nama yang berkumpul dan Hassan bin Tsabit

      Ibnu Ishaq menyebut orang-orang Quraisy yang berkumpul dan berteriak-teriak di dekat Khubaib setelah ia wafat. Hassan bin Tsabit mencemooh orang-orang Hudzail atas perlakuan mereka, dan Ibnu Hisyam menyebut dua orang Hudzail yang menjual Khubaib.

      Baca selengkapnya

      Orang-orang Quraisy yang berkumpul dan berteriak-teriak membuat keributan di dekat Khubaib bin 'Adi setelah meninggal dunia ialah 'Ikrimah bin Abu Jahal, Said bin 'Abdullah bin Abu Qais bin 'Abdu Wudd, al-Akhnas bin Syariq ats-Tsaqafi sekutu Bani Zuhrah, 'Ubaidah bin Hakim bin Haritsah bin al-Auqash as-Sulami sekutu Bani Umayyah bin 'Abdu Syams, Umayyah bin Abu 'Utbah, dan Bani al-Hadhrami.3

      Hassan bin Tsabit juga mencemooh orang-orang Hudzail atas tindakan mereka terhadap Khubaib bin 'Adi.3

      Zuhair bin al-Aghar dan Jami' adalah dua orang dari kabilah Hudzail yang menjual Khubaib bin 'Adi.1

    8. Abu Bara' dan permintaan pengajar

      Bi'ru Ma'unah, bulan Shafar tahun keempat

      Beliau tinggal di Madinah selama empat bulan sesudah Uhud. Abu Bara' bin 'Amir bin Malik, seorang ahli tombak, menolak masuk Islam tetapi menawarkan perlindungan bagi para utusan ke Najd. Beliau lalu mengirim al-Mundzir bin 'Amr bersama empat puluh sahabat pilihan.

      Baca selengkapnya

      Beliau tinggal di Madinah dan tidak keluar selama sisa hari bulan Syawal, Dzulqadah dan Dzulhijjah dan Muharram.3

      Pada saat itu urusan haji di Makkah diurusi oleh kaum musyrikin. Setelah itu beliau mengirim para sahabat pelaku tragedi Bi'ru Ma'unah di bulan Shafar tepatnya di awal empat bulan pasca Perang Uhud.

      Tentang tragedi Bi'ru Ma'unah sebagaimana dituturkan kepadaku oleh Abu Ishaq bin Yasar dari al-Mughirah bin 'Abdurrahman bin al-Harits bin Hisyam dan 'Abdullah bin Abu Bakr bin Muhammad bin 'Amr bin Hazm dan ulama-ulama lainnya dimana semuanya mengatakan bahwa Abu Bara' bin 'Amir bin Malik bin Ja'far seorang ahli tombak datang menemui beliau di Madinah. Nabi menawarkan Islam kepadanya dan mendakwahinya tapi ia menolak masuk Islam namun ia tetap mendukung Islam. Abu Bara' berkata: "Wahai Muhammad, tidak mengapa bila engkau mengirim beberapa orang sahabatmu kepada penduduk Najed, untuk berdakwah sebab aku berharap bisa mereka memenuhi seruanmu?" Beliau bersabda: "Aku khawatir kalau sewaktu-waktu penduduk Najed melakukan tindakan jahat pada sahabat-sahabatku." Abu Bara' berkata: "Aku akan menjadi orang yang memberi perlindungan buat mereka. Maka utuslah mereka menyampaikan risalahmu kepada orang-orang di sana." Maka beliau mengirim al-Mundzir bin 'Amr saudara Bani Saidah, seorang yang bersegera menjemput syahidnya (Al-Mu'niq Liyamut) bersama empat puluh orang sahabat-sahabatnya yang merupakan orang-orang pilihan dan terbaik dari kaum Muslimin. Di antara mereka adalah al-Harits bin ash-Shimmah, Haram bin Milhan saudara Bani 'Adi bin an-Najjar, 'Urwah bin Asma' bin ash-Shalt as-Sulami, Nafi' bin Budail bin Warqa' al-Khuzai, 'Amir bin Fuhairah mantan budak Abu Bakar ash-Shiddiq, dan sahabat-sahabat terpilih lainnya.37

    9. Di Bi'ru Ma'unah

      Haram bin Milhan dan 'Amir bin ath-Thufail

      Di Bi'ru Ma'unah, antara tanah berbatu Bani 'Amir dan Bani Sulaim, para utusan mengutus Haram bin Milhan membawa surat beliau kepada 'Amir bin ath-Thufail, tetapi ia membunuhnya. Kaumnya menolak menyerang karena jaminan Abu Bara', maka 'Amir mengajak kabilah-kabilah Bani Sulaim; para utusan terbunuh semuanya kecuali Ka'ab bin Zaid.

      Baca selengkapnya

      Para utusan tersebut berjalan hingga tiba di Bi'ru Ma'unah yang terletak berada di antara tanah hitam berbatu Bani 'Amir dengan tanah hitam berbatu Bani Sulaim. Kedua lokasi tersebut hampir berhimpitan, namun Bi'ru Ma'unah lebih dekat dengan lokasi tanah Bani Sulaim. Tatkala utusan Rasulullah tiba di Bi'ru Ma'unah, mereka mengutus Haram bin Milhan mengantarkan surat beliau kepada musuh Allah, 'Amir bin ath-Thufail. Ketika Haram bin Milhan tiba, 'Amir bin ath-Thufail tidak membuka surat beliau, sebaliknya ia malah membunuhnya. 'Amir bin ath-Thufail memprovokasi kaumnya, menyerang para utusan tersebut, namun mereka menolak seruannya. Mereka berkata: "Kami tidak akan pernah mengkhianati perjanjian Abu Bara'. "Sebelum itu Abu Bara' telah membuat perjanjian untuk melindungi utusan Rasulullah. Namun 'Amir bin ath-Thufail tidak menyerah, kemudian ia terus memprovokasi kabilah-kabilah Bani Sulaim seperti 'Ushaiyyah, Ri'l, dan Dzakawan untuk menyerang para utusan tersebut dan ternyata merekapun menyambutnya lalu terjadilah perang antara mereka hingga mereka semua terbunuh kecuali Ka'ab bin Zaid saudara Bani Dinar bin an-Najjar, karena kabilah-kabilah tersebut membiarkannya dalam keadaan antara hidup dan mati. Ka'ab bin Zaid mengalami luka berat hingga berada di antara hidup dan mati di antara para korban. Dia pun hidup selamat dan baru gugur sebagai syahid pada Perang Khandaq. Semoga Allah merahmatinya.8

    10. 'Amr bin Umayyah dan sahabat Anshar

      Burung di atas perkemahan

      'Amr bin Umayyah adh-Dhamri dan seorang sahabat Anshar mengetahui musibah itu dari burung yang terbang di atas perkemahan. Sahabat Anshar itu bertempur hingga terbunuh, sedangkan 'Amr bin Umayyah ditawan lalu dibebaskan 'Amir bin ath-Thufail.

      Baca selengkapnya

      Di tengah kaum itu ada 'Amr bin Umayyah adh-Dhamri dan salah seorang dari kaum Anshar dari Bani 'Amr bin 'Auf.

      Orang dari kaum Anshar tersebut adalah al-Mundzir bin Muhammad bin 'Uqbah bin 'Uhaihah bin al-Julah.1

      Tidak ada yang memberi tahu keduanya tentang tragedi yang menimpa sahabat-sahabatnya kecuali burung yang terbang di atas barak. Kedua sahabat Rasulullah itu berkata: "Demi Allah, burung ini pasti membawa berita penting." Keduanya berjalan menuju lokasi untuk melihat apa sesungguhnya yang sedang terjadi. Ketika mereka melihat delegasi qari' bersimbah darah sementara kuda mereka berdiri, maka sahabat dari kaum Anshar berkata kepada 'Amr bin Umayyah: "Bagaimana pandanganmu?" 'Amr bin Umayyah berkata: "Aku memandang sebaiknya kita segera menghadap beliau dan kita jelaskan apa yang sebenarnya terjadi." Sahabat Anshar berkata: "Sedangkan aku sangat gembira dengan tempat tewasnya al-Mundzir bin 'Amr dan apa yang menimpaku diriku nanti pasti akan diberitahukan orang-orang. "Setelah berkata demikian, sahabat Anshar berperang melawan kabilah-kabilah di atas hingga terbunuh dan mereka menawan 'Amr bin Umayyah. Ketika 'Amr bin Umayyah mengatakan kepada mereka bahwa dirinya berasal dari Mudhar, 'Amir bin ath-Thufail melepaskannya dan mencukur rambut di ubun-ubunnya, dan membebaskannya dengan membayar budak wanita yang diklaimnya milik ibunya.9

    11. Dua orang Bani 'Amir terbunuh

      Diyat dan kemarahan Abu Bara'

      Di al-Qarqarah, 'Amr bin Umayyah membunuh dua orang Bani 'Amir yang tertidur di dekatnya tanpa mengetahui bahwa mereka terikat perjanjian dengan beliau. Beliau bersabda akan membayar diyat kepada keluarga keduanya, dan Abu Bara' marah kepada 'Amir bin ath-Thufail.

      Baca selengkapnya

      Lalu, 'Amr bin Umayyah berjalan. Saat dia tiba di al-Qarqarah di depan Qunat, datanglah dua orang dari Bani 'Amir.

      Kemudian dari Bani Kilab. Abu 'Amr al-Madani menyebutkan bahwa keduanya berasal dari Bani Sulaim.1

      Kedua orang tersebut mampir di tempat 'Amr bin Umayyah dan berteduh di bawah sebuah pohon. Orang-orang Bani 'Amir terikat perjanjian kesepakatan bersama beliau yang tidak diketahui 'Amr bin Umayyah. Ketika keduanya berhenti di tempat bernaungnya 'Amr bin Umayyah, maka 'Amr bin Umayyah bertanya kepada keduanya: "Dari mana asal kalian berdua?" Keduanya menjawab: "Kami berasal dari Bani 'Amir.' 'Amr bin Umayyah menunggu beberapa waktu dan ketika keduanya telah tertidur, ia menghabisi mereka berdua. Ia beranggapan bahwa dengan cara ini, ia telah membalas dendam atas orang-orang Bani 'Amir karena mereka sebelum ini membantai sahabat-sahabat beliau. Tatkala 'Amr bin Umayyah tiba di tempat beliau dan menjelaskan apa yang dialaminya, beliau bersabda: "Sungguh engkau telah membunuh dua orang dan aku akan memberi diyat(tebusan) kepada keluarga mereka berdua." Beliau bersabda lagi: "Ini semua terjadi gara-gara Abu Bara' dimana itu semua tidak aku sukai dan aku khawatirkan sebelumnya."

      Saat sabda beliau tersebut sampai ke telinga Abu Bara' ia marah besar kepada 'Amir bin ath-Thufail atas tindakan brutalnya karena meremehkan perjanjiannya dengan beliau dan tragedi memilukan yang dialami sahabat-sahabat beliau itu terjadi karena ulah dan perlindunganya. Di antara yang terbunuh pada tragedi tragis ini adalah 'Amir bin Fuhairah.

    12. Rabi'ah menikam 'Amir bin ath-Thufail

      Pelampiasan Abu Bara'

      Rabi'ah bin 'Amir bin Malik menikam 'Amir bin ath-Thufail dengan tombak di pahanya hingga ia terpelanting dari kudanya. 'Amir bin ath-Thufail menyalahkan Abu Bara'.

      Baca selengkapnya

      Lalu Rabi'ah bin 'Amir bin Malik mencari 'Amir bin ath-Thufail dan menikamnya dengan tombak di pahanya. Dia tidak berhasil membunuhnya namun dia terpelanting dari kudanya. 'Amir bin ath-Thufail berkata: "Ini semua karena ulah Abu Bara'. Jika aku mati, darahku milik pamanku dan Abu Bara' tidak boleh diikuti. Namun jika aku masih hidup, akan aku tampakkan sikapku terhadap perlakuan yang dilakukan terhadapku."3

    13. Nafi' bin Budail

      Syair Anas bin 'Abbas dan 'Abdullah bin Rawahah

      Anas bin 'Abbas as-Sulami menuturkan dalam syair bahwa Thu'aimah bin 'Adi membunuh Nafi' bin Budail al-Khuza'i, dan 'Abdullah bin Rawahah menangisi Nafi' dengan syair.

      Baca selengkapnya

      Anas bin 'Abbas as-Sulami, paman Thu'aimah bin 'Adi bin Naufal dari jalur ibunya, yang Pada Tragedi Bi'ru Ma'unah, Thu'aimah bin 'Adi bin Naufal membunuh Nafi' bin Budail bin Warqa al-Khuzai. Tentang kematian Nafi' bin Budail bin Warqa' al-Khuzai, Anas bin 'Abbas as-Sulami berkata:3

      Kubiarkan anak Warqa al-Khuzai tergeletak tewas

      Di perang di sebuah jalan sempit yang dimana angin menghamburkan badai berdebu Ku teringat Abu ar-Rayyan saat kulihat dia Aku yakin dendamku telah lunas terbayar

      Abu ar-Rayyan adalah Thu'aimah bin 'Adi.

      'Abdullah bin Rawahah berkata menangisi Nafi' bin Budail bin Warqa':3

      Semoga Allah melimpahkan rahmatnya pada Nafi' bin Budail

      Dengan rahmat pencari pahala orang berjihad

      Ia … yang sabar, jujur, dan memenuhi janji

      Tatkala manusia mengepungnya, ia berucap dengan ucapan yang benar10

    14. Syair Hassan bin Tsabit

      Menangisi para korban Bi'ru Ma'unah

      Hassan bin Tsabit menangisi para korban Bi'ru Ma'unah, terutama al-Mundzir bin 'Amr, dengan syair.

      Baca selengkapnya

      Hassan bin Tsabit berkata menangisi para korban Bi'ru Ma'unah, terutama al-Mundzir bin 'Amr:3

      Ingatlah korban-korban Ma'unah, hendaklah kalian semua menangis

      Dengan air mata yang tercurah tiada henti

      Ingatlah pasukan berkuda Rasul di pagi hari

      Yang bertemu dan ditemui kematian dengan takdir mereka

      Mereka ditimpa kematian karena kesepakatan suatu kaum

      Yang kemudian tali perjanjian itu dikhianati dengan pengkhianatan

      Alangkah sedihnya aku atas kematian

      Al-Mundzir ketika ia berjalan berpaling

      Dan berlari kepada kematian dengan sabar Ia dibunuh di suatu pagi

      Seorang bangsawan terhormat dan mulia keturunan 'Amr

    15. Bani an-Nadhir dan permintaan diyat

      Beliau mendatangi mereka, 'Amr bin Jahasy

      Beliau mendatangi Bani an-Nadhir untuk meminta bantuan diyat bagi dua orang Bani 'Amir yang dibunuh 'Amr bin Umayyah. Mereka berkata akan membantu, tetapi 'Amr bin Jahasy naik ke atas rumah untuk menjatuhkan batu ke kepala beliau. Beliau menerima wahyu, segera pulang ke Madinah, dan memerintahkan para sahabat bersiap memerangi mereka.

      Baca selengkapnya

      Beliau keluar menuju Bani an-Nadhir untuk meminta bantuan diyat bagi dua korban dari Bani 'Amir yang dihabisi 'Amr bin Umayyah adh-Dhamri karena jaminan perlindungan beliau kepada keduanya seperti dikatakan kepadaku oleh Yazid bin Ruman. Bani an-Nadhir dan Bani 'Amir terdapat persekutuan dan perjanjian. Kala beliau sampai di tempat Bani an-Nadhir, mereka berkata: "Wahai Abu al-Qasim kami akan berusaha membantumu."3

      Lalu orang-orang Bani an-Nadhir berkumpul.3

      Tiba-tiba 'Amr bin Jahasy naik ke atas rumah untuk menjatuhkan batu ke atas kepala beliau. Ketika itu Rasulullah ditemani Abu Bakar, 'Umar bin Khaththab, dan 'Ali bin Abu Thalib. Namun saat itu beliau menerima wahyu dari langit tentang apa yang akan dilakukan orang-orang Bani an-Nadhir. Oleh karenanya, Rasulullah segera beranjak dan pulang ke Madinah. Rasulullah menjelaskan kepada para sahabat rencana makar orang-orang Yahudi untuk membunuh dirinya pada mereka. Beliau lalu memerintahkan para sahabat untuk bersiap-siap untuk memerangi orang-orang an-Nadhir.

    16. Bani an-Nadhir dikepung dan keluar

      Enam hari, ke Khaybar dan Syam

      Ibnu Hisyam menyebut beliau mengepung Bani an-Nadhir selama enam hari pada bulan Rabi'ul Awwal. Mereka berlindung di kastil, lalu meminta darah mereka dilindungi dengan membawa harta yang dapat diangkut unta kecuali alat perang. Sebagian pergi ke Khaybar dan sebagian ke Syam; hanya dua orang dari mereka yang masuk Islam.

      Panorama lembah Khaibar dengan oasis dan dua bekas benteng
      Panorama lembah Khaibar, kondisi sekarang (foto 11 Februari 2020; deskripsi berkas: lembah di sekitar Khaybar dengan dua bekas benteng Yahudi di kiri atas). Tampak oasis kurma di lembah.Foto: Hardscarf · CC BY-SA 4.0 · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Beliau mengamanahi Ibnu Ummi Maktum sebagai imam sementara di Madinah selama Rasulullah berada di Bani an-Nadhir. Beliau pergi bersama sahabat dan beristirahat bersama mereka. Peristiwa terjadi pada bulan Rabiul Awwal. Beliau mengepung orang-orang Bani an-Nadhir selama enam hari saat itulah turunlah ayat pengharaman khamar. Kala pasukan Rasulullah menyerang maka orang-orang Bani an-Nadhir melindungi diri mereka di kastil-kastil mereka. Allah lalu menurunkan rasa takut ke dalam hati orang-orang Bani an-Nadhir, kemudian mereka meminta beliau melindungi darah mereka ketika mereka akan keluar dari kastil mereka dengan syarat mereka berhak atas harta mereka yang bisa diangkut oleh unta mereka kecuali seluruh peralatan perang. Beliau memenuhi permintaan mereka. Setelah mengambil harta kekayaan mereka masing-masing yang bisa diangkut unta. Mereka pergi ke Khaybar ada pula di antaranya yang pergi ke kawasan Syam. Pemimpin mereka yang pergi ke Khaybar adalah Sallam bin Abu al-Huqaiq, Kinanah bin ar-Rabi bin Abu al Huqaiq, dan Huyay bin Akhthab. Ketika mereka tiba di Khaybar, penduduknya berpihak kepada mereka.1

      Tidak ada yang masuk Islam dari Bani an-Nadhir kecuali dua orang, yaitu Yamin bin 'Umar Abu Ka'ab bin 'Amr bin Jahasy dan Abu Sa'ad bin Wahb. Keduanya masuk Islam karena sayang pada hartanya.3

    17. Surat al-Hasyr: pengusiran dan pohon kurma

      Ayat 2-5

      Menurut Ibnu Ishaq, seluruh surat al-Hasyr turun tentang Bani an-Nadhir. Ia menguraikan ayat 2-5 tentang pengusiran mereka dan penebangan pohon kurma; Ibnu Hisyam menambahkan penjelasan kata dan satu bait syair.

      Baca selengkapnya

      Tentang Bani an-Nadhir ini, turunlah surat al-Hasyr secara keseluruhan. Di dalamnya disebutkan hukuman yang ditimpakan Allah kepada mereka, kemenangan beliau atas mereka, dan apa yang diperbuat Sang Nabi terhadap mereka. Allah Ta'ala berfirman: Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tiada menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan. (QS. al-Hasyr: 2)

      itu karena mereka merusak rumah mereka dari depan pintu rumah ketika hendak mengangkut barang-barangnya. Allah berfirman, Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan. Dan jika tidaklah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka benar-benar Allah mengadzab mereka di dunia. Dan bagi mereka di akhirat adzab neraka. (QS. al-Hasyr: 2-3)

      Mereka pantas dan berhak mendapatkan hukuman dari Allah. Kemudian Allah berfirman: Benar-benar Allah mengadzab mereka di dunia. Dengan pedang. Dan bagi mereka di akhirat adzab neraka. (QS. al-Hasyr: 3). Namun demikian Allah Ta'ala berfirman:

      Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik. (QS. al-Hasyr: 5)

      Kemudian Allah Ta'ala berfirman: Maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik. (QS. al-Hasyr: 5).

      Yakni, dengan perintah Allah engkau tebang pohon kurma itu. Jadi penebangan pohon kurma itu tidak merusak, namun hukuman dari Allah kepada mereka.

      Liinah dari alwan bukan dari barniyah bukan pula kurma al-'ajwah sebagaimana dituturkan oleh Abu 'Ubaidah. Dzu Rammah berkata:1

      Seakan pelana kuda di atasnya ada sarang burung

      Di atas kurma yang pokoknya kuat dan ujung-ujungnya bergerak

      Bait syair ini adalah miliknya.

    18. Fai' dari Bani an-Nadhir

      Surat al-Hasyr ayat 6-7

      Ibnu Ishaq menjelaskan bahwa ayat 6 menyebut harta fai' dari Bani an-Nadhir, dan bahwa ayat 7 menyatakan harta yang dikuasai kaum Muslimin adalah milik Allah dan Rasul-Nya. Ibnu Hisyam menambahkan arti kata dan dua bait syair.

      Baca selengkapnya

      Lalu Allah Ta'ala berfirman:

      Dan apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) mereka (QS. al-Hasyr: 6)

      Ibnu Ishaq berkata bahwa yang dimaksud mereka pada ayat tersebut adalah Bani an-Nadhir. Kemudian Allah Ta'ala berfirman: Maka untuk mendapatkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada Rasul-Nya terhadap siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. al-Hasyr: 6).

      Awjaftum menggerakkanmu dan melelahkanmu dalam perjalanan. Tamim bin Ubay bin Muqbil salah seorang Bani 'Amir bin Sha'sha'ah berkata:1

      Pelindung pedang yang baru gagangnya sering

      membuat pejalan kaki

      merasa keberatan untuk membawanya

      Ini adalah syair miliknya, yakni wajif (lari).

      Abu Zaid al-Thai yang namanya adalah Harmalah mengatakan dalam syairnya:

      Tali pinggangnya terikat kuat laksana tombak India

      Karena panjangan perjalanan yang di tempuh para gembala

      Kemudian Allah Ta'ala berfirman:

      Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul (QS. al-Hasyr: 7)

      Maksud ayat tersebut ialah bahwa apa yang dikuasai kaum Muslimin dengan kuda, kendaraan, dan perang, semua itu adalah milik Allah dan Rasul-Nya. Kemudian Allah Ta'ala berfirman: Itu semua milik Allah dan Rasul-Nya, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (QS. al-Hasyr: 7)3

      Pembagian ini adalah pembagian bentuk lain bagi kaum muslimin dari apa yang di dapatkan dengan perang sesuai dengan apa yang Allah tentukan.

      Kemudian Allah berfirman:11

    19. Orang-orang munafik dan Bani Qainuqa'

      Surat al-Hasyr ayat 11-17

      Ibnu Ishaq menyebut bahwa yang dimaksud orang-orang munafik pada ayat 11 adalah 'Abdullah bin Ubay bin Salul dan orang-orang yang seirama dengannya, ahli Kitab adalah Bani an-Nadhir, dan ayat 15 menunjuk Bani Qainuqa'. Kisah pengusiran Bani an-Nadhir ditutup dengan ayat 16-17.

      Baca selengkapnya

      Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang munafik (QS. al-Hasyr: 11), yang di maksud dengan orang-orang munafiq pada ayat ini adalah 'Abdullah bin Ubay bin salul dan orang-orang yang seirama dengannya.

      Kemudian Allah berfirman:

      Yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli Kitab (QS. al-Hasyr: 11). Yang dimaksud dengan ahli Kitab di atas ialah Bani an-Nadhir.

      Kemudian Allah berfirman:

      (Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka telah merasai akibat buruk dari perbuatan mereka dan bagi mereka adzab yang pedih(QS. al-Hasyr: 15)

      Yang dimaksud adalah Bani Qainuqa'. Kemudian kisah tentang pengusiran Bani an-Nadhir di dalam al-Qur'an ditutup dengan ayat: (Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia: "Kafirlah kamu", maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata: "Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah Tuhan semesta alam." Maka adalah kesudahan keduanya, bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zalim (QS. al-Hasyr: 16-17)

    20. Perang Dzatu ar-Riqa'

      Menghadapi Bani Muharib dan Tsa'labah di Nakhl

      Usai Bani an-Nadhir, beliau tinggal di Madinah selama Rabi'ul Akhir dan sebagian Jumadil Ula, lalu berangkat ke Najd untuk menghadapi Bani Muharib dan Bani Tsa'labah dari Ghathafan. Di Nakhl, beliau menghadapi pasukan Ghathafan yang sangat besar, tetapi perang tidak berkobar karena kedua pihak saling khawatir. Ibnu Hisyam memberi dua penjelasan tentang nama Dzatu ar-Riqa'.

      Baca selengkapnya

      Usai Perang Bani an-Nadhir, beliau tinggal di Madinah selama bulan Rabiul Akhir dan sebagian Jumadil Ula. Setelah itu, beliau berangkat ke Najed untuk berperang menghadapi Bani Muharib dan Bani Tsa'labah dari Ghathafan. Rasulullah mengamanahi Abu Dzar al-Ghifari menjadi imam untuk sementara waktu di Madinah3

      Ada yang menceritakan bahwa Rasulullah mengamanahi 'Utsman bin 'Affan menjadi imam sementara waktu di Madinah.1

      Beliau berjalan hingga tiba di Nakhl dan di tempat inilah Perang Dzatu ar-Riqa' terjadi.

      Perang ini disebut Perang Dzatu ar-Riqa', karena kaum Muslimin menjahit dan memperbaiki panji-panji perangnya di sana. Ada pula yang menyebutkan bahwa ia disebut Perang Dzatu ar-Riqa', karena Dzatu ar-Riqa' adalah nama pohon di kawasan tersebut. Di Dzatu ar-Riqa', beliau menghadapi pasukan Ghathafan dalam jumlah yang sangat besar. Namun perang tidak berkobar di antara mereka, karena masing-masing pihak sama-sama khawatir kepada pihak lain hingga beliau mengerjakan Shalat Khauf bersama para sahabat.112

    21. Shalat khauf

      Dua riwayat tentang tata caranya

      Ibnu Hisyam menyebut dua riwayat tentang shalat khauf: dari Jabir bin 'Abdullah (dua kelompok bergiliran bersama beliau) dan dari Ibnu 'Umar (dua shaf, satu rakaat bersama imam dan satu rakaat sendiri-sendiri).

      Baca selengkapnya

      'Abdul Warits bin Said at-Tannuri, yang nama aslinya Abu 'Ubaidah berkata kepadaku bahwa Yunus bin 'Ubaid berkata padaku dari al-Hasan bin Abu al-Hasan dari Jabir bin 'Abdullah yang berkata tentang Shalat Khauf: beliau melaksanakan Shalat Khauf dua raka'at bersama dua kelompok dengan cara bergiliran. Pertama beliau shalat dengan kelompok pertama lalu salam kemudian kelompok yang tadinya menghadap musuh datang lalu Rasulullah mengimamai lagi shalat dua raka'at yang lain bersama mereka lalu salam.1

      'Abdul Warits bin Sa'id at-Tannuri berkata kepadku bahwa Ayyub berkata kepadanya dari Nafi' dari Ibnu 'Umar yang berkata: Imam melangsungkan shalat bersama shaf pertama yang berdiri bersamanya sedang shaf kedua menghadap musuh, kemudian imam ruku' dan sujud di ikuti shaf pertama, kemudian mereka bergerak mundur ke belakang dan mengganti shaf yang tadi menghadap musuh, kemudian shaf kedua maju ke depan, lalu imam ruku' bersama mereka satu raka'at dan sujud bersama mereka, kemudian masing-masing shaf shalat satu raka'at sendiri-sendiri. Jadi masing-masing shaf shalat satu raka'at bersama imam dan mereka shalat satu raka'at secara sendirian.113

    22. Ghaurats dan pedang beliau

      Turunnya QS. al-Maidah: 11

      Ghaurats dari Bani Muharib menawarkan diri kepada kaumnya untuk membunuh beliau. Ia meminta melihat pedang beliau dan menghunusnya, tetapi Allah menggagalkan usahanya, lalu ia mengembalikan pedang itu. Ibnu Ishaq menyebut dua riwayat tentang turunnya QS. al-Maidah: 11.

      Baca selengkapnya

      'Amr bin 'Ubaid berkata kepadaku dari al-Hasan dari Jabir bin 'Abdullah bahwa salah seorang dari Bani Muharib yang bernama Ghaurats berkata kepada kaumnya yaitu Ghathafan dan Muharib: Apa kalian mau Muhammad aku bunuh demi kalian?' Kaumnya menjawab: "Ya, namun bagaimana engkau bisa membunuhnya?"3

      Ghaurats berkata: "Aku akan menjebaknya." Kemudian Ghaurats pergi menghadap Rasulullah yang ketika itu duduk, sedangkan pedang beliau berada di pangkuannya. Ghaurats berkata: "Wahai Muhammad, boleh aku lihat pedangmu ini."

      Rasulullah menjawab, "Ya, silahkan saja." Pedang beliau tersebut berhiaskan perak, sebagaimana disebutkan Ibnu Hisyam. Ghaurats lalu menghunusnya dari sarungnya. Kemudian ia memain-mainkannya dan bermaksud membunuh beliau namun Allah menggagalkan usahanya. Ia berkata: "Wahai Muhammad, apa kau takut padaku?" Beliau bersabda: "Tentu saja sama sekali tidak, apa yang harus aku takutkan darimu?"

      Ghaurats berkata: "Apakah engkau tidak takut padaku padahal di tanganku ada sebilah pedang?" Beliau bersabda: "Aku tidak takut, karena Allah selalu melindungiku." Ghauratspun berjalan dan mengembalikan pedang itu kepada Sang Nabi. Maka setelah itu Allah menurunkan ayat berikut:

      Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepadamu, di waktu seseorang bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat), maka Allah menahan tangannya dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakal. (QS. al-Maidah: 11)

      Yazid bin Ruman berkata kepadaku bahwa ayat di atas diturunkan perihal 'Amr bin Jahasy dari Bani an-Nadhir dan yang ia rencanakan. Wallahu a 'lam mana yang lebih benar di antara kedua riwayat itu.3

    23. Jabir bin 'Abdullah dan untanya

      Perjalanan pulang dari Dzatu ar-Riqa'

      Jabir bin 'Abdullah menuturkan bahwa dalam perjalanan pulang, beliau membeli untanya yang lemah dengan tawaran naik hingga satu uqiyah, bertanya tentang pernikahannya, dan di Shirar mereka menyembelih unta. Keesokan harinya, beliau mengembalikan unta itu kepada Jabir beserta uang satu uqiyah. Sepulang dari Dzatu ar-Riqa', beliau menetap di Madinah sampai Sya'ban.

      Baca selengkapnya

      "Aku keluar bersama beliau ke Perang Dzatu ar-Riqa' di Nakhl dengan menaiki unta yang lemah. Ketika beliau pulang dari Perang Dzatu ar-Riqa', rombongan pasukan berjalan tanpa hambatan, sementara aku tersisih di belakang beliau menyusulku. Beliau bersabda: "Apa yang terjadi, wahai Jabir? Aku menjawab: "Wahai Rasulullah, untaku berjalan sangat pelan."14

      Beliau bersabda: "Perintahkan dia membungkuk." Aku membungkukkan untaku sedangkan beliau juga mendudukkan untanya. Setelah itu, Rasulullah bersabda: "Berikan tongkatmu itu kepadaku." Atau beliau bersabda: "Ambilkan buatku tongkat dari sebatang pohon!" Maka akupun melaksanakan permintaan beliau dan beliaupun mengambil tongkat yang dimintanya. Rasulullah memukul lambung untaku beberapa kali kemudian bersabda kepadaku: "Naikilah untamu!" Aku segera menaikinya. Demi Dzat yang mengutus beliau dengan membawa kebenaran, untaku mampu mendahului unta Rasulullah. Aku berbincang dengannya, kemudian beliau berkata: "Wahai Jabir apakah boleh aku membeli untamu ini?'"Aku menjawab: "Tidak wahai Rasulullah, tapi aku bermaksud memberikannya kepadamu sebagai hibah."

      Beliau bersabda: "Juallah untamu ini kepadaku!"

      Aku berkata: "Wahai Rasulullah tetapkanlah harga untuk untaku ini!"

      Beliau bersabda: "Cukup satu dirham."

      Aku berkata: "Tidak Rasulullah, dengan harga seperti itu, engkau merugikanku."

      Beliau bersabda: "Bagaimana kalau begitu dua dirham!"

      Aku berkata: "Aku tidak mau dengan itu, wahai Rasulullah." Beliau terus menaikkan penawaran harga unta hingga mencapai satu uqiyah. Aku berkata: "Wahai Rasulullah, jika demikian, maka kini untaku ini menjadi milikmu."

      Beliau bersabda: "Kalau demikian, aku ambil untamu." Setelah itu Rasulullah bersabda: "Wahai Jabir, apakah engkau sudah menikah?"

      Aku menjawab: "Sudah, wahai Rasulullah."

      Beliau bersabda: "Dengan seorang janda atau seorang gadis?"

      Aku menjawab: "Dengan janda."

      Beliau bersabda: "Mengapa engkau tidak menikah dengan seorang gadis sehingga engkau bisa bergurau ria dengannya dan ia bergurau ria denganmu?"

      Aku menjawab: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya ayahku gugur di Perang Uhud dan meninggalkan tujuh anak perempuan, karenanya aku menikahi seorang wanita sempurna yang bisa meneduhi kepala ketujuh anak perempuan tersebut dan mengasuh mereka."

      Beliau bersabda: "Engkau benar, insya Allah." Tatkala kita sudah tiba di Shirar aku perintahkan orang-orang untuk menyiapkan unta untuk disembelih kemudian kita adakan jamuan daging unta pada hari tersebut hingga istrimu mendengarnya kemudian ia melepaskan bantal kecilnya?"

      Aku berkata: "Wahai Rasulullah, kami tidak memiliki bantal kecil."

      Beliau bersabda: "Dia akan ada bersamamu. Oleh karenanya, apabila engkau telah sampai di sana, lakukanlah sebuah perbuatan yang pintar.

      Tatkala sampai di Shirar, beliau menginstruksikan orang-orang untuk segera menyembelih unta dan kita pun mengadakan pesta makan di hari itu. Pada sore harinya, beliau masuk ke rumah dan kamipun masuk ke rumahku. Maka aku pun menceritakan peristiwa kepada isteriku ini dan apa yang dikatakan kepadaku oleh beliau kepada istriku. Istriku berkata: "Ya, karena aku mendengar dan taat kepada Rasulullah." Esok paginya, aku pegang kepala unta, menuntun dan mendudukkannya di pintu masjid beliau kemudian aku duduk di dekat masjid. Ketika beliau ke luar dan melihat unta itu, beliau bersabda: "Apa ini?"

      Para Sahabat menjawab: "Unta ini, Jabir yang datang membawanya." Beliau bertanya: "Lalu kemana Jabir sekarang?" Aku pun dipanggi untuk menghadap Rasulullah, kemudian beliau bersabda: "Wahai anak saudaraku, peganglah kepala untamu karena itu menjadi milikmu!" Beliau memanggil Bilal dan bersabda kepadanya: "Pergilah bersama Jabir dan berikan uang satu uqiyah kepadanya!" Akupun pergi bersama Bilal kemudian ia memberiku uang satu uqiyah dan memberi sedikit tambahan. Demi Allah, pemberian itu terus bertambah dan bertambah hingga aku mendapatkan musibah di Perang al-Harrah belum lama ini.

      Sepulangnya dari Perang Dzatu ar-Riqa', beliau menetap di Madinah pada sisa bulan Jumadil Ula dan Jumadil Akhir, serta bulan Sya'ban.315

    24. Badar terakhir

      Menunggu Abu Sufyan delapan malam

      Pada bulan Sya'ban beliau berangkat ke Badar untuk memenuhi janji dengan Abu Sufyan dan menunggunya delapan malam. Abu Sufyan keluar dari Makkah sampai Majinnah dari arah Zhahran; sebagian ulama menyebut sampai 'Usfan, lalu mereka pulang. Makhsyi bin 'Amr adh-Dhamri menyapa beliau di Badar.

      Baca selengkapnya

      Saat bulan Sya'ban, beliau meninggalkan Madinah untuk memenuhi janji dengan Abu Sufyan bin Harb hingga tiba di Badar.3

      Beliau menunggu Abu Sufyan bin Harb di Badar selama delapan malam. Sedangkan Abu Sufyan bin Harb sendiri keluar meninggalkan Makkah ditemani orang-orang Makkah hingga tiba di Majinnah dari arah Zhahran. Sebagian ulama lainnya menceritakan bahwa Abu Sufyan bin Harb dan anak buahnya berjalan hingga ke 'Usfan, kemudian mereka berniat memilih pulang kembali ke Makkah.

      Tatkala beliau berada di Badar menunggu Abu Sufyan bin Harb, beliau disapa oleh Makhsyi bin 'Amr adh-Dhamri. perwakilan Bani Dhamrah, yang telah berdamai dengan beliau di Perang Waddan.3

      Beliau tetap berada di Badar menunggu kedatangan Abu Sufyan bin Harb. Suatu ketika, Ma'bad bin Abu Ma'bad al-Khuzai berjalan melewati beliau. Tatkala dia ketika melihat tempat dan unta beliau yang berjalan cepat ke sana, ia berkata:

    25. Syair tentang Badar terakhir

      Ma'bad al-Khuza'i dan 'Abdullah bin Rawahah

      Ma'bad bin Abu Ma'bad al-Khuza'i melantunkan syair ketika melihat unta beliau di Badar; Ibnu Hisyam menyebut Abu Zaid al-Anshari berkata bahwa syair itu milik Ka'ab bin Malik. 'Abdullah bin Rawahah juga bersyair tentang Badar terakhir yang gagal itu.

      Baca selengkapnya

      Sungguh, untanya lari dari sahabat-sahabat Muhammad

      Dan dari kurma Ajwah Yatsrib laksana anggur kering

      Ia berjalan cepat di atas agama ayahnya dahulu

      Ia menjadikan Mata Air Qudaid sebagai tempat perjanjianku

      Sumber air Dajnan besok akan jadi miliknya

      Abu Zaid al-Anshari berkata kepadaku bahwa syair di atas adalah syair Ka'ab bin Malik.1

      'Abdullah bin Rawahah berkata tentang Perang Badar Terakhir yang gagal tersebut:

      Kami berjanji pada Abu Sufyan untuk kembali bertemu di Badar

      Tapi kami dapatkan dia tidak jujur dan iapun tak menepati janji

      Aku bersumpah, andai engkau tepati janji perjumpaan dengan kami

      Niscaya engkau pulang dirundung hina dan kehilangan para kerabat

      Di sana, kami biarkan tubuh 'Utbah dan anaknya

      Demikian pula 'Amr dan Abu Jahal terbunuh tewas

      Kalian membangkang Rasulullah, celakalah agama kalian

      Dan urusan buruk kalian yang sesat itu

      Walaupun kalian bersikap keras padaku

      Aku tetap katakan keluarga dan hartaku menjadi tebusan bagi Rasulullah

      Kami mentaatinya dan tidak menggantinya dengan orang lain

      Ia adalah cahaya dan penunjuk kami di gelapnya malam16

    26. Daumatul Jandal

      Beliau pulang karena tidak ada perlawanan

      Beliau tinggal di Madinah sampai Dzulhijjah usai. Sesudahnya beliau berangkat untuk memerangi Daumatul Jandal pada bulan Rabi'ul Awwal, dengan Siba' bin 'Urfuthah al-Ghifari sebagai imam sementara di Madinah, tetapi pulang sebelum tiba karena tidak ada perlawanan.

      Bagian dalam Benteng Marid di Dumat al-Jandal
      Benteng Marid di Dumat al-Jandal, Arab Saudi, kondisi sekarang (foto 30 Juli 2020; deskripsi berkas: "Marid Castle, Dumat al-Jandal"). Bangunan yang tampak sekarang hasil pemugaran dan tidak bisa dipastikan sama dengan keadaan masa itu.Foto: Richard Mortel · CC BY 2.0 · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Lalu beliau kembali pulang ke Madinah dan tinggal di sana beberapa bulan hingga bulan Dzulhijjah usai. Ini merupakan tahun keempat semenjak kedatangan beliau di Madinah. Kemudian beliau berangkat untuk memerangi Daumatul Jandal.3

      Itu terjadi pada bulan Rabi'ul Awwal dan beliau mengangkat Siba' bin 'Urfuthah al-Ghifari untuk sementara sebagai imam di Madinah. Lalu beliau pulang ke Madinah sebelum tiba di Daumatul Jandal karena tidak adanya perlawanan. Beliau menetap di Madinah di sisa-sisa hari tahun itu.1

    Catatan

    1. Tambahan Ibnu Hisyam.
    2. Ejaan: tercetak "Hamzah bin Abu Muthalib", kami membaca "Hamzah bin Abdul Muththalib". Ucapan utusan Adhal dan al-Qarah tercetak dibuka dengan tanda kutip ("Demi Allah, kami tidak hendak membunuh kalian ...") tetapi tidak ditutup sebelum kalimat "Martsad bin Abu Martsad ... berkata"; kami memuatnya apa adanya.
    3. Ibnu Ishaq.
    4. Ejaan: tercetak "membawi", kami membaca "membawa".
    5. Ejaan: tercetak "buatu hari", kami membaca "Suatu hari".
    6. Ejaan: tercetak "bin bin", kami membaca "bin"; tercetak "mearik", kami membaca "menarik"; tercetak "Jabannam", kami membaca "Jahannam".
    7. Ejaan: tercetak "Bin amr", kami membaca "bin Amr".
    8. Ejaan: tercetak "Hararn", kami membaca "Haram"; tercetak "utusasn", kami membaca "utusan"; tercetak "menghinati", kami membaca "mengkhianati". Jawaban kaum 'Amir tercetak dengan tanda kutip penutup sesudah titik dan diikuti tanda kutip pembuka tanpa penutup ("... perjanjian Abu Bara'. "Sebelum itu Abu Bara' ..."); kami memuatnya apa adanya.
    9. Ucapan sahabat Anshar tercetak dengan tanda kutip penutup sesudah titik, diikuti tanda kutip pembuka kalimat berikutnya ("... diberitahukan orang-orang. "Setelah berkata demikian ..."); kami memuatnya apa adanya.
    10. Ejaan: tercetak "soosk", tidak jelas sehingga kami menandainya "…". Dua baris syair Anas bin 'Abbas tercetak bersambung dalam satu baris sehingga tidak kami pisah.
    11. Ejaan: tercetak "yang yang", kami membaca "yang".
    12. Ejaan: tercetak "Riqa,", kami membaca "Riqa',".
    13. Nomor catatan kaki "128" yang tercetak di dalam teks tidak kami muat.
    14. Ibnu Ishaq. Sanad: Wahb bin Kisan berkata kepadaku dari Jabir bin 'Abdullah.
    15. Sabda beliau tentang Shirar tercetak tanpa tanda kutip pembuka tetapi diakhiri tanda kutip penutup ("Tatkala kita sudah tiba di Shirar ... melepaskan bantal kecilnya?"); kami memuatnya apa adanya.
    16. Ejaan: tercetak "anggw", kami membaca "anggur"; tercetak "tempat tempat", kami membaca "tempat".

    Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Bab berikutnya membahas Perang Khandaq.