Pusat Sejarah Islam
Bab 24 dari 55

Dakwah ke Thaif

Nabi menemui tiga pemuka Tsaqif di Thaif, tetapi malah diusir. Beliau berteduh di kebun 'Utbah dan Syaibah dan bertemu 'Addas. Dalam perjalanan pulang, di Nakhlah, serombongan jin mendengarkan bacaan beliau.

sesudah wafat Abu ThalibSumber: Ibnu Hisyam
Sekilas

Isi bab ini

Bab ini menceritakan perjalanan Rasulullah ﷺ sendirian ke Thaif setelah Abu Thalib wafat, penolakan tiga bersaudara pemimpin Tsaqif, kebun 'Utbah dan Syaibah serta 'Addas dari Ninawa, dan tujuh jin dari Nashibin yang mendengar bacaan beliau di Nakhlah.

Ke Thaif

Beliau pergi sendirian ke Thaif mencari pertolongan dan perlindungan Tsaqif.

Tiga bersaudara

Pemimpin Tsaqif menolak, lalu mengerahkan orang bodoh dan budak untuk mencaci beliau.

'Addas

Budak Kristen dari Ninawa mencium tangan dan kaki beliau setelah mendengar beliau menyebut Yunus bin Matta.

Jin Nashibin

Di Nakhlah, tujuh jin dari Nashibin mendengar bacaan beliau dan beriman.

Peta

Makkah dan Thaif

Pilih salah satu langkah di daftar yang menyertai peta. Garis putus-putus adalah perkiraan, karena buku menyebut asal dan tujuan tetapi tidak menyebut jalurnya, dan batas negara masa kini hanya patokan.

Makkah dan Thaif
Tempat yang disebut Ibnu HisyamPerjalanan (garis perkiraan)
    Alur kisah

    Dari Makkah ke Thaif dan pulang

    Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.

    Perbedaan sumber

    Waktu. Ibnu Hisyam tidak menyebut tahun; ia menempatkan perjalanan ini setelah wafatnya Abu Thalib, yang ia sebut tiga tahun sebelum hijrah. Judul bab Haykal yang memuat bagian ini menulis 628 M, padahal bagian itu sendiri berada sebelum hijrah. Khan menulis bahwa beliau dilempari di Thaif 19 tahun sebelum pengepungan Thaif; menurut urutan peristiwa kedua sumber, selisihnya sekitar sebelas tahun (hitungan kami sendiri).

    Perlakuan Tsaqif. Ibnu Hisyam menyebut Tsaqif mengerahkan orang bodoh dan budak untuk mencaci-maki beliau dan mengepungnya. Haykal menyebut mereka mengirim pelayan untuk menghina dan mengusir beliau. Khan menyebut beliau dilempari batu hingga terluka. Haykal dan Ibnu Hisyam sama-sama menyebut beliau pergi sendirian.

    1. Ke Thaif

      Rasulullah ﷺ pergi sendirian ke Thaif mencari perlindungan Tsaqif

      Setelah Abu Thalib wafat, Quraisy semakin mengganggu beliau, tidak seperti gangguan semasa Abu Thalib hidup. Beliau pergi ke Thaif untuk mencari pertolongan dan perlindungan dari Tsaqif, dengan harapan mereka menerima apa yang beliau bawa dari Allah. Beliau pergi sendirian.

      Pegunungan al-Hada di dekat Thaif saat senja
      Pegunungan al-Hada di dekat Thaif, Arab Saudi, kondisi sekarang (foto 5 Januari 2021). Gambaran lanskap pegunungan di sekitar Thaif, bukan lokasi peristiwa.Foto: Richard Mortel · CC BY 2.0 · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Tatkala Abu Thalib wafat, orang-orang Quraisy semakin mengganggu Rasulullah ﷺ, tidak sebagaimana gangguan yang mereka lakukan semasa Abu Thalib hidup. Kondisi ini memaksa Rasulullah ﷺ pergi ke Thaif untuk mencari pertolongan dan perlindungan dari Tsaqif atas serangan yang dilancarkan kaum Quraisy, dengan harapan mereka menerima apa yang beliau bawa dari Allah. Rasulullah ﷺ pergi sendirian ke sana.12

    2. Tsaqif

      Tiga bersaudara pemimpin Tsaqif menolak

      Menurut Muhammad bin Ka'b al-Qurazhi, di Thaif beliau menemui tiga bersaudara pemimpin Tsaqif: 'Abdu Yalail, Mas'ud, dan Habib, putra 'Amr bin 'Umair. Salah seorang dari mereka beristrikan wanita Quraisy. Beliau mengajak mereka dan meminta bantuan menegakkan Islam dan berjuang menghadapi kaumnya, tetapi mereka bertiga menolak dengan kata-kata kasar. Beliau pergi putus asa terhadap kebaikan Tsaqif.

      Baca selengkapnya

      Yazid bin Ziyad berkata kepadaku dari Muhammad bin Ka'b al-Qurazhi: setibanya di Thaif, Rasulullah ﷺ menemui pemimpin-pemimpin Tsaqif dan tokoh-tokoh mereka. Orang-orang tersebut adalah tiga bersaudara: 'Abdu Yalail bin 'Amr bin 'Umair, Mas'ud bin 'Amr bin 'Umair, dan Habib bin 'Amr bin 'Umair bin 'Auf bin 'Aqdah bin Ghirah bin 'Auf bin Tsaqif. Salah seorang dari mereka bertiga beristrikan wanita dari Quraisy. Rasulullah ﷺ mendatangi mereka, berdakwah kepada mereka, dan berdialog dengan mereka tentang tujuan kedatangannya, yaitu mencari orang yang bersedia menolongnya menegakkan Islam dan berjuang bersama beliau dalam menghadapi kaumnya yang menentangnya.1

      Salah seorang dari mereka bertiga berkata, "Saya akan merobek kain Ka'bah jika benar kau adalah utusan-Nya." Orang kedua berkata, "Apakah Allah tidak mendapatkan orang lain yang bisa diutus selain dirimu?" Orang ketiga berkata, "Demi Allah, aku tidak akan bercakap-cakap denganmu." Kemudian Rasulullah ﷺ pergi dari tempat mereka dalam keadaan putus asa akan kebaikan orang-orang Tsaqif.

      Mereka malah mengerahkan orang-orang bodoh dan budak-budak mereka untuk mencaci-maki Rasulullah ﷺ. Mereka mengepung beliau dan membuatnya terpaksa berlindung di sebuah kebun milik 'Utbah bin Rabi'ah dan Syaibah bin Rabi'ah yang pada saat itu sedang berada di dalamnya. Orang-orang yang mengejar beliau pun kembali pulang.3

    3. Kebun anggur

      Kebun 'Utbah dan Syaibah, dan setandan anggur dari 'Addas

      Beliau berteduh di bawah pohon anggur dan duduk di sana. Kedua putra Rabi'ah melihat apa yang beliau terima dari penduduk Thaif, dan hati mereka tersentuh. Mereka menyuruh budak Kristen bernama 'Addas membawakan setandan anggur. Beliau mengucapkan "Bismillah" lalu memakannya, dan 'Addas heran karena belum pernah mendengar penduduk negeri itu mengucapkannya.

      Baca selengkapnya

      Rasulullah ﷺ pergi berteduh di bawah sebuah pohon anggur dan duduk di sana. Kedua anak Rabi'ah melihat dan menyaksikan apa yang beliau terima dari penduduk Thaif yang bodoh. Ketika kedua anak Rabi'ah melihat beliau dan apa yang beliau alami, hati nurani keduanya terketuk. Mereka memanggil seorang budak Kristen bernama 'Addas dan berkata kepadanya, "Ambillah setandan anggur, lalu berilah kepada orang itu agar ia memakannya." 'Addas mengerjakan perintah kedua anak Rabi'ah itu. Lalu ia pergi menemui beliau dan meletakkan piring berisi anggur di depan beliau. 'Addas berkata, "Makanlah!" Ketika Rasulullah ﷺ meletakkan tangannya di atas piring tersebut, beliau berkata, "Bismillah" (dengan nama Allah). Kemudian beliau memakannya.

      'Addas memandang wajah beliau lalu berkata, "Demi Allah, aku belum pernah mendengar penduduk negeri ini mengucapkan hal itu." Rasulullah ﷺ bertanya kepada 'Addas, "Berasal dari negeri manakah engkau wahai 'Addas? Apa agamamu?" 'Addas menjawab, "Aku seorang Kristen dan berasal dari negeri Ninawa."4

    4. 'Addas

      'Addas dari Ninawa, dan saudara beliau Yunus bin Matta

      Rasulullah ﷺ bertanya apakah 'Addas dari desa orang shalih Yunus bin Matta. 'Addas bertanya apa yang beliau ketahui tentang Yunus. Beliau menjawab bahwa Yunus saudaranya: ia seorang nabi dan beliau juga seorang nabi. 'Addas bersimpuh, mencium kepala, kedua tangan, dan kedua kaki beliau. Kedua anak Rabi'ah menegurnya dan memintanya tidak berpaling dari agamanya, tetapi 'Addas berkata tidak ada yang lebih membahagiakannya daripada yang baru ia lakukan, sebab beliau seorang nabi.

      Baca selengkapnya

      Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya, "Dari desa orang shalih yang bernama Yunus bin Matta?" 'Addas berkata, "Apa yang engkau ketahui tentang Yunus bin Matta?" Rasulullah ﷺ menjawab, "Dia saudaraku, ia seorang nabi, aku juga seorang nabi."

      'Addas bersimpuh di depan Rasulullah ﷺ, mencium kepala, kedua tangan, dan kedua kaki beliau. Salah seorang anak Rabi'ah berkata kepada saudaranya, "Budakmu itu telah dicuci otak oleh Muhammad." Ketika 'Addas tiba di tempat kedua anak Rabi'ah, keduanya bertanya kepadanya, "Sialan kau 'Addas, kenapa engkau mencium kedua tangan dan kedua kakinya?" 'Addas menjawab, "Di dunia ini tidak ada sesuatu yang lebih membahagiakanku daripada apa yang baru aku kerjakan tadi. Sebab ia adalah seorang nabi." Kedua anak Rabi'ah berkata kepada 'Addas, "Sadarlah, wahai 'Addas, janganlah engkau dibuat berpaling dari agamamu, karena agamamu jauh lebih baik ketimbang agamanya."

    5. Jin Nashibin

      Di Nakhlah, tujuh jin dari Nashibin mendengar bacaan beliau

      Rasulullah ﷺ meninggalkan Thaif dan pulang ke Makkah. Di Nakhlah, pada suatu malam beliau bangun shalat, dan tujuh jin dari penduduk Nashibin terbang melewati beliau, mendengar bacaan beliau, lalu pulang kepada kaumnya sebagai juru dakwah. Allah menceritakan mereka dalam QS al-Ahqaf 29-31 dan QS al-Jin 1.

      Baca selengkapnya

      Rasulullah ﷺ akhirnya meninggalkan Thaif dan pulang ke Makkah. Sesampainya di Nakhlah, beliau bangun pada suatu malam untuk mendirikan shalat, tak diduga beberapa jin yang disebutkan Allah terbang melewati beliau. Mereka terdiri dari tujuh jin dari penduduk Nashibin. Mereka mendengar bacaan Rasulullah ﷺ. Usai beliau shalat, jin-jin tersebut pulang kepada kaumnya dan menjadi juru dakwah bagi mereka. Mereka mengimani Rasulullah ﷺ dan merespons positif apa yang telah mereka dengar. Kemudian Allah mengisahkan mereka kepada Rasulullah ﷺ dalam firman-Nya:1

      "Mereka berkata: 'Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).' Ketika pembacaan telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: 'Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur'an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari adzab yang pedih.'" (QS. al-Ahqaf: 29-31)

      Allah juga berfirman: "Katakanlah (hai Muhammad): 'Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur'an), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur'an yang menakjubkan.'" (QS. al-Jin: 1)

    Catatan

    1. Ibnu Ishaq.
    2. Terjemahan menulis "Tatkala Abu Thalib bebas" di awal bagian ini. Kami menuliskannya "wafat" karena bagian sebelumnya dan kalimat "semasa hidupnya Abu Thalib" pada kalimat yang sama menunjukkan maksudnya wafat.
    3. Terjemahan menulis "bercakap-capak" pada ucapan orang ketiga; kami menuliskannya "bercakap-cakap" karena jelas kesalahan cetak.
    4. Terjemahan menulis kalimat 'Addas sebagai "aku belum pernah penduduk negeri ini. mengucapkan hal itu" tanpa kata kerja di tengahnya. Kami melengkapinya menjadi "aku belum pernah mendengar penduduk negeri ini mengucapkan hal itu" mengikuti konteks (beliau baru saja mengucapkan Bismillah).

    Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Dakwah kepada kabilah-kabilah, yang dalam buku langsung menyusul bagian ini, dibahas di bab berikutnya.