Pusat Sejarah Islam
Bab 17 dari 55

Dakwah terang-terangan & reaksi Quraisy

Setelah turun perintah berdakwah terang-terangan, Quraisy mulai gerah. Mereka menekan lewat Abu Thalib, menawarkan harta dan kedudukan, menuntut mukjizat, sampai menuduh Nabi tukang sihir.

sesudah 3 tahunSumber: Ibnu Hisyam
Sekilas

Isi bab ini

Bab ini menceritakan awal dakwah terang-terangan dan bagaimana Quraisy menanggapinya: tekanan lewat Abu Thalib, tuduhan di musim haji, tawaran 'Utbah, tuntutan para pembesar, tiga pertanyaan dari rabi Yahudi Madinah, hingga bacaan Al-Qur'an yang dilantangkan 'Abdullah bin Mas'ud di Maqam.

Perintah terang-terangan

Allah memerintahkan Rasulullah ﷺ menyampaikan risalah secara terbuka, tiga tahun setelah dakwah diam-diam.

Utusan ke Abu Thalib

Tokoh Quraisy tiga kali mendatangi Abu Thalib agar keponakannya dihentikan, tetapi ia tetap membela.

Tawaran dan tuntutan

Harta, kedudukan, raja, dan tabib ditawarkan; lalu datang tuntutan agar beliau melakukan hal-hal yang tak mungkin.

Surat al-Kahfi

Tiga pertanyaan titipan rabi Yahudi dijawab lewat wahyu setelah lima belas malam menunggu.

Peta

Makkah dan Madinah

Pilih salah satu langkah di daftar yang menyertai peta. Garis putus-putus adalah perkiraan.

Makkah dan Madinah
Tempat yang disebut Ibnu HisyamPerjalanan (garis perkiraan)
    Alur kisah

    Dari perintah terang-terangan sampai al-Qur'an dilantangkan di Maqam

    Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.

    1. Perintah

      Allah memerintahkan dakwah terang-terangan

      Setelah orang-orang masuk Islam sedikit demi sedikit, Allah memerintahkan Rasul-Nya menyampaikan risalah secara terbuka. Ayat yang turun antara lain QS. al-Hijr: 94, asy-Syu'ara': 214-215, dan al-Hijr: 89. Jarak antara beliau merahasiakan perintah itu dan diperintahkan menampakkannya adalah tiga tahun.

      Baca selengkapnya

      Setelah orang-orang masuk Islam, laki-laki maupun perempuan, secara bertahap, hingga wacana tentang Islam menyebar di Makkah dan menjadi bahan diskusi, Allah memerintahkan Rasul-Nya menyampaikan risalah yang beliau bawa secara terbuka, memberitahukan perintah Allah kepada manusia, dan mengajak mereka kepada-Nya. Rentang waktu antara Rasulullah ﷺ merahasiakan perintah-Nya hingga Allah memerintahkannya menampakkan perintah itu adalah tiga tahun, seperti berita yang sampai kepada Ibnu Ishaq.1

      Lalu Allah berfirman kepada beliau: "Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik." (QS. al-Hijr: 94). Allah juga berfirman: "Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman." (QS. asy-Syu'ara': 214-215). Dan: "Dan katakanlah: 'Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan.'" (QS. al-Hijr: 89).

      Arti kata fashda' ialah menyeleksi antara kebenaran dan kebatilan. Ia mengutip bait Abu Dzu'aib al-Hudzali (nama aslinya Khuwailid bin Khalid) yang menyifati keledai betina liar dan pejantannya, serta bait Ru'bah bin al-'Ajjaj, sebagai contoh pemakaian kata itu dalam arti memisahkan dan menjelaskan.2

    2. Darah pertama

      Pertengkaran di Syi'b

      Para sahabat shalat di Syi'b supaya tidak terlihat Quraisy. Suatu ketika beberapa orang musyrik mendatangi mereka, mengumpat dan menghina, hingga terjadi perkelahian. Sa'd bin Abi Waqqash memukul salah seorang dari mereka dengan tulang rahang unta hingga terluka. Inilah darah pertama yang tumpah dalam Islam.

      Baca selengkapnya

      Pada waktu itu, jika para sahabat Rasulullah ﷺ ingin melakukan shalat, mereka menuju ke Syi'b untuk menjauhkan diri dari pandangan orang-orang Quraisy. Ketika Sa'd bin Abi Waqqash bersama beberapa sahabat sedang shalat di Syi'b, tiba-tiba, tanpa diduga sebelumnya, beberapa orang dari kaum musyrikin datang ke tempat mereka. Orang-orang Quraisy itu mengumpat apa yang dilakukan kaum Muslimin dan menghina apa yang mereka perbuat, hingga terjadilah perkelahian hebat di antara mereka.1

      Dalam perkelahian itu Sa'd bin Abi Waqqash memukul salah seorang dari kaum musyrikin dengan tulang rahang unta hingga terluka. Inilah darah pertama yang tumpah dalam Islam.

    3. Reaksi

      Quraisy baru bereaksi ketika sesembahan mereka disebut

      Ketika Rasulullah ﷺ menampakkan Islam, Quraisy belum mengutuk dan belum bereaksi. Setelah beliau menyebut sesembahan mereka dan menjelaskan kebatilannya, mereka menganggapnya masalah besar, mengingkarinya, dan sepakat menentangnya. Abu Thalib berdiri melindungi beliau.

      Baca selengkapnya

      Ketika Rasulullah ﷺ menampakkan Islam secara terbuka kepada kaumnya dan menyampaikan perintah Allah secara terang-terangan, orang-orang Quraisy belum mengutuk beliau dan belum memberikan reaksi, seperti diberitakan kepadanya, hingga suatu ketika Rasulullah ﷺ menyebut sesembahan mereka dan menjelaskan kebatilan mengagungkannya. Saat itulah mereka menganggapnya masalah besar, mengingkarinya, dan sepakat menentangnya, kecuali orang-orang yang dijaga Allah di antara mereka dengan Islam. Jumlah mereka tidak banyak dan masih sembunyi-sembunyi.1

      Paman beliau, Abu Thalib, sangat empati kepada beliau dan berdiri melindunginya. Rasulullah ﷺ tetap kokoh menyampaikan perintah Allah dan memperlihatkannya tanpa bisa dicegah oleh apa pun.

    4. Utusan pertama

      Tokoh-tokoh Quraisy menemui Abu Thalib

      Melihat Rasulullah ﷺ tidak peduli pada manuver mereka, terus melecehkan Tuhan mereka, dan Abu Thalib tidak mau menyerahkannya, beberapa tokoh Quraisy mendatangi Abu Thalib. Mereka meminta ia mencegah keponakannya atau membiarkan mereka mengurus persoalan itu sendiri. Abu Thalib menjawab dengan santun dan mereka pulang dengan kecewa.

      Baca selengkapnya

      Melihat bahwa Rasulullah ﷺ tidak peduli dengan manuver mereka, terus melecehkan Tuhan mereka, dan melihat pamannya Abu Thalib sangat berempati kepada beliau, melindungi beliau, dan tidak akan menyerahkan beliau kepada mereka, beberapa tokoh Quraisy datang menemui Abu Thalib. Mereka adalah:1

      • 'Utbah dan Syaibahanak-anak Rabi'ah bin 'Abdu Syams
      • Abu Sufyanbin Harb bin Umayyah. Ibnu Hisyam: nama aslinya Shakhr
      • Abu al-Bakhtarinama aslinya al-'Ash bin Hisyam bin al-Harits bin Asad. Ibnu Hisyam: al-'Ash bin Hasyim
      • al-Aswadbin al-Muththalib bin Asad bin 'Abdul 'Uzza
      • Abu Jahlnama aslinya 'Amr, dijuluki Abu al-Hakam bin Hisyam bin al-Mughirah
      • al-Walid bin al-Mughirahbin 'Abdullah bin 'Umar bin Makhzum
      • Nubaih dan Munabbihanak-anak al-Hajjaj bin 'Amir bin Hudzaifah bin Sa'd bin Sahm
      • al-'Ash bin Wa'ilIbnu Hisyam: anak Wa'il bin Hasyim bin Sa'd bin Sahm

      Orang-orang Quraisy lainnya ikut menemui Abu Thalib. Mereka berkata, "Hai Abu Thalib, coba lihat keponakanmu! Ia telah berani menghina tuhan-tuhan kita, mencaci maki agama kita, menganggap batil mimpi-mimpi kita, dan menyesatkan leluhur kita. Engkau cegah ia meneruskan tindakannya terhadap kami, atau engkau biarkan kami mengurus persoalan kami dengannya. Sungguh kami tahu engkau juga menentangnya seperti kami, jadi kami merasa engkau bisa mengendalikannya." Abu Thalib menjawab dengan perkataan yang santun dan bijak, lalu mereka pulang dengan kecewa.

    5. Utusan kedua

      Pilih: hentikan dia, atau kami berhadapan dengannya

      Rasulullah ﷺ melanjutkan dakwah, sampai konflik meletus antara beliau dan Quraisy. Mereka mengirim utusan kedua kepada Abu Thalib dengan pilihan tegas: hentikan keponakanmu atau kami berhadapan dengannya hingga salah satu pihak binasa. Abu Thalib keberatan berbeda pendapat dan bermusuhan dengan kaumnya, tetapi tidak sudi menyerahkan beliau.

      Baca selengkapnya

      Rasulullah ﷺ melanjutkan dakwahnya sebagaimana biasa. Beliau mempopulerkan agama Allah dan mengajak orang kepadanya, hingga konflik meletus antara beliau dan orang-orang Quraisy. Keadaan itu mendorong mereka mengirim utusan menemui Abu Thalib untuk kedua kalinya. Mereka berkata, "Wahai Abu Thalib, engkau adalah sepuh kami, kau memiliki kehormatan dan kemuliaan di tengah-tengah kami. Kami telah memintamu melarang keponakanmu, tapi engkau tidak melakukannya. Demi Allah, kita tidak bisa menahan diri atas penghinaan terhadap para leluhur kita, anggapan batil terhadap mimpi-mimpi kita, dan penistaan agama kita. Kini silakan kau pilih: kau hentikan semua sepak terjang keponakanmu itu, atau kami terjun berhadapan dengannya hingga salah satu dari dua pihak ada yang binasa." Atau sebagaimana yang mereka katakan, lalu mereka pulang.1

      Abu Thalib merasa keberatan untuk berbeda pendapat dan bermusuhan dengan kaumnya. Namun ia tidak sudi menyerahkan Rasulullah ﷺ kepada mereka atau menelantarkannya.

    6. Abu Thalib

      "Hingga titik darah penghabisan aku tidak akan menyerahkanmu"

      Abu Thalib menyampaikan kata-kata Quraisy kepada Rasulullah ﷺ dan meminta beliau tidak membebaninya dengan perkara yang tak sanggup ia hadapi. Rasulullah ﷺ mengira pamannya tak lagi mau melindungi beliau. Beliau menjawab bahwa sekalipun matahari diletakkan di tangan kanannya dan bulan di tangan kirinya, beliau tidak akan berhenti. Abu Thalib lalu berkata ia tidak akan menyerahkan beliau kepada siapa pun.

      Baca selengkapnya

      Ya'qub bin 'Utbah bin al-Mughirah bin al-Akhnas bercerita kepadaku bahwa ia diberitahu: ketika orang-orang Quraisy berkata demikian kepada Abu Thalib, ia bergegas menemui Rasulullah ﷺ dan berkata, "Wahai keponakanku, kaummu baru saja datang menemuiku dan mengatakan ini dan itu kepadaku. Janganlah kau jauh dariku, tetaplah bersamaku, jagalah dirimu, dan jangan ikutkan aku ke dalam masalah yang tidak sanggup aku hadapi!"1

      Rasulullah ﷺ menyangka pamannya telah berubah, tidak lagi mau melindunginya, akan menyerahkannya kepada orang Quraisy, dan tidak lagi mampu membela serta berpihak kepadanya. Beliau bersabda, "Wahai paman, demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku berhenti dari dakwah ini hingga Allah memenangkan dakwah ini atau aku mati karenanya, niscaya aku tidak akan meninggalkan dakwah ini." Beliau mengucurkan air mata karena sedih, lalu berdiri dan pergi dari hadapan Abu Thalib.

      Ketika beliau hendak meninggalkannya, Abu Thalib memanggil, "Wahai keponakanku, kembalilah!" Beliau kembali. Abu Thalib berkata, "Wahai keponakanku, silakan katakan apa saja yang engkau mau, karena hingga titik darah penghabisan aku tidak akan menyerahkanmu kepada siapa pun."3

    7. 'Umarah

      Quraisy menawarkan 'Umarah bin al-Walid sebagai ganti

      Mendengar Abu Thalib tetap membela keponakannya, Quraisy datang lagi membawa 'Umarah bin al-Walid, "pemuda Quraisy yang paling kuat dan paling tampan". Mereka meminta Abu Thalib mengangkatnya sebagai anak dan menyerahkan Rasulullah ﷺ untuk dibunuh, satu orang diganti satu orang. Abu Thalib menolak keras.

      Baca selengkapnya

      Ketika orang-orang Quraisy mendengar Abu Thalib justru mendukung Rasulullah ﷺ dan tidak mau menyerahkan keponakannya, mereka datang kembali bersama 'Umarah bin al-Walid. Mereka berkata, sebagaimana dikabarkan kepada Ibnu Ishaq, "Wahai Abu Thalib, inilah 'Umarah bin al-Walid. Ia pemuda Quraisy yang paling kuat dan paling tampan. Lindungilah dia. Jadikanlah dia sebagai anakmu. Sebagai gantinya, serahkanlah keponakanmu itu kepada kami, yang menentang agamamu dan agama nenek moyang kita, memecah belah persatuan kaummu, dan menganggap batil mimpi-mimpi kita, lalu akan kami bunuh dia. Satu orang dengan satu orang."1

      Abu Thalib menjawab, "Demi Allah, sungguh jahat ucapan kalian kepadaku. Kalian memberiku anak kalian untuk kuberi makan, dan kuberikan anakku kepada kalian untuk kalian bunuh? Demi Allah, sampai kapan pun hal seperti itu tidak akan mungkin terjadi."

      Al-Muth'im bin 'Adi bin Naufal bin 'Abdu Manaf bin Qushay berkata, "Demi Allah, wahai Abu Thalib, kaummu telah berbuat adil kepadamu dan berusaha keras keluar dari konflik yang mendera mereka, tetapi aku lihat engkau tidak merespons apa pun dari mereka." Abu Thalib menjawab, "Demi Allah, justru mereka yang tidak berbuat adil kepadaku. Mereka malah sepakat meninggalkanku dan mendukung orang-orang untuk melawanku." Atau sebagaimana yang ia katakan.

    8. Memanas

      Konflik meluas, Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib merapat

      Konflik makin kompleks. Abu Thalib menggubah syair yang menyindir al-Muth'im bin 'Adi. Quraisy mengancam kabilah-kabilah yang memiliki anggota yang masuk Islam, dan tiap kabilah menangkap, menyiksa, dan menganiaya orang Islam di tengah mereka. Abu Thalib mengajak Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib melindungi Rasulullah ﷺ. Semua memenuhinya kecuali Abu Lahab.

      Baca selengkapnya

      Kini konfliknya semakin kompleks, perang semakin berkecamuk, dan orang-orang mulai memusuhi sebagian yang lain. Abu Thalib lalu berkata dalam syairnya, menyindir al-Muth'im bin 'Adi, menyamakan Bani 'Abdu Manaf yang meninggalkannya dengan kabilah-kabilah Quraisy yang memusuhinya, dan menyinggung persoalan mereka yang semakin keruh.1

      Kemudian orang-orang Quraisy mengancam kabilah-kabilah mereka yang di dalamnya ada sahabat Rasulullah ﷺ yang masuk Islam bersamanya. Setiap kabilah menangkap orang-orang Islam yang ada di tengah mereka lalu menyiksa dan menganiayanya karena agama yang dianutnya. Adapun Rasulullah ﷺ, Allah melindunginya melalui pamannya, Abu Thalib.

      Ketika Abu Thalib melihat teror dan penyiksaan Quraisy itu, ia menemui Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib untuk mengajak mereka mengayomi Rasulullah ﷺ. Mereka bersedia memihak Abu Thalib dan memenuhi ajakannya, kecuali Abu Lahab, musuh Allah yang terkutuk. Abu Thalib terharu melihat keberpihakan dan empati mereka. Ia memuji mereka dan mengingatkan keutamaan Rasulullah ﷺ di tengah mereka, agar pendapat mereka semakin kuat dan bersama dirinya berpihak kepada beliau.

    9. Musim haji

      Al-Walid bin al-Mughirah dan tuduhan yang disepakati

      Menjelang musim haji, beberapa orang Quraisy mendatangi al-Walid bin al-Mughirah. Ia mengajak mereka bersatu menghadapi rombongan Arab yang akan datang. Usul mereka (dukun, orang gila, penyair, dan ahli sihir) ia tolak satu per satu. Namun akhirnya ia berkata bahwa perkataan yang paling mengena adalah menyebut beliau penyihir, yang memisahkan anak dari ayahnya. Lalu mereka duduk di jalan-jalan umum untuk memperingatkan setiap orang.

      Baca selengkapnya

      Beberapa orang Quraisy mendatangi al-Walid bin al-Mughirah, tokoh senior mereka, ketika musim haji tiba. Al-Walid berkata, "Wahai orang-orang Quraisy, musim haji sudah tiba dan rombongan orang Arab akan berduyun-duyun ke tempat kalian. Mereka telah mengetahui sepak terjang sahabat kalian ini. Aku harap kalian bersatu padu, jangan ada perselisihan di antara kalian." Mereka berkata, "Wahai Abu 'Abdu Syams, bicaralah dan utarakan pendapatmu, itulah yang kami jadikan sandaran." Ia menjawab, "Silakan utarakan lebih dulu pendapat kalian, dan aku akan mendengarnya." Berikut usul mereka dan tanggapan al-Walid:1

      • "Dukun"Al-Walid: itu isu konyol, sebab ucapan yang tersembunyi tidak terdengar bukanlah ucapan seorang dukun, tidak pula sajaknya
      • "Orang gila"Al-Walid: tidak, itu lebih konyol lagi
      • "Penyair"Al-Walid: bukan, kita sudah tahu seluruh bentuk syair dan perkataannya tidak termasuk syair
      • "Ahli sihir"Al-Walid: tidak, sebab Muhammad tidak ada kaitannya dengan itu

      Mereka bertanya, "Jika demikian, bagaimana pendapatmu, wahai Abu 'Abdu Syams?" Al-Walid menjawab, "Demi Allah, ucapan Muhammad itu demikian indah, syahdu, dan penuh kekuatan. Jika kalian mengatakan seperti ucapan di atas, mudah disimpulkan bahwa ucapan kalian dusta. Perkataan kalian yang mungkin lebih mengena tentang dirinya adalah hendaklah kalian mengatakan bahwa dia seorang penyihir. Ia membawa sihir yang memisahkan seorang anak dengan ayahnya, seseorang dengan saudaranya, suami dengan istrinya, dan seseorang dengan keluarganya. Mereka bercerai-berai akibat kekuatan sihirnya."

      Maka ketika orang Arab berdatangan ke Makkah pada musim haji, orang-orang Quraisy duduk di jalan-jalan umum. Tak seorang pun yang melintas melainkan mereka mewanti-wanti tentang Muhammad dan menjelaskan persoalannya kepadanya.4

    10. Wahyu

      Ayat-ayat tentang al-Walid dan para penebar fitnah

      Allah menurunkan ayat tentang al-Walid bin al-Mughirah, yaitu QS. al-Muddatstsir: 11-25, dan tentang orang-orang yang menyebarkan fitnah terhadap Rasulullah ﷺ, yaitu QS. al-Hijr: 90-93.

      Baca selengkapnya

      Allah kemudian menurunkan firman-Nya tentang al-Walid bin al-Mughirah: "Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Kulapangkan baginya (rezeki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (Al-Qur'an)." (QS. al-Muddatstsir: 11-16).1

      Allah juga menurunkan ayat: "Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut." (QS. al-Muddatstsir: 17-22). Lalu: "Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata: 'Al-Qur'an ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.'" (QS. al-Muddatstsir: 23-25).

      Allah juga menurunkan ayat tentang orang-orang yang menyebarkan fitnah keji terhadap Rasulullah ﷺ dan apa yang beliau bawa: "Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Allah), (yaitu) orang-orang yang telah menjadikan Al-Qur'an itu terbagi-bagi." (QS. al-Hijr: 90-93).

      Ibnu Hisyam menjelaskan beberapa kata: 'aniid berarti membangkang dan menentang (dengan contoh bait Ru'bah bin al-'Ajjaj); basar berarti wajah yang menampakkan rasa tidak suka; dan 'idhiin (tunggalnya 'idhah) berarti membagi-bagi, dengan contoh bait Ru'bah bahwa agama Allah tidak bisa dibagi-bagi.

    11. Menyebar

      Berita tentang Rasulullah ﷺ menyebar ke seluruh Arab

      Karena Quraisy menjelek-jelekkan beliau kepada setiap orang, sejak musim haji itu orang-orang Arab mulai mengenal sepak terjang Rasulullah ﷺ, dan perbincangan tentang beliau menyebar ke seantero negeri Arab. Abu Thalib khawatir orang Arab akan mendatanginya, sehingga ia menggubah syair yang memohon perlindungan dengan kesucian Makkah dan menegaskan tak akan menyerahkan Muhammad.

      Baca selengkapnya

      Orang-orang Quraisy menjelek-jelekkan Rasulullah ﷺ seperti itu kepada orang-orang yang mereka jumpai. Jadi sejak musim haji tahun itu, orang-orang Arab mulai mengenal sepak terjang beliau, dan perbincangan tentang beliau segera menyebar ke seantero negeri Arab.1

      Melihat hal ini, Abu Thalib khawatir orang-orang Arab berbondong-bondong mendatanginya, maka ia segera menggubah syair. Dalam syairnya ia meminta perlindungan dengan kesucian Makkah dan kedudukan dirinya di dalamnya. Pada saat yang sama ia jelaskan kepada mereka dan orang-orang selain mereka bahwa ia tidak akan pernah menyerahkan Muhammad ﷺ dan tidak meninggalkannya selama-lamanya hingga tetes darah terakhir.

      Ibnu Hisyam menyisipkan sebuah kabar: penduduk Madinah pernah mengalami kemarau panjang dan menemui Rasulullah ﷺ untuk mengadukannya. Beliau naik ke atas podium dan memohon hujan kepada Allah. Tak lama hujan turun, dan orang-orang dari kawasan yang tidak bisa menampung air melaporkan bahwa telah terjadi banjir. Beliau berdoa, "Ya Allah, turunkanlah di sekitar kami, dan tidak di atas kami." Seketika mendung menipis di Madinah dan hujan di sekitarnya reda. Lalu beliau bersabda, "Jika Abu Thalib melihat peristiwa ini, ia pasti sangat senang." Beberapa sahabat berkata, "Sepertinya engkau menginginkan syair Abu Thalib." Beliau bersabda, "Benar."

      Ibnu Ishaq lalu menjelaskan nama-nama yang disebut Abu Thalib dalam syairnya. Di antaranya: al-Ghayathil dari Bani Sahm bin 'Amr bin Hushaish; Abu Sufyan anak Harb bin Umayyah; Muth'im anak 'Adi bin Naufal bin 'Abdu Manaf; Zuhair anak Abu Umayyah bin al-Mughirah, yang ibunya 'Atikah binti 'Abdul Muththalib; Asid dan anak sulungnya 'Attab bin Asid; 'Utsman anak 'Ubaidillah, saudara Thalhah bin 'Ubaidillah at-Taimi; Qunfudz anak 'Umair bin Jud'an; Abu al-Walid adalah 'Utbah bin Rabi'ah; dan Ubay adalah al-Akhnas bin Syariq ats-Tsaqafi, sekutu Bani Zuhrah. Ibnu Hisyam menambahkan bahwa ia dijuluki al-Akhnas karena tidak ikut Perang Badar.

      Selain itu disebut al-Aswad anak 'Abdu Yaghuts bin Wahb bin 'Abdu Manaf bin Zuhrah; Subay'i anak Khalid, saudara al-Harits bin Fihr; dan Naufal anak Khuwailid bin Asad, yang termasuk gembong penjahat Quraisy. Dialah yang menyekap Abu Bakar ash-Shiddiq dan Thalhah bin 'Ubaidillah ketika keduanya masuk Islam, sehingga keduanya dinamai al-Qarinain. Naufal dihabisi 'Ali bin Abi Thalib dalam Perang Badar. Abu 'Amr adalah Qurazhah bin 'Abdu 'Amr bin Naufal bin 'Abdu Manaf, dan kaum yang dimaksud adalah Bani Bakr bin 'Abdu Manat bin Kinanah.

    12. Madinah

      Kabar sampai ke Aus dan Khazraj

      Kabar tentang Rasulullah ﷺ dan benturannya dengan Quraisy sampai ke banyak negeri, termasuk Madinah. Tidak ada permukiman Arab yang lebih tahu tentangnya daripada Aus dan Khazraj, karena mereka mendengarnya dari pendeta-pendeta Yahudi, sekutu dan tetangga mereka. Abu Qais bin al-Aslat lalu menggubah syair yang menyeru Quraisy menahan diri.

      Baca selengkapnya

      Ketika berita tentang Rasulullah ﷺ menyebar luas ke berbagai kalangan orang Arab hingga ke banyak negeri, termasuk Madinah, tidak ada satu permukiman di Arab yang lebih tahu tentang beliau daripada permukiman al-Aus dan al-Khazraj. Mereka mendengar kabar tentang beliau dari pendeta-pendeta Yahudi, yang adalah sekutu mereka dan tinggal bersama di negeri mereka. Ketika Rasulullah ﷺ menjadi wacana di Madinah dan mereka membicarakan benturan antara beliau dan orang-orang Quraisy, Abu Qais bin al-Aslat, saudara Bani Waqif, menggubah sebuah syair.1

      Abu Qais sangat mencintai Quraisy dan punya jalinan perbesanan dengan mereka. Ia beristrikan Arnab binti Asad bin 'Abdul 'Uzza bin Qushay dan tinggal di tengah-tengah Quraisy bersama istrinya selama bertahun-tahun. Dalam syairnya ia mengagung-agungkan kehormatan Quraisy, mencegah mereka berperang di Makkah, dan memerintahkan mereka menahan diri untuk tidak saling menyerang. Ia menyebutkan kelebihan dan mimpi-mimpi mereka, memerintahkan mereka menahan diri dari Rasulullah ﷺ, dan menjelaskan bagaimana Allah memperlakukan mereka, termasuk perlindungan-Nya terhadap pasukan gajah serta tipu daya-Nya pada pasukan itu.

      Pada bagian ini Ibnu Hisyam menyisipkan beberapa catatan tambahan. Ia menjelaskan bahwa Ibnu Ishaq menasabkan Abu Qais kepada Bani Waqif padahal pada peristiwa Gajah nasabnya dinisbatkan kepada Khathmah. Menurutnya itu terjadi karena dalam tradisi Arab seseorang bisa menasabkan diri kepada saudara kakeknya yang lebih masyhur; ia menyebut Wail, Waqif, dan Khathmah adalah saudara dari al-Aus. Ia juga mengutip syair Qais bin Zuhair dan al-Harits bin Zuhair tentang perang antara 'Abs dan Fazarah yang menewaskan Hudzaifah bin Badr dan saudaranya Hamal bin Badr, tetapi berkata bahwa kisahnya panjang dan ia tidak ingin memotong kronologi sirah Rasulullah ﷺ.

      Ibnu Hisyam juga menjelaskan Perang Hathib: Hathib bin al-Harits membunuh seorang Yahudi yang bertetangga dengan al-Khazraj. Pada tengah malam, Yazid bin al-Harits (yang dijuluki Ibnu Fushum) bersama beberapa orang dari Bani al-Harits bin al-Khazraj membunuh Hathib. Perang pun meletus antara al-Aus dan al-Khazraj, dan di akhir perang kemenangan diperoleh al-Khazraj. Dalam perang itu Suwaid bin Shamit terbunuh oleh al-Mujadzdzar bin Dziyad al-Balawi (nama aslinya 'Abdullah bin Dziyad). Pada Perang Uhud, al-Mujadzdzar ikut bersama Rasulullah ﷺ, dan al-Harits bin Suwaid juga ikut. Ketika melihat al-Mujadzdzar lengah, al-Harits menghabisinya untuk membalas kematian ayahnya. Ibnu Hisyam berkata akan memaparkan hal itu pada tempatnya.

    13. Hijr

      Gangguan paling berat yang disaksikan 'Abdullah bin 'Amr

      Orang-orang Quraisy semakin menggencarkan teror kepada Rasulullah ﷺ dan para pengikutnya. 'Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash menceritakan satu pertemuan tokoh Quraisy di Hijr: tiga kali mereka menghina beliau ketika beliau thawaf, lalu keesokan harinya mereka mengepung dan mencengkeram baju beliau. Abu Bakar datang dan berkata, "Apakah kalian akan membunuh seseorang hanya karena ia mengatakan Tuhanku hanyalah Allah?"

      Baca selengkapnya

      Orang-orang Quraisy semakin menggencarkan teror kepada Rasulullah ﷺ dan orang-orang yang mengikutinya. Mereka mengerahkan orang-orang bodoh untuk mendustakan dan mengusik beliau, serta menuduh beliau penyair, penyihir, dan dukun.1

      Yahya bin 'Urwah bin az-Zubair bercerita dari ayahnya, 'Urwah, bahwa ia bertanya kepada 'Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash: "Berapa kali engkau melihat orang-orang Quraisy meneror Rasulullah ﷺ?" 'Abdullah menjawab: suatu waktu aku bertemu tokoh-tokoh Quraisy di Hijr. Mereka membicarakan sepak terjang beliau dan berkata, "Sebelumnya kami tidak pernah bisa bersabar terhadap sebuah persoalan sesabar menghadapi laki-laki ini. Ia membatilkan mimpi-mimpi kita, mengata-ngatai para leluhur, mencaci maki agama kita, memecah belah persatuan kita, dan menghina Tuhan-tuhan kita."

      Ketika mereka berdiskusi, Rasulullah ﷺ tiba-tiba muncul lalu thawaf di Ka'bah. Ketika beliau melintas di hadapan mereka, mereka berbisik menghina beliau. Beliau melanjutkan langkah. Ketika melewati mereka untuk kedua kalinya, mereka menghina seperti tadi. Ketika beliau melewati mereka untuk ketiga kalinya dan mereka menghina lagi, beliau berhenti dan berkata, "Wahai orang-orang Quraisy, demi Allah, apakah kalian tidak tahu bahwa aku datang untuk membinasakan kalian?" Ucapan itu amat menusuk hati mereka, hingga salah seorang terdiam bagaikan patung. Mereka berusaha menenangkan beliau dan berpura-pura meminta maaf dengan kata-kata sebaik mungkin: "Pergilah, wahai Abu al-Qasim. Demi Allah, engkau bukan orang bodoh." Beliau pun meninggalkan tempat itu.

      Esok harinya mereka berkumpul lagi di Hijr dan saling berkata, "Apakah kalian masih ingat kejadian kemarin? Sayang, ketika ia muncul di tengah kalian dengan memperlihatkan apa yang kalian benci, kalian membiarkannya." Ketika itu Rasulullah ﷺ muncul lagi. Mereka melompat ke arah beliau, mengitari beliau, dan berkata, "Engkaukah orangnya yang mengatakan ini dan itu?" karena sebelumnya beliau menghina sesembahan dan agama mereka. Beliau bersabda, "Benar, akulah yang mengatakan semua itu." 'Abdullah bin 'Amr berkata, "Aku melihat seorang dari mereka memegang baju Rasulullah ﷺ." Tiba-tiba Abu Bakar melewati mereka dan berkata, "Apakah kalian akan membunuh seseorang hanya karena ia mengatakan Tuhanku hanyalah Allah?" Mereka pun bubar seketika. 'Abdullah bin 'Amr berkata, "Itulah gangguan terberat yang pernah dilakukan orang-orang Quraisy terhadap Rasulullah ﷺ yang pernah aku saksikan."

      Ibnu Ishaq menambahkan penuturan dari sebagian keluarga besar Ummu Kaltsum, putri Abu Bakar: ketika Abu Bakar pulang ke rumah, orang-orang Quraisy menarik jenggotnya hingga rambutnya berantakan, dan Abu Bakar memang berambut tebal.

    14. Berselimut

      Cobaan terberat versi sebagian pakar

      Sebagian pakar berkata kepada Ibnu Hisyam bahwa cobaan paling berat yang dialami Rasulullah ﷺ adalah suatu hari ketika beliau keluar rumah lalu semua orang mendustakan dan mempermainkannya. Beliau pulang dan berselimut karena sedih, lalu turun QS. al-Muddatstsir: 1-2.

      Baca selengkapnya

      Sebagian pakar berkata kepadaku bahwa cobaan paling berat yang dialami Rasulullah ﷺ dari orang-orang Quraisy adalah ketika suatu hari beliau keluar rumah, lalu semua orang mendustakan dan mempermainkannya. Beliau pulang ke rumah dan mengenakan selimut karena sedih atas apa yang menimpanya. Kemudian Allah menurunkan firman-Nya: "Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan!" (QS. al-Muddatstsir: 1-2).2

    15. 'Utbah

      'Utbah bin Rabi'ah menawarkan harta, kedudukan, dan pengobatan

      Setelah Hamzah masuk Islam dan para sahabat makin banyak, 'Utbah bin Rabi'ah mengusulkan untuk menemui Rasulullah ﷺ dan menawarkan harta, kehormatan, kekuasaan, atau tabib. Beliau menjawab dengan membacakan awal surat Fushshilat. 'Utbah mendengarkan dengan serius sampai ayat sajdah, dan pulang dengan wajah yang berbeda. Ia menyarankan Quraisy membiarkan beliau.

      Baca selengkapnya

      Yazid bin Ziyad bercerita kepadaku dari Muhammad bin Ka'b al-Qurazhi, yang diberitahu bahwa 'Utbah bin Rabi'ah, tokoh Quraisy, berkata ketika sedang duduk di balai pertemuan Daar an-Nadwah dan Rasulullah ﷺ duduk sendirian di masjid, "Hai orang-orang Quraisy, bagaimana kalau aku berdiplomasi dengan Muhammad dan mengajukan beberapa tawaran? Siapa tahu ia menerima sebagiannya, lalu kita berikan apa yang diminta, dan ia menghentikan dakwahnya?" Peristiwa ini terjadi ketika Hamzah bin 'Abdul Muththalib telah masuk Islam dan mereka melihat sahabat-sahabat beliau semakin banyak dan menyebar. Orang-orang Quraisy berkata, "Baiklah, wahai Abu al-Walid. Temuilah dan bicaralah dengannya."1

      'Utbah menemui beliau, duduk di dekatnya, dan berkata, "Hai keponakanku, engkau masih memiliki ikatan kekeluargaan dengan kami. Engkau punya kehormatan di keluarga dan keluhuran nasab. Engkau telah merusak kemapanan kaummu, memecah belah persatuan mereka, mencemooh mimpi-mimpi mereka, mencaci sesembahan dan agama mereka, dan mengkafirkan leluhur mereka yang telah meninggal. Dengarkan perkataanku, sebab aku akan mengajukan beberapa tawaran yang bisa engkau pikirkan, dan semoga engkau menerima sebagiannya." Rasulullah ﷺ menjawab, "Katakan, wahai Abu al-Walid, aku menyimak."

      Maka 'Utbah berkata, "Jika tujuan dakwahmu menginginkan harta, kami akan menghimpun seluruh harta kami agar engkau menjadi orang terkaya di antara kami. Jika tujuannya kehormatan, kami akan mengangkatmu sebagai pemimpin dan tidak memutuskan satu perkara pun tanpamu. Jika tujuannya kekuasaan, kami akan mengangkatmu sebagai raja. Jika yang datang kepadamu adalah makhluk halus yang tidak sanggup engkau usir, kami carikan dokter untukmu dan kami keluarkan harta kami hingga engkau sembuh." Atau seperti yang dikatakan 'Utbah, hingga ia tuntas.

      Setelah 'Utbah selesai, Rasulullah ﷺ bertanya, "Apakah engkau sudah selesai bicara, wahai Abu al-Walid?" "Ya," jawabnya. Beliau bersabda, "Maka simaklah baik-baik apa yang akan aku katakan," lalu membaca: "Bismillahirrahmanirrahim. Ha Mim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui..." (QS. Fushshilat: 1-5), dan melanjutkan ayat-ayat berikutnya. 'Utbah diam mendengarkan dengan serius sambil bersandar dengan kedua tangannya. Ketika beliau sampai pada ayat sajdah, beliau sujud, lalu bersabda, "Hai 'Utbah, engkau telah menyimak apa yang baru saja engkau dengar. Kini terserah kepadamu."

      'Utbah pulang menemui sahabat-sahabatnya. Mereka berkata, "Kami bersumpah demi Allah, Abu al-Walid datang kepada kalian dengan wajah yang berbeda dari saat ia berangkat." Ia berkata, "Demi Allah, baru saja aku mendengar perkataan yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Demi Allah, perkataan itu bukan syair, bukan sihir, bukan perdukunan. Wahai orang-orang Quraisy, dengarkan aku! Serahkan perkara ini kepadaku, biarkanlah orang itu dengan apa yang ia lakukan. Demi Allah, ucapannya yang aku dengar tadi pada suatu saat akan menjelma menjadi kekuatan yang besar. Jika ucapannya itu dimiliki orang-orang Arab, mereka sudah merasa cukup dengannya tanpa kalian. Jika ia berhasil mengalahkan orang-orang Arab, maka kekuasaannya adalah kekuasaan kalian, dan kejayaannya adalah kejayaan kalian juga, sehingga kalian menjadi manusia yang paling berbahagia karenanya." Mereka berkata, "Ia telah mengguna-gunaimu dengan mantranya, wahai Abu al-Walid." Ia menjawab, "Ini hanya pendapatku tentang dia. Terserah kalian."5

    16. Tuntutan

      Para pembesar Quraisy mengajukan tuntutan

      Tokoh-tokoh Quraisy berkumpul di belakang Ka'bah dan mengundang Rasulullah ﷺ. Mereka mengulang tawaran harta, kehormatan, raja, dan tabib. Setelah beliau menolak, mereka menuntut hal-hal yang tak mungkin dipenuhi: menggoncang gunung-gunung, mengalirkan sungai, membangkitkan leluhur (termasuk Qushay bin Kilab), mendatangkan malaikat, taman dan istana, serta menurunkan awan dari langit. Beliau menolak semuanya dan berkata bahwa beliau diutus sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan.

      Baca selengkapnya

      Setelah kejadian itu, Islam menyebar luas di Makkah di kalangan laki-laki dan perempuan dari kabilah-kabilah Quraisy. Orang-orang Quraisy memenjara dan menyiksa siapa saja yang bisa mereka tangkap, sebagaimana disampaikan kepada Ibnu Ishaq oleh sebagian orang berilmu dari Sa'id bin Jubair dan 'Ikrimah, mantan budak Ibnu 'Abbas, dari 'Abdullah bin 'Abbas.1

      Berkumpullah para tokoh Quraisy: 'Utbah dan Syaibah (anak Rabi'ah), Abu Sufyan bin Harb, an-Nadhr bin al-Harits saudara Bani 'Abduddar, Abu al-Bakhtari bin Hisyam, al-Aswad bin al-Muththalib, Zam'ah bin al-Aswad, al-Walid bin al-Mughirah, Abu Jahl bin Hisyam, 'Abdullah bin Abu Umayyah, al-'Ash bin Wa'il, Nubaih dan Munabbih, Umayyah bin Khalaf, dan lainnya. Mereka rapat setelah matahari terbenam di belakang Ka'bah, lalu mengutus seseorang membawa pesan kepada Rasulullah ﷺ: "Kaummu sedang berkumpul membicarakan sepak terjangmu. Mereka mengundangmu berdiskusi, maka pergilah ke tempat mereka berkumpul."

      Rasulullah ﷺ bergegas mendatangi mereka, mengira ada perubahan sikap yang positif. Beliau sangat memperhatikan mereka, mengharapkan mereka memperoleh petunjuk, dan sedih atas kerusakan mereka. Setelah beliau duduk, seseorang berkata, "Muhammad, demi Allah, kami belum pernah melihat seorang pun dari Arab yang lancang kepada kaumnya melebihi lancanganmu. Engkau menghina para leluhur, mencela agama, melecehkan sesembahan kami, mendungu-dungukan mimpi-mimpi kami, dan menceraiberaikan persatuan kami. Jika tujuanmu harta, kami himpun seluruh kekayaan kami hingga engkau menjadi orang terkaya di antara kami. Jika kehormatan, kami angkat engkau sebagai pemimpin. Jika kamu ingin menjadi raja, kami angkat sebagai raja. Jika yang kau alami adalah bisikan makhluk halus yang tak mampu kau usir, kami carikan dokter dan keluarkan biaya besar hingga engkau sembuh."

      Beliau menjawab, "Apa kalian membicarakan sepak terjangku? Dakwahku sama sekali tidak bertujuan mendapatkan kekayaan, kehormatan, atau kekuasaan atas kalian. Allah mengutusku kepada kalian sebagai Rasul, menurunkan Al-Kitab kepadaku, dan memerintahkanku memberi kabar gembira dan peringatan. Aku sampaikan firman-firman Tuhanku dan memberi nasihat kepada kalian. Jika kalian menerima apa yang aku bawa, selamatlah kalian di dunia dan akhirat. Jika kalian menolak, aku bersabar terhadap perintah Allah hingga Dia memutuskan persoalan di antara kita."

      Mereka berkata, "Jika engkau tetap keras kepala, ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun yang lebih sempit daerahnya, lebih sedikit persediaan airnya, dan lebih keras kehidupannya daripada kami. Berdoalah kepada Tuhanmu agar Dia menggoncang gunung-gunung yang menyempitkan kami, meluaskan daerah kami, dan mengalirkan sungai-sungai seperti sungai Syam dan Irak. Bangkitkan leluhur kami, dan hendaknya di antara yang dibangkitkan adalah Qushay bin Kilab, karena ia orang tua yang benar, lalu kita bertanya kepada mereka apakah yang engkau katakan benar atau salah. Jika mereka membenarkanmu dan engkau mengerjakan apa yang kami minta, kami akan membenarkanmu dan mengakui kedudukanmu di sisi Allah."

      Beliau menjawab, "Aku diutus kepada kalian bukan untuk mengabulkan permohonan mistis kalian. Allah mengutusku dengan apa yang kalian saksikan saat ini. Telah aku sampaikan firman Tuhanku. Jika kalian menerimanya, itulah keselamatan kalian di dunia dan akhirat. Jika kalian keras kepala, aku tetap bersabar hingga Dia memutuskan persoalan di antara kita."

      Mereka berkata, "Jika engkau tidak mau mengerjakan apa yang kami minta, kerjakanlah untuk dirimu sendiri. Mintalah Tuhanmu mengutus malaikat bersamamu untuk membenarkan ucapanmu dan menanyakan pendapat kami tentang dirimu. Mohonlah taman-taman, istana-istana, dan kekayaan emas dan perak hingga engkau menjadi kaya, karena engkau berada di pasar seperti kami dan mencari kehidupan." Beliau menjawab, "Aku tidak akan melakukan itu semua dan tidak akan meminta itu kepada Tuhanku, dan aku tidak diutus kepada kalian untuk itu. Allah mengutusku sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan. Jika kalian menerima apa yang aku bawa, itulah keberuntungan kalian di dunia dan akhirat. Jika menolak, aku bersabar hingga Allah memutuskan."

      Mereka berkata, "Jika ucapanmu benar, turunkanlah awan dari langit, karena engkau mengatakan bahwa jika Allah berkehendak Dia pasti melakukannya. Kami tidak akan beriman kepadamu jika engkau tidak bisa membuktikannya." Beliau menjawab, "Jika itu dikehendaki Allah, pasti itu akan terjadi." Mereka berkata, "Hai Muhammad, apakah Tuhanmu yang menurunkan ini semua, bahwa kami akan bertemu denganmu di sini, lalu kami menanyakan ini dan meminta ini semua kepadamu? Apakah Dia mendatangimu untuk mengajarimu sesuatu yang bisa engkau jadikan argumen untuk menjawab pertanyaan kami, dan menerangkan kepadamu apa yang akan Dia lakukan terhadap kami jika kami menolak apa yang engkau bawa? Kami mendapat berita bahwa engkau berguru kepada seseorang dari Yamamah bernama ar-Rahman. Demi Allah, kami tidak pernah beriman kepada ar-Rahman. Wahai Muhammad, kami telah menawarkan banyak hal kepadamu. Demi Allah, kami tidak membiarkanmu berdakwah sesuka hati hingga kami memerangimu atau engkau memerangi kami." Salah seorang dari mereka berkata, "Kami menyembah para malaikat, karena mereka adalah anak-anak perempuan Allah." Ucapan mereka diabadikan dalam QS. al-Isra': 90-92: "Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami, atau kamu mempunyai sebuah kebun kurma dan anggur lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun itu dengan deras, atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami."

      Rasulullah ﷺ bangkit, dan 'Abdullah bin Abu Umayyah bin al-Mughirah (saudara misannya, suami 'Atikah binti 'Abdul Muththalib) mengikutinya. Ia berkata, "Hai Muhammad, kaummu telah mengajukan demikian banyak tawaran, namun semuanya kau tolak. Mereka memintamu bukti kedudukanmu di sisi Allah agar membenarkan dan mengikutimu, namun engkau tidak mengabulkannya. Mereka memintamu menunjukkan kesaktian, namun engkau tidak membuktikannya. Mereka meminta percepatan siksa yang engkau ancamkan, namun engkau tidak mewujudkannya." Atau sebagaimana yang ia katakan. "Demi Allah, sampai kapan pun aku tidak akan mengimanimu hingga engkau membangun tangga ke langit, naik melaluinya sementara aku melihatmu tiba di sana, lalu engkau membawa empat malaikat yang bersaksi bahwa yang engkau katakan benar. Demi Allah, jika engkau tidak melakukannya, jangan harapkan aku membenarkanmu." Ia pergi, dan Rasulullah ﷺ pulang dengan perasaan sedih dan duka karena tidak tercapai keinginan beliau terhadap mereka dan karena melihat mereka menjauh dari beliau.

    17. Batu

      Abu Jahl mengangkat batu, lalu lari ketakutan

      Ketika Rasulullah ﷺ meninggalkan mereka, Abu Jahl berjanji akan menimpuk kepala beliau dengan batu saat beliau sujud. Esok paginya ia membawa batu, tetapi ketika mendekat ia lari dengan wajah pucat dan batu terjatuh dari tangannya. Ia berkata melihat seekor unta dengan kepala, pangkal leher, dan taring yang belum pernah ia lihat. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa itu Jibril.

      Baca selengkapnya

      Ketika Rasulullah ﷺ bangkit meninggalkan mereka, Abu Jahl berkata, "Wahai orang-orang Quraisy, Muhammad masih seperti dulu, tidak mau berhenti mencela agama kita, menghina leluhur kita, mendungu-dungukan mimpi kita, dan menghina sesembahan kita. Aku berjanji kepada Allah, besok pagi aku akan memukulnya dengan batu. Jika ia sujud dalam shalatnya, aku akan melempar kepalanya dengan batu itu. Setelah itu serahkan aku atau lindungi aku, dan Bani 'Abdu Manaf bebas melakukan apa saja yang mereka suka." Mereka menjawab, "Demi Allah, kami tidak akan menyerahkanmu selama-lamanya. Lakukanlah apa yang engkau mau."1

      Keesokan paginya Abu Jahl menyiapkan batu dan duduk menunggu. Rasulullah ﷺ berbuat seperti hari-hari sebelumnya. Di Makkah kiblat beliau menghadap ke Syam; jika shalat, beliau shalat di antara rukun Yamani dan Hajar Aswad dan menjadikan Ka'bah di antara beliau dan Syam. Beliau berdiri shalat, dan orang-orang Quraisy berkumpul di balai pertemuan untuk melihat apa yang akan dilakukan Abu Jahl. Ketika beliau sujud, Abu Jahl mengambil batu dan berjalan ke arah beliau. Ketika dekat, ia lari ketakutan dengan wajah pucat pasi dan kedua tangannya tidak lagi memegang batu itu, hingga batu itu jatuh.

      Orang-orang Quraisy bergegas menemuinya dan bertanya, "Apa yang terjadi denganmu, wahai Abu Jahl?" Ia menjawab, "Aku berjalan kepada Muhammad untuk melakukan apa yang kukatakan semalam. Saat aku dekat dengannya, tiba-tiba muncul seekor unta. Demi Allah, aku belum pernah melihat kepala unta, pangkal lehernya, dan taringnya seperti unta itu. Aku sangat takut ia menerkamku."

      Ada yang menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Itulah Malaikat Jibril. Jika Abu Jahl tetap mendekat, pasti ia menerkamnya."1

    18. An-Nadhr

      An-Nadhr bin al-Harits: tuduhan itu tidak masuk akal

      An-Nadhr bin al-Harits bangkit dan mengingatkan Quraisy bahwa sebelumnya Muhammad adalah pemuda yang paling diterima dan paling jujur di mata mereka. Ia menolak semua tuduhan satu per satu: penyihir, dukun, penyair, dan orang gila. Meski begitu, ia termasuk gembong yang memusuhi beliau. Ia pernah ke al-Hirah, mendengar kisah raja-raja Persia, lalu menceritakannya kepada orang-orang sambil mengatakan bahwa ucapannya lebih bagus.

      Baca selengkapnya

      Ketika Abu Jahl tertekan seperti itu, bangkitlah an-Nadhr bin al-Harits bin Kaladah bin 'Abdu Manaf bin 'Abduddar bin Qushay (Ibnu Hisyam menyebut namanya an-Nadhr bin al-Harits bin 'Alqamah bin Kaladah bin 'Abdu Manaf). Ia berkata, "Wahai orang-orang Quraisy, demi Allah, telah datang kepada kalian sesuatu yang tidak bisa kalian berkilah darinya. Sebelum ini Muhammad di mata kalian adalah anak muda belia, orang yang paling diterima di sisi kalian, paling benar ucapannya, dan paling tampak kejujurannya. Hingga ketika kalian lihat dia mulai beruban dan datang kepada kalian dengan ajaran yang dibawanya, kalian menuduhnya penyihir. Tidak, demi Allah, ia bukan penyihir, karena kita telah mengetahui penyihir, sihirnya, dan buhul-buhulnya. Kalian menuduhnya dukun. Tidak, ia bukan dukun, karena kita sudah paham dukun dan mendengar mantra mereka. Kalian menuduhnya penyair. Tidak, ia bukan penyair, karena kita sudah mengetahui syair dan jenis-jenisnya. Kalian menuduhnya orang gila. Tidak, ia bukan orang gila, karena kita sudah menyaksikan orang gila: tangisannya, keragu-raguannya, dan kekacauan pikirannya. Wahai orang-orang Quraisy, pikirkan persoalan kalian dengan cermat, karena demi Allah, sebuah masalah besar telah menimpa kalian."1

      An-Nadhr termasuk gembong Quraisy, orang yang menganiaya Rasulullah ﷺ dan membuka front permusuhan dengan beliau. Ia pernah pergi ke al-Hirah dan di sana sering mendengar cerita tentang raja-raja Persia, kisah Rustum, dan Isfandiyar. Jika Rasulullah ﷺ berkhotbah di satu tempat, mengajak kaumnya mengingat Allah dan mengingatkan hukuman yang diterima orang-orang sebelum mereka, lalu beranjak meninggalkan tempat itu, an-Nadhr duduk di tempat yang sama dan berkata, "Demi Allah, wahai orang-orang Quraisy, ucapanku lebih bagus daripada ucapan Muhammad. Kemarilah, akan kusampaikan tutur kata yang jauh lebih indah." Lalu ia bercerita tentang raja-raja Persia, Rustum, dan Isfandiyar, dan berkata, "Ucapan Muhammad yang mana yang lebih bagus daripada ucapanku?"

      An-Nadhr bin al-Harits inilah yang berkata, "Aku akan menerima wahyu seperti yang diturunkan Allah."2

      Ibnu 'Abbas menuturkan bahwa Al-Qur'an menurunkan delapan ayat tentang an-Nadhr, antara lain QS. al-Qalam: 15, "Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: '(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala,'" dan semua ayat lain yang memuat kata asathir (dongeng).1

    19. Ke Madinah

      Utusan Quraisy menemui rabi Yahudi di Madinah

      Orang-orang Quraisy mengutus an-Nadhr bin al-Harits dan 'Uqbah bin Abi Mu'aith ke Madinah untuk bertanya kepada rabi-rabi Yahudi tentang Muhammad, sifat-sifatnya, dan ucapannya, karena mereka lebih dahulu diberi kitab dan tahu soal para nabi. Para rabi menyuruh mereka mengajukan tiga pertanyaan: tentang pemuda-pemuda yang meninggal pada periode pertama (Ashabul Kahfi), tentang seorang pengembara yang menjelajahi timur dan barat, dan tentang ruh.

      Pemandangan dari atas Masjid Nabawi di Madinah dengan kubah hijau dan menara-menaranya
      Masjid Nabawi di Madinah dilihat dari atas, keadaan sekarang (foto 2018).Foto: Konevi · CC0 · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Sesudah itu orang-orang Quraisy mengutus an-Nadhr bin al-Harits bersama 'Uqbah bin Abi Mu'aith untuk menemui pendeta-pendeta Madinah. Mereka berpesan, "Bertanyalah kalian berdua kepada rabi-rabi Yahudi tentang Muhammad, sifat-sifatnya, dan jelaskan ucapannya kepada mereka, karena mereka adalah orang-orang yang pertama kali diberi kitab dan mempunyai pengetahuan tentang para nabi yang tidak kita ketahui." Keduanya berangkat ke Madinah, bertanya kepada rabi-rabi Yahudi tentang Muhammad ﷺ, sambil menjelaskan sifat-sifat dan sebagian ucapan beliau. Keduanya berkata, "Kalian mempunyai kitab Taurat, dan kami datang untuk bertanya tentang sahabat kami."1

      Rabi-rabi itu berkata, "Tanyakan tiga hal kepada sahabatmu itu. Jika ia mampu menjawab ketiganya, ia memang seorang nabi sekaligus rasul. Jika tidak, ia pasti berdusta dan kalian akan tahu belangnya. Tanyakan kepadanya tentang pemuda-pemuda yang meninggal pada periode pertama dan bagaimana kabar mereka, sebab mereka mempunyai kisah yang menarik. Kemudian tanyakan tentang seorang pengembara yang menjelajahi timur dan barat, seperti apa kisahnya. Lalu tanyakan tentang ruh, apakah ruh itu? Jika sahabatmu bisa menjawab ketiganya, ia seorang nabi dan kalian harus mengikutinya. Jika tidak bisa, berarti ia berkata bohong, dan terserah kalian mau berbuat apa saja kepadanya."

      An-Nadhr dan 'Uqbah bin Abi Mu'aith bin Abi 'Amr bin Umayyah bin 'Abdu Syams bin 'Abdu Manaf bin Qushay pulang ke Makkah dan berkata kepada orang-orang Quraisy, "Kami datang membawa kabar. Rabi-rabi Yahudi menyuruh kita menanyakan tiga perkara kepada Muhammad. Jika ia mampu menjawabnya, ia betul seorang nabi. Jika tidak, ia berkata bohong dan kalian bebas menilainya seperti apa saja."

    20. Al-Kahfi

      Wahyu terputus lima belas malam, lalu turun surat al-Kahfi

      Quraisy bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang ketiga hal itu. Beliau menjawab, "Semua pertanyaan kalian aku jawab besok pagi", tanpa mengucapkan insya Allah. Selama lima belas malam wahyu tidak turun dan penduduk Makkah gusar. Beliau sangat berduka. Lalu Jibril datang membawa surat al-Kahfi, yang menjawab pertanyaan mereka.

      Baca selengkapnya

      Mereka menemui Rasulullah ﷺ dan bertanya, "Hai Muhammad, ceritakan kepada kami tentang anak-anak muda yang meninggal pada periode pertama, karena mereka mempunyai kisah yang menarik hati, kisah seorang pengembara yang menjelajahi timur dan barat, serta tentang ruh." Beliau bersabda, "Semua pertanyaan kalian aku jawab besok pagi." Beliau mengatakan itu tanpa embel-embel insya Allah, lalu mereka pulang.1

      Menurut banyak pakar sejarah, selama lima belas malam Rasulullah ﷺ tidak menerima wahyu. Jibril tidak datang kepada beliau, hingga penduduk Makkah gusar dan berkata, "Muhammad berjanji memberi jawaban besok pagi, sedangkan waktu sudah berjalan lima belas malam, namun ia belum memberi jawaban apa pun." Beliau sangat berduka karena wahyu terputus dan bersedih hati karena komentar orang-orang Quraisy. Setelah itu Jibril datang dari Allah 'Azza wa Jalla membawa surat al-Kahfi. Dalam surat itu Allah mencela ucapan mereka yang membuat beliau bersedih, serta menjelaskan berita tentang pertanyaan mereka: pemuda-pemuda itu, sang pengembara, dan masalah ruh.

      Dikatakan kepadaku bahwa ketika Jibril datang, Rasulullah ﷺ berkata, "Sungguh engkau meninggalkanku wahai Jibril, hingga aku berburuk sangka kepadamu." Jibril menjawab dengan firman Allah: "Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaan-Nyalah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita, dan apa-apa yang ada di antara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa." (QS. Maryam: 64).1

    21. Pemuda gua

      Tafsir al-Kahfi tentang pemuda-pemuda di dalam gua

      Surat al-Kahfi dibuka dengan pujian kepada Allah dan penegasan kenabian Rasulullah ﷺ, lalu menjawab pertanyaan pertama. Pemuda-pemuda itu mencari perlindungan ke dalam gua, Allah menutup telinga mereka beberapa tahun lalu membangunkan mereka. Ibnu Ishaq menafsirkan tiap ayat: pemuda-pemuda itu beriman dan tidak menyekutukan Allah, orang-orang berselisih tentang jumlah mereka, dan Allah mengajarkan agar beliau berkata "insya Allah".

      Baca selengkapnya

      Allah membuka surat itu dengan memuji diri-Nya dan menjelaskan kenabian Rasulullah ﷺ serta pengingkaran mereka. Allah berfirman: "Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab (Al-Qur'an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya." (QS. al-Kahfi: 1). Ibnu Ishaq menafsirkannya sebagai: engkau adalah Rasul dari-Ku, dan ini jawaban atas pertanyaan mereka tentang kenabianmu. Ia lalu menjelaskan ayat-ayat berikutnya: Al-Qur'an itu lurus dan tidak ada yang saling bertentangan di dalamnya; ia memperingatkan siksaan Allah di dunia dan siksa yang pedih di akhirat; ia memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman yang beramal shalih berupa negeri keabadian; dan ayat "untuk memperingatkan orang-orang yang berkata: 'Allah mengambil seorang anak'" (QS. al-Kahfi: 4) menurut Ibnu Ishaq ditujukan kepada orang Quraisy yang berkata bahwa mereka menyembah para malaikat karena malaikat adalah anak-anak perempuan Allah. Ayat "alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka" (QS. al-Kahfi: 5) menurutnya karena ucapan mereka itu.1

      Mengenai ayat "maka barangkali kamu akan membunuh dirimu" (QS. al-Kahfi: 5-6), Ibnu Ishaq menjelaskan: apakah engkau akan membunuh dirimu, wahai Muhammad, karena apa yang mereka lakukan jika mereka tidak beriman kepada Kitab ini? Ketika tidak engkau dapatkan apa yang diharapkan dari mereka, jangan lakukan itu. Ibnu Hisyam menjelaskan bahwa bakhi'un nafsaka berarti menghancurkan dirimu, dengan contoh bait Dzu Rummah. Ayat berikutnya: "Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya" (QS. al-Kahfi: 7), maksudnya siapa yang paling mengikuti perintah-Nya dan taat kepada-Nya. Kemudian: "Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus" (QS. al-Kahfi: 8). Ibnu Ishaq menafsirkan: apa pun yang ada di atas bumi pasti mengalami kematian, tempat kembali adalah kepada Allah, lalu Dia menghisab semua orang sesuai amalnya, maka janganlah berduka atas apa yang engkau dengar dan lihat. Ibnu Hisyam menambahkan penjelasan bahasa: ash-sha'id berarti bumi atau jalan, dan al-juruz berarti bumi yang kering-kerontang.

      Allah menjawab pertanyaan tentang pemuda-pemuda itu: "Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?" (QS. al-Kahfi: 9). Ibnu Ishaq menafsirkannya: di antara tanda-tanda kekuasaan Allah ada yang jauh lebih menakjubkan daripada kisah pemuda-pemuda itu. Ibnu Hisyam menjelaskan bahwa ar-raqim adalah kitab yang memuat kisah mereka. Lalu: "(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa: 'Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).' Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu, kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu). Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya." (QS. al-Kahfi: 10-13).

      Ayat selanjutnya menyebut pemuda-pemuda itu beriman kepada Tuhan mereka, Allah menambah petunjuk dan meneguhkan hati mereka ketika mereka berdiri dan berkata, "Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia" (QS. al-Kahfi: 13-14). Ibnu Ishaq: yakni mereka tidak menyekutukan Allah sebagaimana kaum Quraisy menyekutukan-Nya dengan sesuatu yang tidak mereka ketahui. Ibnu Hisyam menjelaskan syathathan berarti melampaui batas dan melanggar kebenaran. Kemudian Allah berfirman tentang kaum mereka yang menjadikan selain Allah sebagai tuhan tanpa alasan yang terang (sulthan bayyin, argumentasi yang kuat), dan memerintahkan mereka berlindung ke dalam gua, dengan matahari yang ketika terbit condong dari gua mereka ke kanan dan ketika terbenam menjauhi mereka ke kiri, sedang mereka berada di tempat yang luas dalam gua (QS. al-Kahfi: 15-17). Ibnu Hisyam menjelaskan tazawaru (condong), taqridhuhum dzat asy-syimal (menjauhi dari sisi kiri), dan fajwah (tempat yang luas), masing-masing dengan contoh bait penyair.

      Ayat itu ditutup dengan "Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah" (QS. al-Kahfi: 17), yang menurut Ibnu Ishaq adalah hujah atas Ahli Kitab yang mengetahui kisah pemuda-pemuda itu, untuk menguji apakah beliau mampu menjawab tentang mereka. Kemudian disebutkan, "Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua." (QS. al-Kahfi: 17-18). Ibnu Hisyam menjelaskan washid berarti pintu, dan juga halaman.

      Berikutnya Allah menyebut bahwa jika beliau melihat mereka, beliau akan berpaling dengan melarikan diri dan dipenuhi ketakutan. "Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri." Salah seorang bertanya, "Sudah berapa lamakah kamu berada di sini?" Mereka menjawab, "Kita berada di sini sehari atau setengah hari." Yang lain berkata, "Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada di sini. Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat makanan mana yang lebih baik, hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, berlaku lemah lembut, dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seseorang pun. Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung untuk selama-lamanya." Dan demikian Allah mempertemukan manusia dengan mereka, agar manusia mengetahui bahwa janji Allah itu benar dan kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang berselisih tentang urusan mereka, sebagian berkata, "Dirikanlah sebuah bangunan di atas gua mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka." Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata, "Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya." (QS. al-Kahfi: 18-21).

      Allah lalu berfirman tentang jumlah mereka: sebagian akan mengatakan tiga orang dan yang keempat anjingnya, sebagian lima orang dan yang keenam anjingnya, "sebagai terkaan terhadap barang yang gaib", dan yang lain mengatakan tujuh orang dan yang kedelapan anjingnya. "Katakanlah: 'Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit.'" (QS. al-Kahfi: 22). Ibnu Ishaq menjelaskan bahwa "mereka" di sini adalah rabi-rabi Yahudi yang menyuruh Quraisy bertanya, dan mereka tidak punya ilmu pasti tentang pemuda-pemuda itu, sehingga beliau diminta tidak bertanya kepada mereka. Kemudian: "Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: 'Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi,' kecuali (dengan menyebut): 'Insya Allah.' Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: 'Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.'" (QS. al-Kahfi: 23-24). Ibnu Ishaq menafsirkannya: janganlah karena ditanya seperti itu engkau mengatakan akan menjawab besok pagi seperti sebelumnya, tetapi katakanlah insya Allah, ingatlah Allah jika lupa, dan katakanlah semoga Allah memberi petunjuk untuk bisa menjawab apa yang mereka tanyakan, karena engkau tidak mengetahui apa yang dikerjakan pemuda-pemuda tersebut.

      Allah berfirman, "Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi)." (QS. al-Kahfi: 25). Ibnu Ishaq: rabi-rabi Yahudi itulah yang akan mengatakan perkataan tersebut. Kemudian: "Katakanlah: 'Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nyalah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi...'" (QS. al-Kahfi: 26), yakni Allah Maha Mengetahui semua yang mereka tanyakan.

    22. Dzulqarnain

      Sang pengembara dan soal ruh

      Jawaban untuk pertanyaan kedua ada di QS. al-Kahfi: 83-84, tentang Dzulqarnain yang diberi kekuasaan di bumi dan jalan menuju segala sesuatu. Jawaban untuk pertanyaan ketiga, QS. al-Isra': 85, menyatakan bahwa ruh termasuk urusan Tuhan, dan manusia hanya diberi sedikit ilmu. Ibnu Ishaq dan Ibnu Hisyam juga menyebut beberapa keterangan tentang siapa Dzulqarnain.

      Baca selengkapnya

      Allah berfirman tentang pertanyaan mereka mengenai seorang pengembara: "Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulqarnain. Katakanlah: 'Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya.' Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu." (QS. al-Kahfi: 83-84). Di antara kabar tentang Dzulqarnain, ia diberi beragam nikmat yang tidak dikaruniakan kepada orang lain. Jalan-jalan terbentang untuknya hingga ia mengembara dari timur ke barat. Setiap kali ia menjejakkan kaki di suatu negeri, ia berhasil menguasai penduduk setempat, hingga ia tiba di negeri-negeri yang tidak berpenghuni.1

      Orang yang mendapatkan berita dari orang-orang non-Arab berkata kepadanya bahwa Dzulqarnain berasal dari Mesir, bernama asli Marzuban bin Mardziyah al-Yunani, dari keturunan Yunan bin Yafits bin Nuh.1

      Nama aslinya Iskandar, dialah yang membangun kota Iskandariyah di Mesir, dan kota itu dinamai dengan namanya.2

      Ibnu Ishaq juga meriwayatkan dari Tsaur bin Yazid dari Khalid bin Madan al-Kala'i bahwa Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang Dzulqarnain, lalu bersabda bahwa ia seorang malaikat yang mengukur dengan tali dari bawahnya. Khalid berkata bahwa 'Umar bin al-Khaththab mendengar seseorang memanggil, "Wahai Dzulqarnain," lalu berkata, "Ya Allah, ampunilah dia! Tidakkah kalian senang memberi nama anak-anak kalian dengan nama para nabi, hingga kalian memberi nama anak kalian dengan nama para malaikat?"

      Allah lebih tahu mana yang benar dari keduanya, apakah Rasulullah ﷺ mengatakan itu atau tidak. Jika beliau mengatakannya, maka kebenaran adalah apa yang beliau sabdakan.1

      Tentang pertanyaan mengenai ruh, Allah berfirman: "Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: 'Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.'" (QS. al-Isra': 85).

      Ibnu 'Abbas memberitahunya bahwa ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, rabi-rabi Yahudi bertanya, "Hai Muhammad, tahukah engkau makna ucapanmu, 'Dan kalian tidak diberi pengetahuan melainkan sedikit'? Siapakah yang dimaksud dengan kalian, kami atau kaummu?" Beliau menjawab, "Semuanya. Dua-duanya!" Mereka berkata, "Engkau sudah membaca apa yang engkau bawa, bahwa kami diberi Taurat, yang di dalamnya terdapat penjelasan segala sesuatu." Beliau bersabda, "Sesungguhnya Taurat dibanding ilmu Allah adalah sedikit sekali. Namun kalian mempunyai sesuatu yang jika kalian lakukan, hal itu cukup memadai untuk kalian." Ibnu 'Abbas berkata: lalu Allah menurunkan ayat, "Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah." (QS. Luqman: 27), yakni penjelasan Taurat tentang hal itu sangat sedikit dibanding ilmu Allah.1

    23. Jawaban

      Ayat-ayat yang menjawab tuntutan para pembesar

      Allah menurunkan beberapa ayat sebagai jawaban atas tuntutan mereka: bahwa seandainya ada bacaan yang membuat gunung bergoncang, bumi terbelah, atau orang mati berbicara, Al-Qur'an itulah dia (QS. ar-Ra'd: 31); bahwa rasul-rasul sebelumnya pun makan makanan dan berjalan di pasar (QS. al-Furqan: 7-10, 20); dan jawaban untuk 'Abdullah bin Abi Umayyah (QS. al-Isra': 90-93).

      Baca selengkapnya

      Ibnu 'Abbas berkata: Allah menurunkan ayat kepada Rasulullah ﷺ yang menyindir permintaan kaumnya agar terjadi gempa bumi yang dahsyat dan leluhur mereka yang telah meninggal dihidupkan kembali: "Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan, atau bumi jadi terbelah, atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentu Al-Qur'an itulah dia). Sebenarnya segala urusan itu kepunyaan Allah." (QS. ar-Ra'd: 31). Maksud "Bal lillahil amru jami'an" menurut teks: Allah tidak mengerjakan hal tersebut melainkan sesuai kehendak-Nya.

      Tentang ucapan mereka, "Ambillah untuk dirimu", ketika orang Quraisy meminta beliau membuat taman-taman, istana-istana, dan harta simpanan sebagai bukti kebenaran ucapannya, Allah menurunkan: "Dan mereka berkata: 'Mengapa rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? (Mengapa tidak) diturunkan kepadanya perbendaharaan, atau (mengapa tidak) ada kebun baginya, yang dia dapat makan dari (hasil)nya?' Dan orang-orang yang zalim itu berkata: 'Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang kena sihir.' Perhatikanlah, bagaimana mereka membuat perbandingan-perbandingan tentang kamu, lalu sesatlah mereka, mereka tidak sanggup (mendapatkan) jalan (untuk menentang kerasulanmu). Maha Suci (Allah) yang jika Dia menghendaki, niscaya dijadikan-Nya bagimu yang lebih baik dari yang demikian, (yaitu) surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, dan dijadikan-Nya (pula) untukmu istana-istana." (QS. al-Furqan: 7-10). Artinya, Allah dapat memberi yang lebih baik daripada berjalan di pasar dan mencari penghidupan.

      Allah juga menurunkan: "Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Tuhanmu Maha Melihat." (QS. al-Furqan: 20). Maksudnya: sebagian dijadikan cobaan bagi sebagian yang lain agar mereka bersabar; seandainya Allah berkehendak menjadikan dunia tunduk kepada perintah rasul-rasul-Nya, hal itu niscaya terjadi.

      Tentang ucapan 'Abdullah bin Abi Umayyah, Allah menurunkan: "Dan mereka berkata: 'Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami, atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan, atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami. Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca.' Katakanlah: 'Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?'" (QS. al-Isra': 90-93).

      Ibnu Hisyam menambahkan penjelasan bahasa: yanbu' berarti air yang keluar dari tanah atau selainnya (jamaknya yanabi', dengan contoh bait Ibnu Harmah); kisaf adalah jenis-jenis siksa (tunggalnya kisfah); qabil berarti saling berhadapan dan terang-terangan, dengan rujukan pada QS. al-Kahfi: 55, dan sebagian mengatakan jamaknya qubul berarti kelompok-kelompok; zukhruf berarti emas, dan muzakhraf adalah sesuatu yang dihiasi dengan emas. Ia mengutip bait A'sya Bani Qais bin Tsa'labah dan bait al-Kumait bin Zaid untuk contoh pemakaian.

    24. Ar-Rahman

      Tuduhan berguru kepada "ar-Rahman" dari Yamamah

      Quraisy berkata bahwa mereka mendengar Rasulullah ﷺ diajari seseorang dari Yamamah bernama ar-Rahman, dan kapan pun mereka tidak akan beriman kepada-Nya. Allah menurunkan QS. ar-Ra'd: 30 sebagai jawabannya.

      Baca selengkapnya

      Tentang ucapan mereka, "Sesungguhnya kami mendapat berita bahwa engkau diajari seseorang dari Yamamah yang bernama ar-Rahman, dan kapan pun kami tidak akan beriman kepada-Nya", Allah menurunkan ayat: "Demikianlah, Kami telah mengutus kamu pada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumnya, supaya kamu membacakan kepada mereka (Al-Qur'an) yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Katakanlah: 'Dialah Tuhanku, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku bertobat.'" (QS. ar-Ra'd: 30).1

    25. Abu Jahl

      Ayat tentang orang yang melarang hamba shalat

      Tentang perkataan Abu Jahl dan keinginannya, Allah menurunkan QS. al-'Alaq: 9-19, yang menanyakan pendapat tentang orang yang melarang seorang hamba ketika ia shalat. Tentang harta yang ditawarkan kepada Rasulullah ﷺ, turun QS. Saba': 47: upah yang beliau minta untuk mereka, dan upah sebenarnya hanya dari Allah.

      Baca selengkapnya

      Tentang perkataan Abu Jahl dan keinginannya, Allah menurunkan ayat: "Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat? Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran, atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)? Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling? Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah. Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)." (QS. al-'Alaq: 9-19).1

      Ibnu Hisyam menjelaskan bahwa kata lanasfa'an berarti "Kami pasti membetotnya dan menyeretnya", dengan contoh bait seorang penyair. An-nadi adalah auditorium tempat orang-orang berkumpul dan memutuskan permasalahan mereka (disebut juga an-nadiyy, jamaknya andiyah), dengan merujuk pada QS. al-'Ankabut: 29 dan QS. Maryam: 73, serta bait Ubaid bin al-Abrash dan Salamah bin Jandal. Pada ayat itu maksud "memanggil golongannya" adalah memanggil orang-orang yang ada di auditorium, sebagaimana "tanyakan kepada negeri" (QS. Yusuf: 82) berarti tanyakan kepada penduduknya. Az-zabaniyah berarti yang kuat dan perkasa; pada ayat itu adalah malaikat penjaga neraka, sedangkan dalam konteks dunia adalah tentara pengawal, tunggalnya az-zibniyyah, dengan contoh bait Ibnu az-Zaba'ri dan Shakhr al-Ghayyi.

      Tentang kekayaan yang mereka tawarkan kepada Rasulullah ﷺ, Allah menurunkan ayat: "Katakanlah: 'Upah apa pun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Upahku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.'" (QS. Saba': 47).1

    26. Hiruk-pikuk

      "Buatlah hiruk-pikuk" dan ejekan Abu Jahl soal sembilan belas

      Ketika Rasulullah ﷺ mendakwahi mereka dengan kebenaran yang mereka tahu, kedengkian mereka makin menjadi. Salah seorang berkata sebagaimana diabadikan dalam QS. Fushshilat: 26: jangan dengarkan Al-Qur'an dan buatlah hiruk-pikuk supaya kalian menang. Abu Jahl juga mengejek bahwa penjaga neraka sembilan belas, padahal jumlah mereka jauh lebih banyak; Allah menjawabnya dalam QS. al-Muddatstsir: 31.

      Baca selengkapnya

      Ketika Rasulullah ﷺ mendakwahi orang-orang Quraisy dengan kebenaran yang sudah mereka tahu, dan mereka sadar sekali dengan kebenaran ucapan beliau, kebenaran kenabian beliau, dan ilmu gaib yang beliau bawa setelah mereka menanyakannya, menebarlah kedengkian mereka kepada beliau, para pengikutnya, dan kejujurannya. Mereka mendurhakai Allah, tak acuh terhadap perintah-Nya, dan dengan keras kepala tetap berada dalam kekafiran. Salah seorang dari mereka berkata, sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur'an: "Janganlah kalian dengar Al-Qur'an ini dengan sungguh-sungguh dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kalian dapat mengalahkan (mereka)." (QS. Fushshilat: 26). Ibnu Ishaq menjelaskan maksudnya: Al-Qur'an ini hanyalah bahan ejekan, sesuatu yang tak bermanfaat, dan barang mainan; mudah-mudahan kalian menang melawannya, sebab jika suatu saat kalian berdebat dengannya, ia mengalahkan kalian dengan gampang.1

      Suatu ketika Abu Jahl menghina Rasulullah ﷺ dan kebenaran yang beliau bawa. Ia berkata, "Wahai orang-orang Quraisy, Muhammad menyatakan bahwa pasukan tempur Allah yang menyiksa kalian di neraka dan memenjara kalian di dalamnya berjumlah sembilan belas, padahal jumlah kalian jauh lebih banyak. Apakah seratus orang dari kalian tidak akan mampu menang melawan salah satu dari tentara tersebut?" Kemudian Allah menyindir ucapan Abu Jahl: "Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin, dan supaya orang yang beriman bertambah imannya, dan supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu, dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): 'Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?' Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia." (QS. al-Muddatstsir: 31).

    27. Mencuri dengar

      Orang yang menyimak diam-diam dan ayat tentang "jalan tengah"

      Saat Rasulullah ﷺ membaca Al-Qur'an dengan suara nyaring dalam shalat, orang Quraisy menghindar dan menolak mendengarkannya. Sebagian justru ingin mendengar secara sembunyi-sembunyi, lalu pergi ketika tahu Quraisy memergokinya. Menurut Ibnu 'Abbas, turun ayat yang memerintahkan beliau tidak mengeraskan dan tidak pula merendahkan suara, melainkan mencari jalan tengah.

      Baca selengkapnya

      Ketika salah satu dari mereka berkata demikian kepada yang lain dan Rasulullah ﷺ membaca Al-Qur'an dengan suara nyaring dalam shalatnya, mereka menghindar dari beliau dan menolak mendengarkannya. Namun sebagian dari mereka ingin mendengarkan sebagian Al-Qur'an yang dibaca beliau dalam shalat, sehingga ia mendengarkannya secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan mereka. Jika ia mengetahui bahwa orang-orang Quraisy tahu ia sedang menyimak bacaan beliau, ia pergi karena takut mendapat siksaan dari mereka dan tidak lagi menyimak. Jika Rasulullah ﷺ memelankan suaranya, orang yang mencuri dengar menduga bahwa mereka tidak mendengar sedikit pun bacaan beliau.1

      Daud bin al-Hushain, mantan budak 'Amr bin 'Utsman, bercerita dari 'Ikrimah, mantan budak Ibnu 'Abbas, bahwa Ibnu 'Abbas berkata kepada mereka: ayat "Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu" diturunkan untuk mereka. Maksudnya: janganlah engkau menyaringkan suaramu hingga mereka lari darimu, dan jangan pula merendahkannya sehingga orang yang ingin mendengarnya tidak dapat mendengar, yaitu sebagian orang Quraisy yang mencuri-curi dengar, karena barangkali ia menaruh perhatian pada apa yang didengarnya lalu hal itu membimbingnya kepada hidayah.16

    28. Maqam

      'Abdullah bin Mas'ud membaca Al-Qur'an dengan lantang di Maqam

      Para sahabat bertanya siapa yang berani memperdengarkan Al-Qur'an kepada Quraisy secara terbuka. 'Abdullah bin Mas'ud menyanggupi, meski mereka khawatir akan keselamatannya. Pada waktu dhuha ia berdiri di Maqam dan membaca awal surat ar-Rahman dengan suara nyaring. Orang-orang Quraisy memukulinya, tetapi ia tetap membaca sampai ayat tertentu dan pulang dengan wajah terluka.

      Maqam Ibrahim berbingkai kaca keemasan dikelilingi jemaah di Masjidil Haram
      Maqam Ibrahim di Masjidil Haram, Makkah, keadaan sekarang (foto 2016).Foto: معتز توفيق اغبارية · CC BY-SA 3.0 · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Yahya bin 'Urwah bin az-Zubair bercerita dari ayahnya: orang pertama yang membaca Al-Qur'an secara terbuka di depan umum di Makkah setelah Rasulullah ﷺ adalah 'Abdullah bin Mas'ud. Suatu ketika sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ berkumpul dan berkata, "Demi Allah, orang-orang Quraisy belum pernah mendengar Al-Qur'an dibaca di depan umum. Siapakah yang berani memperdengarkannya kepada mereka?" 'Abdullah bin Mas'ud berkata, "Aku!" Mereka berkata, "Kami mengkhawatirkan nyawamu. Kami ingin ada orang yang mempunyai keluarga yang dapat melindunginya dari kaum itu jika mereka berbuat jahat." Ia menjawab, "Biarkanlah aku yang melakukannya, karena Allah akan melindungiku."1

      'Abdullah bin Mas'ud pun pergi ke Maqam pada waktu dhuha, ketika orang-orang Quraisy sedang berada di balai pertemuan mereka. Ia berdiri di Maqam lalu membaca dengan suara nyaring: "Tuhan Yang Maha Pemurah, yang telah mengajarkan Al-Qur'an." (QS. ar-Rahman: 1-2). Ia melanjutkan bacaannya, sedang orang-orang Quraisy merenungkannya. Sebagian dari mereka berkata, "Apa yang dibaca anak Ummu 'Abd ini?" Sebagian lagi berkata, "Dia sedang membaca sebagian yang dibawa Muhammad." Mereka bangkit mendatangi 'Abdullah bin Mas'ud dan menghajarnya, tetapi ia tak bergeming dan tetap membaca surat itu sampai ayat tertentu. Setelah itu ia pergi menemui sahabat-sahabatnya dengan wajah terluka. Mereka berkata, "Itulah yang kami khawatirkan atas dirimu." Ia menjawab, "Musuh-musuh Allah itu tidak lebih hina dalam pandanganku daripada mereka sejak sekarang. Jika kalian mau, besok pagi aku akan melakukan hal yang sama." Mereka berkata, "Jangan! Cukuplah engkau telah memperdengarkan kepada mereka sesuatu yang tidak mereka suka."7

    29. Malam hari

      Tiga tokoh Quraisy menyimak bacaan Rasulullah ﷺ diam-diam

      Abu Sufyan bin Harb, Abu Jahl bin Hisyam, dan al-Akhnas bin Syariq keluar pada malam hari, masing-masing tanpa diketahui yang lain, untuk menyimak bacaan Rasulullah ﷺ yang shalat malam di rumahnya. Tiga malam berturut-turut mereka bertemu di jalan saat fajar, lalu berjanji tidak mengulanginya. Esoknya al-Akhnas bertanya kepada Abu Sufyan dan Abu Jahl; Abu Jahl menjawab bahwa ia tidak akan pernah beriman karena persaingan kehormatan dengan Bani 'Abdu Manaf.

      Baca selengkapnya

      Muhammad bin Muslim bin Syihab az-Zuhri bercerita kepadanya: Abu Sufyan bin Harb, Abu Jahl bin Hisyam, dan al-Akhnas bin Syariq bin 'Amr bin Wahb ats-Tsaqafi, sekutu Bani Zuhrah, pada suatu malam keluar untuk menyimak bacaan Rasulullah ﷺ yang sedang shalat malam di rumahnya. Masing-masing dari mereka tidak mengetahui keberadaan yang lain. Mereka rela begadang untuk mendengarkan bacaan beliau. Ketika fajar menyingsing, mereka bubar dan bertemu di salah satu jalan. Mereka saling mengata-ngatai, dan sebagian berkata kepada sebagian yang lain, "Jangan lakukan lagi, sebab bila kalian dilihat sebagian orang yang tidak waras di antara kalian, pastilah kalian menimbulkan rasa curiga pada diri mereka." Setelah itu mereka berpisah.1

      Pada malam berikutnya masing-masing dari mereka kembali untuk menyimak bacaan beliau. Saat fajar merekah, mereka bubar dan kembali bertemu di jalan, lalu berkata persis seperti pada malam sebelumnya, kemudian berpisah. Pada malam ketiga mereka kembali lagi menyimak. Ketika fajar merekah dan mereka bertemu di jalan, sebagian berkata kepada yang lain, "Mari kita berjanji tidak akan mengulangi perbuatan ini." Mereka bertiga pun berjanji, lalu pulang ke rumah masing-masing.

      Keesokan harinya al-Akhnas keluar menemui Abu Sufyan di rumahnya dan bertanya, "Wahai Abu Hanzhalah, katakanlah kepadaku apa pendapatmu tentang apa yang semalam engkau simak dari Muhammad?" Abu Sufyan menjawab, "Wahai Abu Tsa'labah, demi Allah, aku mendengar beberapa hal yang aku tahu dan aku mengerti maksudnya. Aku juga mendengar beberapa hal yang tidak aku tahu dan tidak aku pahami maksudnya." Al-Akhnas berkata, "Demi Allah, aku juga seperti itu."

      Lalu al-Akhnas menuju rumah Abu Jahl dan bertanya, "Wahai Abu al-Hakam, apa yang engkau dengar dari Muhammad semalam?" Abu Jahl menjawab, "Mendengar apa aku?! Bukankah kita bersaing ketat memperebutkan kehormatan dengan Bani 'Abdu Manaf. Mereka memberi makan, kita juga memberi makan. Mereka menanggung orang, kita juga menanggung. Mereka memberi, kita pun memberi. Hingga ketika kita sudah siap berangkat dan kita seperti dua kuda pacuan, mereka berkata, 'Kita memiliki seorang nabi yang mendapat wahyu dari langit.' Kapankah kita bisa mencapai hal seperti itu? Demi Allah, aku tidak akan pernah beriman kepada nabi itu, tidak pula membenarkannya!" Al-Akhnas pun berdiri dan meninggalkan Abu Jahl.

    30. Tertutup

      "Hati kami tertutup" dan ayat tentang dinding penghalang

      Setiap kali Rasulullah ﷺ membacakan Al-Qur'an dan mengajak kepada Allah, mereka mencemooh bahwa hati mereka tertutup, telinga mereka tersumbat, dan ada dinding antara mereka dan beliau. Allah menurunkan QS. al-Isra': 45-51. Ayat-ayat itu juga menjawab ucapan mereka tentang kebangkitan setelah menjadi tulang belulang.

      Baca selengkapnya

      Apabila Rasulullah ﷺ membacakan Al-Qur'an kepada mereka dan mengajak kepada Allah, mereka mencemooh beliau, "Hati kami tertutupi dari apa yang kamu seru kami kepadanya." Artinya, kami tidak mengerti apa yang engkau katakan. "Dan di telinga kami ada sumbatan", artinya kami tidak bisa menyimak apa yang engkau katakan. "Dan antara diri kami dan dirimu ada dinding", artinya ada penghalang antara kami denganmu. "Maka bekerjalah kamu", artinya kerjakan apa yang mesti engkau kerjakan. "Sesungguhnya kami bekerja", artinya kami akan mengerjakan apa yang harus kami kerjakan. "Kami tidak mengerti apa pun darimu."1

      Kemudian Allah menurunkan firman-Nya tentang ucapan mereka itu: "Dan apabila kamu membaca Al-Qur'an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup. Dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al-Qur'an, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya." (QS. al-Isra': 45-46). Ibnu Ishaq menafsirkan: mustahil mereka mampu memahamimu yang mentauhidkan Tuhanmu jika Allah sudah menyumbat hati dan menutup telinga mereka serta ada dinding pemisah antara mereka dan beliau, sebagaimana yang mereka duga. Intinya, Allah tidak akan membuat mereka mendengar dan memahami.

      "Kami lebih mengetahui dalam keadaan bagaimana mereka mendengarkan sewaktu mereka mendengarkan kamu, dan sewaktu mereka berbisik-bisik, (yaitu) ketika orang-orang zalim itu berkata: 'Kamu tidak lain hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir.'" (QS. al-Isra': 47). Itulah yang saling mereka wasiatkan, yaitu tidak mengamalkan apa yang diutus bersama beliau. "Lihatlah bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan terhadapmu, karena itu mereka menjadi sesat dan tidak dapat lagi menemukan jalan (yang benar)." (QS. al-Isra': 48). Artinya, mereka keliru dalam mencitrakan dirimu, maka tidak aneh jika mereka tidak mendapat petunjuk dan perkataan mereka tidak bernilai.

      "Dan mereka berkata: 'Apakah bila kami telah menjadi tulang-belulang dan benda-benda yang hancur, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?'" (QS. al-Isra': 49). Maksudnya: engkau telah menjelaskan bahwa kami akan dibangkitkan setelah mati dan menjadi tulang belulang, dan itu hal yang tidak mungkin terjadi. "Katakanlah: 'Jadilah kalian sekalian batu atau besi, atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurut pikiran kalian.' Maka mereka akan bertanya, 'Siapa yang akan menghidupkan kembali?' Katakanlah, 'Yang telah menciptakan kalian pada kali yang pertama.'" (QS. al-Isra': 50-51). Maksudnya: Dzat yang menciptakan kalian sebagaimana yang telah kalian ketahui; menciptakan kalian dari tanah tidak lebih sulit bagi-Nya.

      'Abdullah bin Abu Najih bercerita dari Mujahid dari Ibnu 'Abbas, yang berkata bahwa ia bertanya kepada Ibnu 'Abbas apa maksud "atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurut pikiran kalian" (QS. al-Isra': 51). Ibnu 'Abbas menjawab: kematian.1

    Catatan

    1. Ibnu Ishaq.
    2. Tambahan Ibnu Hisyam.
    3. Penyunting terjemahan menandai riwayat ini sebagai hadits lemah (sanad mursal).
    4. Dalam terjemahan, al-Walid lebih dulu menolak usul "ahli sihir", lalu menyarankan tuduhan penyihir. Kami menuliskannya sebagaimana adanya.
    5. Kisah Hamzah memukul Abu Jahl dan masuk Islam, yang dalam buku terletak tepat sebelum bagian ini, dibahas di Bab 20 (Hamzah dan 'Umar masuk Islam).
    6. Terjemahan menutup kalimat tentang suara yang dipelankan dengan bagian yang sulit dipahami ("bahkan beliau yang mendengar sedikit dari suara mereka"), sehingga bagian itu tidak kami tuliskan.
    7. Kalimat 'Abdullah bin Mas'ud, "Musuh-musuh Allah itu tidak lebih hina dalam pandanganku daripada mereka sejak sekarang", sulit dipahami dalam terjemahan, sehingga kami kutip apa adanya.

    Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Bagian tafsir ayat, penjelasan bahasa, dan syair yang Ibnu Ishaq dan Ibnu Hisyam sisipkan kami ringkas pada bagian yang hanya menjelaskan kata; teks lengkapnya ada di buku. Kisah Hamzah masuk Islam dibahas di Bab 20.