Isi bab ini
Bab ini menceritakan awal kenabian: perjanjian Allah dengan para nabi, mimpi yang benar, kebiasaan menyendiri di Gua Hira', turunnya lima ayat pertama lewat Jibril, kata-kata Khadijah dan Waraqah, hingga wahyu terhenti lalu turun surat adh-Dhuha. Empat hal berikut gambaran awalnya.
Mimpi yang benar
Wahyu pertama berbentuk mimpi yang benar, laksana rekahan sinar pagi.
Bacalah!
Di Gua Hira', Jibril mendekap beliau tiga kali sebelum menyampaikan lima ayat pertama surat al-'Alaq.
Khadijah dan Waraqah
Khadijah menenangkan beliau, dan Waraqah bin Naufal menyebutnya nabi umat ini.
Adh-Dhuha
Setelah wahyu terhenti, Allah menurunkan surat adh-Dhuha untuk menenangkan beliau.
Makkah dan Gua Hira'
Pilih salah satu langkah di daftar yang menyertai peta. Titik-titiknya diambil dari Wikipedia. Garis putus-putus adalah perkiraan, karena buku menyebut asal dan tujuan tetapi tidak menyebut jalurnya.
Dari mimpi yang benar sampai surat adh-Dhuha
Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.
Soal usia dan tahun
Ibnu Hisyam menyebut usia Rasulullah ﷺ saat diutus adalah empat puluh tahun, di bulan Ramadhan. Padanan Masehi untuk wahyu pertama adalah 610 M.
- Diutus pada usia 40
Allah mengutus Muhammad ﷺ, dan perjanjian para nabi
Ketika berusia empat puluh tahun, Muhammad ﷺ diutus Allah sebagai rahmat bagi alam semesta dan pembawa kabar gembira bagi seluruh manusia. Sebelum itu Allah mengambil perjanjian dari seluruh nabi supaya mereka beriman kepada beliau, membenarkannya, menolongnya, dan menyampaikan hal itu kepada pengikut mereka (QS. Ali 'Imran: 81).

Mulut Gua Hira' di Jabal an-Nur, Makkah, keadaan sekarang (foto 2018).Foto: saudipics · CC BY-SA 4.0 · Wikimedia Commons Baca selengkapnya
Ketika Muhammad ﷺ berumur empat puluh tahun, Allah mengutusnya sebagai rahmat bagi alam semesta dan pembawa kabar gembira bagi seluruh manusia. Sebelum beliau diutus, Allah telah mengambil perjanjian kepada seluruh nabi supaya mereka beriman kepadanya, membenarkannya, dan menolongnya menghadapi orang-orang yang memusuhinya. Allah juga mengambil perjanjian dari mereka supaya mengabarkan hal itu kepada orang-orang beriman dan membenarkan mereka, sehingga kebenaran dapat ditegakkan.1
Allah berfirman kepada Muhammad ﷺ: "Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: 'Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.' Allah berfirman: 'Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?' Mereka menjawab: 'Kami mengakui.' Allah berfirman: 'Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu.'" (QS. Ali 'Imran: 81). Allah mengambil perjanjian dari semua nabi supaya mereka membenarkan Rasulullah ﷺ, menyertainya menghadapi orang-orang yang memusuhinya, dan menyampaikan perjanjian itu kepada orang-orang yang beriman kepada mereka, termasuk pengikut dua kitab suci, Taurat dan Injil.
- Mimpi yang benar
Wahyu pertama berupa mimpi, lalu suka menyendiri
Menurut 'Aisyah, wahyu pertama yang diterima Rasulullah ﷺ adalah mimpi yang benar, dan beliau selalu melihat mimpi itu laksana rekahan sinar pagi. Sejak itu Allah menjadikan beliau suka menyendiri (khalwat). Menurut beberapa orang berilmu, ketika beliau pergi jauh dari rumah-rumah untuk buang hajat, batu dan pohon mengucapkan salam kepadanya, tetapi beliau tidak melihat siapa pun kecuali pohon dan batu.
Baca selengkapnya
Az-Zuhri menyampaikan dari 'Urwah bin Zubair, dari 'Aisyah, bahwa 'Aisyah berkata kepada 'Urwah, "Sesungguhnya wahyu pertama yang diterima Rasulullah ﷺ, ketika Allah hendak memuliakannya dan memberi rahmat kepada hamba-hamba-Nya dengannya, ialah mimpi yang benar. Tidaklah beliau bermimpi dalam tidurnya kecuali pasti beliau melihatnya laksana rekahan sinar pagi." 'Aisyah berkata, "Mulai saat itu, Allah menjadikan Rasulullah ﷺ suka menyendiri, dan tidak ada pekerjaan yang lebih beliau sukai daripada menyendiri (khalwat)."1
'Abdul Malik bin 'Ubaidillah bin Abu Suf bin al-'Ala' bin Jariyah ats-Tsaqafi menyampaikan dari beberapa orang berilmu bahwa ketika Allah hendak memuliakan beliau dan menganugerahkan kenabian, dan beliau ingin keluar untuk buang hajat, beliau pergi ke tempat yang jauh dari rumah-rumah penduduk hingga berhenti di Syi'ab Makkah dan lembah-lembahnya. Tidaklah beliau melewati sebongkah batu dan sebatang pohon kecuali keduanya berkata, "Assalamu 'alaika ya Rasulullah." Beliau menoleh ke kanan, kiri, dan belakang, tetapi tidak melihat apa pun selain pohon dan batu. Keadaan itu, yaitu bermimpi dan mendengar salam, terus berlangsung hingga Jibril datang kepada beliau membawa kemuliaan dari Allah ketika beliau berada di Gua Hira' pada bulan Ramadhan yang mulia.1
- Tahannuts di Hira'
Sebulan tiap tahun menyendiri dan memberi makan orang miskin
Menurut 'Ubaid bin 'Umair al-Laitsi, Rasulullah ﷺ menyendiri di Gua Hira' selama sebulan setiap tahun. Itulah bentuk tahannuts yang dilakukan Quraisy pada zaman jahiliah, yang berarti membersihkan diri (tabarrur). Beliau memberi makan orang miskin yang datang, lalu pergi ke Ka'bah dan thawaf tujuh kali atau lebih sebelum pulang. Hal itu berlangsung sampai Allah mengutusnya pada bulan Ramadhan.
Baca selengkapnya
Wahb bin Kaisan, mantan budak keluarga Zubair, menyampaikan bahwa ia mendengar 'Abdullah bin Zubair berkata kepada 'Ubaid bin 'Umair bin Qatadah al-Laitsi, "Hai 'Ubaid, tuturkanlah kepada kami bagaimana keadaan Rasulullah ﷺ saat pertama kali menerima wahyu ketika Jibril datang kepadanya!" 'Ubaid berkata, saat itu ia hadir berbicara dengan 'Abdullah bin Zubair dan orang-orang di sekitarnya, "Rasulullah ﷺ menyendiri di Gua Hira' selama sebulan setiap tahunnya. Seperti itulah bentuk tahannuts yang dilakukan orang-orang Quraisy pada zaman jahiliah. Arti tahannuts adalah pembersihan diri (tabarrur)."1
Abu Thalib bersyair, "Demi Tsaur dan yang menggantikan Tsabir pada tempatnya, serta demi orang yang naik ke gunung Hira' dan menuruninya."1
Abu 'Ubaidah menyampaikan bahwa orang Arab mengatakan at-tahannuts dan at-tahannuf yang maksudnya al-hanafiyyah; mereka mengganti huruf fa' dengan tsa', sebagaimana mereka mengucapkan jadaf dan jadats yang sama-sama berarti kuburan, atau fumma sebagai ganti tsumma. Ia menyebut bait Ru'bah bin al-'Ajjaj sebagai contoh. Bait itu ada dalam kumpulan syair Ru'bah, sedangkan bait Abu Thalib akan dipaparkan pada tempatnya, insya Allah.2
Wahb bin Kaisan menyampaikan bahwa 'Ubaid berkata: pada bulan itu Rasulullah ﷺ berdiam diri di Gua Hira' sebagaimana biasa tiap tahun, dan beliau menyuguhkan makanan kepada orang-orang miskin yang datang. Usai itu, beliau pergi ke Ka'bah untuk thawaf tujuh kali atau lebih, baru pulang ke rumah. Begitulah terus berlangsung hingga Allah mengutusnya sebagai nabi pada bulan Ramadhan. Saat itu beliau berangkat ke Gua Hira' disertai istrinya.1
- Malam pertama wahyu
Jibril, kain sutra, dan lima ayat pertama
Pada malam itu, saat beliau tidur, Jibril mendatanginya membawa secarik kain sutra bertulisan dan berkata, "Bacalah!" Beliau menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Jibril mendekapnya dengan kain itu sampai beliau merasa seolah mati, melepasnya, dan mengulang perintah itu tiga kali. Lalu Jibril berkata: "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan..." (QS. al-'Alaq: 1-5). Beliau membacanya, dan Jibril pergi.
Baca selengkapnya
Rasulullah ﷺ bersabda, "Jibril mendatangiku saat aku tidur dengan membawa secarik kain sutra yang di dalamnya terdapat tulisan." Jibril berkata, "Bacalah!" Aku berkata, "Aku tidak bisa membaca." Jibril mendekapku dengan kain sutra itu hingga aku merasa seolah-olah sudah mati, kemudian melepasku dan berkata, "Bacalah!" Aku menjawab, "Apa yang mesti aku baca?" Jibril mendekapku lagi dengan kain sutra itu hingga aku merasa seolah-olah sudah mati, kemudian melepasku dan berkata, "Bacalah!" Aku berkata, "Apa yang mesti aku baca?" Jibril kembali mendekapku dengan sangat kencang hingga aku merasa seolah-olah sudah mati, kemudian melepasku dan berkata, "Bacalah!" Aku berkata, "Apa yang mesti aku baca?" Aku mengatakannya dengan harapan ia melepasku seperti sebelumnya. Lalu ia berkata, "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. al-'Alaq: 1-5).1
Beliau bersabda, "Aku pun apa yang ia baca (kalimat ini rusak dalam terjemahan, jadi kami tulis apa adanya). Setelah selesai, Jibril pergi meninggalkanku, dan aku bangun dari tidurku dan kurasakan ada sesuatu yang tertulis dalam hatiku."
- Suara dari langit
"Engkau utusan Allah, dan aku Jibril"
Ketika berada di tengah gunung, beliau mendengar suara dari langit bahwa beliau adalah utusan Allah dan suara itu Jibril. Beliau mendongak dan melihat Jibril dalam sosok laki-laki yang membentangkan kedua kakinya di ufuk langit. Ke arah mana pun beliau menoleh, Jibril ada di sana. Beliau berdiri terpana bagaikan patung, sampai Khadijah mengirim orang-orangnya mencari beliau sampai ke Makkah Atas dan mereka pulang tanpa hasil, lalu Jibril menghilang.
Baca selengkapnya
Beliau bersabda, "Lalu aku keluar dari Gua Hira'. Ketika berada di tengah-tengah gunung, tiba-tiba kudengar sebuah suara dari langit, 'Wahai Muhammad, engkau adalah utusan Allah, sedangkan aku adalah Jibril.' Aku dongakkan kepalaku ke langit, saat itu kulihat Jibril dalam sosok seorang laki-laki yang membentangkan kedua kakinya ke ufuk langit. Jibril berkata lagi, 'Wahai Muhammad, engkau adalah utusan Allah, sedangkan aku adalah Jibril.' Aku berdiri melihatnya di tempat bagaikan patung. Aku arahkan pandanganku ke ufuk langit yang lain, tidaklah aku mengarahkan pandanganku ke arah mana pun kecuali kulihat dia berada di sana. Aku berdiri diam terpana bagaikan patung, hingga akhirnya istriku Khadijah mengirim pelayan-pelayannya untuk mencariku. Mereka tiba di Makkah Atas dan kembali kepada Khadijah, sementara aku tetap berada di tempatku semula. Lalu ia menghilang dariku."
- Kata Khadijah
"Bergembiralah, dan kokohlah"
Beliau pulang menemui Khadijah dan berbaring di pangkuannya. Khadijah bertanya ke mana beliau semalam, karena ia mengutus orang-orangnya mencari sampai Makkah Atas. Setelah mendengar kisahnya, Khadijah berkata, "Suamiku, bergembiralah dan kokohlah. Demi Dzat yang jiwa Khadijah berada di tangan-Nya, kuharap engkau diangkat menjadi nabi untuk umat ini."
Baca selengkapnya
Beliau bersabda, "Aku pulang menemui istriku Khadijah, aku berbaring di pahanya bersandar merapat padanya. Khadijah berkata, 'Wahai suamiku, semalam kau ke mana saja? Aku telah mengirim orang-orangku mencarimu hingga mereka tiba di Makkah Atas, kemudian pulang dengan tangan hampa.' Maka kuceritakan kepada Khadijah peristiwa yang baru saja kualami. Khadijah berkata, 'Suamiku, bergembiralah dan kokohlah. Demi Dzat yang jiwa Khadijah berada di tangan-Nya, kuharap engkau diangkat menjadi nabi untuk umat ini.'"
- Waraqah bin Naufal
"Jibril yang dahulu datang kepada Musa"
Khadijah bangkit, merapikan pakaiannya, dan menemui sepupunya Waraqah bin Naufal, penganut Kristen yang mengkaji kitab-kitab dan banyak belajar dari Yahudi dan Kristen. Waraqah berkata bahwa jika cerita itu benar, beliau didatangi Jibril (Namus) yang dahulu datang kepada Musa, dan beliau nabi umat ini, serta meminta beliau bersabar. Ketika bertemu beliau saat thawaf, Waraqah berkata bahwa beliau pasti didustakan, disakiti, diusir, dan diperangi, dan jika ia masih hidup, ia akan menolong Allah dengan pertolongan yang diketahui-Nya. Waraqah mencium ubun-ubun beliau.
Baca selengkapnya
Khadijah bangkit, membereskan pakaiannya, lalu pergi ke kediaman Waraqah bin Naufal bin Asad bin 'Abdul 'Uzza bin Qushay, saudara sepupunya. Waraqah adalah penganut Kristen yang mengkaji kitab-kitab agama itu dan banyak belajar dari orang-orang Yahudi dan Kristen. Khadijah menyampaikan kepada Waraqah persis seperti yang dituturkan Rasulullah ﷺ, bahwa beliau melihat dan mendengar sesuatu. Waraqah berkata, "Quddus, Quddus! Demi Dzat yang jiwa Waraqah berada di tangan-Nya, jika semua yang engkau tuturkan benar, wahai Khadijah, sungguh dia telah didatangi Jibril (Namus) yang dahulu pernah datang kepada Musa. Dia nabi untuk umat ini. Katakan kepadanya agar ia bersabar."
Khadijah pulang menemui Rasulullah ﷺ dan menceritakan apa yang dikatakan Waraqah. Usai khalwat di Gua Hira', Rasulullah ﷺ beraktivitas seperti biasa. Beliau pergi ke Ka'bah lalu thawaf, dan di sana beliau bertemu Waraqah. Waraqah berkata, "Wahai sepupuku, tuturkanlah kepadaku apa yang engkau lihat dan dengar!" Rasulullah ﷺ menuturkannya. Waraqah berkata, "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh engkau nabi untuk umat ini. Sungguh Jibril yang dahulu pernah datang kepada Musa kini telah datang kembali kepadamu. Engkau pasti akan didustakan, disakiti, diusir, dan diperangi. Seandainya aku masih hidup pada hari itu, pasti aku menolong Allah dengan pertolongan yang diketahui-Nya." Waraqah kemudian mencium ubun-ubun beliau, dan beliau kembali ke rumah.3
- Menguji Jibril
Khadijah memastikan itu malaikat, bukan setan
Khadijah meminta beliau memberi tahu bila Jibril datang lagi. Ketika Jibril datang, Khadijah menyuruh beliau berbaring di paha kiri, paha kanan, lalu pangkuannya, dan beliau tetap melihat Jibril. Ketika Khadijah menanggalkan kerudungnya, beliau tidak melihatnya lagi. Khadijah berkata, "Wahai sepupuku, tabahlah dan bergembiralah. Demi Allah, dia adalah malaikat, bukan setan."
Baca selengkapnya
Isma'il bin Abu Hakim, mantan budak keluarga Zubair, menyampaikan dari Khadijah bahwa Khadijah berkata kepada Rasulullah ﷺ, "Wahai suami, bisakah engkau memberitahuku tentang sahabatmu (maksudnya Jibril) tatkala datang kepadamu?" Beliau menjawab, "Ya." Khadijah berkata, "Apabila ia datang lagi, tolong beritahu aku!" Tak lama kemudian Jibril datang seperti biasa. Beliau berkata, "Wahai istriku, ini Jibril, ia datang kepadaku." Khadijah berkata, "Suamiku, berdirilah dan berbaringlah di atas paha kiriku!" Beliau berbaring di paha kiri Khadijah. Khadijah bertanya, "Apakah engkau melihatnya?" "Ya." Khadijah berkata, "Pindahlah, berbaringlah di paha kananku!" Beliau berpindah ke paha kanan, dan masih melihatnya. Khadijah berkata, "Ganti posisimu dan berbaring di atas pangkuanku!" Beliau berbaring di pangkuan Khadijah dan masih melihatnya. Kemudian Khadijah menanggalkan pakaiannya dan kerudungnya, sedangkan beliau tetap berbaring di pangkuannya. Khadijah bertanya, "Masihkah engkau melihatnya?" Beliau menjawab, "Tidak." Khadijah berkata, "Wahai sepupuku, tabahlah dan bergembiralah. Demi Allah, dia adalah malaikat dan bukan setan."14
Ia pernah mewawancarai 'Abdullah bin Hasan tentang peristiwa itu. 'Abdullah berkata bahwa ia mendengar ibunya, Fathimah binti Husain, menceritakannya dari Khadijah, hanya saja ia mendengar ibunya berkata bahwa Khadijah memasukkan Rasulullah ﷺ ke dalam daster miliknya, dan saat itulah Jibril menghilang dari hadapan beliau. Khadijah berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya ini pasti malaikat, bukan setan."1
- Awal turunnya Al-Qur'an
Di bulan Ramadhan
Al-Qur'an pertama kali turun pada bulan Ramadhan, seperti disebut QS al-Baqarah: 185, al-Qadr: 1-5, dan ad-Dukhan: 1-5. QS al-Anfal: 41 menyebut "Hari Furqan", yaitu hari bertemunya dua pasukan, yang dimaksud adalah pertemuan Rasulullah ﷺ dengan kaum musyrikin di Perang Badar, pada Jumat dini hari tanggal 17 Ramadhan, menurut Abu Ja'far bin Muhammad bin 'Ali bin Husain.
Baca selengkapnya
Kali pertama Al-Qur'an turun kepada Rasulullah ﷺ adalah pada bulan Ramadhan. Allah berfirman: "(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)." (QS. al-Baqarah: 185).1
Allah berfirman: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar." (QS. al-Qadr: 1-5). Allah berfirman: "Ha Mim. Demi Kitab (Al-Qur'an) yang menjelaskan. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (Yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul." (QS. ad-Dukhan: 1-5).
Allah berfirman: "Jika kalian beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di Hari Furqan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan." (QS. al-Anfal: 41), yakni bertemunya Rasulullah ﷺ dengan kaum musyrikin di Perang Badar.
Abu Ja'far bin Muhammad bin 'Ali bin Husain berkata kepadanya bahwa Rasulullah ﷺ berperang melawan kaum musyrikin di Badar pada hari Jumat dini hari, tanggal 17 Ramadhan.1
- Beban kenabian
Bertahap, dan Khadijah yang pertama beriman
Wahyu turun bertahap, dan beliau beriman, membenarkan sepenuhnya, menerimanya dengan sepenuh jiwa, dan bersabar menanggung risikonya. Kenabian adalah beban berat yang hanya mampu dipikul orang yang kuat bertekad baja, dengan pertolongan Allah. Khadijah binti Khuwailid adalah wanita pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, sehingga beban beliau terasa ringan. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa beliau memberi kabar gembira kepada Khadijah berupa rumah dari qashab yang tidak ada suara riuh dan kelelahan di dalamnya.
Baca selengkapnya
Wahyu kemudian turun kepada Rasulullah ﷺ bertahap-tahap. Beliau beriman kepada Allah, membenarkan sepenuhnya apa yang datang kepadanya, menerimanya dengan sepenuh jiwa, dan bersabar menanggung semua risikonya, baik mendapat keridaan maupun kemarahan manusia. Kenabian adalah beban berat yang hanya mampu diemban orang yang kuat dan bertekad baja seperti para rasul, dengan pertolongan Allah dan taufik-Nya, dalam menghadapi gangguan manusia dan penolakan kaumnya terhadap apa yang mereka bawa dari Allah. Rasulullah ﷺ melangkah kokoh dan tegar menunaikan perintah Allah walau mendapat tantangan dan gangguan dari umatnya.1
Khadijah binti Khuwailid mengimani Rasulullah ﷺ, membenarkan seluruh yang beliau bawa dari Allah, dan memberikan dukungan sepenuhnya dalam melaksanakan perintah Allah. Khadijah adalah wanita pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta membenarkan apa yang beliau bawa. Dengan masuk Islamnya Khadijah, beban Rasulullah ﷺ semakin ringan. Jika beliau mendengar umpatan dan caci maki yang membuatnya sedih, Allah menghilangkan kesedihan itu melalui Khadijah ketika beliau kembali kepadanya. Khadijah memotivasi beliau, meringankan bebannya, membenarkannya, dan menganggap remeh reaksi negatif manusia terhadap beliau. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Khadijah.1
Hisyam bin 'Urwah menyampaikan dari ayahnya, 'Urwah bin Zubair, dari 'Abdullah bin Ja'far bin Abu Thalib, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Aku membawa kabar gembira kepada Khadijah berupa rumah dari qashab yang di dalamnya tidak ada suara riuh dan kelelahan."1
- Salam dari Allah
Jibril menyampaikan salam untuk Khadijah
Menurut seorang ahli terpercaya yang disebut Ibnu Hisyam, Jibril berkata kepada Rasulullah ﷺ, "Sampaikan kepada Khadijah salam dari Tuhannya." Beliau menyampaikannya, dan Khadijah menjawab, "Allah adalah as-Salam, dari-Nya salam, dan salam juga atas Jibril."
Baca selengkapnya
Seorang ahli terpercaya berkata kepadanya bahwa Jibril berkata kepada Rasulullah ﷺ, "Sampaikan kepada Khadijah salam dari Tuhannya." Beliau bersabda, "Wahai Khadijah, ini Jibril menyampaikan salam dari Tuhanmu." Khadijah berkata, "Allah adalah as-Salam, dari-Nya salam, dan salam juga atas Jibril."26
- Wahyu terhenti
Surat adh-Dhuha menenangkan beliau
Wahyu kemudian terputus dari Rasulullah ﷺ sehingga beliau sedih. Jibril lalu membawa surat adh-Dhuha, yang berisi sumpah Allah bahwa Dia tidak meninggalkan dan tidak membenci beliau, bahwa akhir lebih baik daripada permulaan, bahwa Allah kelak memberi karunia sampai beliau puas, serta mengingatkan bahwa Allah mendapati beliau yatim lalu melindungi, bingung lalu memberi petunjuk, dan kekurangan lalu memberi kecukupan.
Baca selengkapnya
Kemudian wahyu terputus dari Rasulullah ﷺ sehingga rasa sedih melanda beliau. Setelah itu Jibril mengunjungi beliau dengan membawa surat adh-Dhuha, yang di dalamnya Allah bersumpah kepada beliau bahwa Dia tidak akan meninggalkannya dan tidak membencinya. Allah berfirman: "Demi waktu matahari sepenggalahan naik. Dan demi malam apabila telah sunyi. Tuhanmu tidak meninggalkan kamu dan tiada benci kepadamu." (QS. adh-Dhuha: 1-3), yakni Tuhanmu tidak membiarkanmu, tidak meninggalkanmu, tidak membencimu sejak Dia mencintaimu.1
"Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan." (QS. adh-Dhuha: 4), yakni kembalimu kepada-Ku jauh lebih baik daripada kenikmatan yang Aku berikan kepadamu di dunia. "Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu kamu menjadi puas." (QS. adh-Dhuha: 5), yakni engkau puas dengan keberuntungan di dunia dan ganjaran di akhirat. "Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan." (QS. adh-Dhuha: 6-8). Melalui ayat-ayat itu Allah mengabarkan kemuliaan yang Dia karuniakan kepada Rasulullah ﷺ di dunia, juga karunia-Nya saat beliau yatim, miskin, tersesat, dan Allah menyelamatkan semua itu dengan rahmat-Nya.
Ibnu Hisyam menjelaskan arti kata dalam surat itu. Sajaa berarti senyap, dengan contoh bait Umayyah bin Abu ash-Shalt ats-Tsaqafi, dan jika kelopak mata diam disebut sajiyah, dengan contoh bait Jarir bin al-Khathafa. Al-'ailu berarti fakir, dengan contoh bait Abu Khirasy al-Hudzali, dengan bentuk jamak 'alah atau 'uyyal.
Ibnu Hisyam menambahkan bahwa al-'ail juga berarti orang yang menanggung beban dan orang yang penakut, seperti dalam QS. an-Nisa': 3, dengan contoh bait Abu Thalib tentang neraca keadilan. Ia juga menyebut arti sesuatu yang memberatkan dan melelahkan, dengan contoh bait al-Farazdaq. Seluruh bait syair itu ia janjikan dipaparkan lengkap di tempatnya.
Allah berfirman: "Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta maka janganlah kamu menghardiknya." (QS. adh-Dhuha: 9-10), yakni janganlah engkau menyombongkan diri, berbuat keji, dan berucap kasar kepada hamba Allah yang lemah. "Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)." (QS. adh-Dhuha: 11), yakni nikmat Allah dan kemuliaan berupa kenabian yang Allah karuniakan kepadamu hendaklah engkau jelaskan dan engkau ajak orang lain kepadanya.
Rasulullah ﷺ menjelaskan nikmat-nikmat yang Allah berikan kepadanya dan kepada hamba-hamba Allah yang lain secara diam-diam, termasuk keluarganya yang ia merasa aman dan percaya (kalimat ini kurang jelas dalam terjemahan).
Catatan
- Ibnu Ishaq.
- Tambahan Ibnu Hisyam.
- Catatan penerjemah: riwayat 'Ubaid bin 'Umair ini mursal; diriwayatkan ath-Thabrani dalam Tarikh-nya (1/535) dan al-Baihaqi dalam ad-Dala'il nomor 451. Disebutkan oleh al-Bukhari bahwa Nabi bermimpi, dan disebutkan oleh Muslim tentang orang yang lahir di zamannya bahwa Rasulullah tidak bermimpi. Ia termasuk seorang tabiin. Dengan demikian haditsnya mursal.
- Catatan penerjemah: riwayat ath-Thabrani (1/533) dan al-Baihaqi nomor 453 dari Ibnu Ishaq dengan sanad mursal.
- Catatan penerjemah: hadits shahih riwayat Imam Ahmad nomor 1758 dan al-Hakim nomor 4849, dinyatakan shahih dan dikuatkan adz-Dzahabi, serta punya penguat dalam Shahihain dari hadits 'Aisyah, Abu Hurairah, dan Ibnu Abi 'Awfa.
- Catatan penerjemah: riwayat ath-Thabrani dalam al-Kabir nomor 18979 dan al-Haitsami dalam al-Majma' nomor 15273. Dalam sanadnya ada Muhammad bin al-Hasan bin Zabalah, perawi yang dikenal lemah.
Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Padanan Masehi dalam tanda kurung bukan dari Ibnu Hisyam, melainkan dari buku-buku pembanding. Orang-orang pertama yang masuk Islam dibahas di bab berikutnya.