Pusat Sejarah Islam
Bab 13 dari 55

Renovasi Ka'bah & peletakan Hajar Aswad

Quraisy membangun ulang Ka'bah. Ketika mereka berselisih soal siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad, Nabi meletakkannya di atas kain dan mengajak semua kabilah mengangkatnya bersama.

usia 25 atau 35Sumber: Ibnu Hisyam
Sekilas

Isi bab ini

Bab ini menceritakan Quraisy memperbarui Ka'bah: kayu dari perahu yang pecah di Jeddah, ular dari sumur, pembagian sisi bangunan, dan perselisihan soal Hajar Aswad yang diselesaikan Rasulullah ﷺ dengan sehelai kain. Empat hal berikut gambaran awalnya.

Kayu dari Jeddah

Perahu pedagang Romawi pecah di Jeddah, dan kayunya dipakai untuk atap Ka'bah.

Ular dan burung

Seekor ular dari sumur Ka'bah ditakuti Quraisy, sampai Allah mengirim seekor burung yang membawanya pergi.

Dibagi per kabilah

Quraisy membagi sisi-sisi Ka'bah, lalu meruntuhkan dan membangunnya kembali.

Hajar Aswad

Rasulullah ﷺ meletakkan batu itu di atas kain dan meminta tiap kepala kabilah mengangkatnya bersama.

Peta

Makkah dan Jeddah

Pilih salah satu langkah di daftar yang menyertai peta. Titik-titiknya diambil dari Wikipedia.

Makkah dan Jeddah
Tempat yang disebut Ibnu Hisyam
    Alur kisah

    Dari kayu perahu sampai Hajar Aswad

    Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.

    Soal usia

    Terjemahan Ibnu Hisyam yang kami pakai menulis Rasulullah ﷺ berusia dua puluh lima tahun saat Quraisy memperbarui Ka'bah. Haykal menulis bahwa ada yang mengatakan 25 tahun, sedangkan Ibnu Ishaq, menurut Haykal, menyebut 35 tahun. Khan menyebut 35 tahun.

    1. Latar

      Kenapa Ka'bah diperbarui

      Quraisy sepakat memperbarui Ka'bah. Mereka ingin memberinya atap, tetapi khawatir malah merobohkannya. Ka'bah semula dibangun setinggi orang pada umumnya, jadi mereka ingin meninggikannya. Pemicunya, beberapa orang mencuri harta di sumur dalam Ka'bah, dan barang itu ditemukan di rumah Duwaik, mantan budak Bani Mulaih bin 'Amr bin Khuza'ah.

      Ka'bah berkiswah hitam berhias kaligrafi emas, jemaah berjalan di sekitarnya
      Ka'bah di Masjidil Haram, Makkah, keadaan sekarang (foto 2012).Foto: Betaneik (pengunggah asli, Wikipedia Persia) · GFDL · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Pada saat Rasulullah ﷺ berumur dua puluh lima tahun, orang-orang Quraisy sepakat memperbarui pembangunan Ka'bah. Mereka ingin memberinya atap, tetapi khawatir hal itu malah meruntuhkannya. Awalnya Ka'bah dibangun di atas ketinggian orang pada umumnya, karena itulah mereka ingin meninggikannya dan memberinya atap.1

      Akar masalahnya, beberapa orang telah mencuri harta yang ada di dalam Ka'bah, padahal harta itu disimpan di sebuah sumur di dalamnya. Barang berharga itu ditemukan di rumah Duwaik, mantan budak Bani Mulaih bin 'Amr bin Khuza'ah.

      Orang-orang Quraisy kemudian memenggal tangan Duwaik. Menurut Ibnu Ishaq, orang Quraisy menuduh bahwa para pencuri itu sengaja meletakkan hasil curiannya di rumah Duwaik.2

    2. Kayu atap

      Perahu Romawi pecah di Jeddah

      Pada waktu itu laut melemparkan perahu milik seorang pedagang Romawi ke Jeddah dan perahu itu pecah. Quraisy mengambil kayunya untuk atap. Di Makkah ada seorang tukang kayu dari Mesir (Qibthi) yang menyiapkan sebagian bahan pembangunan.

      Gerbang batu karang bermenara bundar di kawasan Jeddah Lama (Al-Balad)
      Kawasan Jeddah Lama (Al-Balad), Arab Saudi, keadaan sekarang (foto 2025). Jeddah disebut di bab ini; foto ini hanya gambaran kota lamanya hari ini.Foto: xiquinhosilva · CC BY 4.0 · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Ketika itu laut melemparkan perahu milik seorang pedagang Romawi ke Jeddah, dan perahu itu pecah berkeping-keping. Orang-orang Quraisy mengambil kayu-kayunya dan menyiapkannya sebagai atap. Di Makkah saat itu ada seorang tukang kayu dari Mesir (Qibthi), dan orang inilah yang menyiapkan sebagian bahan untuk pembangunan Ka'bah.

    3. Ular dari sumur

      Burung membawa ular itu pergi

      Saat mereka bekerja, seekor ular keluar dari sumur Ka'bah, tempat mereka memberi sesajian setiap hari. Ular itu melongokkan kepala dan mendesis kepada siapa pun yang mendekat, sehingga Quraisy takut. Suatu ketika Allah mengirim seekor burung yang menerkam ular itu dan membawanya pergi. Quraisy berharap Allah meridai pekerjaan mereka.

      Baca selengkapnya

      Pada saat mereka sedang bekerja, tiba-tiba muncul ular keluar dari sumur Ka'bah. Sumur itu adalah tempat mereka memberikan sesajian setiap hari. Ular itu melongokkan kepalanya mendekati tembok Ka'bah, dan inilah di antara hal yang dikhawatirkan Quraisy, karena setiap kali ada yang mendekat, ular itu mendesis sambil mengangkat kepalanya. Mereka sangat takut kepadanya.

      Suatu ketika, saat ular itu berada di tembok Ka'bah, Allah mengirim seekor burung. Burung itu menerkamnya dan membawanya pergi. Melihat peristiwa ajaib itu, orang-orang Quraisy berkata, "Kita berharap semoga Allah meridai apa yang akan kita kerjakan. Kita memiliki seorang pekerja yang telaten, kita juga memiliki kayu. Allah telah melindungi kita dari ular kejahatan itu."

    4. Abu Wahb

      Batu yang melompat, dan hanya uang halal

      Ketika Quraisy sepakat meruntuhkan Ka'bah, Abu Wahb bin 'Amr bin 'A'idz bin 'Abd bin 'Imran bin Makhzum mengambil sebuah batu dari Ka'bah. Batu itu melompat lepas dari tangannya dan kembali ke tempatnya. Ia berpesan agar pembangunan hanya memakai uang halal, bukan hasil pelacuran, riba, atau cara yang zalim.

      Baca selengkapnya

      Ketika Quraisy telah sepakat meruntuhkan Ka'bah dan membangunnya kembali, berdirilah Abu Wahb bin 'Amr bin 'A'idz bin 'Abd bin 'Imran bin Makhzum (Ibnu Hisyam berkata bahwa 'A'idz adalah anak 'Imran bin Makhzum). Ia mengambil sebuah batu dari Ka'bah, tetapi batu itu meloncat lepas dari tangannya dan kembali ke posisinya semula. Abu Wahb berkata, "Wahai orang-orang Quraisy, untuk pembangunan Ka'bah ini janganlah kalian menggunakan uang kecuali uang yang halal. Jangan sampai ada uang hasil pelacuran, uang hasil riba, dan uang yang diambil dari manusia dengan cara yang zalim." Orang-orang Quraisy mengatakan bahwa perkataan itu berasal dari al-Walid bin al-Mughirah bin 'Abdullah bin 'Umar bin Makhzum.1

      Ibnu Ishaq juga menyampaikan dari 'Abdullah bin Abu Najin al-Makki, dari 'Abdullah bin Shafwan bin Umayyah bin Khalaf bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah bin 'Amr bin Hushaish bin Ka'b bin Luay, bahwa ia melihat putra Ja'dah bin Hubairah bin Abu Wahb bin 'Amr sedang thawaf, lalu bertanya tentang orang itu. 'Abdullah bin Shafwan berkata bahwa kakek orang inilah, yaitu Abu Wahb, yang mengambil batu dari Ka'bah ketika Quraisy bermufakat meruntuhkannya, lalu batu itu tergelincir dari tangannya dan kembali ke tempatnya. Ibnu Ishaq menambahkan bahwa Abu Wahb adalah paman ayah Rasulullah ﷺ, seorang yang sangat terhormat.

    5. Pembagian

      Tiap kabilah mendapat satu sisi

      Quraisy membagi-bagi Ka'bah per kabilah, seperti pada kartu di bawah ini.

      • PintuBani 'Abdu Manaf dan Zuhrah
      • Antara rukun Aswad dan rukun YamaniBani Makhzum dan kabilah-kabilah yang bergabung kepada mereka
      • Punggung Ka'bahJumah dan Sahm bin 'Amr bin Hushaish bin Ka'b bin Luay
      • Hajar AswadBani 'Abduddar bin Qushay, Bani Asad bin al-'Uzza, dan Bani 'Adi bin Ka'b bin Luay
      Baca selengkapnya

      Orang-orang Quraisy membagi-bagi Ka'bah. Pintu menjadi jatah Bani 'Abdu Manaf dan Zuhrah. Antara rukun Aswad dan rukun Yamani menjadi jatah Bani Makhzum dan kabilah-kabilah yang bergabung kepada mereka. Punggung Ka'bah menjadi jatah Jumah dan Sahm bin 'Amr bin Hushaish bin Ka'b bin Luay. Hajar Aswad menjadi jatah Bani 'Abduddar bin Qushay, Bani Asad bin al-'Uzza, dan Bani 'Adi bin Ka'b bin Luay.1

    6. Peruntuhan

      Al-Walid memulai, bumi bergetar

      Orang-orang dilanda takut untuk meruntuhkan Ka'bah. Al-Walid bin al-Mughirah berkata ia yang akan memulai, mengambil kapak, dan berdoa bahwa mereka tidak keluar dari agama Allah. Ia meruntuhkannya dari arah dua tiang. Malam itu mereka menunggu apa yang terjadi, dan karena tidak terjadi apa-apa pada al-Walid, esoknya mereka melanjutkan hingga pondasi Ibrahim. Ketika seseorang mencabut batu pondasi dengan linggis, seluruh Makkah bergetar hebat dan mereka berhenti.

      Baca selengkapnya

      Orang-orang dilanda takut untuk memugar Ka'bah. Al-Walid bin al-Mughirah berkata, "Akulah yang akan memulai meruntuhkan Ka'bah!" Ia mengambil kapak, berdiri di depan Ka'bah, dan berkata, "Ya Allah, kami tidak keluar dari agama-Mu, kami hanya menginginkan kebaikan." Ia meruntuhkan Ka'bah dari arah dua tiangnya. Malam itu orang-orang menunggu dengan cemas apa yang akan terjadi, dan berkata, "Kita tunggu saja! Jika al-Walid terkena sesuatu, kita tidak akan meruntuhkan sedikit pun dari Ka'bah dan akan mengembalikannya seperti semula. Jika tidak terjadi apa-apa pada dirinya, berarti Allah meridai dan kita lanjutkan."1

      Keesokan harinya al-Walid berangkat kembali meneruskan pekerjaannya, diikuti orang-orang Quraisy, hingga peruntuhan memasuki tahap pondasi Ibrahim 'alaihis salam. Pondasi itu terbuat dari batu hijau berbentuk seperti punuk unta yang saling menempel lekat. Sebagian periwayat menyampaikan kepada Ibnu Ishaq bahwa seseorang dari Quraisy memasukkan linggis di antara dua batu untuk mencabut salah satunya. Ketika batu itu bergerak, seluruh kota Makkah bergetar hebat, maka mereka menghentikan usaha mencabutnya.3

    7. Tulisan

      Tulisan yang ditemukan di Ka'bah

      Ibnu Ishaq diberi tahu bahwa Quraisy menemukan tulisan berbahasa Suryaniyah (Syiriak) di tiang Ka'bah yang dibacakan seorang Yahudi, yaitu pernyataan bahwa Allah pemilik Bakkah dan menjaganya dengan tujuh malaikat. Ada pula tulisan di atas Ka'bah, dan menurut Laits bin Abu Sulaim, empat puluh tahun sebelum diutusnya Rasulullah ﷺ mereka menemukan batu bertulis tentang menabur kebaikan dan kejahatan.

      Baca selengkapnya

      Aku diberi tahu bahwa orang-orang Quraisy menemukan tulisan berbahasa Suryaniyah (Syiriak) di tiang Ka'bah, tetapi mereka tidak mengerti hingga seorang Yahudi membacakannya. Bunyinya: "Akulah Allah, Pemilik Bakkah (Makkah) ini. Aku ciptakan ia saat Aku menciptakan langit dan bumi, saat Aku menciptakan matahari dan bulan. Aku melindunginya dengan penjagaan tujuh malaikat yang lurus. Bakkah tidak akan hancur hingga dua gunung di Bakkah hancur. Penghuninya diberkahi air dan susu."1

      Aku diberi tahu pula bahwa mereka menemukan tulisan di atas Ka'bah: "Makkah adalah Rumah Allah yang haram. Rezekinya datang dari tiga jalur. Makkah tidak bisa menjadi tanah halal oleh penguasanya."1

      Laits bin Abu Sulaim mengatakan bahwa empat puluh tahun sebelum diutusnya Rasulullah ﷺ, jika yang dikatakan Laits benar, mereka menemukan sebuah batu di Ka'bah bertuliskan: "Barangsiapa menabur kebaikan, ia menuai kebahagiaan. Barangsiapa menabur kejahatan, ia menuai penyesalan. Tidak mungkin kalian mengerjakan dosa-dosa lalu dibalas dengan kebaikan-kebaikan. Sekali-kali tidak! Sebagaimana anggur tidak bisa dipanen dari tanaman duri."1

    8. Perselisihan

      Siapa yang meletakkan Hajar Aswad

      Tiap kabilah mengumpulkan batunya sendiri dan membangun Ka'bah. Ketika sampai tahap Hajar Aswad, mereka berselisih karena masing-masing ingin meletakkannya tanpa melibatkan yang lain. Mereka membentuk kubu dan bersiap berperang. Bani 'Abduddar mendatangkan cawan berisi darah dan bersekutu dengan Bani 'Adi bin Ka'b untuk mati bersama, sehingga mereka dijuluki La'aqatu ad-Dam (penyendok darah). Keadaan itu berlangsung empat atau lima malam.

      Baca selengkapnya

      Seluruh kabilah Quraisy mengumpulkan batu untuk memugar Ka'bah, tiap kabilah mengumpulkan batunya sendiri-sendiri, lalu mereka membangun Ka'bah. Ketika pembangunan memasuki tahap peletakan Hajar Aswad, terjadi selisih pendapat. Setiap kabilah ingin menempatkan Hajar Aswad ke tempatnya semula tanpa melibatkan kabilah lain. Terjadilah perdebatan sengit, mereka membentuk kubu dan bersiap berperang.1

      Bani 'Abduddar mendatangkan cawan berisi darah, lalu mereka bersekutu dengan Bani 'Adi bin Ka'b bin Luay untuk mati bersama dan memasukkan tangan mereka ke dalam cawan darah itu. Karena itu mereka dinamakan La'aqatu ad-Dam (penyendok darah). Selama empat atau lima malam orang-orang Quraisy berada dalam kondisi seperti itu. Akhirnya mereka bertemu di Masjidil Haram untuk berunding.

    9. Keputusan

      Kain yang diangkat bersama

      Menurut sebagian ahli sejarah, Abu Umayyah bin al-Mughirah, orang tertua di antara Quraisy, mengusulkan agar orang pertama yang masuk pintu Masjidil Haram memutuskan perkara mereka. Orang pertama itu adalah Rasulullah ﷺ, dan mereka berkata, "Ini al-Amin, yang tepercaya. Kami senang! Ini Muhammad." Beliau meminta kain, meletakkan Hajar Aswad di dalamnya, lalu meminta tiap kepala kabilah memegang ujung kain dan mengangkatnya bersama. Setibanya di tempatnya, beliau sendiri meletakkan batu itu dan membangun di atasnya.

      Baca selengkapnya

      Sebagian ahli sejarah menyatakan bahwa Abu Umayyah bin al-Mughirah bin 'Umar bin Makhzum, orang tertua di kalangan Quraisy, berkata, "Hai orang-orang Quraisy, biarlah konflik kalian ini diselesaikan oleh orang yang pertama kali masuk pintu Masjidil Haram. Dialah yang memutuskan perkara kalian." Mereka mematuhi perintah Abu Umayyah, dan Rasulullah ﷺ adalah orang pertama yang masuk ke masjid. Ketika melihat beliau, mereka berkata, "Ini al-Amin, yang tepercaya. Kami senang! Ini Muhammad."

      Ketika beliau bertemu dengan mereka dan persoalan itu diceritakan kepadanya, beliau berkata, "Kalau begitu, serahkan kain kepadaku." Kain diserahkan kepada beliau. Rasulullah ﷺ mengambil Hajar Aswad yang diperebutkan, meletakkannya ke dalam kain dengan tangannya sendiri, lalu bersabda, "Setiap kepala kabilah memegang ujung kain ini, lalu angkatlah bersama-sama." Mereka mengikuti perintah beliau. Ketika mereka tiba di tempat Hajar Aswad, beliau mengambil batu itu dari kain, meletakkannya di tempatnya semula, dan membangun di atasnya.

      Sebelum menerima wahyu, orang-orang Quraisy menggelarinya al-Amin, yaitu orang yang tepercaya.4

    10. Selesai

      Syair az-Zubair dan tinggi Ka'bah

      Setelah Ka'bah selesai dibangun sesuai keinginan mereka, az-Zubair bin 'Abdul Muththalib bersyair tentang ular yang ditakuti Quraisy dan burung elang yang menerkamnya. Pada masa Rasulullah ﷺ, tinggi Ka'bah delapan belas hasta. Mula-mula Ka'bah ditutup kain putih dari Qibthi (Mesir), lalu kain al-Burud dari Yaman, dan yang pertama menutupnya dengan sutra adalah al-Hajjaj bin Yusuf.

      Baca selengkapnya

      Ketika mereka telah menuntaskan pembangunan Ka'bah sesuai keinginan mereka, az-Zubair bin 'Abdul Muththalib bersyair tentang ular yang sangat ditakuti Quraisy saat membangun Ka'bah. Intinya: ia kagum melihat seekor elang terbang ke arah ular yang sebelumnya mendesis dan melompat, dan ular itu muncul ketika mereka membangun Ka'bah sehingga mereka tidak berani melanjutkan. Karena takut hukuman, datanglah elang itu menerkam ular dan seakan memberi jalan, sehingga tidak ada lagi penghalang. Ia berharap Allah memuliakan Bani Luay dengan pembangunan itu.

      Pada masa Rasulullah ﷺ, tinggi Ka'bah adalah delapan belas hasta. Awalnya Ka'bah ditutup dengan kain putih dari Qibthi (Mesir). Kemudian ia ditutup dengan kain al-Burud dari Yaman. Orang yang pertama kali menutupnya dengan kain sutra adalah al-Hajjaj bin Yusuf.5

    Catatan

    1. Ibnu Ishaq.
    2. Tambahan Ibnu Hisyam.
    3. Terjemahan menulis "menginginkan selain kebaikan"; dari konteksnya kami baca sebagai "hanya menginginkan kebaikan".
    4. Catatan penerjemah: riwayat peletakan Hajar Aswad ini berstatus hadits dhaif, yaitu salah satu ucapan indah az-Zuhri dalam Mushannaf 'Abdurrazzaq nomor 9104.
    5. Syair az-Zubair di buku ini kami ringkas dengan kata-kata sendiri.

    Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Tradisi Hums dibahas di bab berikutnya.