Pusat Sejarah Islam
Bab 16 dari 55

Orang-orang pertama masuk Islam

Yang pertama beriman adalah Khadijah, 'Ali, Zaid dan Abu Bakar. Lewat Abu Bakar, masuk pula 'Utsman, az-Zubair, 'Abdurrahman, Sa'd dan Thalhah. Selama 3 tahun dakwah dilakukan diam-diam.

3 tahun pertamaSumber: Ibnu Hisyam
Sekilas

Isi bab ini

Bab ini menceritakan siapa saja yang lebih dahulu beriman setelah Khadijah (yang sudah dibahas di bab sebelumnya): bagaimana shalat diwajibkan, 'Ali yang masih belia, Zaid bin Haritsah, lalu Abu Bakar dan orang-orang yang masuk Islam lewat ajakannya.

Shalat

Shalat diwajibkan; Jibril mengajarkan wudhu dan waktu-waktunya.

Yang pertama

'Ali, lalu Zaid bin Haritsah, lalu Abu Bakar.

Lewat Abu Bakar

'Utsman, az-Zubair, 'Abdurrahman, Sa'd, dan Thalhah masuk Islam lewat ajakannya.

Daftar panjang

Ibnu Ishaq lalu menyebut banyak nama lain yang menyusul, laki-laki dan perempuan.

Peta

Makkah dan perjalanan Hakim dari Syam

Pilih salah satu langkah di daftar yang menyertai peta. Garis putus-putus adalah perkiraan, dan batas negara masa kini hanya patokan.

Makkah dan Syam
Tempat yang disebut Ibnu HisyamPerjalanan (garis perkiraan)
    Alur kisah

    Dari shalat pertama sampai daftar para sahabat

    Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.

    Perbedaan sumber

    Usia 'Ali. Ibnu Hisyam menyebut 'Ali berumur sepuluh tahun ketika masuk Islam. Khan menyebut sembilan tahun. Haykal hanya menyebut 'Ali masih seorang anak, tanpa angka.

    Cara 'Ali masuk Islam. Menurut Ibnu Hisyam, 'Ali ikut Rasulullah ﷺ shalat di Syi'b. Menurut Haykal, 'Ali masuk ke kamar dan mendapati Rasulullah ﷺ dan Khadijah sedang shalat, meminta waktu semalam untuk berunding dengan ayahnya, lalu esoknya menyatakan keislamannya tanpa berunding.

    Zaid bin Haritsah. Menurut Ibnu Hisyam, Hakim bin Hizam membawa Zaid dari Syam, Khadijah mengambilnya, lalu menghibahkannya kepada Rasulullah ﷺ. Menurut Haykal, Rasulullah ﷺ melihat Zaid ditawarkan untuk dijual dan meminta Khadijah membelinya, lalu beliau memerdekakan dan mengangkatnya sebagai anak.

    1. Shalat

      Shalat mulai diwajibkan

      Menurut 'Aisyah, mula-mula shalat dua rakaat setiap kali. Kemudian bagi orang yang menetap menjadi empat rakaat, sedangkan bagi musafir tetap dua rakaat. Ada pula penuturan bahwa Jibril mengajarkan wudhu dan shalat kepada Rasulullah ﷺ, dan Ibnu 'Abbas menuturkan Jibril mengimami beliau untuk waktu-waktu shalat selama dua hari.

      Baca selengkapnya

      Shalih bin Kaisan bercerita kepadaku dari 'Urwah bin az-Zubair dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha: kali pertama shalat diwajibkan kepada Rasulullah ﷺ, jumlahnya dua rakaat setiap kali shalat. Kemudian Allah menyempurnakannya menjadi empat rakaat bagi orang yang muqim, dan menetapkannya dua rakaat seperti sejak awal bagi musafir.1

      Sebagian pakar berkata kepadaku bahwa ketika shalat pertama kali diwajibkan, Jibril mendatangi Rasulullah ﷺ di atas gunung Makkah. Jibril mengisyaratkan dengan tumitnya di lembah, dan dari situ memancarlah mata air. Jibril berwudhu sementara Rasulullah ﷺ melihatnya, untuk mengajari beliau cara bersuci untuk shalat, lalu beliau berwudhu sebagaimana Jibril berwudhu. Kemudian Jibril berdiri dan shalat, dan Rasulullah ﷺ shalat seperti shalat Jibril. Setelah itu Jibril pergi meninggalkan beliau.1

      Rasulullah ﷺ lalu kembali menemui Khadijah dan berwudhu di hadapannya untuk mengajarinya cara bersuci sebagaimana yang diajarkan Jibril. Khadijah berwudhu seperti beliau. Selanjutnya Rasulullah ﷺ shalat seperti Jibril mengimami beliau, dan Khadijah shalat seperti shalat Rasulullah ﷺ.

      'Utbah bin Muslim, mantan budak Bani Taim, bercerita kepadaku dari Nafi' bin Jubair bin Muth'im, dari Ibnu 'Abbas. Ketika shalat ditetapkan, Jibril mendatangi Rasulullah ﷺ dan mengimami beliau pada waktu-waktu berikut, selama dua hari berturut-turut:1

      • ZhuhurHari pertama: ketika matahari mulai condong ke barat. Hari kedua: ketika bayangan sebuah benda persis sama dengan bendanya.
      • AsharHari pertama: ketika bayangan benda sama persis dengan bendanya. Hari kedua: ketika bayangan seseorang dua kali lebih panjang.
      • MaghribKedua hari: ketika matahari telah terbenam.
      • Isya'Hari pertama: ketika sinar merah setelah terbenamnya matahari telah hilang. Hari kedua: setelah sepertiga malam pertama berlalu.
      • ShubuhHari pertama: ketika fajar menyingsing. Hari kedua: ketika sedikit terang namun mentari belum menyingsing.

      Setelah itu Jibril berkata, "Wahai Muhammad, waktu shalat adalah pertengahan antara shalatmu hari ini dan shalatmu yang kemarin."

    2. Lelaki pertama

      'Ali bin Abi Thalib masuk Islam

      Laki-laki pertama yang shalat bersama Rasulullah ﷺ dan membenarkan risalahnya adalah 'Ali bin Abi Thalib, yang saat itu berumur sepuluh tahun. Ia tumbuh dalam asuhan Rasulullah ﷺ sejak masa krisis yang melanda Quraisy, ketika beliau dan al-'Abbas meringankan beban Abu Thalib.

      Baca selengkapnya

      Laki-laki pertama yang shalat bersama Rasulullah ﷺ, mengimami beliau, dan membenarkan risalahnya ialah 'Ali bin Abu Thalib bin 'Abdul Muthalib bin Hasyim, semoga Allah meridhainya. Saat itu ia baru berumur sepuluh tahun. Di antara nikmat yang dikaruniakan Allah kepadanya adalah hidup langsung di bawah didikan Rasulullah ﷺ sebelum Islam.1

      'Abdullah bin Abu Najih bercerita kepadaku dari Mujahid bin Jabr Abu al-Hajjaj. Saat orang-orang Quraisy ditimpa krisis berkepanjangan, Abu Thalib mempunyai tanggungan anak yang banyak. Rasulullah ﷺ berkata kepada pamannya al-'Abbas, orang Bani Hasyim yang paling kaya ketika itu: "Wahai 'Abbas, saudaramu Abu Thalib mempunyai banyak tanggungan, sedangkan orang-orang sedang ditimpa krisis seperti yang engkau saksikan. Marilah kita menemuinya lalu kita ringankan bebannya. Aku membesarkan satu orang anaknya dan engkau membesarkan satu orang anaknya." Al-'Abbas menjawab, "Baiklah."1

      Keduanya pergi ke rumah Abu Thalib dan berkata, "Kami berdua ingin meringankan bebanmu sampai krisis yang melanda penduduk Quraisy berakhir." Abu Thalib menjawab, "Apabila kalian berdua membiarkan 'Aqil tetap bersamaku, lakukanlah apa yang kalian inginkan."

      Ada yang menyebutkan bahwa Abu Thalib meminta agar 'Aqil dan Thalib dibiarkan bersamanya.2

      Rasulullah ﷺ mengambil 'Ali dan membawanya ke rumah beliau, sedangkan al-'Abbas mengambil Ja'far dan membawanya ke rumahnya. 'Ali tinggal bersama Rasulullah ﷺ sampai beliau diutus Allah. 'Ali mengikuti beliau, beriman, dan membenarkan beliau. Ja'far tetap tinggal bersama al-'Abbas hingga ia masuk Islam dan bisa berdikari.3

    3. Di Syi'b

      Abu Thalib memergoki mereka shalat

      Bila waktu shalat tiba, Rasulullah ﷺ dan 'Ali diam-diam berangkat ke Syi'b dan shalat di sana, tanpa diketahui Abu Thalib dan kaumnya. Suatu hari Abu Thalib memergoki mereka. Ia tidak mau meninggalkan agama leluhurnya, tetapi berjanji tidak akan membiarkan siapa pun berbuat jahat kepada keponakannya selama ia masih ada.

      Baca selengkapnya

      Sebagian pakar menuturkan bahwa apabila waktu shalat tiba, Rasulullah ﷺ berangkat menuju Syi'b ditemani 'Ali bin Abu Thalib, dengan rahasia dan tidak diketahui oleh Abu Thalib, paman-pamannya, dan kaumnya. Di tempat itu mereka mendirikan shalat lima waktu, lalu sore harinya pulang ke rumah. Itulah yang mereka lakukan dalam jangka waktu tertentu, hingga Abu Thalib memergoki keduanya sedang shalat.1

      Abu Thalib bertanya kepada Rasulullah ﷺ, "Wahai anak keponakanku, agama apa yang engkau peluk yang kulihat tadi?" Beliau menjawab, "Wahai pamanku, ini adalah agama Allah, agama malaikat-Nya, agama para rasul-Nya, dan agama bapak kita Ibrahim." Atau sebagaimana beliau sabdakan, "Allah telah mengutus aku sebagai Rasul kepada seluruh hamba-Nya. Engkau, wahai pamanku, adalah orang yang paling berhak aku nasihati dan aku ajak kepada hidayah ini. Engkaulah yang paling layak menerima dakwahku dan mendukungku di dalamnya."

      Abu Thalib berkata, "Wahai keponakanku, sungguh tidak mungkin bagiku meninggalkan agama leluhurku dan tradisi yang biasa mereka lakukan. Meski begitu, demi Allah, takkan kubiarkan seorang pun berbuat jahat kepadamu selagi aku masih ada."

      Banyak yang mengatakan bahwa Abu Thalib bertanya kepada 'Ali, "Anakku, agama apakah yang engkau peluk?" 'Ali menjawab, "Ayah, aku telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku membenarkan risalahnya, shalat bersamanya, dan mengikuti beliau." Ada yang mengatakan Abu Thalib berkata kepada 'Ali, "Jika ia menyerumu pada kebaikan, maka ikutilah dia!"4

    4. Lelaki kedua

      Zaid bin Haritsah masuk Islam

      Setelah 'Ali, menyusullah Zaid bin Haritsah, mantan budak Rasulullah ﷺ. Ia dibawa ke Makkah sebagai budak oleh Hakim bin Hizam, diambil Khadijah, lalu dihibahkan kepada Rasulullah ﷺ, yang memerdekakan dan mengangkatnya sebagai anak. Ayahnya datang menjemput, tetapi Zaid memilih tinggal bersama beliau.

      Lorong sempit di kota tua Damaskus, Suriah, dengan rumah-rumah tua di kiri dan kanan
      Lorong di kota tua Damaskus, Suriah, keadaan sekarang (foto 2008). Ini gambaran Damaskus hari ini sebagai kawasan Syam, bukan lokasi peristiwa bab ini.Foto: Vyacheslav Argenberg · CC BY 4.0 · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Setelah 'Ali, menyusullah Zaid bin Haritsah bin Syurahbil bin Ka'b bin 'Abdul 'Uzza bin Umru'ul Qais al-Kalbi, mantan budak Rasulullah ﷺ, menganut Islam. Dialah kalangan laki-laki yang pertama kali masuk Islam dan ikut shalat sesudah 'Ali bin Abu Thalib.1

      Diceritakan bahwa Hakim bin Hizam bin Khuwailid pulang dari Syam dengan membawa budak-budak, di antaranya Zaid bin Haritsah dan seorang anak muda lainnya. Khadijah binti Khuwailid, bibi Hakim, istri Rasulullah ﷺ, datang ke rumahnya. Hakim berkata, "Wahai bibiku, ambillah di antara anak-anak muda ini yang engkau suka, dan ia menjadi milikmu." Khadijah mengambil Zaid dan membawanya. Rasulullah ﷺ melihat Zaid bersama Khadijah dan memintanya. Khadijah menghibahkan Zaid kepada beliau, lalu beliau memerdekakan Zaid dan mengangkatnya sebagai anak. Semua ini terjadi sebelum wahyu turun kepada beliau.2

      Ayah Zaid, Haritsah, sangat berduka dan menangis ketika kehilangan Zaid. Dalam syairnya ia mengatakan bahwa ia menangis karena Zaid dan tidak tahu bagaimana keadaannya: masih hidupkah ia atau telah menemui ajal. Ia bersumpah akan mencarinya, dan bertanya apakah dataran rendah atau gunung yang membinasakannya. Matahari terbit dan terbenam serta tiupan angin mengingatkannya pada Zaid. Ia bertekad mengembara di atas unta pilihan tanpa bosan, sampai untanya yang bosan.

      Kemudian Haritsah datang menjemput Zaid di rumah Rasulullah ﷺ. Beliau bersabda kepada Zaid, "Jika engkau suka, engkau tetap boleh tinggal bersamaku. Namun apabila engkau suka, engkau boleh pulang kembali kepada ayahmu!" Zaid menjawab, "Aku lebih suka tinggal bersamamu." Zaid pun tinggal bersama Rasulullah ﷺ hingga beliau diangkat sebagai rasul, lalu ia membenarkan beliau, masuk Islam, dan shalat bersamanya. Ketika Allah menurunkan firman-Nya, "Panggillah mereka dengan menggunakan nama ayah-ayah mereka" (QS. al-Ahzab: 5), Zaid berkata, "Sekarang aku Zaid bin Haritsah."

      Ibnu Hisyam juga menyebutkan nasab ayah Zaid yang lebih panjang, yaitu Haritsah bin Syurahbil bin Ka'b bin 'Abdul 'Uzza bin Umru'ul Qais bin 'Amir bin an-Nu'man bin 'Amir bin 'Abdu Wudd bin 'Auf bin Kinanah bin Bakr bin 'Auf bin 'Udzrah bin Zaidullah bin Rufaidah bin Tsaur bin Kalb bin Wabarah.

    5. Abu Bakar

      Abu Bakar bin Abi Quhafah masuk Islam

      Sesudah Zaid, Abu Bakar masuk Islam. Ia menampakkan keislamannya dan berdakwah untuk Allah dan Rasul-Nya. Kaumnya menghormati dan menyukainya, ia paling ahli tentang nasab dan kabar Quraisy, serta pedagang yang berakhlak. Orang-orang yang ia percayai dan sering berinteraksi dengannya ia ajak kepada Islam.

      Baca selengkapnya

      Setelah Zaid, menyusullah Abu Bakar bin Abu Quhafah masuk Islam. Nama asli Abu Bakar adalah 'Atiq, dan nama asli Abu Quhafah adalah 'Utsman bin 'Amir bin 'Amr bin Ka'b bin Sa'd bin Taim bin Murrah bin Ka'b bin Luay bin Ghalib bin Fihr.1

      Nama asli Abu Bakar adalah 'Abdullah, dan 'Atiq adalah julukannya, karena wajahnya yang tampan dan rupawan serta seringnya ia membebaskan budak.2

      Ketika Abu Bakar masuk Islam, ia menampakkan keislamannya dan berdakwah untuk Allah dan Rasul-Nya. Ia orang yang sangat dihormati kaumnya, dicintai, dan mudah bergaul dengan siapa saja. Ia orang Quraisy yang paling ahli tentang nasab Quraisy, yang paling tahu kondisi Quraisy beserta kebaikan dan keburukannya. Ia juga pebisnis yang berakhlak dan dikenal luas. Tokoh-tokoh kaumnya sering mendatanginya untuk mengadukan beragam masalah karena ilmunya, perniagaannya, dan respons positifnya. Orang-orang yang ia percayai di antara mereka yang sering datang dan berinteraksi dengannya ia ajak kepada agama Allah dan Islam.1

    6. Lewat Abu Bakar

      Lima sahabat masuk Islam lewat dakwahnya

      Lewat ajakan Abu Bakar, masuk Islamlah 'Utsman bin 'Affan, az-Zubair bin al-'Awwam, 'Abdurrahman bin 'Auf, Sa'd bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin 'Ubaidillah. Abu Bakar membawa mereka kepada Rasulullah ﷺ, lalu mereka masuk Islam dan shalat berjamaah.

      Baca selengkapnya
      • 'Utsman bin 'Affanbin Abi al-'Ash bin Umayyah bin 'Abdu Syams bin 'Abdu Manaf
      • az-Zubair bin al-'Awwambin Khuwailid bin Asad bin 'Abdul 'Uzza
      • 'Abdurrahman bin 'Aufbin 'Abdu 'Auf bin 'Abd bin al-Harits bin Zuhrah
      • Sa'd bin Abi Waqqashnama asli Malik bin Uhaib bin 'Abdu Manaf bin Zuhrah
      • Thalhah bin 'Ubaidillahbin 'Utsman bin 'Amr bin Ka'b bin Sa'd bin Taim

      Sebagaimana disampaikan kepadaku, berkat dakwah Abu Bakar masuk Islamlah 'Utsman bin 'Affan, kemudian az-Zubair bin al-'Awwam, lalu 'Abdurrahman bin 'Auf, Sa'd bin Abu Waqqash, dan Thalhah bin 'Ubaidillah. Setelah mereka berlima merespons dengan positif dakwahnya, Abu Bakar membawa mereka kepada Rasulullah ﷺ, kemudian mereka masuk Islam dan mendirikan shalat berjamaah bersama.1

      Sebagaimana disampaikan kepadaku, Rasulullah ﷺ bersabda: "Setiap aku mengajak seseorang kepada Islam, biasanya ia tidak langsung memberikan jawaban, kecuali Abu Bakar bin Abu Quhafah. Ia tidak lambat merespons dan tidak ragu-ragu ketika aku mengajaknya kepada Islam."1

      Kedelapan orang itulah yang "mendirikan manusia masuk Islam". Mereka shalat dan membenarkan apa yang dibawa Rasulullah ﷺ dari Allah. (Susunan kalimat ini sulit dipahami dalam terjemahan yang kami pakai, jadi kami kutip apa adanya.)1

    7. Yang menyusul

      Daftar orang-orang yang menyusul masuk Islam

      Setelah delapan orang pertama, Ibnu Ishaq menyebut satu per satu banyak orang yang menyusul, laki-laki dan perempuan, dari berbagai kabilah. Di antaranya Abu 'Ubaidah, Abu Salamah, al-Arqam, 'Utsman bin Madz'un, Sa'id bin Zaid dan istrinya Fathimah, Asma' dan 'Aisyah, Khabbab, 'Abdullah bin Mas'ud, Ja'far bin Abdul Muthalib dan istrinya, 'Ammar, serta Shuhaib.

      Baca selengkapnya
      • Abu 'Ubaidah'Amir bin 'Abdullah bin al-Jarrah bin Hilal bin Uhaib bin Dhabbab bin al-Harits bin Fihr
      • Abu Salamah'Abdullah bin 'Abdul Asad bin Hilal bin 'Abdullah bin 'Umar bin Makhzum
      • al-Arqambin Abu al-Arqam; nama asli Abu al-Arqam adalah 'Abdu Manaf bin Asad (Abu Jundab) bin 'Abdullah bin 'Umar bin Makhzum
      • 'Utsman bin Madz'unbin Habib bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah, beserta dua saudaranya, Qudamah dan 'Abdullah
      • 'Ubaidah bin al-Haritsbin al-Muththalib bin 'Abdu Manaf bin Qushay
      • Sa'id bin Zaidbin 'Amr bin Nufail bin 'Abdul 'Uzza, beserta istrinya Fathimah binti al-Khaththab, adik kandung 'Umar bin al-Khaththab
      • Asma' dan 'Aisyahputri Abu Bakar; 'Aisyah ketika itu masih anak-anak
      • Khabbab bin al-Aratsekutu Bani Zuhrah. Ibnu Hisyam: ia berasal dari Bani Tamim; ada juga yang mengatakan dari Khuza'ah
      • 'Umair bin Abu Waqqashsaudara Sa'd bin Abu Waqqash
      • 'Abdullah bin Mas'udbin al-Harits bin Syamkhu bin Makhzum bin Shahilah bin al-Harits bin Tamim bin Sa'd bin Hudzail, sekutu Bani Zuhrah
      • Mas'ud al-QariMas'ud bin Rabi'ah bin 'Amr bin Sa'd, dari al-Qarah. Ibnu Hisyam: al-Qarah adalah julukan bagi mereka, kaum yang pandai memanah
      • Salith dan HathibSalith bin 'Amr bin 'Abdu Syams, beserta saudaranya Hathib bin 'Amr
      • 'Ayyasybin Abu Rabi'ah bin al-Mughirah bin 'Abdullah bin 'Umar bin Makhzum, beserta istrinya Asma' binti Salamah bin Mukharribah at-Tamimiyyah
      • Khunaisbin Hudzafah bin Qais bin 'Adi bin Su'aid bin Sahm
      • 'Amir bin Rabi'ahdari 'Anz bin Wa'il, sekutu keluarga besar al-Khaththab bin Nufail bin 'Abdul 'Uzza. Ibnu Hisyam: 'Anz adalah anak Wa'il, saudara Bakr bin Wa'il dari Rabi'ah bin Nizar
      • 'Abdullah bin Jahsybin Ri'ab bin Ya'mur bin Shabirah bin Murrah bin Kabir bin Ghanm bin Dudan bin Asad bin Khuzaimah, beserta saudaranya Abu Ahmad bin Jahsy, sekutu Bani Umayyah bin 'Abdu Syams
      • Ja'far bin Abdul Muthalib(tertulis demikian di terjemahan; di bagian 'Ali pada bab ini, Ja'far adalah anak Abu Thalib yang diasuh al-'Abbas, dan Haykal juga menyebutnya demikian) beserta istrinya, Asma' binti 'Umais bin an-Nu'man bin Ka'b bin Malik bin Quhafah dari Khats'am
      • Hathib bin al-Haritsbin Ma'mar bin Habib bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah, beserta istrinya Fathimah binti al-Mujallal, saudaranya Haththab bin al-Harits dan istrinya Fukaihah binti Yasar
      • Ma'mar bin al-Haritsbin Ma'mar bin Habib bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah
      • as-Saibbin 'Utsman bin Madz'un bin Habib bin Wahb
      • al-Muththalib bin Azharbin 'Abdu Manaf bin 'Abd bin al-Harits bin Zuhrah, beserta istrinya Ramlah binti Abu 'Auf bin Shubairah bin Su'aid bin Sa'd bin Sahm
      • an-NahhamNu'aim bin 'Abdullah, saudara Bani 'Adi bin Ka'b. Ibnu Hisyam: dinamai an-Nahham karena Rasulullah ﷺ bersabda, "Sungguh aku mendengar nahmnya (suara) Nu'aim di surga". Catatan penerjemah: riwayat Ibnu Sa'd dalam ath-Thabaqat (4/138) bersanad mursal, dan Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari (5/166) menyebutnya dari riwayat al-Waqidi yang lemah
      • 'Amir bin Fuhairahmantan budak Abu Bakar. Ibnu Hisyam: ia dilahirkan di al-Asdi, berkulit hitam, dan Abu Bakar membelinya dari mereka
      • Khalid bin Sa'idbin al-'Ash bin Umayyah bin 'Abdu Syams, beserta istrinya Umainah binti Khalaf bin As'ad dari Khuza'ah. Ibnu Hisyam: ada yang mengatakan Humainah binti Khalaf
      • Hathib bin 'Amrbin 'Abdu Syams bin 'Abdu Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisl bin 'Amir bin Luay
      • Abu Hudzaifahbin Rabi'ah, nama aslinya Muhasysyam (menurut Ibnu Hisyam) bin 'Utbah bin Rabi'ah bin 'Abdu Syams
      • Waqid bin 'Abdullahbin 'Abdu Manaf bin 'Arin bin Tsa'labah bin Yarbu' bin Hanzhalah bin Malik bin Zaid Manat bin Tamim, sekutu Bani 'Adi bin Ka'b. Ibnu Hisyam: semula Waqid dibawa Bahilah, lalu Bahilah menjualnya kepada Khaththab bin Nufail yang mengangkatnya sebagai anak. Ketika turun QS. al-Ahzab: 5, Waqid berkata, "Aku adalah Waqid bin 'Abdullah", seperti disampaikan Abu 'Amr al-Madani kepada Ibnu Hisyam
      • Empat bersaudaraKhalid, 'Amir, 'Aqil, dan Iyas dari Bani al-Bukair bin 'Abdu Yalail bin Nasyib bin Ghirah dari Bani Sa'd bin Laits bin Bakr bin 'Abdu Manat bin Kinanah, sekutu Bani 'Adi bin Ka'b
      • 'Ammarsekutu Bani Makhzum bin Yaqadzah. Ibnu Hisyam: 'Ammar bin Yasir adalah anak dari Madzhij
      • Shuhaib bin Sinansalah seorang dari an-Namr bin Qasith, sekutu Bani Taim bin Murrah

      Ibnu Ishaq menyebut mereka dengan kata "disusul" atau "diikuti", dan nasabnya ia sertakan satu per satu dalam bukunya. Di sini kami menuliskannya sebagaimana yang tercantum, dan sebagian rantai nasab yang panjang kami tuliskan hingga bagian awalnya saja supaya tetap bisa dibaca. Rantai lengkapnya ada di buku.

      Tentang Shuhaib, Ibnu Hisyam menambahkan: ada yang mengatakan Shuhaib adalah mantan budak 'Abdullah bin Jud'an bin 'Amr bin Ka'b bin Sa'd bin Taim, dan ada lagi yang berpendapat ia berasal dari negeri Romawi. Mereka yang mengatakan ia dari Bani an-Namr bin Qasith berpendapat bahwa awalnya Shuhaib menjadi tawanan perang di wilayah Romawi, lalu ia dibeli dari mereka. Dalam hadits disebutkan Rasulullah ﷺ bersabda tentang Shuhaib: "Shuhaib adalah orang Romawi yang terdepan (yang memeluk Islam)." Penyunting terjemahan menandai hadits ini sebagai lemah.

    8. Menyebar

      Islam mulai dibicarakan di Makkah

      Orang-orang masuk Islam sedikit demi sedikit, laki-laki maupun perempuan, hingga Islam menyebar dan menjadi bahan pembicaraan di Makkah. Rentang waktu sejak Rasulullah ﷺ merahasiakan perintah-Nya sampai Allah memerintahkan beliau menampakkannya adalah tiga tahun.

      Baca selengkapnya

      Setelah itu orang-orang masuk Islam, laki-laki maupun perempuan, secara bertahap, hingga wacana tentang Islam menyebar di Makkah dan menjadi bahan diskusi. Kemudian Allah memerintahkan Rasul-Nya menyampaikan risalah yang beliau bawa secara terbuka, memberitahukan perintah Allah kepada manusia, dan mengajak mereka kepada-Nya.1

      Rentang waktu antara Rasulullah ﷺ merahasiakan perintah-Nya hingga Allah memerintahkannya menampakkan perintah-Nya adalah tiga tahun, seperti berita yang sampai kepada Ibnu Ishaq. Kelanjutannya dibahas di bab berikutnya.

    Catatan

    1. Ibnu Ishaq.
    2. Tambahan Ibnu Hisyam.
    3. Catatan penerjemah: riwayat ini diriwayatkan ath-Thabari dalam Tarikh-nya (1/538) dan al-Baihaqi dalam ad-Dala'il nomor 465 dari Ibnu Ishaq, dengan sanad mursal.
    4. Catatan penerjemah: riwayat ini diriwayatkan ath-Thabari dalam Tarikh-nya (1/538), dengan sanad mursal.

    Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Khadijah sebagai orang pertama yang beriman dibahas di bab sebelumnya. Rantai nasab yang panjang kami ringkas pada bagian daftar; selengkapnya ada di buku.