Pusat Sejarah Islam
Bab 55 dari 55

Saqifah & pemakaman

Abu Bakar menenangkan umat dengan membaca QS Ali 'Imran 144. Di Saqifah Bani Sa'idah beliau dibai'at. Jenazah Nabi dimandikan hari Selasa dan dimakamkan di tempat beliau wafat pada malam Rabu. Bab ini juga memuat ujian setelah wafat dan empat syair Hassan bin Tsabit.

Selasa; dimakamkan malam RabuSumber: Ibnu Hisyam
Sekilas

Isi bab ini

Bab ini memuat ucapan 'Umar bahwa beliau tidak wafat, Saqifah Bani Sa'idah dan baiat Abu Bakar, pemakaman beliau, ujian yang menimpa kaum Muslimin, dan empat syair Hassan bin Tsabit menurut Ibnu Hisyam.

Saqifah Bani Sa'idah

Kaum Anshar berkumpul di saqifah Bani Sa'idah dan mengunggulkan Sa'ad bin 'Ubadah. Menurut penuturan 'Umar, Abu Bakar menyatakan orang Arab hanya mengenal Quraisy sebagai pemegang urusan ini; seorang Anshar meminta satu pemimpin dari tiap pihak, lalu 'Umar meminta Abu Bakar mengulurkan tangan dan membaiatnya, diikuti Muhajirin dan Anshar.

Baiat umum

Keesokan harinya Abu Bakar duduk di mimbar. 'Umar berpidato lebih dahulu dan mengajak berbaiat, lalu orang-orang berbaiat secara umum setelah baiat khusus di saqifah. Abu Bakar berpidato: ia bukan yang terbaik di antara mereka dan minta ditaati selama ia taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Pemakaman

Beliau dimandikan 'Ali, al-'Abbas, al-Fadhl, Qutsam, Usamah, dan Syuqran, dikafani tiga kain, dan dimakamkan di tempat beliau wafat. Kaum Muslimin menyalatkan beliau sendiri-sendiri: laki-laki, lalu wanita, lalu anak-anak; pemakaman terjadi pada pertengahan malam, malam Rabu.

Ujian setelah wafat

Menurut 'Aisyah, sebagian orang Arab murtad, Yahudi dan Nasrani mengintai, kemunafikan tampak, dan kaum Muslimin seperti domba kehujanan sampai Allah menghimpun mereka lewat Abu Bakar.

Peta

Madinah dan Makkah

Titik Madinah dan Makkah diambil dari Wikipedia.

Madinah dan Makkah
Tempat yang disebut Ibnu Hisyam
Lihat medan 3DPeta bergambar relief; titik dan garis sama dengan peta ini.
    Alur kisah

    Dari ucapan 'Umar sampai syair Hassan

    Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.

    Urutan Saqifah hingga syair Hassan

    Bab ini bukan pertempuran, sehingga tidak ada jumlah pasukan atau spesialisasi pasukan yang dapat dicatat. Sketsa menata urutan penuturan Ibnu Ishaq dari ucapan 'Umar sampai syair Hassan bin Tsabit. Kami menggambarnya sendiri.

    URUTAN PENUTURAN IBNU ISHAQ; ILUSTRASI KAMI, TANPA JARAK DAN ARAH'UMAR"beliau tidakwafat"SAQIFAHAnshar danSa'ad bin 'UbadahBAIAT ABU BAKARkhusus di saqifah;umum di mimbarDIMANDIKANhari Selasatiga kain kafanLIANG LAHADdua caramenggaliDIMAKAMKANdi tempat wafat;malam RabuDI LIANGyang menurunkanjenazahTERAKHIRmenyentuh beliau'Ali dan MughirahUJIANmurtad; Makkahhampir kembali kafirSYAIR HASSANempat syairmenangisi beliauSketsa urutan yang kami gambar sendiri, tanpa jarak dan arah.
    1. 'Umar menyatakan beliau tidak wafat, lalu Abu Bakar menenangkan kerumunan dengan QS. Ali 'Imran: 144.
    2. Anshar berkumpul di saqifah Bani Sa'idah, sementara 'Ali, az-Zubair, dan Thalhah mengasingkan diri di rumah Fathimah.
    3. Abu Bakar dibaiat di saqifah, lalu keesokan harinya dibaiat umum di mimbar setelah pidato 'Umar.
    4. Beliau dimandikan pada hari Selasa dan dikafani tiga kain.
    5. Abu 'Ubaidah dan Abu Thalhah menggali lahad, lalu beliau dimakamkan di tempat beliau wafat pada pertengahan malam, malam Rabu.
    6. 'Ali dan Qutsam bin al-'Abbas menjadi sorotan dalam penuturan tentang siapa yang terakhir menyentuh beliau.
    7. Setelah wafat beliau, sebagian orang Arab murtad dan penduduk Makkah hampir kembali kafir sampai Suhail bin 'Amr berpidato.
    8. Hassan bin Tsabit menangisi beliau dalam empat syair yang dimuat Ibnu Ishaq.

    Soal peta. Ibnu Ishaq menyebut Madinah dan Makkah tanpa jarak. Pada peta hanya dua kota itu yang bertitik; saqifah Bani Sa'idah belum bertitik karena koordinatnya belum kami verifikasi.

    Perbedaan sumber

    'Umar dan Abu Bakar. Ibnu Hisyam memuat 'Umar menyatakan beliau pergi menemui Tuhannya seperti Nabi Musa, dan 'Umar baru sadar setelah Abu Bakar membaca QS. Ali 'Imran: 144; Haykal dan Khan juga memuat pidato Abu Bakar dan ayat itu, dan Haykal menulis 'Umar jatuh ke tanah. Khan menulis sebagian kaum Muslimin menolak percaya beliau telah wafat. Alasan 'Umar mengucapkan hal itu menurut Ibnu 'Abbas (QS. al-Baqarah: 143) hanya kami temukan di Ibnu Hisyam; Haykal membahasnya dengan perumpamaan matahari, yang tidak ada di Ibnu Hisyam. Saqifah. Ibnu Hisyam memuat dua orang shalih yang melarang mereka mendekat, Sa'ad bin 'Ubadah yang berselimut karena sakit, tawaran Abu Bakar kepada 'Umar atau Abu 'Ubaidah, dan permintaan satu pemimpin dari tiap pihak. Haykal menulis hal-hal itu juga, lalu menambahkan dalil QS. at-Taubah: 100, pembagian "pemimpin dari Quraisy, menteri dari Anshar", dan 'Umar mengingatkan bahwa beliau memerintahkan Abu Bakar mengimami shalat; kami tidak menemukan ketiganya di bagian Ibnu Hisyam yang kami baca. Khan tidak memuat Saqifah di bagian yang kami baca. Tempat makam. Ibnu Hisyam menulis ada yang mengusulkan masjid beliau dan ada yang mengusulkan bersama para sahabat yang telah wafat; Haykal menulis usulan Makkah, Yerusalem, dan masjid; ketiga sumber memuat sabda yang disampaikan Abu Bakar bahwa nabi dimakamkan di tempat ia wafat. Yang memandikan. Ibnu Hisyam menyebut enam orang ditambah Aus bin Khauli yang diizinkan 'Ali masuk; Haykal menyebut 'Ali, al-'Abbas, al-Fadhl, Qutsam, Usamah, dan Syuqran tanpa Aus; Khan menyebut al-'Abbas, 'Ali, al-Fadhl, Qutsam, dan Syuqran "di antara lainnya". Cerita para sahabat yang tertidur lalu ada suara yang menyuruh memandikan beliau tanpa melepas pakaian hanya ada di Ibnu Hisyam. Kafan. Ibnu Hisyam: tiga kain, dua dari Shuhari di Yaman dan satu burdah; Haykal: tiga kain, dua dari Suhar dan satu dari Hibarah di Yaman; Khan: kain katun putih. Liang lahad. Ibnu Hisyam menulis al-'Abbas memanggil Abu 'Ubaidah dan Abu Thalhah, dan keduanya datang lalu menggali lahad; Haykal menulis hanya Abu Thalhah yang ditemukan lalu ditugaskan menggali. Haykal menulis jenazah diletakkan di atas mantel merah beliau lalu ditutup batu bata dan pasir; Ibnu Hisyam menulis Syuqran mengalasi jenazah dengan kain yang biasa beliau pakai. Shalat jenazah. Ibnu Hisyam: sendiri-sendiri, laki-laki, wanita, anak-anak; Haykal: tanpa imam dan Abu Bakar membaca doa keras-keras yang dijawab "Amin"; Khan: sepuluh orang sepuluh orang, mulai dari keluarga beliau, Muhajirin, Anshar, lalu wanita dan anak-anak. Waktu. Ibnu Hisyam menulis pemakaman pada pertengahan malam, malam Rabu; Haykal menulis "Tuesday night", 14 Rabi'ul Awwal tahun 10 H, dua hari setelah wafat; Khan menulis dimandikan "keesokan paginya" dan dimakamkan malam itu, dan menulis beliau wafat Senin 12 Rabi'ul Awwal. Kami tidak menyamakan penyebutan malam itu di antara sumber. Syair Hassan. Empat syair Hassan bin Tsabit hanya kami temukan di Ibnu Hisyam; tidak kami temukan di bagian Haykal dan Khan yang kami baca.

    1. 'Umar dan Abu Bakar

      Beliau tidak wafat, kata 'Umar

      Menurut Abu Hurairah, ketika beliau wafat 'Umar bin Khaththab berdiri dan berkata bahwa beliau tidak wafat, melainkan pergi menemui Tuhannya seperti Nabi Musa, dan pasti kembali. Abu Bakar menyingkap wajah beliau dan menciumnya, lalu menemui kerumunan dan berkata bahwa siapa yang menyembah Muhammad, ia telah wafat, tetapi Allah hidup dan tidak mati, lalu membaca QS. Ali 'Imran: 144. 'Umar menuturkan ia jatuh ke tanah dan baru sadar beliau telah tiada.

      Baca selengkapnya

      Az-Zuhri berkata: Sa'id bin al-Musaiyyab bercerita kepadaku, dari Abu Hurairah, ia berkata: Tatkala Rasulullah wafat, 'Umar bin Khaththab berdiri, kemudian berkata: "Beberapa orang munafik menyangka bahwa Rasulullah telah wafat. Demi Allah, Rasulullah tidak wafat, ia hanya pergi menemui Tuhannya sebagaimana Nabi Musa yang pergi dari kaumnya selama empat puluh hari kemudian kembali kepada mereka setelah dikabarkan bahwa beliau telah wafat. Demi Allah, beliau pasti kembali sebagaimana Nabi Musa, kemudian beliau pasti memotong tangan dan kaki orang-orang yang berkata bahwa Rasulullah telah wafat.1

      Tatkala kabar ini datang maka Abu Bakar bergegas datang kemudian berhenti di pintu masjid, sementara 'Umar bin Khaththab masih berbicara di depan kerumunan kaum muslimin. Abu Bakar tidak menghiraukan hal tersebut dan tetap fokus menuju rumah 'Aisyah tempat beliau wafat. Tatkala itu, wajah Rasulullah ditutup dengan pakaian di sudut rumah. Abu Bakar mendekat kepada Rasulullah, menyingkap wajahnya kemudian mendekatinya dan menciumnya. Abu Bakar berkata: "Kematian yang telah ditetapkan Allah kepadamu, kini telah engkau rasakan dan setelah itu engkau tidak akan lagi merasakan kematian selama-lamanya." Abu Bakar menutup kembali wajah Rasulullah, lalu keluar. Sementara itu 'Umar bin Khaththab masih berbicara pada manusia. Abu Bakar berkata: "Berhentilah bicara wahai 'Umar." 'Umar bin Khaththab menolak untuk berhenti. Tatkala Abu Bakar melihat 'Umar bin Khaththab tidak juga mau diam, ia menemui kerumunan manusia. Tatkala manusia mendengar suara Abu Bakar, mereka mendekat kepadanya dan meninggalkan 'Umar bin Khaththab. Abu Bakar memuji Allah dan menyanjung-Nya, lalu berkata:

      "Wahai manusia, barangsiapa menyembah Muhammad, maka sesungguhnya dia telah meninggal dunia. Namun barangsiapa menyembah Allah, maka ketahilah Allah senantiasa Hidup dan tidak akan pernah mati." Setelah itu, Abu Bakar membaca firman Allah Ta'ala:

      Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (QS. 'Ali 'Imran: 144). Demi Allah, seakan-akan orang-orang yang hadir tidak tahu kalau ayat di atas telah diturunkan dan seakan-akan mereka baru mengetahui tatkala dibacakan Abu Bakar. Mereka mengambil ayat tersebut dari Abu Bakar dan mereka pun mengucapkan dengan mulutnya. Abu Hurairah berkata: 'Umar bin Khaththab berkata: "Demi Allah, tatkala Abu Bakar membaca ayat di atas, aku tersadar dari apa yang aku katakan hingga akupun jatuh ke tanah karena kedua kakiku tidak sanggup lagi menahan jasadku. Saat itulah, aku baru menyadari bahwa Rasulullah benar-benar telah tiada. "2

    2. Saqifah Bani Sa'idah

      Anshar mengunggulkan Sa'ad bin 'Ubadah

      Ketika beliau wafat, kaum Anshar mengunggulkan Sa'ad bin 'Ubadah di saqifah Bani Sa'idah, 'Ali, az-Zubair, dan Thalhah mengasingkan diri di rumah Fathimah, dan Muhajirin umumnya mengunggulkan Abu Bakar, 'Umar, dan Usaid bin Hudhair. Seseorang memberi tahu Abu Bakar dan 'Umar, lalu 'Umar mengajak Abu Bakar menemui kaum Anshar sebelum perkaranya tak terbendung.

      Baca selengkapnya

      Tatkala Rasulullah wafat, kaum Anshar mengunggulkan Sa'ad bin 'Ubadah di saqifah (hall) Bani Sa'idah sebagai pengganti Nabi. 'Ali bin Abu Thalib bersama Zubair bin 'Awwam, dan Thalhah bin 'Ubaidillah, mengisolasi diri di rumah Fathimah, sedangkan kaum Muhajirin umumnya mengunggulkan Abu Bakar, 'Umar bin Khaththab, dan Usaid bin Hudhair di Bani 'Abdul Asyhal. Tiba-tiba seseorang datang kepada Abu Bakar dan 'Umar bin Khaththab lalu berkata: "Sesungguhnya kaum Anshar lebih memilih Sa'ad bin 'Ubadah di saqifah (hall) Bani Sa'idah. Jika kalian berdua ada keperluan, segeralah pergi ke tempat mereka, sebelum perkara ini tak bisa dibendung." Saat itu, jenazah beliau belum diurus dan pintu rumah beliau ditutup oleh keluarga beliau. 'Umar bin Khaththab berkata kepada Abu Bakar: "Marilah kita pergi kepada saudara-saudara kita dari kaum Anshar sebelum hal-hal yang diinginkan terjadi."13

    3. Kisah 'Umar

      Di saqifah menurut 'Abdurrahman bin 'Auf

      Menurut penuturan 'Umar yang diriwayatkan Ibnu 'Abbas dari 'Abdurrahman bin 'Auf, 'Umar dan Abu Bakar menuju Anshar dan bertemu dua orang shalih yang melarang mereka mendekat. Di sana Sa'ad bin 'Ubadah terbaring berselimut karena sakit. Setelah orator Anshar berbicara, Abu Bakar mengatakan orang Arab hanya mengenal Quraisy sebagai pemegang urusan ini, dan menawarkan 'Umar atau Abu 'Ubaidah. Seorang Anshar meminta satu pemimpin dari tiap pihak; suara meninggi, lalu 'Umar meminta Abu Bakar mengulurkan tangannya dan membaiatnya, diikuti Muhajirin dan Anshar.

      Baca selengkapnya

      Peristiwa ini mulai terjadi tatkala kaum Anshar berkumpul di Saqifah, 'Abdullah bin Abu Bakr bercerita kepadaku, dari Ibnu Syihab az-Zuhri, dari 'Ubaidillah bin 'Abdullah bin 'Utbah bin Mas'ud, dari 'Abdullah bin 'Abbas dari 'Abdurrahman bin 'Auf. 'Abdullah bin 'Abbas berkata: 'Umar bin Khaththab berkhutbah: "Janganlah seseorang terpedaya lalu menyatakan bahwa pembaiatan Abu Bakar adalah tidak disangka-sangka dan spontan begitu saja. Sesungguhnya pembaiatan Abu Bakar telah terjadi seperti itu dan Allah telah menjauhkan keburukan pembaitan tersebut dan tidak ada di antara kalian orang yang sekelas Abu Bakar. Maka barangsiapa membaiat seseorang tanpa bermusyawarah dengan kaum Muslimin, baiatnya tidak sah juga tidak sah orang yang membaiat orang tersebut dengan terpaksa, dan keduanya harus dihabisi. Sesungguhnya di antara berita tentang kami tatkala Rasulullah wafat bahwa kaum Anshar tanpa sepengetahuan kami berkumpul dengan tokoh-tokoh mereka di saqifah Bani Sa'idah. 'Ali bin Abu Thalib, Zubair bin 'Awwam, dan orang-orang yang ikut dengan keduanya juga tidak sependapat dengan kami, sedang kaum Muhajirin berpihak kepada Abu Bakar. Aku berkata kepada Abu Bakar: "Mari kita datangi saudara-saudara kita kaum Anshar di sana." Kami pun berangkat menuju tempat mereka hingga bertemu dengan dua orang shalih. Kedua orang tersebut menceritakan apa yang telah disepakati di tengah kaum Anshar. Kedua orang shalih tersebut bertanya: "Wahai orang-orang Muhajirin, kemana kalian akan pergi?" Kami menjawab: "Kami hendak pergi menuju tempat kaum Anshar." Kedua orang shalih tersebut berkata: "Hai orang-orang Muhajirin, janganlah kalian mendekati mereka, namun selesaikan urusan kalian." Aku berkata: "Demi Allah, aku tetap akan pergi kepada mereka." Kami tetap berjalan hingga tiba di tempat mereka di saqifah Bani Sa'idah. Ternyata di tengah-tengah kaum Anshar terdapat seseorang yang berselimut. Aku bertanya: "Siapakah orang itu?" Kaum Anshar menjawab: "Dia Sa'ad bin 'Ubadah." Aku bertanya: "Kenapa ia mengenakan selimut?" Kaum Anshar menjawab: "Karena ia sedang sakit." Tatkala kami duduk, orator kaum Anshar bersyahadat, memuji Allah dengan pujian yang pantas diterima-Nya, dan berkata: "Amma ba'du. Kami kaum Anshar dan pasukan Islam, sedang kalian, wahai kaum Muhajirin adalah bagian dari kami. Sungguh, beberapa orang dari kalian berjalan pelan-pelan, ternyata mereka ingin memutus kami dari asal-usul kami dan merampas perkara ini (pengganti Nabi) sendirian tanpa keikutsertaan kami. Setelah orator itu diam, aku ingin berbicara, karena sebelumnya aku telah menyiapkan ucapan yang aku sendiri mengaguminya dan aku ingin mengucapkannya di depan Abu Bakar. Aku menyembunyikan sikap kerasku sebagai bentuk hormatku kepada Abu Bakar. Abu Bakar berkata: "Tahan dirimu, wahai 'Umar." Dan akupun menahan diriku karena tidak mau membuat Abu Bakar marah. Setelah itu, Abu Bakar berbicara dan ia jauh lebih mengerti dan lebih tenang daripada aku. Demi Allah, Abu Bakar mengucapkan semua perkataan indah yang telah aku siapkan dengan baik-baiknya, sama atau bahkan lebih baik dari yang aku siapkan. Abu Bakar diam sejenak lalu berkata lagi: "Adapun kebaikan memang berada pada kalian sebagaimana yang kalian katakan, dan kalian memang berhak memilikinya. Tapi, orang-orang Arab hanya tahu bahwa perkara (memilih pengganti Nabi) ini adalah hak orang-orang Quraisy, karena mereka orang-orang Arab yang paling baik nasab dan negerinya. Sungguh aku menerima dengan hati terbuka dan lapang dada untuk menjadi pemimpin kalian salah seorang dari dua orang ini ('Umar dan Abu 'Ubaidah). Maka baiatlah di antara keduanya yang mana yang kalian sukai." Abu Bakar memegang tanganku dan tangan Abu 'Ubaidah bin al-Jarrah yang pada saat itu duduk di antara kami. Tidak ada ucapan Abu Bakar yang lebih aku benci kecuali ucapan terakhir tersebut. Demi Allah, jika aku dibawa ke depan mereka kemudian aku dibunuh apabila itu tidak mendekatkanku kepada dosa, itu lebih aku sukai daripada aku harus memimpin kaum yang di dalamnya ada Abu Bakar.1

      Seorang laki-laki dari kaum Anshar berkata: "Akulah orang yang diambil pendapatnya oleh kaum Anshar, tempat pohon kurma yang menjadi tempat berlindung kaum Anshar dan tokoh terpenting mereka. Wahai orang-orang Quraisy, hendaknya ada satu pemimpin yang harus berasal dari kami dan satu pemimpin dari kalian." Maka terjadilah kerusuhan gara-gara ucapannya tersebut, suara-suara semakin meninggi, dan aku khawatir sekali terjadi konflik. Aku segera berkata: "Wahai Abu Bakar, ulurkan tanganmu." Abu Bakar lalu mengulurkan tangannya, kemudian aku membaiatnya diikuti kaum Muhajirin, dan kaum Anshar.4

    4. Dua warga Anshar

      Uwaim bin Sa'idah dan Ma'n bin 'Adi

      Menurut 'Urwah bin Zubair, dua warga Anshar yang berpapasan dengan Muhajirin di jalan ke saqifah adalah Uwaim bin Sa'idah dan Ma'n bin 'Adi. Beliau pernah menyebut Uwaim sebagai yang terbaik dari orang-orang yang ingin membersihkan diri (QS. at-Taubah: 108), dan Ma'n bin 'Adi gugur di Perang Yamamah saat memerangi Musailamah al-Kadzdzab.

      Baca selengkapnya

      Az-Zuhri berkat: 'Urwah bin Zubair bercerita kepadaku bahwa salah satu dari dua warga Anshar yang berpapasan dengan kaum Muhajirin tatkala mereka pergi menuju saqifah Bani Sa'idah ialah Uwaim bin Sa'idah dan orang satunya lagi ialah Ma'nu bin 'Adi, warga Bani al-'Ajlan. Mengenai Uwaim bin Sa'idah, dituturkan kepadaku bahwa Rasulullah pernah ditanya tentang siapa yang dimaksud dalam firman Allah Ta'ala:1

      Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih. (QS. at-Taubah: 108).

      Orang terbaik dari mereka ialah Uwaim bin Sa'idah. Sementara mengenai Ma'nu bin 'Adi, diwartakan kepadaku bahwa orang-orang menangisi Rasulullah tatkala Allah mewafatkan beliau. Mereka berkata: "Demi Allah, kami ingin diwafatkan sebelum Rasulullah karena kami khawatir akan munculnya fitnah yang menimpa kami sepeninggal beliau." Ma'nu bin 'Adi berkata: "Sedangkan aku, demi Allah, menginginkan sebaliknya. Aku belum ingin wafat sebelum beliau, agar aku terus konsisten membenarkan beliau tatkala beliau telah tiada sebagaimana aku telah membenarkan beliau semasa hidupnya."

      Ma'nu bin 'Adi gugur sebagai syahid pada Perang Yamamah pada masa kekhalifahan Abu Bakar, pada saat memerangi Musailamah al-Kadzdzab.

    5. Baiat umum

      Pidato 'Umar dan Abu Bakar

      Keesokan harinya Abu Bakar duduk di mimbar dan 'Umar berpidato lebih dahulu: ia mengaku kemarin khilaf berbicara, mengajak berpegang pada Kitabullah, dan mengajak semua berbaiat kepada Abu Bakar. Orang-orang pun berbaiat secara umum setelah baiat khusus di saqifah. Abu Bakar lalu berpidato: ia bukan yang terbaik, minta diluruskan bila salah, dan meminta ditaati selama ia taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

      Baca selengkapnya

      Az-Zuhri bercerita kepadaku, ia berkata: Anas bin Malik memberitakan kepadaku bahwa usai Abu Bakar dilantik dan dibaiat menjadi khalifah di saqifah Bani Sa'idah, lalu keesokan harinya, Abu Bakar duduk di atas mimbar. Saat itulah 'Umar bin Khaththab berdiri berpidato untuk memberikan pengantar pidato Abu Bakar. 'Umar bin Khaththab memuji Allah, menyanjung-Nya dengan sanjungan yang pantas diterima-Nya, ia berkata:1

      "Wahai manusia sekalian, kemarin aku telah khilaf berbicara yang menyelisihi Kitabullah dan ucapanku bukanlah wasiat yang diwasiatkan Rasulullah kepadaku. Namun telah diwartakan padaku bahwa beliau akan mengatur segala urusan kita. Sesungguhnya Allah Ta'ala telah mewariskan kalian Kitab-Nya yang dengannya Dia membimbing Rasul-Nya. Jika kalian berpegang teguh kepada Kitabullah, Allah akan membimbing kalian sebagaimana Dia membimbing Rasulullah. Sesungguhnya Allah telah menghimpun urusan kalian kepada orang terbaik kalian, sahabat Rasulullah, dan salah satu dari dua orang tatkala keduanya berada di dalam Gua Hira. Maka berbaiatlah kalian kepadanya."

      Orang-orang pun bersegera membaiat Abu Bakar dengan baiat umum setelah baiat di saqifah (hall) Bani Sa'idah bersifat khusus.

      Lalu Abu Bakar membuka ucapannya. Ia memuji Allah, menyanjung-Nya dengan sanjungan yang pantas diterima-Nya, ia berkata:

      "Amma ba'du. Wahai manusia, kalianlah yang telah memutuskan untuk memilihku menjadi pemimpin kalian, namun aku bukanlah orang terbaik di tengah kalian semua. Oleh karena itu jika aku berbuat yang benar maka tak ada alasan bagi kalian kecuali mendukungku. Jika aku berbuat salah maka segera luruskanlah aku. Berbicara yang benar adalah amanah dan bicara dusta adalah khianat. Orang yang lemah di tengah kalian bagiku dia adalah orang yang kuat di sisiku hingga aku berikan haknya insya Allah dan orang kuat di tengah kalian bagiku dia hanyalah orang lemah di sisiku hingga aku mengambil hak darinya insya Allah. Bila sampai ada suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah, maka Allah akan menimpakan kehinaan kepada mereka. Begitupula seandainya perbuatan zina merebak di sebuah kaum, maka Allah akan menimpakan prahara dan bencana di tengah mereka. Sepanjang aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya maka taatlah kalian kepadaku. Dan tidak ada kewajiban bagi kalian taat kepadaku jika kalian menemukan aku bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Tegakkanlah shalat, mudah-mudahan Allah memberi rahmat pada kalian."5

    6. Alasan 'Umar

      QS. al-Baqarah: 143

      Menurut Ibnu 'Abbas, 'Umar kemudian bertanya apakah ia tahu mengapa ia mengatakan beliau tidak wafat. 'Umar menjelaskan ia mengira beliau akan tetap bersama umatnya hingga menjadi saksi atas amal terakhir mereka, berdasarkan QS. al-Baqarah: 143.

      Baca selengkapnya

      Husain bin 'Abdullah bercerita kepadaku, dari 'Ikrimah, dari Ibnu 'Abbas, yang berkata: 'Umar bin Khaththab menatap wajahku lalu bertanya: "Wahai Ibnu 'Abbas, adakah engkau tahu alasan aku mengucapkan bahwa Rasulullah tidak wafat saat itu?" Aku menjawab: "Tidak tahu, wahai Amirul Mukminin." 'Umar bin Khaththab berkata: "Demi Allah, alasan aku berkata seperti itu karena aku pernah membaca ayat berikut:1

      Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. (QS. al-Baqarah: 143).

      Demi Allah, awalnya aku berasumsi bahwa beliau akan tetap berada di umatnya hingga beliau menjadi saksi atas amal perbuatan terakhir umatnya. Itulah yang mendorongku untuk melontarkan perkataan tersebut."6

    7. Dimandikan

      Yang memandikan beliau

      Setelah Abu Bakar dilantik, kaum Muslimin menyiapkan pemakaman pada hari Selasa. Yang memandikan beliau adalah 'Ali, al-'Abbas, al-Fadhl, Qutsam, Usamah, dan Syuqran; Aus bin Khauli juga diizinkan masuk. Para sahabat berbeda pendapat apakah pakaian beliau dilepas, lalu mereka tertidur dan seseorang berseru agar beliau dimandikan tanpa melepas pakaian.

      Baca selengkapnya

      Usai Abu Bakar dilantik menjadi khalifah, kaum Muslimin menyiapkan prosesi pemakaman beliau pada hari Selasa.1

      'Abdullah bin Abu Bakr, Husain bin 'Abdullah, dan ulama-ulama kami lainnya, semuanya bercerita kepadaku bahwa 'Ali bin Abu Thalib, al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib, al-Fadhl bin al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib, Qutsam bin al-'Abbas, Usamah bin Zaid bin Haritsah, dan Syuqran mantan budak Rasulullah, adalah orang-orang yang memandikan Rasulullah. Aus bin Khauli salah seorang warga Bani 'Auf bin al-Khazraj berkata kepada 'Ali bin Abu Thalib: "Demi Allah kami juga berhak terhadap Rasulullah." Aus bin Khauli adalah salah satu sahabat beliau dan ikut serta pada Perang Badar. 'Ali bin Abu Thalib berkata kepada Aus bin Khauli: "Silahkan masuk." Aus bin Khauli lalu masuk kemudian ia duduk dan mengikuti prosesi pemandian Rasulullah. 'Ali bin Abu Thalib membaringkan jenazah beliau ke dadanya, sementara al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib dan al-Fadhl bin al-'Abbas membolak-balik jenazah Rasulullah. Usamah bin Zaid dan Syuqran, keduanya mantan budak Rasulullah, menyediakan gayung berisi air, lalu 'Ali bin Abu Thalib memandikan jenazah Rasulullah yang telah ia sandarkan di dadanya. 'Ali bin Abu Thalib memandikan beliau saat itu tangannya tidak menyentuh langsung jasad Rasulullah karena ia menggunakan semacam sarung tangan. 'Ali bin Abu Thalib berkata: "Wahai Rasulullah, betapa harum mewanginya engkau semasa hidup dan setelah wafatmu."1

      Yahya bin 'Abbad bin 'Abdullah bin Zubair bercerita kepadaku, dari ayahnya, 'Abbad, dari 'Aisyah, ia berkata: Tatkala para sahabat hendak memandikan Rasulullah, mereka berbeda pendapat paham tentang tata cara memandikan jenazah beliau. Mereka berkata: "Demi Allah, bagaimana kalau kita lepas pakaian Rasulullah sebagaimana kita biasa melepas pakaian jenazah-jenazah kita atau kita biarkan saja jenazah beliau tetap dengan pakaiannya." Tatkala mereka berbeda pendapat tentang tata cara memandikan jenazah Rasulullah, tiba-tiba Allah membuat mereka tertidur hingga dagu mereka semua berada di dada mereka. Setelah itu, seseorang dari pojok rumah, yang tidak mereka ketahui siapa orang tersebut, berkata kepada mereka: "Hendaklah kalian memandikan jenazah beliau tanpa melepas pakaian beliau." 'Aisyah melanjutkan: Mereka lalu memandikan jenazah Rasulullah yang lengkap dengan pakaiannya tanpa melepasnya, menyiramkan air ke atas pakaian beliau, dan menggosok beliau dengan menggosok pakaian beliau.17

    8. Kain kafan dan liang lahad

      Dua cara menggali

      Beliau dikafani dengan tiga kain: dua dari Shuhari di Yaman dan satu burdah. Abu 'Ubaidah menggali cara Makkah dan Abu Thalhah menggali lahad cara Madinah; al-'Abbas memanggil keduanya dan Abu Thalhah menemui Abu 'Ubaidah, lalu mereka datang dan menggali lahad.

      Baca selengkapnya

      "Usai jenazah Rasulullah selesai dimandikan, jasad beliau dikafani dengan tiga kain; dua kain produk Shuhari (asal Yaman) dan satunya burdah yang dihiasi dengan katun yang dilipat. Demikianlah yang dikatakan kepadaku oleh Ja'far bin Muhammad bin 'Ali bin al-Husain, dari ayahnya, dari kakeknya, 'Ali bin al-Husain. Hal yang sama dikatakan kepadaku oleh az-Zuhri dari 'Ali bin al-Husain.1

      Husain bin 'Abdullah bercerita kepadaku, dari 'Ikrimah, dari Ibnu 'Abbas, yang berkata: Tatkala kaum Muslimin ingin menggali liang lahad untuk Rasulullah -Abu 'Ubaidah bin al-Jarrah terbiasa menggali dengan galian penduduk Makkah yaitu galian dengan lubang di tengahtengahnya dan Abu Thalhah bin Zaid bin Sahl biasa menggali seperti galian orang-orang Madinah yaitu lahad. Maka al-'Abbas memanggil kedua sahabat tersebut. Al-'Abbas berkata kepada Abu Thalhah bin Zaid bin Sahl: "Temuilah Abu 'Ubaidah bin al-Jarrah." Al-'Abbas berkata kepada Abu 'Ubaidah bin al-Jarrah. "Temuilah Thalhah bin Zaid bin Sahl. Ya Allah, pilihkanlah yang terbaik untuk Rasulullah." Abu Thalhah bin Zaid bin Sahl bertemu Abu 'Ubaidah bin al-Jarrah, datang bersamanya, kemudian menggali liang lahad untuk Rasulullah.1

    9. Dimakamkan

      Di tempat beliau wafat

      Kaum Muslimin berbeda pendapat tentang tempat pemakaman, lalu Abu Bakar menyampaikan sabda beliau bahwa seorang nabi dimakamkan di tempat ia wafat, dan penggalian dimulai di tempat ranjang beliau. Kaum Muslimin menyalatkan beliau sendiri-sendiri, laki-laki, lalu wanita, lalu anak-anak, dan beliau dimakamkan pada pertengahan malam, malam Rabu.

      Baca selengkapnya

      Pada hari Selasa, jenazah beliau sudah siap dikuburkan; saat itu jenazah beliau diletakkan di atas ranjang di rumah beliau. Saat itu, kaum Muslimin berbeda pendapat tentang lokasi dimana beliau akan dimakamkan. Salah seorang sahabat berkata: "Kita makamkan di masjid beliau." Sahabat lain berkata: "Tidak, kita makamkan beliau bersama para sahabatnya yang telah meninggal dunia." Saat itulah Abu Bakar berkata: "Aku mendengar Rasulullah bersabda: 'Jika seorang nabi meninggal dunia maka hendaknya ia dimakamkan di tempat ia meninggal dunia.'" Lalu ranjang tempat jenazah Rasulullah berbaring diangkat dan dimulailah penggalian di tempat ranjang tersebut. Setelah itu, kaum Muslimin masuk menyalatkan Rasulullah secara bertahap. Pertama-tama, dimulai dari kaum laki-laki masuk untuk menyalatkan beliau. Apabila mereka selesai, masuklah kaum wanita untuk menyalatkan beliau. Apabila selesai, masuklah anak-anak untuk menyalatkan beliau. Saat itu kaum Muslimin menyalati Rasulullah sendiri-sendiri. Kemudian beliau dimakamkan di pertengahan malam, malam Rabu.1

      'Abdullah bin Abu Bakr bercerita kepadaku, dari istrinya, Fathi man binti Imarah, dari 'Amrah binti 'Abdurrahman bin Sa'ad bin Zurarah, dari 'Aisyah, ia berkata: "Kami tidak mengetahui pemakaman Rasulullah hingga kami mendengar suara alat galian tanah di pertengahan malam, malam Rabu."1

    10. Di liang lahad

      Yang menurunkan jenazah

      Yang berada di liang lahad dan menerima jenazah adalah 'Ali, al-Fadhl, Qutsam, dan Syuqran; Aus bin Khauli juga turun atas izin 'Ali. Syuqran mengalasi jenazah dengan kain yang sering dipakai beliau.

      Baca selengkapnya

      Muhammad bin Ishaq berkata: Sahabat-sahabat yang berada dalam liang lahad yang menerima penurunan jenazah Rasulullah untuk dikuburkan ialah 'Ali bin Abu Thalib, al-Fadhl bin al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib, Qutsam bin al-'Abbas, dan Syuqran, mantan budak Rasulullah. Aus bin Khauli berkata kepada 'Ali bin Abu Thalib: "Demi Allah, berilah kami hak terhadap Rasulullah." 'Ali bin Abu Thalib berkata: "Turunlah." Kemudian Aus bin Khauli turun ke liang lahad Rasulullah bersama sahabat-sahabat tersebut. Tatkala Rasulullah telah diletakkan di lahadnya, Syuqran, mantan budak Rasulullah, mengambil kain yang sering dipakai dan digelar beliau, kemudian Syuqran mengalasi jenazah Rasulullah dengan kain tersebut. Syuqran berkata: "Demi Allah, kain ini tidak ada yang memakainya setelah engkau untuk selamanya."

      Dia berkata: Maka iapun dikubur bersama Rasulullah.8

    11. Yang terakhir menyentuh

      Al-Mughirah dan 'Ali

      Al-Mughirah bin Syu'bah mengaku sengaja menjatuhkan cincinnya ke liang lahad agar menjadi orang terakhir yang menyentuh beliau. 'Ali menolak klaim itu dan mengatakan yang terakhir menyentuh beliau adalah Qutsam bin al-'Abbas.

      Baca selengkapnya

      Al-Mughirah bin Syu'bah mengaku bahwa dialah orang yang terakhir kali menyentuh Rasulullah. al-Mughirah bin Syu'bah berkata: "Aku menjatuhkan cincinku ke dalam liang lahat Rasulullah." Aku berkata: "Cincinku terjatuh," aku sengaja menjatuhkannya agar aku bisa menyentuh jasad beliau sehingga aku menjadi orang terakhir yang menyentuh Rasulullah.

      Abu Ishaq bin Yasar bercerita kepadaku, dari Miqsam Abu al-Qasim, mantan budak 'Abdullah bin al-Harits bin Naufal, dari mantan tuannya, 'Abdullah bin al-Harits, ia berkata: 'Ali bin Abu Thalib didatangi beberapa orang dari Irak. Mereka bertanya: "Wahai Abu Hasan, kami ingin bertanya sesuatu hal yang penting." 'Ali bin Abu Thalib berkata: "Firasatku menyatakan bahwa al-Mughirah bin Syu'bah telah berbicara dengan kalian bahwa dialah orang terakhir kali yang menyentuh Rasulullah ?" Mereka menjawab: "Benar! Dan untuk tujuan inilah kami datang menemuimu." 'Ali bin Abu Thalib berkata: "Itu tidak benar. Orang yang terakhir kali menyentuh Rasulullah ialah Qutsam bin al-'Abbas."19

    12. Pesan terakhir

      Kuburan nabi dan dua agama

      Menurut 'Aisyah, di saat kritis beliau bersabda agar Allah menghancurkan kaum yang menjadikan kuburan nabi mereka sebagai masjid, dan wasiat terakhir yang beliau ucapkan adalah agar tidak ada dua agama di jazirah Arab.

      Baca selengkapnya

      Shalih bin Kisan bercerita kepadaku, dari az-Zuhri, dari 'Ubaidillah bin 'Abdullah bin 'Utbah bahwa 'Aisyah berkata kepadanya: Di tengah-tengah kondisi kritisnya Rasulullah bersabda: "Semoga Allah menghancurkan kaum yang menjadikan kuburan-kuburan nabi mereka sebagai masjid." Rasulullah memberi peringatan keras umatnya dari tindakan seperti itu.1

      Shalih bin Kisan bercerita kepadaku, dari az-Zuhri, dari 'Ubaidillah bin 'Abdullah bin 'Utbah, dari 'Aisyah, ia berkata: Wasiat terakhir kali yang diucapkan Rasulullah ialah: "Jangan biarkan ada dua agama di jazirah Arab."110

    13. Ujian setelah wafat

      Kaum Muslimin kehilangan pemimpin

      Menurut 'Aisyah, ketika beliau wafat sebagian orang Arab murtad, Yahudi dan Nasrani mengintai, kemunafikan tampak, dan kaum Muslimin seperti domba kehujanan sampai Allah menghimpun mereka lewat Abu Bakar. Ibnu Hisyam menambahkan penduduk Makkah hampir kembali kafir sampai Suhail bin 'Amr berpidato dan 'Attab bin Asid tampil kembali.

      Baca selengkapnya

      Pasca kepulangan Rasulullah keharibaan Tuhannya, kaum Muslimin mendapatkan musibah besar karena kekosongan kepemimpinan. 'Aisyah, sebagaimana dituturkan kepadaku, berkata: "Tatkala Rasulullah wafat, orang-orang Arab ada yang kembali murtad, orang-orang Yahudi dan Nashrani mengintai untuk melakukan penggulingan, kemunafikan tampak jelas, dan kaum Muslimin menjadi seperti sekawanan domba yang kehujanan di malam dingin yang menggiris di musim dingin karena kehilangan Nabi mereka, setelah itu Allah menghimpun mereka melalui Abu Bakar."1

      Abu 'Ubaidah dan ulama-ulama lain bercerita kepadaku bahwa pada saat Rasulullah wafat hampir mayoritas penduduk Makkah ingin kembali menjadi kafir. Sampai-sampai 'Attab bin Asid, gubernur kota Mekkah khawatir terhadap mereka dan bersembunyi. Suhail bin 'Amr berdiri, kemudian mengucapkan puji-puji kepada Allah, menyebutkan tentang wafatnya Rasulullah seraya berkata: "Sesungguhnya hal ini malah semakin menambah kekuatan Islam. Oleh karena itu, bila ada yang murtad maka kami tidak segan-segan untuk mengabisi mereka."11

      Orang-orang Makkah pun segera tersadar dan tidak jadi melangkahkan kaki mereka pada kekafiran. Setelah itu, muncullah 'Attab bin Asid ke tengah publik. Itulah tempat yang di maksud Rasulullah dalam sabdanya kepada 'Umar bin Khaththab: "Semoga Suhail bin 'Amr berdiri di tempat yang mulia sekali."

    14. Syair Hassan

      Empat syair untuk beliau

      Ibnu Ishaq memuat empat syair Hassan bin Tsabit yang menangisi wafat beliau: tentang jejak-jejak di Thaybah dan kubur beliau, tentang duka atas wafatnya sang pemberi petunjuk, tentang hilangnya kebaikan bagi orang-orang miskin, dan tentang tidak adanya yang melebihi beliau, dengan catatan Ibnu Hisyam di akhir.

      Baca selengkapnya

      Hassan bin Tsabit menyenandungkan beberapa syair menangisi wafatnya Rasulullah seperti dikatakan Ibnu Hisyam dari Abu Zaid al-Anshari:1

      Di Thaybah, ada jejak-jejak abadi dan tempat milik Sang Rasul yang gemilang, kini lenyap dan lusuh sudah

      Tanda-tanda dari negeri haram tiada kan lenyap sirna

      Di sana ada mimbar tempat sang pemberi petunjuk berada

      Ada jejak-jejak nan jelas dan bekas rambu-rambu abadi

      Rumah miliknya dengan mushalla dan masjid

      Ada kamar-kamar yang di tengah-tengahnya cahaya dari Allah turun

      Yang menjadi suluh dan penerang

      Tak kan hilang ditelan zaman tanda-tanda tersebut

      Walau pernah dapat musibah namun dia ada kembali

      Di sana, aku tahu jejak-jejak, nasehat dan kuburan Sang Rasul

      Jenazahnya dimasukkan ke dalam bumi oleh pembawa jenazah

      Tiada henti aku menangisi Sang Rasul

      Dan semua mata ikut pula menangis tersedu

      Mereka semua mengingatkanku pada nikmat-nikmat Sang Rasul

      Maka tiada orang yang peduli akan diriku, karena diriku demikian lusuh

      Hatiku diguncang gundah gulana karena perginya Ahmad

      Tiada henti menghitung-hitung nikmat-nikmat Sang Rasul

      Walau tidak sepersepuluhpun aku mampu menjalani jejaknya

      Namun hatiku dilanda duka mendalam

      Lama kuberdiri bersimbahkan air mata

      Di atas gundukan kuburan merah dimana Ahmad terbaring abadi di sana

      Engkau diberkahi, wahai kubur Sang Rasul

      Diberkahi pula negeri yang mendekap erat pemberi petunjuk yang benar

      Semoga diberkahi liang kuburmu yang mengandung kebaikan

      Di atasnya ada bangunan dari batu lebar berlapis

      Tangan-tangan yang lunglai menaburkan tanah ke atas bangunan itu

      Sementara keberuntungan telah meresap masuk ke tanahmu

      Mereka menguburkan kesopanan, ilmu dan kasih sayang di suatu malam

      Menutup atasnya dengan tanah tanpa sandaran bantal

      Mereka pulang bersama duka melilit karena Nabi tak lagi bersama mereka

      Lemah lunglailah tulang punggung dan lengan mereka

      Menangisi seorang manusia yang ditangisi langit di hari itu juga

      Bumi dan manusia pasti lebih berduka durja

      Adakah duka kematian di suatu hari

      Yang setara duka di hari Muhammad wafat?

      Wahyu terputus dari mereka karena Sang Rasul wafat

      Dia bersinar hingga dataran rendah al-Ghur dan dataran tinggi Najd

      Dia tunjukkan kepada ar-Rahman siapa saja yang ikut

      Selamatkan manusia dari bahaya kehinaan dan memberi petunjuk

      Dialah imam yang menunjukkan manusia pada kebenaran dengan semangat tiada tara

      Pengajar kejujuran, jika taat padanya bahagia kan bersama mereka

      Memaafkan kesalahan dan menerima dengan lapang maaf mereka

      Bila mereka berbuat baik, sungguh Allah Maha Dermawan dengan kebaikan

      Bila terjadi sesuatu dan mereka tiada sanggup memikul bebannya

      Kemudahan akan datang darinya untuk meringankan beban kesulitan

      Tatkala mereka sedang berada dalam nikmat Allah

      Dialah pemandu mereka pada jalan jelas pasti yang dituju

      Sang Nabi begitu sedih apabila mereka menyimpang dari petunjuk Ingin sekali mereka tetap lurus dan mendapatkan petunjuk

      Lemah lembut pada mereka, tidak pupus kasih sayangnya

      Dalam kasih sayangnya mereka meniti jalan yang pasti

      Saat mereka menikmati cahayanya nan indah

      Panah kematian tiba-tiba membidik cahaya mereka

      Akhirnya, Sang Mahmud (Sang Terpuji) kembali ke haribaan Allah

      Sementara malaikat menangisi dan memujinya

      Negeri-negeri haram setatkala menjadi sepi senyap

      Karena hilangnya wahyu dari mereka kecuali

      Hang lahad yang dia masuki

      Dia telah pergi tuk selamanya dan ditangisi

      Balath dan pohon Gharqad

      Masjidnya lengang sunyi setelah Sang Rasul pergi

      Padahal di sana ada tempat berdiri dan duduknya

      Negeri-negeri dan tanah kosong menjadi sepi tanpa penghuni

      Wahai mata, tangisi Rasulullah dengan simbahan airmatamu

      Jangan sampai aku lihat air matamu terhenti karena berlalunya waktu

      Mengapa tiada tangis pada pemilik nikmat pada manusia

      Yang demikian sempurna dan meliputi semua manusia

      Dermawanlah engkau dengan linangan air mata padanya dan sedu sedanlah

      Tuk seorang yang tidak ada tandingannya sepanjang masa

      Tidak ada orang di masa lalu yang mati bagaikan Muhammad

      Tidak ada orang yang menyamainya hingga Hari Kiamat

      Dia suci dan menanggung tanggungan demi tanggungan

      Banyak pemberiannya tanpa mengharap balas

      Selalu memberi dengan harta baru dan harta lama

      Saat seseorang kikir dengan harta lamanya

      Dialah manusia paling terhormat dan dibincangkan di rumah-rumah

      Dari keturunan terhormat dan terpandang di kota Mekkah (Abthah)

      Dia berada di puncak ketinggian nan kokoh

      Berdiri di atas pilar-pilar yang menjulang nan kokoh kuat

      Kokoh akar, cabang dan kayunya

      Yang disirami awan hingga kehidupan berdenyut

      Tuhan Yang Mahamulia mendidiknya sejak masa kecilnya

      Hingga dia menjadi sempurna dalam segala tindak-tanduknya

      Seluruh wasiat kaum Muslimin berakhir di telapak tangannya

      Tidak ada ilmu yang disembunyikan dan tiada pendapat yang dicemoohkan

      Aku katakan dan ucapanku ini tidak dicela pencela manusia

      Kecuali orang yang berakal rendah dan kehilangan rasa

      Tiada henti akan memuji dirinya

      Dengan sebuah harap kekal di surga bersama al-Musthafa

      Tuk menggapainya semua aku berusaha dengan sungguh-sungguh penuh keringat

      Hassan bin Tsabit juga berkata menangisi Rasulullah dalam untaian syairnya,

      Kenapa matamu tidak terpejam tidur pulas?

      Seakan dicelaki dengan celak penyakit mata

      Karena berduka terhadap pemberi petunjuk yang kini wafat

      Wahai orang terbaik yang menginjak kerikil, janganlah engkau pergi menjauh

      Wajahku melindungimu dari gundukan tanah

      Andai aku dikubur sebelum dirimu di Baqi' al-Gharqad

      Ayah ibuku menjadi tebusan orang yang aku lihat saat dia wafat

      Sang Nabi pemberi petunjuk pada hari Senin

      Tiada henti duka hatiku setelah wafatnya

      Hatiku bingung, andai aku tak pernah dilahirkan ke dunia fana

      Adakah sepeninggalmu, aku akan tetap menetap di Madinah bersama mereka?

      Andai saja aku diberi minum racun ular berbisa

      Atau Allah beri keputusan kepada kami lebih cepat

      Di senja ini atau di besok hari

      Kemudian Hari Kiamat terjadi, lalu kita bertemu orang terbaik

      Yang wataknya adalah asli

      Wahai anak sulung Aminah yang diberkahi,

      Wahai, orang yang lahir dari wanita suci di Sa'dul As 'ad,

      Dia adalah cahaya yang menerangi seluruh jagad raya

      Barangsiapa diberi petunjuk pada cahaya yang bertabur berkah, ia memperoleh petunjuk

      Wahai Tuhanku, himpunlah kami bersama Sang Nabi

      Di surga yang dipalingkan dari mata-mata pendengki

      Di surga Firdaus, tetapkanlah ia untuk kami

      Wahai Dzat yang memiliki keagungan, keperkasaan, dan kemuliaan

      Demi Allah, tidaklah aku mendengar orang mati selagi aku hidup

      Melainkan aku menangis untuk kematian Muhammad SangNabi

      Wahai, celakalah para Penolong Nabi dan kaumnya

      Setelah dia dimasukkan di Hang lahad

      Terasa sempit seluruh negeri bagi kaum Anshar

      Wajah mereka menjadi legam bagaikan batu serawak

      Kami telah melahirkan beliau dan kuburannya ada bersama kami

      Bekas-bekas nikmatnya tersisapada kami tiada mungkin kami pungkiri

      Allah muliakan dan beri petunjuk kami dengannya

      Kamilah penolongnya di semua medan perang

      Semoga Allah dan malaikat-malaikat yang mengitari Arasy-Nya

      Dan orang-orang yang baik menyampaikan shalawat kepada Ahmad, yang diberkahi

      Hassan bin Tsabit juga berkata menangisi Rasulullah dalam syairnya yang lain:1

      Wartakanlah pada orang-orang miskin, kebaikan telah beranjak pergi dari mereka

      Bersama Nabi yang meninggalkan mereka pada waktu sahur

      Siapakah yang mempunyai pelana, dan membawaku pergi dan rezki keluargaku

      Apabila mereka tidak mendapatkan curahan hujan

      Siapakah yang kami cela tanpa khawatir akan kemarahannya

      Jika lisan berlebih-lebihan atau kepeleset kata saat berucap kata

      Dialah sinar dan cahaya yang kami selalu ikuti setelah Allah

      Dia senantiasa mendengar dan melihat

      Andaikata pada hari mereka memakamkan beliau di lahad

      Dan menimbunkan tanah di atasnya

      Allah tiada sisakan seorangpun di antara kami setelah wafatnya

      Dan tidak ada yang hidup di antara kami wanita dan laki-laki

      Seluruh pundak Bani an-Najjar menjadi lunglai hina

      Namun ini semua adalah ketetapan Allah yang telah ditakdirkan

      Tatkala rampasan perang dibagi kepada seluruh manusia

      Mereka merusaknya terang-terangan di antara mereka tiada guna

      Hassan bin Tsabit juga berkata menangisi Rasulullah dalam syairnya yang lain:

      Aku bersumpah bahwa tidak ada orang yang lebih peduli daripadaku

      Dalam sumpah yangjujur tanpa ada cela

      Demi Allah, wanita tidak akan ada lagi yang hamil dan melahirkan anak

      Sebagaimana Sang Rasul, nabi seluruh ummat dan pemberi petunjuk

      Allah tidak ciptakan satu makhluk-Nya di antara seluruh makhluk-Nya

      Yang lebih memenuhi tanggungan tetangga dan menepati janjinya

      Daripada orang yang berada di tempat kami yang cahayanya senantiasa dicari

      Perintahnya berlimpah berkah, adil dan mengarah tepat

      Isteri-isterimu mengosongkan rumah-rumah di hari berduka

      Mereka tidak lagi memasangpasak di belakang tirai

      Mereka bagaikan biarawati-biarawati yang memakai pakaian usang

      Yakin akan berselimutkan kemalangan setelah bergelimang kebahagiaan

      Wahai manusia terbaik, sungguh aku kini berada di sebuah sungai

      Aku bagaikan seorang yang haus dalam kesendirian

      Bagian terakhir bait kedua bukan berasal dari selain Ibnu Ishaq.1112

    Catatan

    1. Ibnu Ishaq.
    2. Ejaan: tercetak "bnu Ishaq berkata", kami membaca "Ibnu Ishaq berkata"; tercetak "tidak akati pernah", kami membaca "tidak akan pernah".
    3. Ejaan: tercetak "Ubaidilah", kami membaca "Ubaidillah".
    4. Ejaan: tercetak "bertanya^", kami membaca "bertanya:"; tercetak "berlindung berlindung", kami membaca "berlindung"; tercetak "peminpin", kami membaca "pemimpin".
    5. Ejaan: tercetak "bukanalah", kami membaca "bukanlah"; tercetak "kalian lahyang", kami membaca "kalianlah yang"; tercetak "itujika", kami membaca "itu jika"; tercetak "RasulNya", kami membaca "Rasul-Nya".
    6. Ejaan: tercetak "pemah", kami membaca "pernah"; tercetak "umatyang", kami membaca "umat yang".
    7. Ejaan: tercetak "Abdulah", kami membaca "Abdullah".
    8. Ejaan: tercetak "Qutsam bm", kami membaca "Qutsam bin".
    9. Ejaan: tercetak "Merekabertanya", kami membaca "Mereka bertanya".
    10. Nomor catatan kaki "229", "230" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat. ejaan: tercetak "bin Uthab", kami membaca "bin Utbah"; tercetak "di di jazirah", kami membaca "di jazirah".
    11. Tambahan Ibnu Hisyam.
    12. Ejaan: tercetak "yangikut", kami membaca "yang ikut"; tercetak "lembutpada", kami membaca "lembut pada". Pada dua tempat tercetak "Hang lahad"; kami memuatnya apa adanya.

    Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Ini bab terakhir dalam daftar Sirah Nabawiyah di situs ini.