Isi bab ini
Bab ini menceritakan kafilah Abu Sufyan dan keberangkatan Quraisy, perjalanan kaum Muslimin ke Badar, musyawarah dan strategi di lembah, jalannya pertempuran, nasib para tawanan dan tebusannya, tafsir surat al-Anfal menurut Ibnu Ishaq, serta daftar peserta, syuhada, korban, dan tawanan.
Pasukan Muslim
Ibnu Ishaq menyebut 314 orang: 83 Muhajirin, 61 dari al-Aus, dan 170 dari al-Khazraj, termasuk yang diberi bagian meski tidak hadir.
Quraisy
Dari jumlah hewan sembelihan (9 atau 10 ekor sehari), beliau menyimpulkan 900 sampai 1.000 orang; Ibnu Hisyam menyebut kuda Quraisy 100 ekor.
Hari pertempuran
Pagi hari Jum'at, 17 Ramadhan 2 H, diawali tiga duel dan doa beliau di bilik.
Korban
14 syuhada Muslim; 50 korban Quraisy yang disebut Ibnu Ishaq, 43 tawanan menurut Ibnu Ishaq.
Madinah ke Badar
Titik Makkah, Madinah, dan Dzul Hulaifah diambil dari Wikipedia. Koordinat Badar berpresisi rendah.
Perang Badar menurut Ibnu Hisyam
Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.
Strategi di lembah Badar
Sketsa ini menata apa yang disebut Ibnu Hisyam; letak relatif dan bentuk medan hanyalah perkiraan dan tidak berskala.
- Kaum Muslimin tiba lebih dulu di air terdekat dengan Badar, lalu berpindah ke air terdekat dengan Quraisy atas usul al-Hubab; sumur lain ditimbun dan dibuat kolam.
- Quraisy turun dari bukit pasir keesokan harinya.
- Al-Aswad al-Makhzumi tewas di kolam.
- Tiga duel pembuka: Hamzah, 'Ali, dan 'Ubaidah melawan 'Utbah, Syaibah, dan al-Walid.
Strateginya menurut Ibnu Hisyam: menguasai air terdekat dan menutup sumur lain, lalu beliau melarang menyerang sebelum ada perintah dan bersabda, “Jika mereka telah berkumpul dekat kalian, seranglah mereka dengan anak panah.” Panah 1 sampai 4 hanya gerakan yang disebut Ibnu Hisyam; jalurnya perkiraan. Tidak ada jumlah pemanah dalam Ibnu Hisyam.
| Pasukan | Jumlah | Peran yang disebut Ibnu Hisyam |
|---|---|---|
| Muhajirin | 83 | Panji putih dipegang Mush'ab bin 'Umair; dua panji hitam di depan, salah satunya al-'Uqab dipegang 'Ali. |
| Anshar (al-Aus 61, al-Khazraj 170) | 231 (hitungan kami sendiri: 61 + 170) | Panji Anshar dipegang Sa'd bin Mu'adz; satu panji hitam dipegang seorang Anshar. |
| Sayap belakang | tidak disebut | Dipimpin Qais bin Abu Sha'sha'ah dari Bani Mazin bin an-Najjar. |
| Berkuda | tiga kuda disebut namanya | Kuda Martsad bin Abu Martsad, al-Miqdad, dan az-Zubair. Ibnu Hisyam tidak menyebut jumlah total kuda Muslim. |
| Pemanah | tidak disebut | Perintah memanah ketika musuh mendekat. Mas'ud bin Rabi'ah dan 'Abdullah bin Mas'ud termasuk al-Qarah, yang menurut Ibnu Hisyam ahli melempar panah. |
| Quraisy | 900 sampai 1.000 (perkiraan beliau), 100 kuda | Panji dipegang an-Nadhr bin al-Harits, lalu Abu 'Aziz bin 'Umair (keterangan Ibnu Hisyam). Tiga duelis awal: 'Utbah, Syaibah, al-Walid. |
Dari sumber lain. Bagian ini bukan dari Ibnu Hisyam. Menurut artikel Wikipedia Battle of Badr (https://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Badr), yang mengutip Mubarakpuri, az-Zubair memimpin sayap kanan, al-Miqdad sayap kiri, dan Qais bin Abu Sha'sha'ah barisan belakang; artikel itu menulis kaum Muslimin hanya punya dua kuda (az-Zubair dan al-Miqdad), sekitar 70 unta, dan menyebut jumlah Muslim 313 (82 Muhajirin, 61 al-Aus, 170 al-Khazraj). Angka-angka itu berbeda dari Ibnu Hisyam, dan kami belum memeriksanya pada kitab asalnya.
Perbedaan sumber
Jumlah kaum Muslimin. Ibnu Hisyam menyebut 314 orang, termasuk yang diberi bagian rampasan dan pahala meski tidak hadir. Haykal menyebut 305 orang (83 Muhajirin, 61 dari al-Aus, sisanya dari al-Khazraj). Khan menyebut 300 orang.
Jumlah Quraisy. Dalam riwayat Ibnu Hisyam, beliau menyimpulkan 900 sampai 1.000 orang dari hewan yang disembelih Quraisy tiap hari. Haykal menyebut hal yang sama, dan menyatakan jumlah mereka tiga kali lipat kaum Muslimin. Khan menyebut seribu orang bersenjata.
Kafilah. Haykal menyebut kafilah dijaga tiga puluh atau empat puluh orang. Khan menyebut kafilah itu "tidak bersenjata" dan bahwa pasukan Quraisy berangkat menuju Madinah; Haykal tidak menyebut kafilah tanpa senjata, tetapi hanya tiga puluh atau empat puluh penjaga.
Keberangkatan. Ibnu Hisyam menyebut Senin 8 Ramadhan (pendapat lain: Ramadhan telah berlalu beberapa hari); Haykal menyebut hari kedelapan Ramadhan. Haykal dan Ibnu Hisyam sama-sama menyebut Jum'at 17 Ramadhan 2 H untuk pertempuran.
Kuda dan unta. Ibnu Hisyam menyebut unta kaum Muslimin 70 ekor dan menyebut tiga nama kuda (Martsad, al-Miqdad, az-Zubair) tanpa menyebut jumlah total; kuda Quraisy 100 ekor. Haykal menyebut 70 unta.
- Kafilah Abu Sufyan
Kabar kafilah dari Syam dan seruan keluar
Beliau mendengar Abu Sufyan bin Harb baru tiba dari Syam bersama kafilah Quraisy yang membawa kekayaan besar; kafilah itu terdiri dari tiga puluh atau empat puluh orang Quraisy. Beliau mengajak kaum Muslimin keluar; sebagian ringan berangkat, sebagian berat hati karena tidak mengira akan ada perlawanan. Abu Sufyan, yang sudah waspada, menyewa Dhamdham bin 'Amr al-Ghifari untuk memberi tahu orang Quraisy di Makkah.
Baca selengkapnya
Beliau mendengar berita bahwa Abu Sufyan bin Harb baru saja tiba dari Syam bersama kafilah dagang Quraisy yang membawa sejumlah besar kekayaan dan barang dagangan milik orang-orang Quraisy. Kafilah ini terdiri dari tiga puluh atau empat puluh orang Quraisy. Di antara mereka ada Makhramah bin Naufal bin Uhaib bin 'Abdu Manaf bin Zuhrah dan 'Amr bin al-'Ash bin Wa'il bin Hisyam.1
Ada yang berkata bahwa 'Amr adalah anak dari Wa'il bin Hasyim.2
Muhammad bin Muslim az-Zuhri, 'Ashim bin 'Umar bin Qatadah, 'Abdullah bin Abu Bakr, Yazid bin Ruman, dan ulama-ulama lain berkata kepadaku dari 'Urwah bin az-Zubair dari Ibnu 'Abbas. Mereka semua mengatakan beberapa hadits dalam redaksi sama tentang Perang Badar.1
Mereka berkata: pada saat beliau mendengar Abu Sufyan bin Harb tiba dari Syam, beliau mengajak kaum Muslimin keluar dari Madinah dan bersabda: "Inilah kafilah dagang Quraisy. Di dalamnya adalah harta kekayaan mereka. Oleh sebab itu, pergilah kalian kepada mereka! Semoga Allah memberikan kekayaan mereka kepada kalian!" Kaum Muslimin menanggapi cepat seruan beliau. Sebagian mereka merasa ringan tanpa beban untuk berangkat dan sebagian lainnya merasa berat hati untuk berangkat, karena mereka tidak mengira beliau akan mendapatkan perlawanan perang.
Pada saat mendekati Hijaz, Abu Sufyan mengorek berita dan bertanya kepada musafir yang ia temui, karena khawatir mendapat serangan tak terduga. Akhirnya ia mendapatkan berita dari salah seorang musafir yang mengatakan kepadanya: "Sesungguhnya Muhammad telah mengirim sahabat-sahabatnya untuk menyerangmu dan kafilah dagang yang kamu pimpin." Karena berita tersebut, Abu Sufyan bersikap ekstra hati-hati. Ia menyewa Dhamdham bin 'Amr al-Ghifari untuk pergi ke Makkah dan memerintahkannya untuk mendatangi orang-orang Quraisy serta mendesak mereka untuk menyelamatkan harta kekayaan mereka, dan memberi tahu mereka bahwa Muhammad kini telah menghadangnya bersama para sahabatnya. Dhamdham bin 'Amr al-Ghifari segera meluncur ke Makkah.3
- Mimpi 'Atikah
Mimpi tiga malam sebelum Dhamdham tiba, dan ucapan Abu Jahl
Tiga malam sebelum Dhamdham tiba, 'Atikah binti 'Abdul Muththalib bermimpi seorang musafir berteriak dari atas untanya (di lembah, di depan Ka'bah, lalu di Abu Qubais): "Berangkatlah ke ladang kematian kalian dalam tiga hari," lalu ia melemparkan batu besar yang pecah dan serpihannya mengenai setiap rumah di Makkah. 'Abbas meminta ia merahasiakan, tetapi kabar menyebar lewat al-Walid bin 'Utbah. Abu Jahl mengejek Bani 'Abdul Muththalib dan menyebut batas tiga hari. Pada hari ketiga, 'Abbas mendengar jeritan Dhamdham.
Baca selengkapnya
Tiga malam sebelum kedatangan Dhamdham bin 'Amr al-Ghifari di Makkah, 'Atikah binti 'Abdul Muththalib melihat mimpi yang sangat mengerikan. Ia pun pergi menemui saudaranya, al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib sambil bertutur: "Saudaraku, demi Allah, semalam aku melihat mimpi yang demikian mengerikan. Aku khawatir keburukan dan musibah akan menimpa kaummu. Maka rahasiakanlah apa yang aku akan katakan padamu nanti." Al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib bertanya kepada 'Atikah binti 'Abdul Muththalib: "Mimpi apakah yang engkau lihat?" 'Atikah binti 'Abdul Muththalib menjawab: "Dalam mimpiku aku melihat seorang musafir datang dengan menunggang unta. Ia berdiri di sebuah tanah lembah nan lapang. Lalu ia berteriak dengan suara sangat lantang: 'Ketahuilah, wahai orang-orang Ghudar, berangkatlah kalian ke ladang kematian kalian dalam jangka tiga hari.' Aku lihat manusia berhimpun pada musafir tersebut, kemudian ia masuk ke masjid diikuti banyak orang. Ketika mereka berada di sekelilingnya, musafir tersebut berdiri di atas untanya di depan Ka'bah, lalu berteriak dengan suara sangat lantang: 'Ketahuilah, wahai orang-orang Ghudar, berangkatlah kalian ke ladang kematian kalian dalam jangka tiga hari.' Kemudian musafir tersebut berdiri di atas untanya di atas Abu Qubais, dan berteriak dengan teriakan yang sama lantangnya. Musafir tersebut mengambil batu besar lalu melemparkannya. Batu besar itu meluncur jatuh. Tatkala batu tersebut sampai di bawah gunung, ia pecah berkeping-keping. Tidak ada satu pun rumah di Makkah kecuali diterjang pecahan batu besar tersebut."4
Al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib berkata: "Demi Allah, inilah mimpi yang sebenarnya. Saya berpesan padamu agar merahasiakan mimpimu ini, dan janganlah sekali-kali kau menceritakannya kepada siapa pun."
Kemudian al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib keluar dan bertemu dengan al-Walid bin 'Utbah bin Rabi'ah, seorang sahabat dekat al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib. Lalu al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib menceritakan mimpi 'Atikah binti 'Abdul Muththalib kepadanya, dan meminta al-Walid merahasiakan rapat-rapat mimpi tersebut. Sayang sekali al-Walid tak mampu menahan rahasia dan ia menceritakan mimpi tersebut kepada ayahnya, 'Utbah bin Rabi'ah. Hasilnya, berita tentang mimpi tersebut menyebar luas ke seantero Makkah dan menjadi bahan pembicaraan hangat di antara orang-orang Quraisy di tempat pertemuan mereka.
Al-'Abbas berkata: lalu aku pergi untuk thawaf di Baitullah. Saat itu Abu Jahl sedang berkumpul bersama beberapa orang Quraisy membincangkan serius tentang mimpi 'Atikah binti 'Abdul Muththalib. Pada saat Abu Jahl melihatku, ia berkata: "Wahai Abu al-Fadhl, apabila telah selesai thawaf, harap engkau datang ke tempat kami!" Seusai thawaf, aku datang dan duduk bersama mereka. Abu Jahl berkata kepadaku: "Wahai Bani 'Abdul Muththalib, sejak kapan ada nabi wanita di tengah kalian?" Aku bertanya: "Maksudnya apa itu?" Abu Jahl berkata: "Mimpi yang dilihat 'Atikah." Aku bertanya: "Bermimpi apakah 'Atikah?" Abu Jahl berkata: "Wahai Bani 'Abdul Muththalib, bukankah kalian senang ada seorang laki-laki di antara kalian yang mengaku sebagai seorang nabi, kemudian wanita kalian juga mengaku sebagai nabi? 'Atikah mengaku bahwa dalam mimpinya, orang tersebut berkata: 'Pergilah kalian dalam tiga hari ini! Kami akan menunggu apa yang akan terjadi pada kalian dalam jangka waktu tiga hari ini!' Apabila apa yang dikatakan 'Atikah benar, maka dia akan terjadi. Jika telah berjalan tiga hari, namun tidak terjadi sesuatu pun, kami akan menulis bahwa kalian adalah warga Baitullah yang paling pendusta di seluruh dunia Arab."
Al-'Abbas berkata: "Demi Allah, di mataku Abu Jahl bukanlah apa-apa, aku bisa melakukan apa saja atasnya. Namun, aku sengaja mengingkari mimpi tersebut, pura-pura tidak mengetahuinya. Setelah itu kami bubar."
Pada sore harinya, tidak seorang pun wanita Bani 'Abdul Muththalib kecuali pasti datang menemuiku. Setiap wanita Bani 'Abdul Muththalib berkata: "Mengapa engkau biarkan begitu saja orang fasik dan kotor ini menyerang orang laki-laki kita, dan menyinggung perasaan wanita-wanita kita? Sementara engkau mendengar jelas ucapannya, namun engkau tidak merasa gerah atas ucapan yang engkau dengar." Al-'Abbas berkata: "Demi Allah, aku akan melakukannya. Abu Jahl itu bukan apa-apa di mataku, dan aku bisa melakukan apa saja atasnya. Aku bersumpah kepada Allah, aku akan hadapi dia. Jika ia mengulangi perbuatannya, aku pasti melakukan perlindungan terhadap kalian dari perilaku jahatnya."
Al-'Abbas berkata: "Tiga hari setelah mimpi 'Atikah binti 'Abdul Muththalib, aku keluar rumah dalam keadaan marah besar. Aku mengira bahwa aku telah kehilangan momen besar yang seharusnya aku lakukan. Aku masuk masjid, dan melihat Abu Jahl di dalamnya. Demi Allah, aku berjalan ke arahnya untuk menghadapinya, agar ia menahan sebagian ucapannya, dan aku bisa membungkamnya. Abu Jahl adalah orang yang ringan, wajahnya keras, mulutnya dan pandangannya tajam. Tiba-tiba Abu Jahl buru-buru keluar menuju pintu masjid. Aku berkata dalam diriku: 'Ada apa dengan orang yang dikutuk Allah ini? Apakah ia takut aku akan mencercanya?' Ternyata Abu Jahl telah mendengar apa yang tidak aku dengar, yaitu suara Dhamdham bin 'Amr al-Ghifari di tengah lembah sambil berdiri di atas untanya yang hidungnya sudah dipotong. Ia putar pelana untanya dalam posisi terbalik, dan merobek-robek bajunya. Dhamdham bin 'Amr al-Ghifari berkata: 'Hai orang-orang Quraisy, unta, dan harta kekayaan kalian yang sedang dibawa Abu Sufyan dihadang oleh Muhammad bersama para sahabatnya. Aku kira kalian tidak bisa menyelamatkannya. Bantulah mereka dan selamatkanlah mereka!'"
Al-'Abbas berkata: "Aku lebih fokus dengan berita Dhamdham, hingga tak mempedulikan Abu Jahl. Demikian pula halnya dengan Abu Jahl, dia fokus pada kabar itu dan tidak memperhatikan aku."5
- Quraisy bersiap
Hampir semua tokoh berangkat; Abu Lahab dan Umayyah bin Khalaf
Orang Quraisy bersiap cepat, sebagian berangkat sendiri dan sebagian mengutus pengganti. Tidak ada tokoh utama yang tertinggal kecuali Abu Lahab, yang mengutus al-'Ash bin Hisyam bin al-Mughirah sebagai pengganti karena utang empat ribu dirham. Umayyah bin Khalaf, yang sudah sangat tua dan gemuk, berniat tidak ikut; 'Uqbah bin Abu Mu'ayth meletakkan anglo dan dupa di depannya dan berkata, "engkau laksana seorang perempuan." Ia tersinggung lalu ikut bersiap.
Baca selengkapnya
Orang-orang Quraisy cepat-cepat melakukan persiapan. Mereka berkata: "Apakah Muhammad dan sahabat-sahabatnya menyangka bahwa nasib kafilah dagang Abu Sufyan akan mengalami nasib serupa dengan nasib kafilah dagang Ibnu al-Hadhrami? Tidak, demi Allah, dia pasti akan mengetahui bahwa kafilah dagang Abu Sufyan tidak akan mengalami nasib serupa dengan kafilah dagang Ibnu al-Hadhrami." Orang-orang Quraisy terbagi ke dalam dua kelompok. Ada yang keluar sendiri untuk menghadapi Muhammad dan sahabat-sahabatnya, dan ada yang cukup dengan mengutus seseorang sebagai pengganti dirinya. Orang-orang Quraisy sepakat untuk perang. Tidak ada seorang pun dari tokoh-tokoh utama mereka yang ketinggalan, kecuali Abu Lahab bin 'Abdul Muththalib. Ia tidak ikut serta dan hanya mengutus al-'Ash bin Hisyam bin al-Mughirah sebagai pengganti dirinya. Awalnya al-'Ash bin Hisyam bin al-Mughirah tidak akan ikut terjun dalam kecamuk perang karena ia mempunyai utang sebesar empat ribu dirham kepada Abu Lahab. Al-'Ash bin Hisyam bin al-Mughirah bangkrut dalam perdagangannya. Maka ia pun dikontrak Abu Lahab dengan nilai sebesar utangnya. Akhirnya, ia ikut perang menggantikan posisi Abu Lahab.
'Abdullah bin Abu Najih berkata kepadaku bahwa Umayyah bin Khalaf memutuskan tidak ikut perang. Ia sudah sangat tua dan terhormat, gemuk, dan berbadan berat. 'Uqbah bin Abu Mu'ayth datang menemui Umayyah bin Khalaf yang pada saat itu duduk di masjid bersama kaumnya. Ia membawa anglo tempat membakar kemenyan dan dupa. 'Uqbah meletakkan anglo dan dupa tersebut di depan Umayyah seraya berkata: "Wahai Abu 'Ali, hiasilah dirimu dengan dupa ini, karena engkau laksana seorang perempuan." Umayyah menjawab: "Semoga Allah memburukkanmu dan memburukkan apa yang engkau bawa!" Karena tersinggung, Umayyah bin Khalaf segera bersiap-siap dan ikut perang bersama pasukan lainnya.16
- Perang Kinanah dan Quraisy
Kekhawatiran akan Bani Bakr, dan jaminan Iblis dalam rupa Suraqah
Saat bersiap, Quraisy teringat perang mereka dengan Bani Bakr bin 'Abdu Manat bin Kinanah dan takut diserang dari belakang. Kisahnya: anak Hafsh bin al-Akhyaf dibunuh seorang Bani Bakr atas dorongan 'Amir bin Yazid; Quraisy menerima "darah dibalas darah", lalu Makraz bin Hafsh membunuh 'Amir bin Yazid dan menggantung pedangnya di kain Ka'bah. Menurut 'Urwah bin az-Zubair, Iblis tampil dalam rupa Suraqah bin Malik bin Ju'syum al-Mudliji, tokoh Bani Kinanah, dan menjamin Kinanah tidak akan menyerang dari belakang; mereka pun berangkat.
Baca selengkapnya
Pada saat orang-orang Quraisy mengadakan persiapan perang, dan akan berangkat, tiba-tiba memori mereka terbang pada perang yang terjadi antara mereka melawan Bani Bakr bin 'Abdu Manat bin Kinanah. Mereka berkata: "Kita khawatir orang-orang Bani Bakr akan menohok kita dari belakang."1
Seseorang dari Bani 'Amir bin Luay berkata kepadaku dari Muhammad bin Sa'id bin al-Musayyib bahwa anak Hafsh bin al-Akhyaf, salah seorang dari Bani Ma'ish bin 'Amir bin Luay, keluar untuk mencari untanya yang hilang di Dhajnan. Anak Hafsh itu terbilang masih sangat muda, rambutnya memakai ikatan, mengenakan perhiasan, demikian tampan dan bersih. Anak Hafsh tersebut berjalan melewati 'Amir bin Yazid bin 'Amir al-Mulawwah, salah seorang dari Bani Ya'mur bin 'Auf bin Ka'b bin 'Amir bin Laits bin Bakr bin 'Abdu Manat bin Kinanah di Dhajnan. Pada saat itu 'Amir bin Yazid adalah seorang pemimpin kaumnya. Pada saat melihat anak Hafsh, ia terpikat kepadanya. Ia bertanya kepada anak Hafsh: "Siapa engkau ini wahai anak muda?" Anak Hafsh menjawab: "Aku anak Hafsh bin al-Akhyaf al-Qurasyi." Tatkala anak Hafsh itu berpaling dari 'Amir, ia berkata: "Wahai Bani Bakr, apakah kalian punya utang darah pada Quraisy?" Mereka menjawab: "Ya, kita punya utang darah pada mereka." 'Amir bin Yazid berkata: "Apabila salah seorang di antara kalian membunuh anak muda ini, berarti ia telah menunaikan utang darahnya."
Salah seorang dari Bani Bakr bergerak untuk membunuh anak Hafsh lalu ia membunuhnya sebagai pembalasan darah yang ada pada Quraisy. Orang-orang Quraisy geger membicarakan pembunuhan terhadap anak Hafsh itu. 'Amir bin Yazid berkata: "Wahai orang-orang Quraisy, kalian memiliki utang darah pada kami. Apakah yang menjadi keinginan kalian? Apabila mau, silakan bayar utang kalian pada kami sebelumnya, niscaya kami bayar lunas utang kami pada kalian sebelum ini. Jika mau, maka ini adalah darah satu orang dibalas dengan darah satu orang pula. Oleh karena itu, silakan kalian membayar utang kalian sebelumnya pada kami, niscaya kami bebaskan utang kalian atas kami sebelumnya. Anak Hafsh tersebut dianggap tidak ada harganya di perkampungan orang-orang Quraisy." Orang-orang Quraisy berkata: "Benar, satu orang dibalas dengan satu orang pula." Maka mereka tidak menuntut apa pun atas darah anak Hafsh.
Tatkala saudara korban, Makraz bin Hafsh bin al-Akhyaf, berjalan melintas di Marr azh-Zhahran, ia melihat 'Amir bin Yazid bin 'Amir bin al-Mulawwah sedang menunggang unta. Tatkala Makraz bin Hafsh melihatnya, ia mendekat kepadanya dan mendudukkan untanya. Ketika itu 'Amir bin Yazid menghunus pedang dan Makraz bin Hafsh menyerangnya dengan pedangnya hingga tewas. Lalu Makraz bin Hafsh merobek perutnya, lalu membawanya ke Makkah, dan menggantungkannya suatu malam pada kain Ka'bah. Ketika orang-orang Quraisy melihat pedang 'Amir bin Yazid bin 'Amr menggantung di kain Ka'bah keesokan harinya, mereka pun mengenalinya. Mereka berkata: "Ini pasti pedang 'Amir bin Yazid. Ia diserang Makraz bin Hafsh dan kemudian membunuhnya." Demikianlah apa yang terjadi antara orang-orang Quraisy dengan Bani Bakr.
Pada saat mereka berada pada situasi perang demikian, datanglah Islam menengahi perselisihan itu dan mereka melupakan yang lain, hingga orang Quraisy memutuskan untuk berangkat ke Badar. Lalu memori kembali muncul tentang perseteruannya dengan Bani Bakr dan mereka was-was Bani Bakr menyerang.
Makraz bin Hafsh berkata dalam untaian syair tentang pembunuhannya terhadap 'Amir bin Yazid: "Kala kulihat bahwa dia adalah 'Amir, aku ingat akan daging mengelupas saudara tercintaku. Aku bergumam dalam diriku, 'Dia itu 'Amir, janganlah takut padanya dan lihatlah tunggangan apa saja.' Aku yakin aku kuasa memukulnya dengan pedang, dan ia pasti binasa. Saat menghadapinya, aku kendalikan rasa takutku, dan kudorongkan dadaku pada pahlawan si penghunus pedang yang kenyang pengalaman. Tatkala kekhawatiran telah bertemu untuk perang, aku tidak tampakkan diriku sebagai anak dua orang tua yang bodoh. Aku mengendurkan anak panahku, dan aku tak pernah melupakan balas dendamnya, apabila orang yang lemah akalnya lupa pada dendamnya."
Tatkala orang-orang Quraisy telah memutuskan berangkat perang, mereka ingat konfliknya dengan Bani Bakr. Memori tentang konflik ini hampir saja menggagalkan keberangkatan mereka. Namun Iblis terkutuk menampakkan diri kepada mereka dalam rupa Suraqah bin Malik bin Ju'syum al-Mudliji. Suraqah bin Malik adalah salah seorang tokoh utama Bani Kinanah. Iblis berkata kepada orang-orang Quraisy: "Aku memberikan garansi kepada mereka bahwa orang-orang Kinanah tidak akan menohok kalian dari belakang dengan hal-hal yang kalian tidak sukai." Maka mereka pun berangkat dengan segera.78
- Berangkat dari Madinah
Tanggal, wakil, panji, unta, dan jalur
Beliau keluar dari Madinah setelah Ramadhan berlalu beberapa hari (menurut Ibnu Hisyam, Senin 8 Ramadhan), menunjuk 'Amr bin Ummu Maktum sebagai imam sementara di Madinah, lalu menarik Abu Lubabah dari ar-Rauha' untuk menggantikannya. Panji putih dipegang Mush'ab bin 'Umair; dua panji hitam di depan beliau, salah satunya al-'Uqab, dipegang 'Ali. Sayap belakang dipimpin Qais bin Abu Sha'sha'ah. Ada tujuh puluh unta yang ditunggangi bergantian.
Baca selengkapnya
Beliau keluar dari Madinah bersama para sahabatnya setelah Ramadhan berlalu beberapa hari.1
Beliau keluar dari Madinah pada hari Senin tanggal 8 Ramadhan, dan mengangkat 'Amr bin Ummu Maktum sebagai pengganti sementara beliau untuk menjadi imam shalat di Madinah. Ada juga yang berpendapat bahwa nama 'Amr adalah 'Abdullah bin Ummu Maktum, saudara Bani 'Amir bin Luay. Lalu beliau menarik pulang Abu Lubabah dari ar-Rauha', dan mengangkatnya sebagai penggantinya di Madinah selama kepergiannya keluar kota.2
Beliau menyerahkan panji perang kepada Mush'ab bin 'Umair bin Hasyim bin 'Abdu Manaf bin 'Abdudar.1
Panji yang beliau serahkan itu berwarna putih.2
Di depan beliau ada dua panji hitam; salah satunya dipegang 'Ali bin Abu Thalib. Panji itu bernama al-'Uqab. Sementara yang satunya lagi dipegang oleh salah seorang dari kaum Anshar.1
Jumlah unta sahabat-sahabat beliau ketika itu adalah tujuh puluh ekor, dan mereka mengendarainya secara bergantian. Beliau, 'Ali bin Abu Thalib, dan Martsad bin Abu Martsad al-Ghanawi mengendarai satu unta secara bergiliran. Hamzah bin 'Abdul Muththalib, Zaid bin Haritsah, Abu Kabsyah dan Anasah, keduanya mantan budak beliau, menaiki satu unta dengan cara bergantian. Abu Bakar, 'Umar bin al-Khaththab, dan 'Abdurrahman bin 'Auf juga mengendarai satu unta secara bergiliran.1
Beliau memilih Qais bin Abu Sha'sha'ah, saudara Bani Mazin bin an-Najjar, sebagai komandan pasukan sayap belakang.1
Panji perang kaum Anshar dipegang Sa'd bin Mu'adz, sebagaimana dituturkan Ibnu Hisyam.9
- Jalur ke Badar
Dari Madinah lewat Dzul Hulaifah, ar-Rauha', ash-Shafra', hingga dekat Badar
Dari Madinah lewat jalur atas ke al-'Aqiq, Dzul Hulaifah, dan seterusnya sampai Syanukah. Di 'Irqi azh-Zhubyah mereka berpapasan dengan seorang Arab pedalaman. Beliau berhenti di Sajsaj (sumur di ar-Rauha'), lalu di al-Munsharif tidak mengambil jalan kiri ke Makkah tetapi kanan lewat an-Naziyah ke Badar. Dekat ash-Shafra', beliau mengutus Basbas bin al-Juhani dan 'Adi bin Abu az-Zaghba' ke Badar untuk memburu berita. Beliau tidak melewati dua gunung bernama Muslih dan Mukhzi' karena nama dan penduduknya (Bani an-Nar dan Bani Huraq), dan memilih lembah Dzafiran.
Baca selengkapnya
Beliau menempuh perjalanannya dari Madinah ke Makkah dengan melewati jalur atas Madinah, lalu ke al-'Aqiq, terus ke Dzul Hulaifah dan melewati Ulatul Jaisy.1
Ada yang mengatakan Dzatul Jaisy, kemudian ke Turban, lalu Malal, lalu Ghamis al-Hamam dari Marayain, lalu melewati Shukhairatul Yamam, kemudian melewati as-Sayyalah, terus Fajji ar-Rauha', terus Syanukah. Inilah jalur normal yang biasa dilalui manusia umumnya.2
Pada saat beliau dan para sahabat tiba di 'Irqi azh-Zhubyah atau azh-Zhabyah, versi Ibnu Hisyam, mereka berpapasan dengan salah seorang Arab pedalaman. Para sahabat menanyakan kepadanya tentang berita orang-orang Quraisy. Sayang mereka tidak berhasil mengorek berita apa pun dari orang Arab pedalaman itu. Para sahabat berkata kepadanya: "Katakanlah ucapan salam kepada Rasulullah!" Orang Arab dusun tersebut bertanya: "Apakah di tengah rombongan kalian ada seorang utusan Allah?" Para sahabat menjawab: "Benar!" Orang Arab pedalaman itu pun mengucapkan salam kepada beliau, dan berkata: "Jika engkau memang seorang utusan Allah, maka beritahukanlah kepadaku apa saja yang ada di dalam perut untaku ini." Salamah bin Salamah bin Waqasy berkata kepada orang Arab dusun tersebut: "Jangan bertanya demikian kepada Rasulullah, tapi berpalinglah kepadaku niscaya aku berikan jawabannya kepadamu. Engkau telah menggauli untamu dan kini di dalam perutnya ada anak unta hasil hubungannya denganmu." Beliau bersabda: "Stop! Engkau mengatakan perkataan yang kotor kepada orang ini." Kemudian beliau pergi meninggalkan Salamah.1
Beliau berhenti di Sajsaj, sebuah sumur di ar-Rauha'. Beliau pergi meninggalkan tempat itu. Ketika sampai di al-Munsharif, beliau tidak menempuh perjalanan ke Makkah dari sisi kiri, tetapi menempuhnya dari sisi kanan dengan melewati an-Naziyah dengan tujuan Badar. Beliau menempuh perjalanan darinya hingga melintasi Lembah Rahqan antara an-Naziyah dengan jalan kecil ash-Shafra', kemudian berjalan melewati jalan kecil itu lalu turun darinya. Ketika tiba di dekat ash-Shafra', beliau mengutus Basbas bin al-Juhani, sekutu Bani Sa'idah, dan 'Adi bin Abu az-Zaghba' al-Juhani, sekutu Bani an-Najjar, untuk pergi ke Badar guna memburu berita tentang Abu Sufyan bin Harb beserta anak buahnya. Beliau sendiri meneruskan perjalanannya setelah mengutus kedua sahabatnya di atas. Pada saat berjalan menghadap ash-Shafra', sebuah desa yang berada di antara dua gunung, beliau menanyakan nama kedua gunung di desa itu. Para sahabat menjawab bahwa salah satu dari gunung tersebut bernama Muslih, dan yang satu lagi bernama Mukhzi'. Beliau juga bertanya tentang penduduk kedua gunung tersebut dan para sahabat menjawab: "Salah satu penduduk gunung tersebut ialah Bani an-Nar (neraka), dan penduduk gunung satunya ialah Bani Huraq (terbakar). Keduanya kabilah dari Bani Ghifar." Beliau tidak menyukai kedua penduduk tersebut dan menolak melewatinya. Beliau tidak menyukai nama gunung tersebut beserta penduduknya. Beliau tidak melewati kedua gunung tersebut, dan tidak belok ke kiri ke ash-Shafra'. Beliau belok kanan melewati sebuah lembah yang disebut Dzafiran, kemudian berjalan turun melintasinya.10
- Musyawarah di Dzafiran
Abu Bakar, 'Umar, al-Miqdad, dan Sa'd bin Mu'adz
Beliau menerima kabar keberangkatan Quraisy untuk melindungi kafilah dan meminta pandangan para sahabat. Abu Bakar dan 'Umar berbicara baik. Al-Miqdad bin 'Amr berkata mereka tidak akan berkata seperti Bani Israil kepada Musa (QS al-Ma'idah: 24), tetapi akan berperang bersamanya, bahkan sampai Barkil Ghimad di Yaman. Beliau meminta pendapat kaum Anshar, karena baiat 'Aqabah hanya menjamin perlindungan di Madinah. Sa'd bin Mu'adz menjawab bahwa mereka beriman dan siap, bahkan menyelami laut bersamanya; beliau gembira dan bersabda, "Berangkatlah dan bergembiralah, Allah telah menjanjikan dua kelompok kepadaku."
Baca selengkapnya
Beliau memperoleh berita tentang keberangkatan orang-orang Quraisy untuk melindungi unta-unta mereka. Maka beliau segera meminta pandangan sahabat-sahabatnya dan memberitahukan tentang orang-orang Quraisy itu. Abu Bakar berdiri dan mengatakan sesuatu dengan baik. 'Umar bin al-Khaththab juga berdiri dan mengatakan sesuatu dengan baik. Al-Miqdad bin 'Amr berdiri dan berkata: "Wahai Rasulullah, lanjutkan perjalanan sebagaimana yang Allah perlihatkan kepadamu, kami pasti ikut bersamamu. Demi Allah, kami tidak akan berkata kepadamu sebagaimana yang pernah diucapkan Bani Israil kepada Musa: 'Pergilah engkau dan Tuhanmu, kemudian berperanglah, sesungguhnya kami duduk di sini' (QS al-Ma'idah: 24). Namun pergilah engkau dan Tuhanmu untuk berperang, niscaya kami ikut perang bersamamu, dan bersama Allah. Demi Dzat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, jika engkau berjalan bersama kami ke Barkil Ghimad (sebuah kawasan di Yaman), kami akan bersabar bersamamu hingga engkau sampai di sana." Beliau bersabda kepada al-Miqdad dengan baik dan berdoa kepada Allah untuknya.
Setelah itu beliau bersabda: "Wahai manusia, sampaikanlah pandangan kalian kepadaku!" Yang dimaksud dengan manusia dalam sabda beliau adalah kalangan Anshar, sebab mereka adalah bagian dari manusia, dan ketika mereka berbaiat kepada beliau di al-'Aqabah, mereka berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami tidak bertanggung jawab atas keselamatanmu hingga engkau tiba di negeri kami. Apabila telah tiba di negeri kami, maka engkau berada dalam perlindungan kami. Kami akan melindungimu sebagaimana kami melindungi anak-anak dan wanita-wanita kami." Beliau khawatir apabila kaum Anshar berpandangan bahwa pertolongan mereka kepada beliau itu hanya diberikan tatkala musuh yang datang menyerang Madinah, dan mereka tidak mau berangkat bersama beliau apabila musuh berada di luar Madinah.1
Seusai beliau bersabda seperti itu, Sa'd bin Mu'adz berkata: "Wahai Rasulullah, tampaknya engkau menginginkan kami yang angkat bicara?" Beliau bersabda: "Benar sekali." Sa'd bin Mu'adz berkata: "Kami telah beriman kepadamu, membenarkanmu dan bersaksi bahwa apa yang engkau bawa adalah benar, berjanji dan bersumpah untuk mendengar dan taat. Wahai Rasulullah, kerjakan apa yang engkau inginkan, kami senantiasa akan tetap bersamamu. Demi Dzat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, jika engkau menyuruh kami menyelami laut ini, kemudian engkau menyelaminya, kami pasti menyelaminya bersamamu, dan tidak akan engkau dapatkan seorang pun di antara kami yang tidak ikut menyelam. Mudah-mudahan Allah memperlihatkan dari kami apa yang menyejukkan matamu. Berangkatlah bersama kami bersamaan dengan berkah Allah." Beliau sangat gembira dengan ucapan Sa'd bin Mu'adz dan menjadikannya semakin bersemangat. Beliau bersabda: "Berangkatlah, dan bergembiralah kalian, karena sesungguhnya Allah telah menjanjikan dua kelompok kepadaku. Demi Allah, kini aku bagaikan melihat tempat kematian kaum itu."11
- Orang tua Arab dan para pencari air
Kata-kata "Kami berasal dari Air"
Beliau berangkat dari Dzafiran melewati bukit al-Ashafir, turun ke ad-Dabbah, dan membiarkan al-Hannan di sisi kanan. Berhenti di dekat Badar, beliau berjalan bersama seorang sahabat (Abu Bakar, menurut Ibnu Hisyam) dan bertemu seorang tua Arab (disebut Sufyan adh-Dhamari menurut sebagian orang). Orang itu hanya mau memberi kabar jika mereka menyebutkan siapa mereka; beliau menjawab, "Kami berasal dari air." Pada senja hari beliau mengutus 'Ali, az-Zubair, dan Sa'd bin Abu Waqqash ke air Badar; mereka menangkap dua pengambil air Quraisy, Aslam dan 'Aridh Abu Yasar.
Baca selengkapnya
Lalu beliau berangkat dari Dzafiran, melewati bukit yang bernama al-Ashafir, lalu turun darinya menuju daerah ad-Dabbah. Beliau membiarkan al-Hannan di sisi kanan, karena al-Hannan adalah sebuah bukit berpasir sebagaimana gunung besar. Beliau berhenti di dekat Badar, kemudian meneruskan perjalanan dengan salah seorang sahabatnya.
Sahabat yang dimaksudkan adalah Abu Bakar.2
Beliau berjalan hingga bertemu dengan salah seorang tua dari Arab, sebagaimana dituturkan kepadaku oleh Muhammad bin Yahya bin Habban. Beliau menanyakan kepadanya mengenai orang-orang Quraisy, Muhammad serta para sahabatnya, dan berita lain tentang mereka yang sempat ia terima padanya. Orang tua Arab tersebut menjawab: "Sekali-kali aku tidak akan memberi kabar kepada kalian berdua, hingga kalian berdua memberi tahu aku tentang siapa sebenarnya kalian berdua ini!" Beliau bersabda: "Jika engkau mengatakan kepada kami siapa sebenarnya ini, kami akan katakan siapa kami berdua sebenarnya kepadamu!" Orang tua Arab tersebut berkata: "Adakah itu dibalas dengan itu pula?" Beliau bersabda: "Benar!" Orang tua Arab tersebut berkata: "Telah sampai kepadaku kabar bahwa Muhammad dan sahabat-sahabatnya berangkat pada hari ini dan itu. Bila berita yang disampaikan kepadaku benar, maka berarti pada hari ini mereka berada di tempat ini dan itu." Maksudnya tempat beliau kini berada. "Telah pula sampai berita kepadaku bahwa orang-orang Quraisy berangkat pada hari ini dan itu. Apabila orang yang membawa berita padaku itu jujur, berarti pada hari ini mereka berada di tempat ini dan itu." Yang ia maksud tempat orang-orang Quraisy. Orang tua Arab tersebut bertanya: "Lalu kalian berdua ini berasal dari mana?" Beliau menjawab: "Kami berasal dari air." Kemudian beliau pergi dari hadapan orang tua Arab tersebut. Orang tua Arab tersebut bertanya-tanya dalam hatinya: "Air manakah yang mereka berdua maksud? Apakah dari air yang berada di Irak?"1
Ada yang mengatakan bahwa orang tua Arab tersebut adalah Sufyan adh-Dhamari.2
Setelah itu beliau kembali kepada para sahabatnya. Pada senja hari itu, beliau mengutus 'Ali bin Abu Thalib, az-Zubair bin al-'Awwam, dan Sa'd bin Abu Waqqash bersama beberapa sahabat pergi ke air Badar untuk mencari berita tentang air untuk beliau. Demikian yang terjadi sebagaimana dituturkan kepadaku oleh Yazid bin Ruman dari 'Urwah bin az-Zubair. Mereka berhasil menangkap unta milik orang-orang Quraisy dan pada unta itu ada Aslam, budak Bani al-Hajjaj, dan 'Aridh Abu Yasar, budak Bani al-'Ash bin Sa'id. Sahabat-sahabat beliau membawa keduanya dan mengorek berita dari mereka berdua. Sementara itu beliau sedang berdiri melakukan shalat. Kedua orang tersebut menjawab: "Kami berdua hanyalah petugas pengambil air orang-orang Quraisy. Mereka mengirim kami untuk mengangkut air dari air Badar." Para sahabat tidak puas dengan jawaban yang diberikan kedua orang tersebut.112
- Para tawanan pembawa air
Dari mereka beliau mengetahui jumlah Quraisy
Para sahabat memukuli dua pengambil air itu sampai mereka mengaku milik Abu Sufyan. Seusai shalat, beliau bersabda bahwa mereka justru berkata benar ketika menyebut diri milik Quraisy. Dari mereka beliau mengetahui bahwa Quraisy berada di balik bukit pasir, dan bahwa mereka menyembelih sembilan atau sepuluh ekor unta setiap hari. Dari situ beliau menyimpulkan jumlah mereka antara 900 sampai 1.000 orang, dan keduanya menyebut para pemuka yang ikut.
Baca selengkapnya
Sebab mereka mengira mereka adalah milik Abu Sufyan. Kemudian para sahabat memukuli kedua orang tersebut. Akhirnya setelah para sahabat memukul mereka berdua berkali-kali, keduanya berucap: "Benar, kami milik Abu Sufyan." Setelah keduanya berkata seperti itu para sahabat melepaskannya, sedangkan Rasulullah ruku' lalu sujud dua kali kemudian mengucapkan salam, kemudian bersabda: "Pada saat kedua orang ini berkata dengan jujur kepada kalian, kalian justru memukulinya, namun tatkala mereka berdua berdusta kalian malah membiarkan keduanya. Demi Allah, dua orang ini berkata benar bahwa keduanya adalah milik orang-orang Quraisy."
Beliau bersabda kepada kedua orang itu: "Jelaskanlah kepada kami berita tentang orang-orang Quraisy." Kedua orang tersebut menjawab: "Demi Allah, mereka berada di balik bukit pasir yang terlihat itu. Tepatnya mereka berada di tepi lembah yang jauh dari Madinah." Beliau bertanya: "Berapa jumlahnya?" "Jumlah mereka banyak," jawab kedua orang itu. Beliau bertanya kembali: "Apa saja persenjataan yang mereka miliki?" Mereka menjawab: "Kalau ini kami tidak tahu." Beliau bertanya: "Berapa hewan yang mereka sembelih setiap hari?" Mereka menjawab: "Setiap hari sembilan ekor dan kadang sepuluh ekor." Beliau bersabda: "Jika demikian berarti jumlah mereka berada pada kisaran antara sembilan ratus hingga seribu."
Beliau bertanya kepada kedua orang tersebut: "Siapa sajakah para pentolan Quraisy yang ikut bersama mereka?" Mereka menjawab: "'Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Abu al-Bakhtari bin Hisyam, Hakim bin Hizam, Naufal bin Khuwailid, al-Harits bin 'Amir bin Naufal, Thu'aimah bin 'Adi bin Naufal, an-Nadhr bin al-Harits, Zam'ah bin al-Aswad, Abu Jahl bin Hisyam, Umayyah bin Khalaf, Nubaih bin al-Hajjaj, Munabbih bin al-Hajjaj, Suhail bin 'Amr, dan 'Amr bin 'Abdu Wudd."
Kemudian beliau menemui para sahabat dan bersabda: "Ini dia Makkah, kini melemparkan potongan-potongan hatinya kepada kalian."
- Basbas dan 'Adi di mata air
Percakapan dua budak perempuan, dan Abu Sufyan memutar arah
Basbas dan 'Adi tiba di Badar, menderumkan unta di dekat mata air, lalu mendengar dua budak perempuan saling menagih utang; salah satunya berkata kafilah akan tiba besok atau lusa. Mereka kembali melapor. Tak lama kemudian Abu Sufyan datang dengan sangat hati-hati dan bertanya kepada Majdi bin 'Amr al-Juhani. Ia meremas kotoran unta di tempat berhenti dua musafir, menemukan biji kurma, dan berkata itu kotoran hewan orang Yatsrib. Ia membawa kafilahnya lewat pantai, membiarkan Badar di sisi kiri.
Baca selengkapnya
Basbas bin 'Amr dan 'Adi bin Abu az-Zaghba' pergi hingga berhenti di Badar, dan menderumkan untanya di anak bukit yang berdekatan dengan mata air. Lalu mereka mengambil tempat air dari kulit untuk diisi air. Ketika itu, Majdi bin 'Amr sedang berada di air tersebut. Tiba-tiba 'Adi dan Basbas mendengar suara dua perempuan milik mereka yang ada di air itu. Keduanya sedang saling menagih utang. Budak perempuan yang ditagih berkata kepada budak yang menagihnya: "Kafilah dagang itu akan sampai besok atau lusa. Apabila mereka telah tiba aku akan bekerja pada mereka, dan uang hasil kerjaku akan aku bayarkan kepadamu." Majdi bin 'Amr al-Juhani berkata kepada budak perempuan yang ditagih: "Engkau benar." Majdi bin 'Amr al-Juhani membebaskan keduanya dan kejadian ini terdengar oleh 'Adi dan Basbas. 'Adi dan Basbas duduk di atas untanya, lalu kembali pulang hingga tiba di tempat Rasulullah. Mereka memberitahukan kepada Rasulullah tentang apa yang mereka dengar tadi.1
Tak lama setelah itu datanglah Abu Sufyan bin Harb dengan ekstra hati-hati. Hingga kafilahnya berada demikian dekat dengan air Badar. Abu Sufyan bin Harb bertanya kepada Majdi bin 'Amr al-Juhani: "Apakah engkau punya rasa curiga bahwa di sini ada seseorang?" Majdi bin 'Amr al-Juhani menjawab: "Aku tidak melihat seseorang yang aku curigai. Tapi tadi aku melihat dua musafir berhenti dengan untanya di bukit pasir ini, mereka mengisi tempat air kulit mereka dengan air, lalu pergi."
Abu Sufyan bin Harb pergi ke tempat pemberhentian unta kedua orang yang disebutkan Majdi bin 'Amr al-Juhani. Ia ambil kotoran unta keduanya, meremasnya kuat-kuat. Ternyata di dalamnya terdapat biji kurma. Ia berkata: "Demi Allah, ini kotoran binatang orang-orang Yatsrib." Abu Sufyan bin Harb segera menemui sahabat-sahabatnya kemudian dengan sigap mengubah arah perjalanannya dengan melewati pantai dan membiarkan Badar ada di sisi kirinya lalu berangkat dengan cepat.13
- Mimpi Juhaim
Di al-Juhfah, dan sikap Abu Jahl
Ketika Quraisy berhenti di al-Juhfah, Juhaim bin ash-Shalt bermimpi seorang penunggang kuda berhenti dan menyebut nama-nama pemuka Quraisy yang akan terbunuh, lalu memukul dada untanya dan mengirimkannya ke kemah-kemah sehingga seluruh kemah terkena percikan darah. Abu Jahl menanggapi bahwa itu nabi lain dari Bani 'Abdul Muththalib dan besok akan tampak siapa yang terbunuh.
Baca selengkapnya
Pada waktu yang bersamaan, orang-orang Quraisy terus berjalan. Tatkala mereka berhenti di al-Juhfah, Juhaim bin ash-Shalt bin Makhramah bin 'Abdul Muththalib bin 'Abdu Manaf bermimpi dalam tidurnya. Juhaim bin ash-Shalt berkata: "Aku bermimpi layaknya orang tidur bermimpi. Aku berada dalam kondisi antara tidur dan jaga, tiba-tiba aku melihat seseorang datang dengan menunggang seekor kuda bersama dengan untanya lalu berhenti seraya berkata: 'Akan terbunuh 'Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, al-Hakam bin Hisyam, Umayyah bin Khalaf, si Fulan, dan si Fulan' – sambil menyebutkan pentolan-pentolan Quraisy yang tewas pada Perang Badar. Aku lihat orang tersebut memukul dada untanya, kemudian mengirimkannya ke kemah-kemah dan seluruh kemah terkena percikan darahnya." Tatkala mimpiku aku ceritakan kepada Abu Jahl ia berkata: "Walah, ini dia nabi yang lain lagi dari Bani 'Abdul Muththalib. Besok akan tampak siapa sebenarnya yang terbunuh, jika kami telah berhadap-hadapan."1
- Pulang atau terus
Abu Sufyan mengabarkan selamat; Abu Jahl menolak; Bani Zuhrah dan Bani 'Adi
Abu Sufyan menulis kepada Quraisy bahwa kafilah telah selamat dan mereka boleh pulang. Abu Jahl menolak pulang sebelum tiba di Badar, tempat pasar tahunan, untuk tinggal tiga hari, menyembelih unta, minum, dan menyaksikan budak perempuan bernyanyi agar orang Arab takut kepada mereka. Al-Akhnas bin Syariq mengajak Bani Zuhrah pulang di al-Juhfah, dan mereka pulang. Bani 'Adi pun tidak ada yang ikut. Thalib bin Abu Thalib kembali ke Makkah dan berdoa dalam syair.
Baca selengkapnya
Tatkala Abu Sufyan bin Harb telah berhasil menyelamatkan diri dan kafilah dagangnya, ia menulis surat kepada orang-orang Quraisy yang isinya: "Sesungguhnya kalian keluar dari Makkah untuk melindungi unta-unta, orang-orang dan harta kekayaan kalian. Kini Allah telah menyelamatkan itu semua. Oleh sebab itulah, kembalilah kalian." Abu Jahl berkata: "Demi Allah, kita tidak akan kembali pulang hingga kita sampai di Badar. Badar saat itu merupakan salah satu tempat pertemuan orang-orang Arab, di sana ada pasar tahunan dan kita tinggal di sana selama tiga hari. Di sana kita memotong unta, memberi makan orang-orang, minum minuman keras, budak-budak wanita bernyanyi untuk kita, orang-orang Arab mendengar kita, perjalanan dan kekompakan kita, agar selamanya mereka takut kepada kita. Terus sajalah kalian berangkat."1
Al-Akhnas bin Syariq bin 'Amr bin Wahb ats-Tsaqafi sekutu Bani Zuhrah berkata pada saat mereka sedang berada di al-Juhfah: "Hai orang-orang Bani Zuhrah, Allah telah menyelamatkan harta kekayaan dan sahabat kalian, Makhramah bin Naufal. Kalian berangkat untuk melindunginya dan melindungi harta kekayaan kalian. Aku tidak khawatir dianggap sebagai seorang pengecut. Pulanglah, karena kalian tidak boleh keluar tanpa ada sebab, tidak seperti yang dikatakan orang ini – yakni Abu Jahl." Mereka pun kembali pulang maka tidak ada seorang pun dari Bani Zuhrah yang ikut serta dalam Perang Badar. Mereka taat kepada al-Akhnas bin Syariq bin 'Amr, karena ia orang yang mereka segani dan patuhi.
Tidak ada satu kabilah pun di Quraisy, melainkan di antara mereka ada yang berangkat kecuali Bani 'Adi. Tak ada seorang pun dari mereka yang berangkat ke Badar. Bani Zuhrah pulang bersama al-Akhnas bin Syariq. Dengan demikian tidak ada seorang pun dari kedua kabilah tadi yang ikut terjun dalam Perang Badar, sedangkan kabilah-kabilah Quraisy tetap berangkat ke Badar.1
Telah terjadi dialog antara Thalib bin Abu Thalib yang sedang berada di tengah-tengah orang-orang Quraisy dengan sebagian orang-orang Quraisy. Mereka berkata kepada Thalib bin Abu Thalib: "Demi Allah, wahai Bani Hasyim, sesungguhnya walaupun kalian keluar bersama kami, tapi sebenarnya hati kalian tertaut pada Muhammad." Maka Thalib bin Abu Thalib kembali ke Makkah bersama orang-orang yang kembali pulang. Thalib bin Abu Thalib berkata:
Ya Allah, bila Thalib menuju perang dengan enggan
Di dalam pasukan perang ini
Jadikanlah dia orang yang dirampas bukan yang merampas
Orang yang dikalahkan bukan yang mengalahkan
Bait syair "Jadikan dia orang yang dirampas bukan yang merampas, orang yang dikalahkan bukan yang mengalahkan" berasal dari banyak perawi syair.214
- Tiba di lembah dan hujan
Quraisy di tepi yang jauh; kaum Muslimin lebih dahulu di air dekat Badar
Quraisy terus bergerak hingga tiba di tepi lembah yang jauh (al-'Udwatul Qushwa), di belakang al-Aqanqal, di lembah Yalyal yang terletak antara Badar dan al-Aqanqal. Bukit pasir ada di belakang mereka, sedangkan sumur Badar di lembah dekat Yalyal ke arah Madinah. Allah menurunkan hujan: tanah menjadi padat bagi kaum Muslimin dan menghambat langkah Quraisy. Beliau tiba lebih dahulu dan berhenti di sebuah air dekat Badar.
Baca selengkapnya
Orang-orang Quraisy terus bergerak hingga tiba di tepi lembah yang jauh (al-'Udwatul Qushwa), di belakang al-Aqanqal, di lembah utama yaitu Yalyal yang terletak di antara Badar dan al-Aqanqal. Bukit pasir berada di belakang orang-orang Quraisy, sedangkan Sumur Badar terletak di lembah yang dekat dengan kabilah Yalyal menuju Madinah. Kemudian Allah menurunkan hujan. Lembah itu bertanah lembek. Rasulullah dan sahabat-sahabatnya mendapatkan air hujan yang membuat tanah menjadi padat, yang tidak membuat perjalanan mereka tersendat. Sementara itu orang-orang Quraisy mendapatkan air yang membuat mereka tidak bisa melanjutkan perjalanan. Rasulullah tiba lebih awal daripada orang-orang Quraisy tiba di lembah tersebut. Tatkala Rasulullah tiba di air yang paling … dengan Badar, barulah beliau berhenti di sana.115
- Pendapat al-Hubab
Pindah ke air yang paling dekat dengan Quraisy dan membuat kolam
Al-Hubab bin al-Mundzir bertanya apakah tempat itu ketentuan Allah atau sekadar strategi dan taktik perang. Beliau menjawab itu strategi dan taktik perang. Al-Hubab pun mengusulkan pindah ke air yang paling dekat dengan Quraisy, menutup dan menimbun sumur-sumur lain, lalu membuat kolam dan mengisinya. Beliau menjawab, "Pendapatmu sungguh sangat tepat." Mereka pindah, mengalirkan air sumur ke kolam, dan para sahabat melemparkan tempat air mereka ke dalamnya.
Baca selengkapnya
Aku diberitahu oleh beberapa orang dari Bani Salamah yang berkata bahwa al-Hubab bin al-Mundzir bin al-Jamuh berkata: "Wahai Rasulullah, apakah ini telah ditentukan Allah sehingga kita tidak boleh memajukan atau mengundurkannya. Ataukah tempat ini hanya sebuah strategi dan taktik perang semata?" Rasulullah menjawab: "Ini hanyalah sebuah strategi dan taktik perang." Al-Hubab bin al-Mundzir berkata: "Wahai Rasulullah, jika demikian ini bukanlah tempat yang tepat. Pergilah bersama para sahabatmu hingga tiba di air yang paling dekat dengan orang-orang Quraisy. Lalu berhentilah di sana, kemudian kita menutup dan menimbunnya, membangun kolam dan memenuhi dengan air barulah kita berperang melawan orang-orang Quraisy dalam keadaan kita bisa … sementara mereka tidak bisa seperti itu." Rasulullah bersabda: "Pendapatmu sungguh sangat tepat." Kemudian Rasulullah dan para sahabat pergi.1
Tatkala sudah tiba di air yang dekat dengan orang-orang Quraisy, beliau berhenti. Beliau perintahkan air sumur dialirkan, kemudian membangun kolam di dekat sumur itu dan memenuhinya dengan air. Para sahabat melemparkan tempat-tempat air mereka ke dalam kolam itu.16
- Bilik untuk beliau
Usul Sa'd bin Mu'adz dan doa saat Quraisy turun dari bukit pasir
Sa'd bin Mu'adz mengusulkan membuatkan bilik khusus dan kendaraan siap untuk beliau, agar bila kaum Muslimin kalah beliau dapat menyusul kaum yang tertinggal di belakang. Beliau memujinya dan mendoakannya, lalu bilik dibangun dan beliau menetap di dalamnya. Keesokan harinya Quraisy turun dari bukit pasir; beliau berdoa dan menyebut 'Utbah bin Rabi'ah sebagai pemilik kebaikan bila kaumnya taat kepadanya.
Baca selengkapnya
'Abdullah bin Abu Bakr berkata kepadaku bahwa ia diberi tahu Sa'd bin Mu'adz yang berkata: "Wahai Nabi Allah, tidakkah kita bikinkan bilik khusus untukmu dan kau tinggal di sana lalu kita persiapkan kendaraan untukmu kemudian kita bertempur melawan musuh-musuh kita? Apabila Allah memuliakan dan memenangkan kita atas musuh-musuh kita, maka itulah yang kita harapkan. Namun apabila yang terjadi adalah sebaliknya, tetaplah engkau duduk di atas kendaraanmu dan menyusul kaum kami yang ada di belakang kami, karena kaum tersebut berjalan di belakang. Wahai Nabi Allah, sesungguhnya kita lebih mencintaimu daripada mereka. Jika mereka melihat engkau mendapatkan perlawanan, mereka tidak akan tinggal diam. Allah akan melindungi dirimu dengan mereka; mereka akan memberi nasihat padamu dan berjihad bersamamu." Rasulullah memuji Sa'd bin Mu'adz dengan baik lalu mendoakannya. Kemudian bilik dibangun untuk beliau maka beliau menetap di dalamnya.1
Orang-orang Quraisy terus melanjutkan perjalanan. Mereka tiba keesokan harinya. Begitu melihat mereka turun dari bukit pasir, beliau bersabda: "Ya Allah, inilah orang-orang Quraisy datang dengan kecongkakan dan arogansinya memusuhi-Mu, dan mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, berikan pertolongan-Mu yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, hancurkan mereka pagi hari ini."1
Tatkala Rasulullah melihat 'Utbah bin Rabi'ah menunggang unta merahnya bersama dengan orang-orang Quraisy, beliau bersabda: "Apabila pada kaum itu terdapat kebaikan, niscaya kebaikan itu ada pada pemilik unta merah itu. Jika mereka taat kepadanya, mereka pasti akan mendapatkan petunjuk."17
- Khufaf dan Hakim bin Hizam
Tawaran bantuan Bani Ghifar; mereka yang minum dari kolam
Khufaf bin Aima' al-Ghifari (atau ayahnya, Aima') mengirim anaknya membawa hewan sembelihan dan menawarkan bantuan senjata dan pasukan. Quraisy menjawab mereka telah menunaikan hak kerabat, dan bila yang dilawan adalah manusia mereka tidak lemah, tetapi bila Allah yang dilawan tak seorang pun berdaya. Hakim bin Hizam bersama beberapa orang mendekati kolam; beliau bersabda, "Biarkan saja mereka." Yang minum dari kolam itu semuanya terbunuh, kecuali Hakim bin Hizam, yang kelak masuk Islam dengan baik dan bila bersumpah berkata, "Tidak, demi Dzat yang menyelamatkanku pada saat Perang Badar."
Baca selengkapnya
Khufaf bin Aima' bin Rahadhah al-Ghifari atau ayahnya, Aima' bin Rahadhah al-Ghifari mengutus anaknya untuk membawa hewan sembelihan sebagai hadiah untuk mereka, pada saat kaum Quraisy melewatinya. Ia berkata kepada mereka: "Apabila kalian ingin kami membantu kalian dengan senjata dan pasukan, kami akan melakukannya." Orang-orang Quraisy mengirim utusan bersama anaknya dengan membawa pesan: "Engkau telah menyambung hubungan sanak kerabat, dan menunaikan kewajibanmu. Kami bersumpah, jika kami berperang melawan manusia, kami tidak lemah untuk menghadapi mereka. Namun jika kita memerangi Allah seperti yang dikatakan Muhammad, maka siapa pun tidak memiliki daya untuk melawan Allah."
Tatkala orang-orang Quraisy telah berhenti, beberapa orang dari mereka termasuk Hakim bin Hizam pergi hingga tiba di kolam Rasulullah. Rasulullah bersabda: "Biarkan saja mereka." Tidak seorang pun yang meminum air kolam tersebut pada saat itu, melainkan ia dibunuh, kecuali Hakim bin Hizam. Ia tidak dibunuh dan kemudian hari dia masuk Islam, dengan keislaman yang baik. Jika ia bersumpah, ia selalu mengatakan: "Tidak, demi Dzat yang menyelamatkanku pada saat Perang Badar."18
- 'Umair bin Wahb menghitung
Kira-kira tiga ratus orang, dan firasat tentang kematian
Quraisy mengirim 'Umair bin Wahb al-Jumahi berkuda mengelilingi perkemahan untuk menghitung. Ia melaporkan jumlah mereka kurang lebih tiga ratus orang, lalu meminta waktu untuk melihat bala bantuan tersembunyi. Ia berkeliling hingga jauh dan tidak melihat apa-apa, tetapi mengingatkan bahwa kaum itu tak punya perlindungan selain pedang, dan tak seorang pun dari mereka terbunuh sebelum membunuh seorang dari Quraisy.
Baca selengkapnya
Setelah suasana tenang, orang-orang Quraisy mengirim 'Umair bin Wahb al-Jumahi. Mereka berkata kepada 'Umair bin Wahb al-Jumahi: "Hitunglah jumlah sahabat Muhammad!" 'Umair bin Wahb al-Jumahi berjalan mengelilingi perkemahan pasukan Rasulullah dan para sahabatnya dengan menunggang kudanya lalu pulang menemui orang-orang Quraisy, dan berkata: "Jumlah sahabat Muhammad kurang lebih tiga ratus orang. Namun berilah aku jeda waktu hingga aku melihat kembali apakah mereka mempunyai kekuatan tersembunyi atau bala bantuan yang lain." 'Umair bin Wahb al-Jumahi kembali berjalan mengelilingi lembah hingga jauh, namun ia tidak melihat apa-apa. Maka ia pun pulang menemui orang-orang Quraisy dan berkata: "Aku tidak mendapatkan apa pun. Namun ketahuilah wahai kaum Quraisy, aku melihat musibah-musibah yang membawa kematian. Unta-unta Yatsrib datang membawa kematian yang begitu mengerikan. Mereka kaum yang tidak mempunyai perlindungan, dan tempat bersandar kecuali pedang-pedang yang mereka miliki. Demi Allah, aku tidak melihat seorang pun dari mereka akan terbunuh, kecuali sebelumnya ia telah berhasil membunuh salah seorang dari kalian. Jika mereka membunuh kalian dengan jumlah sama dengan jumlah mereka, lalu apa artinya hidup setelah itu? Bagaimana pendapat kalian?"1920
- Hakim, 'Utbah, dan Abu Jahl
Ajakan pulang dan ledekan "paru-paru mengembung"
Mendengar laporan 'Umair, Hakim bin Hizam menemui 'Utbah bin Rabi'ah dan mengajaknya pulang serta menanggung urusan sekutunya, 'Amr bin al-Hadhrami. 'Utbah setuju, lalu berpidato agar Quraisy pulang dan membiarkan Muhammad dengan seluruh orang Arab. Hakim lalu menemui Abu Jahl yang sedang mengolesi baju besi; Abu Jahl menjawab bahwa paru-paru 'Utbah mengembung karena takut, dan menolak pulang. Ia juga menyulut 'Amir bin al-Hadhrami untuk berteriak menuntut balas, sehingga pidato 'Utbah dibatalkan. 'Utbah membalas dan mencari topi baja, tetapi kepalanya terlalu besar, jadi ia memakai sorban.
Baca selengkapnya
Mendengar ucapan 'Umair bin Wahb al-Jumahi, maka Hakim bin Hizam berjalan menemui orang-orang Quraisy. Ia bertemu 'Utbah bin Rabi'ah dan berkata: "Wahai Abu al-Walid, engkau pemuka dan pemimpin serta sekaligus orang yang ditaati oleh Quraisy. Mengapa dirimu tidak berkeinginan untuk dikenang baik sepanjang zaman?" 'Utbah bin Rabi'ah berkata: "Apa maksud ucapanmu itu, wahai Hakim?" Hakim bin Hizam berkata: "Pulanglah bersama orang-orang dan kau tanggung persoalan sekutumu, 'Amr bin al-Hadhrami." 'Utbah bin Rabi'ah berkata: "Ya, aku akan melakukannya. Engkau sama denganku dalam hal ini. 'Amr bin al-Hadhrami adalah sekutuku, dan aku berhak menanggung ganti ruginya dan harta yang diambil darinya. Pergilah kepada anak al-Hanzhaliyah!"
Al-Hanzhaliyah adalah ibu Abu Jahl. Ia bernama lengkap Asma' binti Mukharribah, salah seorang Bani Nahsyal bin Darim bin Malik bin Hanzhalah bin Malik bin Zaid Manat bin Tamim.2
Karena tidak merasa khawatir akan ada manusia yang menentang hal ini, kecuali Abu Jahl maka 'Utbah bin Rabi'ah berdiri berpidato: "Wahai orang-orang Quraisy, demi Allah, kalian tidak akan mampu mengerjakan apa-apa, jika kalian bertemu dengan Muhammad dan sahabat-sahabatnya. Demi Allah, jika kalian bisa mengalahkannya, ia akan tetap memandang wajah orang lain dengan wajah tidak suka. Ia telah membunuh saudara sepupunya dari jalur ayahnya, atau sepupunya dari jalur ibunya, atau salah seorang dari keluarganya. Pulanglah kalian, dan biarkanlah Muhammad dengan seluruh orang Arab. Apabila mereka berhasil mengalahkannya memang itulah yang kalian dambakan. Namun apabila itu tidak terjadi, ia dapatkan kalian tidak berusaha melakukan apa pun padanya sesuai niat yang kalian ingin lakukan padanya."
Hakim bin Hizam berkata: kemudian aku pergi menemui Abu Jahl. Aku lihat dia mengeluarkan baju besi dari kantong kulitnya dan mengecatnya dengan minyak yang diendapkan. Aku berkata: "Wahai Abu al-Hakam, sesungguhnya 'Utbah bin Rabi'ah menyuruhku datang menemuimu dengan membawa pesan ini dan itu." Abu Jahl berkata: "Demi Allah, paru-paru 'Utbah telah mengembung (sindiran sinis bahwa dia pengecut), ketika ia melihat Muhammad dan sahabat-sahabatnya. Tidak, demi Allah kita tidak akan pernah pulang hingga Allah memutuskan masalah kita dengan Muhammad. 'Utbah bin Rabi'ah tidak yakin apa yang dia katakan, namun ini dia lakukan karena ia sudah tahu bahwa Muhammad dan sahabat-sahabatnya adalah para pemakan satu unta yang disembelih, dan karena anak kandungnya ada pada mereka. Karenanya ia takut anaknya termasuk yang terbunuh."
Abu Jahl pergi menemui 'Amir bin al-Hadhrami dan berkata kepadanya: "Ini dia sekutumu hendak pulang ke Makkah bersama orang-orangnya. Sungguh aku lihat dendammu pada kedua matamu. Berdirilah, kemudian perintahkan orang-orang Quraisy untuk memenuhi janji kepadamu dan tempat kematian saudaramu!" 'Amir bin al-Hadhrami berdiri kemudian menampakkan diri dan berteriak keras: "Wahai 'Amr, wahai 'Amr, perang telah bergolak, persoalan manusia telah memanas, mereka sepakat terhadap keburukannya, lalu semuanya dihancurkan oleh pendapat 'Utbah bin Rabi'ah."
Ketika 'Utbah bin Rabi'ah mendengar perkataan Abu Jahl yang mengatakan bahwa paru-parunya telah mengembung (pengecut), ia berkata: "Orang yang melumuri bokongnya dengan za'faron (maksudnya Abu Jahl) akan tahu siapa yang pengecut: aku atau dia!!"
Lalu 'Utbah bin Rabi'ah mencari topi baja, namun ia tidak berhasil mendapatkan topi baja yang cocok dengan ukuran kepalanya karena kepalanya terlalu besar. Sebagai ganti maka ia menggunakan kain sebagai sorban pengikat kepalanya.21
- Al-Aswad dan tiga duel
Hamzah menewaskan al-Aswad; 'Ubaidah, Hamzah, dan 'Ali melawan 'Utbah, Syaibah, dan al-Walid
Al-Aswad bin 'Abdul Asad al-Makhzumi bersumpah akan minum dari kolam atau mati sebelum tiba; Hamzah menebas kakinya, dan ketika ia merayap ke kolam, Hamzah menewaskannya di sana. Lalu 'Utbah, saudaranya Syaibah, dan anaknya al-Walid menantang duel. Tiga pemuda Anshar maju lebih dulu tetapi ditolak; beliau memanggil 'Ubaidah bin al-Harits, Hamzah, dan 'Ali. Hamzah menewaskan Syaibah, 'Ali menewaskan al-Walid, lalu keduanya membantu 'Ubaidah menghabisi 'Utbah dan membawa 'Ubaidah kembali.
Baca selengkapnya
Al-Aswad bin 'Abdul Asad al-Makhzumi ikut terjun ke Perang Badar. Ia adalah seorang yang bengis dan berakhlak sangat buruk. Ia berkata: "Aku bersumpah dengan nama Allah, aku pasti minum dari kolam mereka, menghancurkannya atau mati sebelum sampai ke sana." Ketika al-Aswad bin 'Abdul Asad al-Makhzumi telah keluar, Hamzah bin 'Abdul Muththalib juga keluar untuk berduel perang dengannya. Tatkala keduanya telah bertatapan muka, Hamzah bin 'Abdul Muththalib memukul al-Aswad bin 'Abdul Asad al-Makhzumi, dan menebas kakinya hingga separuh bagian betisnya pada saat ia mau pergi ke kolam. Al-Aswad bin 'Abdul Asad al-Makhzumi terjengkang jatuh dengan kaki penuh lumuran darah saat dia berusaha dia menuju sahabat-sahabatnya. Maka dia pun berjalan sambil merayap ke kolam itu hanya demi untuk memenuhi sumpahnya. Namun Hamzah membuntutinya lalu memukulnya hingga ia tewas di kolam tersebut.1
Setelah itu 'Utbah bin Rabi'ah bersama saudaranya Syaibah bin Rabi'ah dan anak 'Utbah sendiri, al-Walid bin 'Utbah keluar dari barisan kaumnya dan menantang perang tanding. Tiga pemuda Anshar, yaitu 'Auf bin al-Harits, Mu'awwidz bin al-Harits, dan 'Abdullah bin Rawahah keluar menyongsong untuk menghadapi mereka bertiga. Ketiga orang Quraisy tersebut bertanya: "Siapakah kalian!?" Ketiga orang dari kaum Anshar tersebut menjawab: "Kami orang-orang Anshar." Ketiga orang Quraisy tersebut berkata: "Kami tidak ada sangkut-paut apa pun dengan kalian!" Penyeru orang-orang Quraisy berseru: "Wahai Muhammad, keluarkan orang-orang dari kaum kami yang selevel dengan kami!" Rasulullah bersabda: "Majulah engkau wahai 'Ubaidah bin al-Harits! Majulah engkau wahai Hamzah! Majulah engkau wahai 'Ali!" Ketika ketiga sahabat tersebut telah bangkit dan mendekat kepada tiga orang Quraisy tersebut, mereka bertanya: "Siapakah kalian?" 'Ubaidah menjawab: "'Ubaidah!" Hamzah menjawab: "Hamzah." 'Ali menjawab: "'Ali." Ketiga orang Quraisy tersebut berkata: "Benar, kalian memang orang-orang mulia yang selevel dengan kami." Kemudian 'Ubaidah – sahabat paling senior di antara mereka bertiga – duel melawan 'Utbah bin Rabi'ah, Hamzah melawan Syaibah bin Rabi'ah, dan 'Ali melawan al-Walid bin 'Utbah. Hamzah tidak membutuhkan banyak waktu untuk menekuk Syaibah bin Rabi'ah, demikian pula halnya 'Ali yang berhasil membunuh al-Walid dengan mudah. Sedangkan 'Ubaidah dan 'Utbah bin Rabi'ah mereka berdua saling memukul lawannya dengan pukulan yang ganas dan tepat. Hamzah dan 'Ali memukulkan kedua pedangnya kepada 'Utbah bin Rabi'ah. Hamzah dan 'Ali membantu 'Ubaidah membunuh lawannya, kemudian membawa 'Ubaidah ke tempat para sahabat.1
'Ashim bin 'Umar bin Qatadah berkata kepadaku bahwa 'Utbah bin Rabi'ah berkata kepada tiga pemuda Anshar: "Kalian ini orang-orang mulia yang selevel dengan kami, hanya saja kami ingin duel dengan kaum kami sendiri."122
- Menjelang pertempuran
Perintah menahan serangan, hari dan tanggal, dan barisan yang diluruskan
Kedua pasukan saling mendekat. Beliau melarang para sahabat menyerang sebelum ada perintah, dan bersabda bahwa bila musuh telah berkumpul dekat, mereka diserang dengan anak panah. Beliau berada di bilik bersama Abu Bakar. Perang Badar terjadi pagi hari Jumat 17 Ramadhan, menurut Abu Ja'far Muhammad bin 'Ali bin al-Husain. Saat meluruskan barisan dengan anak panah, beliau menyentuh perut Sawwad bin Ghaziyyah; Sawwad menuntut qishas, lalu memeluk dan mencium perut beliau agar kulitnya menjadi sentuhan terakhir dengan beliau.
Baca selengkapnya
Kemudian kedua belah pihak saling mendekat. Rasulullah melarang para sahabat menyerang, kecuali setelah ada perintah dari beliau. Beliau bersabda: "Jika mereka telah berkumpul dekat kalian, seranglah mereka dengan anak panah." Ketika itu, beliau berada di bilik didampingi Abu Bakar.1
Perang Badar terjadi di waktu pagi di hari Jum'at tanggal 17 Ramadhan. Sebagaimana dituturkan kepadaku oleh Abu Ja'far Muhammad bin 'Ali bin al-Husain.
Habban bin Wasi' bin Habban berkata kepadaku dari sesepuh kaumnya yang berkata bahwa Rasulullah meluruskan barisan para sahabat pada Perang Badar dengan menggunakan anak panah di tangannya. Beliau berjalan melewati Sawwad bin Ghaziyyah sekutu Bani 'Adi bin an-Najjar yang sedikit maju keluar dari barisan lalu menusuk perut Sawwad bin Ghaziyyah dengan anak panah tersebut sambil bersabda: "Luruskan barisanmu wahai Sawwad!" Sawwad bin Ghaziyyah berkata: "Wahai Rasulullah, engkau menyakitiku, padahal engkau diutus Allah dengan membawa kebenaran dan keadilan. Aku meminta qishas atasmu." Rasulullah membuka perutnya, dan bersabda kepada Sawwad bin Ghaziyyah: "Silakan lakukan qishas." Sawwad bin Ghaziyyah merangkul Rasulullah dan mencium perut beliau. Rasulullah bersabda kepada Sawwad bin Ghaziyyah: "Mengapa engkau melakukan ini semua, wahai Sawwad?" Sawwad bin Ghaziyyah menjawab: "Wahai Rasulullah, aku hadir di sini sebagaimana yang engkau saksikan. Aku bertekad menjadikan akhir jumpaku denganmu dalam keadaan kulitku bersentuhan dengan kulitmu." Rasulullah mendoakan kebaikan untuk Sawwad bin Ghaziyyah.123
- Munajat di bilik
Doa memohon pertolongan, mimpi sebentar, dan kabar gembira
Seusai meluruskan barisan, beliau masuk bilik bersama Abu Bakar dan bermunajat memohon pertolongan yang dijanjikan: "Ya Allah, bila kelompok ini kalah pada hari ini, maka Engkau tidak akan lagi disembah." Abu Bakar berkata agar beliau menahan munajatnya karena Allah pasti menepati janji. Beliau tertidur sejenak lalu bersabda bahwa pertolongan Allah telah datang, dan Jibril memegang kendali kuda dengan debu pada gigi depannya.
Baca selengkapnya
Kemudian Rasulullah meluruskan barisan para sahabat, dan setelah itu kembali ke biliknya. Beliau memasuki bilik ditemani Abu Bakar dan tidak ada seorang pun selain mereka berdua. Rasulullah bermunajat kepada Allah, dan meminta pertolongan yang dijanjikan kepadanya. Dalam munajatnya Rasulullah berdoa: "Ya Allah, bila kelompok ini (kaum Muslimin) kalah pada hari ini, maka Engkau tidak akan lagi disembah." Abu Bakar berkata: "Wahai Nabi Allah, tahanlah munajatmu kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Allah pasti menepati janji-Nya kepadamu."1
Kemudian Rasulullah tertidur sejenak di bilik, lalu terbangun dan bersabda: "Bergembiralah wahai Abu Bakar, telah datang pertolongan Allah kepadamu. Inilah Jibril seraya memegang kendali kuda sambil menuntun kuda tersebut sementara pada gigi depannya ada debu."24
- Syuhada pertama dan semangat para sahabat
Mihja', Haritsah bin Suraqah, 'Umair bin al-Humam, 'Auf bin al-Harits
Mihja', mantan budak 'Umar, terkena anak panah dan menjadi syahid pertama dari kaum Muslimin. Haritsah bin Suraqah, yang sedang minum dari kolam, terkena anak panah di lehernya dan wafat. Beliau memotivasi para sahabat dengan janji surga bagi yang maju dan bersabar. 'Umair bin al-Humam membuang kurma di tangannya lalu bertempur hingga gugur; 'Auf bin al-Harits menanggalkan baju besinya setelah beliau bersabda bahwa Tuhan ridha pada hamba yang menancapkan tangannya pada musuh tanpa baju besi.
Baca selengkapnya
Mihja', mantan budak 'Umar bin al-Khaththab terkena serangan anak panah dan ia pun meninggal dunia. Dengan demikian dialah orang pertama yang syahid dari kaum Muslimin. Kemudian Haritsah bin Suraqah, salah seorang dari Bani 'Adi bin an-Najjar yang pada saat itu sedang minum air kolam terkena lemparan anak panah pada bagian lehernya, hingga meninggal dunia.1
Kemudian Rasulullah keluar dari biliknya menuju sahabat-sahabatnya, dan memotivasi mereka untuk perang. Beliau bersabda: "Demi jiwa Muhammad yang berada dalam genggaman Tangan-Nya, tidak ada seorang pun dari kalian yang memerangi mereka dengan sabar, mengharap ridha Allah, dan maju tanpa berpaling pada hari ini melainkan Allah akan memasukkannya ke dalam surga." 'Umair bin al-Humam, saudara Bani Salimah berkata sambil memegang beberapa kurma yang hendak ia makan: "Wah, luar biasa! Wah, luar biasa! Tidak ada jarak antara aku dan masuk surga kecuali mereka membunuhku." 'Umair bin al-Humam membuang kurma dari tangannya kemudian mengambil pedangnya dan bertempur melawan musuh hingga gugur sebagai syahid.1
'Ashim bin 'Umar bin Qatadah berkata kepadaku bahwa 'Auf bin al-Harits anak 'Afra' berkata: "Wahai Rasulullah, apa yang membuat Tuhan suka dan ridha pada hamba-Nya?" Rasulullah bersabda: "Ia tancapkan tangannya pada musuh tanpa menggunakan baju besi." Maka 'Auf bin al-Harits pun melepas baju besinya, membuangnya, kemudian mengambil pedangnya dan bertempur melawan musuh hingga gugur sebagai syahid.125
- Doa Abu Jahl dan segenggam kerikil
Kekalahan Quraisy dan para tawanan
Saat dua pasukan berhadapan, Abu Jahl berdoa agar Allah menghancurkan orang yang paling banyak memutus hubungan silaturahim dan datang membawa sesuatu yang tak dikenal. Beliau mengambil segenggam kerikil, berjalan ke arah Quraisy, bersabda, "Wajah-wajah kaum nan buruk," meniupkan kerikil itu, lalu menyeru para sahabat: "Kencangkan serangan kalian!" Kekalahan pun terjadi: pemuka Quraisy terbunuh dan sebagian ditawan. Sa'd bin Mu'adz berjaga di pintu bilik dan menyatakan lebih menyukai membunuh daripada menyisakan mereka.
Baca selengkapnya
"Ya Allah, orang yang paling banyak memutus hubungan silaturahim di antara kami, datang kepada kami dengan sesuatu yang tidak dikenal, hancurkanlah dia esok hari!" Dialah yang menjadi hakim dalam doanya itu.26
Rasulullah mengambil segenggam kerikil, kemudian berjalan ke arah orang-orang Quraisy dan bersabda: "Wajah-wajah kaum nan buruk." Beliau meniup mereka dengan kerikil tersebut sambil bersabda kepada para sahabatnya: "Kencangkan serangan kalian!" Maka kekalahan itu terjadi. Allah membinasakan pemuka-pemuka Quraisy yang terbunuh dan menawan pemuka-pemuka mereka yang lainnya.1
Tatkala para sahabat sedang istirahat setelah berhasil menawan orang-orang Quraisy, dan Rasulullah berada di dalam bilik, tiba-tiba Sa'd bin Mu'adz berdiri di depan pintu bilik tersebut dengan menghunus pedang bersama beberapa orang dari kaum Anshar guna menjaga Rasulullah. Mereka khawatir kemungkinan adanya serangan balik dari musuh. Rasulullah melihat ketidaksenangan di wajah Sa'd bin Mu'adz atas apa yang dilakukan oleh sahabat. Rasulullah bersabda kepadanya: "Wahai Sa'd, tampaknya engkau tidak begitu senang atas apa yang dilakukan oleh orang-orang itu?" Sa'd bin Mu'adz menjawab: "Benar, wahai Rasulullah. Ini perang pertama melawan orang-orang musyrik yang Allah kehendaki. Oleh sebab itu, pembunuhan terhadap mereka lebih aku sukai daripada menyisakan orang-orang tersebut."
- Larangan membunuh sebagian orang
Bani Hasyim, Abu al-Bakhtari, dan al-'Abbas; ucapan Abu Hudzaifah
Beliau bersabda bahwa banyak orang dari Bani Hasyim dan lainnya keluar karena terpaksa, sehingga tidak boleh dibunuh: Bani Hasyim pada umumnya, Abu al-Bakhtari bin Hisyam, dan al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib. Abu Hudzaifah berkata ia akan membunuh al-'Abbas jika bertemu; beliau menegur dan 'Umar meminta izin memenggal Abu Hudzaifah. Abu Hudzaifah kelak gugur sebagai syahid pada Perang Yamamah. Menurut Ibnu Hisyam, Abu al-Bakhtari dilindungi karena tidak pernah menyakiti beliau di Makkah dan termasuk yang membatalkan shahifah. Al-Mujadzdzar bin Dziyad menawarkan perlindungan itu kepadanya, tetapi tidak bagi temannya; Abu al-Bakhtari memilih bertempur bersama temannya dan terbunuh.
Baca selengkapnya
Al-'Abbas bin 'Abdullah bin Ma'bad berkata kepadaku dari salah seorang keluarganya dari Ibnu 'Abbas bahwa Rasulullah bersabda kepada para sahabat: "Aku tahu, bahwa terdapat banyak orang-orang dari Bani Hasyim maupun selain Bani Hasyim yang keluar untuk berperang karena terpaksa. Mereka tidak ada keperluan berperang dengan kita. Oleh sebab itulah, siapa pun di antara kalian yang bertemu dengan salah seorang dari Bani Hasyim, maka jangan bunuh dia. Barangsiapa bertemu dengan Abu al-Bakhtari bin Hisyam bin al-Harits bin Asad, jangan bunuh dia. Barangsiapa bertemu dengan al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib paman Rasulullah jangan bunuh dia, karena ia didesak keluar untuk berperang."1
Abu Hudzaifah berkata: "Apakah kita bunuh ayah-ayah dan anak-anak kita, saudara-saudara dan keluarga kita, lalu setelah itu kita biarkan al-'Abbas melenggang hidup bebas begitu saja? Demi Allah, jika bertemu dengannya, niscaya aku membunuhnya." Apa yang diucapkan Abu Hudzaifah ini didengar Rasulullah, kemudian beliau bersabda kepada 'Umar bin al-Khaththab: "Wahai Abu Hafsh!" 'Umar bin al-Khaththab berkata: "Demi Allah, itulah saat pertama kalinya Rasulullah memanggilku dengan sebutan Abu Hafsh." Rasulullah melanjutkan sabdanya: "Bolehkah wajah paman Rasulullah ditebas dengan pedang?" 'Umar bin al-Khaththab menjawab: "Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk memenggal leher orang itu! Demi Allah, sungguh dia telah munafik." Abu Hudzaifah berkata: "Dari saat itulah, aku merasa tidak aman dengan ucapanku tersebut. Ada ketakutan yang menghantui diriku disebabkan oleh ucapanku itu, namun aku senantiasa berharap ucapanku bisa tertebus dengan mati syahid." Abu Hudzaifah gugur sebagai syahid pada Perang Yamamah.
Rasulullah melarang pembunuhan terhadap Abu al-Bakhtari, karena dialah orang yang paling bisa menahan diri untuk tidak mengganggu Rasulullah saat beliau berada di Makkah. Ia tidak pernah menyakiti Rasulullah dan tidak pula pernah melontarkan ucapan yang menyakitkan hati beliau. Ia termasuk salah seorang yang membatalkan shahifah yang diberlakukan orang-orang Quraisy terhadap Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib. Pada Perang Badar, al-Mujadzdzar bin Dziyad al-Balawi sekutu kaum Anshar, kemudian dari Bani Salim bin 'Auf bertemu dengan Abu al-Bakhtari dan berkata kepadanya: "Sesungguhnya Rasulullah melarangku membunuhmu." Saat itu Abu al-Bakhtari sedang berdua dengan temannya yang keluar bersamanya dari Makkah, yaitu Junadah bin Mulaihah binti Zuhair bin al-Harits bin Asad. Junadah berasal dari Bani Laits. Abu al-Bakhtari bernama asli al-'Ash. Abu al-Bakhtari bertanya kepada al-Mujadzdzar: "Apakah ini berlaku buat temanku juga?" Al-Mujadzdzar menjawab: "Tidak. Demi Allah, kami tidak akan membiarkan temanmu, karena Rasulullah melarang pembunuhan hanya terhadap dirimu!" Abu al-Bakhtari berkata: "Tidak. Demi Allah, kalau begitu, aku lebih baik mati bersamanya, agar wanita-wanita Quraisy tidak mengunjingku bahwa aku membiarkan temanku dibunuh sementara aku lebih menyukai hidup untuk diriku sendiri." Kemudian Abu al-Bakhtari bertempur melawan al-Mujadzdzar. Al-Mujadzdzar berhasil membunuhnya.2
Lalu al-Mujadzdzar pergi menemui Rasulullah, dan berkata: "Demi Dzat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, aku sudah berusaha menjadikannya sebagai tawanan dan membawanya kepadamu, sayang ia tidak mau dan memilih bertempur melawanku. Lalu aku bertempur melawannya, dan akhirnya aku pun berhasil membunuhnya."1
Abu al-Bakhtari ialah al-'Ash bin Hisyam bin al-Harits bin Asad.227
- Umayyah bin Khalaf dan Bilal
Nama "'Abdul Ilah" dan tebusan yang gagal
Dahulu di Makkah Umayyah bin Khalaf menolak nama "Abdurrahman" dan memanggil 'Abdurrahman bin 'Auf dengan nama "'Abdul Ilah"; ia hanya menjawab panggilan itu. Di Badar 'Abdurrahman membuang baju-baju besi rampasan dan menawan Umayyah beserta anaknya, 'Ali. Bilal, yang dahulu disiksa Umayyah, berteriak memanggil para sahabat; mereka mengepung, dan para sahabat menewaskan keduanya, meskipun 'Abdurrahman berusaha melindungi mereka.
Baca selengkapnya
"Umayyah bin Khalaf adalah sahabat dekatku di Makkah. Nama asliku 'Abdu 'Amr. Sesudah masuk Islam, aku mengganti namaku dengan nama baru, yaitu 'Abdurrahman. Ini terjadi ketika kami masih berada di Makkah. Sewaktu masih di Makkah, Umayyah bin Khalaf sering datang kepadaku dan berkata: 'Wahai 'Abdu 'Amr, apakah engkau membenci nama yang diberikan oleh kedua orang tuamu?' Aku menjawab: 'Ya, betul.' Umayyah bin Khalaf berkata: 'Aku tidak kenal dengan ar-Rahman. Oleh sebab itulah, buatkan nama yang dengannya aku memanggilmu dengan nama tersebut! Engkau jangan menjawab panggilanku jika aku memanggilmu dengan nama pertamamu, aku juga tidak akan memanggilmu dengan nama yang tidak aku ketahui.'"28
'Abdurrahman bin 'Auf berkata: "Jika ia memanggilku dengan panggilan: 'Wahai 'Abdu 'Amr', aku tidak menjawabnya. Aku berkata kepada Umayyah bin Khalaf: 'Wahai Abu 'Ali, panggillah aku sesukamu!' Umayyah bin Khalaf berkata: 'Engkau aku panggil dengan nama 'Abdul Ilah.' Aku berkata: 'Itu pun boleh juga!' Sejak saat itu, jika aku berjalan melewati Umayyah bin Khalaf, ia memanggilku, 'Wahai 'Abdullah!' Aku menjawab panggilannya dan aku pun berbincang dengannya. Pada Perang Badar, aku berjalan melewati Umayyah bin Khalaf yang pada saat itu sedang berdiri bersama anaknya yang bernama 'Ali bin Umayyah sambil memegang tangan anaknya. Saat itu, aku membawa beberapa baju besi yang berhasil aku rampas dari orang-orang Quraisy. Begitu melihatku, ia berkata: 'Wahai 'Abdu 'Amr!' Aku sengaja tidak menjawab panggilannya. Umayyah bin Khalaf memanggilku lagi: 'Wahai 'Abdullah!' Aku menimpali: 'Ya.' Umayyah bin Khalaf berkata: 'Apakah engkau tertarik untuk menjadikanku sebagai tawanan, karena aku lebih baik daripada baju besi yang berada bersamamu itu?' Aku berkata: 'Ya.' Maka aku buang baju-baju besi dari tanganku, dan aku pegang erat tangan Umayyah bin Khalaf dan tangan anaknya. Umayyah bin Khalaf berkata: 'Aku belum pernah melihatmu seperti sekarang ini! Apakah engkau menginginkan susu?' Kemudian aku berjalan keluar dengan membawa keduanya."
Yang dimaksud Umayyah bin Khalaf dengan susu ialah bahwa siapa saja yang menawan diriku, aku akan menebus diriku dengan unta yang air susunya melimpah.2
Umayyah bin Khalaf berkata kepadaku pada saat aku memegang tangannya dan tangan anaknya: "Wahai 'Abdullah, siapakah di antara kalian yang memakai tanda di dadanya dari bulu unta?" Aku menjawab: "Dialah Hamzah bin 'Abdul Muththalib." Umayyah bin Khalaf berkata: "Orang itulah yang melakukan hal-hal buruk terhadap kami." Demi Allah, aku terus menuntun Umayyah bin Khalaf dan anaknya, 'Ali bin Umayyah. Tiba-tiba Bilal melihat Umayyah bin Khalaf yang sedang bersamaku. Umayyah bin Khalaf adalah orang yang menyiksa Bilal di Makkah supaya Bilal meninggalkan Islam. Umayyah bin Khalaf membawa Bilal ke padang pasir Makkah yang sedang panas terik membara, membaringkannya, lalu meletakkan batu besar di atas dadanya. Umayyah bin Khalaf berkata kepada Bilal: "Apakah engkau ingin terus berada dalam keadaan seperti ini atau engkau meninggalkan agama Muhammad!" Bilal menjawab: "Ahad (Esa), Ahad (Esa)." Pada saat Bilal melihat Umayyah bin Khalaf, ia berkata: "Inilah dia otak kekafiran, Umayyah bin Khalaf. Aku tidak akan merasa dalam keadaan selamat bila dia selamat." Aku berkata kepada Bilal: "Wahai Bilal, bukankah dua orang ini tawananku?" Bilal berkata: "Aku tidak akan merasa selamat bila dia selamat."29
Aku berkata kepada Bilal: "Apakah engkau tidak mendengar suaraku, wahai anak Si Hitam?" Bilal berkata: "Aku tidak akan merasa selamat bila dia selamat." Bilal berteriak dengan suara yang paling kencang: "Wahai para penolong Allah, ini dia otak kekafiran. Aku tidak akan merasa selamat bila dia selamat." 'Abdurrahman bin 'Auf berkata: lalu para sahabat mengepung kami, hingga mereka menjadikan kami seperti berada di dalam sebuah lingkaran. Aku masih tetap berusaha melindungi Umayyah bin Khalaf. Seseorang menghunus pedang dari sarungnya, dan pada saat yang bersamaan seseorang memukul anak Umayyah bin Khalaf sampai ia jatuh terkapar. Melihat anaknya jatuh terkapar, Umayyah bin Khalaf berteriak sangat keras yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Aku berkata kepada Umayyah bin Khalaf: "Selamatkan dirimu, karena tidak ada keselamatan bagimu. Demi Allah, sedikit pun aku tidak kuasa melindungimu." Para sahabat memotong keduanya dengan pedang hingga tewas. 'Abdurrahman bin 'Auf berkata: "Semoga Allah merahmati Bilal. Baju besiku hilang dan ia menyakitiku dengan tawananku."30
- Para malaikat di Badar
Kesaksian orang Bani Ghifar, Abu Usaid, dan Abu Daud, serta tanda para malaikat
Ibnu Ishaq menyampaikan beberapa riwayat tentang para malaikat di Badar: seorang dari Bani Ghifar yang mendengar ringkikan kuda dari celah awan, Abu Usaid yang berkata bahwa ia tidak ragu tentang jalan munculnya para malaikat, dan Abu Daud al-Mazini yang melihat kepala musyrik jatuh sebelum pedangnya menyentuh. Tanda mereka adalah sorban putih, dan menurut 'Ali, Jibril berserban kuning.
Baca selengkapnya
'Abdullah bin Abu Bakar berkata kepadaku, bahwa ia diberitahu oleh Ibnu 'Abbas yang berkata bahwa salah seorang dari Bani Ghifar berkata kepadaku: aku dan saudara sepupuku naik ke atas gunung, hingga kami bisa melihat Badar. Saat itu kami masih dalam keadaan musyrik. Kami menunggu hasil akhir peperangan, siapakah yang kalah hingga kemudian kami bisa mengambil rampasan perang bersama yang lain. Tatkala kami berada di atas gunung itulah, tiba-tiba ada awan mendekat ke arah kami berada. Kami mendengar ringkikan kuda di celah awan itu, dan ada orang yang berkata: "Majulah wahai Haizum (Haizum adalah nama kuda Malaikat Jibril)!" Sepupuku tidak kuat jantungnya atas apa yang dia lihat dan dengar sehingga ia mendadak mati saat itu di tempat itu. Aku sendiri nyaris meninggal dunia, namun aku berusaha menahan diri sekuat tenaga.1
Apabila hari ini aku berada di Badar dan masih bisa melihat, aku pasti memperlihatkan pada kalian jalan tempat munculnya para malaikat. Aku tidak ragu tentangnya dan tidak mengada-ada dalam hal ini.31
Ketika aku mengintai salah seorang musyrik pada Perang Badar untuk menebasnya, tiba-tiba kepalanya jatuh terkulai sebelum pedangku menyentuhnya. Aku pun sadar bahwa kepala orang tersebut telah ditebas pihak lain.32
"Ciri-ciri para malaikat pada Perang Badar ialah sorban putih yang mereka julurkan di punggung mereka. Pada Perang Hunain, mereka memakai sorban merah."33
Beberapa ulama berkata kepadaku bahwa 'Ali bin Abu Thalib berkata: sorban adalah mahkota utama orang-orang Arab. Pada Perang Badar ciri-ciri para malaikat adalah memakai sorban putih yang mereka julurkan hingga punggung mereka, kecuali Malaikat Jibril yang mengenakan sorban kuning.1
Para malaikat tidak ikut perang secara langsung pada selain Perang Badar. Selain Perang Badar, mereka menjadi penambah jumlah dan tidak langsung ikut bertempur.3435
- Abu Jahl terbunuh
Mu'adz bin 'Amr, Mu'awwidz bin 'Afra', dan 'Abdullah bin Mas'ud
Mu'adz bin 'Amr bin al-Jamuh menebas kaki Abu Jahl, lalu tangannya sendiri terpotong oleh 'Ikrimah; Mu'awwidz bin 'Afra' membuat Abu Jahl sekarat; 'Abdullah bin Mas'ud menemukannya di ujung sekarat dan memenggal kepalanya, lalu membawanya kepada beliau. Beliau memuji Allah.
Baca selengkapnya
Sambil bertempur Abu Jahl melantunkan untaian syair:1
Perang sengit bukanlah balas dendam kepadaku
Aku telah kuat bagaikan unta dua tahun yang telah muncul giginya
Memang untuk inilah, ibuku melahirkanku
Sandi perang sahabat-sahabat Rasulullah di Perang Badar ialah "Ahad (Esa), Ahad (Esa)."2
Sesudah berhasil mengalahkan musuh-musuhnya beliau memerintahkan mereka untuk mencari Abu Jahl di antara korban-korban perang. Orang yang pertama kali menemukan Abu Jahl, sebagaimana dituturkan Tsaur bin Zaid kepadaku dari 'Ikrimah dari 'Abdullah bin 'Abbas, 'Abdullah bin Abu Bakar juga berkata kepadaku, ialah Mu'adz bin 'Amr bin al-Jamuh saudara Bani Salimah. Mu'adz bin 'Amr al-Jamuh berkata: "Aku mendengar dari beberapa orang bahwa Abu Jahl sedang berada di sebuah pohon nan lebat. Mereka berkata: 'Tempat Abu al-Hakam tidak bisa ditembus.' Mendengar kabar itu, aku menjadikan Abu Jahl sebagai target utamaku dan akupun pergi menuju tempat Abu Jahl. Ketika menemukan tempat Abu Jahl, aku menebasnya dengan tebasan yang membuat kakinya putus hingga separuh betisnya. Demi Allah, aku tidak mengumpamakan betisnya, ketika telah terpotong, melainkan seperti biji kurma yang jatuh dari alat penggiling biji saat biji kurma selesai ditumbuk. 'Ikrimah anak Abu Jahl memukul pundakku yang membuat tanganku terlempar dan menggantung pada kulit di lambungku. Perang di sekitarku berlangsung sengit hingga membuatku jauh dari Abu Jahl. Aku terus bertempur sepanjang hari sambil menyeret tanganku di belakangku. Tatkala merasa kesakitan, aku letakkan kakiku di atasnya dan berdiri dengannya, hingga akhirnya aku membuangnya."1
Mu'adz bin 'Amr hidup hingga masa kekhilafahan 'Utsman bin 'Affan.1
Mu'awwidz bin 'Afra' berjalan melewati Abu Jahl yang terluka, kemudian Mu'awwidz bin 'Afra' memukulnya dengan telak, dan membiarkannya dalam keadaan sekarat. Setelah itu, Mu'awwidz bin 'Afra' berperang hingga gugur sebagai syahid. Lalu 'Abdullah bin Mas'ud berjalan melewati Abu Jahl, ketika beliau memerintahkan sahabatnya untuk melakukan pencarian Abu Jahl di antara para korban perang. Beliau bersabda kepada para sahabatnya: "Apabila kalian mendapatkan kesulitan untuk mengenali ciri Abu Jahl di antara para korban perang, lihatlah bekas luka di lututnya! Suatu hari aku dan dia berdesak-desakan di jamuan makan di rumah 'Abdullah bin Jud'an. Saat itu kami masih anak-anak. Aku lebih kurus darinya, lalu aku mendorongnya. Ia jatuh di atas kedua lututnya, dan lutut itu luka yang kemudian menimbulkan bekas pada salah satunya. Hingga kini bekas itu masih ada." 'Abdullah bin Mas'ud berkata: "Aku menemukan Abu Jahl di ujung sekaratnya. Aku mengenalinya, lalu aku letakkan kedua kakiku di atas lehernya. Ketika di Makkah dahulu Abu Jahl pernah memukulku hingga aku kesakitan dan pernah memukulkan tinjunya. Aku bertanya kepada Abu Jahl: 'Apakah Allah telah menghinakanmu, wahai musuh Allah?' Abu Jahl berkata: 'Dengan apa Allah menghinakanku? Apakah aku demikian berharga dari orang-orang yang kalian bunuh? Katakan kepadaku, di pihak siapa kemenangan berpihak pada hari ini?' Aku menjawab: 'Di sisi Allah dan Rasul-Nya.'"1
Beberapa orang dari Bani Makhzum berkata bahwa 'Abdullah bin Mas'ud berkata: Abu Jahl berkata kepadaku: "Sungguh engkau telah melakukan pendakian yang sulit, wahai anak kecil penggembala." Lalu aku penggal kepalanya dan membawa kepala Abu Jahl tersebut ke hadapan beliau. Aku berkata: "Wahai Rasulullah, inilah kepala Abu Jahl, musuh Allah." Beliau bersabda: "Demi Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia." Itulah sumpah beliau. Aku berkata: "Ya, benar. Demi Allah yang tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia." Aku hempaskan kepala Abu Jahl ke hadapan beliau dan beliau pun memuji Allah.136
- 'Umar dan Sa'id bin al-'Ash
Ucapan 'Umar tentang pembunuh ayah Sa'id
Ibnu Hisyam menyampaikan ucapan 'Umar kepada Sa'id bin al-'Ash: 'Umar menewaskan paman dari pihak ibunya, al-'Ash bin Hisyam, sedangkan ayah Sa'id dibunuh oleh 'Ali.
Baca selengkapnya
Abu 'Ubadah dan para ahli strategi perang berkata kepadaku bahwa 'Umar bin Khaththab berkata kepada Sa'id bin al-'Ash pada saat ia berjalan melewatinya: "Sesungguhnya aku melihat ada sesuatu dalam dirimu? Aku lihat engkau menyangka aku telah membunuh ayahmu? Apabila aku membunuh ayahmu, aku tidak meminta maaf kepadamu. Tapi aku telah membunuh paman dari jalur ibuku yaitu al-'Ash bin Hisyam bin al-Mughirah. Sedangkan ayahmu, aku melewatinya sedang menggali tanah bagaikan sapi jantan menggali tanah dengan tanduknya. Aku menghindar darinya, kemudian ia didatangi sepupunya yakni 'Ali, kemudian ia membunuhnya."237
- Pedang 'Ukkasyah
Akar kayu yang menjadi pedang, dan Abu Bakar bertanya kepada anaknya
Pedang 'Ukkasyah bin Mihshan patah di Badar; beliau memberinya akar pohon yang berubah menjadi pedang panjang bernama al-'Aun. 'Ukkasyah memakainya di semua perang hingga gugur pada Perang Riddah. Setelah itu Ibnu Ishaq menyebut doa 'Ukkasyah untuk masuk surga bersama tujuh puluh ribu orang, dan sabda beliau tentang dia, lalu Ibnu Hisyam menyebut percakapan Abu Bakar dengan anaknya 'Abdurrahman di Badar.
Baca selengkapnya
Pada Perang Badar, 'Ukkasyah bin Mihshan bin Hurtsan al-Asadi, sekutu Bani 'Abdu Syams bin 'Abdu Manaf, bertempur hingga pedangnya patah di tangannya. Ia menemui Rasulullah, kemudian beliau memberi akar pohon, seraya bersabda: "Wahai 'Ukkasyah, bertempurlah dengan akar kayu ini!" Tatkala 'Ukkasyah bin Mihshan mengambil akar kayu dari genggaman tangan beliau, dan ia menggerak-gerakkannya, tiba-tiba akar kayu tersebut berubah bentuknya menjadi pedang panjang, sangat kuat dan putih ujungnya (tajam). Maka 'Ukkasyah bin Mihshan pun kembali bertempur dengan pedang tersebut, sampai Allah Ta'ala memberi kemenangan kepada kaum Muslimin. Dan pedang itu dinamai al-'Aun. Kemudian pedang tersebut menjadi milik 'Ukkasyah bin Mihshan dan ia gunakan pedang tersebut di semua peperangan bersama beliau sampai dia meninggal dunia sebagai syahid pada Perang Riddah (perang melawan orang-orang murtad), sementara pedang tersebut masih berada di genggamannya. 'Ukkasyah bin Mihshan dibunuh Thulaihah bin Khuwailid al-Asadi.1
Hibal adalah anak Thulaihah bin Khuwailid, dan Ibnu Aqram adalah Tsabit bin Aqram al-Anshari.2
'Ukkasyah bin Mihshan adalah sahabat yang berkata kepada beliau di saat beliau bersabda: "Akan masuk surga tujuh puluh ribu dari umatku bagaikan bulan kala purnama." 'Ukkasyah bin Mihshan berkata: "Ya Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar aku termasuk salah seorang dari mereka." Beliau bersabda: "Engkau termasuk salah seorang dari mereka." Setelah itu salah seorang dari kaum Anshar berdiri, dan berkata: "Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar aku juga termasuk kelompok mereka!" Beliau bersabda: "'Ukkasyah telah mendahuluimu, dan doa itu telah dikokohkan."1
Beliau juga bersabda sebagaimana dituturkan kepadaku oleh keluarganya: "Di antara kami terdapat penunggang kuda terbaik di kalangan orang Arab." Para sahabat bertanya: "Siapa gerangan wahai Rasulullah?" Beliau bersabda: "Dia adalah 'Ukkasyah bin Mihshan." Dhirar bin al-Azwar al-Asadi berkata: "Apakah orang tersebut salah seorang dari kami, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda: "Ia bukan salah seorang dari kalian, namun salah seorang dari kami, melalui aliansi."
Pada Perang Badar, Abu Bakar ash-Shiddiq memanggil anaknya 'Abdurrahman yang pada saat itu bersama orang-orang musyrikin dan berada di pihaknya: "Mana kekayaanku, wahai bajingan?" 'Abdurrahman menjawab:2
Tiada tersisa kecuali senjata dan kuda yang berlari kencang
Serta pedang tajam yang membunuh orang tua yang sesat
Sebagaimana hal ini dituturkan kepadaku dari 'Abdul 'Aziz bin Muhammad ad-Darawardi.38
- Mayat-mayat ke dalam sumur
"Wahai para penghuni sumur"
Mayat kaum musyrikin dilemparkan ke dalam sumur, kecuali Umayyah bin Khalaf yang tubuhnya membengkak di dalam baju besinya sehingga ditutup dengan tanah dan batu. Beliau berseru kepada para penghuni sumur, dan menurut 'Aisyah dan Anas, para sahabat bertanya apakah beliau berbicara kepada orang yang telah meninggal.
Baca selengkapnya
Pada saat beliau memerintahkan agar korban perang kaum musyrikin dilemparkan ke dalam sumur, maka korban-korban itu dilemparkan ke sana, kecuali mayat Umayyah bin Khalaf. Badan Umayyah bin Khalaf membengkak di baju besinya hingga baju tersebut penuh. Tatkala para sahabat pergi untuk menggerak-gerakkannya, malah dagingnya cerai-berai. Para sahabat melemparkan tanah dan batu ke atas tubuh Umayyah bin Khalaf untuk menutupinya.39
Setelah pelemparan mayat-mayat kaum musyrikin ke dalam sumur selesai dikerjakan, beliau berdiri di atas mereka, dan bersabda: "Wahai para penghuni sumur, apakah kalian telah memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan kepada kalian itu benar terjadi? Karena sesungguhnya aku telah mendapatkan apa yang dijanjikan Allah kepadaku itu benar terjadi."
'Aisyah berkata: para sahabat berkata kepada beliau: "Apakah engkau berbicara dengan kaum yang telah meninggal dunia?" Beliau bersabda: "Sungguh mereka telah mengetahui, bahwa apa yang dijanjikan Tuhan kepada mereka itu adalah benar adanya."
'Aisyah berkata: para sahabat berkata: "Apakah mereka mendengar apa yang engkau ucapkan kepada mereka?" Padahal beliau bersabda: "Sungguh mereka telah mengetahui."
Para sahabat mendengar beliau berkata pada pertengahan malam: "Wahai penghuni sumur, hai 'Utbah bin Rabi'ah, wahai Syaibah bin Rabi'ah, hai Umayyah bin Khalaf, wahai Abu Jahl bin Hisyam," beliau menyebut beberapa nama orang-orang Quraisy: "Apakah kalian telah memperoleh apa yang dijanjikan Tuhanmu kepada kalian itu benar? Sungguh aku telah mendapatkan apa yang dijanjikan Tuhanku itu benar." Kaum Muslimin berkata: "Wahai Rasulullah, apakah engkau memanggil manusia yang telah meninggal dunia?" Beliau bersabda: "Bukan hanya kalian saja yang mendengar apa yang aku katakan kepada mereka, hanya saja mereka tidak bisa menjawab pertanyaanku."40
Sebagian ulama berkata kepadaku, pada suatu hari beliau bersabda: "Wahai penghuni sumur, keluarga Nabi yang paling jelek adalah kalian. Kalian mendustakanku tatkala orang-orang membenarkanku. Kalian mengusirku, pada saat orang lain melindungiku. Kalian memerangiku, padahal orang-orang lain menolongku." Beliau melanjutkan sabdanya: "Apakah kalian telah mendapatkan apa yang dijanjikan Tuhan kalian kepada kalian itu benar?"141
- Abu Hudzaifah dan ayahnya
Rasa duka karena 'Utbah mati dalam kekafiran
Ketika jenazah 'Utbah bin Rabi'ah diseret ke sumur, beliau melihat kemurungan di wajah putranya, Abu Hudzaifah. Abu Hudzaifah menjawab bahwa ia tidak ragu tentang kematian ayahnya, hanya berduka karena berharap ayahnya mendapat petunjuk; beliau mendoakan kebaikan untuknya.
Baca selengkapnya
Ketika beliau memerintahkan agar mayat orang-orang musyrikin dilempar ke dalam sumur, diambillah mayat 'Utbah bin Rabi'ah kemudian diseret ke dalam sumur. Beliau melihat kemurungan pada wajah Abu Hudzaifah bin 'Utbah yang tampak dari rona wajahnya. Beliau bersabda kepada Abu Hudzaifah bin 'Utbah: "Wahai Abu Hudzaifah, barangkali ada sesuatu telah masuk ke dalam dirimu karena perlakuan terhadap ayahmu?" Abu Hudzaifah berkata: "Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah, aku tidak ragu tentang ayahku dan perihal kematiannya. Hanya saja aku dapatkan dalam dirinya sikap bijak, kelembutan, dan nilai-nilai. Oleh karena itu, aku berharap kiranya itu semua membuatnya mendapat petunjuk kepada Islam. Tatkala aku melihat apa yang terjadi padanya, dan aku ingat bahwa ia mati dalam keadaan kafir setelah aku berharap banyak darinya, maka aku berduka cita karenanya." Beliau mendoakan kebaikan bagi Abu Hudzaifah dan mengatakan sesuatu dengan baik untuknya.1
- Pemuda Muslim yang terbunuh di Badar
Ayat an-Nisa' 97 dan nama-nama yang disebutkan
Ibnu Ishaq menyebut beberapa pemuda yang terbunuh di Badar dan turun ayat tentang mereka (QS an-Nisa': 97): al-Harits bin Zam'ah, dua Abu Qais, 'Ali bin Umayyah, dan al-'Ash bin Munabbih. Mereka telah masuk Islam ketika beliau masih di Makkah, tertahan oleh ayah dan keluarga mereka ketika beliau hijrah, lalu keluar bersama kaumnya ke Badar dan terbunuh.
Baca selengkapnya
Disebutkan kepadaku tentang beberapa pemuda yang terbunuh di Perang Badar yang karenanya kemudian Al-Qur'an turun tentang mereka, sebagaimana dituturkan kepadaku:1
"Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: 'Dalam keadaan bagaimana kamu ini?' Mereka menjawab: 'Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah).' Para malaikat berkata: 'Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?' Orang-orang itu tempatnya neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali." (QS an-Nisa': 97).
Mereka adalah pemuda-pemuda Muslim.
- Bani Asad bin 'Abdul 'Uzzaal-Harits bin Zam'ah bin al-Aswad bin al-Muththalib bin Asad.
- Bani MakhzumAbu Qais bin al-Faldh bin al-Mughirah bin 'Abdullah bin 'Umar bin Makhzum, dan Abu Qais bin al-Walid bin al-Mughirah bin 'Abdullah bin 'Umar bin Makhzum.
- Bani Jumah'Ali bin Umayyah bin Khalaf bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah.
- Bani Sahmal-'Ash bin Munabbih bin al-Hajjaj bin 'Amir bin Hudzaifah bin Sa'd bin Sahm.
Mereka semua telah masuk Islam pada saat beliau masih di Makkah. Namun ketika beliau hijrah ke Madinah mereka tertahan oleh ayah dan keluarga mereka di Makkah serta mendapat siksaan. Sehingga mereka terpengaruh dan keluar bersama kaumnya ke Badar dan semuanya tewas terbunuh.42
- Perselisihan tentang rampasan
Pengumpul, pengejar musuh, dan pengawal beliau
Para sahabat berbeda pendapat tentang siapa yang berhak atas rampasan perang yang dikumpulkan di bilik beliau: yang mengumpulkan, yang bertempur melawan musuh, dan yang mengawal beliau masing-masing mengajukan alasannya. 'Ubadah bin ash-Shamit menyebut bahwa surat al-Anfal turun pada saat itu. Abu Usaid juga menceritakan pedang al-Marzuban yang ia kembalikan lalu diberikan beliau kepada al-Arqam.
Baca selengkapnya
Kemudian beliau memerintahkan agar rampasan perang yang telah berhasil dihimpun para sahabat dikumpulkan di bilik beliau, namun mereka berbeda pendapat mengenai rampasan perang itu. Para sahabat yang mengumpulkannya berkata: "Rampasan perang tersebut milik kami." Sementara para sahabat yang bertempur melawan musuh berkata: "Demi Allah, tanpa kami, mustahil kalian dapat mengumpulkannya. Kami lebih sibuk memerangi musuh sehingga tidak memiliki waktu yang cukup untuk mengumpulkannya. Sedang kalian tidak ikut bertempur sehingga dengan begitu mudah mengumpulkannya." Para sahabat yang mengawal beliau karena khawatir beliau diserang musuh berkata: "Demi Allah, kalian tidak lebih berhak atas rampasan perang dari pada kami. Kami ingin membunuh musuh, namun tiba-tiba Allah memberikan pundak-pundak mereka kepada kami. Awalnya kami ingin menghimpun rampasan perang ketika tidak ada orang yang mengawal beliau. Namun kami khawatir musuh balik menyerang beliau. Oleh sebab itulah, kami melindungi beliau. Artinya kalian tidak lebih berhak atas rampasan perang itu daripada kami."
Aku pernah bertanya kepada 'Ubadah bin ash-Shamit tentang surat al-Anfal dan ia pun menjawab: "Surat tersebut diturunkan kepada kami para mujahidin Perang Badar. Surat itu Allah turunkan pada saat kami berbeda pendapat tentang rampasan perang. Saat itu, akhlak kami betul-betul hancur, kemudian Allah mencabut rampasan perang tersebut dari tangan kami, dan menyerahkannya kepada beliau. Lalu beliau mendistribusikannya kepada kaum Muslimin dengan adil."43
'Abdullah bin Abu Bakar berkata kepadaku bahwa salah seorang dari Bani Sa'idah berkata kepadanya dari Abu Usaidah as-Sa'idi Malik bin Rabi'ah, ia berkata: "Pada Perang Badar, aku berhasil mendapatkan pedang Bani Aidz al-Makhzumi yang bernama al-Marzuban. Ketika beliau memerintahkan pengembalian semua rampasan perang yang ada di tangan para sahabat, aku pun datang dan mengumpulkan pedang tersebut bersama rampasan perang lainnya. Saat itu, beliau tidak menolak sesuatu yang diminta kepada beliau. Pedang tersebut diketahui al-Arqam bin Abu al-Arqam, kemudian ia memintanya kepada beliau, dan beliau memberikannya."144
- Pembawa kabar gembira ke Madinah
'Abdullah bin Rawahah dan Zaid bin Haritsah
Setelah kemenangan, beliau mengutus 'Abdullah bin Rawahah ke penduduk Madinah bagian utara dan Zaid bin Haritsah ke penduduk Madinah Selatan. Usamah bin Zaid menceritakan bahwa kabar itu sampai saat mereka menimbun kuburan Ruqayyah, putri beliau dan istri 'Utsman.
Baca selengkapnya
Setelah kemenangan tercapai, beliau mengirim 'Abdullah bin Rawahah sebagai orang yang menyampaikan kabar gembira kemenangan kepada penduduk Madinah bagian utara, bahwa Allah Yang Mahatinggi telah memberi kemenangan kepada Rasul-Nya dan kaum Muslimin. Beliau mengutus Zaid bin Haritsah sebagai orang yang menyampaikan kabar gembira kemenangan kepada penduduk Madinah Selatan.1
Usamah bin Zaid berkata: kabar gembira sampai kepada kami tatkala kami sedang menimbun tanah ke atas kuburan Ruqayyah binti Rasulullah, istri 'Utsman bin 'Affan. Beliau menyuruhku bersama 'Utsman untuk menjaga Ruqayyah. Ketika Zaid bin Haritsah tiba, aku datang kepadanya yang pada saat itu sedang berdiri di mushalla, dan dikerubungi oleh kaum Muslimin. Zaid bin Haritsah berkata: "'Utbah bin Rabi'ah tewas, Syaibah bin Rabi'ah tewas, Abu Jahl bin Hisyam tewas, Zam'ah bin al-Aswad tewas, Abu al-Bakhtari al-'Ash bin Hisyam tewas, Umayyah bin Khalaf tewas, Nubaih bin al-Hajjaj tewas, dan Munabbih bin al-Hajjaj juga tewas." Usamah bin Zaid bertanya kepada ayahnya, Zaid bin Haritsah: "Benarkah itu semua, wahai ayahanda?" Zaid bin Haritsah menjawab: "Demi Allah, semua itu benar wahai ananda!"45
- Perjalanan pulang dan pembagian rampasan di Sayar
Menuju Madinah lewat ash-Shafra' dan ar-Rauha'
Beliau pulang ke Madinah membawa tawanan, termasuk 'Uqbah bin Abu Mu'ayth dan an-Nadhr bin al-Harits, dan rampasan perang yang dijaga 'Abdullah bin Ka'ab. Setelah keluar dari lorong kecil ash-Shafra', beliau berhenti di bukit pasir bernama Sayar, antara Madhiq dan an-Naziyah, dan membagi rampasan secara merata di sana. Di ar-Rauha' beliau disambut kaum Muslimin.
Baca selengkapnya
Kemudian beliau pulang ke Madinah bersama rombongan para sahabat, dengan membawa tawanan perang dari kaum musyrikin. Di antara tawanan perang tersebut adalah 'Uqbah bin Abu Mu'ayth dan an-Nadhr bin al-Harits. Beliau membawa pulang rampasan perang yang berhasil diperoleh dari kaum musyrikin. Beliau memerintahkan 'Abdullah bin Ka'ab bin 'Amr bin 'Auf bin Mabdzul bin 'Amr bin Ghanm bin Mazin bin an-Najjar untuk menjaga rampasan perang tersebut. Salah seorang dari kaum Muslimin melantunkan syair-syairnya.1
Orang itu adalah 'Adi bin Abu az-Zaghba':2
Mulailah berangkatkan unta-untamu wahai Basbas untuknya
Tiada tempat untuk ragu Di Dzi ath-Thalah baginya
Tidak pula di gurun Ghumair ada penjara Sesungguhnya kuda-kuda mereka tidak mungkin ditahan
Maka kuda-kuda itu dibawa orang yang cerdas
Allah telah memenangkan, sementara al-Akhnas melarikan diri
Beliau berjalan, dan ketika beliau keluar dari lorong kecil ash-Shafra', beliau berhenti di bukit pasir antara Madhiq (lorong kecil) dengan an-Naziyah yang bernama Sayar, tepatnya di bawah sebuah pohon di tempat itu.
Di sanalah, beliau membagi rampasan perang yang diberikan Allah kepada kaum Muslimin dari kaum musyrikin secara merata. Setelah melakukan pembagian rampasan perang, beliau meneruskan perjalanannya. Sesampainya di ar-Rauha', beliau disambut kaum Muslimin. Mereka mengucapkan selamat atas kemenangan yang diberikan Allah kepada beliau dan kaum Muslimin. Salamah bin Salamah berkata kepada kaum Muslimin, sebagaimana dituturkan kepadaku oleh 'Ashim bin 'Umar bin Qatadah dan Yazid bin Ruman: "Ucapan selamat apakah yang kalian persembahkan kepada kami? Demi Allah, kita tidak bertemu kecuali dengan wanita-wanita lemah dan botak bagaikan unta yang diikat lalu disembelih." Beliau tersenyum, kemudian bersabda: "Wahai anak saudaraku, mereka (orang-orang Quraisy) adalah para pemuka kaumnya dan orang-orang terpandang."46
- An-Nadhr, 'Uqbah, dan Abu Hindun
Dua orang tawanan dibunuh dalam perjalanan pulang
Menurut Ibnu Ishaq, an-Nadhr bin al-Harits dibunuh di ash-Shafra' oleh 'Ali, dan 'Uqbah bin Abu Mu'ayth di 'Irqi azh-Zhabyah (menurut Ibnu Ishaq oleh 'Ashim bin Tsabit; Ibnu Hisyam menyebut juga riwayat 'Ali). Di 'Irqi azh-Zhabyah beliau juga bertemu Abu Hindun, tukang bekam beliau. Beliau tiba di Madinah sehari sebelum para tawanan.
Baca selengkapnya
Tatkala beliau tiba di ash-Shafra', an-Nadhr bin al-Harits dibunuh. Ia dibunuh 'Ali bin Abu Thalib, sebagaimana dikatakan kepadaku oleh ulama Makkah.1
Beliau terus berjalan. Ketika beliau tiba di 'Irqi azh-Zhabyah, 'Uqbah bin Mu'ayth terbunuh.1
'Irqi azh-Zhabyah bukan dari Ibnu Ishaq.2
Sahabat yang menawan 'Uqbah bin Mu'ayth adalah 'Abdullah bin Salimah, salah seorang yang berasal dari Bani al-'Ajlan.1
Ketika beliau memerintahkan pembunuhan terhadap 'Uqbah bin Mu'ayth, ia berkata: "Wahai Muhammad, siapa yang akan mengasuh anak perempuanku yang masih kecil?" Beliau menjawab: "Neraka." 'Uqbah bin Mu'ayth dibunuh 'Ashim bin Tsabit bin Abu al-Aqlah al-Anshari, saudara Bani 'Amr bin 'Auf, sebagaimana dituturkan kepadaku oleh Abu 'Ubaidah bin Muhammad bin 'Ammar bin Yasir.1
Ada yang mengatakan 'Uqbah bin Mu'ayth dibunuh oleh 'Ali bin Abu Thalib, sebagaimana dituturkan kepadaku oleh Ibnu Syihab az-Zuhri dan ulama lain.2
Di 'Irqi azh-Zhabyah, beliau berjumpa dengan Abu Hindun, mantan budak Farwan bin 'Amr al-Bayadhi, yang membawa kantong penuh berisi hais (samin yang dicampur kurma). Abu Hindun tidak ikut Perang Badar, kemudian ikut serta peperangan lainnya bersama beliau. Abu Hindun adalah seorang ahli bekam beliau. Beliau bersabda: "Sesungguhnya Abu Hindun termasuk kaum Anshar. Oleh karena itu, nikahkan dia dengan wanita kalian!" Para sahabat melakukan apa yang diperintahkan oleh beliau.1
Beliau terus berjalan hingga sampai di Madinah satu hari sebelum para tawanan perang tiba.147
- Saudah dan Suhail bin 'Amr
Ucapan Saudah ketika melihat Abu Yazid terikat
Saudah binti Zam'ah, istri beliau, sedang berada di tempat keluarga 'Afra' meratapi 'Auf dan Mu'awwidz ketika para tawanan tiba. Ia melihat Abu Yazid Suhail bin 'Amr terikat dan terlontar ucapannya; beliau menegurnya dan ia menyadari ucapannya.
Baca selengkapnya
'Abdullah bin Abu Bakar berkata kepadaku bahwa Yahya bin 'Abdullah bin 'Abdurrahman bin As'ad bin Zurarah berkata: beliau tiba di Madinah membawa tawanan perang. Ketika itu, Saudah binti Zam'ah, istri beliau, berada di tempat keluarga 'Afra' sedang meratapi kematian 'Auf dan Mu'awwidz, keduanya adalah anak 'Afra'. Hal itu terjadi ketika hijab belum menjadi kewajiban atas wanita Muslimah. Saudah berkata: "Demi Allah, aku berada di tempat mereka, ketika tiba-tiba seseorang datang kepada kami, dan berkata: 'Para tawanan perang telah datang bersama beliau.' Aku segera pulang ke rumah, ternyata beliau sudah berada di sana, dan Abu Yazid Suhail bin 'Amr berada di pojok kamar dalam keadaan kedua tangan terikat di lehernya. Tidak, demi Allah, aku tidak dapat menguasai diriku ketika melihat Abu Yazid dalam kondisi seperti itu. Aku berkata: 'Wahai Abu Yazid, kenapa engkau memberikan tanganmu? Kenapa engkau tidak mati saja dalam keadaan mulia?' Demi Allah, tidak ada yang menyadarkan diriku kecuali ucapan beliau dari dalam rumah: 'Wahai Saudah, pantaskah engkau mengobarkan perang terhadap Allah dan Rasul-Nya?' Aku menjawab: 'Wahai Rasulullah, aku tidak dapat menguasai diriku, ketika melihat Abu Yazid dalam keadaan kedua tangannya terikat di lehernya, sehingga terlontar ucapan itu dariku.'"148
- Abu 'Aziz dan roti para penolong
Wasiat Mush'ab bin 'Umair dan tebusan empat ribu dirham
Para tawanan dibagi-bagikan kepada sahabat dengan pesan agar diperlakukan baik. Abu 'Aziz bin 'Umair, saudara Mush'ab bin 'Umair, bercerita bahwa para penawannya dari Anshar memberinya roti dan mereka sendiri makan kurma. Ibunya menebusnya dengan empat ribu dirham, yang disebut sebagai tebusan termahal bagi orang Quraisy.
Baca selengkapnya
Nubaih bin Wahb, saudara Bani 'Abduddar, berkata kepadaku: ketika para tawanan perang datang, maka beliau membagi-bagikannya kepada para sahabat. Beliau bersabda: "Berbuat baiklah kalian kepada para tawanan perang ini." Abu 'Aziz bin 'Umair bin Hasyim, saudara kandung Mush'ab bin 'Umair, yang berada dalam tawanan perang berkata: saudaraku, Mush'ab bin 'Umair, berjalan melewatiku bersama salah seorang kaum Anshar yang menawanku. Mush'ab bin 'Umair berkata: "Jagalah tawanan ini dengan baik, karena ibunya seorang wanita kaya raya. Mudah-mudahan ia menebusnya darimu!" Abu 'Aziz bin 'Umair berkata: "Aku bersama beberapa orang Anshar ketika mereka membawaku dari Badar. Jika mereka datang membawa makanan siang dan makanan malam, mereka memberiku makanan berupa roti, sementara mereka sendiri hanya makan kurma. Ini semua terjadi karena beliau memerintahkan mereka berbuat baik terhadap para tawanan perang. Tidak ada seorang pun dari mereka yang memiliki kepingan roti, melainkan ia memberikannya kepadaku. Aku pun merasa malu kepada mereka, sehingga aku pun mengembalikan roti tersebut kepada salah seorang dari mereka, tapi ia mengembalikannya kepadaku. Ia sama sekali tidak menyentuhnya."1
Abu 'Aziz adalah pemegang panji perang kaum musyrikin setelah an-Nadhr bin al-Harits. Ketika saudaranya, Mush'ab bin 'Umair berkata kepada Abu Yasir, sahabat yang menawannya seperti di atas, Abu 'Aziz bin 'Umair berkata kepada Mush'ab bin 'Umair: "Saudaraku, apakah demikian wasiatmu bagiku?" Mush'ab bin 'Umair berkata kepada saudaranya itu: "Sesungguhnya Abu Yasir adalah saudaraku." Kemudian ibu Abu 'Aziz bin 'Umair bertanya tentang tebusan tawanan paling mahal bagi orang Quraisy. Lalu dikatakan padanya: empat ribu dirham. Maka ibu Abu 'Aziz mengirim uang empat ribu dirham dan menebus anaknya dengan uang itu.249
- Kabar kekalahan sampai di Makkah
Al-Haisuman, Abu Rafi', dan Abu Lahab
Orang pertama yang membawa kabar kekalahan Quraisy ke Makkah adalah al-Haisuman bin 'Abdullah al-Khuza'i, yang menyebut nama para pemuka yang tewas sehingga Shafwan bin Umayyah menyangkalnya. Abu Rafi' menceritakan bagaimana Abu Sufyan bin al-Harits bercerita kepada Abu Lahab tentang orang-orang berpakaian putih di atas kuda belang, lalu Abu Lahab memukulnya dan ditegur Ummu al-Fadhl; Abu Lahab wafat kurang dari tujuh hari kemudian.
Baca selengkapnya
Orang yang pertama kali tiba di Makkah dengan membawa kabar kekalahan orang-orang Quraisy di Perang Badar ialah al-Haisuman bin 'Abdullah al-Khuza'i. Orang-orang Quraisy bertanya kepada al-Haisuman bin 'Abdullah: "Kabar apa yang engkau bawa?" Al-Haisuman bin 'Abdullah menjawab: "'Utbah bin Rabi'ah gugur, Syaibah bin Rabi'ah gugur, Abu al-Hakam (Abu Jahl) bin Hisyam gugur, Umayyah bin Khalaf gugur. Zam'ah bin al-Aswad gugur, Nubayh bin al-Hajjaj gugur, Munabbih bin al-Hajjaj gugur, dan Abu al-Bakhtari gugur." Ketika al-Haisuman bin 'Abdullah menyebutkan nama-nama pemimpin Makkah, Shafwan bin Umayyah yang duduk di batu berkata: "Demi Allah, orang itu sudah kehilangan akalnya! Tanyakan padanya tentang diriku!" Orang-orang Quraisy bertanya: "Apa yang dikerjakan Shafwan bin Umayyah?" Al-Haisuman bin 'Abdullah menjawab: "Saat ini dia sedang duduk di atas batu. Demi Allah, aku melihat ayah dan saudaranya pada saat mereka berdua terbunuh."1
Awalnya aku adalah budak milik al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib, dan Islam telah masuk kepada kami, keluarga rumah al-'Abbas. Al-'Abbas kemudian masuk Islam kemudian diikuti oleh Ummu al-Fadhl, lalu aku pun masuk Islam. Al-'Abbas khawatir kepada kaumnya, dan tidak suka berbeda pendapat dengan mereka. Makanya ia merahasiakan keislamannya. Ia seorang yang kaya raya dan kekayaannya tersebar di tengah kaumnya. Abu Lahab tidak ikut Perang Badar, dan ia kirim al-'Ash bin Hisyam bin al-Mughirah untuk menggantikannya. Demikianlah yang diperbuat orang-orang Quraisy saat itu. Jika ia tidak bisa berangkat perang sendiri, ia mengirim seseorang menggantikan posisi dirinya. Di saat Abu Lahab mendengar berita kekalahan orang-orang Quraisy di Perang Badar, maka Allah menghinakan dan merendahkannya. Sedang kami merasa lebih kuat dan mulia. Sedangkan aku sendiri adalah seorang yang lemah. Yang berprofesi sebagai pembuat anak panah. Aku meraut anak panah di kemah Zamzam. Demi Allah, aku duduk di kemah kulitku di Zamzam dengan meraut anak panah. Demikian pula al-Fadhl. Kami semua amat senang dengan kabar kemenangan kaum Muslimin yang sampai pada kami. Tiba-tiba Abu Lahab datang. Ia menyeret kedua kakinya dengan kejelekan, hingga ia duduk di kayu pasak kemah, punggungnya berada di balik punggungku. Dan di saat ia duduk, tiba-tiba orang-orang berkata: "Itu Abu Sufyan bin al-Harits bin 'Abdul Muththalib telah datang."50
Abu Sufyan bernama asli al-Mughirah. Abu Lahab berkata kepada Abu Sufyan bin al-Harits: "Wahai Abu Sufyan, mendekatlah kepadaku. Aku bersumpah, engkau pasti mempunyai kabar penting!" Abu Sufyan bin al-Harits menghampiri Abu Lahab dan duduk di dekatnya, sedangkan orang-orang berdiri di hadapannya. Abu Lahab berkata: "Wahai anak saudaraku, ceritakanlah kepadaku tentang orang-orang Quraisy!" Abu Sufyan bin al-Harits berkata: "Demi Allah, kami bertemu dengan kaum (Muslimin) itu, lalu kami serahkan pundak-pundak kami kepada mereka dan mereka membunuh dan menawan kami sekehendak mereka. Demi Allah, walaupun begitu, aku tidak mencela orang-orang Quraisy. Kami bertemu dengan orang-orang yang mengenakan pakaian serba putih di atas kuda belang yang terbang di antara langit dan bumi. Demi Allah, dia tidak menyisakan sesuatu pun dan tidak ada yang sanggup bertahan menghadapi mereka."2
Abu Rafi' berkata: lalu aku mengangkat pasak kemah dengan kedua tanganku dan berkata: "Demi Allah, orang-orang yang mengenakan pakaian serba putih tersebut adalah para malaikat." Abu Lahab mengangkat tangannya, lalu memukulkannya pada wajahku dengan pukulan yang sangat keras. Aku loncat ke arah Abu Lahab, tapi ia menyerangku dan melemparkanku ke tanah, lalu mendudukiku sambil memukuliku, karena aku orang lemah. Maka Ummu al-Fadhl segera pergi ke tiang kayu kemah lalu mengambilnya. Ia pukul Abu Lahab dengan tiang kayu kemah tersebut dengan pukulan yang menyebabkan kepala Abu Lahab terluka parah. Ummu al-Fadhl berkata: "Engkau anggap dia lemah, tatkala tuannya tidak ada!!" Lalu Abu Lahab melarikan diri dengan keadaan hina. Demi Allah, dia hidup tak lebih dari tujuh hari, hingga Allah timpakan penyakit seperti tha'un dan ia pun mati dikarenakan penyakit itu.51
- Ratapan Quraisy
Larangan meratap, dan al-Aswad yang buta
Quraisy meratapi korban lalu saling melarang agar ratapan tidak didengar beliau dan para sahabat, dan agar tebusan tidak dikirim cepat-cepat. Al-Aswad, yang kehilangan tiga anaknya, ingin menangis tetapi suara yang ia dengar ternyata ratapan seorang wanita untuk untanya yang hilang.
Baca selengkapnya
Orang-orang Quraisy menangis meratapi korban-korban perang mereka. Mereka berkata: "Berhentilah dan jangan teruskan ratapan kalian, karena ratapan kalian akan sampai ke telinga Muhammad dan sahabat-sahabatnya, kemudian mereka pun menjadikan kalian bahan tertawaan. Janganlah kalian mengirim orang untuk menebus tawanan, tangguhkanlah penebusan mereka, pasti Muhammad dan sahabat-sahabatnya tidak akan meminta uang tebusan banyak atas tawanan!"52
Tiga anak al-Aswad bin al-Muththahb: Zam'ah bin al-Aswad, 'Aqil bin al-Aswad, dan al-Harits bin al-Aswad mati di Perang Badar. Ia ingin menangisi kematian anak-anaknya. Tapi di saat ia ingin menangisi kematian anak-anaknya, tiba-tiba pada suatu malam ia mendengar ratap tangis seorang wanita. Al-Aswad yang tuna netra berkata kepada budaknya: "Lihatlah, apakah meratap itu dihalalkan? Lihatlah, apakah orang-orang Quraisy menangisi para korban perang mereka, sehingga dengan demikian aku bisa menangisi Abu Hakimah (Zam'ah)? Sungguh hatiku kini terbakar!" Ketika budak al-Aswad telah kembali, ia berkata: "Wanita itu menangisi untanya yang hilang."53
- Tebusan Abu Wada'ah dan Suhail
Dua tawanan yang ditebus, dan Makraz menjadi jaminan
Abu Wada'ah bin Dhubayrah ditebus anaknya, al-Muthalib bin Abu Wada'ah, yang pergi diam-diam dari Makkah malam hari dan membayar empat ribu dirham, meski Quraisy sepakat menunda tebusan. Untuk Suhail bin 'Amr, yang ditawan Malik bin ad-Dukhsyum, Makraz bin Hafsh datang ke Madinah. 'Umar meminta izin mencabut dua gigi depan Suhail, tetapi beliau menjawab, "Aku tidak akan memutilasi dia, agar Allah tidak memutilasiku." Makraz meminta kakinya dijadikan ganti kaki Suhail, dan para sahabat membiarkan Suhail pergi dengan Makraz sebagai tawanan pengganti.
Baca selengkapnya
Di antara para tawanan ialah Abu Wada'ah bin Dhubayrah as-Sahmi. Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya Abu Wada'ah … kaya di Makkah, tampaknya ia datang kepada kalian untuk menebus ayahnya." Ketika orang-orang Quraisy berkata: "Janganlah kalian cepat-cepat menebus tawanan kalian, semoga dengan cara itu, Muhammad dan sahabat-sahabatnya tidak meminta uang tebusan yang banyak." Al-Muthalib bin Abu Wada'ah ini yang dimaksud Rasulullah pada kisah di atas berkata: "Kalian benar. Janganlah kalian tergesa-gesa menebus tawanan kalian!" Tapi ketika datang malam hari, al-Muthalib bin Abu Wada'ah pergi secara sembunyi-sembunyi dari Makkah, sampai tiba di Madinah, kemudian menebus ayahnya dengan uang tebusan sebesar empat ribu dirham. Lalu ia pulang bersama dengan ayahnya.1
Lalu orang-orang Quraisy mengirim utusan untuk menebus tawanan perang mereka. Makraz bin Hafsh bin al-Akhyaf tiba di Madinah untuk menebus Suhail bin 'Amr yang ditawan Malik bin ad-Dukhsyum, saudara Bani Salim bin 'Auf. Malik bin ad-Dukhsyum berkata:1
Aku tawan Suhail dan aku tak mau tawanan selain dia dari seluruh bangsa
Khindif mengetahui bahwa pahlawan mereka
Ialah Suhail, jika ia dizalimi
Aku tebas dengan parang hingga parang tersebut bengkok
Aku paksa diriku dengan untuk memukul orang berbibir sumbing
Suhail adalah seorang yang bibir bawahnya sumbing.
Sebagian pakar syair mengklaim bahwa bait syair-syair di atas bukan syair-syair Malik bin ad-Dukhsyum.2
Muhammad bin 'Amr bin 'Atha', saudara Bani 'Amir bin Luay berkata kepadaku bahwa 'Umar bin al-Khaththab berkata kepada Rasulullah: "Wahai Rasulullah, izinkan saya mencongkel dua gigi depan Suhail bin 'Amr, agar lidahnya menjulur sehingga ia tidak berdiri ngoceh terus menerus di tempat mana pun untuk selamanya." Rasulullah bersabda: "Aku tidak akan memutilasi dia, agar Allah tidak memutilasiku, walaupun aku seorang Nabi."1
Ada yang menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah juga bersabda kepada 'Umar bin al-Khaththab pada peristiwa di atas: "Memang dia pasti akan berada di sebuah tempat yang kamu sendiri tidak akan meencelanya."1
Pembahasan tentang tempat ini, insya Allah akan saya jelaskan pada tempatnya.2
Setelah Makraz bin Hafsh berbicara dengan para sahabat tentang Suhail bin 'Amr dan para sahabat setuju dengan hasil pembicaraan tersebut, maka para sahabat berkata: "Sekarang serahkanlah hak kami!" Makraz bin Hafsh berkata: "Jadikanlah kakiku sebagai ganti kaki Suhail bin 'Amr, dan lepaskan dia hingga dia mengirimkan orang untuk menebusnya!" Para sahabat melepas Suhail bin 'Amr, dan menjadikan Makraz bin Hafsh tawanan sebagai gantinya.1
Sebagian kritikus sastra Arab berkata bahwa bait syair-syair di atas bukan milik Makraz bin Hafsh.254
- 'Amr bin Abu Sufyan dan Sa'd bin an-Nu'man
Ditawan satu orang, ditahan satu orang, dan saling dilepas
'Amr bin Abu Sufyan ditawan 'Ali. Abu Sufyan menolak menebus anaknya karena ia telah kehilangan darah (Hanzhalah) dan harta. Sa'd bin an-Nu'man bin Akkal, yang telah lanjut usia, pergi umrah ke Makkah dengan jaminan perjanjian yang pernah ia buat dengan Quraisy, tetapi ditahan Abu Sufyan sebagai pengganti. Abu Sufyan dan Hassan bin Tsabit saling membalas dengan syair. Bani 'Amr bin 'Auf meminta 'Amr bin Abu Sufyan kepada beliau untuk ditukar, lalu Abu Sufyan membebaskan Sa'd.
Baca selengkapnya
'Abdullah bin Abu Bakr berkata kepadaku ia berkata: "'Amr bin Abu Sufyan bin Harb salah satu tawanan Perang Badar di tangan Rasulullah. Ibu 'Amr bin Abu Sufyan bin Harb adalah anak perempuan 'Uqbah bin Abu Mu'ayth."1
Ibu 'Amr bin Abu Sufyan bin Harb ialah anak perempuan Abu 'Amr, saudara wanita Abu Mu'ayth bin Abu 'Amr.2
'Amr bin Abu Sufyan bin Harb ditawan 'Ali bin Abu Thalib.2
'Abdullah bin Abu Bakr berkata kepadaku bahwa ada orang yang berkata kepada Abu Sufyan bin Harb: "Tebuslah 'Amr, anakmu!" Abu Sufyan bin Harb berkata: "Apakah aku harus kehilangan darah dan kekayaanku? Mereka bunuh Hanzhalah, apakah aku harus pula membayar tebusan buat 'Amr? Biarkan 'Amr berada di tangan mereka, dan biarkan mereka menahannya sesuka mereka!"1
Ketika 'Amr bin Abu Sufyan tertawan di Madinah di tempat Rasulullah, tiba-tiba Sa'd bin an-Nu'man bin Akkal saudara Bani 'Amr bin 'Auf lalu salah seorang dari Bani Umayyah keluar dari Madinah untuk melakukan umrah bersama dengan gadis kecilnya. Sa'd bin an-Nu'man telah lanjut usia dan telah menjadi muslim. Ia menetap bersama kambingnya di an-Naqi'. Dari an-Naqi', ia keluar untuk melakukan umrah tanpa merasa takut akan perlakuan buruk. Ia tidak mengira akan ditahan di Makkah, karena kepergiannya ke Makkah adalah untuk melakukan umrah. Sebelumnya Sa'd bin an-Nu'man telah membuat perjanjian dengan orang-orang Quraisy, bahwa mereka tidak boleh mengganggu orang yang datang ke Makkah untuk melaksanakan ibadah haji atau umrah kecuali dengan kebaikan. Namun Abu Sufyan bin Harb melanggar janji, dan menahannya sebagai ganti penahanan atas 'Amr bin Abu Sufyan. Abu Sufyan berkata:
Hai anak-anak Akkal, penuhilah seruannya Kalian telah berjanji tak kan menyerahkan pemimpin yang
telah tua Sesungguhnya Bani 'Amr manusia hina-dina, Jika mereka tidak melepas tawanan mereka dari
belenggunya
Syair Abu Sufyan bin Harb di atas dijawab oleh Hassan bin Tsabit:
Andai Sa'd dilepas pada hari dia di Makkah
Ia pasti akan banyak membunuh kalian sebelum ditawan
Dengan pedang tajam atau dengan anak panah dari pohon Nab'ah
Hingga pedang atau anak panah itu mengeluarkan suara
Bani 'Amr bin 'Auf pergi menemui Rasulullah, dan menjelaskan persoalan mereka. Mereka meminta pada Rasulullah menyerahkan 'Amr bin Abu Sufyan bin Harb kepada mereka untuk dibebaskan sehingga dengan cara seperti itu, mereka bisa membebaskan sahabat mereka, yakni Sa'd bin an-Nu'man. Rasulullah mengabulkan permohonan mereka, lalu mereka mengirim 'Amr bin Abu Sufyan bin Harb kepada Abu Sufyan Harb, dan Abu Sufyan bin Harb membebaskan Sa'd bin an-Nu'man.55
- Zainab dan Abu al-'Ash
Pernikahan, keislaman Zainab, dan 'Utbah bin Abu Lahab
Abu al-'Ash bin ar-Rabi', suami Zainab, ditawan di Badar oleh Khirasy bin ash-Shimmah. Ia dikenal amanah dan berdagang; Khadijah yang meminta beliau menikahkannya dengan Zainab, sebelum turun wahyu. Setelah wahyu turun, Zainab beriman, tetapi Abu al-'Ash tetap musyrik. Quraisy meminta Abu al-'Ash menceraikan istrinya dan ia menolak. Mereka meminta hal yang sama kepada 'Utbah bin Abu Lahab, yang menceraikan putri beliau (Ruqayyah atau Ummu Kaltsum) tanpa menggaulinya; Ruqayyah kemudian dinikahi 'Utsman bin 'Affan.
Baca selengkapnya
Di antara tawanan Perang Badar terdapat Abu al-'Ash bin ar-Rabi' bin 'Abdun bin al-'Uzza bin 'Abdu Syams, menantu Rasulullah, suami Zainab putri beliau.1
Abu al-'Ash ditawan Khirasy bin ash-Shimmah, salah seorang dari Bani Haram.2
Abu al-'Ash termasuk orang-orang Makkah yang diperhitungkan dari sisi: harta kekayaan, amanah, bisnis. Halal binti Khuwailid adalah ibunya dan Khadijah adalah bibinya. Khadijah meminta Rasulullah menikahkan Abu al-'Ash dengan Zainab. Rasulullah tidak menolak keinginan Khadijah, dan itu terjadi sebelum wahyu turun kepada beliau, lalu beliau menikahkan Abu al-'Ash dengan Zainab. Khadijah menjadikan kedudukan Abu al-'Ash baginya seperti anaknya sendiri. Dan di saat Allah Ta'ala memuliakan Rasul-Nya dengan kenabian dan turunnya wahyu kepada beliau, Khadijah dan putri-putrinya beriman kepada beliau. Mereka membenarkan Rasulullah, dan bersaksi bahwa apa yang dibawa beliau dari wahyu adalah haq. Mereka memeluk Islam agama beliau. Kendati Abu al-'Ash bertahan pada kekufuran dan kesyirikannya.1
Rasulullah menikahkan 'Utbah bin Abu Lahab dengan Ruqayyah atau Ummu Kaltsum. Di saat Rasulullah memperlihatkan perintah Allah, dan permusuhan terhadap orang-orang Quraisy, mereka berkata: "Sungguh kalian telah menghilangkan kesedihan di hati Muhammad. Kembalikan putri-putrinya kepadanya, sehingga ia lebih disibukkan dengan mengurusi mereka." Lalu mereka berjalan menemui Abu al-'Ash dan berkata kepadanya: "Ceraikan istrimu, dan kami akan nikahkan engkau dengan wanita Quraisy mana saja yang engkau sukai!" Abu al-'Ash menjawab: "Tidak!! Demi Allah, aku tidak akan menceraikan istriku! Aku tidak berharap wanita Quraisy mana pun menggantikan posisi istriku." Rasulullah memberi pujian kepada Abu al-'Ash dengan pujian yang baik, sebagaimana dituturkan kepadaku.
Orang-orang Quraisy mendatangi 'Utbah bin Abu Lahab, dan mereka berkata kepadanya: "Ceraikan putri Muhammad, dan kami akan nikahkan engkau dengan wanita Quraisy mana saja yang engkau suka." 'Utbah bin Abu Lahab berkata: "Jika kalian mampu menikahkan aku dengan anak perempuan Aban bin Sa'id bin al-'Ash atau anak perempuan Sa'id bin al-'Ash, aku akan menceraikan putri Muhammad." Lalu orang-orang Quraisy menikahkan 'Utbah bin Abu Lahab dengan anak perempuan Sa'id bin al-'Ash, dan 'Utbah bin Abu Lahab pun menceraikan putri Rasulullah dan ia tidak pernah menggaulinya. Allah memuliakan Ruqaiyyah dengan cara membebaskannya dari tangan 'Utbah bin Abu Lahab, dan menjadikan 'Utbah bin Abu Lahab hina. Setelah itu, Ruqaiyyah dinikahi 'Utsman bin 'Affan.
Di Makkah, Rasulullah tidak menghalalkan dan tidak mengharamkan, kondisinya sangat membatasinya. Islam telah memisahkan Zainab binti Rasulullah dengan suaminya, Abu al-'Ash – ketika Zainab telah masuk Islam –, hanya saja Rasulullah tidak kuasa untuk memisahkan keduanya. Zainab tetap tinggal bersama Abu al-'Ash sebagai seorang Muslimah dan Abu al-'Ash yang masih dalam keadaan musyrik hingga Rasulullah hijrah ke Madinah. Di saat orang-orang Quraisy berangkat menuju Badar, Abu al-'Ash ikut bersama mereka, dan menjadi salah satu tawanan perang Rasulullah di Madinah.56
- Kalung Khadijah
Tebusan Abu al-'Ash dikirim Zainab
Saat Makkah mengirim wakil untuk menebus tawanan, Zainab juga mengirim tebusan untuk Abu al-'Ash, termasuk sebuah kalung yang dahulu milik Khadijah. Beliau terenyuh melihatnya dan bersabda agar para sahabat membebaskan suami Zainab dan mengembalikan hartanya jika mereka bersedia. Para sahabat membebaskannya dan mengembalikan harta Zainab.
Baca selengkapnya
Di saat orang-orang Makkah mengirim wakilnya pergi ke Madinah untuk menebus tawanan mereka, Zainab binti Rasulullah juga mengirim wakilnya pergi ke Madinah untuk menebus Abu al-'Ash bin ar-Rabi' dengan uang. Zainab juga mengirimkan kalung kepada suaminya, Abu al-'Ash. Kalung tersebut dulunya milik Khadijah, kemudian Khadijah memberikan kalung tersebut kepadanya tatkala ia menikah dengan Abu al-'Ash. Pada saat Rasulullah melihat kalung tersebut, beliau terenyuh, lalu bersabda: "Jika kalian hendak membebaskan suami Zainab, dan mengembalikan hartanya kepadanya, silakan lakukan!" Para sahabat berkata: "Akan kami lakukan, wahai Rasulullah." Maka para sahabat segera membebaskan Abu al-'Ash dan mengembalikan harta Zainab.5758
- Zainab berangkat ke Madinah
Zaid bin Haritsah menunggu di Ya'jaj; Hindun dan Kinanah
Beliau mengutus Zaid bin Haritsah dan seorang Anshar ke kabilah Ya'jaj agar menemani Zainab tiba di Madinah, sekitar sebulan setelah Badar, ketika Abu al-'Ash pulang ke Makkah dan menyuruh istrinya berangkat. Hindun binti 'Utbah menawarkan bekal, tetapi Zainab takut padanya dan menyembunyikan niatnya. Kinanah bin ar-Rabi', saudara suaminya, menuntun untanya di siang hari dengan busur dan anak panah. Habbar bin al-Aswad mengejar dan mengintimidasi Zainab di tandunya sehingga ia keguguran. Kinanah mengancam akan memanah siapa pun yang mendekat; Abu Sufyan datang dan meminta mereka pulang dulu, lalu berangkat diam-diam. Pada suatu malam Kinanah menyerahkan Zainab kepada Zaid.
Baca selengkapnya
Rasulullah masih membuat kesepakatan dengan Abu al-'Ash, atau beliau membuat perjanjian dengannya untuk memudahkan kepergian Zainab kepada beliau. Atau Abu al-'Ash telah mengajukan syarat dalam pembebasan dirinya, namun persyaratan tersebut tidak terlihat pada Abu al-'Ash atau dari Rasulullah, hingga bisa diketahui. Hanya saja ketika Abu al-'Ash pulang ke Makkah, Rasulullah mengutus Zaid bin Haritsah dan salah seorang dari kaum Anshar. Rasulullah bersabda kepada keduanya: "Pergilah kalian ke kabilah Ya'jaj hingga Zainab melewati kalian berdua, temani dia hingga tiba di tempatku!" Kemudian Zaid bin Haritsah dan sahabat dari kaum Anshar tersebut berangkat ke tempat yang beliau maksud. Kejadian ini terjadi kurang lebih sebulan sesudah Perang Badar. Ketika Abu al-'Ash tiba di Makkah, ia memerintahkan istrinya pergi pada ayahnya, lalu Zainab keluar untuk mengadakan persiapan untuk pergi ke Madinah.1
'Abdullah bin Abu Bakr berkata kepadaku bahwa aku diberi tahu dari Zainab ia berkata: pada saat aku menyiapkan diri di Makkah untuk menyusul ayahku, Hindun binti 'Utbah menemuiku. Ia berkata: "Wahai putri Muhammad, benarkah berita yang sampai padaku bahwa engkau akan pergi menyusul ayahmu?" Aku menjawab: "Aku tidak mau melakukan itu." Hindun binti 'Utbah berkata: "Wahai putri pamanku, telah sampai padaku berita bahwa engkau akan menyusul ayahmu. Jika engkau membutuhkan bekal untuk perjalananmu atau uang sehingga engkau bisa sampai di sana, silakan utarakan kebutuhanmu kepadaku, dan janganlah engkau malu kepadaku, karena aku pun perempuan sepertimu, aku sangat mengerti." Zainab berkata: "Demi Allah, aku melihat Hindun berkata seperti itu memang untuk melakukannya. Namun aku tetap takut padanya. Oleh karena itu, menolak untuk mengatakan bahwa aku akan menyusul ayahku. Namun aku tetap melakukan persiapan untuk kepergianku ke Madinah menyusul ayahku."1
Pada saat Zainab telah siap berangkat, saudara ipar Zainab, Kinanah bin ar-Rabi' yang juga saudara suaminya memberikan unta kepadanya. Kinanah bin ar-Rabi' mengambil busur dan anak panah. Kemudian di siang hari, Kinanah bin ar-Rabi' berjalan menuntun unta Zainab, sedangkan Zainab berada di dalam tandunya. Hal tersebut menjadi wacana massif orang-orang Quraisy, kemudian mereka pergi mengejar Zainab. Mereka berhasil bertemu dengannya di Dzi Thuwa. Orang yang pertama kali menyusul Zainab ialah Habbar bin al-Aswad bin 'Abdul Muththalib bin Asad bin 'Abdul 'Uzza al-Fihri. Habbar bin al-Aswad mengintimidasi Zainab di tandunya dengan tombak. Menurut para ulama, ketika itu Zainab sedang hamil. Karena mendapat teror dari Habbar bin al-Aswad, maka bayi di kandungan Zainab mengalami keguguran. Kinanah bin ar-Rabi' berhenti, kemudian ia mengeluarkan anak panahnya lalu berkata: "Demi Allah, apabila salah seorang dari kalian mendekatiku, aku akan mengerahkan anak panahku padanya." Orang-orang Quraisy pun akhirnya balik kembali ke Makkah.
Abu Sufyan bin Harb bersama tokoh-tokoh Quraisy tiba di tempat Zainab dan Kinanah bin ar-Rabi'. Abu Sufyan bin Harb berkata kepada Kinanah: "Wahai Fulan, tahanlah anak panahmu dari kami, beri kami kesempatan bicara denganmu!" Kinanah bin ar-Rabi' menahan anak panahnya, kemudian Abu Sufyan bin Harb menghampirinya dan berdiri di dekatnya. Abu Sufyan bin Harb berkata kepada Kinanah bin ar-Rabi': "Engkau bertindak tidak benar, karena engkau keluar bersama seorang wanita secara terang-terangan dan disaksikan oleh seluruh manusia. Engkau menyadari musibah, dan petaka yang menimpa kami, serta kesedihan yang dimasukkan Muhammad dalam perasaan kami. Jika engkau tetap memaksa keluar bersama putri Muhammad dengan terang-terangan yang dilihat banyak orang, maka orang-orang akan menyimpulkan bahwa ini terjadi karena kehinaan yang menimpa kita akibat kekalahan yang menimpa kita, dan dianggap sebagai kelemahan kita semua. Aku bersumpah bahwa kami tidak memiliki kepentingan menahan putri Muhammad, agar ia tidak bisa bertemu ayahnya. Kami tidak ingin balas dendam terhadap Zainab dengan cara menahannya. Untuk sementara pulanglah dengan putri Muhammad. Jika suara-suara sumbang telah mereda dan orang-orang berkata bahwa kami telah mengembalikan putri Muhammad kepada Muhammad, pergilah bersama putri Muhammad dengan diam-diam dan bawalah dia untuk menemui ayahnya!"
Kinanah bin ar-Rabi' menerima usulan Abu Sufyan bin Harb, kemudian Zainab tinggal di Makkah beberapa waktu. Ketika suara-suara sumbang mulai mereda, akhirnya pada suatu malam, Kinanah bin ar-Rabi' keluar dari Makkah bersama Zainab, kemudian menyerahkan Zainab kepada Zaid bin Haritsah dan sahabatnya. Zaid bin Haritsah dan sahabatnya pun tiba di tempat Rasulullah dengan membawa Zainab.59
- Syair Zainab dan perintah membakar
Hindun, Kinanah, dan hadits Abu Hurairah
Syair yang dikaitkan dengan peristiwa Zainab disebut berasal dari 'Abdullah bin Rawahah atau Abu Khaitsamah, tetapi teksnya tidak tercetak di bagian ini. Ibnu Ishaq dan Ibnu Hisyam berbeda tentang siapa "mantan budak Abu Sufyan" yang dimaksud: 'Amir bin al-Hadhrami atau 'Uqbah bin 'Abdul Harits bin al-Hadhrami. Hindun dan Kinanah juga bersyair. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa beliau pernah memerintahkan agar Habbar dan seorang lain dibakar bila tertangkap, lalu keesokan harinya menegaskan bahwa tidak boleh menyiksa dengan api selain Allah, dan memerintahkan agar mereka dibunuh saja.
Baca selengkapnya
'Abdullah bin Rawahah atau Abu Khaitsamah saudara Bani Salim bin 'Auf berkata tentang kejadian yang dialami Zainab.1
Mantan budak Abu Sufyan yang dimaksud pada syair di atas adalah 'Amir bin al-Hadhrami. Ia juga menjadi tawanan di tempat kaum Muslimin. Tadinya ia bersekutu dengan Harb bin Umayyah.1
Mantan budak Abu Sufyan yang dimaksud di syair di atas ialah 'Uqbah bin 'Abdul Harits bin al-Hadhrami. Adapun 'Amir bin al-Hadhrami tewas di Perang Badar.2
Pada saat orang-orang Quraisy yang menemui Zainab tadi pulang ke Makkah dan mereka bertemu dengan Hindun binti 'Utbah. Hindun binti 'Utbah berkata kepada mereka,
Apakah dalam suasana damai, mereka tegas bersikap keras
Namun di medan perang, mereka laksana wanita-wanita yang lagi haid
Kinanah bin ar-Rabi' berkata tentang Zainab, ketika ia menyerahkannya kepada Zaid bin Haritsah dan sahabatnya
Aku heran dengan Habbar, dan orang-orang lemah hina dan kaumnya
Mereka berniat mencegahku memenuhi janji pada putri Muhammad
Aku tidak peduli jumlah mereka selagi aku masih hidup
Dan selagi tanganku masih bisa bertarung dengan pedang dari India
Ibnu Ishaq berkata bahwa Yazid bin Abu Habib berkata kepadaku dari Bukair bin 'Abdullah bin al-Asyaj dari Sulaiman bin Yasar dari Abu Ishaq ad-Dausi dari Abu Hurairah yang berkata: Rasulullah mengirim ekspedisi dan aku ikut serta di dalamnya. Rasulullah bersabda kepada kami: "Apabila kalian bisa menangkap Habbar bin al-Aswad atau orang lain yang tiba duluan di tempat Zainab."
Ibnu Ishaq berkata bahwa orang yang dimaksud Rasulullah dalam peristiwa di atas adalah Nafi' bin 'Abdu Qais, maka bakarlah keduanya dengan api." Abu Hurairah berkata: "Keesokan harinya, Rasulullah pergi ke tempat kami dan bersabda: "Kemarin aku menyuruh kalian membakar dua orang tersebut apabila kalian berhasil menangkap keduanya, kemudian aku memandang bahwa siapa pun tidak boleh menyiksa orang lain dengan api kecuali Allah saja yang boleh melakukannya. Apabila kalian berhasil menangkap kedua orang itu, maka bunuhlah mereka!"260
- Abu al-'Ash masuk Islam
Harta yang dikembalikan, dan "bila aku mengawali keislamanku dengan berkhianat"
Menjelang penaklukan Makkah, Abu al-'Ash pergi berdagang ke Syam dan hartanya dirampas oleh ekspedisi beliau. Ia masuk ke rumah Zainab di Madinah dan meminta perlindungan; Zainab berteriak dari shaf wanita saat shalat Subuh bahwa ia telah memberi perlindungan. Beliau menegaskan bahwa kaum Muslimin memberi perlindungan kepada yang paling lemah di antara mereka, dan meminta para sahabat mengembalikan harta itu; semuanya dikembalikan. Abu al-'Ash menyerahkannya kepada para pemilik di Makkah, mengucapkan syahadat, dan pergi ke Madinah. Beliau menyatukan kembali dia dengan Zainab setelah enam tahun berpisah.
Baca selengkapnya
Sesudah itu, Abu al-'Ash bin ar-Rabi' tinggal di Makkah, sementara Zainab menetap di Madinah bersama Rasulullah ketika Islam memisahkan mereka berdua. Menjelang penaklukan Makkah, Abu al-'Ash pergi berdagang ke Syam. Abu al-'Ash dikenal sebagai orang yang amanah dalam menjaga harta. Baik milik sendiri maupun harta orang-orang Quraisy yang mereka titipkan padanya. Tatkala usai berdagang dan kembali ke Makkah, ia berpapasan dengan ekspedisi Rasulullah, mereka merampas kekayaan Abu al-'Ash bin ar-Rabi'. Abu al-'Ash bin ar-Rabi' tidak kuasa untuk menghadapi mereka, akhirnya dia melarikan diri. Ketika ekspedisi Rasulullah tiba di Madinah dengan membawa barang rampasan, pada malam harinya Abu al-'Ash bin ar-Rabi' tiba di Madinah. Ia masuk ke rumah Zainab binti Rasulullah kemudian ia meminta perlindungan darinya dan Zainab pun memberi perlindungan padanya. Abu al-'Ash bin ar-Rabi' pergi ke Madinah untuk mengambil kembali hartanya.1
Ketika Rasulullah keluar untuk menunaikan shalat Shubuh, sebagaimana dituturkan kepadaku oleh Yazid bin Ruman, beliau bertakbir, para sahabat bertakbir dan tiba-tiba Zainab berteriak keras dari shaf wanita: "Hai manusia, sesungguhnya aku telah memberi perlindungan kepada Abu al-'Ash." Setelah Rasulullah selesai menunaikan shalat, beliau menemui sahabat-sahabatnya dan bersabda: "Wahai manusia, apakah kalian mendengar apa yang aku dengar?" Para sahabat menjawab: "Ya, kami telah mendengar apa yang engkau dengar." Rasulullah bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, aku tidak mengetahui sedikit pun tentang hal ini hingga aku mendengar apa yang kalian dengar. Sesungguhnya kaum Muslimin harus memberi perlindungan kepada orang yang paling lemah di antara mereka." Kemudian Rasulullah pulang hingga beliau menemui putrinya, dan berkata: "Wahai putriku, muliakan dia dan jangan sekali-kali dia mendekatimu, karena engkau tidak halal baginya!"
'Abdullah bin Abu Bakr berkata kepadaku bahwa Rasulullah pergi ke ekspedisi yang merampas harta Abu al-'Ash bin ar-Rabi', dan bersabda kepada mereka: "Sesungguhnya orang ini termasuk golongan kita sebagaimana yang kalian ketahui, dan kalian telah merampas hartanya. Jika kalian berbuat baik dan mengembalikan hartanya itu kepadanya, maka hal ini sangat aku kehendaki. Namun jika kalian tidak ingin melakukan itu, maka harta rampasan tersebut adalah harta yang diberikan Allah kepada kalian." Para sahabat menjawab: "Kami akan mengembalikan harta itu kepadanya, wahai Rasulullah." Maka para sahabat pun mengembalikan harta Abu al-'Ash bin ar-Rabi', hingga salah seorang dari mereka mengembalikan timbanya, yang lainnya datang mengembalikan kirbahnya, yang lain mengembalikan tempat airnya yang terbuat dari kulit, bahkan yang lain lagi mengembalikan kayu kecil untuk mengangkat karung. Mereka mengembalikan semua harta Abu al-'Ash bin ar-Rabi' tanpa terkecuali.1
Kemudian Abu al-'Ash bin ar-Rabi' membawa pulang harta tersebut ke Makkah, lalu mengembalikan seluruh harta itu kepada para pemiliknya yaitu orang-orang yang menitipkan barang dagangan padanya. Kemudian, Abu al-'Ash bin ar-Rabi' berkata: "Wahai orang-orang Quraisy, masih adakah di antara kalian yang belum menerima hartanya?" Orang-orang Quraisy menjawab: "Tidak ada! Kami telah menerima harta kami seluruhnya. Semoga Allah memberi balasan yang baik kepadamu. Kami mendapatimu selalu menetapi janji dan engkau adalah seorang yang mulia." Abu al-'Ash bin ar-Rabi' berkata: "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah, tidak ada yang menghalangiku masuk Islam di tempat Muhammad, kecuali karena rasa takutku bahwa kalian akan mengira aku memakan harta kalian. Setelah Allah mengembalikan harta kalian kepada kalian, dan aku telah membagi-bagikannya, maka kini aku nyatakan diriku masuk Islam." Setelah itu, Abu al-'Ash bin ar-Rabi' keluar dari Makkah hingga tiba di Madinah.
Rasulullah menyatukan kembali Abu al-'Ash bin ar-Rabi' dengan Zainab setelah mereka berpisah selama enam tahun.61
Abu 'Ubaidah berkata kepadaku bahwa ketika Abu al-'Ash bin ar-Rabi' pulang dari Syam dengan membawa harta orang-orang musyrikin, dikatakan kepadanya: "Apakah engkau masuk Islam dan mengambil harta milik orang-orang musyrikin?" Abu al-'Ash bin ar-Rabi' menjawab: "Sungguh buruk bagiku, bila aku mengawali keislamanku dengan berkhianat."2
'Abdul Warits bin Sa'id at-Tanuri berkata kepadaku dari Daud bin Abu Hindun dari 'Amir asy-Sya'bi tentang hadits yang sama dengan hadits Abu 'Ubaidah dari Abu al-'Ash.262
- Tawanan yang dibebaskan tanpa tebusan
Al-Muthalib, Shaifi, Abu 'Azzah, dan jumlah tebusan
Ibnu Ishaq menyebut sebagian tawanan yang dibebaskan tanpa tebusan: Abu al-'Ash bin ar-Rabi' (setelah Zainab mengirim tebusan), al-Muthalib bin Hanthab (ditawan Khalid bin Zaid, yaitu Abu Ayyub al-Anshari), Shaifi bin Abu Rifa'ah (yang kemudian tidak menepati janji dan disindir Hassan bin Tsabit), dan Abu 'Azzah 'Amr bin 'Abdullah, yang miskin dengan banyak anak perempuan dan berjanji tidak membantu siapa pun memerangi beliau. Menurut Ibnu Hisyam, tebusan orang musyrik antara 1.000 hingga 4.000 dirham per laki-laki, kecuali yang tidak punya apa-apa, yang dibebaskan tanpa tebusan.
Baca selengkapnya
Di antara tawanan yang dibebaskan tanpa uang tebusan yang nama-namanya disebutkan kepada kami adalah sebagai berikut:1
Dari Bani 'Abdu Syams bin 'Abdu Manaf ialah Abu al-'Ash bin ar-Rabi' bin 'Abdul 'Uzza bin 'Abdu Syams bin 'Abdu Manaf. Ia dibebaskan oleh Rasulullah setelah Zainab binti Rasulullah mengutus orang untuk menebusnya.
Dari Bani Makhzum bin Yaqadzah adalah: al-Muthalib bin Hanthab bin al-Harits bin 'Ubaid bin 'Umar bin Makhzum. Ia ditawan di Bani al-Harits. Kemudian mereka membebaskannya, dan ia menyusul kaumnya.
Al-Muthalib bin Hanthab ditawan oleh Khalid bin Zaid yang tidak lain adalah Abu Ayyub al-Anshari, saudara Bani an-Najjar.2
Shaifi bin Abu Rifa'ah bin 'Aidz bin 'Abdullah bin 'Umar bin Makdzum. Selama dia ditawan, ia dibiarkan bebas namun tetap dalam pengawasan para sahabat. Ketika tidak ada orang yang menebus Shaifi bin Abu Rifa'ah, para sahabat membuat perjanjian dengannya agar ia mengirim orang untuk menebus dirinya. Lalu para sahabat membebaskannya, namun ia tidak memberikan apa-apa pada mereka. Tentang hal tersebut, Hassan bin Tsabit berkata:
Shaifi tidak menetapi amanahnya
Ia laksana tengkuk serigala yang kelelahan di sebuah sumber air
Abu 'Azzah 'Amr bin 'Abdullah bin 'Utsman bin Uhaib bin Hudzafah bin Jumah. Ia seorang miskin yang mempunyai banyak anak perempuan. Ia berkata kepada Rasulullah: "Wahai Rasulullah, engkau telah mengetahui kalau aku tidak mempunyai uang, seorang miskin, dan mempunyai tanggungan anak-anak perempuan yang banyak. Oleh karena itu, bebaskanlah diriku!" Rasulullah membebaskannya, dan membuat perjanjian dengannya agar ia tidak membantu siapa pun untuk memerangi beliau. Tentang hal ini, Abu 'Azzah berkata memuji Rasulullah dan menyebutkan keutamaan beliau di tengah kaumnya:
Siapakah yang bisa menyampaikan pesanku kepada Rasul Muhammad?
Bahwa engkau adalah benar dan seorang raja yang terpuji
Engkau lelaki yang mengajak kepada kebenaran dan petunjuk
Engkau saksi dari Allah Yang Mahaagung
Engkau orang yang memperoleh kedudukan tinggi di kalangan kami
Dalam derajat yang mudah dan tinggi Barangsiapa yang engkau perangi, ia tentara yang sengsara
Barangsiapa yang engkau berdamai dengannya, ia orang yang bahagia
Namun, bila disebut Badar dan para pelaku Perang Badar
Kembali rasa sedih dan duka menyelinap dalam dadaku
Jumlah tebusan orang-orang musyrikin ketika itu ialah empat ribu hingga seribu dirham per satu tawanan lelaki, kecuali tawanan yang tidak mempunyai apa-apa, maka Rasulullah membebaskannya tanpa uang tebusan.263
- 'Umair bin Wahb masuk Islam
Rencana di dekat Hijr, pedang yang diracun, dan syahadat
Beberapa waktu setelah Badar, 'Umair bin Wahb al-Jumahi, yang anaknya ditawan kaum Muslimin, berbincang dengan Shafwan bin Umayyah di dekat Hijr. Shafwan menanggung utang dan keluarga 'Umair bila ia pergi membunuh beliau; 'Umair mengasah pedangnya, memberinya racun, lalu berangkat ke Madinah. 'Umar melihatnya di pintu masjid dan membawanya menghadap beliau dengan tali busur pedang di lehernya. Beliau menyebutkan percakapan rahasia 'Umair dan Shafwan; 'Umair bersyahadat. Ia kembali ke Makkah mengajak orang kepada Islam, sementara Shafwan bersumpah tidak berbicara lagi dengannya.
Baca selengkapnya
Setelah orang-orang Quraisy mengalami kekalahan telak di Perang Badar, 'Umair bin Wahb al-Jumahi duduk berdua dengan Shafwan bin Umayyah di dekat Hijr. 'Umair bin Wahb adalah salah satu setan Quraisy, termasuk orang yang menyakiti Rasulullah dan sahabat-sahabatnya, serta para sahabat diberondong kesusahan darinya ketika mereka tinggal di Makkah. Anak 'Umair bin Wahb yang bernama Wahb bin 'Umair termasuk dalam salah satu tawanan kaum Muslimin.64
Wahb bin 'Umair ditawan Rifa'ah bin Rafi', salah seorang dari Bani Zuraiq.2
'Umair bin Wahb teringat akan orang-orang Quraisy yang tewas dan menjadi penghuni sumur di Badar dan apa yang menimpa mereka dari kekalahan. Shafwan bin Umayyah berkata: "Demi Allah, tidak ada kebaikan dalam hidup ini setelah mereka tiada." 'Umair bin Wahb berkata kepada Shafwan bin Umayyah: "Demi Allah, engkau berkata benar. Demi Allah, bila aku tidak mempunyai utang yang harus aku bayar, dan tidak mempunyai beban keluarga yang membuatku takut jika aku tinggalkan mereka menjadi miskin, niscaya aku akan pergi kepada Muhammad kemudian aku bunuh dia. Karena sesungguhnya aku memiliki banyak alasan untuk itu. Anakku berada di tangan mereka sebagai tawanan perang."65
Shafwan bin Umayyah melihat ada sebuah kesempatan pada ucapan 'Umair bin Wahb tersebut, maka ia gunakan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya kemudian ia berkata: "Utangmu aku yang akan membayarnya hingga lunas. Dan beban keluargamu menjadi bebanku dan aku akan membantu mereka sepanjang hidup mereka. Tidak ada sesuatu yang bisa mencegahku dan menjadikanku lemah untuk mengurusi mereka." 'Umair bin Wahb berkata kepada Shafwan bin Umayyah: "Rahasiakan kesepakatan kita ini dari orang lain." Shafwan bin Umayyah menjawab: "Ya!"
Lalu 'Umair bin Wahb meminta salah seorang dari keluarganya mengambilkan pedangnya, ia pun mengasahnya dan memberinya racun kemudian dia berangkat menuju Madinah. Saat itu 'Umar bin al-Khaththab berada di tengah kumpulan beberapa sahabat yang sedang memperbincangkan Perang Badar, kemuliaan yang Allah berikan kepada mereka, dan tentang musuh yang Allah perlihatkan kepada mereka.
Tiba-tiba 'Umar bin al-Khaththab melihat 'Umair bin Wahb datang dengan menghunus pedang kemudian berhenti dan berdiri di ambang pintu masjid. 'Umar bin al-Khaththab berkata: "Inilah dia anjing dan musuh Allah, 'Umair bin Wahb. Demi Allah, ia tidak datang ke sini kecuali dengan maksud jahat. Dialah yang menghasut orang-orang untuk berbuat jahat terhadap kita, dan memberitahu akan jumlah kita di Perang Badar kepada orang-orang Quraisy." 'Umar bin al-Khaththab masuk menemui Rasulullah dan berkata kepada beliau: "Wahai Nabi Allah, inilah musuh Allah 'Umair bin Wahb datang dengan menghunus pedangnya." Rasulullah bersabda: "Perintahkan dia masuk menemuiku!" 'Umar bin al-Khaththab pergi sambil membawa tali busur pedangnya lalu mengalungkannya ke leher 'Umair bin Wahb. 'Umar bin al-Khaththab berkata kepada beberapa sahabat dari kaum Anshar: "Masuklah kalian kepada Rasulullah dan duduklah di depan beliau. Hati-hatilah kalian terhadap orang jahat ini, karena sesungguhnya orang ini tidak bisa dipercaya." Kemudian 'Umar bin al-Khaththab masuk ke tempat Rasulullah dengan membawa 'Umair bin Wahab.
Ketika Rasulullah melihat 'Umair bin Wahb, dan 'Umar bin al-Khaththab memanggul pedangnya. Rasulullah bersabda: "Wahai 'Umar, turunkan pedangmu. Hai 'Umair mendekatlah kepadaku!" 'Umair bin Wahb pun mendekat kepada Rasulullah, kemudian 'Umair bin Wahb berkata: "'An'imuu shahahan (Selamat Pagi) ini adalah ucapan salam pada zaman Jahiliyah." Rasulullah bersabda: "Wahai 'Umair, sesungguhnya Allah telah memuliakan kami dengan ucapan salam yang lebih baik daripada salammu. Yaitu ucapan salam para penghuni surga." 'Umair bin Wahb berkata: "Demi Allah, wahai Muhammad, sesungguhnya aku orang baru dalam hal tersebut." Rasulullah bersabda kepada 'Umair bin Wahb: "Wahai 'Umair, apa yang membuatmu datang kemari?" 'Umair bin Wahb menjawab: "Aku datang kepada kalian demi tawanan yang ada di tangan kalian. Berbuat baiklah kepadanya." Rasulullah bersabda: "Lalu mengapa mesti ada pedang terhunus di atas pundakmu?" 'Umair bin Wahb menjawab: "Semoga Allah menjelek-jelekkan pedang ini di antara pedang lainnya. Apakah pedang ini bisa memberikan suatu manfaat padamu?" Rasulullah bersabda kepada 'Umair bin Wahb: "Katakan sejujurnya kepadaku kenapa engkau datang ke mari?" 'Umair bin Wahb menjawab: "Aku datang ke mari hanya demi tujuan tersebut." Rasulullah berkata: "Tidak! Engkau telah duduk bersama Shafwan bin Umayyah di dekat Hijr, lalu kalian berdua membahas tentang orang-orang Quraisy yang tewas di Perang Badar dan menjadi penghuni sumur, lalu engkau berkata: 'Seandainya aku tidak mempunyai utang yang harus aku lunasi, dan tanggungan anak-anak, pasti aku pergi ke Madinah kemudian aku bunuh Muhammad.' Lalu Shafwan bin Umayyah menanggung utangmu, dan anak-anak tanggunganmu dan sebagai gantinya engkau membunuhku untuknya. Hanya saja Allah menghalangimu."
'Umair bin Wahb berkata: "Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah. Wahai Rasulullah, dulu kami mendustakan berita langit yang engkau bawa kepada kami, dan yang diturunkan kepadamu dari wahyu. Dan tidak ada satu pun yang tahu tentang rencana pembunuhan ini kecuali aku dan Shafwan bin Umayyah. Demi Allah. Aku tahu bahwa tidak ada yang bisa memberitahukan rencana ini kepadamu kecuali Allah. Segala puji bagi Allah yang telah memberiku hidayah kepada Islam, dan menuntunku ke jalan ini." Setelah itu, 'Umair bin Wahb bersaksi dengan kesaksian yang benar. Rasulullah bersabda kepada para sahabatnya: "Ajarilah saudara kalian ini tentang masalah-masalah agamanya, bacakan Al-Qur'an kepadanya, dan bebaskan tawanannya!" Para sahabat melaksanakan perintah Rasulullah.
'Umair bin Wahb berkata: "Wahai Rasulullah, dulu aku berusaha keras untuk memadamkan cahaya Allah, dan amat kejam terhadap orang yang memeluk agama-Nya. Kini izinkanlah aku untuk kembali pulang ke Makkah, lalu aku ajak orang-orang Quraisy kepada Allah, Rasul-Nya, dan kepada Islam. Mudah-mudahan Allah memberi hidayah kepada mereka. Jika tidak, aku siksa mereka karena agama mereka seperti halnya dulu aku menyiksa sahabat-sahabatmu karena agama mereka." Rasulullah mengizinkan 'Umair bin Wahb pulang ke Makkah, dan ia pun pulang ke Makkah.
Ketika 'Umair bin Wahb berangkat ke Madinah, Shafwan bin Umayyah berkata kepada orang-orang Quraisy: "Bergembiralah kalian dengan kejadian yang akan datang kepada kalian pada hari-hari di mana kalian dibuat lupa akan peristiwa Perang Badar." Shafwan bin Umayyah senantiasa menanyakan kabar tentang 'Umair bin Wahb kepada setiap musafir, hingga suatu saat datanglah salah seorang musafir, lalu musafir tersebut menjelaskan kepadanya tentang keislaman 'Umair bin Wahb. Maka Shafwan bin Umayyah bersumpah ia tidak akan berbicara apa pun dengan 'Umair bin Wahb dan tidak memberikan apa pun kepadanya untuk selama-lamanya.1
Tatkala 'Umair bin Wahb telah tiba di Makkah, ia tinggal di sana untuk mengajak manusia kepada Islam, dan menyiksa siapa saja yang menentangnya dengan siksaan yang keras sehingga banyak yang masuk Islam berkat dakwahnya.166
- Iblis di Badar
Ayat al-Anfal tentang Iblis yang berlepas diri
Seseorang (disebut Ibnu Ishaq: 'Umair bin Wahb atau al-Harits bin Hisyam) melihat Iblis yang mundur pada Perang Badar; Iblis berkata, "Kemana kau pergi wahai Suraqah?" lalu turun ke bumi dan lenyap. Terkait itu turun QS al-Anfal ayat 48. Ibnu Ishaq menjelaskan ayat itu sebagai tipu daya Iblis yang menyerupai Suraqah bin Malik bin Ju'syum ketika Quraisy teringat perang dengan Bani Bakr. Iblis melihat para malaikat yang tidak terlihat oleh kaum musyrikin, dan berlepas diri.
Baca selengkapnya
Dikatakan kepadaku bahwa salah seorang dari 'Umair bin Wahb atau al-Harits bin Hisyam melihat iblis tatkala iblis itu mundur pada saat Perang Badar. Iblis tersebut berkata: "Kemana kau pergi wahai Suraqah?" Kemudian Iblis turun ke bumi dan lenyap pergi. Mengenai hal ini, Allah menurunkan ayat:1
Dan ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: "Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindung" (QS. al-Anfal: 48).
Pada ayat di atas, Allah menjelaskan tentang tipu daya (istidraj) iblis kepada orang-orang musyrikin Quraisy, dan penyerupaan dia menjadi seperti Suraqah bin Malik bin Ju'syum ketika mereka ingat perang yang terjadi antara mereka melawan Bani Bakr bin 'Abdu Manat bin Kinanah. Allah Ta'ala berfirman:
Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan) (QS. al-Anfal: 48).
Yakni, musuh Allah iblis melihat tentara-tentara Allah dari para malaikat yang dengannya Allah menolong Rasul-Nya dan kaum Muslimin dalam menghadapi musuh-musuh Allah. Allah berfirman:
setan itu balik ke belakang seraya berkata: "Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu; sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat" (QS. al-Anfal: 48).
Musuh Allah iblis itu berkata benar di mana ia bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat orang-orang musyrikin Quraisy. Iblis berkata:
sesungguhnya saya takut kepada Allah. Dan Allah sangat keras siksa-Nya (QS. al-Anfal: 48).
Disebutkan kepadaku bahwa orang-orang Quraisy melihat iblis itu di setiap tempat dalam rupa seperti Suraqah bin Malik. Oleh sebab itulah mereka mempercayainya. Tatkala Perang Badar berlangsung dan pada saat kedua belah pihak sudah berhadap-hadapan, iblis balik ke belakang, lalu meninggalkan mereka setelah berhasil membujuk mereka dan menyerahkan mereka kepada kaum Muslimin.167
- Pemberi makan jamaah haji dan kuda-kuda
Daftar dari Quraisy, nama kuda kaum Muslimin, dan jumlah kuda Quraisy
Ibnu Ishaq mendaftar para pemberi makan jamaah haji dari Quraisy menurut kabilah: al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib (Bani Hasyim), 'Utbah bin Rabi'ah (Bani 'Abdu Syams), al-Harits bin 'Amir dan Thu'aimah bin al-Harits secara bergantian (Bani Naufal), Abu al-Bakhtari dan Hakim bin Hizam bergantian (Bani Asad), an-Nadhr bin al-Harits (Bani 'Abduddar), Abu Jahl (Bani Makhzum), Umayyah bin Khalaf (Bani Jumah), Nubaih dan Munabbih bergantian (Bani Sahm), dan Suhail bin 'Amr (Bani 'Amir bin Luay). Ibnu Hisyam menyebut tiga kuda kaum Muslimin dengan nama pemiliknya, dan menyebut kuda kaum musyrikin berjumlah seratus ekor.
Baca selengkapnya
Para pemberi makan jamaah haji dari orang-orang Quraisy, kemudian dari Bani Hasyim bin 'Abdu Manaf adalah al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib bin Hasyim.1
Dari Bani 'Abdu Syams bin 'Abdu Manaf adalah 'Utbah bin Rabi'ah bin 'Abdu Syams.
Dari Bani Naufal bin 'Abdu Manaf adalah al-Harits bin 'Amir bin Naufal dan Thu'aimah bin al-Harits bin Naufal, mereka berdua saling bergantian.
Dari Bani Asad bin 'Abdul 'Uzza adalah Abu al-Bakhtari bin Hisyam bin al-Harits bin Asad dan Hakim bin Hizam bin Khuwailid bin Asad, mereka berdua saling bergantian.
Dari Bani 'Abduddar bin Qushay adalah an-Nadhr bin al-Harits bin Kaladah bin 'Alqamah bin 'Abdu Manaf bin 'Abduddar.
Ada juga yang mengatakan bahwa an-Nadhr adalah anak al-Harits bin 'Alqamah bin 'Abdu Manaf bin 'Abduddar.2
Dari Bani Makhzum bin Yaqadzah adalah Abu Jahl bin Hisyam bin al-Mughirah bin 'Abdullah bin 'Umar bin Makhzum.1
Dari Bani Jumah adalah Umayyah bin Khalaf bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah.
Dari Bani Sahm bin 'Amr adalah Nubaih dan Munabbih. Keduanya anak al-Hajjaj bin 'Amir bin Hudzaifah bin Sa'd bin Sahm, dan mereka berdua saling bergantian.
Dari Bani 'Amir bin Luay adalah Suhail bin 'Amr bin 'Abdu Syams bin 'Abdu Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisl bin 'Amir.
Salah seorang ulama berkata kepadaku bahwa kuda-kuda kaum Muslimin di Perang Badar ialah sebagai berikut:2
Kuda milik Martsad bin Abu Martsad al-Ghanawi yang bernama as-Sabal.
Kuda milik al-Miqdad bin 'Amr bin al-Bahrani yang bernama Ba'zajah, ada juga menamakannya Sabhah.
Kuda milik az-Zubair bin al-'Awwam yang bernama al-Ya'sub.
- Surat al-Anfal (1)
QS al-Anfal: 1 dan 5-16
Setelah Badar selesai, Allah menurunkan surat al-Anfal tentang perang itu. Ayat-ayat awal membahas perselisihan rampasan perang, keberangkatan para sahabat, doa mereka, dan bantuan malaikat.
Baca selengkapnya
Ibnu Ishaq: Setelah permasalahan Perang Badar selesai, Allah Yang Mahatinggi menurunkan surat al-Anfal secara keseluruhan tentang Perang Badar. Di antara ayat di surat al-Anfal yang turun adalah tentang perselisihan kaum Muslimin tentang rampasan perang ketika mereka memperselisihkannya.
Allah berfirman:
Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: "Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman." (QS. al-Anfal: 1), Apabila 'Ubadah bin ash-Shamit --sebagaimana dituturkan kepadaku-- ditanya mengenai surat al-Anfal, ia berkata: Surat al-Anfal ini diturunkan kepada kami, para mujahidin Perang Badar pada saat kami berselisih pendapat tentang harta rampasan perang di Perang Badar, lalu Allah mencabut rampasan perang tersebut dari tangan kami --tatkala akhlak kami rusak--, dan Allah mengembalikannya kepada Rasul-Nya, yang kemudian membagi-bagikannya kepada kami secara merata. Pada hal demikian itu terdapat ketakwaan dan ketaatan kepada Allah, ketaatan kepada RasulNya, dan perbaikan hubungan di antara kami.
Setelah itu Allah Yang Mahatinggi menerangkan tentang para sahabat, dan perjalanan mereka bersama beliau tatkala mereka mengetahui bahwa orang-orang Quraisy berangkat kepada mereka. Tadinya kaum Muslimin hanyalah menginginkan kafilah dagang Abu Sufyan karena mereka ingin mendapatkan harta rampasan, lalu Allah Ta'ala berfirman: Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya, mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu). (QS. al-Anfal: 5-6).
Yakni, mereka tidak menghendaki berperang dengan orang-orang Quraisy, dan tidak menginginkan keberangkatan orang-orang Quraisy pada saat berita tentang orang-orang Quraisy disampaikan kepada mereka.
Allah Ta'ala berfirman:
Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untukmu (QS. al-Anfal: 7).
Yakni, para sahabat menginginkan rampasan perang bukan perang itu sendiri. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir, (QS. al-Anfal: 7).
Yakni, menghancurkan orang-orang kafir melalui pertempuran yang membinasakan pemuka-pemuka Quraisy, dan pemimpin-pemimpin mereka di Perang Badar.
Kemudian Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:
(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu (QS. al-Anfal: 9).
Yakni, takala mereka berdoa setelah mengetahui begitu banyaknya jumlah musuh, dan sedikitnya jumlah mereka.
Setelah itu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
lalu diperkenankan-Nya bagimu (QS. al-Anfal: 9).
Yakni, berkat doa beliau dan doa kalian.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut" (QS. al-Anfal: 9).
Setelah itu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentraman daripada-Nya (QS. al-Anfal: 11).
Yakni, tatkala Aku membuat kalian mengantuk, kemudian kalian tidur tanpa ada rasa takut sedikit pun.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit (QS. al-Anfal: 11).
Yakni, hujan yang turun pada mereka di malam hari dimana dengan hujan tadi Allah menjadikan orang-orang musyrikin tidak mampu mendahului kaum muslimin tiba di air Badar, dan Allah memudahkan perjalanan kaum Muslimin ke air Badar.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
untuk menyucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan setan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki (mu). (QS. al-Anfal: 11).
Yakni, untuk menyingkirkan dari kalian keragu-raguan setan. Allah menjadikan musuh mereka takut kepada mereka, dan menjadikan bumi keras dan padat bagi mereka sehingga mereka dapat mendahului musuh tiba lebih awal dengan mudah di tempat mereka.
Lalu Allah Ta'ala berfirman:
(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman." (QS. al-Anfal: 12). Yakni, bantulah orang-orang beriman!
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Kelak akan Aku timpakan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya; dan barangsiapa menentang Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya. Itulah (hukum duniayang ditimpakan atasmu), maka rasakanlah hukuman itu. Sesungguhnya bagi orang-orang yang kafir itu ada (lagi) adzab neraka. ' (QS. al-Anfal: 12-14).
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barang siapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perangatau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahanam. Dan amat buruklah tempat kembalinya. (QS. al-Anfal: 15-16).69
- Surat al-Anfal (2)
QS al-Anfal: 17-29
Ayat-ayat ini tentang lemparan kerikil beliau, permintaan keputusan oleh Abu Jahl, perintah taat, dan ingatan akan masa kaum Muhajirin tertindas di Makkah.
Baca selengkapnya
Ayat di atas adalah dorongan Allah kepada kaum Muslimin dalam menghadapi orang-orang Quraisy, supaya mereka tidak kabur saat berhadapan dengan orang-orang Quraisy, karena Allah berjanji akan memberi kemenangan kepada mereka.
Kemudian Allah Ta'ala berfirman tentang pelemparan kerikil yang dilakukan oleh beliau dengan tangannya kepada orang-orang Quraisy ketika beliau melempar mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (QS. al-Anfal: 17).
Yakni, engkau tidak akan bisa melempar mereka jika Allah tidak memberikan pertolongan dengan lemparan tersebut, dan jika Allah tidak melemparkannya ke dada-dada musuhmu di saat Allah menjadikan kekalahan atas mereka.
Setelah itu Allah Ta'ala berfirman:
(Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. al-Anfal: 17).
Hal ini dimaksudkan agar kaum Mukminin mengetahui nikmat Allah pada mereka, yakni memberi mereka kemenangan, kendati jumlah mereka sedikit, juga agar mereka mengetahui hak Allah, lalu mereka mensyukuri nikmat-Nya pada mereka.
Lalu Allah Ta'ala berfirman:
Jika kamu (orang-orang musyrikin) mencari keputusan, maka telah datang keputusan kepadamu; (QS. al-Anfal: 19).
Yaitu ucapan Abu Jahal: Ya Allah, orang yang telah memutus tali persaudaraan, dan datang dengan sesuatu yang tidak kami ketahui, binasakan dia pada pagi ini!' Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
dan jika kamu berhenti; maka itulah yang lebih baik bagimu; (QS. al-Anfal: 19). Firman di atas ditujukan kepada orang-orang Quraisy.
Kemudian Allah Ta'ala berfirman:
dan jika kamu kembali, niscaya Kami kembali (pula); '(QS. al-Anfal: 19).
Yakni, yang sama dengan apa yang Kami timpakan kekalahan pada kalian pada Perang Badar.
Kemudian Allah Ta'ala berfirman:
dan angkatan perangmu sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sesuatu bahaya pun, biar pun dia banyak dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang beriman (QS. al-Anfal: 19).
Yakni, sesungguhnya jumlah kalian yang banyak tidak memberi guna apa pun bagi kalian, karena Aku bersama dengan kaum Mukminin, dan Aku menolong mereka dalam menghadapi siapa saja yang menentang mereka.
Lalu Allah Ta'ala berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling daripada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya) (QS. al-Anfal: 20).
Yakni, wahai orang-orang beriman, kalian jangan menentang perintah Allah, padahal kalian mendengar firman-Nya, dan mengklaim bahwa kalian berasal dari-Nya.
dan janganlah kamu menjadi sebagai orang-orang (munafik) yang berkata: "Kami mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkan. (QS. al-Anfal: 21).
Yakni, seperti orang-orang munafik yang menampakkan ketaatan kepada Allah, padahal sebenarnya mereka menyembunyikan kemaksiatan kepada-Nya.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apa pun. (QS. Al-Anfal: 22)
Yakni, orang-orang munafik yang Aku larang kalian menjadi seperti mereka., karena mereka tuli terhadap kebaikan dan bisu akan kebenaran. Mereka tidak berakal dan tidak mengetahui hukuman yang ditimpakan kepada mereka.
Kemudian Allah Ta ala berfirman:
Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. (QS. al-Anfal: 23).
Yakni, Kami pasti menembuskan ucapan mereka kepada mereka ucapan yang diucapkan mulut mereka, namun hati mereka mengingkari ucapan mereka.
Kemudian Allah Ta'ala berfirman: Dan andaikata mereka keluar bersamamu, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu). " (QS. al-Anfal: 23).
Yakni, mereka tidak memenuhi janji mereka kepada kalian.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya lah kamu akan dikumpulkan. (QS. al-Anfal: 24).
Yakni, jawablah panggilan perang di mana Allah memuliakan kalian dengannya di mana sebelumnya kalian hina, Allah menguatkan kalian dengannya dimana sebelumnya kalian lemah, dan Allah melindungi kalian dengannya dimana sebelumnya mereka mengalahkan kalian.
Lalu Allah Ta'ala berfirman:
Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (QS. al-Anfal: 26-27).
Yakni, janganlah kalian menampakkan kepada Allah kebenaran yang dengannya Allah ridha kepada kalian, lalu kalian membangkang kebenaran itu secara diam-diam, karena itu adalah kebinasaan bagi kalian, dan pengkhianatan terhadap diri kalian.
Lalu Allah berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS. al-Anfal: 29).70
- Surat al-Anfal (3)
QS al-Anfal: 30-40
Ayat 30-40 menyebut tipu daya Quraisy di Makkah, ucapan mereka tentang Al-Qur'an, dan perintah memerangi mereka sampai tidak ada fitnah.
Baca selengkapnya
Maksud Furqaan pada ayat di atas ialah lini demarkatif antara kebenaran dan kebatilan. Dengannya, Allah memenangkan hak kalian, dengannya la memadamkan kebatilan orang yang menentang kalian.
Kemudian Allah Ta'ala mengingatkan beliau tentang nikmat-Nya kepada beliau, ketika orang-orang Quraisy membikin makar, mereka mau membunuh, menahan beliau di Makkah, atau mengusirnya dari Makkah.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya. (QS. al-Anfal: 30).
Yakni, lalu Aku patahkan tipu-daya mereka dengan tipu daya-Ku yang dahsyat, sehingga Aku melepaskanmu dari mereka. Lalu Allah menyebutkan permohonan orang-orang di saat mereka berkata:
"Ya Allah, jika betul (Al-Qur'an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau". (QS. al-Anfal: 32).
Yakni, ia adalah ajaran yang dibawa Muhammad. Mereka berkata:
maka hujanilah kami dengan batu dari langit (QS. al-Anfal: 32).
Yakni, hujanilah kami dengan batu dari langit seperti Engkau menghujani kaum Luth dengan batu. Mereka berkata:
Atau datangkanlah kepada kami adzab yang pedih (QS. al-Anfal: 32).
Yakni, datangkan kepada kami sebagian adzab yang Engkau turunkan kepada umat-umat sebelum kami. Mereka berkata: "Sesungguhnya Allah tidak akan menyiksa kami, tatkala kami mohon ampunan kepada-Nya, dan Allah tidak akan menyiksa suatu kaum selama Nabi mereka masih bersama mereka, kecuali jika mereka mengusir Nabi mereka. Itulah perkataan mereka di hadapan beliau. Allah Ta'ala berfirman kepada Nabi-Nya, mengingatkannya tentang kepandiran mereka, tentang permohonan mereka untuk diri mereka, dan Allah memberi tahu beliau tentang kejelekan perbuatan mereka:
Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: "Ya Allah, jika betul (Al Qur'an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami adzab yang pedih. (QS. al-Anfal: 32).
Yakni, perkataan mereka: Kita memohon ampunan, karena Muhammad ada di tengah-tengah kita. Allah Ta'ala berfirman:
Kenapa Allah tidak mengadzab mereka.. (QS. al-Anfal: 34).
Yakni, mengapa Allah tidak akan mengadzab mereka, meskipun engkau (Muhammad) ada di tengah-tengah mereka, dan kendati mereka meminta ampunan sebagaimana yang mereka ucapkan? Allah Ta'ala berfirman:
padahal mereka menghalangi orang untuk (mendatangi) Masjidil haram.. (QS. al-Anfal: 34).
Yakni, padahal mereka menghalang-halangi orang yang beriman kepada Allah dan orang yang menyembah-Nya, yaitu engkau dan orang-orang yang mengikutimu untuk mendatangi Masjidil Haram?
Allah Ta'ala berfirman:
dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya? Orang-orang yang berhak menguasai (nya), hanyalah orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (QS. al-Anfal: 34). Yang dimaksud dengan orang-orang yang bertakwa pada ayat di atas ialah orang-orang yang mengharamkan apa yang Allah haramkan, dan menunaikan shalat di Masjidil Haram, yaitu engkau dengan orang-orang yang beriman kepadamu.
Allah Ta'ala berfirman:
shalat mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siul-siul dan tepukan tangan.. (QS. al-Anfal: 35).
Yakni, ibadah mereka yang seperti itu sama sekali tidak Allah ridhai bukan pula ibadah yang Dia wajibkan dan diperintahkan kepada mereka. Allah Ta'ala berfirman:
Maka rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu. '(QS. al-Anfal: 35).
Yakni, rasakanlah pembinasaan yang Allah jatuhkan kepada kalian di Perang Badar.
"Jeda jarak antara turunnya ayat, 'Hai orang yang berselimut (Muhammad), (QS. al-Muzzammil: 1) dengan ayat, 'Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar. Karena sesungguhnya pada sisi Kami ada belenggu-belenggu yang berat dan neraka yang bernyala-nyala, dan makanan yang menyumbat di kerongkongan dan adzab yang pedih. ' (QS. al-Muzzammii: 11-13). Tidaklah lama, hingga Allah menimpakan kekalahan telak dan memalukan pada orang-orang Quraisy di Perang Badar.71
Lalu Allah Ta'ala berfirman:1
Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam neraka Jahanamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan, (QS. al-Anfal: 36).
Yang dimaksud orang-orang kafir pada ayat di atas ialah mereka yang pergi kepada Abu Sufyan bin Harb, dan kepada orang-orang kaya Quraisy di kafilah dagang Abu Sufyan bin Harb. Mereka meminta Abu Sufyan bin Harb, dan orang-orang kaya Quraisy untuk mendukung mereka dalam memerangi beliau, lalu Abu Sufyan bin Harb dan orang-orang kaya Quraisy mengabulkan permintaan mereka.
Allah Ta'ala berfirman:
Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: "Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi (QS. al-Anfal: 38).
Yakni mereka kembali memerangimu, wahai Muhammad.
Allah berfirman:
sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu (QS. al-Anfal: 38). Orang-orang terdahulu yang dimaksud pada ayat di atas ialah orang-orang yang telah terbunuh di Perang Badar dari mereka.
Allah Ta'ala berfirman:
Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. (QS. al-Anfal: 39).
Yakni, perangilah mereka agar tidak lagi ada orang Mukmin yang dipaksa keluar dari agamanya dan tauhid hanya untuk Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, dan semua tuhan-tuhan tandingan selain Allah dihilangkan.
Allah berfirman:
Dan jika mereka berpaling (QS. al-Anfal: 40).
Yakni, apabila mereka berpaling dari perintahmu dan memilih kekafiran:
maka ketahuilah bahwasanya Allah Pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong (QS. al-Anfal: 40).72
- Surat al-Anfal (4)
QS al-Anfal: 41-48
Ayat 41-48 menyebut pembagian seperlima rampasan perang, keadaan kedua pasukan di lembah Badar, perintah berteguh hati serta taat, dan Iblis yang berlepas diri.
Baca selengkapnya
Yakni, ketahuilah bahwa Allah adalah pelindung yang memuliakan dan menolong kalian di Perang Badar atas mereka, kendati jumlah mereka jauh lebih banyak, sementara jumlah kalian jauh lebih sedikit.
Kemudian Allah memaparkan kepada kaum Muslimin tentang pembagian harta rampasan, dan hukumnya setelah Allah menghalalkannya bagi mereka. Allah Ta'ala berfirman: Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnusabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. al-Anfal: 41).
Hari Furqaan yang dimaksud pada ayat di atas adalah hari di mana pada hari tersebut Aku memisahkan antara kebenaran dengan kebatilan dengan kekuatan-Ku, yaitu hari pertemuan dua kubu; kubu dari kalian dan kubu mereka. Lalu Allah Ta'ala berfirman:
(Yaitu di hari) ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh sedang kafilah itu berada di bawah kamu.. (QS. al-Anfal: 42).
Maksud kafilah pada ayat di atas adalah kafilah dagang Abu Sufyan bin Harb di mana kalian keluar dari Madinah untuk merampasnya, dan mereka keluar untuk melindungi kafilah dagang tersebut tanpa ada kesepakatan sebelumnya baik dengan mereka ataupun dengan kalian.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran), pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu... (QS. al-Anfal: 42).
Yakni apabila perang itu dilakukan melalui kesepakatan antara kalian dengan mereka, lalu kalian tahu jumlah mereka yang banyak sementara jumlah kalian sedikit, pasti kalian tidak akan berani berperang dengan mereka.
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan (QS. al-Anfal: 42).
Yakni, agar Allah melaksanakan apa yang Dia kehendaki sesuai dengan ketentuan-Nya, yakni memuliakan Islam dan umatnya serta menghinakan kekafiran dan orang-orang kafir tanpa adanya kontribusi dari kalian. Lalu Allah melaksanakan apa yang Dia kehendaki dengan kebaikan-Nya.
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS. al-Anfal: 42).
Yakni, supaya kafirlah orang yang kafir itu setelah dipaparkan pada mereka Hujjah dari ayat-ayat Allah dan ibrah-Nya, dan berimanlah orang yang beriman kepada ayat-ayat Allah dan ibrah-Nya.
Setelah itu Allah menyebutkan kebaikan Allah kepada beliau dan rencana-Nya untuk beliau.
Allah Ta'ala berfirman.
(yaitu) ketika Allah menampakkan mereka kepadamu di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka kepada kamu (berjumlah) banyak tentu saja kamu menjadi gentar dan tentu saja kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu, akan tetapi Allah telah menyelamatkan kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati (QS. al-Anfal: 43). Apa yang diperlihatkan Allah dalam mimpi beliau adalah salah satu nikmat-Nya kepada kaum Muslimin. Dengan nikmat tersebut, Allah mendorong mereka untuk menghadapi musuhnya dan Allah cabut ketakutan dari mereka karena kelemahan mereka, karena Allah mengetahui apa saja yang ada pada diri mereka.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta ala berfirman Dan ketika Allah menampakkan mereka kepada kamu sekalian, ketika kamu berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit pada penglihatan matamu dan kamu ditampakkan-Nya berjumlah sedikit pada penglihatan mata mereka, karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan. Dan hanya kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan. (QS. al-Anfal: 44).
Yakni, supaya Allah mempertemukan di antara kedua kubu tersebut dalam sebuah peperangan sebagai tempat balas dendam terhadap orang-orang yang Allah kehendaki balas dendam terhadapnya, dan memberi nikmat kepada orang-orang yang Allah kehendaki menyempurnakan nikmat-Nya kepada mereka, yaitu wali-wali-Nya.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala menasihati, mengajari kaum muslimin, dan menjelaskan kepada mereka tentang sikap yang seyogyaya mereka laksanakan dalam perang mereka. Allah Ta'ala berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh),.... (QS. al-Anfal: 45).
Yakni, apabila kalian memerangi mereka di jalan Allah. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung (QS. al-Anfal: 45).
Dan demi Dia yang kalian mengorbankan nyawa kalian, dan menepati janji baiat yang pernah kalian berikan kepada-Nya. Kemudian Allah Ta'ala berfirman:
Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar.... (QS. al-Anfal 46).
Yakni, janganlah kalian saling silang sengketa antara sesama kalian yang hanya akan mengakibatkan persatuan kalian menjadi tercabik-cabik.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Dan hilang kekuatanmu... (QS. al-Anfal: 46).
Yakni, hilang wibawa kalian.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (QS. al-Anfal: 46).
Yakni, Aku bersama kalian jika kalian melaksanakan perintah-Ku tersebut.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud ria kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan. (QS. al-Anfal: 47).
Yakni, janganlah kalian menjadi laksana Abu Jahal beserta teman-temannya yang berkata: 'Kita tidak akan pulang hingga tiba di Badar. Di sanalah kita sembelih unta, kita adakan pesta minuman keras, para pelayan wanita bernyanyi untuk kita sementara orang-orang Arab mendengar siapa kita yang sebenarnya. ' Yakni, janganlah terjadi riya' dan sum'ah dalam urusan kalian. Jangan pula mempunyai sifat dengki. Namun niatkan itu semata-mata karena Allah, dan mengharap pertolongan-Nya kepada agama kalian dan membela Nabi kalian. Janganlah beramal, kecuali karena tujuan tersebut, janganlah bertujuan selain tujuan tersebut.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Dan ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: "Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu." Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata: "Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu; sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah." Dan Allah sangat keras siksa-Nya. (QS. al-Anfal: 48).73
- Surat al-Anfal (5)
QS al-Anfal: 57-75
Ayat 57-75 menyebut perintah menyiapkan kekuatan, perdamaian, ayat tentang para tawanan, dan hubungan wali di antara kaum Mukmin.
Baca selengkapnya
Sebelum ini tafsir ayat ini telah kita bahas.2
Lalu Allah sebutkan tentang orang-orang kafir, dan apa yang mereka jumpai pada saat mereka meninggal dunia. Allah menyifati mereka dengan sifat mereka. Allah jelaskan tentang mereka kepada Nabi-Nya hingga hingga pada firman-Nya:
Jika kamu menemui mereka dalam peperangan, maka cerai beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka dengan (menumpas) mereka, supaya mereka mengambil pelajaran. (QS. al-Anfal: 57).
Yakni, habisilah mereka dari belakang supaya mereka bisa berpikir.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan) (QS. al-Anfal: 60).
Yakni, ganjaran kalian di sisi Allah Ta'ala dan menyegerakan penggantinya di dunia. Kemudian Allah Ta'ala berfirman:
Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya.... (QS. al-Anfal: 61).
Yakni, jika mereka mengajakmu berishlah untuk Islam atas Islam maka berishlahlah dengan Islam itu.
Kemudian Allah Ta'ala berfirman:
Dan bertawakkallah engkau kepada Allah (QS. al-Anfal: 61) sesungguhnyaa Allah memberi jaminan padamu..
Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. al-Anfal: 61).
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu) (QS. al-Anfal: 62).
Yakni, Allah berada di belakangmu mendukung itu semua.
Lalu Allah Ta'ala berfirman:
Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mu'min, (QS. al-Anfal: 62).
Yakni, Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dimana sebelumnya engkau lemah.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). (QS. al-Anfal 63).
Yakni, Dia yang mempersatukan hati orang-orang beriman di atas petunjuk yang Engkau bawa dari Allah kepada mereka.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. al-Anfal: 63).
Yakni, Allah telah menyatukan hati mereka dengan agama-Nya, dan mengumpulkan mereka di atas agama itu.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu. Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. (QS. al-Anfal: 64-65).
Yakni, orang-orang kafir itu berperang tidak berdasarkan keikhlashan, tidak berdasarkan kebenaran, dan tidak berlandaskan atas pengetahuan baik dan buruk.
Pada saat ayat di atas turun, kaum Muslimin merasa keberatan dan mereka beranggapan bahwa dua puluh orang mukmin tidak mungkin mampu berperang melawan dua ratus orang dari kaum musyrikin, dan seratus dari mereka tidak mungkin dapat berperang melawan seribu orang musyrikin. Lalu Allah memberikan keringanan kepada mereka, dan ayat tersebut di nasakh dengan ayat berikutnya:74
Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang; dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar (QS. al-Anfal: 66).
Setelah turunnya ayat tadi maka apabila jumlah kaum Muslimin adalah setengahnya dari jumlah musuh mereka, mereka tidak boleh kabur dari musuh. Jika jumlah mereka di bawah jumlah musuh, maka tidak wajib memeranginya dan diperbolehkan menghindar dari mereka.1
Setelah itu Allah menegur beliau dalam masalah tawanan dan pengambilan rampasan perang, karena sebelumnya tidak ada seorang pun nabi yang memakan rampasan perang dari musuhnya.1
Muhammad Abu Ja'far bin 'Ali bin al-Husain berkata bahwa beliau bersabda: Aku ditolong dengan rasa takut (yang ditanamkan dalam jiwa musuh). Bumi dijadikan sebagai masjid dan suci untukku. Aku dikaruniai perkataan yang simple tapi padat. Dihalalkan bagiku rampasan perang dan sebelumnya rampasan perang tidak dihalalkan kepada seorang nabi pun. Aku diberi syafa'at. Lima perkara yang tidak pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelumku.1
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:1
Tidak patut, bagi seorang Nabi... (QS. al-Anfal: 67). Yakni, nabi sebelum kamu.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman mempunyai tawanan... (QS. al-Anfal: 67). Yakni, tawanan dari musuhnya.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi.. (QS. al-Anfal:67). Yakni, membuat musuhnya terjepit dan mengusirnya.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman Kamu menghendaki harta benda duniawi. (QS. al-Anfal: 67). Harta benda duniawi ialah harta benda dan uang tebusan para tawanan perang.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. al-Anfal: 67). Yaitu pembunuhan atas orang-orang Quraisy demi kemenangan agama yang ingin Allah tampakkan dan dengannya akhirat bisa tercapai.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil. ! (QS. al-Anfal: 68).
Sesuatu yang kalian ambil dari tawanan dan rampasan perang. Maksudnya, jika tidak telah Aku tetapkan sebelumnya, bahwa Aku tidak menghukum kalian melainkan setelah adanya larangan, pastilah Aku menghukum kalian akibat apa yang kalian perbuat. Lalu Aku menghalalkan rampasan perang kepada Muhammad dan kepada mereka sebagai rahmat dan kebaikan dari Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kemudian Allah Ta'ala Subhanahu wa berfirman: Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. al-Anfal: 69)
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu: "Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil daripadamu dan Dia akan mengampuni kamu." Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. al-Anfal: 70).
Allah memerintahkan kaum Muslimin untuk senantiasa menjalin hubungan dengan sesama Muslim lainnya, dan menjadikan kaum Muhajirin dan kaum Anshar sebagai wali-wali dalam agama dan bukan orang-orang selain mereka. Selain itu, Allah menjadikan orang-orang kafir itu sebagai pelindung bagi orang-orang kafir lainnya.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (QS. al-Anfal: 73).
Yakni, apabila orang Mukmin tidak menjadikan orang Mukmin lainnya wali-wali atas dia, bahkan sebaliknya ia menjadikan orang kafir sebagai wali baginya, kendati ia mempunyai hubungan kekerabatan dengan orang Mukmin, maka akan muncullah fitnah di muka bumi. Artinya, akan terjadi kesamaran antara kebenaran dengan kebatilan, dan akan muncl kerusakan di muka bumi, karena orang Mukmin memberikan loyalitasnya kepada orang kafir dan bukan kepada orang Mukmin.
Kemudian Allah mengembalikan hak waris kepada keluarga mereka yang beriman setelah sebelumnya mereka memberikannya kepada kaum Mujahirin dan kaum Anshar.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Dan orang-orang yang beriman sesudah itu, kemudian berhijrah dan berjihad bersamamu maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). Orang-orang yang mempunyai hubungan itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang kerabat) di dalam kitab Allah. Yakni, warisan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. al-An-faal: 75).75
- Peserta Badar: Muhajirin
Delapan puluh tiga orang menurut Ibnu Ishaq
Ibnu Ishaq menyebut jumlah kaum Muhajirin yang terjun di Badar dan yang diberi jatah rampasan serta pahala adalah 83 orang. Hitungan kami dari angka tiap kabilah yang tercetak: 12 + 16 + 2 + 3 + 2 + 8 + 5 + 5 + 14 + 5 + 1 + 5 + 5 = 83.
Baca selengkapnya
Berikut adalah nama-nama kaum Muhajirin yang ikut terjun di Perang Badar dari Quraisy, kemudian dari Bani Hasyim bin 'Abdu Manaf dan Bani al-Muthalib bin 'Abdu Manaf bin Qushay dan seterusnya. Di bawah ini kami tuliskan nama dan nama ayah, sebagaimana tercetak; silsilah panjang tiap orang tidak kami muat.1
- Bani Hasyim dan Bani al-Muthalib (12)Muhammad Rasulullah bin 'Abdullah; Hamzah bin 'Abdul Muththalib; 'Ali bin Abu Thalib; Zaid bin Haritsah; Anasah, mantan budak beliau; Abu Kabsyah, mantan budak beliau (Ibnu Hisyam: Anasah dari Habasyah, Abu Kabsyah dari Persia); Abu Martsad Kannaz bin Hishn (Ibnu Hisyam: Kannaz adalah anak Hushain); Martsad bin Abu Martsad, dua sekutu Hamzah; 'Ubaidah bin al-Harits bin al-Muthalib; ath-Thufail bin al-Harits; al-Hushain bin al-Harits; Misthah ('Auf bin Utsatsah bin 'Abbad bin al-Muthalib).
- Bani 'Abdu Syams dan sekutu (16)'Utsman bin 'Affan (tidak ikut karena menjaga istrinya, Ruqayyah binti Rasulullah, tetapi diberi satu bagian rampasan, dan beliau bersabda, "Engkau juga mendapatkan pahala"); Abu Hudzaifah bin 'Utbah bin Rabi'ah; Salim, mantan budak Hudzaifah. Sekutu dari Bani Asad bin Khuzaimah: 'Abdullah bin Jahsy; 'Ukkasyah bin Mihshan; Syuja' bin Wahb; 'Uqbah bin Wahb, saudara Syuja'; Yazid bin Ruqaisy; Abu Sinan bin Mihshan, saudara 'Ukkasyah; Sinan bin Abu Sinan; Muhriz bin Nadhlah; Rabi'ah bin Aktsam. Sekutu dari Bani Kabir bin Ghanm: Tsaqfu bin 'Amr dan dua saudaranya, Malik bin 'Amr dan Mudlij bin 'Amr (Ibnu Hisyam: Midlaj bin 'Amr), dari Bani Hajar; Abu Mukhsyi, sekutu mereka (Ibnu Hisyam: Suwaid bin Mukhsyi).
- Bani Naufal bin 'Abdu Manaf (2)'Utbah bin Ghazwan; Khabbab, mantan budak 'Utbah bin Ghazwan.
- Bani Asad bin 'Abdul 'Uzza (3)az-Zubair bin al-'Awwam; Hathib bin Abu Balta'ah (Ibnu Hisyam: Hathib dari Lakhm); Sa'd, mantan budak Hathib (Ibnu Hisyam: dari Kalb).
- Bani 'Abduddar (2)Mush'ab bin 'Umair; Shuwaibith bin Sa'd.
- Bani Zuhrah dan sekutu (8)'Abdurrahman bin 'Auf; Sa'd bin Abu Waqqash; saudaranya 'Umair bin Abu Waqqash. Sekutu: al-Miqdad bin 'Amr; 'Abdullah bin Mas'ud; Mas'ud bin Rabi'ah (dari al-Qarah, yang menurut Ibnu Hisyam adalah julukan bagi mereka, ahli melempar panah); Dzu asy-Syimalain bin 'Abdu 'Amr dari Khuza'ah (Ibnu Hisyam: dinamai demikian karena sulit hidupnya, nama aslinya 'Umair); Khabbab bin al-Arat.
- Bani Taim bin Murrah (5)Abu Bakar ash-Shiddiq ('Atiq bin 'Utsman; Ibnu Hisyam: nama asli 'Abdullah, 'Atiq adalah julukannya); Bilal bin Rabah, mantan budak Abu Bakar; 'Amir bin Fuhairah; Shuhaib bin Sinan; Thalhah bin 'Ubaidillah (berada di Syam, tiba di Madinah sesudah beliau kembali dari Badar, dan beliau memberinya satu bagian dan bersabda, "Engkau juga memperoleh pahala").
- Bani Makhzum bin Yaqadzah (5)Abu Salamah bin 'Abdul Asad; Syammas bin 'Utsman; al-Arqam bin Abu al-Arqam; 'Ammar bin Yasir; Mu'attib bin 'Auf, sekutu dari Khuza'ah.
- Bani 'Adi bin Ka'ab (14)'Umar bin al-Khaththab; Zaid bin al-Khaththab; Mihja', mantan budak 'Umar, dari Yaman, Muslim pertama yang gugur di Badar; 'Amr bin Suraqah; 'Abdullah bin Suraqah; Waqid bin 'Abdullah, sekutu; Khauli bin Abu Khauli, sekutu; Malik bin Abu Khauli, sekutu; 'Amir bin Rabi'ah, sekutu keluarga Khaththab; 'Amir bin al-Bukair, 'Aqil bin al-Bukair, Khalid bin al-Bukair, dan Iyas bin al-Bukair, sekutu; Sa'id bin Zaid bin 'Amr bin Nufail (berada di Syam, tiba sesudah beliau kembali dari Badar dan diberi satu bagian rampasan).
- Bani Jumah (5)'Utsman bin Mazh'un; as-Saib bin 'Utsman; Qudamah bin Mazh'un; 'Abdullah bin Mazh'un; Ma'mar bin al-Harits.
- Bani Sahm (1)Khunais bin Hudzafah.
- Bani 'Amir bin Luay (5)Abu Sabrah bin Abu Ruhm; 'Abdullah bin Makhramah; 'Abdullah bin Suhail bin 'Amr (berangkat bersama ayahnya, lalu menemui beliau ketika Quraisy tiba di Badar dan ikut perang bersama beliau); 'Umair bin 'Auf, mantan budak Suhail bin 'Amr; Sa'd bin Khaulah, sekutu (Ibnu Hisyam: dari Yaman).
- Bani al-Harits bin Fihr (5)Abu 'Ubaidah bin al-Jarrah ('Amir bin 'Abdullah); 'Amr bin al-Harits; Suhail bin Wahb; Shafwan bin Wahb, saudara Suhail; 'Amr bin Abu Sarh.
Jumlah seluruh kaum Muhajirin yang ikut terjun pada Perang Badar dan para sahabat yang diberi jatah rampasan perang dan pahala adalah delapan puluh tiga orang.1
Banyak ulama selain Ibnu Ishaq menambahkan Wahb bin Sa'd bin Abu Sarh dan Hathib bin 'Amr ke dalam kaum Muslimin dari Bani 'Amir bin Luay yang terjun di Perang Badar. Mereka juga memasukkan Iyadh bin Abu Zuhair ke dalam barisan kaum Muslimin dari Bani al-Harits bin Fihr yang hadir di Perang Badar.2
Para ulama mengklaim bahwa Shubaih, mantan budak Abu al-'Ash bin Umayyah bin 'Abdu Syams, sebenarnya telah mempersiapkan diri untuk berangkat bersama beliau ke Badar namun kemudian jatuh sakit; lalu ia menaikkan Abu Salamah bin 'Abdul Asad ke atas untanya. Sesudah itu, Shubaih selalu hadir di semua perang bersama beliau.176
- Peserta Badar: Anshar dari Aus
Enam puluh satu orang
Dari kaum Anshar suku al-Aus, Ibnu Ishaq menyebut 61 orang yang hadir dan yang diberi bagian rampasan serta pahala. Hitungan kami dari angka tiap kabilah yang tercetak: 15 + 2 + 3 + 3 + 5 + 9 + 7 + 7 + 2 + 5 + 3 = 61.
Baca selengkapnya
Kaum Muslimin kalangan Anshar yang hadir bersama beliau di Perang Badar, kemudian dari al-Aus bin Haritsah bin Tsa'labah bin 'Amr, adalah sebagai berikut. Nama di bawah ditulis dengan nama ayah; silsilah panjang tidak kami muat.1
- Bani 'Abdul Asyhal (15)Sa'd bin Mu'adz; 'Amr bin Mu'adz; al-Harits bin Aus; al-Harits bin Anas; Sa'd bin Zaid (Bani 'Ubaid); Salamah bin Salamah bin Waqasy; 'Abbad bin Bisyr; Salamah bin Tsabit; Rafi' bin Yazid; al-Harits bin Khazamah, sekutu; Muhammad bin Maslamah, sekutu; Salamah bin Aslam, sekutu; Abu al-Haitsam bin at-Tayyahan; 'Ubaid bin at-Tayyahan (Ibnu Hisyam: ada yang mengatakan 'Atik); 'Abdullah bin Sahl.
- Bani Zhafar (2)Qatadah bin an-Nu'man; 'Ubaid bin Aus (Ibnu Hisyam: ia disapa Muqarrin karena mengikat empat tawanan di Badar, dan di Badar ia menawan 'Aqil bin Abu Thalib).
- Bani 'Abd bin Rizah (3)Nashr bin al-Harits; Mu'attib bin 'Abd; 'Abdullah bin Thariq, sekutu dari Bali.
- Bani Haritsah bin al-Harits (3)Mas'ud bin Sa'd; Abu 'Absi bin Jabr; Abu Burdah bin Niyar (Hani' bin Niyar), sekutu dari Bali.
- Bani Dhubay'ah (5)'Ashim bin Tsabit (Abu al-Aqlah); Mu'attib bin Qusyair; Abu Mulail bin al-Az'ar; 'Amr bin Ma'bad (Ibnu Hisyam: ada yang menyebut 'Umair bin Ma'bad); Sahl bin Hunaif.
- Bani Umayyah bin Zaid (9)Mubasysyir bin 'Abdul Mundzir; Rifa'ah bin 'Abdul Mundzir; Sa'd bin 'Ubaid; 'Uwaim bin Sa'idah; Rafi' bin Unjadah (Unjadah adalah ibu Rafi', kata Ibnu Hisyam); 'Ubaid bin Abu 'Ubaid; Tsa'labah bin Hathib; Abu Lubabah bin 'Abdul Mundzir dan al-Harits bin Hathib, yang keluar bersama beliau lalu dipulangkan dari ar-Rauha' dan diberi satu bagian; beliau menunjuk Abu Lubabah sebagai wakil di Madinah.
- Bani 'Ubaid bin Zaid (7)Unais bin Qatadah; sekutu dari Bali: Ma'n bin 'Adi, Tsabit bin Aqram, 'Abdullah bin Salamah, Zaid bin Aslam, Rib'i bin Rafi', dan 'Ashim bin 'Adi (berangkat ke Badar, dipulangkan dan diberi satu bagian).
- Bani Tsa'labah bin 'Amr (7)'Abdullah bin Jubair; 'Ashim bin Qais; Abu Dhayyah bin Tsabit; Abu Hannah; Salim bin 'Umair; al-Harits bin an-Nu'man; Khawwath bin Jubair (diberi satu bagian bersama para mujahidin Badar).
- Bani Jahjaba (2)al-Mundzir bin Muhammad; Abu 'Aqil bin 'Abdullah.
- Bani Ghanm bin as-Salm (5)Sa'd bin Khaitsamah; Mundzir bin Qudamah; Malik bin Qudamah; al-Harits bin 'Arfajah; Tamim, mantan budak Bani Ghanm (Ibnu Hisyam: mantan budak Sa'd bin Khaitsamah).
- Bani Mu'awiyah bin Malik (3)Jabr bin 'Atik; Malik bin Numailah, sekutu dari Muzainah; an-Nu'man bin Ashar, sekutu dari Bali.
Jumlah keseluruhan kaum Anshar dari al-Aus, dan para sahabat yang diberi bagian rampasan perang dan pahala jihad di Perang Badar bersama beliau berjumlah enam puluh satu orang.77
- Peserta Badar: Anshar dari Khazraj
Seratus tujuh puluh orang menurut Ibnu Ishaq
Dari suku al-Khazraj, Ibnu Ishaq menyebut 170 orang. Bila angka tiap kabilah yang tercetak dijumlahkan, hasil hitungan kami sendiri adalah 169 (48 kelompok); pada dua kelompok angka yang tercetak berbeda dengan jumlah nama yang tercantum. Total seluruh peserta menurut Ibnu Ishaq adalah 314: 83 Muhajirin, 61 dari al-Aus, dan 170 dari al-Khazraj.
Baca selengkapnya
Kaum Muslimin dari kaum Anshar dari al-Khazraj bin Haritsah bin Tsa'labah bin 'Amr bin 'Amir adalah sebagai berikut. Nama di bawah ditulis dengan nama ayah; silsilah panjang tidak kami muat.1
- Bani Umru'ul Qais (4)Kharijah bin Zaid; Sa'd bin ar-Rabi'; 'Abdullah bin Rawahah; Khallad bin Suwaid.
- Bani Zaid bin Malik (2)Basyir bin Sa'd; Simak bin Sa'd.
- Bani 'Adi bin Ka'ab (3)Subay'i bin Qais; 'Abbad bin Qais; 'Abdullah bin 'Absu.
- Bani Ahmar (1)Yazid bin al-Harits, Ibnu Fushum.
- Bani Jusyam dan Zaid (4)Khubaib bin Isaf; 'Abdullah bin Zaid bin Tsa'labah; Huraits bin Zaid; Sufyan bin Basyir.
- Bani Jidarah (4)Tamim bin Ya'ar; 'Abdullah bin 'Umair; Zaid bin al-Muzayyin (Ibnu Hisyam: Zaid bin al-Murry); 'Abdullah bin Urfuthah.
- Bani al-Abjar / Khudrah (1)'Abdullah bin Rabi'.
- Bani 'Ubaid bin Malik / al-Hubla (2)'Abdullah bin 'Abdullah bin Ubay (Ibnu Salul); Aus bin Khauli.
- Bani Jaz'i bin Malik (6)Zaid bin Wadi'ah; 'Uqbah bin Wahb, sekutu dari Ghathafan; Rifa'ah bin 'Amr; 'Amir bin Salamah, sekutu dari Yaman; Abu Humaidhah bin Ma'bad; 'Amir bin al-Bukair, sekutu.
- Bani al-'Ajlan (Salim) (1)Naufal bin 'Abdullah bin Nadhlah.
- Bani Ashram (2)'Ubadah bin ash-Shamit; Aus bin ash-Shamit.
- Bani Da'du (1)an-Nu'man bin Malik, disapa Qauqal.
- Bani Qaryusy (1)Tsabit bin Hazzal.
- Bani Mardhakhah (1)Malik bin ad-Dukhsyum.
- Bani Laudzan (3)Rabi' bin Iyas; Waraqah bin Iyas; 'Amr bin Iyas, sekutu dari Yaman.
- Sekutu Bani Laudzan dari Bali dan Bani Ghushainah (5)al-Mujadzdzar bin Dziyad (nama asli 'Abdullah); 'Ubadah bin al-Khasykhasy; Nahhab bin Tsa'labah (Ibnu Hisyam: ada yang menyebut Bahhats); 'Abdullah bin Tsa'labah; 'Utbah bin Rabi'ah, sekutu dari Bahra'.
- Bani Sa'idah (2)Abu Dujanah Simak bin Kharasyah; al-Mundzir bin 'Amr.
- Bani al-Badiyyi (2)Abu Usaid Malik bin Rabi'ah; Malik bin Mas'ud.
- Bani Tharif dan sekutu dari Juhainah (5 menurut angka tercetak; 6 nama tercantum)'Abdu Rabbih bin Haq; Ka'ab bin Himar; Dhamrah bin 'Amr; Ziyad bin 'Amr; Basbas bin 'Amr; 'Abdullah bin 'Amir, dari Bali.
- Bani Haram dari Salimah (12)Khiras bin ash-Shimmah; al-Hubab bin al-Mundzir; 'Umair bin al-Humam; Tamim, mantan budak Khiras; 'Abdullah bin 'Amr bin Haram; Mu'adz bin 'Amr; Mu'awwidz bin 'Amr; Khallad bin 'Amr; 'Utbah bin 'Amir; Habib bin al-Aswad, mantan budak Bani Haram; Tsabit bin Tsa'labah (al-Jidz'u); 'Umair bin al-Harits.
- Bani Khansa' bin Sinan (9)Bisyr bin al-Bara' bin Ma'rur; ath-Thufail bin Malik; ath-Thufail bin an-Nu'man; Sinan bin Shaifi; 'Abdullah bin al-Jadd; 'Utbah bin 'Abdullah; Jabbar bin Shakhr; Kharijah bin Humayyir dan 'Abdullah bin Humayyir, dua sekutu dari Asyja' (Bani Duhman).
- Bani Khunas bin Sinan (7)Yazid bin al-Mundzir; Ma'qil bin al-Mundzir; 'Abdullah bin an-Nu'man; adh-Dhahhak bin Haritsah; Sawad bin Zuraiq; Ma'bad bin Qais; 'Abdullah bin Qais.
- Bani an-Nu'man bin Sinan (4)'Abdullah bin 'Abdu Manaf; Jabir bin 'Abdullah; Khulaidah bin Qais; an-Nu'man bin Sinan, mantan budak.
- Bani Hadidah (4)Abu al-Mundzir Yazid bin 'Amir; Sulaim bin 'Amr; Quthbah bin 'Amir; 'Antarah, mantan budak Sulaim.
- Bani 'Adi bin Nabi (6)'Absu bin 'Amir; Tsa'labah bin 'Anamah; Abu al-Yasar Ka'ab bin 'Amr; Sahl bin Qais; 'Amr bin Thalq; Mu'adz bin Jabal (Ibnu Hisyam: bukan keturunan Bani Sawad, tetapi tinggal di tempat mereka). Mu'adz bin Jabal, 'Abdullah bin Unais, dan Tsa'labah bin 'Anamah adalah yang memecah berhala-berhala Bani Salimah.
- Bani Zuraiq: Mukhallad (7)Qais bin Mihshan; Abu Khalid al-Harits bin Qais; Jubair bin Iyas; Abu 'Ubadah Sa'd bin 'Utsman; 'Uqbah bin 'Utsman; Dzakwan bin Abu Qais; Mas'ud bin Khaladah.
- Bani Zuraiq: Khalid (1)'Abbad bin Qais.
- Bani Zuraiq: Khaladah (5)As'ad bin Yazid; al-Fakih bin Bisyr; Mu'adz bin Ma'ish; 'Aidz bin Ma'ish; Mas'ud bin Sa'd.
- Bani Zuraiq: al-'Ajlan (3)Rifa'ah bin Rafi'; Khallad bin Rafi'; 'Ubaid bin Zaid.
- Bani Zuraiq: Bayadhah (6)Ziyad bin Lubaid; Farwah bin 'Amr; Khalid bin Qais; Rujailah bin Tsa'labah; 'Athiyyah bin Nuwairah; Khulaifah bin 'Adi.
- Bani Habib (1)Rafi' bin al-Mu'alla.
- Bani an-Najjar: Tsa'labah bin 'Abdu 'Auf (1)Abu Ayyub Khalid bin Kulaib.
- Bani an-Najjar: Usairah (1)Tsabit bin an-Nu'man.
- Bani an-Najjar: 'Amr bin 'Abdu 'Auf (2)'Umarah bin Hazm; Suraqah bin Ka'ab.
- Bani an-Najjar: Ubay bin Tsa'labah (2)Haritsah bin an-Nu'man; Sulaim bin Qais.
- Bani an-Najjar: Aidz bin Tsa'labah (2)Suhail bin Rafi'; 'Adi bin Abu az-Zaghba', sekutu.
- Bani an-Najjar: Zaid bin Tsa'labah (3)Mas'ud bin Aus; Abu Khuzaimah bin Aus; Rafi' bin al-Harits.
- Bani an-Najjar: Sawad bin Malik (10)'Auf bin al-Harits; Mu'awwidz bin al-Harits; Mu'adz bin al-Harits (tiga bersaudara, ibu mereka 'Afra'); an-Nu'man bin 'Amr; 'Amir bin Mukhallad; 'Abdullah bin Qais; Ushaimah, sekutu dari Asyja'; Wadi'ah bin 'Amr, sekutu dari Juhainah; Tsabit bin 'Amr; Abu al-Hamra, mantan budak al-Harits bin 'Afra'.
- Bani an-Najjar: 'Amir bin Malik / 'Atik (3)Tsa'labah bin 'Amr; Sahl bin 'Atik; al-Harits bin ash-Shimmah (diminta kembali ke Madinah dari ar-Rauha' oleh beliau, lalu diberi satu bagian rampasan).
- Bani an-Najjar: Hudailah / Qais bin 'Ubaid (2)Ubay bin Ka'ab; Anas bin Mu'adz.
- Bani an-Najjar: 'Adi bin 'Amr (3)Aus bin Tsabit; Abu Syaikh Ubay bin Tsabit (saudara Hassan bin Tsabit); Abu Thalhah Zaid bin Sahl.
- Bani an-Najjar: 'Adi bin 'Amir (8)Haritsah bin Suraqah; 'Amr bin Tsa'labah (ayah Hakim); Salith bin Qais; Abu Salith Usairah bin 'Amr; Abu Kharijah 'Amr bin Qais; Tsabit bin Umayyah; Muhriz bin 'Amir; Sawad bin Ghaziyyah, sekutu dari Bali.
- Bani an-Najjar: Haram bin Jundub (4)Abu Zaid bin Qais; Abu al-A'war bin al-Harits; Sulaim bin Milhan; Haram bin Milhan.
- Bani an-Najjar: Mazin, 'Auf bin Mabdzul (3)Qais bin Abu Sha'sha'ah; 'Abdullah bin Ka'ab; Ushaimah, sekutu dari Bani Asad bin Khuzaimah.
- Bani an-Najjar: Khansa' bin 'Amr (2 menurut angka tercetak; 1 nama tercantum)Abu Daud 'Umair bin 'Amir.
- Bani an-Najjar: Tsa'labah bin Mazin (1)Qais bin Mukhallad.
- Bani an-Najjar: Dinar, Mas'ud (5)an-Nu'man bin 'Abdu 'Amr; adh-Dhahhak bin 'Abdu 'Amr; Sulaim bin al-Harits; Jabir bin Khalid; Sa'd bin Suhail.
- Bani an-Najjar: Qais bin Malik (2)Ka'ab bin Zaid; Bujair bin Abu Bujair, sekutu.
Dengan demikian total kaum Anshar dari al-Khazraj yang ikut serta pada Perang Badar adalah seratus tujuh puluh orang.
Sebagian besar ulama menambahkan Itban bin Malik, Mulail bin Wabarah, dan Ishmah bin al-Hushain ke dalam daftar kaum Anshar dari Bani al-'Ajlan bin Zaid bin Ghanm bin Salim, yang turut serta pada Perang Badar. Mereka juga menambahkan Hilal bin al-Mu'alla ke dalam kaum Anshar dari Bani Habib yang hadir di Perang Badar.2
Jumlah keseluruhan kaum Muslimin dari kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang terjun pada Perang Badar, serta diberi jatah rampasan perang dan pahala jihad meskipun tidak hadir, adalah tiga ratus empat belas. Dengan rincian: dari kaum Muhajirin delapan puluh tiga orang, dari kaum Anshar dari al-Aus enam puluh satu orang, dan dari kaum Anshar dari al-Khazraj seratus tujuh puluh orang.178
- Syuhada kaum Muslimin
Empat belas orang gugur di Badar
Menurut Ibnu Ishaq, 14 orang gugur sebagai syuhada: enam dari Muhajirin dan delapan dari Anshar.
Baca selengkapnya
Kaum Muslimin yang gugur sebagai syuhada pada Perang Badar adalah sebagai berikut.1
- Muhajirin dari Quraisy (6)'Ubaidah bin al-Harits bin al-Muthalib (dibunuh 'Utbah bin Rabi'ah yang memotong kakinya; gugur di ash-Shafra'); 'Umair bin Abu Waqqash, saudara Sa'd bin Abu Waqqash; Dzu asy-Syimalain bin 'Abdu 'Amr, sekutu Bani Zuhrah dari Khuza'ah; 'Aqil bin al-Bukair, sekutu Bani 'Adi; Mihja', mantan budak 'Umar bin al-Khaththab; Shafwan bin Baidha' dari Bani al-Harits bin Fihr.
- Anshar (8)Sa'd bin Khaitsamah dan Mubasysyir bin 'Abdul Mundzir (Bani 'Amr bin 'Auf); Yazid bin al-Harits, Ibnu Fushum (Bani al-Harits bin al-Khazraj); 'Umair bin al-Humam (Bani Haram dari Salimah); Rafi' bin al-Mu'alla (Bani Habib); Haritsah bin Suraqah (Bani an-Najjar); 'Auf bin al-Harits dan Mu'awwidz bin al-Harits, kedua anak 'Afra' (Bani Ghanm bin Malik bin an-Najjar).79
- Korban Quraisy
Lima puluh orang yang disebut Ibnu Ishaq, dan keterangan siapa yang membunuh
Ibnu Ishaq menyebut 50 orang Quraisy yang tewas, per kabilah: 'Abdu Syams 12, Naufal 2, Asad 5, 'Abduddar 2, Taim 2, Makhzum 17, Sahm 5, Jumah 3, 'Amir bin Luay 2. Ia juga menyebut riwayat yang menghitung tujuh puluh orang tewas dan tujuh puluh orang tertawan, dan Ibnu Hisyam menambahkan nama-nama lain di luar daftar itu. Penyebut pembunuhnya tercantum pada keterangan di bawah.
Baca selengkapnya
Korban tewas dari pihak kaum musyrikin di Perang Badar dari Quraisy adalah sebagai berikut. Keterangan "(Ibnu Hisyam)" menunjukkan keterangan yang ditambahkan Ibnu Hisyam.1
- Bani 'Abdu Syams (12)Hanzhalah bin Abu Sufyan (dibunuh Zaid bin Haritsah; Ibnu Hisyam: ada yang mengatakan oleh Hamzah, 'Ali, dan Zaid); al-Harits bin al-Hadhrami (an-Nu'man bin Ashr, menurut Ibnu Hisyam); 'Amir bin al-Hadhrami ('Ammar bin Yasir, menurut Ibnu Hisyam); 'Umair bin Abu 'Umair (Salim, mantan budak Abu Hudzaifah, menurut Ibnu Hisyam); anak 'Umair bin Abu 'Umair, 'Umair; 'Ubaidah bin Sa'id bin al-'Ash (az-Zubair); al-'Ash bin Sa'id ('Ali); 'Uqbah bin Abu Mu'ayth (dibunuh dalam keadaan terikat oleh 'Ashim bin Tsabit; Ibnu Hisyam: ada yang mengatakan 'Ali); 'Utbah bin Rabi'ah ('Ubaidah bin al-Harits; Ibnu Hisyam: Hamzah dan 'Ali bersama-sama); Syaibah bin Rabi'ah (Hamzah); al-Walid bin 'Utbah ('Ali); 'Amir bin 'Abdullah, sekutu ('Ali).
- Bani Naufal bin 'Abdu Manaf (2)al-Harits bin 'Amir (Khubaib bin Isaf); Thu'aimah bin 'Adi ('Ali; ada yang mengatakan Hamzah).
- Bani Asad bin 'Abdul 'Uzza (5)Zam'ah bin al-Aswad (Ibnu Hisyam: al-Jidz'u; ada yang mengatakan al-Jidz'u, Hamzah, 'Ali, dan Tsabit); al-Harits bin Zam'ah ('Ammar bin Yasir, menurut Ibnu Hisyam); 'Aqil bin al-Aswad (Hamzah dan 'Ali, menurut Ibnu Hisyam); Abu al-Bakhtari al-'Ash bin Hisyam (al-Mujadzdzar al-Balawi); Naufal bin Khuwailid, yang mengikat Abu Bakar dan Thalhah dalam satu ikatan ketika keduanya masuk Islam ('Ali).
- Bani 'Abduddar (2)an-Nadhr bin al-Harits ('Ali, dalam keadaan terikat di hadapan beliau di ash-Shafra'; Ibnu Hisyam: dibunuh di al-Utsail); Zaid bin Mulaish, sekutu (Bilal, menurut Ibnu Hisyam; ada yang mengatakan al-Miqdad).
- Bani Taim bin Murrah (2)'Umair bin 'Utsman (Ibnu Hisyam: 'Ali; ada yang mengatakan 'Abdurrahman bin 'Auf); 'Utsman bin Malik (Shuhaib bin Sinan).
- Bani Makhzum bin Yaqadzah (17)Abu Jahl 'Amr bin Hisyam (kakinya ditebas Mu'adz bin 'Amr bin al-Jamuh, 'Ikrimah membalas dengan menebas tangan Mu'adz, Mu'awwidz bin 'Afra' membuatnya sekarat, lalu 'Abdullah bin Mas'ud menewaskannya dan memenggal kepalanya); al-'Ash bin Hisyam ('Umar bin al-Khaththab); Yazid bin 'Abdullah, sekutu dari Bani Tamim ('Ammar bin Yasir, kata Ibnu Hisyam); Abu Musafi' al-Asy'ari, sekutu (Abu Dujanah, kata Ibnu Hisyam); Harmalah bin 'Amr, sekutu (Kharijah bin Zaid, kata Ibnu Hisyam; ada yang mengatakan 'Ali); Mas'ud bin Abu Umayyah ('Ali, kata Ibnu Hisyam); Abu Qais bin al-Walid (Hamzah, kata Ibnu Hisyam); Abu Qais bin al-Fakih ('Ali; ada yang mengatakan 'Ammar); Rifa'ah bin Abu Rifa'ah (Sa'd bin ar-Rabi'); al-Mundzir bin Abu Rifa'ah (Ma'n bin 'Adi); 'Abdullah bin al-Mundzir ('Ali); as-Saib bin Abu as-Saib (Ibnu Hisyam: sekutu beliau yang kemudian masuk Islam dengan baik; dalam riwayat lain dibunuh az-Zubair); al-Aswad bin 'Abdul Asad (Hamzah); Hajib bin as-Saib ('Ali); 'Uwaimir bin as-Saib (an-Nu'man bin Malik al-Qauqali, dalam duel); 'Amr bin Sufyan, sekutu dari Thayyi' (Yazid bin Ruqaisy); Jabir bin Sufyan, sekutu (Abu Burdah).
- Bani Sahm bin 'Amr (5)Munabbih bin al-Hajjaj (Abu al-Yasar); al-'Ash bin Munabbih ('Ali, kata Ibnu Hisyam); Nubaih bin al-Hajjaj (Hamzah dan Sa'd bin Abu Waqqash); Abu al-'Ash bin Qais ('Ali, kata Ibnu Hisyam; ada yang mengatakan an-Nu'man bin Malik atau Abu Dujanah); 'Ashim bin Abu 'Auf (Abu al-Yasar).
- Bani Jumah bin 'Amr (3)Umayyah bin Khalaf (Ibnu Ishaq: seorang Anshar dari Bani Mazin; Ibnu Hisyam: Mu'adz bin 'Afra', Kharijah bin Zaid, dan Khubaib bin Isaf); 'Ali bin Umayyah ('Ammar bin Yasir); Aus bin Mi'yar ('Ali, kata Ibnu Hisyam; ada yang mengatakan al-Hushain bin al-Harits dan 'Utsman bin Mazh'un).
- Bani 'Amir bin Luay (2)Mu'awiyah bin 'Amir, sekutu ('Ali; ada yang mengatakan 'Ukkasyah bin Mihshan); Ma'bad bin Wahb, sekutu (Khalid dan Iyas bin al-Bukair; ada yang mengatakan Abu Dujanah).
Seluruh korban dari pihak orang-orang Quraisy di Perang Badar yang disebutkan kepada kami adalah sebanyak lima puluh orang.1
Ibnu Ishaq menyebut riwayat yang menghitung korban tewas Quraisy berjumlah tujuh puluh orang, dan jumlah yang tertawan juga tujuh puluh orang, dan itu pendapat Ibnu 'Abbas dan Sa'id bin al-Musayyib. Ia mengaitkannya dengan QS Ali 'Imran: 165 ("padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu"), yang menurut teks ditujukan kepada para mujahidin Uhud, yang jumlah syuhadanya tujuh puluh orang; kaum Muslimin telah menimpakan musibah dua kali lipat di Badar: tujuh puluh tewas dan tujuh puluh lainnya tertawan. Ia menyebut syair Abu Zaid al-Anshari: "Mereka berada di tempat menderumnya unta di sekitar air / Tujuh puluh orang di antara mereka terdapat 'Utbah dan Aswad", dan berkata bahwa itu adalah korban Quraisy di Badar dan syair itu akan ia paparkan pada Perang Uhud.
Di antara ketujuh puluh korban dari kaum musyrikin yang tidak disebutkan Ibnu Ishaq adalah sebagai berikut.2
- 'Abdu Syams (2)Wahb bin al-Harits, sekutu dari Bani Anmar bin Baghidh; 'Amir bin Zaid, sekutu dari Yaman.
- Asad (2)'Utbah bin Zaid, sekutu dari Yaman; 'Ubaid bin Salith, sekutu dari Qais.
- Taim (2)Malik bin 'Ubaidillah bin 'Utsman, saudara Thalhah (ditawan lalu meninggal, sehingga dimasukkan ke daftar tewas); 'Amr bin 'Abdullah bin Jud'an.
- Makhzum (7)Hudzaifah bin Abu Hudzaifah (Sa'd bin Abu Waqqash); Hisyam bin Abu Hudzaifah (Shuhaib bin Sinan); Zuhair bin Abu Rifa'ah (Abu Usaid bin Malik bin Rabi'ah); as-Saib bin Abu Rifa'ah ('Abdurrahman bin 'Auf); 'Aidz bin as-Saib (tertawan, ditebus, dan meninggal dalam perjalanan karena luka akibat serangan Hamzah); 'Umair, sekutu dari Thayyi'; Khiyar, sekutu dari al-Qarah.
- Jumah (1)Sabrah bin Malik, sekutu.
- Sahm (2)al-Harits bin Munabbih (Shuhaib bin Sinan); 'Amir bin Abu 'Auf ('Abdullah bin Salamah al-'Ajlani; ada yang mengatakan Abu Dujanah).80
- Tawanan Quraisy
Empat puluh tiga orang yang disebut Ibnu Ishaq
Ibnu Ishaq menyebut 43 orang Quraisy yang tertawan di Badar. Hitungan kami dari angka tiap kabilah yang tercetak adalah 42. Ibnu Hisyam menambahkan bahwa ada beberapa tawanan yang namanya tidak ia ketahui.
Baca selengkapnya
Orang-orang musyrikin Quraisy yang tertawan pada Perang Badar adalah sebagai berikut.1
- Bani Hasyim (2)'Aqil bin Abu Thalib; Naufal bin al-Harits bin 'Abdul Muththalib.
- Bani al-Muthalib (2)as-Saib bin 'Ubaid; Nu'man bin 'Amr bin 'Alqamah.
- Bani 'Abdu Syams dan sekutu (7)'Amr bin Abu Sufyan; al-Harits bin Abu Wajzah (Ibnu Hisyam: ada yang mengatakan Abu Wahrah); Abu al-'Ash bin ar-Rabi'; Abu al-'Ash bin Naufal; Abu Risyah bin Abu 'Amr, sekutu; 'Amr bin al-Azraq, sekutu; 'Uqbah bin 'Abdul Harits bin al-Hadhrami, sekutu.
- Bani Naufal bin 'Abdu Manaf (3)Ghazwan bin Jabir; 'Utsman bin 'Abdu Syams, sekutu dari Bani Mazin bin Manshur; Abu Tsaur, sekutu.
- Bani 'Abduddar (2)Abu 'Aziz bin 'Umair bin Hasyim; al-Aswad bin 'Amir, sekutu.
- Bani Asad (3)as-Saib bin Abu Hubaisy; al-Huwairits bin 'Abbad (Ibnu Hisyam: bukan al-Huwairits, tetapi al-Harits bin 'Aidz bin 'Utsman bin Asad); Salim bin Syammakh, sekutu.
- Bani Makhzum (9)Khalid bin Hisyam; Umayyah bin Abu Hudzaifah; al-Walid bin al-Walid; 'Utsman bin 'Abdullah; Shaifi bin Abu Rifa'ah; Abu al-Mundzir bin Abu Rifa'ah; Abu 'Atha' 'Abdullah bin Abu as-Saib; al-Muthalib bin Hanthab; Khalid bin al-A'lam, dari Khuza'ah.
- Bani Sahm (4)Abu Wada'ah bin Dhubairah (tawanan Badar yang pertama kali ditebus, oleh anaknya, al-Muthalib bin Abu Wada'ah); Farwah bin Qais; Handzalah bin Qabishah; al-Hajjaj bin al-Harits.
- Bani Jumah (5)'Abdullah bin Ubay bin Khalaf; Abu 'Azzah 'Amr bin 'Abdullah; al-Fakih, mantan budak Umayyah bin Khalaf (Rabah bin al-Mughtarif mengaku sebagai tuannya; Rabah berkata bahwa al-Fakih berasal dari Bani Syammakh bin Muharib bin Fihr; pendapat lain menyebut al-Fakih anak Jarwal bin Hidzyim); Wahb bin 'Umair; Rabi'ah bin Darraj.
- Bani 'Amir bin Luay (3)Suhail bin 'Amr (ditawan Malik bin ad-Dukhsyum); 'Abdu bin Zam'ah; 'Abdurrahman bin Mansyu'.
- Bani al-Harits bin Fihr (2)ath-Thufail bin Abu Qunay'i; 'Utbah bin 'Amr bin Jahdam.
Seluruh orang-orang Quraisy yang tertawan di Perang Badar sebagaimana disampaikan kepada kami adalah berjumlah empat puluh tiga orang.1
Terdapat beberapa orang yang menjadi tawanan perang yang namanya tidak aku ketahui.281
Catatan
- Ibnu Ishaq.
- Tambahan Ibnu Hisyam.
- Terjemahan menulis "Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma" dan "Mereka Semua" dengan huruf besar di tengah kalimat; kami menuliskannya dengan ejaan yang lazim.
- Ibnu Ishaq. Sanad: orang yang tidak aku ragukan integritasnya berkata kepadaku dari 'Ikrimah dari Ibnu 'Abbas, dan Yazid bin Ruman dari 'Urwah bin az-Zubair, mereka berdua.
- Terjemahan menulis "Abu Tahal" pada satu tempat dan "meraka"; kami menulis "Abu Jahl" dan "mereka".
- Terjemahan menulis "'Uqabah bin Mu'aith" dan "'Uqbah bin Abu Mu'aith" untuk orang yang sama; kami menulis "'Uqbah bin Abu Mu'ayth". Terjemahan menulis "segeraber siap-siap" dan "sebapai"; kami menulis "segera bersiap-siap" dan "sebagai".
- Ibnu Ishaq. Sanad: Yazid bin Ruman menuturkan kepadaku dari 'Urwah bin az-Zubair.
- Terjemahan menyebut nama pemimpin Bani Bakr sebagai "Amir bin Yazid bin Amir Al-Mulawwah" dan, pada satu kalimat, "Amir bin Al-Akhyaf" (tertera "Tatkala anak Hafsh itu berpaling dari Amir bin Al-Akhyaf"); kami menulis "'Amir" tanpa nama ayah pada kalimat itu. Terjemahan menulis "Makraz" di bagian ini dan "Mikraz" pada bagian lain untuk tokoh yang sama; kami menulis "Makraz" di kedua tempat. Pada syair, terjemahan menyusun baris dengan tanda baca yang kurang jelas; kami menggabungkannya menjadi satu paragraf tanpa mengubah isi.
- Terjemahan menulis "Qais bin Abu Shasha'ah"; kami menulis "Sha'sha'ah".
- Terjemahan menulis "menguluk salam" dan "mala beritahukanlah"; kami membacanya "mengucapkan salam" dan "maka beritahukanlah". Untuk persinggahan sesudah Dzul Hulaifah, terjemahan menulis "Ulatul Jaisy" dan, pada keterangan Ibnu Hisyam, "Dzatul Jaisy"; keduanya kami muat sebagaimana tercetak.
- Terjemahan menulis "Barki Al-Ghimad" (kami tulis "Barkil Ghimad") dan menempatkan nomor catatan kaki 81 pada akhir kalimat tentang doa beliau untuk al-Miqdad; angka itu adalah nomor catatan kaki buku terjemahan dan tidak kami muat.
- Kalimat "mencari berita tentang air untuk beliau" kami muat sebagaimana tercetak.
- Terjemahan menulis "Basbas bin Amr" di sini, sedangkan pada bagian lain tercetak "Basbas bin Al-Juhani"; kami menulis keduanya sebagaimana tercetak. Terjemahan menulis "Abu Sutyan" pada satu kalimat dan "disebut- kan"; kami menulis "Abu Sufyan" dan "disebutkan".
- Terjemahan menulis "kabi- lah" (kata terputus) dan "Telah 'terjadi"; kami menulis "kabilah" dan "Telah terjadi".
- Terjemahan menulis "Al'Udwatul Qushwa" (tersambung) dan "Ibnu Ishiiq"; kami menulis "al-'Udwatul Qushwa" dan "Ibnu Ishaq". Pada kalimat terakhir, terjemahan menulis "air yang paling defeat dengan Badar"; kata "defeat" tidak jelas bagi kami sehingga kami lewati dan tandai dengan tanda titik.
- Terjemahan menulis "al-Muhdzir" pada penyebutan pertama dan "al-Mundzir" pada penyebutan kedua; kami menulis "al-Mundzir". Pada kalimat "dalam keadaan kita bisa Iftinum", kata "Iftinum" tidak jelas bagi kami sehingga kami lewati dan tandai dengan tanda titik.
- Terjemahan menulis "Abdullah bin Abu Bakar" di sini dan "Abdullah bin Abu Bakr" pada bagian lain; kami menulis "Abu Bakr" pada kedua tempat.
- Terjemahan menulis "me¬reka", "ber- sumpah", "ma- nusia", dan "mela¬wan" dengan tanda pemisah suku kata; kami menulisnya tanpa pemisah. Kalimat pesan Quraisy ditutup tanpa tanda kutip pada terjemahan; kami menutupnya.
- Ibnu Ishaq. Sanad: Abu Ishaq bin Yasar dan kalangan ulama lainnya berkata kepadaku dari tetua kaum Anshar.
- Terjemahan menulis "Umair bin Wahb Al-Jumahi: Hitunglah jumlah sahabat Muhammad!'" dengan tanda kutip yang tidak berpasangan; kami menyusun tanda kutipnya. Terjemahan menulis "Bagaimaan"; kami menulis "Bagaimana".
- Terjemahan menulis "berkeingin"; kami menulis "berkeinginan". Terjemahan menyebut "Amr bin Al-Hadhrami" pada kalimat Hakim dan "Amir bin Al-Hadhrami" pada kalimat Abu Jahl; kami muat keduanya sebagaimana tercetak. Terjemahan menulis "berpida- to" dan "apa- apa" dengan pemisah suku kata; kami menulisnya tanpa pemisah.
- Terjemahan menulis "Hamzah, dan Ali membantu Ubaidah" dengan tanda koma di tengah; kami menulis "Hamzah dan 'Ali membantu 'Ubaidah". Pada kalimat "saat dia berusaha dia menuju sahabat-sahabatnya", kami muat sebagaimana tercetak.
- Kalimat "Sebagaimana dituturkan kepadaku oleh Abu Ja'far ..." tercetak sebagai kalimat tersendiri di tengah penyebutan "Ibnu Ishaq berkata"; kami muat sebagaimana tercetak.
- Terjemahan menulis "meraka berdua" dan "Rasululah"; kami menulis "mereka berdua" dan "Rasulullah".
- Terjemahan menulis "mem bunuhku" dan "la tancapkan" (huruf besar "I" yang terbaca "l"); kami menulis "membunuhku" dan "Ia tancapkan".
- Ibnu Ishaq. Sanad: Muhammad bin Muslim bin Syihab az-Zuhri berkata kepadaku dari 'Abdullah bin Tsa'labah bin Shu'air al-'Udzri sekutu Bani Zuhrah yang berkata padanya bahwa ia diberi tahu, ketika kedua pasukan saling berhadapan dan saling mendekat, maka Abu Jahl bin Hisyam.
- Pada kalimat Ibnu Hisyam tentang pertempuran al-Mujadzdzar, terjemahan memecah kata-kata "Kemudian Abu / membunuhnya. / Al-Bakhtari / bertempur / melawan / Al-Mujadzdzar / Al-Mujadzdzar / berhasil" pada baris-baris terpisah; kami menyusunnya menjadi "Kemudian Abu al-Bakhtari bertempur melawan al-Mujadzdzar. Al-Mujadzdzar berhasil membunuhnya." Terjemahan menulis "Al-Bakhatari" pada satu tempat; kami menulis "al-Bakhtari".
- Ibnu Ishaq. Sanad: Yahya bin 'Abbad bin 'Abdullah bin az-Zubair berkata kepadaku dari ayahnya. Ibnu Ishaq juga berkata bahwa 'Abdullah bin Abu Bakr berkata kepada keduanya dan kepada selain keduanya dari 'Abdurrahman bin 'Auf.
- Ibnu Ishaq. Sanad: 'Abdul Wahid bin Abu 'Aun berkata kepadaku dari Sa'id bin Ibrahim dari ayahnya dari 'Abdurrahman bin 'Auf.
- Terjemahan menulis kalimat "Wahai Abdu Amr aku tidak menjawabnya" tanpa tanda kutip penutup pada panggilan; kami menutupnya. Pada kalimat Bilal, terjemahan menulis "Inilah dia otak kekafiran" tanpa tanda kutip pembuka; kami menambahkan tanda kutip, tanpa mengubah kata-katanya. Terjemahan menulis "pang-gilannya" dengan pemisah suku kata; kami menulis "panggilannya".
- Ibnu Ishaq. Sanad: 'Abdullah bin Abu Bakar berkata kepadaku dari seseorang dari Bani Sa'idah dari Abu Usaid Malik bin Rabi'ah yang ikut hadir pada Perang Badar. Setelah matanya buta.
- Ibnu Ishaq. Sanad: Abu Ishaq bin Yasar berkata kepadaku dari orang-orang Bani Mazin bin an-Najjar dari Abu Daud al-Mazini yang ikut Perang Badar.
- Ibnu Ishaq. Sanad: orang yang tidak aku ragukan kejujurannya berkata kepadaku dari Miqsam, mantan budak 'Abdullah bin al-Harits, dari 'Abdullah bin 'Abbas.
- Ibnu Ishaq. Sanad: orang yang tidak aku ragukan kejujurannya berkata kepadaku dari Miqsam dari Ibnu 'Abbas.
- Pada kalimat tentang Ibnu 'Abbas yang menutup bagian ini, terjemahan menulis doa kehormatan yang rusak ("Radhiyallahu Arthurm"); kami tidak memuat doa itu.
- Pada kalimat sandi perang, terjemahan mencetak tanda kutip dan titik yang berlebih sesudah "Ahad (Esa)"; kami menutupnya dengan satu tanda kutip.
- Terjemahan menulis doa kehormatan yang rusak setelah nama 'Umar ("Radhiyallahu Atthu"); kami tidak memuatnya.
- Kalimat "Hibal adalah anak Thulaihah bin Khuwailid, dan Ibnu Aqram adalah Tsabit bin Aqram al-Anshari" tercetak apa adanya; nama "Hibal" dan "Ibnu Aqram" tidak muncul di kalimat lain pada bagian ini, sehingga kami tidak dapat mengatakan kalimat mana yang dijelaskannya dan tidak menambahkan keterangan. Nomor catatan kaki "82" yang tercetak sesudah sabda "doa itu telah dikokohkan" tidak kami muat. Kalimat "Sebagaimana hal ini dituturkan kepadaku dari 'Abdul 'Aziz bin Muhammad ad-Darawardi" tercetak dua kali (pada pengulangan tertulis "Abdul bin Muhammad"); kami memuatnya sekali.
- Ibnu Ishaq. Sanad: Yazid bin Ruman berkata kepadaku dari 'Urwah bin Zubair dari 'Aisyah.
- Ibnu Ishaq. Sanad: Humaid ath-Thawil berkata kepadaku dari Anas bin Malik.
- Judul bagian ini ("Mayat-mayat Kaum Musyrikin Dilemparkan ke dalam Sumur") tercetak dua kali berurutan; kami memuatnya sekali. Nomor catatan kaki "83" dan "84" yang tercetak sesudah dua kutipan sabda di atas tidak kami muat.
- Pada daftar ini terjemahan menulis "Abu Qais bin al-Faldh"; pada daftar korban Quraisy di bagian lain terjemahan menulis "Abu Qais bin al-Fakih" untuk nama yang tampak sama. Kami memuat masing-masing seperti tercetak dan tidak menyatakan keduanya orang yang sama.
- Ibnu Ishaq. Sanad: 'Abdurrahman bin al-Harits dan sahabat-sahabatku lainnya berkata kepadaku dari Sulaiman bin Musa dari Makhul dari Abu Umamah al-Bahili, nama asli Abu Umamah ialah Shudai bin 'Ajlan sebagaimana disebutkan Ibnu Hisyam.
- Pada awal bagian ini terjemahan menulis "bilikbeliau" tanpa spasi; kami menulis "bilik beliau". Nama perawi tercetak "Abu Usaidah as-Sa'idi Malik bin Rabi'ah", sedangkan pada bagian lain tercetak "Abu Usaid Malik bin Rabi'ah"; kami memuat seperti tercetak pada tiap tempat.
- Pada kalimat tentang Zaid bin Haritsah yang diutus, terjemahan menulis "Zaid bin Harits"; kami menulis "Zaid bin Haritsah". Pertanyaan Usamah tercetak "Benarkan itu semua"; kami membacanya "Benarkah itu semua".
- Pada bait pertama sampai ketiga, terjemahan menulis "wahai Basbas", "Di Dzi Ath-Thalah", dan "Ghumair" sebagaimana kami muat; sebagian bait tercetak pada satu baris (baris ketiga memuat dua separuh bait). Kami memuatnya apa adanya.
- Kalimat tentang 'Uqbah menyebut nama sahabat yang menawannya "Abdullah bin Salimah", sedangkan pada bagian lain (daftar korban tewas Quraisy) tercetak "Abdullah bin Salamah al-'Ajlani"; kami memuat masing-masing seperti tercetak dan tidak menyatakan keduanya orang yang sama. Nama Abu Hindun tercetak "mantan budak Farwan bin Amr al-Bayadhi", sedangkan pada bagian lain tercetak "Farwah bin Amr" untuk Bani Bayadhah. Kata "bin" pada "Ashim bin Tsabit bir- Abu Al-Aqlah" tercetak "bir-" dalam terjemahan (kami membacanya "bin").
- Nomor catatan kaki "85" yang tercetak sesudah kalimat penutup tidak kami muat.
- Nama Abu 'Aziz tercetak "Abu Azid bin Umair" pada awal kutipan pertama; kami membacanya "Abu 'Aziz", sebagaimana tercetak pada kalimat-kalimat berikutnya. Pada terjemahan, judul "Kabar Kekalahan Orang Quraisy Sampai di Makkah" tercetak sebelum kalimat Ibnu Hisyam tentang Abu 'Aziz di atas; kami meletakkan kalimat itu bersama kisah Abu 'Aziz dan memuat kabar ke Makkah pada bagian berikut.
- Ibnu Ishaq. Sanad: Husain bin 'Abdullah bin 'Ubaidillah bin 'Abbas berkata kepadaku dari 'Ikrimah, mantan budak Ibnu 'Abbas, yang berkata bahwa Abu Rafi', mantan budak beliau.
- Pada kalimat yang dimulai "Di saat Abu Lahab mendengar berita kekalahan ...", terjemahan menyambung langsung ke "Sedang kami merasa lebih kuat dan mulia" tanpa kata penghubung; kami memuatnya apa adanya. Nama "Nubayh bin al-Hajjaj" pada ucapan al-Haisuman tercetak "Nubayh", sedangkan pada kabar Zaid bin Haritsah tercetak "Nubaih"; kami memuat masing-masing seperti tercetak.
- Ibnu Ishaq. Sanad: Yahya bin 'Abbad bin 'Abdullah bin Zubair berkata kepadaku dari ayahnya, 'Abbad.
- Kalimat "Tiga anak Al-Aswad bin Al-Muththahb: ..." tercetak dengan "al-Muththahb" dan tanpa "Ibnu Ishaq berkata" di awalnya; kata "Ia" pada kalimat berikutnya merujuk pada al-Aswad. Kami memuatnya apa adanya.
- Terjemahan menulis "Abu Wada'ah me kaya di Mekkah"; kata "me" tidak jelas bagi kami sehingga kami lewati dan tandai dengan tanda titik. Terjemahan menulis nama itu "Mikraz" pada bagian ini dan "Makraz" pada bagian lain; kami menulis "Makraz". Pada bait terakhir terjemahan menulis "dengan untuk"; kami muat sebagaimana tercetak. Terjemahan menulis "meencelanya"; kami memuatnya sebagaimana tercetak.
- Terjemahan menulis "belenggugnya", "Rasullullah", dan "anakpanah"; kami menulis "belenggunya", "Rasulullah", dan "anak panah". Terjemahan menulis "Abu Sufyan Harb" pada kalimat terakhir (tanpa "bin"); kami memuatnya sebagaimana tercetak. Dua baris syair Abu Sufyan tercetak tersambung pada satu paragraf; kami memuatnya apa adanya.
- Terjemahan menulis "disibukan", "tu- run", "men- jadikan", dan "slahsatu"; kami menulis "disibukkan", "turun", "menjadikan", dan "salah satu". Terjemahan menulis "Halal binti Khuwailid" dan "Ruqayyah" bergantian dengan "Ruqaiyyah"; kami memuatnya sebagaimana tercetak.
- Ibnu Ishaq. Sanad: Yahya bin 'Abbad bin 'Abdullah bin az-Zubair berkata kepadaku dari ayahnya, 'Abbad dari 'Aisyah.
- Terjemahan menulis nomor catatan kaki "86" tepat sesudah kalimat terakhir; nomor itu adalah nomor catatan kaki buku terjemahan dan tidak kami muat. Kalimat para sahabat "Akan kami lakukan, wahai Rasulullah." tercetak tanpa tanda kutip penutup; kami menutupnya.
- Terjemahan menulis nomor catatan kaki "87" tepat sesudah "tiba di tempatku!"; nomor itu adalah nomor catatan kaki buku terjemahan dan tidak kami muat. Terjemahan menulis "denganrrtu" (kami baca "denganmu"), "meliki" (kami baca "memiliki"), "usulah" (kami baca "usulan"), dan "akkhirnya" (kami baca "akhirnya"). Pada kalimat "Oleh karena itu, menolak untuk mengatakan bahwa aku akan menyusul ayahku", kami muat sebagaimana tercetak.
- Terjemahan tidak mencetak syair yang dimaksud pada kalimat "berkata tentang kejadian yang dialami Zainab", tetapi kalimat sesudahnya menyebut "syair di atas"; kami tidak menambahkan syair itu. Kalimat dalam hadits Abu Hurairah tercetak dengan sisipan "Ibnu Hisyam berkata: ..." di tengah sabda beliau; kami memuatnya sebagaimana tercetak.
- Ibnu Ishaq. Sanad: Daud bin al-Hushain berkata kepadaku dari 'Ikrimah dari Ibnu 'Abbas.
- Terjemahan menulis "ma suk" (kami baca "masuk"), "di sembah" (kami baca "disembah"), dan "Abu Al-Ash bin Ar-Rabi pergi" dengan nama yang tidak lengkap penutupnya; kami menulis "masuk", "disembah", dan "ar-Rabi'". Tanda kutip penutup pada beberapa sabda dan ucapan tidak tercetak pada terjemahan; kami menutupnya.
- Terjemahan menulis "Makdzum" pada nama Shaifi dan "Makhzum" pada nama-nama lain di halaman ini; kami memuatnya sebagaimana tercetak. Terjemahan menulis bagian kedua syair Abu 'Azzah ("Dalam derajat yang mudah dan tinggi Barangsiapa yang engkau perangi, ...") pada satu baris; kami memuatnya apa adanya.
- Ibnu Ishaq. Sanad: Muhammad bin Ja'far bin az-Zubair berkata kepadaku dari 'Urwah bin az-Zubair.
- Ibnu Ishaq. Sanad: Muhammad bin Ja'far bin az-Zubair berkata kepadaku dari 'Urwah bin az-Zubair.
- Terjemahan menulis "Umair bin Wahab" pada satu kalimat dan "Umair bin Wahb" pada yang lain; kami memuatnya sebagaimana tercetak. Terjemahan menulis "mamfaat" (kami baca "manfaat"), "diturun kepadamu" (kami baca "diturunkan kepadamu"), dan "Hidayah" dengan huruf besar di tengah kalimat; kami menulis dengan ejaan yang lazim. Kalimat "Ketika Rasulullah melihat 'Umair bin Wahb, dan 'Umar bin al-Khaththab memanggul pedangnya." kami muat sebagaimana tercetak.
- Terjemahan menulis akhir ayat pertama sebagai "pelindungan'"; kami membacanya "pelindung".
- Terjemahan menulis "Yagdzhah" pada bagian lain dan "Yaqadzah" pada bagian lain untuk kabilah yang sama; kami menulis "Yaqadzah" pada kedua tempat. Terjemahan menulis "bemama" dua kali; kami menulis "bernama".
- Ejaan: tercetak "yangkamu", kami membaca "yang kamu"; tercetak "Subhananu", kami membaca "Subhanahu"; tercetak "Subhanu", kami membaca "Subhanahu". Penanda ayat tercetak dengan bentuk yang tidak seragam di beberapa tempat (misalnya "QS. al-Anfal; 19", "QS. al-Anfaal: 61", dan "al-An-fal"); kami menyeragamkan penulisannya menjadi "al-Anfal" tanpa mengubah isi.
- Ejaan: tercetak "AllahTa'ala", kami membaca "Allah Ta'ala"; tercetak "haipara", kami membaca "hai para".
- Ibnu Ishaq. Sanad: Yahya bin 'Abbad bin 'Abdullah bin Zubair berkata kepadaku dari ayahnya, 'Abbad dari 'Aisyah.
- Ejaan: tercetak "tidk", kami membaca "tidak".
- Ejaan: tercetak "seuai", kami membaca "sesuai"; tercetak "darijalan", kami membaca "dari jalan".
- Ibnu Ishaq. Sanad: 'Abdullah bin Abu Najih berkata kepadaku dari Atha bin Rabah dari 'Abdullah bin 'Abbas.
- Ejaan: tercetak "tidk", kami membaca "tidak"; tercetak "berlandadkan", kami membaca "berlandaskan"; tercetak "oran", kami membaca "orang"; tercetak "Makajika", kami membaca "Maka jika". Nomor catatan kaki "88" tercetak sesudah hadits "Lima perkara" dan tidak kami muat.
- Terjemahan menulis "Umm'ul Qais", "Utsman bin Madzh'un" dan "Mazh'un" bergantian, "Qudamah bin Mahz'un", serta "Muhaj'irin"; kami menulis nama dengan ejaan seragam. Terjemahan menyebut "Syammas bin Utsman bin Asy-Syarid ..." dan "Abu Jundab" pada kalimat tentang al-Arqam dengan susunan yang tidak jelas bagi kami; kami hanya memuat nama-nama peserta yang jelas. Nomor catatan kaki terjemahan "89", "90", dan "91" yang tercetak sesudah beberapa kalimat tidak kami muat.
- Terjemahan menulis "Sedangkankan", "Dri", dan "Ibnu Hiysam"; kami menulis "Sedangkan", "Dari", dan "Ibnu Hisyam". Terjemahan menulis "Sa'ad bin Zaid" dan "Sa'ad bin Muadz" di bagian ini; kami menulis "Sa'd" dan "Mu'adz".
- Pada Bani Tharif, terjemahan menulis jumlah "lima orang", sedangkan nama yang tercantum pada kalimat-kalimatnya ada enam; pada Bani Khansa' bin 'Amr, terjemahan menulis "hanya dua orang", sedangkan nama yang tercantum satu. Kami memuat jumlah yang tercetak dan nama yang tercantum, dan tidak mengisi nama yang tidak ada. Jumlah 169 adalah hasil penjumlahan kami dari angka tiap kelompok yang tercetak, bukan angka dari Ibnu Ishaq. Untuk satu kelompok, terjemahan menulis "kaum Aidz bin Tsa'labah" dan menambahkan bahwa ada yang menyebutnya "Bani Abid bin Adzz" menurut Ibnu Hisyam; kami menulis "Aidz". Terjemahan menulis "Sa'ad" pada banyak nama; kami menulis "Sa'd".
- Terjemahan menulis "Ubadah bin Al-Harits" untuk syahid dari Bani 'Abdul Muththalib pada kalimat pertama, lalu "Ubaidah" pada kalimat berikutnya; kami menulis "'Ubaidah".
- Pada kalimat "Ibnu Ishaq berkata: ... berkata kepadaku dari Abu Amr yang berkata bahwa seluruh korban tewas ... berjumlah tujuh puluh orang", terjemahan tidak mencantumkan nama perawi yang berbicara; kalimatnya dimulai dengan "berkata kepadaku". Kami tidak menambahkan nama itu dan memuatnya sebagai riwayat Ibnu 'Abbas dan Sa'id bin al-Musayyib sebagaimana tercetak. Daftar Bani Asad ditutup dengan kalimat "Bani Naufal bin Abdul Uzza berjumlah lima orang"; kami menulis "Bani Asad bin 'Abdul 'Uzza" sesuai pembukaan daftar itu. Terjemahan menulis "Abdiri Muthalib" pada nama Hamzah; kami menulis "'Abdul Muththalib". Terjemahan menulis "Yaqadzah" dan "Yaqazhah" untuk kabilah yang sama; kami menulis "Yaqadzah". Nomor catatan kaki "92" yang tercetak pada hadits tentang as-Saib bin Abu as-Saib tidak kami muat.
- Pada kalimat penutup daftar Bani Makhzum, terjemahan menulis "Al-Muthalib bin Hanthab bin Al-Harits bin Ubayd bin Umar bin Makhzurrij Quraisy yang mundur dari medan perang Badar. Dialah yang pernah berkata: Kami mundur bukan karena luka kami berdarah, namun dari kami-kami mengucur darah" dengan susunan yang tidak jelas bagi kami; kami hanya memuat nama al-Muthalib bin Hanthab dan tidak memuat kalimat yang tidak jelas itu. Terjemahan menulis "Abddul", "Hushaih", dan "sebabagi"; kami menulis dengan ejaan yang lazim. Jumlah 42 adalah hasil penjumlahan kami dari angka tiap kelompok yang tercetak, bukan angka dari Ibnu Ishaq.
Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Bab berikutnya membahas peristiwa antara Badar dan Uhud.