Isi bab ini
Bab ini menceritakan penyiksaan terhadap orang-orang lemah yang masuk Islam: teror tiap kabilah, Bilal bin Rabah dan batu di dadanya, tujuh budak yang dimerdekakan Abu Bakar, keluarga Yasir, cemoohan Abu Jahl, kesaksian Ibnu 'Abbas, dan rencana Bani Makhzum terhadap anak-anak muda mereka.
Teror per kabilah
Tiap kabilah menangkap dan menyiksa orang Islam di tengah mereka.
Bilal
Dijemur dengan batu di dada, ia hanya berkata "Ahad, Ahad".
Abu Bakar
Memerdekakan Bilal dan enam budak lain sebelum hijrah ke Madinah.
Keluarga Yasir
Disiksa di padang pasir; Rasulullah ﷺ menghibur mereka dengan kabar surga.
Makkah
Bab ini berlangsung di Makkah. Titik diambil dari Wikipedia.
Dari teror kabilah sampai rencana Bani Makhzum
Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.
Perbedaan sumber
Asal Bilal. Ibnu Hisyam menyebut Bilal budak Bani Jumah yang lahir di Bani Jumah, anak Hamamah, dan tidak menyebut asal bangsanya. Haykal menyebutnya budak Habasyah.
Cara Abu Bakar memerdekakan Bilal. Ibnu Hisyam menuturkan Abu Bakar menukar Bilal dengan seorang budak hitamnya yang lebih kuat. Haykal menulis Abu Bakar membeli Bilal dari tuannya dan memerdekakannya.
Budak wanita dan korban jiwa. Haykal menyebut seorang budak wanita yang dibeli Abu Bakar dari 'Umar sebelum 'Umar masuk Islam, dan seorang wanita yang disiksa sampai mati karena menolak meninggalkan Islam tanpa menyebut namanya. Ibnu Hisyam menyebut Ummu 'Ammar dibunuh dan nama-nama budak yang dimerdekakan Abu Bakar, dan tidak memuat kisah 'Umar membeli budak wanita itu.
- Teror
Orang-orang lemah disiksa kabilah mereka sendiri
Quraisy meneror orang-orang yang masuk Islam. Tiap kabilah menangkap kaum Muslimin yang ada di tengah mereka, memenjarakan, memukul, membiarkan mereka lapar dan haus, dan menjemur mereka di padang pasir Makkah saat musim panas membara. Sebagian berubah sikap karena beratnya cobaan, sebagian melawan dan Allah melindungi mereka.

Puncak berbatu Jabal Nur di dekat Makkah, kondisi sekarang (foto 4 Desember 2020). Gambaran medan berbatu dan gersang di sekitar Makkah, bukan tempat penyiksaan yang disebut dalam teks.Foto: Richard Mortel · CC BY 2.0 · Wikimedia Commons Baca selengkapnya
Kemudian orang-orang Quraisy meneror orang-orang yang masuk Islam dan mengikuti Rasulullah ﷺ. Setiap kabilah menangkap kaum Muslimin yang berada di kabilahnya, lalu memenjara mereka, menghajar mereka, membiarkan mereka lapar dan haus, dan menjemur mereka di padang pasir Makkah ketika musim panas sedang membara. Mereka menyiksa orang-orang yang lemah di antara kaum Muslimin, dan memberi cobaan berat atas sikap keberagamaan orang-orang lemah itu.1
Di antara kaum Muslimin ada yang berubah karena beratnya cobaan yang diterimanya. Namun ada pula yang melawan dan bertahan, dan Allah melindungi mereka dari orang-orang Quraisy.
- Bilal
Bilal bin Rabah: "Ahad, Ahad"
Bilal bin Rabah adalah budak salah seorang dari Bani Jumah, lahir di Bani Jumah, dan masuk Islam dengan tulus. Umayyah bin Khalaf membaringkannya di padang pasir Makkah pada terik matahari dan meletakkan batu besar di dadanya, lalu berkata ia akan begitu sampai mati atau kafir kepada Muhammad. Bilal hanya berkata, "Ahad, Ahad."
Baca selengkapnya
Bilal adalah mantan budak Abu Bakar. Awalnya ia budak salah seorang dari Bani Jumah dan dilahirkan di Bani Jumah. Dialah Bilal bin Rabah, ibunya bernama Hamamah. Ia masuk Islam dengan tulus dan hati yang bersih. Umayyah bin Khalaf bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah mengeluarkannya ketika matahari sedang di puncak teriknya, membaringkannya di atas padang pasir Makkah, lalu memerintahkan agar batu besar diletakkan di atas dadanya. Umayyah berkata, "Demi Allah, engkau akan berada dalam kondisi seperti ini hingga engkau mati atau engkau kafir kepada Muhammad dan menyembah al-Lata dan al-'Uzza." Menghadapi ujian itu, Bilal berkata, "Ahad (Esa), Ahad (Esa)."1
Hisyam bin 'Urwah bercerita dari ayahnya: pada saat Bilal disiksa dan mengucapkan "Ahad, Ahad", Waraqah bin Naufal berjalan melewatinya dan berkata, "Demi Allah, Ahad, Ahad, wahai Bilal." Waraqah lalu menemui Umayyah bin Khalaf dan orang-orang Bani Jumah yang menyiksa Bilal dan berkata, "Allah, jika kalian menghabisi Bilal dalam kondisi seperti ini, pasti aku akan memberkati tempat kematiannya."1
- Abu Bakar
Abu Bakar menukar Bilal dengan budak lain
Abu Bakar, yang rumahnya di Bani Jumah, melewati tempat Bilal disiksa dan menegur Umayyah bin Khalaf. Umayyah menyuruhnya menyelamatkan Bilal bila ia mau. Abu Bakar menawarkan tukar dengan budak hitamnya yang lebih kuat dan lebih fanatik pada agama Umayyah; Umayyah setuju, dan Abu Bakar memerdekakan Bilal.
Baca selengkapnya
Demikianlah yang terjadi sampai Abu Bakar ash-Shiddiq berjalan melewati orang-orang yang sedang menyiksa Bilal. Rumah Abu Bakar berada di Bani Jumah. Ia berkata kepada Umayyah bin Khalaf, "Mengapa engkau tidak takut kepada Allah dalam menyiksa orang miskin ini? Hingga kapan engkau akan menyiksanya?" Umayyah menjawab, "Engkaulah yang merusak pikiran orang ini. Oleh karena itu, selamatkan dia jika engkau suka!" Abu Bakar berkata, "Boleh! Aku mempunyai budak hitam yang lebih kuat dan kekar daripada dia, dan lebih fanatik berpegang dengan agamamu. Bagaimana kalau kita barter saja?" Umayyah berkata, "Aku setuju." Abu Bakar berkata, "Budak tersebut menjadi milikmu." Ia memberikan budaknya kepada Umayyah, mengambil Bilal, lalu memerdekakannya.1
- Tujuh budak
Tujuh budak yang dimerdekakan Abu Bakar sebelum hijrah
Sebelum hijrah ke Madinah, Abu Bakar memerdekakan enam budak, dan Bilal adalah yang ketujuh. Keenamnya: 'Amir bin Fuhairah, Ummu 'Ubais, Zinnirah, an-Nahdiyyah beserta putrinya, dan seorang budak wanita Bani Mu'ammil yang disiksa 'Umar bin al-Khaththab sebelum 'Umar masuk Islam.
Baca selengkapnya
Sebelum hijrah ke Madinah, Abu Bakar memerdekakan enam budak dan Bilal adalah budak ketujuh yang ia merdekakan. Keenam budak itu adalah sebagai berikut:1
- 'Amir bin Fuhairahikut Perang Badar dan Uhud, dan gugur sebagai syahid dalam peristiwa Bi'r Ma'unah
- Ummu 'Ubaisdisebut dalam daftar, tanpa keterangan lain
- Zinnirahketika Abu Bakar memerdekakannya ia dalam keadaan buta akibat penyiksaan
- An-Nahdiyyah dan putrinyamilik seorang wanita Bani 'Abduddar; sedang membuat tepung ketika Abu Bakar lewat
- Budak wanita Bani Mu'ammilMuslimah di perkampungan Bani 'Adi bin Ka'b, disiksa 'Umar bin al-Khaththab
Zinnirah: orang-orang Quraisy berkata, "Matanya dicabut al-Lata dan al-'Uzza." Zinnirah menjawab, "Demi Rumah Allah, mereka bohong. Al-Lata dan al-'Uzza adalah patung yang tidak bisa berbuat apa-apa." Kemudian Allah mengembalikan matanya sehingga ia dapat melihat kembali.
An-Nahdiyyah dan putrinya: tuan mereka berkata, "Demi Allah, aku tidak akan pernah memerdekakan kalian berdua." Abu Bakar berkata, "Wahai ibu si Fulan, batalkanlah sumpahmu itu!" Wanita itu menjawab, "Membatalkan sumpah? Padahal engkau yang merusak pikiran keduanya! Merdekakanlah mereka berdua, jika engkau suka!" Abu Bakar bertanya, "Berapa harga keduanya?" "Sekian dan sekian," jawab wanita itu. Abu Bakar berkata, "Aku beli keduanya dengan harga tersebut, dan keduanya menjadi orang merdeka." Ia berkata kepada keduanya, "Berhentilah membuat tepung itu!" Mereka menjawab, "Wahai Abu Bakar, bagaimana kalau kami selesaikan dulu pembuatan tepung ini, lalu kami kembalikan kepadanya?" Abu Bakar berkata, "Terserah kalian berdua."
Budak wanita Bani Mu'ammil: Abu Bakar berjalan melewatinya ketika 'Umar bin al-Khaththab, yang waktu itu masih musyrik, menyiksanya agar meninggalkan Islam, dan tidak henti-hentinya menyiksanya hingga kelelahan sendiri. 'Umar berkata, "Aku berhenti menyiksamu hanyalah karena kelelahan." Budak wanita itu menjawab, "Demikianlah Allah berbuat terhadap dirimu." Abu Bakar kemudian membeli dan memerdekakannya.
- Abu Quhafah
Nasihat ayah Abu Bakar dan turunnya surat al-Lail
Abu Quhafah berkata kepada Abu Bakar bahwa lebih baik ia memerdekakan budak-budak yang kuat yang bisa melindunginya. Abu Bakar menjawab bahwa ia hanya melakukan apa yang Allah inginkan. Salah seorang keluarga Abu Bakar berkata Allah menurunkan ayat-ayat tentang Abu Bakar dan ucapan ayahnya, yaitu QS. al-Lail: 5-21.
Baca selengkapnya
Muhammad bin 'Abdullah bin Abu 'Atiq bercerita kepadaku dari 'Amir bin 'Abdullah bin az-Zubair dari sebagian keluarganya: Abu Quhafah berkata kepada Abu Bakar, "Aku lihat engkau cenderung memerdekakan budak-budak yang lemah. Andai saja engkau memerdekakan budak-budak yang kuat, niscaya mereka siap untuk melindungimu." Abu Bakar menjawab, "Wahai ayahanda, aku hanya melakukan apa yang Allah inginkan."1
Salah seorang dari keluarga Abu Bakar berkata bahwa Allah menurunkan ayat-ayat tentang Abu Bakar dan tentang ucapan ayahnya kepadanya: "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa. Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk, dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia. Maka Kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman). Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan." (QS. al-Lail: 5-21).
- Keluarga Yasir
'Ammar, ayahnya, dan ibunya disiksa Bani Makhzum
Ketika matahari mencapai puncak panasnya, Bani Makhzum membawa 'Ammar bin Yasir, ayah, dan ibunya yang telah masuk Islam ke padang pasir Makkah untuk disiksa. Rasulullah ﷺ melewati mereka dan bersabda, "Sabarlah, wahai keluarga Yasir, karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah surga." Ummu 'Ammar dibunuh karena tetap kokoh dan menolak kecuali Islam.
Baca selengkapnya
Ketika matahari sedang mencapai puncak panasnya, Bani Makhzum membawa 'Ammar bin Yasir, ayah, dan ibunya, yang semuanya telah masuk Islam, ke padang pasir Makkah untuk disiksa. Pada saat mereka bertiga disiksa, Rasulullah ﷺ melewati mereka. Beliau bersabda, seperti kabar yang sampai kepada Ibnu Ishaq, "Sabarlah, wahai keluarga Yasir, karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah surga." Mereka membunuh Ummu 'Ammar karena ia tetap kokoh dan menolak kecuali Islam.1
- Abu Jahl
Abu Jahl mencemooh orang yang mendapat perlindungan
Abu Jahl-lah yang mencemooh kaum Muslimin di kalangan Quraisy. Jika mendengar ada orang terpandang masuk Islam, ia menjelek-jelekkannya dan menyebut ayahnya lebih baik darinya; kepada pedagang ia mengancam akan membuat bisnisnya bangkrut; kepada orang lemah ia menyiksa atau merayunya.
Baca selengkapnya
Abu Jahl inilah yang mencemooh kaum Muslimin di kalangan orang-orang Quraisy. Jika ia mendengar ada orang yang mulia dan mendapat perlindungan masuk Islam, ia mencemooh dan menjelek-jelekkannya dengan berkata, "Engkau murtad dari agama ayahmu, padahal ayahmu lebih baik daripada engkau. Kami pasti menjelek-jelekkan mimpimu, tidak menerima pendapatmu, dan merusak kehormatanmu." Jika orang itu pelaku bisnis, Abu Jahl berkata, "Demi Allah, kami pasti membuat bisnismu bangkrut, dan kami hancurkan kekayaanmu." Jika orang itu lemah, ia menyiksanya atau merayunya.1
- Ibnu 'Abbas
Kesaksian Ibnu 'Abbas tentang bentuk penyiksaan
Sa'id bin Jubair bertanya kepada Ibnu 'Abbas seperti apa penyiksaan orang musyrik terhadap sahabat Rasulullah ﷺ. Ibnu 'Abbas menjawab bahwa mereka dipukul, dibuat lapar dan haus hingga ada yang tak bisa berdiri tegak. Mereka bertanya apakah al-Lata dan al-'Uzza tuhanmu, dan ia menjawab "ya", bahkan ketika seekor sapi betina dibawa ke hadapannya, demi menghindari siksaan yang lebih kejam.
Baca selengkapnya
Hakim bin Jubair bercerita kepadaku dari Sa'id bin Jubair, yang berkata, "Aku bertanya kepada 'Abdullah bin 'Abbas: bagaimanakah bentuk penyiksaan orang-orang musyrikin terhadap sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ?" Ibnu 'Abbas menjawab, "Demi Allah, orang-orang Quraisy memukul salah seorang dari sahabat Rasulullah ﷺ, membuat mereka kelaparan dan kehausan hingga salah seorang dari mereka tidak bisa berdiri tegak akibat beratnya penyiksaan yang diterimanya. Sampai-sampai orang-orang Quraisy berkata kepadanya, 'Al-Lata dan al-'Uzza adalah Tuhanmu, bukan Allah!' Ia berkata, 'Ya.' Bahkan seekor sapi betina dibawa ke hadapannya, kemudian mereka berkata, 'Sapi betina ini adalah Tuhanmu dan bukan Allah.' Ia menjawab, 'Ya.' Ia melakukan ini semua demi menghindari penyiksaan yang lebih kejam."1
- Bani Makhzum
Bani Makhzum hendak memurtadkan anak-anak muda mereka
Beberapa orang Bani Makhzum mendatangi rumah Hisyam bin al-Walid karena saudaranya, al-Walid bin al-Walid bin al-Mughirah, telah masuk Islam. Mereka sepakat memurtadkan anak-anak muda yang telah memeluk Islam, di antaranya Salamah bin Hisyam dan 'Ayyasy bin Abi Rabi'ah. Ancaman balasan membuat mereka tidak berani mengganggu al-Walid, sehingga Allah melindunginya.
Baca selengkapnya
Zubair bin 'Ukasyah bin 'Abdullah bin Abu Ahmad bercerita kepadaku: beberapa orang Bani Makhzum berjalan menuju rumah Hisyam bin al-Walid, karena saudaranya, al-Walid bin al-Walid bin al-Mughirah, telah memeluk Islam. Mereka sepakat untuk memurtadkan kembali anak-anak muda mereka yang telah masuk Islam, di antaranya Salamah bin Hisyam dan 'Ayyasy bin Abu Rabi'ah. Mereka berkata kepada Hisyam dengan rasa takut karena wataknya yang keras, "Kami ingin menjelek-jelekkan anak-anak muda itu karena agama baru yang mereka anut, sehingga kita merasa ringan dalam menangani kasus lain selain mereka." Ia menjawab, "Baiklah, silakan saja, namun kalian jangan macam-macam dengan al-Walid. Hati-hatilah terhadapnya."1
Lalu ia berkata dalam syair, "Janganlah kau sekali-kali habisi 'Ubais saudaraku; jika kalian lakukan, maka kita mempunyai permusuhan abadi." Ia menambahkan, "Aku bersumpah dengan nama Allah, jika kalian membunuhnya, aku akan menghabisi orang yang paling dihormati di antara kalian." Mereka berkata, "Ya Allah, laknatilah dia! Siapakah yang mau tertipu dengan ucapannya? Demi Allah, andaikata saudaranya meninggal di tangan kita, pasti ia membunuh orang paling dihormati di antara kita." Maka mereka tidak berani mengganggu al-Walid. Demikianlah Allah melindungi al-Walid dari teror mereka.2
Catatan
- Ibnu Ishaq.
- Nama-nama pada bagian ini tertulis tidak konsisten dalam terjemahan (Hisyam dan Hasyim, al-Walid dan 'Ubais), sehingga kami mengikuti sebagaimana adanya dan mengartikannya sebagai ucapan Hisyam.
Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Hijrah ke Habasyah, yang dalam buku langsung menyusul bagian ini, dibahas di bab berikutnya.