Pusat Sejarah Islam
Bab 22 dari 55

Isra' & Mi'raj

Dalam satu malam Nabi diperjalankan dari Masjidil Haram ke Baitul Maqdis, lalu naik ke langit dan menerima perintah shalat lima waktu.

tanggal tidak disebut IHSumber: Ibnu Hisyam
Sekilas

Isi bab ini

Bab ini menceritakan isra' dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha menurut riwayat 'Abdullah bin Mas'ud, al-Hasan, Qatadah, Ummu Hani', dan Abu Sa'id al-Khudri, penolakan Quraisy dan julukan ash-Shiddiq, perbedaan pendapat tentang ruh dan jasad, mi'raj dan kewajiban shalat, lima pencemooh Quraisy, serta kisah Abu Uzaihir dan Bani Daus yang oleh buku disambungkan setelahnya.

Isra'

Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis di Ilia), lalu pulang ke Makkah, menurut riwayat yang dikutip Ibnu Ishaq.

Ash-Shiddiq

Abu Bakar membenarkan Rasulullah ﷺ dan sejak itu dijuluki ash-Shiddiq.

Shalat

Dari lima puluh shalat menjadi lima waktu sehari semalam.

Lima pencemooh

Lima tokoh Quraisy yang gemar mencemooh Rasulullah ﷺ, dan ayat yang turun tentang mereka.

Peta

Makkah dan Baitul Maqdis

Pilih salah satu langkah di daftar yang menyertai peta. Garis putus-putus adalah perkiraan, karena buku menyebut asal dan tujuan tetapi tidak menyebut jalurnya, dan batas negara masa kini hanya patokan.

Makkah dan Baitul Maqdis
Tempat yang disebut Ibnu HisyamPerjalanan (garis perkiraan)
    Alur kisah

    Dari isra' sampai kisah Bani Daus

    Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.

    Perbedaan sumber

    Tahun. Ibnu Hisyam tidak menyebut tahun isra'. Haykal menyebut isra' pada 621 M.

    Ummu Hani'. Ibnu Hisyam menyebut Ummu Hani' binti 'Abdul Muthalib (nama aslinya Hindun). Haykal menyebut rumah Ummu Hani' (Hind) binti Abi Thalib.

    Ruh atau jasad. Ibnu Hisyam mengutip tiga pendapat: riwayat al-Hasan, ucapan 'Aisyah (dengan ruhnya) dan ucapan Mu'awiyah (mimpi yang benar), dan teks tidak memutuskan mana yang benar. Haykal juga membahas perdebatan ruh dan jasad.

    Golongan yang disiksa. Haykal mengutip Ibnu Hisyam untuk golongan yang dilihat di langit pertama dengan keterangan yang berbeda dari terjemahan yang kami pakai. Menurut kutipan Haykal, orang yang memakan daging busuk dan meninggalkan daging empuk adalah orang yang meninggalkan wanita yang dihalalkan Allah dan mengejar wanita lain secara haram, dan wanita yang digantung pada payudaranya adalah wanita yang menisbahkan kepada suaminya anak yang bukan anaknya. Terjemahan Ibnu Hisyam kami memotong kalimat tentang golongan daging, dan menyebut wanita itu "suka berbuat mesum dengan laki-laki lain saat suami dan anaknya tidak ada di rumah".

    1. Isra'

      Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, Baitul Maqdis di Ilia

      Ibnu Ishaq membuka bagian ini dengan menyebut bahwa Rasulullah ﷺ diisra'kan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, yaitu Baitul Maqdis di Ilia, ketika Islam telah menyebar di Makkah dan di seluruh kabilah. Ia menyebut para perawi hadits isra' dan menegaskan bahwa peristiwa ini adalah ujian, seleksi, bukti kekuasaan Allah, pelajaran bagi orang berakal, petunjuk, rahmat, dan penguat iman.

      Masjid al-Aqsha, Yerusalem, foto berwarna lama
      Masjid al-Aqsha, Yerusalem, dalam foto berwarna lama antara 1890 dan 1900 (Detroit Photographic Company).Foto: Detroit Photographic Company · Domain publik (menurut Commons) · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Tatkala Rasulullah ﷺ diisra'kan (diperjalankan pada malam hari) dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, yaitu Baitul Maqdis di Ilia, saat itu Islam telah menyebar di Makkah dan di seluruh kabilah-kabilah.1

      Hadits tentang isra' Rasulullah ﷺ, sebagaimana yang aku terima, berasal dari 'Abdullah bin Mas'ud, Abu Sa'id al-Khudri, 'Aisyah istri Rasulullah ﷺ, Mu'awiyah bin Abi Sufyan, al-Hasan bin al-Hasan, Ibnu Syihab az-Zuhri, Qatadah dan ulama-ulama lainnya, serta Ummu Hani' binti 'Abdul Muthalib. Mereka sama-sama meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ. Peristiwa isra' ini di dalamnya terdapat ujian, seleksi, dan merupakan salah satu bukti kekuasaan dan kebesaran Allah. Selain itu, terdapat juga pelajaran bagi orang-orang berakal, petunjuk, rahmat, dan penguat keimanan bagi orang yang beriman kepada Allah dan membenarkannya. Allah mengisra'kan Rasulullah ﷺ sebagaimana yang dikehendaki-Nya untuk memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya seperti yang Dia inginkan, hingga beliau bisa menyaksikan bukti-bukti kekuasaan-Nya, terutama dalam mengerjakan apa saja yang dikehendaki-Nya.1

    2. Ibnu Mas'ud

      Kisah menurut 'Abdullah bin Mas'ud: Buraq, para nabi, dan tiga bejana

      Menurut 'Abdullah bin Mas'ud, Rasulullah ﷺ menaiki Buraq, hewan yang membawa para nabi sebelum beliau, hingga perjalanannya berhenti di Baitul Maqdis. Di sana sudah berkumpul Ibrahim, Musa, 'Isa dan beberapa nabi, dan beliau mengimami shalat mereka. Setelah itu disuguhkan tiga bejana berisi susu, minuman keras, dan air. Beliau memilih susu, dan Jibril berkata bahwa beliau dan umatnya telah mendapat petunjuk.

      Baca selengkapnya

      Sebagaimana diberitakan kepadaku, 'Abdullah bin Mas'ud berkata bahwa Rasulullah ﷺ menaiki Buraq, yaitu hewan yang membawa para nabi sebelum beliau. Kemudian beliau mengendarainya untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di antara langit dan bumi, hingga perjalanan beliau terhenti di Baitul Maqdis. Di sana telah ada Ibrahim, Musa, dan 'Isa, serta beberapa nabi yang sengaja telah dikumpulkan untuk bertemu beliau, kemudian beliau shalat mengimami mereka.1

      Usai shalat, tiga bejana didatangkan kepada beliau: satu bejana berisi susu, satu bejana berisi minuman keras, dan satu bejana berisi air. Rasulullah ﷺ bersabda, "Ketika itu ada yang berkata: apabila dia mengambil air, ia tenggelam, demikian pula umatnya. Jika ia mengambil minuman keras, ia mabuk, demikian pula umatnya. Jika ia mengambil susu, ia mendapatkan petunjuk, demikian pula umatnya." Beliau bersabda, "Kemudian aku mengambil bejana yang berisi susu dan meminumnya." Jibril berkata kepadaku, "Engkau telah mendapatkan petunjuk, demikian pula umatmu, wahai Muhammad."

    3. Versi al-Hasan

      Kisah menurut al-Hasan: dibangunkan Jibril di Hijr, lalu hewan putih bersayap

      Menurut al-Hasan, saat tidur di Hijr (ditulis "Hijr Aswad"), beliau dibangunkan Jibril tiga kali. Jibril membawanya ke pintu masjid, tempat ada hewan putih sebesar antara kuda dan keledai, bersayap, yang melangkah sejauh batas pandangan mata. Jibril menaikkannya, dan keduanya berangkat bersama.

      Baca selengkapnya

      Aku diberi tahu dari al-Hasan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Ketika aku sedang tidur di Hijr Aswad, Malaikat Jibril mendatangiku, kemudian membangunkanku dengan kakinya. Aku pun bangun, namun tidak melihat apa-apa. Aku tidur lagi, dan ternyata Jibril datang kepadaku untuk kedua kalinya. Ia membangunkanku hingga aku tersadar, namun aku tidak melihat apa-apa. Aku kembali tidur, dan ternyata Jibril datang kepadaku untuk ketiga kalinya, kemudian menggerak-gerakkan badanku hingga aku bangun. Ia lalu mengajakku pergi menuju pintu masjid, dan ternyata di sana ada seekor hewan putih yang besarnya antara kuda dan keledai. Hewan tersebut rupanya memiliki sayap, ia mendorong kedua kakinya dengan kedua sayapnya dan memindahkan tangannya dalam setiap langkahnya di batas akhir pandangan matanya. Jibril menaikiku di atas hewan tersebut, lalu ia keluar bersamaku. Ia tidak berpisah denganku dan aku tidak berpisah dengannya."1

      Aku mendapatkan riwayat dari Qatadah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Ketika aku mendekati hewan tersebut untuk menaikinya, hewan itu menunjukkan sikap tidak suka. Jibril menegurnya, 'Kenapa engkau tidak malu atas apa yang engkau perbuat, wahai Buraq? Demi Allah, engkau memang pernah dinaiki hamba Allah sebelum Muhammad, namun tak satu pun dari mereka yang lebih mulia di sisi Allah daripada Muhammad.' Buraq pun merasa malu hingga keringatnya bercucuran. Setelah itu ia bersikap jinak, kemudian aku menaikinya."1

    4. Baitul Maqdis

      Di Baitul Maqdis: dua bejana, lalu pulang ke Makkah

      Al-Hasan melanjutkan: beliau terbang bersama Jibril hingga tiba di Baitul Maqdis, di sana ada Ibrahim, Musa, dan 'Isa. Beliau mengimami mereka shalat, lalu disuguhi dua bejana (minuman keras dan susu) dan memilih susu. Jibril berkata bahwa beliau dan umatnya dikaruniai petunjuk kepada fitrah dan minuman keras diharamkan. Setelah itu beliau pulang ke Makkah.

      Baca selengkapnya

      Al-Hasan bercerita: kemudian Rasulullah ﷺ terbang bersama Jibril hingga tiba di Baitul Maqdis. Di sana telah ada Nabi Ibrahim, Musa, dan 'Isa dalam kumpulan para nabi. Kemudian beliau mengimami mereka shalat. Setelah itu, dua bejana, salah satunya berisi minuman keras dan satunya berisi susu, didatangkan kepada beliau. Beliau mengambil bejana yang berisi susu, meminumnya, dan meninggalkan bejana berisi khamr. Jibril berkata, "Engkau dikaruniai petunjuk kepada fitrah, demikian pula umatmu, wahai Muhammad, dan minuman keras diharamkan kepada kalian."

      Setelah itu Rasulullah ﷺ pulang ke Makkah.

    5. Quraisy

      Keesokan harinya: Quraisy tidak percaya, sebagian murtad, Abu Bakar membenarkan

      Keesokan harinya beliau menceritakan kejadian itu. Kebanyakan Quraisy menganggapnya konyol, karena kafilah yang cepat saja butuh sebulan ke Syam. Banyak orang yang tadinya telah masuk Islam menjadi murtad. Orang-orang Quraisy mendatangi Abu Bakar, tetapi ia berkata bahwa jika Rasulullah ﷺ yang mengatakannya, pasti benar. Ia meminta beliau menggambarkan ciri-ciri Baitul Maqdis, dan setiap kali beliau menjelaskan ia berkata bahwa beliau benar. Sejak itu Abu Bakar dijuluki ash-Shiddiq.

      Baca selengkapnya

      Al-Hasan melanjutkan: keesokan harinya beliau menceritakan apa yang beliau alami kepada orang-orang Quraisy. Sebagian besar dari mereka berkata, "Demi Allah, ini adalah sesuatu yang sangat konyol. Betapa tidak?! Rombongan musafir yang jalannya cepat saja membutuhkan jarak tempuh selama sebulan untuk pergi dari Makkah ke Syam. Apakah mungkin Muhammad pergi ke sana lalu pulang ke Makkah hanya dalam waktu semalam?" Banyak orang yang tadinya telah masuk Islam menjadi murtad gara-gara peristiwa ini.

      Orang-orang Quraisy pergi kepada Abu Bakar dan berkata, "Coba tengok sahabatmu, wahai Abu Bakar? Ia mengaku pada malam ini pergi ke Baitul Maqdis dan shalat di sana, kemudian pagi ini ia pulang ke Makkah!" Abu Bakar berkata, "Apakah kalian mendustakan apa yang ia katakan?" Mereka menjawab, "Ya, benar! Dia kini sedang berada di masjid, sedang bercerita kepada manusia tentang apa yang baru dialaminya." Abu Bakar berkata, "Demi Allah, jika itu yang ia katakan, pasti ia berkata benar. Apa ada yang aneh bagi kalian? Demi Allah, sesungguhnya ia berkata kepadaku bahwa ia berpindah dari langit ke bumi hanya dalam waktu sesaat pada waktu malam atau sesaat pada waktu siang, dan aku mempercayainya. Jadi inilah puncak keheranan kalian?"

      Usai mengatakan itu, Abu Bakar berjalan hingga tiba di tempat Rasulullah ﷺ berada dan berkata, "Wahai Nabi Allah, benarkah engkau telah bercerita kepada manusia bahwa pada malam ini engkau pergi ke Baitul Maqdis?" Beliau menjawab, "Ya, benar." Abu Bakar berkata, "Kalau begitu, tolong ceritakan kepadaku ciri-ciri Baitul Maqdis, karena sebelumnya aku pernah pergi ke sana!"

      Al-Hasan melanjutkan: Rasulullah ﷺ lalu menjelaskan ciri-ciri Baitul Maqdis kepada Abu Bakar. Setiap kali beliau menjelaskan, Abu Bakar berkata, "Engkau berkata benar. Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah." Usai bercerita, beliau berkata kepada Abu Bakar, "Engkau wahai Abu Bakar adalah ash-Shiddiq (orang yang membenarkan)." Sejak peristiwa itulah Abu Bakar dijuluki ash-Shiddiq.

      Allah lalu menurunkan ayat mengenai orang-orang Islam yang murtad karena peristiwa isra': "Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al-Qur'an. Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka." (QS. al-Isra': 60)

      Penutup bagian ini: inilah hadits riwayat al-Hasan mengenai peristiwa isra' Rasulullah ﷺ yang lebih lengkap daripada hadits riwayat Qatadah.

    6. Ruh atau jasad

      'Aisyah dan Mu'awiyah: dengan ruh, atau mimpi yang benar

      Beberapa keluarga Abu Bakar menyampaikan bahwa 'Aisyah berkata Rasulullah ﷺ tidak pergi dengan badannya, melainkan dengan ruhnya. Ya'qub bin 'Utbah menyampaikan ucapan Mu'awiyah bahwa mimpi dari Allah adalah benar. Dijelaskan bahwa ucapan keduanya tidak bertentangan dengan riwayat al-Hasan, berdasarkan QS al-Isra' 60 dan QS ash-Shaffat 102, dan menyebut sabda beliau "Mataku tidur, namun hatiku tidaklah tidur". Soal keadaan beliau saat itu, ia berkata Allah yang paling mengetahui.

      Baca selengkapnya

      Beberapa keluarga Abu Bakar bercerita kepadaku bahwa 'Aisyah berkata, "Rasulullah ﷺ tidak pergi dengan badannya, namun dengan ruhnya."1

      Ya'qub bin 'Utbah bin al-Mughirah bin al-Akhnas bercerita kepadaku bahwa Mu'awiyah bin Abi Sufyan berkata, "Sungguh mimpi-mimpi dari Allah Ta'ala adalah benar."

      Dijelaskan bahwa ucapan 'Aisyah dan Mu'awiyah ini tidak kontradiktif dengan hadits riwayat al-Hasan, berdasarkan ayat berikut: "Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia" (QS. al-Isra': 60). Juga berdasarkan firman Allah tentang Nabi Ibrahim yang berkata kepada anaknya: "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu." (QS. ash-Shaffat: 102). Dari sini jelaslah bahwa wahyu dari Allah datang kepada para nabi, terkadang dalam keadaan terjaga dan terkadang dalam keadaan tidur.

      Rasulullah ﷺ, sebagaimana berita yang sampai padaku, bersabda, "Mataku tidur, namun hatiku tidaklah tidur." Wallahu a'lam dalam kondisi apa beliau datang ke Baitul Maqdis dan menyaksikan apa yang beliau saksikan dari kebesaran Allah, apakah dalam keadaan tidur atau tidak tidur; yang jelas semuanya haq dan benar.1

    7. Ciri para nabi

      Ciri Ibrahim, Musa, dan 'Isa; dan ciri Rasulullah ﷺ menurut 'Ali

      Dari Sa'id bin al-Musayyib: pada malam isra', Rasulullah ﷺ menggambarkan Ibrahim (sangat mirip beliau), Musa (berkulit sawo matang, tinggi, ceking, rambut lebat, hidung mancung, seperti orang dari kabilah Syanu'ah), dan 'Isa (berkulit merah, sedang, rambut lurus, banyak tahi lalat; yang paling mirip dengannya 'Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi). Ibnu Hisyam menambahkan penuturan 'Ali tentang ciri fisik dan akhlak Rasulullah ﷺ.

      Baca selengkapnya

      Az-Zuhri bercerita dari Sa'id bin al-Musayyib bahwa Rasulullah ﷺ menjelaskan ciri-ciri fisik Ibrahim, Musa, dan 'Isa yang beliau lihat pada malam isra'. Beliau bersabda, "Ibrahim begitu mirip denganku. Sementara Musa, dia berkulit sawo matang, tinggi, ceking, rambutnya lebat, hidungnya mancung, dan dia seperti orang dari kabilah Syanu'ah (kabilah Azad). Sedangkan 'Isa, beliau berkulit merah, postur tubuhnya sedang, rambutnya lurus, di wajahnya terdapat banyak tahi lalat, dan orang yang paling mirip dengannya ialah 'Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi."1

      'Umar, mantan budak Ghufrah, dari Ibrahim bin Muhammad bin 'Ali bin Abi Thalib berkata: 'Ali bin Abi Thalib mengisahkan ciri-ciri fisik Rasulullah ﷺ. Ia berkata, "Rasulullah ﷺ tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek, tingginya sedang, rambutnya tidak begitu keriting dan tidak begitu lurus, keritingnya seperti orang-orang Arab pada umumnya, badannya tidak terlalu gemuk, wajahnya tidak bulat, putih kulitnya, kedua matanya hitam legam, bulu matanya panjang, lebar pundaknya, rambut di dada dan perutnya tipis, bulu tangannya tipis, begitu juga bulu kakinya, telapak tangannya keras, begitu juga telapak kakinya. Apabila berjalan kakinya seakan tidak menginjak tanah. Beliau seperti berjalan menuruni bukit, jika menoleh maka beliau menoleh dengan menghadapkan seluruh wajahnya, di antara kedua bahunya terdapat tanda kenabian dan itulah tanda semua para nabi. Orang yang paling suka memberi, paling suka memaafkan, paling benar ucapannya, paling menetapi janji, paling lembut akhlaknya, paling mulia pergaulannya. Siapa yang melihatnya maka ia segan padanya, dan barangsiapa bergaul dengannya ia pasti mencintainya. Orang yang menyifati ciri-ciri beliau berkata, 'Seumur hidupku belum pernah melihat orang yang mirip dengan Muhammad ﷺ.'"2

    8. Ummu Hani'

      Menurut Ummu Hani' binti 'Abdul Muthalib: malam itu beliau tidur di rumahnya

      Ummu Hani' (nama aslinya Hindun) menuturkan bahwa Rasulullah ﷺ diisra'kan saat beliau sedang berada di rumahnya. Beliau mengakhirkan shalat Isya', tidur, dan dibangunkan menjelang Shubuh. Seusai shalat Shubuh bersama mereka, beliau menceritakan bahwa beliau pergi ke Baitul Maqdis dan shalat di sana. Ummu Hani' menyarankan agar beliau menyembunyikannya dari manusia, tetapi beliau menjawab pasti akan menceritakannya. Ia menyuruh budaknya dari Habasyah mengikuti dan mendengarkan.

      Baca selengkapnya

      Seperti disampaikan kepadaku, dari Ummu Hani' binti 'Abdul Muthalib (nama aslinya Hindun) mengenai peristiwa isra' Rasulullah ﷺ, ia berkata, "Rasulullah ﷺ diisra'kan tatkala beliau sedang berada di rumahku. Malam itu beliau tidur di rumahku. Beliau mengakhirkan shalat Isya', lalu tidur, dan kami pun tidur. Menjelang Shubuh, Rasulullah membangunkan kami. Setelah shalat Shubuh bersama, Rasulullah berkata, 'Wahai Ummu Hani', setelah aku mengakhirkan shalat Isya' seperti yang engkau lihat, kemudian aku pergi ke Baitul Maqdis dan shalat di sana. Setelah itu barulah aku mengerjakan shalat Shubuh bersama kalian sekarang, seperti yang kalian lihat.'"1

      "Kemudian Rasulullah ﷺ keluar, namun aku halangi. Aku berkata kepadanya, 'Wahai Nabi Allah, sembunyikan peristiwa ini dari manusia, sebab jika kau ceritakan nanti mereka pasti mendustakanmu dan mempermainkanmu.' Rasulullah ﷺ bersabda, 'Demi Allah, aku pasti menceritakan peristiwa ini kepada mereka.' Aku berkata kepada budakku dari Habasyah, 'Sana, ikutilah Muhammad dan dengarkan apa yang dia katakan kepada manusia dan apa yang dikatakan manusia kepadanya.' Ketika Rasulullah ﷺ bertemu dengan orang-orang, beliau bercerita kepada mereka dan mereka terheran-heran."

    9. Dhajnan

      Bukti dari kafilah di jalan: Dhajnan dan Tsaniyyah at-Tan'im

      Orang-orang meminta bukti. Rasulullah ﷺ menyebut kafilah Bani Fulan yang dilihatnya di lembah-lembah, yang lari kocar-kacir karena suara hewan, lalu kafilah yang tidur di Dhajnan dengan wadah air tertutup yang beliau buka dan beliau minum. Kafilah itu kini singgah di al-Baidha', Tsaniyyah at-Tan'im, dipimpin unta abu-abu yang membawa dua karung (hitam dan warna-warni). Orang-orang menjumpai kafilah itu dan menemukan semuanya sesuai.

      Bagian dalam Masjid Tan'im, Makkah
      Bagian dalam Masjid Tan'im di Makkah, kondisi sekarang (foto 11 April 2023). Ini kawasan at-Tan'im, tempat yang berbeda dari Dhajnan; hanya gambaran sekitar Makkah.Foto: Indonesiagood · CC BY 4.0 · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Penuturan berlanjut: orang-orang berkata, "Hai Muhammad, apa buktinya kalau ceritamu itu benar, sebab kami belum pernah sekali pun mendengar cerita seperti ini sebelumnya." Rasulullah ﷺ bersabda, "Buktinya adalah, aku melihat kafilah Bani Fulan di lembah ini dan di lembah itu. Mereka lari kocar-kacir ketakutan karena mendengar suara hewan. Aku terus berjalan hingga tiba di daerah Dhajnan, aku menghampiri kafilah Bani Fulan dan aku lihat mereka sedang dalam keadaan tidur. Mereka mempunyai wadah berisi air yang mereka tutupi dengan sesuatu, lalu aku buka tutupnya, kemudian aku minum air yang ada di dalamnya. Setelah itu aku menutupnya lagi sebagaimana semula. Dan sekarang kafilah tersebut singgah di al-Baidha', di Tsaniyyah at-Tan'im. Mereka didahului unta berwarna abu-abu, dan di unta tersebut terdapat dua karung; satu berwarna hitam dan satunya warna-warni."

      Orang-orang itu segera pergi ke Tsaniyyah dan mereka berjumpa dengan rombongan itu lebih dahulu sebagaimana yang telah diceritakan Rasulullah ﷺ. Mereka bertanya kepada kafilah tentang wadah berisi air, kemudian kafilah itu menjawab bahwa memang mereka mengisi wadah tersebut penuh dengan air dan menutupnya, dan setelah itu tidur. Namun ketika mereka bangun, mereka tidak mendapatkan air di dalamnya, padahal wadah tersebut tertutup rapat. Mereka juga bertanya kepada orang-orang lain di Makkah, kemudian orang-orang yang ditanya itu menjawab, "Demi Allah, dia berkata benar. Kami lari kocar-kacir di lembah yang dia ceritakan."

    10. Mi'raj

      Mi'raj: gerbang langit al-Hafazhah dan malaikat Isma'il

      Menurut Abu Sa'id al-Khudri, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa setelah menuntaskan urusan di Baitul Maqdis beliau melakukan mi'raj, dan tidak pernah beliau menyaksikan sesuatu yang lebih indah. Jibril membawanya naik ke salah satu gerbang langit bernama al-Hafazhah, yang dijaga malaikat bernama Isma'il, yang memimpin dua belas ribu malaikat, dan tiap malaikat memimpin dua belas ribu malaikat pula. Isma'il bertanya siapa yang datang dan apakah sudah diutus, lalu berdoa untuk beliau.

      Baca selengkapnya

      Dari Abu Sa'id al-Khudri bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Ketika aku telah menuntaskan seluruh urusan di Baitul Maqdis, aku melakukan mi'raj, dan aku tidak pernah menyaksikan sebuah peristiwa yang lebih indah daripada peristiwa itu, yakni seperti seseorang yang melihat kematian saat sedang menjelang ajal. Lalu Jibril membawaku naik hingga tiba di salah satu gerbang langit. Gerbang langit tersebut bernama Gerbang al-Hafazhah (Para Penjaga). Pintu al-Hafazhah dijaga salah satu malaikat yang bernama Isma'il, yang memimpin dua belas ribu malaikat, dan setiap satu dari mereka juga memimpin dua belas ribu malaikat." Di tengah-tengah menceritakan peristiwa mi'raj, beliau melantunkan firman Allah: "Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri." (QS. al-Muddatstsir: 31)1

      Beliau melanjutkan, "Ketika Jibril masuk bersamaku," Isma'il bertanya, "Siapa orang ini?" Jibril menjawab, "Dia Muhammad." Isma'il bertanya, "Apakah dia sudah diutus?" Jibril menjawab, "Ya. Sudah." Isma'il lalu berdoa untukku.

    11. Langit dunia

      Malaikat penjaga neraka dan Adam di langit dunia

      Menurut sebagian pakar, di langit dunia para malaikat tersenyum dan memberi kabar gembira, kecuali satu yang tidak tertawa: malaikat penjaga neraka. Atas permintaan beliau, ia membuka pintu neraka, dan api menyala-nyala, hingga beliau meminta agar ditutup kembali. Abu Sa'id menambahkan: di langit dunia beliau melihat seorang yang duduk dan arwah diperlihatkan kepadanya, yaitu Adam.

      Baca selengkapnya

      Sebagian pakar bercerita kepadaku, dari orang yang berbicara dengan Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda, "Para malaikat menyambut kedatanganku pada saat aku tiba di langit dunia. Semua dari para malaikat tersenyum dan memberi kabar gembira kepadaku. Seorang malaikat tidak tertawa dan tidak tampak wajah gembira padanya sebagaimana yang terlihat pada malaikat-malaikat yang lain. Aku bertanya kepada Jibril, 'Wahai Jibril, siapakah malaikat ini?' Jibril berkata kepadaku, 'Dia adalah malaikat penjaga neraka.' Aku bertanya kepada Jibril, yang kedudukannya di sisi Allah seperti yang pernah dijelaskan Allah kepada kalian, 'Yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya' (QS. at-Takwir: 21), 'Dan bisakah dia memperlihatkan neraka kepadaku?' Jibril berkata, 'Ya.' Kemudian Jibril berkata, 'Wahai Malaikat, perlihatkanlah neraka kepada Muhammad!' Malaikat penjaga neraka pun membuka pintu neraka. Api neraka tersebut menyala-nyala hingga aku menduga bahwa ia pasti akan menghanguskan apa saja yang saya saksikan. Aku berkata kepada Jibril, 'Wahai Jibril, perintahkan malaikat tersebut untuk menutup kembali pintu neraka seperti semula.' Jibril pun memerintahkan kepada malaikat penjaga neraka, 'Padamkanlah neraka itu.' Kemudian neraka kembali seperti sedia kala."1

      Abu Sa'id al-Khudri melanjutkan haditsnya, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Ketika aku tiba di langit dunia, aku melihat seseorang sedang duduk dan arwah-arwah diperlihatkan kepadanya. Jika arwah tersebut diperlihatkan kepadanya dalam keadaan baik dan ia senang dengannya, orang tersebut berkata, 'Ini arwah yang baik yang keluar dari raga yang baik.' Jika sebaliknya, ia akan berkata dengan wajah muram, 'Ini arwah jelek yang keluar dari raga yang jahat.' Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia wahai Jibril?' Jibril berkata, 'Dia adalah nenek moyangmu, Adam. Semua arwah anak keturunannya diperlihatkan kepadanya. Jika arwah orang Mukmin dilewatkan padanya, ia sangat gembira dengannya sambil berkata, "Ini arwah yang baik yang keluar dari raga yang baik." Jika arwah salah seorang kafir diperlihatkan kepadanya, ia mengatakan "ahh" (uff) kepadanya, membencinya dan merasa terganggu dengannya, sambil berkata, "Ini arwah jelek yang keluar dari raga yang jelek."'"

    12. Pemandangan

      Pemandangan orang-orang yang disiksa

      Dalam hadits Abu Sa'id, Rasulullah ﷺ melihat beberapa kelompok: orang yang memasukkan bara api ke mulut mereka (pemakan harta anak yatim secara zalim), orang berperut aneh yang diinjak keluarga Fir'aun (pemakan riba), orang yang memegang daging empuk tetapi memakan daging busuk (kalimat penjelasan dalam buku terpotong), dan wanita yang digantung pada payudara mereka (wanita yang berbuat mesum dengan laki-laki lain saat suami dan anaknya tidak di rumah). Ibnu Ishaq menambah satu hadits tentang murka Allah pada wanita yang memasukkan laki-laki bukan keluarganya.

      Baca selengkapnya

      Abu Sa'id melanjutkan sabda beliau: "Kemudian aku melihat orang-orang yang bibirnya laksana bibir unta, di tangannya ada bara api dari neraka sebesar batu segenggam tangan. Mereka memasukkan bara api tersebut ke dalam mulut mereka, lalu bara dari neraka itu keluar lagi dari dubur mereka. Aku berkata, 'Siapa mereka itu wahai Jibril?' Jibril berkata, 'Mereka pemakan harta anak yatim secara zalim.'"

      "Kemudian aku melihat orang-orang dengan perut yang sangat aneh. Mereka duduk di jalan yang akan dilalui keluarga Fir'aun seperti unta yang kehausan. Ketika keluarga Fir'aun akan dibakar dengan api neraka, mereka menginjak orang-orang tersebut dan mereka tidak mampu pindah dari tempat mereka. Aku berkata, 'Siapa mereka, wahai Jibril?' Jibril menjawab, 'Mereka para pemakan harta riba.'"

      "Lalu aku melihat orang-orang yang memegang daging yang empuk, dan di sampingnya terdapat daging keras yang busuk. Mereka memakan daging yang busuk tersebut dan tidak mau memakan daging yang empuk tadi. Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah mereka, wahai Jibril?' Jibril menjawab, 'Mereka orang-orang yang...'"

      "Kemudian aku melihat wanita-wanita yang digantung pada payudara mereka sendiri. Aku bertanya, 'Siapakah mereka itu wahai Jibril?' Jibril menjawab, 'Mereka wanita-wanita yang suka berbuat mesum dengan laki-laki lain saat suami dan anaknya tidak ada di rumah.'"3

      Ja'far bin 'Amr bercerita kepadaku dari al-Qasim bin Muhammad bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Kemurkaan Allah sangat keras terhadap wanita yang memasukkan laki-laki yang bukan berasal dari keluarganya, kemudian laki-laki tersebut memakan harta mereka dan melihat auratnya."1

    13. Tujuh langit

      Para nabi di langit kedua sampai ketujuh, dan wanita milik Zaid bin Haritsah

      Menurut Abu Sa'id, di langit kedua beliau bertemu 'Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakariya; di langit ketiga Yusuf bin Ya'qub, yang postur tubuhnya seperti bulan purnama; di langit keempat Idris; di langit kelima Harun bin 'Imran; di langit keenam Musa bin 'Imran; di langit ketujuh Ibrahim, duduk di atas kursi di pintu Baitul Ma'mur yang tiap hari didatangi tujuh puluh ribu malaikat. Di surga beliau melihat seorang wanita yang mengaku milik Zaid bin Haritsah.

      Baca selengkapnya

      Abu Sa'id al-Khudri bercerita bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Jibril lalu membawaku terbang ke langit kedua. Di sana aku berjumpa 'Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakariya. Kemudian Jibril membawaku naik ke langit ketiga. Di sana aku berjumpa seorang laki-laki yang postur tubuhnya seperti bulan kala purnama. Aku bertanya, 'Siapakah dia, wahai Jibril?' Jibril menjawab, 'Ini saudaramu, Yusuf bin Ya'qub.' Kemudian Jibril membawaku terbang ke langit keempat. Di sana aku berjumpa seorang laki-laki. Aku bertanya, 'Siapakah dia wahai Jibril?' Jibril menjawab, 'Dia Idris.'" Lalu beliau membaca ayat, "Dan Kami mengangkatnya ke tempat yang tinggi."1

      "Kemudian Jibril membawaku terbang ke langit kelima. Di sana aku bertemu orang tua yang rambut dan jenggotnya memutih lebat, dan aku tidak pernah melihat orang tua setampan dirinya. Aku bertanya, 'Siapakah dia wahai Jibril?' Jibril menjawab, 'Dia orang yang kharismatik di tengah kaumnya, dia Harun bin 'Imran.' Jibril membawaku terbang ke langit keenam. Di sana aku berjumpa orang yang kulitnya berwarna sawo matang, tinggi, berhidung mancung, dan seperti orang dari kabilah Syanu'ah. Aku bertanya, 'Siapakah lelaki itu wahai Jibril?' Jibril menjawab, 'Dia Musa bin 'Imran.' Kemudian Jibril membawaku terbang ke langit ketujuh. Di sana aku bertemu orang tua sedang duduk di atas kursi di pintu Baitul Ma'mur yang setiap hari didatangi tujuh puluh ribu malaikat yang tidak meninggalkannya hingga Hari Kiamat. Dia sangat mirip denganku. Aku bertanya, 'Siapa dia wahai Jibril?' Jibril menjawab, 'Dia Ibrahim.'"

      "Kemudian Jibril membawaku masuk ke dalam surga. Di sana aku melihat seorang perempuan yang berkulit merah agak hitam. Aku bertanya kepadanya, 'Siapa engkau?' Wanita tersebut berkata, 'Aku milik Zaid bin Haritsah.'" Kemudian Rasulullah ﷺ memberitahukan kabar gembira ini kepada Zaid bin Haritsah.

    14. Lima puluh shalat

      Dari lima puluh menjadi lima shalat sehari semalam

      Dari riwayat 'Abdullah bin Mas'ud: setiap Jibril membawa beliau ke sebuah langit dan meminta izin masuk, para malaikat penjaga bertanya siapa dia dan apakah sudah diutus, lalu mendoakan keselamatan. Di langit ketujuh beliau menghadap Tuhannya dan Allah mewajibkan lima puluh shalat sehari. Atas saran Musa, beliau berkali-kali kembali meminta keringanan; tiap kali Allah mengurangi sepuluh shalat, hingga akhirnya ditetapkan lima waktu sehari semalam. Beliau menyampaikan bahwa siapa yang mengerjakan lima waktu dengan iman dan mengharap ridha-Nya memperoleh pahala lima puluh shalat.

      Baca selengkapnya

      Dari riwayat 'Abdullah bin Mas'ud, sebagaimana kabar yang sampai padaku, dari Nabi ﷺ, setiap kali Jibril membawa Rasulullah ﷺ ke salah satu langit dan meminta izin masuk, para malaikat penjaganya berkata kepada Jibril, "Siapa dia wahai Jibril?" Jibril menjawab, "Muhammad." Para malaikat berkata, "Apakah dia sudah diutus?" Jibril menjawab, "Ya." Para malaikat berkata, "Semoga Allah memberinya keselamatan." Demikianlah yang terjadi hingga sampai di langit ketujuh, lalu beliau menghadap kepada Tuhan-Nya, dan Allah mewajibkan kepadanya lima puluh shalat wajib dalam sehari.1

      Rasulullah ﷺ bersabda, "Kemudian aku keluar dan berpapasan dengan Musa bin 'Imran. Ia bertanya kepadaku, 'Berapa kali Allah mewajibkan shalat kepadamu?' Aku menjawab, 'Lima puluh kali dalam sehari.' Musa berkata, 'Sesungguhnya lima puluh kali itu berat dilaksanakan, apalagi umatmu itu lemah. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah Dia memberi dispensasi shalat bagimu dan bagi umatmu.' Kemudian aku kembali kepada Tuhanku dan meminta-Nya memberi keringanan shalat bagiku dan bagi umatku, kemudian Allah mengurangi sepuluh shalat dariku. Kemudian aku keluar dan kembali berpapasan dengan Musa. Musa mengatakan kepadaku seperti yang dia katakan sebelumnya. Kemudian aku kembali menghadap Tuhanku dan meminta dispensasi bagiku dan bagi umatku, kemudian Allah mengurangi sepuluh shalat dariku. Lalu aku keluar, kembali berpapasan dengan Musa, dan ia kembali berkata sebagaimana sebelumnya. Aku pun kembali menghadap Allah dan meminta dispensasi lagi, kemudian Allah mengurangi sepuluh shalat dariku. Lalu aku balik lagi dan kembali berpapasan dengan Musa yang tak pernah henti mengatakan seperti itu setiap kali aku pulang dari Allah: 'Kembali dan mintalah keringanan!' Kemudian aku kembali menghadap Tuhanku dan meminta-Nya memberi keringanan shalat bagiku dan bagi umatku, hingga akhirnya Allah menetapkan shalat lima waktu bagiku dalam sehari dan semalam. Kemudian aku menemui Musa, ia berkata sebagaimana sebelumnya. Aku berkata kepadanya, 'Aku telah bolak-balik menghadap Tuhanku dan meminta-Nya hingga aku merasa malu kepada-Nya. Aku tidak akan melakukannya lagi.' Jika salah seorang dari kalian mengerjakan shalat lima waktu dengan mengimaninya dan mengharap ridha Allah, ia mendapatkan pahala sebanyak lima puluh shalat (yang diwajibkan)."

    15. Lima pencemooh

      Allah melindungi beliau dari para pencemooh

      Rasulullah ﷺ terus menjalankan perintah Allah dengan sabar meski didustakan, diganggu, dan dicemooh. Menurut Yazid bin Ruman dari 'Urwah bin az-Zubair, tokoh pencemooh ada lima orang yang ditaati kaum masing-masing: al-Aswad bin al-Muththalib (Bani Asad), al-Aswad bin 'Abdu Yaghuts (Bani Zuhrah), al-Walid bin al-Mughirah (Bani Makhzum), al-'Ash bin Wa'il (Bani Sahm), dan al-Harits bin ath-Thulathilah (Khuza'ah). Turun QS al-Hijr 94-96.

      Baca selengkapnya

      Rasulullah ﷺ senantiasa melaksanakan perintah Allah dengan sabar dan mengharap ridha-Nya dan menyampaikan nasihat kepada kaumnya, meskipun beliau didustakan dan mendapat gangguan dan cemoohan. Tokoh-tokoh yang gemar menghina Rasulullah ﷺ, seperti disampaikan oleh Yazid bin Ruman dari 'Urwah bin az-Zubair kepadaku, ada lima orang. Mereka adalah para tokoh yang ditaati kaumnya masing-masing:1

      • Bani Asadal-Aswad bin al-Muththalib bin Asad Abu Zam'ah. Ketika Rasulullah ﷺ mendengar ia suka mencemooh, beliau mendoakan kejelekan untuknya: "Ya Allah, buatlah ia buta dan hancurkanlah ia."
      • Bani Zuhrahal-Aswad bin 'Abdu Yaghuts bin Wahb bin 'Abdu Manaf bin Zuhrah.
      • Bani Makhzumal-Walid bin al-Mughirah bin 'Abdullah bin 'Umar bin Makhzum.
      • Bani Sahmal-'Ash bin Wa'il bin Hisyam (Ibnu Hisyam: al-'Ash adalah anak Wa'il bin Hasyim bin Su'aid bin Sahm).
      • Bani Khuza'ahal-Harits bin ath-Thulathilah bin 'Amr bin al-Harits bin 'Abdu 'Amr bin Luay bin Malakan.

      Mereka tanpa henti terus mencemooh Rasulullah ﷺ, hingga Allah menurunkan ayat: "Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu), (yaitu) orang-orang yang menganggap adanya tuhan yang lain di samping Allah; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya)." (QS. al-Hijr: 94-96)

    16. Jibril

      Jibril menimpakan keburukan kepada kelima pencemooh

      Menurut Yazid bin Ruman dari 'Urwah atau pakar terpercaya lain, Jibril mendatangi Rasulullah ﷺ ketika orang Quraisy thawaf. Jibril melewati satu per satu dari lima orang itu dan mendoakan keburukan bagi mereka: al-Aswad bin al-Muththalib menjadi buta, al-Aswad bin 'Abdu Yaghuts perutnya membengkak hingga mati, luka di telapak kaki al-Walid kambuh hingga ia mati, kaki bagian dalam al-'Ash terluka hingga ia mati, dan kepala al-Harits mengeluarkan nanah hingga ia mati.

      Baca selengkapnya

      Yazid bin Ruman bercerita kepadaku dari 'Urwah bin az-Zubair atau orang selain 'Urwah dari kalangan pakar terpercaya bahwa Jibril mendatangi Rasulullah ﷺ ketika orang-orang Quraisy thawaf di Baitullah dan Rasulullah ﷺ berdiri di sisinya. Jibril berjalan melewati al-Aswad bin al-Muththalib, kemudian melemparkan daun hijau ke wajahnya, dan al-Aswad pun menjadi buta. Jibril kemudian berjalan melewati al-Aswad bin 'Abdu Yaghuts, lalu mendoakan keburukan pada perutnya hingga membengkak, dan ia mati karena perut kembung (gembur). Jibril lalu berjalan melewati al-Walid bin al-Mughirah, kemudian mendoakan keburukan agar bekas luka di bawah telapak kakinya kambuh kembali hingga membawa kepada kematiannya. Jibril berjalan lagi melewati al-'Ash bin Wa'il, kemudian mendoakan keburukan agar kaki bagian dalamnya terluka hingga membuatnya mati. Jibril berjalan melewati al-Harits ath-Thulathilah sambil mendoakan keburukan ke kepalanya, kemudian kepalanya mengeluarkan nanah dan ia mati karenanya.14

    17. Abu Uzaihir

      Wasiat al-Walid bin al-Mughirah dan Abu Uzaihir ad-Dausi

      Menjelang wafat, al-Walid bin al-Mughirah berpesan kepada tiga putranya (Hisyam, al-Walid, dan Khalid) tentang darahnya di Khuza'ah, uang ribanya di Tsaqif, dan uang diyatnya pada Abu Uzaihir ad-Dausi. Abu Uzaihir telah menikahkan putrinya dengan al-Walid tetapi tidak mempertemukan mereka. Setelah al-Walid wafat, Bani Makhzum menuntut tebusan dari Khuza'ah. Khuza'ah menolak, lalu setelah saling serang akhirnya mengganti rugi dan berdamai. Hisyam bin al-Walid menghabisi Abu Uzaihir di pasar Dzi al-Majaz.

      Baca selengkapnya

      Ketika hendak meninggal dunia, al-Walid bin al-Mughirah ditemani ketiga anaknya, yakni Hisyam bin al-Walid, al-Walid bin al-Walid, dan Khalid bin al-Walid. Ia berkata kepada mereka, "Aku wasiatkan tiga hal kepada kalian, dan penuhilah itu semua. Darahku di Khuza'ah, jangan kalian biarkan begitu saja tumpah tanpa ada balas dendam terhadapnya. Demi Allah, mereka memang berhasil lolos darinya, namun aku khawatir kalian akan dicaci maki nantinya. Uang ribaku ada di Tsaqif, cepatlah kalian mengambilnya. Uang diyatku ada pada tangan Abu Uzaihir ad-Dausi, cepat kalian ambil darinya."1

      Abu Uzaihir telah menikahkan al-Walid bin al-Mughirah dengan putrinya, kemudian Abu Uzaihir tidak mempertemukan putrinya dengan al-Walid. Sehingga, al-Walid tidak bisa menggauli istrinya (putri Abu Uzaihir) sampai ia meninggal dunia. Ketika al-Walid wafat, Bani Makhzum pergi kepada Khuza'ah untuk meminta uang tebusan kematiannya. Orang-orang dari Bani Khuza'ah berkata, "Sesungguhnya penyebab kematian al-Walid adalah karena terkena anak panah milik salah seorang dari sahabat-sahabat kalian sendiri." Bani Ka'b memiliki kedekatan dengan Bani 'Abdul Muthalib bin Hasyim. Bani Khuza'ah menolak keras membayar diyat atas kematian al-Walid kepada Bani Makhzum, hingga mereka membuat banyak sekali syair dan menimbulkan konflik yang sengit di antara mereka. Anak panah yang mengenai al-Walid adalah milik seorang pemuda dari Bani Ka'b bin 'Amr dari Khuza'ah.

      Kedua kubu besar ini saling serang tanpa henti, namun lama-kelamaan mereka sadar bahwa jika hal ini dibiarkan berlarut-larut maka akan terjadi caci-maki terhadap salah satu kaum. Maka Khuza'ah pun rela mengganti rugi kematian al-Walid kepada Bani Makhzum, dan kedua belah pihak akhirnya berdamai. Al-Jaun bin Abi al-Jaun terus saja berbangga diri atas kematian al-Walid dan bahwa Bani Khuza'ah yang berhasil mencederai al-Walid, padahal semua itu tidak benar. Al-Jaun bin Abi al-Jaun lalu pergi menyusul al-Walid dan anaknya. Kaum al-Jaun sedikit pun tidak khawatir atas apa yang diperbuat al-Jaun.

      Aku tidak menuliskan di sini satu bait syair yang sangat jorok dan vulgar.2

      Hisyam bin al-Walid kemudian pergi menghadap Abu Uzaihir yang pada saat itu sedang berada di pasar Dzi al-Majaz, sedangkan putrinya, 'Atikah binti Uzaihir, telah menjadi istri Abu Sufyan bin Harb. Abu Uzaihir adalah orang terpandang di tengah kaumnya. Hisyam bin al-Walid menghabisi Abu Uzaihir karena uang denda al-Walid ada padanya sebagaimana yang diwasiatkan ayahnya. Peristiwa ini terjadi sesudah Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah dan pasca Perang Badar Kubra, yang menghilangkan banyak sekali nyawa tokoh dan pemuka kaum musyrikin Quraisy.1

    18. Abu Sufyan

      Abu Sufyan meredam amarah Yazid; Hassan bin Tsabit mengecam

      Ketika Abu Sufyan berada di pasar Dzi al-Majaz, putranya Yazid mengumpulkan Bani 'Abdu Manaf dan orang Quraisy mengira Abu Sufyan ingin membalas dendam. Abu Sufyan segera turun ke Makkah, merebut tombak dari tangan Yazid dan memukul kepalanya, lalu berkata bahwa mereka akan memberi ganti rugi jika diterima. Hassan bin Tsabit mengecam sikap itu dengan syair, dan Abu Sufyan menuduhnya mengadu domba. Setelah Thaif masuk Islam, Khalid bin al-Walid menanyakan uang riba ayahnya di tangan Tsaqif; sebagian ahli mengaitkan QS al-Baqarah 278 dengannya.

      Baca selengkapnya

      Ketika Abu Sufyan bin Harb sedang berada di pasar Dzi al-Majaz, Yazid bin Abi Sufyan bin Harb keluar dari rumahnya untuk mengumpulkan Bani 'Abdu Manaf. Orang-orang Quraisy pun berkata, "Abu Sufyan ingin membalas dendam atas kematiannya." Ketika Abu Sufyan mendengar apa yang dilakukan anaknya, sedangkan ia dikenal berperangai lembut dan santun serta amat mencintai kaumnya, ia segera turun ke Makkah. Ia khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk terhadap orang-orang Quraisy akibat kematian Abu Uzaihir. Abu Sufyan menghampiri anaknya, Yazid, yang sedang menenteng tombak di tengah-tengah kaumnya, Bani 'Abdu Manaf dan orang-orang al-Muthayyibin. Ia mengambil tombak dari tangan Yazid dan memukulkannya ke kepala Yazid sehingga ia terdiam. Abu Sufyan berkata, "Dasar sialan! Apakah engkau mau mengadu domba sesama orang Quraisy hanya karena masalah seseorang dari Daus? Kita akan beri ganti rugi kepada mereka jika mereka mau menerimanya."1

      Mendengar itu Hassan bin Tsabit bangkit mendorong pembalasan darah Abu Uzaihir. Ia mengkritik habis-habisan sikap pengecut Abu Sufyan dengan sebuah syair (isi syairnya tidak tertulis dalam terjemahan). Mendengar kritikan Hassan, Abu Sufyan menukas, "Hassan bin Tsabit ingin mengadu domba kita semua gara-gara masalah orang dari Daus. Demi Allah, buruk benar apa yang dipikirkannya."

      Tatkala orang-orang Thaif telah masuk Islam, Khalid bin al-Walid berkata kepada Rasulullah ﷺ tentang uang riba al-Walid bin al-Mughirah yang ada di tangan Tsaqif, karena ayahnya telah berwasiat untuk mengambilnya.

      Sebagian ahli berkata kepadaku bahwa ayat tentang pengharaman sisa riba yang masih beredar di tengah orang-orang diturunkan karena Khalid bin al-Walid, yaitu: "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kalian orang-orang yang beriman." (QS. al-Baqarah: 278)1

    19. Daus

      Tidak ada balas dendam atas Abu Uzaihir, dan Ummu Ghailan melindungi orang Quraisy

      Ibnu Ishaq menyampaikan bahwa sejauh yang ia ketahui tidak ada balas dendam atas kematian Abu Uzaihir hingga Islam membatasi manusia dengan jelas. Dhirar bin al-Khaththab al-Fihri bersama beberapa orang Quraisy pernah datang ke perkampungan Daus. Orang Daus ingin membunuh mereka, tetapi Ummu Ghailan dan para wanita yang bersamanya melindungi mereka. Ibnu Hisyam menyebut ada yang mengatakan wanita itu Ummu Jamil. Ketika 'Umar menjadi khalifah, Ummu Jamil datang, dan 'Umar memberinya harta.

      Baca selengkapnya

      Sepanjang yang kami ketahui, tidak ada balas dendam atas kematian Abu Uzaihir hingga Islam memberikan batasan yang jelas antara manusia. Namun Dhirar bin al-Khaththab bin Mirdas al-Fihri bersama beberapa orang Quraisy datang ke perkampungan Daus. Mereka menemui Ummu Ghailan, mantan budak salah seorang dari Daus. Ummu Ghailan, menurut terjemahan, adalah "pendeta rambut wanita" dan mempersiapkan para pengantin. Orang-orang dari kabilah Daus ingin menghabisi orang-orang Quraisy tersebut sebagai balas dendam atas kematian Abu Uzaihir. Namun Ummu Ghailan dan perempuan-perempuan yang bersamanya bangkit melindungi orang-orang Quraisy tadi. Dhirar bin al-Khaththab berkata tentang peristiwa tersebut (bait syairnya tidak tertulis dalam terjemahan).1

      Abu 'Ubaidah bercerita kepadaku bahwa wanita yang menyelamatkan Dhirar bin al-Khaththab adalah Ummu Jamil. Ada lagi yang berpendapat bahwa wanita tersebut adalah Ummu Ghailan. Namun bisa saja Ummu Ghailan bersama-sama dengan Ummu Jamil menyelamatkan Dhirar bin al-Khaththab.2

      Ketika 'Umar bin al-Khaththab diangkat menjadi khalifah, Ummu Jamil datang mengunjunginya. Ummu Jamil menganggap bahwa 'Umar bin al-Khaththab adalah saudara Dhirar. Ketika Ummu Jamil mengisahkan nasabnya, 'Umar bin al-Khaththab berkata, "Sesungguhnya aku tidak lagi menjadi saudaranya, sebab saudaraku hanya dalam Islam. Ia sedang berperang. Aku mengetahui jasamu terhadapnya." Kemudian 'Umar memberinya harta karena Ummu Jamil dalam kondisi musafir.

      Pada Perang Uhud, Dhirar berkata kepada 'Umar bin al-Khaththab, "Berbahagialah, wahai anak lelaki al-Khaththab, aku tidak akan membunuhmu." 'Umar lalu memperkenalkan Ummu Jamil kepada Dhirar bin al-Khaththab setelah ia memeluk Islam.2

    Catatan

    1. Ibnu Ishaq.
    2. Tambahan Ibnu Hisyam.
    3. Dalam terjemahan, jawaban Jibril tentang kelompok yang memegang daging empuk dan daging busuk terpotong setelah "Mereka orang-orang yang". Kami tidak melengkapinya.
    4. Dalam terjemahan, pada kalimat tentang kaki bagian dalam, nama yang tertulis adalah "al-Aswad bin Wa'il". Daftar lima tokoh pada bagian sebelumnya tidak memuat nama itu, tetapi memuat al-'Ash bin Wa'il, sehingga kami menuliskan al-'Ash bin Wa'il mengikuti urutan lima nama tersebut.

    Catatan tambahan

    Penjelasan 'Aisyah dan Mu'awiyah: kalimat "Inilah hadits riwayat Al-Hasan ... lebih komplit dari hadits riwayat Qatadah", "Ucapan Aisyah dan Muawiyah ... tidak kontradiksi", "Dari sini jelaslah ...", dan "Wallahu a'lam dalam kondisi apa ..." tidak diberi nama pembicara di teks. Kami menuliskannya tanpa nama.

    Malaikat penjaga neraka: teks menulis "Semua dari para malaikat, tersenyum ..., ia tidak tertawa dan tidak tampak wajah gembira padanya" (kalimat kacau). Kami membacanya sebagai seorang malaikat yang tidak tertawa.

    Teks menulis kaki bagian dalam "Al-Aswad bin Wail" terluka. Nama itu tidak ada di daftar lima orang, jadi kami menulis al-'Ash bin Wa'il (sudah dicatat di bagian itu).

    Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Wafatnya Abu Thalib dan Khadijah, yang dalam buku langsung menyusul bagian ini, dibahas di bab berikutnya.