Isi bab ini
Bab ini menceritakan enam orang Khazraj yang bertemu Rasulullah ﷺ di 'Aqabah, baiat 'Aqabah pertama oleh dua belas orang dan pengutusan Mush'ab bin 'Umair ke Madinah, masuk Islamnya Usaid bin Hudhair dan Sa'd bin Mu'adz, baiat 'Aqabah kedua oleh tujuh puluh tiga laki-laki dan dua wanita beserta dua belas pemimpinnya, reaksi Quraisy, dan daftar peserta baiat kedua.
Enam, lalu dua belas
Enam orang Khazraj masuk Islam di 'Aqabah; tahun berikutnya dua belas orang Anshar berbaiat di tempat yang sama.
Mush'ab bin 'Umair
Diutus mengajar Al-Qur'an dan Islam di Madinah, dikenal sebagai Muqri' Madinah, dan tinggal di rumah As'ad bin Zurarah.
Tujuh puluh tiga dan dua
Tujuh puluh tiga laki-laki dan dua wanita berbaiat di 'Aqabah kedua; mereka menunjuk dua belas pemimpin, sembilan dari al-Khazraj dan tiga dari al-Aus.
Sa'd bin 'Ubadah
Ditangkap Quraisy setelah jamaah haji meninggalkan Mina, lalu dibebaskan oleh Jubair bin Muth'im dan al-Harits bin Harb.
Makkah dan Madinah
Pilih salah satu langkah di daftar yang menyertai peta. Garis putus-putus adalah perkiraan, karena buku menyebut asal dan tujuan tetapi tidak menyebut jalurnya, dan batas negara masa kini hanya patokan.
Dari enam orang Khazraj sampai baiat kedua
Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.
Perbedaan sumber
Rombongan pertama. Ibnu Hisyam menyebut enam orang Khazraj beserta nama dan kabilahnya. Haykal menyebut dalam rombongan itu ada dua orang Bani an-Najjar dan tidak menyebut jumlah seluruhnya. Khan menyebut "sekelompok kecil" orang dari Yathrib.
Baiat pertama. Ibnu Hisyam dan Haykal sama-sama menyebut dua belas orang dan pengutusan Mush'ab bin 'Umair. Khan menyebut "rombongan yang lebih besar" tanpa jumlah dan tidak menyebut Mush'ab.
Waktu baiat kedua. Haykal menulis tahun 622 M dan malam hari kedua setelah haji. Ibnu Hisyam tidak menyebut tahun; ia menyebut pertengahan hari-hari Tasyriq. Khan menyebut "tahun berikutnya" dari baiat pertama.
Yang pertama berbaiat. Ibnu Hisyam mencatat tiga pendapat: As'ad bin Zurarah (Bani an-Najjar), Abu al-Haitsam (Bani 'Abdul Asyhal), dan al-Barra' bin Ma'rur (riwayat Ka'b bin Malik; Bani Salimah juga mengklaim al-Barra'). Haykal menyebut al-Barra'.
Teriakan. Ibnu Hisyam menyebutnya setan, yang oleh Rasulullah ﷺ disebut Uzab, setan 'Aqabah. Haykal menyebutnya seorang penyeru Quraisy yang musyrik, yang mendengar sedikit tentang pertemuan itu dalam perjalanannya ke 'Aqabah.
Sa'd bin 'Ubadah. Ibnu Hisyam menyebut Sa'd dibebaskan karena ia pernah melindungi dagangan Jubair bin Muth'im dan al-Harits bin Harb di negerinya. Haykal menyebut Jubair bin Muth'im dan al-Harits bin Umayyah menebusnya sebagai wakil mereka di Yathrib, ketika melewati Yathrib dalam perjalanan ke Syam. Jumlah peserta, dua belas pemimpin, dan pembagian sembilan Khazraj dan tiga Aus sama pada Ibnu Hisyam dan Haykal.
- Enam orang Khazraj
Awal masuk Islamnya orang-orang Anshar
Pada musim haji tahun itu, di 'Aqabah, Rasulullah ﷺ bertemu rombongan dari al-Khazraj. Beliau bertanya siapa mereka dan apakah mereka bersekutu dengan orang Yahudi, lalu mengajak mereka duduk dan menjelaskan agama Allah. Mereka teringat ancaman orang Yahudi tentang nabi yang akan diutus, lalu menerima Islam. Enam orang Khazraj masuk Islam, kemudian pulang ke negeri mereka.
Baca selengkapnya
Pada musim haji tahun itu Rasulullah ﷺ bertemu dengan beberapa orang Anshar. Beliau menawarkan dirinya kepada kabilah-kabilah Arab seperti yang biasa beliau lakukan pada musim-musim haji sebelumnya. Ketika beliau berada di al-'Aqabah, beliau berjumpa dengan rombongan dari al-Khazraj.1
'Ashim bin 'Umar bin Qatadah bercerita dari sesepuh kaumnya: ketika berpapasan dengan mereka, Rasulullah ﷺ bertanya, "Siapakah kalian?" Mereka menjawab, "Kami berasal dari al-Khazraj." Beliau bertanya lagi, "Apakah kalian punya hubungan dengan orang-orang Yahudi?" Mereka menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Sudikah kalian ngobrol sebentar denganku?" Mereka menjawab, "Ya." Mereka pun duduk mendengarkan beliau, yang menjelaskan tentang agama Allah dan membacakan Al-Qur'an kepada mereka.
Yang membuat mereka mudah menerima Islam ialah bahwa orang-orang Yahudi tinggal bersama mereka di negeri mereka. Orang Yahudi adalah orang yang diberi kitab dan ilmu, sedangkan orang al-Khazraj penyembah berhala. Jika terjadi konflik antara keduanya, orang Yahudi berkata, "Sesungguhnya zaman kedatangan nabi yang diutus sudah dekat. Kita akan mengikutinya, dan bersamanya kami akan menghabisi kalian seperti pembantaian terhadap kaum 'Ad dan Iram."
Ketika Rasulullah ﷺ berbicara dengan orang-orang al-Khazraj itu dan mengajak mereka kepada Islam, sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain, "Wahai kaumku, demi Allah, inilah Nabi yang diceritakan orang-orang Yahudi kepada kalian. Jangan sampai mereka mendahului kalian menerimanya." Mereka lalu menyambut ajakan beliau, membenarkan beliau, dan menerima Islam. Mereka berkata, "Kami akan bertemu kaum kami dan orang-orang Yahudi itu, lalu mengajak mereka kepada agamamu, dan kami akan mengajak mereka kepada agama yang kami dapatkan darimu ini. Jika Allah menyatukan mereka dalam agama ini, tidak akan ada seorang pun yang lebih mulia darimu." Setelah itu mereka pamit dan pulang ke negeri mereka dalam keadaan beriman dan membenarkan beliau.
Ibnu Ishaq menyebut orang-orang Anshar yang masuk Islam itu ada enam orang dari al-Khazraj:
- As'ad bin ZurarahAbu Umamah, dari Bani Malik bin an-Najjar
- 'Auf bin al-Haritsdari Bani Malik bin an-Najjar; ibunya Afra'. Ibnu Hisyam: Afra' adalah putri 'Ubaid bin Tsa'labah bin Ghanim bin Malik bin an-Najjar
- Rafi' bin Malikdari Bani Zuraiq
- Quthbahdari Bani Sawwad, cabang Bani Salimah
- 'Uqbah bin 'Amirdari Bani Haram, cabang Bani Salimah
- Jabir bin 'Abdullahdari Bani 'Ubaid bin 'Adi, cabang Bani Salimah2
- 'Aqabah pertama
Dua belas orang berbaiat seperti baiat kaum wanita
Enam orang itu menyebarkan kabar tentang Rasulullah ﷺ di Madinah hingga hampir setiap rumah Anshar membicarakannya. Pada tahun berikutnya dua belas orang Anshar berhaji dan menemui beliau di al-'Aqabah yang dikenal sebagai 'Aqabah pertama. Mereka berbaiat "seperti baiat kalangan wanita", sebelum perang diwajibkan.

Kawasan Jumrah al-'Aqabah di Mina, kondisi sekarang (foto berlabel Haji 2006; deskripsi berkas: "Jumrah Al-Aqabah"). Gambaran kawasan, bukan tempat Baiat 'Aqabah di malam hari pada masa Rasulullah ﷺ.Foto: Amellie (Brisbane) · CC BY 2.0 · Wikimedia Commons Baca selengkapnya
Ketika kaum Anshar tiba di negerinya, mereka mulai menyebarkan berita tentang Rasulullah ﷺ kepada kaum mereka dan menyeru mereka kepada Islam, hingga Islam menyebar dengan cepat di tempat mereka dan setiap rumah orang Anshar tak pernah sepi dari pembicaraan tentang Rasulullah ﷺ. Tahun berikutnya, dua belas orang Anshar melaksanakan haji dan menemui beliau di al-'Aqabah yang dikenal dengan 'Aqabah pertama. Mereka berbaiat kepada beliau seperti baiat kalangan wanita. Peristiwa baiat ini terjadi sebelum perang diwajibkan kepada mereka.1
Mereka yang hadir pada baiat 'Aqabah pertama menurut Ibnu Ishaq:
- Dari Bani an-NajjarAs'ad bin Zurarah (Abu Umamah), 'Auf dan Mu'adz (keduanya anak al-Harits bin Rifa'ah dan Afra')
- Dari Bani ZuraiqRafi' bin Malik dan Dzakwan bin 'Abdu Qais. Ibnu Hisyam: Dzakwan seorang muhajir-Anshar
- Dari Bani Auf bin al-Khazraj'Ubadah bin ash-Shamit, dan Abu 'Abdurrahman Yazid bin Tsa'labah, dari Bani Ghudzainah (Baly), sekutu Bani Auf bin al-Khazraj
- Dari Bani Salim bin Aufal-'Abbas bin 'Ubadah bin Nadhlah
- Dari Bani Salimah'Uqbah bin 'Amir (Bani Haram) dan Quthbah bin 'Amir (Bani Sawwad)
- Dari al-Aus, Bani 'Abdul AsyhalAbu al-Haitsam bin at-Taihan, yang nama aslinya Malik
- Dari al-Aus, Bani 'Amr bin 'Auf'Uwaim bin Sa'idah
Dengan hitungan kami sendiri dari daftar di atas, mereka terdiri dari sepuluh orang Khazraj dan dua orang Aus, jadi genap dua belas.
- Isi baiat pertama
Janji yang diucapkan di 'Aqabah pertama
'Ubadah bin ash-Shamit menuturkan isi baiat itu dalam dua riwayat: tidak berbuat syirik, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak, tidak membuat ucapan dusta, dan tidak durhaka kepada beliau dalam kebaikan. Yang menepati dijanjikan surga, dan yang melanggar urusannya terserah kepada Allah.
Baca selengkapnya
Pada baiat 'Aqabah pertama jumlah kami dua belas orang laki-laki. Kami berbaiat kepada Rasulullah ﷺ sebagaimana kaum wanita berbaiat, dan itu terjadi sebelum perang diwajibkan atas kami. Kami berbaiat agar tidak berbuat syirik kepada Allah dengan sesuatu apa pun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak mengubur hidup-hidup anak-anak kami, tidak membuat-buat ucapan dusta baik terbuka maupun sembunyi-sembunyi, dan tidak durhaka kepada beliau dalam kebaikan. Beliau bersabda, "Jika kalian tidak melanggar baiat kalian, niscaya kalian masuk surga. Jika kalian melanggar salah satunya, urusan kalian terserah kepada Allah. Jika Dia mau, Dia akan mengadzab kalian. Jika tidak, Dia akan mengampuni kalian."3
Ibnu Syihab az-Zuhri bercerita dari Aidzullah bin 'Abdullah al-Khaulani Abu Idris bahwa 'Ubadah bin ash-Shamit berkata kepadanya, "Pada malam 'Aqabah pertama kami membaiat Rasulullah ﷺ untuk mentauhidkan-Nya, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kami, tidak membuat ucapan dusta baik di depan umum maupun sembunyi-sembunyi, dan tidak bermaksiat kepada beliau dalam kebaikan." Nabi bersabda, "Jika kalian melaksanakannya, kalian mendapatkan surga. Jika kalian melanggar salah satu darinya, kalian dihukum sesuai hukumannya di dunia dan itu sebagai penebusnya. Jika kalian menyembunyikan pelanggaran itu sehingga tak ada yang tahu sampai Hari Kiamat, urusan kalian sepenuhnya ada di tangan Allah. Jika Dia mau, Dia akan menyiksa kalian. Jika tidak, boleh jadi Dia mengampuni kalian."1
- Mush'ab di Madinah
Mush'ab bin 'Umair diutus, dan Jum'at pertama di Madinah
Ketika kaum Anshar hendak pulang, Rasulullah ﷺ mengutus Mush'ab bin 'Umair bersama mereka untuk membacakan Al-Qur'an, mengajarkan Islam, dan memahamkan agama. Ia dikenal sebagai Muqri' Madinah dan tinggal di rumah As'ad bin Zurarah. Ia menjadi imam shalat, karena al-Aus dan al-Khazraj tidak mau diimami orang dari pihak yang lain. Shalat Jum'at pertama di Madinah diselenggarakan As'ad bin Zurarah bersama empat puluh orang laki-laki.
Baca selengkapnya
Ketika kaum Anshar hendak kembali ke negeri mereka, Rasulullah ﷺ mengutus Mush'ab bin 'Umair bin Hasyim bin 'Abdu Manaf bin 'Abdudar bin Qushay bersama mereka. Beliau menugaskannya untuk membacakan Al-Qur'an kepada mereka, mengajarkan Islam, dan memahamkan agama. Karena itu, bila disebut "Muqri' Madinah", yang dimaksud adalah Mush'ab. Ia tinggal di rumah As'ad bin Zurarah bin 'Udas.1
'Ashim bin 'Umar bin Qatadah berkata kepadaku bahwa Mush'ab menjadi imam shalat bagi mereka, karena al-Aus tidak mau diimami orang dari al-Khazraj, dan sebaliknya.
Muhammad bin Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif bercerita dari ayahnya, Abu Umamah, dari 'Abdurrahman bin Ka'b bin Malik: setiap kali ia keluar bersama ayahnya, Ka'b bin Malik, untuk shalat Jum'at dan ayahnya mendengar adzan, ayahnya mendoakan Abu Umamah As'ad bin Zurarah dan memintakan ampunan baginya. Pada Jum'at berikutnya 'Abdurrahman bertanya mengapa ayahnya selalu begitu. Ka'b menjawab, "Anakku, Abu Umamah As'ad bin Zurarah adalah orang yang pertama kali menyelenggarakan shalat Jum'at untuk kita di Madinah, di Hazm an-Nabit, di tanah berbatu Bani Bayadhah yang dikenal sebagai Naqi' al-Khadhamat." Ketika ditanya berapa jumlah mereka waktu itu, ia menjawab, "Empat puluh orang laki-laki."4
- Usaid bin Hudhair
Usaid bin Hudhair datang dengan tombak lalu masuk Islam
As'ad bin Zurarah dan Mush'ab menuju rumah Bani 'Abdul Asyhal dan Bani Zhafar, ke sebuah kebun Bani Zhafar. Sa'd bin Mu'adz, anak bibi As'ad, menyuruh Usaid bin Hudhair menghadang keduanya. Usaid datang dengan tombak dan marah, tetapi mau duduk mendengarkan Mush'ab, lalu mandi, berwudhu, bersyahadat, dan shalat dua rakaat.
Baca selengkapnya
'Ubaidillah bin al-Mughirah bin Mu'aitiq dan 'Abdullah bin Abu Bakar bin Muhammad bin 'Amr bin Hazm bercerita kepadaku bahwa As'ad bin Zurarah keluar bersama Mush'ab bin 'Umair menuju rumah Bani 'Abdul Asyhal dan rumah Bani Zhafar. Sa'd bin Mu'adz bin an-Nu'man bin Umru'ul Qais bin Zaid bin 'Abdul Asyhal adalah anak bibi As'ad bin Zurarah. As'ad bersama Mush'ab masuk ke salah satu kebun milik Bani Zhafar.1
Nama asli Zhafar ialah Ka'b bin al-Harits bin al-Khazraj bin 'Amr bin Malik bin al-Aus; kebun itu berada di Sumur Maraq. Di sana As'ad dan Mush'ab berkumpul dengan orang Madinah yang telah masuk Islam.5
Sa'd bin Mu'adz dan Usaid bin Hudhair adalah pemimpin Bani 'Abdul Asyhal, dan keduanya masih musyrik. Ketika mendengar kedatangan Mush'ab, Sa'd berkata kepada Usaid, "Pergilah kepada dua orang yang datang ke kompleks kita untuk menipu orang-orang yang lemah di antara kita. Hadang keduanya dari memasuki kompleks kita. Dia sepupuku dan aku tidak memiliki keberanian yang cukup untuk berhadapan dengannya." Usaid pun pergi dengan membawa tombak.6
Ketika As'ad melihat Usaid datang, ia berkata kepada Mush'ab, "Dia adalah pemimpin kaumnya, dia datang kepadamu, maka hadapilah ia dengan tegar!" Mush'ab menjawab, "Bila ia duduk, aku akan berbicara dengannya." Usaid berdiri di depan mereka dengan wajah memerah, lalu berkata, "Kedatangan kalian berdua ke sini hanya membuat bodoh orang-orang yang lemah di antara kami. Enyahlah kalian berdua dari sini, jika kalian masih ingin hidup." Mush'ab berkata, "Mengapa engkau tidak duduk dulu untuk mendengar penjelasanku? Bila engkau suka, kau terima, dan jika tidak, apa susahnya bagimu menolaknya?" Usaid berkata, "Engkau berkata benar."
Usaid meletakkan tombaknya di tanah dan duduk bersama mereka. Mush'ab menerangkan Islam kepadanya dan membacakan Al-Qur'an. Dari kedua orang itu diriwayatkan: "Demi Allah, kami melihat hidayah pada wajah Usaid bin Hudhair sebelum ia bicara. Wajahnya bersinar dan ia tampak demikian ramah." Usaid berkata, "Sungguh cantik dan eloknya perkataan ini. Apa yang kalian lakukan jika kalian ingin memeluk agama ini?" Mush'ab dan As'ad menjawab, "Mandi, wudhu, sucikan pakaianmu, lalu ucapkan dua kalimat syahadat, kemudian shalat." Usaid pun berdiri untuk mandi, berwudhu, menyucikan pakaiannya, mengucapkan dua kalimat syahadat, lalu shalat dua rakaat.
- Sa'd bin Mu'adz
Sa'd bin Mu'adz marah, lalu masuk Islam dan kaumnya menyusul
Usaid berkata bahwa di belakangnya ada seorang laki-laki yang bila mengikuti Islam, seluruh kaumnya akan ikut, lalu ia mengirim Sa'd bin Mu'adz. Sa'd datang dengan marah, tetapi mau duduk mendengarkan Mush'ab, lalu masuk Islam. Ia berkata kepada Bani 'Abdul Asyhal bahwa ia tidak akan memimpin mereka lagi sampai mereka beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan semua laki-laki dan perempuan mereka masuk Islam dengan segera.
Baca selengkapnya
Usaid bin Hudhair berkata kepada Mush'ab dan As'ad, "Sesungguhnya di belakangku ada seorang lelaki yang jika ia mengikuti kalian berdua, pasti tidak ada seorang pun dari kaumnya yang tidak mau mengikuti agama kalian. Sekarang juga aku akan kirim Sa'd bin Mu'adz kepada kalian." Ia mengambil tombaknya dan menemui Sa'd bin Mu'adz yang bersama kaumnya sedang duduk di ruang pertemuan. Melihat Usaid datang, Sa'd berkata, "Demi Tuhan, wajah Usaid bin Hudhair kini berbeda dengan wajahnya yang tadi."
Ketika Usaid tiba, Sa'd bertanya apa yang telah terjadi. Usaid menjawab, "Aku telah mendebat kedua orang itu. Demi Allah, keduanya tidak membahayakan siapa-siapa dan tidak melawan. Keduanya berkata, 'Kami lakukan apa yang engkau sukai.'" Usaid menyampaikan juga kabar bahwa Bani Haritsah memburu As'ad bin Zurarah untuk dibunuh, karena mereka tahu As'ad adalah sepupu Sa'd. Karena itu, menurut kabar itu, mereka ingin membatalkan perjanjian dengan Sa'd.7
Sa'd berdiri sambil menahan marah karena tindakan Bani Haritsah itu. Ia merebut tombak dari tangan Usaid sambil berkata, "Demi Allah, aku melihatmu tidak melakukan apa-apa." Ia bergegas menuju Mush'ab dan As'ad, dan di sana melihat keduanya tenang-tenang saja. Ia pun sadar bahwa Usaid menginginkan dirinya mendengar langsung perkataan Mush'ab dan As'ad, bukan sekadar kabar tentang mereka. Sa'd berdiri di depan keduanya dengan marah dan berkata kepada As'ad, "Hai Abu Umamah, demi Allah, kalau saja kau bukan sepupuku, pasti kuhajar engkau. Kenapa engkau membawa sesuatu yang dibenci ke kelompok tempat tinggal kita?"
Sebelum itu As'ad telah berkata kepada Mush'ab, "Wahai Mush'ab, demi Allah, orang ini mempunyai pengikut yang banyak di belakangnya. Apabila ia mengikutimu, tidak akan tersisa satu orang pun dari kaumnya kecuali ikut mengikutinya." Mush'ab berkata kepada Sa'd, "Mengapa engkau tidak duduk dan mendengar penjelasanku? Bila engkau suka, kau terima, dan jika tidak, tidak usah kau hiraukan." Sa'd berkata, "Itu benar."
Sa'd meletakkan tombaknya di tanah dan duduk. Mush'ab menerangkan Islam dan membacakan Al-Qur'an kepadanya. Kedua orang itu berkata, "Demi Allah, kami lihat hidayah di wajahnya sebelum ia berbicara, karena wajahnya bercahaya dan tampak ramah." Sa'd bertanya, "Apa yang kalian lakukan jika kalian ingin memeluk Islam?" Mereka menjawab dengan langkah yang sama seperti kepada Usaid: mandi, berwudhu, menyucikan pakaian, mengucapkan dua kalimat syahadat, lalu shalat. Sa'd mandi, berwudhu, menyucikan bajunya, bersyahadat, dan shalat dua rakaat, lalu mengambil tombaknya dan pergi ke tempat berkumpul kaumnya bersama Usaid.
Melihat kedatangannya, kaumnya berkata, "Demi Allah, wajah Sa'd bin Mu'adz telah berubah." Sa'd bertanya, "Wahai Bani 'Abdul Asyhal, apa kalian tahu posisiku di tengah kalian saat ini?" Mereka menjawab, "Ya, engkau pemimpin kami, orang yang paling suka menjalin silaturahim, paling benar pendapatnya, dan paling baik pertimbangannya." Sa'd berkata, "Sesungguhnya aku tidak akan bisa memimpin kalian lagi sampai kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya." Riwayat itu menyebut: "Demi Allah, pada saat itu semua laki-laki dan perempuan masuk Islam dengan segera."
As'ad dan Mush'ab pulang ke rumah As'ad. Mush'ab menetap di sana untuk menyeru Bani 'Abdul Asyhal kepada Islam sampai mereka semua memeluk Islam. Saat itu ada beberapa perkampungan yang belum masuk Islam: Bani Umayyah bin Zaid, Khathamah, Wa'il, dan Waqif. Warga kampung-kampung itu berasal dari Ausullah, sedangkan yang masuk Islam berasal dari al-Aus bin Haritsah. Sebab mereka tidak masuk Islam adalah segan kepada Abu Qais al-Aslat, seorang penyair sekaligus pemimpin mereka, yang sangat mereka patuhi.
- Abu Qais al-Aslat
Syair Abu Qais bin al-Aslat
Beberapa perkampungan belum masuk Islam karena segan kepada Abu Qais al-Aslat, penyair sekaligus pemimpin mereka. Ibnu Ishaq menyebut bahwa setelah Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah dan terjadi Perang Badar, Uhud, dan Khandaq, pandangan Abu Qais tentang Islam berubah, dan ia berkata dalam syairnya: bila bukan karena Tuhan mereka, mereka sudah menjadi Yahudi atau Kristen, dan agama mereka sejak awal penciptaan adalah hanif.
Baca selengkapnya
Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, hingga terjadi Perang Badar, Perang Uhud, dan Perang Khandaq. Pandangan Abu Qais bin al-Aslat tentang Islam, dan perbedaan pandangannya dengan orang-orang saat itu, telah berubah. Ia berkata dalam sebuah syairnya:1
- Wahai Tuhanberagam peristiwa telah terjadi, yang sulit dan yang mudah bercampur menjadi satu
- Wahai Tuhankujika kami tersesat, mudahkanlah kami ke jalan yang baik
- Jika bukan karena Tuhan kamikami pasti menjadi orang-orang Yahudi, dan agama Yahudi tidak memiliki bentuk
- Jika bukan karena Tuhan kamikami pasti menjadi orang-orang Kristen, bersama para pendeta di gunung al-Jalil
- Namun kala kami diciptakandi awal penciptaan, agama kami hanif, dari generasi ke generasi8
- Al-Barra' dan kiblat
Al-Barra' bin Ma'rur shalat menghadap Ka'bah dalam perjalanan
Mush'ab kembali ke Makkah, dan orang-orang Anshar yang sudah Muslim berhaji bersama kaum mereka yang masih musyrik. Dalam perjalanan, al-Barra' bin Ma'rur shalat menghadap Ka'bah, sedangkan yang lain menghadap Syam. Di Makkah ia bertanya kepada Rasulullah ﷺ, yang menjawab agar ia mengikuti kiblat beliau menghadap Syam. Ka'b bin Malik membantah keluarga al-Barra' yang mengatakan ia tetap menghadap Ka'bah sampai wafat.
Baca selengkapnya
Kemudian Mush'ab bin 'Umair kembali ke Makkah. Pada saat yang sama, orang-orang Anshar yang telah masuk Islam berangkat menunaikan haji bersama kaumnya yang masih musyrik. Ma'bad bin Ka'b bin Malik bin Abu Ka'b bin al-Qain, saudara Bani Salimah, bercerita kepadaku dari saudaranya 'Abdullah bin Ka'b, orang Anshar yang paling cerdas, dari ayahnya, Ka'b, yang ikut membaiat Rasulullah ﷺ pada 'Aqabah kedua. Ka'b berkata, "Kami menuju Makkah bersama para jamaah haji kaum kami yang saat itu masih musyrik. Sebelumnya kami telah shalat dan belajar tentang manasik haji."1
"Al-Barra' bin Ma'rur memimpin rombongan kami saat itu. Ketika kami akan berangkat, ia berkata, 'Wahai kaumku, demi Allah, aku ingin bicara dengan kalian mengenai pandanganku. Aku tidak tahu, apakah kalian sepakat denganku atau tidak.' Kami bertanya, 'Apa itu?' Ia berkata, 'Aku berpandangan bahwa Ka'bah adalah pusat kiblat kita, dan aku tidak berhenti dari shalat menghadap kepadanya.' Kami berkata, 'Demi Allah, kenapa begitu? Bukankah kita sama-sama tahu bahwa Nabi ﷺ shalat menghadap Syam (yakni Baitul Maqdis), dan kami tidak ingin melakukan hal berbeda dengan beliau.' Al-Barra' berkata, 'Terserah kalian, aku akan tetap shalat menghadap Ka'bah.' Kami berkata, 'Terserah kaulah mau berbuat apa!' Bila waktu shalat tiba, kami shalat menghadap Syam, sementara al-Barra' menghadap Ka'bah, sampai kami tiba di Makkah. Kami semua mencela apa yang dilakukan al-Barra', tetapi ia tetap dengan pendiriannya."
"Setibanya di Makkah, al-Barra' berkata kepadaku, 'Wahai sepupuku, bagaimana kalau kita adukan masalah ini kepada Rasulullah ﷺ dan kita bertanya kepada beliau tentang perbuatanku selama dalam perjalanan? Karena demi Allah, aku melihat telah terjadi sesuatu pada diriku ketika aku melihat kalian menentang perintahku.' Kami lalu menghadap Rasulullah ﷺ. Sebelumnya kami tidak mengenal beliau dan belum pernah melihatnya. Kami berpapasan dengan seorang warga Makkah dan menanyakan keberadaan Rasulullah ﷺ. Ia bertanya, 'Apakah sebelumnya kalian sudah berjumpa dengannya?' Kami menjawab, 'Tidak.' Ia bertanya lagi, 'Apakah kalian kenal pamannya, al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib?' Kami menjawab, 'Ya,' karena ia sering datang menemui kami untuk berdagang. Orang itu berkata, 'Jika kalian masuk ke dalam masjid dan melihat seseorang bersama al-'Abbas, dialah yang sedang kalian cari.'"
"Kami masuk ke masjid dan menemukan al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib sedang duduk dengan Rasulullah ﷺ. Kami mengucapkan salam dan duduk. Rasulullah ﷺ bertanya kepada al-'Abbas, 'Hai Abu al-Fadhl, apakah engkau mengenali dua laki-laki ini?' Ia menjawab, 'Ya. Ini al-Barra' bin Ma'rur, tokoh di tengah kaumnya, sedangkan yang ini Ka'b bin Malik.' Demi Allah, aku tidak lupa akan pertanyaan Rasulullah ﷺ, 'Apakah Ka'b bin Malik, sang penyair itu?' Al-'Abbas menjawab, 'Benar.'"
"Al-Barra' berkata kepada Rasulullah ﷺ, 'Wahai Nabi Allah, aku berpendapat bahwa Ka'bah adalah kiblat yang sebenarnya, lalu aku shalat menghadap kepadanya. Sikapku itu malah ditentang oleh sahabat-sahabatku hingga terjadi sesuatu yang tidak enak dalam diriku. Bagaimana pendapatmu?' Rasulullah ﷺ bersabda, 'Engkau harus mengikuti kami menghadap Syam.' Al-Barra' pun kembali kepada kiblat Rasulullah ﷺ dan shalat bersama kami menghadap Syam. Keluarganya ada yang mengatakan al-Barra' tetap shalat menghadap Ka'bah hingga ia meninggal dunia. Namun semua ini tidak benar, karena kami lebih tahu tentang al-Barra' bin Ma'rur daripada mereka."
Ibnu Hisyam berkata bahwa 'Aun bin Ayyub al-Anshari berkata dalam syairnya: "Di tengah kami ada laki-laki pertama yang shalat menghadap Ka'bah ar-Rahman di antara tempat-tempat suci." Yang dimaksud laki-laki pertama itu adalah al-Barra' bin Ma'rur.9
- Menuju syi'b
'Abdullah bin 'Amr masuk Islam, dan tujuh puluh tiga orang menuju 'Aqabah
Ka'b dan kawan-kawan berjanji bertemu Rasulullah ﷺ di 'Aqabah pada pertengahan hari-hari Tasyriq. Mereka mengajak 'Abdullah bin 'Amr bin Haram (Abu Jabir) masuk Islam tanpa sepengetahuan kaum musyrik. Sepertiga malam berlalu, mereka keluar diam-diam "seperti jalannya kucing yang sembunyi-sembunyi" dan tiba di syi'b 'Aqabah: tujuh puluh tiga laki-laki dan dua wanita.
Baca selengkapnya
Ma'bad bin Ka'b bercerita bahwa saudaranya 'Abdullah bin Ka'b berkata kepadanya, dari ayahnya Ka'b bin Malik: "Lalu kami kembali melaksanakan manasik haji, dan kami berjanji akan menemui Rasulullah ﷺ di 'Aqabah pada pertengahan hari-hari Tasyriq. Setelah kami selesai berhaji, kami menemui 'Abdullah bin 'Amr bin Haram, Abu Jabir. Ia salah seorang pemimpin yang terhormat di kalangan kami. Tanpa sepengetahuan kaum kami yang masih musyrik, kami berkata kepadanya, 'Hai Abu Jabir, engkau salah seorang pemimpin terhormat di kalangan kami. Kami tidak menginginkan kelak engkau dibakar oleh api neraka.' Kami menawarkan Islam kepadanya dan menerangkan janji Rasulullah ﷺ kepada kami untuk berjumpa di 'Aqabah. Alhamdulillah, ia masuk Islam dan hadir bersama kami di 'Aqabah."1
"Malam itu kami tidur bersama kaum kami di dalam rombongan kami. Hingga sepertiga malam berlalu, kami keluar dari tempat kami untuk bertemu Rasulullah ﷺ. Kami berjalan diam-diam seperti jalannya kucing yang sembunyi-sembunyi, hingga semua tiba di syi'b di 'Aqabah. Kami terdiri dari tujuh puluh tiga laki-laki dan dua wanita dari kalangan kami, yaitu Nasibah binti Ka'b, Ummu 'Imarah, salah seorang wanita Bani Mazin bin an-Najjar, dan Asma' binti 'Amr bin 'Adi bin Nabi, salah seorang wanita Bani Salimah, yang dikenal sebagai Ummu Mani'."10
- Pidato al-'Abbas
Al-'Abbas menegaskan kedudukan Rasulullah ﷺ di hadapan Anshar
Rasulullah ﷺ datang ditemani al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib, yang saat itu masih menganut agama kaumnya tetapi ingin menjaga keponakannya. Ia berbicara lebih dulu: Muhammad terlindungi dan terhormat di tengah kaumnya, tetapi lebih suka bergabung dengan kalian. Bila kalian yakin bisa melindunginya, lanjutkan. Bila tidak, biarkan dia sejak sekarang. Mereka menjawab bahwa mereka sudah mendengar, dan kini ingin mendengar ucapan Rasulullah ﷺ.
Baca selengkapnya
Ka'b melanjutkan: "Di syi'b itu kami menunggu kedatangan Rasulullah ﷺ. Beberapa waktu kemudian beliau tiba bersama al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib, yang saat itu masih menganut agama kaumnya, hanya saja ia ingin menjaga dan mengawal keponakannya dan memastikan apa yang terjadi. Setelah Rasulullah ﷺ duduk, al-'Abbas berkata lebih dulu: 'Wahai orang-orang al-Khazraj' (orang Arab menyebut perkampungan Anshar dengan nama al-Khazraj, baik al-Khazraj maupun al-Aus), 'sesungguhnya Muhammad adalah keluargaku. Kami telah melindunginya dari teror kaum kami. Ia berada dalam keadaan terhormat di tengah kaumnya dan mendapat jaminan keamanan di negerinya. Namun ia lebih suka berkumpul dan menyatu dengan kalian. Jika kalian yakin bisa melindunginya dari orang-orang yang menentangnya dan mengangkat tinggi-tinggi dakwahnya, silakan lanjutkan tugas kalian. Namun jika sebaliknya, kalian malah menelantarkannya setelah ia bergabung kepada kalian, maka sejak sekarang biarkanlah dia.'"
Kami menanggapi ucapan al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib, "Kami telah mendengar ucapanmu. Kini kami akan mendengarkan ucapan Rasulullah!"11
- Baiat kedua
Baiat Anshar kepada Rasulullah ﷺ: melindungi beliau seperti istri dan anak
Rasulullah ﷺ membuka dengan bacaan Al-Qur'an, mengajak mereka kepada Allah, lalu bersabda, "Aku membaiat kalian untuk melindungiku sebagaimana kalian melindungi istri-istri dan anak-anak kalian." Al-Barra' bin Ma'rur memegang tangan beliau dan menyatakan kesanggupan. Abu al-Haitsam bertanya apakah beliau akan meninggalkan mereka setelah dakwah berhasil. Beliau tersenyum dan menjawab, "Tidak. Darah dengan darah. Penghancuran dengan penghancuran." Lalu beliau meminta mereka menunjuk dua belas pemimpin.
Baca selengkapnya
Ka'b melanjutkan: Rasulullah ﷺ lalu berbicara. Beliau membuka ucapannya dengan bacaan Al-Qur'an, mengajak mereka kepada agama Allah dan mengharapkan kesungguhan keislaman mereka. Setelah itu beliau bersabda, "Aku membaiat kalian untuk melindungiku sebagaimana kalian melindungi istri-istri dan anak-anak kalian."
Al-Barra' bin Ma'rur memegang tangan Rasulullah ﷺ dan berkata, "Ya, demi Allah, kami pasti melindungimu sebagaimana kami melindungi istri-istri dan anak-anak kami. Demi Allah, kami ahli perang dan lihai menggunakan senjata. Kami wariskan pengetahuan dan keterampilan kami dari satu generasi kepada generasi lainnya."
Ketika al-Barra' sedang berbicara, Abu al-Haitsam bin at-Tayyahan menyela, "Wahai Rasulullah, sebelumnya kami memiliki hubungan dengan orang-orang Yahudi dan kini kami akan memutusnya. Jika kami telah berhasil melaksanakan misi dakwah ini, apakah engkau akan meninggalkan kami dan kembali kepada kaummu?" Rasulullah ﷺ tersenyum, lalu bersabda, "Tidak. Darah dengan darah. Penghancuran dengan penghancuran. Aku bagian dari kalian dan kalian bagian dari diriku. Aku memerangi siapa saja yang kalian perangi dan berdamai dengan orang-orang yang kalian berdamai dengan mereka."
Setelah itu Rasulullah ﷺ bersabda, "Tunjuk untukku dua belas pemimpin agar mereka menjadi pemimpin bagi kaumnya." Mereka menunjuk dua belas pemimpin dari antara mereka: sembilan dari al-Khazraj dan tiga dari al-Aus.12
- Dua belas pemimpin
Nama dua belas pemimpin (naqib)
Ibnu Hisyam mencatat sembilan naqib dari al-Khazraj dan tiga dari al-Aus. Rasulullah ﷺ bersabda kepada mereka bahwa mereka bertanggung jawab atas kaum mereka seperti Hawariyyun bertanggung jawab kepada 'Isa bin Maryam, dan beliau bertanggung jawab atas kaumnya, yakni kaum Muslimin. Mereka menjawab, "Ya."
Baca selengkapnya
Ibnu Hisyam berkata, sebagaimana dikatakan kepadanya oleh Ziyad bin 'Abdullah al-Bakka'i dari Muhammad bin Ishaq al-Muththalibi, bahwa para naqib itu adalah:
- Dari al-Khazraj (1)Abu Umamah As'ad bin Zurarah
- Dari al-Khazraj (2)Sa'd bin ar-Rabi'
- Dari al-Khazraj (3)'Abdullah bin Rawahah
- Dari al-Khazraj (4)Rafi' bin Malik bin al-'Ajlan
- Dari al-Khazraj (5)al-Barra' bin Ma'rur
- Dari al-Khazraj (6)'Abdullah bin 'Amr bin Haram
- Dari al-Khazraj (7)'Ubadah bin ash-Shamit
- Dari al-Khazraj (8)Sa'd bin 'Ubadah
- Dari al-Khazraj (9)al-Mundzir bin 'Amr. Ibnu Hisyam: ada yang menyebutnya Ibnu Khunais
- Dari al-Aus (1)Usaid bin Hudhair
- Dari al-Aus (2)Sa'd bin Khaitsamah
- Dari al-Aus (3)Rifa'ah bin 'Abdul Mundzir
Para ulama memasukkan Abu al-Haitsam bin at-Tayyahan ke dalam kedua belas pemimpin itu dan tidak memasukkan Rifa'ah. Ka'b bin Malik juga memasukkan Abu al-Haitsam dan tidak memasukkan Rifa'ah dalam syairnya.5
'Abdullah bin Abu Bakar bercerita kepadaku bahwa Rasulullah ﷺ bersabda kepada para pemimpin itu, "Kalian harus bertanggung jawab atas apa saja yang terjadi di tengah kaum kalian sebagaimana Hawariyyun yang bertanggung jawab kepada 'Isa bin Maryam, dan aku bertanggung jawab atas kaumku, yakni kaum Muslimin." Mereka menjawab, "Ya."1
- Peringatan al-'Abbas bin 'Ubadah
Peringatan sebelum tangan terulur, dan siapa yang pertama berbaiat
Sebelum berbaiat, al-'Abbas bin 'Ubadah mengingatkan bahwa mereka berbaiat untuk memerangi orang berkulit merah dan hitam, dan bila takut hartanya hilang dan pemimpinnya tewas, lebih baik menyerah sejak sekarang. Mereka menjawab bahwa mereka mengambil beliau walau harta berkurang dan orang terhormat tewas, dan bertanya apa balasannya. Beliau menjawab, "Surga." Ibnu Ishaq mencatat tiga pendapat tentang siapa yang pertama berbaiat.
Baca selengkapnya
'Ashim bin 'Umar bin Qatadah bercerita kepadaku bahwa ketika orang-orang Anshar hendak membaiat Rasulullah ﷺ, al-'Abbas bin 'Ubadah bin Nadhlah al-Anshari, saudara Bani Salim bin 'Auf, berkata, "Wahai orang-orang al-Khazraj, apa kalian sadar dengan apa yang kalian lakukan ini?" Mereka menjawab, "Ya, kami sadar." Ia berkata, "Sesungguhnya kalian membaiat laki-laki ini untuk memerangi orang-orang berkulit merah dan orang-orang berkulit hitam. Jika kalian takut, gara-gara laki-laki ini harta kalian menjadi hilang dan pemimpin-pemimpin kalian tewas, maka menyerahlah kalian sejak sekarang. Demi Allah, jika kalian melakukan hal itu, kalian berada dalam kehinaan di dunia dan akhirat. Jika kalian yakin mampu mengemban misi ini walaupun hal tersebut mengurangi harta kalian dan menewaskan orang-orang terhormat kalian, ambillah dia. Demi Allah, inilah kebaikan di dunia dan akhirat."1
Mereka berkata, "Kami mengambilnya walaupun hal ini mengurangi harta kami dan menewaskan orang-orang terhormat di tengah kami. Jika kami melakukan hal tersebut, apa yang akan kami dapatkan, wahai Rasulullah?" Rasulullah ﷺ bersabda, "Surga." Mereka berkata, "Ulurkan tanganmu!" Rasulullah ﷺ mengulurkan tangannya, lalu mereka membaiat beliau.
'Ashim bin 'Umar bin Qatadah berkata, "Demi Allah, al-'Abbas berkata seperti itu untuk menguji mereka." 'Abdullah bin Abu Bakar berkata, "Al-'Abbas berkata seperti itu agar kaum Anshar menunda dulu membaiat Rasulullah ﷺ pada malam itu, dengan harapan 'Abdullah bin Ubay bin Salul akan datang kepada mereka, sehingga urusan kaum Anshar menjadi lebih kuat." Disebutkan pula, "Wallahu a'lam mana pendapat yang paling benar."
Salul adalah wanita dari Khuza'ah, ibu Ubay bin Malik bin al-Harits bin 'Ubaid bin Malik bin Salim bin Ghanim bin 'Auf bin al-Khazraj.5
Tentang siapa yang pertama berbaiat, Ibnu Ishaq berkata: Bani an-Najjar bercerita bahwa Abu Umamah As'ad bin Zurarah adalah orang yang pertama kali membaiat Rasulullah ﷺ, sedangkan orang-orang Bani 'Abdul Asyhal berpendapat bahwa Abu al-Haitsam bin at-Tayyahan-lah yang pertama. Ibnu Ishaq juga berkata: az-Zuhri bercerita bahwa Ma'bad bin Ka'b bin Malik meriwayatkan dari saudaranya, 'Abdullah bin Ka'b, dari ayahnya, Ka'b bin Malik: orang yang pertama kali membaiat Rasulullah ﷺ adalah al-Barra' bin Ma'rur, lalu diikuti kaum Anshar yang lain.
- Teriakan di 'Aqabah
Suara yang berteriak setelah baiat
Setelah Rasulullah ﷺ dibaiat, terdengar teriakan keras dari atas 'Aqabah yang memperingatkan penduduk al-Jabajib bahwa "Mudzammam" dan pengikutnya telah bersatu untuk memerangi mereka. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa itu Uzab, setan 'Aqabah, dan beliau menyatakan akan menghabisinya. Al-'Abbas bin 'Ubadah menawarkan menyerbu orang-orang di Mina esok pagi, tetapi beliau menyuruh mereka pulang ke tempat mereka.
Baca selengkapnya
Setelah Rasulullah ﷺ dibaiat, setan berteriak-teriak dari atas 'Aqabah dengan teriakan keras yang bisa didengar Ka'b, "Hai penduduk al-Jabajib, ketahuilah bahwa Mudzammam (maksudnya Muhammad ﷺ) dan orang-orang yang mengikutinya telah bersatu untuk memerangi kalian." Rasulullah ﷺ bersabda, "Ini Uzab, setan 'Aqabah. Ini anak Azyab. Dengarkan wahai musuh Allah, demi Allah, aku pasti akan menghabisimu."
Usai dibaiat, beliau bersabda kepada kaum Anshar, "Pulanglah ke tempat kalian." Al-'Abbas bin 'Ubadah bin Nadhlah berkata kepada beliau, "Demi Allah, jika engkau suka, kami akan mendatangi orang-orang di Mina dengan pedang-pedang kami ini." Beliau bersabda, "Jangan! Pulanglah kalian ke tempat kalian." Ka'b berkata, "Lalu kami pulang ke tempat tidur kami dan tidur di dalamnya hingga pagi menjelang."
- Pagi hari setelah baiat
Para pemuka Quraisy mendatangi perkemahan Khazraj
Esok harinya para pemuka Quraisy mendatangi perkemahan Khazraj dan berkata bahwa mereka mendengar kabar Muhammad dibaiat untuk memerangi mereka. Kaum musyrik Khazraj menyangkal, dan 'Abdullah bin Ubay bin Salul juga berkata bahwa kaumnya tidak akan melakukan itu. Al-Harits bin Hisyam melempar sandalnya kepada Ka'b.
Baca selengkapnya
Ka'b melanjutkan: keesokan harinya pemuka-pemuka Quraisy datang ke tempat kami. Mereka berkata, "Wahai orang-orang al-Khazraj, kami mendengar bahwa kalian telah menemui Muhammad untuk bergabung dengan kalian dan kalian membaiatnya untuk memerangi kami. Demi Allah, kalian adalah kabilah yang sangat kami benci." Kaum kami yang masih musyrik spontan berkata bahwa hal itu tidak terjadi. Saat itu kami saling memandang satu sama lain.
Kemudian orang-orang berdiri, termasuk al-Harits bin Hisyam bin al-Mughirah al-Makhzumi yang mengenakan sandal baru. Ka'b berkata kepadanya, "Wahai Abu Jabir, engkau salah seorang pemimpin kami, apakah engkau tidak mau membaiat Muhammad?" Al-Harits mendengar pertanyaan itu, lalu melepas kedua sandalnya dan melemparkannya kepada Ka'b. Ia berkata, "Demi Allah, engkau pasti sudah membaiatnya." Ia berkata lagi, "Demi Allah, engkau pasti melindungi anak muda Quraisy tersebut. Keluarlah kau dari agamanya!" Ka'b berkata, "Tidak, demi Allah, aku tidak akan mengembalikannya. Demi Allah, ini harapan yang baik. Jika harapan ini terbukti baik, aku pasti menang."
'Abdullah bin Abu Bakar berkata kepadaku bahwa orang-orang Quraisy juga berkata kepada 'Abdullah bin Ubay bin Salul seperti perkataan mereka kepada Ka'b. 'Abdullah bin Ubay menjawab, "Ini sebuah masalah besar. Kaumku tidak akan mengikuti kalian dan ini tidak akan terjadi." Mereka lalu pergi meninggalkannya.113
- Sa'd bin 'Ubadah
Sa'd bin 'Ubadah ditangkap Quraisy
Setelah jamaah haji meninggalkan Mina, Quraisy menyelidiki dan memastikan pertemuan itu benar. Mereka mengejar orang Anshar dan hanya dapat menangkap Sa'd bin 'Ubadah di Adzakhir, sedangkan al-Mundzir bin 'Amr tidak berani mereka seret. Sa'd diikat dan dibawa ke Makkah untuk disiksa, lalu dibebaskan oleh Jubair bin Muth'im dan al-Harits bin Harb.
Baca selengkapnya
Ketika jamaah haji bertolak meninggalkan Mina, orang-orang Quraisy dengan cepat menyelidiki pertemuan Rasulullah ﷺ dengan kaum Anshar, dan hasilnya pertemuan itu benar-benar terjadi. Mereka keluar mencari kaum Anshar dan berpapasan dengan Sa'd bin 'Ubadah dan al-Mundzir bin 'Amr, saudara Bani Sa'idah bin Ka'b bin al-Khazraj, di Adzakhir. Keduanya adalah pemimpin mereka. Terhadap al-Mundzir, orang-orang Quraisy tidak berani menyeretnya. Mereka malah menangkap Sa'd bin 'Ubadah, mengikatnya, dan membawanya ke Makkah untuk disiksa.1
Sa'd berkata: demi Allah, saat aku disiksa, tiba-tiba muncul sejumlah orang Quraisy, dan di antara mereka ada orang yang tampan, putih bersih, dan tinggi. Aku berkata dalam hati, "Sepertinya ia orang baik." Ketika orang itu sudah dekat, ia malah menamparku dengan keras. Aku berkata dalam diriku, "Setelah ini aku tidak percaya lagi kalau ada di antara mereka orang baik." Tiba-tiba salah seorang dari mereka merasa iba kepadaku dan bertanya, "Apakah engkau mempunyai perlindungan dan perjanjian dengan orang-orang Quraisy?" Aku menjawab, "Demi Allah, tidak. Tapi seingatku, aku pernah melindungi bisnis Jubair bin Muth'im bin 'Adi bin Naufal bin 'Abdu Manaf di negeriku. Aku juga pernah melindungi al-Harits bin Harb bin Umayyah bin 'Abdu Syams bin 'Abdu Manaf." Orang itu berkata, "Kalau begitu, berteriaklah dengan kencang sambil menyebut dua nama itu, lalu beberkan hubunganmu dengan mereka." Aku melakukannya.
Orang itu pergi menemui Jubair bin Muth'im dan al-Harits bin Harb di masjid di samping Ka'bah dan berkata, "Ada orang al-Khazraj sedang disiksa di padang pasir. Ia mengaku mempunyai hubungan dengan kalian dan pernah melindungi kalian." Mereka bertanya siapa namanya. Orang itu menjawab, "Dia bernama Sa'd bin 'Ubadah." Keduanya berkata, "Benar. Demi Allah, dia pernah melindungi bisnis kami dan menjaganya dari orang-orang yang ingin berbuat zalim kepada kami di negerinya." Jubair dan al-Harits datang dan membebaskan Sa'd dari siksaan orang-orang Quraisy, sehingga ia bebas. Orang yang menamparnya adalah Suhail bin 'Amr, saudara Bani 'Amir bin Luay.
Orang yang merasa iba kepada Sa'd saat itu adalah Abu al-Bakhtari bin Hisyam.514
- Berhala 'Amr bin al-Jamuh
Berhala Manat milik 'Amr bin al-Jamuh
Sekembalinya ke Madinah, kaum Anshar mengumumkan keislaman mereka. 'Amr bin al-Jamuh, pemuka Bani Salimah, masih menyembah berhala kayu bernama Manat di rumahnya. Mu'adz bin Jabal dan Mu'adz bin 'Amr, yang sudah Muslim dan menghadiri baiat, setiap malam membuang berhala itu ke sumur. Setelah tiga malam, ia menggantungkan pedang pada berhala itu, tetapi tetap dibuang dan dikalungi bangkai anjing. Ia pun sadar dan masuk Islam.
Baca selengkapnya
Setibanya di Madinah, kaum Anshar langsung mengumumkan keislaman mereka. Di tengah kaum mereka masih tersisa orang-orang yang menyembah berhala, di antaranya 'Amr bin al-Jamuh bin Zaid bin Haram bin Ka'b bin Ghanim bin Ka'b bin Salimah. Anaknya, Mu'adz bin 'Amr, telah membaiat Rasulullah ﷺ pada baiat 'Aqabah. 'Amr bin al-Jamuh adalah salah seorang pemuka Bani Salimah dan orang terhormat di kalangan mereka. Ia membuat sebuah berhala kayu di rumahnya, yang ia beri nama Manat, seperti yang biasa dilakukan para pemimpin saat itu.1
Dua pemuda Bani Salimah, yaitu Mu'adz bin Jabal dan Mu'adz bin 'Amr, telah memeluk Islam bersama orang lainnya dan ikut menghadiri baiat 'Aqabah. Pada suatu malam mereka pergi ke berhala 'Amr bin al-Jamuh, mengambilnya, dan melemparkannya terjungkir kepala di bawah ke sumur Bani Salimah yang sering dijadikan tempat pembuangan kotoran manusia. Keesokan harinya 'Amr berkata, "Sialan, siapa yang telah ... tuhan kita tadi malam?" Ia mencari-cari berhalanya. Setelah menemukannya, ia membersihkan dan menghiasinya, lalu berkata, "Demi Allah, jika sampai aku tahu pelakunya, aku pasti menghajarnya."
Malam berikutnya, ketika 'Amr tidur, para pemuda itu kembali berbuat seperti malam sebelumnya. Pagi harinya 'Amr mendapati berhalanya penuh kotoran, lalu mencucinya, membersihkannya, dan menghiasinya. Kejadian itu terus terulang selama tiga malam berturut-turut. Setelah itu 'Amr pergi dengan menghunus pedang dan menggantungkannya di berhala itu. Ia berkata, "Demi Allah, aku tidak tahu siapa sebenarnya yang tega berbuat seperti ini terhadapmu. Jika engkau memang tuhan, lindungilah dirimu dengan pedang yang aku bawakan untukmu ini."
Pada malam harinya, ketika 'Amr telah tidur, para pemuda itu kembali melakukan hal yang serupa. Mereka mencopot pedang dari leher berhala itu, menggantinya dengan bangkai anjing yang diikat ke berhala itu dengan seutas tali, lalu melemparkannya ke salah satu sumur Bani Salimah yang menjadi tempat pembuangan kotoran manusia. Keesokan harinya 'Amr tidak mendapati berhalanya di tempatnya. Ia keluar rumah mencarinya, lalu menemukannya di dalam sumur, dikalungi bangkai anjing. Saat itulah ia sadar betapa tidak bergunanya berhala itu. Orang-orang dari kaumnya yang telah masuk Islam mengajaknya bicara, dan ia pun masuk Islam, semoga Allah merahmatinya. Keislamannya patut diacungi jempol. Setelah masuk Islam dan menyadari semua kekeliruannya, ia bersyukur kepada Allah yang telah menyelamatkannya dari kebutaan dan kesesatan:15
- Syarat baiat kedua
Syarat-syarat baiat 'Aqabah terakhir
Baiat 'Aqabah pertama disebut baiat kaum wanita karena Allah belum menetapkan kewajiban berperang. Ketika perang telah diwajibkan, kaum Anshar membaiat Rasulullah ﷺ di 'Aqabah kedua untuk memerangi orang-orang berkulit sawo matang dan merah. Beliau memberi syarat kepada mereka dan menjanjikan surga jika syarat itu dipenuhi.
Baca selengkapnya
Baiat 'Aqabah pertama dinamakan baiat kaum wanita karena Allah Ta'ala belum menetapkan kewajiban berperang kepada Rasul-Nya. Ketika Allah menetapkan kewajiban berperang dan kaum Anshar membaiat Rasulullah ﷺ di 'Aqabah kedua untuk memerangi orang-orang berkulit sawo matang dan merah, Rasulullah ﷺ memberi syarat-syarat kepada mereka dan menjanjikan surga jika syarat baiat itu dipenuhi.1
'Ubadah bin al-Walid bin 'Ubadah bin ash-Shamit bercerita kepadaku dari ayahnya, al-Walid, dari kakeknya, 'Ubadah bin ash-Shamit, salah seorang pemimpin pada baiat 'Aqabah pertama, yang berkata, "Kami membaiat Rasulullah ﷺ untuk berperang." 'Ubadah bin ash-Shamit adalah salah satu dari dua belas orang yang berbaiat kepada Rasulullah ﷺ di 'Aqabah pertama, untuk tetap mendengar dan bersabar dalam suka dan duka, saling tolong-menolong satu sama lain, berkata jujur di mana pun kita berada, dan tidak mempedulikan hinaan orang di jalan Allah.1
- Peserta 'Aqabah kedua
Daftar peserta baiat 'Aqabah kedua menurut Ibnu Ishaq
Ibnu Ishaq mendaftar mereka per kabilah: tujuh puluh tiga laki-laki dan dua wanita. Dengan hitungan kami sendiri dari jumlah tiap kelompok yang ia sebut, al-Aus berjumlah sebelas dan al-Khazraj enam puluh dua, jadi seluruhnya tujuh puluh tiga laki-laki.
Baca selengkapnya
Berikut ini nama-nama orang al-Aus dan al-Khazraj yang menghadiri baiat al-'Aqabah dan membaiat Rasulullah ﷺ di sana. Jumlah mereka tujuh puluh tiga laki-laki dan dua wanita. Ringkasan jumlah kelompok yang ia sebut:1
- Al-Aus, Bani 'Abdul Asyhaltiga orang: Usaid bin Hudhair, Abu al-Haitsam bin at-Tayyahan, Salimah bin Salamah
- Al-Aus, Bani Haritsahtiga orang: Zhuhair bin Rafi', Abu Bardah bin Niyar, Nuhair bin al-Haitsam
- Al-Aus, Bani 'Amr bin 'Auflima orang: Sa'd bin Khaitsamah, Rifa'ah bin 'Abdul Mundzir, 'Abdullah bin Jubair, Ma'n bin 'Adi, 'Uwaim bin Sa'idah
- Jumlah al-Aussebelas orang
- Al-Khazraj, Bani an-Najjarsebelas orang, terbagi enam dari Bani al-Khazraj bin Haritsah (Abu Ayyub, Mu'adz bin al-Harits, 'Auf, Mi'wadz, 'Umarah bin Hazm, As'ad bin Zurarah), satu dari Bani 'Amr bin Mabdzul (Sahl bin 'Atik), dua dari Bani 'Amr bin Malik (Aus bin Tsabit, Abu Thalhah), dan dua dari Bani Mazin (Qais bin Abu Sha'sha'ah, 'Amr bin Ghaziyyah)
- Al-Khazraj, Bani al-Harits bin al-Khazrajtujuh orang: Sa'd bin ar-Rabi', Kharijah bin Zaid, 'Abdullah bin Rawahah, Basyir bin Sa'd, 'Abdullah bin Zaid, Khallad bin Suwaid, 'Uqbah bin 'Amr
- Al-Khazraj, Bani Bayadhahtiga orang: Ziyad bin Labid, Farwah bin 'Amr, Khalid bin Qais
- Al-Khazraj, Bani Zuraiqempat orang: Rafi' bin Malik, Dzakwan bin 'Abdu Qais, 'Ubadah bin Qais, al-Harits bin Qais
- Al-Khazraj, Bani Salimah (cabang Bani 'Ubayd bin 'Adi)sebelas orang, dimulai dari al-Barra' bin Ma'rur
- Al-Khazraj, Bani Salimah (cabang Bani Sawwad)satu dari Bani Ka'b bin Sawwad (Ka'b bin Malik), lima dari Bani Ghanim bin Sawwad (Sulaim bin 'Amr, Quthbah bin 'Amir, Yazid Abu al-Mundzir, Abu al-Yasar Ka'b bin 'Amr, Shaifi bin Sawwad), dan lima dari Bani Nabi bin 'Amr (Tsa'labah bin Ghanimah, 'Amr bin Ghanimah, 'Abbas bin 'Amir, 'Abdullah bin Unais, Khalid bin 'Amir)
- Al-Khazraj, Bani Salimah (cabang Bani Haram)tujuh orang, di antaranya 'Abdullah bin 'Amr bin Haram, putranya Jabir bin 'Abdullah, dan Mu'adz bin Jabal
- Al-Khazraj, Bani Auf bin al-Khazraj, cabang Bani Salim bin Aufempat orang: 'Ubadah bin ash-Shamit, al-'Abbas bin 'Ubadah, Abu 'Abdurrahman bin Yazid, 'Amr bin al-Harits
- Al-Khazraj, Bani Salim bin Ghanim (Bani al-Hubla)dua orang: Rifa'ah bin 'Amr dan 'Uqbah bin Wahb. Ibnu Hisyam menyebut totalnya dua orang
- Al-Khazraj, Bani Sa'idah bin Ka'bdua orang: Sa'd bin 'Ubadah dan al-Mundzir bin 'Amr
Setelah menyebutkan semuanya, Ibnu Ishaq berkata: dengan demikian total orang yang ikut hadir dalam baiat 'Aqabah kedua dari al-Aus dan al-Khazraj adalah tujuh puluh tiga laki-laki dan dua perempuan.
Di sela daftar itu Ibnu Ishaq menyebut beberapa keterangan tentang peserta. Usaid bin Hudhair salah seorang pemimpin dan tidak ikut Perang Badar. 'Abdullah bin Jubair memimpin pasukan pemanah Rasulullah ﷺ pada Perang Uhud dan gugur sebagai syahid di sana. Ma'n bin 'Adi syahid pada Perang Yamamah pada masa Abu Bakar. Abu Ayyub (Khalid bin Zaid) syahid saat berjihad di wilayah Romawi pada masa Mu'awiyah bin Abu Sufyan. Mi'wadz bin al-Harits, yang mati syahid di Badar, adalah orang yang membunuh Abu Jahal bin Hisyam bin al-Mughirah. 'Abdullah bin Rawahah syahid di Perang Mu'tah sebagai panglima perang Rasulullah ﷺ. 'Abdullah bin Zaid adalah orang yang mengawali adzan shalat; ia datang kepada Rasulullah ﷺ yang kemudian menyuruhnya adzan. Khallad bin Suwaid syahid pada Perang Bani Quraizhah karena tertimpa batu besar dari salah satu istana Bani Quraizhah; Rasulullah ﷺ bersabda tentangnya, "Khallad mendapatkan dua pahala syahid." 'Uqbah bin 'Amr (Abu Mas'ud) adalah yang paling muda dari mereka yang ikut baiat 'Aqabah kedua, wafat pada masa Mu'awiyah, dan tidak ikut Perang Badar. Al-Barra' bin Ma'rur wafat sebelum Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, dan Bani Salimah mengklaim bahwa dialah yang pertama kali membaiat tangan Rasulullah ﷺ dan menentukan syarat kepada beliau. Mu'adz bin Jabal meninggal di 'Amwas pada tahun wabah penyakit lepra di Syam pada masa 'Umar bin al-Khaththab. Al-Mundzir bin 'Amr syahid di Bi'r Ma'unah sebagai panglima perang Rasulullah ﷺ. Al-'Abbas bin 'Ubadah dan 'Uqbah bin Wahb termasuk orang yang menemui Rasulullah ﷺ di Makkah lalu tinggal di sana, sehingga disebut muhajir sekaligus Anshar. Dzakwan bin 'Abdu Qais menemui beliau di Makkah lalu hijrah bersama beliau; ada yang berpendapat ia muhajir sekaligus Anshar.
- Dua wanita di 'Aqabah
Nasibah Ummu 'Imarah dan Asma' Ummu Mani'
Dua wanita ikut hadir: Nasibah binti Ka'b, Ummu 'Imarah, dan Asma' binti 'Amr, Ummu Mani'. Menurut sebagian ahli, kedua wanita itu ikut berbaiat tetapi Rasulullah ﷺ tidak menjabat tangan mereka; beliau hanya mengambil baiat mereka dan bersabda, "Pergilah, karena aku telah membaiat kalian." Ibnu Ishaq juga menuturkan kisah Ummu 'Imarah di Perang Yamamah.
Baca selengkapnya
Beberapa ahli menyatakan bahwa kedua wanita itu ikut membaiat Rasulullah ﷺ, namun beliau tidak menjabat tangan mereka dalam baiat. Beliau hanya mengambil baiat mereka. Setelah wanita-wanita itu menyatakan baiat, beliau bersabda, "Pergilah, karena aku telah membaiat kalian."1
Dari Bani Mazin bin an-Najjar adalah Nasibah binti Ka'b bin 'Amr bin 'Auf bin Mabdzul bin 'Amr bin Ghanim bin Mazin, yang dikenal dengan Ummu 'Imarah. Ia menyertai Rasulullah ﷺ dalam peperangan bersama saudara perempuannya, suaminya (Zaid bin 'Ashim bin Ka'b), dan kedua anaknya, Habib bin Zaid dan 'Abdullah bin Zaid. Habib ditawan oleh Musailamah al-Kadzdzab al-Hanafi, penguasa Yamamah. Musailamah bertanya kepadanya, "Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah?" Habib menjawab, "Ya." Musailamah bertanya, "Kalau begitu, apakah engkau juga bersaksi bahwa aku utusan Allah?" Habib menjawab, "Pergilah kau ke neraka." Setelah itu Musailamah memutilasi tubuh Habib hingga ia meninggal di tangannya. Setiap kali nama Rasulullah ﷺ disebutkan kepada Habib, ia menyatakan beriman kepada beliau dan mengucapkan shalawat untuk beliau. Setiap kali nama Musailamah disebutkan kepadanya, ia berkata, "Pergilah ia ke neraka."
Kemudian Ummu 'Imarah bersama kaum Muslimin berangkat menuju Yamamah. Ia terlibat langsung ke medan perang hingga Allah menewaskan Musailamah. Dari Yamamah ia pulang dengan membawa dua belas luka akibat tikaman dan pukulan senjata.
Kisah Ummu 'Imarah ini diceritakan kepadaku oleh Muhammad bin Yahya bin Hibban dari 'Abdullah bin 'Abdurrahman bin Abu Sha'sha'ah.1
Dari Bani Salimah adalah Ummu Mani', yang nama lengkapnya Asma' binti 'Amr bin 'Adi bin Nabi bin 'Amr bin Sawwad bin Ghanim bin Ka'b bin Salimah.1
Catatan
- Ibnu Ishaq.
- Kalimat daftar dalam terjemahan memuat frasa "Salah seorang dari mereka berasal dari Bani An-Najjar yang bernama Taimullah", yang tidak jelas merujuk pada siapa. Kami hanya menampilkan enam nama yang disebut berurutan sesudahnya dan tidak menafsirkan frasa itu. Nama Quthbah ditulis "bin 'Amr bin Hadidah" di sini dan "bin 'Amir bin Hadidah" pada daftar berikutnya; kami hanya menulis "Quthbah".
- Ibnu Ishaq. Sanad: Yazid bin Abu Habib bercerita kepadaku dari Abu Martsid bin 'Abdullah al-Yazani dari 'Abdurrahman bin 'Usailah ash-Shanabihi dari 'Ubadah bin ash-Shamit.
- Kalimat pembuka riwayat 'Abdurrahman bin Ka'b dalam terjemahan memuat kata "rabuan senja" yang maknanya tidak jelas. Kami tidak memuatnya dan tidak menebak maksudnya.
- Tambahan Ibnu Hisyam.
- Sebelum kalimat "Dia sepupuku ...", terjemahan memuat kalimat "Andai saja As'ad bin Zurarah warga kita, maka cukuplah aku saja yang menangani masalah ini", yang tidak sejalan dengan kalimat-kalimat sesudahnya. Kami tidak memuatnya dan tidak menafsirkannya.
- Dalam terjemahan, kalimat "Kami lakukan apa yang engkau sukai" dan kabar tentang Bani Haritsah berada dalam satu kutipan yang diawali "Keduanya berkata". Kami memisahkannya karena kalimat berikutnya menyebut kemarahan Sa'd muncul "karena tindakan Bani Haritsah seperti diceritakan Usaid bin Hudhair". Kata ganti "sepupuku" dan "denganmu" dalam kabar itu kami tuliskan sebagai "sepupu Sa'd" dan "dengan Sa'd", mengikuti siapa yang berbicara dan siapa yang diajak bicara pada kalimat itu.
- Dua baris terakhir syair dalam terjemahan tercetak rusak ("Kita giving hewan kurban berjalan dengan patuh / Dengan pundak terbuka dan kain penutup binatang"), dengan kata "giving" yang tidak terbaca. Kami tidak memuat kedua baris itu.
- Terjemahan mencetak pertanyaan Rasulullah ﷺ sebagai "Apakah Ka'ab bin Malikifeng penyair itu?". Kami membaca "Malikifeng" sebagai "Malik" karena nama yang disebut al-'Abbas pada kalimat sebelumnya adalah Ka'b bin Malik.
- Terjemahan menulis "Abu labir" dan "Ummu Mann'". Kami menulis "Abu Jabir" sesuai kalimat yang menyebut "'Abdullah bin 'Amr bin Haram Abu Jabir" pada paragraf yang sama, dan "Ummu Mani'" sesuai penulisan nama itu pada daftar peserta yang disebut kemudian.
- Bagian akhir pidato al-'Abbas dalam terjemahan tercetak rusak ("karena aia suaan ternormat ai tengan Kaumnya aan mendapatkan perlindungan dan keamanan dari kaumnya dan negerinya"). Kami hanya memuat bagian yang terbaca dan tidak menyusun ulang bagian yang rusak.
- Terjemahan menulis al-Barra' berkata "lihat dalam menggunakan senjata"; kami membacanya "lihai", mengikuti makna kalimat yang membicarakan keahlian menggunakan senjata. Terjemahan juga menulis Abu al-Haitsam "menentang pembicaraannya"; kami menulis "menyela", karena kalimat yang ia ucapkan berupa pertanyaan kepada Rasulullah ﷺ, dan Haykal menyebut ia berbicara sebelum al-Barra' selesai.
- Dalam terjemahan, Ka'b memanggil lawan bicaranya "Abu Jabir" tepat setelah kalimat yang menyebut al-Harits bin Hisyam, sedangkan Abu Jabir pada paragraf sebelumnya adalah 'Abdullah bin 'Amr bin Haram. Kami memuat kalimat itu apa adanya dan tidak menyimpulkan siapa yang diajak bicara, dan tidak pula apa yang dimaksud dengan "mengembalikannya".
- Terjemahan sekali menulis "Jubair bin Adi" dalam percakapan ini. Kami menulis "Jubair bin Muth'im" sesuai penyebutan lengkap pada kalimat-kalimat lainnya di bagian yang sama.
- Dalam terjemahan, kalimat "Sialan, siapa yang telah tuhan kita tadi malam?" tidak memiliki kata kerja; kami menandainya dengan "..." dan tidak menebaknya. Kalimat terakhir kisah ini berakhir dengan tanda titik dua tanpa bait yang dikutip; bait itu tidak ikut tercetak dan tidak kami tambahkan.
Catatan tambahan
Rantai nasab panjang pada daftar-daftar nama tidak kami muat penuh; yang ditampilkan nama orang dan kabilahnya. Pada nasab As'ad bin Zurarah di daftar pemimpin, terjemahan juga menulis "yang tidak lain adalah Taimullah bin Tsa'labah bin 'Amr bin al-Khazraj"; kalimat itu tidak kami tafsirkan.
Riwayat 'Abdurrahman bin Ka'b tentang shalat Jum'at di terjemahan memakai kata ganti "aku" dan memuat kalimat "Aku bergumam dalam diriku ... kenapa aku tidak bertanya saja kepadanya"; kami menuliskannya dengan kata ganti ketiga dan meringkas bagian itu tanpa mengubah isi pertanyaan dan jawabannya.
Salah ketik yang kami betulkan tanpa mengubah makna: "paniannya" menjadi "pamannya", "menemuikami" dan "untukberdagang" dipisah menjadi "menemui kami" dan "untuk berdagang", "tehormat" menjadi "terhormat" dan "untukberjumpa" menjadi "untuk berjumpa", "Al-Our'an" menjadi "Al-Qur'an" dan "mehjalankan" menjadi "menjalankan", serta "Mekah" menjadi "Makkah". Pilihan kata yang kami ganti agar terbaca: "ruang auditorium" menjadi "ruang pertemuan", "melakukan investigasi" menjadi "menyelidiki", dan "gosip" menjadi "kabar".
Penulisan nama mengikuti terjemahan: "Abu Bardah bin Niyar" dan "Abu al-Haitsam bin at-Tayyahan".
Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Izin berperang dan hijrah para sahabat ke Madinah, yang dalam buku langsung menyusul bagian ini, dibahas di bab berikutnya.