Isi bab ini
Bab ini menceritakan hijrah ke Habasyah: anjuran Rasulullah ﷺ, sepuluh orang pertama dan daftar yang menyusul, utusan Quraisy dengan hadiahnya, jawaban Ja'far dan bacaan surat Maryam, pertanyaan tentang 'Isa, perang Najasyi di tepi Sungai Nil, kisah bagaimana Najasyi menjadi raja, dan penentangan orang Habasyah terhadapnya.
Hijrah pertama
Sepuluh orang berangkat ke Habasyah, lalu yang lain menyusul sampai 83 laki-laki.
Dua utusan Quraisy
'Abdullah bin Abi Rabi'ah dan 'Amr bin al-'Ash membawa hadiah untuk Najasyi dan para pendetanya.
Surat Maryam
Ja'far membacakan awal surat Maryam, dan Najasyi menangis hingga jenggotnya basah.
Kisah Najasyi
Bagaimana seorang anak yang dijual menjadi raja Habasyah, menurut penuturan 'Aisyah.
Makkah dan Habasyah
Pilih salah satu langkah di daftar yang menyertai peta. Garis putus-putus adalah perkiraan, karena buku menyebut asal dan tujuan tetapi tidak menyebut jalurnya, dan batas negara masa kini hanya patokan.
Dari anjuran hijrah sampai Najasyi dan orang-orang Habasyah
Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.
Perbedaan sumber
Jumlah hijrah. Ibnu Hisyam menyebut rombongan pertama sepuluh orang dan seluruhnya delapan puluh tiga laki-laki. Haykal menyebut hijrah pertama sebelas laki-laki dan empat perempuan, lalu mereka kembali, dan hijrah kedua sekitar delapan puluh laki-laki selain perempuan dan anak-anak.
Waktu. Ibnu Hisyam tidak menyebut tahun. Khan menyebut hijrah ke Habasyah terjadi pada empat tahun pertama. Haykal menyebut para muhajirin tinggal tiga bulan di Habasyah dan kembali setelah kabar masuk Islamnya 'Umar.
- Hijrah pertama
Rasulullah ﷺ menganjurkan hijrah ke Habasyah
Melihat penderitaan sahabat-sahabatnya, sementara beliau sendiri terlindungi karena kedudukannya di sisi Allah dan pamannya Abu Thalib tetapi tidak mampu melindungi mereka, Rasulullah ﷺ menganjurkan hijrah ke Habasyah, karena rajanya tidak membiarkan siapa pun dizalimi dan negeri itu aman. Inilah hijrah pertama dalam Islam.

Pantai Laut Merah di Jeddah, Arab Saudi, kondisi sekarang (foto 1 Agustus 2024). Hanya gambaran Laut Merah di sisi Hijaz, bukan lokasi peristiwa.Foto: Radosław Botev · CC BY 3.0 PL · Wikimedia Commons Baca selengkapnya
Rasulullah ﷺ menyaksikan langsung penderitaan yang dialami sahabat-sahabatnya, dan itu berbalik dengan keadaan beliau karena kedudukan beliau di sisi Allah dan di sisi pamannya, Abu Thalib, sementara beliau tidak mampu memberi perlindungan kepada mereka. Beliau bersabda, "Bagaimana kalau kalian berhijrah ke negeri Habasyah, karena rajanya mengharamkan siapa pun dizalimi di dalamnya, dan negeri tersebut adalah negeri yang aman, hingga Allah memberi solusi bagi kalian!"1
Sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ pun berangkat menuju Habasyah, karena khawatir menerima siksaan yang lebih berat. Mereka lari kepada Allah dengan membawa agama mereka. Inilah hijrah pertama yang terjadi dalam Islam.
- Sepuluh orang
Sepuluh orang yang pertama berangkat
Sepuluh kaum Muslimin pertama berangkat ke Habasyah, menurut berita yang diterima Ibnu Ishaq. Ibnu Hisyam menambahkan bahwa mereka dipimpin 'Utsman bin Madz'un. Di antaranya 'Utsman bin 'Affan bersama istrinya Ruqayyah, putri Rasulullah ﷺ.
Baca selengkapnya
Kaum Muslimin yang pertama kali berangkat dari Bani Umayyah bin 'Abdu Syams adalah 'Utsman bin 'Affan beserta istrinya, Ruqayyah binti Rasulullah ﷺ. Daftar sepuluh orang itu menurut kabilahnya:1
- 'Utsman bin 'Affandari Bani Umayyah bin 'Abdu Syams, bersama istrinya Ruqayyah binti Rasulullah ﷺ
- Abu Hudzaifah bin 'Utbahdari Bani 'Abdu Syams, bersama istrinya Sahlah binti Suhail bin 'Amr dari Bani 'Amir bin Luay; di Habasyah Sahlah melahirkan Muhammad bin Hudzaifah
- az-Zubair bin al-'Awwamdari Bani Asad bin 'Abdul 'Uzza
- Mush'ab bin 'Umairdari Bani 'Abduddar
- 'Abdurrahman bin 'Aufdari Bani Zuhrah
- Abu Salamahdari Bani Makhzum, bersama istrinya Ummu Salamah binti Abu Umayyah
- 'Utsman bin Madz'undari Bani Jumah
- 'Amir bin Rabi'ahdari Bani 'Adi bin Ka'b, sekutu keluarga al-Khaththab, bersama istrinya Laila binti Abu Hatsmah
- Abu Sabrah bin Abu Ruhmdari Bani 'Amir bin Luay. Ada yang mengatakan dari Bani 'Amir bin Luay adalah Abu Hathib bin 'Amr, dan ada yang mengatakan dialah yang pertama tiba di Habasyah
- Suhail bin Baidha'dari Bani al-Harits bin Fihr; ia adalah Suhail bin Wahb bin Rabi'ah
Sepuluh orang kaum Muslimin inilah yang pertama kali berangkat ke bumi Habasyah, sebagaimana berita yang ia terima.1
Mereka dipimpin 'Utsman bin Madz'un, seperti dikatakan sebagian orang berilmu kepadanya.2
- Menyusul
Daftar muhajirin menurut kabilahnya
Ja'far bin Abi Thalib menyusul, dan kaum Muslimin berhijrah bertahap-tahap hingga berkumpul di Habasyah, ada yang bersama istri, ada yang sendirian. Ibnu Ishaq merinci daftar muhajirin per kabilah dan menyebut jumlah mereka 83 laki-laki, selain anak-anak yang dibawa atau lahir di Habasyah.
Baca selengkapnya
Kemudian Ja'far bin Abu Thalib berangkat menyusul ke bumi Habasyah. Kaum Muslimin secara bertahap berhijrah ke Habasyah hingga mereka berkumpul di sana. Ada yang berhijrah bersama istrinya, ada pula yang berhijrah sendirian tanpa ditemani istrinya. Berikut daftar yang disebut, per kabilah, dengan jumlah sebagaimana tertulis dalam buku bila disebut:1
- Bani HasyimJa'far bin Abu Thalib bersama istrinya Asma' binti 'Umais; di Habasyah Asma' melahirkan 'Abdullah bin Ja'far
- Bani Umayyah bin 'Abdu Syams'Utsman bin 'Affan bersama Ruqayyah binti Rasulullah ﷺ; 'Amr bin Sa'id bin al-'Ash bersama istrinya Fathimah binti Shafwan; Khalid bin Sa'id bin al-'Ash bersama istrinya Umainah binti Khalaf (Ibnu Hisyam: ada yang menyebut Humainah). Di Habasyah Umainah melahirkan Sa'id bin Khalid dan Amah binti Khalid; Amah kemudian menikah dengan az-Zubair bin al-'Awwam dan dari keduanya lahir 'Amr bin az-Zubair dan Khalid bin az-Zubair
- Sekutu Bani Umayyah dari Bani Asad bin Khuzaimah'Abdullah bin Jahsy; saudaranya 'Ubaidillah bin Jahsy bersama istrinya Ummu Habibah binti Abu Sufyan; Qais bin 'Abdullah bersama istrinya Barakah binti Yasar (mantan budak wanita Abu Sufyan); dan Mu'aiqib bin Abu Fathimah (Ibnu Hisyam: ada yang menyebut ia berasal dari Daus). Ibnu Ishaq menyebut ketujuh orang di atas sebagai keluarga Sa'id bin al-'Ash
- Bani 'Abdu Syams bin 'Abdu ManafAbu Hudzaifah bin 'Utbah bin Rabi'ah, dan Abu Musa al-Asy'ari ('Abdullah bin Qais), sekutu keluarga 'Utbah bin Rabi'ah
- Bani Naufal bin 'Abdu Manaf'Utbah bin Ghazwan, sekutu mereka
- Bani Asad bin 'Abdul 'Uzzaaz-Zubair bin al-'Awwam, al-Aswad bin Naufal, Yazid bin Zam'ah, dan 'Amr bin Umayyah. Buku menyebut jumlahnya empat orang
- Bani 'Abd bin QushayThulaib bin 'Umair. Buku menyebut jumlahnya satu orang
- Bani 'Abduddar bin QushayMush'ab bin 'Umair; Suwaibith bin Sa'd; Jahm bin Qais bersama istrinya Ummu Harmalah dan kedua anaknya, 'Amr dan Khuzaimah; Abu ar-Rum bin 'Umair; dan Firas bin an-Nadhr. Buku menyebut jumlahnya lima orang
- Bani Zuhrah dan sekutunya'Abdurrahman bin 'Auf; 'Amir bin Abu Waqqash; al-Muththalib bin Azhar bersama istrinya Ramlah (di Habasyah Ramlah melahirkan 'Abdullah bin al-Muththalib). Sekutu dari Hudzail: 'Abdullah bin Mas'ud dan saudaranya 'Utbah bin Mas'ud. Dari Bahra': al-Miqdad bin 'Amr, dengan keterangan lain bahwa ia al-Miqdad bin al-Aswad yang diadopsi al-Aswad bin 'Abdu Yaghuts. Ibnu Hisyam menyebut muhajirin lain dari Bahra' adalah Hazl bin Fas bin Dzar dan Duhair bin Tsaur. Buku menyebut jumlah muhajirin dari Bahra' enam orang
- Bani Taim bin Murrahal-Harits bin Khalid bersama istrinya Raithah binti al-Harits (di Habasyah melahirkan Musa bin al-Harits, serta 'Aisyah, Zainab, dan Fathimah binti al-Harits), dan 'Amr bin 'Utsman. Buku menyebut jumlahnya dua orang
- Bani Makhzum dan sekutunyaAbu Salamah bersama Ummu Salamah (di Habasyah melahirkan Zainab binti Abu Salamah; nama asli Abu Salamah 'Abdullah dan Ummu Salamah Hindun); Syammas bin 'Utsman; Habbar bin Sufyan; 'Abdullah bin Sufyan; Hisyam Abu Hudzaifah bin al-Mughirah; Salamah bin Hisyam; 'Ayyasy bin Abu Rabi'ah; dan sekutu mereka Mu'attib bin 'Auf dari Khuza'ah (Ibnu Hisyam: ada yang menyebut Hubsyiyah bin Salul, yang dipanggil Mu'attib bin Hamra). Buku menyebut jumlahnya delapan orang
- Bani Jumah'Utsman bin Madz'un bersama putranya as-Saib dan dua saudaranya Qudamah dan 'Abdullah; Hathib bin al-Harits bersama istrinya Fathimah binti al-Mujallil dan kedua anaknya Muhammad dan al-Harits; Haththab bin al-Harits bersama istrinya Fukaihah binti Yasar; Sufyan bin Ma'mar bersama kedua anaknya Jabir dan Junadah serta istrinya Hasanah (dan saudara seibu keduanya, Syurahbil bin Hasanah); dan 'Utsman bin Rabi'ah. Buku menyebut jumlahnya sebelas laki-laki
- Bani SahmKhunais bin Hudzafah; 'Abdullah bin al-Harits; Hisyam bin al-'Ash; Qais bin Hudzafah; Abu Qais bin al-Harits; 'Abdullah bin Hudzafah; al-Harits bin al-Harits; Ma'mar bin al-Harits; Bisr bin al-Harits; Sa'id bin 'Amr (saudara seibu Bisr dari Bani Tamim); Sa'id bin al-Harits; as-Saib bin al-Harits; 'Umair bin Ri'ab; dan Mahmiyah bin al-Jaz' (sekutu dari Bani Zubaid). Buku menyebut jumlahnya empat belas laki-laki
- Bani 'Adi bin Ka'bMa'mar bin 'Abdullah; 'Urwah bin 'Abdul 'Uzza; 'Adi bin Nadhlah bersama putranya an-Nu'man; dan 'Amir bin Rabi'ah bersama istrinya Laila binti Hatsmah. Buku menyebut jumlahnya lima orang
- Bani 'Amir bin LuayAbu Sabrah bersama istrinya Ummu Kaltsum binti Suhail; 'Abdullah bin Makhramah; 'Abdullah bin Suhail; Salith bin 'Amr; as-Sakran bin 'Amr bersama istrinya Saudah binti Zam'ah; Malik bin Zam'ah bersama istrinya 'Amrah; Abu Hathib bin 'Amr; dan Sa'd bin Khaulah, sekutu mereka (Ibnu Hisyam: orang Yaman). Buku menyebut jumlahnya delapan belas laki-laki
- Bani al-Harits bin FihrAbu 'Ubaidah bin al-Jarrah; Suhail bin Baidha' (dinasabkan kepada ibunya, Da'dun binti Jahdam yang dipanggil Baidha'); 'Amr bin Abu Sarh; 'Iyadh bin Zuhair; 'Amr bin al-Harits; 'Amr bin 'Abdu Ghunm; Sa'd bin 'Abdu Qais; dan al-Harits bin 'Abdu Qais. Buku menyebut jumlahnya delapan belas laki-laki
Jumlah kaum Muslimin yang menyusul ke Habasyah dan berhijrah kepadanya, selain anak-anak yang mereka bawa atau lahir di Habasyah, adalah delapan puluh tiga laki-laki, apabila 'Ammar bin Yasir ditambahkan ke dalam jumlah itu, namun tidak jelas apakah ia ikut hijrah ke sana.13
- Syair
Syair tentang keamanan di Habasyah dan 'Utsman bin Madz'un
Ibnu Ishaq menyebut bahwa 'Abdullah bin al-Harits bin Qais bin 'Adi menggubah syair yang memuji perlindungan Najasyi, yang membuat kaum Muslimin bisa beribadah tanpa takut kepada siapa pun. 'Utsman bin Madz'un juga melaknat Umayyah bin Khalaf, saudara misannya, yang tetap mengintimidasinya karena Islam.
Baca selengkapnya
Di antara syair-syair yang diungkapkan di Habasyah, 'Abdullah bin al-Harits bin Qais bin 'Adi bin Sa'd bin Sahm menyaksikan kaum Muslimin mendapat keamanan di Habasyah, memuji perlindungan yang diberikan Najasyi, dan mereka dapat beribadah kepada Allah tanpa rasa takut kepada siapa pun.1
'Utsman bin Madz'un melaknat Umayyah bin Khalaf bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah. 'Utsman adalah saudara misan Umayyah, namun Umayyah tetap mengintimidasinya karena keislamannya, padahal saat itu ia adalah tokoh yang sangat dihormati di kaumnya.
- Dua utusan
Quraisy mengirim dua utusan dengan hadiah
Ketika Quraisy tahu kaum Muslimin hidup tenteram di Habasyah, mereka sepakat mengirim dua orang yang kokoh agamanya menemui Najasyi untuk memintanya menyerahkan kaum Muslimin, dengan maksud menyiksa mereka agar murtad dan mengeluarkan mereka dari Habasyah. Yang diutus adalah 'Abdullah bin Abi Rabi'ah dan 'Amr bin al-'Ash bin Wa'il, dibekali hadiah mewah untuk Najasyi dan para pendetanya.
Baca selengkapnya
Ketika orang-orang Quraisy menyadari bahwa sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ hidup damai dan tenteram di bumi Habasyah serta mendapat tempat tinggal dan ketenangan, mereka sepakat mengirim dua orang Quraisy yang kokoh agamanya untuk menemui Najasyi dan memintanya menyerahkan sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ kepada mereka. Mereka bermaksud menyiksa para sahabat agar murtad dari agamanya dan mengeluarkan mereka dari negeri Habasyah. Orang-orang Quraisy mengutus 'Abdullah bin Abu Rabi'ah dan 'Amr bin al-'Ash bin Wa'il, dan membekali keduanya dengan hadiah-hadiah mewah untuk diserahkan kepada Najasyi dan para pendetanya. Maka diutuslah keduanya.1
Ketika Abu Thalib mengendus rencana itu dan hadiah-hadiah mewah yang dibawa kedua utusan, ia menggubah syair untuk Najasyi, meminta agar Najasyi tetap memberikan perlindungan yang baik kepada kaum muhajirin dan membela mereka. Dalam syairnya ia bertanya bagaimana keadaan Ja'far di tempat yang jauh, dan apakah keramahan Najasyi menyentuh Ja'far dan sahabat-sahabatnya, ataukah ada pihak yang berusaha merusak suasana; ia memuji Najasyi sebagai orang mulia dan luhur yang kebaikannya dirasakan orang jauh dan dekat.
- Hadiah
Rencana kedua utusan dan para pendeta
Menurut Ummu Salamah, kaum Muslimin merasa aman dan beribadah tanpa siksaan di Habasyah. Quraisy mengumpulkan banyak kulit sebagai hadiah dan menyiapkan hadiah untuk setiap pendeta. Kedua utusan diperintah memberikan hadiah kepada para pendeta lebih dulu sebelum berbicara kepada Najasyi.
Baca selengkapnya
"Setiba kami di Habasyah, Najasyi menyambut kami dengan sangat ramah. Kami merasa aman dengan agama kami dan bisa beribadah kepada Allah tanpa siksaan dan tanpa mendengar kata-kata yang menghina kami. Hal ini didengar orang-orang Quraisy, lalu mereka mengirim dua orang yang kokoh agamanya untuk menemui Najasyi dan merayunya dengan hadiah dari kekayaan penduduk Makkah. Anehnya, di antara hadiah itu terdapat kulit. Orang-orang Quraisy mengumpulkan kulit yang banyak sekali, dan tidak ada satu pendeta pun yang tidak mereka siapkan hadiah. Barang-barang itu dibawa 'Abdullah bin Abu Rabi'ah dan 'Amr bin al-'Ash, dan keduanya diperintahkan untuk tidak gagal dengan misi mereka. Mereka berkata kepada keduanya, 'Berikan hadiah ini kepada semua pendeta sebelum kalian berdua mengutarakan maksud kepada Najasyi mengenai orang-orang yang hijrah. Lalu serahkanlah hadiah-hadiah ini kepada Najasyi, kemudian mohonlah agar ia menyerahkan orang-orang yang hijrah itu kepada kalian.'"4
Ummu Salamah bercerita: kedua utusan Quraisy bangkit dari Makkah menuju Habasyah. Kami semua saat itu berada di sebuah rumah yang nyaman dengan tetangga yang baik. Keduanya memberikan hadiah kepada para pendeta sebelum berbicara kepada Najasyi, dan berkata kepada tiap pendeta, "Sesungguhnya telah masuk ke negeri Tuan Raja anak-anak muda yang linglung. Mereka meninggalkan agama kaumnya dan tidak masuk ke dalam agama kalian. Mereka menganut agama baru yang sama-sama tidak kita kenal. Tokoh-tokoh Quraisy mengutus kami kepada kalian untuk menarik pulang mereka kepada kaumnya. Jika kami berbicara kepada raja kalian tentang mereka, hendaklah kalian memberi isyarat agar ia menyerahkan mereka kepada kami dan tidak berbicara dengan mereka, karena kaum mereka jauh lebih mengerti apa yang mereka katakan dan apa yang mereka cela." Para pendeta menjawab, "Baiklah."
- Najasyi
Najasyi menolak menyerahkan tanpa mendengar mereka
Kedua utusan menyerahkan hadiah kepada Najasyi, yang menerimanya, dan menyampaikan bahwa anak-anak muda mereka menyelinap ke negerinya dan menganut agama baru. Para pendeta setuju mereka dikembalikan. Najasyi marah dan berkata ia tidak akan menyerahkan mereka sebelum bertanya langsung kepada mereka. Jika ucapan dua utusan itu benar baru ia serahkan; jika tidak, ia akan melindungi mereka.

Tugu-tugu batu di Aksum, Ethiopia, kondisi sekarang (foto 1 Mei 2013). Gambaran kawasan Habasyah utara, bukan istana Najasyi.Foto: Adam Jones · CC BY-SA 2.0 · Wikimedia Commons Baca selengkapnya
Ummu Salamah melanjutkan, kedua utusan menyerahkan hadiah kepada Najasyi dan Najasyi menerimanya. Keduanya berkata, "Wahai Tuan Raja, sesungguhnya telah menyelinap masuk ke negeri Tuan anak-anak muda kami yang linglung. Mereka murtad dari agama kaumnya dan tidak masuk dalam agamamu. Mereka menganut agama yang mereka ciptakan sendiri. Kami tidak mengenal agama itu, begitu juga Tuan. Kami diutus ayah-ayah mereka, paman-paman mereka, dan keluarga besar mereka untuk membawa mereka pulang kepada kaumnya, karena kaumnya jauh lebih mengerti apa yang mereka katakan."1
Tidak ada yang lebih dibenci 'Abdullah bin Abu Rabi'ah dan 'Amr bin al-'Ash daripada Najasyi mendengar perkataan kaum Muslimin. Para pendeta di sekeliling Najasyi berkata, "Mereka berdua berkata benar, wahai Tuan Raja. Kaum mereka jauh lebih mengerti apa yang mereka katakan dan apa yang mereka cela. Kembalikan saja mereka kepada kedua orang ini."
Najasyi marah besar dan berkata, "Tidak! Demi Allah, aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian berdua. Jika ada sebuah kaum hidup berdampingan denganku dan memilihku daripada orang selain aku, maka kewajibanku adalah bertanya kepada mereka tentang apa yang dikatakan dua orang ini. Jika memang benar ucapan kedua orang ini, baru aku serahkan mereka kepada keduanya dan kupulangkan mereka kepada kaumnya. Namun jika ternyata mereka tidak seperti yang dikatakan keduanya, aku akan menaungi mereka dari keduanya dan melindungi mereka selama tinggal di negeriku."5
- Ja'far
Ja'far bin Abi Thalib menjawab Najasyi
Najasyi memanggil kaum Muslimin, juga para uskupnya yang membuka mushaf-mushaf mereka. Ia bertanya mengapa mereka meninggalkan kaumnya tanpa masuk ke agamanya atau agama lain yang ada. Ja'far menjawab: dahulu kami penyembah patung, pemakan bangkai, pezina, pemutus silaturahim, dan yang kuat menindas yang lemah, hingga Allah mengutus seorang rasul dari kami yang mengajak kepada tauhid dan akhlak mulia.
Baca selengkapnya
Ummu Salamah berkata, Najasyi mengundang sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ melalui utusannya. Mereka mengadakan pertemuan dan bertanya satu sama lain, "Apa yang akan kita katakan kepada Najasyi jika kita datang menemuinya?" Mereka sepakat, "Demi Allah, kita akan mengatakan apa yang telah kita ketahui, apa yang disampaikan Nabi." Ketika mereka tiba, Najasyi telah memanggil para uskupnya, yang membuka mushaf-mushaf mereka di sisinya. Najasyi bertanya, "Mengapa agama ini membuat kalian memisahkan diri dari kaum kalian, dan mengapa kalian tidak masuk ke dalam agamaku, serta tidak masuk ke dalam salah satu dari agama-agama yang telah ada?"1
Orang yang menjawab adalah Ja'far bin Abu Thalib. Ia berkata, "Wahai Tuan Raja, mulanya kami adalah ahli jahiliyah. Kami menyembah patung-patung, memakan bangkai, berzina, memutus silaturahim, menyakiti tetangga, dan orang kuat di antara kami selalu menindas orang lemah. Begitulah kondisi kami hingga Allah mengutus seseorang dari kami menjadi Rasul kepada kaum kami. Kami mengenal keturunannya, kebenarannya, dan kejujurannya. Ia mengajak kami kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, beribadah kepada-Nya, dan meninggalkan batu dan patung-patung yang sebelumnya kami sembah. Rasul itu memerintahkan kami berkata jujur, menunaikan amanah, menyambung tali silaturahim, bertetangga dengan baik, menahan diri dari hal-hal yang haram, dan tidak membunuh. Ia melarang kami dari perbuatan zina, berkata bohong, memakan harta anak yatim, dan menuduh berzina wanita yang menjaga kehormatannya. Ia memerintahkan kami hanya beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Ia juga memerintahkan kami shalat, zakat, dan puasa."
Ja'far memaparkan asas-asas utama agama Islam, lalu berkata, "Kami membenarkan Rasul tersebut, beriman kepadanya, dan mengikuti apa yang dia bawa dari sisi Allah. Hanya kepada Allah kami beribadah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Kami mengharamkan apa saja yang beliau haramkan, dan menghalalkan apa saja yang beliau halalkan. Setelah itu muncul ketidaksukaan kaum kami kepada kami. Mereka meneror dan menyakiti kami karena agama ini. Mereka memaksa kami kembali menyembah patung-patung, tidak menyembah Allah Ta'ala, dan menghalalkan kembali apa yang dulu pernah kami halalkan. Karena mereka selalu meneror kami, menzalimi kami, mempersempit ruang gerak kami, dan memisahkan kami dari agama kami, maka kami pergi ke negeri Tuan dan memilih Tuan daripada orang lain. Kami lebih suka hidup berdampingan dengan Tuan, dan kami berharap tidak disiksa lagi di sisimu, wahai Tuan Raja."
- Surat Maryam
Ja'far membacakan awal surat Maryam
Najasyi bertanya apakah Ja'far membawa bukti dari Allah. Ja'far membacakan permulaan surat Maryam. Najasyi menangis hingga jenggotnya basah, para uskup juga menangis hingga air mata menetes ke mushaf mereka. Najasyi berkata ayat itu dan apa yang dibawa 'Isa berasal dari sumber cahaya yang sama, dan mengusir kedua utusan Quraisy.
Baca selengkapnya
Ibnu Ishaq melanjutkan penuturan Ummu Salamah: Najasyi berkata kepada Ja'far, "Apakah engkau membawa bukti yang datang dari sisi Allah?" Ja'far menjawab, "Ada." "Bacakanlah ia untukku!" kata Najasyi. Ja'far membacakan permulaan surat Maryam. Demi Allah, Najasyi menangis tersedu-sedu hingga jenggotnya basah oleh air mata. Para uskup juga menangis hingga air mata mereka menetes membasahi mushaf-mushaf mereka ketika mendengar surat yang dibaca Ja'far. Najasyi berkata, "Sesungguhnya ayat tadi dan apa yang dibawa 'Isa berasal dari sumber cahaya yang sama. Enyahlah kalian berdua, hai utusan Quraisy! Demi Allah, aku tidak akan pernah mengembalikan mereka kepada kalian berdua, dan mereka tidak bisa diusik."
- Tentang 'Isa
Percobaan kedua 'Amr bin al-'Ash soal 'Isa bin Maryam
Keluar dari hadapan Najasyi, 'Amr bin al-'Ash bertekad esoknya "mencabut akar asal usul mereka" dengan menyatakan kaum Muslimin menganggap 'Isa hanya manusia biasa. 'Abdullah bin Abi Rabi'ah melarang karena mereka punya kerabat. Esoknya Najasyi bertanya kepada kaum Muslimin; Ja'far menjawab 'Isa adalah hamba Allah, Rasul-Nya, Ruh-Nya, dan Kalimat-Nya. Najasyi menyatakan itu tidak berbeda dari tongkat yang ia pegang, menjamin keamanan mereka, dan menyuruh hadiah dikembalikan.
Baca selengkapnya
Ibnu Ishaq melanjutkan penuturan Ummu Salamah: ketika kedua utusan Quraisy keluar dari hadapan Najasyi, 'Amr bin al-'Ash berkata, "Demi Allah, besok pagi aku akan menghadap Najasyi dan mencabut akar asal usul mereka." 'Abdullah bin Abu Rabi'ah, orang terkuat di tengah kami, berkata, "Jangan kau lakukan itu, karena mereka mempunyai kaum kerabat walaupun mereka berseberangan dengan kita." 'Amr menjawab, "Demi Allah, aku akan jelaskan kepada Najasyi bahwa sahabat-sahabat Muhammad meyakini 'Isa bin Maryam hanyalah seorang manusia biasa."
Esok harinya 'Amr menghadap Najasyi kembali dan berkata, "Wahai Tuan Raja, mereka meyakini sesuatu yang di luar batas tentang 'Isa bin Maryam. Kirimlah seseorang untuk menghadirkan mereka agar engkau bisa menanyakan pendapat mereka tentang 'Isa bin Maryam." Najasyi mengirim utusan untuk menanyakannya.
Ummu Salamah berkata: kami belum pernah berhadapan dengan persoalan serumit itu. Kaum Muslimin berdiskusi: "Apa yang akan kalian katakan tentang 'Isa bin Maryam jika Najasyi menanyakannya?" Sebagian menjawab, "Demi Allah, akan kita katakan seperti yang difirmankan Allah dan dibawa Nabi kita." Ketika mereka masuk, Najasyi bertanya, "Apa keyakinan kalian tentang 'Isa bin Maryam?" Ja'far menjawab, "Dalam pandangan kami, 'Isa bin Maryam ialah seperti dikatakan Nabi kami bahwa 'Isa adalah hamba Allah, Rasul-Nya, Ruh-Nya, dan Kalimat-Nya yang ditiupkan ke dalam rahim Maryam sang perawan." Najasyi memukul tanah dengan tangannya lalu mengambil sebuah tongkat, dan berkata, "Demi Allah, apa yang dikatakan 'Isa bin Maryam mengenai tongkat ini tidak jauh berbeda dengan apa yang engkau yakini."
Para uskup di sekeliling Najasyi mendengus geram. Najasyi berkata, "Ada apa dengan kalian!" Kepada kaum Muslimin ia berkata, "Kalian tetap aman di negeriku. Barang siapa melecehkan kalian, ia pasti merugi. Barang siapa merendahkan kalian, ia pasti merugi. Barang siapa menghina kalian, ia merugi. Memiliki gunung dari emas, jika aku harus menyakiti salah seorang dari kalian, hal itu sangat kubenci. Kembalikan hadiah-hadiah ini kepada dua orang utusan Quraisy. Demi Allah, Dia tidak pernah menyuapku untuk mendapatkan kekuasaan dariku, apakah pantas jika kemudian aku mengambil suap di dalamnya? Allah menjadikan manusia tidak taat kepadaku, lalu haruskah aku menjadikan mereka taat kepadaku?" Kedua utusan Quraisy keluar dari hadapan Najasyi dalam keadaan sangat kecewa. Sementara itu kaum Muslimin tetap tinggal di negeri Najasyi dengan nyaman dan perlakuan yang baik.6
- Tepi Nil
Lawan Najasyi di tepi Sungai Nil dan peran az-Zubair
Ummu Salamah menceritakan seorang dari Habasyah berusaha menggeser Najasyi dari kursi kerajaan. Kaum Muslimin khawatir. Najasyi menemui lawannya di tepian Sungai Nil. Az-Zubair bin al-'Awwam, yang termuda di antara mereka, bersedia menyaksikan pertempuran dan membawa kabar; ia berangkat dengan tempat air tergantung di dadanya, lalu kembali berlari sambil memberi isyarat dengan bajunya bahwa Najasyi menang.
Baca selengkapnya
Ummu Salamah berkata: demi Allah, selama di sana kami hidup bahagia hingga muncul seorang dari Habasyah yang berusaha menggeser Najasyi dari kursi kerajaan. Kami belum pernah bersedih seperti saat itu. Kami khawatir orang itu berhasil menjatuhkan Najasyi, sehingga muncullah orang yang tidak mengetahui kondisi kami sebagaimana Najasyi mengetahuinya. Najasyi berangkat menemui lawannya di tepian Sungai Nil. Sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ berkata, "Siapa yang berani menyaksikan berkecamuknya peperangan dua pasukan itu kemudian datang ke sini lagi dengan membawa berita?"
Az-Zubair bin al-'Awwam berkata, "Aku siap!" Mereka berkata, "Bagus!" Az-Zubair adalah orang yang termuda di antara mereka. Sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ mengisi tempat air untuk az-Zubair dan menggantungkannya di dadanya. Ia keluar menuju tepian Sungai Nil, tempat dua pasukan bertemu. Mereka semua berdoa agar Allah memenangkan Najasyi atas musuhnya dan memberinya kekokohan di negerinya. Demi Allah, ketika mereka sedang berharap seperti itu, tiba-tiba az-Zubair berlari-lari sambil memberi isyarat dengan bajunya dan berkata, "Bergembiralah, Najasyi telah menang. Allah memenangkannya dan memberikan ketenteraman di negaranya." Mereka bahagia sekali. Najasyi pulang, Allah memberinya keamanan di negaranya, dan Habasyah semakin kokoh di bawah kepemimpinannya. Mereka tinggal di sana dengan tenteram hingga pulang ke Makkah dan bertemu kembali dengan Rasulullah ﷺ.
- Najasyi
Bagaimana Najasyi menjadi raja
Az-Zuhri membicarakan hadits Ummu Salamah dengan 'Urwah bin az-Zubair, yang menyampaikan penuturan 'Aisyah. Ayah Najasyi raja Habasyah dengan satu anak, Najasyi; saudara ayahnya punya dua belas anak. Orang-orang Habasyah membunuh ayah Najasyi dan mengangkat sang paman. Ketika Najasyi lebih populer, mereka menjualnya seharga enam ratus dirham kepada seorang pedagang. Sang paman disambar petir, dan setelah mereka tak menemukan pengganti yang cakap, Najasyi dicari lagi dan diangkat menjadi raja.

Lanskap Pegunungan Gheralta, Wilayah Tigray, Ethiopia, kondisi sekarang (foto 6 November 2012). Gambaran dataran tinggi Ethiopia utara, bukan lokasi peristiwa.Foto: Bernard Gagnon · CC BY-SA 3.0 · Wikimedia Commons Baca selengkapnya
Az-Zuhri bercerita bahwa ia pernah berdiskusi dengan 'Urwah bin az-Zubair tentang hadits Abu Bakr bin 'Abdurrahman dari Ummu Salamah. 'Urwah berkata bahwa 'Aisyah, Ummul Mukminin, menuturkan: ayah Najasyi adalah seorang raja yang hanya mempunyai satu anak, yaitu Najasyi. Ayahnya mempunyai seorang saudara yang memiliki dua belas anak, keluarga istana Habasyah. Orang-orang Habasyah berkata, "Bagaimana kalau kita habisi saja ayah Najasyi kemudian kita gantikan ia dengan saudaranya sebagai raja, karena ayah Najasyi hanya mempunyai satu anak sedangkan saudaranya mempunyai dua belas anak, sehingga mereka mewarisi kerajaan sepeninggalnya." Mereka menyiksa ayah Najasyi dan menghabisinya, lalu mengangkat saudaranya sebagai raja baru. Najasyi hidup bersama pamannya.1
Najasyi anak yang brilian dan penuh kemauan, hingga lebih populer daripada pamannya dan menurunkan pamor sang paman. Orang-orang Habasyah berkata, "Demi Allah, anak muda ini ternyata lebih populer daripada pamannya. Kami khawatir jika ia diangkat sebagai raja, pasti ia akan menghabisi kami semua, karena lambat laun ia tahu bahwa kami telah membunuh ayahandanya." Mereka mendatangi sang paman dan berkata, "Bunuhlah anak muda ini." Pamannya berkata, "Sialan kalian, aku telah membunuh ayahnya kemarin, apakah aku harus membunuh anaknya juga hari ini? Namun aku akan keluarkan dia dari negeri kalian."
Mereka menyeret Najasyi ke pasar dan menjualnya kepada seorang pedagang seharga enam ratus dirham. Pedagang itu membawa Najasyi ikut dalam pelayarannya. Pada petang hari itu juga, awan musim gugur bertiup. Paman Najasyi keluar rumah dan tiba-tiba disambar petir hingga tewas. Orang-orang Habasyah mencari anak raja yang meninggal itu, namun hanya mendapatkan seorang yang bodoh dan tidak memiliki kebaikan. Persoalan mereka pun semakin berantakan. Sebagian dari mereka berkata kepada yang lain, "Demi Allah, sekarang kalian baru sadar, karena raja kalian yang mampu menyelesaikan persoalan adalah raja yang telah kalian jual pagi tadi. Jika kalian masih ingin hidup sentosa di Habasyah, kejarlah dia saat ini juga!" Mereka mengejar Najasyi, mencari pedagang yang membelinya, mengambilnya dari pedagang itu, membawanya pulang ke Habasyah, dan mengangkatnya sebagai raja.
Tak lama kemudian pedagang itu menemui orang-orang Habasyah dan berkata, "Kalian harus mengembalikan uangku, atau mengizinkan aku berbicara dengan Najasyi." Mereka berkata, "Kami tidak akan memberi uang sepeser pun kepadamu." Ia berkata, "Kalau begitu, izinkan aku berbicara dengan Najasyi." Mereka berkata, "Silakan." Pedagang itu menemui Najasyi dan berkata, "Wahai Tuan Raja, aku pernah membeli seorang budak di pasar seharga enam ratus dirham. Ketika aku pulang membawanya, mereka mengejarku lalu mengambilnya dariku tanpa mengganti uang yang telah aku bayarkan." Najasyi berkata kepada orang-orang Habasyah, "Kalian harus mengembalikan uang dirhamnya, atau budak itu menyerahkan dirinya kepada orang itu dan ia pulang membawanya." Mereka berkata, "Jangan! Kami akan kembalikan uang dirhamnya." 'Aisyah berkata, "Itulah berita pertama tentang kekokohan agama Najasyi dan keputusannya yang sangat adil."
Yazid bin Ruman bercerita kepadaku dari 'Urwah bin az-Zubair dari 'Aisyah: ketika Najasyi meninggal dunia, kuburannya bercahaya (teks: "kuburannya cahaya").1
- Penentang
Orang-orang Habasyah menentang agama Najasyi
Orang-orang Habasyah menuduh Najasyi meninggalkan agama mereka dan sepenuhnya mengikuti agama kaum Muslimin. Najasyi menyiapkan perahu-perahu untuk Ja'far dan sahabatnya sebagai jalan keluar jika ia kalah. Ia menulis surat berisi syahadatnya, menemui mereka, dan menyatakan 'Isa adalah anak Maryam, tidak lebih. Mereka pun rela. Ketika Najasyi meninggal, Rasulullah ﷺ menshalatinya dan memohonkan ampunan untuknya.
Baca selengkapnya
Ja'far bin Muhammad bercerita kepadaku dari ayahnya: orang-orang Habasyah berkata kepada Najasyi, "Sesungguhnya engkau telah meninggalkan agama yang kita anut dan mutlak mengikuti agama mereka." Najasyi mengirim seseorang kepada Ja'far dan sahabat-sahabatnya untuk menyiapkan perahu-perahu bagi kaum muhajirin. Najasyi berkata, "Amankanlah diri kalian ke dalam perahu-perahu. Jika ternyata nanti aku kalah, pergilah kalian ke mana saja kalian suka. Jika aku menang, kumohon tetaplah kalian di sini."1
Najasyi lalu menulis surat yang di dalamnya ia bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang pantas disembah dengan benar kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Ia juga bersaksi bahwa 'Isa bin Maryam adalah hamba Allah, Rasul-Nya, Ruh-Nya, dan Kalimat-Nya yang Dia tiupkan kepada Maryam. Kemudian ia menemui orang-orang Habasyah yang berbaris untuknya dan berkata, "Wahai orang-orang Habasyah, bukankah aku orang yang paling berkuasa atas kalian?" "Ya, benar!" jawab mereka. "Menurut kalian aku ini bagaimana?" "Engkau adalah manusia yang paling baik." "Jika demikian, apa yang terjadi pada kalian?" "Engkau telah keluar dari agama kami dan meyakini bahwa 'Isa adalah seorang hamba Allah." "Lalu apa pendapat kalian tentang 'Isa?" "'Isa adalah anak Allah." Najasyi meletakkan tangannya di dadanya dan menyatakan bahwa ia bersaksi 'Isa adalah anak Maryam dan tidak lebih dari itu, seperti yang tertulis dalam suratnya. Orang-orang Habasyah pun rela dan berbalik dari hadapannya.
Hal itu didengar Nabi ﷺ. Ketika Najasyi meninggal dunia, beliau menshalatinya dan memohonkan ampunan kepada Allah untuknya.
Catatan
- Ibnu Ishaq.
- Tambahan Ibnu Hisyam.
- Kami menuliskan nama dan angka sebagaimana tercantum dan tidak menjumlahkannya ulang. Pada Bani 'Amir bin Luay dan Bani al-Harits bin Fihr, yang disebut hanya delapan nama dalam masing-masing daftar, sedangkan buku menyebut jumlahnya delapan belas; keduanya kami tuliskan apa adanya. Nama-nama pada daftar ini dipendekkan (tanpa rantai nasab yang panjang); rantai lengkapnya ada di buku. Dua keterangan Ibnu Hisyam dalam daftar ini tidak kami muat: asal nama Syammas (nama asli Syammas bin 'Utsman adalah 'Utsman; ia dinamai Syammas karena seorang Syammas lain yang tampan dari Asy-Syamamisah datang ke Makkah, lalu pamannya, 'Utbah bin Rabi'ah, mendatangkan keponakannya untuk menyaingi, sebagaimana dituturkan Ibnu Syihab) dan keterangan bahwa Mu'attib bin 'Auf dari Khuza'ah "diberi nama Aihamah".
- Ibnu Ishaq. Sanad: Muhammad bin Muslim az-Zuhri bercerita kepadaku dari Abu Bakr bin 'Abdurrahman bin al-Harits bin Hisyam al-Makhzumi dari Ummu Salamah binti Abu Umayyah bin al-Mughirah, istri Rasulullah ﷺ.
- Teks Ibnu Hisyam (terjemahan yang kami pakai) menulis "menyembahkan" pada kalimat ini, bagian jawaban Najasyi kepada kedua utusan Quraisy. Kami membetulkannya menjadi "menyerahkan" karena konteksnya jelas.
- Kalimat terakhir ucapan Najasyi tentang suap dan ketaatan sulit dipahami dalam terjemahan, sehingga kami kutip apa adanya.
Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Kisah masuk Islamnya 'Umar, yang dalam buku langsung menyusul bagian ini, dibahas di bab berikutnya.