Pusat Sejarah Islam
Bab 28 dari 55

Hijrah Nabi ke Madinah

Quraisy berencana membunuh Nabi. Malam itu 'Ali tidur di ranjang beliau, sementara Nabi dan Abu Bakar bersembunyi 3 hari di Gua Tsaur, lalu menyusuri jalur pesisir sampai tiba di Quba'.

tiba Senin, 12 Rabi'ul AwwalSumber: Ibnu Hisyam
Sekilas

Isi bab ini

Bab ini menceritakan rapat Quraisy di Daar an-Nadwah, malam ketika 'Ali tidur di ranjang Rasulullah ﷺ, keberangkatan beliau bersama Abu Bakar ke Gua Tsaur, kisah Asma' dan Suraqah bin Malik, jalur perjalanan ke Madinah, hingga kedatangan beliau di Quba'.

Rapat Daar an-Nadwah

Quraisy memutuskan mengerahkan pemuda dari tiap kabilah untuk membunuh beliau, atas usul Abu Jahal.

'Ali di ranjang

'Ali tidur di ranjang Rasulullah ﷺ dengan selimut hijau, sementara beliau keluar menaburkan tanah ke kepala para pengepung.

Gua Tsaur

Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar tinggal tiga hari di gua; 'Abdullah, 'Amir bin Fuhairah, dan Asma' mengurus kabar, susu, dan makanan.

Suraqah bin Malik

Kudanya tersandung, tergelincir, lalu terperosok; ia minta tulisan jaminan dan masuk Islam sesudah Perang Thaif.

Peta

Makkah, Gua Tsaur, dan Quba'

Pilih salah satu langkah di daftar yang menyertai peta. Garis putus-putus adalah perkiraan, karena buku menyebut nama tempat di jalur tetapi kami tidak memetakannya, dan batas negara masa kini hanya patokan.

Makkah, Gua Tsaur, dan Quba'
Tempat yang disebut Ibnu HisyamPerjalanan (garis perkiraan)
    Alur kisah

    Dari rapat Quraisy sampai Quba'

    Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.

    Perbedaan sumber

    Kisah di gua. Ibnu Hisyam hanya menyebut kabar dari 'Abdullah, 'Amir bin Fuhairah, dan Asma', serta tiga hari di gua. Haykal menambahkan kisah sarang laba-laba di mulut gua, sepasang merpati liar di ambang pintu, dan dahan pohon yang menutup pintu, dan ia sendiri mencatat bahwa Ibnu Hisyam tidak memuat kisah itu. Khan menyebut sarang laba-laba di mulut gua yang membuat pencari dari Makkah tidak memeriksa ke dalam.

    Harta Abu Bakar. Ibnu Hisyam, lewat Asma', menyebut sekitar lima atau enam ribu dirham. Haykal menyebut lima ribu dirham.

    Asma' dan tali bekal. Haykal menuturkan Asma' membelah kainnya dua untuk mengikat bekal, sehingga ia dijuluki "pemilik dua selubung". Kisah itu tidak ada dalam teks Ibnu Hisyam yang kami pakai.

    Suraqah. Ibnu Hisyam memuat tuturan Suraqah sendiri: kudanya tersandung, tergelincir, lalu terperosok sampai kakinya masuk tanah. Haykal menuturkan Suraqah menyembunyikan kabar dari teman-temannya dan kudanya jatuh dua kali sebelum jatuh sekali lagi.

    Perjalanan dan 'Ali. Ibnu Hisyam menyebut tanggal tiba di Quba', yaitu Senin 12 Rabi'ul Awwal, dan 'Ali tinggal tiga hari tiga malam di Makkah. Haykal menyebut bulan Juli, perjalanan tujuh hari berturut-turut, empat hari beliau tinggal di Quba', dan 'Ali berjalan malam dan bersembunyi siang selama dua pekan. Khan menyebut jarak sekitar 260 km dan sampai "setelah beberapa pekan".

    1. Menunggu izin

      Rasulullah ﷺ masih menunggu izin hijrah

      Para sahabat sudah hijrah ke Madinah. Rasulullah ﷺ masih di Makkah menunggu izin. Hampir semua Muhajirin telah pergi, kecuali yang ditahan atau disiksa, serta 'Ali bin Abu Thalib dan Abu Bakar. Abu Bakar berkali-kali meminta izin berhijrah, dan beliau selalu bersabda, "Jangan terburu-buru, semoga Allah memberimu teman untuk hijrah."

      Baca selengkapnya

      Meski para sahabat telah hijrah ke Madinah, Rasulullah ﷺ masih menetap di Makkah menunggu diizinkan hijrah. Hampir seluruh kaum Muhajirin telah hijrah ke Madinah, kecuali sahabat yang ditahan atau yang disiksa, serta 'Ali bin Abu Thalib dan Abu Bakar bin Abu Quhafah. Abu Bakar sudah beberapa kali memohon kepada Rasulullah ﷺ agar bisa hijrah ke Madinah, tetapi beliau selalu bersabda kepadanya, "Jangan terburu-buru, semoga Allah memberimu teman untuk hijrah." Abu Bakar merasa tersanjung bila ia bisa menemani Rasulullah ﷺ berhijrah.1

    2. Rapat di Daar an-Nadwah

      Pemuka Quraisy bermusyawarah tentang Rasulullah ﷺ

      Quraisy melihat pengikut beliau makin banyak di negeri lain dan kaum Muhajirin hijrah bergelombang ke Madinah. Mereka berkumpul di Daar an-Nadwah, rumah yang dahulu milik Qushay bin Kilab, pada hari Yawmu az-Zahmah. Iblis menjelma seorang tua dari Najd dan ikut masuk. Usul penjara dan pengusiran ditolak, dan usul Abu Jahal disetujui: para pemuda yang tangguh dikerahkan untuk membunuh beliau.

      Baca selengkapnya

      Ketika orang-orang Quraisy menyadari bahwa pengikut dan sahabat Rasulullah ﷺ semakin banyak di negeri lain selain negeri mereka, dan kaum Muhajirin hijrah ke Madinah secara bergelombang, mereka mulai menyusun strategi baru untuk menghalangi hijrah beliau ke Madinah. Mereka juga menyadari bahwa kaum Muslimin telah bersepakat untuk memerangi mereka. Karena itu mereka segera menyelenggarakan rapat di Daar an-Nadwah untuk membahas Rasulullah ﷺ. Daar an-Nadwah semula rumah milik Qushay bin Kilab. Orang-orang Quraisy selalu bermusyawarah di rumah ini untuk memutuskan setiap perkara, dan di sini pula mereka menggelar rapat tentang beliau ketika mereka mengkhawatirkan beliau.1

      Orang-orang Quraisy menyelenggarakan rapat di Daar an-Nadwah untuk membahas Rasulullah ﷺ pada hari Yawmu az-Zahmah. Pada hari itu mereka dicegat iblis yang menjelma menyerupai seorang tua yang berwibawa dan memakai mantel, yang berdiri di depan pintu Daar an-Nadwah. Ketika melihatnya, orang Quraisy bertanya, "Siapa Anda?" Iblis menjawab, "Aku penduduk Najd. Aku dengar kalian akan mengadakan rapat membahas Muhammad. Aku ingin menyertai rapat kalian agar kalian bisa mendengarkan pendapat dan nasihat dariku." Mereka berkata, "Baik, silakan masuk!" Iblis pun masuk bersama mereka.23

      Menurut Ibnu Ishaq, pemuka Quraisy yang hadir di Daar an-Nadwah adalah:

      • Bani Syams'Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, dan Abu Sufyan bin Harb
      • Bani Naufal bin 'Abdu ManafThu'aimah bin 'Adi, Jubair bin Muth'im, dan al-Harits bin 'Amir bin Naufal
      • Bani 'Abduddar bin Qushayan-Nadhr bin al-Harits bin Kaladah (hanya satu orang)
      • Bani Asad bin 'Abdul 'UzzaAbu al-Bakhtari bin Hisyam, Zam'ah bin al-Aswad bin al-Muththalib, dan Hakim bin Hizam
      • Bani MakhzumAbu Jahal bin Hisyam (hanya satu orang)
      • Bani SahmNubaih bin al-Hajjaj dan Munabbih bin al-Hajjaj
      • Bani JumahUmayyah bin Khalaf, bersama orang-orang yang ikut bersama mereka dan orang-orang lain yang bukan dari Quraisy

      Sebagian dari mereka membuka pembicaraan, "Sesungguhnya orang ini semakin berbahaya saja. Demi Allah, kita tidak merasa aman jika sewaktu-waktu para pengikutnya yang berasal dari selain kita menyerang kita. Apa yang harus kita lakukan pada orang ini?"

      Salah seorang berkata, "Bagaimana kalau dia kita penjara saja, sebagaimana yang menimpa para penyair sebelumnya, seperti Zuhair dan an-Nabighah dan orang-orang yang mati sebelumnya, hingga ia mengalami seperti apa yang mereka alami." Iblis berkata, "Demi Allah, ini bukan pandangan yang paling tepat. Jika kalian memenjarakannya, tetap saja ia bisa berkomunikasi dan memberi perintah kepada para sahabatnya, kemudian mereka menyerang kalian dan membebaskannya. Carilah pandangan yang lain!"

      Salah seorang lagi berkata, "Bagaimana kalau kita usir saja dia dari negeri kita lalu kita asingkan ke negeri lain? Bukankah jika dia telah diusir, kita tidak terlalu resah ke mana dia pergi dan singgah di mana. Dengan begitu kita tidak terganggu olehnya, dan kita bersatu seperti semula." Iblis berkata, "Demi Allah, ini juga bukan pandangan yang paling tepat. Tidakkah kalian perhatikan retorikanya yang indah dan manis, dan daya pikatnya, yang apabila orang Arab di negeri lain mendengarnya, mereka akan mengikutinya, lalu dia bersama mereka berangkat ke tempat kalian, menginjak negeri kalian, dan merampas kepemimpinan dari tangan kalian. Carilah pandangan yang lain!"

      Abu Jahal berkata, "Demi Allah, aku mempunyai ide yang lebih brilian dari kalian." Mereka bertanya, "Apa itu, wahai Abu al-Hakam?" Ia berkata, "Bagaimana kalau kita kerahkan para pemuda yang tangguh dalam bertarung untuk membunuhnya sehingga kita bisa tenang setelah kematiannya. Jika para pemuda itu berhasil, banyak kabilah akan mendukung mereka dan Bani 'Abdu Manaf tidak akan kuasa membalas dendam. Jika mereka meminta uang ganti rugi, kita berikan saja." Iblis berkata, "Inilah pandangan yang paling tepat." Setelah itu orang-orang Quraisy berpencar dan melaksanakan usulan Abu Jahal.4

    3. Malam di Makkah

      'Ali tidur di ranjang Rasulullah ﷺ

      Jibril memberi tahu beliau agar tidak tidur di kasurnya malam itu. Beliau meminta 'Ali tidur di ranjangnya dengan selimut hijau. Para pemuda Quraisy tiba bersama Abu Jahal; beliau keluar menemui mereka sambil menggenggam tanah, Allah membutakan penglihatan mereka, dan beliau menaburkan tanah ke kepala mereka sambil membaca ayat-ayat awal QS Yasin. Mereka mengira 'Ali yang tidur di ranjang itu adalah beliau, sampai pagi.

      Baca selengkapnya

      'Abdullah bin 'Abbas berkata: Malaikat Jibril menemui Rasulullah ﷺ dan berkata, "Malam ini kau tidak boleh tidur di kasurmu." Saat tengah malam tiba, para pemuda Quraisy bergerak menuju rumah beliau untuk menghabisi beliau. Ketika Rasulullah ﷺ mengetahui kedatangan mereka, beliau berkata kepada 'Ali bin Abu Thalib, "Tidurlah di ranjangku dan selimuti seluruh badanmu dengan selimut hijau ini." Biasanya Rasulullah ﷺ memakai selimut itu untuk tidur.1

      Yazid bin Ziyad berkata kepadaku dari Muhammad bin Ka'b al-Qurazhi: para pemuda Quraisy sampai di depan pintu rumah Rasulullah ﷺ, ditemani Abu Jahal. Abu Jahal berkata kepada mereka, "Sesungguhnya Muhammad menduga bahwa jika kalian mengikutinya, kalian akan menjadi pemimpin bagi orang-orang Arab dan non-Arab, dan setelah kalian mati kalian dibangkitkan dan dianugerahi surga laksana taman-taman Yordania. Namun jika tidak mengikutinya, kalian akan dibunuh, lalu setelah mati kalian dibangkitkan lalu diazab di neraka."1

      Rasulullah ﷺ keluar menemui mereka sambil menggenggam tanah, lalu bersabda, "Memang benar, aku pernah mengatakan seperti itu, dan engkau (wahai Abu Jahal) termasuk salah seorang penghuni neraka." Allah membutakan penglihatan mereka hingga tidak bisa melihat beliau. Beliau menaburkan tanah ke atas kepala mereka sambil membaca ayat-ayat berikut:1

      "Yaa Siin. Demi Al-Qur'an yang penuh hikmah, sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul, (yang berada) di atas jalan yang lurus, (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai. Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman. Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat." (QS Yaasiin: 1-9)

      Setelah itu beliau pergi meninggalkan mereka ke tempat yang beliau kehendaki. Tidak lama kemudian, iblis yang menyamar menjadi orang tua dari Najd itu datang menemui mereka dan bertanya, "Apa yang sedang kalian tunggu?" Mereka menjawab, "Kami sedang menunggu Muhammad." Iblis berkata, "Allah telah menggagalkan rencana kalian. Demi Allah, Muhammad telah keluar dari rumahnya saat kalian masih di sini, menaburkan tanah ke atas kepala kalian semua, lalu pergi. Apa kalian tidak sadar dengan apa yang sedang terjadi?"

      Mereka masing-masing meletakkan tangan ke atas kepala dan mendapatkan tanah di sana. Namun mereka tetap tidak percaya. Mereka mengintip lewat celah rumah yang berlubang dan melihat seseorang tertidur di ranjang berselimut. Mereka berkata, "Demi Allah, pasti dia Muhammad sedang tidur mengenakan selimut." Mereka tidak meninggalkan rumah Rasulullah ﷺ hingga pagi. Ketika 'Ali bangun dari ranjang itu, para pemuda Quraisy berkata, "Demi Allah, orang yang tadi malam berkata benar!"

      Di antara ayat yang mengisahkan peristiwa itu dan kesepakatan para pemuda Quraisy adalah: "Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya." (QS al-Anfal: 30). Dan firman Allah Ta'ala: "Bahkan mereka mengatakan: 'Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya.' Katakanlah: 'Tunggulah, maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu.'" (QS ath-Thuur: 30-31).1

      Al-manuun artinya kematian, dan raybal manuun artinya yang disangsikan.5

      Saat itulah Allah Ta'ala mulai mengizinkan Rasulullah ﷺ berhijrah.6

    4. Hari izin hijrah

      Abu Bakar dan Rasulullah ﷺ bersiap berangkat

      Abu Bakar, yang kaya raya, membeli dua unta dan merawatnya di rumahnya. Pada hari izin hijrah turun, Rasulullah ﷺ mendatangi rumahnya di siang hari. 'A'isyah menuturkan bagaimana beliau mengabarkan izin itu dan menjawab bahwa Abu Bakar yang akan menemaninya; Abu Bakar menangis karena gembira. Mereka menyewa 'Abdullah bin Uraiqith, seorang musyrik dari Bani ad-Dail bin Bakr, sebagai penunjuk jalan. Hanya 'Ali, Abu Bakar, dan keluarga Abu Bakar yang mengetahui keberangkatan beliau.

      Baca selengkapnya

      Abu Bakar adalah konglomerat kaya raya. Ketika ia meminta izin kepada Rasulullah ﷺ untuk berhijrah, beliau bersabda, "Janganlah terburu-buru. Semoga Allah memberimu teman." Abu Bakar sangat berharap yang dimaksud adalah dirinya. Ia membeli dua unta dan menyimpannya di rumahnya, memberinya makan dan minum agar kuat berjalan hingga ke Madinah.1

      Seorang yang sangat kredibel berkata kepadaku dari 'Urwah bin az-Zubair dari 'A'isyah Ummul Mukminin: "Pada hari Allah mengizinkan Rasulullah hijrah keluar dari Makkah meninggalkan kaumnya, beliau mendatangi kami siang hari, padahal biasanya beliau datang pada waktu pagi dan sore. Abu Bakar berkata, 'Rasulullah ﷺ tidak biasa datang pada waktu seperti ini, pasti ada sesuatu yang sangat penting.' Saat itu di rumah Abu Bakar tidak ada siapa-siapa kecuali aku dan saudariku, Asma' binti Abu Bakar. Rasulullah ﷺ bersabda, 'Siapa saja yang ada bersamamu saat ini?' Abu Bakar menjawab, 'Wahai Rasulullah, di rumah ini hanya ada dua anakku.' Beliau bersabda, 'Sesungguhnya Allah telah mengizinkanku hijrah dan keluar dari Makkah.' Abu Bakar bertanya, 'Apakah aku yang menyertaimu wahai Rasulullah?' Beliau bersabda, 'Ya!' 'A'isyah berkata, 'Demi Allah! Mendengar itu Abu Bakar langsung menangis karena gembira!' Abu Bakar berkata, 'Wahai Nabi Allah, aku sudah menyiapkan dua unta ini untuk hijrah.'"1

      Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar menyewa 'Abdullah bin Uraiqith, seorang dari Bani ad-Dail bin Bakr yang ibunya berasal dari Bani Sahm bin 'Amr. 'Abdullah bin Uraiqith adalah orang musyrik, sebagai penunjuk jalan bagi keduanya. Abu Bakar menitipkan kedua untanya kepadanya dan akan mengambilnya kembali sampai hari yang telah ditentukan.

      Tidak ada orang yang mengetahui keluarnya Rasulullah ﷺ kecuali 'Ali bin Abu Thalib, Abu Bakar, dan keluarga Abu Bakar. Adapun 'Ali, beliau memerintahkannya mengembalikan titipan manusia yang dititipkan kepada beliau. Sudah jamak bahwa orang-orang musyrik Makkah, bila khawatir hartanya hilang atau dicuri, biasanya menitipkannya kepada Rasulullah ﷺ karena kejujuran dan sifat amanah beliau.1

    5. Gua Tsaur

      Tiga hari di Gua Tsaur

      Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar keluar lewat pintu rahasia rumah Abu Bakar menuju Gua Tsaur di gunung Makkah Bawah dan masuk ke dalamnya. 'Abdullah bin Abu Bakar menyampaikan kabar dari Makkah setiap sore, 'Amir bin Fuhairah menggembala kambing dan membawa susu dan daging, dan Asma' mengantar makanan. Quraisy menjanjikan seratus unta bagi siapa pun yang membawa beliau hidup-hidup. Setelah tiga hari, penunjuk jalan datang membawa unta mereka.

      Gua Tsaur di puncak Jabal Tsaur, dengan tulisan Arab di batu dan kota Makkah di kejauhan
      Gua Tsaur di puncak Jabal Tsaur dekat Makkah, kondisi sekarang (foto 31 Januari 2016; judul berkas "Jabl e Thawr"). Di batu tertulis "Ghar Tsaur" dan di kejauhan tampak kota Makkah.Foto: King Eliot · CC BY-SA 4.0 · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar bin Abu Quhafah keluar dari pintu rahasia rumah Abu Bakar menuju Gua Tsaur di gunung Makkah Bawah dan masuk ke dalamnya. Abu Bakar memerintahkan anaknya, 'Abdullah bin Abu Bakar, untuk melihat perkembangan berita tentang beliau dan Abu Bakar pada siang hari, kemudian melaporkannya kepada keduanya pada senja hari. Abu Bakar juga menyuruh mantan budaknya, 'Amir bin Fuhairah, menggembalakan kambingnya pada siang hari di dekat Gua Tsaur dan pada senja harinya membawa kambing itu kepada keduanya di gua. Ia menugaskan Asma' binti Abu Bakar mengantarkan makanan yang cukup kepada keduanya.1

      Sebagian pakar berkata kepadaku, al-Hasan bin al-Hasan al-Bashri berkata: Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar sampai di gua pada malam hari. Abu Bakar masuk lebih dahulu ke dalam gua, untuk melihat apakah di dalamnya terdapat binatang buas atau ular. Ia ingin melindungi Rasulullah ﷺ dengan dirinya sendiri.5

      Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar berada di gua selama tiga hari. Ketika orang-orang Quraisy menyadari bahwa beliau sudah tidak ada di Makkah, mereka menyelenggarakan sayembara dengan hadiah seratus unta bagi siapa saja yang bisa membawa beliau hidup-hidup kepada mereka. Pada siang hari 'Abdullah bin Abu Bakar berada di tengah-tengah mereka untuk mendengarkan rencana mereka terhadap beliau dan Abu Bakar. Sore harinya ia pergi ke gua dan melaporkan semua informasi yang ia dengar. 'Amir bin Fuhairah tetap menggembala kambing bersama orang-orang Makkah seperti biasa, dan pada sore harinya ia membawa kambing itu kepada keduanya, lalu keduanya memerahnya dan menyembelihnya. Jika 'Abdullah bin Abu Bakar kembali ke Makkah, 'Amir bin Fuhairah berjalan menutupi jejak kakinya dengan kambing hingga jejak itu terhapus.1

      Setelah tiga hari berlalu dan orang-orang Makkah tidak lagi riuh membahas beliau dan Abu Bakar, orang yang disewa oleh keduanya datang membawa unta keduanya serta untanya sendiri. Asma' binti Abu Bakar juga datang membawa makanan untuk bekal perjalanan.

      Abu Bakar mempersilakan Rasulullah ﷺ menaiki unta yang paling baik. Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar menaiki unta masing-masing, dan Abu Bakar berjalan di belakang 'Amir bin Fuhairah, mantan budaknya, agar ia memandu perjalanan keduanya.17

    6. Asma' dan Abu Quhafah

      Asma' menenangkan kakeknya, dan tamparan Abu Jahal

      Setelah Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar berangkat, beberapa orang Quraisy, termasuk Abu Jahal, mendatangi rumah Abu Bakar dan bertanya kepada Asma' ke mana ayahnya. Ia menjawab tidak tahu, lalu Abu Jahal menamparnya sampai antingnya terlepas. Abu Bakar membawa seluruh hartanya, sekitar lima atau enam ribu dirham. Kakeknya, Abu Quhafah yang tuna netra, mengira Abu Bakar tidak meninggalkan apa pun, tetapi Asma' menenangkannya dengan meletakkan batu di karung yang biasa dipakai ayahnya.

      Baca selengkapnya

      Aku diberi tahu dari Asma' binti Abu Bakar, yang berkata: ketika Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar telah berangkat, beberapa orang Quraisy, termasuk Abu Jahal, datang ke rumah kami. Mereka mengetok pintu, lalu aku keluar menemui mereka. Mereka bertanya, "Mana ayahmu?" Aku menjawab, "Aku tidak tahu ke mana ayahku pergi." Abu Jahal menampar pipiku sampai antingku terlepas dari telinga. Setelah itu mereka pergi.1

      Ummu Ma'bad adalah putri Ka'b, wanita dari Bani Ka'b dari Khuza'ah. Bait syair "Dua orang bersahabat yang singgah di tenda Ummu Ma'bad" dan bait syair "Keduanya tiba dengan membawa kebaikan lalu pergi di sore hari" berasal dari selain Ibnu Ishaq.5

      Asma' binti Abu Bakar berkata: "Pada saat kami mendengar untaian syair orang tadi, kami menyadari ke mana Rasulullah ﷺ pergi, dan arah tujuan beliau tidak lain adalah Madinah. Beliau pergi ditemani tiga orang, yaitu Abu Bakar, 'Amir bin Fuhairah mantan budak Abu Bakar, dan 'Abdullah bin Arqath sang penunjuk jalan."1

      Ada yang menyebut 'Abdullah bin Uraiqith.5

      Yahya bin 'Ibad bin 'Abdullah bin az-Zubair bercerita kepadaku bahwa ayahnya, 'Ibad, berkata kepadanya dari neneknya, Asma' binti Abu Bakar: "Dalam hijrahnya bersama Rasulullah ﷺ, Abu Bakar membawa seluruh kekayaannya yang berjumlah sekitar lima atau enam ribu dirham. Suatu hari kakekku, Abu Quhafah, yang sudah tuna netra, mengunjungiku dan berkata, 'Demi Allah, Abu Bakar berniat melaparkan kalian, karena ia tak meninggalkan sepeser pun harta kekayaannya.' Aku berkata, 'Tidak, harta kekayaan ayah masih ada untuk kita.' Kemudian aku mengambil batu dan memasukkannya ke karung, karena ayah biasa menaruh kekayaannya di dalamnya, dan aku menutupinya dengan kain. Setelah itu aku minta kakek meletakkan tangannya pada karung itu. Ia berkata, 'O ... ternyata hartanya masih banyak, sungguh ia telah berbuat baik.' Di sini terdapat pelajaran amat berharga: aku berbuat begitu karena aku ingin menenangkan kakekku."18

    7. Suraqah bin Malik

      Suraqah mengejar, kudanya terperosok

      Quraisy menjanjikan seratus unta bagi yang menangkap beliau. Suraqah bin Malik menaiki kudanya dan menelusuri jejak. Kudanya tersandung, lalu tergelincir, lalu kedua kakinya terperosok ke tanah dan keluar disertai asap seperti angin badai berdebu. Suraqah sadar Muhammad bukan manusia biasa, dan meminta mereka menunggu. Abu Bakar menuliskan sesuatu untuknya. Setelah Fathu Makkah, Perang Hunain, dan Perang Thaif, Suraqah membawa tulisan itu kepada beliau di al-Ji'ranah dan masuk Islam.

      Baca selengkapnya

      Az-Zuhri bercerita kepadaku bahwa 'Abdurrahman bin Malik bin Ju'syum berkata dari ayahnya dari pamannya, Suraqah bin Malik: ketika Rasulullah ﷺ keluar dari Makkah untuk hijrah ke Madinah, orang-orang Quraisy menyelenggarakan sayembara dengan hadiah seratus unta bagi siapa saja yang berhasil menangkap beliau hidup-hidup. "Aku pulang ke rumah dan menaiki kudaku, lalu menelusuri jejak Muhammad. Ketika kudaku berlari cepat membawaku, tiba-tiba ia tersandung dan aku terlempar darinya. Aku berkata, 'Sepertinya aku sedang sial.' Walaupun begitu, aku tetap berambisi mengejar Muhammad dan menelusuri jejaknya. Ketika kudaku berlari kencang, tiba-tiba ia tergelincir dan aku terlempar darinya. Aku berkata, 'Benar-benar sial!' Aku tetap berambisi berat mengejar Muhammad dan menyusuri jejaknya."1

      "Ketika orang-orang itu (Rasulullah dan Abu Bakar) telah tampak olehku, tiba-tiba kudaku terperosok hingga kedua kakinya masuk ke dalam tanah dan aku terbanting darinya. Kudaku mencabut kedua kakinya dari dalam tanah dengan disertai asap laksana angin badai berdebu. Ketika melihat kejadian itu, aku sadar bahwa Muhammad bukan manusia biasa. Aku berseru kepada mereka, 'Aku Suraqah bin Ju'syum. Tunggulah aku, aku ingin katakan sesuatu pada kalian. Demi Allah, aku tidak berniat buruk pada kalian.' Rasulullah ﷺ bersabda kepada Abu Bakar, 'Beri ia tulisan sebagai tanda bahwa kita pernah bertemu dengannya!'"

      "Abu Bakar menulis untukku tulisan di tulang atau di secarik kertas atau di tembikar, lalu melemparkannya kepadaku. Aku segera mengambilnya dan menyimpannya di busur panahku. Setelah itu aku pulang diam-diam dan tidak bercerita sedikit pun tentang peristiwa itu, sampai waktu Rasulullah ﷺ berhasil menaklukkan Makkah, usai Perang Hunain dan Perang Thaif. Aku keluar membawa tulisan yang pernah diberikan kepadaku untuk kuberikan kepada beliau. Aku melihat Rasulullah ﷺ di al-Ji'ranah dan menerobos masuk pasukan berkuda kaum Anshar. Mereka menghalang-halangiku dengan tombak dan berkata, 'Enyah kau dari sini! Siapa kau dan apa maumu?' Aku mendekat kepada Rasulullah ﷺ yang saat itu berada di atas untanya. Demi Allah, aku lihat betis beliau putih seperti putihnya anak pohon kurma. Aku angkat tanganku dengan memegang tulisan itu dan berkata, 'Wahai Rasulullah, apa kau masih ingat tulisan ini? Aku Suraqah bin Ju'syum.' Beliau bersabda, 'Sekarang hari penetapan janji dan kebaikan. Mendekatlah kepadaku!' Aku mendekat kepada beliau dan setelah itu aku masuk Islam. Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, apakah aku mendapatkan pahala apabila aku memberi minum unta-untaku?' Beliau bersabda, 'Ya, bagi setiap makhluk hidup terdapat pahala.' Kemudian aku pulang kepada kaumku dan aku bawa sedekahku kepada Rasulullah ﷺ."

      Dia adalah 'Abdurrahman bin al-Harits bin Malik bin Ju'syam.59

    8. Jalur hijrah

      Jalan yang ditempuh sampai Quba'

      Ibnu Ishaq menyebut jalan yang ditempuh 'Abdullah bin Arqath menyusuri Makkah Bawah, pesisir, 'Usfan Bawah, Amaj Bawah, Qudaid, dan banyak tempat lain, hingga al-'Arj. Di sana, menurut Ibnu Hisyam, Rasulullah ﷺ dinaikkan Aus bin Hajar ke untanya, Ibnu ar-Rada', menuju Madinah. Akhirnya beliau tiba di Quba', di Bani 'Amr bin 'Auf, pada hari Senin 12 Rabi'ul Awwal, ketika dhuha hampir habis dan panas matahari tidak terlalu panas.

      Baca selengkapnya

      Ketika 'Abdullah bin Arqath berangkat, ia berjalan bersama keduanya menelusuri Makkah Bawah, lalu menelusuri pesisir hingga bertemu dengan jalan di 'Usfan Bawah, kemudian melewati Amaj Bawah, melintasi Qudaid, lalu melanjutkan perjalanan melewati al-Kharrar, Tsaniyyatul Marrah, dan Liqf.1

      Ada juga yang menyebut Lift. Kemudian melintasi Madlaj Liqf, memasuki Madlaj Mijaj (atau Majaj), menelusuri Marjih Majaj, memasuki Marjih dari Dzi al-Ghudzwaini (Ibnu Hisyam: ada yang menyebut al-'Udhawaini), lalu memasuki Dzi Kasyra, melewati al-Jadajid, al-Ajrad, Dzi Salam dari dalam Madlaj Ta'hin, dan al-Ababid (Ibnu Hisyam: ada yang mengatakan al-Ababaib), kemudian melintasi al-Itsyaninah dan al-Fajah (ada yang mengatakan al-Qahah, sebagaimana dikatakan Ibnu Hisyam).5

      Kemudian 'Abdullah bin Arqath bersama Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar menuruni al-'Arj. Karena mengalami kelelahan, Rasulullah ﷺ dinaikkan seseorang yang telah masuk Islam bernama Aus bin Hajar ke atas untanya yang bernama Ibnu ar-Rada' menuju Madinah. Aus bin Hajar saat itu ditemani budaknya, Mas'ud bin Hunaidah. Kemudian 'Abdullah bin Arqath keluar dari al-'Arj, lalu melewati Tsaniyyatul 'Air atau Tsaniyyatul Ghair (menurut Ibnu Hisyam), dari sebelah kanan Rakubah, lalu menuruni kabilah Rim menuju Quba', tepatnya di Bani 'Amr bin 'Auf, pada tanggal 12 Rabi'ul Awwal, hari Senin, saat waktu dhuha hampir habis dan ketika panas matahari tidak terlalu panas.510

    9. Tiba di Quba'

      Disambut di Quba' dan rumah Kultsum bin Hidam

      Seorang Yahudi berteriak mengabarkan kedatangan beliau, dan para sahabat keluar menemui beliau yang bernaung di bawah pohon kurma bersama Abu Bakar. Beliau diajak tinggal di rumah Kultsum bin Hidam, saudara Bani 'Amr bin 'Auf (ada yang mengatakan di rumah As'ad bin Zurarah). Abu Bakar singgah di rumah Khubaib bin Isaf di as-Sunh (ada yang mengatakan di rumah Kharijah bin Zaid). 'Ali tinggal di Makkah tiga hari tiga malam mengembalikan titipan, lalu menyusul dan singgah bersama beliau di rumah Kultsum bin Hidam.

      Baca selengkapnya

      Beberapa sahabat Rasulullah ﷺ yang masih tersisa dari kaumku berkata kepadaku, "Ketika kami mendengar teriakan seorang Yahudi bahwa Rasulullah ﷺ telah tiba, kami segera keluar dari rumah untuk menemui beliau yang kala itu bernaung di bawah pohon kurma, ditemani Abu Bakar yang sebaya dengan beliau." Kemudian beliau diajak tinggal di rumah Kultsum bin Hidam, saudara Bani 'Amr bin 'Auf, kemudian salah satu Bani 'Ubaid. Ada juga yang mengatakan di rumah As'ad bin Zurarah.11

      Abu Bakar berhenti di rumah Khubaib bin Isaf, salah seorang dari Bani al-Harits bin al-Khazraj di as-Sunh. Ada yang berpendapat ia singgah di rumah Kharijah bin Zaid bin Abu Zuhair, saudara Bani al-Harits bin al-Khazraj.

      'Ali bin Abu Thalib tetap berada di Makkah selama tiga hari tiga malam. Ketika selesai mengembalikan semua barang titipan orang Quraisy kepada Rasulullah ﷺ, ia menyusul hijrah ke Madinah dan singgah bersama beliau di rumah Kultsum bin Hidam.

    Catatan

    1. Ibnu Ishaq.
    2. Ibnu Ishaq. Sanad: seorang sahabatku yang sangat jujur berkata kepadaku dari 'Abdullah bin Abu Najih dari Mujahid bin Jabr Abu al-Hajjaj, dan dari orang lain yang tidak aku sangkal kejujurannya, dari 'Abdullah bin 'Abbas.
    3. Terjemahan Ibnu Hisyam mencetak kunyah Mujahid sebagai "Abu Al-Hujjaj"; di sini ditulis "Abu al-Hajjaj", sama dengan ejaan "al-Hajjaj" yang dipakai di tempat lain dalam terjemahan yang sama.
    4. Terjemahan menulis "hingga ia mengalami seperti apa yang mereka alarm". Kami membaca "alarm" sebagai "alami", karena kalimatnya membicarakan nasib para penyair sebelumnya.
    5. Tambahan Ibnu Hisyam.
    6. Terjemahan menulis "Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallatn Keluar dan Ali Menggantikan Posisinya" pada judul dan memuat beberapa salah cetak kecil pada ayat (misalnya "day a upaya"); kami menuliskannya dalam ejaan yang lazim.
    7. Terjemahan menulis "Gua Tsur"; kami menulis "Gua Tsaur" mengikuti penulisan di seluruh situs ini. Terjemahan menulis "Abu Bakar berjalan di belakang 'Amir bin Fuhairah ... agar ia memandu perjalanan keduanya"; kami memuatnya apa adanya.
    8. Dalam terjemahan, syair yang didengar Asma' ("untaian syair orang tadi") tidak ikut tercetak di bagian ini, dan hanya disebut dalam catatan Ibnu Hisyam tentang Ummu Ma'bad. Kami tidak menambahkan isi syair itu.
    9. Terjemahan menulis "Ketika orang-orang tersebut (Rasulullah dan Abu Bakar) telah tampak olehku" dan sesudahnya sebagian kalimat saling mendahului; kami memuat urutan kejadian sesuai tulisan terjemahan. Kalimat pembuka tentang "'Abdurrahman bin Malik bin Ju'syum" dan catatan Ibnu Hisyam tentang "'Abdurrahman bin al-Harits bin Malik bin Ju'syam" kami muat apa adanya.
    10. Pada kalimat tentang al-'Arj, terjemahan tidak menjelaskan siapa yang mengalami kelelahan ("karena mengalami kelelahan, kemudian Rasulullah ... dinaikkan seseorang"); kami memuatnya apa adanya dan tidak menafsirkannya. Nama tempat pada daftar jalur kami tulis sebagaimana tercetak, dengan ejaan alternatif yang disebut Ibnu Hisyam.
    11. Ibnu Ishaq. Sanad: Muhammad bin Ja'far bin az-Zubair berkata kepadaku dari 'Urwah bin az-Zubair dari 'Abdurrahman bin 'Uwaim bin Sa'idah.

    Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Pembangunan masjid di Quba' dan peristiwa sesudah beliau memasuki Madinah dibahas di bab berikutnya.