Pusat Sejarah Islam
Bab 31 dari 55

Ekspedisi awal & perpindahan kiblat

Ekspedisi pertama dimulai ke Waddan, disusul beberapa sariyah dan ghazwah kecil, sampai sariyah 'Abdullah bin Jahsy ke Nakhlah. Di masa ini pula kiblat berpindah ke Ka'bah.

Shafar s.d. Rajab tahun ke-2Sumber: Ibnu Hisyam
Sekilas

Isi bab ini

Bab ini menceritakan penanggalan hijrah dan bulan-bulan tanpa perang, Perang Waddan, ekspedisi 'Ubaidah bin al-Harits dan Hamzah, Perang Buwath dan 'Usyairah, gelar Abu Turab, ekspedisi Sa'd bin Abu Waqqash, Perang Safwan, ekspedisi 'Abdullah bin Jahsy ke Nakhlah dan wahyu tentang bulan haram, serta perubahan arah kiblat.

Waddan

Perang pertama yang diikuti beliau; berdamai dengan Bani Dhamrah tanpa pertempuran.

Panji pertama

'Ubaidah bin al-Harits dengan 60 atau 80 Muhajirin; Sa'd bin Abu Waqqash melepas anak panah pertama dalam Islam.

Nakhlah

'Abdullah bin Jahsy membuka surat setelah dua hari berjalan; 'Amr bin al-Hadhrami tewas dan dua orang Quraisy ditawan.

Kiblat

Sebagian pendapat menyebut kiblat berpindah ke Ka'bah pada Sya'ban, delapan belas bulan setelah beliau tiba.

Peta

Madinah dan sekitarnya

Titik Makkah, Madinah, dan Thaif diambil dari Wikipedia.

Madinah dan sekitarnya
Tempat yang disebut Ibnu Hisyam
    Alur kisah

    Dari Waddan sampai perubahan kiblat

    Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.

    Perbedaan sumber

    Jumlah pasukan. Ibnu Hisyam menyebut ekspedisi Hamzah 30 orang Muhajirin, 'Ubaidah 60 atau 80, dan Sa'd 8. Haykal menyebut Hamzah dengan 40 penunggang pada satu kalimat dan "tidak lebih dari tiga puluh orang" pada kalimat lain, 'Ubaidah 60 penunggang, dan Sa'd delapan (menurut satu riwayat) atau dua puluh (menurut riwayat lain). Haykal menyebut pasukan Quraisy yang berpapasan dengan 'Ubaidah lebih dari dua ratus penunggang di bawah Abu Sufyan; Ibnu Hisyam menyebut 'Ikrimah bin Abu Jahl atau Mikraz bin Hafsh tanpa menyebut jumlahnya.

    Buwath dan 'Usyairah. Haykal menyebut beliau memimpin dua ratus penunggang ke Buwath, tempat kafilah Umayyah bin Khalaf dengan 1.500 unta dan seratus penunggang dilaporkan lewat, dan lebih dari dua ratus penunggang ke 'Usyairah. Ibnu Hisyam tidak menyebut jumlah pasukan pada keduanya. Haykal menyebut tahun kedua Hijriah (Oktober 623 M) untuk tinggalnya di 'Usyairah.

    Waktu Waddan. Haykal menyebut dua belas bulan setelah hijrah; Ibnu Hisyam menyebut bulan Shafar tahun berikutnya, setelah setahun sejak kedatangan beliau.

    Nakhlah. Ibnu Hisyam menyebut kafilah yang membawa anggur kering, kulit, dan dagangan, dan unta Sa'd dan 'Utbah hilang di Bahran. Haykal menyebut kafilah keledai pembawa dagangan, dan Sa'd serta 'Utbah memilih mencari unta mereka yang disita Quraisy.

    Kiblat. Ibnu Hisyam di bagian ini menyebut Sya'ban, delapan belas bulan setelah tiba; Haykal menyebut tujuh belas bulan setelah hijrah.

    1. Bersiap berperang

      Setelah wabah demam, beliau bersiap berjihad

      Ibnu Ishaq menuturkan bahwa sesudah itu beliau bersiap untuk perang dan berjihad melawan musuhnya sesuai perintah Allah, serta memerangi orang-orang musyrik Arab. Itu baru terjadi tiga belas tahun setelah Allah mengutus beliau sebagai Nabi.

      Baca selengkapnya

      Sesudah itu beliau bersiap diri untuk perang dan berjihad melawan musuhnya sesuai yang Allah perintahkan, serta memerangi orang-orang musyrik, orang-orang musyrik Arab. Ini semua baru terjadi tiga belas tahun setelah Allah mengutus beliau sebagai Nabi.12

    2. Penanggalan hijrah

      Senin, 12 Rabiul Awwal, dan bulan-bulan tanpa perang

      Beliau tiba di Madinah pada hari Senin, 12 Rabiul Awwal, saat waktu dhuha berakhir. Usia beliau saat itu lima puluh tiga tahun, tiga belas tahun sesudah diutus. Beliau tidak berperang sepanjang bulan-bulan itu sampai Muharram, dan baru keluar berperang pada bulan Shafar tahun berikutnya, setelah setahun sejak tiba di Madinah.

      Baca selengkapnya

      Beliau sampai di Madinah pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal, pada saat waktu dhuha berakhir, saat matahari tidak begitu panas. Itulah tanggal hijrah beliau sebagaimana dituturkan Ibnu Hisyam.3

      Pada saat beliau sampai di Madinah, usia beliau lima puluh tiga tahun, tiga belas tahun sesudah beliau diutus menjadi Nabi dan Rasul. Beliau tinggal di Madinah pada akhir sisa bulan Rabiul Awwal, Rabiul Akhir, Jumadil Ula, Jumadil Akhir, Rajab, Sya'ban, Ramadhan, Syawwal, Dzul Qa'dah dan Dzul Hijjah. Pada bulan-bulan inilah dan bulan Muharram tahun berikutnya, beliau tidak berperang dengan kaum musyrikin.1

      Barulah pada bulan Shafar tahun berikutnya beliau keluar untuk berperang, tepatnya setelah setahun sejak kedatangannya di Madinah.

      Beliau menunjuk Sa'd bin 'Ubadah sebagai penggantinya di Madinah selama berada di medan jihad.45

    3. Ringkasan ekspedisi

      Jumlah pasukan dan hasil tiap ekspedisi menurut Ibnu Hisyam

      Delapan ekspedisi dan perang kecil di bab ini tidak berakhir dengan pertempuran, kecuali ekspedisi Nakhlah, tempat satu orang tewas. Jumlah pasukan hanya disebut pada empat ekspedisi; Ibnu Hisyam tidak menyebut pembagian pasukan menurut jenisnya (pemanah, penunggang, dan sebagainya).

      Baca selengkapnya
      • Waddan (al-Abwa')Beliau sendiri memimpin; wakil di Madinah: Sa'd bin 'Ubadah. Jumlah pasukan tidak disebut. Hasil: berdamai dengan Bani Dhamrah lewat Makhsyi bin 'Amr adh-Dhamri.
      • 'Ubaidah bin al-Harits60 atau 80 Muhajirin, tanpa Anshar. Berpapasan dengan banyak orang Quraisy di bawah Tsaniyyatul Murrah. Hasil: tidak ada perang; satu anak panah Sa'd bin Abu Waqqash.
      • Hamzah bin 'Abdul Muththalib30 Muhajirin, tanpa Anshar. Berpapasan dengan Abu Jahl dan 300 orang Makkah di pesisir al-'Ish. Hasil: didamaikan Majdi bin 'Amr al-Juhani.
      • BuwathBeliau sendiri memimpin; wakil: as-Saib bin 'Utsman bin Madz'un. Jumlah pasukan tidak disebut. Hasil: pulang karena tidak ada perlawanan.
      • 'UsyairahBeliau sendiri memimpin; wakil: Abu Salamah bin 'Abdul Asad. Jumlah pasukan tidak disebut. Hasil: berdamai dengan Bani Mudlij dan sekutunya dari Bani Dhamrah.
      • Sa'd bin Abu Waqqash8 Muhajirin ke al-Kharrar di Hijaz. Hasil: pulang tanpa perlawanan.
      • Safwan (Badar pertama)Beliau sendiri memimpin; wakil: Zaid bin Haritsah. Jumlah pasukan tidak disebut. Hasil: Kurz bin Jabir al-Fihri tidak tertangkap.
      • 'Abdullah bin Jahsy (Nakhlah)8 Muhajirin ditambah komandan, yaitu 9 orang (hitungan kami sendiri), tanpa Anshar. Berhadapan dengan kafilah Quraisy. Hasil: 'Amr bin al-Hadhrami tewas, dua orang ditawan, satu lolos.6
    4. Perang Waddan

      Perang pertama yang diikuti beliau, berdamai dengan Bani Dhamrah

      Beliau keluar dari Madinah sampai di Waddan, nama lain Perang al-Abwa', bermaksud menyerang Quraisy dan Bani Dhamrah bin Bakr bin 'Abdu Manat bin Kinanah. Beliau berdamai dengan Bani Dhamrah di al-Abwa' lewat pemimpin mereka, Makhsyi bin 'Amr adh-Dhamri, lalu kembali ke Madinah tanpa perlawanan. Ibnu Hisyam menyebutnya perang pertama yang dilakukan beliau.

      Baca selengkapnya

      Beliau keluar dari Madinah hingga sampai di daerah Waddan. Perang Waddan adalah sebutan lain untuk Perang al-Abwa'. Beliau bermaksud menyerang orang-orang Quraisy dan Bani Dhamrah bin Bakr bin 'Abdu Manat bin Kinanah. Namun akhirnya beliau berdamai dengan Bani Dhamrah di al-Abwa'. Dalam proses perdamaian ini Bani Dhamrah diwakili pemimpin mereka yang bernama Makhsyi bin 'Amr adh-Dhamri. Kemudian beliau kembali ke Madinah tanpa ada perlawanan apa pun. Beliau menetap di Madinah hingga sisa akhir bulan Shafar dan awal-awal bulan Rabiul Awwal.1

      Perang Waddan merupakan perang yang pertama dilakukan beliau.47

    5. Ekspedisi 'Ubaidah bin al-Harits

      Panji pertama, dan anak panah pertama dalam Islam

      Beliau mengirim 'Ubaidah bin al-Harits bin al-Muththalib bersama enam puluh atau delapan puluh Muhajirin, tanpa seorang pun Anshar. Mereka tiba di mata air di Hijaz di bawah Tsaniyyatul Murrah dan berpapasan dengan banyak orang Quraisy, tetapi perang tidak meletus. Sa'd bin Abu Waqqash memanahkan satu anak panah, anak panah pertama dalam Islam. Al-Miqdad bin 'Amr dan 'Utbah bin Ghazwan, yang sudah masuk Islam, sengaja keluar bersama orang-orang kafir agar mudah bergabung dengan kaum Muslimin.

      Baca selengkapnya

      Pada saat berada di Madinah inilah beliau mengirim 'Ubaidah bin al-Harits bin al-Muththalib bin 'Abdu Manaf bin Qushay bersama enam puluh atau delapan puluh pasukan dari kaum Muhajirin, tanpa menyertakan seorang pun dari kaum Anshar. 'Ubaidah bin al-Harits beserta pasukannya keluar dari Madinah hingga tiba di mata air di Hijaz di bawah Tsaniyyatul Murrah. Di sana mereka berpapasan dengan sekian banyak orang Quraisy, namun perang belum meletus di antara mereka. Sa'd bin Abu Waqqash memanah dengan satu anak panahnya. Itulah anak panah pertama yang dipanahkan dalam Islam.1

      Kedua belah pihak kemudian meninggalkan yang lain. Saat itu kaum Muslimin telah memiliki keberanian yang hebat. Beberapa orang yang bergabung dengan barisan kaum Muslimin saat itu dari pihak orang-orang musyrik adalah al-Miqdad bin 'Amr al-Bahrani sekutu Bani Zuhrah, dan 'Utbah bin Ghazwan bin Jabir al-Mazini sekutu Bani Naufal bin 'Abdu Manaf. Keduanya telah masuk Islam, namun mereka berdua sengaja keluar bersama orang-orang kafir sebagai fasilitas untuk lebih mudah bergabung dengan kaum Muslimin. Pimpinan kaum kafir saat itu adalah 'Ikrimah bin Abu Jahl.

      Tatkala itu orang-orang kafir dipimpin oleh Mikraz bin Hafsh bin al-Akhyaf, salah seorang dari Bani Ma'ish bin 'Amir bin Luay bin Ghalib bin Fihr.8

      Panji perang 'Ubaidah bin al-Harits, sebagaimana dituturkan kepadaku, adalah panji pertama yang diberikan beliau dalam Islam kepada salah seorang kaum Muslimin.1

      Sebagian ulama berkata bahwa beliau mengirim 'Ubaidah bin al-Harits dan pasukannya tatkala beliau pulang dari Perang al-Abwa', dan sebelum beliau tiba di kota Madinah.19

    6. Ekspedisi Hamzah

      Tiga puluh Muhajirin ke pesisir al-'Ish

      Beliau mengirim Hamzah bin 'Abdul Muththalib dengan tiga puluh Muhajirin, tanpa Anshar, ke kawasan pantai di daerah al-'Ish. Di sana mereka berpapasan dengan Abu Jahl dan tiga ratus orang Makkah. Majdi bin 'Amr al-Juhani mendamaikan kedua pihak, lalu mereka pulang tanpa perang. Siapa penerima panji pertama masih diperselisihkan: sebagian ulama menyebut Hamzah, tetapi Ibnu Ishaq mendengar bahwa 'Ubaidah bin al-Harits yang pertama.

      Baca selengkapnya

      Pada saat yang bersamaan, beliau juga mengirim Hamzah bin 'Abdul Muththalib bin Hasyim dengan membawahi tiga puluh orang Muhajirin ke tepi laut (kawasan pantai) di daerah al-'Ish, tanpa mengikutsertakan seorang pun dari kaum Anshar. Di daerah pantai tersebut, Hamzah bersama pasukannya berpapasan dengan Abu Jahl bersama tiga ratus pasukan orang Makkah. Kemudian kedua belah pihak berdamai dengan mediator Majdi bin 'Amr al-Juhani yang mendamaikan kaum Muslimin dan kaum musyrikin, dan kedua belah pihak pulang ke tempat masing-masing tanpa melakukan perang.1

      Sebagian ulama berpendapat bahwa panji perang Hamzah adalah panji pertama yang diberikan beliau kepada salah seorang dari kaum Muslimin, karena pengiriman ekspedisi Hamzah dan ekspedisi 'Ubaidah bin al-Harits terjadi secara bersamaan. Karenanya banyak orang yang tidak mengetahui masalah ini dengan pasti.

      Sebagian ulama berkata bahwa Hamzah mengucapkan syair-syair yang di dalamnya ia mengatakan bahwa panji perang miliknya adalah panji pertama yang diserahkan beliau. Jika Hamzah berkata seperti itu, insya Allah ia berkata benar dan tidak mungkin berdusta. Wallahu a'lam mana yang paling benar dalam masalah ini. Sementara yang kami dengar dari para ulama di kalangan kami, 'Ubaidah bin al-Harits-lah orang pertama yang diberi panji perang.10

    7. Perang Buwath

      Keluar pada Rabiul Awwal, pulang tanpa perlawanan

      Pada bulan Rabiul Awwal beliau keluar dari Madinah untuk memerangi orang-orang Quraisy, menunjuk as-Saib bin 'Utsman bin Madz'un sebagai pemimpin sementara (menurut Ibnu Hisyam). Sampai di Buwath beliau memutuskan pulang karena tidak ada perlawanan, lalu menetap di Madinah pada sisa Rabiul Awwal dan sebagian Jumadil Ula.

      Baca selengkapnya

      Kemudian pada bulan Rabiul Awwal, beliau keluar dari Madinah dengan maksud untuk memerangi orang-orang Quraisy. Beliau menunjuk as-Saib bin 'Utsman bin Madz'un sebagai pemimpin sementara di Madinah, demikian menurut Ibnu Hisyam.1

      Hingga tatkala beliau sampai di Buwath, beliau memutuskan pulang ke Madinah karena tidak ada perlawanan. Beliau menetap di Madinah pada sisa akhir bulan Rabiul Awwal dan sebagian bulan Jumadil Ula.1

    8. Perang 'Usyairah

      Perjalanan ke al-'Usyairah di Yanbu'

      Beliau berangkat untuk memerangi Quraisy, menunjuk Abu Salamah bin 'Abdul Asad sebagai pemimpin sementara, lalu melintasi gunung Bani Dinar, Faifa', al-Khabar, berhenti di bawah pohon bernama Dzatu as-Saaq, dan seterusnya sampai di al-'Usyairah, salah satu kabilah di Yanbu'. Di sana beliau tinggal selama Jumadil Ula dan beberapa malam Jumadil Akhir, berdamai dengan Bani Mudlij dan sekutunya dari Bani Dhamrah, lalu pulang tanpa perlawanan.

      Baca selengkapnya

      Kemudian beliau berangkat untuk memerangi orang-orang Quraisy, dan menetapkan Abu Salamah bin 'Abdul Asad sebagai pemimpin sementara di Madinah, demikianlah sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hisyam.

      Beliau berjalan melintasi gunung Bani Dinar, kemudian Faifa' dan al-Khabar. Beliau berhenti di bawah pohon di lembah Bin Azhar yang bernama Dzatu as-Saaq dan melaksanakan shalat di sana. Kemudian dibangunlah masjid untuk beliau, makanan dibuat untuk beliau lalu beliau dan para sahabat menyantapnya. Tempat tungku dapur beliau masih tersisa di sana, dan beliau dihidangi air minum dari mata air al-Musytarib.1

      Lalu beliau melanjutkan perjalanannya dengan meninggalkan Khalaiq di sisi kiri, dan berjalan melintasi perbukitan berlorong kecil yang disebut bukit berlorong 'Abdullah. Itulah nama bukit tersebut pada saat itu. Kemudian beliau menuruni Yasar hingga tiba di Yalyal. Beliau berhenti di perkampungan Yalyal dan perkampungan adh-Dhabu'ah. Beliau diambilkan air dari sumur di adh-Dhabu'ah, lalu berjalan melewati dataran Malal, hingga bertemu dengan jalan di Shuhairat al-Yamam. Lalu berjalan lurus dan berhenti di al-'Usyairah, salah satu kabilah di Yanbu'. Beliau berada di sana selama bulan Jumadil Ula dan beberapa malam pada bulan Jumadil Akhir. Beliau berdamai dengan Bani Mudlij dan sekutu-sekutunya dari Bani Dhamrah. Sesudahnya beliau pulang ke Madinah tanpa ada perlawanan.11

    9. Abu Turab

      Gelar yang diberikan beliau kepada 'Ali

      'Ammar bin Yasir bercerita bahwa ia dan 'Ali bin Abu Thalib melihat Bani Mudlij bekerja di mata air dan kebun kurma mereka, lalu tertidur di tanah lembek di bawah anak pohon kurma. Beliau membangunkan mereka dengan kakinya dan bersabda kepada 'Ali, "Apa yang terjadi pada dirimu, wahai Abu Turab (bapak tanah)?" Ada pula riwayat lain tentang asal gelar itu, dan Ibnu Ishaq menutupnya dengan "Wallahu a'lam mana yang lebih benar".

      Baca selengkapnya

      Aku dan 'Ali bin Abu Thalib adalah dua sahabat akrab pada Perang 'Usyairah. Pada saat itu beliau berhenti di 'Usyairah dan menetap di tempat itu. Kami melihat sekian banyak Bani Mudlij bekerja di mata air dan kebun kurma mereka. 'Ali bin Abu Thalib berkata kepadaku: "Wahai Abu al-Yaqzhan, apa pendapatmu apabila kita singgah ke tempat orang-orang tersebut, agar bisa melihat lebih dekat apa yang mereka kerjakan?" Aku menjawab: "Jika engkau mau, marilah kita pergi ke sana!" Kami pergi ke tempat orang-orang tersebut untuk melihat pekerjaan mereka selama beberapa saat hingga kantuk mengalahkan kami. Kemudian aku dan 'Ali bin Abu Thalib pergi, dan tidur-tiduran di bawah anak pohon kurma di tempat yang bertanah lembek. Demi Allah, tidaklah ada yang membangunkan kami dari tidur kecuali beliau yang menggerak-gerakkan kami dengan kakinya, sedangkan kami berlumuran tanah dari tempat kami tidur. Beliau bersabda kepada 'Ali bin Abu Thalib: "Apa yang terjadi pada dirimu, wahai Abu Turab (bapak tanah)?" Beliau katakan itu karena menyaksikan kami berlumuran tanah liat. Beliau bersabda: "Maukah kalian aku kabari tentang dua orang yang paling celaka?" Kami menjawab: "Tentu saja, wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Dua orang yang paling celaka ialah Uhaimir Tsamud yang telah menyembelih unta, dan orang yang memukul tengkukmu seperti ini wahai 'Ali." Beliau bersabda demikian sambil memegang tengkuk 'Ali bin Abu Thalib hingga basah. Beliau juga memegang jenggot 'Ali.12

      Sebagian ulama berkata kepadaku bahwa beliau memberi gelar 'Ali bin Abu Thalib dengan Abu Turab karena ia marah kepada Fathimah karena satu perkara, tetapi ia tidak menuruti marahnya dan tidak mengatakan sesuatu yang melukai hati Fathimah. Alih-alih ia malah mengambil tanah, kemudian menyimpannya di atas kepalanya. Apabila beliau melihat tanah di atas kepala 'Ali bin Abu Thalib, beliau paham bahwa 'Ali sedang marah kepada anaknya tercinta, Fathimah, kemudian beliau bersabda: "Ada apa dengan dirimu, wahai Abu Turab?" Wallahu a'lam mana yang lebih benar dalam hal ini.113

    10. Ekspedisi Sa'd bin Abu Waqqash

      Delapan Muhajirin ke al-Kharrar

      Di sela waktu itu beliau mengutus Sa'd bin Abu Waqqash bersama delapan Muhajirin. Mereka berangkat sampai di al-Kharrar di Hijaz, lalu pulang tanpa perlawanan. Ibnu Hisyam menyebut sebagian ulama menyatakan pengiriman ini terjadi sesudah pasukan Hamzah.

      Baca selengkapnya

      Di sela waktu tersebut, beliau mengutus Sa'd bin Abu Waqqash bersama pasukannya yang terdiri dari kaum Muhajirin yang berjumlah delapan orang. Sa'd bin Abu Waqqash dan pasukannya berangkat hingga tiba di al-Kharrar di Hijaz, kemudian pulang ke Madinah tanpa ada perlawanan.1

      Sebagian ulama menyatakan bahwa pengiriman ekspedisi Sa'd bin Abu Waqqash terjadi sesudah pengiriman pasukan Hamzah.4

    11. Perang Safwan

      Perang Badar pertama: mengejar Kurz bin Jabir

      Kurang dari sepuluh malam sesudah pulang dari 'Usyairah, Kurz bin Jabir al-Fihri menyerang sekawanan hewan ternak Madinah. Beliau menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai wakil di Madinah dan mengejar Kurz sampai lembah Safwan dari arah Badar, tetapi tidak berhasil menangkapnya. Inilah Perang Badar Pertama. Beliau lalu menetap di Madinah sepanjang sisa Jumadil Akhir, Rajab, dan Sya'ban.

      Baca selengkapnya

      Beliau tinggal di Madinah tidak lebih dari sepuluh malam setelah kedatangannya dari Perang 'Usyairah, ternyata Kurz bin Jabir al-Fihri menyerang sekawanan hewan ternak Madinah. Maka beliau keluar mengejar Kurz bin Jabir al-Fihri. Beliau menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai wakilnya di Madinah, sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Hisyam.1

      Beliau mengejar Kurz bin Jabir al-Fihri hingga lembah Safwan dari arah Badar, namun tidak berhasil mengejar Kurz untuk menangkapnya. Inilah Perang Badar Pertama.1

      Kemudian beliau kembali ke Madinah dan menetap di sana sepanjang sisa bulan Jumadil Akhir, Rajab, dan Sya'ban.14

    12. Ekspedisi 'Abdullah bin Jahsy

      Surat tertutup, dua hari perjalanan, dan pilihan para sahabat

      Pada bulan Rajab, sesudah pulang dari Badar pertama, beliau mengirim 'Abdullah bin Jahsy al-Asadi dengan delapan Muhajirin, tanpa Anshar. Beliau menulis surat dan memintanya tidak membukanya sebelum dua hari perjalanan. Isinya: berjalan sampai Nakhlah antara Makkah dan Thaif, mengawasi Quraisy dan melaporkan kabarnya. 'Abdullah menyerahkan pilihan kepada para sahabatnya, dan tidak seorang pun pulang.

      Baca selengkapnya

      Pada bulan Rajab, sesudah kedatangannya dari Perang Badar I, beliau mengirim 'Abdullah bin Jahsy bin Riab al-Asadi dengan membawa delapan orang kaum Muhajirin dan tanpa seorang pun dari kalangan Anshar. Beliau menulis surat untuk 'Abdullah bin Jahsy dan memintanya untuk tidak membukanya kecuali sesudah perjalanan berlangsung selama dua hari. Sesudah dua hari berjalan, 'Abdullah bin Jahsy baru membukanya sesuai dengan perintah beliau di surat tersebut, tanpa memaksa seorang pun dari sahabatnya.

      Sesudah berjalan dua hari, 'Abdullah bin Jahsy membuka surat itu. Ternyata surat tersebut berbunyi: "Apabila membaca suratku ini, hendaklah engkau berjalan hingga berhenti di Nakhlah antara Makkah dan Thaif. Perhatikan dan awasi kaum kafir Quraisy lalu laporkan kepadaku berita tentang mereka."

      Sesudah membuka dan membaca surat tersebut, 'Abdullah bin Jahsy berkata: "Aku patuh atas perintahmu." 'Abdullah bin Jahsy berkata kepada sahabat-sahabatnya: "Beliau memerintahkanku berjalan menuju Nakhlah untuk mengawasi kaum Quraisy lalu melaporkan berita tentang mereka kepadanya. Beliau tidak membolehkan aku memaksa seorang pun dari kalian. Barangsiapa di antara kalian berniat mati syahid, dan tertarik padanya, silakan tetap ikut bersama aku. Namun barangsiapa tidak ingin mati syahid, silakan saja kembali ke Madinah. Sedangkan aku tetap akan melaksanakan amar beliau."

      'Abdullah bin Jahsy dan sahabat-sahabatnya melanjutkan perjalanan dan ternyata tidak seorang pun dari mereka yang pulang ke Madinah. Mereka berjalan melalui Hijaz. Tatkala mereka berada di Bahran, unta Sa'd bin Abu Waqqash dan 'Utbah bin Ghazwan tiba-tiba hilang, padahal unta mereka berdua telah diikat kuat. Dampaknya keduanya tertinggal dari pasukan 'Abdullah bin Jahsy karena mencari-cari untanya. 'Abdullah bin Jahsy dan sisa-sisa sahabatnya tetap berjalan hingga sampai di Nakhlah yang dimaksudkan beliau.

      • Bani 'Abdu SyamsAbu Hudzaifah bin 'Utbah bin Rabi'ah bin 'Abdu Syams
      • Sekutu Bani 'Abdu Syams'Abdullah bin Jahsy (komandan) dan 'Ukkasyah bin Mihshan bin Hurtsan dari Bani Asad bin Khuzaimah
      • Bani Naufal bin 'Abdu Manaf'Utbah bin Ghazwan bin Jabir, sekutu mereka
      • Bani Zuhrah bin KilabSa'd bin Abu Waqqash
      • Bani 'Adi bin Ka'b'Amir bin Rabi'ah (sekutu dari 'Anz bin Wa'il), Waqid bin 'Abdullah bin 'Abdu Manaf bin 'Arin bin Tsa'labah bin Yarbu' dari Bani Tamim (sekutu), dan Khalid bin al-Bukair dari Bani Sa'd bin Laits (sekutu)
      • Bani al-Harits bin FihrSuhail bin Baidha'15
    13. Kafilah di Nakhlah

      Akhir Rajab: 'Amr bin al-Hadhrami terbunuh

      Di Nakhlah lewat kafilah Quraisy dengan kismis, kulit, dan dagangan; di dalamnya 'Amr bin al-Hadhrami, 'Utsman bin 'Abdullah, Naufal bin 'Abdullah, dan al-Hakam bin Kaisan. 'Ukkasyah yang telah bercukur mendekat dan mereka merasa aman. Karena hari itu akhir Rajab, para sahabat ragu, tetapi memutuskan menyerang. Waqid bin 'Abdullah at-Tamimi memanah dan menewaskan 'Amr; 'Utsman dan al-Hakam ditawan; Naufal lolos. Mereka pulang membawa unta dan dua tawanan.

      Baca selengkapnya

      Tak berapa lama kemudian kafilah dagang Quraisy yang membawa anggur kering, kulit, dan barang-barang dagangan orang-orang Quraisy melewati Nakhlah. Di dalam kafilah dagang ini ada 'Amr bin al-Hadhrami, 'Utsman bin 'Abdullah bin al-Mughirah al-Makhzumi, saudara 'Utsman yang bernama Naufal bin 'Abdullah al-Makhzumi, dan al-Hakam bin Kaisan mantan budak Hisyam bin al-Mughirah. Tatkala kafilah dagang Quraisy tersebut dilihat pasukan 'Abdullah bin Jahsy, mereka didera ketakutan, sebab posisi tempat mereka berhenti tepat berdekatan dengan pasukan 'Abdullah bin Jahsy. Lalu 'Ukkasyah bin Mihshan yang telah mencukur rambutnya mendekat kepada kafilah dagang Quraisy tersebut. Begitu melihat kedatangan 'Ukkasyah bin Mihshan, mereka merasa aman. Mereka berkata: "Ini dia Ummar. Janganlah kalian takut kepada mereka." Pada saat itu juga pasukan 'Abdullah bin Jahsy bermusyawarah antar mereka membahas tentang kafilah dagang Quraisy. Peristiwa ini terjadi pada akhir bulan Rajab. Pasukan 'Abdullah bin Jahsy berkata: "Demi Allah, apabila malam ini kalian membiarkan kafilah dagang Quraisy tersebut, mereka pasti akan memasuki al-Haram lalu berlindung dari kalian di sana. Apabila membunuh mereka berarti kalian membunuh mereka di bulan-bulan haram."

      Pasukan 'Abdullah bin Jahsy pun merasa ragu. Namun akhirnya mereka memutuskan untuk menyerang kafilah dagang Quraisy tersebut. Mereka bakar semangat untuk menghadapi kafilah dagang Quraisy itu. Mereka sepakat untuk membunuh siapa saja dari kafilah dagang Quraisy yang mampu mereka bunuh, dan mengambil apa saja yang bisa dirampas dari mereka. Lalu Waqid bin 'Abdullah at-Tamimi melepaskan anak panahnya ke arah 'Amr bin al-Hadhrami dan menewaskannya.

      Pasukan 'Abdullah bin Jahsy berhasil pula menawan 'Utsman bin 'Abdullah dan al-Hakam bin Kaisan. Sementara Naufal bin 'Abdullah berhasil lolos dari serbuan pasukan 'Abdullah bin Jahsy dan mereka tidak berhasil menangkapnya. Lalu 'Abdullah bin Jahsy dan pasukannya pulang membawa unta dan dua tawanan hingga tiba di Madinah dan bertemu beliau.16

    14. Seperlima dan bulan haram

      Beliau menahan unta dan tawanan, dan wahyu turun

      'Abdullah bin Jahsy menyisihkan seperlima untuk beliau dan membagi sisanya kepada para sahabat, sebelum seperlima diwajibkan. Beliau bersabda, "Aku tidak menyuruh kalian untuk membunuh mereka di bulan haram," menahan unta dan dua tawanan, dan tidak mengambil bagian. Para sahabat menyesal dan kaum Muslimin mengecam. Orang Quraisy berkata bahwa beliau menghalalkan bulan haram; orang Yahudi memainkan nama 'Amr bin al-Hadhrami dan Waqid. Lalu turun QS al-Baqarah: 217, yang menyatakan bahwa menghalangi dari jalan Allah dan mengusir penduduk Masjidil Haram lebih besar dosanya.

      Baca selengkapnya

      Salah seorang dari keluarga 'Abdullah bin Jahsy menyebutkan bahwa 'Abdullah bin Jahsy berkata kepada sahabat-sahabatnya: "Sesungguhnya beliau mempunyai hak seperlima dari rampasan perang yang kita peroleh." Itu terjadi ketika Allah Ta'ala belum mewajibkan seperlima terhadap rampasan perang. 'Abdullah bin Jahsy menyisihkan seperlima bagian untuk beliau dan sisanya ia bagikan untuk para sahabatnya.

      Pada saat pasukan 'Abdullah bin Jahsy menghadap beliau, beliau bersabda: "Aku tidak menyuruh kalian untuk membunuh mereka di bulan haram." Beliau menahan unta dan kedua tawanan tersebut dan tidak mau mengambil bagian sedikit pun dari rampasan itu. Ketika beliau mengatakan itu, pasukan 'Abdullah bin Jahsy sangat menyesal atas perbuatan mereka dan mereka merasa akan dihukum qishash.1

      Kaum Muslimin juga sangat mengecam tindakan yang mereka lakukan. Pada saat yang sama di tempat lain, orang-orang Quraisy berkata: "Muhammad dan para sahabatnya telah menghalalkan bulan haram dan menumpahkan darah, merampas harta dan menawan manusia di bulan haram." Beberapa orang dari kaum Muslimin di Makkah membalas ucapan orang-orang Quraisy dengan berkata: "Sesungguhnya tindakan pasukan 'Abdullah bin Jahsy merupakan reaksi atas apa yang mereka terima di bulan Sya'ban."

      Orang-orang Yahudi menyerang beliau dengan ucapan yang buruk: "'Amr bin al-Hadhrami telah dibunuh Waqid bin 'Abdullah. 'Amr telah meramaikan ('ammarat) perang. Al-Hadhrami ialah orang yang terlibat perang. Dan Waqid bin 'Abdullah ialah orang yang menyalakan (waqid) perang." Pada saat orang-orang ramai membicarakan peristiwa ini, Allah menurunkan ayat-Nya (QS al-Baqarah: 217): "Mereka bertanya kepadamu tentang berperang di bulan haram. Katakanlah: 'Berperang di bulan itu dosa besar, tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah.'"

      Apabila kalian telah membunuh pada bulan haram, sesungguhnya mereka telah menghalang-halangi kalian dari jalan Allah dan telah kafir kepada Allah, melarang kalian ke Masjidil Haram, dan mengusir kalian dari sana, padahal kalianlah orang yang paling berhak atas Masjidil Haram. Dosa yang mereka lakukan itu jauh lebih besar di sisi Allah daripada pembunuhan kalian terhadap seorang di antara mereka. "Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh": mereka telah menyiksa orang Muslim disebabkan oleh agama mereka, karena mereka berambisi sekali untuk mengeluarkan orang Muslim dari agamanya sesudah mereka beriman. Itu jauh lebih besar dosanya di sisi Allah daripada pembunuhan yang kalian lakukan. "Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian sampai mereka dapat mengembalikan kalian dari agama kalian (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup": mereka melakukan perbuatan yang lebih kejam dan lebih jahat daripada perbuatan mereka sebelum itu, enggan bertobat, dan tiada hentinya dari melakukan tindakan-tindakan jahat itu.117

    15. Tebusan dua tawanan

      Sa'd dan 'Utbah kembali, dua tawanan dilepas

      Setelah wahyu turun dan kegundahan hilang, beliau bersedia menerima unta dan dua tawanan. Quraisy mengirim utusan untuk menebus 'Utsman bin 'Abdullah dan al-Hakam bin Kaisan, tetapi beliau menunggu sampai Sa'd bin Abu Waqqash dan 'Utbah bin Ghazwan tiba. Al-Hakam masuk Islam dan gugur di Bi'r Ma'unah; 'Utsman kembali ke Makkah dan mati dalam keadaan kafir. Para sahabat bertanya apakah mereka boleh berharap pahala mujahidin, lalu turun QS al-Baqarah: 218. Ibnu Hisyam mencatat bahwa inilah rampasan perang pertama, 'Amr bin al-Hadhrami orang pertama yang dibunuh kaum Muslimin, serta 'Utsman dan al-Hakam tawanan pertama.

      Baca selengkapnya

      Tatkala ayat Al-Qur'an turun membawa hal tersebut, dan Allah menghilangkan gundah gulana yang dialami kaum Muslimin, beliau bersedia untuk menerima unta dan kedua tawanan perang tersebut. Kemudian orang-orang Quraisy mengirim perwakilan mereka untuk menemui beliau untuk menebus 'Utsman bin 'Abdullah dan al-Hakam bin Kaisan. Beliau bersabda: "Kami tidak akan menyerahkan keduanya pada kalian sampai dua sahabat kami datang, yakni Sa'd bin Abu Waqqash dan 'Utbah bin Ghazwan. Kami khawatir kalian berbuat sesuatu yang tidak wajar terhadap mereka. Jika ternyata kalian membunuh mereka berdua, maka dua sahabat kalian ini akan kami bunuh pula." Tak lama kemudian Sa'd bin Abu Waqqash dan 'Utbah bin Ghazwan tiba di Madinah, kemudian beliau menyerahkan dua tawanan tadi kepada perwakilan Quraisy.

      Sedangkan al-Hakam bin Kaisan, ia masuk Islam dengan amat baik. Ia tetap tinggal bersama beliau di Madinah hingga terbunuh sebagai syahid pada Perang Bi'r Ma'unah. Sementara 'Utsman bin 'Abdullah pulang kembali ke Makkah dan mati dalam kondisi kafir.

      Tatkala gundah gulana telah hilang dari pasukan 'Abdullah bin Jahsy setelah Al-Qur'an turun, para sahabat berobsesi besar untuk mendapatkan pahala. Mereka berkata: "Wahai Rasulullah, bolehkah kita menginginkan perang, yang dengan perang itu kita memperoleh pahala para mujahidin?" Allah menurunkan firman-Nya (QS al-Baqarah: 218): "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Allah memposisikan mereka pada harapan tertinggi. Hadits tentang hal ini berasal dari az-Zuhri dan Yazid bin Ruman dari 'Urwah bin az-Zubair.

      Sebagian keluarga 'Abdullah bin Jahsy berkata bahwa Allah membaginya dengan cara fay' (rampasan tanpa pertempuran), setelah Dia menghalalkannya, yakni empat perlima bagi yang mendapatkannya sedangkan seperlima adalah bagian untuk Allah dan Rasul-Nya. Artinya, ini selaras dengan kebijakan yang diambil 'Abdullah bin Jahsy pada unta yang mereka dapatkan dari kafilah dagang Quraisy tersebut.1

      Itulah rampasan perang pertama yang diperoleh kaum Muslimin. Sedangkan 'Amr bin al-Hadhrami adalah orang yang pertama kali dibunuh oleh kaum Muslimin, sementara 'Utsman bin 'Abdullah dan al-Hakam bin Kaisan adalah orang yang pertama kali menjadi tawanan kaum Muslimin.4

      Abu Bakar ash-Shiddiq berkata mengenai ekspedisi 'Abdullah bin Jahsy, walaupun ada juga yang mengatakan bahwa perkataan ini dikatakan oleh 'Abdullah bin Jahsy tatkala orang-orang Quraisy berkata: "Muhammad dan sahabat-sahabatnya menghalalkan bulan-bulan haram, menumpahkan darah, merampas harta, dan menawan orang-orang di dalamnya."118

    16. Perubahan kiblat

      Menurut sebagian pendapat, Sya'ban, delapan belas bulan setelah tiba

      Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa ada yang berpendapat perubahan arah kiblat ke Ka'bah terjadi pada bulan Sya'ban, delapan belas bulan setelah beliau tiba di Madinah.

      Masjid al-Qiblatayn di Madinah
      Masjid al-Qiblatayn di Madinah, kondisi sekarang (foto 5 April 2017; deskripsi berkas: "Main entrance of Masjid al-Qiblatayn"). Bangunannya sudah banyak dibangun ulang sejak masa itu.Foto: CR Guru PK · CC BY-SA 4.0 · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Ada yang berpendapat bahwa perubahan arah kiblat ke Ka'bah terjadi pada bulan Sya'ban, delapan belas bulan setelah beliau tiba di Madinah.119

    Catatan

    1. Ibnu Ishaq.
    2. Terjemahan menulis "bersia-siap" dan menyebut "orang-orang musyrik, orang-orang musyrik Arab" dengan pengulangan; kami menulis "bersiap diri" dan memuat pengulangan itu sekali.
    3. Ibnu Hisyam. Sanad: 'Abdul Malik bin Hisyam yang berkata bahwa Ziyad bin 'Abdullah al-Bakka'i berkata dari 'Abdullah bin Ishaq al-Muthallibi.
    4. Tambahan Ibnu Hisyam.
    5. Terjemahan menulis "Abdullah bin lshaq" dan "Ziyad bin Abdullah Al-Bakkai"; kami menulis "Ishaq" dan "al-Bakka'i". Terjemahan juga menulis "bulan pada Muharram"; kami menulis "bulan Muharram".
    6. Ringkasan ini kami susun dari keterangan yang tercetak pada bagian-bagian di bawah; angka dan nama mengikuti terjemahan.
    7. Terjemahan menulis "Al-Abwal", "bular", "Waddar", dan "Bani Dhamra" pada beberapa tempat; kami menulis "al-Abwa'", "bulan", "Waddan", dan "Bani Dhamrah".
    8. Tambahan Ibnu Hisyam. Sanad: Ibnu Abu 'Amr bin al-'Ala' berkata kepadaku dari Abu 'Amr al-Madani.
    9. Terjemahan menulis "Dipanahan" dan "meninggal- kan" (kata terputus); kami menulis "dipanahkan" dan "meninggalkan".
    10. Judul bagian ini pada terjemahan tercetak "Ekspedisi Perang Hamzan bin Abdul Muthalib ke Pesisir Pantai"; kami menulis "Hamzah". Terjemahan menyebut "Saiful Bahri (kawasan pantai)"; kami menulis "tepi laut (kawasan pantai)". Syair Hamzah yang dimaksud tidak ikut tercetak di bagian ini.
    11. Terjemahan menulis "melanjutkkan", "mesjid", "terisa", dan "Bin Azhar"; kami menulis "melanjutkan", "masjid", "tersisa", dan memuat "Bin Azhar" sebagaimana tercetak. Terjemahan menulis "Shuhairat Al-Yama"; kami menulis "Shuhairat al-Yamam".
    12. Ibnu Ishaq. Sanad: Yazid bin Muhammad bin Khaitsam al-Muharibi berkata kepadaku dari Muhammad bin Ka'b al-Qurazhi dari Muhammad bin Khaitsam Abu Yazid dari 'Ammar bin Yasir.
    13. Terjemahan menulis "Al-Ourazhi" dan "Thailib" yang kami baca "al-Qurazhi" dan "Thalib". Kalimat "Uhaimir Tsamud" kami muat sebagaimana tercetak.
    14. Terjemahan menulis "Kurzu bin Jabir" pada satu tempat dan "Ma¬dinah" dengan tanda hubung rusak; kami menulis "Kurz bin Jabir" dan "Madinah".
    15. Terjemahan menulis "Riab" pada nama ayah Jahsy dan "melalaui"; kami menulis "melalui". Daftar di atas disusun dari kalimat berurutan pada terjemahan. Jumlahnya sembilan orang termasuk 'Abdullah bin Jahsy, sesuai "delapan orang" ditambah komandan (hitungan kami sendiri).
    16. Terjemahan menulis "Ummar" pada ucapan para anggota kafilah ("Ini dia Ummar"); kami memuatnya sebagaimana tercetak. Terjemahan juga menulis "Mihsyan" pada satu tempat; kami menulis "Mihshan".
    17. Terjemahan menulis "qishah" (kami menulis "qishash"), "engggan" (kami menulis "enggan"), dan "Orang-orang Yahudi berkata menyerang Rasulullah" (kami menulis "Orang-orang Yahudi menyerang beliau").
    18. Bait syair yang disebut pada kalimat terakhir tidak ikut tercetak pada terjemahan, dan kami tidak menambahkannya. Terjemahan menulis "Bi'ru Ma unah"; kami menulis "Bi'r Ma'unah". Terjemahan juga menulis "Abdullah bin Jashy" dan "merampas harta di dan menawan"; kami menulis "'Abdullah bin Jahsy" dan "merampas harta, dan menawan".
    19. Pada bagian ini terjemahan menyebut "tujuh puluh bulan" untuk peristiwa yang sama; di sini tercetak "delapan belas bulan".

    Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Bab berikutnya membahas Perang Badar Kubra, mulai dari kafilah Abu Sufyan.