Pusat Sejarah Islam
Bab 14 dari 55

Menjelang kenabian: Hums, Yahudi & Salman

Menjelang kenabian, tanda-tandanya makin terasa: tradisi Hums, pelemparan bintang, kabar dari kaum Yahudi, kisah Salman al-Farisi mencari kebenaran, dan empat orang yang mencari agama Ibrahim.

menjelang kenabianSumber: Ibnu Hisyam
Sekilas

Isi bab ini

Bab ini mengumpulkan kabar-kabar menjelang kenabian: tradisi Hums yang dibuat Quraisy, pembicaraan para dukun, rabi, dan pendeta tentang nabi yang dekat, kisah panjang Salman al-Farisi mencari kebenaran, dan empat orang Quraisy yang mencari agama Ibrahim. Empat hal berikut gambaran awalnya.

Tradisi Hums

Quraisy tidak wukuf di 'Arafah dan membuat aturan haji sendiri, yang kelak dihapus Islam.

Bintang dilemparkan

Menjelang kenabian, setan dihalangi mencuri berita langit dengan lemparan panah api.

Salman al-Farisi

Dari penjaga api Majusi di Persia sampai Madinah, mengikuti pesan para uskup.

Empat pencari

Waraqah, 'Ubaidillah, 'Utsman, dan Zaid meninggalkan berhala dan mencari agama Ibrahim.

Peta

Perjalanan Salman al-Farisi

Pilih salah satu langkah di daftar yang menyertai peta. Titik-titiknya diambil dari Wikipedia. Garis putus-putus adalah perkiraan, karena buku menyebut asal dan tujuan tetapi tidak menyebut jalurnya. Ujung panah ke Syam hanya penanda arah, bukan kota.

Perjalanan Salman al-Farisi
Tempat yang disebut Ibnu HisyamPerjalanan (garis perkiraan)
Batas negara masa kini hanya patokan.
    Alur kisah

    Dari Hums sampai kabar dalam Injil

    Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.

    1. Al-Hums

      Quraisy membuat aturan haji sendiri

      Quraisy menciptakan Al-Hums, aturan agama buatan mereka. Karena merasa sebagai penduduk tanah haram, mereka tidak wukuf di 'Arafah dan tidak bertolak darinya, dan mereka melarang makanan serta pakaian dari luar tanah haram dipakai saat thawaf. Aturan ini kemudian dihapus Islam: Allah menurunkan QS al-Baqarah: 199 dan al-A'raf: 31-32.

      Peziarah menaiki tangga menuju Jabal Rahmah di 'Arafah
      Jabal Rahmah di dataran 'Arafah, keadaan sekarang (foto 2019).Foto: Fahad Faisal · CC BY-SA 4.0 · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Orang-orang Quraisy dahulu, ia tidak tahu pasti apakah sebelum atau sesudah Tahun Gajah, membuat bid'ah agama yang dinamakan al-Hums. Mereka berkata, "Kami adalah anak-anak keturunan Ibrahim, penduduk tanah haram, penguasa Ka'bah, penjaga dan penghuni Makkah. Tidak ada seorang Arab pun yang memiliki hak sebagaimana hak kami, tidak ada pula yang memiliki kedudukan seperti kedudukan kami, dan tidak ada orang Arab yang lebih dikenal daripada kami. Karena itu janganlah mengagungkan sedikit pun tanah halal sebagaimana kalian mengagungkan tanah haram. Sebab jika kalian melakukannya, orang-orang Arab akan merendahkan kehormatan kalian."1

      Mereka tidak wukuf di 'Arafah dan tidak bertolak darinya, padahal mereka tahu dan mengakui bahwa wukuf di 'Arafah dan bertolak darinya termasuk syiar haji dan agama Ibrahim. Mereka berpandangan bahwa bagi semua orang non-Quraisy, wajib wukuf di 'Arafah dan bertolak darinya. Mereka berkata, "Kami penduduk tanah haram, karena itu kami terus berada di dalamnya, dan kami tidak rela mengagungkan tanah halal seperti halnya tanah haram. Kami adalah al-Hums, dan al-Hums adalah penduduk tanah haram." Kemudian mereka menentukan bahwa orang-orang Arab yang lahir dari mereka di tanah haram dan sekitarnya mempunyai hak yang sama dengan mereka.

      Kinanah dan Khuza'ah masuk dalam kesepakatan dengan Quraisy dalam bid'ah al-Hums ini.1

      Abu 'Ubaidah an-Nahwi menyampaikan bahwa Bani 'Amir bin Sha'sha'ah bin Mu'awiyah bin Bakr bin Hawazin sependapat dengan Quraisy dalam al-Hums. Ia lalu memaparkan keterangan tentang Perang Jablah, antara Bani Handzalah bin Malik bin Zaid bin Manat bin Tamim dan Bani 'Amir bin Sha'sha'ah, yang dimenangkan Bani 'Amir, serta pertemuan mereka kembali di Dzu Najab, yang dimenangkan Handzalah. Keterangan itu menjelaskan syair yang tidak ada di terjemahan yang kami pakai.2

    2. Aturan thawaf

      Pakaian al-Laqa' dan thawaf tanpa busana

      Quraisy melarang penduduk Makkah membuat mentega atau memasak minyak saat ihram, dan melarang tamu dari tanah halal makan makanan yang mereka bawa. Tamu hanya boleh thawaf pertama dengan pakaian penduduk Hums. Bila tidak mendapat pakaian itu, mereka thawaf telanjang, dan pakaian yang dibawa dari tempat asal harus dibuang setelah thawaf (al-Laqa'). Islam menghapus semua itu, dan menetapkan wukuf di 'Arafah dalam sunnah haji.

      Baca selengkapnya

      Orang-orang Quraisy menciptakan banyak hal yang belum ada contohnya. Mereka berkata, "Penduduk tanah suci Makkah tidak boleh membuat mentega, tidak boleh memasak minyak selama mereka ihram, tidak memasuki rumah yang terbuat dari dedaunan, dan tidak berteduh kecuali di rumah-rumah dari kulit ketika ihram." Mereka lalu berkata, "Penduduk tanah halal tidak boleh menyantap makanan yang mereka bawa dari tanah halal ke tanah haram jika hendak menunaikan haji atau umrah. Jika tiba di Makkah, mereka tidak boleh thawaf pertama kecuali dengan pakaian penduduk Hums. Jika tidak mendapatkannya, mereka thawaf di sekitar Ka'bah dengan telanjang. Jika ada orang dermawan, laki-laki atau perempuan, yang tidak mendapatkan pakaian penduduk Makkah lalu thawaf dengan pakaiannya sendiri, ia harus membuang pakaian itu usai thawaf, tidak boleh memanfaatkannya, dan tidak boleh disentuh siapa pun untuk selama-lamanya."1

      Orang-orang Arab menyebut pakaian itu al-Laqa'. Aturan aneh ini diterapkan kepada seluruh orang Arab, dan mereka patuh. Mereka wukuf di 'Arafah, berangkat dari sana, dan thawaf di Ka'bah dengan telanjang. Laki-laki thawaf telanjang bulat. Perempuan melepas seluruh pakaiannya kecuali sehelai yang berlubang di depan dan belakang, lalu thawaf dengan pakaian itu. Seorang perempuan Arab berkata ketika thawaf dengan pakaian seperti ini bahwa pada hari itu tampak sebagian atau semuanya, dan apa yang tampak darinya tidak ia halalkan. Seorang Arab lain, yang teringat pakaiannya yang harus ditinggalkan setelah thawaf padahal sangat ia sukai, bersyair tentang kesedihannya karena harus kembali kepadanya, seperti pakaian al-Laqa' yang kini dimanfaatkan orang-orang yang thawaf.

      Keadaan ini berlangsung lama hingga Allah mengutus Muhammad ﷺ sebagai nabi. Ketika Allah hendak memantapkan agama-Nya dan mensyariatkan aturan haji-Nya, Ia menurunkan: "Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. al-Baqarah: 199). Yang dimaksud "an-Nas" dalam ayat itu adalah orang-orang Arab. Rasulullah ﷺ lalu menetapkan dalam sunnah haji untuk pergi ke 'Arafah, wukuf di sana, dan bertolak darinya.

      Allah juga menurunkan ayat yang menyinggung aturan Quraisy yang melarang manusia makan dan berpakaian di Baitullah saat thawaf dengan telanjang dan mengharamkan apa yang Allah halalkan: "Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Katakanlah: 'Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?' Katakanlah: 'Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat.' Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui." (QS. al-A'raf: 31-32). Allah menghapus al-Hums dan bid'ah Quraisy itu dengan Islam ketika Dia mengutus Muhammad ﷺ sebagai Rasul-Nya.

      'Abdullah bin Abu Bakr bin Muhammad bin 'Amr bin Hazm menyampaikan dari 'Utsman bin Abu Sulaiman bin Jubair bin Muth'im, dari pamannya Nafi' bin Jubair, dari ayahnya, Jubair bin Muth'im, yang berkata, "Aku melihat Rasulullah ﷺ, sebelum wahyu turun kepada beliau, wukuf di atas untanya di 'Arafah hingga beliau berangkat dari sana. Itulah petunjuk Allah kepada beliau."1

    3. Kabar dari rabi, pendeta, dan dukun

      Setan dihalangi, bintang dilemparkan

      Rabi Yahudi, pendeta Kristen, dan dukun Arab membicarakan Rasulullah ﷺ sebelum kenabian beliau. Rabi dan pendeta menemukan ciri beliau dalam kitab mereka, sedangkan dukun mendapat kabar curian dari setan jin. Ketika masa kenabian makin dekat, setan dihalangi mencuri berita langit dan dilempari panah-panah api. Jin pun sadar ada urusan besar, dan Allah mengabarkannya dalam QS al-Jin dan al-Ahqaf.

      Baca selengkapnya

      Para rabi Yahudi, pendeta Kristen, dan dukun Arab membicarakan Rasulullah ﷺ sebelum kenabian beliau, karena masa kenabian sudah semakin dekat. Rabi Yahudi dan pendeta Kristen membicarakannya karena mereka mendapati ciri-ciri beliau dan ciri zamannya dalam kitab-kitab mereka, sesuai dengan wasiat para nabi mereka. Dukun-dukun Arab didatangi setan dari bangsa jin yang membawa berita curian, sebab saat itu setan tidak dihalangi mencuri berita langit. Dukun laki-laki dan perempuan tiada henti membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan Rasulullah ﷺ, tetapi orang-orang Arab tidak peduli, sampai Allah mengutus beliau dan ramalan-ramalan itu menjadi kenyataan. Saat itulah mereka baru memahaminya.1

      Ketika masa kenabian semakin dekat, setan-setan dihalangi mencuri kabar langit dan dijauhkan dari tempat-tempat duduk yang dahulu mereka tempati. Mereka dilempari panah-panah api. Saat itulah jin sadar bahwa pelemparan itu pasti karena satu urusan besar yang ditetapkan Allah atas hamba-hamba-Nya. Allah berfirman kepada Nabi-Nya tentang para jin saat mereka dihalangi mencuri kabar langit, bahwa mereka kemudian tahu dan tidak mengingkari apa yang mereka saksikan: "Katakanlah (hai Muhammad): 'Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur'an)', lalu mereka berkata: 'Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur'an yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya...'" (QS. al-Jin: 1-10, yang juga memuat kata jin bahwa mereka dahulu menduduki beberapa tempat di langit untuk mendengar berita, tetapi kini menjumpai penjagaan kuat dan panah api).

      Setelah mendengar Al-Qur'an, para jin tahu bahwa mereka kini terhalang mendengar kabar langit agar wahyu tidak tercampur dengan berita langit yang membuat manusia ragu tentang apa yang datang dari Allah, karena Al-Qur'an diturunkan sebagai hujah dan pemangkas keraguan. Jin-jin itu pun beriman dan membenarkan. Mereka pulang kepada kaumnya memberi peringatan: "Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur'an) yang telah diturunkan sesudah Musa, yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan memimpin kepada kebenaran dan jalan yang lurus." (QS. al-Ahqaf: 29-30).

      Ibnu Ishaq juga menyebut ayat QS. al-Jin: 6, bahwa ada beberapa laki-laki dari manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, sehingga jin menambah dosa dan kesalahan mereka. Jika seorang Arab, dari Quraisy atau lainnya, melakukan perjalanan dan bermalam di sebuah lembah, ia berkata, "Aku meminta perlindungan penguasa lembah ini dari jin malam ini, dari kejahatan yang ada di dalamnya."

      Ibnu Hisyam menambahkan penjelasan arti kata ar-rahaq: tindakan melampaui batas (zalim) dan kebodohan, juga berarti mencari sesuatu hingga dekat lalu mengambil atau meninggalkannya, dan beban berat yang dipikulkan kepada orang lain. Ia mengutip bait Ru'bah bin al-'Ajjaj dan ayat QS. al-Kahfi: 80 dan 73 sebagai contoh pemakaian kata itu.

    4. Lemparan bintang

      Tsaqif, 'Amr bin Umayyah, dan sabda Nabi

      Perkampungan Tsaqif adalah orang Arab pertama yang khawatir saat bintang-bintang dilemparkan. Mereka bertanya kepada 'Amr bin Umayyah dari Bani 'Ilaj, yang berkata bahwa bila yang jatuh adalah bintang penunjuk jalan dan musim maka itu kebinasaan dunia, tetapi bila bukan maka itu kehendak Allah. Rasulullah ﷺ kemudian menjelaskan kepada kaum Anshar bahwa kabar langit dicuri setan dan sampai ke dukun, sebagian benar dan sebagian salah, sampai Allah menghalangi setan dengan bintang.

      Baca selengkapnya

      Ya'qub bin 'Utbah bin al-Mughirah bin al-Akhnas menceritakan bahwa orang Arab yang pertama kali khawatir ketika bintang-bintang dilemparkan adalah perkampungan Tsaqif. Mereka datang kepada seseorang bernama 'Amr bin Umayyah dari Bani 'Ilaj, orang Arab yang pintar dan ramalannya selalu tepat, dan bertanya, "Wahai 'Amr, tidakkah engkau melihat lontaran bintang-bintang di langit?" Ia menjawab, "Benar, aku telah melihatnya. Perhatikanlah bintang-bintang itu. Jika yang dilemparkan adalah bintang yang dipakai sebagai penunjuk jalan di daratan dan lautan, dan untuk mengenali musim panas dan musim hujan yang mendatangkan kemaslahatan hidup manusia, maka ketahuilah, demi Allah, itu kebinasaan dunia dan kehancuran makhluk di dalamnya. Jika bintang-bintang itu selain itu dan tetap di tempatnya semula, maka itu sesuatu yang Allah kehendaki untuk makhluk-Nya. Lalu apa itu?"1

      Muhammad bin Muslim bin Syihab az-Zuhri menyampaikan dari 'Ali bin al-Husain bin 'Ali bin Abu Thalib, dari 'Abdullah bin 'Abbas, dari beberapa orang Anshar, bahwa Rasulullah ﷺ bertanya kepada mereka, "Bagaimana pandangan kalian tentang bintang yang digunakan untuk melempar (setan)?" Mereka menjawab, "Wahai Nabi Allah, dahulu bila kami melihat bintang itu dilempar, kami berkata: seorang raja telah wafat, seorang raja telah diangkat, seorang anak telah lahir, seorang bayi telah wafat." Beliau bersabda, "Tidak demikian. Jika Allah menetapkan sesuatu atas makhluk-Nya, hal itu didengar para malaikat pemikul 'Arsy, lalu mereka bertasbih dan bertasbihlah siapa yang di bawah mereka, hingga tasbih bergema sampai langit dunia. Mereka bertanya satu sama lain mengapa bertasbih, dan terus bertanya ke atas sampai kepada malaikat pemikul 'Arsy. Para malaikat pemikul 'Arsy berkata, 'Allah telah menetapkan perkara ini dan itu atas makhluk-Nya', lalu kabar itu merambat dari langit ke langit sampai langit dunia. Saat mereka memperbincangkannya, setan-setan mencuri dengar dengan prasangka dan salah tangkap, lalu membawanya kepada dukun-dukun di bumi. Dukun membicarakan apa yang mereka peroleh dari setan, dan kadang salah, kadang benar." Kemudian Allah menghalangi setan dengan bintang-bintang yang dilemparkan kepada mereka, sehingga terhentilah perdukunan sampai hari ini.13

    5. Kisah para dukun

      Al-Ghaithalah, dukun Janb, dan dukun yang bertemu 'Umar

      Ibnu Ishaq menyebut beberapa kisah dukun. Al-Ghaithalah dari Bani Sahm mendapat ucapan misterius dari jin sahabatnya, yang baru dipahami Quraisy setelah Perang Badar dan Uhud. Dukun dari kabilah Janb di Yaman mengabarkan bahwa Allah memilih Muhammad, tetapi beliau tak lama tinggal di tengah mereka. Seorang bekas dukun menceritakan kepada 'Umar suara jin sebulan sebelum Islam datang, dan 'Umar sendiri bercerita tentang suara dari perut lembu betina yang menyerukan Laa ilaaha illallah.

      Baca selengkapnya

      Sebagian pakar bertutur kepadanya bahwa seorang wanita dari Bani Sahm bernama al-Ghaithalah dikenal sebagai dukun wanita pada zaman jahiliah. Pada suatu malam, jin sahabatnya datang menemuinya, menjungkirkan apa yang ada di bawah sang dukun, dan berkata ucapan yang oleh terjemahan ditulis tidak jelas. Ketika orang-orang Quraisy mendengarnya mereka bertanya apa maksudnya. Pada malam lain, jin itu kembali merobohkan apa yang ada di bawah al-Ghaithalah sambil berkata, "Apakah kematian itu? Di dalamnya Ka'b tewas terbaring." Ketika hal ini terdengar Quraisy, mereka berkata, "Apa maksud ucapannya? Apa yang dikatakannya pasti suatu saat terjadi. Perhatikan apa yang akan terjadi!" Mereka tidak memahami maksud ucapan jin itu hingga terjadinya Perang Badar dan Uhud di Syi'b. Saat itulah mereka mengerti bahwa itulah maksudnya.1

      Al-Ghaithalah berasal dari Bani Murrah bin 'Abdu Manat bin Kinanah, saudara Mudlij bin Murrah. Ia ibu dari al-Ghayathil yang disebut Abu Thalib dalam syairnya. Anak-anaknya disebut al-Ghayathil, yaitu Bani Sahm bin 'Amr bin Hushaish. Bait syair Abu Thalib itu akan dipaparkan lengkap pada tempatnya, insya Allah.2

      'Ali bin Naf' al-Jurasyi menyampaikan bahwa Janb, satu kabilah di Yaman, mempunyai seorang dukun pada zaman jahiliah. Ketika kabar tentang Rasulullah ﷺ menyebar, kabilah Janb berkata kepada dukun itu, "Coba perhatikan dengan cermat tentang orang tersebut." Mereka berkumpul di lereng gunung menunggu dukun itu. Ketika matahari terbit, dukun itu turun, berdiri bersandar pada busur panahnya, mengangkat kepalanya ke langit sangat lama, lalu melompat dan berkata, "Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah memuliakan dan memilih Muhammad serta menyucikan hati dan isi perutnya, namun ia tak lama tinggal di tengah-tengah kalian." Setelah itu dukun itu kembali naik ke gunung.1

      Seseorang yang tidak ia ragukan kredibilitasnya menyampaikan dari 'Abdullah bin Ka'b, mantan budak 'Utsman bin 'Affan, bahwa 'Utsman berkata: ketika 'Umar bin al-Khaththab duduk bersama para sahabat di masjid Rasulullah ﷺ, masuklah seorang Arab yang ingin bertemu 'Umar. Melihatnya, 'Umar berkata, "Sungguh orang ini ada padanya kesyirikan dan dia tidak akan berpisah dengannya", atau mungkin ia dahulu seorang dukun. Orang itu memberi salam dan duduk. 'Umar bertanya, "Apakah engkau telah memeluk Islam?" "Ya, wahai Amirul Mukminin." "Apakah pada zaman jahiliah engkau pernah menjadi dukun?" Orang itu berkata, "Maha Suci Allah, wahai Amirul Mukminin, bagaimana engkau bisa tahu?" 'Umar berkata, "Ya Allah, ampunilah orang ini. Sesungguhnya pada zaman jahiliah kami lebih buruk dari itu. Kami menyembah berhala, sampai akhirnya Allah memuliakan kami dengan Rasul-Nya dan agama Islam." Orang itu membenarkan bahwa dahulu ia seorang dukun. 'Umar meminta, "Tolong jelaskan hal yang paling menakjubkan yang dibawa jin sahabatmu." Ia menjawab, "Sebulan atau kurang sebelum Islam datang, ia mendatangiku seraya berkata: tidakkah engkau perhatikan para jin yang diam seribu bahasa, yang dilanda putus asa dari agamanya, dan kepergiannya pada unta muda bersama alas pelananya?" Ibnu Hisyam berkata bahwa ucapan itu sajak, bukan syair.1

      'Abdullah bin Ka'b berkata: kemudian 'Umar berkata kepada orang-orang, "Demi Allah, pada zaman jahiliah aku pernah berada di sisi sebuah patung bersama beberapa orang Quraisy. Seorang Arab menyembelih sapi betina sebagai persembahan untuk patung itu. Kami menunggu bagian dari sapi yang ia sembelih. Tiba-tiba terdengar suara dari perut sapi itu, dan aku tidak pernah mendengar suara yang lebih keras. Itu terjadi sebulan atau kurang sebelum Islam datang. Suara itu berkata: 'Hai Dzarih, persoalan yang tepat, dan orang yang berseru Laa ilaaha illallah.'"

      Dikatakan yang berseru itu orang yang berteriak dengan suara fasih mengucapkan Laa ilaaha illallah. Sebagian ahli syair juga membacakan syair kepadanya tentang kekaguman pada jin dan kebingungannya, serta ikatannya pada unta dengan pelananya, yang bergerak ke Makkah mencari petunjuk. Ibnu Ishaq menutup: inilah kabar yang mereka ketahui tentang para dukun Arab.24

    6. Yahudi menanti nabi

      "Telah dekat kemunculan seorang nabi"

      Orang-orang dari kaum Anshar bercerita bahwa selain rahmat Allah, yang membuat mereka tertarik pada Islam adalah ucapan orang Yahudi. Bila terjadi konflik, orang Yahudi mengancam bahwa akan muncul nabi yang akan menyertai mereka membunuh kaum musyrik seperti kaum 'Ad dan Iram. Ketika Rasulullah ﷺ diutus, kaum Anshar beriman, sedangkan orang Yahudi tetap kafir. Allah menurunkan QS al-Baqarah: 89 tentang hal itu.

      Baca selengkapnya

      'Ashim bin 'Umar bin Qatadah menyampaikan dari beberapa orang kaumnya, "Sesungguhnya faktor yang membuat kami tertarik memeluk Islam, selain rahmat dan petunjuk Allah, adalah karena kami mendengar perkataan orang-orang Yahudi. Kami musyrik dan penyembah berhala, sedangkan mereka Ahli Kitab. Mereka punya ilmu yang tidak kami miliki. Konflik terus terjadi antara kami dan mereka. Jika kami mendapat dari mereka apa yang tidak kami sukai, mereka berkata, 'Sesungguhnya kini telah dekat kemunculan seorang nabi, dan bersama nabi itu kami akan membunuh kalian seperti pembunuhan terhadap 'Ad dan Iram.' Sangat sering kami mendengar ucapan itu. Karena itu, ketika Allah mengutus Rasul-Nya dan beliau menyeru kepada agama Allah, kami langsung menyambutnya. Kami paham ancaman orang Yahudi itu, sehingga segera menghadap Nabi dan beriman kepada beliau, sedangkan mereka tetap kafir." Allah menurunkan firman-Nya di surat al-Baqarah tentang mereka: "Dan setelah datang kepada mereka Al-Qur'an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu." (QS. al-Baqarah: 89).1

      yastaftihuun berarti meminta pertolongan atau meminta kepastian hukum, sebagaimana dalam QS. al-A'raf: 89.2

    7. Salamah dan tetangga Yahudi

      Hari kiamat dan nabi dari Makkah dan Yaman

      Salamah bin Salamah bin Waqqasy, peserta Perang Badar, bercerita bahwa seorang tetangga Yahudi di Bani 'Abdul Asyhal berkhotbah tentang kebangkitan, hisab, surga, dan neraka kepada kaum musyrik yang tidak percaya. Ia berkata bahwa tanda nabi itu adalah "nabi yang diutus dari negeri-negeri ini", sambil menunjuk ke arah Makkah dan Yaman, dan bahwa anak muda Salamah mungkin berjumpa dengannya. Setelah Nabi diutus, Salamah beriman, tetapi orang Yahudi itu ingkar karena dengki.

      Baca selengkapnya

      Shalih bin Ibrahim bin 'Abdurrahman bin 'Auf menyampaikan dari Mahmud bin Labid, saudara Bani 'Abdul Asyhal, dari Salamah bin Salamah bin Waqqasy, salah seorang peserta Perang Badar: "Kami punya tetangga seorang Yahudi di Bani 'Abdul Asyhal. Suatu ketika ia keluar dari rumahnya menemui kami dan berdiri di hadapan Bani 'Abdul Asyhal. Akulah anak yang paling muda di antara yang hadir. Aku mengenakan jubah kecil dan tidur-tiduran di halaman keluargaku. Orang Yahudi itu berkhotbah tentang hari kiamat, kebangkitan, hisab amal, neraca, surga, dan neraka kepada orang-orang musyrik penyembah patung yang tidak percaya kebangkitan setelah mati. Mereka berkata, 'Dasar kau, apakah engkau mengira manusia akan dibangkitkan di sebuah negeri yang di dalamnya ada surga dan neraka, lalu diberi balasan sesuai amal?' Ia menjawab, 'Ya, demi Dzat yang dengannya aku bersumpah. Seseorang pada hari itu akan berharap andai sebagai ganti neraka ia dimasukkan ke dalam tungku terbesar di dunia ini, lalu ditutup rapat dan dilumuri, asalkan selamat dari api neraka.' Mereka bertanya, 'Lalu apa tandanya?' Ia berkata, 'Seorang nabi yang diutus dari negeri-negeri ini,' sambil menunjuk dengan tangannya ke arah Makkah dan Yaman. Mereka bertanya, 'Kapan itu terjadi?' Ia menoleh kepadaku, anak paling muda yang hadir, dan berkata, 'Jika umur anak muda ini panjang, niscaya ia berjumpa dengan nabi itu.'"1

      Salamah berkata, "Demi Allah, malam dan siang bergulir sampai Allah mengutus Muhammad ﷺ sebagai Rasul-Nya, sementara orang Yahudi itu hidup di tengah kami. Kami beriman kepada beliau, sedangkan ia ingkar karena dengki dan hasad di dadanya. Kami berkata, 'Bukankah engkau yang berkata demikian dan demikian kepada kami?' Ia menjawab, 'Ya, benar, namun nabi itu bukan yang kami maksudkan.'"

    8. Ibnu al-Hayyaban

      Yahudi dari Syam yang menanti nabi di negeri kurma

      Seorang Yahudi dari Syam bernama Ibnu al-Hayyaban tinggal di tengah Bani Hadl dua tahun sebelum Islam datang. Ia dikenal shalat dengan baik, dan doanya meminta hujan dikabulkan setelah mereka bersedekah. Menjelang wafat ia berkata bahwa ia datang untuk menanti nabi yang telah dekat dan negeri ini akan menjadi tempat hijrahnya. Ketika Rasulullah ﷺ mengepung Bani Quraizhah, anak-anak muda yang dulu masih kecil menyebut bahwa inilah nabi yang dikabarkan Ibnu al-Hayyaban, dan mereka masuk Islam sehingga darah, harta, dan keluarga mereka terlindungi.

      Baca selengkapnya

      'Ashim bin 'Umar bin Qatadah menyampaikan dari seorang tetua Bani Quraizhah yang bertanya, "Apakah engkau tahu tentang keislaman Tsa'labah bin Sa'yah, Usaid bin Sa'yah, dan Asad bin 'Ubaid?" Mereka orang Bani Quraizhah, sahabat Bani Hadl pada zaman jahiliah, yang kemudian menjadi pemimpin pada zaman Islam. Orang-orang Bani Hadl berkata, "Seorang Yahudi dari Syam bernama Ibnu al-Hayyaban datang kepada kami dua tahun sebelum Islam datang dan tinggal bersama kami. Demi Allah, kami belum pernah melihat orang yang shalat lima waktu lebih baik daripadanya. Jika kami ditimpa kekeringan dan hujan tidak turun, kami berkata, 'Keluarlah, wahai Ibnu al-Hayyaban, dan mohonkan hujan untuk kami.' Ia menjawab, 'Tidak, demi Allah, sampai kalian mengeluarkan sedekah.' Kami bertanya berapa jumlahnya, ia menjawab satu sha' kurma atau dua mud gandum. Kami bersedekah, lalu ia ikut keluar kampung dan berdoa agar hujan turun. Demi Allah, belum lama ia beranjak dari duduknya, mendung telah berarak dan menurunkan hujan. Ia lakukan ini bukan hanya sekali, dua, atau tiga kali."1

      'Ashim berkata: saat menjelang wafat di tengah mereka dan tahu ajalnya dekat, ia berkata, "Wahai orang-orang Yahudi, menurut kalian apa yang membuat aku keluar dari negeri minuman keras dan roti ke negeri yang penuh derita dan kelaparan?" Mereka menjawab, "Engkau lebih tahu daripada kami." Ibnu al-Hayyaban berkata, "Aku datang ke negeri ini untuk menanti diutusnya seorang nabi yang telah dekat kedatangannya. Negeri ini adalah tempat hijrah nabi itu. Aku berharap ia telah diutus lalu aku mengikutinya, karena masa kemunculannya telah dekat. Karena itu, bersegeralah, jangan sampai ada orang yang mendahului kalian, wahai orang-orang Yahudi, sebab ia diutus dengan menumpahkan darah dan menawan anak-anak dan wanita siapa saja yang menentangnya. Janganlah kalian menjauh darinya."

      Pada saat Rasulullah ﷺ mengepung Bani Quraizhah, anak-anak muda yang dulu masih kecil berkata, "Wahai Bani Quraizhah, demi Allah, inilah nabi yang diceritakan Ibnu al-Hayyaban kepada kalian." Mereka menjawab, "Bukan dia!" Anak-anak muda itu berkata, "Demi Allah, dialah nabi itu dengan semua ciri-cirinya." Mereka pun masuk Islam, sehingga darah, harta, dan keluarga mereka terlindungi.

      Itulah berita tentang orang-orang Yahudi yang sampai kepadanya.1

    9. Salman (1)

      Dari penjaga api Majusi menuju gereja

      Salman al-Farisi bercerita langsung kepada 'Abdullah bin 'Abbas. Ia orang Persia dari desa Jayyu di daerah Asfahah, putra tokoh desa yang sangat menyayanginya sampai mengurungnya di rumah. Ia sangat serius pada agama Majusi dan menjadi penjaga api. Suatu hari, dalam perjalanan ke ladang ayahnya, ia mendengar ibadah orang Kristen di gereja dan terpikat. Ayahnya mengikatnya dan mengurungnya, tetapi ia mengirim pesan kepada orang Kristen agar mengabari bila ada rombongan dari Syam.

      Baca selengkapnya

      'Ashim bin 'Umar bin Qatadah al-Anshari menyampaikan dari Mahmud bin Labid, dari 'Abdullah bin 'Abbas, bahwa Salman al-Farisi berkata kepadanya, dan ia mendengarnya langsung dari mulut Salman: "Aku orang Persia, berasal dari sebuah desa bernama Jayyu di daerah Asfahah. Ayahku tokoh di desaku, dan akulah anak yang paling dicintainya. Ia begitu mencintaiku sampai mengurungku di rumah seperti anak gadis. Aku demikian serius menganut agama Majusi hingga menjadi penjaga api yang harus senantiasa menyala dan tidak boleh padam sesaat pun. Ayahku memiliki ladang yang luas."1

      Suatu ketika ayahnya sibuk dengan urusan bangunan dan berkata, "Anakku, hari ini ayah sibuk dengan urusan bangunan ini sampai tidak sempat mengurusi ladang. Pergilah ke ladang!" Ia memerintahkan beberapa hal yang harus dikerjakan, lalu berkata, "Janganlah terlambat pulang, sebab engkau lebih berarti bagiku daripada ladangku." Salman berkata: "Aku berjalan menuju ladang ayahku. Dalam perjalanan aku melewati sebuah gereja milik orang Kristen, dan mendengar suara mereka beribadah. Aku tidak tahu banyak tentang kehidupan manusia karena aku dikurung di rumah. Aku masuk untuk melihat apa yang mereka kerjakan, dan aku mengagumi shalat mereka. Aku berkata, 'Demi Tuhan, agama mereka jauh lebih baik daripada agama yang kupeluk. Demi Tuhan, aku tidak akan meninggalkan mereka sampai matahari terbenam.' Aku membatalkan perjalanan ke ladang ayahku. Aku bertanya kepada mereka, 'Dari mana asal agama ini?' Mereka menjawab, 'Dari Syam.'"

      Ketika ia pulang, ayahnya telah mengutus orang mencarinya sehingga tidak mengerjakan pekerjaannya. Ayahnya bertanya ke mana saja ia pergi. Salman menjawab bahwa ia kagum pada agama orang yang beribadah di gereja dan berada di sana sampai matahari terbenam. Ayahnya berkata, "Wahai ananda, tidak ada kebaikan apa pun pada agama itu! Agamamu dan agama nenek moyangmu jauh lebih baik." Salman menjawab, "Tidak! Demi Tuhan, agama mereka lebih baik." Setelah itu ayahnya mengkhawatirkannya, mengikatnya, dan mengurungnya di rumah.

      Salman mengirim seseorang kepada orang Kristen itu dan berpesan, "Bila ada rombongan dari Syam datang kepada kalian, kabari aku." Tidak lama kemudian datang pedagang-pedagang Kristen dari Syam. Salman meminta agar diizinkan ikut bersama mereka ketika mereka pulang. Saat mereka berencana kembali, mereka memberinya kabar. Ia membuang rantai dari kakinya dan pergi bersama mereka hingga tiba di Syam. Di sana ia bertanya siapa yang paling utama ilmunya di antara pemeluk agama itu, dan mereka berkata, "Uskup di gereja."

    10. Salman (2)

      Uskup jahat, uskup baik, lalu pesan-pesan terakhir

      Salman mengabdi kepada uskup di Syam, yang ternyata jahat: ia menyuruh umat bersedekah lalu menyimpan hasilnya sendiri, tujuh kendi penuh emas dan perak. Setelah uskup itu wafat, Salman menunjukkan tempat simpanannya, dan umat menolak menguburkannya, malah menyalib dan melemparinya dengan batu. Uskup pengganti sangat baik dan Salman mencintainya. Menjelang wafat, uskup itu menyuruh Salman pergi kepada seorang uskup di al-Maushil, yang kemudian mengarahkannya ke Nashibin, lalu ke 'Ammuriyah di wilayah Romawi.

      Baca selengkapnya

      Salman berkata: "Setibanya di Syam, aku mendatangi uskup itu dan berkata, 'Aku sangat tertarik pada agama ini. Aku ingin bersamamu, melayanimu di gerejamu, agar bisa belajar ilmu darimu dan beribadah bersamamu.' Uskup berkata, 'Masuklah!' Namun ia ternyata orang yang jahat. Ia memerintahkan umatnya bersedekah dan senantiasa menyeru mereka melakukannya, tetapi bila sedekah terkumpul, ia menyimpannya untuk dirinya sendiri dan tidak menyerahkannya kepada orang miskin, sampai ia mengumpulkan tujuh kendi penuh emas dan perak. Aku sangat marah. Tak lama kemudian uskup itu wafat. Ketika orang-orang Kristen berkumpul untuk menguburkannya, aku berkata, 'Orang ini jahat. Ia menyuruh kalian bersedekah, tetapi bila kalian serahkan, ia menyimpannya untuk dirinya sendiri.' Mereka bertanya bagaimana aku tahu. Kujawab, 'Aku tunjukkan tempat simpanannya.' Mereka mengeluarkan tujuh tempayan penuh emas dan perak, dan berkata, 'Demi Allah, kami tidak akan mengubur mayat uskup ini.' Mereka menyalibnya dan melemparinya dengan batu. Setelah itu mereka menunjuk uskup pengganti."

      Salman berkata: "Aku belum pernah melihat orang shalat lima waktu yang lebih utama daripada uskup baru itu, lebih zuhud terhadap dunia, lebih mencintai akhirat, dan lebih tekun siang dan malam. Aku mencintainya dengan cinta yang tiada tandingnya dan tinggal bersamanya lama sekali sampai kematian menghampirinya. Aku berkata, 'Wahai fulan, aku mencintaimu dengan cinta yang tiada terkira. Kini seperti yang engkau saksikan telah datang keputusan Tuhan kepadamu. Kepada siapa engkau titipkan aku?' Ia menjawab, 'Anakku, demi Allah, aku tidak tahu seperti apa diriku sesungguhnya. Banyak orang meninggal, mengubah agamanya, dan meninggalkan tradisi yang dulu mereka kerjakan, kecuali satu orang di al-Maushil, si fulan. Ia melakukan seperti yang kulakukan. Susullah dia ke sana!'"

      Salman berkata: "Setelah uskup itu wafat dan dikuburkan, aku pergi kepada uskup di al-Maushil dan berkata bahwa uskup fulan berwasiat agar aku menemuinya. Ia berkata, 'Tinggallah bersamaku.' Ia seorang yang baik persis seperti yang diceritakan sahabatnya. Tak lama kemudian ia wafat. Menjelang wafatnya, aku bertanya kepada siapa ia mewasiatkanku. Ia berkata, 'Anakku, demi Allah, yang aku tahu hanya ada satu orang yang seperti kita, di Nashibin, si fulan. Pergilah kepadanya!'" Setelah uskup itu wafat dan dikuburkan, Salman menemui uskup di Nashibin, menjelaskan keadaannya dan wasiat kedua sahabatnya. Ia berkata, "Tinggallah bersamaku," dan Salman mendapati ia seperti sahabatnya, orang terbaik. Tak lama kemudian ajal menjemputnya. Ia berkata, "Anakku, demi Allah, yang aku tahu hanya ada satu orang yang masih seperti kita, di 'Ammuriyah wilayah Romawi. Ia masih seperti kita. Jika engkau suka, temuilah dia."

    11. Salman (3)

      'Ammuriyah: nabi yang ditunggu

      Salman menemui uskup di 'Ammuriyah, tinggal bersamanya, dan bekerja sampai memiliki sapi dan kambing. Menjelang wafat, uskup itu berkata bahwa ia tidak tahu apakah masih ada orang seperti mereka, tetapi telah dekat kedatangan seorang nabi yang diutus dengan agama Ibrahim dan akan muncul di negeri Arab. Tempat hijrahnya di antara dua tanah berbatu hitam dengan banyak pohon kurma. Tanda-tandanya: menerima hadiah tetapi tidak menerima sedekah, dan di antara kedua bahunya ada stempel kenabian.

      Baca selengkapnya

      Salman berkata: "Uskup Nashibin pun wafat dan dikuburkan. Aku pergi kepada uskup di 'Ammuriyah, menjelaskan siapa diriku, dan ia berkata, 'Tinggallah bersamaku.' Aku tinggal bersama orang yang sangat baik, sesuai arahan sahabat-sahabatnya. Aku bekerja sampai memiliki sejumlah sapi dan kambing. Tak lama kemudian uskup itu wafat. Menjelang wafatnya, aku bertanya, 'Aku pernah tinggal bersama fulan lalu ia berwasiat agar aku menemui fulan, dan seterusnya sampai kepadamu. Kini kepada siapa engkau mewasiatkanku? Apa yang engkau perintahkan kepadaku?' Uskup berkata, 'Anakku, demi Allah, aku tidak tahu apakah kini masih ada orang yang seperti kita yang bisa kuperintahkan engkau menemuinya. Namun telah dekat kedatangan seorang nabi. Ia diutus dengan membawa agama Ibrahim 'alaihis salam dan akan muncul di negeri Arab. Tempat hijrahnya daerah di antara dua tanah berbatu hitam, dan di antara keduanya terdapat banyak pohon kurma. Nabi itu mempunyai tanda-tanda yang tidak mungkin disembunyikan: ia menerima hadiah dan tidak menerima sedekah, dan di antara kedua bahunya ada stempel kenabian. Jika engkau sanggup pergi ke negeri itu, pergilah!'"

      Salman berkata: "Uskup itu wafat dan dikebumikan, dan aku tetap tinggal di 'Ammuriyah beberapa lama. Kemudian sekelompok pedagang lewat. Aku berkata, 'Bawalah aku ke negeri Arab dan akan kuberikan sapi dan kambingku ini kepada kalian!' Mereka setuju. Aku berikan sapi dan kambingku, dan mereka membawaku. Tetapi ketika tiba di lembah al-Qura, mereka berbuat zalim dengan menjualku sebagai budak kepada seorang Yahudi. Aku tinggal bersama orang Yahudi itu dan melihat pohon kurma. Aku berharap negeri inilah yang diisyaratkan sahabatku, tetapi aku tidak yakin sepenuhnya."

    12. Salman (4)

      Tiba di Madinah dan bertemu Rasulullah ﷺ

      Saudara sepupu tuan Salman dari Bani Quraizhah di Madinah membelinya dan membawanya ke Madinah, yang sifat-sifatnya persis seperti dijelaskan sahabatnya. Ketika Rasulullah ﷺ diutus dan hijrah ke Madinah, Salman mendengar kabar dari sepupu tuannya yang menyebut bahwa Bani Qailah berkumpul di Quba' menyambut seorang lelaki dari Makkah yang dikatakan nabi. Salman menemui beliau di Quba' dengan sedekah, yang beliau tidak makan; lalu hadiah di Madinah, yang beliau makan; lalu di Baqi' al-Gharqad ia melihat stempel kenabian di punggung beliau, mencium beliau sambil menangis, dan menceritakan kisahnya.

      Baca selengkapnya

      Salman berkata: "Ketika aku tinggal bersama orang Yahudi itu, datanglah saudara sepupunya dari Bani Quraizhah di Madinah. Ia membeliku dari sepupunya lalu membawaku ke Madinah. Demi Allah, begitu aku melihat Madinah, aku lihat persis sifat-sifat seperti yang dijelaskan sahabatku. Aku tinggal di sana. Saat itu Rasulullah ﷺ diutus sebagai nabi dan menetap di Makkah beberapa waktu, sementara aku tidak mendapat kabar tentang beliau karena sibuk dengan pekerjaanku sebagai budak. Tak lama kemudian Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah."

      Salman berkata: "Aku sedang berada di atas pohon kurma mengerjakan tugas rutin untuk tuanku, yang duduk di bawahku. Tiba-tiba sepupunya datang dan berdiri di depannya dan berkata, 'Hai fulan, semoga Allah menghancurkan Bani Qailah. Demi Allah, mereka sekarang berkumpul di Quba' menyambut kedatangan seorang lelaki dari Makkah, dan mereka mengatakan bahwa ia seorang nabi.'"

      Qailah adalah putri Kahil bin 'Udzrah bin Sa'd bin Zaid bin Laits bin Sud bin Aslum bin Ilhaf bin Qadha'ah, ibu al-Aus dan al-Khazraj. An-Nu'man bin Basyir al-Anshari memuji al-Aus dan al-Khazraj dalam syairnya sebagai tuan-tuan dari anak-anak Qailah yang tak seorang pun sanggup menandingi mereka dalam kesulitan, lapang dada, dan pahlawan yang suka keramahan.2

      Salman berkata: "Ketika mendengar ucapannya, aku gemetar seolah akan jatuh. Aku turun dari pohon kurma dan bertanya kepada sepupu tuanku, 'Apa yang engkau katakan tadi?' Ia berkata, 'Apa urusanmu dengan perkara ini? Tuntaskan pekerjaanmu!' Aku berkata, 'Tidak ada apa-apa.' Aku hanya ingin memastikan apa yang ia ucapkan."

      Salman berkata: "Aku punya sesuatu yang telah kusiapkan. Sore hari aku mengambilnya dan pergi menemui Rasulullah ﷺ di Quba'. Aku berkata, 'Aku mendapat kabar bahwa engkau orang yang shalih. Engkau punya sahabat-sahabat asing yang membutuhkan bantuan. Ini ada beberapa barang yang kusiapkan untuk sedekah buatmu. Aku anggap kalian lebih berhak daripada selain kalian.' Aku serahkan sedekah itu, lalu beliau berkata kepada sahabat-sahabatnya, 'Makanlah.' Beliau menahan tangannya dan tidak makan sedikit pun. Aku bergumam, 'Ini tanda pertama.' Aku mohon izin, lalu menghimpun barang lain, sementara Rasulullah ﷺ telah pindah ke Madinah. Aku datang kepada beliau dan berkata, 'Aku lihat engkau tidak memakan sedekah. Terimalah hadiah khusus dariku untukmu.' Beliau memakan hadiahku dan menyuruh sahabat-sahabatnya ikut makan. Aku bergumam, 'Ini tanda kedua.'"

      Salman berkata: "Setelah itu aku mendatangi Rasulullah ﷺ di Baqi' al-Gharqad. Saat itu beliau sedang mengantar jenazah seorang sahabat. Aku telah mengetahui dua tanda kenabian pada beliau. Beliau duduk di antara sahabat-sahabatnya, dan aku mengucapkan salam. Aku sengaja memposisikan diri di belakang beliau karena ingin melihat punggungnya, apakah ada stempel kenabian seperti yang dijelaskan sahabatku. Ketika Rasulullah ﷺ melihatku berada di belakang, beliau tahu bahwa aku sedang mencari sifat yang pernah dijelaskan sahabatku. Beliau menanggalkan kainnya dari punggung, dan saat itulah aku melihat stempel kenabian. Aku berbalik ke depan beliau, menciumnya sambil menangis. Rasulullah ﷺ bersabda, 'Berbaliklah!' Aku berbalik dan duduk menghadap beliau, lalu menceritakan semua peristiwa yang terjadi padaku, sebagaimana kuceritakan kepadamu, wahai Ibnu 'Abbas. Rasulullah ﷺ ingin agar kisahku ini diketahui oleh sahabat-sahabatnya." Setelah itu Salman disibukkan statusnya sebagai budak sehingga tidak ikut Perang Badar dan Uhud bersama Rasulullah ﷺ.5

    13. Salman (5)

      Bebas dari perbudakan: tiga ratus kurma dan emas

      Rasulullah ﷺ menyuruh Salman menulis perjanjian kebebasan dengan tuannya: menanam tiga ratus pohon kurma dan memberi empat puluh uqiyyah emas. Para sahabat membantu dengan bibit kurma sesuai kemampuan, hingga terkumpul tiga ratus bibit. Rasulullah ﷺ menanam sendiri bibit-bibit itu, dan tak satu pun mati. Kemudian beliau datang membawa emas sebesar telur ayam dari tambang, menyuruh Salman membayar utangnya, dan setelah ditimbang beratnya tepat empat puluh uqiyyah. Salman merdeka, ikut Perang Khandaq, dan tidak pernah melewatkan satu perang pun sesudahnya.

      Baca selengkapnya

      Salman berkata: Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku, "Tulislah perjanjian kebebasan dirimu dari perbudakan dengan membayar sejumlah uang, wahai Salman!" Aku menuliskan kesepakatan pembebasan diriku dari tuanku dengan membayar tiga ratus pohon kurma yang akan kutanam untuknya dan emas empat puluh uqiyyah. Rasulullah ﷺ bersabda kepada para sahabat, "Bantulah saudara kalian ini!" Ada yang memberi tiga puluh bibit kurma, ada yang dua puluh, ada yang lima belas, ada yang sepuluh, masing-masing sesuai kemampuan, hingga terkumpul tiga ratus bibit. Rasulullah ﷺ bersabda, "Pergilah, hai Salman, galilah lubang untuk bibit-bibit ini. Jika telah selesai, temui aku, agar tanganku sendiri yang meletakkan bibit ini ke dalamnya."

      Salman berkata: "Aku menggali lubang dengan dibantu sahabat-sahabatku. Setelah selesai, aku memberi tahu Rasulullah ﷺ. Beliau pergi bersamaku ke lubang-lubang itu. Kami memberikan bibit kepada beliau, dan beliau memasukkannya ke dalam lubang dengan tangannya sendiri sampai penanaman selesai. Tidak ada satu pun bibit yang mati. Aku merawatnya, dan aku masih punya tanggungan utang uang. Tak lama kemudian Rasulullah ﷺ datang membawa emas sebesar telur ayam dari sebuah tambang. Beliau bersabda, 'Apa yang dilakukan orang Persia yang hendak memerdekakan dirinya dengan perjanjian membayar sejumlah uang?' Aku dipanggil. Beliau bersabda, 'Ambillah emas ini dan bayarlah utangmu, wahai Salman!' Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, bagaimana emas ini bisa melunasi semua utangku?' Beliau bersabda, 'Ambillah, karena Allah akan melunasi utangmu dengannya.' Aku mengambil dan menimbangnya, dan beratnya ternyata empat puluh uqiyyah. Aku membayar utangku kepada tuanku dengan emas itu, sehingga aku merdeka. Aku lalu ikut Perang Khandaq bersama Rasulullah ﷺ sebagai orang merdeka, dan sesudahnya aku tidak pernah melewatkan satu medan perang pun."

      Yazid bin Abu Habib menyampaikan dari seseorang dari 'Abdul Qais, dari Salman, bahwa ketika ia bertanya bagaimana emas itu bisa melunasi utangnya, Rasulullah ﷺ mengambil emas itu dan membolak-baliknya di depan wajahnya, lalu bersabda, "Ambillah emas ini, hai Salman, dan bayar utangmu dengannya!" Salman membayar utangnya penuh, empat puluh uqiyyah.16

    14. Salman (6)

      Orang di antara dua hutan, dan sabda Nabi

      Ibnu Ishaq juga menyampaikan riwayat bahwa uskup 'Ammuriyah sempat menyuruh Salman menemui seorang lelaki di Syam yang hidup di antara dua hutan, yang bergantian keluar dari satu hutan ke hutan lain tiap tahun dan mendoakan orang sakit hingga sembuh. Ketika Salman menanyakan hanifiyyah agama Ibrahim, ia menjawab bahwa telah dekat zaman nabi yang diutus dengan agama itu dari tanah suci. Rasulullah ﷺ bersabda, "Hai Salman, jika yang kamu ceritakan ini benar, sungguh engkau telah bertemu dengan 'Isa bin Maryam."

      Baca selengkapnya

      'Ashim bin 'Umar bin Qatadah menyampaikan, dari orang yang tidak ia ragukan kredibilitasnya, dari 'Umar bin 'Abdul 'Aziz bin Marwan, bahwa ia diberi tahu dari Salman, yang menceritakan riwayat hidupnya kepada Rasulullah ﷺ, bahwa pendeta 'Ammuriyah berkata kepadanya, "Pergilah ke daerah ini dan itu di wilayah Syam, karena di sana ada seorang laki-laki yang hidup di antara dua hutan. Setiap tahun ia keluar dari satu hutan ke hutan lainnya karena senantiasa ditunggu orang-orang yang sakit. Setiap kali ia mendoakan seseorang dari mereka, orang itu sembuh. Tanyakan kepadanya tentang agama yang engkau cari, niscaya ia menjelaskannya kepadamu."1

      Salman berkata: "Aku pergi ke tempat yang dijelaskan sahabatku. Di sana orang-orang berkumpul membawa keluarga mereka yang sakit. Pada suatu malam orang itu keluar dari satu hutan ke hutan lain, dibuntuti banyak orang. Jika ia mendoakan orang sakit, orang itu sembuh. Mereka lebih cepat sampai kepadanya daripada aku, sehingga aku tidak bisa mendekat hingga ia masuk ke hutan yang ia tuju. Aku mengikutinya. Ia bertanya, 'Siapa engkau ini sebenarnya?' dan menoleh kepadaku. Kukatakan, 'Semoga Tuhan merahmatimu. Katakan padaku tentang hanifiyyah, agama Ibrahim!' Ia berkata, 'Engkau menanyakan sesuatu yang tidak ditanyakan siapa pun hari ini. Telah dekat zaman datangnya nabi yang diutus dengan agama itu dari tanah suci. Pergilah kepadanya, pasti ia membawamu kepada agamanya!' Kemudian ia masuk."

      Rasulullah ﷺ bersabda kepada Salman, "Hai Salman, jika apa yang kamu ceritakan ini benar, sungguh engkau telah bertemu dengan 'Isa bin Maryam." Semoga salam terlimpah pada Nabi kita dan 'Isa bin Maryam.17

    15. Empat pencari

      Mereka menjauhi berhala dan mencari agama Ibrahim

      Suatu ketika Quraisy berkumpul di sisi salah satu patung mereka untuk hari raya tahunan. Empat orang di antara mereka tidak ikut: Waraqah bin Naufal, 'Ubaidillah bin Jahsy, 'Utsman bin al-Huwairits, dan Zaid bin 'Amr bin Nufail. Mereka saling berpesan agar belajar karena kaum mereka tidak berada di jalan yang benar, dan bahwa batu yang mereka thawafi tidak mendengar, melihat, memberi madharat, atau manfaat. Mereka lalu menyebar ke berbagai negeri mencari agama Ibrahim yang lurus.

      Lapangan Naqsh-e Jahan di Isfahan, Iran, dengan taman dan serambi berlengkung
      Lapangan Naqsh-e Jahan di Isfahan, Iran, keadaan sekarang (foto 2016). Ini gambaran kota Isfahan hari ini, bukan bangunan di zaman yang diceritakan bab ini.Foto: Bernard Gagnon · CC BY-SA 4.0 · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Suatu ketika orang-orang Quraisy mengadakan pertemuan di sisi salah satu patung mereka. Mereka mengagungkannya, menyembelih kurban untuknya, duduk berdoa di sampingnya, dan thawaf di sekelilingnya. Itulah hari raya mereka setiap tahun. Mereka melakukan ritual itu, kecuali empat orang. Salah seorang dari mereka berkata kepada sahabat-sahabatnya, "Bersahabatlah kalian, dan hendaklah sebagian dari kalian merahasiakan dirinya dari sebagian yang lain." Mereka berkata, "Baiklah!"1

      Keempat orang itu adalah Waraqah bin Naufal bin Asad bin 'Abdul 'Uzza bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'b bin Luay; 'Ubaidillah bin Jahsy bin Ri'ab bin Ya'mar bin Shabrah bin Murrah bin Kabir bin Ghanm bin Dudan bin Asad bin Khuzaimah, yang ibunya Umaimah binti 'Abdul Muththalib; 'Utsman bin al-Huwairits bin Asad bin 'Abdul 'Uzza bin Qushay; dan Zaid bin 'Amr bin Nufail bin 'Abdul 'Uzza bin 'Abdullah bin Qurth bin Riyah bin Razah bin 'Adi bin Ka'b bin Luay.

      Sebagian dari mereka berkata kepada yang lain, "Demi Allah, belajarlah kalian, karena kaum kalian tidak berada pada kondisi yang bisa diandalkan. Mereka telah menyeleweng dari agama nenek moyang mereka, Ibrahim. Batu yang kita thawafi itu hanyalah batu yang tidak mendengar, tidak melihat, tidak bisa memberi madharat, dan tidak bisa memberi manfaat. Wahai kaum, carilah satu agama untuk diri kalian, sebab kalian tidak berada pada sesuatu yang benar." Lalu mereka menyebar ke berbagai negeri untuk menemukan agama Ibrahim yang lurus (hanifiyyah).

    16. Nasib mereka

      Waraqah, 'Ubaidillah, dan 'Utsman

      Waraqah masuk Kristen dan mempelajari kitab Ahli Kitab. 'Ubaidillah bin Jahsy mencari agama yang lurus hingga masuk Islam dan ikut hijrah ke Habasyah bersama istrinya, Ummu Habibah binti Abu Sufyan, tetapi di Habasyah ia masuk Kristen dan wafat dalam keadaan Kristen. Setelah itu Rasulullah ﷺ menikahi Ummu Habibah. 'Utsman bin al-Huwairits menemui Kaisar, raja Romawi, lalu masuk Kristen dan mendapat kedudukan terhormat.

      Baca selengkapnya

      Waraqah bin Naufal masuk Kristen dan mempelajari kitab-kitab Ahli Kitab sampai memperoleh ilmu dari mereka. 'Ubaidillah bin Jahsy mencari agama yang lurus hingga masuk Islam dan hijrah bersama kaum Muslimin ke Habasyah, disertai istrinya, Ummu Habibah binti Abu Sufyan, yang juga telah masuk Islam. Namun setibanya di Habasyah ia masuk Kristen dan keluar dari Islam. Ia wafat di Habasyah dalam keadaan Kristen.

      Muhammad bin Ja'far bin Zubair menceritakan bahwa setelah murtad, 'Ubaidillah berjalan melewati para sahabat Rasulullah ﷺ di Habasyah dan berkata, "Kami telah melihat, sedangkan kalian sedang berusaha melihat tetapi tidak akan pernah bisa melihat." Kata sha'sha'a dipakai karena jika anak anjing hendak membuka kedua matanya untuk melihat, ia takut melihat.1

      Setelah 'Ubaidillah bin Jahsy wafat, Rasulullah ﷺ menikahi Ummu Habibah binti Abu Sufyan, istri 'Ubaidillah. Muhammad bin 'Ali bin Husain menyampaikan bahwa Rasulullah ﷺ mengutus 'Amr bin Umayyah adh-Dhamri menghadap Najasyi, lalu Najasyi melamarkan Ummu Habibah untuk beliau dan menikahkannya dengan beliau, dengan mahar empat ratus dinar. 'Abdul Malik bin Marwan menetapkan mahar perempuan empat ratus dinar berdasarkan mahar Rasulullah ﷺ kepada Ummu Habibah. Yang menjadi wakil Rasulullah ﷺ dalam pernikahan itu adalah Khalid bin Sa'id bin al-'Ash.1

      'Utsman bin al-Huwairits menemui Kaisar, raja Romawi, lalu masuk agama Kristen dan memperoleh kedudukan terhormat di sisinya.1

      Ada kisah tentang 'Utsman bin al-Huwairits bersama Kaisar, tetapi ia enggan menyebutkannya, sebagaimana yang ia lakukan saat memaparkan Perang Fijar.2

    17. Zaid bin 'Amr

      Yang meninggalkan kaumnya dan menyembah Tuhan Ibrahim

      Zaid bin 'Amr bin Nufail tidak masuk Yahudi atau Kristen. Ia meninggalkan agama kaumnya, menjauhi patung, bangkai, darah, dan sembelihan untuk patung, melarang mengubur anak hidup-hidup, dan berkata bahwa ia menyembah Tuhan Ibrahim. Asma' binti Abu Bakr melihatnya di masa tua bersandar pada Ka'bah dan berkata bahwa hanya dirinya yang berpegang teguh pada agama Ibrahim. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa ia akan sendirian sebagai satu umat.

      Baca selengkapnya

      Zaid bin 'Amr bin Nufail tidak memeluk agama Yahudi dan tidak pula Kristen. Ia meninggalkan agama kaumnya, menjauhi patung-patung, bangkai, darah, dan hewan yang disembelih untuk patung-patung, serta melarang mengubur anak hidup-hidup. Ia berkata, "Aku menyembah Tuhan Ibrahim!" Ia menentang kaumnya secara terang-terangan dan mengkritik mereka.1

      Hisyam bin 'Urwah menyampaikan dari ayahnya, dari ibunya Asma' binti Abu Bakr, ia berkata: "Aku pernah melihat Zaid bin 'Amr bin Nufail di masa tuanya. Ia menyandarkan punggungnya ke Ka'bah sambil berkata, 'Hai orang-orang Quraisy, demi Tuhan, tidak ada seorang pun di antara kalian selain aku yang setia berpegang teguh kepada agama Ibrahim.' Setelah itu ia berkata, 'Ya Allah, andai aku mengetahui wajah mana yang paling Engkau sukai, pasti aku menyembah-Nya, namun aku tidak mengetahuinya.' Kemudian ia sujud dengan tenang."1

      Ia diberi tahu bahwa putra Zaid, Sa'id bin Zaid bin 'Amr bin Nufail, dan 'Umar bin al-Khaththab, sepupunya, bertanya kepada Rasulullah ﷺ, "Bolehkah kita memohon ampunan untuk Zaid bin 'Amr?" Beliau menjawab, "Boleh. Sungguh, dia akan sendirian sebagai satu umat."18

      Zaid juga bersyair tentang dirinya yang meninggalkan agama kaumnya dan perlakuan kaumnya karenanya. Intinya: apakah satu Tuhan atau seribu tuhan yang harus ia sembah jika semua perkara dibagi; ia meninggalkan Al-Lata dan al-'Uzza seluruhnya, tidak menyembah al-'Uzza dan dua putrinya, tidak pula dua patung Bani 'Amr, dan tidak pula Hubal, walau lama dianggap tuhan sejak masa kecilnya. Ia kagum pada malam dan siang yang hanya dipahami orang yang melihat. Allah telah membinasakan banyak orang yang berkubang kejahatan, dan menyisakan yang lain karena kebaikan kaum lain. Ia menyembah Ar-Rahman, Tuhannya, agar Tuhan Yang Maha Pengampun mengampuni dosanya. Ia berpesan agar mereka menjaga takwa kepada Allah, karena dengan menjaganya tidak akan binasa. Negeri orang baik adalah surga, sedangkan negeri orang kafir adalah api yang membakar, dengan kehinaan di dunia dan siksa yang menyesakkan saat mati.

      Ibnu Hisyam menyebutkan bahwa sebagian syair itu adalah ucapan Umayyah bin Abu ash-Shalt, kecuali dua bait pertama, bait kelima, dan bait terakhir, dan akhir bait pertama bukan dari Ibnu Ishaq. Ibnu Hisyam juga menjelaskan nama al-Hadhrami ('Abdullah bin 'Ibad bin Akbar, salah seorang ash-Shadaf, dengan silsilah panjang sampai Kahlan bin Saba'), yang berkaitan dengan syair itu.

    18. Perjalanan Zaid

      Diusir dari Makkah, bertemu pendeta di Balqa'

      Zaid memutuskan meninggalkan Makkah dan berkelana mencari agama Ibrahim. Setiap tiba di Ka'bah, ia berdoa menyambut seruan Allah. Al-Khaththab menganiayanya, mengusirnya ke Makkah Atas dan Gua Hira, serta melarangnya masuk Makkah. Zaid bertanya kepada pendeta Yahudi dan Kristen, melintasi al-Maushil dan jazirah, menyusuri Syam, dan bertemu seorang pendeta di bukit di Balqa' yang berkata bahwa telah dekat zaman nabi dari negerinya yang diutus dengan agama Ibrahim. Zaid bergegas pulang tetapi dibunuh di pertengahan negeri Lakhm.

      Kubah bertegel hijau dan dinding bangunan Masjid Agung al-Nuri di Mosul, Irak
      Masjid Agung al-Nuri di Mosul, Irak, keadaan sekarang (foto Januari 2020). Ini gambaran kota Mosul hari ini, bukan bangunan di zaman yang diceritakan bab ini.Foto: Ennolenze · CC BY-SA 4.0 · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Zaid bin 'Amr memutuskan pergi dari Makkah dan berkelana ke negeri-negeri lain untuk menelusuri agama Ibrahim. Dari sebagian keluarga Zaid, Ibnu Ishaq tahu bahwa jika Zaid tiba di Ka'bah, ia masuk ke masjid dan berkata, "Ya Allah, aku sambut seruan-Mu dengan sepenuh jiwa sebagai ibadah dan kerendahan untuk-Mu. Aku berlindung dengan apa yang Ibrahim berlindung diri dengannya." Ia juga bersyair bahwa ia menyerahkan hidungnya kepada Allah, tak ada keluh walau dibenci, dan bahwa yang keluar di terik siang tidak sama dengan yang tidur di siang bolong.1

      Al-Khaththab menganiaya Zaid bin 'Amr, membuangnya ke Makkah Atas, ke Gua Hira yang menghadap Makkah, lalu menyerahkannya kepada seorang pemuda Quraisy dan beberapa orang bodoh di tengah mereka. Al-Khaththab berkata kepada mereka, "Janganlah kalian biarkan dia memasuki Makkah!" Zaid tidak memasuki Makkah kecuali dengan sembunyi-sembunyi. Ketika Quraisy tahu Zaid masuk Makkah, mereka melapor kepada al-Khaththab, lalu mengusir dan mengeroyoknya karena khawatir ia mengacaukan agama mereka dan tindakannya meninggalkan agama kaumnya diikuti orang lain. Zaid berkata lantang sambil membanggakan kehormatan dirinya atas kaumnya yang telah merusaknya.

      Setelah itu Zaid pergi menelusuri agama Ibrahim dan bertanya kepada para pendeta Yahudi dan Kristen hingga melintasi al-Maushil dan jazirah. Ia tak kenal lelah menyusuri seluruh wilayah Syam hingga bertemu seorang pendeta di bukit di wilayah al-Balqa', pendeta yang menjadi rujukan pemeluk Kristen karena ilmunya. Zaid bertanya tentang agama Ibrahim. Pendeta itu berkata, "Engkau mencari agama yang belum muncul di zaman ini. Tetapi telah dekat zaman kemunculan seorang nabi dari negerimu. Ia diutus dengan agama Ibrahim. Kembalilah ke negerimu, karena nabi itu telah diutus, dan sekarang masa kemunculannya." Sebelumnya Zaid telah menyelami agama Yahudi dan Kristen, tetapi tidak tertarik kepada keduanya. Setelah mendengar perkataan itu, ia bergegas pulang ke Makkah. Ketika tiba di pertengahan negeri-negeri Lakhm, penduduk setempat menzaliminya dan membunuhnya.

    19. Syair Waraqah

      Menangisi Zaid

      Ketika Waraqah bin Naufal mendengar kabar wafatnya Zaid, ia menangis dan bersyair untuknya: Zaid telah mendapatkan petunjuk dan nikmat, terlindung dari neraka karena sujud kepada Tuhan yang tiada tuhan selain Dia dan meninggalkan patung-patung yang tidak berbuat apa-apa, dan kini bertemu dengan kekasih Allah, Ibrahim. Ibnu Hisyam menyebut sebagian bait syair ini adalah ucapan Umayyah bin Abu ash-Shalt.

      Baca selengkapnya

      Ketika Waraqah bin Naufal mendengar berita kematian Zaid, ia menangis lalu berkata dalam syair. Intinya: wahai putra 'Amr, engkau telah mendapatkan mahligai petunjuk dan nikmat, terhindar dan terlindung dari bara neraka, karena engkau bersujud kepada Tuhan yang tiada tuhan selain Dia dan meninggalkan patung-patung thaghut yang tidak bisa berbuat apa-apa. Engkau mendapatkan agama yang selama ini kau cari, tidak lalai mengesakan Tuhanmu, dan kini berada di negeri akhirat yang mulia, bersuka cita dengan kenikmatan, bertemu dengan kekasih Allah, Ibrahim, dan tidak termasuk manusia sombong penghuni neraka. Kadang rahmat Allah mengalir kepada manusia walau ia telah berada tujuh puluh lembah di bawah bumi.

      Ada yang mengatakan bahwa dua bait pertama dan bait terakhir syair itu adalah ucapan Umayyah bin Abu ash-Shalt. Adapun ucapan Waraqah, "patung-patung thaghut", bukan dari Ibnu Ishaq.29

    20. Sifat Rasulullah dalam Injil

      Kabar 'Isa tentang al-Munhamana

      Ibnu Ishaq menyampaikan bahwa salah satu kabar 'Isa bin Maryam dalam Injil tentang sifat Rasulullah ﷺ adalah yang ditegaskan Yohanes al-Hawari (dalam penulisan Injil untuk orang Kristen). 'Isa bersabda bahwa siapa yang membuatnya marah berarti membuat Tuhan marah, dan bahwa kelak al-Munhamana datang, utusan Tuhan bersama Ruhul Qudus, sebagai saksi atas dirinya dan mereka. Dalam bahasa Ibrani al-Munhamana berarti Muhammad, dan dalam bahasa Romawi Paraclet.

      Baca selengkapnya

      Ia diberi tahu bahwa salah satu yang dikabarkan 'Isa bin Maryam dalam Injil bagi orang-orang Kristen tentang sifat Rasulullah ﷺ, yang ia terima dari Allah, adalah apa yang ditegaskan Yohanes al-Hawari kepada orang-orang Kristen ketika menulis Injil untuk mereka pada zaman 'Isa 'alaihis salam. Di dalamnya dijelaskan tentang kedatangan Rasulullah ﷺ kepada mereka. Yohanes al-Hawari mengabarkan bahwa 'Isa bin Maryam bersabda, "Barangsiapa membuatku marah, sama saja membuat marah Tuhan. Andai aku tidak melakukan di depan mereka tindakan-tindakan yang belum pernah dilakukan seorang pun sebelumku, pastilah mereka tidak berdosa. Namun sejak kini mereka sombong dan mengaku mengagungkan aku sebagai Tuhan. Tetapi kalimat yang tertera dalam Namus (sebutan bagi Jibril oleh orang Kristen Arab) itu harus terealisasi. Mereka telah membuatku marah tanpa mendapat apa-apa. Andai al-Munhamana telah datang kepadaku, dia yang diutus kepada kalian dari sisi Tuhan, bersama Ruhul Qudus, dan yang berasal dari Tuhan telah keluar, ia menjadi saksi atas aku juga atas kalian. Karena sejak dulu kalian senantiasa bersamaku dalam hal ini, maka kukabarkan ini kepada kalian agar kalian tidak berkeluh kesah."1

      Dalam bahasa Ibrani al-Munhamana berarti Muhammad, dan Muhammad dalam bahasa Romawi adalah Paraclet. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Rasulullah ﷺ.

    Catatan

    1. Ibnu Ishaq.
    2. Tambahan Ibnu Hisyam.
    3. Catatan penerjemah: hadits ini diriwayatkan Muslim, nomor 2229.
    4. Sebagian kalimat pada terjemahan bagian ini tidak terbaca jelas, sehingga tidak kami tulis ulang.
    5. Catatan penerjemah: sanad riwayat ini hasan. Diriwayatkan Imam Ahmad nomor 23788, dan al-Albani menyatakannya hasan dalam Silsilah ash-Shahihah (894).
    6. Catatan penerjemah: hadits ini hasan, riwayat Imam Ahmad nomor 23788 (dinyatakan hasan oleh al-Albani) dan nomor 23789 (dinyatakan hasan oleh Syu'aib al-Arnauth).
    7. Catatan penerjemah: sanad riwayat ini lemah. Diriwayatkan al-Baihaqi dalam ad-Dala'il nomor 675, Ibnu Sa'ad dalam ath-Thabaqat (4/81), dan adz-Dzahabi dalam as-Siyar (1/513), semuanya lewat jalur Muhammad bin Ishaq. Adz-Dzahabi berkata bahwa Ibnu Ishaq meriwayatkan sendirian, dan Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan-Nihayah (1/313) menyebut ada perawi tak dikenal.
    8. Catatan penerjemah: riwayat al-Hakim nomor 5856 lewat jalur Ibnu Ishaq. Pada sanadnya ada yang terputus (munqathi') antara Ibnu Hushain dan 'Umar, dan hadits ini punya penguat dalam Musnad Ahmad (1648).
    9. Syair Zaid dan Waraqah di buku ini kami ringkas dengan kata-kata sendiri.

    Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Turunnya wahyu pertama dibahas di bab berikutnya.