Isi bab ini
Bab ini menceritakan awal diwajibkannya perang dan turunnya izin berperang, perintah hijrah kepada para sahabat, Abu Salamah dan Ummu Salamah, rombongan Bani Jahsy, kisah 'Umar, 'Ayyasy, dan Hisyam bin al-'Ash beserta pembebasan mereka oleh al-Walid bin al-Walid, Shuhaib ar-Rumi, dan rumah-rumah yang menampung kaum Muhajirin di Madinah.
Izin berperang
Setelah lama diperintahkan berdakwah dengan damai dan bersabar, ayat pertama yang mengizinkan beliau berperang adalah QS al-Hajj ayat 39 sampai 41.
Hijrah bergelombang
Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabat hijrah ke Madinah, sementara beliau tetap di Makkah menunggu izin dari Tuhannya.
Ummu Salamah
Terpisah dari suami dan putranya kurang lebih setahun, lalu 'Utsman bin Thalhah menuntun untanya sampai Quba'.
'Ayyasy bin Abu Rabi'ah
Dibujuk pulang dengan alasan sumpah ibunya, diikat dan dibawa ke Makkah, lalu dibebaskan oleh al-Walid bin al-Walid.
Makkah, Madinah, dan Quba'
Pilih salah satu langkah di daftar yang menyertai peta. Garis putus-putus adalah perkiraan, karena buku menyebut asal dan tujuan tetapi tidak menyebut jalurnya, dan batas negara masa kini hanya patokan.
Dari izin berperang sampai rumah-rumah di Madinah
Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.
Perbedaan sumber
Izin berperang dan perintah hijrah. Ibnu Hisyam menyebut izin berperang (QS al-Hajj 39-41) turun lebih dulu, dan ketika Allah mengizinkan beliau berperang, beliau memerintahkan para sahabat hijrah. Haykal menyebut perintah hijrah menyusul baiat 'Aqabah kedua, dan tidak menyebut ayat izin berperang di bagian itu; ia menyebut QS al-Hajj 39 di bagian lain sebagai ayat pertama yang memberi izin berperang. Khan menyebut hijrah diperintahkan pada baiat kedua dan tidak menyebut ayat itu.
Cara berangkat. Ibnu Hisyam menyebut kaum Muslimin hijrah bergelombang. Haykal menyebut mereka berangkat sendiri-sendiri atau dalam kelompok kecil, dan Quraisy memulangkan siapa pun yang tertangkap serta memisahkan suami dan istri yang hendak keluar bersama. Khan menyebut mereka berangkat satu per satu.
Abu Salamah. Ibnu Hisyam menyebut Abu Salamah hijrah setahun sebelum baiat 'Aqabah. Haykal dan Khan menempatkan hijrah kaum Muslimin sesudah baiat kedua, dan keduanya tidak menyebut Abu Salamah.
Kisah-kisah rinci. Kisah Ummu Salamah, 'Umar bersama 'Ayyasy dan Hisyam, al-Walid bin al-Walid, Shuhaib, dan daftar rumah tempat tinggal muhajirin hanya ada pada Ibnu Hisyam di antara ketiga sumber.
Dalam Ibnu Hisyam sendiri. Mush'ab bin 'Umair disebut tinggal di rumah As'ad bin Zurarah pada bab sebelumnya, dan di bab ini disebut tinggal di rumah Sa'd bin Mu'adz. Pada kisah 'Ayyasy, Abu Jahal dan al-Harits tiba di Madinah ketika Rasulullah ﷺ masih di Makkah, sedangkan pada kisah al-Walid, Ibnu Hisyam menyebut beliau sedang berada di Madinah. Kami memuat keduanya apa adanya.
- Izin berperang
Awal diwajibkannya perang kepada Rasulullah ﷺ
Pada awal dakwah, Rasulullah ﷺ tidak diizinkan membalas perlakuan Quraisy; beliau hanya diperintahkan berdakwah dengan damai, bersabar, dan memaafkan. Quraisy menyiksa kaum Muhajirin agar murtad, atau mengusir mereka dari negeri mereka. Allah kemudian mengizinkan beliau berperang, dan ayat pertama yang turun tentang itu adalah QS al-Hajj ayat 39 sampai 41.
Baca selengkapnya
Pada awal dakwahnya kepada Allah, Rasulullah ﷺ tidak diizinkan membalas perlakuan kaum Quraisy, apalagi memerangi mereka. Beliau hanya diperintahkan berdakwah dengan damai, bersabar, dan memaafkan tindakan mereka. Kala itu, setiap kali orang-orang Quraisy menjumpai kaum Muhajirin yang mengikuti beliau, mereka menyiksanya agar memurtadkan mereka dari Islam, dan kalau tidak berhasil, mereka akan mengusir mereka dari negeri mereka. Di antara kaum Muslimin ada yang lari ke Habasyah, ada yang lari ke Madinah, dan ada yang lari ke negeri-negeri lain.1
Dalam krisis seperti itu, Allah mengizinkan Rasul-Nya ﷺ berperang melawan orang-orang yang menzalimi kaum Muslimin dan menindas mereka. Ayat pertama yang turun kepada beliau yang mengizinkan beliau berperang, menghalalkan darah dalam peperangan, dan memerangi orang-orang yang menindas beliau, menurut yang disampaikan kepadaku dari 'Urwah bin az-Zubair dan ulama-ulama lain, ialah firman Allah:
"Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: 'Tuhan kami hanyalah Allah.' Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan mesjid-mesjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan." (QS al-Hajj: 39-41)
Menurut penjelasan dalam buku, maksudnya: Allah mengizinkan perang kepada mereka karena mereka telah dizalimi, dan jika menang, mereka menegakkan shalat, berzakat, menganjurkan perbuatan baik, dan melarang perbuatan mungkar. Yang dimaksud ialah Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.
Sesudah itu Allah Tabaraka wa Ta'ala menurunkan ayat berikutnya: "Dan perangilah mereka, sehingga tidak ada fitnah." (QS al-Baqarah: 193), yakni agar orang mukmin tidak difitnah karena agamanya. Allah juga berfirman, "Dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah." (QS al-Baqarah: 193), maksudnya agar Allah ditauhidkan.
- Perintah hijrah
Para sahabat diperintahkan hijrah ke Madinah
Ketika Allah mengizinkan beliau berperang, Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabat dari kaum Muhajirin dan kaum Muslimin lain di Makkah untuk hijrah ke Madinah dan bergabung dengan saudara-saudara mereka, kaum Anshar. Mereka pun hijrah secara bergelombang, sementara beliau tetap di Makkah menunggu izin dari Tuhannya. Abu Salamah adalah orang pertama dari Bani Makhzum yang hijrah, setahun sebelum baiat 'Aqabah.
Baca selengkapnya
Ketika Allah Ta'ala mengizinkan Rasulullah ﷺ berperang, beliau memerintahkan sahabat-sahabatnya dari kaum Muhajirin yang berasal dari kaumnya, dan kaum Muslimin lain di Makkah, untuk hijrah ke Madinah dan bergabung dengan saudara-saudara mereka, kaum Anshar. Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya kalian akan memiliki saudara-saudara dan negeri yang akan menjadikan kalian merasa aman di dalamnya." Lalu kaum Muslimin Makkah pun hijrah ke Madinah secara bergelombang, sementara Rasulullah ﷺ tetap berada di Makkah, menunggu izin dari Tuhannya untuk berhijrah dari Makkah ke Madinah.2
Orang yang pertama kali hijrah ke Madinah dari Bani Makhzum adalah 'Abdullah bin 'Abdul Asad bin Hilal bin 'Abdullah bin 'Umar bin Makhzum, yang kunyahnya Abu Salamah. Ia hijrah ke Madinah setahun sebelum terjadinya baiat 'Aqabah.2
- Ummu Salamah
Abu Salamah berangkat, Ummu Salamah dan putranya tertahan
Abu Salamah menaikkan istrinya, Ummu Salamah, dan putranya ke untanya, tetapi Bani al-Mughirah mengambil Ummu Salamah dari tangannya dan Bani 'Abdul Asad mengambil sang anak. Abu Salamah tetap berangkat ke Madinah, sementara Ummu Salamah menangis setiap pagi selama kurang lebih setahun. Karena kasihan, sepupunya meminta Bani al-Mughirah melepaskannya; ia berangkat bersama putranya, lalu 'Utsman bin Thalhah menuntun untanya sampai Quba'.
Baca selengkapnya
Ketika Abu Salamah akan berangkat hijrah ke Madinah, ia menaikkanku bersama anakku, Salamah bin Abu Salamah, yang berada di pangkuanku, ke atas punggung untanya. Ia lalu berjalan menuntun kami. Ketika orang-orang Bani al-Mughirah bin 'Abdullah bin 'Umar bin Makhzum melihatnya, mereka menyongsongnya dan bertanya, "Sepanjang menyangkut dirimu sendiri, kami telah membebaskan engkau. Namun bagaimana dengan sahabat (istrimu) ini? Atas dasar apa kami membiarkannya pergi bersamamu dari negeri ini?"3
Ummu Salamah berkata: mereka menarik tali kekang unta dari tangan Abu Salamah dan mengambilku darinya. Melihat itu, Bani 'Abdul Asad, sanak kerabat Abu Salamah, marah besar. Mereka berkata, "Demi Allah, kami tidak akan membiarkan anak kami di sisi ibunya jika mereka telah mengambil ibunya." Mereka memperebutkan anakku, Salamah, hingga akhirnya Bani 'Abdul Asad berhasil mengambilnya dan membawanya ke tempat mereka. Sementara aku ditahan Bani al-Mughirah di kediaman mereka. Suamiku, Abu Salamah, tetap hijrah ke Madinah. Aku, suamiku, dan anakku hidup terpisah.
Setelah itu setiap pagi aku keluar ke lembah sambil menangis. Peristiwa ini berlangsung kurang lebih setahun. Suatu hari salah seorang sepupuku lewat. Melihat keadaanku, ia merasa kasihan sekali dan berkata kepada Bani al-Mughirah, "Apa kalian tidak punya belas kasih terhadap wanita ini? Dengan kondisinya yang seperti ini!" Bani al-Mughirah berkata kepadaku, "Ya sudah, sana, susullah suamimu." Bani 'Abdul Asad lalu menyerahkan kembali anakku kepadaku, dan kami berangkat ke Madinah menyusul suamiku.
Kami hanya berdua, tanpa ditemani seorang pun, sampai tiba di at-Tan'im dan bertemu 'Utsman bin Thalhah bin Abu Thalhah, saudara Bani 'Abduddar. Ia bertanya, "Mau pergi ke mana, wahai putri Abu Umayyah?" Aku menjawab, "Menyusul suamiku di Madinah." Ia bertanya, "Kenapa kalian cuma berdua? Demi Allah, kalian harus ditemani." 'Utsman mengambil tali kekang unta dan menuntun untaku dengan cepat hingga kami tiba di Madinah. Ketika ia melihat desa Bani 'Amr bin 'Auf di Quba', ia berkata, "Suamimu ada di desa ini. Masuklah ke dalamnya dengan berkah Allah!" Usai mengantarkanku, 'Utsman bin Thalhah kembali pulang ke Makkah.
- Menyusul Abu Salamah
Rumah Bani Jahsy yang kosong
Setelah Abu Salamah, menyusullah 'Amir bin Rabi'ah bersama istrinya, Laila binti Abu Hatsmah, lalu 'Abdullah bin Jahsy bersama istri dan saudaranya, Abu Ahmad yang tuna netra. Rumah mereka kosong; 'Utbah bin Rabi'ah menghela napas melihat pintunya bergerak diterpa angin, dan Abu Jahal menyalahkan "anak saudara Si Fulan". Di Madinah mereka tinggal di rumah Mubasysyir bin 'Abdul Mundzir di Quba'.
Baca selengkapnya
Setelah Abu Salamah tiba di Madinah, yang menyusulnya adalah 'Amir bin Rabi'ah, sekutu Bani 'Adi bin Ka'b, beserta istrinya, Laila binti Abu Hatsmah bin Ghanim bin 'Abdullah bin 'Auf bin 'Ubaid bin Uwaij bin 'Adi bin Ka'b. Kemudian 'Abdullah bin Jahsy bin Ri'ab bin Ya'mur bin Shabirah bin Murrah bin Kabir bin Ghanim bin Dudan bin Asad bin Khuzaimah, sekutu Bani Umayyah bin 'Abdu Syams. 'Abdullah bin Jahsy membawa hijrah istri dan saudaranya, 'Abd bin Jahsy yang lebih dikenal dengan nama Abu Ahmad. Abu Ahmad adalah seorang tuna netra. Ia mengelilingi Makkah Atas dan Makkah Bawah tanpa ada yang menuntunnya. Ia juga seorang penyair, yang beristrikan al-Far'ah binti Abu Sufyan bin Harb, yang ibunya bernama Umaimah binti 'Abdul Muththalib bin Hasyim.2
Rumah 'Abdullah bin Jahsy menjadi sepi karena semua penghuninya hijrah ke Madinah. Suatu ketika 'Utbah bin Rabi'ah berjalan melewati rumah itu. Ia melihat pintunya bergerak-gerak oleh hembusan angin seolah-olah tidak ada penghuninya. Setelah melihat rumah itu dan memastikan dugaannya benar, ia menghela napas panjang, lalu berkata:
- Syair 'Utbah bin Rabi'ah"Semua rumah, walau sekian lama ia sejahtera, akhirnya suatu waktu akan ditimpa musibah dan bencana." Ibnu Hisyam: bait itu milik Abu Duwad al-Iyadi dalam kumpulan syairnya
'Utbah bin Rabi'ah berkata, "Rumah Bani Jahsy kini kosong tanpa penghuni." Abu Jahal berkata, "Tiada seorang pun yang akan meratapi rumah itu." Labid bin Rabi'ah berkata: "Semua Bani Hurrah akhirnya adalah sedikit, walaupun jumlah mereka demikian banyak." Kemudian Abu Jahal berkata, "Ini semua gara-gara ulah anak saudara Si Fulan. Ia memecah belah persatuan kita dan memutus hubungan di antara kita."2
Di Madinah, Abu Salamah bin 'Abdul Asad, 'Amir bin Rabi'ah, 'Abdullah bin Jahsy, dan saudaranya, Abu Ahmad bin Jahsy, tinggal di rumah Mubasysyir bin 'Abdul Mundzir bin Zanbar di Quba', di Bani 'Amr bin 'Auf.
Setelah itu kaum Muhajirin, laki-laki maupun wanita, hijrah ke Madinah secara bergelombang. Mereka adalah Bani Dudan yang telah masuk Islam, lalu disusul oleh orang-orang berikut:
- Laki-laki'Abdullah bin Jahsy, saudaranya Abu Ahmad bin Jahsy, 'Ukasyah bin Mihshan, Syuja' bin Wahb, 'Uqbah bin Wahb, Arbad bin Humayyirah (Ibnu Hisyam: ada yang menyebut Ibnu Humayrah)
- Laki-laki, lanjutanMunqidz bin Nubatah, Sa'id bin Ruqaisy, Mahraj bin Nadhiah, Yazid bin Ruqaisy, Qais bin Khabir, 'Amr bin Mihshan, Malik bin 'Amr, Shafwan bin 'Amr, Tsaqaf bin 'Amr, Rabi'ah Aksyam, az-Zubair bin 'Ubaidah, Tammam bin 'Ubaidah, Sakhbarah bin 'Ubaidah, dan Muhammad bin 'Abdullah bin Jahsy
- WanitaZainab binti Jahsy, Ummu Habib binti Jahsy, Judzamah binti Jandal, Ummu Qais binti Mihshan, Ummu Habib binti Tsumamah, Aminah binti Ruqaisy, Sakhbarah binti Tamim, dan Hamn binti Jahsy4
- 'Umar, 'Ayyasy, dan Hisyam
Kesepakatan di Tanadhub dan tipu daya Abu Jahal
'Umar, 'Ayyasy bin Abu Rabi'ah, dan Hisyam bin al-'Ash sepakat bertemu di Tanadhub, di atas Sarif, lalu berhijrah. Hisyam tidak datang karena disiksa. 'Umar dan 'Ayyasy tiba di Quba'. Abu Jahal dan al-Harits bin Hisyam menyusul ke Madinah dan membujuk 'Ayyasy pulang dengan alasan sumpah ibunya. 'Umar memperingatkannya, tetapi 'Ayyasy tetap berangkat. Di tengah jalan mereka berdua mengikatnya, membawanya ke Makkah, dan menyiksanya.
Baca selengkapnya
Sebelum kami berangkat hijrah ke Madinah, aku, 'Ayyasy bin Abu Rabi'ah, dan Hisyam bin al-'Ash bin Wa'il as-Sahmi bersepakat untuk bertemu di Tanadhub, di reruntuhan pohon Adat bin Ghifar di atas Sarif. Kami berkata, "Seandainya besok salah seorang dari kita tidak berada di tempat itu, berarti telah terjadi sesuatu padanya, dan bagaimanapun dua orang lainnya tetap harus berangkat ke Madinah."5
Paginya, aku dan 'Ayyasy berada di Tanadhub. Hisyam bin al-'Ash tidak datang karena ia mendapat siksaan. Tiba di Madinah, kami beristirahat di Bani 'Amr bin 'Auf di Quba'. Abu Jahal bin Hisyam dan al-Harits bin Hisyam berangkat ke Madinah untuk menemui 'Ayyasy bin Abu Rabi'ah, yang adalah paman keduanya dan saudara seibu keduanya. Mereka tiba di Madinah ketika Rasulullah ﷺ masih berada di Makkah. Keduanya berkata kepada 'Ayyasy, "Ibumu bersumpah bahwa ia tidak akan menyisir rambutnya sampai ia melihatmu, dan tidak akan terus berteduh dari sinar matahari sampai melihatmu." 'Ayyasy terenyuh hatinya mendengar cerita keduanya.
'Umar berkata: aku berkata kepada 'Ayyasy, "Wahai 'Ayyasy, demi Allah, dua orang Quraisy ini hanya menipumu. Mereka ingin memurtadkanmu dari Islam, maka waspadalah terhadap tipu daya mereka. Demi Allah, jika ibumu terganggu oleh gatalnya kutu, pastilah ia menyisir rambutnya, dan jika terik matahari Makkah membara, pastilah ia berteduh." 'Ayyasy berkata, "Aku akan membayar sumpah ibuku. Di sana aku mempunyai sejumlah uang, dan aku akan mengambilnya." Aku berkata, "Janganlah engkau pergi bersama Abu Jahal bin Hisyam dan al-Harits bin Hisyam." 'Ayyasy mengacuhkan saranku dan lebih tertarik pulang bersama mereka.
Ketika akan berangkat pulang ke Makkah, aku katakan kepada 'Ayyasy, "Jika engkau tetap bersikukuh melakukan apa yang engkau inginkan, ambillah untaku ini, karena ia unta yang lincah dan penurut, dan tetaplah berada di atas punggungnya. Jika engkau mencium ada sesuatu yang mencurigakan pada mereka berdua, selamatkan dirimu dengan unta ini." 'Ayyasy pun pulang ke Makkah bersama Abu Jahal dan al-Harits.
Di tengah jalan, Abu Jahal berkata kepada 'Ayyasy, "Demi Allah, wahai saudaraku, sepertinya aku keliru dalam memilih untaku ini. Ia tidak bisa berjalan mengiringi untamu." 'Ayyasy berkata, "Ya, betul." 'Ayyasy turun dari untanya, begitu juga Abu Jahal dan al-Harits. Ketika mereka bertiga berada di atas tanah, tiba-tiba Abu Jahal dan al-Harits mengikat 'Ayyasy, membawanya masuk Makkah, dan menyiksanya.
Sebagian keluarga 'Ayyasy berkata kepadaku bahwa Abu Jahal dan al-Harits membawa 'Ayyasy memasuki Makkah dalam keadaan terikat pada malam hari. Keduanya berkata, "Hai orang-orang Makkah, coba kalian lihat orang bodoh ini."26
- Surat 'Umar
Surat 'Umar kepada Hisyam bin al-'Ash
'Umar menuturkan bahwa setelah Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, Allah menurunkan ayat tentang mereka: QS az-Zumar ayat 53 sampai 55. 'Umar menulis ayat itu pada lembaran dan mengirimkannya kepada Hisyam bin al-'Ash. Hisyam membacanya di Dzi Thuwa, mulanya tidak memahaminya, lalu berdoa memohon pemahaman, dan merasa ayat itu turun tentang mereka. Ia segera menaiki untanya dan menyusul Rasulullah ﷺ di Madinah.
Baca selengkapnya
"Allah tidak menerima taubat orang yang murtad karena takut siksa, yaitu mereka yang mengenal Allah, kemudian kembali kafir karena tidak tahan dengan cobaan yang menderanya. Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, Allah Ta'ala mewahyukan kepada beliau ayat tentang mereka, tentang ucapan kami dan ucapan mereka terhadap diri mereka:"7
"Katakanlah: 'Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang adzab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang adzab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya.'" (QS az-Zumar: 53-55)
'Umar melanjutkan: "Maka aku tulis ayat itu pada lembaran, kemudian aku kirimkan kepada Hisyam bin al-'Ash." Hisyam bin al-'Ash berkata: "Ketika surat itu sampai kepadaku, aku membawanya ke Dzi Thuwa untuk dibaca. Saat kubaca, aku tidak bisa memahaminya, hingga aku berkata, 'Ya Allah, karuniakan pemahaman kepadaku!' Kemudian Allah menganugerahkan pemahaman ke dalam hatiku bahwa ayat itu diturunkan tentang kami, tentang apa yang kami katakan untuk diri kami dan apa yang diucapkan tentang kami. Aku segera menaiki untaku, lalu pergi menyusul Rasulullah ﷺ, yang saat itu sudah berada di Madinah."8
- Al-Walid bin al-Walid
Al-Walid bin al-Walid membebaskan 'Ayyasy dan Hisyam
Ibnu Hisyam menuturkan dari orang yang ia percayai bahwa Rasulullah ﷺ bertanya siapa yang bisa membebaskan 'Ayyasy bin Abu Rabi'ah dan Hisyam bin al-'Ash. Al-Walid bin al-Walid bin al-Mughirah menjawab, "Aku!" Ia diam-diam ke Makkah, mengikuti seorang wanita pembawa makanan hingga menemukan rumah tanpa genteng tempat keduanya ditahan, memanjat tembok pada sore hari, membebaskan mereka, dan menuntun unta mereka sampai Madinah.
Baca selengkapnya
Orang yang aku percayai bercerita kepadaku bahwa ketika berada di Madinah, Rasulullah ﷺ pernah bersabda, "Siapa yang bisa membebaskan 'Ayyasy bin Abu Rabi'ah dan Hisyam bin al-'Ash untukku?" Al-Walid bin al-Walid bin al-Mughirah berkata, "Aku!" Ia keluar dari Madinah menuju Makkah dan tiba di sana tanpa seorang pun tahu. Ia bertemu seorang wanita yang membawa makanan dan bertanya, "Boleh aku tahu ke mana kau akan pergi dengan makanan itu?" Wanita itu menjawab, "Aku akan pergi kepada 'Ayyasy dan Hisyam yang sedang ditahan."9
Al-Walid mengikuti wanita itu sampai tahu tempat dua orang yang ditahan. Keduanya ditahan di rumah yang tidak dipasangi genteng. Sore harinya ia memanjat tembok rumah itu dan membebaskan 'Ayyasy dan Hisyam. Ia lalu menaikkan keduanya ke punggung untanya, dan menuntun unta yang membawa mereka hingga sampai di Madinah, di tempat Rasulullah ﷺ.
- Muhajirin di Quba'
Di rumah siapa para muhajirin tinggal di Quba'
Ibnu Ishaq menyebut satu per satu rumah yang menampung kaum Muhajirin. Di Quba', di kampung Bani 'Amr bin 'Auf, 'Umar dan rombongannya tinggal di rumah Rifa'ah bin 'Abdul Mundzir; Hamzah dan kawan-kawannya di rumah Kultsum bin Hidam; dan 'Ubaid bin al-Harits dan beberapa lainnya di rumah 'Abdullah bin Salimah.

Masjid Quba' di Madinah, kondisi sekarang (foto 27 Desember 2024; deskripsi berkas: "Quba mosque ... Photo from afar"). Bangunannya sudah banyak berubah dari masa Hijrah.Foto: Kaliper1 · CC BY-SA 4.0 · Wikimedia Commons Baca selengkapnya
Ketika tiba di Madinah, 'Umar bin al-Khaththab ditemani keluarganya dan kaumnya yang ikut hijrah, dan mereka tinggal di rumah Rifa'ah bin 'Abdul Mundzir bin Zanbar di Bani 'Amr bin 'Auf di Quba'. Setelah itu, kaum Muhajirin mendatangi Madinah secara bergelombang. Menurut Ibnu Ishaq, penghuni rumah itu:2
- Rumah Rifa'ah bin 'Abdul Mundzir (Quba')'Umar bin al-Khaththab, saudaranya Zaid bin al-Khaththab, 'Amr bin Suraqah bin al-Mu'tamir, 'Abdullah bin al-Mu'tamir, Khunais bin Hudzafah as-Sahmi (suami Hafshah binti 'Umar; sepeninggal suaminya, Hafshah dinikahi Rasulullah ﷺ), Sa'id bin Zaid bin 'Amr bin Nufail, Waqid bin 'Abdullah at-Taimi (sekutu mereka), Khauli bin Abu Khauli dan Malik bin Khauli (sekutu mereka), dan empat anak al-Bukair: Iyas, 'Aqil, 'Amir, dan Khalid (sekutu dari Bani Sa'd bin Laits). "Iyas bin Rabi'ah" juga ikut tinggal di rumah itu ketika tiba di Madinah
- Rumah Kultsum bin Hidam (Quba', Bani 'Amr bin 'Auf)Hamzah bin 'Abdul Muththalib, Zaid bin Haritsah, Abu Martsad Kannaz bin Hishn, Anasah, dan Abu Kabsyah (keduanya mantan budak Rasulullah ﷺ). Ada yang mengatakan mereka tinggal di rumah Sa'd bin Khaitsamah, dan ada yang mengatakan Hamzah tinggal di rumah As'ad bin Zurarah, saudara Bani an-Najjar
- Rumah 'Abdullah bin Salimah (Bal'ijlan, Quba')'Ubaid bin al-Harits bin al-Muththalib, Ath-Thufail bin al-Harits dan al-Hushain bin al-Harits (keduanya saudara 'Ubaid), Misthah bin Utsatsah bin 'Abbad bin al-Muththalib, Suwaibith bin Sa'd bin Harmalah (saudara Bani 'Abduddar), Thulaib bin 'Umair (saudara Bani 'Abd bin Qushay), dan Khabbab, mantan budak 'Utbah bin Ghazwan10
- Muhajirin di bagian lain Madinah
Rumah-rumah di perkampungan Anshar
Di luar Quba', kaum Muhajirin menetap di rumah-rumah Anshar di berbagai perkampungan: Thalhah dan Shuhaib di rumah Khubaib bin Isaf (as-Sunh), 'Abdurrahman bin 'Auf di rumah Sa'd bin ar-Rabi', az-Zubair dan Abu Sabrah di rumah al-Mundzir bin Muhammad (al-Ushbah), Mush'ab di rumah Sa'd bin Mu'adz, 'Utbah bin Ghazwan di rumah 'Ubad bin Bisyr, 'Utsman bin 'Affan di rumah Aus bin Tsabit, dan para bujangan di rumah Sa'd bin Khaitsamah.
Baca selengkapnya
Setelah itu kaum Muhajirin berdatangan ke Madinah secara bergelombang. Menurut Ibnu Ishaq:2
- Rumah Khubaib bin Isaf (as-Sunh, saudara Balharits bin al-Khazraj)Thalhah bin 'Ubaidillah bin 'Utsman dan Shuhaib bin Sinan. Ada yang mengatakan Thalhah bin 'Ubaidillah tinggal di rumah As'ad bin Zurarah, saudara Bani an-Najjar
- Rumah Sa'd bin ar-Rabi' (pemukiman Bani al-Harits bin al-Khazraj)'Abdurrahman bin 'Auf bersama sejumlah kaum Muhajirin
- Rumah al-Mundzir bin Muhammad bin 'Uqbah bin Uhaihah bin al-Julaj (al-Ushbah, kompleks Bani Jahjaba)az-Zubair bin al-'Awwam dan Abu Sabrah bin Abu Ruhm bin 'Abdul 'Uzza
- Rumah Sa'd bin Mu'adz bin an-Nu'man (perkampungan Bani 'Abdul Asyhal)Mush'ab bin 'Umair, saudara Bani 'Abduddar
- Rumah 'Ubad bin Bisyr bin Waqsy (kompleks permukiman 'Abdul Asyhal)'Utbah bin Ghazwan bin Jabir
- Rumah Aus bin Tsabit bin al-Mundzir (perumahan Bani an-Najjar)'Utsman bin 'Affan. Karena itulah Hassan bin Tsabit, saudara Aus bin Tsabit, amat mencintai 'Utsman dan begitu berduka saat mendengar ia dibunuh
- Rumah Sa'd bin Khaitsamahpara bujangan kaum Muhajirin, karena Sa'd juga seorang bujangan. Terjemahan menutup bagian ini dengan "Wallahu a'lam, mana yang paling benar"
Ibnu Ishaq juga menyebut Abu Hudzaifah bin 'Utbah bin Rabi'ah dan Salim, mantan budaknya, dalam daftar ini.
Salim, mantan budak Abu Hudzaifah, adalah Saibah, budak yang dimerdekakan yang hak kepemilikannya tidak diserahkan kepada pemiliknya, milik Tsubaitah binti Ya'ar bin Zaid bin 'Ubaid bin Malik bin 'Amr bin 'Auf bin Malik bin al-Aus. Tsubaitah memutus hak pemilikan atas Salim, kemudian Abu Hudzaifah bin 'Utbah bin Rabi'ah mengadopsinya, maka ia dipanggil Salim, mantan budak Abu Hudzaifah. Ada yang mengatakan Tsubaitah adalah istri Abu Hudzaifah bin 'Utbah, yang memerdekakan Salim, sehingga ia disebut mantan budak Abu Hudzaifah.911
- Shuhaib ar-Rumi
Shuhaib menyerahkan seluruh hartanya
Menurut Abu 'Utsman an-Nahdi, ketika Shuhaib ar-Rumi hendak hijrah, orang-orang Quraisy mengingatkan bahwa dulu ia miskin dan hina, lalu mereka membuatnya kaya dan terhormat, dan tidak pantas ia pergi membawa hartanya. Shuhaib menyerahkan semua hartanya kepada mereka. Ketika kabar itu sampai kepada Rasulullah ﷺ, beliau bersabda, "Shuhaib telah selamat dan ia sungguh beruntung."
Baca selengkapnya
Aku mendapat informasi dari Abu 'Utsman an-Nahdi bahwa ia berkata: ketika Shuhaib ar-Rumi akan berangkat hijrah, orang-orang Quraisy berkata kepadanya, "Dulu engkau miskin dan hina, lalu kami membuatmu kaya dan terhormat. Apakah setelah itu engkau akan pergi begitu saja dengan membawa kekayaanmu dan dirimu? Demi Allah, ini hal yang sangat memalukan!" Shuhaib berkata kepada mereka, "Apa maksud kalian aku harus menyerahkan kembali harta kekayaan ini kepada kalian?" Mereka menjawab, "Ya." Shuhaib berkata, "Jika demikian, aku serahkan semua kekayaanku kepada kalian." Peristiwa ini didengar Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda, "Shuhaib telah selamat dan ia sungguh beruntung."9
Catatan
- Tambahan Ibnu Hisyam. Sanad: Ziyad bin 'Abdullah al-Bakka'i berkata kepadaku dari Muhammad bin Ishaq al-Muththalibi.
- Ibnu Ishaq.
- Ibnu Ishaq. Sanad: Abu Ishaq bin Yasar bercerita kepadaku dari Salamah bin 'Abdullah bin 'Umar bin Abu Salamah dari neneknya, Ummu Salamah.
- Kalimat "Rumah Abdullah bin Jahsy karena semua penghuninya hijrah ke Madinah" tidak memiliki predikat; kami melengkapinya dengan "menjadi sepi" karena kalimat sesudahnya menyebut rumah itu terlihat seolah tidak berpenghuni. Pada daftar, terjemahan menulis "Ummu Habib bi Jahsy" dan "Tammam bin bin Ubaydah"; kami menulis "Ummu Habib binti Jahsy" dan "Tammam bin 'Ubaidah". Nama 'Abdullah bin Jahsy dan Abu Ahmad sudah disebut sebelumnya dan terjemahan mengulangnya pada daftar.
- Ibnu Ishaq. Sanad: 'Umar bin al-Khaththab dan 'Ayyasy bin Abu Rabi'ah al-Makhzumi berhijrah ke Madinah. Nafi', mantan budak 'Abdullah bin 'Umar, bercerita kepadaku dari 'Abdullah bin 'Umar dari ayahnya, 'Umar bin al-Khaththab.
- Kalimat bahwa 'Ayyasy adalah "paman keduanya dan saudara seibu keduanya" kami muat apa adanya dan tidak kami selaraskan.
- Ibnu Ishaq. Sanad: Nafi' bercerita kepadaku dari 'Abdullah bin 'Umar dari 'Umar bin al-Khaththab dalam kisahnya. 'Umar.
- Kalimat pembuka ucapan 'Umar kami muat apa adanya dan tidak ditafsirkan. Terjemahan menulis "Hisyam bin al-Ashi berkata: Dia berkata: Hisyam bin al-Ashi berkata" dengan pengulangan; kami hanya menulis satu kali.
- Tambahan Ibnu Hisyam.
- Terjemahan menulis "Iyas bin Rabi'ah" pada kalimat tentang rumah Rifa'ah, dan "'Ayyasy bin Abu Rabi'ah" pada kisah sebelumnya. Kami menulis keduanya persis seperti tercetak dan tidak menyatakan bahwa keduanya orang yang sama. Catatan Ibnu Hisyam tentang nama Abu Martsad Kannaz (anak Hushain, anak Kannaz bin Hishn, Martsad al-Ghanawiyyan) tercetak kacau sehingga tidak kami muat.
- Dalam terjemahan, nama Abu Hudzaifah dan Salim ditulis tanpa menyebut rumah yang mereka tinggali; kalimat berikutnya langsung berpindah ke 'Utbah bin Ghazwan. Kami tidak menyebut rumah untuk keduanya.
Catatan tambahan
Urutan rumah penampung kaum muhajirin di buku adalah: rumah Rifa'ah, rumah Khubaib bin Isaf, kisah Shuhaib ar-Rumi, rumah Kultsum bin Hidam, rumah 'Abdullah bin Salimah, lalu rumah-rumah di bagian lain Madinah, Abu Hudzaifah dan Salim, 'Utbah bin Ghazwan, 'Utsman bin 'Affan, dan para bujangan. Agar mudah dibaca, kami mengelompokkan rumah di Quba' lebih dulu, memisahkan rumah di bagian lain Madinah, dan menaruh kisah Shuhaib di bagian akhir. Isi tiap butir tidak diubah.
Kalimat penjelas ayat al-Hajj 39-41 di terjemahan berbunyi "Yakni, Aku (Allah) mengizinkan perang kepada mereka"; kami menuliskannya "Allah mengizinkan perang kepada mereka" dan tidak memuat kata "Aku".
Terjemahan menutup daftar bujangan dengan "Wallahu a'lam, mana yang paling benar" tanpa menyebut siapa yang mengucapkannya; kami memuatnya apa adanya, tanpa nama pembicara.
Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Hijrah Rasulullah ﷺ sendiri, yang dalam buku langsung menyusul bagian ini, dibahas di bab berikutnya.