Pusat Sejarah Islam
Bab 23 dari 55

Wafat Khadijah & Abu Thalib

Khadijah dan Abu Thalib wafat di tahun yang sama, tiga tahun sebelum hijrah. Setelah itu gangguan Quraisy kepada Nabi semakin berat.

3 tahun sebelum hijrahSumber: Ibnu Hisyam
Sekilas

Isi bab ini

Bab ini menceritakan tetangga Rasulullah ﷺ yang mengusik beliau, wafatnya Khadijah dan Abu Thalib pada tahun yang sama, gangguan Quraisy yang makin leluasa sesudahnya, kunjungan para tokoh Quraisy kepada Abu Thalib yang sakit, dan kalimat yang diminta beliau dari pamannya.

Dua kehilangan

Khadijah dan Abu Thalib wafat pada tahun yang sama, tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah.

Satu kalimat

Tokoh Quraisy menawarkan saling membiarkan agama; beliau hanya meminta mereka mengucapkan satu kalimat.

Kalimat terakhir

Abu Thalib menolak mengucapkannya karena takut dicela, dan al-'Abbas mengira ia telah mengucapkannya.

Tetangga

Tetangga beliau mengusik di rumah, termasuk melempar usus kambing saat beliau shalat.

Peta

Makkah

Bab ini berlangsung di Makkah. Titik diambil dari Wikipedia.

Makkah
Tempat yang disebut Ibnu Hisyam
    Alur kisah

    Dari tetangga yang mengusik sampai wafatnya Abu Thalib

    Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.

    Perbedaan sumber

    Urutan wafat. Ibnu Hisyam menyebut Khadijah wafat pada tahun ini dan Abu Thalib pada tahun yang sama, tiga tahun sebelum hijrah. Haykal menyebut Abu Thalib wafat lebih dulu (usianya sekitar delapan puluh tahun), lalu Khadijah beberapa waktu setelah boikot; Haykal tidak menyebut tahunnya di bagian ini. Khan menuliskannya seolah-olah keduanya wafat selama boikot berlangsung.

    1. Tetangga

      Tetangga yang mengusik Rasulullah ﷺ di rumah beliau

      Orang-orang Quraisy yang suka mengusik beliau di rumahnya adalah tetangga beliau: Abu Lahab, al-Hakam bin al-'Ash bin Umayyah, 'Uqbah bin Abi Mu'aith, 'Adi bin Hamra' ats-Tsaqafi, dan Ibnu al-Ashda' al-Hudzali. Di antara mereka hanya al-Hakam bin Abi al-'Ash yang kemudian masuk Islam. Salah seorang dari mereka pernah melempar usus kambing ke arah beliau saat shalat.

      Baca selengkapnya

      Orang-orang Quraisy yang suka mengusik Rasulullah ﷺ di rumah beliau ialah Abu Lahab, al-Hakam bin al-'Ash bin Umayyah, 'Uqbah bin Abi Mu'aith, 'Adi bin Hamra' ats-Tsaqafi, dan Ibnu al-Ashda' al-Hudzali. Mereka adalah tetangga Rasulullah ﷺ. Di antara mereka, yang masuk Islam hanyalah al-Hakam bin Abi al-'Ash.1

      Suatu ketika, salah seorang dari mereka melemparkan usus kambing kepada Rasulullah ﷺ pada saat beliau sedang shalat. Seperti dikatakan kepadaku oleh 'Umar bin 'Abdullah bin 'Urwah bin az-Zubair dari 'Urwah bin az-Zubair, apabila dilempari oleh mereka, beliau keluar dengan membawa ranting pohon, lalu membuang usus tersebut dengannya sambil berkata, "Hai Bani 'Abdu Manaf, hubungan bertetangga macam apakah ini?" Kemudian beliau melemparkannya di jalan.2

    2. Dua kehilangan

      Khadijah dan Abu Thalib wafat pada tahun yang sama

      Pada tahun itu Khadijah wafat, dan pada tahun yang sama Abu Thalib juga wafat. Kehidupan beliau bertambah sulit: sebelumnya Khadijah adalah penasihat yang jujur dalam Islam tempat beliau mencurahkan seluruh persoalannya, dan Abu Thalib adalah pelindung dan penolong beliau menghadapi kaumnya. Peristiwa itu terjadi tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah. Sesudahnya Quraisy lebih leluasa mengganggu.

      Baca selengkapnya

      Pada tahun ini Khadijah wafat, dan pada tahun yang sama Abu Thalib juga meninggal dunia. Rasulullah ﷺ mendapatkan banyak sekali ujian kehidupan setelah wafatnya Khadijah, karena sebelumnya Khadijah bagaikan penasihat beliau yang jujur dalam Islam; beliau mencurahkan seluruh persoalannya kepadanya. Pasca kematian Abu Thalib, kehidupan beliau kian bertambah sulit, karena Abu Thalib adalah pelindung beliau, pemelihara dalam semua urusan beliau, orang yang senantiasa mendukung dan membantu dalam menghadapi kaum beliau. Peristiwa tersebut terjadi tiga tahun sebelum Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah.1

      Tatkala Abu Thalib wafat, orang-orang Quraisy semakin leluasa mengganggu Rasulullah ﷺ, yang tidak mungkin mereka lakukan semasa Abu Thalib masih hidup. Suatu ketika Rasulullah ﷺ dihadang oleh seorang laki-laki "stress" dari Quraisy (begitu kata terjemahan), lalu ia menaburkan tanah ke atas kepala beliau.

    3. Tanah di kepala

      Tanah di kepala dan tangis putri beliau

      Setelah ditaburi tanah, beliau pulang dengan tanah masih di kepala. Salah seorang putri beliau membersihkannya sambil menangis. Beliau menenangkannya dengan mengatakan bahwa Allah menjaga ayahnya, dan bahwa Quraisy selalu gagal terhadap beliau hingga Abu Thalib wafat.

      Baca selengkapnya

      Setelah orang itu menaburkan tanah ke atas kepala Rasulullah ﷺ, beliau pulang ke rumah dalam keadaan tanah tadi masih ada di atas kepala beliau. Salah seorang dari putri beliau berdiri untuk membersihkan kepala beliau sambil menangis. Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, "Jangan menangis, karena sesungguhnya Allah senantiasa menjaga ayahmu." Beliau juga berkata, "Orang-orang Quraisy selalu gagal melakukan aksinya kepadaku hingga Abu Thalib meninggal dunia."3

    4. Satu kalimat

      Tokoh-tokoh Quraisy mendatangi Abu Thalib yang sakit

      Mendengar Abu Thalib sakit, Quraisy berunding: Hamzah dan 'Umar sudah masuk Islam dan Islam menyebar di semua kabilah, jadi mereka akan menjenguk dan meminta Abu Thalib menghentikan keponakannya. 'Utbah, Syaibah, Abu Jahl, Umayyah bin Khalaf, dan Abu Sufyan datang menawarkan perjanjian: saling membiarkan agama masing-masing. Rasulullah ﷺ menjawab hanya ada satu kalimat yang mereka butuhkan untuk menguasai Arab dan membuat non-Arab tunduk, yaitu "Laa ilaaha illallaah" dan meninggalkan sesembahan selain Allah. Mereka menolak.

      Baca selengkapnya

      Pada saat orang-orang Quraisy mendengar sakitnya Abu Thalib, sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain, "Sesungguhnya Hamzah dan 'Umar telah masuk Islam, dan Islam telah menyebar luas di kabilah-kabilah Quraisy secara keseluruhan. Oleh karenanya, mari kita jenguk Abu Thalib dan menasihatinya agar menghentikan dakwah keponakannya. Demi Allah, kita tidak akan pernah merasa hidup nyaman kalau dia menguasai masalah kita."1

      Al-'Abbas bin 'Abdullah bin Ma'bad berkata, dari sebagian keluarganya, dari Ibnu 'Abbas: orang-orang Quraisy itu lalu datang kepada Abu Thalib dan merayunya. Mereka adalah 'Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Abu Jahl bin Hisyam, Umayyah bin Khalaf, dan Abu Sufyan, dalam rombongan tokoh-tokoh Quraisy. Mereka berkata kepada Abu Thalib, "Hai Abu Thalib, seperti telah engkau ketahui, sesungguhnya engkau bagian dari kami, dan kami khawatir atas kondisimu. Sungguh engkau telah menyaksikan sendiri pertentangan antara kami dengan keponakanmu. Oleh karenanya, panggillah dia, katakan apa yang dia mau, maka kami akan mengabulkannya, dan setelah itu kami sebutkan keinginan kami yang harus dia penuhi, agar dengan cara itu ia menahan diri dari kami dan kami pun menahan diri dari dia, dia membiarkan kami pada agama kami dan kami membiarkannya berada pada agamanya."1

      Abu Thalib memanggil Rasulullah ﷺ, lalu beliau datang menemuinya. Abu Thalib berkata, "Wahai keponakanku, orang-orang ini adalah pembesar kaummu. Mereka sepakat untuk memberikan sesuatu kepadamu, dan sebagai gantinya mereka mendapatkan sesuatu pula darimu." Rasulullah ﷺ bersabda, "Baiklah, wahai pamanku, hanya ada satu kalimat. Jika mereka memberikannya padaku, maka mereka dapat menguasai Arab, dan orang-orang non-Arab akan tunduk kepada kalian." Abu Jahl berkata, "Ya, jangankan satu, sepuluh kalimat pun boleh kau ucapkan." Rasulullah ﷺ bersabda, "Katakanlah Laa ilaaha illallaah dan tinggalkan apa saja yang kalian sembah selain Allah."

      Tokoh-tokoh Quraisy bertepuk tangan, kemudian berkata, "Wahai Muhammad, apakah engkau mau menjadikan tuhan-tuhan itu satu saja? Sungguh, ini sangatlah konyol." Sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain, "Demi Allah, orang ini hanya mempermainkan kita. Pulanglah kalian dan berpegang teguhlah kalian kepada agama leluhur kalian, hingga Allah memutuskan perkara di antara kita dan dirinya." Setelah itu mereka keluar berpencar dari rumah Abu Thalib.

    5. Abu Thalib wafat

      Permintaan Abu Thalib dan kalimat yang tak terdengar

      Setelah mereka pergi, Abu Thalib berkata bahwa permintaan keponakannya sebenarnya ringan. Rasulullah ﷺ berharap ia masuk Islam dan memintanya mengucapkan satu kalimat agar beliau dapat memberi syafaat pada Hari Kiamat. Abu Thalib berkata bahwa andai tidak takut dicela dan tidak takut dituduh mengatakannya karena takut mati, ia akan mengucapkannya. Menjelang wafatnya, al-'Abbas melihat bibirnya bergerak dan mengatakan kepada beliau bahwa saudaranya telah mengucapkan kalimat itu, tetapi beliau menjawab bahwa beliau tidak mendengar. Turunlah QS Shaad 1-7, dan tidak lama kemudian Abu Thalib wafat.

      Baca selengkapnya

      Sejurus kemudian Abu Thalib berkata kepada Rasulullah ﷺ, "Demi Allah, wahai keponakanku, permintaanmu itu sebenarnya sangatlah ringan." Ketika Abu Thalib berkata seperti itu, Rasulullah ﷺ mengharapkannya masuk Islam. Beliau berkata kepada Abu Thalib, "Wahai pamanda, ucapkanlah satu kalimat, maka dengan kalimat tersebut engkau akan mendapatkan syafaatku pada Hari Kiamat." Ketika Abu Thalib melihat keseriusan beliau terhadap dirinya, ia berkata, "Wahai keponakanku, kalaulah bukan karena aku khawatir mendapatkan kecaman terhadapmu, anak-anak kakekmu sepeninggalku, dan kalaulah tidak khawatir orang-orang Quraisy menuduhku mengatakannya karena aku takut mati, pastilah aku mengucapkannya. Aku juga tidak mau mengucapkannya hanya untuk menyenangkanmu."

      Ketika ajal Abu Thalib semakin dekat, al-'Abbas melihatnya menggerak-gerakkan kedua bibirnya, kemudian ia mendengarkannya dengan telinganya. Al-'Abbas berkata kepada Rasulullah ﷺ, "Wahai keponakanku, demi Allah, sungguh saudaraku telah mengucapkan kalimat tersebut." Rasulullah ﷺ bersabda, "Aku tidak mendengar."

      Allah lalu menurunkan ayat tentang orang-orang Quraisy tadi: "Shaad, demi Al-Qur'an yang mempunyai keagungan. Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. Betapa banyaknya umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, lalu mereka meminta tolong padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri. Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: 'Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta.' Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata): 'Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini (mengesakan Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan.'" (QS. Shaad: 1-7)1

      Dijelaskan bahwa agama yang terakhir dalam ayat itu ialah agama Kristen, karena mereka berkata, "Sesungguhnya Allah adalah satu dari yang tiga" (QS. al-Ma'idah: 73). Tidak lama kemudian, Abu Thalib meninggal dunia.4

    Catatan

    1. Ibnu Ishaq.
    2. Terjemahan menulis "kemudian usus tersebut dengannya" tanpa kata kerja; kami melengkapinya menjadi "membuang usus tersebut dengannya" mengikuti konteks kalimat, dan beliau kemudian melemparkannya di jalan.
    3. Ibnu Ishaq. Sanad: Hisyam bin 'Urwah bercerita kepadaku dari ayahnya, 'Urwah bin az-Zubair.
    4. Terjemahan mencetak kalimat sabda beliau dengan huruf rusak ("engKau aKan menaapatKan syataatKu"). Kami membacanya "engkau akan mendapatkan syafaatku" mengikuti konteks kalimat.

    Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Perjalanan ke Thaif, yang dalam buku langsung menyusul bagian ini, dibahas di bab berikutnya.