Isi bab ini
Bab ini menceritakan perjalanan dagang Rasulullah ﷺ ke Syam membawa barang Khadijah, pernikahan beliau dengan Khadijah, anak-anak mereka, dan pembicaraan Khadijah dengan Waraqah bin Naufal. Empat hal berikut gambaran awalnya.
Dagang ke Syam
Rasulullah ﷺ membawa dagangan Khadijah ke Syam, ditemani Maisarah.
Khadijah
Wanita Quraisy yang paling mulia nasabnya, paling terhormat, dan paling kaya.
Menikah
Hamzah melamarkan, dan ayah Khadijah menikahkannya dengan mahar dua puluh unta betina muda.
Waraqah
Waraqah bin Naufal, pemeluk Kristen yang mempelajari kitab, yakin beliau nabi umat ini jika cerita Khadijah benar.
Berdagang ke Syam
Pilih salah satu langkah di daftar yang menyertai peta. Titik Makkah diambil dari Wikipedia. Garis putus-putus adalah perkiraan, dan sorotan Suriah dan Yordania hanya patokan kasar untuk kawasan Syam.
Dari dagangan Khadijah sampai Waraqah
Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.
Soal usia dan wali
Ibnu Hisyam menyebut usia Rasulullah ﷺ saat menikah dengan Khadijah adalah dua puluh lima tahun. Ibnu Hisyam tidak menyebut usia Khadijah; Haykal dan Khan sama-sama menyebut 40 tahun.
Soal siapa yang menikahkan, Ibnu Hisyam menulis bahwa Khuwailid bin Asad menikahkan putrinya. Haykal menulis bahwa yang menikahkan Khadijah adalah pamannya, 'Umar bin Asad, karena ayahnya, Khuwailid, sudah wafat sebelum Perang Fijar, dan menolak anggapan bahwa ayahnya tidak setuju.
- Tawaran Khadijah
Khadijah mengutus orang kepada Rasulullah ﷺ
Khadijah binti Khuwailid adalah perempuan pelaku bisnis yang terpandang dan kaya. Ia mempekerjakan banyak orang dengan sistem bagi hasil. Mendengar kejujuran dan akhlak beliau, ia menawarkan agar beliau memasarkan dagangannya ke Syam bersama Maisarah, dengan gaji lebih banyak daripada yang pernah diterima orang lain.

Wadi Rum di Yordania selatan, keadaan sekarang (foto 2007). Ini gambaran lanskap gurun di perbatasan utara Hijaz, bukan rute dagang Quraisy yang pasti.Foto: Vyacheslav Argenberg · CC BY 4.0 · Wikimedia Commons Baca selengkapnya
Saat Rasulullah ﷺ berusia dua puluh lima tahun, beliau menikah dengan Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin 'Abdul 'Uzza bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Luay bin Ghalib, seperti dikatakan kepadanya oleh banyak ulama dari Abu 'Amr al-Madani.1
Khadijah binti Khuwailid adalah perempuan pelaku bisnis, terpandang, dan kaya raya. Ia mempekerjakan banyak karyawan untuk menjalankan bisnisnya dengan sistem bagi hasil, dan orang-orang Quraisy memang kaum pedagang. Ketika Khadijah mendengar tentang pribadi Rasulullah ﷺ, kejujuran ucapannya, keagungan amanahnya, dan keindahan akhlaknya, ia mengutus seseorang menemui beliau. Khadijah menawarkan agar beliau memasarkan dagangannya ke Syam dengan ditemani karyawan lelakinya yang sangat tepercaya, bernama Maisarah, dan ia akan memberi gaji lebih banyak daripada yang pernah diterima orang lain. Rasulullah ﷺ menerima tawaran itu, lalu pergi membawa dagangan Khadijah bersama Maisarah hingga ke Syam.2
- Di Syam
Pendeta di bawah pohon dan dua malaikat
Rasulullah ﷺ berhenti di bawah naungan pohon dekat rumah ibadah seorang pendeta. Pendeta itu bertanya kepada Maisarah siapa lelaki itu, lalu berkata bahwa yang bernaung di bawah pohon itu pasti seorang nabi. Dalam perjalanan pulang, menurut para ulama, Maisarah melihat dua malaikat menaungi beliau dari terik matahari.
Baca selengkapnya
Rasulullah ﷺ berhenti di bawah naungan pohon dekat rumah ibadah seorang pendeta. Pendeta itu menemui Maisarah dan bertanya, "Siapa lelaki yang berhenti dan bernaung di bawah pohon itu?" Maisarah menjawab, "Lelaki itu berasal dari suku Quraisy dan penduduk asli tanah haram." Pendeta itu berkata, "Yang bernaung di bawah pohon itu pasti seorang nabi."
Setelah itu Rasulullah ﷺ menjual barang yang beliau bawa dari Makkah dan membeli apa yang beliau inginkan. Setelah menyelesaikan semua urusan bisnisnya, beliau pulang ke Makkah ditemani Maisarah. Menurut para ulama, ketika matahari berada di puncak panasnya, Maisarah melihat dua malaikat menaungi beliau dari sengatan panas, sementara beliau tetap berjalan di atas untanya.
- Sepulang dagang
Dagangan dibeli dua kali lipat, lalu pesan Khadijah
Sesampainya di Makkah, beliau menyerahkan hasil penjualan kepada Khadijah, yang membeli barang bawaan beliau dengan harga dua kali lipat atau lebih sedikit. Maisarah menceritakan ucapan pendeta dan dua malaikat itu kepada Khadijah. Khadijah lalu mengutus orang kepada beliau dengan pesan bahwa ia tertarik kepada beliau karena kekerabatan, kemuliaan, amanah, akhlak, dan kejujurannya, lalu menawarkan dirinya.
Baca selengkapnya
Sesampainya di kota Makkah, Rasulullah ﷺ menyerahkan uang hasil penjualan barang dagangan kepada Khadijah, dan Khadijah membeli barang dagangan yang beliau bawa dengan harga dua kali lipat atau lebih sedikit. Maisarah menceritakan ucapan pendeta dan tentang dua malaikat yang menaungi Rasulullah ﷺ kepada Khadijah.
Setelah itu Khadijah mengutus seseorang kepada Rasulullah ﷺ dengan pesan, "Wahai sepupu, aku sangat tertarik kepadamu, karena kedekatan kekerabatanmu, kemuliaanmu di tengah kaummu, amanahmu, kebaikan akhlakmu, dan kejujuran ucapanmu." Kemudian Khadijah menawarkan dirinya kepada beliau. Ia wanita Quraisy yang paling mulia nasabnya, paling terhormat, dan paling kaya. Orang-orang Quraisy berkeinginan menikah dengannya, andai mereka mampu.
- Nasab Khadijah
Dari Khuwailid sampai Fihr
Menurut Ibnu Ishaq, Khadijah adalah putri Khuwailid bin Asad bin 'Abdul 'Uzza bin Qushay bin Kilab, dan seterusnya sampai Fihr. Ibunya Fathimah binti Zaidah, ibu Fathimah adalah Halah binti 'Abdu Manaf, dan ibu Halah adalah Qalabah binti Su'aid.
Baca selengkapnya
Khadijah adalah putri Khuwailid bin Asad bin 'Abdul 'Uzza bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'b bin Luay bin Ghalib bin Fihr. Ibu Khadijah adalah Fathimah binti Zaidah bin al-Asham bin Rawahah bin Hajar bin 'Abd bin Ma'ish bin 'Amir bin Luay bin Ghalib bin Fihr.2
Ibu Fathimah adalah Halah binti 'Abdu Manaf bin al-Harits bin 'Amr bin Munqidz bin 'Amr bin Ma'ish bin 'Amir bin Luay bin Ghalib bin Fihr. Ibu Halah adalah Qalabah binti Su'aid bin Sa'd bin Sahm bin 'Amr bin Hushaish bin Ka'b bin Luay bin Ghalib bin Fihr.
- Pernikahan
Hamzah melamarkan, mahar dua puluh unta muda
Rasulullah ﷺ menceritakan tawaran itu kepada paman-pamannya. Didampingi Hamzah, beliau pergi ke rumah Khuwailid bin Asad, dan Hamzah melamarkan Khadijah untuk beliau. Khuwailid menikahkan putrinya dengan beliau. Maharnya dua puluh unta betina muda. Khadijah wanita pertama yang beliau nikahi, dan beliau tidak menikah dengan wanita lain selama Khadijah hidup.
Baca selengkapnya
Ketika Khadijah mengutarakan keinginannya, Rasulullah ﷺ menceritakan hal itu kepada paman-pamannya. Dengan didampingi pamannya, Hamzah bin 'Abdul Muththalib, beliau pergi ke rumah Khuwailid bin Asad. Hamzah melamar Khadijah untuk beliau, dan Khuwailid bin Asad menikahkan putrinya, Khadijah, dengan Rasulullah ﷺ.
Rasulullah ﷺ menyerahkan mahar kepada Khadijah sebanyak dua puluh unta betina muda. Khadijah adalah wanita pertama yang dinikahi Rasulullah ﷺ, dan beliau tidak menikah dengan wanita mana pun semasa hidup Khadijah. Beliau baru menikah lagi setelah Khadijah meninggal dunia.1
- Putra-putri
Anak-anak Rasulullah ﷺ dari Khadijah
Seluruh putra-putri Rasulullah ﷺ lahir dari Khadijah, kecuali Ibrahim. Putranya al-Qasim, ath-Thayyib, dan ath-Thahir meninggal pada masa jahiliah. Putri-putrinya hidup hingga Islam, masuk Islam, dan ikut hijrah. Ibu Ibrahim adalah Mariyah al-Qibthiyyah.
Baca selengkapnya
Dari Khadijahlah seluruh putra-putri Rasulullah ﷺ dilahirkan, kecuali Ibrahim al-Qasim, menurut tulisan terjemahan yang kami pakai (kalimat ini kabur; Ibnu Hisyam menjelaskan ibu Ibrahim di bawah). Beliau dipanggil dengan nama Abu al-Qasim. Putra-putrinya adalah ath-Thahir, ath-Thayyib, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum, dan Fathimah.2
Putra Rasulullah ﷺ yang sulung adalah al-Qasim, kemudian ath-Thayyib, lalu ath-Thahir. Putri beliau yang sulung adalah Ruqayyah, kemudian Zainab, lalu Ummu Kaltsum, dan terakhir Fathimah.1
Al-Qasim, ath-Thayyib, dan ath-Thahir meninggal pada masa jahiliah. Putri-putri beliau hidup hingga zaman Islam, masuk Islam, dan ikut hijrah bersama Rasulullah ﷺ.2
Ibu Ibrahim adalah Mariyah al-Qibthiyyah. Ia juga menyampaikan dari 'Abdullah bin Wahb, dari Ibnu Lahi'ah, bahwa ibu Ibrahim adalah Mariyah, wanita yang dihadiahkan al-Muqauqis kepada beliau, berasal dari Hafn di kawasan Anshina.1
- Waraqah bin Naufal
"Pastilah Muhammad nabi untuk umat ini"
Khadijah menceritakan kepada pamannya, Waraqah bin Naufal, apa yang dikisahkan Maisarah. Waraqah, pemeluk Kristen yang mempelajari kitab-kitab, berkata bahwa jika cerita itu benar, pastilah Muhammad nabi umat ini yang dinanti. Waraqah juga menggubah syair tentang penantiannya yang panjang.
Baca selengkapnya
Khadijah binti Khuwailid bercerita kepada Waraqah bin Naufal bin Asad bin 'Abdul 'Uzza, pamannya. Waraqah adalah pemeluk Kristen yang mempelajari kitab-kitab dan mengetahui banyak tentang antropologi (tertulis demikian di terjemahan). Khadijah menceritakan apa yang dikisahkan Maisarah, budaknya, tentang ucapan seorang pendeta dan dua malaikat yang menaungi beliau. Waraqah berkata, "Jika ini benar wahai Khadijah, pastilah Muhammad adalah nabi untuk umat ini. Aku tahu pasti bahwa umat ini akan mempunyai seorang nabi yang dinanti kedatangannya, dan kini telah tiba waktu kemunculannya", atau seperti yang dikatakan Waraqah.2
Waraqah seakan menemui akhir penantiannya yang lama dan membosankan, yang senantiasa ia tanyakan, "Hingga kapan?"2
Tentang hal itu, Waraqah menggubah syair. Intinya: ia telah lama menunggu dengan sabar, kadang dengan sedih dan air mata, dan Khadijah menggambarkan sosok itu kepadanya. Ia berharap sosok itu muncul di lembah Makkah dan tidak ingin ucapan para pendeta menjadi ramalan palsu. Menurutnya, Muhammad akan menjadi pemimpin yang menaklukkan lawan dengan hujah, cahayanya menebar di seluruh bumi, dan ia meluruskan jalan manusia yang bengkok. Yang memeranginya merugi, dan yang berdamai dengannya beruntung. Ia berharap hidup pada saat itu agar bisa menyaksikannya, walau Quraisy membencinya, dan berkata bahwa jika ia mati, semua manusia pun akan menemui takdirnya.3
Catatan
- Tambahan Ibnu Hisyam.
- Ibnu Ishaq.
- Syair Waraqah di buku ini kami ringkas dengan kata-kata sendiri.
Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Pembangunan kembali Ka'bah dibahas di bab berikutnya.