Isi bab ini
Bab ini menceritakan penentangan para rabi Yahudi dan orang-orang munafik di Madinah, 'Abdullah bin Salam yang masuk Islam, ayat-ayat Al-Baqarah dan Ali 'Imran tentang Bani Israil dan Ahli Kitab, perpindahan kiblat, delegasi Kristen Najran dan tantangan mubahalah, 'Abdullah bin Ubay bin Salul dan Abu 'Amir, serta wabah demam yang menimpa para sahabat.
Rabi dan munafik
Para rabi Yahudi dan sejumlah orang munafik dari al-Aus dan al-Khazraj menentang beliau, dan Allah menurunkan ayat-ayat tentang mereka.
'Abdullah bin Salam
Seorang rabi Yahudi yang masuk Islam; ia meminta beliau menanyakan dulu tentang dirinya kepada kaumnya.
Delegasi Najran
Enam puluh orang Kristen Najran datang, empat belas di antaranya tokoh; mereka tidak jadi bermubahalah dan meminta beliau mengutus seorang sahabat.
Wabah demam
Banyak sahabat terkena demam di Madinah; beliau mendoakan agar Madinah dicintai dan wabahnya dialihkan.
Madinah
Bab ini berlangsung di Madinah. Titik diambil dari Wikipedia (Masjid Nabawi).
Dari para rabi sampai wabah demam
Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.
- Para rabiYahudi memusuhi Islam
- 'Abdullah bin Salammasuk Islam
- MunafikAus dan Khazraj
- Al-BaqarahBani Israil
- Pindah kiblatkomentar para rabi
- Syas bin QaisPerang Bu'ats
- Hukum rajamdua pezina Yahudi
- Delegasi Najran60 orang
- Mubahalahtantangan
- 'Abdullah bin Ubaybenteng Muzahim
- Wabah demampara sahabat sakit
Perbedaan sumber
Isi bab. Kami hanya mencatat perbedaan yang kami temukan dengan membaca Haykal dan Khan pada bagian yang sama.
'Abdullah bin Salam. Haykal menyebut 'Abdullah bin Salam datang bersama keluarganya, meminta beliau menanyakan dulu tentang dirinya kepada orang Yahudi, dan mereka menjawab ia tuan, putra tuan, pendeta, dan rabi mereka. Khan menyebut seorang cendekiawan Yahudi bernama 'Abdullah ibn Salam masuk Islam karena yakin akan ketulusan beliau.
Pindah kiblat. Ibnu Hisyam tertulis "tujuh puluh bulan" sesudah tiba di Madinah (ditulis sebagaimana tercetak). Haykal menyebut tujuh belas bulan sesudah hijrah.
Delegasi Najran. Haykal menyebut enam puluh penunggang, Abu Haritsah yang berkata tidak bisa masuk Islam karena takut kehilangan kehormatan dan dukungan dari kaumnya, dan permintaan mereka agar beliau menunjuk seorang Muslim sebagai hakim; beliau mengutus Abu 'Ubaidah bin al-Jarrah. Kami tidak menemukan mubahalah pada Haykal, dan juga tidak menemukannya pada Khan.
Hukum rajam. Kami tidak menemukan kisah dua pezina Yahudi dan hukum rajam pada Haykal.
Wabah demam. Haykal menyebut wabah penyakit menimpa kaum Muslimin di Madinah, tanpa rincian Abu Bakar, 'Amir bin Fuhairah, dan Bilal yang ada pada Ibnu Hisyam.
- Para rabi Yahudi
Rabi-rabi Yahudi yang memusuhi Islam, nama demi nama
Ketika Islam berjaya di Madinah, para rabi Yahudi yang didukung orang-orang Aus dan Khazraj yang masih bertahan pada kejahiliahannya merasa resah. Orang-orang Aus dan Khazraj itu musyrik yang munafik: mereka berpura-pura Muslim agar selamat dari pembunuhan, tetapi hati mereka bersatu dengan orang Yahudi. Ibnu Ishaq lalu mendaftar para rabi itu menurut kabilahnya, dan menyebut bahwa semuanya memusuhi beliau dan sahabat-sahabatnya, kecuali 'Abdullah bin Salam dan Mukhairiq.
Baca selengkapnya
Ketika Islam berjaya di Madinah, para rabi Yahudi yang didukung orang-orang al-Aus dan al-Khazraj yang tetap bertahan pada kejahiliahannya merasa resah gelisah. Orang-orang al-Aus dan al-Khazraj tersebut adalah orang-orang musyrik yang munafik. Mereka bersandiwara dengan identitas "Muslim" agar bisa selamat dari pembunuhan, namun sebenarnya dalam hati mereka ada kemunafikan. Hati nurani mereka bersatu dengan orang-orang Yahudi karena kekafiran mereka kepada Rasulullah ﷺ dan keengganan mereka untuk menerima Islam dan masuk di dalamnya.1
Di antara rabi-rabi Yahudi tersebut adalah:
- Bani an-NadhirHuyay bin Akhthab; saudaranya Abu Yasir bin Akhthab; saudara Huyay yang lain, Judai bin Akhthab; Salam bin Misykam; Kinanah bin ar-Rabi' bin Abu al-Haqiq; Salam bin Abu al-Haqiq, dan saudaranya Salam bin ar-Rabi', anak Rafi' al-A'war yang dieksekusi sahabat-sahabat beliau di Khaybar; ar-Rabi' bin ar-Rabi' bin Abu al-Haqiq; 'Amr bin Juhasy; Ka'b bin al-Asyraf (berasal dari Thayyi', kemudian dari salah satu Bani Nabhan, ibunya dari Bani an-Nadhir); al-Hajjaj bin 'Amr dan Kardum bin Qais, keduanya sekutu Ka'b bin al-Asyraf. Ibnu Ishaq menyebut: "Mereka semua berasal dari Bani an-Nadhir."
- Bani Tsa'labah bin al-Fathiyyun'Abdullah bin Shuri al-A'war, yang pada zamannya tidak ada orang di Hijaz yang lebih paham Taurat darinya; Ibnu Shaluba; dan Mukhairiq, rahib Yahudi yang kemudian masuk Islam.
- Bani Qainuqa' (sebagian)Zaid bin al-Lashait (Ibnu Hisyam: ada yang mengatakan Ibnu al-Lushait); Sa'd bin Hanif; Mahmud bin Saihan; 'Uzair bin Abu 'Uzair; 'Abdullah bin Shaif (Ibnu Hisyam: ada yang mengatakan Ibnu Dhaif); Suwaid bin al-Harits; Rifa'ah bin Qais; Finhash; Asyi'; Nu'man bin Adha; Bahri bin 'Amr; Syas bin 'Adi; Syas bin Qais; Zaid bin al-Harts; Nu'man bin 'Amr; Sukain bin Abu Sukain; 'Adi bin Zaid; Nu'man bin Abu Aufa Abu Anas; Mahmud bin Dahiyyah; Malik bin ash-Shaif (ada pula yang mengatakan Ibnu adh-Dhaif).
- Bani Qainuqa' (lanjutan)Ka'b bin Rasyid; Azir; Rafi' bin Abu Rafi'; Khalid; Izar bin Abu Izar (Ibnu Hisyam: ada pula yang mengatakan Azir bin Abu Azir); Rafi' bin Haritsah; Rafi' bin Huraimalah; Rafi' bin Kharijah; Malik bin 'Auf; Rifa'ah bin Zaid bin at-Tabut; dan 'Abdullah bin Salam bin al-Harits, ulama mereka dan rahib yang paling cerdas. Nama aslinya al-Hushain; ketika ia masuk Islam, beliau mengganti namanya menjadi 'Abdullah. Ibnu Ishaq menyebut: "Mereka ini berasal dari Bani Qainuqa'."
- Bani Quraizhahaz-Zubayr bin Batha bin Wahb; 'Azzal bin Samuel; Ka'b bin Asad (ia terikat perjanjian dengan Bani Quraizhah, kemudian membatalkannya pada Perang Ahzab); Samuel bin Zaid; Jabal bin 'Amr bin Sakinah; an-Nahham bin Zaid; Fardam bin Ka'b; Wahb bin Zaid; Nafi' bin Abu Nafi'; Abu Nafi'; 'Adi bin Zaid; al-Harts bin 'Auf; Kardam bin Zaid; Usamah bin Habib; Rafi' bin Rumailah; Jabal bin Abu Qusyair; Wahb bin Yahuda. "Mereka ini berasal dari Bani Quraizhah."
- Kabilah lainDari Bani Zuraiq: Labid bin A'sham, yang menyihir beliau hingga tidak bisa mendatangi istri-istrinya. Dari Bani Haritsah: Kinanah bin Shuriya. Dari Bani 'Amr bin 'Auf: Fardam bin 'Amr. Dari Bani an-Najjar: Silsilah bin Barham.
Mereka semua rabi-rabi Yahudi, orang-orang jahat, orang-orang yang melawan beliau dan sahabat-sahabatnya, orang-orang yang banyak bertanya tanpa aplikasi apa pun, dan memusuhi Islam karena ingin memadamkannya, kecuali 'Abdullah bin Salam dan Mukhairiq.12
- 'Abdullah bin Salam
'Abdullah bin Salam masuk Islam, dan bibinya Khalidah
'Abdullah bin Salam, rabi dan ulama Yahudi, sudah mengetahui tanda-tanda dan nama beliau dari kitab mereka. Ketika beliau singgah di Quba', ia sedang bekerja di atas pohon kurma dan langsung bertakbir. Bibinya, Khalidah binti al-Harits, mengecamnya, tetapi akhirnya membenarkan. Ia masuk Islam dan menyeru keluarganya. Ia meminta beliau menyembunyikannya di salah satu rumah lalu menanyai para rabi tentang dirinya; mereka memujinya, tetapi mencaci-makinya ketika ia menyatakan keislamannya.
Baca selengkapnya
Di antara kisah 'Abdullah bin Salam, sebagaimana dikatakan oleh sebagian keluarganya kepadaku tentang masuk Islamnya, ia seorang rabi dan ulama. 'Abdullah bin Salam berkata: "Tatkala aku mendengar kemunculan Rasulullah ﷺ, aku pun mengetahui tanda-tanda beliau dan namanya. Aku sembunyikan hal ini dan tidak mendiskusikannya dengan siapa pun hingga beliau tiba di Madinah. Saat itu aku bekerja di atas pohon kurma, dan bibiku, Khalidah binti al-Harits, duduk di bawahku. Ketika beliau singgah di Quba', di Bani 'Amr bin 'Auf, seseorang datang memberi tahu kedatangan beliau, dan aku segera bertakbir. Ketika bibiku mendengar pekikan takbirku, ia berkata kepadaku, 'Usahamu akan sia-sia! Demi Allah, jika engkau mendengar kedatangan Musa bin 'Imran, engkau pasti akan kecewa dengan Nabi baru tersebut!' Aku katakan kepada bibiku, 'Bibi, demi Allah, beliau adalah saudara Musa bin 'Imran, seagama dengannya, dan diutus dengan membawa ajaran yang sama dengan Musa bin 'Imran.' Bibiku berkata, 'Hai keponakanku, apakah dia nabi yang dijanjikan kepada kita bahwa dia akan diutus pada era sekarang ini?' Aku menjawab, 'Ya.' Bibiku berkata, 'Kalau begitu, pasti dialah nabi itu.' Setelah itu aku menghadap beliau dan menyatakan diri masuk Islam di hadapan beliau. Setelah masuk Islam, aku pulang ke rumah dan menyeru keluargaku masuk Islam, mereka pun masuk Islam."1
Dia berkata: "Aku sembunyikan keislamanku dari orang-orang Yahudi. Aku menemui beliau, dan berkata kepada beliau, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang Yahudi adalah kaum yang pandai membuat dusta dan bersilat lidah. Aku ingin engkau menyembunyikanku di sebagian rumahmu dan merahasiakanku dari mereka. Sesudah itu, engkau berdiskusi dengan mereka tentang diriku hingga mereka menjelaskan kepadamu bagaimana kedudukanku di mata mereka sebelum mereka mengetahui keislamanku. Jika mereka mengetahui keislamanku, mereka pasti mendustakanku dan mencelaku.' Beliau menyembunyikanku di salah satu rumah beliau, dan pada saat yang sama orang-orang Yahudi masuk menemui beliau. Mereka berdiskusi dengan beliau dan bertanya kepada beliau. Setelah itu beliau bertanya kepada mereka, 'Bagaimana kedudukan al-Hushain bin Salam di tengah kalian?' Orang-orang Yahudi menjawab, 'Ia pemimpin kami dan anak pemimpin kami. Ia seorang rabi dan ulama kami.' Usai mereka bersaksi di hadapan beliau, aku langsung keluar menemui mereka, dan aku berkata kepada mereka, 'Hai kaumku, bertakwalah kalian kepada Allah, dan terimalah apa yang telah datang kepada kalian. Demi Allah, kalian telah mengetahui bahwa beliau utusan Allah. Kalian mendapatkan beliau tertulis di dalam Kitab Taurat lengkap dengan nama dan sifat-sifat beliau. Sesungguhnya aku bersaksi bahwa beliau adalah utusan Allah, mengimaninya, membenarkannya, dan mengenalnya.' Mereka berkata, 'Engkau sedang mengigau.' Lalu mereka pun mencaci-makiku. Aku berkata kepada beliau, 'Wahai Rasulullah, sekarang engkau lihat sendiri bagaimana watak asli mereka yang suka mengingkari kedatangan Nabi?' Aku tetap terbuka dengan keislamanku dan keislaman keluargaku. Bibiku, Khalidah binti al-Harits, juga masuk Islam dengan keislaman yang baik."3
- Kesaksian Shafiyyah
Huyay dan Abu Yasir, ayah dan paman Shafiyyah
Shafiyyah binti Huyay menuturkan bahwa ayahnya, Huyay bin Akhthab, dan pamannya, Abu Yasir, menemui beliau di Quba' menjelang Shubuh dan baru pulang saat matahari terbenam dalam keadaan lemas dan bingung. Ia mendengar sang paman bertanya apakah benar beliau orangnya, dan ayahnya menjawab "ya betul, demi Allah". Ditanya bagaimana perasaannya, Huyay berkata ia akan selalu memusuhi beliau selama hidup.
Baca selengkapnya
Ibnu Ishaq menuturkan: 'Abdullah bin Abu Bakar bin Muhammad bin 'Amr bin Hazm berkata kepadaku, ia berkata, aku diberi tahu dari Shafiyyah binti Huyay bin Akhthab bahwa Shafiyyah berkata: "Aku merupakan anak yang paling dicintai oleh ayah dan pamanku, Abu Yasir. Apabila aku bertemu dengan mereka yang sedang membawa anak-anak mereka, pasti keduanya membawaku bersama anak-anak mereka. Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah dan singgah di Quba' di Bani 'Amr bin 'Auf, ayahku Huyay bin Akhthab dan pamanku Abu Yasir bin Akhthab menghampiri beliau saat menjelang Shubuh, dan mereka berdua tidak pulang ke rumah hingga matahari terbenam. Setelah matahari terbenam, keduanya tiba dengan kondisi malas dan lemas, bingung dan berjalan lunglai. Aku berusaha menyenangkan keduanya sebagaimana biasa aku lakukan. Demi Allah, tak seorang pun dari keduanya menoleh kepadaku, ada perasaan gelisah pada diri mereka berdua. Aku mendengar pamanku, Abu Yasir, berkata kepada ayahku, Huyay bin Akhthab, 'Apakah memang dia (Rasulullah)?' Ayahku menjawab, 'Ya betul, demi Allah.' Pamanku bertanya, 'Apakah engkau mengetahuinya dan bisa memastikannya?' Ayahku menjawab, 'Ya.' Pamanku bertanya, 'Bagaimana perasaanmu terhadapnya?' Ayahku menjawab, 'Demi Allah, aku senantiasa memusuhinya selama aku hidup.'"4
- Munafik dari Aus
Orang-orang munafik dari al-Aus yang bergabung dengan orang Yahudi
Ibnu Ishaq mendaftar orang-orang munafik dari al-Aus menurut kabilah dan peristiwanya: Zuwai bin al-Harits; Julas bin Suwaid (ucapan "kita lebih buruk daripada keledai" dilaporkan 'Umair bin Sa'd, lalu ia bertobat); al-Harits bin Suwaid (membunuh al-Mujadzdzar bin Dziyad di Uhud lalu lari ke Makkah); Nabtal bin al-Harits; Abu Habibah bin al-Az'ar dan para pembangun Masjid Dhirar; Mu'attib bin Qusyair; Jariyah bin 'Amir beserta anak-anaknya; Wadi'ah bin Tsabit; Khidzam bin Khalid; Mirba' bin Qaidzi; Hathib bin Umayyah dan putranya Yazid; Busyair bin Ubairiq (Abu Thu'mah); dan Quzman.
Baca selengkapnya
Inilah nama deretan orang-orang munafik dari al-Aus dan al-Khazraj yang bergabung dengan orang-orang Yahudi. Wallahu a'lam.1
Dari al-Aus, kemudian dari Bani 'Amr bin 'Auf bin Malik bin al-Aus, kemudian dari Bani Lawdzan bin 'Amr bin 'Auf, ialah Zuwai bin al-Harits.
Dari Bani Habib bin 'Amr bin 'Auf: Julas bin Suwaid bin ash-Shamit. Dialah yang berkata, ia termasuk orang yang tidak ikut berangkat ke Perang Tabuk bersama beliau: "Jika orang ini memang benar, kita pasti lebih buruk daripada keledai." Ucapannya ini disampaikan 'Umair bin Sa'd kepada beliau. Ketika itu 'Umair bin Sa'd berada dalam asuhan Julas, yang mengasuhnya menggantikan ibunya setelah sebelumnya ia diasuh ayahnya. 'Umair berkata kepada Julas: "Wahai Julas, demi Allah, engkau orang yang paling aku cintai, orang yang paling baik dan dermawan bagiku, dan aku berharap tidak terjadi sesuatu yang tidak baik terhadapmu. Sungguh engkau telah berucap; jika aku membeberkannya, engkau akan dijelek-jelekkan. Namun bila aku menyembunyikannya, maka itu akan merusak agamaku. Salah satu dari kedua pilihan itu mudah bagiku dari yang lainnya." Setelah itu 'Umair pergi menghadap beliau dan melaporkan apa yang dikatakan Julas. Julas bersumpah dengan nama Allah di hadapan beliau, kemudian berkata: "Sungguh 'Umair berkata dusta, dan aku tidak mengatakan apa yang dilaporkan 'Umair bin Sa'd." Kemudian Allah menurunkan ayat tentang Julas (QS at-Taubah: 74).
Al-alim artinya sangat pedih dan menyakitkan.5
Para ulama menyatakan bahwa Julas bertobat, dan tobat serta keislamannya baik.1
Lainnya adalah saudara Julas, al-Harits bin Suwaid, yang membunuh al-Mujadzdzar bin Dziyad al-Balawi dan Qais bin Zaid, salah seorang Bani Dhabi'ah, di Perang Uhud. Al-Harits adalah orang munafik. Pada saat kaum Muslimin dan orang-orang Quraisy bertemu di medan Uhud, al-Harits menyerang al-Mujadzdzar bin Dziyad dan Qais bin Zaid, dan setelah ia berhasil menghabisi nyawa keduanya, ia kemudian bergabung dengan pasukan Quraisy.
Al-Mujadzdzar bin Dziyad sebelumnya membunuh Suwaid bin Shamit pada sebuah perang antara al-Aus melawan al-Khazraj. Pada Perang Uhud, al-Harits bin Suwaid mencari kelengahan al-Mujadzdzar untuk dibunuh sebagai balas dendam atas kematian ayahnya, dan ia pun membunuhnya. Pendapat ini dikatakan tidak hanya oleh seorang ulama. Bukti bahwa al-Harits tidak membunuh Qais bin Zaid ialah bahwa Ibnu Ishaq tidak memasukkan Qais bin Zaid dalam daftar orang yang terbunuh di Perang Uhud.5
Suwaid bin Shamit membunuh Mu'adz bin 'Afra' ketika ia lengah dan bukan di medan perang; ia memanahnya hingga meninggal sebelum Perang Bu'ats.1
Menurut penuturan para pakar, beliau memerintahkan 'Umar bin al-Khaththab untuk membunuh al-Harits bin Suwaid bila bertemu dengannya, namun 'Umar tidak bertemu dengannya. Al-Harits tinggal di Makkah. Ia mengirim surat kepada saudaranya, Julas bin Suwaid, yang menyatakan ingin bertobat dan kembali kepada kaumnya. Kemudian Allah menurunkan ayat tentang al-Harits, seperti dikatakan kepadaku dari Ibnu 'Abbas (QS Ali 'Imran: 86), hingga akhir kisah.1
Dari Bani Dhubai'ah bin Zaid bin Malik bin 'Auf bin 'Amr bin 'Auf: Bajad bin 'Utsman bin 'Amir.
Dari Bani Laudzan bin 'Amr bin 'Auf: Nabtal bin al-Harits. Dialah yang dikatakan beliau, seperti berita yang disampaikan kepadaku: "Barang siapa ingin melihat setan, hendaklah ia melihat Nabtal bin al-Harits." Ia bertubuh besar, bibirnya melorot ke bawah, rambutnya berantakan, kedua matanya merah, dengan kedua pipinya merah kehitaman. Ia pernah berjumpa dengan beliau, berdialog dan mendengar ucapan beliau, kemudian menceritakannya kepada orang-orang munafik sambil berkata: "Sesungguhnya Muhammad mendengarkan perkataan orang yang berbicara dengannya, lalu ia membenarkannya." Allah menurunkan ayat tentang Nabtal (QS at-Taubah: 61).
Sebagian orang al-Ajlan berkata kepadaku bahwa Jibril datang kepada beliau dan berkata: "Telah datang kepadamu orang yang bibirnya melorot ke bawah, rambutnya acak-acakan. Kedua pipinya merah kehitaman, kedua matanya merah seperti dua periuk dari kuningan, hatinya lebih keras daripada hati keledai, ia menceritakan apa yang engkau ucapkan kepada orang-orang munafik. Oleh karenanya, berhati-hatilah terhadapnya." Itulah sifat-sifat Nabtal bin al-Harits yang disebut oleh mereka.1
Dari Bani Dzabi'ah: Abu Habibah bin al-Az'ar, salah seorang yang membangun Masjid Dhirar; Tsa'labah bin Hathib; dan Mu'attib bin Qusyair. Tsa'labah dan Mu'attib itulah yang berjanji kepada Allah bahwa jika Allah memberi rezeki, mereka akan bersedekah dan menjadi orang-orang shalih. Mu'attib berkata pada Perang Uhud: "Seandainya kami pada posisi lain dalam hal ini, kami pasti tidak terbunuh di tempat ini." Allah menurunkan ayat tentang dia (QS Ali 'Imran: 154). Mu'attib juga berkata pada Perang Ahzab: "Muhammad telah berjanji kepada kita bahwa kita akan memiliki simpanan-simpanan Kisra dan Kaisar, sementara untuk buang air saja kita tidak merasa aman." Allah menurunkan ayat tentang ucapannya (QS al-Ahzab: 12). Juga al-Harits bin Hathib.
Mu'attib bin Qusyair, Tsa'labah bin Hathib, dan al-Harits bin Hathib berasal dari Bani Umayyah bin Zaid. Mereka ikut Perang Badar dan tidak tergolong orang-orang munafik, seperti dikatakan kepadaku oleh ulama yang lebih dipercaya. Ibnu Ishaq memasukkan Tsa'labah dan al-Harits ke dalam deretan nama orang-orang Bani Umayyah di antara peserta Perang Badar.5
Kemudian 'Abbad bin Hunaif saudara Sahl bin Hunaif, dan Bahzaj, terlibat dalam pembangunan Masjid Dhirar. Juga 'Amr bin Khidzam dan 'Abdullah bin Nabtal.1
Dari Bani Tsa'labah bin 'Amr bin 'Auf: Jariyah bin 'Amir bin al-Aththaf dan kedua anaknya, Zaid bin Jariyah dan Mujammi' bin Jariyah. Mereka bertiga termasuk orang-orang yang membangun Masjid Dhirar. Mujammi' adalah anak muda yang hafal sebagian besar Al-Qur'an dan shalat bersama orang-orang munafik di Masjid Dhirar. Ketika Masjid Dhirar telah dirubuhkan dan orang-orang dari Bani 'Amr bin 'Auf pergi, orang-orang munafik itu shalat di masjid Bani 'Auf bin 'Amr. Pada masa kekhalifahan 'Umar ada yang menyarankan agar Mujammi' bisa ikut shalat bersama kaum Muslimin. 'Umar menjawab: "Tidak mungkin, bukankah dia imam orang-orang munafik di Masjid Dhirar?" Mujammi' berkata kepada 'Umar: "Wahai Amirul Mukminin, demi Allah yang tidak ada Tuhan yang pantas disembah kecuali Dia, aku tidak tahu sedikit pun tentang persoalan mereka. Pada masa itu aku masih kecil, dan biasa membaca serta menghafal Al-Qur'an. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang mempunyai hafalan Al-Qur'an, lalu mereka memintaku mengimami mereka, dan aku tidak diberi tahu sama sekali tentang persoalan mereka kecuali hal-hal yang baik saja." Ada yang menyebutkan bahwa 'Umar mengizinkan Mujammi' shalat bersama kaumnya.
Dari Bani Umayyah bin Zaid bin Malik: Wadi'ah bin Tsabit, yang ikut membangun Masjid Dhirar. Dialah yang berkata: "Sesungguhnya kami hanya bergurau dan bermain-main." Allah menurunkan ayat tentang dia dan orang-orang munafik seperti dirinya (QS at-Taubah: 65), hingga akhir kisah.
Dari Bani 'Ubaid bin Zaid bin Malik: Khidzam bin Khalid, yang dari rumahnyalah Masjid Dhirar; juga Bisyr dan Rafi', keduanya anak Zaid. Dari Bani an-Nabit, kata Ibnu Hisyam, ialah 'Amr bin Malik bin al-Aus.
Dari Bani Haritsah bin al-Harits bin al-Khazraj bin 'Amr bin Malik bin al-Aus: Mirba' bin Qaidzi. Dialah yang berkata kepada beliau ketika beliau melewati kebunnya dalam perjalanan menuju medan Uhud: "Hai Muhammad, jika engkau adalah seorang nabi, aku tidak menghalalkanmu berjalan melewati kebunku ini." Kemudian ia mengambil segenggam tanah dan berkata: "Demi Allah, jika aku tahu bahwa tanah ini tidak mengenai orang lain selain dirimu, aku akan melemparmu dengannya." Spontan kaum Muslimin ingin membunuhnya, tetapi beliau bersabda: "Biarkanlah dia. Orang ini buta hati dan matanya." Lalu ia dipukul oleh Sa'd bin Zaid dan saudaranya Aus bin Qaidzi, saudara Bani 'Abdul Asyhal, hingga terluka. Dialah yang berkata kepada beliau pada Perang Khandaq: "Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka, tidak ada penjagaannya. Oleh karena itu, izinkan kami pulang ke rumah." Allah menurunkan ayat tentang ucapan Aus bin Qaidzi tersebut (QS al-Ahzab: 13).
Kata 'aurat dalam ayat ini artinya terbuka untuk musuh dan bisa habis; 'aurat juga bermakna kehormatannya atau kemaluannya.5
Dari Bani Zhafar, yang nama aslinya Ka'b bin al-Harits bin al-Khazraj: Hathib bin Umayyah bin Rafi', orang tua berbadan besar yang tetap bertahan pada kejahiliahannya. Ia memiliki anak yang termasuk Muslim pilihan bernama Yazid bin Hathib. Yazid ikut Perang Uhud hingga terdapat banyak luka di tubuhnya, lalu dibawa ke pemukiman Bani Zhafar. 'Ashim bin 'Umar bin Qatadah berkata kepadaku bahwa seluruh kaum Muslimin, laki-laki dan wanita, dari Bani Zhafar berkumpul di rumah Yazid ketika ia sakaratul maut, dan berkata: "Bergembiralah engkau wahai Yazid dengan surga." Demikianlah sehingga tampak jelas kemunafikan Hathib bin Umayyah, yang berkata: "Ya betul, surga dari tumbuh-tumbuhan Harmal! Demi Allah, kalian telah menipu orang yang lemah."
Busyair bin Ubairiq, dia adalah Abu Thu'mah. Dialah orang yang mencuri dua baju besi, dan Allah menurunkan ayat tentang dirinya (QS an-Nisa': 107). Quzman, sekutu mereka: beliau bersabda, seperti dikatakan 'Ashim bin 'Umar kepadaku: "Sungguh Quzman adalah di antara manusia yang akan menghuni neraka." Pada Perang Uhud, Quzman bertempur dengan gigih dan membunuh banyak orang musyrikin, dan ia mengalami banyak luka, lalu dibawa ke perkampungan Bani Zhafar. Salah seorang Muslim berkata kepadanya: "Bergembiralah engkau wahai Quzman, sungguh pada hari ini engkau mendapatkan keuntungan besar, dan mendapatkan ujian di jalan Allah." Quzman bertanya: "Dengan apa aku harus bergembira. Demi Allah, aku tidak bertempur kecuali demi membela kaumku." Saat luka-lukanya bertambah parah, Quzman mengambil anak panah dari busurnya dan memotong urat nadi tangannya dengan anak panah itu. Ia pun mati bunuh diri.
Tidak diketahui ada laki-laki dan wanita munafik di Bani 'Abdul Asyhal, namun adh-Dhahhak bin Tsabit, salah seorang dari Bani Ka'b satu kabilah Sa'd bin Zaid, dicurigai sebagai orang munafik dan dekat dengan orang Yahudi.1
Julas bin Suwaid bin Shamit sebelum tobatnya, Mu'attib bin Qusyair, Rafi' bin Zaid, dan Bisyr mengaku bahwa mereka masuk Islam. Mereka pernah berselisih dengan sebagian kaum Muslimin; pihak kaum Muslimin meminta perkaranya dibawa dan diadukan kepada beliau, sementara mereka meminta perkara itu dibawa ke tukang ramal, hakim orang-orang Jahiliah. Allah menurunkan ayat tentang mereka (QS an-Nisa': 60).16
- Munafik dari Khazraj
'Abdullah bin Ubay bin Salul dan kawan-kawannya
Dari al-Khazraj, Ibnu Ishaq menyebut orang-orang munafik dari Bani an-Najjar, Bani Jusyam (Bani Salimah: al-Jadd bin Qais) dan Bani 'Auf. Pemimpin kaum munafik adalah 'Abdullah bin Ubay bin Salul. Ia berkata di Perang Bani al-Musthalaq: "Jika kami tiba di Madinah, orang yang paling mulia akan mengusir orang yang paling hina." Ia juga menyusup ke Bani an-Nadhir ketika dikepung beliau dan berjanji akan menolong mereka.
Baca selengkapnya
Dari al-Khazraj, kemudian dari Bani an-Najjar adalah: Rafi' bin Wadi'ah, Zaid bin 'Amr, 'Amr bin Qais, dan Qais bin 'Amr bin Sahl.1
Dari Bani Jusyam bin al-Khazrad, kemudian dari Bani Salimah: al-Jadd bin Qais. Dialah yang berkata: "Hai Muhammad, izinkan aku tidak mengikuti perang dan janganlah engkau menjerumuskanku ke dalam fitnah." Allah menurunkan ayat tentang dirinya (QS at-Taubah: 49).
Dari Bani 'Auf bin al-Khazraj: 'Abdullah bin Ubay bin Salul. Dialah gembong orang-orang munafik, dan orang-orang munafik senantiasa datang berduyun kepadanya. Dialah yang berkata di Perang Bani al-Musthalaq: "Jika kami tiba di Madinah, orang yang paling mulia akan mengusir orang yang paling hina darinya." Allah menurunkan surat al-Munafiqun secara sekaligus yang mengabadikan ucapannya, dirinya, Wadi'ah salah seorang dari Bani 'Auf, Malik bin Abu Qauqal, Suwaid, dan Da'is. Mereka orang-orang terdekat 'Abdullah bin Ubay bin Salul.
'Abdullah bin Ubay bin Salul bersama mereka menyusup ke Bani an-Nadhir ketika mereka dikepung beliau. Mereka berkata kepada Bani an-Nadhir: "Hendaklah kalian tetap bertahan. Demi Allah, jika kalian diusir, kami akan keluar bersama kalian. Kami tidak akan patuh kepada seorang pun untuk menyusahkan kalian. Jika kalian diperangi, kami pasti menolong kalian." Allah menurunkan firman-Nya tentang 'Abdullah bin Salul dan teman-temannya dari kaum munafik itu, yaitu QS al-Hasyr: 11-16, yang menegaskan bahwa mereka pendusta, bahwa jika Bani an-Nadhir diusir mereka tidak akan keluar bersamanya, jika diperangi tidak akan menolong, dan jika menolong mereka akan berpaling lari ke belakang; bahwa mereka lebih takut kepada kaum Muslimin daripada kepada Allah; bahwa mereka tidak akan memerangi dalam keadaan bersatu kecuali dari kampung-kampung berbenteng atau di balik tembok; dan bahwa bujukan mereka seperti bujukan setan yang berkata "Kafirlah kamu" lalu berlepas diri ketika manusia itu telah kafir.7
- Rahib yang berpura-pura Islam
Rahib Yahudi yang menampakkan keislaman
Dari Bani Qainuqa': Sa'd bin Hunaif, Zaid bin al-Lushait, Nu'man bin Awfa bin 'Amr, dan 'Utsman. Zaid bertengkar dengan 'Umar di pasar Bani Qainuqa' dan mengejek beliau ketika untanya hilang; beliau bersabda bahwa Allah menunjukkan unta itu tertahan pohon di sebuah syi'b, dan para sahabat menemukannya. Rafi' bin Huraimalah wafat sebagai pembesar munafik, dan Rifa'ah bin Zaid bin at-Tabut wafat pada hari angin kencang di perjalanan pulang dari Perang Bani al-Musthalaq.
Baca selengkapnya
Berikut ini adalah di antara orang-orang yang berlindung diri dengan agama Islam, masuk Islam bersama kaum Muslimin, serta menampakkan keislamannya, padahal mereka orang-orang munafik, dari golongan rahib-rahib Yahudi.1
Dari Bani Qainuqa': Sa'd bin Hunaif, Zaid bin al-Lushait, Nu'man bin Awfa bin 'Amr, dan 'Utsman. Zaid bin al-Lushait pernah bertengkar dengan 'Umar di pasar Bani Qainuqa'. Ketika beliau kehilangan untanya, Zaid berkata: "Muhammad mengaku mendapat wahyu dari langit, mengapa sampai dia tidak tahu di mana untanya berada?" Beliau bersabda, setelah mendapatkan wahyu dari Allah tentang lokasi unta beliau: "Sesungguhnya orang yang mengatakan bahwa Muhammad mengaku mendapat wahyu, kenapa tidak tahu di mana untanya berada, maka sesungguhnya aku tidak tahu apa-apa kecuali apa yang diberitahukan oleh Allah kepadaku, dan sungguh Allah telah menunjukkan kepadaku lokasi unta itu, ia berada di syi'b. Unta tersebut tertahan oleh pohon dengan tali kekangnya." Kemudian beberapa orang kaum Muslimin pergi ke sana dan mendapati unta tersebut seperti yang disabdakan beliau.
Rafi' bin Huraimalah. Pada saat dia mati, beliau bersabda tentang dirinya: "Pada hari ini, salah seorang pembesar orang-orang munafik telah meninggal dunia."
Rifa'ah bin Zaid bin at-Tabut. Dalam perjalanan pulang setelah perang melawan Bani al-Mushthalaq, angin bertiup kencang menerpa beliau hingga kaum Muslimin merasa kewalahan, kemudian beliau bersabda: "Janganlah kalian takut. Sesungguhnya angin ini bertiup kencang karena kematian salah satu pemimpin orang-orang kafir." Dan terbukti ketika beliau tiba di Madinah, beliau mendapati Rifa'ah bin Zaid bin at-Tabut meninggal dunia tepat pada hari angin bertiup kencang.
Silsilah bin Burham serta Kinanah bin Shuriya.8
- Munafik diusir dari masjid
Beberapa munafik diusir dari masjid beliau
Suatu hari beliau melihat beberapa orang munafik berbisik-bisik di masjid, lalu menyuruh para sahabat mengusir mereka. Abu Ayyub menyeret 'Amr bin Qais dan Rafi' bin Wadi'ah, 'Imarah bin Hazm mengusir Zaid bin 'Amr, Abu Muhammad Mas'ud bin Aus mengusir Qais bin 'Amr bin Sahl, 'Abdullah bin al-Harits mengusir al-Harits bin 'Amr, dan seorang dari Bani 'Amr bin 'Auf mengusir saudaranya Zuwai bin al-Harits.
Baca selengkapnya
Suatu hari beberapa orang munafik berada di masjid beliau. Beliau melihat mereka sedang berbincang di antara mereka dengan suara lirih sambil mendekat pada yang lain. Lalu beliau menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengusir mereka dengan tegas dari masjid.1
Abu Ayyub Khalid bin Zaid bin Kutaib beranjak berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan ke tempat 'Amr bin Qais, saudara Bani Ghanm bin Malik bin an-Najjar. 'Amr bin Qais adalah pemilik patung-patung sesembahan mereka di zaman jahiliah. Lalu ia memegang kuat kaki 'Amr bin Qais dan menariknya hingga ia keluar dari masjid. 'Amr bin Qais berkata kepada Abu Ayyub: "Wahai Abu Ayyub, pantaskah engkau mengusir diriku dari tempat pengeringan kurma Bani Tsa'labah?" Lalu Abu Ayyub bergerak menuju tempat Rafi' bin Wadi'ah, salah seorang Bani an-Najjar. Ia pegang kuat leher baju Rafi', menariknya dengan kencang, menampar wajahnya, dan mengusirnya dari masjid seraya berkata: "Celakalah engkau wahai orang munafik yang menjijikkan. Wahai munafik kotor, keluarlah dari masjid Rasulullah ﷺ."
'Imarah bin Hazm bangkit ke tempat Zaid bin 'Amr, seorang lelaki berjenggot panjang. Ia pegang jenggotnya dan menariknya dengan kencang sampai ia dipaksa keluar masjid. Kemudian 'Imarah mengepalkan kedua tangannya dan memukul wajah Zaid bin 'Amr sehingga Zaid tersungkur jatuh. Zaid berkata: "Wahai 'Imarah, engkau telah mencideraiku!" 'Imarah berkata: "Wahai munafik kotor, mudah-mudahan Allah mencelakakanmu. Apa yang Allah persiapkan bagimu nanti jauh lebih mengerikan daripada tamparanku. Janganlah sekali-kali engkau mendekati masjid Rasulullah ﷺ."
Abu Muhammad dari Bani an-Najjar, yang bernama lengkap Mas'ud bin Aus bin Zaid bin Ashram bin Zaid bin Tsa'labah bin Ghanm bin Malik bin an-Najjar, beranjak ke tempat Qais bin 'Amr bin Sahl. Ia pemuda satu-satunya di tengah orang-orang munafik saat itu, lalu ia mendorong tengkuknya sampai ia keluar dari masjid. Seseorang dari Khadirah bin al-Khazraj bernama 'Abdullah bin al-Harits, dari kabilah yang sama dengan Sa'id al-Khudri, berjalan ke tempat al-Harits bin 'Amr yang memiliki rambut sangat tebal. Ia menarik rambutnya dan menyeretnya dengan kuat sampai keluar dari masjid. Al-Harits bin 'Amr berkata: "Wahai anak al-Harits, engkau telah berlaku di luar batas pada diriku." 'Abdullah menjawab: "Engkau sangat pantas menerimanya, wahai musuh Allah, karena Allah telah menurunkan firman-Nya tentang dirimu. Maka janganlah engkau pernah lagi mendekati masjid Rasulullah ﷺ karena sesungguhnya dirimu itu najis."1
Seseorang dari Bani 'Amr bin 'Auf bangkit ke tempat saudaranya, Zuwai bin al-Harits, lalu mengusirnya keluar dari masjid. Zuwai tidak menerima perlakuan seperti itu dari saudaranya, maka ia berkata: "Setan telah menguasai dirimu dan kau berada dalam cengkeraman perintahnya." Orang-orang munafik inilah yang berada di masjid ketika beliau memerintahkan agar mereka diusir dari masjid.9
- Al-Baqarah 1-20
Awal surat al-Baqarah tentang rabi dan munafik
Tentang pendeta Yahudi dan orang munafik dari al-Aus dan al-Khazraj, Allah menurunkan permulaan surat al-Baqarah sampai ayat seratus. Ibnu Ishaq menafsirkan ayat 1-20: orang bertakwa, orang yang beriman kepada yang gaib, kekafiran pendeta Yahudi terhadap kitab mereka sendiri, orang munafik yang menipu diri mereka, "setan-setan mereka" yaitu orang Yahudi, dan dua perumpamaan tentang api dan hujan lebat.
Baca selengkapnya
Mengenai pendeta-pendeta Yahudi dan orang munafik dari al-Aus dan al-Khazraj, Allah menurunkan permulaan surat al-Baqarah sampai ayat seratus. Berikut pokok penafsiran yang Ibnu Ishaq sebutkan sesudah tiap ayat.1
- QS al-Baqarah: 1-5Tidak ada kesamaran dan keraguan dalam kitab itu. Orang bertakwa adalah mereka yang takut siksa Allah karena meninggalkan petunjuk yang telah mereka ketahui, dan berharap rahmat-Nya dengan membenarkan apa pun yang datang dari-Nya. Mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat dengan harapan ridha Allah, percaya sepenuhnya kepada apa yang dibawa beliau dan rasul sebelumnya tanpa membeda-bedakan, serta yakin akan Hari Berbangkit, Kiamat, surga, neraka, hisab, dan neraca amal. Mereka itulah yang mendapat cahaya petunjuk dan beruntung, memperoleh apa yang mereka cari dan selamat dari apa yang mereka hindari.
- QS al-Baqarah: 6-7Orang kafir adalah mereka yang mengingkari apa yang diturunkan kepada beliau walau mengaku beriman kepada apa yang diturunkan kepada rasul sebelumnya. Mereka mengingkari kitab mereka sendiri yang memuat kenabian beliau dan mengkhianati perjanjian yang diambil dari mereka untuk beliau; maka peringatan beliau tidak berguna. Penglihatan mereka ditutup dari kebenaran, dan siksa yang berat itu ditujukan untuk pendeta-pendeta Yahudi yang mendustakan kebenaran padahal sebelumnya mengetahuinya.
- QS al-Baqarah: 8-16Yang dimaksud orang yang berkata "kami beriman" tetapi bukan orang beriman adalah orang-orang munafik dari al-Aus dan al-Khazraj dan yang semisal mereka. Penyakit dalam hati mereka adalah keraguan dan prasangka, yang Allah lipatgandakan. Mereka mengaku "mengadakan perbaikan", yakni bermaksud mendamaikan kaum Mukminin dan Ahli Kitab. "Setan-setan mereka" adalah orang-orang Yahudi yang menyuruh mereka mendustakan kebenaran; kepada mereka orang munafik berkata, "Kami sependirian dengan kamu", yakni hanya berolok-olok. Mereka menukar kekafiran dengan keimanan.
- QS al-Baqarah: 17-20Perumpamaan orang yang menyalakan api: mereka tidak kuasa melihat dan mengutarakan kebenaran. Apabila mereka keluar dengan kebenaran dari gelap kekafiran, mereka memadamkannya kembali dengan kekafiran dan kemunafikan, dan Allah membiarkan mereka dalam gelap sehingga mereka tidak mampu melihat petunjuk atau bertahan pada kebenaran. Perumpamaan hujan lebat dengan petir dan kilat: mereka berada dalam gulita kekafiran, menghindari kematian dari orang-orang yang berbeda dengan mereka dan mengkhawatirkan mereka, sebagaimana orang menyumbat telinga karena takut mati oleh guruh. Setiap kali kilat menyinari mereka, yakni ketika mereka mengetahui kebenaran dan membicarakannya, mereka berjalan; jika mereka kembali dari kebenaran kepada kekafiran, mereka menjadi linglung kebingungan.10
- Al-Baqarah 21-24
Seruan tauhid dan tantangan membuat satu surat
Ibnu Ishaq menafsirkan seruan "Hai manusia, sembahlah Tuhanmu" sebagai ditujukan kepada orang kafir dan munafik: esakan Tuhan, jangan menyekutukan-Nya dengan tandingan, dan jika ragu pada Al-Qur'an, buatlah satu surat yang semisal. Ibnu Hisyam menjelaskan "al-andad" dengan syair Labid bin Rabi'ah.
Baca selengkapnya
Kemudian Allah berfirman: "Hai manusia, sembahlah Tuhanmu" (QS al-Baqarah: 21). Perintah ini diarahkan kepada dua kelompok di atas, yaitu orang-orang kafir dan munafik: kalian harus mengesakan Tuhan kalian, yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, yang menjadikan bumi sebagai hamparan, langit sebagai atap, menurunkan air hujan dan menghasilkan buah-buahan sebagai rezeki.1
Al-andad artinya "al-amtsal" (yang serupa), kata tunggalnya "nidd". Labid bin Rabi'ah berkata dalam syairnya: "Aku memuji Allah karena Dia tidak punya nidd (sekutu), di tangan-Nya segala kebaikan apa yang Dia kehendaki." Ini adalah penggalan syairnya.5
Yakni janganlah kalian menyekutukan Allah dengan selain-Nya berupa tandingan-tandingan yang tidak memberi manfaat dan tidak pula mendatangkan bahaya. Kalian tahu bahwa tidak ada Tuhan yang kuasa memberi rezeki kepada kalian selain Dia, dan bahwa tauhid yang rasul serukan kepada kalian adalah benar dan tiada sedikit pun keraguan padanya.1
Mengenai ayat 23-24: apabila kalian ragu terhadap apa yang dibawa rasul, buatlah satu surat yang semisal Al-Qur'an dan ajaklah penolong-penolong kalian, yaitu pihak-pihak yang mampu membantu kalian. Karena kebenaran telah tampak jelas, kalian tidak akan mampu membuatnya. Neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu itu disediakan buat orang-orang kafir yang semisal dengan kalian.
Kemudian Allah memberikan kabar gembira dan peringatan kepada mereka akibat melanggar perjanjian yang telah diambil atas mereka untuk Nabi-Nya apabila beliau datang kepada mereka, dan menerangkan asal-muasal penciptaan mereka dan para leluhur mereka, Adam dengan segala kondisinya, serta apa yang Allah lakukan padanya saat Adam tidak taat kepada-Nya.1
- Seruan kepada Bani Israil
Ayat 40-44: janji dan ilmu tentang Nabi
Seruan "Hai Bani Israil" ditujukan kepada pendeta-pendeta Yahudi. Mereka diingatkan akan nikmat Allah pada leluhur mereka yang diselamatkan dari Fir'aun, akan janji yang dibebankan atas mereka untuk Nabi Ahmad (Muhammad), dan agar tidak menjadi orang yang pertama kafir kepadanya karena mereka mempunyai ilmu tentang dirinya. Mereka juga ditegur karena menyuruh orang lain berbuat baik sambil melupakan diri sendiri.
Baca selengkapnya
Allah berfirman: "Hai Bani Israil" (QS al-Baqarah: 40). Seruan itu diarahkan untuk pendeta-pendeta Yahudi.1
- "ingatlah akan nikmat-Ku"Nikmat atas kalian secara khusus dan atas leluhur kalian, yaitu Allah menyelamatkan mereka dari kejahatan Fir'aun dan kaumnya.
- "dan penuhilah janjimu kepada-Ku"Janji yang dibebankan di pundak kalian untuk Nabi Ahmad (Muhammad) apabila ia datang kepada kalian. Allah akan menepati janji-Nya bila kalian membenarkan dan mengikuti Nabi itu, yaitu dengan melepaskan belenggu dosa dari pundak kalian. "Hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut": Allah akan menurunkan siksaan yang pernah diturunkan kepada leluhur kalian dan yang kalian ketahui bentuknya.
- "janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya"Jangan menjadi orang yang pertama kafir kepada Nabi itu, sebab kalian memiliki ilmu tentang dirinya yang tidak dimiliki orang selain kalian. Jangan menyembunyikan ilmu tentang Rasul-Ku dan apa yang dibawanya, yang kalian temukan dalam kitab-kitab suci kalian.
- QS al-Baqarah: 44"Mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebajikan, sedang kamu melupakan dirimu sendiri?" Yakni, mengapa kalian melarang manusia kafir terhadap kenabian dan janji dalam Taurat, padahal kalian lupa pada diri sendiri; kalian ingkar terhadap janji Allah untuk menyatakan kebenaran Rasul-Nya dan menolak Kitab-Nya yang kalian ketahui.
- Kisah Bani Israil
Sapi betina, petir, manna dan salwa, mata air, dan hati yang keras
Allah memaparkan kepada mereka kisah sapi betina, tobat mereka yang dikabulkan, pengusiran mereka, dan perkataan bodoh mereka "perlihatkan Allah secara terang-terangan", sehingga mereka dihantam petir lalu dihidupkan kembali. Mereka dinaungi awan dan diberi manna dan salwa, diperintahkan masuk pintu gerbang sambil bersujud dan berkata "bebaskanlah kami dari dosa", tetapi mengubahnya. Air memancar dua belas mata air bagi tiap kabilah, dan mereka menuntut sayur-mayur; Gunung Ath-Thur diangkat di atas mereka; sebagian diubah menjadi kera; hati mereka mengeras seperti batu.
Baca selengkapnya
Kemudian Allah menerangkan kepada mereka semua perbuatan mereka: kisah sapi betina, tindakan mereka terhadapnya, tobat mereka yang Allah kabulkan, pengusiran mereka, dan perkataan bodoh mereka: "Perlihatkan Allah kepada kami secara terang-terangan."1
Jahrah artinya tampak jelas kepada kami dan tidak tertutup sesuatu pun dari kami. Mereka dihantam petir karena keteledoran mereka, lalu Allah menghidupkannya kembali, menaungi mereka dengan awan, dan menurunkan kepada mereka manna dan salwa.5
Lalu Allah berfirman kepada mereka (QS al-Baqarah: 58): masuklah pintu gerbangnya sambil bersujud dan katakanlah "bebaskanlah kami dari dosa"; ucapkan apa yang Kami perintahkan, pasti Allah akan menghapus dosa kalian. Allah menjelaskan bahwa mereka mengubah firman itu sebagai pelecehan terhadap perintah-Nya.
Al-mann adalah sesuatu yang turun pada waktu sahur pada pepohonan yang mereka miliki, lalu mereka mengambilnya dalam keadaan manis seperti madu serta meminum dan memakannya. As-salwa adalah salah satu jenis burung; ada pula yang mengatakan burung puyuh; madu kadang kala juga dinamakan as-salwa. "Hiththatun" artinya hapuslah dosa-dosa kami.5
Di antara perbuatan mereka mengubah perintah Allah adalah sebagaimana dituturkan kepadaku oleh Shalih bin Kaisan dari Shalih mantan budak at-Taumah binti Umayyah bin Khalaf, dari Abu Hurairah dan dari orang yang tidak aku ragukan integritasnya dari Ibnu 'Abbas, dari beliau yang bersabda: "Mereka masuk dari pintu tempat mereka diperintahkan masuk darinya dalam keadaan sujud, tapi mereka memasukinya dengan cara merangkak sambil mengatakan, 'Hinthah fi sya'iir' (hinthah adalah salah satu jenis gandum)."1
Ayat tersebut dilanjutkan dengan kisah permohonan air oleh Musa bagi kaumnya, perintah Allah agar Musa memukul batu dengan tongkatnya sehingga memancar dua belas mata air, setiap kabilah dengan mata airnya sendiri dan mengetahuinya, dan kisah perkataan mereka kepada Musa (QS al-Baqarah: 61): "Kami tidak bisa sabar dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah kepada Tuhanmu agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayur, ketimun, bawang putih, kacang adas, dan bawang merahnya." Musa berkata: "Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta."
Al-fumu berarti biji gandum.5
Mereka tidak melakukan perintah Musa. Ayat itu dilanjutkan dengan kisah diangkatnya Gunung Ath-Thur di atas mereka, perubahan fisik mereka yang Allah ubah menjadi kera akibat tindakan buruk mereka, kisah sapi betina yang mengandung pelajaran dalam kasus pembunuhan yang mereka persengketakan (setelah mereka bertanya berulang-ulang kepada Musa tentang ciri-ciri sapi itu), dan mengerasnya hati mereka hingga seperti batu atau lebih keras lagi (QS al-Baqarah: 74): di antara batu ada yang lebih lembut daripada hati kalian yang keras terhadap kebenaran yang diserukan kepada kalian.111
- Mendengar Taurat
Sebagian mendengar firman Allah lalu mengubahnya; 'api neraka beberapa hari'
Ayat 75 menanyakan apakah mereka masih diharapkan percaya setelah sebagian mendengar firman Allah lalu mengubahnya. Ibnu Ishaq menceritakan Bani Israil meminta Musa agar mereka dapat mendengar Allah, lalu Musa membawa mereka ke Ath-Thur, dan sebagian mengganti perintah itu. Ayat 76-78 tentang orang Yahudi yang berkata beriman di hadapan kaum Mukminin, tetapi menyuruh saling merahasiakan. Ayat 80-82 tentang klaim "kami hanya disentuh api neraka beberapa hari", dengan penjelasan Ibnu 'Abbas bahwa mereka menyebut usia dunia tujuh ribu tahun dan hanya tujuh hari siksa.
Baca selengkapnya
Kemudian Allah mengarahkan firman-Nya kepada beliau dan para sahabat (QS al-Baqarah: 75): "Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?"1
Maksud firman bahwa mereka mendengar Taurat itu tidak berarti semua mendengarkannya; beberapa ulama berpendapat hanya kalangan tertentu. Bani Israil berkata kepada Musa: "Wahai Musa, sesungguhnya kami terhijab, tidak mampu melihat Allah secara nyata, maka perdengarkan kepada kami suara Allah agar Dia berkomunikasi langsung denganmu." Musa memohonkan permintaan itu. Allah berfirman kepada Musa: "Perintahkan mereka untuk membersihkan diri dengan mencuci pakaian mereka, dan berpuasa." Mereka melaksanakannya, lalu Musa membawa mereka sampai tiba di bukit Ath-Thur. Tatkala mereka tertutup kabut tebal, Musa memerintahkan mereka bersujud. Saat mereka bersujud itulah Allah berbicara dengan Musa sementara mereka mendengar firman-Nya yang memerintahkan dan melarang, hingga mereka mampu memahami apa yang baru saja mereka dengar. Lalu Musa membawa mereka kembali kepada Bani Israil. Sesampainya di sana, sebagian mereka mengganti apa yang baru saja Allah perintahkan: ketika Musa berkata, "Sesungguhnya Allah memerintahkan ini dan itu atas kalian," mereka mengatakan sebaliknya dari yang Allah firmankan. Merekalah yang Allah terangkan kepada Rasul-Nya.
Ayat 76: ketika mereka berjumpa dengan orang beriman, mereka berkata "Kami pun telah beriman", yakni beriman dengan sahabat kalian itu, hanya saja beliau diutus khusus kepada kalian (orang Arab). Tapi ketika bersama kelompoknya mereka berkata: "Janganlah kalian menceritakan ini kepada orang-orang Arab, sebab dulu kalian pernah meminta kemenangan atas mereka dengan selalu menyebut nama Muhammad, ternyata kini Muhammad berada di pihak mereka." Ayat itu turun tentang mereka: "Apakah kamu menceritakan kepada mereka apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, supaya mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Tuhanmu?" Yakni apakah kalian mengakui Muhammad sebagai Nabi padahal kalian telah dimintai perjanjian untuk mengikutinya? Dia telah menerangkan bahwa Muhammad adalah Nabi yang sejak lama kita tunggu-tunggu dan kita dapati namanya dalam kitab kita; maka ingkarilah dan jangan pernah mengakuinya. Ayat 77-78: mereka tidak memahami isi Al-Kitab, tidak mengakui kenabian beliau melainkan hanya berdasarkan prasangka.
"Ketika beliau tiba di Madinah, orang-orang Yahudi berkata: 'Usia dunia ini ialah tujuh ribu tahun. Allah menyiksa manusia di neraka dalam setiap seribu tahun hitungan hari-hari dunia dengan hanya satu hari dari hitungan hari-hari akhirat di neraka. Dengan demikian mereka hanya menjalani tujuh hari siksa di dalam neraka, kemudian siksa terhenti.'" Allah menurunkan ayat tentang ucapan mereka (QS al-Baqarah: 80-81): barang siapa berbuat dosa dan telah diliputi oleh dosanya, mereka penghuni neraka dan kekal di dalamnya. Yakni, barang siapa berlaku seperti kalian dan ingkar sebagaimana kekafiran kalian, kekafiran akan menghapus kebaikan dirinya di sisi Allah. Ayat 82: barang siapa beriman kepada apa yang mereka ingkari dan melakukan apa yang kalian tinggalkan dari agama-Nya, bagi mereka surga dan mereka kekal di dalamnya; balasan kebaikan dan keburukan diberikan terus-menerus kepada pelakunya tanpa terhenti.12
- Janji Bani Israil
Ayat 83-86: janji yang dilanggar dan perang Aus-Khazraj
Allah mencela Bani Israil karena tidak menepati janji untuk hanya menyembah-Nya dan berbuat baik kepada orang tua, kerabat, yatim, dan miskin, dan karena mereka saling membunuh dan mengusir. Ibnu Ishaq menjelaskan latar belakangnya: pendeta Yahudi terbagi dua, Bani Qainuqa' sekutu al-Khazraj dan Bani an-Nadhir dan Quraizhah sekutu al-Aus. Saat al-Aus dan al-Khazraj berperang, tiap kubu membantu sekutunya hingga menumpahkan darah, lalu menebus tawanan menurut Taurat.
Baca selengkapnya
Allah mencela mereka dengan firman-Nya (QS al-Baqarah: 83): "Ingatlah ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil: janganlah kamu menyembah selain Allah, berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu kecuali sebagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling." Yakni kalian meninggalkan semua itu dan tidak menetapi perjanjian, bukan karena kurang pengetahuan. Ayat 84: janji tidak menumpahkan darah dan tidak mengusir saudara sebangsa dari kampung halaman; ini hak dari perjanjian-Nya atas mereka. Ayat 85: kemudian kalian membunuh dan mengusir segolongan darimu, kamu bantu-membantu dengan dosa dan permusuhan; yang dimaksud "mereka" adalah orang-orang musyrik, yang kalian tumpahkan darahnya dan kalian usir dari negeri mereka; tetapi jika mereka datang sebagai tawanan, kalian tebus, padahal mengusir mereka terlarang bagi kalian. Yakni kalian mengetahui bahwa itu ditetapkan dalam agama dan kitab kalian. "Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain?" Yakni apakah kalian menebus mereka dalam keadaan percaya dan mengusir mereka dalam keadaan mengingkari.1
Allah memurkai mereka disebabkan perbuatan buruk mereka, padahal Allah telah mengharamkan mereka di Taurat membunuh orang lain dan mewajibkan menebus tawanan perang.
Pendeta-pendeta Yahudi terbagi dua. Pertama, Bani Qainuqa' dan orang-orang yang selaras dengan mereka, sekutu al-Khazraj. Kedua, an-Nadhir, Quraizhah, dan orang-orang yang selaras dengan mereka, sekutu al-Aus. Apabila terjadi perang antara al-Khazraj melawan al-Aus, Bani Qainuqa' berada di pihak al-Khazraj, sedangkan an-Nadhir dan Quraizhah berada di pihak al-Aus. Setiap kubu membantu sekutunya menghadapi lawannya, yang pada akhirnya mereka menumpahkan darah, padahal mereka memiliki Taurat yang darinya mereka mengerti hak dan kewajiban. Al-Aus dan al-Khazraj adalah orang-orang musyrik yang tidak mengetahui surga, neraka, Hari Kebangkitan, Hari Kiamat, kitab suci, atau hal-hal yang halal dan haram.1
Apabila perang usai, mereka menebus tawanan karena yakin apa yang tertera dalam Taurat. Bani Qainuqa' menebus tawanan mereka di al-Aus. An-Nadhir dan Quraizhah menebus tawanan mereka di al-Khazraj. Pada waktu yang sama mereka menyatakan darah yang tertumpah itu halal, dan korban yang terbunuh sebagai realisasi dukungan mereka terhadap orang-orang musyrik. Allah mencela: apakah kalian menebus tawanan berdasarkan Taurat lalu kalian membunuh manusia padahal pembunuhan diharamkan dalam Taurat; apakah kalian mengusirnya dari negerinya dan mendukung orang yang menyekutukan Allah dan menyembah patung karena mengharapkan kehidupan yang sekejap? "Demikianlah yang diperbuat orang-orang Yahudi terhadap al-Khazraj dan al-Aus. Inilah latar belakang sebab dilansirnya kisah ini oleh Allah."
- Nabi Isa dan kaum Anshar
Ayat 87-90: kafir kepada rasul dan ucapan Anshar
Ayat 87 menyebut mukjizat Nabi Isa: menghidupkan orang mati, membentuk burung dari tanah lalu meniupnya, menyembuhkan orang sakit, dan memberi tahu apa yang tersimpan di rumah-rumah mereka. Ayat 88-90 tentang mereka yang menyatakan hati tertutup dan ingkar setelah memohon kemenangan dengan kedatangan Nabi. Seorang sesepuh Anshar menuturkan bahwa pendeta Yahudi dahulu mengancam akan menumpas orang Anshar seperti kaum 'Ad dan Iram bila Nabi datang, tetapi ketika beliau diutus dari Quraisy, orang Anshar yang beriman dan mereka yang mengingkarinya.
Baca selengkapnya
Kemudian Allah berfirman (QS al-Baqarah: 87): "Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al-Kitab kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya berturut-turut dengan rasul-rasul, dan Kami berikan bukti kebenaran kepada Isa putra Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul-Qudus." Di antara mukjizat Nabi Isa adalah menghidupkan orang mati, meniup tanah yang dibentuk burung hingga menjadi burung hidup dengan izin Allah, menyembuhkan orang sakit, dan memberi tahu apa yang tersimpan di rumah-rumah mereka. Allah menyebutkan bantahan atas mereka yang ada dalam Taurat dan Injil yang dibuat untuk mereka, dan memaparkan kekafiran mereka terhadap semua itu: "Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu angkuh; maka beberapa orang kamu dustakan dan beberapa yang lain kamu bunuh?" Ayat 88: mereka berkata "Hati kami tertutup"; Allah berfirman bahwa Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka, sehingga sedikit sekali yang beriman. Ayat 89: setelah datang kepada mereka Al-Qur'an yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon kedatangan Nabi untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, mereka ingkar.1
"Ayat di atas diturunkan karena perbuatan kami dan orang-orang Yahudi. Kami mengalahkan orang-orang Yahudi pada masa jahiliah, saat itu kami masih berstatus ahli syirik, sedangkan mereka Ahli Kitab. Dahulu pendeta-pendeta Yahudi berkata kepada kami: 'Kemunculan nabi yang akan diutus telah dekat. Apabila ia telah muncul, kami akan menumpas kalian sebagaimana penumpasan terhadap kaum 'Ad dan Iram.' Pada saat Allah mengutus Rasul-Nya dari suku Quraisy, kami mengimaninya sementara mereka mengingkarinya."13
Ayat 89-90: Allah murka karena mereka menyia-nyiakan Taurat dan ingkar kepada beliau yang diutus kepada mereka. Kemudian Allah memurkai mereka dengan mengangkat Gunung Ath-Thur ke atas mereka, dan mereka menjadikan anak sapi betina sebagai tuhan selain Allah.
- Mengharap mati
Ayat 94-97: ingin mati, umur panjang, dan musuh Jibril
Beliau diperintahkan mengatakan kepada mereka: jika kampung akhirat khusus untuk kalian, inginilah kematian. Mereka tidak mau melakukannya karena mereka memiliki pengetahuan tentang diri beliau namun mengingkarinya. Orang Yahudi justru manusia yang paling loba kepada kehidupan dunia, bahkan lebih dari musyrik, tetapi usia panjang tidak akan menyelamatkan mereka. Ayat 97 menyebut siapa yang memusuhi Jibril.
Baca selengkapnya
Kemudian Allah berfirman kepada beliau (QS al-Baqarah: 94): "Katakanlah: jika kamu menganggap bahwa kampung akhirat itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian, jika kamu memang benar." Yakni, doakan kematian atas salah satu dari dua kelompok yang paling berdusta di sisi Allah, namun mereka tidak mau melakukannya. Ayat 95: sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu karena kesalahan-kesalahan yang diperbuat tangan mereka. Mereka tidak mengharapkan kematian karena mereka memiliki pengetahuan tentang diri beliau, hanya saja mereka mengingkarinya. Ada yang mengatakan, andai saja orang-orang Yahudi mengharapkan kematian pada hari itu, tidak akan ada seorang Yahudi pun yang tersisa di atas bumi.1
Allah memaparkan tabiat orang Yahudi yang menginginkan kehidupan kekal di dunia dan umur panjang (QS al-Baqarah: 96): mereka manusia yang paling loba kepada kehidupan dunia, bahkan lebih daripada orang musyrik; masing-masing ingin diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu tidak akan menjauhkannya dari siksa. Yakni, usia panjang tidak akan menyelamatkan mereka dari azab. Hal itu karena orang kafir tidak mengharapkan kebangkitan setelah kematian; ia memilih hidup kekal di dunia karena mengetahui kehinaan yang akan menimpanya di akhirat akibat menyia-nyiakan pengetahuan tentang nabi yang dimilikinya. Kemudian Allah berfirman (QS al-Baqarah: 97): "Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur'an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman."
- Pertanyaan para rabi
Para pendeta Yahudi bertanya, dan Jibril dianggap musuh
Beberapa pendeta Yahudi berkata akan beriman bila beliau menjawab pertanyaan mereka. Beliau meminta mereka berjanji lebih dulu, lalu bertanya: mengapa bayi menyerupai ibunya padahal mani dari bapaknya, bagaimana cara tidurnya, apa yang diharamkan Israil atas dirinya, dan tentang ruh. Beliau menjawab dengan sumpah atas nama Allah dan hari-hari-Nya di Bani Israil. Atas pertanyaan terakhir mereka mengakui bahwa Jibril yang datang kepada beliau, tetapi berkata bahwa Jibril musuh mereka yang datang dengan kasar dan menumpahkan darah.
Baca selengkapnya
'Abdullah bin 'Abdurrahman bin Abu Husain al-Makki bertutur kepadaku dari Syahr bin Hausyab al-Asy'ari yang berkata bahwa beberapa pendeta Yahudi datang menemui beliau. Mereka berkata: "Wahai Muhammad, jawablah pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan kepadamu. Apabila engkau mampu memberikan jawaban, maka kami akan mengikuti, membenarkan, dan beriman kepadamu." Beliau bersabda: "Kalian mempunyai perjanjian dengan Allah bahwa apabila aku mampu menjawab pertanyaan yang kalian ajukan, kalian pasti membenarkanku?" Mereka berkata: "Ya." Beliau bersabda: "Katakanlah apa yang kalian hendak tanyakan."1
- Pertanyaan 1"Terangkanlah kepada kami kenapa seorang bayi itu menyerupai ibunya, padahal sperma itu berasal dari bapaknya!" Beliau menjawab: "Aku bersumpah dengan Allah dan dengan hari-hari-Nya di Bani Israil, tahukah kalian bahwa sperma laki-laki itu berwarna putih kental, dan ovum wanita berwarna kuning dan encer; maka mana di antara keduanya yang lebih dominan, keserupaan akan terjadi padanya." Pendeta-pendeta Yahudi berkata: "Benar!"
- Pertanyaan 2"Kini terangkanlah kepada kami, bagaimana cara tidurmu!" Beliau menjawab: "Aku bersumpah dengan Allah dan dengan hari-hari-Nya di Bani Israil, aku seperti yang kalian perkirakan, di mana mataku tidur namun hatiku tidaklah tidur." Mereka berkata: "Benar." Beliau bersabda: "Begitu juga tidurku, mataku tidur, namun hatiku tetap terjaga."
- Pertanyaan 3"Terangkan kepada kami apa saja yang diharamkan orang-orang Israil atas diri mereka!" Beliau menjawab: "Aku bersumpah dengan Allah dan dengan hari-hari-Nya di Bani Israil, tahukah kalian bahwa mulanya makanan dan minuman yang paling disukai Israil adalah daging unta dan susunya? Kemudian ketika ia sakit, maka Allah menyembuhkannya dengannya, kemudian ia mengharamkan atas dirinya makanan dan minuman yang paling disukainya itu sebagai refleksi syukurnya kepada Allah. Dia mengharamkan atas dirinya daging dan susu unta." Mereka berkata: "Benar."
- Pertanyaan 4"Kini terangkanlah kepada kami tentang ruh!" Beliau bersabda: "Aku bersumpah dengan Allah dan dengan hari-hari-Nya di Bani Israil, apakah kalian tahu bahwa yang datang kepadaku adalah Jibril?" Mereka berkata: "Betul! Tapi wahai Muhammad, dia adalah musuh kami. Ia malaikat, tapi dia datang dengan kasar dan menumpahkan darah. Jika bukan karena itu, pastilah kami mengikutimu."
Kemudian Allah menurunkan firman tentang ucapan mereka (QS al-Baqarah: 97-102): barang siapa menjadi musuh Jibril, Jibril telah menurunkannya ke dalam hati beliau dengan izin Allah; barang siapa menjadi musuh Allah, malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, Allah adalah musuh orang kafir; ayat-ayat yang jelas tidak diingkari kecuali orang fasik; sebagian orang yang diberi Taurat melemparkan Kitab Allah ke belakang punggung; mereka mengikuti apa yang dibaca setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman, padahal Sulaiman tidak kafir, tetapi setan-setan itulah yang kafir; mereka mengajarkan sihir dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil, Harut dan Marut, yang tidak mengajarkan sesuatu kepada seorang pun sebelum berkata, "Sesungguhnya kami hanya cobaan, sebab itu janganlah kamu kafir."
Sebagaimana berita yang sampai kepadaku, ketika beliau menyebut Nabi Sulaiman bin Daud sebagai bagian dari para rasul, sebagian pendeta Yahudi berkata: "Apakah kalian tidak merasa heran dengan Muhammad? Ia beranggapan bahwa Sulaiman bin Daud itu seorang nabi. Demi Allah, Sulaiman bin Daud itu tidak lebih dari seorang penyihir." Lalu Allah menurunkan ayat tentang mereka (QS al-Baqarah: 102): "Padahal Sulaiman tidak kafir, hanya setan-setan itulah yang kafir." Yakni, setan-setan itu kafir karena mengikuti sihir dan mengamalkannya.1
Seorang yang aku percaya kejujurannya berkata kepadaku dari 'Ikrimah dari Ibnu 'Abbas: yang diharamkan Israil terhadap dirinya ialah bagian yang menonjol dari hati, ginjal, dan lemak, kecuali lemak pada tulang punggung, sebab lemak pada tulang punggung biasanya disediakan untuk sesajen yang kemudian ditelan api.114
- Surat ke Khaybar
Surat beliau kepada orang-orang Yahudi Khaybar
Mantan budak keluarga Zaid bin Tsabit menuturkan, dari 'Ikrimah atau Sa'id bin Jubair dari Ibnu 'Abbas, bahwa beliau menulis surat kepada orang Yahudi Khaybar. Isinya mengutip QS al-Fath: 29 yang menggambarkan beliau dan para sahabat dalam Taurat dan Injil, lalu bersumpah atas nama Allah yang memberi mereka manna dan salwa dan mengeringkan laut bagi leluhur mereka, dan bertanya apakah mereka menemukan dalam kitab mereka bahwa mereka wajib beriman kepada Muhammad. Jika tidak, tidak ada paksaan, karena petunjuk dan kesesatan telah jelas.
Baca selengkapnya
Sebagaimana dituturkan kepadaku oleh mantan budak keluarga Zaid bin Tsabit dari 'Ikrimah atau Sa'id bin Jubair dari Ibnu 'Abbas, beliau menulis surat kepada orang-orang Yahudi Khaybar yang berbunyi sebagai berikut:1
"Bismillahirrahmanirrahim. Dari Muhammad, Rasulullah ﷺ, sahabat dan saudara Musa, dan orang yang membenarkan apa telah berfirman kepada kalian, wahai orang-orang yang diberi Kitab Taurat. Kalian telah menemukan ini dalam kitab kalian: 'Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir dengan kekuatan orang-orang mukmin. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.' (QS al-Fath: 29).
Aku bersumpah dengan nama Allah, dan dengan apa yang diturunkan kepada kalian, aku bersumpah dengan Dzat yang memberi kalian makan berupa al-manna dan as-salwa yang diberikan kepada orang-orang sebelum kalian, aku bersumpah dengan Allah yang mengeringkan laut untuk para leluhur kalian kemudian Allah menyelamatkan kalian dari Fir'aun dan tindakannya. Tidakkah kalian mau memberitahukan kepadaku apakah kalian temukan dalam Kitab yang diturunkan kepada kalian bahwa kalian wajib percaya kepada Muhammad? Apabila kalian tidak menemukannya, maka tidak ada paksaan bagi kalian, karena Allah telah menjelaskan, 'Sungguh petunjuk dan kesesatan itu telah jelas' (QS al-Baqarah: 256). Aku seru kalian kepada Allah dan Nabi-Nya."15
- Abu Yasir dan huruf-huruf
Huyay menghitung huruf pembuka surat
Abu Yasir bin Akhthab mendengar beliau membaca "Alif Laam Miim. Kitab itu tiada keraguan..." dan menyampaikannya kepada saudaranya Huyay bin Akhthab. Huyay mendatangi beliau dan menghitung nilai huruf-huruf pembuka surat satu per satu (71, 161, 231, 271), lalu mengeluh persoalannya jadi sangat kompleks bagi mereka. Abu Yasir menjumlahkan semuanya menjadi 734 tahun. Para ulama meyakini QS Ali 'Imran: 7 turun karena ulah mereka; Ibnu Ishaq juga mendengar bahwa ayat itu turun untuk warga Najran, dan Muhammad Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif mengatakan ayat itu untuk beberapa orang Yahudi.
Baca selengkapnya
Sesungguhnya di antara pendeta-pendeta Yahudi dan orang-orang kafir Yahudi yang kisahnya disebutkan dalam Al-Qur'an, sebagaimana dituturkan kepadaku dari 'Abdullah bin 'Abbas dan Jabir bin 'Abdullah bin Ri'ab, yang bertanya kepada beliau dan membuat kerancuan bagi beliau untuk mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan, adalah Yasir bin Akhthab dan saudaranya.1
Suatu ketika Abu Yasir bin Akhthab berjalan melintasi beliau yang sedang membaca surat al-Baqarah, "Alif laam miim. Kitab itu tiada keraguan di dalamnya." Kemudian Abu Yasir menjumpai saudaranya, Huyay bin Akhthab, yang tengah berkumpul bersama orang-orang Yahudi, dan berkata: "Demi Allah, ketahuilah, baru saja aku mendengar Muhammad membaca apa yang diturunkan padanya: 'Alif laam miim. Kitab itu tiada keraguan di dalamnya.'" Orang-orang Yahudi berkata: "Apakah engkau benar-benar mendengarnya?" Ia menjawab: "Benar." Huyay bersama orang-orang Yahudi segera berangkat menemui beliau dan berkata: "Wahai Muhammad, telah dikabarkan kepada kami bahwa engkau membaca apa yang diturunkan kepadamu: 'Alif laam miim. Kitab itu tiada keraguan di dalamnya.'" Beliau bersabda: "Ya, benar." Mereka bertanya: "Apakah ayat itu dibawa Jibril dari sisi Allah?" Beliau bersabda: "Ya, benar." Mereka berkata: "Sungguh Allah telah mengutus beberapa nabi sebelum engkau. Kami tidak mengetahui Allah menjelaskan kepada salah seorang nabi itu tentang masa kekuasaannya dan masa kekuasaan umatnya selain pada dirimu."
Huyay menghadap orang-orang yang datang bersamanya: "Alif satu, laam tiga puluh, dan miim empat puluh. Jadi jumlah keseluruhannya tujuh puluh satu tahun. Apakah kalian akan menganut agama yang masa kekuasaannya hanyalah tujuh puluh satu tahun saja?" Kemudian ia menemui beliau dan berkata: "Hai Muhammad, apakah engkau mempunyai ayat lain selain ayat tadi?" Beliau bersabda: "Ya!" "Bagaimana bunyinya?" Beliau membaca: "Alif laam miim shaad" (QS al-A'raf: 1). Huyay berkata: "Demi Allah, ayat ini jauh lebih berat dan lebih panjang. Alif satu, laam tiga puluh, miim empat puluh, dan shaad sembilan puluh. Jadi jumlahnya seratus enam puluh satu tahun. Apakah engkau mempunyai ayat yang lain?" Beliau bersabda: "Ya." "Bagaimana bunyinya?" Beliau membaca: "Alif laam raa'" (QS Yunus: 1). Huyay berkata: "Ini jauh lebih berat dan lebih panjang. Alif satu, laam tiga puluh, dan raa' dua ratus. Jadi jumlahnya dua ratus tiga puluh satu tahun. Apakah engkau masih memiliki ayat yang lain?" Beliau bersabda: "Ya." "Bagaimana bunyinya?" Beliau membaca: "Alif laam miim raa'" (QS ar-Ra'd: 1). Huyay berkata: "Ini lebih berat dan lebih panjang. Alif satu, laam tiga puluh, miim empat puluh, dan raa' dua ratus. Jadi jumlahnya dua ratus tujuh puluh satu tahun. Wahai Muhammad, masalahnya menjadi sangat kompleks bagi kami, hingga kami tidak mengerti apakah engkau diberi banyak atau sedikit?"
Kemudian orang-orang Yahudi itu pergi. Abu Yasir berkata kepada saudaranya, Huyay, dan pendeta-pendeta Yahudi yang ikut bersamanya: "Tahukah kalian barangkali jumlah tadi diberikan kepada Muhammad, yaitu tujuh puluh satu, seratus enam puluh satu, dua ratus tiga puluh satu, dan dua ratus tujuh puluh satu. Jika dijumlah keseluruhannya menjadi tujuh ratus tiga puluh empat tahun." Pendeta-pendeta Yahudi berkata: "Persoalannya menjadi sangat kompleks bagi kami." Para ulama meyakini bahwa ayat QS Ali 'Imran: 7 ("Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab kepada kamu. Di antara isinya ada ayat-ayat muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al-Qur'an dan yang lain mutasyaabihaat") Allah turunkan karena ulah mereka.
Aku mendengar dari ulama kredibel yang tidak aku ragukan integritasnya bahwa ayat di atas diturunkan atas warga Najran, yaitu saat mereka bertemu beliau untuk bertanya tentang Isa bin Maryam.1
Muhammad Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif berkata kepadaku bahwa ia mendengar ayat itu diturunkan untuk beberapa orang Yahudi, namun tidak memberikan rinciannya lebih lanjut. Wallahu a'lam mana yang lebih benar.116
- Menanti lalu mengingkari
Yahudi menunggu nabi, tetapi mengingkarinya setelah ia dari Arab
Ibnu 'Abbas menuturkan bahwa orang-orang Yahudi dahulu berharap menang atas al-Aus dan al-Khazraj dengan wasilah nabi yang akan diutus, tetapi mengingkarinya ketika beliau berasal dari bangsa Arab. Mu'adz bin Jabal dan Bisyr bin al-Barra' bin Ma'rur menegur mereka. Salam bin Misykam, Malik bin ash-Shaif, Ibnu Shaluba al-Fithyuni, Rafi' bin Huraimalah dan Wahb bin Zaid, serta Huyay dan Abu Yasir mengucapkan perkataan yang kemudian ayat turun menanggapinya.
Baca selengkapnya
Aku mendengar dari 'Ikrimah mantan budak Ibnu 'Abbas atau dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu 'Abbas, ia berkata: orang-orang Yahudi berharap mengungguli orang-orang al-Aus dan al-Khazraj dengan wasilah beliau sebelum diutusnya. Namun ketika Allah mengutusnya dan ternyata beliau berasal dari orang-orang Arab, mereka kafir dan membantah apa saja yang dikatakan beliau. Kemudian Mu'adz bin Jabal dan Bisyr bin al-Barra' bin Ma'rur, saudara Bani Salimah, berkata kepada mereka: "Wahai orang-orang Yahudi, bertakwalah kepada Allah dan masuklah ke dalam Islam, karena kalian pernah mengharapkan kemenangan atas kami dengan perantara Muhammad, sedangkan kami pada saat itu masih musyrik. Kalian pernah sampaikan kepada kami bahwa beliau telah diutus, dan kalian telah terangkan kepada kami tentang sifat-sifat beliau." Salam bin Misykam, salah seorang dari Bani an-Nadhir, berkata: "Namun ia sama sekali tidak membawa apa pun yang kami ketahui, dan tidak membawa sesuatu yang pernah kami sampaikan kepada kalian." Allah menurunkan ayat tentang ucapan mereka (QS al-Baqarah: 89).1
Ketika beliau diangkat menjadi rasul dan memaparkan perjanjian yang telah Allah ambil dari mereka, Malik bin ash-Shaif berkata: "Demi Allah, kami tidak pernah diberi perjanjian agar percaya kepada Muhammad, tidak pernah pula dimintai perjanjian tentang dirinya." Allah menurunkan ayat tentang Malik bin ash-Shaif (QS al-Baqarah: 100). Ibnu Shaluba al-Fithyuni berkata kepada beliau: "Wahai Muhammad, engkau tidak datang kepada kami dengan membawa sesuatu yang pernah kami ketahui, dan Allah tidak menurunkan kepadamu ayat nyata yang mengharuskan kami beriman dan mengikutimu." Allah menurunkan ayat tentang ucapannya (QS al-Baqarah: 99). Rafi' bin Huraimalah dan Wahb bin Zaid berkata kepada beliau: "Wahai Muhammad, datangkanlah pada kami kitab yang engkau turunkan dari langit hingga kami bisa membacanya, lalu pancarkanlah air sungai untuk kami, pasti kami akan beriman, mengikuti dan membenarkanmu." Allah menurunkan firman-Nya tentang perkataan mereka (QS al-Baqarah: 108).1
Huyay bin Akhthab dan saudaranya, Abu Yasir bin Akhthab, adalah sosok orang Yahudi yang memendam dendam kesumat yang amat dalam kepada orang-orang Arab karena Allah memberikan karunia kepada mereka berupa seorang Rasul-Nya. Mereka berdua berupaya sekuat tenaga menjauhkan manusia dari agama Islam dengan segala kapasitas yang mereka miliki. Allah menurunkan firman-Nya tentang mereka berdua (QS al-Baqarah: 109).117
- Yahudi dan Kristen berselisih
Dua pihak saling menyangkal di hadapan beliau
Ketika delegasi Kristen Najran sampai, para pendeta Yahudi menemui mereka dan terlibat cekcok di hadapan beliau. Rafi' bin Huraimalah berkata, "Kalian tidak mempunyai pegangan," dan seorang dari Najran membalas yang sama. Allah menurunkan QS al-Baqarah: 113. Rafi' lalu meminta beliau memohon agar Allah berbicara langsung kepada mereka, dan 'Abdullah bin Shuriya al-A'war berkata bahwa petunjuk hanyalah yang mereka miliki. Beliau menjawab bahwa beliau mengikuti agama Ibrahim.
Baca selengkapnya
Pada saat delegasi Kristen Najran sampai di tempat beliau, pendeta-pendeta Yahudi datang menemui mereka dan langsung terlibat cekcok di hadapan beliau. Rafi' bin Huraimalah berkata: "Kalian tidak mempunyai pegangan," dan ia kafir kepada Isa bin Maryam dan Injil. Seorang delegasi Kristen Najran angkat bicara kepada orang-orang Yahudi: "Kalian tidak memiliki pegangan," dan ia juga mengingkari kenabian Musa dan kafir kepada Taurat. Allah menurunkan firman-Nya tentang ucapan mereka berdua (QS al-Baqarah: 113): orang Yahudi berkata Nasrani tidak mempunyai pegangan, orang Nasrani berkata Yahudi tidak mempunyai pegangan, padahal mereka sama-sama membaca Al-Kitab. Yakni, setiap pihak membaca dalam kitabnya apa yang membenarkan sesuatu yang mereka ingkari sendiri. Orang Yahudi kafir kepada Isa bin Maryam, padahal mereka punya Taurat yang di dalamnya Allah mengambil janji kepada mereka melalui mulut Musa untuk membenarkan Isa bin Maryam. Demikian pula Injil yang diturunkan kepada Isa memuat ayat yang membenarkan Musa dan Taurat. Namun masing-masing pihak mengingkari apa yang ada di tangan lawannya.1
Rafi' bin Huraimalah berkata kepada beliau: "Wahai Muhammad, apabila engkau benar-benar seorang Rasul yang diutus oleh Allah sebagaimana yang engkau katakan, maka mintalah kepada Allah agar Dia berbicara kepada kami hingga kami bisa mendengar firman-Nya." Allah menurunkan firman-Nya tentang ucapan Rafi' (QS al-Baqarah: 118).1
'Abdullah bin Shuriya al-A'war (si Mata Juling) al-Fithyuni berkata kepada beliau: "Wahai Muhammad, petunjuk itu hanyalah petunjuk yang kami miliki. Oleh sebab itu, ikutilah kami, pastilah engkau mendapatkan petunjuk." Orang-orang Kristen mengatakan hal serupa. Kemudian Allah menurunkan firman-Nya tentang ucapan 'Abdullah bin Shuriya dan orang Kristen tersebut (QS al-Baqarah: 135-141): "Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk." Katakanlah: "Tidak, bahkan kami mengikuti agama Ibrahim yang lurus." Ayat itu memerintahkan beliau dan kaum Mukminin berkata: "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka." Juga: "Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami dan bagi kamu amalan kamu?" Dan: "Ataukah kamu mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya adalah penganut Yahudi atau Nasrani?"1
- Pindah kiblat
Pergantian kiblat dan komentar para rabi
Ketika kiblat dipindahkan dari Syam ke Ka'bah pada bulan Rajab, genap tujuh puluh bulan sesudah beliau tiba di Madinah (sebagaimana tercetak), beberapa orang Yahudi menemui beliau dan meminta agar kembali ke kiblat pertama dengan janji akan mengikuti dan membenarkan beliau. Maksud mereka mengeluarkan beliau dari agamanya. Allah menurunkan QS al-Baqarah: 142-147.
Baca selengkapnya
Ketika arah kiblat dipindahkan dari Syam ke Ka'bah, yang terjadi pada bulan Rajab genap tujuh puluh bulan sesudah beliau tiba di Madinah, maka Rifa'ah bin Qais, Fardam bin 'Amr, Ka'b bin al-Asyraf, Rafi' bin Abu Rafi', al-Hajjaj bin 'Amr sekutu Ka'b bin al-Asyraf, ar-Rabi' bin ar-Rabi' bin Abu al-Huqaiq, dan Kinanah bin ar-Rabi' bin Abu al-Huqaiq datang menemui beliau dan berkata: "Wahai Muhammad, mengapa engkau beralih dari kiblatmu yang semula, padahal engkau menyatakan bahwa dirimu sebagai penganut agama Ibrahim? Kembalilah kepada kiblatmu yang pertama, niscaya kami mengikuti dan membenarkanmu." Ucapan tersebut memiliki maksud mengeluarkan beliau dari agamanya.1
Kemudian Allah menurunkan firman-Nya (QS al-Baqarah: 142-143): orang yang kurang akalnya akan berkata, "Apakah yang memalingkan mereka dari kiblat yang dahulu?" Katakanlah: milik Allah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Allah menjadikan umat ini umat yang adil dan pilihan, agar menjadi saksi atas manusia dan Rasul menjadi saksi atas mereka. Kiblat yang dahulu hanyalah agar nyata siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot; itu terasa amat berat kecuali bagi orang yang diberi petunjuk. Yakni keimanan kalian dengan kiblat dan pembenaran kalian akan Nabi, serta ikutnya kalian pada kiblat terakhir dan ketaatan kalian pada nabi kalian, agar Allah memberi pahala keduanya secara keseluruhan.
Kemudian Allah berfirman (QS al-Baqarah: 144): Kami sering melihat mukamu menengadah ke langit, maka Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai; palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram, dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.
Syathrahu artinya nahwahu (ke arahnya). Ayat 145-147: orang-orang yang diberi Al-Kitab mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram benar dari Tuhannya; walau didatangkan semua keterangan, mereka tidak akan mengikuti kiblat beliau dan beliau tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebagian mereka tidak mengikuti kiblat sebagian yang lain; mereka mengenal beliau seperti mengenal anak-anak mereka sendiri, tetapi sebagian menyembunyikan kebenaran padahal mereka mengetahui.518
- Merahasiakan Taurat
Para rabi menyembunyikan isi Taurat dan berpegang pada nenek moyang
Mu'adz bin Jabal, Sa'd bin Mu'adz, dan Kharijah bin Zaid bertanya kepada pendeta Yahudi tentang sebagian isi Taurat, tetapi mereka merahasiakannya dan menolak menjelaskan (turun QS al-Baqarah: 159). Beliau menyeru orang Yahudi masuk Islam; Rafi' bin Kharijah dan Malik bin 'Auf menjawab bahwa mereka hanya mengikuti nenek moyang yang lebih mengerti dan lebih bijak (QS al-Baqarah: 170).
Baca selengkapnya
Mu'adz bin Jabal saudara Bani Salimah, Sa'd bin Mu'adz saudara Bani 'Abdul Asyhal, dan Kharijah bin Zaid saudara Bani al-Harits bin al-Khazraj bertanya kepada beberapa pendeta Yahudi mengenai sebagian kandungan Taurat. Hanya saja mereka merahasiakannya serta menolak dengan keras untuk memberikan penjelasan. Kemudian Allah menurunkan ayat tentang sikap orang-orang Yahudi tersebut (QS al-Baqarah: 159): orang yang menyembunyikan keterangan dan petunjuk yang telah Allah turunkan setelah Allah menerangkannya kepada manusia dalam Kitab, mereka dilaknati Allah dan oleh semua makhluk yang dapat melaknati.1
Beliau menyeru orang-orang Yahudi untuk masuk Islam dan memperingatkan mereka akan siksa Allah. Rafi' bin Kharijah dan Malik bin 'Auf berkata: "Wahai Muhammad, kami hanya akan mengikuti apa yang kami peroleh dari nenek moyang kami, karena mereka lebih mengerti dan lebih bijak daripada kami." Lalu Allah menurunkan firman-Nya tentang ucapan mereka berdua (QS al-Baqarah: 170): apabila dikatakan kepada mereka "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab "Tidak, tetapi kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami." Apakah mereka akan mengikuti juga, walaupun nenek moyang mereka tidak mengetahui suatu apa pun dan tidak mendapat petunjuk?19
- Pasar Bani Qainuqa'
Ancaman kepada orang Yahudi setelah Badar
Setelah Allah mengalahkan Quraisy di Perang Badar, beliau mengumpulkan orang-orang Yahudi di Pasar Bani Qainuqa' dan menyerukan agar mereka masuk Islam sebelum Allah menimpakan kekalahan seperti yang menimpa Quraisy. Mereka menjawab bahwa beliau hanya membunuh beberapa orang Quraisy yang miskin pengalaman, dan bahwa jika beliau memerangi mereka, beliau akan tahu bahwa mereka benar-benar manusia sehebat itu. Allah menurunkan QS Ali 'Imran: 12-13.
Baca selengkapnya
Setelah Allah menjatuhkan kekalahan kepada orang-orang Quraisy di Perang Badar, beliau mengumpulkan orang-orang Yahudi di Pasar Bani Qainuqa' setibanya beliau di Madinah. Beliau berkata kepada mereka: "Wahai orang-orang Yahudi, masuklah kalian ke dalam Islam sebelum Allah menjatuhkan kekalahan pada kalian sebagaimana yang menimpa orang-orang Quraisy." Orang-orang Yahudi berkata: "Wahai Muhammad, janganlah engkau terpedaya oleh dirimu sendiri. Engkau hanya berhasil membunuh beberapa orang Quraisy yang miskin pengalaman dan tidak paham tata cara perang. Demi Allah, apabila engkau memerangi kami, engkau pasti akan tahu bahwa kami benar-benar manusia, dan engkau tidak pernah menjumpai orang-orang sehebat kami." Maka Allah menurunkan firman-Nya (QS Ali 'Imran: 12-13): "Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: kamu pasti akan dikalahkan di dunia ini dan akan digiring ke dalam neraka Jahanam." Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu bertempur: segolongan berperang di jalan Allah dan segolongan lagi kafir yang dengan mata kepala melihat orang-orang Muslim dua kali jumlah mereka.1
- Baitul Midras dan Ibrahim
Debat tentang agama Ibrahim
Beliau memasuki Baitul Midras dan menyeru orang Yahudi; An-Nu'man bin 'Amr dan al-Harits bin Zaid menyebut Ibrahim seorang Yahudi, dan menolak ajakan beliau kembali ke Taurat (QS Ali 'Imran: 23-24). Pendeta Yahudi dan delegasi Kristen berdebat tentang Ibrahim (QS Ali 'Imran: 65-68). 'Abdullah bin Shaif, 'Adi bin Zaid, dan al-Harits bin 'Auf menyusun siasat beriman di pagi hari dan mengingkari di sore hari (QS Ali 'Imran: 71-73). Abu Rafi' al-Qurazhi dan ar-Ribbiyusu bertanya apakah beliau meminta mereka menyembahnya (QS Ali 'Imran: 79-80).
Baca selengkapnya
Pada suatu hari beliau memasuki Baitul Midras (tempat belajar Taurat orang Yahudi) yang dihadiri beberapa orang Yahudi untuk menyeru mereka kembali ke jalan Allah. An-Nu'man bin 'Amr dan al-Harits bin Zaid berkata kepada beliau: "Wahai Muhammad, agama apakah yang engkau anut?" Beliau bersabda: "Aku menganut agama Ibrahim." Mereka berkata: "Sesungguhnya Ibrahim itu orang Yahudi." Beliau bersabda: "Jika demikian, marilah kita kembali kepada Taurat sebagai jalan keluar dari masalah yang ada di antara kita." Namun mereka berdua menampik ajakan itu. Lalu Allah menurunkan ayat tentang keduanya (QS Ali 'Imran: 23-24): mereka diseru kepada kitab Allah supaya menetapkan hukum di antara mereka, kemudian sebagian berpaling; hal itu karena mereka mengaku, "Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung."1
Pada saat pendeta-pendeta Yahudi dan delegasi Kristen berkumpul di kediaman beliau, mereka beradu mulut. Pendeta Yahudi berkata: "Ibrahim itu seorang Yahudi." Delegasi Kristen berkata: "Ibrahim adalah seorang Kristen." Lalu Allah menurunkan ayat tentang perselisihan mereka (QS Ali 'Imran: 65-68): Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim; Ibrahim bukan Yahudi dan bukan Nasrani, tetapi seorang yang lurus dan berserah diri, dan yang paling dekat kepadanya adalah orang yang mengikutinya, Nabi ini, dan orang yang beriman kepadanya.
'Abdullah bin Shaif, 'Adi bin Zaid, dan al-Harits bin 'Auf berkata kepada sebagian orang Yahudi: "Marilah kita mempercayai apa yang diturunkan kepada Muhammad dan sahabat-sahabatnya di pagi hari, lalu kita berbondong-bondong mengingkarinya pada sore hari, agar kita bisa mengacak-acak agama mereka. Mudah-mudahan mereka melakukan sebagaimana yang kita lakukan lalu mereka berpaling dari agamanya." Maka Allah menurunkan firman-Nya (QS Ali 'Imran: 71-73): "Perlihatkanlah seolah-olah kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya supaya mereka kembali kepada kekafiran. Janganlah kamu percaya kecuali kepada orang yang mengikuti agamamu." Katakanlah: petunjuk yang harus diikuti ialah petunjuk Allah; karunia itu di tangan Allah, diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.1
Abu Rafi' al-Qurazhi berkata kepada pendeta-pendeta Yahudi dan delegasi Kristen Najran saat mereka berkumpul di kediaman beliau dan beliau mengajak mereka kepada Islam: "Wahai Muhammad, apakah engkau bermaksud agar kami menyembahmu sebagaimana orang-orang Kristen menyembah Isa bin Maryam?" Salah seorang dari delegasi Kristen Najran bernama ar-Ribbiyusu berkata: "Wahai Muhammad, apakah itu yang engkau kehendaki dari kami dan engkau menyeru kami kepadanya?" Atau sebagaimana yang ia katakan. Beliau bersabda: "Aku berlindung kepada Allah dari menyembah selain Allah, atau menyuruh orang lain beribadah kepada selain Allah. Allah tidak mengutusku demikian, dan tidak menyuruhku pada perkara seperti ini." Lalu Allah menurunkan ayat (QS Ali 'Imran: 79-80): tidak wajar bagi manusia yang Allah beri Al-Kitab, hikmah, dan kenabian berkata kepada manusia "Jadilah penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah"; tetapi "Jadilah orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan mempelajarinya."
Rabbaniyyun adalah para ulama dan fuqaha' terkemuka; kata tunggalnya "rabbany", turunan dari kata "rabb" yang berarti sayyid (pemimpin). Akan memberi minum tuannya dengan khamar (QS Yusuf: 41), yakni rabb (tuan).5
Lalu Allah menyebutkan perjanjian yang telah Dia ambil dari mereka dan dari nabi-nabi mereka untuk mengimani beliau apabila telah diutus di tengah mereka (QS Ali 'Imran: 81): "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya." Allah berfirman: "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?" Mereka menjawab: "Kami mengakui." Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi pula bersama kamu."1
- Fitnah Aus dan Khazraj
Syas bin Qais mengobarkan Perang Bu'ats
Syas bin Qais, tua bangka yang sangat kafir dan dengki, melihat keakraban Aus dan Khazraj dalam satu majelis, lalu menyuruh seorang pemuda Yahudi duduk bersama mereka dan mengingatkan Perang Bu'ats dengan syair-syairnya. Aus bin Qaidhi dan Jabbar bin Shakr saling menantang; mereka bersepakat bertemu lagi dengan senjata. Beliau datang bersama sahabat Muhajirin dan mengingatkan mereka; keduanya sadar, menangis, dan saling merangkul.
Baca selengkapnya
Syas bin Qais, seorang yang sudah tua bangka dengan kekafiran yang luar biasa dan memendam kedengkian yang hebat kepada kaum Muslimin, berjalan melewati beberapa sahabat beliau dari al-Aus dan al-Khazraj dalam sebuah majelis yang menyatukan mereka dan mereka berbincang-bincang satu sama lain. Melihat keakraban mereka, muncullah kedengkian dan kejengkelan Syas bin Qais. Dia merasa muak saat menyaksikan persatuan dan kebaikan hati mereka dengan Islam, setelah sebelumnya pada masa jahiliah mereka saling bermusuhan. Syas berkata: "Tokoh-tokoh Bani Qailah telah berkumpul di negeri ini. Tidak, demi Allah, rasanya tidak sepatutnya bagi kita ikut bersama mereka apabila tokoh-tokoh mereka bertemu di dalamnya secara damai." Maka Syas memerintahkan seorang pemuda Yahudi: "Pergilah ke tempat mereka kini berada lalu duduklah bersama mereka! Setelah itu usik ingatan mereka akan Perang Bu'ats dan perang-perang sebelumnya serta lantunkan kepada mereka syair-syair yang dulu pernah mereka lontarkan."1
Sekilas tentang Perang Bu'ats: perang yang terjadi antara al-Aus melawan al-Khazraj, dimenangkan oleh al-Aus atas al-Khazraj. Saat itu al-Aus dipimpin Hudhair bin Simak al-Asyhali, Abu Usaid bin Hudhair, sedangkan pemimpin al-Khazraj 'Amr bin an-Nu'man al-Bayadhi. Pada perang tersebut kedua pemimpin itu tewas terbunuh. Ibnu Ishaq menyebut bahwa Perang Bu'ats sangat panjang untuk diurai secara keseluruhan dan ia tidak terpikat memaparkannya secara utuh karena khawatir memutus pemaparan sirah hidup beliau.
Pemuda Yahudi melaksanakan perintah itu, lalu kaum Muslimin terlibat pembicaraan yang panas, saling adu mulut hingga bertengkar, dan saling membanggakan diri atas yang lain. Bahkan dua orang dari al-Aus dan al-Khazraj meloncat ke atas hewan kendaraannya, yaitu Aus bin Qaidhi, salah seorang dari Haritsah bin al-Harits dari al-Aus, dan seorang lagi Jabbar bin Shakr dari Bani Salimah dari al-Khazraj. Keduanya beradu kata bergantian: "Bila kalian mau, kami akan melakukan hal yang sama sebagaimana kita lakukan dahulu!" Kedua belah pihak tersulut emosi. Mereka berkata: "Boleh kita lakukan itu dan mari kita bertemu lagi di siang hari. Senjata beradu senjata!" Pada hari yang ditentukan mereka pergi ke tempat yang disepakati. Peristiwa ini terdengar oleh beliau, kemudian beliau berangkat menemui mereka bersama beberapa sahabat Muhajirin. Sesampainya di sana beliau bersabda: "Wahai kaum Muslimin, ingatlah Allah. Mengapa kalian mengikuti propaganda jahiliah, padahal aku masih ada di tengah-tengah kalian. Allah telah memberi petunjuk kalian kepada Islam dan menjadikan kalian orang yang mulia dengannya, memutus segala kejahiliahan dari kalian, menyelamatkan kalian dari kekufuran, serta menyatukan hati kalian!" Kaum Muslimin dari al-Aus dan al-Khazraj segera menyadari bahwa propaganda jahiliah adalah tipu daya setan dan konspirasi musuh mereka. Tangisan mereka meledak, mereka saling merangkul antara al-Aus dan al-Khazraj. Setelah itu mereka pulang bersama beliau dengan patuh dan taat. Allah telah memadamkan dari mereka salah satu konspirasi jahat musuh Allah, Syas bin Qais.1
Allah menurunkan ayat tentang Syas bin Qais (QS Ali 'Imran: 98-99): "Hai Ahli Kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah... mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan?" Dan tentang Aus bin Qaidhi, Jabbar bin Shakr, dan pengikut mereka yang terjebak propaganda itu (QS Ali 'Imran: 100-105): "Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang yang diberi Al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir... dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali agama Allah dan janganlah bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya... Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar."20
- Teman akrab
Yahudi yang masuk Islam dan larangan menjadikan mereka teman akrab
'Abdullah bin Salam, Tsa'labah bin Sa'yah, Usaid bin Sa'yah, Asad bin 'Ubaid, dan orang Yahudi lain masuk Islam; para pendeta yang masih kafir mengatakan hanya orang terjelek di antara mereka yang menganut agama Muhammad. Allah menurunkan QS Ali 'Imran: 113-114. Sebagian Muslim memiliki hubungan dekat dengan orang Yahudi sejak masa jahiliah; turun larangan menjadikan mereka teman akrab (QS Ali 'Imran: 118-119).
Baca selengkapnya
Pada saat 'Abdullah bin Salam, Tsa'labah bin Sa'yah, Usaid bin Sa'yah, Asad bin 'Ubaid, dan orang-orang Yahudi lainnya masuk Islam, beriman, membenarkan, dan tertarik kepadanya, dan setelah keislaman mereka kokoh, pendeta-pendeta Yahudi yang masih kafir berkata: "Tidaklah akan menganut agama Muhammad kecuali orang-orang terjelek di antara... Jika mereka orang-orang terbaik kami, niscaya mereka tidak akan meninggalkan agama leluhur dan tidak mungkin beralih pada agama lain." Maka Allah menurunkan firman-Nya (QS Ali 'Imran: 113-114): mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud; mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan bersegera kepada pelbagai kebajikan; mereka termasuk orang-orang yang shalih.1
Makna "anaa' al-lail" adalah jam-jam malam; kata tunggalnya "inyun".5
Beberapa orang dari kaum Muslimin memiliki hubungan dekat dengan beberapa orang Yahudi karena ikatan jaminan keamanan dan persekutuan pada masa jahiliah. Setelah itu Allah menurunkan ayat yang melarang mereka menjadikan orang-orang Yahudi sebagai teman akrab (QS Ali 'Imran: 118-119): jangan ambil menjadi teman kepercayaan orang di luar kalanganmu, karena mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kemudaratan bagimu; telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan hati mereka lebih besar lagi. "Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya." Yakni, kalian beriman kepada kitab mereka dan kepada kitab yang telah lalu sementara mereka kafir dengan kitab kalian; jadi kalian lebih berhak menyukai mereka daripada mereka membenci kalian. Apabila mereka menjumpai kamu mereka berkata "Kami beriman", dan apabila menyendiri mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu; katakanlah: "Matilah kamu karena kemarahanmu itu."121
- Finhash dan Abu Bakar
Ucapan Finhash dan pukulan Abu Bakar
Abu Bakar memasuki Baitul Midras dan mengajak Finhash, ulama Yahudi, masuk Islam. Finhash menjawab bahwa mereka tidak membutuhkan Allah, bahwa Allahlah yang butuh kepada mereka, dan bahwa jika Allah lebih kaya Dia tidak akan meminjam kekayaan atau memberi riba. Abu Bakar memukul wajahnya. Finhash mengadu kepada beliau lalu menyangkal ucapannya; turun QS Ali 'Imran: 181 yang membenarkan Abu Bakar. Juga QS Ali 'Imran: 186-188 tentang Finhash, Asya', dan ulama yang senang dipuji.
Baca selengkapnya
Pada suatu hari Abu Bakar memasuki Baitul Midras dan melihat orang-orang Yahudi sedang berkumpul di kediaman salah seorang dari mereka yang bernama Finhash, salah seorang ulama dan pendeta mereka, ditemani seorang pendeta Yahudi bernama Asya'. Abu Bakar berkata kepada Finhash: "Celaka engkau wahai Finhash, bertakwalah kepada Allah dan peluklah agama Islam! Demi Allah, engkau telah mengetahui bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Dia datang dengan membawa kebenaran dari sisi Allah, dan kalian menemukan namanya tertulis di dalam Taurat dan Injil." Finhash berkata: "Demi Allah, wahai Abu Bakar, kami tidak butuh Allah, sebaliknya Allah-lah yang butuh pada kami. Kami tidak merendahkan diri kepada-Nya sebagaimana Dia merendahkan diri kepada kami. Kami tidak butuh Dia, Dia-lah yang butuh kepada kami. Apabila Allah lebih kaya daripada kami, pastilah Dia tidak meminjam kekayaan kami seperti dikatakan sahabat kalian. Allah melarang kalian dari riba, dan Dia memberi riba kepada kami. Jika Allah lebih kaya dari pada kami, Dia tidak memberi kami riba."1
Abu Bakar meluap amarahnya, kemudian ia memukul wajah Finhash dengan pukulan keras, sambil berkata: "Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, jika tidak ada perjanjian di antara kita, akan kutampar wajahmu wahai musuh Allah." Finhash pergi menghadap beliau dan berkata: "Wahai Muhammad, perhatikanlah tindakan sahabatmu itu terhadap diriku!" Beliau bertanya kepada Abu Bakar: "Apa yang membuatmu melakukan itu semua, wahai Abu Bakar?" Abu Bakar berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya musuh Allah ini telah melontarkan sebuah perkataan yang sungguh melampaui batas. Ia berkata bahwa Allah membutuhkan mereka, dan mereka lebih kaya daripada Allah. Ketika ia mengatakan itu, meluaplah amarahku karena Allah atas perkataannya tadi, lalu aku pukul wajahnya." Finhash membantah: "Aku tidak pernah mengatakan semua itu." Kemudian Allah menurunkan ayat tentang ucapan Finhash dan membenarkan Abu Bakar (QS Ali 'Imran: 181): "Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan: 'Allah miskin dan kami kaya.' Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar." Allah juga menurunkan firman tentang Abu Bakar dan sikap marahnya (QS Ali 'Imran: 186): kamu sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik gangguan yang banyak menyakitkan hati; jika kamu bersabar dan bertakwa, itu termasuk urusan yang patut diutamakan.
Allah menurunkan pula (QS Ali 'Imran: 187-188): Allah mengambil janji dari orang yang diberi kitab untuk menerangkan kitab itu kepada manusia dan tidak menyembunyikannya, lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung dan menukarnya dengan harga yang sedikit; janganlah menyangka orang yang gembira dengan apa yang mereka kerjakan dan suka dipuji atas perbuatan yang belum mereka kerjakan akan terlepas dari siksa. Yang dimaksud adalah Finhash, Asya', dan pendeta-pendeta Yahudi yang semisal mereka berdua, yang sangat mencintai dunia dan pujian atas sesuatu yang tidak mereka kerjakan; mereka dianggap ulama oleh banyak orang padahal sebenarnya bukan, dan mereka tidak mengarahkan manusia kepada hidayah dan kebenaran.
- Perintah kikir
Orang Yahudi menyuruh Anshar tidak berinfak
Kardam bin Qais, Usamah bin Habib, Nafi' bin Abu Nafi', Bahri bin 'Amr, Huyay bin Akhthab, dan Rifa'ah bin Zaid bin at-Tabut bertemu dengan sebagian kaum Anshar dan menasihati mereka agar tidak menginfakkan harta karena akan menjadi miskin. Turun QS an-Nisa': 37-39. Rifa'ah bin Zaid memilin lidahnya ketika berbicara kepada beliau dan menghina Islam; turun QS an-Nisa': 44-46. Beliau menyeru 'Abdullah bin Shuriya al-A'war dan Ka'b bin Asad untuk masuk Islam, tetapi mereka berkata, "Kami tidak kenal itu"; turun QS an-Nisa': 47.
Baca selengkapnya
Kardam bin Qais, sekutu Ka'b bin al-Asyraf, Usamah bin Habib, Nafi' bin Abu Nafi', Bahri bin 'Amr, Huyay bin Akhthab, dan Rifa'ah bin Zaid bin at-Tabut bertemu dengan beberapa orang dari kalangan kaum Anshar. Dulu orang-orang Yahudi tersebut bergaul dengan kaum Anshar. Mereka menasihati sahabat-sahabat beliau dengan berkata: "Janganlah kalian menginfakkan harta kalian, karena itu akan menjadikan kalian miskin. Janganlah tergesa-gesa untuk berinfak, sebab kalian tidak tahu apa yang akan terjadi dengan nasib kalian kelak." Kemudian Allah menurunkan ayat (QS an-Nisa': 37-39): orang-orang yang kikir, menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan kepada mereka. Yang dimaksud karunia pada ayat itu adalah Taurat yang membenarkan apa yang dibawa beliau. Allah menyediakan siksa yang menghinakan bagi orang kafir, dan orang yang menafkahkan harta karena riya kepada manusia dan tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian.1
Rifa'ah bin Zaid bin at-Tabut adalah salah seorang pemuka Yahudi. Apabila berbicara dengan beliau, ia senantiasa memilin-milin lidahnya. Ia berkata: "Wahai Muhammad, dengarkanlah dengan seksama agar kamu paham." Kemudian Rifa'ah menghina dan mencemooh Islam. Lalu Allah menurunkan firman-Nya tentang dirinya (QS an-Nisa': 44-46): orang yang diberi bagian dari Al-Kitab membeli kesesatan dan menginginkan kamu tersesat; mereka mengubah perkataan dari tempatnya, berkata "Kami mendengar" tetapi tidak menurutinya, mengucapkan "Raa'ina" dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama.1
Suatu ketika beliau bersabda kepada pemuka-pemuka Yahudi seperti 'Abdullah bin Shuriya al-A'war dan Ka'b bin Asad: "Wahai orang-orang Yahudi, bertakwalah kepada Allah dan masuklah ke dalam Islam. Demi Allah, sesungguhnya kalian telah mengetahui bahwa yang aku bawa adalah kebenaran." Orang-orang Yahudi berkata: "Kami tidak kenal itu wahai Muhammad." Mereka ingkar terhadap apa yang sebenarnya telah mereka ketahui dan tetap bertahan dengan kekafiran. Lalu Allah menurunkan firman-Nya (QS an-Nisa': 47): "Hai orang-orang yang telah diberi Al-Kitab, berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu, sebelum Kami mengubah muka(mu), lalu Kami putarkan ke belakang atau Kami kutuk mereka sebagaimana Kami telah mengutuk orang-orang yang berbuat maksiat pada hari Sabtu."22
- Koalisi
Para pembentuk koalisi, dan dua orang yang tak mengakui wahyu sesudah Musa
Huyay bin Akhthab, Salam bin Abu al-Huqaiq, Abu Rafi', ar-Rabi' bin ar-Rabi' bin Abu al-Huqaiq, Abu 'Ammar, Wahwah bin 'Amir, dan Haudzah bin Qais membangun koalisi dengan Quraisy, Ghathafan, dan Bani Quraizhah. Tiga dari Bani Wail, selebihnya Bani an-Nadhir. Quraisy bertanya mana yang lebih baik, agama Quraisy atau agama Muhammad; mereka menjawab agama Quraisy (QS an-Nisa': 51-54). Sukain dan 'Adi bin Zaid berkata bahwa mereka tidak mengetahui Allah menurunkan sesuatu atas manusia setelah Musa (QS an-Nisa': 163-166).
Baca selengkapnya
Orang-orang yang membangun koalisi dari Quraisy, Ghathafan, dan Bani Quraizhah adalah Huyay bin Akhthab, Salam bin Abu al-Huqaiq, Abu Rafi', ar-Rabi' bin ar-Rabi' bin Abu al-Huqaiq, Abu 'Ammar, Wahwah bin 'Amir, dan Haudzah bin Qais. Wahwah bin 'Amir, Abu 'Ammar, dan Haudzah berasal dari Bani Wail, dan selebihnya dari Bani an-Nadhir. Pada saat mereka sampai di tempat orang-orang Quraisy, orang Quraisy berkata: "Mereka adalah pendeta-pendeta Yahudi dan orang-orang yang memiliki ilmu yang memadai tentang kitab suci terdahulu. Cobalah tanyakan kepada mereka manakah yang lebih baik, agama kalian atau agama Muhammad." Orang Quraisy pun bertanya kepada pendeta-pendeta Yahudi dan mereka menjawab: "Agama kalian jauh lebih baik daripada agama Muhammad. Kalian tentunya lebih baik daripada Muhammad dan orang yang bersamanya." Lalu Allah menurunkan firman-Nya (QS an-Nisa': 51-54): "Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al-Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut... dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Makkah) bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman."1
Menurut orang Arab, jibt adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah, sedangkan thaghut adalah segala sesuatu yang membuat orang berpaling dari kebenaran. Kata plural jibt adalah jubut, dan plural thaghut adalah thawaghit.5
Kami mendengar dari Ibnu Abu Najih bahwa jibt adalah sihir, sementara thaghut adalah setan.5
Sukain dan 'Adi bin Zaid berkata: "Wahai Muhammad, kami tidak mengetahui bahwa setelah Musa diturunkan, Allah menurunkan sesuatu atas manusia." Kemudian Allah menurunkan firman-Nya (QS an-Nisa': 163-165): "Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi sesudahnya, dan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung." Beberapa orang Yahudi datang menjumpai beliau dan beliau bersabda: "Demi Allah, sesungguhnya kalian telah mengetahui bahwa aku utusan Allah yang diutus kepada kalian." Mereka berkata: "Kami tidak mengetahui itu, dan tidak bersaksi atasnya." Allah menurunkan firman-Nya (QS an-Nisa': 166): "Allah mengakui Al-Qur'an yang diturunkan-Nya kepadamu; Dia menurunkannya dengan ilmu-Nya, dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi. Cukuplah Allah yang mengakuinya."1
- Makar menjatuhkan batu
Rencana membunuh beliau di Bani an-Nadhir
Beliau datang ke Bani an-Nadhir untuk meminta bantuan diyat dua orang Bani 'Amir yang telah dibunuh oleh 'Amr bin Umayyah adh-Dhamri. Sebagian dari mereka berkata siapa yang siap naik ke atas rumah untuk menjatuhkan batu kepada beliau; 'Amr bin Jihasy bin Ka'b menyatakan siap. Beliau mengetahui makar itu dan segera pergi; turun QS al-Ma'idah: 11.
Baca selengkapnya
Suatu ketika beliau pergi ke Bani an-Nadhir untuk meminta bantuan mereka dalam membantu beliau, meminta diyat dua orang Bani 'Amir yang telah dibunuh 'Amr bin Umayyah adh-Dhamri. Ketika itu orang-orang Yahudi sedang duduk sesama mereka. Sebagian dari mereka berkata: "Kalian tidak pernah mendapatkan Muhammad berada sedekat ini dengan kalian dari pada saat ia berada saat ini. Maka siapakah di antara kalian yang siap naik ke atas rumah untuk menjatuhkan batu kepadanya sehingga kita tidak merasa terganggu oleh keberadaannya?" 'Amr bin Jihasy bin Ka'b berkata: "Aku siap!" Pada saat beliau mengetahui makar jahat mereka, beliau segera pergi. Lalu Allah menurunkan firman-Nya (QS al-Ma'idah: 11): "Hai orang-orang yang beriman, ingatlah nikmat Allah kepadamu, di waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu untuk berbuat jahat, maka Allah menahan tangan mereka dari kamu."1
Beliau berjumpa dengan Nu'man bin Adha, Bahri bin 'Amr, dan Syas bin Qais. Mereka terlibat percakapan dan beliau mengajak mereka kepada agama Allah serta memberi peringatan akan siksa Allah. Mereka berkata: "Janganlah engkau mengintimidasi kami wahai Muhammad, karena kami anak-anak dan kekasih-kekasih Allah," persis seperti perkataan orang-orang Kristen. Lalu Allah menurunkan ayat (QS al-Ma'idah: 18): "Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: 'Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.' Katakanlah: 'Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?'"1
Beliau menyeru orang-orang Yahudi untuk masuk Islam dan memperingatkan mereka akan hukuman Allah, namun mereka menolak. Kemudian Mu'adz bin Jabal, Sa'd bin 'Ubadah, dan 'Uqbah bin Wahb berkata kepada mereka: "Wahai orang-orang Yahudi, bertakwalah kepada Allah. Demi Allah, kalian telah mengetahui bahwa beliau adalah utusan Allah, jauh sebelum beliau diutus menjadi rasul, dan kalian pun telah memaparkan dan menerangkan ciri-cirinya kepada kami." Rafi' bin Huraimalah dan Wahb bin Yahudza berkata: "Kami tidak pernah mengatakan hal itu kepada kalian. Allah tidak menurunkan kitab, tidak mengutus rasul dan pemberi peringatan setelah Musa." Lalu Allah menurunkan firman-Nya (QS al-Ma'idah: 19): "Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan syariat Kami kepadamu ketika terputus pengiriman rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan: 'Tidak datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan.'" Kemudian Allah memaparkan kisah Musa kepada mereka, apa yang Musa terima dari mereka, protes mereka dan perintah Allah yang ditolak oleh mereka hingga mereka terlunta-lunta di muka bumi selama empat puluh tahun sebagai hukuman.123
- Hukum rajam
Dua pezina Yahudi dan hukum rajam dalam Taurat
Para pendeta Yahudi mengirim seorang lelaki muhshan dan wanita muhshan yang berzina kepada beliau, dengan niat jika beliau menjatuhkan hukuman cambuk maka beliau raja, jika rajam maka beliau nabi. Beliau mendatangi Baitul Midras dan bersumpah kepada 'Abdullah bin Shuriya apakah Taurat menetapkan rajam; ia membenarkan dan mengakui bahwa orang Yahudi tahu beliau nabi tetapi dengki. Keduanya dirajam di depan pintu masjid beliau. 'Abdullah bin Salam juga memukul tangan pendeta yang menutupi ayat rajam, dan 'Abdullah bin 'Umar ikut merajam.
Baca selengkapnya
Ibnu Syihab az-Zuhri menuturkan kepadaku, ia mendengar seseorang dari Muzainah dari seorang ulama yang berbicara dengan Sa'id bin al-Musayyib bahwa Abu Hurairah berkata kepada mereka: pendeta-pendeta Yahudi berkumpul di Baitul Midras saat beliau tiba di Madinah. Sebelum beliau tiba, seorang lelaki yang telah menikah berzina dengan seorang wanita Yahudi yang telah menikah pula. Mereka berkata: "Bawalah pria dan wanita ini kepada Muhammad, lalu tanyakan kepadanya apa hukuman atas mereka berdua, dan beri dia hak mengadilinya. Jika ia menjatuhkan hukuman cambuk dengan tali kepadanya seperti kalian, pasti dia seorang raja, dan ikutilah dia. Namun apabila dia menjatuhkan hukuman rajam kepada mereka, pastilah dia seorang nabi. Maka jagalah apa yang ada pada kalian, agar tidak direbut olehnya." Mereka mendatangi beliau dan berkata: "Wahai Muhammad, orang ini telah menikah kemudian berzina dengan wanita ini yang telah menikah pula. Adililah mereka berdua, dan kami memberikan hak sepenuhnya kepadamu untuk mengadili mereka." Beliau berjalan hingga tiba di tempat pendeta-pendeta mereka di Baitul Midras. Beliau bersabda: "Wahai orang-orang Yahudi, datangkan kepadaku ulama kalian." Mereka mengirim 'Abdullah bin Shuriya kepada beliau.1
Beberapa orang Bani Quraizhah berkata kepadaku, selain mendatangkan 'Abdullah bin Shuriya, mereka juga mendatangkan Abu Yasir bin Akhthab dan Wahb bin Yahudza. Pendeta-pendeta Yahudi berkata: "Merekalah ulama kami." Beliau bertanya kepada pendeta-pendeta itu tentang masalah tersebut sampai perkaranya menjadi jelas, hingga akhirnya mereka berkata tentang 'Abdullah bin Shuriya: "Orang ini lebih mengerti tentang Taurat daripada ulama-ulama kami yang lain."1
Dari perkataan "beberapa Bani Quraizhah" hingga "Orang ini lebih mengerti tentang Taurat" adalah ucapan Ibnu Ishaq, sedangkan yang setelahnya adalah dari untaian kisah sebelumnya.5
Setelah itu beliau duduk berdua bersama 'Abdullah bin Shuriya, orang paling dalam ilmunya di antara ulama-ulama Yahudi. Beliau menyelidiknya dengan pertanyaan menukik: "Wahai anak Shuriya, aku bersumpah kepadamu dengan nama Allah, dan dengan hari-hari Allah yang ada di Bani Israil, tidakkah engkau paham bahwa Allah menetapkan hukuman rajam bagi seorang muhshan (lelaki atau perempuan yang telah menikah) yang berzina di dalam Taurat?" 'Abdullah bin Shuriya menjawab: "Benar, demi Allah, memang demikian. Ketahuilah wahai Abu al-Qasim, sesungguhnya orang-orang Yahudi telah tahu bahwa engkau adalah nabi yang diutus, hanya saja mereka dengki padamu." Lalu beliau keluar dan memerintahkan agar kedua orang yang berzina tersebut dirajam di depan pintu masjid beliau di Bani Ghanm bin Malik bin an-Najjar. Sesudah peristiwa ini 'Abdullah bin Shuriya kafir dan tidak mengingkari kenabian beliau.
Allah menurunkan firman-Nya tentang orang-orang Yahudi tersebut (QS al-Ma'idah: 41): "Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera memperlihatkan kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka 'Kami telah beriman', padahal hati mereka belum beriman; dan di antara orang-orang Yahudi... mereka mengubah perkataan-perkataan Taurat dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: 'Jika diberikan ini kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, yakni rajam, maka hati-hatilah.'"
Muhammad bin Thalhah bin Yazid bin Rukanah berkata kepadaku dari Isma'il bin Ibrahim dari Ibnu 'Abbas: beliau memerintahkan pelaksanaan hukuman rajam kepada kedua pelaku zina tersebut, lalu mereka dirajam di depan masjid beliau. Ketika lelaki Yahudi itu mulai mendapat lemparan batu, ia berdiri menuju wanita yang pernah ia zinai, lalu menelungkupinya untuk melindunginya hingga keduanya meninggal dunia. Demikianlah satu hal yang Allah lakukan bagi Rasul-Nya dalam melaksanakan hukum zina terhadap kedua orang itu.1
Shalih bin Kaisan berkata kepadaku dari Nafi', mantan budak 'Abdullah bin 'Umar, dari 'Abdullah bin 'Umar: pada saat orang-orang Yahudi menyerahkan putusan hukum mereka berdua kepada beliau, beliau menyeru mereka kepada Taurat. Salah seorang pendeta duduk membaca Taurat sambil menutup ayat rajam dengan tangannya, kemudian 'Abdullah bin Salam memukul tangan pendeta itu. 'Abdullah bin Salam berkata: "Wahai Rasulullah, inilah ayat tentang hukuman rajam. Namun ia menolak membacakannya kepadamu." Beliau bersabda kepada mereka: "Sungguh celaka kalian wahai orang-orang Yahudi, mengapa kalian meninggalkan hukum Allah, padahal itu berada di tangan kalian?" Mereka menjawab: "Demi Allah, awalnya hukuman rajam diberlakukan pada kami, hingga pada suatu hari orang muhshan yang berasal dari keluarga istana dan kalangan terhormat berbuat zina. Raja melarang pemberlakuan hukuman rajam terhadapnya. Kemudian ada seseorang berzina sesudah keluarga istana tersebut. Raja bermaksud merajamnya, hanya saja orang-orang Yahudi berkata: 'Demi Allah, tidak mungkin ini bisa dilakukan. Apabila engkau mau merajam orang ini, maka hendaknya engkau juga merajam orang dari keluarga istana yang berzina.' Selesai mengatakan itu kepada rajanya, mereka menyelenggarakan rapat, dengan hasil kesepakatan mengganti hukuman rajam dengan hukuman cambuk, dan mereka meninggalkan hukuman rajam dan penerapannya." Beliau bersabda: "Jika demikian, maka akulah orang yang pertama kali menghidupkan hukum Allah dan Kitab-Nya serta penerapannya." Beliau meminta keduanya dihukum rajam di depan masjid beliau. 'Abdullah bin 'Umar berkata: "Aku ikut serta merajam kedua orang pezina tersebut."1
Daud bin al-Hushain berkata kepadaku dari 'Ikrimah dari Ibnu 'Abbas bahwa QS al-Ma'idah: 42 ("Maka putuskanlah perkara itu di antara mereka, atau berpalinglah dari mereka...") diturunkan pada kasus diyat antara Bani an-Nadhir dengan Bani Quraizhah. Sebabnya, Bani an-Nadhir yang terhormat membayar diyat dengan utuh, sementara Bani Quraizhah hanya membayar separuh saja. Kemudian mereka mengadukan masalah ini kepada beliau. Lalu Allah menurunkan firman-Nya tentang mereka. Beliau mengembalikan mereka pada kebenaran dengan menyamakan diyat di antara mereka.1
Wallahu a'lam mana yang lebih benar di antara riwayat tersebut.124
- Upaya menggoyahkan beliau
Para rabi mencoba mengeluarkan beliau dari agamanya
Ka'b bin Asad, Ibnu Shaluba, 'Abdullah bin Shuriya, dan Syas bin Qais berunding untuk menemui beliau dan meminta agar beliau memutuskan sengketa mereka demi keuntungan mereka dengan janji akan beriman. Beliau menolak (QS al-Ma'idah: 49-50). Abu Yasir dan kawan-kawannya bertanya tentang rasul yang beliau imani, dan mengingkari Isa (QS al-Baqarah: 136; QS al-Ma'idah: 59). Rafi' bin Haritsah, Salam bin Misykam, Malik bin ash-Shaif, dan Rafi' bin Huraimalah bertanya tentang agama Ibrahim dan Taurat (QS al-Ma'idah: 68).
Baca selengkapnya
Ka'b bin Asad, Ibnu Shaluba, 'Abdullah bin Shuriya, dan Syas bin Qais berbincang di antara mereka: "Marilah kita pergi menemui Muhammad, semoga kita berhasil mengeluarkannya dari agamanya, karena dia juga manusia biasa layaknya kita semua." Mereka pun datang menjumpai beliau dan berkata: "Wahai Muhammad, engkau tahu bahwa kami pendeta-pendeta Yahudi, orang-orang terhormat serta pemimpin-pemimpin mereka. Jika kami mengikutimu, maka semua orang Yahudi akan mengikutimu, dan mereka tidak mungkin menentang kami. Sesungguhnya kami mempunyai sengketa; bagaimana jika kami serahkan sengketa mereka itu padamu, lalu engkau memutuskan penyelesaiannya untuk kami, setelah itu kami akan beriman dan membenarkanmu?" Beliau menolak permintaan mereka, lalu Allah menurunkan firman-Nya (QS al-Ma'idah: 49-50): "Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu... Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki?"1
Beberapa orang Yahudi, antara lain Abu Yasir bin Akhthab, Nafi' bin Abu Nafi', Azir bin Abu Azir, Khalid, Zaid, Izar bin Abu Izar, dan Asya', datang menemui beliau dan bertanya mengenai rasul-rasul yang beliau imani. Beliau menjawab dengan QS al-Baqarah: 136: "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka." Ketika beliau menyebut Nabi Isa bin Maryam, mereka mengingkarinya: "Kami tidak beriman kepada Isa bin Maryam, tidak pula pada orang-orang yang beriman kepadanya." Kemudian Allah menurunkan firman-Nya (QS al-Ma'idah: 59): "Hai Ahli Kitab, apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik?"1
Rafi' bin Haritsah, Salam bin Misykam, Malik bin ash-Shaif, dan Rafi' bin Huraimalah datang menemui beliau dan berkata: "Wahai Muhammad, bukankah engkau mengaku menganut agama Ibrahim, beriman kepada Taurat yang kami miliki, dan engkau bersaksi bahwa Taurat itu benar dari Allah?" Beliau bersabda: "Benar. Namun kalian telah membuat kebid'ahan, menolak perjanjian yang telah diambil Allah dari kalian yang ada di dalamnya, kalian pun menyembunyikan apa yang diperintahkan kepada kalian untuk memaparkannya pada manusia. Maka aku berlepas diri dari bid'ah-bid'ah yang kalian bikin." Orang-orang Yahudi itu berkata: "Kami tetap berpegang teguh dengan apa yang berada pada tangan kami karena kami yakin bahwa kami ada dalam petunjuk dan kebenaran. Kami tidak beriman kepadamu, tidak juga akan mengikutimu." Lalu Allah menurunkan firman-Nya (QS al-Ma'idah: 68): "Katakanlah: 'Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikit pun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al-Qur'an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.'"
An-Nahham bin Zaid, Fardam bin Ka'b, dan Bahri bin 'Amr datang menemui beliau dan berkata: "Hai Muhammad, apakah engkau tidak tahu bahwa terdapat tuhan lain selain Allah?" Beliau bersabda: "Tidak ada Tuhan yang pantas disembah selain Allah. Dengan ajaran ini aku diutus, dan kepada-Nya aku menyeru." Kemudian Allah menurunkan firman-Nya (QS al-An'am: 19-20): "Katakanlah: 'Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?' Katakanlah: 'Allah. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu... Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allah?' Katakanlah: 'Aku tidak mengakui.'"1
Rifa'ah bin Zaid bin at-Tabut dan Suwaid bin al-Harits berpura-pura sebagai Muslim walaupun hakikatnya munafik; karena kepura-puraannya itu beberapa orang Muslim mencintainya. Lalu Allah menurunkan firman-Nya tentang mereka (QS al-Ma'idah: 57-61): jangan mengambil menjadi pemimpin orang-orang yang menjadikan agamamu buah ejekan dan permainan, di antara orang yang diberi Kitab sebelummu dan orang-orang kafir; apabila kamu menyeru mereka untuk shalat, mereka menjadikannya ejekan dan permainan; mereka itu lebih buruk pembalasannya, ada yang dijadikan kera dan babi dan yang menyembah thaghut; dan apabila mereka datang, mereka berkata "Kami telah beriman", padahal datang dengan kekafiran dan pergi dengan kekafiran.
Jabal bin Abu Qusyair dan Samuel bin Zaid berkata kepada beliau: "Wahai Muhammad, tolong terangkan kepada kami kapankah Hari Kiamat akan terjadi, bila engkau adalah benar-benar seorang Nabi sebagaimana yang selama ini engkau ucapkan!" Lalu Allah menurunkan firman-Nya tentang mereka (QS al-A'raf: 187): "Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: 'Bilakah terjadinya?' Katakanlah: 'Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia... Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.'"25
- Uzair dan kemukjizatan Qur'an
Dua klaim dan tantangan Al-Qur'an
Beberapa orang Yahudi berkata bahwa mereka tidak akan mengikuti beliau karena beliau meninggalkan kiblat mereka dan tidak meyakini 'Uzair sebagai anak Allah (QS at-Taubah: 30). Mahmud bin Saihan dkk. meragukan bahwa kebenaran yang beliau bawa bersumber dari Allah karena tidak tersusun seperti Taurat; beliau menjawab bahwa mereka mengetahuinya tertera dalam Taurat. Lalu para rabi meminta kitab dari langit; turun QS al-Isra': 88.
Baca selengkapnya
Sallam bin Misykam, Nu'man bin Abu Aufa Abu Anas, Mahmud bin Dahyah, Syas bin Qais, dan Malik bin ash-Shaif datang menemui beliau, kemudian berkata: "Bagaimana mungkin kami akan mengikutimu, sedangkan engkau telah meninggalkan kiblat kami, dan tidak meyakini 'Uzair sebagai anak Allah." Lalu Allah menurunkan ayat tentang ucapan mereka (QS at-Taubah: 30): "Orang-orang Yahudi berkata: 'Uzair itu putra Allah,' dan orang Nasrani berkata: 'Al-Masih itu putra Allah.' Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?"1
Yudhahi'una artinya ucapan mereka itu sama dengan ucapan orang-orang yang kafir.5
Mahmud bin Saihan, Nu'man bin Adha, Bahri bin 'Amr, 'Uzair bin Abu 'Uzair, dan Sallam bin Misykam datang menemui beliau, kemudian berkata: "Wahai Muhammad, apakah benar kebenaran yang engkau bawa itu bersumber dari Allah? Karena kami tidak mendapatkannya tersusun sebagaimana Kitab Taurat." Beliau bersabda: "Demi Allah, sesungguhnya kalian pun mengetahui bahwa yang aku bawa ini benar-benar dari Allah dan kalian telah mendapatkannya tertera dalam Taurat yang ada pada kalian. Andai semua manusia dan jin bersekutu untuk membuat sebagaimana apa yang aku bawa, mereka tidak akan kuasa melakukannya." Usai beliau bersabda seperti itu, Finhash, 'Abdullah bin Shuwariya, Ibnu Shaluba, Kinanah bin ar-Rabi' bin Abu al-Huqaiq, Asya', Ka'b bin Asad, Samuel bin Zaid, dan Jabal bin Sukainah berkata serentak: "Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah melakukan apa saja untuk Rasul-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Jika Dia mengutusnya sebagai nabi, dan Dia kuasa melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya, maka turunkanlah kitab dari langit yang bisa kami baca dan kami mengerti. Apabila engkau tidak dapat melakukannya, kami datang kepadamu dengan membawa sesuatu sebagaimana yang engkau bawa." Maka Allah menurunkan firman-Nya (QS al-Isra': 88): "Katakanlah: 'Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.'"1
Zhahir artinya 'aun (pertolongan), dan pluralnya zhuhara.526
- Dzu al-Qarnain dan pertanyaan tentang Allah
Dua pertanyaan dan kemarahan beliau
Huyay, Ka'b bin Asad, Abu Nafi', Asya', dan Samuel berkata kepada 'Abdullah bin Salam bahwa kenabian tidak ada pada orang Arab dan sahabatnya hanyalah raja; lalu mereka bertanya kepada beliau tentang Dzu al-Qarnain, yang juga mereka sarankan kepada Quraisy (an-Nadhr bin al-Harits dan 'Uqbah bin Mu'ath). Orang Yahudi lain bertanya siapa yang menciptakan Allah; beliau sangat marah, Jibril menenangkan beliau dan membawa QS al-Ikhlas: 1-4, kemudian QS az-Zumar: 67 atas pertanyaan tentang tangan dan lengan Allah.
Baca selengkapnya
Huyay bin Akhthab, Ka'b bin Asad, Abu Nafi', Asya', dan Samuel bin Zaid berkata kepada 'Abdullah bin Salam ketika ia telah masuk Islam: "Kenabian tidak akan ada pada orang-orang Arab. Sahabatmu itu tak lebih hanyalah seorang raja." Usai mengatakan itu kepada 'Abdullah bin Salam, mereka menemui beliau, kemudian bertanya tentang Dzu al-Qarnain. Beliau menceritakan kisah Dzu al-Qarnain yang diterimanya dari Allah seperti yang pernah beliau ceritakan kepada orang-orang Quraisy. Merekalah yang memerintahkan orang-orang Quraisy untuk bertanya mengenai Dzu al-Qarnain kepada beliau, yaitu pada saat orang-orang Quraisy mengirim an-Nadhr bin al-Harits dan 'Uqbah bin Mu'ath kepada mereka.1
Dituturkan kepadaku dari Sa'id bin Jubair, ia berkata: beberapa orang Yahudi datang menjumpai beliau, kemudian berkata: "Wahai Muhammad, Dialah Allah yang menciptakan makhluk. Lalu siapakah yang menciptakan Allah?" Beliau marah besar mendengar pertanyaan mereka hingga wajah beliau berubah disebabkan kemarahannya karena Allah. Maka datanglah Jibril untuk menenangkan beliau: "Tenangkanlah dirimu wahai Muhammad!" Jibril datang dari Allah dengan jawaban atas pertanyaan mereka (QS al-Ikhlas: 1-4): "Katakanlah: 'Dia-lah Allah, Yang Maha Esa... Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.'"1
Ketika beliau membacakan ayat-ayat tersebut, mereka berkata: "Coba terangkan kepada kami wahai Muhammad, bagaimana penciptaan Allah, bagaimana tangan-Nya? Seperti apa lengan-Nya?" Beliau bertambah marah melebihi kemarahan pertama. Kemudian Jibril datang dan berkata seperti sebelumnya, serta membawa jawaban dari Allah atas semua pertanyaan mereka (QS az-Zumar: 67): "Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan."
'Allah-lah yang telah menciptakan makhluk, maka siapakah yang menciptakan Allah?' Apabila mereka mengatakan itu, katakanlah: 'Dia-lah Allah: Yang Maha Esa... dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia' (QS al-Ikhlas: 1-4). Kemudian hendaknya seseorang meludah kecil di sebelah kirinya sebanyak tiga kali, dan berlindunglah kepada Allah dari semua godaan setan yang terkutuk."2728
- Delegasi Najran
Enam puluh orang, empat belas tokoh, tiga pengatur
Delegasi Kristen Najran datang menemui beliau: enam puluh orang, di antaranya empat belas tokoh terhormat. Tiga orang mengatur urusan mereka: al-'Aqib (nama 'Abdul Masih) sebagai pemimpin dan ahli pertimbangan, as-Sayyid (al-Aiham) sebagai administrator perjalanan dan kesepakatan umum, dan Abu Haritsah bin 'Alqamah dari Bani Bakr bin Wail, seorang uskup, pendeta, dan ulama.

Qasr al-Imarah (Istana Imarah) di Najran, Arab Saudi, kondisi sekarang (berkas bertanggal 25 Agustus 2020; deskripsi berkas: salah satu istana penting di kawasan Najran). Gambaran gaya bangunan tradisional Najran, bukan bangunan pada masa delegasi Najran.Foto: Heritage Commission · CC BY-SA 4.0 · Wikimedia Commons Baca selengkapnya
- Al-'AqibPemimpin kaum dan ahli pertimbangan; segala urusan tidak boleh diputuskan kecuali menurut pendapatnya. Bernama 'Abdul Masih.
- As-SayyidAdministrator yang mengatur perjalanan dan kesepakatan umum. Yang menjabat saat itu adalah al-Aiham.
- Abu Haritsah bin 'AlqamahDari Bani Bakr bin Wail. Uskup, pendeta, ulama, dan pemilik Baitul Mirdas.
Delegasi Kristen Najran datang menemui beliau. Jumlah mereka enam puluh orang. Di antara mereka terdapat empat belas tokoh terhormat di kalangan mereka. Dari empat belas orang itu, tiga orang yang mengatur urusan mereka. Pertama, al-'Aqib. Jabatan al-'Aqib adalah pemimpin kaum, ahli pertimbangan, dan segala urusan tidak boleh diputuskan kecuali menurut pendapatnya. Ia bernama 'Abdul Masih. Kedua, as-Sayyid. Jabatan as-Sayyid ialah administrator yang mengatur perjalanan dan kesepakatan umum. Yang menjabat as-Sayyid saat itu adalah al-Aiham. Abu Haritsah bin 'Alqamah, salah seorang dari Bani Bakr bin Wail. Dia uskup, pendeta, ulama, dan pemilik Baitul Mirdas.1
Abu Haritsah datang ke tempat mereka dan menelaah kitab-kitab mereka hingga pengetahuannya tentang agama mereka sangat memadai. Raja-raja Byzantium Romawi yang memeluk agama Kristen menghormati dan memuliakan Abu Haritsah, mengirimkan pembantu, membangunkan gereja untuknya, dan memberikan banyak sekali kemudahan kepadanya. Itu semua dilakukan karena kapasitas ilmunya dan semangatnya dalam agama mereka.29
- Kuz bin 'Alqamah
Sebab masuk Islamnya Kuz
Saat siap berangkat dari Najran, keledai Abu Haritsah terperosok ke lubang. Kuz bin 'Alqamah, saudaranya, berkata "Celakalah orang jauh tersebut," yaitu beliau. Abu Haritsah membalas bahwa dirinyalah yang binasa karena orang itulah Nabi yang mereka tunggu. Abu Haritsah tidak masuk Islam karena takut para raja Romawi menarik fasilitas. Kuz merahasiakan hal itu, lalu masuk Islam kemudian.
Baca selengkapnya
Saat mereka telah siap sedia untuk berangkat menuju ke tempat beliau dari Najran, Abu Haritsah duduk di atas keledainya dengan arah menuju beliau, dan di sampingnya terdapat saudaranya yang bernama Kuz. Ada pula yang menyebut Kurz bin 'Alqamah.1
Keledai Abu Haritsah terperosok ke lubang, kemudian Kuz bin 'Alqamah berkata: "Celakalah orang jauh tersebut." Yang dia maksud dengan orang jauh adalah beliau. Abu Haritsah berkata kepada Kuz bin 'Alqamah: "Dirimu-lah yang binasa." Kuz bin 'Alqamah berkata: "Mengapa demikian, wahai saudaraku?" Abu Haritsah menjawab: "Demi Allah, sungguh orang itulah Nabi yang selama ini kita tunggu-tunggu." Kuz bin 'Alqamah berkata kepada Abu Haritsah: "Lalu apa yang menghalangimu untuk masuk Islam sedangkan engkau mengetahuinya?" Abu Haritsah berkata: "Kaum tersebut (para raja Romawi) telah memuliakan, mengangkat derajat dan menghormati kami. Mereka menginginkan agar kami menentang Nabi tersebut. Maka apabila aku memeluk Islam, mereka akan menarik semua fasilitas yang selama ini mereka berikan kepada kami." Kuz bin 'Alqamah merahasiakan tentang dirinya dari Abu Haritsah sampai setelah itu ia memeluk Islam. Kisah ini berasal daripadanya sebagaimana disampaikan kepadaku.
Telah dituturkan kepadaku bahwa para pemimpin Najran mewariskan kitab-kitab milik mereka. Apabila salah seorang pemimpin mereka meninggal dunia, mereka segera mengalihkan kepemimpinan pada yang lain. Kitab-kitab tersebut dikunci dan tidak seorang pun yang memecahkannya. Pada masa beliau, pemimpin Najran berjalan-jalan dan ia jatuh terpeleset. Anak sang pemimpin berkata: "Celakalah orang jauh," maksudnya beliau. Pemimpin tersebut berkata: "Janganlah engkau berkata demikian, karena dia seorang Nabi dan namanya tertera dalam kitab kita." Ketika pemimpin tersebut telah meninggal dunia, anaknya mempunyai keinginan kuat untuk memecahkan kunci kitab itu. Lalu ia membongkar kunci kitab tersebut dan mendapatkan nama beliau tertera di dalamnya. Maka ia pun masuk Islam dan dengan keislaman yang bagus. Orang inilah yang berkata dalam syair.530
- Shalat menghadap timur
Delegasi memasuki masjid dan shalat Ashar
Delegasi Najran memasuki masjid beliau saat waktu Ashar dengan pakaian bergaris dari Yaman, jubah dan mantel warna-warni. Mereka berdiri shalat di masjid beliau dengan menghadap ke arah timur, dan beliau bersabda, "Biarkanlah mereka melakukan shalat."
Baca selengkapnya
Muhammad bin Ja'far bin Zubair berkata kepadaku: pada saat delegasi Najran tiba di kediaman beliau dan masuk ke masjid beliau saat waktu shalat Ashar telah tiba, mereka memakai pakaian bergaris yang berasal dari Yaman, dengan jubah dan mantel warna-warni menawan sebagaimana yang biasa dikenakan orang-orang Bani al-Harits bin Ka'b. Salah seorang sahabat beliau yang melihat mereka ketika itu berujar: "Kami tidak pernah melihat delegasi seperti mereka." Pada saat shalat mereka telah tiba, mereka langsung berdiri di masjid beliau lalu mereka pun shalat. Beliau bersabda: "Biarkanlah mereka melakukan shalat." Mereka shalat dengan menghadap ke arah timur.131
- Empat belas tokoh dan keyakinan mereka
Nama-nama delegasi dan perkataan mereka tentang Isa
Empat belas tokoh itu: al-'Aqib 'Abdul Masih, as-Sayyid al-Aiham, Abu Haritsah bin 'Alqamah, lalu Aus, al-Harits, Zaid, Qais, Yazid, Nabaih, Khuwailid, 'Amr, Khalid, 'Abdullah, dan Johannes. Juru bicara mereka adalah Abu Haritsah, al-'Aqib 'Abdul Masih, dan as-Sayyid al-Aiham. Mereka berkata: Isa adalah Allah; Isa anak Allah; dan Isa satu dari tiga Tuhan.
Baca selengkapnya
- Isa adalah AllahMereka berargumen bahwa Isa bisa menghidupkan orang mati, menyembuhkan penyakit, memberi tahu hal-hal yang ghaib, dan membuat burung dari tanah lalu meniupnya hingga hidup.
- Isa anak AllahMereka berkata Isa tidak mempunyai ayah yang bisa diketahui, sesuatu yang belum pernah terjadi pada keturunan Adam sebelum mereka.
- Satu dari tiga TuhanMereka berargumentasi dengan firman Allah "Kami berbuat, Kami memerintahkan, Kami menciptakan, Kami memutuskan"; menurut mereka jika Allah satu, Dia akan berfirman "Aku". Tuhan itu adalah Dia sendiri, Isa, dan Maryam.
Nama keempat belas delegasi Najran adalah sebagai berikut: al-'Aqib 'Abdul Masih, as-Sayyid al-Aiham, Abu Haritsah bin 'Alqamah saudara Bani Bakr bin Wail, Aus, al-Harits, Zaid, Qais, Yazid, Nabaih, Khuwailid, 'Amr, Khalid, 'Abdullah, Johannes. Mereka membawa enam puluh kendaraan. Sebagai juru bicara kepada beliau mereka menunjuk Abu Haritsah bin 'Alqamah, al-'Aqib 'Abdul Masih, dan as-Sayyid al-Aiham. Mereka menganut agama Kristen model raja, walaupun dalam beberapa hal mereka berbeda. Mereka berkata: "Isa adalah Allah." Mereka juga berkata: "Isa adalah anak Allah." Mereka juga berkata: "Isa adalah satu dari tiga Tuhan." Demikianlah ucapan orang-orang Kristen itu.1
Mengenai perkataan mereka bahwa Isa adalah Allah, mereka berargumen bahwa Isa bisa menghidupkan orang mati, menyembuhkan penyakit, memberi tahu hal-hal yang ghaib, dan membuat burung dari tanah lalu meniupnya hingga menjadi burung hidup. Itu semua adalah perintah Allah. "Dan Kami jadikan dia sebagai tanda kebesaran Kami pada manusia." (Maryam: 21)
Mengenai perkataan mereka bahwa Isa adalah anak Allah, mereka berkata: "Isa tidak mempunyai ayah yang bisa diketahui. Ini belum pernah terjadi pada anak keturunan Adam sebelum mereka."
Mengenai perkataan mereka bahwa Isa adalah salah satu dari tiga tuhan, mereka berargumentasi dengan menggunakan firman Allah, "Kami berbuat, Kami memerintahkan, Kami menciptakan, dan Kami memutuskan." Mereka menambahkan bahwa jika Allah itu satu, maka Dia berfirman "Aku" (bukan "Kami") berbuat, "Aku" memerintahkan, dan "Aku" menciptakan. Namun tuhan itu adalah Dia sendiri, Isa, dan Maryam. Al-Qur'an menurunkan firman-Nya tentang masing-masing perkataan mereka tersebut.
Setelah dua pendeta tadi mengatakan itu kepada beliau, beliau bersabda: "Masuklah kalian berdua ke dalam Islam." Namun kedua pendeta tersebut menjawab: "Kami telah masuk Islam." Beliau bersabda: "Kalian berdua belum masuk Islam." Kedua pendeta tersebut berkata: "Kami telah masuk Islam sebelum engkau memasukinya." Beliau bersabda: "Kalian berdua berdusta. Kalian berdua terhalang masuk Islam karena masih meyakini bahwa Allah mempunyai anak, karena kalian berdua menyembah salib dan memakan daging babi." Kedua pendeta itu menukas: "Jika demikian lalu siapa ayahnya, wahai Muhammad?" Beliau diam tidak menjawab pertanyaan kedua pendeta itu.32
- Ali 'Imran 1-8
Awal surat Ali 'Imran: keesaan Allah dan ayat muhkamat
Allah menurunkan awal surat Ali 'Imran hingga sekitar ayat delapan puluh tentang perkataan dan perbedaan pandangan mereka. Ibnu Ishaq menafsirkan: Allah menyucikan diri dari ucapan mereka (QS 3: 1-2); al-Hayyu al-Qayyum tidak pernah mati, sedangkan Isa mati dan disalib menurut orang Kristen; Taurat dan Injil diturunkan; al-Furqan memisahkan kebenaran dan kebatilan (QS 3: 3-4). Allah mengetahui perkataan mereka tentang Isa (QS 3: 5), membentuk manusia dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya (QS 3: 6), dan ayat muhkamat serta mutasyabihat (QS 3: 7-8).
Baca selengkapnya
Allah menurunkan firman-Nya pada awal surat Ali 'Imran hingga ayat delapan puluhan tentang perkataan dan perbedaan pandangan mereka. Berikut ringkasan penjelasan Ibnu Ishaq atas ayat-ayat itu.1
QS Ali 'Imran: 1-2 ("Alif laam miim. Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya"). Allah mengawali surat dengan menyucikan diri-Nya dari apa yang mereka katakan, tentang keesaan-Nya dalam penciptaan dan perintah, serta tidak ada sekutu bagi-Nya. Hal ini juga sebagai sanggahan terhadap kekafiran yang mereka lakukan, tandingan-tandingan bagi Allah yang mereka ciptakan, serta sanggahan yang menerangkan kesesatan mereka. Al-Hayyu al-Qayyum adalah yang tidak pernah mati, sementara Isa mati dan ia disalib dalam pandangan orang-orang Kristen. Al-Qayyum artinya yang berdiri bertahan pada posisi-Nya, yaitu kekuasaan-Nya terhadap makhluk-Nya. Kekuasaan Allah tidak pernah habis, sementara kekuasaan Isa bin Maryam lenyap dari dirinya sesuai dengan pandangan mereka dan berpindah tangan kepada orang lain.
QS Ali 'Imran: 3-4. Allah menurunkan Al-Kitab dengan sebenarnya, membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya; al-haqq maksudnya dengan benar tentang apa yang mereka perselisihkan. Allah menurunkan Taurat kepada Musa dan Injil kepada Isa serta kitab-kitab sebelumnya. Al-Furqan ialah yang memisahkan kebenaran dengan kebatilan dalam hal-hal yang menjadi sengketa antara manusia, seperti tentang Isa dan masalah-masalah lainnya. Orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat, yakni Allah mengazab orang yang ingkar terhadap ayat-ayat yang telah diketahuinya.
QS Ali 'Imran: 5-6. Bagi Allah tidak ada satu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak di langit; yakni Allah mengetahui apa yang mereka inginkan, kejahatan yang sedang mereka rencanakan, dan perkataan mereka tentang Isa, sebab mereka menjadikan Isa sebagai Tuhan yang disembah. "Dialah yang membentuk kalian dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya": Isa termasuk orang yang diciptakan langsung oleh Allah dalam rahim, dan mereka tidak bisa membantahnya sebagaimana anak keturunan Adam yang lain dibentuk di dalam rahim. Bagaimana mungkin Isa didaulat sebagai tuhan padahal kedudukannya sama seperti mereka? Allah Maha Perkasa untuk menang atas orang-orang yang kafir kepada-Nya apabila Dia menghendaki, dan Maha Bijaksana dalam alasan logis dan argumen-Nya terhadap hamba-hamba-Nya.
QS Ali 'Imran: 7-8. Ayat-ayat muhkamat adalah pokok-pokok isi Al-Qur'an: di dalamnya terdapat hujjah Allah, perlindungan bagi hamba-hamba-Nya, dan penolakan dari lawan dan kebatilan, tanpa deviasi dan penyelewengan. Ayat-ayat mutasyabihat mempunyai multi tafsir dan interpretasi; Allah menguji hamba-hamba-Nya dengan ayat-ayat mutasyabihat sebagaimana halnya Allah menguji mereka dalam hal-hal yang halal dan haram, agar ayat-ayat itu tidak diarahkan kepada kebatilan dan tidak dijauhkan dari kebenaran. Orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan mengikuti sebagian ayat mutasyabihat, mengutak-atiknya agar bisa membenarkan hal-hal bid'ah yang mereka lakukan, menjadikannya hujjah dan senjata atas ucapan syubhat mereka, untuk menimbulkan fitnah (pengkaburan), dan mencari-cari takwilnya. Ini semua terjadi karena tindakan sesat mereka dalam ucapannya: "Kami menciptakan, Kami memutuskan." Tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Mereka mengembalikan takwil mutasyabih pada apa yang mereka ketahui tentang takwil muhkamat, yang tidak ada lagi penafsiran selain satu takwil tunggal, dan ucapan mereka berselaras dengan Kitabullah, membenarkan antara satu dengan yang lain. Dengan demikian habislah hujjah dengan Al-Qur'an, tampaklah ketidakmampuan, kebatilan menjadi lenyap, dan kekufuran menjadi sirna. Allah berfirman dalam hal serupa dengan ini (QS Ali 'Imran: 7-8): "Dan tidak dapat mengambil pelajaran melainkan orang-orang yang berakal. (Mereka berdoa): 'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).'"33
- Ali 'Imran 18-34
Persaksian Allah dan keagungan-Nya
Allah menyatakan tidak ada Tuhan selain Dia; agama di sisi Allah hanyalah Islam (QS 3: 18-20). Ahli Kitab tidak berselisih kecuali setelah datang pengetahuan karena kedengkian. Allah menggabungkan kedua kelompok Ahli Kitab dan menyebut perbuatan mereka (QS 3: 21-27), kemudian menjelaskan bahwa kekuasaan yang tidak diberikan kepada Isa (menentukan raja, memasukkan malam ke siang, memberi rezeki tanpa batas) menunjukkan bahwa ia bukan Tuhan. Katakanlah: jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku (QS 3: 31-32). Allah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran (QS 3: 33-34).
Baca selengkapnya
QS Ali 'Imran: 18-20. Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, yang menegakkan keadilan; para malaikat dan orang-orang yang berilmu juga menyatakan yang demikian itu, berseberangan dengan apa yang mereka katakan. Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam, yakni mengesakan Tuhan dan membenarkan Rasulullah. Orang yang diberi Al-Kitab tidak berselisih kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, yakni bahwa Allah itu Maha Esa dan tidak punya sekutu, karena kedengkian di antara mereka. Jika mereka mendebat dengan apa yang mereka datangkan dari kebatilan, yaitu ucapan "Kami mencipta, melakukan dan memerintah", maka itu semua syubhat batil dan mereka mengetahui kebenaran yang sebenarnya. Katakanlah: "Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan orang-orang yang mengikutiku." Dan katakanlah kepada orang yang diberi Al-Kitab dan orang-orang ummi, yakni orang yang tidak memiliki Kitab: "Apakah kamu mau masuk Islam?" Jika mereka masuk Islam mereka mendapat petunjuk, dan jika berpaling, kewajiban kamu hanyalah menyampaikan.
QS Ali 'Imran: 21-27. Allah menggabungkan kedua Ahli Kitab dan mengutarakan apa yang telah mereka buat: orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah, membunuh para nabi tanpa alasan yang benar dan membunuh orang yang menyuruh manusia berbuat adil, akan menerima siksa yang pedih. Sebagian diseru kepada kitab Allah supaya menetapkan hukum di antara mereka, tetapi berpaling, karena mereka mengaku, "Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung." Lalu doa: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki... Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mati dari yang hidup, dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab."
Walaupun Allah memberikan banyak karunia kepada Isa, sehingga orang-orang Kristen berasumsi Isa sebagai Tuhan, yaitu menghidupkan orang yang telah mati, menyembuhkan penyakit, menciptakan burung dari tanah, dan memberi tahu hal-hal yang ghaib, maka Allah memberikan hal-hal itu sebagai tanda-tanda kebesaran-Nya untuk manusia dan untuk membenarkan kenabiannya. Sesungguhnya banyak sekali kekuasaan Allah yang tidak diberikan kepadanya, seperti penentuan raja-raja melalui perintah kenabian, memasukkan malam ke dalam siang dan siang ke dalam malam, mengeluarkan orang hidup dari orang mati dan orang mati dari orang hidup, dan memberi rezeki tanpa batas kepada siapa saja yang Dia suka. Andaikata Isa benar-benar Tuhan, tentu ia memiliki semua hal tadi. Padahal, sebagaimana mereka ketahui, Isa melarikan diri dari para raja, berpindah dari satu negeri ke negeri yang lain.1
QS Ali 'Imran: 31-34. Katakanlah: "Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu", yakni kekufuran masa lalu mereka. "Taatilah Allah dan Rasul-Nya", karena mereka mengetahuinya dan mendapatkannya dalam Kitab mereka; jika mereka berpaling dan tetap dalam kekafiran, maka Allah tidak menyukai orang-orang kafir. Lalu Allah menerangkan kepada mereka tentang Nabi Isa dan bagaimana Allah memulai apa yang dikehendaki-Nya dengannya: Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat di masa mereka masing-masing, sebagai satu keturunan yang sebagiannya dari yang lain.34
- Kisah Maryam dan Isa
Istri 'Imran, Zakaria, Maryam, dan kelahiran Isa
Istri 'Imran menazarkan anaknya kepada Allah; ia melahirkan Maryam dan menamainya Maryam. Zakaria menjadi pemelihara Maryam (QS 3: 35-37). Malaikat menyampaikan bahwa Maryam dipilih dan disucikan (QS 3: 42-43). Menurut Ibnu Ishaq, Maryam kemudian diasuh oleh Juraij, pendeta Yahudi, karena undian jatuh atas namanya saat Zakaria tidak kuasa karena krisis pangan Bani Israil. Maryam heran akan mempunyai anak sedangkan belum disentuh seorang laki-laki; Allah berfirman, "Jadilah," lalu jadilah ia (QS 3: 45-47). Isa disebut berbicara dengan manusia di buaian dan ketika dewasa.
Baca selengkapnya
Allah memaparkan tentang istri 'Imran dan perkataannya (QS Ali 'Imran: 35-37): "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat di Baitul Maqdis." Yakni ia bernazar dan membebaskan anaknya, semata-mata mengabdi kepada Allah dan bukan demi kepentingan dunia. Ketika ia melahirkan anak perempuan, ia berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan." Yakni laki-laki tidaklah sama dengan perempuan dalam hal nazar yang menjadikannya bebas untuk pengabdian. "Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada pemeliharaan Engkau daripada setan yang terkutuk." Maka Tuhannya menerimanya dengan penerimaan yang baik, mendidiknya dengan pendidikan yang baik, dan menjadikan Zakaria pemeliharanya, yakni setelah ia dipelihara oleh ayah dan ibunya. Kemudian Allah memaparkan kisah tentang Maryam, Nabi Zakaria, doa Zakaria, dan karunia berupa seorang anak yang bernama Yahya.1
Kemudian Allah menyebutkan ucapan malaikat kepada Maryam (QS Ali 'Imran: 42-43): "Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia yang semasa dengan kamu. Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk." Allah berfirman (QS Ali 'Imran: 44): "Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepada kamu; padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa."
Yang dimaksud dengan aqlaam pada ayat di atas adalah anak-anak panah yang mereka gunakan untuk mengundi; dari undian itu keluarlah nama Zakaria, maka Maryam diasuh oleh Nabi Zakaria sebagaimana dikatakan al-Hasan bin Abu al-Hasan al-Bashri.5
Maryam diasuh oleh Juraij, sang pendeta Yahudi, salah seorang dari Bani Israil Najjar. Undian keluar atas namanya, maka ia pun mengasuh Maryam, setelah sebelumnya Maryam diasuh oleh Nabi Zakaria. Pada saat Maryam diasuh Zakaria, Bani Israil mengalami krisis pangan yang luar biasa sehingga Zakaria tidak kuasa untuk mengasuh Maryam. Orang-orang Bani Israil melakukan undian kembali untuk menentukan siapa yang berhak mengasuh Maryam. Undian keluar atas nama Juraij, maka ia pun diserahi pengasuhannya. Ayat "dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa" berarti: kamu waktu itu tidak bersama dengan mereka tatkala terjadi perselisihan antara mereka tentang Maryam. Allah memberitahukan kepada beliau apa yang mereka sembunyikan dari ilmu yang mereka ketahui, demi mengokohkan kenabian beliau dan menjadi argumen atas mereka mengenai apa yang mereka sembunyikan selama ini.1
Kemudian Allah berfirman (QS Ali 'Imran: 45-46): "(Ingatlah), ketika malaikat berkata: 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan dengan kalimat yang datang daripada-Nya, namanya Al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat, dan termasuk orang-orang yang didekatkan kepada Allah, dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa, dan dia termasuk di antara orang-orang yang shalih.'" Allah memberitahukan kondisi Isa yang sebenarnya: Nabi Isa bersikap sebagaimana manusia lainnya sepanjang umurnya, baik saat masih anak kecil maupun dewasa. Hanya saja Allah memberi keistimewaan kemampuan berbicara tatkala ia masih berada dalam pangkuan ibunya, sebagai tanda kenabiannya dan untuk menerangkan kekuasaan-Nya kepada manusia.
Maryam berkata (QS Ali 'Imran: 47): "Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun." Allah berfirman melalui Jibril: "Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dia mencipta apa yang Dia kehendaki dari manusia atau selain manusia. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: 'Jadilah', lalu jadilah dia."35
- Isa dan para hawariyyin
Mukjizat Isa, pengangkatan, dan perumpamaan Adam
Allah mengajarkan Isa Al-Kitab, hikmah, Taurat, dan Injil, dan mengutusnya kepada Bani Israil dengan tanda: membuat burung dari tanah dengan izin Allah, menyembuhkan orang buta sejak lahir dan sopak, menghidupkan orang mati, dan mengabarkan apa yang mereka makan dan simpan (QS 3: 48-51). Para hawariyyin berkata, "Kami penolong-penolong Allah" (QS 3: 52-53). Allah membalas tipu daya orang kafir dan mengangkat Isa (QS 3: 54-55). Perumpamaan Isa di sisi Allah seperti Adam, yang diciptakan dari tanah (QS 3: 59-60).
Baca selengkapnya
Allah mengajarkan kepada Isa Al-Kitab, hikmah, Taurat yang ada di tengah mereka sejak zaman Musa sebelum dia, dan Injil, sebuah Kitab lain yang Allah turunkan kepadanya yang belum ada di tengah mereka kecuali hanya sebagai penyebutan bahwa ia akan ada di tangan salah seorang nabi setelah Musa (QS Ali 'Imran: 48).
Isa diutus sebagai rasul kepada Bani Israil, yang berkata kepada mereka (QS Ali 'Imran: 49-51): "Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda dari Tuhanmu, yang mengokohkan kenabianku bahwa sesungguhnya aku adalah seorang rasul darinya yang diutus kepada kalian: aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman." Dan ia datang membenarkan Taurat yang datang sebelumnya, dan untuk menghalalkan sebagian yang telah diharamkan, yakni "aku beritahukan kepadamu bahwa itu haram kemudian kalian meninggalkannya, lalu aku beritahukan bahwa itu halal untuk kalian sebagai keringanan sehingga kalian mendapatkan kemudahan dan keluar dari beban-bebannya". "Bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus." Ibnu Ishaq: ini sebagai ungkapan berlepas diri dari apa yang mereka katakan tentang Isa dan sebagai hujjah Tuhannya atas mereka.
Tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil) dan permusuhan atasnya, berkatalah ia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: "Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri... Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)." (QS Ali 'Imran: 52-53). Yakni demikianlah perkataan dan keimanan mereka, bukan sebagaimana yang dikatakan orang-orang yang mendebat tentang Isa.
Lalu Allah menyebutkan pengangkatan Isa kepada-Nya saat mereka berkonspirasi untuk membunuhnya (QS Ali 'Imran: 54): "Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu, dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya." Kemudian Allah memberitahukan dan menyangkal prasangka orang-orang Yahudi yang menyatakan bahwa mereka telah menyalib Isa, serta cara Allah mengangkatnya dan membersihkannya dari mereka (QS Ali 'Imran: 55): "(Ingatlah), ketika Allah berfirman: 'Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat.'" Kisahnya berlanjut hingga firman-Nya (QS Ali 'Imran: 58): "Demikianlah (kisah Isa), Kami membacakannya kepada kamu, wahai Muhammad, sebagian dari bukti-bukti (kerasulannya) dan (membacakan) Al-Qur'an yang penuh hikmah." Inilah kata terakhir yang benar yang tidak ada kebatilan di dalamnya tentang kisah Isa dan apa yang mereka perselisihkan tentang beliau. Oleh karena itu, janganlah menerima kabar lain selain dari apa yang diperoleh dari kabar ini.
Kemudian Allah berfirman (QS Ali 'Imran: 59-60): "Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: 'Jadilah' (seorang manusia), maka jadilah dia. (Apa yang telah Kami ceritakan itu), inilah yang benar, yang datang dari Tuhanmu; karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu." Ibnu Ishaq menjelaskan: jika mereka mengatakan Isa diciptakan tanpa ayah, sesungguhnya Allah sebelumnya telah menciptakan Adam dari tanah tanpa ayah dan ibu. Penciptaan Adam tidak jauh berbeda dengan penciptaan Isa; sama-sama mempunyai daging, darah, rambut, dan kulit. Jadi penciptaan Isa yang tidak memiliki ayah tidak lebih menakjubkan daripada penciptaan Adam.36
- Mubahalah
Tantangan saling melaknat dan jawaban al-'Aqib
Setelah wahyu dan keputusan final, beliau menantang delegasi Najran untuk saling melaknat (QS Ali 'Imran: 61). Mereka meminta waktu jeda, lalu bermusyawarah dengan al-'Aqib. Al-'Aqib berkata bahwa mereka tahu beliau Nabi yang diutus, dan saling laknat dengan seorang Nabi akan memusnahkan mereka; sebaiknya berdamai dan pulang. Mereka memutuskan tidak bermubahalah dan meminta beliau mengutus seorang sahabat untuk memutuskan perkara harta mereka; beliau mengutus Abu 'Ubaidah bin al-Jarrah.
Baca selengkapnya
Kemudian Allah berfirman (QS Ali 'Imran: 61): "Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu yang meyakinkan kamu, maka katakanlah (kepadanya): 'Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.'"
Abu 'Ubaid berkata: nabtahil artinya kita berdoa untuk saling laknat.5
Sesungguhnya apa yang aku bawa tentang kabar Isa, "sesungguhnya ini adalah kisah yang benar" (QS Ali 'Imran: 62), yakni sesuai perintah-Nya. "Dan tak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah; dan sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kemudian jika mereka berpaling, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui orang-orang yang berbuat kerusakan. Katakanlah: 'Hai Ahli Kitab, marilah berpegang kepada suatu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.' Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: 'Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri kepada Allah.'" (QS Ali 'Imran: 62-64). Dia mengajak mereka untuk adil dan mematahkan hujjah-hujjah mereka.1
Setelah beliau mendapatkan wahyu dari Allah dan keputusan final antara beliau dengan kaum Najran, dan beliau diperintahkan untuk saling melaknat apabila mereka menolak ajakan beliau, maka beliau menantang mereka untuk melakukan adu laknat. Orang-orang Kristen berkata kepada beliau: "Wahai Abu al-Qasim, berilah kami waktu jeda untuk memikirkan perkara kami ini. Baru kemudian kami akan datang kepadamu dengan jawaban atas tantanganmu itu." Setelah itu mereka pergi dari hadapan beliau dan menemui al-'Aqib, tokoh paling berpengaruh bagi mereka. Mereka berkata kepada al-'Aqib: "Wahai 'Abdul Masih, bagaimana pandanganmu?" Al-'Aqib menjawab: "Wahai orang-orang Kristen, kalian telah mengetahui bahwa Muhammad adalah Nabi yang diutus, dan kini ia telah datang kepada kalian dengan membawa jawaban pasti tentang kenabian. Kalian pun telah mengetahui bahwa jika suatu kaum melakukan saling laknat dengan seorang Nabi, maka seluruh orang dewasa dari kaum tersebut akan mati, dan anak-anaknya tidak akan bisa lahir. Sesungguhnya saling laknat itu hanya akan memusnahkan kalian, apabila kalian melakukannya. Apabila kalian ingin bertahan dengan tetap memeluk agama kalian dan mempertahankan pendapat kalian tentang kenabian, berdamailah dengan orang itu. Sesudah itu, kembalilah kalian ke negeri kalian!"1
Maka mereka pun pergi menemui beliau dan berkata: "Wahai Abu al-Qasim, kami memutuskan untuk tidak mengadakan saling laknat denganmu, membiarkanmu memeluk agamamu dan kami pun tetap dalam agama kami. Namun demikian utuslah kepada kami salah seorang sahabatmu yang engkau rekomendasikan untuk kami agar ia memutuskan perkara-perkara yang kami berselisih dalam kekayaan kami. Sesungguhnya kalian diridhai di sisi kami."
Muhammad bin Ja'far berkata: beliau bersabda: "Temuilah aku nanti sore, pasti aku akan mengirim orang kuat dan tepercaya bersama kalian." 'Umar bin al-Khaththab berkata: "Aku tidak pernah berobsesi untuk mendapatkan posisi kecuali posisi yang beliau sebutkan saat itu. Aku demikian berharap kiranya akulah orang yang akan diutus. Kemudian aku segera berangkat untuk shalat Zhuhur. Ketika beliau shalat Zhuhur bersama kami, beliau mengucapkan salam, dan beliau menoleh ke kanan dan ke kiri. Aku tampakkan diriku agar bisa terlihat oleh beliau, tetapi beliau terus mencari-cari seseorang, hingga beliau melihat Abu 'Ubaidah bin al-Jarrah. Ketika itulah beliau bersabda: 'Wahai Abu 'Ubaidah, pergilah bersama orang-orang Kristen lalu putuskan secara adil apa saja yang mereka perselisihkan!'" 'Umar bin al-Khaththab berkata: "Maka berangkatlah Abu 'Ubaidah bin al-Jarrah bersama delegasi Kristen Najran tersebut."37
- 'Abdullah bin Ubay dan Abu 'Amir
Dua tokoh Madinah yang menentang
Ketika beliau tiba di Madinah, tokoh paling berpengaruh adalah 'Abdullah bin Ubay bin Salul dari Bani al-Hubla; kaumnya telah menyiapkan mahkota mutiara untuk menjadikannya raja. Setelah kaumnya memilih Islam, ia menaruh dendam, menuduh beliau merampok mahkota kepemimpinannya, dan ikut masuk Islam sambil menyimpan kemunafikan. Di al-Aus ada Abu 'Amir, pendeta yang tetap kafir dan pergi bersama belasan orang ke Makkah; beliau menyebutnya "si Fasiq". Ia akhirnya meninggal di Syam dalam keadaan terusir, terasing, dan sendirian.
Baca selengkapnya
Ketika beliau tiba di Madinah (sebagaimana dituturkan kepadaku oleh 'Ashim bin 'Umar bin Qatadah), tokoh paling berpengaruh di kota Madinah pada saat itu ialah 'Abdullah bin Ubay bin Salul al-Aufi, salah seorang dari Bani al-Hubla. Tidak ada seorang pun dari kaumnya yang dapat menandingi otoritasnya. Sebelum dan sesudahnya, orang-orang al-Aus dan al-Khazraj tidak pernah menjadikan pemimpin lain selain dia sampai akhirnya Islam datang. Selain 'Abdullah bin Ubay bin Salul, di al-Aus terdapat tokoh berpengaruh lainnya yang juga dihormati dan ditaati kaumnya, yang bernama Abu 'Amir bin Shaifi bin an-Nu'man. Abu 'Amir adalah orang tua dari sahabat beliau yang bernama Hanzhalah al-Ghasil, orang yang dimandikan para malaikat pada Perang Uhud. Pada zaman jahiliah, Abu 'Amir mengenakan baju kasar dan biasa dipanggil pendeta. Namun sayang seribu sayang, justru posisi terhormat mereka berdua menjadikan mereka celaka dan membahayakan dirinya.1
Adapun 'Abdullah bin Ubay bin Salul, kaumnya telah mempersiapkan mutiara sebagai mahkota untuk disematkan padanya dan mengangkatnya sebagai raja mereka. Sementara mereka dalam kondisi seperti itu, saat itulah Allah mengutus Rasul-Nya kepada mereka. Maka tatkala kaumnya berpaling darinya dan tidak memilih kecuali Islam, ia pun menaruh dendam permusuhan kepada beliau dan menuduh beliau telah merampok mahkota kepemimpinannya. Ketika ia melihat kaumnya tidak suka kecuali memilih Islam, ia ikut masuk Islam namun tetap dengan menyimpan kemunafikan dan dendam kesumat.
Sementara Abu 'Amir bin Shaifi tetap bersikukuh pada kekafirannya dan berseberangan dengan kaumnya pada saat kaumnya telah memutuskan masuk Islam. Abu 'Amir memilih pergi bersama belasan orang dari kaumnya ke Makkah dengan meninggalkan Islam dan beliau. Beliau (sebagaimana dituturkan kepadaku oleh Muhammad bin Abu Umamah dari sebagian keluarga Hanzhalah bin Abu 'Amir) bersabda: "Janganlah kalian memanggil dia rahib (pendeta), panggillah dia si Fasiq."
Ja'far bin 'Abdullah bin Abu al-Hakam, sebelum berangkat ke Makkah, berkata kepadaku bahwa Abu 'Amir menemui beliau ketika beliau tiba di Madinah. Ia berkata kepada beliau: "Agama apakah yang engkau datang dengannya?" Beliau bersabda: "Aku datang dengan agama yang lurus (hanifiyyah), agama Ibrahim." Abu 'Amir berkata: "Aku juga menganut agama Ibrahim." Beliau bersabda: "Engkau tidak menganut agama Ibrahim." Abu 'Amir menjawab: "Betul, aku menganut agama Ibrahim!" Dia berkata: "Wahai Muhammad, engkau telah memasukkan hal-hal baru ke dalam agama yang lurus yang bukan merupakan bagian darinya." Beliau bersabda: "Aku tidak pernah melakukan itu semua. Aku datang dengan agama Ibrahim dalam keadaan putih suci." Abu 'Amir berkata: "Seorang pendusta akan Allah matikan dalam keadaan terusir, terasing dan dalam kesendirian." Yang dimaksud pendusta olehnya adalah beliau; yakni engkau, Muhammad, tidak membawa agama Ibrahim dalam keadaan putih suci sebagaimana yang kau katakan. Beliau bersabda: "Betul! Barangsiapa berlaku dusta, Allah akan melakukan itu." Demikianlah apa yang dilakukan musuh Allah, Abu 'Amir. Ia pun beranjak pergi ke Makkah. Pada saat beliau berhasil menaklukkan Makkah, Abu 'Amir pergi ke Thaif. Tatkala orang-orang Thaif masuk Islam, ia pergi ke Syam, dan di sanalah ia meninggal dunia dalam keadaan terusir, terasing, dan dalam kesendirian.1
Orang yang pergi keluar Madinah bersama Abu 'Amir ialah 'Alqamah bin 'Ulatsah bin 'Auf bin al-Ahwash bin Ja'far bin Kilab, dan Kinanah bin 'Abdu Yalail bin 'Amr bin 'Umair ats-Tsaqafi. Pada saat Abu 'Amir meninggal dunia, keduanya berebut hartanya dan mengadukan perkara mereka berdua kepada Kaisar Romawi. Kaisar berkata: "Orang kota mewarisi orang kota, dan orang padang pasir mewarisi orang padang pasir." Berdasarkan keputusan Kaisar, Kinanah bin 'Abdu Yalail mewarisi harta Abu 'Amir tanpa 'Alqamah.38
- 'Abdullah bin Ubay di Muzahim
Percakapan dengan beliau dan nasihat Sa'd bin 'Ubadah
Beliau melewati 'Abdullah bin Ubay yang bernaung di benteng kecil Muzahim bersama kaumnya. Beliau turun dari keledainya karena merasa malu melintas, mengucap salam, dan membacakan Al-Qur'an. 'Abdullah bin Ubay berkata agar beliau duduk saja di rumah, dan 'Abdullah bin Rawahah membantahnya. Sesudah itu beliau ke rumah Sa'd bin 'Ubadah, yang meminta beliau bersikap lembut karena kaumnya dahulu telah menyiapkan mahkota baginya.
Baca selengkapnya
'Abdullah bin Ubay bin Salul tetap terhormat pada pandangan kaumnya, hanya saja ia senantiasa ragu-ragu hingga dikalahkan Islam, dan ia memeluk Islam secara terpaksa.1
Suatu saat beliau pergi menunggang keledai. Di atas keledainya ada kain pelana yang di atasnya terdapat selimut asal Fadak yang diikat dengan serat palem, sementara aku berada di belakang beliau. Beliau berjalan melewati 'Abdullah bin Ubay bin Salul yang sedang bernaung di bawah benteng kecil yang bernama Muzahim. 'Abdullah bin Ubay saat itu tengah bersama beberapa orang dari kaumnya. Tatkala beliau melihat 'Abdullah bin Ubay, beliau merasa malu melintasinya dengan mengendarai keledai. Maka beliau turun dari keledainya, mengucapkan salam, dan duduk sejenak. Lalu beliau membacakan Al-Qur'an kepada 'Abdullah bin Ubay sambil mengajaknya kepada agama Allah, mengingatkannya tentang Allah, memberi peringatan keras, memberi kabar gembira dan ancaman padanya. 'Abdullah bin Ubay diam seribu bahasa.39
Tatkala beliau sudah selesai bicara, 'Abdullah bin Ubay berkata: "Wahai Muhammad, sesungguhnya tidak ada orang yang lebih baik perkataannya dari perkataanmu. Apabila yang engkau katakan benar adanya, duduk sajalah di rumahmu. Siapa pun yang datang menemuimu, bicaralah engkau dengannya. Sedang orang yang tidak datang menemuimu, tidak usahlah engkau bersusah payah datang kepadanya untuk mengatakan sesuatu yang orang itu tidak menyukainya." 'Abdullah bin Rawahah yang sedang bersama beberapa orang dari kaum Muslimin berkata: "Betul sekali. Biarkan kami senantiasa berada bersamanya. Biarkanlah kami membawanya ke majelis-majelis, kampung dan rumah-rumah kami. Demi Allah, inilah satu hal sangat kami sukai, sesuatu yang dengannya Allah jadikan kami mulia, dan dia memberi petunjuk bagi kami padanya."
Ketika 'Abdullah bin Ubay memperhatikan kaumnya menentang pendapatnya, ia berkata dalam syair: "Kala tuanmu menjadi musuhmu, kau akan senantiasa hina dan lawanmu akan menjatuhkanmu. Biasakah burung elang harus terbang tanpa sayapnya? Jika pada suatu hari bulunya dicabut, ia akan jatuh."
Bait kedua bukan dari Ibnu Ishaq.5
"Wahai Rasulullah, demi Allah, aku melihat sesuatu terbersit di wajahmu. Apakah engkau baru mendengar satu hal yang tidak engkau sukai?" Beliau bersabda: "Betul sekali." Sa'd bin 'Ubadah berkata: "Wahai Rasulullah, bersikaplah lemah lembut terhadap 'Abdullah bin Ubay bin Salul. Demi Allah, sesungguhnya tatkala engkau datang kepada kami, kami telah mempersiapkan mahkota yang akan kami berikan padanya sebagai kepemimpinan. Ia beranggapan bahwa sesungguhnya engkau telah merampas mahkota kepemimpinannya itu darinya!"4041
- Sahabat yang sakit demam
Wabah demam Madinah, syair Abu Bakar, 'Amir bin Fuhairah dan Bilal
Saat beliau tiba, Madinah adalah bumi Allah yang paling banyak penyakit demam. Banyak sahabat terjangkit, tetapi Allah menjaga beliau. Abu Bakar, 'Amir bin Fuhairah, dan Bilal tinggal satu rumah dan semuanya terkena demam tinggi. 'A'isyah menjenguk dan mendengar syair mereka, lalu menceritakannya kepada beliau. Beliau berdoa agar Madinah dicintai seperti Makkah, diberi keberkahan pada mud dan sha'-nya, dan wabahnya dialihkan ke Mahyaa'h, yaitu al-Juhfah. Pada riwayat 'Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash, sebagian sahabat shalat sambil duduk; beliau bersabda bahwa pahala shalat sambil duduk setengah dari yang berdiri, maka mereka berusaha berdiri walau lemah.
Baca selengkapnya
Hisyam bin 'Urwah dan 'Amr bin 'Abdullah bin 'Urwah berkata kepadaku dari 'Urwah bin az-Zubair dari 'A'isyah: tatkala beliau sampai di Madinah, Madinah saat itu merupakan bumi Allah yang paling potensial dengan penyakit demam. Dampaknya, banyak sahabat beliau yang terjangkiti sakit demam itu. Allah menjaga beliau sehingga beliau tidak terserang wabah demam. Abu Bakar, 'Amir bin Fuhairah, dan Bilal tinggal satu rumah. Mereka semua terjangkit wabah demam. Lalu aku menjenguk mereka. Peristiwa ini terjadi pada saat hijab belum diwajibkan. Mereka bertiga diserang demam tinggi yang hanya Allah sajalah yang tahu.1
Aku mendekat kepada Abu Bakar dan bertanya kepadanya: "Bagaimana kabarmu, ayahanda?" Abu Bakar menjawab dalam syair:
- Abu Bakar"Semua manusia disambut ria oleh keluarganya di pagi hari, sementara maut lebih dekat padanya daripada tali sandalnya."
- 'Amir bin Fuhairah"Telah aku jumpai kematian sebelum mencicipinya. Sesungguhnya kematian datang pada para pengecut dari atasnya. Setiap orang itu berjuang dengan kekuatannya, sebagaimana sapi jantan menjaga kulitnya dengan tanduknya."
- Bilal"Wahai bisakah aku kembali bermalam di Fakh (tempat di luar Makkah), sementara di sekitarku terdapat idzkhir (nama pohon beraroma wangi) dan Jalil (nama tumbuh-tumbuhan)? Mampukah suatu saat aku berada di mata air Majannah? Adakah gunung Syamah dan gunung Thafil terlihat olehku?"
'A'isyah berkata: aku berkata: "Demi Allah, ayah tidak sadar akan apa yang ia katakan." Aku mendekat kepada 'Amir bin Fuhairah dan bertanya kepadanya: "Bagaimana kabarmu, wahai 'Amir?" 'Amir bin Fuhairah menjawab dalam syair. 'A'isyah berkata: aku berkata: "Demi Allah, 'Amir tidak menyadari apa yang dikatakannya." Adapun Bilal, bila demam menderanya, ia berbaring di emperan rumah dengan mengangkat suaranya dan melantunkan syair.
'A'isyah berkata: maka aku ceritakan apa yang aku dengar dari mereka bertiga kepada beliau. Aku berkata kepada beliau: "Mereka bertiga bicara asal-asalan dan tidak sadar dengan apa yang mereka ucapkan akibat serangan demam tinggi." Beliau bersabda: "Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana telah Engkau jadikan kami mencintai Makkah, atau kokohkanlah rasa cinta kami kepada Madinah. Berilah kami keberkahan pada mud dan sha' Madinah (yakni makanannya). Alihkan serangan wabahnya ini ke Mahyaa'h." Mahyaa'h adalah al-Juhfah.
Ibnu Syihab az-Zuhri berkata dari 'Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash yang berkata: pada saat beliau sampai di Madinah, sahabat-sahabatnya didera wabah demam Madinah yang mengakibatkan banyak di antara mereka menderita sakit berat, namun Allah menjauhkan wabah tersebut dari beliau. Akibat deraan penyakit demam ini hingga ada di antara para sahabat mengerjakan shalat dengan cara duduk. Beliau keluar menemui mereka yang kala itu menunaikan shalat dengan cara duduk. Beliau bersabda kepada mereka: "Ketahuilah wahai sahabat-sahabatku bahwa shalat orang yang duduk itu pahalanya adalah setengah shalat orang yang berdiri." Maka para sahabat berupaya untuk berdiri sekuat mungkin walaupun mereka demikian lemah dan sedang sakit dengan harapan mendapatkan pahala.142
Catatan
- Ibnu Ishaq.
- Terjemahan menulis "Finhashh" pada daftar ini dan "Finhash" di tempat lain; kami menyalin nama sebagaimana tercetak.
- Terjemahan menulis "Al-Hushaini bin Salam" pada pertanyaan beliau, sedangkan di tempat lain "al-Hushain"; kami menulis "al-Hushain bin Salam". Tanda kutip pada kalimat penutup 'Abdullah ("...kedatangan Nabi?") tercetak tidak lengkap.
- Terjemahan menulis "'Abdullah bin Abu Bakar bin Muhammad bin 'Amr bin Hazir"; kami menulis "Hazm" mengikuti nama yang sama pada bab sebelumnya.
- Tambahan Ibnu Hisyam.
- Terjemahan menulis "Dhabi'ah", "Dzabi'ah", dan "Dhubai'ah" untuk kabilah yang tampaknya sama, serta "Mu'attib bin Qusyair" dan "Mu'attib bin Qasyir", "Mirba' bin Qaizhi" dan "Mirba' bin Qaidzi"; kami menuliskannya sebagaimana tercetak di setiap tempat.
- Terjemahan menulis "Bani Jusyam bin al-Khazrad" (kami muat apa adanya) dan menyebut "Bani an-Nadhir ketika mereka di kepung".
- Terjemahan menulis "Zaid bin al-Lushait" dan "Zaid bin al-Kushait", serta kalimat tentang untanya yang sebagian katanya rusak cetak ("kenap*", "kecual"); kami membacanya "kenapa" dan "kecuali".
- Terjemahan menulis "Abu Ayyub Khalid bin Zaid bin Kutaib".
- Pada penafsiran ayat, terjemahan menulis "Mereka yakir. sepenuhnya akan apa yang dibawa para rasuj sebelummu" (rusak cetak); kami membacanya "yakin" dan "rasul".
- Terjemahan menulis "Hinthunfi syair" dan menerangkan "Hinthun adalah salah satu jenis gandum"; kami menulis "Hinthah fi sya'iir" mengikuti keterangan itu.
- Ibnu Ishaq. Sanad: mantan budak Zaid bin Tsabit berkata kepadaku dari 'Ikrimah atau dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu 'Abbas.
- Ibnu Ishaq. Sanad: 'Ashim bin 'Umar bin Qatadah berkata kepadaku dari sesepuh kalangan Anshar.
- Terjemahan menulis "Ibnu lshaq" pada awal bagian ini; kami menulis "Ibnu Ishaq".
- Kalimat pembuka surat tercetak "orang yang membenarkan apa telah berfirman kepada kalian" (tanpa kata penghubung dan subjek); kami memuatnya sebagaimana tercetak. Terjemahan menulis "beruapa"; kami menulis "berupa".
- Terjemahan menulis "Yasir bin Akhthab" dan "Abu Yasir bin Akhthab" untuk orang yang tampaknya sama; kami menyalin sebagaimana tercetak. Jumlah akhir yang disebut dalam teks, 734 tahun, sama dengan penjumlahan empat angka yang disebut dalam teks itu (71, 161, 231, dan 271), menurut hitungan kami sendiri.
- Terjemahan menulis "Musapada zaman dahulu" pada kutipan ayat 108 (kata "Musa" dan "pada" tidak berspasi); kami tidak mencetak teks ayat, hanya nomornya.
- Terjemahan menulis "pada bulan Rajab genap tujuh puluh bulan sesudah Rasulullah tiba di Madinah". Kami memuat angka itu sebagaimana tercetak. Pada Perbedaan sumber di bawah dicatat angka yang disebut Haykal.
- Terjemahan menulis "Raff bin Kharijah" dan "pan leluhur kami" dan "mengen. dan lebih bijak" (rusak cetak). Kami membaca "Rafi' bin Kharijah" dan "dari nenek moyang kami... lebih mengerti dan lebih bijak".
- Terjemahan menulis "Al-Uas" pada satu tempat; kami membaca "al-Aus". Pemimpin Aus tercetak "Hudhair bin Simak Al-Asyhali, Abu Usaid bin Hudhair"; kami muat sebagaimana tercetak.
- Pada terjemahan, kata sesudah "di antara" pada ucapan para pendeta tidak tercetak (tertulis "di antara Jika mereka..."); kami menandainya dengan titik-titik.
- Terjemahan menulis "tegesa-gesa", "AI-A'war dan dan Ka'ab bin Asad", dan "merobah"; kami membaca "tergesa-gesa", "al-A'war dan Ka'b bin Asad", dan "mengubah".
- Terjemahan menulis "Ami bin Umayyah Adh-Dhamri"; kami membaca "'Amr bin Umayyah adh-Dhamri".
- Angka kecil di akhir beberapa kalimat pada terjemahan (75, 76, 78) adalah nomor catatan kaki buku terjemahan dan tidak kami muat.
- Terjemahan menulis "kamu tidak d: pandang beragama" (rusak cetak); kami membaca "dipandang".
- Setelah catatan Ibnu Hisyam tentang kata zhahir, terjemahan memuat dua baris syair ("Wahai orang yang memakai nama Nabi, kau menjadi tonggak agama...") tanpa menyebut penyairnya; kami tidak memuatnya.
- Ibnu Ishaq. Sanad: 'Utbah bin Muslim mantan budak Bani Taim berkata kepadaku dari Abu Salamah bin 'Abdurrahman dari Abu Hurairah, yang berkata bahwa ia mendengar beliau bersabda: "Seluruh manusia saling bertanya di antara mereka hingga salah seorang dari mereka.
- Angka 79 di akhir sabda beliau pada terjemahan adalah nomor catatan kaki dan tidak kami muat.
- Terjemahan menulis "Abul Masih" pada kalimat pertama tentang al-'Aqib dan "Abdul Masih" pada bagian lain; kami menulis 'Abdul Masih. Terjemahan menulis "Baitul Mirdas" di sini, sedangkan pada bagian lain tertulis "Baitul Midras"; kami muat sebagaimana tercetak.
- Dua baris syair di akhir bagian ini tercetak tidak jelas ("Kepadamu, dia lari dengan tali pinggang yang melorot / Janin di perutnya menonjol kan melahirkan agamanya berbeda dengan agama Kristen"), sehingga tidak kami muat. Terjemahan menulis "mendapatan" (kami baca "mendapatkan").
- Terjemahan menulis "Al-Harits bin Ka'ab" untuk nama kabilah; kami menulis "Ka'b".
- Pada daftar nama, terjemahan menulis "Mereka membawa enam puluh kendaraan", sedangkan di bagian awal tertulis "enam puluh orang"; kami muat keduanya sebagaimana tercetak. Terjemahan tidak menyebut nama kedua pendeta ("dua pendeta tadi"), dan kami tidak menambahkannya. Terjemahan menulis "Mereki", "perkaataan", dan "pendekta" (kami baca "Mereka", "perkataan", "pendeta") serta "Tabaraka wa Ta'ala" setelah "perintah Allah" yang kami tulis sebagai "Allah".
- Pada terjemahan, kutipan ayat 1-2 tercetak dua kali berturut-turut; kami memuatnya sekali. Terjemahan menulis "Al Quran0" dan "Allar berfirman"; kami menulis "Al-Qur'an" dan "Allah".
- Terjemahan mencantumkan "QS. Ali Imran: 3" setelah kalimat "Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam" dan "QS. Ali Imran: 18-20" di akhir kutipan; kami mencantumkan 18-20 untuk bagian ini.
- Asal Juraij tercetak "Bani Israil Najjar" dan kami muat apa adanya. Terjemahan menulis "KemudianAllah" tanpa spasi; kami menulis "Kemudian Allah".
- Terjemahan menulis "dari tanak berbentuk burung", "telah dataEi kepadamu", dan "dengar penciptaan Isa"; kami membaca "tanah", "datang", dan "dengan". Kutipan ayat 49 tercetak "seorang Rasul darinya yang diutus kepada kalian"; kami muat sebagaimana tercetak.
- Terjemahan menulis "Allah Taaia berfirman"; kami menulis "Allah Ta'ala". Ucapan 'Umar tercetak tanpa tanda kutip; kami menambahkan tanda kutip.
- Nama tengah Abu 'Amir tercetak "Abdu Ann" dan tidak terbaca jelas, sehingga tidak kami muat. Kata sebelum "mengenakan baju kasar" tercetak "pendeka" dan tidak kami muat. Terjemahan menulis "Hanzhalar" dan "dimandikar"; kami membaca "Hanzhalah" dan "dimandikan".
- Ibnu Ishaq. Sanad: Muhammad bin Muslim az-Zuhri berkata kepadaku dari 'Urwah bin az-Zubair dari Usamah bin Zaid bin Haritsah, yang sangat dicintai beliau.
- Ibnu Ishaq. Sanad: az-Zuhri berkata kepadaku dari 'Urwah bin az-Zubair dari Usamah bin Zaid: beliau beranjak dari tempat tersebut lalu pergi ke rumah Sa'd bin 'Ubadah. Ucapan 'Abdullah bin Ubay masih terus membersit di wajah beliau. Sa'd bin 'Ubadah.
- Terjemahan menulis "Usama bin Zaid" pada satu tempat; kami menulis "Usamah bin Zaid".
- Terjemahan menulis "Mampukan suatu saat"; kami membaca "Mampukah". Angka 80 di akhir doa beliau ("Mahyaa'h.80") adalah nomor catatan kaki terjemahan dan tidak kami muat. Ketiga syair kami letakkan pada kartu terpisah.
Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Penanggalan hijrah, Waddan, dan ekspedisi pertama dibahas di bab berikutnya.