Isi bab ini
Bab ini menceritakan Rasulullah ﷺ menawarkan diri kepada kabilah-kabilah Arab pada musim haji: laki-laki yang mencegah mereka di Mina, Bani Kindah, Bani Kalb, Bani Hanifah, dan Bani 'Amir bin Sha'sha'ah, lalu pertemuan beliau dengan Suwaid bin Shamit dan rombongan Abu al-Haisar yang di dalamnya ada Iyas bin Mu'adz.
Musim haji
Beliau menawarkan diri kepada kabilah-kabilah Arab yang datang berhaji.
Bani Hanifah
Tidak ada orang Arab yang responsnya lebih buruk daripada Bani Hanifah.
Suwaid
Suwaid bin Shamit membawa Lembaran Hikmah Luqman dan berkata Al-Qur'an ucapan yang paling indah.
Iyas bin Mu'adz
Pemuda dari Madinah yang berkata ajakan beliau lebih baik daripada tujuan kedatangan mereka.
Makkah dan Madinah
Pilih salah satu langkah di daftar yang menyertai peta. Garis putus-putus adalah perkiraan, karena buku menyebut asal dan tujuan tetapi tidak menyebut jalurnya, dan batas negara masa kini hanya patokan.
Dari musim haji sampai Iyas bin Mu'adz
Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.
Perbedaan sumber
Abu Lahab. Ibnu Hisyam menyebut Abu Lahab dalam satu kejadian di Mina, ketika seseorang menyuruh sebuah kabilah meninggalkan beliau. Haykal menulis lebih umum: Abu Lahab tidak membiarkan beliau dan mengikutinya ke mana pun beliau pergi untuk mencegah orang mendengarkan. Keduanya sama-sama menyebut Abu Lahab.
Kabilah. Haykal juga menyebut Bani Kindah, Kalb, Hanifah, dan 'Amir bin Sha'sha'ah, dan menyebut sebagian menolak dengan cercaan, seperti Bani Hanifah. Ibnu Hisyam menyebut Bani Hanifah sebagai respons terburuk, tanpa menyebut cercaan.
Ucapan Iyas bin Mu'adz. Ibnu Hisyam: "demi Allah, ini jauh lebih baik dari tujuan kedatangan kita semula". Haykal: "ini, demi Allah, jauh lebih baik daripada agama kalian". Haykal menyebut rombongan itu pulang membawa satu orang yang masuk Islam, yaitu Iyas; Ibnu Hisyam menyebut kaumnya yakin ia wafat sebagai Muslim.
Suwaid bin Shamit. Keduanya menyebut Lembaran Hikmah Luqman. Ibnu Hisyam menulis Suwaid berkata "ini ucapan yang paling indah"; Haykal menulis "ini memang baik", dan menyebut ada kabar bahwa ia sudah Muslim ketika dibunuh orang al-Khazraj. Ibnu Hisyam menyebut kaumnya berkata ia dibunuh dalam keadaan Muslim.
- Musim haji
Menawarkan diri kepada kabilah-kabilah Arab
Rasulullah ﷺ pulang ke Makkah. Kaum beliau makin keras menentang, kecuali sebagian kecil orang lemah yang beriman. Pada musim haji beliau menawarkan diri kepada kabilah-kabilah Arab, mengajak mereka kepada agama Allah, dan meyakinkan mereka bahwa beliau adalah Nabi yang diutus.
Baca selengkapnya
Rasulullah ﷺ akhirnya pulang ke Makkah. Sementara kaum beliau semakin keras menentang agama beliau, kecuali sebagian kecil dari kalangan orang-orang lemah (mustadh'afin) yang telah beriman. Ketika musim haji tiba, Rasulullah ﷺ menawarkan diri kepada kabilah-kabilah Arab, sekaligus mengajak mereka kepada agama Allah, meyakinkan mereka bahwa beliau adalah Nabi yang diutus.1
- Di Mina
Seorang laki-laki menyuruh mereka tidak menaati beliau, dan itu pamannya
Rabi'ah bin 'Abbad, waktu remaja bersama ayahnya di Mina, melihat Rasulullah ﷺ berdiri di salah satu rumah kabilah Arab dan menyampaikan bahwa beliau diutus Allah kepada mereka untuk beribadah kepada-Nya tanpa menyekutukan-Nya. Seorang laki-laki menyuruh mereka meninggalkan beliau. Ayahnya tidak mengenal laki-laki itu, tetapi mengatakan bahwa itu pamannya, Abdul 'Uzza bin 'Abdul Muththalib, Abu Lahab.
Baca selengkapnya
Beberapa sahabat saya yang tidak saya ragukan kejujurannya menuturkan dari Zaid bin Aslam bin 'Abbad ad-Daili, atau dari orang yang menuturkan kepadanya, Abu az-Zinad.1
Rabi'ah bin 'Abbad. Husain bin 'Abdullah bin 'Ubaidillah bin 'Abbas bercerita kepadaku, aku mendengar Rabi'ah bin 'Abbad berkata: saat aku remaja, aku bersama ayahku di Mina. Ketika itu Rasulullah ﷺ berdiri di salah satu rumah kabilah Arab. Beliau bersabda, "Hai Bani Fulan, sesungguhnya aku diutus oleh Allah kepada kalian. Dia memerintahkan kalian untuk beribadah kepada-Nya, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, kalian harus meninggalkan tandingan-tandingan yang kalian sembah selain Allah, hendaklah kalian beriman kepadaku, membenarkanku dan melindungiku hingga dakwahku terangkat ke seluruh penjuru."2
Usai Rasulullah ﷺ berbicara dan menyerukan dakwah beliau, seseorang berkata, "Wahai Bani Fulan, sesungguhnya laki-laki ini mengajak kalian untuk meninggalkan Tuhan al-Lata dan al-'Uzza dari leher kalian, dan dari sekutu-sekutu kalian dari jin Bani Malik bin 'Aqiqisy, kepada bid'ah dan kesesatan yang dibawanya. Janganlah kalian taat kepadanya, jangan pula kalian tertipu dengan ucapannya." Aku bertanya kepada ayahku, "Ayah, siapakah orang yang berkata sebelum orang yang barusan tadi?" Ayah menjawab, "Aku tidak tahu. Yang aku tahu, pamannya yang bernama 'Abdul 'Uzza bin 'Abdul Muththalib, Abu Lahab."34
- Kindah dan Kalb
Bani Kindah dan Bani Kalb menolak
Menurut Ibnu Syihab, beliau mendatangi pemukiman Bani Kindah yang dipimpin Mulaih, mengajaknya kepada agama Allah, dan menawarkan diri, tetapi mereka menolak. Menurut Muhammad bin 'Abdurrahman, beliau juga mendatangi pemukiman Bani Kalb bernama kabilah 'Abdullah, menyeru dan menawarkan diri kepada mereka, tetapi mereka tidak menerimanya.
Baca selengkapnya
Ibnu Syihab berkata kepadaku bahwa Rasulullah ﷺ datang ke pemukiman mereka di Kindah. Mereka mempunyai pemimpin bernama Mulaih. Rasulullah ﷺ menyeru Mulaih kepada agama Allah dan menawarkan dirinya bergabung dengan mereka, namun mereka merespons negatif ajakan beliau. Ibnu Hisyam menyebut bait syair an-Nabighah ("Kau laksana unta dari Bani 'Uqays dengan kulit tua yang gemerincing di belakang betismu") di tempat ini.1
Muhammad bin 'Abdurrahman bin 'Abdullah bin Hushain berkata kepadaku bahwa Rasulullah ﷺ mendatangi salah satu pemukiman kabilah Bani Kalb, yang bernama kabilah 'Abdullah. Beliau menyeru mereka kepada agama Allah dan menawarkan diri kepada mereka. Beliau bersabda kepada mereka, "Hai Bani Fulan, sesungguhnya Allah telah memberi nama yang baik untuk para leluhur kalian." Sayangnya mereka tidak menerima tawaran beliau.
- Bani Hanifah
Respons terburuk dari Bani Hanifah
Menurut sebagian pakar dari 'Abdullah bin Ka'b bin Malik, beliau mendatangi Bani Hanifah di pemukiman mereka, mengajak mereka kepada agama Allah, dan menawarkan diri bergabung dengan mereka. Tidak ada orang Arab yang responsnya lebih buruk daripada respons mereka.
Baca selengkapnya
Sebagian pakar berkata kepadaku dari 'Abdullah bin Ka'b bin Malik bahwa Rasulullah ﷺ mendatangi Bani Hanifah di pemukiman mereka. Beliau menyeru mereka kepada agama Allah dan menawarkan diri bergabung dengan mereka, namun tidak ada orang Arab yang responsnya lebih buruk daripada respons mereka.1
- Bani 'Amir
Biharah bin Firas menolak dan orang tua yang menyesal
Menurut az-Zuhri, beliau mendatangi Bani 'Amir bin Sha'sha'ah. Biharah bin Firas berkata ia takut dihabisi orang Arab bila menerima beliau dari Quraisy. Ia bertanya, bila mereka berjanji setia dan Allah memenangkan beliau, apakah urusan itu menjadi milik mereka. Beliau menjawab semua urusan milik Allah. Ia menolak. Sepulang haji, seorang tua dari kabilah itu menyesal dan berkata bahwa keturunan Isma'il tidak pernah berdusta.
Baca selengkapnya
Az-Zuhri bercerita kepadaku: Rasulullah ﷺ mendatangi Bani 'Amir bin Sha'sha'ah untuk menyeru mereka kepada agama Allah dan menawarkan dirinya bergabung dengan mereka. Salah seorang dari mereka bernama Biharah bin Firas (Ibnu Hisyam berkata: Firas adalah anak 'Abdullah bin Salamah bin Qusyair bin Ka'b bin Rabi'ah bin 'Amir bin Sha'sha'ah). Ia berkata, "Demi Allah, andaikata aku menerima pemuda ini dari orang-orang Quraisy, aku pasti dihabisi orang-orang Arab." Biharah bin Firas berkata kepada beliau, "Bagaimana menurutmu jika kami berjanji setia padamu untuk mengikuti agamamu, kemudian Allah menaklukkan orang-orang yang menentangmu, apakah setelah itu urusan ini menjadi milik kami?" Rasulullah ﷺ bersabda, "Semua urusan itu milik Allah. Terserah Dia mau berbuat apa!" Biharah berkata, "Apakah engkau menginginkan leher-leher kami disembelih orang-orang Arab hanya karena membelamu, kemudian jika Allah memenangkanmu, maka urusan ini menjadi milik orang lain selain kami? Kami tidak butuh urusanmu." Mereka menolak tawaran beliau.1
Setelah para jamaah haji menyelesaikan ibadah haji mereka dan pulang ke negerinya masing-masing, termasuk Bani 'Amir, mereka pulang menemui sesepuh mereka yang telah lansia dan tidak bisa ikut haji. Apabila mereka pulang dari haji, mereka bercerita kepadanya tentang semua peristiwa yang terjadi di musim haji. Tatkala mereka tiba dan bertemu kembali dengan orang tua itu, ia bertanya tentang peristiwa-peristiwa musim haji tahun itu. Mereka menjawab, "Ada anak pemuda Quraisy dari Bani 'Abdul Muththalib datang kepada kami. Ia mengaku sebagai nabi, ia memohon agar kami melindunginya, berpihak kepadanya, dan membawanya ke negeri kita." Orang tua itu meletakkan kedua tangannya di atas kepalanya, kemudian berkata, "Hai Bani 'Amir, apakah dia masih ada di sana? Kalian telah menyia-nyiakan apa yang datang kepada kalian! Demi Tuhan, sesungguhnya anak keturunan Isma'il itu tidak pernah sekali pun berdusta dalam perkataannya. Perkataannya selalu benar. Di mana kecerdasan kalian yang selama ini kalian miliki?"5
- Suwaid
Suwaid bin Shamit dari Madinah dan Lembaran Hikmah Luqman
Suwaid bin Shamit, saudara Bani 'Amr bin 'Auf, datang ke Makkah untuk haji atau umrah dan dijuluki al-Kamil karena kegigihan, puisi, dan nasabnya. Rasulullah ﷺ mengajaknya kepada Islam. Ia membawa Lembaran Hikmah Luqman, dan beliau berkata itu ucapan yang indah tetapi yang beliau miliki lebih indah: Al-Qur'an. Suwaid berkata itu ucapan yang paling indah, lalu kembali ke Madinah. Tak lama kemudian ia dibunuh orang-orang al-Khazraj, sebelum Perang Bu'ats; kaumnya berkata ia dibunuh dalam keadaan Muslim.

Masjid Nabawi di Madinah, kondisi sekarang (foto 16 Agustus 2018), dilihat dari balik kisi berbentuk bintang. Gambaran kota Madinah, bukan peristiwa di bab ini.Foto: Adli Wahid · CC BY-SA 4.0 · Wikimedia Commons Baca selengkapnya
'Ashim bin 'Umar bin Qatadah al-Anshari azh-Zhafari berkata kepadaku dari sesepuh kaumnya: Suwaid bin Shamit, saudara Bani 'Amr bin 'Auf, mendatangi Makkah untuk melaksanakan ibadah haji atau umrah. Di tengah kaumnya Suwaid dipanggil dengan al-Kamil, karena kegigihannya, puisi-puisinya, dan nasabnya.1
Tatkala Rasulullah ﷺ mendengar kedatangan Suwaid bin Shamit, beliau menemuinya dan menyerunya kepada agama Allah, Islam. Suwaid berkata kepada beliau, "Apakah yang engkau bawa itu memiliki kesamaan dengan apa yang aku bawa?" Beliau berkata kepada Suwaid, "Memangnya apa yang engkau bawa?" Suwaid berkata, "Lembaran Hikmah Luqman." Beliau berkata, "Sudikah kau perlihatkan lembaran itu kepadaku!" Suwaid memperlihatkannya, kemudian beliau bersabda, "Ini ucapan yang indah, namun apa yang aku miliki jauh lebih indah. Ia adalah Al-Qur'an yang diturunkan Allah kepadaku. Al-Qur'an adalah petunjuk dan nur." Kemudian beliau membacakan Al-Qur'an kepada Suwaid dan mengajaknya kepada Islam. Suwaid tidak membantah beliau. Suwaid berkata, "Sesungguhnya ini ucapan yang paling indah." Setelah itu Suwaid pamit kepada beliau dan kembali ke Madinah untuk bertemu dengan kaumnya. Tak berapa lama kemudian Suwaid dihabisi orang-orang al-Khazraj. Orang-orang dari kaumnya berkata, "Sesungguhnya ia dibunuh dalam keadaan Muslim." Pembunuhan ini terjadi sebelum Perang Bu'ats.
- Iyas bin Mu'adz
Iyas bin Mu'adz, pemuda Bani 'Abdul Asyhal
Abu al-Haisar Anas bin Rafi' datang ke Makkah bersama pemuda-pemuda Bani 'Abdul Asyhal, termasuk Iyas bin Mu'adz, untuk mencari sekutu dari Quraisy menghadapi al-Khazraj. Rasulullah ﷺ menemui mereka, menawarkan kebaikan yang lebih baik daripada tujuan mereka, dan membacakan Al-Qur'an. Iyas berkata itu lebih baik dari tujuan mereka datang, tetapi Abu al-Haisar menaburkan tanah ke wajahnya dan menyuruhnya diam. Mereka pulang ke Madinah, lalu terjadi Perang Bu'ats antara al-Aus dan al-Khazraj. Tak lama kemudian Iyas wafat dan kaumnya yakin ia wafat sebagai Muslim.
Baca selengkapnya
Al-Hushain bin 'Abdurrahman bin 'Amr bin Sa'd bin Mu'adz bercerita kepadaku dari Mahmud bin Labid: ketika Abu al-Haisar Anas bin Rafi' tiba di Makkah bersama anak-anak muda dari Bani 'Abdul Asyhal, termasuk Iyas bin Mu'adz, untuk mencari sekutu dari orang-orang Quraisy dalam menghadapi kaumnya dari al-Khazraj, Rasulullah ﷺ mendengar kedatangan mereka. Beliau datang menemui mereka dan duduk berbincang bersama mereka. Beliau bersabda, "Maukah kalian menerima kebaikan yang jauh lebih baik daripada tujuan kedatangan kalian ke tempat ini?" Mereka bertanya, "Apa itu?" Beliau bersabda, "Aku adalah utusan Allah yang diutus kepada hamba-hamba-Nya, untuk menyeru mereka menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun, dan Allah telah menurunkan Al-Kitab kepadaku." Kemudian beliau menjelaskan tentang Islam dan membacakan Al-Qur'an kepada mereka.1
Iyas bin Mu'adz, seorang pemuda di antara mereka, berkata, "Wahai kaumku, demi Allah, ini jauh lebih baik dari tujuan kedatangan kita semula." Abu al-Haisar Anas bin Rafi' lalu mengambil segenggam tanah kotor di bawah kakinya, menaburkannya ke wajah Iyas bin Mu'adz, dan berkata, "Diam! Siapa yang menyuruhmu bicara! Aku bersumpah kami datang ke tempat ini bukan untuk keperluan itu!" Mendengar itu Iyas diam. Kemudian Rasulullah ﷺ pergi meninggalkan mereka, sedangkan mereka kembali pulang ke Madinah. Saat itulah terjadi Perang Bu'ats antara al-Aus dan al-Khazraj. Tak lama kemudian Iyas bin Mu'adz berpulang menghadap Tuhannya.
Mahmud bin Labid berkata: saat kematiannya, kaumnya selalu mendengarnya mengucapkan tahlil, takbir, tahmid, dan tasbih hingga ia wafat. Mereka yakin sekali bahwa Iyas bin Mu'adz meninggal dunia dalam keadaan Muslim. Ia merasa sudah masuk Islam sejak pertemuannya dengan Rasulullah dan ketika mendengar apa yang disampaikan Rasulullah ﷺ pada waktu itu.
Catatan
- Ibnu Ishaq.
- Tambahan Ibnu Hisyam.
- Terjemahan memuat kalimat "Zaid bin Aslam bin Abbad al-Daili atau dari orang yang menuturkan padanya Abu Zinad, Ibnu Hisyam berkata: Rabi'ah bin Abbad", yang rangkaian perawinya tercetak kacau. Kami tidak menyusunnya ulang; yang kami pastikan hanya bahwa penutur kisah ini adalah Rabi'ah bin 'Abbad.
- (1) Terjemahan memuat "aku mendengar Rabi'ah bin Abbad yang pernah berbicara dengan ayahku yang berkata: Saat aku remaja ..."; kami menuliskannya "aku mendengar Rabi'ah bin 'Abbad berkata: saat aku remaja ..." supaya terbaca. (2) Terjemahan menulis "orang tersebut" untuk orang yang mencela beliau; kami menuliskannya "seseorang", dan tidak menambahkan keterangan tempatnya. (3) Terjemahan menulis bahwa beliau "menawarkan jasa" kepada kabilah-kabilah (bagian pembuka bab); kami menuliskannya "menawarkan diri", sama dengan kalimat-kalimat berikutnya di buku.
- Terjemahan menulis ucapan Biharah "andaikata aku menerima pemuda ini oleh orang-orang Quraisy". Kami menuliskannya "dari orang-orang Quraisy" karena kata "oleh" membuat kalimat tidak terbaca.
Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Orang-orang Anshar yang masuk Islam, yang dalam buku langsung menyusul bagian ini, dibahas di bab berikutnya.