Pusat Sejarah Islam
Bab 21 dari 55

Boikot Shahifah di Syi'b

Quraisy memboikot Bani Hasyim dan Bani al-Muthalib lewat sebuah piagam yang digantung di Ka'bah. Lima tokoh Quraisy akhirnya membatalkannya, dan ternyata piagam itu sudah dimakan rayap.

2 atau 3 tahunSumber: Ibnu Hisyam
Sekilas

Isi bab ini

Bab ini mencakup boikot Shahifah terhadap Bani Hasyim dan Bani 'Abdul Muthalib, gangguan-gangguan Quraisy terhadap Rasulullah ﷺ beserta wahyu yang turun menanggapinya, kepulangan muhajirin dari Habasyah, perlindungan 'Utsman bin Mazh'un, Abu Salamah, dan Abu Bakar, pembatalan shahifah, serta Thufail, A'sya, Rukanah, para utusan Kristen, dan ayat-ayat yang turun sepanjang masa itu.

Shahifah

Quraisy melarang menikah, menjual, dan membeli dari Bani Hasyim dan Bani 'Abdul Muthalib.

Di Syi'b

Boikot berlangsung dua atau tiga tahun, dengan kesulitan yang sangat luar biasa.

Rayap

Shahifah dimakan rayap, kecuali kata "dengan nama-Mu ya Allah".

Pembatal

Lima orang Quraisy bersepakat membatalkan shahifah.

Peta

Makkah dan Habasyah

Pilih salah satu langkah di daftar yang menyertai peta. Garis putus-putus adalah perkiraan, karena buku menyebut asal dan tujuan tetapi tidak menyebut jalurnya, dan batas negara masa kini hanya patokan.

Makkah dan Habasyah
Tempat yang disebut Ibnu HisyamPerjalanan (garis perkiraan)
    Alur kisah

    Dari shahifah sampai ayat-ayat yang menanggapi olok-olok Quraisy

    Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.

    Perbedaan sumber

    Lama boikot. Ibnu Hisyam menyebut dua atau tiga tahun. Haykal menulis dua sampai tiga tahun di satu bagian dan tiga tahun di bagian lain. Khan menyebut tiga tahun.

    Wafatnya Abu Thalib dan Khadijah. Khan menuliskannya seolah-olah terjadi selama boikot, sedangkan Haykal menempatkannya beberapa waktu setelah boikot. Ibnu Hisyam membahasnya di bab tersendiri.

    1. Shahifah

      Quraisy menulis perjanjian boikot terhadap Bani Hasyim dan Bani 'Abdul Muthalib

      Setelah mengetahui kaum Muslimin tenteram di Habasyah, 'Umar dan Hamzah berada di pihak Rasulullah ﷺ, dan Islam menyebar di kabilah-kabilah Quraisy, orang-orang Quraisy berkumpul dan sepakat membuat perjanjian terhadap Bani Hasyim dan Bani 'Abdul Muthalib. Isinya empat larangan. Perjanjian itu ditulis di sebuah shahifah, mereka bersumpah menaatinya, lalu menempelkannya di tengah Ka'bah. Penulisnya Manshur bin 'Ikrimah, dan sebagian jarinya lumpuh setelah didoakan Rasulullah ﷺ.

      Ka'bah dan Masjidil Haram, Makkah
      Ka'bah di Masjidil Haram, Makkah, kondisi sekarang (foto 2 Oktober 2015).Foto: GusJuned · CC BY-SA 3.0 · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Ketika orang-orang Quraisy mengetahui bahwa sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ berada di Habasyah dan memperoleh kedamaian dan kenyamanan di sana, dan bahwa Najasyi melindungi siapa saja yang meminta perlindungan kepadanya, saat itulah 'Umar bin al-Khaththab memeluk Islam. 'Umar bersama Hamzah bin 'Abdul Muthalib berada di kubu Rasulullah ﷺ dan sahabat-sahabatnya, serta Islam menyebar luas di kabilah-kabilah Quraisy. Maka mereka segera berkumpul untuk mengadakan rapat. Dalam rapat itu mereka merencanakan konspirasi dengan cara membuat perjanjian yang ditujukan kepada Bani Hasyim dan Bani 'Abdul Muthalib. Isi perjanjian tersebut adalah:1

      • Larangan 1Mereka tidak boleh menikahi wanita-wanita dari Bani Hasyim dan Bani 'Abdul Muthalib.
      • Larangan 2Mereka tidak boleh menikahkan putri-putri mereka dengan orang-orang dari Bani Hasyim dan Bani 'Abdul Muthalib.
      • Larangan 3Mereka tidak boleh menjual apa pun kepada Bani Hasyim dan Bani 'Abdul Muthalib.
      • Larangan 4Mereka tidak boleh membeli apa pun dari Bani Hasyim dan Bani 'Abdul Muthalib.

      Ketika sudah mufakat dengan seluruh isi perjanjian itu, mereka menulisnya di shahifah (surat perjanjian), kemudian bersumpah untuk senantiasa menaatinya. Setelah itu mereka menempelkan shahifah di tengah-tengah Ka'bah sebagai bukti sikap mereka. Penulisnya adalah Manshur bin 'Ikrimah bin 'Amir bin Hasyim bin 'Abdu Manaf bin 'Abduddar bin Qushay.

      Ada juga yang mengatakan bahwa penulisnya adalah an-Nadhr bin al-Harits. Rasulullah ﷺ mendoakan kehancuran atasnya, maka lumpuhlah sebagian jari Manshur bin 'Ikrimah.2

    2. Abu Lahab

      Abu Thalib dibela kerabat, tetapi Abu Lahab berpihak kepada Quraisy

      Bani Hasyim dan Bani 'Abdul Muthalib berpihak kepada Abu Thalib dan bergabung dengannya. Dari Bani Hasyim, hanya Abu Lahab ('Abdul 'Uzza bin 'Abdul Muthalib) yang keluar dari kaumnya dan mendukung Quraisy. Ia bertanya kepada Hindun binti 'Utbah apakah sikapnya itu telah menolong al-Lata dan al-'Uzza. Setelah itu turun surat al-Masad tentangnya dan istrinya.

      Baca selengkapnya

      Ketika orang-orang Quraisy melakukan hal itu, Bani Hasyim dan Bani 'Abdul Muthalib berpihak kepada Abu Thalib bin 'Abdul Muthalib dan bergabung bersamanya. Dari kalangan Bani Hasyim yang keluar dan bergabung dengan orang-orang Quraisy serta mendukung sikap mereka ialah Abu Lahab, 'Abdul 'Uzza bin 'Abdul Muthalib.1

      Husain bin 'Abdullah bercerita kepadaku: Abu Lahab bertemu dengan Hindun binti 'Utbah bin Rabi'ah sesudah ia keluar dari kaumnya dan berpihak kepada orang-orang Quraisy dalam menghadapi kaumnya sendiri. Ia berkata, "Hai anak perempuan 'Utbah, dengan sikap yang kuambil ini, apakah aku telah menolong al-Lata dan al-'Uzza? Apakah aku telah berpaling dari orang-orang yang telah meninggalkan al-Lata dan al-'Uzza? Apakah aku telah membela al-Lata dan al-'Uzza?" Hindun binti 'Utbah berkata, "Ya, semoga Allah membalas dengan ganjaran yang baik kepadamu, wahai Abu 'Utbah."

      Aku diberitahu bahwa, selain berkata seperti di atas, ia juga berkata, "Muhammad mengintimidasi aku dengan sesuatu yang belum pernah aku lihat. Ia berkata bahwa akan ada kehidupan setelah kematian ini. Celakalah engkau berdua. Aku tidak melihat padamu berdua sesuatu yang dikatakan Muhammad." Kemudian Allah menurunkan ayat tentang Abu Lahab:1

      "Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya terdapat tali dari sabut." (QS. al-Masad: 1-5)3

      Tabbat artinya merugi, dan at-tabab artinya kerugian.2

    3. Di Syi'b

      Dua atau tiga tahun, dan Hakim bin Hizam dihadang Abu Jahl

      Bani Hasyim dan Bani 'Abdul Muthalib menjalani boikot selama dua atau tiga tahun dengan kesulitan yang sangat luar biasa. Makanan dan minuman hanya bisa sampai kepada mereka dengan sembunyi-sembunyi. Abu Jahl menghadang Hakim bin Hizam yang membawa tepung untuk bibinya, Khadijah, di Syi'b. Abu al-Bakhtari membela Hakim hingga memukul kepala Abu Jahl dengan tulang rahang unta. Rasulullah ﷺ tetap berdakwah siang malam.

      Baca selengkapnya

      Bani Hasyim dan Bani 'Abdul Muthalib menjalani pemboikotan orang-orang Quraisy selama dua atau tiga tahun, hingga mereka menjalani kesulitan yang sangat luar biasa. Tidak ada makanan atau minuman yang bisa sampai kepada mereka kecuali dengan cara sembunyi-sembunyi, dan siapa pun dari orang-orang Quraisy tidak bisa berinteraksi dengan mereka kecuali dengan cara sembunyi-sembunyi pula.1

      Abu Jahl berjumpa dengan Hakim bin Hizam bin Khuwailid bin Asad yang sedang berjalan bersama budak laki-lakinya yang membawa tepung untuk diantarkan kepada bibinya, Khadijah, istri Rasulullah ﷺ yang sedang berada bersama beliau di Syi'b. Abu Jahl mendekat dan berkata, "Akankah kau membawa makanan ini kepada Bani Hasyim? Demi Allah, engkau tidak bisa membawa makananmu itu hingga aku mengata-ngataimu di kota Makkah." Saat itu Abu al-Bakhtari bin Hisyam bin al-Harits bin Asad datang dan berkata kepada Abu Jahl, "Apa masalahmu dengannya?" Abu Jahl menjawab, "Dia mau mengantar makanan kepada Bani Hasyim." Abu al-Bakhtari berkata, "Makanan ini awalnya milik bibinya. Bibinya mengirimkannya kepadanya, lalu mengapa engkau melarangnya membawa kembali makanan itu kepada bibinya? Biarkanlah dia pergi!"

      Abu Jahl tidak menerima saran itu, dan terjadilah duel seru antara keduanya. Abu al-Bakhtari mengambil tulang rahang unta, memukulkannya ke kepala Abu Jahl hingga luka dan berdarah, lalu menginjaknya keras-keras. Hamzah bin 'Abdul Muthalib yang berada di dekat tempat kejadian menyaksikan langsung perkelahian itu. Orang-orang Quraisy tidak mau duel itu didengar Rasulullah ﷺ dan sahabat-sahabatnya, sebab beliau dan para sahabat pasti akan menertawakannya.

      Walaupun mendapat boikot dari orang-orang Quraisy, Rasulullah ﷺ tetap berdakwah tanpa henti kepada kaumnya siang dan malam, baik diam-diam maupun terang-terangan. Beliau tetap menyerukan perintah Allah tanpa takut kepada siapa pun.

    4. Abu Lahab dan Ummu Jamil

      Istri Abu Lahab datang membawa batu

      Karena Rasulullah ﷺ dilindungi pamannya dan didukung kaumnya, orang-orang Quraisy gagal menghentikan beliau, lalu mengejek, mencibir, dan menantangnya berduel. Wahyu turun tentang sebagian mereka. Ummu Jamil binti Harb, istri Abu Lahab, dijuluki "pembawa kayu bakar" karena meletakkan onak di jalan yang dilewati beliau. Ia datang membawa batu ke masjid, tetapi Allah memalingkan pandangannya dari Rasulullah ﷺ sehingga ia hanya melihat Abu Bakar.

      Baca selengkapnya

      Ketika Rasulullah ﷺ dilindungi pamannya dan didukung kaumnya dari Bani Hasyim dan Bani 'Abdul Muthalib, orang-orang Quraisy gagal menghentikan tindakan beliau, maka mulailah mereka mengejek, mencibir, dan menantangnya berduel. Wahyu pun turun mengisahkan dengan lengkap perilaku orang Quraisy dan orang-orang yang menabuh genderang permusuhan kepada beliau. Ada yang namanya disebutkan dengan jelas oleh Al-Qur'an, ada pula yang disebut Allah secara umum sebagai orang-orang kafir saja.1

      Di antara yang disebutkan jelas ialah paman Rasulullah ﷺ, Abu Lahab bin 'Abdul Muthalib, dan istrinya, Ummu Jamil binti Harb bin Umayyah. Allah menamainya "pembawa kayu bakar", karena, seperti yang disampaikan kepadaku, ia membawa onak dan meletakkannya di jalan yang selalu dilalui Rasulullah ﷺ. Tentang keduanya Allah menurunkan surat al-Masad: 1-5 (ayatnya tertulis di bagian sebelumnya).

      Kata al-jiid artinya leher, jamaknya ajyaad; al-masad artinya pohon yang telah dihaluskan sebagaimana pohon rami dihaluskan kemudian dibuat tali, kata tunggalnya masadah.2

      Ketika Ummu Jamil mendengar ayat yang diturunkan tentang dirinya dan suaminya, ia segera datang kepada Rasulullah ﷺ yang waktu itu sedang duduk di masjid di sisi Ka'bah ditemani Abu Bakar ash-Shiddiq. Ia datang dengan membawa batu besar segenggam tangannya. Ketika berdiri di depan beliau dan Abu Bakar, Allah memalingkan pandangannya dari Rasulullah ﷺ sehingga ia hanya melihat Abu Bakar. Ia berkata, "Wahai Abu Bakar, mana sahabatmu? Aku dengar sahabatmu mencibir kelakuanku. Demi Allah, apabila aku berjumpa dengannya, pasti aku sumpal mulutnya dengan batu ini. Demi Allah, aku seorang penyair." Kemudian ia berkata:

      "Mudzammam (lawan dari Muhammad) kami tantang dirinya / Kami bangkang semua perintahnya / Dan agamanya membuat kami marah"

      Selesai mengatakan itu Ummu Jamil pergi. Abu Bakar berkata, "Wahai Rasulullah, apakah Ummu Jamil tidak melihatmu?" Beliau bersabda, "Ia tidak mampu melihatku, karena Allah cabut penglihatannya dariku."

      Ucapan Ummu Jamil "Dan agamanya membuat kami marah" bukan berasal dari Ibnu Ishaq.2

      Orang-orang Quraisy menamakan beliau Mudzammam, lalu mereka mencela habis-habisan nama itu. Rasulullah ﷺ bersabda, "Ketahuilah, tidakkah kalian merasa takjub bagaimana Allah melindungiku dari gangguan orang-orang Quraisy? Mereka mencela dan mengolok-olok nama Mudzammam, sedangkan aku adalah Muhammad."

    5. Umayyah dan al-'Ash

      Umayyah bin Khalaf, al-'Ash bin Wa'il, dan utang kepada Khabbab

      Umayyah bin Khalaf melaknat dan mengeluarkan kata kotor setiap kali melihat Rasulullah ﷺ, lalu turun surat al-Humazah. Al-'Ash bin Wa'il berutang kepada Khabbab bin al-Arat, pandai besi pembuat pedang, dan berkata akan beriman nanti di Hari Kiamat bila di surga memang ada emas dan perak; turunlah QS Maryam 77-80.

      Baca selengkapnya

      Umayyah bin Khalaf bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah, jika melihat Rasulullah ﷺ, ia melaknat dan mengeluarkan kata-kata kotor untuk beliau. Allah lalu menurunkan ayat tentang orang ini:1

      "Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang." (QS. al-Humazah: 1-9)

      Al-humazah ialah orang yang suka melaknat orang lain di depan umum dengan mengarahkan mata padanya serta mencelanya, jamaknya humazaat; al-lumazah ialah orang yang mengumpat orang lain dan menyakitinya secara diam-diam, jamaknya lamazaat. (Ia juga menyebut potongan syair Hassan bin Tsabit dan Ru'bah bin al-'Ajjaj sebagai contoh pemakaian kata-kata itu.)2

      Juga al-'Ash bin Wa'il as-Sahmi. Khabbab bin al-Arat, salah seorang sahabat Rasulullah ﷺ, adalah tukang besi pembuat pedang di Makkah. Ia telah menjual banyak sekali pedang kepada al-'Ash bin Wa'il, yang dibuat secara khusus untuknya. Ketika uangnya sudah banyak pada al-'Ash, ia datang menagih. Al-'Ash berkata, "Wahai Khabbab, bukankah sahabatmu, Muhammad, yang engkau imani itu mengatakan bahwa di surga penghuninya mengenakan emas, perak, atau pakaian dan mempunyai pembantu?" Khabbab menjawab, "Benar." Al-'Ash berkata, "Jika demikian beri aku perpanjangan waktu hingga Hari Kiamat, agar aku bisa kembali pada hari tersebut lalu aku beriman dengan kalian. Demi Allah, engkau dan sahabat-sahabatmu tidak lebih baik dariku di sisi Allah dan tidak lebih beruntung di sisi-Nya." Allah lalu menurunkan ayat tentang al-'Ash bin Wa'il:1

      "Maka apakah kamu telah melihat orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami dan ia mengatakan: 'Pasti aku akan diberi harta dan anak.' Adakah ia melihat yang gaib atau ia telah membuat perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah? Sekali-kali tidak, Kami akan menulis apa yang ia katakan, dan benar-benar Kami akan memperpanjang adzab untuknya, dan Kami akan mewarisi apa yang ia katakan itu, dan ia akan datang kepada Kami dengan seorang diri." (QS. Maryam: 77-80)

    6. Abu Jahl dan an-Nadhr

      Tuhan-tuhan tidak dicela, dan an-Nadhr bercerita tentang raja-raja Persia

      Abu Jahl meminta Rasulullah ﷺ berhenti mencemooh tuhan-tuhan mereka, kalau tidak mereka akan menghina Tuhan yang beliau sembah; turun QS al-An'am 108, dan beliau berhenti memaki sesembahan mereka lalu mengajak mereka kepada Allah. An-Nadhr bin al-Harits menandingi dakwah beliau dengan cerita tentang Rustum dan raja-raja Persia, dan menyebut Al-Qur'an dongeng orang dahulu.

      Baca selengkapnya

      Abu Jahl berjumpa dengan Rasulullah ﷺ lalu berkata, "Wahai Muhammad, hendaknya engkau berhenti mencemooh tuhan-tuhan kami! Jika tidak, maka kami akan menghina Tuhan yang engkau sembah." Lalu Allah menurunkan ayat:1

      "Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan." (QS. al-An'am: 108)

      Sejak saat itu Rasulullah ﷺ berhenti memaki sesembahan mereka dan sebagai gantinya beliau mengajak mereka kepada Allah.

      An-Nadhr bin al-Harits bin Kaladah bin 'Alqamah bin 'Abdu Manaf bin 'Abduddar bin Qushay, jika Rasulullah ﷺ menyeru manusia kepada Allah, membaca Al-Qur'an, dan memperingatkan orang-orang Quraisy tentang siksa yang menimpa umat-umat terdahulu, ia akan melakukan hal yang sama, kemudian bercerita kepada manusia tentang Rustum as-Sindid, tentang Isfandiyar, dan raja-raja Persia. Setelah itu ia berkata, "Demi Allah, ceramah Muhammad tidaklah lebih baik daripada ceramahku. Ucapan Muhammad hanyalah dongeng-dongeng orang dulu. Aku mampu menuliskan dongeng-dongeng sebagaimana ia menuliskan dongeng-dongeng tersebut." Lalu Allah menurunkan ayat tentang dirinya:

      "Dan mereka berkata: 'Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang.' Katakanlah: 'Al-Qur'an itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'" (QS. al-Furqan: 5-6)

      Allah juga menurunkan tentang an-Nadhr bin al-Harits: "Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: '(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala.'" (QS. al-Qalam: 15), dan: "Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa, dia mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya kemudian dia tetap menyombongkan diri seakan-akan dia tidak mendengarnya. Maka beri kabar gembiralah dia dengan adzab yang pedih." (QS. al-Jatsiyah: 7-8)

      Kata al-affak artinya para pendusta, seperti dalam QS ash-Shaffat: 151-152. (Ia mengutip pula sebait syair Ru'bah bin al-'Ajjaj.)2

    7. Bahan bakar Jahanam

      An-Nadhr diam, lalu Abdullah bin az-Zaba'ra berdebat tentang sesembahan

      Rasulullah ﷺ duduk di masjid bersama al-Walid bin al-Mughirah. An-Nadhr datang dan mengganggu pembicaraan, lalu beliau menegurnya hingga diam dan membacakan QS al-Anbiya' 98-100. Al-Walid menceritakan itu kepada 'Abdullah bin az-Zaba'ra yang menanyakan apakah malaikat, 'Uzair, dan 'Isa juga masuk Jahanam. Rasulullah ﷺ menjawab, lalu turun QS al-Anbiya' 101-102.

      Baca selengkapnya

      Suatu hari Rasulullah ﷺ, sebagaimana berita yang disampaikan kepadaku, sedang duduk-duduk dengan al-Walid bin al-Mughirah di masjid. Tiba-tiba datanglah an-Nadhr bin al-Harits dan duduk bersama mereka. Saat itu ada beberapa orang Quraisy di masjid. Rasulullah ﷺ berbicara kepada mereka, namun pembicaraan beliau diganggu oleh an-Nadhr. Beliau menegurnya hingga ia diam. Setelah itu beliau membacakan ayat berikut kepadanya dan orang-orang Quraisy lainnya:1

      "Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahanam, kamu pasti masuk ke dalamnya. Andaikata berhala-berhala itu tuhan, tentulah mereka tidak masuk neraka. Dan semuanya akan kekal di dalamnya. Mereka merintih di dalam api dan mereka di dalamnya tidak bisa mendengar." (QS. al-Anbiya': 98-100)

      Hashabu Jahannam artinya segala sesuatu yang membuat Jahanam menyala.2

      Rasulullah ﷺ lalu berdiri. Pada saat yang bersamaan datanglah 'Abdullah bin az-Zaba'ra as-Sahmi dan duduk. Al-Walid bin al-Mughirah berkata kepadanya, "Demi Allah, tadi an-Nadhr bin al-Harits seperti patung yang tak bisa bergerak akibat perkataan anak 'Abdul Muththalib. Muhammad mengatakan bahwa kita dan tuhan-tuhan sesembahan kita ini akan menjadi bahan bakar Jahanam." 'Abdullah bin az-Zaba'ra berkata, "Demi Allah, jika berjumpa dengan Muhammad, aku pasti berdebat dengannya. Tanyailah Muhammad, apakah semua tuhan yang disembah selain Allah itu berada di dalam Jahanam beserta penyembahnya? Kita menyembah para malaikat, sedang orang-orang Yahudi menyembah 'Uzair dan orang-orang Kristen menyembah 'Isa bin Maryam." Al-Walid dan orang-orang yang hadir tercengang dengan ucapan itu. Mereka yakin 'Abdullah bin az-Zaba'ra mampu beradu argumentasi dengan lihai.

      Ucapan itu disampaikan kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda, "Barangsiapa ingin menyembah sesuatu selain Allah, maka orang yang menyembahnya akan bersama dengan sesembahannya. Sesungguhnya mereka itu menyembah setan-setan dan apa saja yang dibisikkan setan untuk disembah." Lalu Allah menurunkan wahyu:

      "Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka, mereka tidak mendengar sedikit pun suara api neraka, dan mereka kekal dalam menikmati apa yang diingini oleh mereka." (QS. al-Anbiya': 101-102)

      Dijelaskan bahwa yang dimaksud ayat itu ialah 'Isa bin Maryam, 'Uzair, para rahib dan pendeta yang taat kepada Allah, yang dijadikan tuhan selain Allah oleh para penyembahnya dari kalangan orang-orang yang menyimpang. Al-Qur'an juga merekam ucapan mereka bahwa malaikat adalah anak-anak perempuan Allah, dan membantahnya dalam QS al-Anbiya': 26-29. Al-Qur'an juga menyinggung kekaguman al-Walid dan hadirin pada ucapan 'Abdullah bin az-Zaba'ra dalam QS az-Zukhruf: 57, lalu menyebut 'Isa sebagai "hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian)" dalam QS az-Zukhruf: 59-61. Maksudnya: tanda-tanda kebesaran yang Allah berikan kepada 'Isa, yaitu membangunkan kembali orang mati dan menyembuhkan orang sakit, sudah cukup sebagai bukti pengetahuannya tentang hari kiamat.

    8. al-Akhnas dan al-Walid

      Orang-orang besar yang menentang

      Al-Akhnas bin Syariq ats-Tsaqafi, sekutu Bani Zuhrah dan tokoh yang disegani, menyakiti Rasulullah ﷺ; turun QS al-Qalam 10-13. Al-Walid bin al-Mughirah bertanya mengapa wahyu tidak turun kepadanya atau kepada Abu Mas'ud 'Amr bin 'Umair ats-Tsaqafi, pemimpin Tsaqif; turun QS az-Zukhruf 31-32.

      Baca selengkapnya

      Al-Akhnas bin Syariq bin Wahb ats-Tsaqafi, sekutu Bani Zuhrah, termasuk salah seorang tokoh yang disegani di kaumnya. Ia menyakiti Rasulullah ﷺ dan menentang beliau, lalu Allah menurunkan ayat mengenai dirinya:1

      "Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menyebarkan fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya." (QS. al-Qalam: 10-13)

      Dijelaskan bahwa Allah menyebut zaniim bukan karena ada yang hina dalam nasabnya, sebab Allah tidak mencela seseorang karena nasabnya; Allah menetapkan sifatnya agar diketahui. Zaniim artinya yang keras, kaku, dan jahat pada kaumnya.

      Al-Walid bin al-Mughirah berkata, "Mengapa wahyu diturunkan kepada Muhammad dan tidak diturunkan kepadaku, padahal akulah tokoh senior Quraisy dan pemimpinnya? Serta mengapa tidak diturunkan kepada Abu Mas'ud 'Amr bin 'Umair ats-Tsaqafi, pemimpin Tsaqif? Padahal kami berdua pemimpin besar di tengah kaum kami?" Lalu Allah menurunkan ayat:

      "Dan mereka berkata: 'Mengapa Al-Qur'an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Makkah dan Tha'if) ini? Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.'" (QS. az-Zukhruf: 31-32)

    9. Ubay dan 'Uqbah

      Ludah, tulang yang hancur, dan dua sahabat karib

      Ubay bin Khalaf dan 'Uqbah bin Abi Mu'aith adalah dua sahabat dekat. Ketika 'Uqbah duduk mendengar Rasulullah ﷺ, Ubay bersumpah tidak mau bicara dengannya sampai ia meludahi wajah beliau, dan 'Uqbah melakukannya; turun QS al-Furqan 27-29. Ubay juga datang membawa tulang rusak, menghancurkannya, dan meniupkannya ke arah beliau; turun QS Yasin 78-80.

      Baca selengkapnya

      Ubay bin Khalaf bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah dan 'Uqbah bin Abi Mu'aith adalah dua sahabat dekat. Suatu waktu 'Uqbah duduk bersama Rasulullah ﷺ dan mendengar sesuatu dari beliau. Hal ini didengar Ubay, lalu ia mendatangi 'Uqbah dan berkata, "Benarkah engkau telah duduk bersama Muhammad dan mendengar sesuatu darinya? Demi Tuhan, aku tidak akan mau berbicara denganmu!" Ubay bersumpah dengan sangat keras. "Benarkah engkau pernah duduk bersamanya dan mendengar sesuatu darinya? Lalu kenapa engkau tidak datang kepadanya dan meludahi wajahnya?" 'Uqbah melakukan permintaan Ubay, lalu Allah menurunkan ayat tentang keduanya:1

      "Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: 'Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur'an ketika Al-Qur'an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.'" (QS. al-Furqan: 27-29)

      Ubay bin Khalaf menghampiri Rasulullah ﷺ sambil membawa tulang rusak yang sudah berbau busuk, lalu berkata, "Wahai Muhammad, engkau pernah mengatakan bahwa Allah akan membangkitkan hewan ini setelah rusak seperti ini." Usai mengatakan itu, ia memukul hancur tulang itu dengan tangannya, kemudian meniupkannya ke arah Rasulullah ﷺ. Beliau bersabda, "Benar, aku mengatakan itu. Allah akan membangkitkannya, juga membangkitkanmu setelah kalian menjadi tulang belulang, lalu Allah menenggelamkanmu ke dalam neraka." Lalu Allah menurunkan ayat:

      "Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: 'Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?' Katakanlah: 'Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk, yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu.'" (QS. Yasin: 78-80)

    10. al-Kafirun

      Tawaran saling menyembah, lalu pohon zaqqum

      Saat Rasulullah ﷺ thawaf, al-Aswad bin al-Muththalib, al-Walid bin al-Mughirah, Umayyah bin Khalaf, dan al-'Ash bin Wa'il menawarkan agar saling menyembah sesembahan masing-masing; turunlah surat al-Kafirun. Abu Jahl menafsirkan pohon zaqqum sebagai kurma Yatsrib bercampur mentega, lalu turun QS ad-Dukhan 43-46 dan al-Isra' 60.

      Baca selengkapnya

      Ketika Rasulullah ﷺ sedang thawaf di Ka'bah, beliau didatangi al-Aswad bin al-Muththalib bin Asad bin 'Abdul 'Uzza, al-Walid bin al-Mughirah, Umayyah bin Khalaf, dan al-'Ash bin Wa'il. Mereka adalah orang-orang terpandang di kaumnya masing-masing. Mereka berkata, "Wahai Muhammad, bagaimana andai kami menyembah apa yang kau sembah dan kau menyembah apa yang kami sembah. Kita saling bekerja sama dalam hal ini. Jika apa yang engkau sembah lebih baik daripada apa yang kami sembah, maka kami akan mengikutimu. Jika apa yang kami sembah lebih baik, maka engkau mengikuti kami." Allah lalu menurunkan:1

      "Katakanlah: 'Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku.'" (QS. al-Kafirun: 1-6)

      Ketika Allah menyebutkan pohon zaqqum dan menakut-nakuti mereka dengannya, Abu Jahl berkata, "Wahai orang-orang Quraisy, apakah kalian tahu pohon zaqqum yang dibicarakan Muhammad untuk mengancam kalian?" Mereka menjawab, "Kami tidak tahu!" Abu Jahl berkata, "Pohon zaqqum adalah kurma Yatsrib yang bercampur mentega. Demi Allah, jika kami mendapatkannya, kami pasti mencabutnya dengan keras." Allah lalu menurunkan ayat tentang ucapan Abu Jahl itu:

      "Sesungguhnya pohon zaqqum itu, makanan orang yang banyak berdosa. (Ia) sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang sangat panas." (QS. ad-Dukhan: 43-46)

      Al-muhlu artinya benda-benda yang bisa meleleh, misalnya tembaga, timah, atau yang serupa, sebagaimana dikatakan kepadanya oleh Abu 'Ubaidah. Ia lalu menyebut dua riwayat yang sampai kepadanya: 'Abdullah bin Mas'ud, petugas Baitul Mal di Kufah pada masa 'Umar bin al-Khaththab, memerintahkan melelehkan perak, lalu berkata kepada orang-orang yang masuk bahwa yang paling mirip dengan al-muhlu adalah lelehan itu; dan Abu Bakar yang berwasiat dimandikan dan dikafani dengan dua bajunya, lalu berkata kepada 'Aisyah bahwa waktu itu hanya sedetik sebelum berubah menjadi al-muhlu. Ia juga menyebut sebait syair dan bahwa ada yang memaknai muhlu sebagai nanah di dalam tubuh.2

      Kemudian Allah menurunkan tentang Abu Jahl: "Dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al-Qur'an. Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka." (QS. al-Isra': 60)1

    11. Ibnu Ummi Maktum

      Rasulullah ﷺ berpaling dari seorang buta yang datang belajar

      Rasulullah ﷺ berbicara kepada al-Walid bin al-Mughirah karena sangat ingin ia masuk Islam. Ibnu Ummi Maktum yang buta lewat dan memintanya mengajarkan Al-Qur'an; karena sedang fokus kepada al-Walid, beliau berpaling dengan muka masam. Turunlah QS 'Abasa 1-14. Ibnu Ummi Maktum dari Bani 'Amir bin Luay, nama aslinya 'Abdullah (ada yang menyebut 'Amr).

      Baca selengkapnya

      Al-Walid bin al-Mughirah dihampiri Rasulullah ﷺ. Beliau berbicara kepadanya karena sangat menginginkan al-Walid masuk Islam. Saat beliau sedang berbicara dengan al-Walid, lewatlah Ibnu Ummi Maktum yang buta. Ia mengajak bicara Rasulullah ﷺ dan memintanya mengajarkan Al-Qur'an untuknya. Merasa diganggu, beliau membentaknya karena sedang fokus dengan urusan al-Walid dan keinginan beliau agar ia masuk Islam. Ketika Ibnu Ummi Maktum terus-menerus meminta dibacakan Al-Qur'an, Rasulullah ﷺ berpaling darinya dengan muka masam, maka Allah menurunkan ayat tentang beliau:1

      "Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan." (QS. 'Abasa: 1-14)

      Ibnu Ummi Maktum adalah pemuda dari Bani 'Amir bin Luay. Nama aslinya 'Abdullah; ada pula yang mengatakan namanya 'Amr.2

    12. Pulang dari Habasyah

      Kabar palsu bahwa penduduk Makkah masuk Islam

      Sampai kabar kepada para muhajirin di Habasyah bahwa warga Makkah masuk Islam, lalu mereka bermaksud pulang. Menjelang Makkah mereka mendapat berita bahwa itu dusta, sehingga tidak ada yang masuk Makkah kecuali dengan perlindungan orang lain atau sembunyi-sembunyi. Sebagian kemudian hijrah ke Madinah dan ikut Perang Badar, sebagian tertahan di Makkah, sebagian wafat di sana. Jumlah yang tiba di Makkah dari Habasyah: tiga puluh tiga laki-laki.

      Masjid di tepi Laut Merah, Jeddah
      Masjid di tepi Laut Merah (corniche) di Jeddah, Arab Saudi, foto tahun 2008. Hanya gambaran pesisir Laut Merah hari ini, bukan tempat peristiwa.Foto: Ilmarry · CC BY-SA 4.0 · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Sampailah berita kepada sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ yang berhijrah tentang masuk Islamnya warga Makkah, lalu mereka bermaksud pulang ke Makkah. Namun ketika mendekati Makkah, mereka mendapat berita bahwa semua itu dusta belaka. Karena itu tidak ada seorang pun dari mereka yang memasuki Makkah kecuali dengan perlindungan orang lain atau dengan sembunyi-sembunyi. Di antara mereka ada yang tiba di Makkah, menetap, lalu hijrah ke Madinah dan ikut Perang Badar bersama Rasulullah ﷺ. Ada yang tetap tinggal di Makkah hingga tidak bisa ikut Perang Badar dan perang-perang lainnya. Ada juga yang wafat di Makkah.1

      Yang pulang ke Makkah menurut kabilah (daftar ini ditulis sebagaimana dalam buku):

      • Bani 'Abdu Syams'Utsman bin 'Affan bersama istrinya, Ruqayyah binti Rasulullah ﷺ; Abu Hudzaifah bin 'Utbah bersama istrinya, Sahlah binti Suhail. Sekutu mereka: 'Abdullah bin Jahsy.
      • Bani Naufal'Utbah bin Ghazwan, sekutu Bani 'Abdu Syams dari Qais 'Ailan.
      • Bani Asadaz-Zubair bin al-'Awwam.
      • Bani 'AbduddarMush'ab bin 'Umair; Suwaibith bin Sa'd bin Harmalah.
      • Bani 'Abd bin QushayThulaib bin 'Umair.
      • Bani Zuhrah'Abdurrahman bin 'Auf; al-Miqdad bin 'Amr, sekutu Bani Zuhrah; 'Abdullah bin Mas'ud, sekutu Bani Zuhrah.
      • Bani MakhzumAbu Salamah bin 'Abdul Asad bersama istrinya, Ummu Salamah binti Umayyah; Syammas bin 'Utsman; Salamah bin Hisyam, yang dikekang pamannya di Makkah dan baru bebas setelah Perang Badar, Uhud, dan Khandaq; 'Ayyasy bin Abi Rabi'ah, yang hijrah ke Madinah lalu dibawa pulang Abu Jahl dan al-Harits bin Hisyam dan dikekang di Makkah sampai Badar, Uhud, dan Khandaq usai. Sekutu mereka: 'Ammar bin Yasir (diragukan apakah ia ikut hijrah ke Habasyah) dan Mu'attib bin 'Auf dari Khuza'ah.
      • Bani Jumah'Utsman bin Mazh'un bersama anaknya, as-Sa'ib bin 'Utsman, serta Qudamah bin Mazh'un dan 'Abdullah bin Mazh'un.
      • Bani SahmKhunais bin Hudzafah; Hisyam bin al-'Ash bin Wa'il, yang tertahan di Makkah setelah hijrah Rasulullah ﷺ ke Madinah dan baru bisa hijrah seusai Badar, Uhud, dan Khandaq.
      • Bani 'Adi'Amir bin Rabi'ah, sekutu Bani Sahm, bersama istrinya, Laita binti Abi Hatsmah.
      • Bani 'Amir bin Luay'Abdullah bin Makhramah; 'Abdullah bin Suhail bin 'Amr, yang ditawan di Makkah ketika Rasulullah ﷺ hijrah dan kabur dari kaum musyrik pada Perang Badar lalu ikut berperang bersama beliau; Abu Sabrah bin Abi Ruhm bersama istrinya, Ummu Kultsum binti Suhail; as-Sakran bin 'Amr bersama istrinya, Saudah binti Zam'ah. Sekutu mereka: Sa'd bin Khaulah.
      • Bani al-Harits bin FihrAbu 'Ubaidah bin al-Jarrah ('Amir bin 'Abdullah al-Jarrah); 'Amr bin al-Harts bin Zuhair; Suhail bin Baidha' (Suhail bin Wahb bin Rabi'ah bin Hilal); 'Amr bin Abi Sarh bin Rabi'ah bin Hilal.

      Jumlah seluruh sahabat Rasulullah ﷺ yang tiba di Makkah dari Habasyah adalah tiga puluh tiga orang laki-laki. Di antara mereka yang masuk Makkah dengan perlindungan orang lain ialah 'Utsman bin Mazh'un al-Jumahi (dalam perlindungan al-Walid bin al-Mughirah) dan Abu Salamah bin 'Abdul Asad al-Makhzumi (dalam perlindungan Abu Thalib, yang adalah pamannya dari jalur ibu, sebab ibu Abu Salamah adalah Barrah binti 'Abdul Muthalib).4

    13. 'Utsman bin Mazh'un

      Mengembalikan perlindungan al-Walid

      Setelah melihat penderitaan para sahabat, 'Utsman bin Mazh'un merasa menyesal berada aman dalam perlindungan al-Walid bin al-Mughirah dan mengembalikannya di depan umum di masjid. Ketika Labid bin Rabi'ah membacakan syair, 'Utsman membenarkan separuhnya dan menolak separuh lain; seorang pemuda memukul matanya hingga memar. Al-Walid mengajaknya mengambil kembali perlindungan, tetapi ia menolak.

      Baca selengkapnya

      Ketika 'Utsman bin Mazh'un melihat cobaan yang diderita sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ, sedangkan ia sendiri sehari semalam berada dalam jaminan keamanan al-Walid bin al-Mughirah, ia berkata, "Demi Allah, keberadaanku sehari semalam dalam keadaan aman di bawah perlindungan salah seorang musyrik, sedang sahabat-sahabatku dan orang-orang yang memiliki keyakinan yang sama denganku mendapatkan ujian di jalan Allah yang tidak menimpaku, adalah suatu penyesalan tersendiri dalam diriku."5

      'Utsman pergi menemui al-Walid dan berkata, "Wahai Abu 'Abdu Syams, engkau telah menepati semua hak perlindungan, namun kini aku serahkan kembali perlindungan itu kepadamu." Al-Walid bertanya, "Mengapa demikian wahai keponakanku? Apakah ada seseorang dari kaumku yang menyakitimu?" 'Utsman menjawab, "Sama sekali tidak! Aku hanya merasa tenteram dengan perlindungan Allah dan tidak ingin perlindungan dari selain Dia." Al-Walid berkata, "Kalau begitu, mari kita pergi ke Masjidil Haram lalu kau kembalikan perlindunganku kepadaku di depan umum, sebagaimana aku melindungimu di depan khalayak ramai." Keduanya berjalan bersama hingga tiba di masjid. Al-Walid berkata, "Ini 'Utsman, ia datang ke tempat ini untuk mengembalikan perlindunganku kepadaku." 'Utsman berkata, "Apa yang dikatakan al-Walid itu sungguh benar. Sungguh, dia telah menepati hak perlindungan dan ia orang yang memberi perlindungan dengan penuh kemuliaan. Namun aku tidak suka mencari perlindungan dari selain Allah. Sekarang aku kembalikan perlindungannya kepadanya."

      Usai mengumumkan hal itu, 'Utsman pergi. Saat itu Labid bin Rabi'ah bin Malik bin Ja'far bin Kilab duduk mengobrol bersama orang-orang Quraisy dan sedang membacakan syair kepada mereka. 'Utsman duduk bersama mereka. Labid berkata, "Ketahuilah, hanya Allah lah yang Haq dan segala sesuatu selain Allah itu batil." 'Utsman berkata, "Engkau berkata benar." Labid melanjutkan, "Dan setiap nikmat itu pastilah binasa." 'Utsman berkata, "Kalau yang ini engkau dusta. Kenikmatan surga tidak akan pernah binasa." Labid berkata, "Wahai orang-orang Quraisy, demi Allah teman ngobrol kalian belum pernah disakiti. Sejak kapan kejadian seperti ini menimpa kalian?" Seorang hadirin berkata, "Sesungguhnya orang bodoh ini (maksudnya 'Utsman bin Mazh'un) bersama orang-orang bodoh seperti dia telah keluar dari agama kami. Oleh karena itu, engkau jangan sekali-kali terprovokasi dengan ucapannya." 'Utsman membalas ucapan orang itu hingga sengketa semakin besar. Orang itu berdiri ke arah 'Utsman dan memukul matanya hingga memar.

      Al-Walid yang berada tidak jauh dari tempat kejadian melihat dengan jelas apa yang dialami 'Utsman dan berkata, "Demi Allah, wahai keponakanku, sesungguhnya dirimu belum pernah mengalami derita sebagaimana yang engkau alami saat ini, selama engkau berada dalam perlindungan yang kokoh." 'Utsman berkata, "Sesungguhnya diriku sangat berempati dengan apa yang diderita saudaranya yang lain di jalan Allah. Demi Allah, aku berada dalam perlindungan Dzat yang lebih tangguh dan lebih hebat darimu, wahai Abu 'Abdu Syams." Al-Walid berkata, "Kemarilah wahai keponakanku, jika engkau ingin seperti dulu lagi, maka ambillah kembali perlindunganmu." 'Utsman menjawab, "Tidak!"

    14. Abu Salamah

      Abu Thalib melindungi Abu Salamah, dan Abu Lahab ikut membela

      Beberapa orang Bani Makhzum menemui Abu Thalib dan memprotes mengapa ia melindungi Abu Salamah yang bukan keponakannya. Abu Thalib menjawab bahwa Abu Salamah juga keponakannya, dan bila ia tidak melindunginya maka ia juga tidak akan melindungi Muhammad. Abu Lahab bangkit membela Abu Thalib. Abu Thalib terpesona mendengarnya, lalu menggubah syair untuk mendorong Abu Lahab menolong Rasulullah ﷺ.

      Baca selengkapnya

      Abu Ishaq bin Yasar berkata kepadaku dari Salamah bin 'Abdullah bin 'Umar bin Abi Salamah bahwa ia diberitahu: ketika Abu Salamah meminta perlindungan kepada Abu Thalib, beberapa orang dari Bani Makhzum menemui Abu Thalib dan berkata, "Wahai Abu Thalib, apa maksud semua ini? Kami relakan engkau melindungi keponakanmu, Muhammad, dari kami. Lalu apa alasanmu melindungi seorang laki-laki yang bukan keponakanmu?" Abu Thalib berkata, "Abu Salamah termasuk keponakanku juga. Jika aku tidak melindungi Abu Salamah, maka aku juga tidak akan melindungi Muhammad."1

      Abu Lahab bangkit dan berkata dengan nada marah, "Wahai orang Quraisy, demi Allah, kalian tiada henti-hentinya memprotes orang tua ini atas perlindungannya terhadap salah seorang di antara kaumnya. Demi Allah, apa yang kalian lakukan ini hanyalah kesia-siaan belaka." Mereka berkata, "Lalu kami harus bagaimana wahai Abu 'Utbah (Abu Lahab)?" Abu Lahab adalah pendukung dan penolong berat mereka dalam berhadapan dengan Rasulullah ﷺ. Mereka tetap berada dalam kondisi seperti itu. Abu Thalib sendiri terpesona saat mendengar ucapan Abu Lahab di atas dan sangat berharap Abu Lahab mengambil sikap seperti dirinya terhadap Rasulullah ﷺ. Maka Abu Thalib berkata dalam syair untuk mendorong Abu Lahab menolong beliau (ditulis di buku dengan kata-kata yang sebagian sulit dipahami), di antaranya:

      "Hai Abu Mu'thib, tetap kokohkanlah kepribadianmu! Janganlah sekali-kali menyerah pada zaman, sepanjang kau ada di jalan lurus... Karena engkau tidak tercipta dalam keadaan lemah. Perangilah, karena perang adalah solusi terbaik..."

      Bait-bait itu ditutup dengan: "Demi Baitullah, kalian semua dusta bohong. Kami tidak merampas Muhammad... Tidakkah kalian lihat suatu hari dia berdiri di Syi'b"6

    15. Abu Bakar

      Abu Bakar dilindungi Ibnu ad-Daghinah, lalu mengembalikan perlindungannya

      Ketika Abu Bakar tidak lagi nyaman di Makkah, ia meminta izin berhijrah dan Rasulullah ﷺ mengizinkan. Dalam perjalanan ia bertemu Ibnu ad-Daghinah (ditulis juga ad-Dughunnah), pemimpin Ahabisy, yang membawanya pulang ke Makkah dalam perlindungannya. Karena tangisan Abu Bakar saat membaca Al-Qur'an dikhawatirkan memengaruhi pemuda, budak, dan wanita Quraisy, ia diminta berdiam di rumah. Abu Bakar mengembalikan perlindungan itu. Seorang jahil melempar tanah ke kepalanya dalam perjalanan ke Ka'bah.

      Baca selengkapnya

      Az-Zuhri bercerita kepadaku dari 'Urwah dari 'Aisyah: ketika Abu Bakar ash-Shiddiq merasa Makkah sudah tidak akrab lagi baginya karena gangguan di dalamnya, dan melihat kekejaman orang-orang Quraisy terhadap Rasulullah ﷺ dan sahabat-sahabat beliau, ia memohon izin kepada beliau untuk berhijrah dan beliau mengizinkan. Dalam perjalanannya ia bertemu Ibnu ad-Daghinah, saudara Bani al-Harits bin Bakr bin 'Abdu Manat bin Kinanah, yang ketika itu pemimpin orang-orang Ahabisy.1

      Ahabisy adalah anak-anak al-Harits bin 'Abdu Manat bin Kinanah, Hun bin Mudrikah, dan Bani Mushthaliq bin Khuza'ah.1

      Mereka melakukan persekutuan, maka disebut Ahabisy karena bersekutu di sebuah lembah bernama Ahbasy di bawah Makkah; ada yang berkata nama Ibnu ad-Dughunnah adalah Ibnu ad-Daghinah.2

      Ibnu ad-Daghinah bertanya, "Kenapa engkau ingin pergi wahai Abu Bakar?" Abu Bakar menjawab, "Aku diusir oleh kaumku. Mereka menyakiti serta mempersempit ruang gerakku." Ibnu ad-Daghinah berkata, "Kenapa itu semua bisa terjadi? Demi Allah, engkau hiasan keluarga, menolong orang yang berada dalam kesulitan, melakukan banyak kebajikan, dan membantu orang miskin. Jangan pergi, karena aku akan melindungimu." Abu Bakar pulang bersamanya. Ketika memasuki Makkah, Ibnu ad-Daghinah berdiri dan berkata, "Wahai orang-orang Quraisy, sesungguhnya aku telah melindungi anak Abu Quhafah. Maka siapa pun tidak boleh menyakitinya sedikit pun." 'Aisyah berkata: orang-orang Quraisy pun mematuhinya.

      Abu Bakar mempunyai masjid di pintu rumahnya di Bani Jumah dan biasa shalat di sana. Ia berhati lembut; apabila membaca Al-Qur'an, pasti ia terharu. Anak-anak muda, para budak, dan para wanita berdiri di tempat Abu Bakar karena kagum dengan postur tubuhnya. Karena itu beberapa orang Quraisy menemui Ibnu ad-Daghinah dan berkata, "Engkau melindungi orang ini bukan untuk mengganggu kami, kan? Manakala ia shalat dan membaca apa yang dibawa Muhammad, ia menangis, dan ia memiliki postur tubuh yang menawan. Kami khawatir anak-anak muda, wanita, dan orang-orang lemah di antara kami terpengaruh olehnya. Nasihatilah Abu Bakar agar tidak keluar rumah dan melakukan hal semacam itu."

      Ibnu ad-Daghinah berkata kepada Abu Bakar, "Perlindunganmu bukanlah dengan maksud agar engkau mengusik kaummu. Sesungguhnya mereka tidak suka tempat engkau shalat dan merasa terganggu oleh perbuatanmu. Oleh sebab itu, berdiamlah di dalam rumahmu, dan berbuatlah apa saja yang engkau suka." Abu Bakar berkata, "Bagaimana kalau perlindunganmu kukembalikan kepadamu dan aku lebih ridha dengan perlindungan Allah?" Ibnu ad-Daghinah menjawab, "Ya, cabutlah perlindunganku kepadamu!" Abu Bakar berkata, "Baiklah." Ibnu ad-Daghinah berdiri dan berkata, "Wahai orang-orang Quraisy, sesungguhnya anak Abu Quhafah telah mengembalikan perlindunganku kepadaku, maka terserah apa yang akan kalian lakukan pada sahabat kalian ini."

      'Abdurrahman bin al-Qasim bercerita kepadaku dari ayahnya, al-Qasim bin Muhammad: dalam perjalanannya menuju Ka'bah, Abu Bakar berjumpa dengan seorang Quraisy yang jahil, yang melemparkan tanah ke kepalanya. Lalu al-Walid bin al-Mughirah atau al-'Ash bin Wa'il berjalan melewati Abu Bakar, dan orang jahil itu berkata, "Engkau sendiri yang menyebabkan keadaanmu seperti ini." Abu Bakar berkata, "Ya Tuhan, betapa Penyayangnya Engkau. Ya Tuhan, betapa Penyantunnya Engkau. Ya Tuhan, betapa Penyantunnya Engkau."1

    16. Pembatalan

      Lima orang Quraisy membatalkan shahifah

      Hisyam bin 'Amr, saudara seibu dengan Nadhlah bin Hasyim, diam-diam mengantar makanan dengan untanya ke Syi'b. Lalu ia mengajak Zuhair bin Abi Umayyah (putra 'Atikah binti 'Abdul Muthalib), al-Muth'im bin 'Adi, Abu al-Bakhtari bin Hisyam, dan Zam'ah bin al-Aswad. Mereka berlima bertemu di dekat al-Hajun di Makkah Atas dan sepakat membatalkan shahifah. Zuhair berbicara pertama di antara orang-orang Quraisy setelah thawaf tujuh kali, dan Abu Jahl menolak, tetapi keempat lainnya mendukung.

      Baca selengkapnya

      Beberapa orang Quraisy secara sepihak membatalkan shahifah yang diterapkan orang-orang Quraisy terhadap Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib. Peristiwa ini dipimpin Hisyam bin 'Amr bin Rabi'ah bin al-Harits bin Habib bin Nashr bin Malik bin Hisl bin 'Amir bin Luay, karena Hisyam bin 'Amr adalah saudara seibu dengan Nadhlah bin Hasyim bin 'Abdu Manaf dan memiliki hubungan kuat dengan Bani Hasyim. Ia sangat dihormati di mata kaumnya. Pada suatu malam ia mendatangi Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib di Syi'b dengan menunggang unta dan mengangkut makanan di atas untanya. Setibanya di gerbang Syi'b, ia turun menggiring untanya, berjalan ke depan, dan masuk menemui mereka. Pada hari yang lain ia datang membawa untanya yang mengangkut gandum dan melakukan seperti biasanya.1

      Hisyam bin 'Amr mendatangi Zuhair bin Abi Umayyah bin al-Mughirah bin 'Abdullah bin 'Umar bin Makhzum, yang ibunya adalah 'Atikah binti 'Abdul Muthalib. Ia berkata, "Hai Zuhair, apakah engkau gembira, jika engkau menikmati makanan, mengenakan pakaian, menikah dengan wanita-wanita, sedang paman-pamanmu dari jalur ibumu, seperti yang engkau ketahui, tidak boleh menjual dan membeli dari manusia, tidak boleh menikah dan tidak boleh menikahkan putri-putri mereka kepada manusia yang lain? Demi Allah, andaikata mereka adalah paman-paman Abu al-Hakam bin Hisyam, kemudian engkau ajak mereka menuruti keinginanmu, maka tidak ada seorang pun dari mereka yang menjawab seruanmu untuk selamanya." Zuhair berkata, "Lalu apa yang dapat aku lakukan? Demi Allah, jika aku didukung orang lain, pasti aku batalkan shahifah tersebut." Hisyam berkata, "Ada orang lain yang mendukungmu." "Siapa dia?" "Aku!" "Carilah pihak ketiga," kata Zuhair.

      Hisyam menemui al-Muth'im bin 'Adi dan berkata, "Wahai al-Muth'im, senangkah engkau dua kabilah dari Bani Manaf dan engkau mendukung orang-orang Quraisy dalam masalah ini? Demi Allah, jika engkau mendukung mereka dalam masalah ini, engkau pasti kena getahnya." Al-Muth'im berkata, "Lalu apa yang dapat aku lakukan, sementara aku hanyalah seorang diri?" Hisyam berkata, "Ada orang kedua yang sependapat denganmu... Aku." Al-Muth'im berkata, "Carilah orang lain lagi!" Hisyam berkata, "Telah aku lakukan... Zuhair bin Abi Umayyah." Al-Muth'im berkata, "Carilah lagi orang lain!"

      Hisyam lalu menemui Abu al-Bakhtari bin Hisyam dan berkata seperti kepada al-Muth'im. Abu al-Bakhtari bertanya, "Adakah orang yang bisa membantu masalah ini?" Hisyam berkata, "Ya, Zuhair bin Abi Umayyah, al-Muth'im bin 'Adi, dan saya sependapat denganmu." Abu al-Bakhtari berkata, "Carilah orang lain lagi!" Hisyam lalu menemui Zam'ah bin al-Aswad bin al-Muththalib bin Asad dan berbicara dengannya sambil memuji hubungan keluarga Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib dengannya dan hak mereka atas dirinya. Zam'ah bertanya apakah ada yang sependapat, dan Hisyam menyebutkan orang-orang yang telah mufakat dengannya. Mereka sepakat bertemu di samping al-Hajun di Makkah Atas.

      Lima orang itu bertemu di samping al-Hajun, sepakat, dan berjanji membatalkan shahifah. Zuhair berkata, "Akulah orang yang pertama kali akan angkat bicara." Keesokan harinya mereka pergi ke ruang rapat mereka. Zuhair datang dengan pakaian mewah, thawaf tujuh kali di Baitullah, lalu menemui orang-orang Quraisy dan berkata, "Wahai orang-orang Makkah, pantaskah kita menikmati makanan dan mengenakan pakaian, sedang Bani Hasyim binasa tidak boleh melakukan jual-beli? Demi Allah, aku tidak akan duduk sampai shahifah yang memutus silaturahim dan zalim ini disobek."

      Abu Jahl yang sedang berada di sudut masjid berkata, "Demi Allah, jangan omong kosong di sini. Shahifah ini tidak boleh disobek." Zam'ah berkata, "Demi Allah, engkau jauh lebih dusta, wahai Abu Jahl. Kami tidak rela penulisan shahifah ini sejak awal penulisannya." Abu al-Bakhtari berkata, "Zam'ah berkata benar. Demi Allah, kita tidak puas dengan apa yang ditulis di dalamnya dan kita mengingkarinya." Al-Muth'im berkata, "Kalian berdua berkata benar, dan dustalah orang yang memprotes kalian. Kita berlepas tangan kepada Allah dari shahifah ini dan dari semua yang ditulis di dalamnya." Hisyam bin 'Amr berkata hal yang sama.

    17. Rayap

      Shahifah dimakan rayap, kecuali nama Allah

      Abu Jahl berkata bahwa hal itu telah dirundingkan di malam hari, bukan di tempat itu. Abu Thalib sedang duduk di sudut masjid. Al-Muth'im bangkit hendak menyobek shahifah, tetapi menemukannya telah dimakan rayap, kecuali kata "dengan nama-Mu ya Allah". Penulisnya, Manshur bin 'Ikrimah, lumpuh tangannya. Menurut Ibnu Hisyam, sebagian pakar menyebut Rasulullah ﷺ lebih dulu memberi tahu Abu Thalib dan Abu Thalib menantang Quraisy untuk membuktikannya.

      Baca selengkapnya

      Abu Jahl berkata, "Apa yang kalian lakukan telah kalian sepakati di suatu malam dengan musyawarah, dan bukan di tempat ini kalian putuskan." Saat itu Abu Thalib sedang duduk di sudut masjid. Al-Muth'im bin 'Adi bangkit dan berjalan menuju shahifah untuk menyobeknya, namun ia mendapati rayap-rayap telah memakannya, kecuali kata "dengan nama-Mu ya Allah". Penulis shahifah itu adalah Manshur bin 'Ikrimah. Setelah menuliskannya tangannya lumpuh, demikianlah menurut riwayat para ulama.

      Sebagian pakar menyebut bahwa Rasulullah ﷺ berkata kepada Abu Thalib, "Pamanda, sesungguhnya Allah telah mengirim rayap-rayap kepada shahifah orang-orang Quraisy ini. Rayap-rayap itu justru membiarkan nama Allah di shahifah itu dan menghapus kezaliman, pemutusan hubungan silaturahim, dan kebohongan dari shahifah itu." Abu Thalib bertanya, "Apakah Tuhanmu menginformasikan hal ini kepadamu?" Beliau menjawab, "Ya, benar." Abu Thalib berkata, "Mana Tuhanmu, kenapa aku tidak melihatnya?" (pertanyaan itu sesuai teks terjemahan). Abu Thalib lalu keluar menemui orang-orang Quraisy dan berkata, "Wahai orang-orang Quraisy, sesungguhnya keponakanku memberitahuku ini dan itu. Mari kita buktikan kebenaran ucapannya. Jika shahifah tersebut persis seperti yang dikatakan keponakanku, maka berhentilah memboikot kami dan turunkanlah apa saja yang ada di dalamnya. Jika keponakanku berkata dusta, maka dia kuserahkan kepada kalian." Orang-orang Quraisy berkata, "Baiklah, kami sependapat dengan tawaranmu." Mereka pun sepakat, lalu melihatnya, dan ternyata shahifah itu persis seperti yang dikatakan Rasulullah ﷺ. Saat itulah beberapa orang Quraisy membatalkan shahifah yang telah mereka buat.27

    18. al-Muth'im bin 'Adi

      Perlindungan al-Muth'im setelah kembali dari Thaif

      Di akhir bagian ini buku menyebut peristiwa yang disebutnya terjadi usai Rasulullah ﷺ kembali dari Thaif: beliau menyuruh orang meminta perlindungan kepada al-Akhnas bin Syariq (menolak), Suhail bin 'Amr (menolak), dan al-Muth'im bin 'Adi (bersedia). Al-Muth'im keluar dengan keluarganya dengan persenjataan lengkap dan mempersilakan beliau masuk masjid; beliau thawaf dan shalat, lalu pulang. Hassan bin Tsabit memuji Hisyam bin 'Amr.

      Baca selengkapnya

      Ibnu Ishaq menuturkan: usai kembali dari Thaif, Rasulullah ﷺ kembali pergi ke Gua Hira. Beliau mengirim seseorang menjumpai al-Akhnas bin Syariq untuk memohon perlindungan. Al-Akhnas berkata, "Aku seorang lawan, dan seorang lawan tidak boleh memberikan perlindungan kepada lawannya." Beliau lalu mengutus seseorang menjumpai Suhail bin 'Amr, yang berkata, "Sesungguhnya Bani 'Amir dilarang melindungi seseorang untuk melawan Bani Ka'b." Beliau kemudian mengirim seseorang menjumpai al-Muth'im bin 'Adi, dan ia siap memberikan perlindungan. Al-Muth'im beserta keluarganya keluar dari rumah dengan persenjataan lengkap hingga tiba di masjid, lalu mengirim seseorang kepada beliau dengan pesan, "Silakan, masuklah ke dalam masjid!" Beliau masuk, thawaf di Baitullah dan shalat di sampingnya, lalu pulang ke rumah. Inilah yang dimaksud Hassan bin Tsabit dalam syairnya.

      Hassan bin Tsabit juga memuji Hisyam bin 'Amr atas jasanya membatalkan shahifah dalam syairnya, yang dimulai dengan: "Adakah Bani Umayyah memenuhi hak perlindungan dengan ikatan nan kokoh sebagaimana yang dilakukan oleh Hisyam?" (Ibnu Hisyam menambahkan bahwa Hisyam adalah saudara Suham, dan ada yang berkata nama Suham adalah Sukham.)18

    19. Thufail

      Thufail bin 'Amr ad-Dausi mendengar Al-Qur'an dan masuk Islam

      Orang Quraisy melarang siapa pun, termasuk orang Arab yang datang ke Makkah, mendengarkan Rasulullah ﷺ. Thufail bin 'Amr, penyair terhormat dan cerdas, sampai menutup telinganya dengan kapas. Suatu hari ia berdiri dekat beliau yang shalat di sisi Ka'bah dan mendengar Al-Qur'an, lalu mengikuti beliau ke rumahnya dan masuk Islam. Ia pulang kepada kaumnya, dan Allah memberinya cahaya di cambuknya sebagai tanda. Ayah dan istrinya masuk Islam, sedang kabilah Daus lamban merespons.

      Baca selengkapnya

      Walaupun memperoleh perlakuan hina dari kaumnya, Rasulullah ﷺ tetap menyampaikan nasihat dan menyeru mereka kepada keselamatan dari apa yang sedang mereka alami. Adapun orang-orang Quraisy, mereka melarang manusia, dan siapa saja dari orang Arab yang datang pada mereka.1

      Thufail bin 'Amr adalah seorang yang terhormat, penyair, dan sangat cerdas. Orang-orang Quraisy berkata kepadanya, "Wahai Thufail, engkau telah tiba di negeri kami dan orang ini (Nabi Muhammad) yang ada di tengah-tengah kita telah membuat kami semua porak-poranda. Ia telah memecah belah persatuan dan kesatuan kita. Ucapannya laksana sihir yang mampu memutuskan hubungan seorang anak dengan ayahnya, saudara dengan saudaranya, dan suami dengan istrinya. Kami sangat khawatir jika apa yang telah terjadi pada kami itu lambat laun akan menimpamu dan kaummu. Karena itu, janganlah engkau sedikit pun mengobrol dengannya, jangan pula mendengar sesuatu pun darinya!"

      Thufail bin 'Amr bercerita, "Demi Allah, mereka tak pernah henti mengatakan itu padaku hingga aku bertekad untuk tidak mendengarkan sesuatu pun dari Rasulullah ﷺ dan tidak berbicara dengan beliau, sampai aku menutup kedua telingaku dengan kapas karena khawatir perkataan beliau masuk ke kedua telingaku. Suatu hari aku pergi ke masjid, dan tanpa kuduga Rasulullah ﷺ berdiri shalat di sisi Ka'bah. Aku berdiri mendekati beliau. Ternyata Allah berkehendak agar aku mendengarkan sebagian firman-Nya. Sungguh apa yang aku dengar adalah ucapan yang teramat indah. Aku bergumam, 'Demi Allah, sungguh aku seorang yang cerdas dan penyair yang pandai memilah antara yang haq dengan yang batil. Lalu apa salahnya kalau aku mendengar apa yang dikatakan lelaki ini? Jika yang dia bawa adalah kebenaran, aku akan menerimanya. Jika yang dibawanya adalah kebatilan, aku akan meninggalkannya.'"

      "Aku terpaku bagai patung di tempatku sampai Rasulullah ﷺ beranjak pulang ke rumahnya. Aku mengikuti beliau diam-diam dari belakang hingga beliau masuk ke dalam rumahnya, dan aku ikut masuk. Aku berkata, 'Hai Muhammad, kaummu mengatakan ini dan itu padaku. Demi Allah, mereka terus-menerus menakut-nakuti aku terhadap persoalanmu, hingga aku menutup kedua telingaku ini dengan kapas agar tidak bisa mendengar ucapanmu. Namun ternyata Allah memberiku hidayah hingga bisa mendengarkan ucapanmu yang teramat indah. Tolong terangkan kepadaku persoalanmu!'" Thufail berkata, "Rasulullah ﷺ menerangkan tentang Islam kepadaku dan membacakan Al-Qur'an. Demi Allah, aku belum pernah mendengar perkataan seindah Al-Qur'an dan sesuatu yang lebih adil daripada Islam. Maka aku segera memeluk Islam dengan menyaksikan dua kalimat syahadat. Aku berkata, 'Wahai Nabi Allah, sesungguhnya aku orang yang ditaati di tengah-tengah kaumku. Aku akan pulang dan mengajak mereka kepada Islam. Oleh karena itu, berdoalah kepada Allah agar Dia memberiku satu tanda yang bisa membantuku dalam menyeru mereka.'" Beliau berkata, "Ya Allah, berilah dia sebuah tanda."

    20. Tanda di cambuk

      Cahaya di cambuk, ayah dan istri masuk Islam

      Dalam perjalanan pulang, di Tsaniyyah (celah antara dua gunung yang dari sana rumah kaumnya terlihat), muncul cahaya seperti lentera di kedua matanya. Thufail meminta agar cahaya itu tidak di wajahnya, lalu cahaya berpindah ke ujung cambuknya. Ayahnya yang sudah tua dan istrinya masuk Islam setelah mandi, istrinya mandi di Dzi asy-Syara, berhala Daus. Kabilah Daus lamban merespons, sehingga ia kembali ke Makkah memohon doa.

      Baca selengkapnya

      Thufail melanjutkan: "Aku pulang kepada kaumku. Ketika aku berada di Tsaniyyah, celah antara dua gunung, yang dari sini aku bisa melihat rumah-rumah kaumku, tiba-tiba di kedua mataku ada cahaya seperti lentera. Aku berkata, 'Ya Allah, janganlah dia ada di wajahku. Aku khawatir kaumku mengira cahaya tersebut adalah tanda bahwa aku keluar dari agama mereka.' Kemudian cahaya itu pindah ke ujung cambukku, dan orang-orang bisa melihat sinar di cambukku bagaikan lentera, sementara aku turun ke tempat mereka dari Tsaniyyah hingga tiba di tempat mereka keesokan harinya."

      "Tatkala aku tiba di rumah, ayahku yang sudah berusia lanjut memanggilku. Aku berkata, 'Ayahanda, kini aku tidak lagi termasuk golonganmu dan engkau tidak lagi termasuk golonganku.' Ayahku berkata, 'Apa maksudmu bicara begitu wahai anakku?' Aku berkata, 'Aku telah masuk Islam dan mengikuti agama Muhammad ﷺ.' Ayahku berkata, 'Anakku, agamamu agamaku juga.' Aku berkata, 'Mandilah dan cucilah pakaian Ayah! Setelah itu datanglah kepadaku kembali agar aku mengajari Ayah apa yang telah diajarkan kepadaku.' Ayah pun pergi, mandi, dan mencuci pakaiannya. Setelah itu ia datang kepadaku, kemudian aku terangkan perihal Islam dan ia pun memeluk Islam."

      "Lalu datanglah istriku mendekatiku. Aku berkata, 'Kini aku bukan termasuk golonganmu lagi dan engkau tidak lagi termasuk dari golonganku.' Istriku berkata, 'Apa maksudmu?' Aku berkata, 'Islam telah memisahkanku darimu, aku telah mengikuti agama Muhammad ﷺ.' Istriku berkata, 'Agamamu agamaku jua.' Aku berkata, 'Pergilah ke Dzi asy-Syara.'"

      Thufail berkata, "Pergilah ke Dzi asy-Syara, lalu mandilah di sana!" Dzi asy-Syara adalah berhala kabilah Daus, yang dilindungi kabilah Daus; di sana ada air terjun yang turun dari gunung. Istrinya bergegas pergi mandi, kembali, dan Thufail menerangkan Islam kepadanya, dan ia pun memeluk Islam.2

      "Kemudian aku menyeru kabilah Daus kepada Islam, namun sayang mereka agak lamban merespons seruanku. Aku datang kembali kepada Rasulullah ﷺ di Makkah dan berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya perzinaan telah mendominasi kabilah Daus, maka berdoalah kepada Allah untuk mereka.' Beliau berkata, 'Ya Allah, tunjukilah kabilah Daus. Kembalilah engkau kepada kaummu, lalu serulah mereka dan bersikap santunlah terhadap mereka.'"

    21. Thufail kemudian

      Thufail membawa Daus ke Khaibar dan membakar Dzu al-Kafain

      Thufail kembali menyeru Daus hingga Rasulullah ﷺ hijrah dan Badar, Uhud, dan Khandaq berlalu. Ia membawa sekitar tujuh puluh atau delapan puluh keluarga yang masuk Islam menemui beliau di Khaibar. Setelah Allah menaklukkan Makkah, ia diutus membakar berhala Dzu al-Kafain. Pada masa Abu Bakar ia ikut menumpas orang murtad dan gugur sebagai syahid di Perang Yamamah; anaknya, 'Amr bin Thufail, gugur di Yarmuk pada masa 'Umar.

      Baca selengkapnya

      Thufail bercerita: "Aku pulang kembali di tengah kabilah Daus untuk menyeru mereka kepada Islam hingga Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah sampai terjadinya Perang Badar, Perang Uhud, dan Perang Khandaq. Aku pergi menemui Rasulullah ﷺ dengan membawa orang-orang dari kaumku yang telah masuk Islam. Saat itu beliau sedang berada di Khaibar. Aku sampai di Madinah dengan membawa sekitar tujuh puluh atau delapan puluh keluarga yang telah masuk Islam, dan kami menyusul beliau di Khaibar, dan beliau memberi bagian rampasan perang sebagaimana kaum Muslimin yang lain. Hingga Allah menaklukkan Makkah untuk beliau. Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, kirimlah aku kepada berhala Dzu al-Kafain, berhala milik 'Amr bin Humamah, untuk aku bakar.'"

      Thufail berangkat menuju berhala Dzu al-Kafain, lalu membakarnya sambil berkata: "Wahai Dzu al-Kafain, aku bukan lagi budak-budakmu / Kami lahir lebih awal daripada kamu / Kini aku selipkan api di dalam hatimu."1

      Usai melakukan itu, Thufail kembali menghadap Rasulullah ﷺ. Ia hidup menyertai Nabi di Madinah hingga Allah memanggilnya. Pada zaman Abu Bakar, ketika orang-orang Arab murtad, Thufail berangkat bersama kaum Muslimin hingga berhasil menaklukkan Thulaihah dan seluruh negeri Najd. Setelah itu ia berangkat bersama kaum Muslimin menuju Yamamah bersama anaknya, 'Amr bin Thufail. Dalam perjalanan ia berkata kepada sahabat-sahabatnya, "Sesungguhnya aku baru saja bermimpi, tolong terangkan kepadaku arti mimpiku itu. Aku bermimpi kepalaku dicukur, seekor burung keluar dari mulutku, aku berpapasan dengan seorang wanita lalu wanita itu memasukkan aku ke dalam kemaluannya. Anakku mencariku dengan sangat gelisah, kemudian aku lihat anakku dijauhkan dariku." Mereka berkata, "Itu suatu pertanda yang baik!" Thufail berkata, "Demi Allah, aku memiliki penafsiran sendiri dari mimpi itu!" Mereka bertanya, "Bagaimana takwilnya?" Thufail berkata, "Kepalaku dicukur artinya ia diletakkan di bumi. Burung yang keluar dari mulutku adalah nyawaku. Wanita yang memasukkan aku ke dalam kemaluannya artinya tanah yang digali untukku lalu aku dimasukkan ke dalamnya. Anakku mencariku, kemudian dijauhkan dariku, artinya ia ingin sekali menggapai sebagaimana yang aku gapai." Thufail bin 'Amr gugur sebagai syahid pada Perang Yamamah. Anaknya menderita luka parah lalu sembuh, dan akhirnya gugur sebagai syahid di medan Perang Yarmuk pada masa kekhilafahan 'Umar bin al-Khaththab.

    22. A'sya

      A'sya Bani Qais ingin masuk Islam, tetapi ingin minum khamar satu tahun lagi

      A'sya Bani Qais bin Tsa'labah berangkat ke Makkah untuk masuk Islam, tetapi dihalau sebagian Quraisy. Mereka menyebut bahwa beliau mengharamkan zina dan minuman keras. Ia menjawab tidak tergila-gila zina, tetapi masih suka khamar dan akan meminumnya setahun lagi sebelum datang masuk Islam. Ia wafat pada tahun itu juga.

      Baca selengkapnya

      Khalid bin Qurrah bin Khalid as-Sadusi dan yang lainnya berkata kepadaku, dari tokoh-tokoh sepuh berilmu seperti Bakr bin Wa'il, bahwa A'sya Bani Qais bin Tsa'labah bin 'Ukabah bin Sha'b bin 'Ali bin Bakr bin Wa'il pergi menemui Rasulullah ﷺ untuk masuk Islam. Ketika A'sya sampai atau dekat Makkah, ia dihalau sebagian orang Quraisy. Mereka menanyakan tujuan kedatangannya. A'sya menyatakan ingin berjumpa dengan beliau dan memeluk Islam. Seorang Quraisy berkata, "Hai Abu Bashir, sesungguhnya dia mengharamkan zina." A'sya berkata, "Demi Allah, aku tidak gila dengan zina." Orang itu berkata, "Hai Abu Bashir, sesungguhnya dia mengharamkan minuman keras." A'sya berkata, "Adapun yang ini, dalam jiwa ini masih suka kepadanya. Aku akan meminumnya tahun ini, setelah itu aku akan datang kepada beliau untuk masuk Islam." Setelah itu A'sya pulang. Ia meninggal dunia pada tahun itu juga dan berhasil bertemu dengan Rasulullah ﷺ (kalimat terakhir sesuai terjemahan).2

    23. Orang Irasy

      Unta yang dibeli Abu Jahl, dan rasa takutnya di depan pintu

      Seorang dari Irasy menjual untanya kepada Abu Jahl yang berutang. Orang-orang Quraisy mengarahkannya kepada Rasulullah ﷺ, karena tahu permusuhan sengit antara beliau dan Abu Jahl. Beliau mengetuk pintu Abu Jahl dan memintanya melunasi; Abu Jahl segera mengambil uang dan membayar. Kepada kaumnya ia berkata merasa sangat takut dan melihat di atas kepala beliau seekor unta yang belum pernah ia lihat sebelumnya, dengan kepala, pangkal ekor, dan taring yang akan menerkamnya jika ia menolak.

      Baca selengkapnya

      Walaupun musuh Allah, Abu Jahl sangat berat memusuhi Rasulullah ﷺ, besar kebenciannya, dan bersikap keras terhadap beliau, namun Allah merendahkannya di hadapan Rasulullah ﷺ apabila ia melihatnya.1

      'Abdul Malik bin 'Abdullah bin Abi Sufyan ats-Tsaqafi berkata kepadaku: seseorang dari Arasy tiba di Makkah dengan mengendarai untanya. Unta itu dibeli Abu Jahl dengan berutang. Orang itu berjalan ke tempat berkumpul orang-orang Quraisy, sedang Rasulullah ﷺ duduk di sudut masjid. Ia berkata, "Hai orang-orang Quraisy, siapakah di antara kalian yang bisa membantuku menyelesaikan persoalanku dengan Abu al-Hakam bin Hisyam? Aku orang asing dan musafir. Sungguh, dia belum membayar untaku." Seorang hadirin berkata, "Apakah engkau melihat orang yang sedang sendiri itu?" (yang dimaksud Rasulullah ﷺ). Mereka memanfaatkan beliau karena tahu permusuhan sengit antara beliau dan Abu Jahl. "Pergilah kepadanya, karena ia pasti bisa membantumu menyelesaikan persoalanmu dengan Abu Jahl."

      Orang itu menghampiri beliau dan berkata, "Wahai hamba Allah, sesungguhnya Abu al-Hakam bin Hisyam telah mengambil hakku. Aku di sini hanya orang asing dan musafir. Aku telah bertanya kepada orang-orang tentang siapa yang bisa membantuku mengambil hakku dari Abu Jahl, kemudian mereka menyuruhku datang kepadamu. Oleh karena itu, tolong ambilkan hakku daripadanya semoga Allah merahmatimu!" Beliau bersabda, "Mari kita pergi kepada Abu Jahl!" Ketika orang-orang Quraisy melihat beliau berjalan bersama orang itu, mereka menyuruh seseorang, "Ikuti dan lihatlah apa yang akan dia lakukan!" Beliau berjalan hingga tiba di rumah Abu Jahl dan mengetuk pintunya. Abu Jahl berkata, "Siapa itu?" Beliau menjawab, "Muhammad. Keluarlah engkau, temuilah aku!" Abu Jahl keluar membukakan pintu. Beliau bersabda, "Berikan hak orang ini!" Abu Jahl berkata, "Ya, tunggu sebentar, aku akan segera memberikan hak orang ini." Ia bergegas masuk rumah lalu keluar membawa uang untuk melunasi utangnya. Beliau pergi sambil berkata kepada orang itu, "Sekarang urusanmu telah tuntas!"

      Orang itu berjalan hingga tiba di tempat berkumpul orang-orang Quraisy di masjid dan berkata, "Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan. Sungguh, demi Allah, ia telah menolongku mendapatkan kembali hakku." Orang Quraisy yang diperintahkan membuntuti beliau datang dan ditanya, "Apa yang engkau lihat?" Ia menjawab, "Sungguh sebuah peristiwa ajaib yang luar biasa. Demi Allah, dia hanya mengetuk pintu rumah Abu Jahl, kemudian Abu Jahl keluar menemuinya bagai seorang pecundang. Muhammad berkata, 'Lunasilah utangmu terhadap orang ini!' Abu Jahl menjawab, 'Ya, tunggu sebentar aku ambil uang dulu!' Lalu ia bergegas masuk rumah dan keluar membawa uang untuk membayar utangnya." Tak lama berselang, Abu Jahl datang ke tempat pertemuan orang-orang Quraisy. Mereka berkata, "Celaka engkau wahai Abu Jahl, ada apa denganmu? Demi Allah, kami belum pernah melihat seperti apa yang baru saja engkau lakukan!" Abu Jahl berkata, "Demi Allah, dia datang mengetuk pintu rumahku. Saat aku mendengar suaranya, diriku dihinggapi rasa takut yang luar biasa. Kemudian aku keluar menemuinya, sedang di kepalanya terdapat unta. Aku tidak pernah melihat unta yang memiliki kepala, pangkal ekor, dan taring seperti unta tersebut. Demi Allah, jika aku tidak memenuhi permintaannya, pastilah unta itu menerkam!"

    24. Rukanah

      Rukanah, petarung terhebat Quraisy, dua kali dibanting

      Rukanah bin 'Abdun bin Yazid bin Hasyim bin al-Muththalib bin 'Abdu Manaf adalah orang Quraisy yang paling hebat bertarungnya. Di sebuah syi'b Makkah, Rasulullah ﷺ mengajaknya bertakwa. Rukanah berkata ia akan mengikuti bila yakin benar. Ia dibanting dua kali oleh beliau, lalu menyaksikan beliau memanggil sebuah pohon yang datang lalu kembali ke tempatnya. Rukanah menyebut beliau ahli sihir paling sakti.

      Baca selengkapnya

      Abu Ishaq bin Yasar berkata kepadaku bahwa Rukanah bin 'Abdun bin Yazid bin Hasyim bin al-Muththalib bin 'Abdu Manaf adalah orang Quraisy yang paling hebat bertarungnya. Suatu hari ia berjumpa dengan Rasulullah ﷺ di salah satu syi'b (gang di bukit) Makkah. Beliau berkata kepadanya, "Hai Rukanah, kenapa engkau tidak takut kepada Allah dan tidak menerima seruanku?" Rukanah berkata, "Sesungguhnya jika aku tahu bahwa apa yang engkau katakan adalah benar, pasti aku mengikutimu." Beliau berkata, "Begini saja, bagaimana jika aku berhasil mengalahkanmu dalam duel, apakah dengan begitu engkau mengetahui bahwa apa yang aku katakan adalah benar?" Rukanah berkata, "Ya!" Beliau berkata, "Kalau begitu, bersiaplah."1

      Rukanah mendekati beliau dan mulai berduel. Ketika beliau menyerangnya, beliau berhasil membantingnya hingga ia tidak berkutik. Rukanah berkata, "Ronde kedua wahai Muhammad!" Beliau mengulangi dan kembali merobohkan Rukanah. Rukanah berkata, "Hai Muhammad, demi Allah, sulit dipercaya. Engkau berhasil mengalahkanku." Beliau berkata, "Jika engkau mau, aku akan perlihatkan padamu sesuatu yang lebih sulit dipercaya dari peristiwa tadi, jika engkau bertakwa kepada Allah dan mengikuti agamaku." Rukanah bertanya, "Apa itu?" Beliau berkata, "Aku akan panggil pohon yang engkau lihat ini, lalu ia datang kepadaku." Rukanah berkata, "Silakan panggil pohon tersebut." Beliau memanggil pohon itu, lalu pohon itu datang hingga berdiri tepat di hadapan beliau, dan beliau berkata kepadanya, "Kembalilah ke tempatmu semula." Pohon itu pun kembali ke tempatnya semula.

      Rukanah menemui kaumnya dan berkata, "Hai Bani 'Abdu Manaf, silakan adu semua penyihir di dunia dengan sahabat kalian, niscaya dia mampu mempecundangi mereka semua. Demi Allah, aku belum pernah menjumpai ahli sihir yang lebih sakti darinya." Kemudian Rukanah menceritakan apa yang ia saksikan dan apa yang telah diperbuat Rasulullah ﷺ.

    25. Utusan Kristen

      Dua puluh utusan Kristen beriman di Masjidil Haram

      Sekitar dua puluh utusan Kristen datang menemui Rasulullah ﷺ di Makkah karena mendengar kabar kenabian beliau dari orang-orang Habasyah. Di Masjidil Haram, di tengah orang-orang Quraisy, mereka berbincang, mendengar bacaan Al-Qur'an sambil menangis, dan beriman. Abu Jahl dan beberapa orang Quraisy mengecam mereka saat berpamitan. Ada yang menyebut utusan itu datang dari Najran; Ibnu Ishaq berkata hanya Allah yang mengetahui. Ayat QS al-Qashash 52-55 dan al-Ma'idah 82-83 dikaitkan dengan mereka dan dengan Najasyi.

      Baca selengkapnya

      Suatu hari datanglah dua puluh atau hampir dua puluh utusan Kristen kepada Rasulullah ﷺ ketika beliau sedang berada di Makkah. Mereka mendengar kabar kenabian beliau dari orang-orang Habasyah. Mereka menemukan beliau di Masjidil Haram, lalu duduk bersamanya, berbincang dan bertanya jawab dengannya, di tengah-tengah orang-orang Quraisy yang berada di tempat berkumpul mereka di sekitar Ka'bah. Setelah berdialog, beliau mengajak mereka ke jalan Allah dan membacakan Al-Qur'an kepada mereka. Pada saat mendengar Al-Qur'an, mata mereka mengucurkan air mata. Mereka menerima dakwah beliau, beriman kepada beliau, membenarkan dan mengenali beliau persis seperti sifat yang dijelaskan dalam kitab mereka.1

      Setelah itu mereka pamit kepada beliau. Mereka ditemui Abu Jahl bin Hisyam bersama sejumlah orang Quraisy, yang berkata kepada utusan Kristen Habasyah yang telah masuk Islam itu, "Semoga Allah menggagalkan usaha kalian. Bukankah kalian dikirim oleh rahib-rahib kalian agar kembali kepada mereka dengan membawa berita tentang orang ini. Malah yang kalian lakukan adalah yang sebaliknya, meninggalkan agama kalian dan membenarkan ucapannya. Kami belum pernah mendapatkan utusan yang lebih bodoh daripada kalian." Mereka menjawab, "Salam sejahtera atas kalian, kami tidak akan membalas ucapan kalian, karena tidak ada yang melarang kami mengerjakan apa saja yang kami inginkan dan tidak ada yang melarang kalian mengerjakan apa saja yang kalian inginkan. Kami tidak akan pernah mengabaikan kebaikan bagi diri kami."

      Ada yang menyebutkan bahwa delegasi Kristen itu datang dari Najran.

      Hanya Allah yang Mahatahu dari mana sebenarnya utusan itu berasal. Ada juga yang mengatakan bahwa ayat-ayat berikut turun tentang mereka:1

      "Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Al-Kitab sebelum Al-Qur'an, mereka beriman (pula) dengan Al-Qur'an itu. Dan apabila dibacakan (Al-Qur'an itu) kepada mereka, mereka berkata: 'Kami beriman kepadanya; sesungguhnya Al-Qur'an itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan kami, sesungguhnya kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan(nya).' Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka, mereka nafkahkan. Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: 'Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.'" (QS. al-Qashash: 52-55)

      Ibnu Ishaq bertanya tentang kepada siapa ayat-ayat itu diturunkan. Ibnu Syihab az-Zuhri berkata kepadanya, "Aku mendengar dari ulama-ulama kita bahwa ayat-ayat di atas diturunkan kepada Najasyi dan sahabat-sahabatnya, dan juga ayat-ayat yang ada di surat al-Ma'idah":

      "Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri. Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur'an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: 'Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur'an dan kenabian Muhammad).'" (QS. al-Ma'idah: 82-83)

    26. Sahabat yang lemah

      Quraisy mencibir Khabbab, 'Ammar, Shuhaib, dan lainnya

      Rasulullah ﷺ senantiasa duduk di Masjidil Haram bersama sahabat-sahabat yang lemah, seperti Khabbab, 'Ammar, Abu Fukaihah Yasar (mantan budak Shafwan bin Umayyah), dan Shuhaib. Orang-orang Quraisy melecehkan mereka dan berkata, andai Muhammad membawa kebaikan, tentu mereka yang lebih dulu. Turun QS al-An'am 52-54.

      Baca selengkapnya

      Rasulullah ﷺ senantiasa berkumpul di Masjidil Haram dengan sahabat-sahabat yang lemah, seperti Khabbab, 'Ammar, Abu Fukaihah Yasar, mantan budak Shafwan bin Umayyah, Shuhaib, dan orang-orang seperti mereka dari kaum Muslimin. Orang-orang Quraisy melecehkan sahabat-sahabat yang lemah itu. Sebagian mereka berkata kepada yang lain, "Mereka adalah sahabat-sahabat Muhammad. Apakah mungkin Allah akan memberikan petunjuk dan kebenaran kepada mereka, dan bukan kepada kita? Andai yang dibawa Muhammad itu sesuatu yang baik, pasti kita akan mendahului mereka menuju Muhammad, dan Allah tidak mengkhususkan mereka atasnya daripada kita." Kemudian Allah menurunkan ayat tentang mereka:1

      "Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki keridaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim. Dan demikianlah telah Kami uji sebagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: 'Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?' (Allah berfirman): 'Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?' Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: 'Salaamun 'alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertobat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'" (QS. al-An'am: 52-54)

    27. Jabr

      Tuduhan bahwa Jabr, seorang Kristen, mengajari Muhammad

      Rasulullah ﷺ, menurut berita yang sampai kepada Ibnu Ishaq, sering duduk di Marwa di warung seorang pemuda Kristen bernama Jabr, budak Ibnu al-Hadhrami. Orang-orang Quraisy berkata Jabr yang mengajari beliau. Turun QS an-Nahl 103.

      Baca selengkapnya

      Rasulullah ﷺ, sebagaimana berita yang sampai kepadaku, sering duduk-duduk di Marwa, yaitu di warung dagang seorang anak muda Kristen yang bernama Jabr, budak Ibnu al-Hadhrami. Orang-orang Quraisy berkata, "Demi Allah, Muhammad itu ternyata diajari banyak hal oleh Jabr, budak Ibnu al-Hadhrami." Kemudian Allah menurunkan ayat tentang ucapan mereka:1

      "Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: 'Sesungguhnya Al-Qur'an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad).' Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa Muhammad belajar kepadanya) bahasa 'Ajam, sedang Al-Qur'an adalah dalam bahasa Arab yang terang." (QS. an-Nahl: 103)

      Firman Allah yulhiduuna ilaihi artinya mereka cenderung kepadanya; ilhad artinya menghindar dari kebenaran. Ia mengutip pula sebait syair Ru'bah bin al-'Ajjaj untuk kata itu.2

    28. al-Kautsar

      Ucapan al-'Ash bin Wa'il dan turunnya surat al-Kautsar

      Setiap kali nama Rasulullah ﷺ disebut di hadapan al-'Ash bin Wa'il, ia berkata beliau tidak punya anak laki-laki sehingga namanya akan terputus bila wafat. Turunlah surat al-Kautsar. Dalam hadits dari Anas, al-Kautsar adalah sungai yang luasnya antara Shan'a sampai Ailah.

      Baca selengkapnya

      Jika al-'Ash bin Wa'il as-Sahmi mendengar nama Rasulullah ﷺ disebut di hadapannya, sebagaimana berita yang sampai kepadaku, ia berkata, "Jangan hiraukan si Muhammad itu, sesungguhnya dia orang yang sulit memiliki anak laki-laki. Jika ia meninggal, namanya akan terputus dan kalian akan bebas darinya." Kemudian Allah menurunkan ayat tentang ucapannya itu:1

      "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus." (QS. al-Kautsar: 1-3)

      Maksudnya, Kami telah menganugerahkan kepadamu nikmat yang lebih baik daripada dunia dan seisinya. Al-Kautsar ialah sesuatu yang agung. Ibnu Ishaq menyebut bait syair Labid bin Rabi'ah al-Kilabi sebagai contoh pemakaian kata itu, dan Ibnu Hisyam menjelaskan bahwa kautsar berasal dari kata katsir yang artinya banyak, serta mengutip pula bait al-Kumait bin Zaid.

      Ja'far bin 'Amr bin Ja'far bin 'Amr bin Umayyah adh-Dhamri berkata kepadaku dari 'Abdullah bin Muslim, saudara Muhammad bin Muslim bin Syihab az-Zuhri, dari Anas bin Malik, yang berkata bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ ditanya, "Wahai Rasulullah, apakah maksud al-Kautsar yang dianugerahkan kepadamu itu?" Beliau bersabda, "Al-Kautsar ialah sungai yang luasnya antara Shan'a ke Ailah. Tempat-tempat airnya tak terhitung banyaknya, dan ia didatangi burung-burung yang memiliki leher laksana leher unta." 'Umar bin al-Khaththab berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya burung tersebut pasti merasakan kenikmatan?" Beliau bersabda, "Orang yang menyantap burung tersebut lebih memiliki nikmat yang lebih besar daripada kenikmatan burung tersebut."1

      Kami mendengar hadits di atas dan hadits-hadits lainnya bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa meminum air sungai al-Kautsar, maka ia tidak akan pernah haus untuk selama-lamanya."1

    29. Malaikat

      Mengapa malaikat tidak diturunkan, dan olok-olok kepada para rasul

      Zam'ah bin al-Aswad, an-Nadhr bin al-Harits, al-Aswad bin 'Abdu Yaghuts, Ubay bin Khalaf, dan al-'Ash bin Wa'il meminta agar Allah mengutus malaikat yang berbicara tentang beliau dan terlihat bersamanya; turun QS al-An'am 8-9. Ketika al-Walid bin al-Mughirah, Umayyah bin Khalaf, dan Abu Jahl mengolok-olok beliau hingga beliau naik darah, turun QS al-Anbiya' 41.

      Baca selengkapnya

      Rasulullah ﷺ tanpa henti terus menyeru kaumnya kepada Islam, berdialog, berdiskusi, dan berdebat dengan mereka. Zam'ah bin al-Aswad, an-Nadhr bin al-Harits, al-Aswad bin 'Abdu Yaghuts, Ubay bin Khalaf, dan al-'Ash bin Wa'il berkata kepada beliau, "Andai saja Allah mengutus kepada kami malaikat yang berbicara tentang dirimu dan bisa dilihat bersama dirimu?" Kemudian Allah menurunkan ayat tentang ucapan mereka:1

      "Dan mereka berkata: 'Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) seorang malaikat?' Dan kalau Kami turunkan (kepadanya) seorang malaikat, tentu selesailah urusan itu, kemudian mereka tidak diberi tangguh (sedikit pun). Dan kalau Kami jadikan rasul itu (dari) malaikat, tentulah Kami jadikan dia berupa laki-laki, dan (jika Kami jadikan dia berupa laki-laki), Kami pun akan jadikan mereka tetap ragu sebagaimana kini mereka ragu." (QS. al-An'am: 8-9)

      Rasulullah ﷺ, sebagaimana berita yang saya terima, suatu saat berjalan melewati al-Walid bin al-Mughirah, Umayyah bin Khalaf, dan Abu Jahl. Mereka mencemooh dan mengolok-olok beliau hingga beliau naik darah, lalu Allah menurunkan ayat tentang mereka:1

      "Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa orang rasul sebelum kamu, maka turunlah kepada orang yang mencemoohkan rasul-rasul itu adzab yang selalu mereka perolok-olokkan." (QS. al-Anbiya': 41)

    Catatan

    1. Ibnu Ishaq.
    2. Tambahan Ibnu Hisyam.
    3. Dalam terjemahan, kalimat "Muhammad mengintimidasi aku..." didahului nama Abu Jahal ("Abu Jahal juga berkata"), padahal pembicaraan di atasnya antara Abu Lahab dan Hindun. Kami menuliskannya "ia" sesuai kalimat sebelumnya dan tidak menebak siapa yang dimaksud buku.
    4. Daftar di atas disalin sebagaimana tertulis dalam buku; jumlah nama dalam daftar kami hitung dari teksnya (hitungan kami): 33 nama, sama dengan angka "tiga puluh tiga" di buku, bila 'Ammar bin Yasir ikut dihitung.
    5. Ibnu Ishaq. Sanad: Shalih bin Ibrahim bin 'Auf bercerita kepadaku dari orang yang bercerita padanya dari 'Utsman.
    6. Syair ini terjemahannya terpotong-potong; kami hanya mengutip bagian yang jelas terbaca.
    7. Terjemahan menulis kalimat Abu Thalib "Mana Tuhanmu, kenapa aku tidak melihatnya?" apa adanya, dan kami menyalinnya tanpa menafsirkan maksudnya.
    8. Bagian al-Muth'im ini ditulis di buku setelah kisah pembatalan shahifah, sekalipun teksnya sendiri menyebut waktunya usai kembali dari Thaif. Kisah Thaif sendiri ada di bab tersendiri.

    Catatan tambahan

    Ucapan 'Utsman bin Mazh'un: teks menulis "ujian di jalan Allah yang menimpaku adalah suatu penyesalan". Kalimat ini kacau, dan kami menulis "yang tidak menimpaku" mengikuti maksud cerita.

    Nasab Ubay bin Khalaf dan 'Uqbah: teks menulis "Ubay bin Khalaf bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah bin Uqbah bin Abu Mu'aith adalah dua sahabat dekat" (kalimat rusak). Kami memisahnya menjadi Ubay dan 'Uqbah bin Abi Mu'aith.

    Nasab Rukanah: teks menulis "Rukanah bin Abdun bin Yazid bin Hasyim bin Al-Muthaib bin Abdu Manaf". Kami menulis "al-Muththalib" sebagai bentuk yang lazim; ejaan lain mengikuti teks.

    Kalimat tentang Abu Sabrah bin Abu Ruhm tidak kami muat: teks menulis "Abu Sabrah bin Abu Ruhm meninggal di Makkah sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Kemudian beliau menikahi Saudah binti Zam'ah", yang bertentangan dengan daftar (Saudah di situ istri as-Sakran bin 'Amr).

    Penjelasan ayat: teks tidak menyebut siapa yang berbicara pada kalimat "Mereka yang dimaksud ayat di atas ialah ...", "Maksudnya ialah bahwa tanda-tanda kebesaran ...", dan "Allah berfirman zaniim ...". Kami menuliskannya tanpa nama pembicara.

    Kata "menakut-nakuti": teks menulis "mengintimadasi" (kata rusak) pada ucapan Thufail.

    Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Peristiwa Isra' dan Mi'raj, yang dalam buku langsung menyusul bagian ini, dibahas di bab berikutnya.