Isi bab ini
Bab ini memuat tawanan Badar yang tidak disebut Ibnu Ishaq dan beberapa peristiwa antara Badar dan Uhud menurut Ibnu Hisyam: Perang as-Sawiq, Dzi Amar, al-Furu' di Bahran, kisah Bani Qainuqa', ekspedisi Zaid bin Haritsah ke al-Qaradah, terbunuhnya Ka'ab bin al-Asyraf, kisah Muhayyishah dan Huwayyishah, dan pembukaan menuju Perang Uhud.
Perang as-Sawiq
Abu Sufyan bernazar menyerang beliau dan berangkat dengan 200 orang Quraisy; tepung yang mereka buang memberi nama perang ini.
Bani Qainuqa'
Pengepungan 15 malam; 'Abdullah bin Ubay memohon bagi sekutunya sampai beliau bersabda, "Mereka menjadi milikmu."
Al-Qaradah
Zaid bin Haritsah menyongsong kafilah Quraisy lewat jalur Irak, dengan Furat bin Hayyan sebagai penunjuk jalan.
Ka'ab bin al-Asyraf
Lima orang yang dipimpin Muhammad bin Maslamah menghabisinya di Syi'ab al-'Ajuz pada malam purnama.
Madinah dan Makkah
Titik Makkah, Madinah, dan Baqi' al-Gharqad diambil dari Wikipedia.
Peristiwa antara Badar dan Uhud
Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.
Perbedaan sumber
Urutan peristiwa. Ibnu Hisyam memuat Sawiq, Dzi Amar, Bahran, Bani Qainuqa', al-Qaradah, lalu Ka'ab bin al-Asyraf. Haykal memuat Ka'ab bin al-Asyraf lebih dulu, lalu Bani Qainuqa', kemudian Sawiq yang ia katakan terjadi sebulan setelah pengusiran Bani Qainuqa'.
Bani Qainuqa'. Bagian Ibnu Hisyam dalam bab ini berhenti pada ucapan beliau "Mereka menjadi milikmu" dan sikap 'Ubadah bin ash-Shamit; ia tidak menyebut pengusiran. Haykal menulis bahwa beliau, setelah bermusyawarah, memutuskan membunuh para tawanan, lalu menetapkan Bani Qainuqa' harus meninggalkan Madinah, dan bahwa mereka pergi ke Wadi al-Qura lalu Adhri'at. Angka ucapan 'Abdullah bin Ubay sama pada keduanya: 300 berbaju besi, 400 tanpa baju besi.
Sawiq. Keduanya menyebut 200 orang. Haykal menambahkan bahwa menurut riwayat lain jumlahnya 40, dan bahwa pengejaran sampai Qarqarat al-Kudr. Haykal tidak menyebut nazar Abu Sufyan dan malamnya di rumah Sallam bin Misykam, yang ada pada Ibnu Hisyam.
Dzi Amar dan Bahran. Ibnu Hisyam menyebut sasaran Dzi Amar adalah Ghathafan dan sasaran Bahran adalah Quraisy, tanpa jumlah pasukan. Haykal menyebut suku Tsa'labah dan Muharib berkumpul di Dzi Amar dan beliau berangkat dengan 450 orang, serta pasukan besar Bani Sulaim dari Bahran yang dihadapi beliau dengan 300 orang.
Al-Qaradah. Ibnu Hisyam menyebut Abu Sufyan ikut kafilah dengan perak dalam jumlah besar dan Furat bin Hayyan disewa. Haykal menyebut kafilah milik Shafwan bin Umayyah senilai 100.000 dirham, Zaid membawa 100 penunggang, dan Furat kemudian masuk Islam.
Ka'ab bin al-Asyraf. Ibnu Hisyam menyebut Ka'ab menyanjung istri-istri kaum Muslimin; Haykal menyebut ia menuduh mereka secara palsu.
Khan. Khan tidak menyebut satu pun peristiwa di bab ini; ¶73-74 langsung dari Badar ke Uhud (¶75).
- Tawanan Badar lain
Tawanan Quraisy yang tidak disebut Ibnu Ishaq
Ibnu Hisyam menambahkan daftar tawanan Quraisy di Badar yang namanya tidak disebut Ibnu Ishaq, dikelompokkan menurut kabilah.
Baca selengkapnya
Terdapat orang-orang Quraisy yang tertawan di Perang Badar, namun nama mereka tidak disebutkan oleh Ibnu Ishaq. Rinciannya adalah sebagai berikut:1
- Bani Hasyim bin 'Abdu Manafhanya seorang, yaitu 'Utbah, sekutu Bani Hasyim bin 'Abdu Manaf dari Bani Fihr.
- Bani 'Abdul Muththalib bin 'Abdu Manaf'Aqil bin 'Amr, sekutu Bani 'Abdul Muththalib bin 'Abdu Manaf; saudara 'Aqil bin 'Amir, yaitu Tamim bin 'Amr; anak 'Aqil bin 'Amr. Seluruhnya tiga orang.
- Bani 'Abdu Syams bin 'Abdu ManafKhalid bin Usaid bin Abu al-'Ash dan Abu al-Aridh Yasar, mantan budak Umayyah bin Khalaf. Seluruhnya dua orang.
- Bani Naufal bin 'Abdu Manafhanya seorang, yaitu Nabhan, sekutu mereka.
- Bani Asad bin 'Abdul 'Uzzahanya seorang, yaitu 'Abdullah bin Humaid bin Zuhair bin al-Harits.
- Bani 'Abduddar bin Qushaysatu orang, yaitu 'Aqil, sekutu mereka dari Yaman.
- Bani Taim bin MurrahMusafi' bin Iyadh bin Shakhr bin 'Amir bin Ka'ab bin Sa'd bin Taim dan Jabir bin Zubair, sekutu mereka. Total dua orang.
- Bani Makhzum bin Yaqadzah bin Murrahsatu orang, yaitu Qais bin as-Sa'ib.
- Bani Jumah bin 'Amr'Amr bin Ubay bin Khalaf, Abu Ruhm bin 'Abdullah (sekutu mereka), dan seorang sekutu mereka yang aku lupa namanya; Nisthas dan Abu Rafi', keduanya mantan budak Umayyah bin Khalaf. Total enam orang.
- Bani Sahm bin 'Amrsatu orang, yaitu Aslam, mantan budak Nubaih bin al-Hajjaj.
- Bani 'Amir bin LuayHabib bin Jabir dan as-Sa'ib bin Malik. Total dua orang.
- Bani al-Harits bin FihrSyaafi' dan Syafii', sekutu mereka dari Yaman. Total dua orang.2
- Perang as-Sawiq
Nazar Abu Sufyan, malam di rumah Sallam bin Misykam, dan tepung yang dibuang
Abu Sufyan bernazar tidak mandi junub sebelum menyerang beliau. Ia berangkat dengan dua ratus orang Quraisy, menginap di rumah Sallam bin Misykam dari Bani an-Nadhir, lalu mengutus beberapa orang membakar kebun kurma di al-'Uraidh dan membunuh dua orang. Beliau mengejar mereka sampai al-Kudri; kaum Quraisy membuang perbekalan, kebanyakan tepung (sawiq), sehingga perang ini dinamai Sawiq.
Baca selengkapnya
Abu Sufyan bin Harb meninggalkan Makkah untuk melaksanakan Perang as-Sawiq, pada bulan Dzulhijjah. Haji tahun itu dikelola oleh orang-orang musyrik.3
Muhammad bin Ja'far bin Zubair, Yazid bin Ruman, dan orang yang tidak diragukan kejujurannya berkata kepadaku dari 'Abdullah bin Ka'ab bin Malik, salah seorang Anshar yang berilmu tinggi: tatkala Abu Sufyan bin Harb tiba di Makkah, dalam waktu yang bersamaan orang-orang Quraisy yang kalah perang lari dari Badar dalam keadaan berantakan. Maka ia bernazar untuk tidak ada air yang menyentuh kepalanya karena junub (tidak menggauli isterinya) hingga menyerang Muhammad. Maka ia pun berangkat, ia keluar dari Makkah bersama dengan dua ratus pasukan Quraisy demi menebus nazarnya. Abu Sufyan bin Harb berjalan melewati tanah tinggi yang rumit, hingga akhirnya ia tiba di depan terowongan ke arah Gunung Tsaib yang berjarak kurang lebih 12 mil dari Madinah.4
Pada suatu malam yang gelap gulita, Abu Sufyan bin Harb pergi menuju Bani an-Nadhir. Setibanya di rumah Huyay bin Akhthab lalu mengetuk pintu rumahnya, namun karena ada rasa khawatir Huyay bin Akhthab menolak membukakan pintu untuknya. Abu Sufyan bin Harb segera berpindah pergi ke rumah Sallam bin Misykam. Sallam bin Misykam adalah tokoh sangat berpengaruh di Bani an-Nadhir dan penjaga harta kekayaan mereka. Abu Sufyan bin Harb meminta Sallam bin Misykam mengizinkan dirinya masuk rumah dan Sallam bin Misykam mengizinkannya. Sallam bin Misykam menjamu Abu Sufyan dan memberi banyak informasi kepadanya. Pada penghujung malam, Abu Sufyan bin Harb keluar dari rumah Sallam bin Misykam ke tempat para sahabatnya, lalu ia mengutus beberapa orang Quraisy ke Madinah. Anak buah Abu Sufyan bin Harb tiba di al-'Uraidh kemudian mereka membakar perkebunan kurma di sana. Di al-'Uraidh, mereka bertemu salah seorang Anshar dan sekutunya yang sedang bekerja ladang mereka, lalu mereka membunuh kedua …
Kemudian beliau keluar untuk menguber orang-orang Quraisy tersebut hingga tiba di dataran rendah al-Kudri, lalu meninggalkannya sebab beliau tidak berhasil mengejar Abu Sufyan bin Harb dan anak buahnya. Di al-Kudri, para sahabat mendapatkan perbekalan orang-orang Quraisy yang dibuang di sawah dengan tujuan demi melincahkan gerak mereka dalam pelarian. Ketika para sahabat pulang ke Madinah bersama beliau mereka bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah engkau menginginkan perang untuk kami?" Beliau menjawab: "Ya, benar."4
Selama beliau mengikuti Perang Sawiq, beliau menunjuk Basyir bin 'Abdul Mundzir, yakni Abu Lubabah, sebagai pengganti beliau sementara untuk menjadi imam di Madinah.1
Perang ini dinamakan Perang Sawiq, sebagaimana dituturkan Abu 'Ubaidah kepadaku, adalah karena sebagian besar perbekalan yang dibuang oleh orang-orang Quraisy adalah tepung (sawiq), lalu kaum Muslimin mengambil tepung yang berjumlah sangat banyak itu.4
Tatkala Abu Sufyan bin Harb keluar dari rumah Sallam bin Misykam dan mendapat sambutan hangat, ia berkata:4
Aku pilih seseorang di Madinah, sebagai seorang sekutu
Aku tiada menyesal tidak pula menghinanya
Aku diberi minum hingga puas dengan minuman keras Kumait dan Mudamah
Oleh Sallam bin Misykam Kala pasukan berbalik pulang, aku berkata: dan aku tidak ingin
menggembirakannya
Bergembiralah dengan kemuliaan dan rampasan perang
Perhatikanlah karena sesungguhnya kaum itu intinya
Mereka adalah sisa-sisa kaum Luay
Bukan campuran Jurhum
Dan tidaklah dia diam kecuali pada sebagian malam
Datang dalam kelaparan walaupun dia bukan orang yang miskin5
- Perang Dzi Amar
Ke Najd melawan Ghathafan, tanpa perlawanan
Sekembalinya dari Perang Sawiq, beliau tinggal di Madinah sekitar sebulan pada bulan Dzulhijjah, lalu pergi ke Najd untuk memerangi Ghathafan. Beliau berada di sana sekitar sebulan, lalu pulang karena tidak ada perlawanan.
Baca selengkapnya
Sekembalinya dari Perang Sawiq, beliau tinggal di Madinah pada sebagian bulan Dzulhijjah atau hampir sebulan penuh, lalu pergi ke Najd untuk memerangi orang-orang Ghathafan. Itulah yang dinamakan Perang Dzi Amar.4
Beliau menunjuk 'Utsman bin 'Affan sebagai imam di Madinah untuk sementara waktu, sebagaimana hal ini dituturkan oleh Ibnu Hisyam.
Beliau tinggal selama sebulan atau mendekati sebulan di Najd, lalu pulang kembali ke Madinah karena tidak ada perlawanan. Beliau menghabiskan sisa bulan Rabiul Awwal atau sedikit dari bulan Rabiul Awwal di Madinah.4
- Al-Furu' di Bahran
Dua bulan di kawasan tambang, lalu pulang
Beliau berangkat untuk memerangi Quraisy dengan Ibnu Ummu Maktum sebagai imam pengganti di Madinah. Beliau sampai di Bahran, kawasan pertambangan di Hijaz dari arah al-Furu', menetap pada bulan Rabiul Akhir dan Jumadil Ula, lalu pulang karena tiada perlawanan.
Baca selengkapnya
Lalu beliau pergi untuk memerangi orang-orang Quraisy. Beliau mengangkat Ibnu Ummu Maktum sebagai imam pengganti sementara di Madinah.
Beliau melanjutkan perjalanan hingga sampai di Bahran, satu kawasan pertambangan di Hijaz dari arah al-Furu'. Beliau menetap selama bulan Rabiul Akhir dan Jumadil Ula di kawasan itu. Setelah itu kembali pulang ke Madinah, karena tiada perlawanan.4
- Bani Qainuqa': peringatan di pasar
Jawaban orang Yahudi dan ayat Ali 'Imran
Di tengah perang-perang di atas terjadi insiden Bani Qainuqa'. Beliau mengumpulkan orang Yahudi di pasar mereka dan mengajak mereka masuk Islam; mereka menjawab bahwa beliau berhadapan dengan kaum yang tidak paham tentang perang. Menurut Ibnu 'Abbas, turun ayat Ali 'Imran: 12-14.
Baca selengkapnya
Di tengah-tengah perang beliau di atas terjadilah insiden Bani Qainuqa'. Insiden Bani Qainuqa' terjadi saat beliau menghimpun orang-orang Yahudi di pasar Bani Qainuqa' lalu bersabda kepada mereka: "Wahai orang-orang Yahudi, takutlah kepada Allah yang bisa menurunkan hukuman seperti yang Dia turunkan kepada orang-orang Quraisy dan masuklah kalian ke dalam Islam, sebab kalian telah mengetahui bahwa aku adalah seorang Nabi yang diutus. Inilah perjanjian Allah kepada kalian, dan telah kalian temukan di dalam kitab kalian." Orang-orang Yahudi berkata: "Wahai Muhammad, apa kau pikir kami ini sama dengan kaummu. Janganlah sekali-kali engkau tertipu karena engkau kini sedang berhadapan dengan kaum yang tidak paham tentang perang. Sehingga dengan sangat gampang engkau bisa mengalahkan mereka. Demi Allah, jika kami memerangimu, pasti kau sadar bahwa kami adalah manusia yang sebenarnya."4
Mantan budak keluarga Bani Yazid bin Tsabit berkata kepadanya dari Sa'id bin Jubair atau dari 'Ikrimah dari Ibnu 'Abbas, ia berkata: setelah itu Allah menurunkan ayat tentang orang-orang Yahudi tersebut.4
Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: "Kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam neraka Jahanam. Dan itulah tempat yang seburuk-buruknya." Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati. Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS Ali 'Imran: 12-14).
'Ashim bin 'Umar bin Qatadah berkata kepadaku bahwa Bani Qainuqa' adalah kabilah Yahudi pertama yang mengingkari perjanjiannya dengan beliau dan berperang melawan beliau antara Perang Badar dan Perang Uhud.46
- Bani Qainuqa': awal pecahnya perang
Wanita Arab di pasar tukang emas
Menurut Ibnu Hisyam, seorang wanita Arab dipermalukan seorang tukang emas Yahudi di pasar; seorang Muslim membunuh tukang emas itu, orang-orang Yahudi lalu membunuh lelaki Muslim itu, dan perang pun pecah.
Baca selengkapnya
'Abdullah bin Ja'far bin al-Miswar bin Makhramah berkata bahwa Abu 'Aun berkata: penyebab terjadinya perang Bani Qainuqa' ialah seorang wanita Arab datang membawa barang dagangannya untuk dijual di pasar Bani Qainuqa' kemudian duduk bersebelahan dengan seorang tukang emas dan perak. Orang-orang Yahudi meminta wanita Arab tersebut menyingkap wajahnya, tapi wanita itu menolak permintaan mereka. Tukang emas mendekat ke ujung pakaian wanita tadi dan mengikatkannya ke punggungnya. Saat wanita Arab tadi berdiri, maka tersingkaplah auratnya dan orang-orang Yahudi pun tertawa terbahak-bahak menyaksikan peristiwa tersebut. Mendapatkan perlakuan keji seperti itu, wanita Arab tadi berteriak kencang. Maka salah seorang dari kaum Muslimin melompat ke tukang emas Yahudi itu lalu membunuhnya. Yahudi-yahudi lainnya tidak tinggal diam. Mereka menarik lelaki Muslim tadi dan membunuhnya juga. Akibat peristiwa tersebut, keluarga lelaki Muslim yang dibunuh berteriak memanggil kaum Muslimin seraya menyebutkan aksi kurang ajar orang-orang Yahudi. Kaum Muslimin pun geram sehingga meledaklah perang antara kaum Muslimin dengan orang-orang Yahudi.1
- Bani Qainuqa': pengepungan dan 'Abdullah bin Ubay
"Mereka menjadi milikmu"
Beliau mengepung Bani Qainuqa' selama lima belas malam hingga mereka menerima keputusannya. 'Abdullah bin Ubay bin Salul berkata dua kali, "Berbuat baiklah kepada para klienku," lalu memegang saku baju besi beliau; beliau marah dan akhirnya bersabda, "Mereka menjadi milikmu." Ia menyebut empat ratus tentara tanpa baju besi dan tiga ratus berbaju besi.
Baca selengkapnya
'Ashim bin 'Umar bin Qatadah berkata kepadaku: maka beliau lalu mengepung orang-orang Yahudi Bani Qainuqa' hingga akhirnya mereka menerima keputusannya. 'Abdullah bin Ubay bin Salul, saat itu Allah menjadikan orang-orang Yahudi di bawah kepemimpinannya, menemui beliau dan berkata: "Wahai Muhammad, berbuat baiklah kepada para klienku, mereka adalah sekutu Khazraj." Beliau diam tidak memberi jawaban hingga 'Abdullah bin Ubay bin Salul berkata untuk kedua kalinya: "Hai Muhammad, berbuat baiklah kepada para klienku." Beliau memalingkan muka dari 'Abdullah bin Ubay bin Salul, kemudian 'Abdullah bin Salul memasukkan tangannya ke saku baju besi beliau.4
Baju besi beliau bernama Dzatu al-Fudhul.1
Lalu beliau berkata kepada 'Abdullah bin Ubay bin Salul: "Celakalah engkau. Biarkanlah aku pergi!" Beliau marah hingga wajah beliau berubah merah padam karena ucapan dan perbuatan 'Abdullah bin Ubay bin Salul. Beliau bersabda lagi: "Celakalah engkau, biarkanlah aku pergi!" 'Abdullah bin Ubay bin Salul berkata: "Tidak, demi Allah, aku tidak akan membiarkanmu pergi hingga engkau berbuat baik kepada para klienku, yaitu empat ratus tentara tanpa baju besi dan tiga ratus tentara berbaju besi yang telah melindungiku dari orang-orang berkulit merah dan orang-orang berkulit hitam, namun engkau membunuh mereka hanya sekejap saja. Demi Allah, sungguh aku orang yang paling takut tertimpa malapetaka." Beliau bersabda: "Mereka menjadi milikmu."4
Pada saat beliau memerangi orang-orang Yahudi Bani Qainuqa', beliau mengangkat Basyir bin 'Abdul Mundzir sebagai imam sementara di Madinah. Beliau mengepung Bani Qainuqa' selama lima belas malam.17
- 'Ubadah bin ash-Shamit berlepas diri
Ayat al-Ma'idah tentang pemimpin dan penolong
Saat Bani Qainuqa' menyerahkan urusan mereka kepada 'Abdullah bin Ubay, 'Ubadah bin ash-Shamit, yang punya hubungan dekat dengan mereka, memutuskan hubungan itu di hadapan beliau. Tentang 'Ubadah dan 'Abdullah bin Ubay turun ayat al-Ma'idah: 51-56.
Baca selengkapnya
"Saat Bani Qainuqa' memerangi beliau, mereka menyerahkan urusannya kepada 'Abdullah bin Ubay bin Salul karena dia adalah pemimpin mereka. Di sisi lain, 'Ubadah bin ash-Shamit menemui beliau. 'Ubadah bin ash-Shamit adalah warga Bani 'Auf dan ia memiliki hubungan dekat dengan orang-orang Yahudi Bani Qainuqa' sebagaimana mereka mempunyai hubungan dekat dengan 'Abdullah bin Ubay bin Salul. 'Ubadah bin ash-Shamit memutuskan hubungan dengan mereka dan ia berlepas diri dari mereka. Kemudian dia berkata: 'Wahai Rasulullah, aku memihak kepada Allah, Rasul-Nya dan kaum mukminin. Dan aku berlepas diri dari persekutuan dengan mereka, tidak loyal kepada mereka.' Tentang 'Ubadah bin ash-Shamit dan 'Abdullah bin Ubay bin Salul turunlah ayat berikut:8
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) yakni 'Abdullah bin Ubay. Dan perkataannya sesungguhnya aku orang yang paling tahu tertimpa bencana, Sesungguhnya mereka bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: "Kami takut akan mendapat bencana." Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. Dan orang-orang yang beriman akan mengatakan: "Inikah orang-orang yang bersumpah sungguh-sungguh dengan nama Allah, bahwasanya binasalah segala amal mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang merugi. Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.
Kemudian kisahnya berlanjut hingga firman-Nya:
Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Allah menyebutkan tentang keberpihakan 'Ubadah bin ash-Shamit kepada Allah, Rasulullah dan orang-orang mukmin dan berlepas dirinya dari Bani Qainuqa' dalam firman-Nya:
Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang. (QS al-Ma'idah: 51-56).9
- Ekspedisi Zaid bin Haritsah ke al-Qaradah
Kafilah Quraisy lewat jalur Irak
Setelah kekalahan di Badar, Quraisy khawatir lewat jalur Syam dan memilih jalur Irak dengan Furat bin Hayyan sebagai penunjuk jalan; Abu Sufyan membawa perak dalam jumlah besar. Zaid bin Haritsah menyongsong mereka di mata air al-Qaradah di Najd dan menguasai barang dagangan, sedangkan para saudagar dibiarkan lolos.
Baca selengkapnya
Ekspedisi Zaid bin Haritsah yang ditugaskan beliau telah berhasil menaklukkan kafilah dagang Quraisy, termasuk di dalamnya Abu Sufyan bin Harb di al-Qaradah, salah satu mata air di Najd. Saat itu, orang-orang Quraisy mengkhawatirkan jalur yang biasa mereka tempuh ke Syam, setelah kekalahan mereka yang getir di Perang Badar. Oleh karena itu, mereka melewati jalur Irak. Lalu berangkatlah kafilah dagang mereka, termasuk di dalamnya Abu Sufyan bin Harb yang membawa perak dalam jumlah besar dan merupakan harta terbesar kafilah dagang tadi. Kafilah dagang Quraisy ini menyewa seseorang dari Bani Bakr bin Wail yang bernama Furat bin Hayyan yang menunjukkan jalan bagi mereka.4
Furat bin Hayyan bin 'Ijl adalah sekutu Bani Sham.1
Karena itulah, beliau mengirim Zaid bin Haritsah untuk menyongsong mereka. Ekspedisi Zaid bin Haritsah bertemu dengan mereka di mata air al-Qaradah dan berhasil mengalahkan dan menguasai barang dagangan mereka namun para saudagarnya dibiarkan perang. Zaid bin Haritsah kemudian membawa barang dagangan kafilah Quraisy ke hadapan beliau.4
Pasca Perang Uhud, yakni pada Perang Badar Terakhir, Hassan bin Tsabit menyindir orang-orang Quraisy yang menempuh jalur Irak:
Mereka tinggalkan oase Syam yang dijaga oleh
Urang kuat laksana mulut unta betina hamil yang makan di bawah pohon arak
Di tangan orang-orang yang hijrah kepada Tuhan mereka
Dengan dukungan para penolong-Nya yang setia dan para malaikat-Nya
Tatkala mereka berjalan untuk menyerang melalui lembah Alij
Katakan kepada mereka, 'Tak ada jalan di tempat ini ke sana.
Bait-bait di atas adalah bait-bait syair Hassan bin Tsabit yang ditanggapi oleh Abu Sufyan bin al-Harits bin 'Abdul Muththalib. Akan saya paparkan bait-bait Hassan bin Tsabit dan jawaban Abu Sufyan bin al-Harits bin 'Abdul Muththalib pada tempatnya, insya Allah.110
- Ka'ab bin al-Asyraf di Makkah
Ratapan untuk penghuni sumur Badar dan sanjungan atas istri-istri Muslim
Setelah kabar kemenangan dari Zaid bin Haritsah dan 'Abdullah bin Rawahah, Ka'ab bin al-Asyraf berkata bahwa lebih baik ia mati bila kabar itu benar. Ia pergi ke Makkah, singgah di rumah al-Muthalib bin Abu Wada'ah, memprovokasi Quraisy lewat syair dan menangisi penghuni sumur Badar, lalu pulang ke Madinah dan menyanjung istri-istri kaum Muslimin.
Baca selengkapnya
Ketika orang-orang Quraisy ditimpa kekalahan telak di Perang Badar, Zaid bin Haritsah berangkat ke kawasan lembah sedangkan 'Abdullah bin Rawahah dikirim ke dataran atas sebagai utusan yang dikirim beliau untuk memberi kabar gembira kepada kaum Muslimin di Madinah tentang pertolongan yang Allah berikan dan terbunuhnya orang-orang musyrikin. Sebagaimana hal ini dikatakan kepadaku oleh 'Abdullah bin al-Mughits bin Abu Burdah adz-Dzafari, 'Abdullah bin Abu Bakr bin Muhammad bin Hazm, 'Ashim bin 'Umar bin Qatadah, dan Shalih bin Abu Umarah bin Sahl. Mereka semua menceritakan sebagian ucapannya kepadaku bahwa Ka'ab bin al-Asyraf berasal dari Thayyi', dari Bani Nabhan, sedangkan ibunya berasal dari Bani an-Nadhir. Ka'ab bin al-Asyraf berkata ketika mendengar kabar dari Zaid bin Haritsah dan 'Abdullah bin Rawahah: "Apakah berita ini benar? Benarkah Muhammad telah berhasil mengalahkan orang-orang yang disebutkan oleh kedua orang tersebut, yakni 'Abdullah bin Rawahah dan Zaid? Padahal mereka adalah orang-orang Arab yang termulia dan raja manusia? Demi Allah, bila Muhammad telah benar berhasil mengalahkan orang-orang tersebut, maka lebih baik aku mati saja."4
Tatkala musuh Allah ini yakin tentang kebenaran berita yang dibawa kedua sahabat tersebut, ia beranjak dari Madinah menuju Makkah dan singgah di rumah al-Muthalib bin Abu Wada'ah bin Dhubairah as-Sahmi yang beristrikan 'Atikah binti Abu al-'Ash bin Umayyah bin 'Abdu Syams bin 'Abdu Manaf yang kemudian menjamu dan menghormatinya. Ka'ab bin al-Asyraf memprovokasi orang-orang Quraisy untuk menggempur beliau dengan melantunkan untaian-untaian syair, dan menangisi penghuni sumur Badar, yaitu orang-orang Quraisy yang tewas di Perang Badar.4
Setelah itu, Ka'ab bin al-Asyraf pulang ke Madinah dan menyanjung istri-istri kaum Muslimin sehingga membuat mereka tidak nyaman karenanya.11
- Muhammad bin Maslamah dan rencana mereka
Siapa yang berani memberi pelajaran pada Ka'ab
Beliau bertanya siapa yang berani memberi pelajaran kepada Ka'ab bin al-Asyraf. Muhammad bin Maslamah menyatakan siap, lalu tiga hari tidak makan dan minum karena khawatir tidak mampu menepatinya; beliau menenangkannya dan mengizinkan mereka berkata sesuatu kepada Ka'ab. Silkan bin Salamah (Abu Nailah), saudara sesusuan Ka'ab, menemuinya lebih dulu dengan alasan mencari makanan dengan gadai senjata.
Baca selengkapnya
Beliau bersabda sebagaimana dikatakan kepadaku oleh 'Abdullah bin al-Mughits bin Abu Burdah: "Siapa yang berani memberi pelajaran pada Ka'ab bin al-Asyraf atas namaku?" Muhammad bin Maslamah, dari Bani 'Abdul Asyhal berkata: "Wahai Rasulullah, saya siap bertindak atas namamu! Aku akan habisi dia!" Beliau bersabda, "Silakan ambil tindakan, bila engkau sanggup melakukannya."4
Muhammad bin Maslamah pulang ke rumah dan mengurung diri di dalamnya selama tiga hari tanpa makan dan minum, kecuali sekedarnya saja. Peristiwa ini dilaporkan kepada beliau, lalu beliau memanggilnya dan bersabda: "Kenapa engkau tidak makan dan minum?" Muhammad bin Maslamah menjawab: "Wahai Rasulullah, aku telah mengucapkan perkataan kepadamu dan aku tidak tahu pasti apakah aku mampu menepatinya atau tidak?" Beliau bersabda kepada Muhammad bin Maslamah: "Sesungguhnya hal itu satu hal yang kau mesti engkau lakukan?" Muhammad bin Maslamah berkata: "Wahai Rasulullah, kita harus mengatakan sesuatu padanya." Beliau bersabda: "Silakan katakan apa yang terlintas untuk kalian katakan, karena itu bebas buat kalian lakukan."
Setelah itu terkumpullah sejumlah orang untuk membunuh Ka'ab bin al-Asyraf. Mereka adalah Muhammad bin Maslamah, Silkan bin Salamah bin Waqasy (Abu Nailah), salah seorang dari Bani 'Abdul Asyhal dan saudara sesusuan dengan Ka'ab bin al-Asyraf, 'Abbad bin Bisyr bin Waqasy dari Bani 'Abdul Asyhal, al-Harits bin Aus bin Mu'adz dari Bani 'Abdul Asyhal, dan Abu 'Abs bin Jabr dari Bani Haritsah.
Sebelum mendatangi musuh Allah, Ka'ab bin al-Asyraf, mereka mengutus Silkan bin Salamah menemui Ka'ab bin al-Asyraf. Silkan bin Salamah pun segera menemuinya. Silkan bin Salamah berbicara beberapa saat dengan Ka'ab bin al-Asyraf, melantunkan syair-syair, dan berkata kepada Ka'ab bin al-Asyraf: "Sungguh celaka engkau wahai Ka'ab bin al-Asyraf, aku datang menemuimu karena sesuatu yang ingin aku utarakan kepadamu dan dengan harapan engkau merahasiakannya." Ka'ab bin al-Asyraf berkata: "Pasti akan saya rahasiakan itu." Silkan bin Salamah berkata: "Sungguh kedatangan orang ini kepada kita adalah petaka di atas petaka, orang-orang Arab memusuhi kita karenanya dan menyerang kita bersama-sama bersatu memusuhi kita, mereka memutus jalur dan jalan-jalan hingga orang-orang kita menjadi sengsara, setiap jiwa menderita, kita dan orang-orang tanggungan kita juga mengalami beban derita."
Ka'ab bin al-Asyraf berkata: "Aku anak al-Asyraf, demi Allah, aku telah mengatakan padamu wahai Ibnu Salamah bahwa perkara ini akan berujung pada apa yang telah pernah aku katakan." Silkan bin Salamah berkata kepada Ka'ab bin al-Asyraf: "Aku ingin engkau menjual makanan kepada kami dan untuk itu kami gadaikan sesuatu kepadamu buat penguat untukmu sebagai balasannya engkau berbuat baik dalam hal ini." Ka'ab bin al-Asyraf berkata: "Apakah engkau mau menggadaikan anak-anak kalian kepadaku?" Silkan bin Salamah berkata: "Tampaknya engkau hanya ingin menjelek-jelekkan kami. Sesungguhnya bersamaku ada teman-teman yang seide dan aku ingin datang menemuimu kembali bersama mereka kemudian engkau jual makanan kepada mereka, berbuat baik, dan kami gadaikan kepadamu senjata. Kami tidak akan melanggar janji." Silkan bin Salamah mengatakan itu padanya agar Ka'ab bin al-Asyraf tidak menolak teman-temannya apabila mereka datang dengan menghunus pedang.
Kemudian Silkan bin Salamah menemui sahabat-sahabatnya, menceritakan keadaan Ka'ab bin al-Asyraf dan meminta mereka untuk mengambil pedangnya masing-masing. Lalu mereka pun berangkat untuk menghabisi Ka'ab bin al-Asyraf, namun sebelum itu mereka berkumpul di tempat beliau.
Ada yang mengatakan bahwa Ka'ab bin al-Asyraf berkata: "Apakah kalian mau menggadaikan istri-istri kalian kepadaku?" Silkan bin Salamah berkata: "Bagaimana kami harus menggadaikan istri-istri kami, padahal engkau warga Yatsrib yang pintar memuji wanita dan paling gemar memakai parfum?" Ka'ab bin al-Asyraf berkata: "Apakah kalian mau menggadaikan anak-anak kalian?"112
- Terbunuhnya Ka'ab bin al-Asyraf
Dari rumahnya ke Syi'ab al-'Ajuz, lalu kembali kepada beliau
Pada malam purnama, setelah beliau melepas mereka di Baqi' al-Gharqad, kelompok itu memanggil Ka'ab dari bentengnya dan mengajaknya berjalan ke Syi'ab al-'Ajuz. Pedang mereka tidak mempan melukainya sampai Muhammad bin Maslamah menusuk dengan belati kecil. Al-Harits bin Aus terluka; mereka membawanya kepada beliau yang sedang shalat malam, dan beliau menjampi lukanya.

Pemakaman Baqi' di Madinah, kondisi sekarang (foto 20 Juli 2021; deskripsi berkas: "Al-Baqi Cemetery in Medina"). Di kejauhan tampak Masjid Nabawi.Foto: Saleh Al Hussain · CC BY 4.0 · Wikimedia Commons Baca selengkapnya
Beliau bersama sahabat-sahabat tersebut berangkat ke Baqi' al-Gharqad dan memberi arahan kepada mereka. Beliau bersabda: "Berangkatlah kalian dengan nama Allah. Ya Allah, tolonglah mereka." Kemudian beliau pulang ke rumah dan ketika itu malam sedang purnama.13
Sementara sahabat-sahabat tadi berjalan hingga sampai di benteng Ka'ab bin al-Asyraf. Abu Nailah memanggil Ka'ab bin al-Asyraf yang baru saja menikah. Ka'ab bin al-Asyraf melompat namun istrinya memegang ujung selimutnya sambil berkata: "Engkau adalah seorang yang sudah terbiasa perang dan orang yang terbiasa perang tidak akan pernah terjun ke medan perang pada jam-jam seperti ini." Ka'ab bin al-Asyraf berkata: "Dia Abu Nailah, Silkan bin Salamah. Jika dia dapatkan aku tidur, pasti tidak akan membangunkanku." Istri Ka'ab bin al-Asyraf berkata: "Sesungguhnya aku mengerti ada keburukan pada suaranya." Ka'ab bin al-Asyraf berkata: "Seorang pemuda ditantang untuk bertarung, pastilah ia tak akan mundur."
Ka'ab bin al-Asyraf menemui Silkan bin Salamah dan sahabat-sahabatnya, mereka terlibat pembicaraan dalam beberapa saat. Sahabat-sahabat Silkan bin Salamah berkata: "Hai anak al-Asyraf, maukah engkau berjalan ke Syi'ab al-'Ajuz (luar Madinah) kemudian kita berbincang di sana di sisa-sisa malam kita ini?" Ka'ab bin al-Asyraf berkata: "Jika kalian mau, mari silakan saja!" Mereka pun keluar Madinah sambil jalan-jalan sesaat. Silkan bin Salamah berkata kepada Ka'ab bin al-Asyraf: "Tidak pernah aku dapatkan parfum yang lebih wangi dari parfummu!" Silkan bin Salamah berjalan sesaat dan melakukan seperti yang dia lakukan sebelumnya, kemudian berkata: "Hantamlah musuh Allah ini!" Sahabat-sahabatnya pun memukuli Ka'ab bin al-Asyraf dan pedang mereka menyerangnya secara bertubi-tubi, namun ternyata pedang-pedang itu tidak mempan untuk melukainya.
Muhammad bin Maslamah berkata: "Tatkala aku dapatkan pedang sahabat-sahabatku tidak mempan sedikit pun untuk melukai Ka'ab bin al-Asyraf, aku ingat belati kecil di pedangku dan aku pun mengambilnya. Musuh Allah, Ka'ab bin al-Asyraf, berteriak dengan teriakan yang melengking sehingga tidak ada satu benteng di sekitar kami yang tidak menyalakan api, kemudian aku menusukkan tombak kecilku ke bagian antara pusar dan kemaluannya dan menancapkannya hingga mengenai kemaluannya. Musuh Allah Ka'ab bin al-Asyraf, jatuh tersungkur ke tanah. Al-Harits bin Aus bin Mu'adz, sahabatku terluka di kepala atau kakinya karena terkena tebasan pedang salah seorang di antara kami sendiri. Setelah itu, kami pulang melewati perkampungan Bani Umayyah bin Zaid, kemudian melewati perkampungan Bani Quraizhah, lalu melewati Bu'ats hingga kemudian mendaki tanah berbatu hitam al-'Uraidhah. Al-Harits bin Aus tertinggal oleh kami karena kucuran darahnya. Kami berhenti sejenak menunggunya dan tidak lama berselang, ia datang menyusul kami. Kami membopong al-Harits bin Aus dan membawanya kepada beliau di akhir malam. Beliau ketika itu sedang shalat qiyamul lail. Kami ucapkan salam kepada beliau, kemudian beliau keluar menemui kami. Kami terangkan kronologi terbunuhnya musuh Allah, Ka'ab bin al-Asyraf, dan terlukanya salah seorang dari kami, yakni al-Harits bin Aus. Beliau menjampi luka sahabat itu lalu kami masing-masing pulang ke rumah. Keesokan harinya orang-orang Yahudi ketakutan karena pembunuhan kami terhadap musuh Allah, Ka'ab bin al-Asyraf. Maka sejak saat itu semua orang Yahudi tidak ada yang berani macam-macam lagi."14
- Muhayyishah dan Huwayyishah
Perintah membunuh orang Yahudi dan masuk Islamnya Huwayyishah
Beliau bersabda agar orang Yahudi yang dikuasai dibunuh; Muhayyishah membunuh Ibnu Sunainah, seorang pedagang Yahudi, dan saudaranya yang lebih tua, Huwayyishah yang belum Islam, memukulnya. Jawaban Muhayyishah, bahwa ia akan mematahkan leher saudaranya pun bila diperintah, membuat Huwayyishah masuk Islam. Ibnu Hisyam menambahkan riwayat tentang Ka'ab bin Yahudza dari Bani Quraizhah.
Baca selengkapnya
Beliau bersabda: "Barang siapa yang berhasil menguasai salah seorang lelaki Yahudi maka bunuhlah dia!" Dengan serta merta Muhayyishah membunuhnya.4
Ada yang mengatakan namanya adalah Mahishah bin Mas'ud bin Ka'ab bin 'Amir bin 'Adi bin Majda'ah bin Haritsah bin al-Khazraj bin Amr bin Malik bin al-Aus, menangkap Ibnu Sunainah.1
Ada yang menyebut namanya adalah Ibnu Subainah, salah seorang pedagang Yahudi yang realitanya memiliki hubungan sosial dan bisnis dengan mereka. Huwayyishah bin Mas'ud ketika itu belum masuk Islam dan secara usia lebih tua daripada Muhayyishah. Ketika Muhayyishah membunuh Ibnu Sunainah, Huwayyishah memukulnya dan berkata: "Wahai musuh Allah, kenapa engkau membunuh Ibnu Sunainah? Demi Allah, bukankah lemak yang di perutmu itu berasal dari hartanya?!" Muhayyishah berkata: "Demi Allah, aku diperintah untuk membunuhnya oleh orang yang jika ia menyuruhku membunuhmu, aku pasti mematahkan lehermu." Muhayyishah berkata lagi: "Demi Allah, itulah sebab awal masuk Islamnya Huwayyishah." Huwayyishah berkata: "Demi Allah, andaikata Muhammad menyuruhmu membunuhku, apakah engkau akan membunuhku juga?" Muhayyishah menjawab: "Ya, demi Allah, seandainya dia memerintahkanku untuk membunuhmu, aku pasti mematahkan lehermu." Huwayyishah berkata: "Demi Allah, sungguh agama ini telah membuatmu demikian kagum." Lalu Huwayyishah pun masuk Islam.1
Cerita tentang hal di atas dituturkan kepadaku oleh mantan budak Bani Haritsah dari anak perempuan Muhayyishah. Tentang kejadian di atas, Muhayyishah berkata dalam untaian syair:4
Anak ibuku mencelaku apabila aku diperintah untuk membunuh dirinya
Pasti potong tulang telinga belakangnya dengan pedang nan tajam
Pedang laksana kristal garam yang putih cemerlang
Bila pedang itu aku ayunkan, ia tidak pernah luput sasaran
Aku bahagia karena aku membunuhmu berdasarkan ketaatan
Dan kita berhak mendapatkan yang di antara Bushra dan Ma'arib
Ketika beliau berhasil mengalahkan Bani Quraizhah, beliau menawan sekitar empat ratus orang Yahudi dari mereka. Mereka adalah sekutu orang-orang al-Aus. Beliau memerintahkan agar mereka dihabisi, lalu orang-orang al-Khazraj menghabisi mereka dan itu membuat lega mereka. Beliau melihat orang-orang al-Khazraj, ternyata wajah mereka berbinar cerah penuh bahagia. Beliau melihat pada orang-orang al-Aus namun tidak demikian halnya dengan orang-orang mereka. Beliau mengira bahwa murung dan kusutnya wajah orang-orang al-Aus itu disebabkan karena adanya persekutuan antara mereka dengan Bani Quraizhah. Sisa dari keempat ratus orang yang masih hidup dari Bani Quraizhah adalah delapan belas orang, kemudian kedua belas orang tersebut diserahkan beliau kepada orang-orang al-Aus, dan untuk setiap dua orang al-Aus diserahi satu orang dari Bani Quraizhah. Beliau bersabda: "Hendaklah satu orang menghajarnya sedangkan satunya lagi membunuhnya." Di antara kedua belas orang Bani Quraizhah yang diserahkan kepada orang-orang al-Aus ialah Ka'ab bin Yahudza, salah seorang tokoh utama Bani Quraizhah. Ia diserahkan kepada Muhayyishah bin Mas'ud dan Abu Burdah bin Niyar. Abu Burdah inilah yang diberi keringanan oleh beliau untuk menyembelih anak kambing yang berusia delapan atau sembilan bulan di Hari Raya Idul Adha. Beliau bersabda: "Hendaklah Muhayyishah menghajar Ka'ab bin Yahudza dan hendaklah Abu Burdah membunuhnya!" Muhayyishah menghajar Ka'ab bin Yahudza kemudian barulah Abu Burdah menghabisinya. Huwayyishah yang saat itu masih kafir berkata kepada saudaranya: "Apakah engkau membunuh Ka'ab bin Yahudza?" Muhayyishah berkata: "Ya." Huwayyishah berkata: "Demi Allah, lemak yang ada di perutmu itu mungkin berasal dari hartanya? Engkau tercela, hai Muhayyishah!" Muhayyishah berkata: "Aku diperintah membunuhnya oleh orang yang jika menyuruhku membunuhmu, pasti aku membunuhmu juga." Huwayyishah berpaling dari Muhayyishah dalam keadaan terkagum-kagum. Para ulama sirah menyebutkan bahwa pada malam harinya, Huwayyishah terbangun dari tidurnya dan dia sangat kagum pada perkataan saudaranya. Esok harinya, Huwayyishah berkata: "Demi Allah, inilah agama yang benar." Setelah itu, ia datang menemui beliau, mengucapkan salam lalu masuk Islam, dan mengucapkan syair-syair yang telah saya tuliskan sebelum ini.1516
- Menjelang Uhud
Menetap di Madinah empat bulan
Sekembalinya dari Bahran, beliau menetap di Madinah selama bulan Jumadil Akhir, Rajab, Sya'ban, dan Ramadhan. Orang-orang Quraisy memerangi beliau di Perang Uhud pada bulan Syawal tahun ketiga Hijriah.
Baca selengkapnya
Sekembalinya dari Bahran, beliau menetap di Madinah selama bulan Jumadil Akhir, Rajab, Sya'ban, dan Ramadhan.4
Orang-orang Quraisy memerangi beliau di Perang Uhud di bulan Syawal tahun ketiga Hijriah.
Catatan
- Tambahan Ibnu Hisyam.
- Kalimat tentang Bani 'Abdul Muththalib tercetak "Saudara Aqil bin Amir, yaitu Tamim bin Amr,Anak Aqil bin Amr"; kami memuatnya apa adanya. "Hanya serang" pada Bani Naufal kami baca "hanya seorang". Pada Bani Jumah tercetak "total enam orang", sedangkan nama yang tertulis berjumlah lima, termasuk satu sekutu yang namanya dilupakan Ibnu Hisyam (hitungan kami sendiri). Nama dua orang terakhir tercetak "Syaafi'" dan "Syafii'"; kami memuatnya apa adanya.
- Tambahan Ibnu Hisyam. Sanad: Ziyad bin 'Abdullah bin al-Bakkai bercerita kepadaku dari Muhammad bin Ishaq al-Muthalibi.
- Ibnu Ishaq.
- Kalimat tentang al-'Uraidh tercetak "lalu mereka membunuh kedua" dan langsung bersambung dengan "Ibnu Ishaq berkata: Kemudian ..." tanpa penutup kalimat; kami menandainya dengan "…" dan tidak menambahkan kata. Kalimat "sedang bekerja ladang mereka" tercetak tanpa kata "di" dan kami memuatnya apa adanya; "mengizikannya" kami tulis "mengizinkannya". Nama perawi tercetak "Muhammad bin Ta'far bin Zubair"; kami membacanya "Ja'far". Baris keempat syair tercetak "Oleh Sallam bin Misykam Kala pasukan berbalik pulang, aku berkata: dan aku tidak ingin menggembirakannya"; kami memuatnya apa adanya.
- Nomor catatan kaki "93" yang tercetak sesudah jawaban orang Yahudi tidak kami muat.
- Nomor catatan kaki "94" yang tercetak sesudah sabda "Mereka menjadi milikmu" tidak kami muat.
- Ibnu Ishaq. Sanad: Abu Ishaq bin Yasar berkata kepadaku dari 'Ubadah bin al-Walid bin 'Ubadah bin ash-Shamit.
- Perawi tercetak "'Ubadah bin Alwalid bin Ubadah bin ash-Shamit"; kami menulis "'Ubadah bin al-Walid bin 'Ubadah bin ash-Shamit".
- Kalimat "para saudagarnya dibiarkan perang" tercetak demikian; kami tidak mengubahnya dan tidak menambahkan keterangan. Kata "Urang" pada baris kedua bait tercetak demikian; kami membacanya "orang".
- Nama istri al-Muthalib tercetak "Atikah binti Abu Al-Ish"; kami menulis "'Atikah binti Abu al-'Ash".
- Nomor catatan kaki "95" yang tercetak sesudah pertanyaan beliau tentang siapa yang berani memberi pelajaran tidak kami muat. Ucapan Muhammad bin Maslamah tercetak "namamu!!. Aku akan habisi dial!" dan kami menuliskannya "namamu! Aku akan habisi dia!"; ucapan beliau "Sesungguhnya hal itu satu hal yang kau mesti engkau lakukan?" tercetak dengan susunan yang tidak lazim; kami memuatnya apa adanya.
- Ibnu Ishaq. Sanad: Tsaur bin Ziyad berkata kepadaku dari 'Ikrimah, dari Ibnu 'Abbas.
- Nomor catatan kaki "96" yang tercetak sesudah doa "Ya Allah, tolonglah mereka" tidak kami muat. Muhammad bin Maslamah menyebut "belati kecil di pedangku" lalu "tombak kecilku"; kami memuat kedua kata itu seperti tercetak.
- Tambahan Ibnu Hisyam. Sanad: Abu 'Ubaidah berkata kepadaku dari Abu 'Amr al-Madani.
- Nomor catatan kaki "97" yang tercetak sesudah sabda beliau tidak kami muat. Nama kedua bersaudara tercetak "Muhaishah", "Muhaiyyishah", dan "Huwaiyyishah"; kami menulis "Muhayyishah" dan "Huwayyishah". Kalimat tentang Bani Quraizhah menyebut "delapan belas orang" lalu "kedua belas orang" (kalimat yang sama); kami memuatnya apa adanya dan tidak menyatakan mana yang dimaksud. Ibnu Hisyam menyebut Bani Quraizhah dalam riwayat ini, sedangkan kisah Bani Quraizhah sendiri baru dipaparkan pada bab-bab berikutnya.
Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Bab berikutnya membahas Perang Uhud.