Pusat Sejarah Islam
Bab 20 dari 55

Hamzah & 'Umar masuk Islam

Hamzah masuk Islam setelah tahu Abu Jahl mengganggu Nabi di bukit Shafa. Lalu 'Umar tersentuh membaca surat Thaha di rumah adiknya, lalu masuk Islam di rumah di Shafa. Sejak itu kaum Muslimin berani shalat di dekat Ka'bah.

periode MakkahSumber: Ibnu Hisyam
Sekilas

Isi bab ini

Bab ini menceritakan dua tokoh Quraisy yang masuk Islam dan menjadi benteng bagi kaum Muslimin: Hamzah bin 'Abdul Muthalib, lalu 'Umar bin al-Khaththab, dengan dua versi kisah 'Umar yang dituturkan Ibnu Ishaq.

Hamzah

Memukul Abu Jahl dengan busur panah setelah mendengar ia menghina Rasulullah ﷺ, lalu masuk Islam.

Terlindungi

Dengan masuk Islamnya 'Umar dan Hamzah, Quraisy tidak lagi berani menyiksa para sahabat.

Surat Thaha

Versi para perawi Madinah: 'Umar membaca lembaran surat Thaha di rumah adiknya, Fathimah.

Versi lain

Versi 'Abdullah bin Abi Najih: 'Umar mendengar Rasulullah ﷺ membaca Al-Qur'an saat shalat di dekat Ka'bah.

Peta

Makkah

Bab ini berlangsung di Makkah. Titik diambil dari Wikipedia.

Makkah
Tempat yang disebut Ibnu Hisyam
    Alur kisah

    Dari Hamzah sampai 'Umar menemui Abu Jahl

    Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.

    Perbedaan sumber

    Usia 'Umar. Ibnu Hisyam tidak menyebut usia 'Umar ketika masuk Islam. Haykal menyebut 'Umar berusia antara tiga puluh dan tiga puluh lima tahun.

    Tempat. Haykal menyebut 'Umar masuk Islam setelah mendatangi rumah adiknya, Fathimah, dan Sa'id bin Zaid, lalu menuju rumah di kawasan Shafa tempat Rasulullah ﷺ berkumpul. Ibnu Hisyam menuturkan urutan yang sama untuk kisah para perawi Madinah dan menyertakan kisah kedua dari Makkah.

    Rincian kisah. Haykal tidak menyebut Khabbab dan surat Thaha; ia menulis 'Umar mendapati adiknya dan iparnya membaca naskah Al-Qur'an bersama seseorang yang kemudian disembunyikan. Haykal juga tidak memuat kisah kedua dari Makkah, kisah Jamil bin Ma'mar, al-'Ash bin Wa'il, dan 'Umar menemui Abu Jahl; semuanya hanya ada di Ibnu Hisyam.

    1. Hamzah

      Hamzah memukul Abu Jahl dan masuk Islam

      Abu Jahl mengganggu dan mencaci Rasulullah ﷺ di bukit Shafa, dan beliau tidak membalas sedikit pun. Seorang mantan budak wanita mendengarnya. Ketika Hamzah pulang berburu, ia diceritakan kejadian itu, lalu pergi mencari Abu Jahl di masjid dan memukulnya dengan busur hingga luka parah. Sejak itu Hamzah resmi masuk Islam, dan Quraisy menghentikan sebagian gangguan karena yakin Hamzah akan melindungi beliau.

      Baca selengkapnya

      Aku diberitahu oleh orang Aslum bahwa pernah suatu ketika Abu Jahl berjalan melewati Rasulullah ﷺ di bukit Shafa. Ia mengganggu beliau, mencaci maki, dan melampiaskan dendamnya karena dianggap menghina agamanya dan melecehkan ibadahnya. Rasulullah ﷺ tidak menimpalinya sedikit pun. Seorang mantan budak wanita 'Abdullah bin Jud'an bin 'Amr bin Ka'b bin Sa'd bin Taim bin Murrah mendengar apa yang dikatakan Abu Jahl kepada beliau. Usai mengumpat beliau, Abu Jahl pergi menuju balai pertemuan orang-orang Quraisy di samping Ka'bah dan duduk bersama mereka.1

      Tak lama kemudian Hamzah bin 'Abdul Muthalib datang dengan memanggul anak panahnya dari berburu. Ia pemuda yang disegani di kalangan orang-orang Quraisy. Ketika ia berjalan melewati mantan budak wanita tadi, dan setelah Rasulullah ﷺ kembali ke rumahnya, wanita itu berkata kepadanya, "Wahai Abu 'Umarah, andai saja engkau tadi menyaksikan apa yang dilakukan Abu al-Hakam bin Hisyam terhadap keponakanmu, Muhammad! Ia mengganggunya, mencaci-makinya, dan melakukan hal-hal yang tidak disukainya. Lalu ia pergi, dan Muhammad tidak menimpali ucapannya sedikit pun."

      Hamzah marah karena Allah ingin memuliakannya. Ia pergi mencari Abu Jahl tanpa memperhatikan orang di sekitarnya, bersiap memukulnya bila bertemu. Ketika Hamzah memasuki masjid, ia melihat Abu Jahl sedang duduk berdiskusi dengan orang-orang Quraisy dan berjalan ke arahnya. Setelah berada tepat di depannya, ia mengangkat busur panahnya lalu menghajar Abu Jahl dengannya hingga menderita luka sangat parah. Ia berkata, "Apakah engkau mencaci-maki keponakanku, padahal aku seagama dengannya, dan aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah seperti yang ia saksikan? Silakan balas, jika engkau mampu!" Beberapa orang Bani Makhzum mendekat untuk menolong Abu Jahl, tetapi Abu Jahl berkata, "Biarkan saja Abu 'Umarah. Demi Allah, aku telah menghina keponakannya dengan penghinaan yang buruk." Sejak peristiwa itu Hamzah resmi masuk Islam dan mengikuti ucapan Rasulullah ﷺ.

      Ketika Hamzah masuk Islam, orang-orang Quraisy menyadari bahwa Rasulullah ﷺ telah kuat dan terjaga, dan Hamzah pasti melindunginya. Karena itu mereka menghentikan sebagian gangguan mereka terhadap beliau.

    2. Terlindungi

      Quraisy gagal menarik pulang kaum Muslimin, lalu 'Umar masuk Islam

      Ketika 'Amr bin al-'Ash dan 'Abdullah bin Abi Rabi'ah pulang gagal membawa kembali kaum Muslimin dari Habasyah, pada saat itulah 'Umar bin al-Khaththab memeluk Islam. Dengan masuk Islamnya 'Umar dan Hamzah, para sahabat terlindungi sehingga Quraisy tidak lagi berani menyiksa mereka. Masuk Islamnya 'Umar terjadi setelah beberapa sahabat berhijrah ke Habasyah.

      Baca selengkapnya

      Ketika 'Amr bin al-'Ash dan 'Abdullah bin Abu Rabi'ah bertemu kembali dengan orang-orang Quraisy dalam keadaan gagal menarik pulang sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ, dan Najasyi tidak memperkenankan permintaan mereka, pada saat itulah 'Umar bin al-Khaththab memeluk Islam. Ia sosok yang berharga diri tinggi dan anti penghinaan. Sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ terlindungi dengan masuk Islamnya 'Umar dan Hamzah bin 'Abdul Muthalib, hingga orang-orang Quraisy tidak lagi berani menyiksa mereka.1

      'Abdullah bin Mas'ud berkata, "Dulunya kami tidak berani shalat di samping Ka'bah sebelum 'Umar bin al-Khaththab masuk Islam. Ketika 'Umar masuk Islam, ia memenangi duel melawan orang-orang Quraisy hingga ia bisa shalat di samping Ka'bah dan kami pun ikut shalat bersamanya." Masuk Islamnya 'Umar terjadi setelah beberapa sahabat Rasulullah ﷺ berhijrah ke Habasyah.

      Al-Bakka'i berkata: Mis'ar bin Kidam bercerita kepadaku dari Sa'd bin Ibrahim bahwa 'Abdullah bin Mas'ud berkata, "Sesungguhnya masuk Islamnya 'Umar bin al-Khaththab adalah sebuah pembuka kemenangan. Hijrahnya memberikan kemenangan. Dan pemerintahannya adalah karunia. Awalnya kami tidak berani shalat di sisi Ka'bah sampai 'Umar bin al-Khaththab masuk Islam. Ketika ia masuk Islam, ia memenangi duel melawan orang-orang Quraisy hingga berhasil shalat di samping Ka'bah, dan kami ikut shalat berjamaah bersamanya."

    3. Ummu 'Abdullah

      Kelembutan 'Umar saat melihat rombongan akan hijrah

      Ummu 'Abdullah binti Abi Hatsmah bercerita bahwa ketika ia bersiap berangkat ke Habasyah, 'Umar yang masih musyrik, dan sebelumnya sering mengganggu mereka, berdiri di hadapannya, lalu menyampaikan "Semoga Allah bersama kalian". Ia melihat kelembutan pada 'Umar yang belum pernah dilihatnya. Suaminya, 'Amir, justru berkata bahwa 'Umar tidak akan masuk Islam hingga keledainya masuk Islam.

      Baca selengkapnya

      'Abdurrahman bin al-Harits bin 'Abdullah bin 'Ayyasy bin Abu Rabi'ah bercerita kepadaku dari 'Abdul 'Aziz bin 'Abdullah bin 'Amr bin Rabi'ah dari ibunya, Ummu 'Abdullah binti Abu Hatsmah, yang berkata, "Demi Allah, saat kami bersiap-siap pergi ke negeri Habasyah, suamiku 'Amir pergi memenuhi sebagian kebutuhannya. Tiba-tiba 'Umar bin al-Khaththab, yang ketika itu masih musyrik, sudah berdiri di hadapanku. Sebelumnya kami selalu diganggu dan disiksa olehnya." 'Umar berkata, "Kelihatannya engkau mau berangkat, wahai Ummu 'Abdullah?" Aku menjawab, "Ya, kami akan pergi ke negeri Allah, karena kalian telah menyiksa dan menganiaya kami, hingga Allah memberikan jalan keluar bagi kami." 'Umar berkata, "Semoga Allah bersama kalian!"1

      Ummu 'Abdullah berkata, "Saat itu kulihat kelembutan pada diri 'Umar yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Kemudian ia pergi, dan menurut perasaanku ia sangat sedih atas kepergian kami." Sejurus kemudian 'Amir datang. Ia berkata kepada suaminya, "Wahai Abu 'Abdullah, andaikata engkau tadi melihat kelembutan dan duka cita 'Umar atas kepergian kita." 'Amir bertanya, "Apakah dia sudah masuk Islam?" "Entahlah," jawabnya. 'Amir berkata, "'Umar tidak akan mungkin masuk Islam hingga keledainya masuk Islam." Ummu 'Abdullah berkata, "Ia mengatakan hal itu karena merasa putus asa melihat sikap keras 'Umar dan kebenciannya yang sangat keras kepada Islam."

    4. Versi Madinah

      Sebab masuk Islamnya 'Umar: kisah para perawi Madinah

      Menurut kisah para perawi Madinah, adik perempuan 'Umar, Fathimah, dan suaminya Sa'id bin Zaid telah masuk Islam tanpa sepengetahuan 'Umar, begitu juga Nu'aim bin 'Abdullah. Khabbab bin al-Arat sering datang membacakan Al-Qur'an kepada Fathimah. Suatu hari 'Umar berniat membunuh Rasulullah ﷺ yang sedang berkumpul dengan sekitar empat puluh orang di sebuah rumah di bukit Shafa. Di jalan ia bertemu Nu'aim yang menyuruhnya memeriksa keluarganya sendiri lebih dahulu.

      Baca selengkapnya

      Mengenai sebab masuk Islamnya 'Umar, seperti disampaikan kepadanya, saudara perempuannya Fathimah binti al-Khaththab, yang bersuamikan Sa'id bin Zaid bin 'Amr bin Nufail, telah sama-sama masuk Islam tanpa sepengetahuan 'Umar. Nu'aim bin 'Abdullah an-Nahham, dari kaum mereka Bani 'Adi bin Ka'b, juga telah masuk Islam dan merahasiakannya karena khawatir kepada kaumnya. Khabbab bin al-Arat sering bolak-balik ke rumah Fathimah untuk membacakan Al-Qur'an kepadanya.1

      Suatu ketika 'Umar keluar berniat berduel dengan Rasulullah ﷺ dan beberapa sahabat beliau yang sedang berkumpul di salah satu rumah di bukit Shafa. Mereka berjumlah sekitar empat puluh orang, laki-laki dan perempuan. Ketika itu Rasulullah ﷺ berkumpul bersama Hamzah bin 'Abdul Muthalib, Abu Bakar ash-Shiddiq, dan 'Ali bin Abu Thalib. Sahabat-sahabat yang hadir di rumah itu adalah mereka yang tetap tinggal bersama Rasulullah ﷺ di Makkah dan tidak ikut hijrah ke Habasyah.

      Di tengah jalan 'Umar bertemu Nu'aim bin 'Abdullah, yang bertanya, "Mau pergi ke mana, wahai 'Umar?" 'Umar menjawab, "Aku hendak mencari Muhammad, orang yang keluar dari agama kita, yang memecah belah persatuan Quraisy, mendungu-dungukan mimpi-mimpi kita, melecehkan dan menghina agama kita, untuk aku bunuh." Nu'aim berkata, "Demi Allah, engkau bodoh sekali bila bertindak demikian, wahai 'Umar. Apakah Bani 'Abdu Manaf akan membiarkanmu hidup setelah engkau membunuh Muhammad? Kenapa engkau tidak pulang kepada keluargamu dan meluruskan persoalan mereka?" "Keluargaku yang mana?" tanya 'Umar. Nu'aim menjawab, "Saudara iparmu yang juga saudara misanmu, Sa'id bin Zaid bin 'Amr, dan Fathimah binti al-Khaththab. Demi Allah, keduanya telah masuk Islam dan menganut agama Muhammad. Perhatikan dulu keduanya."

    5. Rumah Fathimah

      Lembaran surat Thaha di rumah adiknya

      'Umar bergegas ke rumah adiknya. Di sana Khabbab sedang membacakan surat Thaha. Mendengar suara 'Umar, Khabbab bersembunyi dan Fathimah menyembunyikan lembaran. 'Umar memukul Sa'id dan tanpa sengaja melukai Fathimah. Setelah melihat darah adiknya ia menyesal, meminta lembaran itu, mandi lebih dulu atas permintaan Fathimah, lalu membaca awal surat Thaha dan berkata, "Betapa indahnya dan mulianya perkataan ini!"

      Baca selengkapnya

      'Umar segera berbalik menuju rumah adik dan iparnya. Ketika itu di sana ada Khabbab bin al-Arat yang sedang membacakan surat Thaha. Ketika mereka bertiga mendengar suara 'Umar, Khabbab bersembunyi di rumah kecil persembunyian atau di salah satu bagian rumah, sedangkan Fathimah bergegas mengambil lembaran surat Thaha dan menyembunyikannya. Ketika mendekati rumah, 'Umar telah mendengar bacaan surat Thaha oleh Khabbab. Setelah masuk, ia berkata, "Suara apa yang aku dengar tadi?" Sa'id dan Fathimah menjawab, "Kami tidak mendengar suara apa-apa." 'Umar berkata, "Demi Allah, sungguh aku telah menerima kabar bahwa kalian berdua telah memeluk agama Muhammad."1

      'Umar menghajar iparnya, Sa'id bin Zaid, dan Fathimah bangkit melindunginya, sehingga tanpa sengaja ia memukul Fathimah hingga terluka. Karena itu Fathimah dan suaminya berkata, "Benar, kami berdua telah memeluk agama Islam, beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Silakan lakukan apa saja yang engkau mau terhadap kami." Ketika 'Umar melihat darah menetes pada adiknya, ia menyesal dan berkata, "Bolehkah aku melihat lembaran yang aku dengar tadi, agar aku melihat apa sebenarnya yang dibawa Muhammad?" 'Umar adalah seorang yang pandai menulis. Adiknya berkata, "Kami khawatir engkau merobek-robek lembaran itu." "Engkau tidak perlu khawatir," jawab 'Umar, dan ia bersumpah dengan nama Tuhannya bahwa ia akan mengembalikan lembaran itu setelah membacanya.

      Fathimah berkata, "Wahai saudaraku, sesungguhnya engkau najis karena engkau seorang musyrik. Lembaran ini tidak boleh disentuh kecuali oleh orang yang suci." 'Umar berdiri lalu mandi. Usai mandi, Fathimah memberikan lembaran itu kepadanya. Di dalamnya tertulis "Thaha". Ketika membaca permulaan surat itu, 'Umar berkata, "Betapa indahnya dan mulianya perkataan ini!"

      Mendengar ucapan itu, Khabbab keluar dari persembunyiannya dan berkata, "Wahai 'Umar, demi Allah, aku berharap kiranya Allah menjadikanmu sebagai orang yang didoakan Nabi-Nya, karena kemarin aku mendengar beliau bersabda, 'Ya Allah, kuatkanlah Islam ini dengan Abu al-Hakam bin Hisyam atau dengan 'Umar bin al-Khaththab.' Maka bersegeralah, wahai 'Umar." 'Umar berkata, "Wahai Khabbab, di mana Muhammad kini berada agar aku bisa menemuinya lalu masuk Islam?" Khabbab menjawab, "Beliau berada di Shafa, di sebuah rumah bersama beberapa orang sahabatnya."

    6. Rumah di Shafa

      'Umar menghunus pedang dan masuk Islam di hadapan Rasulullah ﷺ

      'Umar mengambil pedangnya dan berjalan menuju rumah di Shafa. Sahabat yang mengintip dari celah pintu ketakutan melihat pedangnya. Hamzah berkata, "Jika ia menginginkan kebaikan, kita berikan kebaikan; jika keburukan, kita habisi dia dengan pedangnya sendiri." Rasulullah ﷺ menyuruh membiarkannya masuk, lalu menarik 'Umar dengan keras dan bertanya maksud kedatangannya. 'Umar menjawab ia datang untuk beriman, dan beliau pun bertakbir keras.

      Bukit Shafa di dalam Masjidil Haram, Makkah
      Bukit Shafa di dalam Masjidil Haram, Makkah, kondisi sekarang (foto Agustus 2010; deskripsi berkas: "Mount Safa in Masjed al Haram").Foto: Swerveut · CC BY-SA 3.0 · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      'Umar mengambil pedangnya dengan terhunus dan berjalan menuju tempat Rasulullah ﷺ dan sahabat-sahabatnya. Ia mendobrak pintu rumah tempat para sahabat berkumpul. Ketika mereka mendengar suara 'Umar, salah seorang sahabat mengintip dari celah pintu dan melihat 'Umar menghunus pedang. Sahabat itu kembali kepada Rasulullah ﷺ dalam keadaan sangat ketakutan dan berkata, "Wahai Rasulullah, 'Umar bin al-Khaththab sedang menghunus pedangnya." Hamzah bin 'Abdul Muthalib berkata, "Jangan pedulikan dia. Jika ia menginginkan kebaikan, kita berikan kepadanya kebaikan. Jika keburukan yang ia inginkan, kita akan habisi dia dengan pedangnya sendiri." Rasulullah ﷺ bersabda, "Biarkanlah saja dia masuk."1

      Salah seorang sahabat membukakan pintu dan mempersilakan 'Umar masuk, kemudian Rasulullah ﷺ menyambut dan menemuinya di dalam kamar. Beliau memegang tempat ikatan celana atau ikatan selendangnya, kemudian menarik 'Umar dengannya dengan tarikan yang sangat keras sambil bersabda, "Apa yang membuatmu datang ke sini, wahai anak al-Khaththab? Demi Allah, jika engkau tidak menghentikan tindakanmu selama ini, Allah akan menurunkan siksa kepadamu." 'Umar berkata, "Wahai Rasulullah, aku datang menemuimu untuk beriman kepada Allah, Rasul-Nya, dan apa saja yang engkau bawa dari Allah." Mendengar jawaban itu, Rasulullah ﷺ bertakbir dengan keras. Dengan takbir itulah sahabat-sahabat di rumah itu paham bahwa 'Umar telah masuk Islam.

      Sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ begitu senang dengan keislaman 'Umar dan Hamzah. Mereka sadar sepenuhnya bahwa keduanya akan membentengi Rasulullah ﷺ dan dengan keduanya mereka menghadapi musuh-musuh Islam. Itulah kisah para perawi Madinah tentang keislaman 'Umar bin al-Khaththab.

    7. Versi Makkah

      Kisah kedua: 'Umar mendengar Al-Qur'an di dekat Ka'bah

      'Abdullah bin Abi Najih al-Makki meriwayatkan dari Atha' dan Mujahid bahwa 'Umar sendiri bercerita: ia gemar minum minuman keras, suatu malam mencari teman dan penjual minuman tak ketemu, lalu thawaf dan mendapati Rasulullah ﷺ shalat. Ia mendekat dari arah Hijr dan mendengar bacaan beliau hingga hatinya tertarik dan menangis. Lalu ia mengikuti beliau pulang dan berkata bahwa ia datang untuk beriman. Ibnu Ishaq menutupnya dengan "Wallahu a'lam" tentang mana riwayat yang benar.

      Baca selengkapnya

      'Abdullah bin Abu Najih al-Makki berkata kepadaku dari sahabat-sahabatnya, dari 'Atha' dan Mujahid, atau dari orang yang meriwayatkannya, tentang keislaman 'Umar. 'Umar pernah berkata, "Aku awalnya demikian jauh dari Islam. Aku hobi meneguk minuman keras dan sangat menyukainya. Dulu kami mempunyai auditorium tempat orang-orang Quraisy biasa bertemu, terletak di bukit kecil di permukiman keluarga 'Umar bin 'Abd bin 'Imran al-Makhzumi. Pada suatu malam aku keluar rumah mencari teman-temanku di auditorium itu, namun tidak menemukan seorang pun. Aku berkata, 'Daripada menganggur, sebaiknya aku menemui si Fulan penjual minuman keras di Makkah dan minum di sana.' Aku pergi ke tempatnya, tetapi tidak berhasil berjumpa dengannya."1

      "Aku berkata, 'Ah, lebih baik aku thawaf mengelilingi Ka'bah tujuh atau tujuh puluh kali.' Maka aku datang ke Masjidil Haram untuk thawaf. Tanpa sepengetahuanku Rasulullah ﷺ sedang berdiri shalat. Jika shalat beliau menghadap Syam dan menjadikan Ka'bah di antara beliau dan Syam; tempat shalat beliau di antara dua rukun, rukun Aswad dan rukun Yamani. Ketika aku melihat beliau, aku berkata dalam hati, 'Demi Allah, alangkah baiknya apabila aku mendekat kepada Muhammad malam ini agar aku bisa mendengar apa yang ia katakan.' Aku juga berkata, 'Andai aku mendekat dan mendengarkan, pasti aku membuatnya kaget.' Maka aku datang ke tempat beliau dari arah Hijr dan masuk dari bawah kainnya. Aku berjalan pelan-pelan, sedangkan beliau berdiri shalat membaca Al-Qur'an, hingga aku berdiri persis di depannya. Ketika aku mendengar Al-Qur'an, tak bisa kupungkiri hatiku tertarik padanya. Aku menangis, dan Al-Qur'an membuatku mengambil keputusan untuk memeluk Islam. Aku terpana di tempatku hingga beliau menuntaskan shalatnya."

      "Setelah shalat beliau pergi. Apabila pulang, beliau berjalan hingga muncul di rumah Ibnu Abu Husain. Itulah jalan yang biasa beliau lewati, hingga beliau memotong jalan, lalu berjalan di antara rumah al-'Abbas bin 'Abdul Muthalib dan rumah Ibnu Azhar bin 'Abdu 'Auf az-Zuhri, kemudian di rumah al-Akhnas bin Syariq hingga beliau masuk rumahnya. Tempat kediaman beliau adalah sebuah rumah yang berwarna-warni yang berada di tangan Mu'awiyah bin Abu Sufyan. Aku mengikuti beliau hingga masuk di antara rumah al-'Abbas dan rumah Ibnu Azhar, dan aku menemukan beliau. Ketika Rasulullah ﷺ mendengar suara langkah kakiku, beliau mengenaliku. Beliau mengira aku mengikutinya untuk menyiksanya. Beliau membentakku, kemudian bersabda, 'Apa yang mendorongmu datang ke tempat ini pada jam seperti ini, wahai anak al-Khaththab?' Aku menjawab, 'Aku datang untuk beriman kepada Allah, Rasul-Nya, serta kepada apa saja yang dibawa Rasul-Nya dari Allah!' Rasulullah ﷺ memuji Allah kemudian bersabda, 'Allah telah memberi hidayah kepadamu, wahai 'Umar.' Setelah itu beliau memegang dadaku dan berdoa semoga aku tegar dalam agama ini. Lalu aku pergi dari Rasulullah ﷺ."

      Wallahu a'lam tentang mana riwayat yang benar.1

    8. Jamil

      'Umar mengumumkan keislamannya lewat Jamil bin Ma'mar

      Ibnu 'Umar bercerita bahwa ayahnya, setelah masuk Islam, mencari orang Quraisy yang paling cepat menyebarkan kabar. Ia menemui Jamil bin Ma'mar al-Jumahi, yang langsung berteriak di dekat Ka'bah bahwa 'Umar telah kafir dari agama leluhur. 'Umar membalas bahwa ia memang telah masuk Islam, lalu dikeroyok. Seorang tua Quraisy berpakaian Yaman membubarkan mereka dengan mengingatkan Bani 'Adi bin Ka'b tak akan menyerahkan saudara mereka; ia adalah al-'Ash bin Wa'il as-Sahmi.

      Baca selengkapnya

      Nafi', mantan budak 'Abdullah bin 'Umar, bercerita kepadaku dari Ibnu 'Umar: ketika ayahku masuk Islam, ia berkata, "Siapakah di antara orang-orang Quraisy yang paling pintar menyebarkan gosip?" Diberitahu bahwa orangnya adalah Jamil bin Ma'mar al-Jumahi. 'Umar pergi ke rumah Jamil, dan aku membuntutinya untuk melihat apa yang akan ia lakukan. Saat itu aku masih kanak-kanak namun sudah bisa menangkap apa yang kulihat. Setibanya di rumah Jamil, 'Umar berkata, "Wahai Jamil, apa kau sudah tahu bahwa aku memeluk Islam dan memeluk agama Muhammad?" Demi Allah, Jamil tidak merespons perkataan itu. Ia berdiri sambil menarik kainnya. 'Umar membuntutinya dan aku mengikuti ayahku. Ketika Jamil berdiri di pintu masjid, ia berteriak dengan suara terkerasnya, "Wahai orang-orang Quraisy" (mereka sedang berkumpul di sekitar pintu Ka'bah), "ketahuilah bahwa 'Umar bin al-Khaththab telah kafir dari agama nenek moyang kalian!"1

      'Umar menyeru dari belakangnya, "Dia berdusta, sesungguhnya aku telah masuk Islam, dan bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya." Orang-orang Quraisy menyerang 'Umar dan ia membalas menyerang hingga mereka hampir mati. 'Umar kelelahan, lalu duduk, sedangkan orang-orang Quraisy mengepungnya. Ia berkata, "Kerjakan apa saja yang kalian mau. Aku bersumpah dengan nama Allah, andai saja jumlah kami telah mencapai tiga ratus orang, pasti perkelahian kita berjalan seimbang."

      Ibnu 'Umar berkata: ketika mereka dalam posisi seperti itu, tiba-tiba muncul seorang tua dari Quraisy yang mengenakan pakaian asal Yaman dan baju gamis. Ia berdiri di depan mereka dan berkata, "Apa yang terjadi dengan kalian?" "'Umar telah murtad," kata mereka. Orang tua itu berkata, "Lalu mengapa kalian sewot? Ia telah memilih sesuatu untuk dirinya, lalu apa yang kalian inginkan darinya? Apakah kalian pikir Bani 'Adi bin Ka'b akan menyerahkan saudara mereka kepada kalian? Biarkanlah orang ini!" Demi Allah, mereka seperti baju yang ditanggalkan dari 'Umar.

      Ibnu 'Umar berkata: aku bertanya kepada ayahku setelah ia hijrah ke Madinah, "Ayah, siapakah laki-laki tua yang melindungimu dari orang-orang Quraisy pada hari engkau masuk Islam dan mereka mengeroyokmu?" 'Umar menjawab, "Ananda, dialah al-'Ash bin Wa'il as-Sahmi."

      Salah seorang berilmu berkata kepadaku bahwa Ibnu 'Umar bertanya, "Ayahanda, siapakah orang yang melindungimu dari orang-orang Quraisy pada saat engkau masuk Islam dan mereka menyerangmu, mudah-mudahan Allah membalasnya dengan kebaikan?" 'Umar berkata, "Wahai Ananda, dialah al-'Ash bin Wa'il, semoga Allah tidak membalasnya dengan kebaikan."2

    9. Abu Jahl

      'Umar menemui Abu Jahl

      Malam ia masuk Islam, 'Umar teringat siapa yang paling keras memusuhi Rasulullah ﷺ, lalu pagi harinya mengetuk pintu Abu Jahl untuk memberi tahu bahwa ia telah beriman dan membenarkan Muhammad ﷺ. Abu Jahl menyambutnya sebagai anak saudara perempuannya, lalu menutup pintu sambil berkata, "Semoga Allah memburukkanmu, dan memburukkan apa yang engkau bawa."

      Baca selengkapnya

      'Abdurrahman bin al-Harits bercerita kepadaku dari sebagian keluarga 'Umar bin al-Khaththab yang berkata bahwa 'Umar berkata, "Pada saat aku masuk Islam pada malam itu, aku teringat siapa yang paling kejam permusuhannya terhadap Rasulullah ﷺ, kemudian aku datang kepadanya untuk mengatakan bahwa aku telah masuk Islam. Aku berkata, 'Dialah Abu Jahl.'" Ketika itu 'Umar beristrikan Hantamah binti Hisyam bin al-Mughirah. "Esok paginya aku pergi ke rumah Abu Jahl dan mengetuk pintunya. Abu Jahl keluar menyambutku sambil berkata, 'Selamat datang wahai anak saudara perempuanku. Apa yang membawamu kemari?' Aku berkata kepadanya, 'Aku datang untuk memberitahumu bahwa aku telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Muhammad, serta membenarkan apa yang dibawanya.' Abu Jahl langsung menutup pintu rumahnya sambil berkata, 'Semoga Allah memburukkanmu, dan memburukkan apa yang engkau bawa.'"1

    Catatan

    1. Ibnu Ishaq.
    2. Tambahan Ibnu Hisyam.

    Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Piagam boikot, yang dalam buku langsung menyusul bagian ini, dibahas di bab berikutnya.