Pusat Sejarah Islam
Bab 34 dari 55

Perang Uhud & Hamra' al-Asad

Quraisy datang dengan 3.000 pasukan. 'Abdullah bin Ubay mundur membawa sepertiga pasukan, pemanah meninggalkan posnya, Hamzah gugur, dan Nabi terluka. Esok harinya Nabi tetap mengejar sampai Hamra' al-Asad.

Sabtu, pertengahan Syawal 3 HSumber: Ibnu Hisyam
Sekilas

Isi bab ini

Bab ini menceritakan Perang Uhud menurut Ibnu Hisyam: persiapan Quraisy, musyawarah dan mundurnya 'Abdullah bin Ubay, barisan kedua pasukan, jalannya pertempuran, gugurnya Hamzah, luka beliau, pemakaman para syuhada, pengejaran ke Hamra' al-Asad, tafsir ayat-ayat Ali 'Imran tentang Uhud menurut Ibnu Ishaq, serta daftar syuhada dan korban tewas kaum musyrikin.

Pasukan

Menurut Ibnu Ishaq, Quraisy berkekuatan 3.000 dengan 200 berkuda; kaum Muslimin berangkat 1.000 lalu tinggal 700 setelah 'Abdullah bin Ubay mundur.

Pemanah

50 pemanah di bawah 'Abdullah bin Jubair, diperintah tetap di pos menang atau kalah.

Hari pertempuran

Sabtu pertengahan Syawwal, tahun ketiga Hijriah; esoknya, Ahad 16 Syawwal, beliau mengejar sampai Hamra' al-Asad.

Korban

65 syuhada menurut Ibnu Ishaq; 22 korban tewas dari kaum musyrikin menurut Ibnu Ishaq.

Peta

Madinah dan Uhud

Titik Makkah, Madinah, dan Gunung Uhud diambil dari Wikipedia.

Madinah dan Uhud
Tempat yang disebut Ibnu HisyamPerjalanan (garis perkiraan)
    Alur kisah

    Perang Uhud menurut Ibnu Hisyam

    Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.

    Strategi di Uhud

    Sketsa ini menata apa yang disebut Ibnu Hisyam; letak relatif dan bentuk medan hanyalah perkiraan dan tidak berskala. Gaya gambar terinspirasi peta Wikipedia (Berkas:Battle of Uhud 624 CE.png); kami menggambarnya sendiri.

    GUNUNG UHUD ngarai: di belakangkaum Muslimin Kaum Muslimin: 700 panji: Mush'ab bin 'Umair, lalu 'Ali pedang: Abu Dujanah (ikat kepala merah) 50 pemanah komandan 'Abdullah bin Jubair,tetap di pos menang atau kalah Pasukan Quraisy: 3.000 panji: Bani 'Abduddar; sekutu Kinanah dan Tihamah (selain 200 berkuda: hitungan kami 2.800) Sayap kananberkuda: Khalid Sayap kiriberkuda: 'Ikrimah kedua sayap = 200 berkuda (jumlah tiap sayap tidak disebut) Abu 'Amir: 50 budak Aus Hindun dan para wanita Quraisymenabuh rebana di belakang pasukan unta dan kuda Quraisy dilepas diash-Shamghah, dekat saluran airkaum Muslimin 1 2 3 4
    1. Kaum Muslimin maju dan mendobrak pertahanan Quraisy; pembawa panji Quraisy tumbang (menurut az-Zubair).
    2. Pemanah pergi ke perkemahan musuh, meninggalkan pos yang diperintahkan beliau untuk dijaga.
    3. Pasukan berkuda Quraisy datang dari belakang; terdengar seruan bahwa Muhammad telah terbunuh.
    4. Beliau mundur ke jalan menuju Gunung Uhud bersama beberapa sahabat.

    Strateginya menurut Ibnu Hisyam: beliau menempatkan ngarai di belakang pasukan dan menghadapkannya ke Gunung Uhud, melarang berperang tanpa perintah, dan memerintahkan 'Abdullah bin Jubair menahan pasukan berkuda musuh dengan anak panah agar tidak menyerang dari belakang. Panah 1 sampai 4 hanya gerakan yang disebut Ibnu Hisyam; jalurnya digambar perkiraan. IH tidak menyatakan apakah 50 pemanah termasuk dalam 700 orang.

    PasukanJumlahPeran yang disebut Ibnu Hisyam
    Kaum Muslimin berangkatseribu sahabatSepertiga pasukan memisahkan diri bersama 'Abdullah bin Ubay di asy-Syauth.
    Kaum Muslimin bersiaga700Panji Mush'ab bin 'Umair, lalu 'Ali; pedang Abu Dujanah; Samurah bin Jundab dan Rafi' bin Khadij (15 tahun) diizinkan ikut.
    Pemanah50Komandan 'Abdullah bin Jubair dari Bani 'Amr bin 'Auf; menahan kavaleri musuh dengan anak panah.
    Kavaleri Muslimtidak disebutBagian Ibnu Hisyam dalam bab ini tidak menyebut jumlah kavaleri kaum Muslimin.
    Quraisy3.000Panji dipegang Bani 'Abduddar; sekutu Bani Kinanah dan Tihamah; istri-istri ikut berangkat; Wahsyi bertugas membunuh Hamzah.
    Kavaleri Quraisy200Khalid bin al-Walid di sayap kanan, 'Ikrimah bin Abu Jahal di sayap kiri.
    Abu 'Amir50 budak Aus (atau 25)Orang pertama yang menemui orang-orang Madinah di barisan non-Arab dan budak.

    Dari sumber lain. Bagian ini bukan dari Ibnu Hisyam. Menurut artikel Wikipedia Battle of Uhud (https://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Uhud), kaum Muslimin berjumlah 754 (700 infanteri, 50 pemanah, 4 berkuda), dan hanya 100 orang yang berbaju rantai; Quraisy berjumlah 3.000 (1.450 infanteri, 1.450 unta, 100 berkuda), 700 di antaranya berbaju rantai. Artikel itu menyebut sayap kiri dipimpin 'Ikrimah dan sayap kanan Khalid, lima puluh pemanah ditempatkan di bukit berbatu di sisi barat perkemahan Muslim, 'Abdullah bin Ubay mundur bersama 300 orang dari sekitar 1.000, dan korban Muslim 62-75 serta Quraisy 22-35. Angka-angka itu berbeda pada beberapa hal dari Ibnu Hisyam (misalnya 100 berkuda, bukan 200), dan kami belum memeriksanya pada kitab asalnya.

    Perbedaan sumber

    Jumlah dan perlengkapan Quraisy. Ibnu Hisyam (Ibnu Ishaq) menyebut 3.000 orang dengan 200 berkuda. Haykal menyebut 3.000 orang dari Makkah, 200 kuda, 3.000 unta, 700 orang berbaju besi, dan seratus orang Tsaqif di antara mereka. Khan menyebut 3.000 orang bersenjata lengkap.

    Jumlah kaum Muslimin. Ibnu Hisyam menyebut beliau berangkat dengan seribu sahabat, sepertiga pasukan mundur bersama 'Abdullah bin Ubay di asy-Syauth, dan beliau bersiaga dengan tujuh ratus orang. Haykal menyebut yang tinggal bersama beliau 700 orang, tanpa menyebut sepertiga. Khan tidak menyebut jumlah kaum Muslimin.

    Sikap 'Abdullah bin Ubay. Ibnu Hisyam dan Haykal sama-sama menulis bahwa ia sependapat dengan beliau untuk bertahan di Madinah. Khan menulis bahwa rencana bertahan di dalam kota ditentang oleh 'Abdullah bin Ubay (¶75).

    Tempat mundurnya. Ibnu Hisyam menyebut asy-Syauth, antara Madinah dan Uhud. Haykal menyebut al-Syaikhan, tempat beliau menyuruh pulang sekutu Yahudi 'Abdullah bin Ubay; Ibnu Hisyam menyebut beliau menjawab "Kita tidak membutuhkan mereka".

    Surat al-'Abbas. Haykal menceritakan surat al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib tentang keberangkatan Quraisy. Kami tidak menemukan surat itu pada bagian Ibnu Hisyam dalam bab ini.

    Abu 'Amir. Ibnu Hisyam menyebut Abu 'Amir datang dengan lima puluh budak dari Aus (ada yang mengatakan dua puluh lima). Haykal menyebut lima belas orang Aus dan sejumlah budak Makkah.

    Pemanah. Ibnu Hisyam menyebut lima puluh pemanah di bawah 'Abdullah bin Jubair, dan menuturkan lewat az-Zubair bahwa pasukan pemanah pergi ke perkemahan lalu pasukan berkuda musuh datang dari belakang. Haykal menyebut hanya sepuluh orang yang bertahan dan Khalid menduduki lereng. Khan menyebut lima puluh pemanah, sebagian besar meninggalkan pos, dan Khalid melewati celah yang tidak dijaga (¶76-77).

    Jumlah korban. Ibnu Ishaq menyebut 65 syuhada dan 22 korban tewas dari kaum musyrikin. Haykal menyebut beliau memerintahkan pemakaman semua korban, "berjumlah tujuh puluh". Khan tidak menyebut jumlah korban.

    Hamra' al-Asad. Ibnu Hisyam menyebut beliau menetap di sana pada hari Selasa, Rabu, dan Kamis. Haykal menyebut tiga hari tiga malam dengan api unggun pada malam hari. Khan menyebut api dinyalakan sebagai tanda kesiapan kaum Muslimin (¶78) dan tidak menyebut Hamra' al-Asad. Ibnu Hisyam tidak menyebut api unggun.

    1. Quraisy bersiap

      Harta kafilah Abu Sufyan dipakai untuk membalas Badar

      Setelah kekalahan di Badar, 'Abdullah bin Abu Rabi'ah, 'Ikrimah bin Abu Jahal, dan Shafwan bin Umayyah meminta Abu Sufyan dan para saudagar Quraisy membantu dengan harta untuk memerangi beliau. Permintaan itu dikabulkan, dan Ibnu Ishaq menyebut QS al-Anfal: 36 turun tentang hal ini.

      Baca selengkapnya

      Cerita tentang Perang Uhud adalah sebagaimana dituturkan kepadaku oleh Muhammad bin Muslim Az Zuhri, Muhammad bin Yahya bin Hibban, 'Ashim bin 'Umar bin Qatadah, al-Hushain bin 'Abdurrahman bin 'Amr bin Sa'ad bin Muadz, dan ulama-ulama lainnya. Semua dari mereka menceritakan sebagian cerita tentang Perang Uhud dan cerita mereka terkumpul menjadi satu dalam kisah Perang Uhud yang akan saya ketengahkan pada bahasan berikut ini. Para ulama tadi atau salah seorang dari mereka berkata: Setelah orang-orang kafir Quraisy mengalami kekalahan telak di sumur Perang Badar, tokoh-tokoh mereka yang masih hidup pulang ke Makkah. Abu Sufyan bin Harb tiba di Makkah dengan kafilah dagangnya. Maka 'Abdullah bin Abu Rabi'ah, 'Ikrimah bin Abu Jahal, dan Shafwan bin Umayyah berangkat bersama dengan orang-orang Quraisy yang kehilangan ayah, anak dan saudara di Perang Badar mendatangi Abu Sufyan Bin Harb dan berkata kepadanya dan kepada para saudagar Quraisy yang ikut bersamanya: "Wahai orang-orang Quraisy, sesungguhnya Muhammad telah melakukan kekeliruan besar pada kalian dan membinasakan orang-orang pilihan kalian. Oleh sebab itulah, bantulah kami dengan harta kalian untuk memeranginya. Mudah-mudahan dengan itu kita bisa melakukan balas dendam atas kematian orang-orang kita!" Abu Sufyan bin Harb dan para saudagar Quraisy mengabulkan permintaan mereka.1

      Sebagian ulama berkata kepadaku bahwa tentang Abu Sufyan bin Harb dan kawan-kawan Allah menurunkan firman-Nya:1

      Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam neraka Jahanamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan (QS. al-Anfal: 36).

      Orang-orang Quraisy sepakat untuk memerangi Rasulullah ketika Abu Sufyan bin Harb melakukan itu dan di ikuti oleh pedagang-pedagang Quraisy dan kabilah lain yang bergabung dengan Quraisy dan kabilah-kabilah yang loyal kepada mereka seperti Kinanah dan orang-orang Tihamah.1

    2. Abu 'Izzah al-Jumahi

      Tawanan Badar yang dibebaskan, lalu diminta ikut berperang

      Abu 'Izzah, tawanan Badar yang dibebaskan tanpa tebusan karena miskin, dibujuk Shafwan bin Umayyah untuk ikut dan menyemangati Bani Kinanah dengan syair. Musafi' bin 'Abdu Manaf juga menghasut Bani Malik bin Kinanah.

      Baca selengkapnya

      Abu 'Izzah 'Amr bin 'Abdullah al-Jumahi adalah seorang tawanan yang dibebaskan secara gratis oleh beliau di Perang Badar, karena ia miskin dan menanggung tanggungan keluarga yang banyak. Seusai Perang Badar, ia berkata: "Wahai Rasulullah, aku seorang yang miskin dan mempunyai tanggungan keluarga yang banyak, maka bebaskanlah aku, mudah-mudahan Allah memberi shalawat dan salam kepadamu." Beliau lalu membebaskan Abu 'Izzah al-Jumahi.1

      Beberapa hari sebelum Perang Uhud, Shafwan bin Umayyah berkata kepada Abu 'Izzah Al Jumahi: "Wahai Abu 'Izzah, engkau adalah seorang penyair, maka bantulah kami dengan lidahmu dan keluarlah bersama kami!" Abu 'Izzah al-Jumahi menjawab: "Sesungguhnya Muhammad telah membebaskanku dan aku tidak ingin membantu orang-orang yang hendak memeranginya." Shafwan bin Umayyah berkata: "Bantulah kami dengan kehadiran dirimu. Demi Allah, jika aku berhasil kembali maka aku berjanji akan membuatmu kaya dan jika engkau tidak terbunuh maka aku berjanji akan membuatmu kaya namun jika engkau terbunuh maka kami akan jadikan anak-anak perempuanmu mendapat jatah seperti jatah anak-anak perempuanku pada saat sulit dan mudah. Akhirnya Abu 'Izzah al-Jumahi berangkat dalam rombongan orang-orang Tihamah dan mengajak orang-orang Bani Kinanah dengan berkata:

      Wahai Bani 'Abdu Manat nan tegar di medan perang,

      Kalian para pembela sebagaimana nenek moyang kalian

      Janganlah janjikan pertolonganmu padaku setelah tahun ini

      Dan jangan kalian khianati aku, karena pengkhianatan itu tidaklah dibenarkan

      Musafi' bin 'Abdu Manaf bin Wahb bin Hudzafah bin Jumahi pergi ke Bani Malik bin Kinanah untuk menghasut dan menyeru mereka memerangi beliau. Musafi' berkata:1

      Wahai Malik, orang yang paling mulia

      Aku bersumpah dengan sanak kerabat dan mereka yang terikat perjanjian,

      Orang yang mempunyai kekerabatan dan orang yang tidak menghormati persekutuan

      Di tengah-tengah negeri nan suci

      Pada tembok Ka'bah yang diagungkan2

    3. Wahsyi dan rombongan Quraisy

      Janji kemerdekaan bagi pembunuh Hamzah, dan istri-istri yang ikut berangkat

      Jubair bin al-Muth'im menjanjikan kemerdekaan kepada budaknya, Wahsyi, bila ia membunuh Hamzah sebagai balasan atas pamannya, Thu'aimah bin 'Adi. Orang-orang Quraisy berangkat dengan kekuatan penuh dan membawa istri-istri mereka; Hindun binti 'Utbah menyemangati Wahsyi.

      Baca selengkapnya

      Jubair bin al-Muth'im memanggil budak hitamnya, Wahsyi, seorang ahli melempar tombak asal Habasyah dengan lemparan yang jarang sekali meleset dari sasaran. Jubair berkata kepadanya, "Berangkatlah engkau bersama orang-orang Quraisy. Jika berhasil membunuh Hamzah, paman Muhammad, sebagai pembalasan atas kematian pamanku, Thu'aimah bin 'Adi, maka engkau menjadi orang bebas merdeka."1

      Orang-orang Quraisy berangkat dengan kekuatan penuh, tokoh-tokoh, orang-orang yang pro mereka, dan para pengikutnya baik orang-orang dari Bani Kinanah dan orang-orang Tihamah. Mereka juga mengikut sertakan istri-istri mereka sebagai penjaga agar mereka tidak melarikan diri dari medan perang. Abu Sufyan bin Harb sang komandan perang berangkat bersama istrinya, Hindun binti 'Utbah. 'Ikrimah bin Abu Jahal berangkat bersama istrinya, Ummu Hakim binti al-Harits bin Hisyam bin al-Mughirah. Al-Harits bin Hisyam bin al-Mughirah berangkat bersama istrinya, Fathimah binti al-Walid bin at-Mughirah. Shafwan bin Umayyah berangkat bersama istrinya, Barzah binti Mas'ud bin 'Amr bin 'Umair ats-Tsaqafi, ibu 'Abdullah bin Shafwan bin Umayyah.1

      Ada yang mengatakan Ruqayyah.3

      'Amr bin al-Ash berangkat bersama istrinya, Barithah bin Munabbih bin al-Hajjaj, ibu 'Abdullah bin 'Amr bin al-Ash. Thalhah bin Abu Thalhah (Abu Thalhah ialah 'Abdullah bin 'Abdul 'Uzza bin 'Utsman bin 'Abduddar) berangkat bersama istrinya Sulafah binti Sa'ad bin Syuhaid al-Anshariyah, ibu anak-anak Thalhah; Musafi', al-Julas, dan Kilab yang seluruhnya tewas bersama ayah mereka. Khunas binti Malik bin al-Mudharrib, salah satu istri Malik bin Hisl, berangkat bersama anaknya, Abu Aziz bin 'Umair. Khunas binti Malik adalah ibu Mush'ab bin 'Umair. 'Amrah binti Alqamah, salah seorang wanita Bani al-Harits bin 'Abdu Manat bin Kinanah, juga ikut berangkat ke medan perang. Apabila Hindun bin 'Utbah berjalan melewati Wahsyi atau Wahsyi berjalan melewatinya, ia selalu berkata: "Wahai Abu Dasamah, sembuhkanlah dendamku dan carilah kesembuhan!" Wahsyi diberi gelar Abu Dasamah.4

    4. Tiba di Sabkhah dan mimpi beliau

      Sapi disembelih, pedang retak, tangan di dalam baju besi

      Quraisy sampai di dua mata air di lembah Sabkhah yang menghadap Madinah. Beliau menceritakan mimpinya: seekor sapi disembelih, sisi pedangnya retak, dan tangannya masuk ke dalam baju perang, yang beliau tafsirkan sebagai Madinah.

      Baca selengkapnya

      Orang-orang Quraisy berjalan hingga sampai di dua mata air di gunung di lembah Sabkhah dari saluran air di atas tepian lembah yang menghadap Madinah.

      Pada saat orang-orang Quraisy sampai di tempat tersebut, beliau dan kaum Muslimin mendengar kedatangan mereka. Beliau bersabda: "Demi Allah, aku melihat dalam mimpiku sesuatu yang baik. Aku lihat sapi disembelih, salah satu sisi pedangku retak, dan aku lihat diriku memasukkan tanganku ke dalam baju perang baja dan aku menafsirkannya bahwa itu adalah Madinah."1

      Sebagian ulama berkata kepadaku bahwa beliau bersabda, "Aku bermimpi melihat sapiku disembelih." Adapun tafsir sapi ialah beberapa orang dari sahabat-sahabatku terbunuh. Sedang keretakan yang aku lihat di salah satu sisi pedangku ialah bahwa salah seorang dari keluargaku akan terbunuh."35

    5. Tinggal di Madinah atau keluar

      Musyawarah, pendapat 'Abdullah bin Ubay, dan baju besi

      Beliau dan 'Abdullah bin Ubay bin Salul berpendapat agar tetap tinggal di Madinah; sebagian sahabat yang tidak sempat ikut Badar mendesak agar keluar. Beliau masuk rumah dan mengenakan baju besi; para sahabat menyesal, dan beliau bersabda bahwa seorang nabi yang telah mengenakan baju besi tidak patut menanggalkannya sebelum berperang. Beliau berangkat dengan seribu sahabat.

      Baca selengkapnya

      Beliau bersabda kepada para sahabat: "Jika kalian mau, tetaplah tinggal di Madinah dan biarkan mereka di tempat mereka kini berada. Jika mereka tetap di tempat itu, maka ia menjadi tempat yang paling buruk bagi mereka. Jika masuk menyerbu kita, kita akan serang balik mereka di dalamnya." Pendapat 'Abdullah bin Ubay bin Salul serupa dengan pendapat beliau, yaitu tidak usah keluar dari Madinah untuk menyerbu orang-orang Quraisy. Beliau sendiri tidak ingin keluar dari Madinah untuk berduel dengan mereka, namun beberapa orang dari kaum Muslimin yang dimuliakan Allah untuk gugur sebagai syuhada di Perang Uhud dan perang-perang lainnya yang tidak ikut berkesampatan hadir di Perang Badar berkata: "Wahai Rasulullah, keluarlah bersama kami untuk berduel melawan mereka agar mereka tidak menganggap kami sebagai pengecut yang tidak berani berhadapan dengan mereka." 'Abdullah bin Ubay bin Salul berkata: "Wahai Rasulullah, tetaplah tinggal di Madinah dan janganlah engkau keluar menyerbu tempat mereka. Demi Allah, jika kita menyongsong musuh-musuh kita mereka pasti akan membunuh salah seorang di antara kita dan apabila mereka masuk ke tempat kita, kita pasti berhasil mengalahkan mereka. Wahai Rasulullah, biarkanlah mereka di tempat kini mereka berada. Apabila menetap di tempat tersebut, mereka menetap di tempat tahanan terburuk. Apabila masuk ke Madinah, mereka akan diperangi orang laki-laki dan akan dilempari batu oleh kaum wanita-wanita dan anak-anak. Apabila pulang kembali ke negeri asalnya, mereka pulang dengan gagal seperti halnya saat mereka datang." Para sahabat yang menginginkan berhadapan langsung dengan orang-orang Quraisy tetap tidak beranjak dari tempat beliau sampai beliau masuk rumah dan mengenakan baju besi perangnya. Hari itu adalah hari Jum'at dan itu terjadi ketika beliau usai menunaikan shalat. Pada hari itu, salah seorang dari kaum Anshar, yang bernama Malik bin 'Amr dari Bani an-Najjar meninggal dunia. Beliau mensalatkannya. Barulah Rasulullah menemui sahabat-sahabatnya dan mereka menyesal atas apa yang mereka lakukan. Mereka berkata: "Kita telah lancang memaksa beliau untuk keluar dan itu tidak sepatutnya kita lakukan."1

      Pada saat beliau bertemu para sahabat, mereka berkata: "Wahai Rasulullah, kami telah lancang memaksamu untuk keluar Madinah padahal hal itu tidak sepatutnya kami lakukan. Bila mau sabda: "Apabila seorang nabi telah memakai baju besi, tidak patut baginya mencopotnya Kembali, hingga ia berperang." Kemudian beliau berangkat bersama seribu sahabatnya.

      Beliau menugaskan Ibnu Ummi Maktum untuk menjadi imam sementara di Mesjid Nabawi.36

    6. 'Abdullah bin Ubay mundur

      Sepertiga pasukan kembali dari asy-Syauth

      Di asy-Syauth, antara Madinah dan Uhud, 'Abdullah bin Ubay bin Salul memisahkan diri bersama sepertiga pasukan. 'Abdullah bin 'Amr bin Haram mengejar dan mengingatkan mereka. Ibnu Hisyam menambahkan bahwa orang-orang Anshar menawarkan bantuan sekutu Yahudi, dan beliau bersabda bahwa mereka tidak diperlukan.

      Baca selengkapnya

      Pada saat beliau bersama para sahabat sampai di Asy-Syauth, kawasan yang berada di antara Madinah dan Uhud, 'Abdullah bin Ubay bin Salul beserta sepertiga pasukan memisahkan diri dari beliau. 'Abdullah bin Ubay bin Salul berkata: "Dia (Muhammad ) mentaati usulan sahabat-sahabatnya dan tidak mau mengambil pendapatku. Wahai manusia, kami tidak mau bunuh diri di tempat ini?" Setelah itu, 'Abdullah bin Ubay bin Salul pulang ke Madinah bersama para pengikutnya, yaitu orang-orang munafik dan orang-orang yang dihinggapi penyakit keragu-raguan dalam hatinya. Mereka dikejar 'Abdullah bin 'Amr bin Haram saudara Bani Salimah yang kemudian berkata kepada mereka: "Wahai kaumku, aku ingatkan kalian kepada Allah, hendaklah kalian tidak menelantarkan kaum dan Nabi kalian ketika ia akan berhadapan dengan musuh." Mereka berkata: "Andai kita tahu kalian akan diperangi,.kita pasti tidak akan meninggalkan kalian, namun kami memandang bahwa perang tidak membangkang dengan pulang ke Madinah, 'Abdullah bin 'Amr bin Haram berkata: "Wahai musuh-musuh Allah, mudah-mudahan Allah mengutuk kalian dan Dia jadikan Nabi-Nya tidak lagi membutuhkan kalian."1

      Beberapa orang lain selain Ziyad berkata: dari Muhammad bin Ishaq dari az-Zuhri bahwa orang-orang Anshar berkata kepada beliau sebelum Perang Uhud: "Wahai Rasulullah, mengapa kita tidak meminta bantuan sekutu-sekutu kita dari orang-orang Yahudi?" Beliau bersabda, "Kita tidak membutuhkan mereka.37

    7. Jalan memutar ke Uhud

      Abu Khaitsamah, Mirba' bin Qaidhi, dan ngarai dekat Uhud

      Beliau melewati Harrah Bani Haritsah. Abu Khaitsamah menunjukkan jalan lain yang tidak biasa dilalui, melewati kebun Mirba' bin Qaidhi, seorang munafik buta. Beliau lalu menempatkan ngarai di belakang dan menghadapkan pasukan ke Gunung Uhud, serta melarang berperang tanpa perintahnya.

      Baca selengkapnya

      Ziyad berkata: Muhammad bin Ishaq berkata kepadaku bahwa beliau terus berjalan hingga melewati Harrah Bani Haritsah. Di sana, ada seekor kuda mengibaskan ekornya hingga mengenai besi di gagang pedang salah seorang sahabat hingga membuat pedang itu terhunus.

      Ibnu Hisyam mengatakan: Kilab al-Saif (paku di ujung pedang).

      Beliau yang terbiasa optimis dan tidak pesimis bersabda kepada sahabat pemilik pedang: "Sarungkanlah pedangmu kembali, karena pada hari ini aku lihat semua pedang akan terhunus."1

      Setelah itu, beliau bersabda kepada sahabat-sahabatnya: "Siapa di antara kalian yang bisa membawa kita dekat dengan musuh melalui jalan lain yang tidak biasa dilalui mereka?'"Abu Khaitsamah dari Bani Haritsah bin al-Haritsah berkata: "Aku, wahai Rasulullah." Kemudian Abu Khaitsamah membawa beliau melewati antara tanah hitam berbatu (harrah) Bani Haritsah dengan kebun-kebun mereka hingga melewati kebun milik Mirba' bin Qaidhi. Ia adalah seorang munafik bermata buta. Ketika mendengar gerak beliau bersama sahabatnya, ia berdiri untuk melemparkan tanah ke muka mereka. Ia berkata: "Seandainya engkau memang benar sebagai utusan Allah, tetap saja aku tidak akan mengizinkanmu memasuki kebunku."1

      Ada yang menuturkan kepadaku bahwa Mirba' bin Qaidhi memegang segenggam tanah, seraya berkata: "Demi Allah, hai Muhammad, jika aku tahu tanah ini tidak akan mengenai orang selain dirimu, pastilah aku lemparkan semuanya kepadamu." Kaum Muslimin spontan bergerak ingin menghabisi Mirba bin Qaidhi, namun beliau bersabda: "Jangan! Orang buta ini, buta hati dan matanya." Namun, Sa'ad bin Zaid dari Bani 'Abdul Asyhal berhasil mendekati Mirba' bin Qaidhi sebelum beliau melarang membunuhnya, lalu menghantam kepalanya dengan busur panah hingga bersimbah berdarah1

      Beliau terus melanjutkan perjalanannya hingga sampai di jalan menuju Gunung Uhud, di sebuah ngarai yang dekat dengan Gunung Uhud, dan Rasulullah jadikan ngarai itu memunggunginya dan menghadapkan pasukannya ke gunung Uhud. Beliau berkata: "Janganlah salah seorang dari kalian berperang tanpa perintah dariku."18

    8. Barisan kaum Muslimin dan Quraisy

      Pemanah di bawah 'Abdullah bin Jubair, panji Mush'ab, dan sayap kavaleri Quraisy

      Beliau bersiap dengan tujuh ratus sahabat dan menunjuk 'Abdullah bin Jubair sebagai komandan lima puluh pemanah, dengan pesan agar tetap di posnya menang atau kalah. Panji diserahkan kepada Mush'ab bin 'Umair. Ibnu Ishaq menyebut Quraisy berkekuatan tiga ribu dengan dua ratus kavaleri, Khalid bin al-Walid di sayap kanan dan 'Ikrimah bin Abu Jahal di sayap kiri.

      Panorama kawasan Gunung Uhud di Madinah
      Panorama kawasan Gunung Uhud di Madinah, kondisi sekarang (foto 6 Januari 2019; deskripsi berkas: "Mount Uhud Panorama"; koordinat 24,50 LU, 39,61 BT). Gambaran kawasan, bukan tata letak pasukan.Foto: Ahmed Abdulbasit (Pakistan) · CC BY-SA 4.0 · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Orang-orang Quraisy melepas unta dan kuda mereka di rerumputan di ash-Shamghah dekat dengan saluran kaum Muslimin. Ketika beliau melarang kaum Muslimin berperang hingga beliau memerintahkannya, salah seorang dari kaum Anshar berkata: "Pantaskah tanaman-tanaman Bani Qailah dijadikan padang gembala sementara kami tidak mendapatkan bagian?"

      Beliau siaga perang bersama tujuh ratus sahabatnya dan menunjuk 'Abdullah bin Jubair dari Bani 'Amr bin 'Auf sebagai komandan pasukan pemanah. Saat itu, 'Abdullah bin Jubair diberi sandi pakaian putih dengan jumlah pasukan pemanah sebanyak lima puluh orang. Beliau bersabda kepada 'Abdullah bin Jubair: "Cegah pasukan berkuda mereka dari kami dengan anak panah kalian agar tidak akan menyerang ke tempat kita dari belakang kita. Baik kita menang atau kalah, engkau harus tetap berada pada posisimu semula. Kita tidak akan diserbu dari depanmu!" Beliau merapatkan kedua baju besinya dan menyerahkan panji perang kepada Mush'ab bin 'Umair dari Bani 'Abduddar.1

      Beliau mengijinkan Samurah bin Jundab al-Fazari dan Rafi' bin Khadij saudara Bani Haritsah ikut ikut dalam medan perang. Kedua sahabat tersebut baru berusia lima belas tahun. Sebelumnya beliau menyuruh mereka pulang kembali ke Madinah, kemudian ada seseorang mengatakan kepadanya: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Rafi' itu seorang pemuda pemanah yang lihai." Maka beliau mengizinkannya ikut perang. Setelah mengizinkan Rafi', dikatakan kepada beliau: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Samurah pernah mengalahkan Rafi'." Akhirnya beliau mengizinkan Samurah ikut perang juga. Beliau memulangkan Usamah bin Zaid, 'Abdullah bin 'Umar bin Khaththab, Zaid bin Tsabit salah seorang dari Bani Malik bin an-Najjar, al-Bara' bin Azib salah seorang dari Bani Haritsah, 'Amr bin Hazm salah seorang dari Bani Malik bin an-Najjar, dan Usaid bin Zhuhair salah seorang dari Bani Haritsah, kemudian membolehkan mereka ikut dalam Perang Khandaq saat usia mereka lima belas tahun.3

      Pasukan Quraisy berkekuatan tiga ribu personil dengan dua ratus pasukan berkuda. Mereka menunjuk Khalid bin Walid sebagai komandan pasukan berkuda sayap kanan dan 'Ikrimah bin Abu Jahal sebagai komandan pasukan berkuda sayap kiri.19

    9. Pedang dan Abu Dujanah

      Ikat kepala merah

      Beliau menawarkan sebuah pedang "dengan haknya"; Abu Dujanah Simak bin Kharasyah menerimanya dan mengenakan ikat kepala merah, tanda ia siaga berperang.

      Baca selengkapnya

      Beliau bersabda: "Siapa yang siap mengambil pedang ini dengan haknya?" Beberapa sahabat berdiri untuk mengambilnya dari beliau, namun beliau belum juga memberikan pedang itu kepada seorang pun dari mereka. Abu Dujanah Simak bin Kharasyah dari Bani Saidah berdiri seraya berkata: "Apa haknya, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda: "Engkau menyerang musuh dengannya hingga musuh tersungkur mati” Abu Dujanah berkata: "Aku siap mengambilnya dengan haknya, wahai Rasulullah." Maka beliau memberikan pedang tersebut kepada Abu Dujanah. Abu Dujanah adalah seorang lelaki pemberani dan suka berjalan sombong pada saat perang berkecamuk. Ia membuat tanda dengan ikat kepala berwarna merah di kepalanya. Apabila ia telah memakainya, semua mengerti bahwa dia siaga berperang.1

      Setelah mengambil pedang tersebut dari beliau, ia keluarkan ikat kepala berwarna merah, lalu mengenakannya dan berjalan dengan angkuh di antara dua barisan.

      Beliau bersabda saat melihat Abu Dujanah berjalan dengan sombong: "Sesungguhnya cara berjalan seperti itu yang dibenci Allah kecuali di tempat ini (perang)."1011

    10. Abu 'Amir, sang "Rahib"

      Seruan kepada orang-orang Aus

      Abu 'Amir 'Abdu 'Amr, yang membawa lima puluh budak dari Aus (ada yang mengatakan dua puluh lima) dan berjanji kepada Quraisy bahwa kaumnya tidak akan menentangnya, berseru kepada orang-orang Aus dan dijawab dengan celaan.

      Baca selengkapnya

      'Ashim bin 'Umar bin Qatadah berkata kepadaku bahwa Abu 'Amir 'Abdu 'Amr bin Shaifi bin Malik bin an-Nu'man salah seorang dari Bani Dhabi'ah berada di Makkah karena ingin menjauh dari beliau dengan membawa lima puluh budak dari kabilah Aus, ada yang mengatakan dua puluh lima budak, berjanji kepada orang-orang Quraisy bahwa jika ia bertemu dengan kaumnya, niscaya tidak akan ada seorangpun yang menentangnya. Saat kedua pasukan terlibat pertempuran, orang pertama yang menemui orang-orang Madinah ialah Abu 'Amir dalam barisan orang-orang non Arab dan budak warga Makkah. Abu 'Amir berseru: "Hai orang-orang Aus, saya Abu 'Amir." Orang-orang Aus berkata: "Semoga Allah tidak memberimu mata, wahai orang yang fasik." Pada masa jahiliyah, Abu 'Amir dipanggil dengan sebutan Rahib (pendeta), lalu beliau menamakannya Fasiq (orang fasik). Saat mendengar jawaban orang-orang Aus tadi, ia berkata: "Sepeninggalku, kaumku tertimpa keburukan." Sesudah mendapatkan kenyataan itu, Abu 'Amir memerangi kaum Muslimin dengan sangat brutal dan melemparkan batu ke arah mereka.1

    11. Panji Bani 'Abduddar dan syair Hindun

      Menjelang pertempuran

      Abu Sufyan menggugah Bani 'Abduddar yang memegang panji Quraisy. Hindun binti 'Utbah menabuh rebana di belakang pasukan dan melantunkan syair. Ibnu Hisyam menyebut sandi kaum Muslimin di Uhud.

      Baca selengkapnya

      Abu Sufyan bin Harb membakar semangat para pemegang panji perang Bani 'Abduddar dengan berkata: "Wahai Bani 'Abduddar, kalian ditunjuk memegang panji perang kita pada saat Perang Badar lalu kita kalah sebagaimana kalian ketahui. Sesungguhnya pasukan perang senantiasa di datangi dari arah para pemegang panji perangnya. Apabila para pemegang panji kalah maka pasukan pun kalah. Sekarang terserah kalian, apakah kalian tetap ingin memegang panji perang atau kalian melepaskannya, dan untuk itu kami melindungi kalian." Orang-orang Bani 'Abduddar terpukau dengan tawaran Abu Sufyan dan berjanji padanya dengan berkata: "Kami serahkan panji perang kepadamu. Esok hari, apabila kita berhadapan dengan musuh, engkau akan tahu apa yang akan kami lakukan." Sikap seperti inilah sesungguhnya yang dikehendaki Abu Sufyan bin Harb dari orang-orang Bani 'Abduddar. Ketika kedua pasukan telah bertempur, Hindun binti 'Utbah berdiri bersama wanita lainnya lalu mengambil rebana dan menabuhnya di belakang pasukan orang-orang musyrikin untuk guna menyemangati mereka. Hindun binti 'Utbah berkata:1

      Wahai Bani 'Abduddar,

      Wahai para penjaga bagian belakang

      Tebaslah dengan pedang nan tajam

      Hindun binti 'Utbah juga berkata:

      Kami rangkul kalian jika kalian maju bertempur

      Kami sediakan sandaran dengan bantal kecil

      Kami kan tinggalkan bila kalian mundur

      Dengan perpisahan yang tidak menggembirakan

      Telik sandi kaum Muslimin di Perang Uhud ialah amit (bunuh), amif(bunuh).3

      Kedua pasukan pun berduel hingga perang berkobar.112

    12. Az-Zubair dan Abu Dujanah

      Pedang Abu Dujanah di tengah pertempuran

      Az-Zubair bin al-'Awwam menuturkan bagaimana ia mengikuti Abu Dujanah. Abu Dujanah membunuh banyak musuh dan tidak jadi menebas seorang perempuan.

      Baca selengkapnya

      Tidak sedikit ulama yang berkata kepadaku bahwa Zubair bin 'Awwam berkata: Aku sedih ketika meminta pedang kepada beliau dan beliau tidak mengabulkan permintaanku malah memberikannya kepada Abu Dujanah, padahal aku adalah anak bibinya, Shafiyyah. Aku juga dari kalangan Quraisy di samping itu aku lebih dahulu meminta pedang itu daripada Abu Dujanah. Demi Allah, aku akan lihat sepak terjang apa yang bisa di perbuat Abu Dujanah. Maka aku ikuti dia dan kulihat dia mengeluarkan ikat kepala berwarna merah lalu mengikatkannya di kepalanya. Orang-orang Anshar berkata: "Abu Dujanah mengeluarkan ikat kepala kematian."3

      Demikianlah apa yang dikatakan oleh orang-orang Anshar tentang Abu Dujanah apabila ia mengenakan ikat kepalanya yang berwarna merah. Setelah itu Abu Dujanah keluar sambil berkata:

      Akulah yang disumpah setia oleh kekasihku Kala kami berada di kaki bukit dekat pohon kurma

      Agar aku tidak berada di barisan yang terakhir

      Aku hajar musuhku dengan pedang Allah dan pedang sang Rasul mulia

      Ada riwayat yang menyebutkan kata kabul sebagai ganti kayul. Maka setelah itu, setiap kala berpapasan dengan musuh dia membunuhnya. Di pihak kaum musyrikin ada seseorang yang tidak membiarkan orang terluka di antara kami melainkan pasti ia membantainya. Orang musyrik tersebut mendekat kepada Abu Dujanah dan aku berdoa kepada Allah mudah-mudahan Dia mempertemukan keduanya. Betul, mereka bertemu lalu saling serang. Orang musyrik itu memukul Abu Dujanah, namun perisai kulit Abu Dujanah melindungi dan menahan pedang orang tersebut, kemudian Abu Dujanah membunuhnya. Setelah itu, Abu Dujanah mengayunkan pedangnya di atas kepala Hindun binti 'Utbah, hanya saja ia menurunkan pedangnya kembali. Zubair berkata: Maka aku katakan: " Allah dan Rasul-Nya lebih tahu apa yang terjadi."3

      Abu Dujanah Simak bin Kharasyah berkata: Aku lihat seseorang mengobarkan semangat kaum musyrikin kemudian aku pergi kepadanya. Ketika aku hendak menebasnya, ia mendoakan kecelakaan, ternyata ia perempuan. Akupun tidak jadi mengayunkan pedang beliau dengan tidak memukulkannya pada seorang perempuan.113

    13. Hamzah dan Wahsyi

      Hamzah menghabisi Artha'ah dan Siba'; Wahsyi melemparkan tombak

      Hamzah bin 'Abdul Muththalib menghabisi pemegang panji Artha'ah bin 'Abdu Syurahbil dan Siba' bin 'Abdul 'Uzza. Wahsyi menuturkan bagaimana ia melemparkan tombak ke arah Hamzah, kemudian kisah masuk Islamnya di hadapan beliau dan keikutsertaannya dalam perang melawan Musailamah.

      Baca selengkapnya

      Hamzah bin 'Abdul Muththalib terus menghantam pasukan hingga berhasil menghabisi Artha'ah bin 'Abdu Syurahbil bin Hasyim bin 'Abdu Manaf 'Abduddar. Artha'ah adalah seorang pemegang panji perang kaum musyrikin. setelah itu, Siba' bin 'Abdul 'Uzza al-Ghubsyani yang biasa dipanggil dengan panggilan Abu Niyar berjalan melewati Hamzah bin 'Abdul Muththalib. Hamzah bin 'Abdul Muththalib berkata kepada Siba' bin 'Abdul 'Uzza, "Kemarilah, wahai anak perempuan tukang sunat bayi perempuan!" Ibu Siba' bin 'Abdul 'Uzza adalah Ummu Anmar mantan budak wanita Syariq bin 'Amr bin Wahb ats-Tsaqafi.

      Syariq adalah anak al-Akhnas bin Syariq. Ummu Anmar adalah wanita ahli khitan di Makkah. Ketika keduanya bertemu, Hamzah bin 'Abdul Muththalib menghabisi Siba' bin 'Abdul 'Uzza.3

      Wahsyi budak Jubair bin Muth'im berkata: Demi Allah aku melihat Hamzah bin 'Abdul Muththalib menghabisi orang-orang Quraisy dengan pedangnya tanpa menyisakan seorang pun. Kulihat Hamzah Bin 'Abdul Muththalib seperti unta belang-belang putih dan hitam, tiba-tiba Siba' bin 'Abdul 'Uzza lebih cepat dariku datang kepada Hamzah bin 'Abdul Muththalib. Hamzah bin 'Abdul Muththalib berkata: "Kemarilah!" Usai berkata seperti itu, Hamzah bin 'Abdul Muththalib menghabisi Siba bin 'Abdul 'Uzza. Akupun menggerak-gerakkan tombakku. Saat telah siap, aku melemparkannya ke arah Hamzah bin 'Abdul Muththalib dan tepat mengenai bagian bawah perutnya hingga tombakku keluar di antara kedua kakinya. Hamzah bin 'Abdul Muththalib berusaha berjalan ke arahku, namun ia kehabisan tenaga dan akhirnya terjatuh. Aku membiarkannya beberapa waktu. saat aku yakin ia telah mati, aku ambil tombakku kemudian pergi ke barak, karena tugasku hanyalah membunuh Hamzah bin 'Abdul Muththalib.

      Ketika yakin ia telah meninggal, aku ambil tombakku, kemudian aku masuk ke barak dan duduk di dalamnya. Aku tidak mempunyai tujuan lain selain hanya membunuh Hamzah bin 'Abdul Muththalib, karena aku ingin menjadi orang merdeka dengan membunuhnya. Ketika tiba di Makkah, aku langsung dimerdekakan dan tetap berdomisili di Makkah. Pada saat beliau menaklukkan Makkah, aku melarikan diri ke Thaif dan bertempat tinggal di sana. Ketika delegasi Thaif pergi menemui beliau untuk menyatakan masuk Islam, tiba-tiba semua jalan terasa tertutup bagiku. Aku berkata dalam diriku aku akan pergi ke Syam atau Yaman atau negara lain. Demi Allah, aku merasa demikian hingga ada seseorang berkata kepadaku: "Celakalah engkau, demi Allah, dia tidak pernah membunuh seseorang yang masuk dalam agamanya dan mengucapkan syahadatnya!!"

      Ketika orang tersebut berkata seperti itu kepadaku, aku ikut pergi bersama orang-orang Thaif untuk berjumpa dengan beliau di Madinah. Beliau demikian terkejut melihat aku berdiri di hadapannya dengan mengucapkan syahadat kebenaran. Ketika beliau melihatku, beliau bersabda: "Bukankah engkau Wahsyi?" Aku menjawab: "Benar wahai Rasulullah." Beliau, "Duduklah dan tuturkanlah kepadaku bagaimana caramu menghabisi Hamzah?'"Aku pun bercerita kepada beliau tentang pembunuhan Hamzah bin 'Abdul Muththalib sebagaimana yang aku ceritakan kepada kalian berdua saat ini. Ketika aku telah bercerita tentang pembunuhan terhadap Hamzah bin 'Abdul Muththalib, beliau bersabda: "Celakalah engkau, palingkanlah wajahmu dariku. Aku tidak suka melihatmu kembali!" Aku pergi meninggalkan Rasulullah supaya beliau tidak melihat wajahku.

      Pada saat kaum Muslimin berangkat untuk memerangi Musailamah si Pendusta, penguasa Yamamah, aku ikut bersama mereka dan mengambil tombak yang dulu pernah aku gunakan untuk membunuh Hamzah bin 'Abdul Muththalib. Ketika kedua pasukan telah berhadap-hadapan, aku melihat Musailamah si Pendusta berdiri dengan pedang terhunus dan sat itu aku tidak kenal mengenalinya. Aku bersiap-siap membidiknya. Salah seorang dari kaum Anshar juga siap-siap membidiknya. Kami berdua ingin membunuh Musailamah si Pendusta itu. Aku gerak-gerakkan tombak ku. Ketika telah siap, aku melemparkannya ke arah Musailamah si Pendusta dan tepat mengenainya dan pada saat yang bersamaan, orang dari kaum Anshar memukul Musailamah si Pendusta dengan pedang. Hanya Tuhan yang lebih tahu siapa di antara kami berdua yang membunuh Musailamah si Pendusta itu.

      'Abdullah bin al-Fadhl berkata kepadaku dari Sulaiman bin Yasar dari 'Abdullah bin 'Umar bin Khaththab yang berkata ikut terjun di Perang Yamamah: Pada perang Yamamah, aku dengar seseorang berteriak dengan suara nyaring: "Seorang budak hitam telah membunuhnya."1

      Aku mendapat kabar bahwa Wahsyi tidak henti-hentinya dijatuhi hukuman cambuk karena mengkonsumsi minuman keras hingga namanya di hapus sebagai salah seorang penerima uang pensiunan perang. 'Umar bin Khaththab berkata: "Sungguh aku tahu bahwa Allah Ta'ala tidak pernah membiarkan begitu saja pembunuh Hamzah bin 'Abdul Muththalib hidup tanpa hukuman."314

    14. Mush'ab gugur dan panji berpindah

      Putra-putra Abu Thalhah

      Mush'ab bin 'Umair gugur dibunuh Ibnu Qami'ah yang mengira ia beliau; panji diserahkan kepada 'Ali bin Abu Thalib. Ibnu Ishaq menyebut tewasnya putra-putra Thalhah dan nazar Sulafah, serta kematian 'Utsman bin Abu Thalhah di tangan Hamzah.

      Baca selengkapnya

      Mush'ab bin 'Umair bertempur melindungi beliau hingga gugur. Ia dihabisi oleh Ibnu Qami'ah al-Laitsi karena dia mengira bahwa Mush'ab adalah beliau. Setelah membunuh Mush'ab bin 'Umair yang disangkanya beliau, Ibnu Qami'ah al-Laitsi pulang ke Makkah dan berkata: Aku telah berhasil membunuh Muhammad.1

      Tatkala Mush'ab bin 'Umair gugur sebagai syahid, beliau menyerahkan panji perang kepada 'Ali bin Abu Thalib, kemudian 'Ali bin Abu Thalib bertempur bersama beberapa orang dari kaum Muslimin.

      Abu Sa'ad bin Abu Thalhah dibunuh Sa'ad bin Abu Waqqash. 'Ashim bin Tsabit bin Abu al-Aqlah bertempur habis-habisan dan berhasil membunuh Musafi' bin Thalhah dan saudaranya yang bernama al-Julas bin Thalhah. Keduanya terkena anak panah 'Ashim bin Tsabit. Salah seorang dari keduanya sebelum meninggal menemui ibunya, Sulafah, dan merebahkan kepalanya di pangkuannya. Sulafah berkata: "Anakku, siapakah orang yang telah melukaimu?" Musafi atau al-Julas menjawab: "Tatkala seseorang melemparkan anak panah kepadaku, aku dengar ia berkata: "Terimalah ini, aku anak Abu al-Aqlah." Sulafah pun bernazar apabila Allah menakdirkan padanya untuk melihat kepala 'Ashim bin Tsabit, ia akan menyiramkan minuman keras di kepalanya. Pada saat yang sama 'Ashim bin Tsabit juga bersumpah kepada Allah untuk tidak menyentuh orang kafir atau disentuh orang kafir untuk selama-lamanya.1

      Pada Perang Uhud, 'Utsman bin Abu Thalhah, yang memegang panji perang kaum musyrikin berkata:

      Sesungguhnya para pemegang panji perang ada hak

      Tuk melumuri tombaknya hingga berkeping-keping

      'Utsman bin Abu Thalhah dibunuh Hamzah bin 'Abdul Muththalib.15

    15. Hanzhalah

      Dimandikan para malaikat

      Hanzhalah bin Abu 'Amir gugur dibunuh Syaddad bin al-Aswad setelah hampir mengalahkan Abu Sufyan. Beliau bersabda bahwa malaikat memandikannya, karena ia berangkat dalam keadaan junub.

      Baca selengkapnya

      Hanzhalah bin Abu 'Amir al-Ghasil berduel dengan Abu Sufyan bin Harb pada Perang Uhud. Ketika Hanzhalah bin Abu 'Amir dapat mengatasi perlawanan Abu Sufyan bin Harb, tiba-tiba Syaddad bin al-Aswad bin Sya'ub melihat Hanzhalah bin Abu Harb yang berhasil mengatasi perlawanan Abu Sufyan bin Harb kemudian memukul Hanzhalah bin Abu 'Amir hingga gugur sebagai syahid. Beliau bersabda: "Sesungguhnya sahabat kalian, Hanzhalah, pasti akan dimandikan para malaikat." Para sahabat menanyakan tentang Hanzhalah bin Abu 'Amir kepada istrinya: "Ada apa dengan Hanzhalah bin Abu 'Amir?" Istrinya menjawab bahwa Hanzhalah bin Abu 'Amir berangkat dari rumah dalam keadaan junub pada saat mendengar seruan jihad.1

      Dikatakan "al-hai'ah" sebagai pengganti"al-hatifah ." Disebutkan dalam hadits Rasulullah. Sebaik-baik lelaki adalah seorang yang memegang kendali kudanya, setiap kali dia mendengar teriakan ketakutan maka dia langsung melesat ke Sana.3

      At-Thirimah bin Hakim al-Thai –ada pun makna Thirimah adalah orang yang berpostur tinggi, dia berkata:

      Aku anak-anak keturunan keluarga mulia dari keluarga Malik

      Kapanpun ada teriakan minta tolong kami akan segera berangkat

      Makna "al-hai'ah" adalah teriakan yang di dalamnya ada rasa ketakutan.

      Oleh sebab itulah Rasulullah bersabda: Oleh sebab itulah (belum mandi junub) dia dimandikan oleh para malaikat.1

      Syaddad bin al-Aswad berkata tentang pembunuhan terhadap Hanzhalah bin Abu 'Amir:1

      Aku lindungi sahabat dan diriku sendiri dengan tikaman bak sinar mentari16

    16. Pemanah meninggalkan pos

      Pasukan berkuda datang dari belakang

      Menurut tuturan az-Zubair, kaum Muslimin sudah mendobrak pertahanan Quraisy ketika pasukan pemanah pergi ke perkemahan; pasukan berkuda musuh datang dari belakang dan terdengar teriakan bahwa Muhammad telah terbunuh.

      Baca selengkapnya

      Lalu Allah Ta'ala menurunkan pertolongan kepada kaum Muslimin sehingga mereka berhasil membunuh orang-orang musyrikin dengan pedang-pedang dan memaksa mereka membuka pertahanan. Maka kekalahan telak pun menimpa kaum musyrikin.1

      "Demi Allah, aku menyaksikan gelang kaki Hindun binti 'Utbah dan teman-temannya tertinggal tanpa diambil sedikit pun. Namun tiba-tiba pasukan pemanah pergi ke perkemahan ketika kami berhasil mendobrak pertahanan musuh dan mereka membiarkan punggung kami berada di depan pasukan berkuda musuh. Akhimya kami di datangi pasukan berkuda musuh dari belakang dan seseorang penyeru berseru dengan lantang: "Ketahuilah oleh kalian sesungguhnya Muhammad telah terbunuh." Musuh berhasil mengalahkan kami setelah sebelumnya kami berhasil mengalahkan para pemegang panji mereka hingga tidak ada seorangpun dari kita yang berani mendekatinya.17

      Sharikh maknanya seseorang berteriak keras adalah setan.3

      Sebagian ulama bercerita kepadaku bahwa panji perang orang-orang Quraisy jatuh kemudian diambil oleh 'Amrah binti Alqamah Al Haritsiyah. Ia mengangkatnya tinggi-tinggi kepada orang-orang Quraisy dan orang-orang Quraisypun kemudian berkumpul kembali di sekitar bendera tersebut. Kemudian panji perang tersebut di pegang Shu'ab yang tidak lain adalah budak Abu Thalhah, asal Habasyah dan dialah orang terakhir yang memegangnya. Shu'ab bertempur dengan bendera itu hingga kedua tangannya terputus. Setelah itu, ia bertempur dengan berlutut kemudian ia mendekap panji perang tersebut dengan dada dan lehernya hingga akhirnya ia tewas sambil berkata: "Ya Allah, apakah Engkau memaafkanku?"1

    17. Beliau terluka

      Gigi, bibir, dan wajah

      Pertahanan kaum Muslimin terbuka; 'Utbah bin Abu Waqqash melempar beliau dengan batu hingga terluka di gigi dan bibir. Ibnu Hisyam mencatat luka dari 'Abdullah bin Syihab dan Ibnu Qami'ah, jatuhnya beliau ke lubang yang digali Abu 'Amir, dan peran 'Ali, Thalhah, Abu Sa'id al-Khudri, dan Abu 'Ubaidah.

      Baca selengkapnya

      Pertahanan kaum Muslimin pun berantakan dan kocar kacir dan musuh menyerang mereka. Hari itu adalah hari ujian dan hari penyaringan dimana Allah memuliakan kaum Muslimin dengan memberi peluang mati syahid kepada mereka. Karena pertahanan kaum Muslimin terbuka, mereka berhasil menyelinap masuk ke tempat dimana beliau berada kemudian mereka melempar beliau dengan batu hingga terjatuh dalam posisi miring, batu tersebut mengenai gigi antara gigi depan dengan gigi taring, melukai wajah dan bibir beliau. Orang yang berhasil melempar beliau dengan batu ialah 'Utbah bin Abu Waqqash.1

      Pada Perang Uhud, gigi seri beliau retak dan wajahnya terluka. Darah mengalir pada wajahnya, sambil mengusap darah itu beliau bersabda: "Bagaimana mungkin bahagia sebuah kaum bila mereka melukai wajah Nabi mereka, sementara ia mengajaknya kepada Tuhan mereka." Tentang hal ini, Allah menurunkan firman-Nya:18

      Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengadzab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang zalim. (QS. 'Ali 'Imran: 128).

      Rubaih bin 'Abdurrahman bin Abu Sa'id al-Khudri berkata dari ayahnya dari Abu Sa'id al-Khudri bahwa di Perang Uhud: 'Utbah bin Abu Waqqash melempar beliau hingga memecahkan gigi seri sebelah kanan bawah dan melukai bibir bawah beliau. Sedangkan 'Abdullah bin Syihab az-Zuhri menciderai kening beliau. Ibnu Qami'ah melukai pipi bagian atas yang menonjol hingga dua rantai besi perisai masuk ke dalam pipi bagian atas beliau. Beliau terperosok ke dalam satu lubang yang sengaja digali oleh Abu 'Amir agar kaum muslimin terperosok ke dalamnya tanpa mereka sadari. 'Ali bin Abu Thalib segera memegang tangan beliau sedangkan Thalhah bin 'Ubaidillah mengangkat beliau hingga beliau tegak berdiri. Malik bin Sinan yang tidak lain adalah Abu Sa'id al-Khudri menyeka darah dari wajah beliau lalu menelannya. Beliau bersabda: "Barang siapa darahnya bercampur dengannya darahku, maka ia tidak akan tersentuh neraka."3

      'Abdul Aziz bin Muhammad ad-Darawardi menyebutkan bahwa beliau bersabda: "Barangsiapa ingin melihat orang syahid berjalan di atas muka bumi, maka lihatlah Thalhah bin 'Ubaidillah."3

      'Abdul Aziz bin Muhammad ad-Darawardi berkata dari Ishaq bin Yahya bin Thalhah dari Isa bin Thalhah dari 'Aisyah dari Abu Bakar ash-Shiddiq bahwa Abu 'Ubaidah bin al-Jarrah mencabut salah satu besi dari wajah beliau hingga gigi bagian depannya tanggal dan mencabut besi satunya hingga gigi depan lainnya juga tanggal. Jadi kedua gigi depannya tanggal.3

      Ada dua bait syair yang sengaja tidak saya cantumkan, karena terlalu vulgar.319

    18. Pembela beliau

      Ziyad bin as-Sakan, Ummu 'Umarah, dan Sa'd

      Beliau meminta siapa yang siap berkorban; Ziyad bin as-Sakan (atau 'Umarah bin Yazid) bersama lima orang Anshar bertempur hingga gugur. Ibnu Hisyam menyebut Ummu 'Umarah yang menjadi perisai dan Sa'd bin Abu Waqqash yang memanah.

      Baca selengkapnya

      Pada saat beliau dikepung oleh kaum Quraisy, beliau bersabda: "Siapa orang yang siap berkorban nyawa buat kami?" Ziyad bin as-Sakan berdiri bersama lima orang dari kaum Anshar sebagaimana hal ini dikatakan kepadaku oleh al-Hushain bin 'Abdurrahman bin 'Amr bin Sa'ad bin Muadz dari Mahmud bin 'Amr. Sebagian orang berkata bahwa orang yang siap mengorbankan nyawa untuk beliau adalah 'Umarah bin Yazid bin as-Sakkan. Mereka bertempur dengan sengit melindungi beliau hingga satu persatu dari mereka gugur sebagai syuhada. Sedangkan orang terakhir yang gugur dari kelima orang itu ialah Ziyad atau 'Umarah yang bertempur hingga mengalami luka yang parah. Dalam kondisi kritis itu, datanglah salah satu kelompok dari kaum Muslimin yang akhirnya berhasil menyingkirkan orang-orang musyrik dari sisi beliau. Beliau bersabda: "Dekatkanlah dia kepadaku." Mereka pun mendekatkannya kepada beliau kemudian beliau merebahkan Ziyad bin as-Sakan , lalu ia pun meninggal sedangkan pipinya berada di atas paha beliau.1

      Ummu 'Umarah, perisai beliau hingga panah mengenai punggungnya dan dia memiringkan diri kepada Rasulullah sehingga banyak panah yang mengenai dirinya. Sa'ad bin Abu Waqqash melepas anak panah untuk melindungi beliau.320

    19. Anas bin an-Nadhr dan Ka'ab bin Malik

      "Meninggallah kalian seperti meninggalnya Rasulullah"

      Anas bin an-Nadhr menegur sahabat yang berhenti bertempur setelah kabar kematian beliau dan gugur dengan sengit. Ka'ab bin Malik mengenali beliau dari matanya dan menyerukan kabar gembira, tetapi beliau memberi isyarat agar ia diam.

      Baca selengkapnya

      Al-Qasim bin 'Abdurrahman bin Raff dari Bani 'Adi bin an-Najjar berkata kepadaku bahwa Anas bin an-Nadhr, paman Anas bin Malik, tiba di tempat 'Umar bin Khaththab dan Thalhah bin 'Ubaidillah bersama beberapa orang dari kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang berhenti bertempur. Anas bin an-Nadhr berkata: "Kenapa kalian duduk?!" Mereka menjawab, "Rasulullah telah gugur." Dengan sedikit berang Anas bin an-Nadhr berkata: "Jika demikian, apa yang akan bisa kita lakukan dengan kehidupan ini setelah beliau gugur? Meninggallah kalian seperti meninggalnya beliau."1

      Usai mengatakan itu, Anas bin an-Nadhr maju ke arah musuh dan bertempur sengit hingga gugur sebagai syahid. Anas bin Malik diberi nama Anas seperti dirinya.

      Sebagian ulama bercerita kepadaku bahwa tatkala Perang Uhud terjadi, bibir 'Abdurrahman bin 'Auf terluka, gigi depannya patah, terluka sebanyak dua puluh atau lebih. Sebagian luka itu ada pada kakinya hingga membuatnya pincang. Ka'ab bin Malik berkata: "Aku ketahui kedua mata beliau mengkilat dari balik tutup kepalanya, kemudian aku berteriak dengan suaraku yang paling lantang: "Wahai kaum Muslimin, bergembiralah kalian. Inilah Rasulullah." Namun beliau memberi padaku isyarat agar aku diam.3

    20. Naik ke jalan Uhud, Ubay bin Khalaf

      Tikaman di leher

      Setelah kaum Muslimin mengetahui beliau masih hidup, beliau dikawal menuju jalan ke Gunung Uhud. Beliau menikam leher Ubay bin Khalaf, yang pernah mengancam akan membunuh beliau dengan kudanya, dan Ubay mati di Saraf.

      Baca selengkapnya

      Tatkala kaum Muslimin mengetahui bahwa beliau masih hidup, mereka beranjak bangkit mendekati beliau. Kemudian beliau pergi ke jalan ke Gunung Uhud bersama mereka dan dikawal oleh Abu Bakar ash-Shiddiq, 'Umar bin Khaththab, 'Ali bin Abu Thalib, Thalhah bin 'Ubaidillah, Zubair, al-Harits bin ash-Shammah, dan sejumlah sahabat lainnya dari kaum Muslimin.1

      Pada saat beliau berjalan mendaki menuju Gunung Uhud, dia berjumpa dengan Ubay bin Khalaf. Beliau maju menuju Ubay bin Khalaf dan menikam lehernya sehingga membuatnya tersungkur beberapa kali dari kuda tunggangannya.1

      Ubay bin Khalaf, seperti dituturkan kepadaku oleh Shalih bin Ibrahim bin 'Abdurrahman bin 'Auf, pernah bertemu beliau di Makkah kemudian berkata kepada: "Wahai Muhammad, aku mempunyai kuda bemama al-Audz yang aku beri makan sebanyak dua belas kwintal makanan setiap harinya agar membunuhmu pada saat aku sedang menungganginya." Beliau bersabda: "Justru sebaliknya, akulah yang akan membunuhmu, insya Allah." Maka matilah musuh Allah itu di Saraf dan orang-orang Quraisy membawa mayatnya ke Makkah."121

    21. Air dari al-Mihras, kavaleri di gunung, dan batu cadas

      Thalhah dan shalat Zhuhur

      'Ali mengambil air di al-Mihras; beliau mencium bau tidak sedap dan memakainya untuk membersihkan wajah. Kavaleri Quraisy mendaki gunung; 'Umar dan beberapa Muhajirin mengusir mereka. Thalhah duduk menopang beliau naik ke batu cadas.

      Baca selengkapnya

      Pada saat beliau sampai di lorong jalan menuju Gunung Uhud, 'Ali bin Abu Thalib keluar untuk mengisi tempat airnya di al-Mihras lalu membawanya kepada beliau untuk diminum oleh beliau. Hanya saja Rasulullah mencium bau tidak sedap pada air tersebut dan beliau tidak jadi meminumnya. Beliau membersihkan sisa darah dari wajahnya dan menyiramkan air tersebut ke kepalanya sambil bersabda, "Allah sangat murka kepada seseorang yang melukai wajah nabi-Nya."1

      Ketika beliau berada di lorong jalan menuju Gunung Uhud bersama beberapa sahabatnya, tiba-tiba pasukan berkuda Quraisy mendaki gunung.1

      Di antara pasukan berkuda tersebut adalah Khalid bin Walid.3

      Lalu beliau bersabda, "Ya Allah, tidak layak bagi mereka berada di atas kami!" Lalu 'Umar bin Khaththab bersama beberapa orang kaum Muhajirin melawan mereka hingga menjungkalkan mereka dari gunung.1

      Beliau pergi ke batu cadas di gunung untuk mendakinya dalam keadaan badan mulai lemah dengan mengenakan baju besi di depan dan belakang badannya. Beliau berusaha mendaki, namun tidak berhasil, kemudian Thalhah bin 'Ubaidillah duduk di bawah beliau dan berdiri bersamanya hingga beliau mampu berdiri tegak. Saat itulah beliau seperti dikatakan kepadaku oleh Yahya bin 'Abbad bin 'Abdullah bin Zubair dari ayahnya dari 'Abdullah bin Zubair dari Zubair, bersabda: "Thalhah pasti masuk surga."1

      Aku mendapat berita dari 'Ikrimah dari Ibnu 'Abbas bahwa beliau tidak mampu mencapai tempat yang dibangun di lorong jalan yang menuju Gunung Uhud.3

      'Umar mantan budak Ghufrah menyebutkan bahwa Nabi Muhammad melaksanakan shalat Zhuhur di perang Uhud dengan cara duduk akibat luka yang menimpanya sedangkan kaum muslimin mengerjakan shalat di belakangnya dengan cara yang sama.322

    22. Husail bin Jabir, Quzman, dan Mukhairiq

      Orang-orang yang gugur di Uhud

      Husail bin Jabir (al-Yaman) tewas secara tidak sengaja di tangan kaum Muslimin; Hudzaifah menyedekahkan diyatnya. Quzman bertempur sengit lalu bunuh diri; Mukhairiq, yang disebut orang Yahudi terbaik, gugur.

      Baca selengkapnya

      Para sahabat mundur dari beliau hingga sebagian dari mereka tiba di al-Munaqqa dekat al-A'wash. Tsabit bin Waqasy dihabisi oleh orang-orang musyrikin, sedang Husail bin Jabir (Al-Yaman) tewas dengan tangan kaum Muslimin. Mereka tidak sengaja menghabisi Husail bin Jabir (Al-Yaman) karena tidak tahu bahwa ia adalah Husail bin Jabir (al-Yaman). Hudzaifah bin al-Yaman berkata: "Ini ayahku." Para sahabat berkata: "Sungguh kami andai kami tahu pasti kami tidak melakukan itu!! Dan mereka berkata benar." Hudzaifah berkata: "Mudah-mudahan Allah mengampuni kalian, karena Allah Dzat yang paling Penyayang." Beliau ingin memberi diyat(tebusan darah) kepada Hudzaifah, namun Hudzaifah menyedekahkan diyatnya kepada kaum Muslimin. Peristiwa ini semakin mendekatkan Hudzaifah dengan beliau.1

      'Ashim bin 'Umar bin Qatadah berkata: di tengah-tengah kami ada orang asing yang tidak diketahui dari mana dia berasal. Namanya Quzman. Jika namanya disebutkan di sisi beliau, beliau bersabda: "Dia pasti termasuk salah seorang penghuni neraka." Di perang Uhud, Quzman berperang dengan sengit dan berhasil membunuh tujuh atau delapan orang dari kaum musyrikin. Ia sosok lelaki yang kuat. Pada Perang Uhud ia terluka. Lalu ia dibawa ke pemukiman Bani Zhafar. Orang-orang dari kaum Muslimin berkata kepadanya: "Demi Allah, engkau berhasil pada hari ini wahai Quzman, maka bergembiralah!" Quzman berkata: "Kabar gembira apa yang ucapkan untukku? Demi Allah, aku berperang hanya untuk membela kehormatan kaumku. Kalau bukan karena itu aku tidak akan berperang." Saat lukanya bertambah parah, maka ia mengambil anak panah dari tempat perlengkapan perangnya, lalu iapun bunuh diri dengannya.1

      Di antara orang yang terbunuh pada Perang Uhud ialah Mukhairiq. Ia salah seorang warga Bani Tsa'labah bin al-Fithyaun. Beliau bersabda, sebagaimana dituturkan kepadaku: "Mukhairiq adalah orang Yahudi terbaik."123

    23. Al-Harits bin Suwaid

      Munafik yang membunuh dua orang Muslim

      Al-Harits bin Suwaid ikut perang, membunuh dua orang Muslim lalu lari ke Makkah. Setelah turun QS Ali 'Imran: 86 ia kembali ke Madinah dan dibunuh atas perintah beliau; Ibnu Ishaq juga mengisahkan Suwaid bin Shamit.

      Baca selengkapnya

      Al-Harits bin Suwaid bin Shamid seorang munafiq, pada Perang Uhud, ia ikut bersama kaum muslimin. Ketika kaum muslimin telah bertemu dengan kaum musyrikin, al-Harits bin Suwaid bin Shamid menghabisi al-Mujadzdir bin Dziyad al-Balawi dan Qais bin Zaid, warga Bani Dhuba'iah. Setelah membunuh keduanya, al-Harits bin Suwaid bin Shamid pergi ke Makkah bergabung dengan orang-orang kafir Quraisy. Beliau, sebagaimana dituturkan para ulama, memerintahkan 'Umar bin Khaththab membunuhnya apabila dia berhasil menangkapnya. Namun 'Umar bin Khaththab tidak berhasil mengejarnya karena ia berada di Makkah. Kemudian beliau mengutus saudara al-Harits bin Suwaid yang bernama al-Julas bin Suwaid untuk menemui al-Harits bin Suwaid dan memintanya bertaubat agar ia bisa kembali kepada kaumnya.1

      Maka Allah, sebagaimana dituturkan kepadaku dari Ibnu 'Abbas, menurunkan ayat tentang al-Harits bin Suwaid bin Shamid dalam firman-Nya:1

      Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keterangan pun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim (QS. 'Ali 'Imran: 86), hingga akhir kisah.

      Tatkala beliau berada bersama beberapa orang sahabatnya, tiba-tiba al-Harits bin Suwaid keluar dari salah satu kebun Madinah, dia memakai pakaian rangkap dua berwarna merah darah. Rasulullah memerintahkan 'Utsman bin 'Affan untuk menghabisinya dan 'Utsman bin 'Affan pun menebas kepalanya. Ada yang mengatakan bahwa beliau menyuruh salah seorang dari kaum Anshar untuk menghabisi al-Harits bin Suwaid bin Shamit.

      Suwaid bin Shamit dibunuh Muadz bin Afra' dengan cara tipu daya dan bukan dihabisi di medan perang. Muadz bin Afra' melempar Suwaid bin Shamit dengan anak panah dan menewaskannya sebelum meletusnya Perang Bu'ats.1

    24. Pencincangan dan seruan Abu Sufyan

      Janji bertemu di Badar tahun depan

      Hindun dan wanita-wanita Quraisy memutilasi para korban dan memakai telinga dan hidung mereka sebagai perhiasan. Abu Sufyan berseru bahwa ia tidak menyuruh dan tidak melarang itu, dan menantang kaum Muslimin bertemu kembali di Badar tahun depan. 'Ali diutus mengikuti jejak Quraisy.

      Baca selengkapnya

      Hindun binti 'Utbah dan wanita-wanita Quraisy yang bersamanya memutilasi korban dari sahabat-sahabat beliau sebagaimana hal ini dikatakan kepadaku oleh Shalih bin Kaisan dan mengiris telinga-telinga dan hidung-hidung mereka. Bahkan lebih jahat dari itu, Hindun binti 'Utbah menjadikan telinga-telinga dan hidung-hidung korban dari para sahabat sebagai gelang kaki dan kalung. Sedangkan gelang kaki dan kalung serta cin-cin yang dia pakai diberikan kepada Wahsyi budak Jubair bin Muth'im. Tidak hanya sampai batas itu, Hindun binti 'Utbah membelah hati Hamzah bin 'Abdul Muththalib, mengunyah, dan ingin menelannya namun ia tidak mampu maka iapun memuntahkannya.1

      Al-Hulais bin Zabban dari Bani al-Harits bin 'Abdu Manat saat itu adalah pemimpin orang non Arab (Ubaiys). Ia berjalan melewati Abu Sufyan bin Harb yang sedang memukul tulang rahang bagian bawah Hamzah bin 'Abdul Muththalib dengan besi tombak sambil berkata: "Rasakanlah ini, wahai makhluk durhaka." Al-Hulais berkata: "Wahai orang-orang Bani Kinanah, apakah demikian perilaku pemuka Quraisy terhadap anak pamannya sendiri yang telah menjadi mayat?" Abu Sufyan bin Harb berkata: "Celakalah engkau, rahasiakan hal ini, ini hanyalah sebuah kesalahan kecil." Setelah itu, Abu Sufyan bin Harb berteriak: "Di antara korban-korban kalian ada yang dicincang. Demi Allah, aku tidak rela, tidak marah, tidak melarang dan tidak pula menyuruh mereka melakukan itu." Ketika Abu Sufyan bin Harb dan anak buahnya hendak pulang ke Makkah, Abu Sufyan bin Harb berseru, "Sesungguhnya kita akan bertemu kembali kalian di Badar tahun depan." Beliau bersabda kepada salah seorang sahabatnya: "Katakan padanya ya. Kita mempunyai janji itu!"1

      Kemudian beliau mengutus 'Ali bin Abu Thalib dan bersabda kepadanya: "Ikutilah jejak-jejak perjalanan orang-orang Quraisy itu!" 'Ali bin Abu Thalib berkata: "Aku berjalan menelusuri jejak-jejak perjalanan orang-orang Quraisy karena ingin melihat apa yang mereka lakukan. Ternyata mereka menggiring kuda-kuda mereka di sebelah selatan mereka dan menaiki unta-unta mereka dan beranjak pulang ke Makkah.124

    25. Jenazah Hamzah

      Kemarahan beliau dan ayat an-Nahl

      Beliau menemukan Hamzah di dasar lembah dalam keadaan tercincang, dan kaum Muslimin bersumpah akan membalas lebih berat. QS an-Nahl: 126-127 turun, dan beliau memaafkan serta melarang pencincangan.

      Baca selengkapnya

      Setelah itu, kaum Muslimin mengurusi korban mereka.

      Sesudah itu, beliau keluar mencari Hamzah bin 'Abdul Muththalib, sebagaimana dituturkan kepadaku, dan menemukannya di dasar lembah dengan perut robek dan hatinya dicincang-cincang, hidung dan kedua telinganya dipotong-potong. Ketika kaum Muslimin menyaksikan duka lara beliau dan murkanya atas perbuatan orang kafir Quraisy terhadap pamannya, mereka berkata: "Jika suatu saat nanti Allah memenangkan kita atas mereka, kita habisi mereka dengan cara yang belum pernah lakukan oleh orang Arab manapun."1

      Ketika beliau berdiri di hadapan jenazah Hamzah bin 'Abdul Muththalib, beliau bersabda: "Aku tidak akan pernah akan mendapat musibah selama-lamanya seperti musibah kematianmu ini. Aku tidak pernah berdiri dalam keadaan marah sebagaimana kemarahanku ini." Beliau lebih lanjut bersabda: Jibril baru saja datang menemuiku dan menjelaskan kepadaku bahwa Hamzah bin 'Abdul Muththalib tertulis di penghuni tujuh langit: "Hamzah singa Allah dan Rasul-Nya." Beliau, Hamzah bin 'Abdul Muththalib, dan Abu Salamah bin 'Abdul Asad tiga saudara sesusuan. Mereka disusui oleh mantan budak perempuan Abu Lahab.3

      Buraidah bin Sufyan bin Farwah al-Aslami berkata kepadaku dari Muhammad bin Ka'ab al-Quradhi dan seseorang yang tidak aku ragukan integritasnya yang berkata kepadaku dari Ibnu 'Abbas bahwa Allah Yang Mahamulia menurunkan ayat berikut tentang ucapan beliau dan sahabat-sahabatnya:1

      Dan jika kalian memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepada kalian. Akan tetapi jika kalian bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. (QS. an-Nahl: 126-127).

      Maka beliau memberi maaf pada orang-orang yang mencincang Hamzah bin 'Abdul Muththalib, bersabar dan melarang pencincangan.

      "Tidaklah pernah sekalipun beliau apabila berdiri di satu tempat dan sebelum meninggalkannya beliau selalu memerintahkan kami bersedekah dan melarang kita mencincang.2526

    26. Shalat jenazah dan pemakaman

      Dimakamkan di tempat gugur

      Beliau menshalati Hamzah dengan tujuh takbir, lalu jenazah lain didatangkan satu per satu hingga Hamzah dishalati tujuh puluh dua kali menurut Ibnu Ishaq. Beliau melarang membawa korban ke Madinah dan memerintahkan mereka dimakamkan di tempat gugur, dua atau tiga orang dalam satu liang.

      Jabal Uhud dilihat dari kawasan pemakaman syuhada Uhud
      Jabal Uhud dilihat dari kawasan pemakaman syuhada Uhud, kondisi sekarang (foto 11 Maret 2017; deskripsi berkas: "Jabal e Uhud seen from cemetery of Uhud where martyrs of Uhud are lying in their graves"). Fotonya memperlihatkan gunung dan sekitarnya, bukan makamnya.Foto: CR Guru PK · CC BY-SA 4.0 · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Beliau memerintahkan jenazah Hamzah bin 'Abdul Muththalib ditutup dengan kain burdah kemudian dishalati. Beliau bertakbir sebanyak tujuh takbir. Setelah itu, jenazah-jenazah lainnya didatangkan dan diletakkan di dekat jenazah Hamzah bin 'Abdul Muththalib kemudian dishalati sedang jenazah Hamzah bin 'Abdul Muththalib bersama mereka hingga akhirnya Hamzah bin 'Abdul Muththalib dishalati sebanyak tujuh puluh dua kali.27

      'Abdullah bin Jahsy juga dicincang-cincang sebagaimana Hamzah bin 'Abdul Muththalib hanya saja perutnya tidak dibelah untuk diambil hatinya. Kemudian beliau memerintahkan 'Abdullah bin Jahsy dimakamkan satu tempat dengan kuburan Hamzah bin 'Abdul Muththalib. Hal ini hanya aku dengar dari keluarga 'Abdullah bin Jahsy.

      Awalnya beberapa orang dari kaum Muslimin ingin membawa korban perang Uhud ke Madinah dan dikuburkan di sana, namun beliau melarang seraya bersabda: "Kuburkanlah mereka di tempat mereka gugur."1

      Muhammad bin Muslim az-Zuhri dari 'Abdullah bin Tsa'labah bin Shu'air al-Udzri sekutu Bani Zuhrah, berkata bahwa tatkala beliau berdiri di depan korban Perang Uhud, beliau bersabda, "Aku menjadi saksi bagi mereka bahwa setiap orang yang terluka di jalan Allah, maka Allah akan membangkitkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan lukanya berdarah; warnanya warna darah dengan aroma wangi kasturi. Lihatlah mana di antara mereka yang paling banyak hapalan al-Qur'annya kemudian letakkan dia di depan sahabat-sahabatnya di kuburan." Para sahabat memakamkan dua atau tiga orang dalam satu liang lahat.1

      Pamanku, Musa bin Yasar, berkata kepadaku bahwa ia mendengar Abu Hurairah berkata bahwa beliau bersabda: "Barangsiapa yang terluka di Jalan Allah, maka Allah akan membangkitkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan lukanya berdarah; warnanya warna darah dengan wangi kasturi."1

      Abu Ishaq bin Yasar berkata kepadaku dari tetua Bani Salimah bahwa beliau bersabda pada saat memerintahkan pemakaman para korban Perang Uhud: "Lihatlah 'Amr al-Jamuh dan 'Abdullah bin 'Amr bin Haram, sesungguhnya keduanya bersahabat karib di dunia, oleh karena itu, letakkan keduanya di satu liang lahat."128

    27. Kembali ke Madinah

      Hamnah binti Jahsy dan tangisan untuk Hamzah

      Hamnah binti Jahsy tegar mendengar kabar saudaranya dan pamannya, tetapi menangis keras atas suaminya, Mush'ab. Beliau menangis mendengar ratapan di perkampungan Anshar dan mengingat bahwa tak ada yang menangisi Hamzah. Beliau menyerahkan pedang kepada Fathimah.

      Baca selengkapnya

      Lalu beliau pulang ke Madinah dan berpapasan dengan Hamnah binti Jahsy, sebagaimana disampaikan kepadaku. Ketika Hamnah binti Jahsy bertemu para sahabat dan diberi kabar tentang saudaranya yang syahid, 'Abdullah bin Jahsy, maka ia mengucapkan innalillaahi wa inna ilaihi raaji'un dan memintakan ampunan kepada Allah untuknya. Setelah itu, ia diberi kabar tentang pamannya dari jalur ibunya, Hamzah bin 'Abdul Muththalib, yang juga syahid kemudian ia mengucapkan inna lillaahi wa inna ilaihi raaji'un dan memintakan ampunan kepada Allah untuknya. Lalu ia diberi kabar tentang suaminya, Mush'ab bin 'Umair yang juga syahid. Iapun menjerit dan menangis kencang sambil mengucapkan kata-kata sesal berat. Melihat hal ini beliau bersabda: "Sesungguhnya seorang suami itu memiliki tempat tersendiri dalam relung hati istrinya." Rasulullah bersabda seperti itu, saat melihat Hamnah binti Jahsy tegar saat mendengar syahidnya saudara dan pamannya dari jalur ibunya, namun berteriak keras histeris atas syahidnya suaminya tercinta.1

      Beliau berjalan melewati pemukiman-pemukiman kaum Anshar yaitu pemukiman Bani 'Abdul Asyhal dan pemukiman Zhafar, dan mendengar ratap tangis atas korban-korban mereka. Kedua mata Rasulullah mengucurkan air mata, seraya bersabda: "Namun kenapa tidak ada seorang wanitapun yang menangisi Hamzah!"1

      Pada saat Sa'ad bin Muadz dan Usaid bin Hudhair pulang ke tempat Bani 'Abdul Asyhal, keduanya memerintahkan wanita-wanita Bani 'Abdul Asyhal menggunakan ikat pinggang lalu pergi untuk menangisi Hamzah bin 'Abdul Muththalib, paman beliau.

      Hakim bin Hakim bin 'Abbad bin Hunaif berkata dari seseorang dari Bani 'Abdul Asyhal yang berkata: Pada saat beliau mendengar jerit tangis wanita-wanita tersebut atas Hamzah bin 'Abdul Muththalib, beliau keluar menemui mereka yang berada di pintu masjid kemudian bersabda: "Pulanglah, semoga Allah merahmati kalian. Sungguh kalian telah mensejajarkan Hamzah dengan korban-korban kalian."1

      Sejak waktu itulah, beliau melarang ratapan histeris terhadap jenazah.3

      Abu 'Ubaidah berkata kepadaku bahwa ketika beliau mendengar jerit tangis wanita-wanita Anshar, beliau bersabda kepada mereka: "Semoga Allah merahmati orang-orang Anshar, sesungguhnya tenggang rasa adalah sikap mereka sejak lama. Perintahkan mereka pulang ke rumahnya masing-masing."3

      Pada saat beliau tiba di rumah, beliau menyerahkan pedangnya kepada putrinya, kesayangannya Fathimah, sambil bersabda: "Bersihkanlah darah dari pedang ini wahai puteriku. Demi Allah, pedang tersebut telah berlaku jujur kepadaku di hari ini." 'Ali bin Abu Thalib juga menyerahkan pedangnya kepada Fathimah sambil berkata: "Tolong pedang ini juga dibersihkan darahnya, karena sesungguhnya ia telah berlaku jujur kepadaku di hari ini!" Beliau bersabda: "Jika engkau berperang dengan jujur, sesungguhnya Sahl bin Hunaif dan Abu Dujanah telah juga berperang dengan jujur bersamamu dirimu."1

      Pedang beliau dinamakan Dzul Faqar.3

      Ibnu Hisyam berkata bahwa sebagian ulama berkata kepadanya bahwa Ibnu Abu Najih berkata: Seorang penyeru berseru di Perang Uhud:

      Tidak ada pedang kecuali pedang Dzul Faqar Dan tidak ada pemuda kecuali 'Ali

      Sebagian Ulama berkata kepadaku bahwa beliau bersabda kepada 'Ali bin Abu Thalib: "Orang-orang musyrikin tidak akan pernah lagi mengalahkan kita sesudahnya (yakni Perang Uhud) sampai Allah memenangkan kita."3

      Perang Uhud terjadi pada hari Sabtu pertengahan bulan Syawwal.129

    28. Hamra' al-Asad

      Mengejar musuh sehari setelah Uhud

      Pada Ahad 16 Syawwal beliau memerintahkan kaum Muslimin yang ikut Uhud mengejar musuh agar mereka menyimpulkan bahwa beliau lebih kuat. Beliau sampai di Hamra' al-Asad, kira-kira delapan mil dari Madinah, dan menetap di sana Selasa, Rabu, dan Kamis.

      Baca selengkapnya

      Keesokan harinya, yakni pada Ahad tanggal 16 Syawwal, penyeru beliau mengumumkan kepada kaum Muslimin dengan intruksi agar mereka mengejar musuh dan agar tidak ada seorang pun yang melakukan pengejaran bersama kami kecuali mereka yang ikut serta pada Perang Uhud kemarin. Beliau bersama para sahabatnya mengejar musuh untuk menakut-nakuti mereka agar saat mereka mendengar beliau melakukan pengejaran mereka berkesimpulan bahwa beliau jauh lebih kuat, dan bahwa apa yang menimpa para sahabatnya itu sama sekali tidak melemahkan semangat juang mereka.

      Beliau berjalan hingga tiba di Hamra' al-Asad yang berjarak delapan sekitar mil dari kota Madinah.1

      Beliau menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai imam untuk sementara di Madinah. Beliau menetap di Hamra' al-Asad hari Selasa, Rabu, dan Kamis, kemudian pulang kembali ke Madinah.330

    29. Ma'bad al-Khuza'i dan kafilah 'Abdul Qais

      Abu Sufyan mengurungkan niatnya

      Ma'bad bin Abu Ma'bad dari Khuza'ah menemui Abu Sufyan di ar-Rauha' dan menggambarkan pengejaran kaum Muslimin. Syairnya mengurungkan niat Abu Sufyan, dan pesan lewat kafilah 'Abdul Qais disambut dengan "Cukuplah Allah bagi kita".

      Baca selengkapnya

      'Abdullah bin Abu Bakr berkata kepadaku bahwa Ma'bad bin Abu Ma'bad dari Khuza'ah berjalan melewati beliau. Orang Muslim dan orang kafir Khuza'ah adalah kepercayaan beliau dalam hal-hal yang bersifat rahasia di Tihamah. Beliau mempunyai kesepakatan dengan mereka bahwa mereka tidak boleh menyembunyikan apa saja yang terjadi di Khuza'ah. Saat itu, Ma'bad bin Abu Ma'bad adalah seorang musyrik. Ia berkata: "Wahai Muhammad, demi Allah, sungguh kami demikian berduka atas apa yang menimpa sahabat-sahabatmu dan kami berharap Allah menyelamatkanmu di tengah-tengah mereka." Usai mengatakan itu, Ma'bad bin Abu Ma'bad pergi sedang beliau tetap di Hamra' al-Asad dan bertemu dengan Abu Sufyan bin Harb beserta anak buahnya di ar-Rauha yang telah sepakat untuk kembali menghadapi beliau dan para sahabatnya. Mereka berkata: "Kita telah berhasil mengalahkan kekuatan sahabat-sahabat Muhammad, tokoh-tokoh, dan pemimpin-pemimpin mereka, apakah kemudian kita pulang sebelum berhasil membasmi mereka hingga habis. Kini kita akan kembali balik untuk menghabisi sisa-sisa mereka." Ketika Abu Sufyan bin Harb melihat Ma'bad bin Abu Ma'bad, ia berkata: "Kabar apa yang engkau bawa, wahai Ma'bad?" Ma'bad menjawab: "Muhammad sedang melakukan dengan sahabat-sahabatnya sedang melakukan pengejaran terhadap kalian yang belum pernah aku lihat sebelumnya, karena mereka marah kepada kalian. Sahabat-sahabatnya yang tidak ikut bersamanya pada Perang Uhud kini semuanya bergabung dengannya dan menyesal karena tidak ikut perang. Mereka demikian marah kepada kalian, satu hal yang belum aku lihat sebelumnya." Abu Sufyan bin Harb berkata: "Celakalah engkau, lalu apa pandanganmu?" Ma'bad bin Abu Ma'bad berkata: "Demi Allah, aku berpendapat hendaknya engkau pergi hingga lihat ubun-ubun kuda." Abu Sufyan bin Harb berkata: "Demi Allah, sesungguhnya kami telah sepakat untuk balik kembali ke tempat mereka dan menghabisi sisa-sisa mereka." Ma'bad bin Abu Ma'bad berkata: Aku cegah engkau untuk melakukan tindakan seperti itu. Demi Allah, sungguh apa yang aku lihat membuatku mendendangkan syai-syair tentang mereka." Abu Sufyan bin Harb berkata: 'Syair-syair seperti apa yang engkau lantunkan tentang mereka?' Ma'bad bin Abu Ma'bad berkata: "Aku berkata:1

      Hewan kendaraanku nyaris tersungkur karena suara-suara

      Ketika bumi mengalir dengan kuda-kuda dalam berkelompok-kelompok Kuda-kuda itu lari dengan

      singa-singa mulia yang tidak pendek di saat perang

      Tiada bersenjata dan tiada mampu bertahan di atas pelana kuda

      Aku terus berlari karena menduga bumi telah menjadi miring

      Kala mereka menyerang kami dengan pemimpin nan pantang mundur

      Aku katakan: Celakalah anak Harb bila berjumpa dengan kalian”

      Jika bumi berguncang dengan sekumpulan manusia

      Aku ingatkan penduduk tanah suci yang menyembah berhala secara terbuka

      Bagi setiap orang yang masih berakal

      Dari pasukan Ahmad yang di dalamnya tidak ada tandingan

      Apa yang aku katakan ini tidak bisa diurai lewat ungkapan kata

      Syair-syair di atas mengurungkan keinginan Abu Sufyan bin Harb dan anak buahnya untuk pergi ke Madinah.

      Kafilah musafir dari Bani 'Abdul Qais melewati Ma'bad bin Abu Ma'bad, kemudian Ma'bad bin Abu Ma'bad berkata kepada mereka: "Mau ke mana kalian?" Mereka menjawab: "Ke Madinah?" Ma'bad bin Abu Ma'bad berkata: "Apa keperluan kalian pergi ke Madinah?" Mereka menjawab,: "Kami hendak pergi ke al-Mirah." Ma'bad bin Abu Ma'bad berkata: "Maukah kalian membawakan suratku kepada Muhammad? Apabila kalian bersedia, aku akan membawakan anggur ini pada kalian di Pasar 'Ukadz esok pagi?" Mereka menjawab: "Ya." Ma'bad bin Abu Ma'bad berkata: "Jika kalian bersedia, katakan pada Muhammad bahwa kami telah sepakat kembali balik kepadanya dan sahabat-sahabatnya untuk menghabisi seluruh sisa-sisa mereka." Rombongan musafir tersebut pun berjalan melewati beliau di Hamra' al-Asad dan mereka menceritakan kepada beliau apa yang dikatakan Abu Sufyan bin Harb dan anak buahnya. Beliau bersabda: "Cukuplah Allah bagi kita dan Dia sebaik-baik Pelindung."31

    30. Abu 'Azzah dan Mu'awiyah bin al-Mughirah

      Orang mukmin tidak disengat dua kali dari lubang yang sama

      Shafwan bin Umayyah menasihati agar Quraisy tidak kembali. Sebelum pulang ke Madinah, beliau menangkap Mu'awiyah bin al-Mughirah dan Abu 'Azzah al-Jumahi; Abu 'Azzah dibunuh.

      Baca selengkapnya

      Abu 'Ubaidah berkata kepada kami bahwa ketika Abu Sufyan bin Harb dan anak buahnya pulang dari Perang Uhud lalu ia berencana kembali balik ke Madinah untuk menghabisi seluruh sisa-sisa sahabat beliau, sebagaimana yang mereka rencanakan, Shafwan bin Umayyah bin Khalaf berkata kepada mereka: "Janganlah kalian kerjakan itu, karena mereka sedang dilanda marah besar. Kita khawatir mereka memiliki semangat tempur yang tidak sebelumnya tidak mereka miliki, maka kembalilah kalian ke Makkah." Abu Sufyan bin Harb dan anak buahnya pun pulang ke Makkah. Beliau yang saat itu berada di Hamra' al-Asad dan mendengar orang-orang Quraisy bertekad untuk balik menyerangnya bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, batu telah ditandai buat mereka. Seandainya mereka diserang dengannya, pasti mereka akan mengalami seperti yang kemarin mereka alami."3

      Abu 'Ubaidah berkata kepadaku bahwa sebelum pulang ke Madinah, beliau menangkap Muawiyah bin al-Mughirah bin Abu al-Ash bin Umayyah bin 'Abdu Syams, kakek dari 'Abdul Malik bin Marwan karena ia ayah dari ibunya yang bernama 'Aisyah binti Muawiyah dan juga menangkap Abu 'Azzah al-Jumahi. Rasulullah pernah menawannya menawan Abu 'Azzah al-Jumahi di Perang Badar, lalu membebaskannya. Abu 'Azzah al-Jumahi berkata: "Wahai Rasulullah, bebaskanlah aku!" Beliau bersabda AKU KataKan: "Tidak, demi Allah, engkau tidak lagi bisa membasuh kedua sisi badanmu di Makkah lalu kau katakan: Aku telah menipu Muhammad dua kali.' Habisi ia, wahai Zubair." Zubair pun menghabisinya.3

      Aku mendengar dari Sa'id bin al-Musayyib yang berkata bahwa beliau bersabda kepada Abu 'Azzah al-Jumahi: "Sesungguhnya orang Mukmin tidak mungkin disengat dari lubang yang sama hingga dua kali. Habisi, hai 'Ashim bin Tsabit." 'Ashim bin Tsabit pun menghabisi Abu 'Azzah al-Jumahi.332

    31. 'Abdullah bin Ubay di hari Jum'at

      Ujian dan penyaringan

      'Abdullah bin Ubay yang biasa berpidato tiap Jum'at diminta duduk oleh kaum Muslimin setelah perbuatannya di Uhud. Ibnu Ishaq menyimpulkan bahwa Uhud adalah ujian, pembersihan, dan seleksi.

      Baca selengkapnya

      'Abdullah bin Ubay bin Salul, sebagaimana dituturkan dikatakan kepadaku oleh Ibnu Syihab az-Zuhri, mempunyai tempat berpidato di setiap hari Jum'at dan tidak ada yang melarangnya karena kemuliaan pada diri dan pada kaumnya. Ia orang terhormat di tengah-tengah kaumnya. Apabila beliau duduk dari khutbah Jum'at, 'Abdullah bin Ubai bin Salul berdiri dan berkata: "Wahai manusia, inilah beliau di tengah-tengah kalian. Dengannya, Allah memuliakan dan memenangkan kalian. Oleh karena itu, tolonglah dan bantulah dia, dengar dan taatilah." Usai mengatakan itu 'Abdullah bin Ubai bin Salul duduk. Setelah melakukan tindakan tidak sepatutnya pada Perang Uhud dan kaum Muslimin pulang dari Perang Uhud, ia tetap melakukan seperti apa yang dia lakukan sebelumnya. Namun kaum Muslimin memegang bajunya dari seluruh sisinya dan berkata kepadanya: "Duduklah engkau, hai musuh Allah, demi Allah, tidaklah pantas bagimu melakukan seperti dulu lagi. Engkau telah berbuat tidak pantas sebelum ini." 'Abdullah bin Ubay bin Salul keluar berjalan di tengah-tengah manusia dengan melangkahi bahu-bahu mereka sambil berkata: "Demi Allah, aku berkata tentang sesuatu yang besar ketika berdiri memperkuat urusannya (Rasulullah). ' Salah seorang dari kaum Anshar yang berpapasan dengan 'Abdullah bin Ubay bin Salul di pintu masjid berkata: "Celakalah engkau, apa yang terjadi pada dirimu?" 'Abdullah bin Ubay bin Salul menjawab: "Aku berdiri mendukungnya namun salah seorang sahabatnya melompat ke arahku, menarikku dan menjelek-jelekkanku, seakan-akan aku akan mengatakan suatu yang menakutkan padahal itu untuk mendukungnya." Sahabat dari kaum Anshar tersebut berkata: "Bodoh sekali kau ini, kembalilah menemui beliau dan mohonlah padanya untuk memintakan ampunan dari Allah untuk dirimu!" 'Abdullah bin Ubay bin Salul berkata: "Demi Allah, aku tidak membutuhkannya untuk memintakan ampunan kepada Allah buat diriku."1

      Perang Uhud adalah ujian, pembersihan dan seleksi. Dengan perang ini, Allah Ta'ala menguji kaum Mukminin dan membongkar topeng orang-orang munafik yang menampakkan iman dengan lisan namun menyembunyikan kekafiran dalam hatinya. Di samping itu Perang Uhud adalah hari di mana di dalamnya Allah Ta'ala memuliakan wali-wali-Nya yang hendak Dia muliakan dengan gugur sebagai para syuhada' di jalan-Nya.1

    32. Ayat-ayat tentang Uhud (1)

      QS Ali 'Imran: 121-122

      Ibnu Ishaq menyebut enam puluh ayat Ali 'Imran turun tentang Uhud. QS Ali 'Imran: 121 mengingatkan beliau berangkat pagi hari untuk menempatkan kaum mukminin; ayat 122 menyebut dua golongan yang ingin mundur, yaitu Bani Salimah dan Bani Haritsah.

      Baca selengkapnya

      "Di antara ayat-ayat yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta'ala tentang Perang Uhud ialah enam puluh ayat yang ada pada surat 'Ali 'Imran. Pada ayat-ayat tersebut terdapat penjelasan tentang apa yang terjadi pada kaum muslimin di Perang Uhud dan celaan Allah kepada orang yang Dia cela di antara mereka.33

      Allah berfirman kepada Nabi-Nya:

      Dan (ingatlah), ketika kamu berangkat pada pagi hari dari (rumah) keluargamu akan menempatkan para mukmin pada beberapa tempat untuk berperang. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS. 'Ali 'Imran: 121).

      Tubawwiu al-mu'minin maksudnya adalah kau membuat tempat duduk dan tempat tinggal buat mereka. Al-Kumaitu bin Zaid berkata:3

      Andaikata aku ada sebelum dia Telah aku siapkan tempat berbaringnya

      Bait syair ini adalah miliknya. Sami'un maksudnya Allah mendengar apa yang mereka katakan. Alim maksudnya Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan.

      Kemudian Allah Ta'ala berfirman:

      Ketika dua golongan dari padamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah Penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah karena Allah saja orang-orang mukmin bertawakal (QS. 'Ali 'Imran: 122). Tafsyalaa maksudnya saling berkhianat. Kedua golongan yang disebutkan pada ayat di atas ialah Bani Salimah bin Jusyam bin Khazraj dan Bani Haritsah bin an-Nabit dari Aus. Wallahu waliyyuhuma maksudnya Allah menyingkirkan niat tidak ingin menolong dari kedua kelompok tersebut. Awalnya, kedua golongan tersebut berniat tidak memberikan pertolongan kepada Rasulullah.

      Allah Ta'ala berfirman:1

      karena itu, hendaklah karena Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal (QS. 'Ali 'Imran: 122), maksudnya bila ada di antara kaum Mukminin merasa tak berdaya, hendaklah ia bertawakkal dan meminta pertolongan kepada Allah, niscaya Allah menolong urusannya dan melindunginya hingga Aku sampai dengannya, melindunginya, dan memperkuat niatnya. Kemudian Allah Ta'ala berfirman:

    33. Ayat-ayat tentang Uhud (2)

      QS Ali 'Imran: 123-126

      Allah telah menolong di Badar; ayat 124-125 menyebut bantuan tiga ribu dan lima ribu malaikat yang memakai tanda. Ibnu Hisyam menjelaskan arti "musawwimin" dan menyisipkan syair-syair kebahasaan.

      Baca selengkapnya

      Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah orang-orang yang lemah (ketika itu). Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. (QS. 'Ali 'Imran: 123).

      Yakni, bertakwalah kalian kepada-Ku karena takwa adalah refleksi syukur atas nikmat-Ku. Sungguh Allah telah menolong kalian di Perang Badar. Dimana saat itu kalian berjumlah sedikit dan kekuatan kalian sangatlah lemah.

      (Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin: "Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?" ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda (QS. 'Ali 'Imran: 124-125).

      Yakni apabila kalian bersabar terhadap musuh-Ku, mentaati perintah-Ku, lalu mereka datang dari depan kalian, Aku akan menolong kalian dengan lima ribu malaikat yang kesemuanya memakai tanda.

      Musawwimin artinya memakai tanda. Telah dituturkan kepada kami dari al-Hasan bin Abu al-Hasan al-Bashri yang berkata: Para malaikat membuat tanda pada ekor dan ubun-ubun kuda mereka dengan kain wol putih. Sedang Ibnu Ishaq berkata bahwa tanda para malaikat di Perang Badar ialah dengan memakai sorban-sorban putih dan hal ini telah aku uraikan pada pembahasan Perang Badar.3

      Sima' artinya: tanda. Sebagaimana disebutkan dalam al-Quran:

      Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud (QS. al-Fath: 29), yakni tanda-tanda mereka.

      Pada ayat lain Allah berfirman:

      Dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi yang diberi tanda oleh Tuhanmu (QS. Huud: 82-83), musawwamah: yang ditandai.

      Telah sampai kepada saya dari al-Hasan bin Abil Hasan al-Bashri bahwa sesungguhnya dia berkata: Di atasnya ada tanda dan bahwa sesungguhnya batu itu bukan dari bebatuan dunia, batu itu adalah batu adzab.

      Ru'bah bin al-Ajjaj berkata:

      Kini mereka mendapat ujian di atas kuda saat bertemu aku

      Mereka tidak bisa menghentikan walaupun memakai tanda

      Mata mereka kuyu dan sayu karena terlalu cepat berlari

      Ajdzamu (dengan huruf dzal) maknanya bersegera sedangkan jika menggunakan huruf (dal) maka maknanya adalah menyerah. Bait ini terdapat dalam syair rajaz-nya. Musawwamah juga bermakna pilihan (peliharaan/ gembalaan). Sebagaimana disebutkan dalam ayat al-Quran: Kuda pilihan (QS. 'Ali 'Imran: 14), Yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu (QS. an-Nahl: 10). Orang-orang Arab berkata: Sawwama khailahu wa ibilahu wa asamahaa: artinya adalah menggembalakannya. al-Kumaitu bin Zaid berkata:

      Dia penggembala kambing yang baik, kini kita kehilangan dia

      Sedangkan kehilangan penggembala itu sama dengan kehilangan gembalaan

      Musjiya artinya seorang penggembala yang cakap dan baik pada binatang gembalaannya. Bait ini adalah miliknya. Allah berfirman:3

      Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. 'Ali 'Imran: 126).

      Yakni, pasukan dari malaikat-malaikat Allah yang Allah sebutkan tidak lain adalah kabar gembira bagi kalian dan agar hati kalian menjadi tenang karenanya, karena Allah mengetahui ketidak berdayaan kalian dan kemenangan itu berasal dari kekuasaan dan kemampuan Allah. Itu karena keperkasaan dan kebijaksanaan itu milik Allah dan bukan milik seorang pun dari makhluk Allah.34

    34. Ayat-ayat tentang Uhud (3)

      QS Ali 'Imran: 127-128 dan 130-135

      Ayat 127-128 menegaskan bahwa urusan hamba-hamba itu milik Allah; ayat 130-135 melarang riba dan menyebut ciri orang bertakwa.

      Baca selengkapnya

      Lalu, Allah berfirman:

      (Allah menolong kamu dalam perang Badar dan memberi bala bantuan itu) untuk membinasakan segolongan orang-orang yang kafir, atau untuk menjadikan mereka hina, lalu mereka kembali dengan tiada memperoleh apa-apa. (QS. 'Ali 'Imran: 127).

      Yakni, agar Allah menghancurkan orang-orang musyrik dengan pembunuhan sebagai pembalasan Allah terhadap mereka atau mengalahkan mereka dalam keadaan mengenaskan. Artinya, orang yang masih hidup di antara mereka pulang dalam keadaan gagal tanpa mendapatkan apa yang selama ini mereka inginkan.

      Yakbitahum, yakni menjadikan mereka sedih sesedih sedihnya dan mencegah mereka untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.3

      Dzu Rummah berkata:

      Kala aku lupakan derita masa laluku.

      Aku tidak akan lupa kebingungan kami

      Antara gembira dan kecewa

      Yakbitahum juga berarti: melempar mereka dan menjadikan mereka terjembab dengan mukanya.

      Lalu, Allah Ta'ala berfirman kepada Nabi Muhammad: Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima tobat mereka, atau mengadzab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim (QS. 'Ali 'Imran: 128). Yakni engkau tidak memiliki otoritas untuk menentukan apapun atas hamba-hamba Allah. Kecuali apa yang Allah perintahkan kepadamu mengenai mereka, atau Allah beri ampunan kepada mereka dengan rahmat Allah. Jika Allah mau maka Allah lakukan. Atau Allah siksa mereka dengan dosa-dosa mereka sesuai dengan hak-Nya karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang zalim. Apa yang mereka lakukan sebenarnya telah layak bagi mereka untuk disiksa karena maksiat mereka kepada-Nya. Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Yakni mengampuni dosa dan me nyayangi hamba-hamba-Nya terhadap apa yang mereka lakukan.1

      Kemudian Allah Ta'ala berfirman:

      Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan riba dengan berlipatganda (QS. 'Ali 'Imran: 130).

      Yakni, janganlah kalian memakan riba saat kalian telah masuk dalam Islam, karena dengannya Allah memberi petunjuk kalian kepada hal-hal haram yang akan kalian makan jika kalian berada di luar Islam.

      Kemudian Allah berfirman:

      Dan bertakwalah kalian kepada Allah supaya kalian beruntung (QS. 'Ali 'Imran: 130).

      Yakni, taatilah Allah, semoga kalian selamat dari siksa yang telah diperingatkan Allah kepada kalian dan kalian mendapatkan pahala dimana Allah membuat kalian senang kepadanya. Setelah itu, Allah berfirman:

      Dan peliharalah diri kalian dari api neraka yang disediakan untuk orang-orang yang kafir (QS. 'Ali 'Imran: 131), yakni, neraka yang dijadikan sebagai tempat tinggal bagi orang yang kafir terhadap-Ku.

      Sesudah itu, Allah berfirman:

      Dan taatilah Allah dan Rasul supaya kalian dirahmati (QS. 'Ali 'Imran: 132). Ayat ini sebagai suatu celaan dan kecaman bagi para sahabat yang tidak taat kepada beliau ketika beliau memerintahkan suatu perkara kepada mereka pada Perang Uhud dan pada peristiwa-peristiwa lainnya.

      Sesudah itu, Allah berfirman:

      Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (QS. 'Ali 'Imran: 133) maksudnya, surga tersebut menjadi tempat tinggal bagi siapa saja yang taat kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku.

      Sesudah itu, Allah berfirman:

      (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. 'Ali 'Imran: 134) yakni, itu semua kebajikan(ihsan) dan Aku mencintai siapa saja yang melakukannya.

      Sesudah itu, Allah Ta'ala berfirman:

      Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (QS. 'Ali 'Imran: 135), yakni, jika mereka melakukan perbuatan keji "atau menzalimi diri mereka sendiri" (QS. 'Ali 'Imran: 135) dengan bermaksiat kepada Allah, maka mereka ingat larangan Allah dari perbuatan tersebut dan apa saja yang diharamkan-Nya kepada mereka, lalu mereka meminta ampun kepada-Nya atas segala dosa mereka dan mereka mengetahui bahwa tidak ada seorangpun yang bisa mengampuni dosa-dosa kecuali Allah.

      Wa lam yushirruu 'ala maa fa'aluu wa hum ya'lamuun, artinya mereka tidak terus menerus melakukan maksiat kepada-Ku seperti perbuatan orang yang melampaui batas dalam kekafiran mereka "padahal mereka mengetahui" (QS. 'Ali 'Imran: 135) apa yang Aku haramkan atas mereka dalam hal ibadah kepada selain Aku.

      Sesudah itu Allah berfirman:35

    35. Ayat-ayat tentang Uhud (4)

      QS Ali 'Imran: 136-143

      Ayat-ayat ini menghibur kaum Muslimin, menyebut pergiliran masa dan ujian, serta mengingatkan mereka yang berharap mati syahid sebelum bertemu musuh.

      Baca selengkapnya

      Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal (QS. 'Ali 'Imran: 136) yakni pahala orang-orang yang taat.

      Setelah menyebutkan musibah yang menimpa kaum Muslimin dan ujian yang terjadi pada mereka, saringan terhadap apa yang ada pada mereka penunjukan beberapa orang dari mereka menjadi syuhada', Allah berfirman menghibur mereka, menjelaskan apa yang mereka kerjakan, dan apa yang Allah lakukan pada mereka:

      Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. 'Ali 'Imran: 137).

      Yakni, sebelum ini telah terjadi peristiwa-peristiwa hukuman dari Allah kepada orang-orang yang mendustakan rasul-Nya dan menyekutukan-Nya, seperti kaum Ad, Tsamud, Luth, dan penduduk Madyan. Sehingga mereka bisa melihat contoh-contoh hukuman yang Allah timpakan pada mereka dan kepada orang-orang yang sejalan dengan mereka. Allah memberi jangka waktu agar mereka tidak mengira bahwa hukuman-Nya telah terputus dari musuh kalian dan musuh-Nya. Karena pergantian yang Allah putar kepada kalian ditujukan agar dengan cara itu Allah mengetes kalian dan mengetahui apa yang ada pada kalian.

      Kemudian Allah berfirman:

      (Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. 'Ali 'Imran: 138), yakni, al-Qur'an ini sebagai penjelasan bagi manusia jika mereka mau menerima hidayah. Ia adalah petunjuk dan pelajaran serta adab bagi orang-orang bertakwa yaitu orang yang taat kepada-Ku dan tahu perintah-Ku.

      Selanjutnya Allah Ta'ala berfirman:

      Janganlah kalian bersikap lemah dan jangan lah (pula) kalian bersedih hati (QS. 'Ali 'Imran: 139), yakni, janganlah kalian merasa lemah dan putus harapan karena musibah yang menimpa kalian. Kemudian Allah berfirman:

      Padahal kalianlah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya). (QS. 'Ali 'Imran: 139), artinya kemenangan dan hasil akhir yang indah itu adalah milik kalian.

      Lalu Allah berfirman:

      Jika kalian orang-orang yang beriman (QS. 'Ali 'Imran: 139), artinya jika kalian membenarkan nabi-Nya serta semua apa yang dia bawa dari-Nya.

      Setelahnya Allah berfirman:

      Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (QS. 'Ali 'Imran: 140), artinya, Aku putar hari-hari baik dan buruk di antara manusia untuk proses ujian dan penyaringan.

      Pada ayat selanjutnya Allah berfirman:

      Dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kalian dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada, dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim (QS. 'Ali 'Imran: 140), yakni, agar Allah membedakan antara orang-orang mukmin dengan orang-orang munafik dan memuliakan orang-orang mukmin dengan menjadikannya sebagai syuhada'. Dan Allah tidak menyukai orang-orang Zalim (QS. 'Ali 'Imran: 140), yakni orang-orang munafik yang mengumbar ketaatan dengan mulut berbusa sedangkan hati mereka terus-menerus berkubang dengan dosa.

      Allah berfirman:

      Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (QS. 'Ali 'Imran: 41), artinya Allah mengetes orang-orang beriman karena ingin menyaring mereka dengan ujian yang ditimpakan pada mereka, melalui kesabaran dan keyakinan mereka.

      Setelahnya, Allah Ta'ala berfirman:

      Dan membinasakan orang-orang yang kafir. (QS. 'Ali 'Imran: 141). artinya, membatalkan perkataan orang-orang munafik dengan mulut mereka yang tidak berasal dari hati mereka sehingga terlihat jelas kekafiran yang selama ini mereka sembunyikan.

      Selanjutnya Allah berfirman:

      Apakah kalian kira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kalian dan belum nyata orang-orang yang sabar (QS. 'Ali 'Imran:142). Artinya, apakah kalian menyangka akan masuk surga dan mendapatkan balasan kemuliaan dari Allah, padahal Allah belum menguji kalian dengan penderitaan dan hal-hal yang tidak mengenakkan sehingga dengan cara itu Allah menangkap kejujuran kalian dengan beriman kepada-Nya dan bersabar atas apa pun yang menimpa kalian di jalan-Nya. Kalian pernah mengharapkan mati syahid karena kebenaran yang ada pada diri kalian sebelum kalian bertemu dengan musuh kalian. Yang dimaksud dengan kalian pada ayat ini adalah para sahabat yang meminta beliau untuk keluar bersama mereka menghadapi musuh karena mereka sebelumnya tidak ikut pada Perang Badar. Mereka berharap dengan keluar menghadapi musuh, mereka bisa mati syahid yang sebelumnya tidak mereka dapatkan. Selanjutnya Allah berfirman:

      Sesungguhnya kalian mengharapkan mati sebelum kalian menghadapinya (QS. 'Ali 'Imran: 143)

      Allah selanjutnya berfirman:

      (Sekarang) sungguh kalian telah melihatnya dan kalian menyaksikannya (QS. 'Ali 'Imran: 143), artinya, kalian sekarang saksikan kematian di pedang-pedang lawan kalian, Allah membuat jarak antara kalian dengan musuh kalian sedang saat itu kalian melihat mereka kemudian Allah mencegah mereka dari kalian.36

    36. Ayat-ayat tentang Uhud (5)

      QS Ali 'Imran: 144-147

      Ayat 144: Muhammad hanyalah seorang rasul; kaum Muslimin diingatkan agar tidak berbalik ke belakang bila ia wafat atau terbunuh. Ayat 145-147 membahas ajal dan keteguhan para pengikut nabi. Ibnu Hisyam menyisipkan penjelasan kebahasaan.

      Baca selengkapnya

      Selanjutnya Allah berfirman:

      Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (QS. 'Ali 'Imran: 144), yakni apakah karena adanya perkataan manusia: Muhammad meninggal dunia atau terbunuh, kalian akan keluar dari agama Islam, menjadi kafir seperti sebelumnya, meninggalkan jihad melawan musuh, meninggalkan Kitab Allah, dan meninggalkan agama-Nya yang ditinggalkan nabi kalian? Padahal Muhammad telah menerangkan kepada kalian dalam apa yang ia bawa dari Allah bahwa ia akan meninggal dan meninggalkan kalian!

      "Wa man yanqalib 'ala aqibaihi" (Barang siapa yang berbalik ke belakang) maksudnya murtad dari agamanya.

      "Falan yazhurrahullaha syai'an" (maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun), yakni bahwa keluarnya seseorang dari agama Islam sama sekali tidak akan mengurangi keperkasaan Allah, kerajaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan kemampuan-Nya.

      "Wa sayazjillahusy syakirin" (dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur) yakni, Allah akan memberi balasan orang-orang yang taat dan melaksanakan perintah-Nya.

      Selanjutnya Allah Ta'ala berfirman: Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. (QS. 'Ali 'Imran: 145), yakni sesungguhnya Muhammad memiliki ajal ajal yang ia akan sampai pada ajal itu. Jika Allah Ta'ala telah mengizinkannya pada ajalnya, maka dia akan menjemputnya.

      Selanjutnya Allah berfirman:

      Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (QS. 'Ali 'Imran: 145), artinya, Apabila ada di antara kalian menginginkan dunia dan tidak menginginkan akhirat, maka Allah berikan rizki yang ditentukan baginya, tidak lebih dari itu, dan ia tidak meraih apapun di akhirat kelak. Sebaliknya barang siapa mengharapkan pahala akhirat, maka apa yang dijanjikan akan diberikan kepadanya termasuk rizki di dunia dan itulah balasan bagi orang-orang yang bersyukur, yaitu orang-orang yang bertakwa.

      Selanjutnya Allah berfirman:

      Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (QS. 'Ali 'Imran: 146). Artinya, berapa banyak nabi yang terbunuh, namun pengikut para nabi tersebut tidak menjadi lemah karena kematian Nabi mereka, tidak juga lemah dalam menghadapi musuh dan tidak menyerah karena musibah di medan jihad karena membela Allah dan agama-Nya. Demikian kesabaran itu dan Allah menyayangi orang-orang yang bersabar.

      Selanjutnya, Allah Ta'ala berfirman:

      Tidak ada doa mereka selain ucapan: "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir (QS. 'Ali 'Imran: 147).

      Kata tunggal dari ribbiyun adalah ribby. Sedangkan perkataan mereka rubab diperuntukkan untuk anak-anak 'Abdu Manat bin Add bin Thaihah bin Ilyas dan Dhabbah karena mereka berkumpul dan bersekutu. Dari sisi ini maksudnya adalah kelompok-kelompok. Sedangkan kata tunggal dari rubab adalah ribbah dan ribah. Yakni kumpulan tongkat dan anak panah dan sejenisnya. Maka mereka menyerupakan dengannya.3

      Abu Dzu'aib al-Hudzali berkata:

      Mereka laksana kain pembungkus anak panah

      Yang mengalir di atas busur dan merekah

      Inilah adalah bait-bait yang dia karang. Sementara itu Umayyah bin Abi Shalt berkata:

      Di sekeliling begundal-begundal mereka ada kerumunan dalam jumlah besar

      Yang berbungkus baju-baju besi pelindung berpaku

      Ini adalah bait-bait yang dia tulis.

      Ar-Ribabah juga bermakna potongan kain yang dengannya anak panah dibungkus.3

      As-sanur adalah baju besi, ad-dusur adalah paku-paku yang ada pada lingkaran.3

      Allah berfirman:

      Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku (QS. al-Qamar: 13). Seorang penyair yang bernama Abul Akhzar al-Himmani dari Tamim mengatakan dalam sebuah syairnya:

      Dia memaku di ujung tangkal tombak yang tajam

    37. Ayat-ayat tentang Uhud (6)

      QS Ali 'Imran: 148-154

      Ibnu Ishaq menjelaskan ayat-ayat tentang meminta ampun dan pertolongan, janji Allah yang ditepati, celaan atas mereka yang lari, dan rasa kantuk sebagai rasa aman bagi orang beriman.

      Baca selengkapnya

      Yakni, katakanlah sebagaimana yang mereka katakan. Dan ketahuilah bahwa semua itu terjadi akibat dari dosa-dosa kalian. Mohonlah ampun sebagaimana halnya mereka meminta ampun. Lakukan agama kalian sebagaimana yang mereka lakukan. Janganlah kalian murtad dari agama kalian dengan berbalik arah. Mintalah sebagaimana mereka meminta-Nya untuk mengokohkan kaki-kaki kalian. Mintalah pertolongan-Nya sebagaimana mereka meminta pertolongan pada-Nya untuk memenangkan atas orang-orang kafir. Apa yang mereka katakan telah terjadi, nabi mereka telah dibunuh namun mereka tidak melakukan sebagaimana yang kalian perbuat. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia berupa kemenangan atas musuh-musuh mereka, dan pahala yang baik di akhirat, dari apa yang Allah janjikan di dalamnya. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi (QS. 'Ali 'Imran: 149).1

      Yakni, dunia dan akhirat kalian menjadi sirna. Setelahnya, Allah berfirman: Tetapi (ikutilah Allah), Allahlah Pelindungmu, dan Dia-lah sebaik-baik Penolong. (QS. 'Ali 'Imran: 150) yakni, jika apa yang kalian ucapkan dengan mulut kalian itu benar-benar berasal dari hati kalian, maka berpegang teguhlah kepadanya, janganlah pernah meminta pertolongan kepada selain Allah, dan jangan murtad dari agama kalian.

      Selanjutnya Allah berfirman:

      akan Kami masukkan ke dalam hati orang kafir rasa takut (QS. 'Ali 'Imran: 151). Yakni Allah tolong kalian atas musuh-musuh kalian karena mereka menyekutukan-Nya dan Allah tidak memberikan hujjah buat mereka. Karenanya, janganlah kalian menyangka bahwa kemenangan itu milik mereka dan bukan milik kalian selagi kalian berpegang teguh kepada-Nya dan mengikuti perintah-Nya. Janganlah kalian mengira seperti itu karena musibah yang kalian derita dari musuh-musuh kalian karena dosa-dosa kalian yaitu melanggar perintah-Nya dan tidak mematuhi Nabi-Nya.

      Selanjutnya Allah berfirman:

      Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu; dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman. (QS. 'Ali 'Imran: 152) Allah telah menepati janji-Nya kepada kalian dengan memberi kemenangan atas musuh-musuh kalian pada saat kalian membunuh mereka dengan pedang-pedang kalian dengan izinNya, penguasaan-Nya kepada tangan-tangan kalian terhadap mereka, dan menghalangi tangan mereka terhadap kalian.

      Lalu, Allah mencela kaum muslimin karena lari dari Nabi mereka dan mereka diseru olehnya namun tidak mendengar seruannya "(Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu, karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput daripada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 'Ali 'Imran: 153).

      Yakni, musibah demi musibah yang beruntun dalam bentuk terbunuhnya saudara-saudara kalian, menangnya musuh atas kalian, dan pengaruh provokasi seseorang kepada kalian bahwa nabi kalian telah terbunuh. Itulah di antara kesedihan demi kesedihan beruntun yang ditimpakan kepada kalian "supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput daripada kamu" dengan tidak tercapainya kemenangan atas musuh setelah kalian melihat kemenangan tersebut dengan mata kepala kalian "dan terhadap apa yang menimpa kamu" dari pembunuhan terhadap saudara-saudara kalian itu menimpa kalian hingga Aku hilangkan musibah dan kesedihan serta kegundahan dari kalian. Kemudian Allah cegah dari mereka kedustaan setan bahwa Nabi mereka telah dibunuh. Maka tatkala mereka melihat Rasulullah masih hidup di antara mereka, terasa ringanlah apa yang menimpa mereka walaupun mereka menang sebelumnya. Terasa ringan pula musibah yang menimpa saudara-saudara mereka dengan kehadiran Sang Nabi Mulia Selanjutnya Allah berfirman:

      Kemudian setelah kamu berduka-cita Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan daripada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah. Mereka berkata: "Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) … urusan … Katakanlah: "Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah." Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: "Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini." Katakanlah: "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh." Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha mengetahui isi hati. (QS. 'Ali 'Imran: 154).

      Yakni, Allah menurunkan kantuk sebagai bentuk rasa aman kepada orang-orang beriman dan mereka pun tidur nyenyak tanpa rasa takut sedikitpun. Sementara orang-orang munafik dibikin gelisah oleh diri mereka sendiri. Semua itu terjadi karena mereka tidak mengharapkan kemenangan. Oleh sebab itulah, Allah menyebutkan celaan dan kerugian mereka. Setelahnya, Allah berfirman kepada Nabi-Nya: Katakanlah: "Sekiranya kalian berada di rumah kalian." (QS. 'Ali 'Imran: 154).

      Yakni, apabila kalian tidak menghadiri perang yang mana di dalamnya Allah membuka rahasia-rahasia kalian, "niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh" yaitu tempat lain selain tempat ini dimana mereka terbunuh di dalamnya sehingga dengan cara itu Allah menguji dan membersihkan apa yang ada di dalam dada dan hati kalian yang selama ini kalian sembunyikan.

      "Wallahu a'liimun bidzaatish shuduri" (Allah Mahamengetahui isi hati) yakni, semua yang mereka rahasiakan terhadap kalian itu semuanya diketahui Allah.37

    38. Ayat-ayat tentang Uhud (7)

      QS Ali 'Imran: 156-164

      Ayat-ayat ini membahas ucapan orang-orang munafik, sifat lembut beliau dan musyawarah, larangan berkhianat atas harta rampasan, dan karunia diutusnya seorang rasul.

      Baca selengkapnya

      Selanjutnya Allah berfirman:

      Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang: "Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh." Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam hati mereka. Allah menghidupkan dan mematikan. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. 'Ali 'Imran: 156).

      Yakni, janganlah kalian menjadi laksana orang-orang munafik yang menahan saudara-saudara mereka untuk berjihad di jalan Allah dan berjalan di muka bumi-Nya untuk patuh pada-Nya dan Rasul-Nya. Apabila saudara-saudara mereka terbunuh, orang-orang munafiq berkata: "Andai kata mereka mematuhi kami, pastilah mereka tidak tidak terbunuh."

      Firman Allah, "Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam hati mereka," maksudnya, karena tipisnya keyakinan mereka kepada Tuhan mereka. "Wallahu yuhyii wa yumiitu" (Allah menghidupkan dan mematikan) artinya, Allah mempercepat dan menunda ajal sesuai kehendak-Nya.

      Selanjutnya Allah berfirman:

      Sungguh kalau kamu gugur di jalan Allah atau meninggal, tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik (bagimu) dari harta rampasan yang mereka kumpulkan. (QS. 'Ali 'Imran: 157)

      Yakni, kematian itu tidak mungkin bisa di hindari dan akan tetap terjadi. Maka meninggal di jalan Allah atau di bunuh di jalan-Nya itu lebih baik apabila mereka mengetahui dan meyakininya. Itu lebih baik daripada dunia sebab dunia itulah yang menyebabkan mereka tidak berangkat jihad karena takut mati dan terbunuh Selanjutnya Allah berfirman:

      Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (QS. 'Ali 'Imran: 159). Allah menyebutkan kepada Nabi-nya tentang sifat lembutnya kepada mereka, kesabarannya bergaul dengan mereka karena kelemahan mereka. Dan minimnya kesabaran mereka atas kekerasan dan tekanan apabila itu dia lakukan kepada mereka terhadap hal-hal dimana mereka selalu menentangnya atas apa yang diwajibkan atas mereka untuk mentaati Nabi-Nya.

      Ampunilah dosa-dosa orang yang melakukan dosa-dosa dari kalangan orang-orang beriman. Dan bermusyawarahlah, dengan tujuan agar kamu memperlihatkan pada mereka bahwa kamu mendengar pandangan mereka, dan meminta bantuan mereka walaupun sebenarnya bisa saja kamu tidak membutuhkan mereka. Ini sebagai usaha pendekatan komunikatif pada agama mereka. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad atas satu perkara yang datang padamu dari-Ku dan perkara dalam agamamu dalam hal berjihad melawan musuhmu dan tidak ada pilihan lagi bagimu dan bagi mereka maka laksanakan selaras dengan apa yang diperintahkan kepadamu dan janganlah engkau mengikuti siapa saja yang berbeda pendapat denganmu dan hendaknya kamu berjalan dengan siapa yang sepakat denganmu. Dan bertawakallah kepada Allah, yakni ridhalah dengan-Nya. Sesungguhnya Allah senang terhadap orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.

      "Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal. (QS. 'Ali 'Imran: 160). Yakni agar kalian tidak menyerahkan urusan Allah kepada manusia, sebaliknya serahkan urusan manusia kepada Allah. Dan hendaknya hanya kepada Allah dan bukan kepada manusia orang-orang mukmin bertawakkal.

      Kemudian Allah berfirman:

      Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barang siapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu; kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya. (QS. 'Ali 'Imran: 161).

      Yakni, tidak mungkin bagi seorang Nabi menyembunyikan apa yang dia emban dari Allah karena ada perasaan takut atau cinta pada manusia, karena pada Hari Kiamat nanti ia dibalas sesuai dengan apa yang telah diperbuatnya di dunia, tanpa ada kezaliman dan melampaui batas. Apakah orang yang mengikuti keridaan Allah sama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan (yang besar) dari Allah dan tempatnya adalah Jahanam? Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. (QS. 'Ali 'Imran: 162).

      Yakni apakah orang yang taat kepada Allah yang berbalas surga dan keridhaan dari-Nya, sama dengan orang yang kembali dengan mendapat kemurkaan dari Allah, dan memang pantas untuk tertimpa kemurkaan-Nya yang tempat tinggalnya adalah neraka dan ia adalah Jahannam dua tempat terburuk, maka ketahuilah:

      (Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah, dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. (QS. 'Ali 'Imran: 163), setiap orang memiliki derajat di surga atau neraka sesuai dengan apa yang mereka perbuat: yakni tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya orang-orang yang taat kepada-Nya dan orang-orang yang bermaksiat kepada-Nya.

      Kemudian Allah berfirman:

      Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. 'Ali 'Imran: 164)

      Yakni sungguh Allah telah menganugerahi karunia kalian dengan keutamaan wahai orang-orang beriman, tatkala Dia mengutus seorang Rasul dari kalangan kalian sendiri yang membacakan kepada kalian ayat-ayat-Nya yang kalian bicarakan dan yang kalian kerjakan. Lalu dia menerangkan kebaikan dan keburukan kepada kalian agar kalian mengenal kebaikan tersebut kemudian melaksanakan dan mengenal keburukan tersebut lalu menjaga diri darinya. Rasul itu juga menerangkan kepada kalian tentang keridhaan Allah kepada kalian apabila kalian mentaati-Nya lalu kalian memperbanyak ketaatan kepada-Nya dan menjauhi maksiat yang Dia murkai sehingga dengan demikian, kalian terlepas dari hukuman-Nya dan memperoleh pahala berupa surga. Padahal sebelumnya kalian buta dan tidak tahu tentang kebaikan, tidak meminta ampunan atas kejahatan yang dilakukan; tuli atas kebaikan, bisu atas kebenaran, dan buta dengan pengarahan yang baik.38

    39. Ayat-ayat tentang Uhud (8)

      QS Ali 'Imran: 165-168

      Ayat 165-166 menyebut musibah di Uhud sebagai akibat diri mereka sendiri; ayat 167-168 menyebut orang-orang munafik, yaitu 'Abdullah bin Ubay dan kawan-kawannya yang berbalik pulang.

      Baca selengkapnya

      Kemudian Allah memaparkan musibah yang menimpa kaum muslimin dengan firman-Nya:

      Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata: "Dari mana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri." Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. 'Ali 'Imran: 165).

      Yakni, apabila kalian ditimpa musibah dengan tewasnya sahabat-sahabat kalian karena dosa-dosa kalian, karena sebelum itu kalian telah menimpakan musibah berlipat terhadap musuh kalian: pembunuhan dan penawanan di Perang Badar. Kalian lupa akan pelanggaran kalian terhadap apa yang diperintahkan Rasul kepada kalian, karena kalian lebih suka mengikuti kehendak diri kalian sendiri. Dan sesungguhnya Allah MahaKuasa atas semua yang Dia kehendaki untuk menimpakan hukuman atau mengampuni hamba-hamba-Nya.

      Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman. (QS. 'Ali 'Imran: 166).

      Yakni, kekalahan yang kalian alami saat berperangan dengan musuh itu adalah atas izin Allah. Kekalahan itu terjadi karena kalian tidak mentaati perintah Rasul sesudah pertolongan Allah mendatangi kalian dan setelah Allah tepati janji-Nya. Ini semua Allah lakukan untuk membedakan mana orang-orang beriman dan mana orang-orang munafik. Setelah itu Allah berfirman: Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafiq (QS. 'Ali 'Imran: 167), agar Allah tampakkan apa yang ada pada diri orang-orang yang munafik itu.

      Kemudian Allah berfirman:

      Kepada mereka dikatakan: "Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)." Mereka berkata: "Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu." (QS. 'Ali 'Imran: 167). Orang-orang munafik yang dimaksud dalam ayat itu ini adalah 'Abdullah bin Ubay bin Salul dan kroni-kroninya yang berbalik pulang meninggalkan beliau ketika beliau keluar untuk menghadapi musuh-musuhnya kaum musyrikin pada perang Uhud. Orangorang munafik itu berkata: "Andaikata kami tahu bahwa kalian akan diperangi pasti kami akan berangkat bersama kalian dan kami membela kalian, namun kami tidak memprediksi perang bakal terjadi." Lalu Allah tampakkan apa yang selama ini mereka sembunyikan dalam diri mereka dalam firman-Nya berikut:

      Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan. (QS. 'Ali 'Imran: 167).

      Yakni, orang-orang munafik berpura-pura beriman di tengah kalian padahal sebenarnya keimanan yang mereka perlihatkan itu sama sekali tidak ada di hati mereka.

      Setelah itu, Allah Ta'ala berfirman:

      Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya (QS. 'Ali 'Imran: 168). Yang dimaksud dengan saudara-saudaranya dalam ayat tadi adalah keluarga orang munafik dan kaum mereka yang mendapatkan musibah bersama kalian.

      Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh." Katakanlah: "Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar. " (QS. 'Ali 'Imran: 168). Kematian itu pastilah terjadi. Maka apabila kalian mampu menyingkirkan mereka, lakukanlah karena mereka bersikap munafik dan tidak suka berjihad di jalan Allah karena menginginkan keabadian di dunia dan menghindar dari maut.39

    40. Para syuhada hidup di sisi Tuhan

      QS Ali 'Imran: 169-171 dan riwayat burung hijau

      Ayat 169-171 menyatakan para syuhada hidup dan diberi rezeki; Ibnu Ishaq meriwayatkan beberapa hadits tentang ruh mereka dalam rongga burung hijau, dan keinginan mereka kembali ke dunia untuk gugur lagi.

      Baca selengkapnya

      Kemudian Allah berfirman kepada Nabi-Nya untuk menyeru orang-orang beriman berjihad dan menganggap enteng terbunuh di medan laga.

      Allah berfirman:

      Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki, mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (QS. 'Ali 'Imran: 169-170), janganlah kalian menyangka bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati. Mereka Allah hidupkan dan diberi rizki di sisi-Nya di surga yang elok dan mempesona. Mereka riang gembira dengan karunia yang dilimpahkan kepada mereka karena jihad mereka di jalan-Nya dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang masih hidup. Artinya, mereka senang karena saudara-saudara mereka yang berjihad seperti mereka itu bisa menyusul mereka sehingga bisa bersama-sama dapat memperoleh pahala Allah yang diberikan kepada mereka. Allah mengikis ketakutan dan kesedihan dari diri mereka. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman (QS. 'Ali 'Imran: 171). Tatkala mereka menyaksikan janji yang ditepati dan agungnya pahala.

      Ismail bin Umayyah berkata kepadaku dari Abu Zubair dari Ibnu 'Abbas yang berkata bahwa beliau bersabda, "Tatkala saudara-saudara kalian syahid di Perang Uhud, Allah meletakkan ruh mereka di rongga burung yang berwarna hijau. Burung tersebut terbang ke sungai-sungai surga, memakan buah-buahannva, dan bersarang di lampu-lampu dari emas di bawah naungan Arasy. Tatkala mereka merasakan lezatnya minuman, makanan, dan tempat tinggal maka mereka berkata: 'Andaikata saudara-saudaraku mengetahui apa yang diperbuat Allah terhadap kami, pastilah mereka tidak meninggalkan jihad dan tidak berpaling mundur di kala perang.' Allah Taala berfirman: Aku akan sampaikan hal ini kepada mereka atas nama kalian.' Kemudian, Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya ayat 169 surat 'Ali 'Imran."1

      Al-Harits bin al-Fudhail berkata dari Mahmud bin Labid al-Anshari dari Ibnu 'Abbas yang berkata bahwa beliau bersabda: "Para syuhada' berada di atas sungai yang berkilap di pintu surga pada sebuah kubah hijau. Rizki mereka dari surga datang pada kepada mereka setiap pagi dan senja hari.1

      Orang yang tidak aku ragukan kredibilitasnya berkata kepadaku dari 'Abdullah bin Mas'ud yang pernah ditanya tentang ayat-ayat berikut: "Janganlah kalian kira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki." (QS. al-Baqarah: 169).1

      'Abdullah bin Mas'ud menjawab: Akupun pernah menanyakan pertanyaan ini kemudian diberi jawaban demikian: bahwa tatkala saudara-saudara kalian terbunuh di Perang Uhud, Allah meletakkan ruh mereka di rongga burung berwarna hijau. Burung tersebut datang ke sungai-sungai surga, memakan buah-buahannya, dan bersarang di lampu-lampu dari emas di bawah naungan Arasy. Kemudian Allah Azza wa Jalla menampakkan diri kepada mereka sesaat dan berfirman, "Wahai hamba-hamba-Ku, apa yang ingin kalian ada keinginan lain lagi untuk Aku kabulkan kepada kalian?' Mereka menjawab, "Wahai Tuhan kami, tidak ada lagi yang lebih baik bagi kami daripada surga yang telah Engkau karuniakan kepada kami. Kami menikmati apa saja yang kami sukai di dalamnya.' Allah menampakkan diri kepada mereka dan berfirman, 'Wahai hamba-hamba-Ku, apa ada lagi permintaan lain yang ingin kalian minta dari-Ku?' Mereka menjawab: 'Wahai Tuhan kami, bagi kami tidak ada lagi yang lebih baik daripada surga yang telah Engkau karuniakan kepada kami. Kami menikmati apa saja yang kami sukai di dalamnya.' Kemudian Allah menampakkan diri kembali kepada mereka dan berfirman, 'Wahai hamba-hamba-Ku, apa lagi yang ingin kalian minta dari-Ku?' Mereka menjawab: 'Wahai Tuhan kami, bagi kami tidak ada lagi yang lebih baik daripada surga yang telah Engkau karuniakan kepada kami. Kami menikmati apa saja yang kami sukai di dalamnya. Hanya satu keinginan kami agar ruh kami dikembalikan pada jasad-jasad kami di dunia agar kami bisa sekali lagi berjuang di jalan-Mu dan mati syahid di jalan-Mu.'

      Aku mendengar Jabir 'Abdullah berkata bahwa beliau bersabda, "Apa kau ingin mendengar kabar gembira wahai Jabir?' Aku menjawab, "Tentu saja aku mau wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Sesungguhnya ayahmu yang gugur di Uhud dihidupkan Allah Azza wa Jalla kemudian Dia berfirman kepadanya: "Hai 'Abdullah bin 'Amr, apa yang engkau inginkan untuk Aku lakukan untuk mu?" Ayahmu menjawab, "Tuhanku, aku ingin kembali lagi ke dunia agar bisa berjuang di jalan-Mu kemudian terbunuh sekali lagi.”40

      Ibnu Ishaq mengatakan, bahwa 'Amr bin 'Ubaid berkata dari al-Hasan yang berkata bahwa beliau bersabda:

      "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, setiap Mukmin yang meninggal dunia lalu ingin kembali ke dunia sesaat saja lalu diberikan padanya dunia serta isinya hanyalah orang yang mati syahid. Ia ingin dikembalikan ke dunia untuk berperang di jalan Allah dan mati syahid sekali lagi."41

    41. Ayat-ayat tentang Uhud (9)

      QS Ali 'Imran: 172-179

      Ayat 172-173 tentang mereka yang menaati Allah dan Rasul sesudah luka, yaitu yang keluar ke Hamra' al-Asad; ayat 175-179 menyebut setan yang menakut-nakuti dan penyaringan antara munafik dan mukmin.

      Baca selengkapnya

      Kemudian Allah berfirman:1

      (Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka. (QS. 'Ali 'Imran: 172).

      Yang dimaksud dengan adalah orang-orang beriman pada ayat di atas adalah mereka yang keluar bersama beliau ke Hamra' al-Asad sehari setelah Perang Uhud walaupun mereka sedang dalam sakit karena luka yang mereka derita. Kemudian Allah berfirman: orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar. (Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung. " (QS. 'Ali 'Imran: 172173). Orang-orang yang mengatakan perkataan di atas kepada kaum Muslimin adalah beberapa orang dari kabilah 'Abdul Qais yang pernah mendengar Abu Sufyan bin Harb mendiskusikan sesuatu kepada mereka. Kemudian mereka berkata: "Sesungguhnya Abu Sufyan bin Harb dan anak buahnya akan kembali lagi kepada kalian." Kemudian Allah berfirman:

      "Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar (QS. 'Ali 'Imran: 174) Allah mempunyai karunia yang besar ketika menjadikan kaum muslimin tidak berpapasan dengan musuh mereka.

      Setelah itu, Allah berfirman:

      Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (QS. 'Ali 'Imran: 175).

      Selanjutnya Allah Ta'ala berfirman:

      Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir (QS. 'Ali 'Imran: 176). Maksud dari orang-orang yang sebentar lagi akan menjadi kafir pada ayat di atas adalah orang-orang munafik.

      Selanjutnya Allah Ta'ala berfirman:

      Sesungguhnya mereka tidak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah sedikit pun. Allah berkehendak tidak akan memberi sesuatu bahagian (dari pahala) kepada mereka di hari akhirat, dan bagi mereka adzab yang besar. Sesungguhnya orang-orang yang menukar iman dengan kekafiran, sekali-kali mereka tidak akan dapat memberi mudharat kepada Allah sedikit pun; dan bagi mereka adzab yang pedih. Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka adzab yang menghinakan. Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang gaib, yakni apa yang Allah akan ujikan kepada kalian agar kalian senantiasa siaga terhadap apa yang akan masuk pada kalian, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Yakni memberitahukan tentang hal itu, karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, yakni kembali kepada Allah dan bertobat, maka bagimu pahala yang besar. (QS. 'Ali 'Imran: 176-179).42

    42. Syuhada kaum Muslimin

      Daftar menurut Ibnu Ishaq dan tambahan Ibnu Hisyam

      Ibnu Ishaq menyebut enam puluh lima syuhada dari Muhajirin dan Anshar (empat dari Muhajirin), dan Ibnu Hisyam menambah nama-nama dari yang tujuh puluh yang tidak disebut Ibnu Ishaq.

      Baca selengkapnya

      Syuhada' Perang Uhud dari kalangan Muhajirin Quraisy dan Bani Hasyim bin 'Abdu Manaf ialah Hamzah bin 'Abdul Muththalib bi Hasyim yang syahid dibunuh Wahsyi, budak Jubair bin Muth'im.1

      Dari Bani Umayyah bin 'Abdu Syams ialah 'Abdullah bin Jahsy. Ia sekutu Bani Umayyah bin 'Abdu Syams dari Bani Asad bin Khuzaimah.

      Dari Bani 'Abduddar bin Qushay ialah Mush'ab bin 'Umair. Ia dibunuh oleh Ibnu Qami'ah al-Laitsi. Dari Bani Makhzum bin Yaqadzah ialah Syammas bin 'Utsman.

      Jumlah syuhada' Perang Uhud dari kalangan Muhajirin adalah empat orang Sedangkan Syuhada' Perang Uhud dari kaum Anshar yang dari Bani 'Abdul Asyhal adalah: 'Amr bin Muadz bin an-Nu'man, al-Harits bin Anas bin Rafi'. 'Umarah bin Ziyad bin as-Sakan.

      As-Sakan adalah anak Rafi' bin Umru'ul Qais. Ada pula yang mengatakan as-Sakn(tanpa fathah).3

      Kemudian Salamah bin Tsabit bin Waqasy, 'Amr bin Tsabit bin Waqasy, dua orang.1

      'Ashim bin 'Umar bin Qatadah bercerita kepadaku bahwa ayah Salamah bin Tsabit bin Waqasy dan 'Amr bin Tsabit bin Waqasy yang bernama Tsabit juga mati syahid pada Perang Uhud, Rifa'ah bin Waqasy, Husail bin Jabir yang tidak lain adalah al-Yaman ayah dari Abu Hudzaifah. Ia (tanpa sengaja) dibunuh kaum Muslimin sendiri karena mereka tidak tahu bahwa dia adalah Husail kemudian Hudzaifah bin al-Yaman bersedekah dengan diyatnya kepada kaum Muslimin yang membunuh ayahnya, Shaifi bin Qaidzi, Habab bin Qaidhi, 'Abbad bin Sahl, al-Harits bin Aus bin Muadz. Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani 'Abdul Asyhal adalah dua belas orang. Sementara itu jumlah syuhada' dari kalangan Ratij adalah sebagai berikut: Iyas bin Aus bin 'Atik bin 'Amr bin 'Abdul A'lam bin Zaura bin Jusyam 'Abdul Asyhal, Abid bin at-Tayyahan.1

      Ada yang berpendapat dia adalah 'Atik bin at-Tayyahan, lalu yang terakhir adalah Habib bin Yazid bin Taim.3

      Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Ratij adalah tiga orang.

      Dari Bani Dzafar hanya satu orang, yaitu Yazid bin Hathib bin Umayyah bin Rafi'. Dari Bani 'Amr bin 'Auf, yakni dari Bani Dzubai'ah bin Zaid adalah: Abu Sufyan bin al-Harits bin Qais bin Zaid, Hanzhalah bin Abu 'Amir bin Shaifi bin Nu'man bin Malik bin Amah. Ia dimandikan para malaikat dan dihabisi oleh Syaddad bin al-Aswad bin Syaub al-Laitsi.

      Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani 'Amr bin 'Auf, lebih tepatnya dari Dzubai'ah bin Zaid adalah dua orang.

      Bani Abid bin Zaid hanya satu orang, Unais bin Qatadah.

      Bani Tsa'labah bin 'Amr bin 'Auf adalah sebagai berikut: Abu Habbah, saudara seibu Sa'ad bin Khaitsamah.

      Abu Habbah adalah Ibnu 'Amr bin Tsabit, 'Abdullah bin Jubair bin an-Nu'man. Dialah komandan pasukan pemanah.3

      Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani Tsa'labah bin 'Amr bin 'Auf adalah dua orang. Dari Bani as-Salm bin Umru'ul Qais bin bin al-Aus hanya satu orang, yaitu Khaitsamah Abu Sa'ad bin Khaitsamah Dari sekutu-sekutu Bani as-Salm dari Bani al-'Ajlan hanya satu orang, yaitu 'Abdullah bin Salimah. Dari Bani Muawiyah bin Malik hanya satu orang, yaitu Subay'i bin Hathib bin al-Harits bin Qais bin Haisyah.

      Ada yang menyebutkan ia bernama Suwaibiq bin al-Harits bin Hathib bin Haisyah.3

      Dari Bani an-Najjar tepatnya dari Bani Sawad Malik bin Ghanm adalah: 'Amr bin Qais.

      'Amr adalah anak Qais bin Zaid bin Sawad, dan anaknya Qais bin 'Amr, Tsabit bin 'Amr bin Zaid, 'Amir bin Makhlad.3

      Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani an-Najjar tepatnya dari Bani Sawad bin Malik bin Ghanm adalah empat orang.

      Dari Bani Mabdzul adalah: Abu Habirah bin al-Harits bin Alqamah bin 'Amr bin Tsaqf bin Malik bin Mabdzul, 'Amr bin Mutharrif bin Alqamah bin 'Amr.

      Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani Mabdzul adalah dua orang.

      Dari Bani 'Amr bin Malik hanya satu orang, yaitu Aus bin Tsabit bin al-Mundzir Ibnu Hisyam berkata: Aus bin Tsabit adalah saudara Hassan bin Tsabit.

      Dari Bani 'Adi bin an-Najjar hanya satu orang, Anas bin an-Nadhr bin Dhamdham bin Zaid bin Haram bin Jundab bin 'Amr bin Ghanm bin 'Adi bin an-Najjar.

      Anas bin an-Nadhr adalah paman Anas bin Malik, pembantu beliau.3

      Dari Bani Mazin bin an-Najjar adalah: Qais bin Mukhallad, Kabsan budak Bani Mazin bin an-Najjar. Jadi syuhada' Perang Uhud dari Bani Mazin bin an-Najjar ada dua orang.

      Dari Bani Dinar bin an-Najjar adalah: Sulaim bin al-Harits, Nu'man bin 'Abdu 'Amr. Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani Dinar bin an-Najjar adalah dua orang Dari Bani al-Harits bin al-Khazraj adalah: Kharijah bin Zaid bin Abu Zuhair,. Sa'ad bin ar-Rabi' bin 'Amr bin Abu Zuhair. Kharijah bin Zaid dan Sa'ad bin ar-Rabi' dimakamkan di satu kuburan, Aus bin al-Arqam bin Zaid bin Qais bin Nu'man bin Malik bin Tsa'labah bin Ka'ab.

      Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani al-Harits bin al-Khazraj ada tiga orang. Dari Bani al-Abjur yang merupakan anak-anak keturunan Khudrah adalah: Malik bin Sinan bin 'Ubaid bin Tsa'labah bin 'Ubaid bin al-Abjur. Malik bin Sinan tidak lain adalah Abu Sa'id al-Khudri.

      Nama Abu Sa'id al-Khudri adalah Sinan. Ada juga yang mengatakan Sa'ad, Sa'id bin Suwaid bin Qais bin 'Amir bin 'Abbad bin al-Abjur, 'Utbah bin Rabi' bin Rafi' bin Muawiyah bin 'Ubaid bin Tsa'labah bin 'Ubaid bin al-Abjur.3

      Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani al-Abjur adalah tiga orang.

      Dari Bani Saidah bin Ka'ab bin al-Khazraj adalah: Tsa'labah bin Sa'ad bin Malik bin Khalid bin Tsa'labah bin Haritsah bi 'Amr bin al-Khazraj bin Saidah, Saqf bin Farwah bin al-Badi. Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani Saidah bin Ka'ab bin al-Khazraj adalah dua orang. Dari Bani 'Auf bin al-Khazraj kemudian dari Bani Salim kemudian dari Bani Malik bin al-'Ajlan bin Zaid bin Ghanm bin Salim adalah:

      Naufal bin 'Abdullah, 'Abbas bin 'Ubadah bin Nadhlah bin Malik bin al-'Ajlan, an-Nu'man bin Tsa'labah bin Fihr bin Ghanm bin Salim, al-Mujadzdzir bin Dziyad sekutu mereka dari Baly, 'Ubadah bin al-Hashas. An-Nu'man bin Malik, al-Mujadzdzir, dan 'Ubadah dimakamkan di satu liang lahat. Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani Malik bin al-'Ajlan bin Zaid bin Ghanm bin Salim adalah lima orang.

      Dari Bani al-Hubla hanya satu orang, yaitu Rifa'ah bin 'Amr.

      Dari Bani Salimah kemudian dari Bani Haram adalah: 'Abdullah bin 'Amr bin Haram bin Tsa'labah bin Haram, 'Amr bin al-Jamuh bin Zaid bin Haram. 'Abdullah bin 'Amr dan 'Amr bin al-Jamuh dimakamkan di satu lang lahat, Khallad bin 'Amr bin al-Jamuh bin Zaid bin Haram, Abu Aiman mantan budak 'Amr bin al-Jamuh.

      Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani Haram adalah empat orang.

      Syuhada' Perang Uhud dari Bani Sawad bin Ghanm adalah: Sulaim bin 'Amr bin Hadidah. Mantan budak Sulaim bin 'Amr bin Hadidah yang bernama Antarah, Sahl bin Qais bin Abu Ka'ab bin Alqain. Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani Sawad bin Ghanm adalah tiga orang. Syuhada' Perang Uhud dari Bani Zuraiq bin 'Amir adalah: Dzakwan bin 'Abdu Qais, 'Ubaid bin al-Mualla bin Laudzan.

      'Ubaid adalah anak al-Mualla dari Bani Habib. Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani Zuraiq bin 'Amir adalah dua orang.3

      Jumlah sahabat yang syahid di Perang Uhud dari kaum Muhajirin dan kaum Anshar adalah enam puluh lima orang.1

      Sementara itu Ibnu Hisyam berkata: Di antara tujuh puluh syuhada yang tidak disebutkan Ibnu Ishaq dan kami sebutkan dari kalangan Aus kemudian dari Bani Muawiyah bin Malik adalah Malik bin Tumailah sekutu mereka dari Muzainah.

      Dari Bani Khatmah -nama Khatmah ialah 'Abdullah bin Jusyam bin Malik bin al-Aus, adalah al-Harits bin 'Adi bin Kharasyah bin Umayyah bin 'Amir bin Khathamah.

      Dari Khazraj kemudian dari Bani Sawad bin Malik adalah Malik bin Iyas.

      Dari Bani 'Amr bin Malik bin an-Najjar adalah Ilyas bin 'Adi.

      Dari Bani Salim bin 'Auf adalah 'Amr bin Iyas.43

    43. Korban tewas kaum musyrikin

      Dua puluh dua orang menurut Ibnu Ishaq

      Ibnu Ishaq menghitung korban tewas dari Quraisy berjumlah dua puluh dua orang; daftar dimulai dari para pemegang panji Bani 'Abduddar.

      Baca selengkapnya

      Korban tewas kaum musyrikin di Perang Uhud dari Quraisy kemudian dari Bani 'Abduddar bin Qushay dari para pemegang panji perang adalah sebagai berikut: Thalhah bin Abu Thalhah. Abu Thalhah bernama asli 'Abdullah bin 'Abdul 'Uzza bin 'Utsman bin 'Abduddar. Ia tewas di tangan 'Ali bin Abu Thalib, Abu Sa'ad bin Abu Thalhah. Ia tewas di tangan Sa'ad bin Abu Waqqash.1

      Ada yang menyebutkan bahwa ia tewas di tangan 'Ali bin Abu Thalib.3

      Juga 'Utsman bin Abu Thalhah. Ia tewas di tangan Hamzah bin 'Abdul Muththalib, Musafi' bin Thalhah, al-Julas bin Thalhah. Musafi' dan al-Julas dibunuh 'Ashim bin Tsabit bin Abu al-Aqlah, Kilab bin Thalhah, al-Harits bin Thalhah. Kilab dan Thalhah tewas di tangan Quzman sekutu Bani Dzafar.1

      Ada yang menyebutkan bahwa Kilab tewas di tangan 'Abdurrahman bin 'Auf.3

      Artha'ah bin 'Abdu Syurahbil bin Hasyim bin 'Abdu Manaf bin 'Abduddar tewas di tangan Hamzah bin 'Abdul Muththalib, Abu Yazid bin 'Umair bin Hasyim bin 'Abdu Manaf bin 'Abduddar tewas di tangan Quzman,Shu'ab budaknya yang berasal dari Habasyah. Ia tewas di tangan Quzman.1

      Ada yang menyebutkan bahwa Shu'ab tewas di tangan Hamzah bin 'Abdul Muththalib. Ada juga yang mengatakan bahwa ia tewas di tangan Sa'ad bin Abu Waqqash. Ada lagi yang mengatakan bahwa ia tewas di tangan Abu Dujanah.3

      Al-Qasith bin Syuraih bin Hasyim bin 'Abdu Manaf bin 'Abduddar tewas di tangan Quzman.1

      Dengan demikian korban kaum musyrikin di Perang Uhud dari Bani 'Abduddar bin Qushai berjumlah sebelas orang.

      Dari Bani Asad bin 'Abdul 'Uzza bin Qushai hanya seorang, yaitu 'Abdullah bin Hamid bin Zuhair bin al-Harits bin Asad. Ia tewas di tangan 'Ali bin Abu Thalib. Dari Bani Zuhrah bin Kilab adalah sebagai berikut: Abu al-Hakam bin al-Akhnas bin Syariq bin 'Amr bin Wahb ats-Tsaqafi sekutu mereka. Ia tewas dibunuh oleh 'Ali bin Abu Thalib, kemudian Siba' bin 'Abdul 'Uzza. 'Abdul 'Uzza bernama asli 'Amr bin Nadhlah bin Ghubsyan bin Sulaim bin Malkan bin Afsha. Siba' adalah sekutu mereka dari Khuza'ah. Ia tewas di tangan Hamzah bin 'Abdul Muththalib. Korban tewas kaum musyrikin pada Perang Uhud dari Bani Zuhrah bin Kilab berjumlah dua orang. Korban tewas kaum musyrikin di Perang Uhud dari Bani Makhzum bin Yaqadzah adalah sebagai berikut: Hisyam bin Abu Umayyah bin al-Mughirah. Ia tewas di tangan Quzman, al-Walid bin al-Ash bin Hisyam bin al-Mughirah juga tewas di tangan Quzman, Abu Umayyah bin Abu Hudzaifah bin al-Mughirah. Tewas di tangan 'Ali bin Abu Thalib, Khalid bin al-Alam sekutu mereka. Ia tewas di tangan Quzman.

      Korban tewas kaum musyrikin di Perang Uhud dari Bani Makhzum bin Yaqadzah berjumlah empat orang.

      Korban tewas kaum musyrikin pada Perang Uhud dari Bani Jumah bin 'Amr adalah sebagai berikut: 'Amr bin 'Abdullah bin 'Umair bin Wahab bin Hudzafah bin Jumah. Dialah Abu 'Azzah dan tewas di tangan beliau dalam keadaan terikat, Ubay bin Khalaf bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah. Ia tewas di tangan beliau.

      Korban tewas kaum musyrikin di Perang Uhud dari Bani Jumah bin 'Amr berjumlah dua orang.

      Korban tewas orang-orang musyrikin yang dibunuh Allah Tabaraka wa Ta'ala pada Perang Uhud berjumlah dua puluh dua orang.144

    Catatan

    1. Ibnu Ishaq.
    2. Abu 'Izzah al-Jumahi disebut "Abu Izzah" pada bagian ini, sedangkan pada bagian lain namanya tercetak "Abu Azzah"; kami memuat keduanya sesuai cetakan di tempat masing-masing.
    3. Tambahan Ibnu Hisyam.
    4. Ejaan: tercetak "Jubiar", kami membaca "Jubair".
    5. Nomor catatan kaki "98", "99", "100" yang tercetak di dalam teks tidak kami muat.
    6. Nomor catatan kaki "101" yang tercetak di dalam teks tidak kami muat. ejaan: tercetak "Muslirrrin", kami membaca "Muslimin". Kalimat "Bila mau sabda: ..." tercetak demikian dengan tanda kutip yang tidak berpasangan, dan satu baris tercetak terputus antara "mencopotnya" dan "Kembali, hingga ia berperang"; kami memuatnya apa adanya sebagai satu kalimat.
    7. Jawaban para pengikut 'Abdullah bin Ubay tercetak "...namun kami memandang bahwa perang tidak membangkang dengan pulang ke Madinah," dengan tanda kutip yang tidak ditutup; kami memuatnya apa adanya.
    8. Nomor catatan kaki "102", "103" yang tercetak di dalam teks tidak kami muat.
    9. Ejaan: tercetak "Ibnil", kami membaca "Ibnu".
    10. Ibnu Ishaq. Sanad: Ja'far bin 'Abdullah bin Aslam mantan budak 'Umar bin Khaththab berkata kepadaku dari salah seorang kaum Anshar dari Bani Salimah.
    11. Nomor catatan kaki "104", "105" yang tercetak di dalam teks tidak kami muat. ejaan: tercetak "memakaianya", kami membaca "memakainya"; tercetak "mengambihya", kami membaca "mengambilnya"; tercetak "mengenakanya", kami membaca "mengenakannya".
    12. Ejaan: tercetak "perspisahan", kami membaca "perpisahan".
    13. Ejaan: tercetak "mengikatkannnya", kami membaca "mengikatkannya".
    14. Penuturan Wahsyi tentang mengambil tombak dan masuk ke barak tercetak dua kali dengan susunan kalimat yang sedikit berbeda; kami memuat keduanya apa adanya.
    15. Ejaan: tercetak "meniggal", kami membaca "meninggal".
    16. Nomor catatan kaki "106", "107" yang tercetak di dalam teks tidak kami muat. Nama yang tercetak "Hanzhalah bin Abu Harb" pada kalimat tentang Syaddad kami muat apa adanya; pada kalimat sebelum dan sesudahnya ia disebut "Hanzhalah bin Abu 'Amir".
    17. Ibnu Ishaq. Sanad: Yahya bin 'Abbad bin 'Abdullah bin Zubair berkata kepadaku dari ayahnya, 'Abbad dari 'Abdullah bin Zubair dari Zubair.
    18. Ibnu Ishaq. Sanad: Humaid Ath-Thawil bercerita kepadaku dari Anas bin Malik di mana.
    19. Nomor catatan kaki "108", "109" yang tercetak di dalam teks tidak kami muat. ejaan: tercetak "Muslirnin", kami membaca "Muslimin"; tercetak "camtumkan", kami membaca "cantumkan".
    20. Nomor catatan kaki "110" yang tercetak di dalam teks tidak kami muat.
    21. Nomor catatan kaki "111", "112" yang tercetak di dalam teks tidak kami muat.
    22. Nomor catatan kaki "113", "114", "115" yang tercetak di dalam teks tidak kami muat.
    23. Nomor catatan kaki "116", "117" yang tercetak di dalam teks tidak kami muat.
    24. Nomor catatan kaki "118" yang tercetak di dalam teks tidak kami muat.
    25. Ibnu Ishaq. Sanad: Humaid Ath-Thawil berkata kepadaku dari al-Hasan dari Samurah bin Jundub.
    26. Nomor catatan kaki "119", "120" yang tercetak di dalam teks tidak kami muat.
    27. Ibnu Ishaq. Sanad: Orang yang sama sekali tidak aku ragukan kredibilitasnya berkata kepadaku dari Misqam mantan budak 'Abdullah bin al-Harits dari Ibnu 'Abbas dimana.
    28. Nomor catatan kaki "121", "122" yang tercetak di dalam teks tidak kami muat.
    29. Ejaan: tercetak "sesunguhnya", kami membaca "sesungguhnya".
    30. Ejaan: tercetak "Hamraul Asad", kami membaca "Hamra' al-Asad".
    31. Ejaan: tercetak "Hamraaul Asad", kami membaca "Hamra' al-Asad"; tercetak "Hamra al-Asad", kami membaca "Hamra' al-Asad".
    32. Ejaan: tercetak "Hamra al-Asad", kami membaca "Hamra' al-Asad".
    33. Tambahan Ibnu Hisyam. Sanad: Ziyad bin 'Abdullah al-Bakkai berkata kepadaku dari Muhammad bin Ishaq al-Muththallibi.
    34. Ejaan: tercetak "menataati", kami membaca "mentaati"; tercetak "memakain", kami membaca "memakai".
    35. Ejaan: tercetak "kebaikkan", kami membaca "kebaikan"; tercetak "lapai", kami membaca "lapang".
    36. Ejaan: tercetak "tidka", kami membaca "tidak". Kutipan "Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman" tercetak "QS. 'Ali 'Imran: 41", sedangkan kutipan berikutnya tercetak "QS. 'Ali 'Imran: 141"; kami memuatnya apa adanya.
    37. Ejaan: tercetak "uniuK", kami membaca "untuk"; tercetak "aaiam", tidak jelas sehingga kami menandainya "…"; tercetak "imr", tidak jelas sehingga kami menandainya "…".
    38. Ejaan: tercetak "karuuia", kami membaca "karunia".
    39. Ejaan: tercetak "ketikd", kami membaca "ketika".
    40. Ibnu Ishaq. Sanad: Sebagian sahabat-sahabatku berkata kepadaku dari 'Abdullah bin Muhammad bin Aqil.
    41. Nomor catatan kaki "123", "124", "125", "126", "127" yang tercetak di dalam teks tidak kami muat. ejaan: tercetak "berfiman", kami membaca "berfirman"; tercetak "kredibiltasnya", kami membaca "kredibilitasnya". Ayat yang ditanyakan kepada 'Abdullah bin Mas'ud tercetak "QS. al-Baqarah: 169", sedangkan kutipan ayat yang sama pada bagian lain tercetak "QS. 'Ali 'Imran: 169-170"; kami memuatnya apa adanya.
    42. Ejaan: tercetak "Hamraul Asad", kami membaca "Hamra' al-Asad"; tercetak "ahtara", kami membaca "antara".
    43. Ejaan: tercetak "Ayshal", kami membaca "Asyhal"; tercetak "Ah-Nu'man", kami membaca "an-Nu'man"; tercetak "An-Najjr", kami membaca "an-Najjar"; tercetak "Kharaj", kami membaca "Khazraj".
    44. Ejaan: tercetak "Musafi:", kami membaca "Musafi'"; tercetak "MusafT", kami membaca "Musafi'"; tercetak "berkkata", kami membaca "berkata".

    Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Bab berikutnya membahas tragedi ar-Raji' dan peristiwa Bani Nadhir.