Pusat Sejarah Islam
Bab 29 dari 55

Masjid Nabawi, Piagam Madinah & adzan

Di Quba' Nabi membangun masjid, lalu shalat Jum'at pertama di Bani Salim. Unta beliau berhenti di tempat yang kemudian menjadi Masjid Nabawi. Lahirlah Piagam Madinah dan persaudaraan Muhajirin–Anshar.

Rabi'ul Awwal, tahun 1Sumber: Ibnu Hisyam
Sekilas

Isi bab ini

Bab ini menceritakan empat hari beliau di Quba' dan pembangunan Masjid Quba', shalat Jum'at pertama di lembah Ranuna', unta yang menderum dan tanah milik dua anak yatim, pembangunan Masjid Nabawi dan rumah beliau, tinggal di rumah Abu Ayyub, dua khutbah, Piagam Madinah, persaudaraan Muhajirin dan Anshar, wafatnya As'ad bin Zurarah, adzan, dan Abu Qais bin Abi Anas.

Masjid Quba' dan Jum'at pertama

Empat hari di Quba', lalu shalat Jum'at pertama di Bani Salim bin 'Auf, di lembah Ranuna'.

Masjid dan rumah beliau

Unta menderum di tempat pengeringan kurma milik dua anak yatim; Muhajirin dan Anshar membangun masjid bersama beliau.

Piagam Madinah

Perjanjian antara Muhajirin dan Anshar, dan kesepakatan dengan orang-orang Yahudi yang mengakui agama dan harta mereka.

Persaudaraan dan adzan

Muhajirin dan Anshar dipersaudarakan dua demi dua; adzan dimulai dari mimpi 'Abdullah bin Zaid dan Bilal menyerukannya.

Peta

Quba' dan Masjid Nabawi

Pilih salah satu langkah di daftar yang menyertai peta. Garis putus-putus adalah perkiraan, karena buku menyebut asal dan tujuan tetapi tidak menyebut jalurnya, dan batas negara masa kini hanya patokan.

Quba' dan Masjid Nabawi
Tempat yang disebut Ibnu HisyamPerjalanan (garis perkiraan)
    Alur kisah

    Dari Masjid Quba' sampai adzan

    Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.

    Perbedaan sumber

    Tempat masjid. Ibnu Hisyam menyebut Mu'adz bin 'Afra' akan memohon kerelaan kedua anak yatim agar tempat itu menjadi masjid. Haykal menyebut Mu'adz meminta beliau membangun masjid di sana dan menjanjikan akan memuaskan kedua anak yatim, lalu menyebut bahwa beliau membeli tanah itu. Khan tidak merinci tempatnya.

    Quba' dan Jum'at. Ibnu Hisyam menyebut empat hari di Quba', pembangunan masjid, dan Jum'at pertama di lembah Ranuna'. Haykal menyebut empat hari di Quba', pendirian masjid, dan shalat beliau di masjid lembah Ranuna' pada hari Jum'at. Khan menyebut masjid Quba' sebagai masjid pertama dalam Islam.

    Persaudaraan. Haykal menyebut pasangan beliau dengan 'Ali, Hamzah dengan Zaid, Abu Bakar dengan Kharijah bin Zaid, dan 'Umar dengan 'Itban bin Malik, serta 'Abdurrahman bin 'Auf dengan Sa'd bin ar-Rabi', sama dengan Ibnu Hisyam. Daftar lengkap pasangan lainnya hanya ada pada Ibnu Hisyam di antara ketiga sumber.

    Perjanjian dengan orang Yahudi. Haykal memuat teks perjanjian Madinah dalam terjemahan Inggris dan menyebut bahwa ia ditetapkan beliau; kami tidak membandingkannya kalimat demi kalimat dengan teks Ibnu Hisyam. Khan menyebut bahwa pada tahun pertama beliau memberi hak kewarganegaraan yang sama kepada orang-orang Yahudi.

    Adzan. Ibnu Hisyam menyebut beliau ingin memakai terompet, lalu memerintahkan lonceng, kemudian mimpi 'Abdullah bin Zaid dan mimpi 'Umar. Haykal menyebut terompet orang Yahudi dan lonceng orang Kristen sama-sama tidak disukai, lalu adzan lewat musyawarah dengan 'Umar dan sebagian kaum Muslimin menurut satu riwayat, atau lewat perintah Allah menurut riwayat lain; Haykal tidak menyebut mimpi pada bagian itu.

    1. Masjid Quba'

      Empat hari di Quba' dan Jum'at pertama

      Di Quba', Rasulullah ﷺ menumpang di Bani 'Amr bin 'Auf pada hari Senin, Selasa, Rabu, dan Kamis, dan pada saat itulah beliau membangun masjid di Quba'. Pada hari Jum'at beliau berada di Bani Salim bin 'Auf dan mendirikan shalat Jum'at di sebuah masjid di tengah lembah Ranuna'. Itulah shalat Jum'at pertama beliau di Madinah.

      Baca selengkapnya

      Di Quba' Rasulullah ﷺ menumpang tinggal di Bani 'Amr bin 'Auf pada hari Senin, hari Selasa, hari Rabu, dan hari Kamis. Pada saat itu pulalah beliau membangun masjid di Quba'.1

      Kemudian Allah mengumpulkan Rasulullah ﷺ bersama kaum Anshar di Quba' pada hari Jum'at. Orang-orang Bani 'Amr bin 'Auf menganggap bahwa beliau menetap di tempat mereka lumayan lama. Wallahu a'lam pendapat mana yang lebih benar. Ketika waktu shalat Jum'at tiba, beliau sedang berada di Bani Salim bin 'Auf, lalu beliau mendirikan shalat Jum'at di sebuah masjid yang ada di tengah lembah Ranuna'. Inilah shalat Jum'at yang pertama kali dikerjakan Rasulullah ﷺ di Madinah.2

    2. Unta menderum

      Para kabilah memohon beliau tinggal bersama mereka

      Ketika beliau menunggang untanya, beberapa kabilah Anshar satu per satu memohon agar beliau tinggal bersama mereka, dan beliau menolak dengan halus. Unta beliau akhirnya menderum di pintu masjid beliau yang kala itu masih tempat pengeringan kurma milik dua anak yatim Bani an-Najjar, Sahl dan Suhail, anak 'Amr, di bawah asuhan Mu'adz bin 'Afra'. Beliau turun dan Abu Ayyub Khalid bin Zaid menaruh bekal beliau di rumahnya.

      Baca selengkapnya

      Ketika Rasulullah ﷺ menunggangi untanya, beliau didatangi 'Itban bin Malik dan 'Abbas bin 'Ubadah bin Nadhlah bersama orang-orang Salim bin 'Auf, memohon agar beliau tinggal bersama mereka. Namun beliau menolak dengan halus. Lalu beliau didatangi Ziyad bin Labid dan Farwah bin 'Amr bersama orang-orang Bani Bayadhah, memohon agar beliau tinggal bersama mereka. Beliau menolak mereka dengan halus. Kemudian beliau didatangi Sa'd bin 'Ubadah dan al-Mundzir bin 'Amr bersama orang-orang Bani Sa'idah, yang juga memohon agar beliau tinggal bersama mereka. Beliau menolak mereka dengan halus. Kemudian beliau didatangi Sa'd bin ar-Rabi', Kharijah bin Zaid, dan 'Abdullah bin Rawahah bersama orang-orang Bani al-Harits bin al-Khazraj. Mereka meminta beliau tinggal bersama mereka, namun beliau menolak dengan halus. Kemudian beliau didatangi Salith bin Qais dan Abu Salith Asirah bin Abu Kharijah bersama orang-orang dari Bani 'Adi bin an-Najjar. Mereka menawarkan agar beliau tinggal bersama mereka yang notabene paman-paman beliau. Namun beliau menolak, dan terus menggiring untanya berjalan ke depan.1

      Sampai ketika unta beliau melewati perkampungan Bani Malik bin an-Najjar, ia menderum di pintu masjid beliau yang kala itu masih berupa tempat pengeringan kurma milik dua anak yatim Bani an-Najjar yang bernama Sahl dan Suhail. Keduanya anak 'Amr dan berada dalam asuhan Mu'adz bin 'Afra'. Unta itu berhenti sejenak di tempat itu, kemudian berjalan lagi ke depan, tidak jauh dari tempat itu. Beliau meletakkan kekang unta itu dan tidak membelokkannya. Kemudian unta itu menoleh ke belakang dan pergi ke tempat menderumnya semula, menderum di sana, diam tenang tak bergerak. Saat itulah beliau turun darinya. Setelah itu Abu Ayyub Khalid bin Zaid menurunkan bekal perjalanan beliau dan menaruhnya di rumahnya. Beliau tinggal di rumah Abu Ayyub Khalid bin Zaid.

      Beliau bertanya tentang tempat pengeringan kurma itu milik siapa. Mu'adz bin 'Afra' menjawab bahwa itu milik Sahl dan Suhail anak 'Amr. Keduanya anak yatim dan masih keluarga Mu'adz. Mu'adz akan memohon kerelaan keduanya agar meninggalkan tempat itu, kemudian mengubahnya menjadi masjid.3

    3. Membangun masjid

      Muhajirin dan Anshar bekerja bersama

      Rasulullah ﷺ mengajak penduduk Madinah membangun masjid di tempat itu, dan beliau sendiri bekerja bersama kaum Muslimin. Selama itu beliau tinggal di rumah Abu Ayyub sampai masjid dan rumah beliau selesai. Mereka bekerja sambil bersenandung. 'Ammar bin Yasir dibebani batu bata yang berat; beliau menyeka debu di kepalanya dan bersabda bahwa yang membunuhnya kelak adalah kelompok pemberontak.

      Halaman Masjid Nabawi dengan payung-payung besar
      Halaman Masjid Nabawi di Madinah, kondisi sekarang (foto 31 Juli 2024; deskripsi berkas: "Courtyard of the Prophet's Mosque, Medina"). Bangunannya sangat berbeda dari masjid yang dibangun pada masa itu.Foto: Radosław Botev · CC BY 3.0 PL · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Rasulullah ﷺ kemudian mengajak penduduk Madinah membangun masjid di tempat itu. Beliau sendiri saat itu masih menumpang tinggal di rumah Abu Ayyub hingga pembangunan masjid dan rumah beliau selesai. Beliau bersama kaum Muslimin bahu-membahu dalam pembangunan masjid dan rumah beliau. Kaum Muslimin Muhajirin dan Anshar tanpa kenal lelah terus bekerja dengan bersungguh-sungguh. Salah seorang dari kaum Muslimin berkata dalam senandung syair:1

      "Jika kita santai-santai, padahal Rasulullah bekerja keras, maka ini adalah perbuatan tercela."

      Kaum Muslimin terus bekerja sambil mendendangkan syair: "Kehidupan itu hanya satu, yaitu akhirat. Ya Allah, sayangilah kaum Anshar dan kaum Muhajirin."

      Sebenarnya ini ungkapan biasa dan bukan syair.4

      Rasulullah ﷺ berujar: "Kehidupan sebenarnya itu hanya satu, yaitu akhirat. Ya Allah, sayangilah Muhajirin dan Anshar."1

      Di tengah kesibukan mereka membangun masjid, 'Ammar bin Yasir dibebani batu bata yang sangat memberatkannya. 'Ammar mengadu, "Wahai Rasulullah, mereka sepertinya ingin membunuhku." Ummu Salamah, istri beliau, bercerita: "Aku lihat Rasulullah ﷺ mengusap debu yang menempel di kepala 'Ammar bin Yasir dengan tangannya." Beliau bersabda, "Berhati-hatilah, sebab yang membunuhmu itu bukan mereka, tapi yang membunuhmu adalah kelompok pemberontak."1

      Saat itu 'Ali bin Abu Thalib menyenandungkan syair: "Tidaklah sama orang yang membangun masjid dengan sungguh-sungguh sambil duduk dan berdiri, dengan orang-orang yang terlihat menghindari debunya."

      Aku bertanya kepada banyak ahli sastra tentang syair di atas, mereka menjawab: "Kami diberitahu bahwa memang 'Ali bin Abu Thalib yang mengucapkan syair di atas, namun tidak diketahui jelas apakah dia langsung yang menggubahnya ataukah orang lain."4

      'Ammar bin Yasir melantunkan bait syair di atas dan mendendangkannya.1

      Ketika 'Ammar sedang asyik mendendangkan syair itu, salah seorang sahabat beliau menyangka bahwa 'Ammar ingin menyindirnya, seperti diceritakan kepadaku oleh Ziyad bin 'Abdullah al-Bakka'i dari Ibnu Ishaq.4

      Sahabat tersebut berkata, "Hai Anak Sumayyah, aku telah mendengar apa yang engkau katakan hari ini. Jika tetap kau lakukan, maka demi Allah, aku akan sodokkan tongkat ini ke hidungmu." Ketika itu sahabat tersebut sedang memegang tongkat. Rasulullah ﷺ marah mendengar ucapannya itu. Beliau bersabda, "Ada ribut-ribut apa ini? Apa mereka tidak sadar kalau 'Ammar mengajak mereka ke surga, sedang mereka mengajaknya ke neraka. Sesungguhnya 'Ammar lebih dekat padaku daripada mata dan hidungku. Jika ucapan di atas diucapkan orang tersebut, maka jauhilah dia!"1

      Sufyan bin 'Uyainah berkata dari Zakaria dari asy-Sya'bi, yang berkata: orang yang pertama kali membangun masjid Rasulullah adalah 'Ammar bin Yasir.45

    4. Rumah Abu Ayyub

      Beliau tinggal di lantai bawah

      Abu Ayyub dan istrinya, Ummu Ayyub, tinggal di lantai atas, dan beliau memilih tetap di lantai bawah. Ketika makanan malam dimasak dengan bawang, beliau mengembalikannya dan bersabda bahwa beliau tidak makan bawang. Beliau tinggal di rumah Abu Ayyub dari Rabi'ul Awwal sampai Shafar berikutnya, sampai masjid dan rumahnya selesai. Hampir semua perkampungan Anshar sudah masuk Islam, kecuali Khathmah, Waqif, Wail, dan Umayyah.

      Baca selengkapnya

      Ketika Rasulullah ﷺ menumpang hidup di rumahku, beliau tidur di lantai bawah, sedangkan aku dan istriku, Ummu Ayyub, tinggal di lantai atas. Aku berkata kepada beliau, "Wahai Nabi Allah, sesungguhnya aku sungkan berada di atasmu sementara engkau berada di bawahku. Silakan engkau berada di lantai atas dan kami saja yang berdiri di lantai bawah." Beliau berkata, "Hai Abu Ayyub, tidak mengapa, biarlah kami tetap berada di lantai bawah." Beliau tetap tinggal di lantai bawah, sementara kami tinggal di lantai atas.6

      Abu Ayyub berkata: "Kami memasak makanan malam untuk beliau, kemudian menghidangkannya kepada beliau dan beliau pun memakannya. Namun pada suatu malam, ketika kami memasak makanan tersebut dengan bawang merah atau bawang putih, beliau mengembalikannya kepada kami. Aku segera datang kepada beliau dengan perasaan cemas. Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, ada apa? Apa makanannya tidak enak?' Beliau bersabda, 'Sesungguhnya aku tidak makan bawang. Jika kalian mau, silakan makan makanan tersebut!' Maka kami pun memakannya, dan sejak saat itu kami tidak memasak dengan bawang merah atau putih."

      Beberapa kaum Muhajirin berhasil hijrah ke Madinah, namun sebagian mereka ada juga yang tidak hijrah karena mendapat siksa atau ditahan oleh orang-orang Quraisy. Kaum Muhajirin yang hijrah dari Makkah saat itu tidak bisa membawa keluarga dan harta mereka kepada Allah dan Rasul-Nya, kecuali Bani Madz'un dari Bani Jumah, Bani Jahsy bin Ri'ab sekutu Bani Umayyah, dan Bani al-Bukair dari Bani Sa'd bin Laits sekutu Bani 'Adi bin Ka'b.1

      Rasulullah ﷺ tinggal di rumah Abu Ayyub sejak beliau tiba di sana pada bulan Rabi'ul Awwal hingga bulan Shafar berikutnya, sampai masjid dan rumahnya selesai dibangun, serta perkampungan kaum Anshar telah masuk Islam. Hampir semua perkampungan kaum Anshar telah masuk Islam, kecuali perkampungan Khathmah, Waqif, Wail, dan Umayyah. Perkampungan-perkampungan tersebut adalah Ausullah. Semua perkampungan tersebut masih berada dalam kemusyrikan.17

    5. Khutbah pertama

      Dua khutbah beliau di Madinah

      Khutbah pertama berisi peringatan bahwa setiap orang akan mati dan ditanya Tuhannya tanpa penerjemah, lalu seruan agar berlindung dari neraka dengan bersedekah walau separuh biji kurma atau ucapan yang baik. Di lain waktu beliau berkhutbah memuji Allah, memerintahkan mencintai Kitab-Nya dan beribadah kepada-Nya tanpa menyekutukan-Nya, dan saling mencintai karena Allah.

      Baca selengkapnya

      Abu Salamah bin 'Abdurrahman berkata kepadaku: "Kita berlindung kepada Allah dari mengatakan sesuatu atas Rasulullah ﷺ apa yang tidak beliau sabdakan." Rasulullah ﷺ berdiri di depan kaum Muslimin kemudian memuji Allah. Setelah itu beliau berkhutbah:1

      "Amma ba'du. Wahai sekalian manusia, semua kita pasti akan mati. Ia akan tinggalkan kambing-kambingnya tanpa penggembala. Tuhannya lalu bertanya kepadanya dan saat itu tidak ada penerjemah di antara keduanya: 'Bukankah telah datang kepadamu Rasul-Ku, lalu dia menyampaikan wahyu-Ku kepada kalian? Bukankah Aku telah menganugerahi kekayaan dan melebihkanmu, lalu apa yang engkau persembahkan?' Ia menengok ke kanan dan ke kiri, tapi ia tidak melihat apa-apa. Justru di depannya yang ia lihat adalah neraka Jahannam. Barang siapa mampu melindungi dirinya dari neraka hendaklah ia lakukan, walaupun hanya dengan bersedekah separuh biji kurma. Barang siapa tidak mendapatkannya, hendaklah ia mengucapkan yang baik, karena satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat lebih banyak. Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh."

      Di lain waktu, Rasulullah ﷺ berkhutbah lagi kepada kaum Muslimin. Beliau berujar:1

      "Sesungguhnya segala pujian hanya milik Allah. Aku memuji-Nya dan meminta pertolongan-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari segenap keburukan diri kita dan kesalahan amal perbuatan kita. Barang siapa yang dibimbing oleh Allah, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Barang siapa disesatkan Allah, maka tidak ada yang bisa membimbingnya kepada hidayah. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang pantas disembah dengan benar kecuali Allah yang tiada sekutu bagi-Nya. Sesungguhnya tutur kata yang paling baik adalah Kitab Allah. Sungguh beruntung orang yang Allah hiasi hatinya dengan Kitab-Nya, memasukkannya ke dalam Islam setelah sebelumnya kafir dan menomorsatukan Al-Qur'an daripada perkataan-perkataan manusia. Karena Al-Qur'an adalah tutur kata yang paling baik dan paling sempurna. Cintailah apa saja yang dicintai Allah dan cintailah Allah dengan segenap jiwa kalian. Janganlah kalian jenuh dari firman Allah dan ingatlah kepadanya. Janganlah hati kalian keras untuk menerima Al-Qur'an, karena sungguh, Allah telah memilih amal perbuatan yang paling baik, dan hamba-hamba-Nya yang terpilih, perkataan yang baik dan dari apa yang diberikan kepada manusia; yang halal dan yang haram. Maka sembahlah Allah, janganlah engkau menyekutukan-Nya dengan apa pun, bertakwalah kepada-Nya dengan takwa yang sebenarnya, bersikap jujurlah kepada Allah dan perbaiki apa yang kalian ucapkan dengan mulut kalian dan hendaklah kalian saling mencintai dengan ruh Allah di antara kalian, karena Allah sangat benci jika perjanjian-Nya dilanggar. Wassalamu 'alaikum."8

    6. Piagam Madinah

      Perjanjian Muhajirin dan Anshar, dan kesepakatan dengan orang Yahudi

      Rasulullah ﷺ mengadakan perjanjian antara kaum Muhajirin dan Anshar, dan juga dengan orang-orang Yahudi, mengakui agama dan harta mereka. Dokumen itu menyebut orang beriman dari Quraisy dan Yatsrib sebagai satu umat, mengatur diyat dan tebusan tawanan tiap kabilah, perlindungan Allah yang satu, hak dan kewajiban orang Yahudi tiap Bani, kewajiban membela Yatsrib dari serangan, dan bahwa perselisihan dikembalikan kepada Allah dan Muhammad ﷺ.

      Baca selengkapnya

      Rasulullah ﷺ mengadakan perjanjian antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar untuk tidak memerangi orang-orang Yahudi, dan mengadakan pula perjanjian dengan mereka, mengakui agama dan harta mereka dan membuat kesepakatan dengan mereka. Teks perjanjiannya adalah sebagai berikut:1

      Bismillahirrahmanirrahim. Ini adalah dokumen dari Muhammad ﷺ yang mengatur hubungan kaum Mukminin dan kaum Muslimin dari Quraisy dan Yatsrib, orang-orang yang bergabung dengan mereka dan berjuang bersama mereka. Sesungguhnya mereka adalah umat yang satu dan tidak sama dengan golongan manusia lainnya.

      Kaum Muhajirin dari Quraisy tetap dengan tradisi mereka yang dibenarkan Islam, mereka membayar diyat (ganti rugi) kepada sebagian yang lain, menebus tawanan mereka dengan cara yang baik dan adil di antara orang-orang yang beriman. Bani 'Auf tetap dalam tradisi mereka yang dibenarkan Islam; mereka membayar diyat kepada sebagian yang lain sebagaimana dahulu, dan setiap kelompok menebus tawanannya dengan cara yang baik dan adil di antara orang-orang yang beriman. Bani Sa'idah tetap berada pada tradisi mereka yang dibenarkan Islam, sebagian dari mereka membayar diyat sebagaimana sebelumnya, sebagian dari mereka menebus tawanannya dengan cara yang baik dan adil di antara orang-orang beriman. Bani al-Harits tetap berada pada tradisi mereka yang dibenarkan Islam, sebagian dari mereka membayar diyat, sebagian dari mereka menebus tawanannya dengan cara yang baik dan adil di antara orang-orang beriman. Bani an-Najjar tetap berada pada tradisi mereka yang dibenarkan Islam, sebagian dari mereka setiap kelompok dari mereka menebus tawanan dengan cara yang baik dan adil di antara orang-orang beriman. Bani 'Amr bin 'Auf tetap berada pada tradisi mereka yang dibenarkan Islam, sebagian dari mereka membayar diyat kepada sebagian yang lain sebagaimana sebelumnya, sebagian dari mereka menebus tawanannya dengan cara yang baik, dan adil di antara. Bani al-Aus tetap berada pada tradisi mereka yang dibenarkan Islam, sebagian dari mereka membayar diyat kepada sebagian yang lain sebagaimana sebelumnya, setiap kelompok dari mereka menebus tawanannya dengan cara yang baik dan adil di antara orang-orang beriman. Dan orang-orang beriman harus memperhatikan mufrah (orang yang banyak hutang dan kesulitan menghidupi keluarganya) dengan memberinya uang untuk penebusan tawanan atau pembayaran diyat dengan cara yang baik.

      Orang beriman tidak boleh mengambil mantan budak orang Mukmin lainnya untuk dipekerjakan tanpa izin tuannya. Sesungguhnya orang-orang yang beriman yang bertakwa itu bersatu dalam menghadapi orang yang berbuat zalim terhadap mereka atau orang yang menghendaki kezaliman besar, menghendaki dosa, permusuhan, atau kerusakan terhadap orang-orang beriman. Semua tangan harus bersatu padu walaupun orang itu adalah anak salah seorang dari mereka. Orang beriman tidak boleh membunuh orang Mukmin karena orang kafir, dan orang Mukmin tidak boleh membantu orang kafir dalam menghadapi orang Mukmin. Sesungguhnya perlindungan Allah itu satu. Orang yang terlemah di antara mereka diberi perlindungan, dan sesungguhnya orang-orang beriman itu harus mendukung satu sama lain. Barang siapa di antara orang Yahudi taat kepada kami, ia berhak mendapatkan pertolongan, kebersamaan, mereka tidak boleh dianiaya dan tidak boleh dikalahkan.

      Sesungguhnya perdamaian orang-orang beriman itu satu. Orang beriman tidak boleh berdamai dengan selain orang beriman dalam perang di jalan Allah kecuali atas dasar persamaan dan keadilan di antara mereka. Semua batalion tempur yang berperang bersama kami itu datang secara bergantian. Sesungguhnya sebagian orang beriman itu dibunuh karena mereka membunuh sebagian orang beriman lainnya. Sesungguhnya orang beriman yang bertakwa berada pada petunjuk terbaik dan lurus. Sesungguhnya orang musyrik tidak boleh melindungi orang Quraisy baik harta atau jiwa mereka, dan tidak boleh bergabung bersama mereka untuk menghadapi orang beriman. Barang siapa membunuh orang Mukmin tanpa kesalahan dan bukti, maka ia akan dibunuh juga karenanya, terkecuali jika keluarga korban memberi maaf. Sesungguhnya orang beriman harus bersatu dalam menghadapinya dan wajib menegakkan hukum terhadap orang tersebut.

      Sesungguhnya orang Islam yang beriman kepada isi perjanjian ini, beriman kepada Allah dan beriman kepada Hari Akhir, haram baginya membela pelaku bid'ah dan melindunginya. Barang siapa membelanya atau melindunginya, ia akan dikutuk oleh Allah dan mendapat murka-Nya pada Hari Kiamat. Tebusan tidak boleh diambil daripadanya. Jika muncul perselisihan di tengah kalian, maka kembalikanlah kepada Allah Yang Mahamulia dan Muhammad ﷺ.

      Sesungguhnya orang-orang Yahudi juga berkewajiban menanggung dana apabila mereka sama-sama diperangi musuh. Sesungguhnya orang-orang Yahudi Bani 'Auf satu umat bersama kaum Mukminin. Bagi orang-orang Yahudi agama mereka dan bagi kaum Mukminin agama mereka. Budak-budak mereka dan jiwa mereka terlindungi, kecuali mereka yang berbuat aniaya dan dosa, sebab ia tidak menganiaya siapa-siapa selain diri dan keluarganya sendiri. Sesungguhnya orang-orang Yahudi Bani an-Najjar memiliki hak yang setara dengan orang-orang Yahudi Bani 'Auf. Begitu juga orang-orang Yahudi Bani al-Harits, mereka mempunyai hak yang setara dengan hak orang-orang Yahudi Bani 'Auf. Sesungguhnya orang-orang Yahudi Bani Sa'idah memiliki hak yang sama dengan hak orang-orang Yahudi Bani 'Auf. Begitu juga orang-orang Yahudi Bani Jusyam, mereka memiliki hak yang setara dengan orang-orang Yahudi Bani 'Auf. Sesungguhnya orang-orang Yahudi Bani al-Aus mempunyai hak yang setara dengan hak orang-orang Yahudi Bani 'Auf. Sesungguhnya orang-orang Yahudi Bani Tsa'labah mempunyai hak yang sama dengan hak orang-orang Yahudi Bani 'Auf, kecuali mereka yang melakukan perbuatan aniaya dan dosa, ia tidak menganiaya siapa-siapa selain diri dan keluarganya sendiri. Sesungguhnya Jafnah, salah satu kabilah dari Tsa'labah, harus diperlakukan sama seperti mereka. Sesungguhnya orang-orang Yahudi Bani asy-Syathibah memiliki hak yang setara dengan hak orang-orang Yahudi Bani 'Auf. Sesungguhnya kebaikan itu selalu mencegah seseorang dari keburukan. Sesungguhnya budak orang-orang Tsa'labah dan sesungguhnya keluarga orang-orang Yahudi sama seperti mereka.

      Tidak boleh seorang pun dari orang-orang Yahudi keluar dari Madinah kecuali atas izin Muhammad ﷺ. Barang siapa membunuh, maka itu sama saja ia membunuh diri dan keluarganya sendiri, kecuali orang yang dianiaya, karena Allah sangat membenci kezaliman. Sesungguhnya orang-orang Yahudi terkena kewajiban infak dan kaum Muslimin juga terkena kewajiban infak yang sama, serta mereka semua berkewajiban membela siapa saja yang memerangi orang-orang yang terikat dengan perjanjian ini. Nasihat dan kebaikan harus senantiasa diaplikasikan di tengah-tengah mereka. Seseorang tidak boleh mengganggu sekutunya, dan wajib bagi orang yang dizalimilah yang harus dibela. Sesungguhnya orang-orang Yahudi berinfak bersama orang-orang beriman apabila mereka diperangi musuh. Sesungguhnya Yatsrib diharamkan bagi orang yang terikat dalam perjanjian ini. Tetangga itu seperti jiwa, tidak boleh diganggu dan disakiti. Sesungguhnya kehormatan itu tidak boleh dilanggar kecuali pemiliknya mengizinkan.

      Jika orang-orang yang terikat dalam perjanjian ini mengalami konflik yang dikhawatirkan menimbulkan kerusakan, maka urusan itu harus dikembalikan kepada Allah dan kepada Muhammad ﷺ. Sesungguhnya Allah sangat mampu menjaga perjanjian ini. Dan orang-orang Quraisy tidak boleh dilindungi, demikian pula dengan para sekutu mereka. Sesungguhnya orang-orang yang terikat dengan perjanjian ini wajib memberikan pertolongan melawan siapa saja yang bermaksud menyerang Yatsrib. Jika mereka diajak berdamai, maka mereka harus berdamai. Jika mereka diajak kepada hal tersebut, mereka mempunyai hak atas kaum Mukminin kecuali terhadap orang-orang yang ingin menghancurkan agama. Setiap manusia mempunyai bagian terhadap mereka sendiri seperti sebelumnya. Sesungguhnya orang-orang Yahudi al-Aus, budak-budak mereka dan jiwa mereka, memiliki hak yang sama dengan orang-orang yang berada dalam perjanjian ini, termasuk berbuat baik kepada orang-orang yang terikat dengan perjanjian ini. Sesungguhnya kebaikan itu tidak pernah sama dengan keburukan.

      Jika seseorang melakukan sesuatu, maka konsekuensinya ... Sesungguhnya Allah membenarkan isi perjanjian ini dan meridhainya. Sesungguhnya dokumen kesepakatan ini tidak memberikan perlindungan pada orang yang zalim dan pendosa. Barang siapa keluar masuk dan menetap di Madinah, ia aman, kecuali orang yang berbuat zalim dan berlaku dosa. Sesungguhnya Allah selalu menjaga orang yang berbuat baik dan bertakwa, serta Muhammad adalah utusan Allah ﷺ.9

    7. Persaudaraan

      Muhajirin dan Anshar dipersaudarakan

      Rasulullah ﷺ mempersaudarakan para sahabat Muhajirin dengan Anshar, dua orang demi dua orang, dengan sabda, "Bersaudaralah kalian karena Allah." Beliau mengangkat tangan 'Ali dan bersabda, "Ini saudaraku." Pasangan lain yang disebut antara lain Hamzah dengan Zaid bin Haritsah, Abu Bakar dengan Kharijah bin Zaid, 'Umar dengan 'Itban bin Malik, 'Abdurrahman bin 'Auf dengan Sa'd bin ar-Rabi', dan Bilal dengan Abu Ruwaihah.

      Baca selengkapnya

      Rasulullah ﷺ mempersatukan sahabat-sahabatnya yang Muhajirin dengan sahabat-sahabatnya yang Anshar dalam ikatan persaudaraan. Beliau bersabda seperti: "Bersaudaralah kalian karena Allah; dua bersaudara, dua bersaudara." Beliau mengangkat tangan 'Ali bin Abu Thalib, kemudian bersabda, "Ini saudaraku." Rasulullah ﷺ adalah pemimpin para rasul, pemimpin orang-orang yang bertakwa, dan utusan Tuhan semesta alam yang tidak ada yang bisa menyamainya di antara hamba-hamba-Nya. Adapun 'Ali bin Abu Thalib adalah saudara beliau.1

      Berikut pasangan yang disebut Ibnu Ishaq:

      • Hamzah bin 'Abdul Muththalib dan Zaid bin HaritsahHamzah adalah singa Allah, singa Rasul-Nya, dan paman beliau. Zaid adalah mantan budak beliau. Hamzah berwasiat kepada Zaid pada Perang Uhud apabila terjadi sesuatu pada dirinya, yakni meninggal dunia.
      • Ja'far bin Abu Thalib dan Mu'adz bin JabalJa'far adalah pemilik dua sayap dan menjadi burung di surga; Mu'adz saudara Bani Salimah. Ibnu Hisyam berkata: Ja'far saat itu sedang berada di Habasyah.
      • Abu Bakar ash-Shiddiq dan Kharijah bin Zaid bin Abu ZuhairKharijah adalah saudara Bani al-Harits bin al-Khazraj.
      • 'Umar bin al-Khaththab dan 'Itban bin Malik'Itban adalah saudara Bani Salim bin 'Auf bin 'Amr bin 'Auf bin al-Khazraj.
      • Abu 'Ubaidah bin 'Abdullah bin al-Jarrah dan Sa'd bin Mu'adz bin Nu'manAbu 'Ubaidah bernama asli 'Amir bin 'Abdullah; Sa'd saudara Bani 'Abdul Asyhal.
      • 'Abdurrahman bin 'Auf dan Sa'd bin ar-Rabi'Sa'd saudara Bani al-Harits bin al-Khazraj.
      • az-Zubair bin 'Awwam dan Salamah bin Salamah bin WaqsySalamah saudara Bani 'Abdul Asyhal. Ada juga yang mengatakan az-Zubair dipersaudarakan dengan 'Abdullah bin Mas'iri, sekutu Bani Zuhrah.
      • 'Utsman bin 'Affan dan Aus bin Tsabit bin al-MundzirAus saudara Bani an-Najjar.
      • Thalhah bin 'Ubaidillah dan Ka'b bin MalikKa'b saudara Bani Salimah.
      • Sa'id bin Zaid bin 'Amir bin Nufail dan Ubay bin Ka'bUbay saudara Bani an-Najjar.
      • Mush'ab bin 'Umair bin Hasyim dan Abu Ayyub Khalid bin ZaidAbu Ayyub saudara Bani an-Najjar.
      • Abu Hudzaifah bin 'Utbah bin Rabi'ah dan 'Abbad bin Bisyr bin Waqsy'Abbad saudara Bani 'Abdul Asyhal.
      • 'Ammar bin Yasir dan Hudzaifah bin al-Yaman'Ammar sekutu Bani Makhzum; Hudzaifah saudara Bani 'Abs, sekutu Bani 'Abdul Asyhal. Ada juga yang mengatakan 'Ammar dipersaudarakan dengan Tsabit bin Qais bin asy-Syammas, saudara al-Harits bin al-Khazraj dan khatib beliau.
      • Abu Dzar (Barir bin Jinadah al-Ghifari) dan al-Mundzir bin 'AmrAl-Mundzir saudara Bani Sa'idah bin Ka'b bin al-Khazraj. Ibnu Hisyam berkata: aku dengar dari sekian banyak ulama bahwa Abu Dzar adalah Jundab bin Junadah.
      • Hathib bin Abu Balta'ah dan 'Uwaim bin Sa'idahHathib sekutu Bani Asad bin 'Abdul 'Uzza; 'Uwaim saudara Bani 'Amr bin 'Auf.
      • Salman al-Farisi dan Abu ad-Darda' 'Uwaimir bin Tsa'labahAbu ad-Darda' saudara Bani al-Harits bin al-Khazraj. Ibnu Hisyam berkata: 'Uwaimir adalah anak 'Amir; ada yang mengatakan anak Zaid.
      • Bilal dan Abu Ruwaihah 'Abdullah bin 'Abdurrahman al-Khats'amiBilal mantan budak Abu Bakar dan muadzin beliau; Abu Ruwaihah salah seorang yang sangat terkenal.

      Demikianlah di antara nama-nama yang dipersaudarakan beliau.1

      Ketika 'Umar bin al-Khaththab membuat departemen-departemen di Syam, Bilal berangkat ke sana dan menetap di sana sebagai seorang mujahid. 'Umar berkata kepada Bilal, "Hai Bilal, engkau dengan siapa ditulis dalam surat persaudaraan itu?" Bilal menjawab, "Dengan Abu Ruwaihah. Aku akan selalu bersama dengannya selama-lamanya, karena persaudaraan yang telah ditetapkan Rasulullah ﷺ antara aku dengan dia." 'Umar pun menggabungkan Bilal kepada Abu Ruwaihah dan menggabungkan departemen orang-orang Habasyah ke dalam departemen orang-orang Khatsam, karena kedudukan Bilal di tengah-tengah mereka.10

    8. Wafat As'ad bin Zurarah

      Abu Umamah wafat, dan Bani an-Najjar memohon pengganti

      Pada bulan itu juga, ketika masjid sedang dibangun, As'ad bin Zurarah (Abu Umamah) wafat karena sakit tenggorokan (dipteria) atau batuk. Orang-orang Yahudi dan munafik Arab mencibir, "Jika ia benar-benar Nabi, sahabatnya pasti tidak akan mati." Bani an-Najjar meminta beliau mencarikan pengganti sebagai naqib, dan beliau bersabda bahwa beliau sendiri naqib mereka.

      Baca selengkapnya

      Di bulan itu juga, Abu Umamah As'ad bin Zurarah berpulang ke pangkuan Ilahi pada saat masjid tengah dibangun. Ia meninggal dunia karena menderita sakit tenggorokan (dipteria) atau batuk.1

      "Jika ia benar-benar seorang Nabi, sahabatnya pasti tidak akan mati." Beliau bersabda lebih lanjut, "Aku tidak memiliki kekuatan dari Allah untuk diriku dan sahabatku (untuk menepis kematian)."11

      'Ashim bin 'Umar bin Qatadah al-Anshari berkata kepadaku bahwa pada saat Abu Umamah As'ad bin Zurarah meninggal dunia, orang-orang dari Bani an-Najjar menghadap beliau. Abu Umamah adalah naqib (pemimpin) mereka. Mereka berkata kepada beliau, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Umamah As'ad bin Zurarah ini memiliki kedudukan di kalangan kami seperti telah engkau ketahui. Oleh karena itu, carilah orang lain yang bisa menggantikan kedudukannya dan mengatur urusan kami sebagaimana Abu Umamah As'ad bin Zurarah mengatur urusan kami." Beliau bersabda kepada mereka, "Kalian adalah paman-pamanku dan aku adalah naqib bagi kalian." Beliau enggan menyerahkan jabatan naqib kepada salah seorang dari mereka. Di antara kelebihan Bani an-Najjar yang mereka banggakan kepada kaumnya, bahwa beliau adalah naqib mereka.112

    9. Adzan

      Mimpi 'Abdullah bin Zaid dan 'Umar

      Setelah Islam mengakar di Madinah, kaum Muslimin berkumpul untuk shalat tanpa seruan. Beliau ingin memakai terompet seperti orang Yahudi, tetapi tidak menyukainya, lalu memerintahkan lonceng. 'Abdullah bin Zaid bermimpi melihat seseorang berpakaian hijau membawa lonceng yang mengajarkan lafal adzan; beliau membenarkan mimpi itu dan memerintahkan agar Bilal yang menyerukannya. 'Umar juga menyatakan bermimpi serupa.

      Baca selengkapnya

      Tatkala beliau merasa betah tinggal di Madinah, saudara-saudara beliau dari kaum Muhajirin berdatangan kepada beliau dan persatuan kaum Anshar telah tercapai, Islam pun mulai mengakar; shalat ditegakkan, zakat dan puasa diwajibkan, hudud (hukum pidana) ditegakkan, hal-hal yang halal dan haram diwajibkan, dan Islam mendapat kedudukan terhormat di tengah-tengah mereka. Perkampungan Anshar selalu menyediakan tempat bagi kaum Muhajirin dan beriman. Pada saat beliau tiba di Madinah, kaum Muslimin berkumpul untuk menegakkan shalat karena waktunya telah tiba tanpa seruan suara. Pada awalnya, beliau ingin menggunakan suara terompet seperti orang-orang Yahudi pada saat mengajak shalat, namun beliau tidak menyukainya. Lalu beliau memerintahkan penggunaan lonceng untuk memanggil kaum Muslimin sebagai pertanda waktu shalat.1

      Pada saat kaum Muslimin berada dalam keadaan seperti di atas, tiba-tiba 'Abdullah bin Zaid bin Tsa'labah bin 'Abdu Rabbihi, saudara Bani al-Harits bin al-Khazraj, bermimpi melihat seruan shalat. Ia menghadap beliau dan berkata, "Wahai Rasulullah, tadi malam aku bermimpi melihat seseorang memakai pakaian hijau berjalan melewatiku dengan membawa lonceng. Aku bertanya kepadanya, 'Hai hamba Allah, bolehkah loncengmu itu kubeli?' Orang tersebut menjawab, 'Apa yang kau inginkan darinya?' Aku menjawab, 'Aku akan gunakan untuk memanggil orang untuk shalat.' Orang tersebut berkata, 'Maukah engkau aku tunjukkan yang lebih baik daripada lonceng ini?' Aku berkata, 'Apa itu?' Orang tersebut berkata, 'Hendaknya engkau berkata: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Asyhadu an laa ilaaha illallah, asyhadu an laa ilaaha illallah. Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, asyhadu anna Muhammadan Rasulullah. Hayya 'alash-shalah, hayya 'alash-shalah. Hayya 'alal-falah, hayya 'alal-falah. Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa ilaaha illallah.'"1

      Usai 'Abdullah bin Zaid mengisahkan mimpinya, beliau bersabda, "Mimpi itu benar, insya Allah. Cepat engkau temui Bilal, kemudian ajarkan lafal tersebut kepada Bilal agar ia menyeru dengan seruan tersebut, karena suara Bilal lebih keras dari suaramu." Tatkala Bilal sedang mengumandangkan adzan tersebut, 'Umar bin al-Khaththab mendengarnya. Ia segera pergi menemui beliau dengan mengenakan selendangnya. Ia berkata, "Wahai Nabi Allah, demi Allah! Aku juga melihat dalam mimpiku seperti yang dilihat 'Abdullah bin Zaid dalam mimpinya." Beliau bersabda, "Segala puji bagi Allah atas semua ini."

      Peristiwa di atas disampaikan kepadaku oleh Muhammad bin Ibrahim bin al-Harits dari Muhammad bin 'Abdullah bin Zaid bin Tsa'labah bin 'Abdu Rabbihi dari ayahnya.1

      "Tidak ada rumah yang paling tinggi di sekitar masjid kecuali rumahku, dan Bilal biasa menyerukan adzan Shubuh di atasnya pada setiap pagi. Jika waktu Shubuh telah tiba, ia berdoa, 'Ya Allah, sesungguhnya aku memuji-Mu dan memohon pertolongan-Mu agar orang-orang Quraisy mengokohkan agama-Mu.' Setelah itu Bilal menyerukan adzan. Demi Allah, aku lihat Bilal selalu mendawamkan doanya tersebut."1314

    10. Abu Qais bin Abi Anas

      Pemikir bersahaja yang masuk Islam

      Ketika Allah memenangkan agama-Nya di Madinah dan membuat beliau bahagia dengan bersatunya Muhajirin dan Anshar, Abu Qais Shirmah bin Abu Anas, saudara Bani 'Adi bin an-Najjar, melantunkan bait-bait syair. Pada masa Jahiliah ia pemikir bersahaja yang tidak menyembah berhala, menyucikan diri dari junub dan haid, dan hanya menyembah Tuhan Ibrahim. Ketika beliau tiba di Madinah, ia masuk Islam dengan baik sekali.

      Baca selengkapnya

      Ketika beliau merasa nyaman tinggal di rumahnya, Allah memenangkan agama-Nya di Madinah dan membuat beliau bahagia dengan bersatunya kaum Muhajirin dan kaum Anshar kepada beliau, maka Abu Qais Shirmah bin Abu Anas, saudara Bani 'Adi bin an-Najjar, melantunkan bait-bait syairnya yang menawan.1

      Abu Qais adalah Shirmah bin Abu Anas bin Shirmah bin Malik bin 'Adi bin 'Amir bin Ghanim bin 'Adi bin an-Najjar.4

      Abu Qais adalah seorang pemikir yang bersahaja pada masa Jahiliah. Ia tidak menyembah berhala, mandi junub, menyuruh wanita yang haid untuk bersuci, dan ia ingin memeluk agama Kristen, namun mengurungkannya. Kemudian ia menjadikan rumahnya sebagai tempat ibadah yang tidak boleh dimasuki orang yang kotor atau orang yang junub. Ia berkata, "Aku hanya menyembah Tuhan Ibrahim saat ia meninggalkan berhala-berhala dan membencinya." Pada saat beliau tiba di Madinah, ia masuk Islam dengan baik sekali. Saat itu usianya telah lanjut. Ia selalu berbicara yang benar, mengagungkan Allah Yang Maha Agung pada masa Jahiliahnya.115

    Catatan

    1. Ibnu Ishaq.
    2. Terjemahan menulis "Dimanakah Akhirnya Rasulullah Tinggal dan Menetap?" sebagai judul di akhir halaman ini, dan kalimat tentang lamanya beliau di Quba' dimuat apa adanya.
    3. Terjemahan menutup bagian ini dengan tanda kutip tanpa pembuka, dan kami tidak menambah tanda pembukanya.
    4. Tambahan Ibnu Hisyam.
    5. Terjemahan tidak menyebut nama sahabat yang bersuara kasar kepada 'Ammar, dan kami tidak menambahkannya.
    6. Ibnu Ishaq. Sanad: Yazid bin Abu Habib berkata kepadaku dari Martsad bin 'Abdullah al-Yazani dari Abu Rahm as-Sama'i, yang berkata bahwa Abu Ayyub.
    7. Terjemahan menulis "Martsid bin 'Abdullah al-Yazini dari Abu Rahm as-Simai" dan "Bani Madz'un ... Bam Jahsy bin Riab ... Bam al-Bukair". Kami menuliskan "Martsad ... al-Yazani ... as-Sama'i" dan "Bani" dengan ejaan yang lazim; penulisan nama lain dalam kalimat tentang kaum Muhajirin yang membawa keluarga dan harta kami muat apa adanya. Terjemahan juga menulis "bulan Shafar pada depannya", yang kami baca "bulan Shafar berikutnya".
    8. Terjemahan menulis "wanyu-Ku" (kami baca "wahyu-Ku"), "menganugrahi", dan "mencintailah"; kami menuliskannya dalam ejaan yang lazim. Kalimat "perkataan yang baik dan dari apa yang diberikan kepada manusia; yang halal dan yang haram" kami muat apa adanya.
    9. Terjemahan menulis "konsekwensinya aaa paaanya"; kata setelah "konsekuensinya" tidak terbaca, sehingga kami meninggalkannya dengan tanda titik tiga dan tidak menebaknya. Terjemahan juga menulis "Bani Jusyam" dan "Jafnah", dimuat apa adanya. Kalimat tentang Bani an-Najjar dan Bani 'Amr bin 'Auf dimuat dengan susunan yang tercetak.
    10. Terjemahan menulis "Abu Ruwaihah ... salah seorang Faza' yang sangat terkenal"; kami memuatnya sebagai "salah seorang yang sangat terkenal" dan tidak menebak maksud kata "Faza'". Terjemahan menulis "Sa'id bin Zaid bin 'Amir bin Nufail" dan "'Abdullah bin Mas'iri", yang kami muat apa adanya.
    11. Ibnu Ishaq. Sanad: 'Abdullah bin Abu Bakr bin Muhammad bin 'Amr bin Hazm berkata kepadaku dari Yahya bin 'Abdullah bin 'Abdurrahman bin As'ad bin Zurarah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Sungguh alangkah tidak beruntungnya mayit Abu Umamah." Orang-orang Yahudi dan orang-orang munafik Arab.
    12. Terjemahan menulis "orang Abu Umamah As'ad bin Zurarah ini" dan menutup sabda beliau tanpa tanda kutip penutup; kami merapikan tanda baca tanpa mengubah isi.
    13. Ibnu Ishaq. Sanad: Muhammad bin Ja'far bin az-Zubair berkata kepadaku dari 'Urwah bin az-Zubair dari seorang wanita Bani an-Najjar.
    14. Terjemahan menulis lafal adzan dengan ejaan "Asyhadu an laa Ilaaha Ilia Allah" dan "Hayya aala ash-shalah"; kami menuliskannya dengan ejaan yang lazim. Kalimat "Perkampungan Anshar selalu yang menyediakan tempat bagi kaum Muhajirin dan beriman" kami muat dengan kata "yang" dihilangkan.
    15. Terjemahan menyebut Abu Qais melantunkan bait-bait syair, tetapi isi syair itu tidak ikut tercetak di bagian ini. Kami tidak menambahkannya. Kalimat "Aku hanya menyembah Tuhan Ibrahim saat ia meninggalkan berhala-berhala dan membencinya" kami muat apa adanya.

    Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Orang-orang Yahudi, munafik, dan peristiwa Madinah sesudahnya dibahas di bab berikutnya.