Pusat Sejarah Islam
Bab 50 dari 55

Tahun utusan

Utusan dari berbagai kabilah Arab berdatangan: Bani Tamim, Bani 'Amir, Thayyi', Kindah, Himyar dan banyak lagi. Di masa ini juga muncul dua nabi palsu, Musailamah dan al-Aswad al-'Ansi.

9–10 HSumber: Ibnu Hisyam
Sekilas

Isi bab ini

Bab ini memuat tahun utusan menurut Ibnu Hisyam: Bani Tamim, Bani 'Amir, Dhimam bin Tsa'labah, al-Jarud, Bani Hanifah dan Musailamah, Thayyi', Himyar, Kindah, Jurasy, Najran, Hamdan, pesan kepada Mu'adz bin Jabal, serta Musailamah dan al-Aswad al-Ansi.

Mengapa tahun utusan

Setelah Makkah ditaklukkan dan Perang Tabuk selesai, orang-orang Tsaqif masuk Islam dan utusan Arab berdatangan dari segala arah. Ibnu Hisyam menyebut hal ini terjadi pada tahun kesembilan Hijriyah dan tahun itu disebut sanatul wufuud (tahun utusan); orang Arab menanti sikap Quraisy, pemimpin dan pemilik Baitullah.

Surat dan perjanjian

Beliau menulis surat kepada raja-raja Himyar tentang zakat dan jizyah, kepada Rifa'ah bin Zaid, kepada penduduk Janab untuk utusan Hamdan, dan kepada 'Amr bin Hazm untuk Bani al-Harits bin Ka'ab; pesan kepada Mu'adz bin Jabal sebelum berangkat ke Yaman juga dicatat.

Dua pendusta

Pada masa beliau Musailamah bin Habib muncul di Yamamah dan al-Aswad bin Ka'ab al-Ansi di Shan'a. Musailamah mengirim surat menuntut separuh bumi dan beliau membalasnya; dua gelang emas dalam mimpi beliau ditafsirkan sebagai dua pendusta itu.

Yang menolak

'Amir bin Thufail datang untuk menghabisi beliau lalu wafat karena penyakit di lehernya; Arbad bin Qais disebut wafat sesuai ayat tentang halilintar. Musailamah murtad sepulang utusan Bani Hanifah dan Farwah bin 'Amr al-Judzami dihabisi orang Romawi karena keislamannya.

Peta

Madinah, Najran, Shan'a, dan Ma'an

Titik Madinah, Najran, Shan'a, dan Ma'an diambil dari Wikipedia.

Madinah, Najran, Shan'a, dan Ma'an
Tempat yang disebut Ibnu HisyamPerjalanan (garis perkiraan)
Lihat medan 3DPeta bergambar relief; titik dan garis sama dengan peta ini.
    Alur kisah

    Dari tahun utusan sampai dua pendusta

    Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.

    Mengapa utusan berdatangan dan siapa saja mereka

    Bab ini bukan pertempuran, sehingga tidak ada jumlah pasukan atau spesialisasi pasukan yang dapat dicatat. Sketsa menata urutan penuturan Ibnu Ishaq, dan tabel di bawahnya merangkum utusan yang disebut pada bab ini. Kami menggambarnya sendiri.

    URUTAN PENUTURAN IBNU ISHAQ; ILUSTRASI KAMI, TANPA JARAK DAN ARAHMAKKAH DITAKLUKKANQuraisy tundukpemimpin ArabPERANG TABUKTsaqif masuk Islamdan berbaiatUTUSAN BERDATANGANdari segala arahtahun utusanQS. AN-NASHRmanusia masuk Islamberbondong-bondong123Sketsa urutan yang kami gambar sendiri, tanpa jarak dan arah.
    Utusan dariTokoh yang disebutYang dicatat Ibnu Ishaq
    Bani Tamim'Utharid bin Hajib, al-Aqra' bin Habis, az-Zibriqan bin BadrMemanggil beliau dari belakang kamar; turun QS. al-Hujurat: 4
    Bani 'Amir'Amir bin Thufail, Arbad bin Qais, Jabbar bin Salma'Amir wafat karena penyakit leher; Arbad wafat karena halilintar
    Bani Sa'ad bin BakrDhimam bin Tsa'labahSeluruh kaumnya masuk Islam sebelum sore
    'Abdul Qaisal-Jarud bin 'AmrKristen, masuk Islam dan teguh hingga wafat
    Bani HanifahMusailamah bin Habib bersama utusanUtusan masuk Islam; Musailamah murtad di Yamamah
    Thayyi'Zaid al-KhailDinamai Zaid al-Khair; diberi daerah Faid
    MuradFarwah bin Musaik al-MuradiGubernur atas Murad, Zubair, dan Madzhij
    Zubaid'Amr bin Ma'di YakribMasuk Islam, ditentang Qais bin Maksyuf
    Kindahal-Asy'ats bin Qais, 80 orangMerobek kain sutra atas teguran beliau
    al-AzdShurad bin 'AbdullahMemimpin kaumnya; mengepung Jurasy hampir sebulan
    HimyarMalik bin Murrah ar-Rahawi (utusan Zur'ah Dzu Yazan)Surat dengan ketentuan zakat dan jizyah
    Bani al-Harits bin Ka'ab (Najran)Qais bin al-Hushain, Yazid bin 'Abdul Madan, dan lainnyaMasuk Islam di depan Khalid; 'Amr bin Hazm diutus mengajar
    JudzamRifa'ah bin Zaid al-JudzamiSurat dari beliau; kaumnya masuk Islam
    HamdanMalik bin Namath, Dzu al-Misy'arSurat tentang hak penduduk Janab
    1. Setelah Makkah ditaklukkan, orang-orang Arab yang menanti sikap Quraisy tahu bahwa mereka tidak mampu memerangi beliau.
    2. Selesai Perang Tabuk, orang-orang Tsaqif masuk Islam dan berbaiat.
    3. Utusan-utusan Arab datang dari segala arah, seperti dirinci pada tabel di bawah.

    Soal peta. Ibnu Ishaq menyebut Madinah, Najran, Shan'a, dan Mu'an (Ma'an), serta banyak tempat lain tanpa arah mata angin atau jarak di antaranya. Titik pada peta (Madinah, Najran, Shan'a, dan Ma'an) memakai koordinat yang kami verifikasi.

    Perbedaan sumber

    Tahun. Ibnu Hisyam menyebut tahun kesembilan sebagai tahun utusan (dari Abu 'Ubaidah); Haykal menyebut tahun kesepuluh Hijriyah sebagai "tahun utusan". Bani Tamim. Ibnu Ishaq menempatkan utusan Tamim sesudah Tabuk dan hanya menuturkan mereka memanggil beliau dari belakang kamar (turun QS. al-Hujurat: 4). Haykal menempatkan kisah Tamim sebelum Tabuk: 'Uyainah bin Hishn, petugas zakat, diusir Bani al-'Anbar dari Tamim lalu menawan mereka; para pemuka Tamim datang, beliau enggan menemui mereka karena mereka memanggil dari luar, lalu ada adu orator dan penyair ('Utharid bin Hajib, Tsabit bin Qais, az-Zibriqan bin Badr, Hassan bin Tsabit), al-Aqra' bin Habis mengakui kelebihan kaum Muslimin, mereka masuk Islam, dan tawanan dibebaskan. 'Amir bin Thufail dan Arbad. Kedua sumber menyebut penyakit di leher 'Amir di rumah wanita Bani Salul dan kematian Arbad karena halilintar; Haykal menulis 'Amir menolak masuk Islam, menyamakan dirinya dengan beliau, dan mengancam memenuhi tanah itu dengan pasukan, sedangkan Ibnu Ishaq menulis ia datang untuk menghabisi beliau. Haykal menyebut Arbad wafat di pasar. Musailamah. Haykal menulis rekan-rekannya menugasinya menjaga kuda, beliau memerintahkan ia diberi bagian yang sama dan memujinya, lalu ia mengaku nabi, menggubah sajak seperti Al-Qur'an, menghalalkan khamar dan zina, dan menggugurkan shalat; Ibnu Ishaq menulis ia dititipi perbekalan, menghalalkan minuman keras, dan menggugurkan shalat. Surat Musailamah dan balasan beliau hanya ada dalam Ibnu Ishaq. 'Adi dan 'Amr bin Ma'di Yakrib. Haykal menyebut 'Adi bin Hatim dan 'Umar bin Ma'di Karib sebagai tokoh yang masuk Islam; Ibnu Ishaq menuturkan kisah 'Adi dan 'Amr bin Ma'di Yakrib dengan rinci. Kindah. Kedua sumber menyebut al-Asy'ats bin Qais dengan delapan puluh orang berkain sutra yang mereka robek; Ibnu Ishaq menambahkan nasab Bani Akil al-Murar dan jawaban beliau 'kami Bani an-Nadhr bin Kinanah', sedangkan Haykal menulis al-Asy'ats berkata mereka bangsawan putra bangsawan dan beliau tersenyum lalu menceritakannya kepada al-'Abbas dan Rabi'ah bin al-Harits, serta menambahkan Wa'il bin Hujr yang dikukuhkan sebagai penguasa pesisir Hadramaut dan Mu'awiyah yang diperintah menyertainya. Himyar, Mu'adz. Kedua sumber menyebut surat raja-raja Himyar dan pesan beliau kepada Mu'adz agar memudahkan dan menjawab kunci surga dengan syahadat; teks surat dengan ketentuan zakat hanya ada dalam Ibnu Ishaq. Najran. Ibnu Ishaq menulis Khalid diutus kepada Bani al-Harits bin Ka'ab pada Rabiul Awal atau Jumadil Ula tahun kesepuluh dan mereka masuk Islam, sedangkan 'Ali dikirim ke Najran menarik zakat dan jizyah; Haykal menulis sebagian besar Bani al-Harits sudah masuk Islam dan sekelompok Kristen Najran bertahan, lalu Khalid diutus, dan 'Ali memimpin tiga ratus penunggang kuda melawan kelompok Yaman yang menolak dan menang dua kali sebelum mereka masuk Islam; pertempuran 'Ali itu tidak ada pada bagian Ibnu Ishaq yang kami pakai. Daftar kabilah. Haykal menyebut puluhan nama kabilah utusan menurut Ibnu Sa'd (misalnya Muzainah, Asad, Tsaqif, 'Abdul Qais, Hanifah, Thayyi', Kindah, Himyar, Najran, dan Hamdan) tanpa rinciannya; Ibnu Ishaq hanya memuat kabilah yang tercantum pada bab ini. Kisah yang hanya dalam Ibnu Ishaq. Dhimam bin Tsa'labah, al-Jarud, Zaid al-Khail, Farwah bin Musaik, Shurad dan Jurasy, Farwah bin 'Amr al-Judzami, Rifa'ah bin Zaid, dan utusan Hamdan tidak kami temukan di bagian Haykal yang kami baca. Khan tidak kami temukan membahas utusan-utusan ini.

    1. Sebab tahun utusan

      Orang Arab menanti Quraisy

      Setelah penaklukan Makkah dan Perang Tabuk, orang-orang Tsaqif masuk Islam dan berbaiat, lalu utusan-utusan Arab datang dari segala arah. Ibnu Hisyam menyebut hal ini terjadi pada tahun kesembilan Hijriyah dan tahun itu disebut sanatul wufuud (tahun utusan). Orang-orang Arab menanti sikap Quraisy, pemimpin dan pemilik Baitullah; setelah Quraisy tunduk mereka masuk agama Allah, sebagaimana QS. an-Nashr: 1-3.

      Baca selengkapnya

      Seusai beliau menaklukkan Makkah, dan selesai dari Perang Tabuk, orang-orang Tsaqif memeluk Islam dan berbaiat, datanglah utusan-utusan Arab dari segala semua arah kepada beliau.1

      Abu 'Ubaidah bercerita kepadaku bahwa hal tersebut terjadi pada tahun kesembilan hijriyah dan bahwa sesungguhnya tahun itu disebut dengan sanatul wufuud (tahun utusan).2

      Orang-orang Arab menanti-nanti perkembangan yang terjadi pada orang-orang Quraisy dan perkembangan Rasulullah. Semua karena dalam pandangan mereka, orang-orang Quraisy adalah pemimpin mereka, pemilik Baitullah, penduduk tanah haram, anak keturunan Nabi Ismail bin Ibrahim 'Alaihimas Salam. Para pemimpin Arab mengakui hal ini. Orang Quraisy lah yang menyatakan perang terhadap Rasulullah dan menentang keras. Tatkala Makkah dapat ditaklukkan oleh Rasulullah dan orang-orang Quraisy tunduk padanya, orang-orang Arab pun tahu bahwa mereka tidak mempunyai kekuatan untuk berperang melawan beliau dan untuk memusuhinya. Karenanya, mereka masuk ke dalam agama Allah, sebagaimana difirmankan Allah: Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat. (QS. an-Nashr: 1-3). Yakni, pujilah Allah karena Dia telah memenangkan agamamu dan mintalah ampunan kepada-Nya, karena Dia Maha Penerima taubat.13

    2. Utusan Bani Tamim

      Dipanggil dari belakang kamar

      'Utharid bin Hajib datang bersama tokoh Bani Tamim, di antaranya al-Aqra' bin Habis, az-Zibriqan bin Badr, 'Amr bin al-Ahtam, dan al-Habhab. Mereka memanggil beliau dari belakang kamar-kamar beliau agar keluar, beliau terganggu, dan turun QS. al-Hujurat: 4. Ibnu Hisyam juga menyebut al-Hutat bin Yazid yang dipersaudarakan dengan Mu'awiyah bin Abu Sufyan.

      Baca selengkapnya

      Setelah segalanya terjadi maka berdatanganlah utusan-utusan Arab kepada beliau. 'Utharid bin Hajib bin Zurarah bin Udud datang kepada Rasulullah bersama tokoh-tokoh Bani Tamim, di antaranya al-Aqra' bin Habis at-Tamimi, az-Zibriqan bin Badr at-Tamimi salah seorang warga Bani Sa'ad, 'Amr bin al-Ahtam, dan al-Habhab.1

      Al-Hutat bin Yazid dipersaudarakan oleh Rasulullah dengan Muawiyah bin Abu Sufyan. Rasulullah mempersaudarakan para sahabat dari kaum Muhajirin dengan sesama mereka sendiri; mempersaudarakan Abu Bakar dengan 'Umar bin Khaththab, 'Utsman bin 'Affan dengan 'Abdurrahman bin 'Auf, Thalhah bin 'Ubaidillah dengan Zubair bin 'Awwam, Abu Dzar al-Ghifari dengan al-Miqdad bin 'Amr al-Bahrani, dan Muawiyah bin Abu Sufyan dengan al-Hutat bin Yazid al-Mujasyi. al-Hutat bin Yazid meninggal dunia di rumah Muawiyah bin Abu Sufyan pada masa pemerintahannya, kemudian Muawiyah bin Abu Sufyan mengambil harta peninggalan al-Hutat bin Yazid sebagai hak waris dari persaudaraan antar keduanya.2

      Para Penghuni Kamar

      Tatkala utusan Bani Tamim menghadap Rasulullah, keduanya ikut bersama mereka. Tatkala utusan Bani Tamim masuk ke masjid, mereka memanggil beliau dari belakang kamar-kamar beliau: "Wahai Muhammad keluarlah engkau kepada kami." Rasulullah merasa sangat terganggu dengan teriakan mereka, lalu beliau keluar menemui mereka dan turunlah firman Allah Ta'ala:1

      Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar bilik kebanyakan mereka tidak mengerti. (QS. al-Hujuraat: 4).

    3. 'Amir bin Thufail dan Arbad

      Utusan Bani 'Amir

      Utusan Bani 'Amir datang dengan 'Amir bin Thufail, Arbad bin Qais, dan Jabbar bin Salma. 'Amir bin Thufail datang untuk menghabisi beliau, tetapi di jalan Allah mengirim penyakit ke lehernya dan ia mati di rumah seorang wanita Bani Salul. Ibnu Hisyam menyebut ayat-ayat yang turun tentang 'Amir dan Arbad, dan ayat tentang guruh dan halilintar untuk kematian Arbad.

      Baca selengkapnya

      Utusan Bani 'Amir juga datang menemui Rasulullah. Di dalamnya terdapat 'Amir bin Thufail, Arbad bin Qais bin Jaz'i bin Khalid bin Ja'far, dan Jabbar bin Salma bin Malik bin Ja'far. Mereka bertiga adalah pentolan Bani 'Amir dan setan-setan mereka.1

      'Amir bin Thufail si musuh Allah, datang kepada beliau untuk menghabisi beliau. Tatkala tiba di salah satu jalan, Allah Ta'ala mengirim penyakit misterius ke leher 'Amir bin Thufail. Lalu Allah matikan dia dengan penyakit itu di rumah seorang wanita dari Bani Salul. Sebelum meninggal dunia, 'Amir bin Thufail berkata: "Wahai Bani 'Amir, apakah ini penyakit ghuddah (penyakit kelenjar mematikan) seperti yang sering menyeranganak unta di rumah seorang wanita dari Bani Salul?"

      Zaid bin Aslam berkata dari 'Atha' bin Yasar, dari Ibnu 'Abbas ia berkata: Tentang 'Amir bin ath-Thufaii dan Arbad bin Qais, Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya:2

      Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya. Yang mengetahui semua yang gaib dan yang nampak; Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi. Sama saja (bagi Tuhan), siapa di antaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus-terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari. Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak meng-ubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekalikali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. ' (QS. ar-Ra'du: 8-11). Al-Mu'aqqibaat adalah para malaikat Allah yang diperintahkan melindungi Nabi Muhammad.

      Setelah itu Allah menyebutkan tentang Arbad bin Qais dan bagaimana mati: Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepadaNya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia-lah Tuhan Yang Maha keras siksa-Nya. (QS. arRa'du: 13).

    4. Dhimam bin Tsa'labah

      Bani Sa'ad bin Bakr masuk Islam

      Bani Sa'ad bin Bakr mengutus Dhimam bin Tsa'labah menanyakan Islam. Sesudah masuk Islam ia pulang dan mencela al-Lata dan al-'Uzza, dan sebelum sore hari seluruh Bani Sa'ad bin Bakr, laki-laki dan perempuan, masuk Islam. Ibnu 'Abbas berkata mereka belum pernah mendengar utusan kaum yang lebih mulia darinya.

      Baca selengkapnya

      Muhammad bin al-Walid bin Nuwaifi' bercerita kepadaku, dari Kuraib mantan budak 'Abdullah bin 'Abbas, dari 'Abdullah bin 'Abbas, ia berkata: Bani Sa'ad bin Bakr mengutus Dhimam bin Tsalabah menemui beliau untuk menanyakan perihal Islam. Ia tiba di tempat Rasulullah kemudian menderumkan untanya di pintu masjid, mengikatnya lalu masuk ke dalam masjid. Tatkala itu, Rasulullah sedang duduk 'bersama sahabat-sahabatnya. Dhimam bin Tsalabah lalu mendatangi Rasulullah dan bertanya tentang Islam kemudian ia pun masuk Islam. Setelah itu Dhimam bin Tsalabah pulang ke kaumnya. Tatkala Dhimam bin Tsalabah tiba di kaumnya, kaumnya segera menemuinya. Yang pertama kali diucapkan Dhimam bin Tsa'labah ialah: "Alangkah jahatnya al-Lata dan al-'Uzza." Bani Sa'ad bin Bakr berkata: "Wahai Dhimam, takutlah akan penyakit kusta, penyakit lepra, dan gila," Dhimam bin Tsa'labah berkata: "Celakalah kalian, sesungguhnya al-Lata dan al-'Uzza tidak da pat memberi mudharat dan tidak pula manfaat. Sesungguhnya Allah telah mengutus seorang rasul, menurunkan Kitab kepadanya, dan menyelamatkan kalian dari keadaan yang kalian alami. Sungguh aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan RasulNya. Aku baru saja datang dari beliau dengan membawa apa yang beliau perintahkan dan apa saja yang beliau larang atas kalian."1

      Demi Allah, sebelum hari menjelang di sore di hari itu, seluruh penduduk Bani Sa'ad bin Bakr baik kalangan laki-laki maupun perempuan semuanya masuk Islam.

      Ibnu 'Abbas berkata: Kami belum pernah mendengar utusan sebuah kaum yang lebih mulia daripada Dhimam bin Tsa'labah.

    5. Al-Jarud dan al-Mundzir bin Sawa

      Utusan 'Abdul Qais

      Al-Jarud bin 'Amr dari 'Abdul Qais, yang beragama Kristen, datang, diajak masuk Islam, dan keislamannya teguh hingga ia ikut memerangi orang-orang murtad sebelum wafat. Ibnu Ishaq juga menyebut al-'Ala' bin al-Hadhrami yang dikirim kepada al-Mundzir bin Sawa al-'Abdi sebelum penaklukan Makkah; al-Mundzir masuk Islam dan al-'Ala' menjadi gubernur beliau di Bahrain.

      Baca selengkapnya

      Al-Jarud bin 'Amr bin Hanasy saudara 'Abdul Qais juga datang menemui Rasulullah.1

      Al-Jarud adalah anak Bisyr bin al-Ma'alli. Ia datang bersama utusan 'Abdul Qais dan saat itu ia beragama Kristen.2

      Seorang yang tidak aku ragukan kejujurannya bercerita kepadaku, dari al-Hasan, ia berkata: Tatkala al-Jarud tiba di tempat beliau, ia berbicara banyak dengan Nabi. Rasulullah menawarkan dan mengajak al-Jarud untuk memeluk Islam lalu iapun masuk Islam. Kemudian al-Jarud keluar dari tempat Rasulullah untuk pulang ke kaumnya. Keislamannya baik dan teguh dalam memegang agama Islam hingga ia meninggal dunia. Sebelum meninggal dunia, ia sempat ikut memerangi orang-orang murtad.1

      Ada yang meriwayatkan bahwa al-Jarud berkata: "Aku tidak membutuhkan orang mendeklarasikan syahadat."2

      Rasulullah mengirim al-'Ala' bin al-Hadhrami kepada al-Mundzir bin Sawa al-Abdi sebelum penaklukan Mekkah, kemudian al-Mundzir bin Sawa al-Abdi memeluk Islam dan baik keislamannya. Al-Mundzir bin Sawa al-Abdi meninggal dunia sepeninggal beliau sebelum murtadnya penduduk al-Bahrain. Tatkala itu, al-'Ala' berada di rumah al-Mundzir bin Sawa al-Abdi sebagai gubernur beliau di al-Bahrain.1

    6. Bani Hanifah dan Musailamah

      Utusan dari Yamamah

      Utusan Bani Hanifah datang bersama Musailamah bin Habib al-Kadzdzab dan meninggalkannya di perbekalan; mereka masuk Islam dan pulang membawa hadiah. Sesampai di Yamamah Musailamah murtad, mengaku nabi, menghalalkan minuman keras, dan menggugurkan kewajiban shalat, dan Bani Hanifah menyetujuinya. Ibnu Ishaq menutup dengan 'Wallahu a'lam, riwayat mana yang valid dalam hal ini'.

      Baca selengkapnya

      Utusan Bani Hanifah juga datang menemui beliau. Dalam utusan itu ada Musailamah bin Habib al-Hanafi al-Kadzdzab.1

      Musailamah bin Tsumamah, biasa dipanggil Abu Tsumamah.2

      Salah satu sesepuh dari Bani Hanifah dari penduduk al-Yamamah bercerita kepadaku bahwa utusan Bani Hanifah menghadap Rasulullah dan meninggalkan Musailamah bin al-Habib al-Kadzdzab di perbekalan mereka. Tatkala mereka semua masuk Islam, mereka menyebutkan tempat Musailamah al-Kadzdzab. Setelah itu, mereka keluar dari tempat Rasulullah dan pulang membawa hadiah yang diberikan Rasulullah. Tatkala mereka tiba di al-Yamamah, musuh Allah, Musailamah bin Habib, murtad, mengaku menjadi nabi, dan membuat kebohongan untuk orang-orang Bani Hanifah. Tidak cukup sampai di sini, Musailamah bin Habib menghalalkan minuman keras untuk Bani Hanifah dan menggugurkan kewajiban shalat dari mereka. Walaupun demikian ia masih bersaksi bahwa Rasulullah adalah seorang Nabi. Bani Hanifah menyetujui yang dia katakan. Wallahu a'lam, riwayat mana yang valid dalam hal ini.14

    7. Zaid al-Khail, 'Adi bin Hatim, dan Farwah

      Utusan Thayyi' dan Murad

      Utusan Thayyi' masuk Islam; beliau menamai Zaid al-Khail 'Zaid al-Khair' dan memberinya daerah Faid. 'Adi bin Hatim menceritakan kebenciannya sebelum Islam dan tiga hal yang dijanjikan beliau. Farwah bin Musaik al-Muradi datang meninggalkan raja-raja Kindah dan diangkat menjadi gubernur atas Murad, Zubair, dan Madzhij; Khalid bin Sa'id bin al-'Ash diutus menarik zakat bersamanya.

      Baca selengkapnya

      Utusan Thayyi' yang di dalamnya ada Zaid al-Khail dan pemimpin mereka juga datang menemui beliau. Tatkala tiba di tempat Rasulullah, beliau berbicara dan menawarkan Islam kepada mereka, kemudian mereka memeluk Islam dan keislamannya baik. Rasulullah bersabda -sebagaimana disampaikan kepadaku dari salah seorang Thayyi' yang tidak aku ragukan kejujurannya: "Tidaklah ada salah seorang Arab dengan segala kelebihannya disebutkan kepadaku lalu orang itu datang kepadaku melainkan ia di bawah(nilanya) apa yang disampaikan kepadaku, kecuali Zaid al-Khail. Segala kelebihannya tidak semua disampaikan kepadaku." Kemudian Rasulullah memberi nama dengan nama yang baru, yaitu Zaid al-Khair, memberinya daerah Faid beserta lahan-lahan yang ada di dalamnya dan menulisnya dalam dokumen resmi.1

      'Adi Bin Hatim

      Adapun tentang 'Adi, maka 'Adi bin Hatim berkata -sebagaimana yang sampai kepadaku: "Semasa Nashrani dulu tidak ada seorang Arab yang lebih sangat membenci beliau tatkala mendengar namanya dari pada aku. Aku orang terhormat dan beragama Kristen." Lalu Allah menurunkan hidayah padaku hingga aku masuk Islam. Dua hal yang dijanjikan Rasulullah dalam sabdanya tersebut betul-betul telah terjadi dan satu hal yang belum terjadi dan itu pasti akan terjadi. Sungguh aku melihat istana-istana putih di negeri Babilonia ditaklukkan, aku juga melihat seorang wanita keluar dari al-Qadisiyah dengan mengendarai untanya tanpa ada rasa takut hingga ia menunaikan ibadah haji di Baitullah. Demi Allah, satunya lagi akan terjadi, yaitu harta akan melimpah hingga tidak ada orang yang mau mengambilnya."1

      Kedatangan Farwah Bin Musaik al-Muradi

      Farwah bin Musaik al-Muradi juga datang menemui Rasulullah dengan meninggalkan raja-raja Kindah. Tatkala Farwah bin Musaik berangkat menuju beliau dengan meninggalkan raja-raja Kindah sesampainya di tempat Rasulullah, beliau bersabda: "Wahai Farwah, apakah musibah yang menimpa kaummu di Perang ar-Radm itu membuatmu sedih?" Farwah bin Musaik berkata: "Wahai Rasulullah, kaum manakah yang mendapat musibah seperti kaumku di Perang ar-Radm lalu mereka tidak merasakan sedih?" Rasulullah bersabda: "Ketahuilah itu semua justru malah menambahkan kebaikan kepada kaummu di dalam Islam." Kemudian Rasulullah mengangkat Farwah bin Musaik sebagai gubernur beliau yang membawahi wilayah Murad, Zubair, dan Madzhij secara keseluruhan. Beliau pernah mengutus Khalid bin Sa'id bin al-'Ash untuk menarik zakat bersamanya. Khalid bin Sa'id bin al-'Ash tetap bersamanya di negerinya sampai Rasulullah berpulang keharibaan Tuhannya.15

    8. 'Amr bin Ma'di Yakrib dan al-Asy'ats

      Utusan Zubaid dan Kindah

      'Amr bin Ma'di Yakrib mengajak Qais bin Maksyuf menemui beliau, tetapi Qais meremehkannya; 'Amr tetap berangkat dan masuk Islam. Al-Asy'ats bin Qais datang bersama delapan puluh utusan Kindah dengan kain sutra di leher yang mereka robek atas teguran beliau; ia berkata Kindah dan beliau sama-sama Bani Akil al-Murar, dan beliau menjawab 'kami adalah Bani an-Nadhr bin Kinanah'.

      Baca selengkapnya

      'Amr bin Ma'di Yakrib juga datang menemui Rasulullah bersama beberapa orang dari Bani Zubaid, kemudian ia memeluk Islam. Sebelumnya, tatkala Bani Zubaidah mendengar tentang Rasulullah, 'Amr bin Ma'di Yakrib berkata kepada Qais bin Maksyuf al-Muradi: "Wahai Qais, sesungguhnya engkau adalah pemimpin kaummu. Kami mendapatkan laporan bahwa salah seorang dari Quraisy bernama Muhammad telah muncul di Hijaz dan mendeklarasikan dirinya sebagai nabi. Oleh sebab itulah, marilah pergi menemuinya agar kita mengetahui seperti apa ilmu yang dimilikinya. Apabila ia seorang nabi sebagaimana yang ia nyatakan, itu mustahil tidak engkau ketahui dan apabila kita bertemu dengannya, kita mengikuti dia sehingga kalau dia ia bukan nabi, pasti terungkap ilmunya." Qais bin Maksyuf meremehkan usulan 'Amr bin Ma'd Yakrib, bahkan menganggapnya sebagai pendapat yang bodoh. Lalu 'Amr bin Ma'di Yakrib berangkat hingga tiba di tempat Rasulullah dan masuk Islam, membenarkan beliau, dan beriman kepadanya. Tatkala keislaman 'Amr bin Ma'dikarb di dengar Qais bin Maksyuf, ia mengintimidasinya dengan keras. Qais bin Maksyuf berkata: "'Amr bin Ma'di Yakrib telah menentangku dan meninggalkan pendapatku."1

      Kedatangan al-Asy'ats Bin Qais Bersama Utusan Kindah

      Ibnu Syihab az-Zuhri bercerita kepadaku bahwa al-Asy'ats bin Qais datang menemui Rasulullah bersama utusan Kindah yang berjumlah delapan puluh orang dengan rambut rapi tersisir, bercelak, dan mengenakan jubah dari habrah, buatan Yaman, yang pada setiap ujungnya diberi kain sutra. Beliau saat itu berada di masjid. Tatkala mereka telah masuk, Rasulullah bersabda: "Bukankah kalian telah masuk Islam?" Mereka menjawab: "Ya." Rasulullah bersabda: " Lalu bagaimana dengan kain sutera yang ada melengkar di leher kalian?" Maka mereka merobek-robek kain sutra tersebut, lalu mencampakkannya. Al-Asy'ats bin Qais berkata kepada Rasulullah: "Wahai Rasulullah, kami adalah Bani Akil al-Murar dan juga engkau Bani Akil al-Murar." Rasulullah tersenyum, kemudian bersabda: "Nasabkan nasab itu kepada al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib dan Rabiah al-Harits." Al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib dan Rabi'ah bin al-Harits adalah dua lelaki pedagang. Jika mereka berdua berjalan jauh di sebagian orang-orang Arab, kemudian mereka berdua ditanya: "Kalian berdua berasal dari mana?" Keduanya menjawab: "Kami berasal dari Bani Akil al-Murar." Keduanya berbangga dengan nasab ini, karena tatkala itu orang-orang Kindah adalah raja. Rasulullah bersabda kepada utusan Kindah: "Tidak, kami adalah Bani an-Nadhr bin Kinanah. Kita tidak bernasab kepada ibu kami dan tidak menolak ayah kami. Al-Asy'ats bin Qais berkata: "Wahai orang-orang Kindah, apakah kalian dengar itu? Demi Allah, tidaklah aku mendengar seseorang berkata seperti itu setelah ini, kecuali aku akan segera menghajarnya delapan puluh kali."1

      Al-Asy'ats bin Qais adalah anak keturunan Akil al-Murar dari jalur nasab wanita. Akil al-Murar ialah al-Harits bin 'Amr bin Hujr bin 'Amr bin Muawiyah bin al-Harits bin Muawiyah bin Tsaur bin Muratta' bin Muawiyah bin Kindi –ada yang menuturkan Kindah.26

    9. Shurad bin 'Abdullah dan Jurasy

      Pengepungan hampir sebulan

      Shurad bin 'Abdullah al-Azdi datang bersama utusan al-Azd, masuk Islam, dan diangkat memimpin kaumnya untuk memerangi orang musyrik Yaman di sekitar mereka. Ia mengepung Jurasy, kota tertutup tempat suku-suku Yaman dan Khats'am, hampir sebulan. Penduduk Jurasy sebelumnya mengirim dua orang kepada beliau yang masuk Islam, dan beliau melindungi sebidang tanah di sekitar desa mereka dengan tanda-tanda tertentu.

      Baca selengkapnya

      Shurad bin 'Abdullah al-Azdi juga datang menemui Rasulullah bersama dengan utusan al-Azd, kemudian ia memeluk Islam dan keislamannya baik. Rasulullah menjadikan Shurad bin 'Abdullah pemimpin bagi kaumnya yang memeluk Islam dan memerintahkannya bersama mereka yang masuk telah Islam untuk memerangi orang-orang musyrik dari suku-suku Yaman yang ada di sekitar kawasan mereka. Setelah itu Shurad bin 'Abdullah berangkat sesuai dengan perintah beliau hingga berhenti di Jurasy yang saat itu merupakan sebuah kota tertutup yang di dalamnya terdapat suku-suku Yaman dan suku Khats'am. Suku Khats'am bersama suku-suku Yaman masuk ke Jurasy begitu mereka mendengar kedatangan kaum muslimin. Shurad bin 'Abdullah dan anak pasukannya lalu mengepung mereka selama hampir sebulan dan mereka berlindung di sana menghindari serangan Shurad bin 'Abdullah.1

      Masuk Islamnya Penduduk Jurasy Sebelumnya, penduduk Jurasy mengirim dua orang dari mereka kepada beliau di Madinah guna memperhatikan situasi yang sedang berkembang. Lalu utusan Jurasy keluar dari Jurasy dan tiba di tempat Rasulullah kemudian memeluk Islam. Setelah mereka masuk Islam, Rasulullah melindungi sebuah tanah di sekitar desa mereka dengan memberi tanda-tanda tertentu untuk kepentingan kuda, unta, dan sapi pembajak. Jadi, barangsiapa menggembala di tempat tersebut, dia bisa dirampas.

    10. Raja-raja Himyar

      Surat beliau dan zakat

      Sepulang dari Tabuk beliau menerima surat dari raja-raja Himyar yang masuk Islam, dan Zur'ah Dzu Yazan mengutus Malik bin Murrah ar-Rahawi. Beliau menulis surat yang memuat ketentuan zakat unta, sapi, dan kambing, jizyah satu dinar bagi Yahudi dan Kristen yang bertahan pada agamanya, serta pesan kepada Zur'ah agar berbuat baik kepada para utusan beliau, dengan Mu'adz bin Jabal sebagai pemimpin.

      Baca selengkapnya

      Setelah pulang dari Tabuk, beliau menerima surat dari raja-raja Himyar dari utusan mereka. Raja-raja Himyar yang memeluk Islam adalah sebagai berikut: Al-Harits bin 'Abdu Kulal, Nua'im bin 'Abdu Kulal, an-Nu'man raja kecil Dzu Ru'ain, Ma'afir, dan Hamdan. Zur'ah Dzu Yazan juga mengirim Malik bin Murrah ar-Rahawi untuk bertemu dengan beliau dan melaporkan bahwa suku mereka telah masuk Islam, meninggalkan kesyirikan dan orang-orang yang masih tenggelam dalam kemusyrikan. Rasulullah menulis surat kepada mereka:1

      Bismillahirrahmaanirrahim Dari Muhammad utusan Allah dan Nabi-Nya, kepada Harits bin 'Abdu Kulal, Nu'aim bin 'Abdu Kulal, dan an-Nu'man raja Dzu Ru'ain, Ma'afir, dan Hamdan. Aku memuji Allah yang tidak ada Tuhan yang layak disembah kecuali Dia. Amma bad'u.

      Utusan kalian tiba di tempat kami tak lama setelah kami tiba dari Byzantium Romawi. Kami bertemu mereka di Madinah. Utusan kalian menyampaikan apa saja yang kalian pesankan kepada mereka, menjelaskan berita dari kalian yaitu masuk Islamnya kalian, pembunuhan kalian terhadap orang-orang musyrikin, dan bahwa Allah telah memberikan hidayah-Nya kepada kalian. Apabila kalian telah memperbaiki diri, taat kepada Allah dan Rasul Nya, mendirikan shalat, membayar zakat, memberikan jatah seperlima bagi Allah, dan jatah Rasulullah dan pilihan-Nya dari rampasan perang, kalian membayar zakat yang diwajibkan kepada orang-orang mukminin, yaitu sepersepuluh dari tanaman yang diairi dengan mata air dan air hujan, seperlima dari tanaman yang diairi dengan timba, zakat pada empat puluh ekor unta ialah satu bintu labun (anak unta betina yang berumur dua tahun) zakat pada tiga puluh ekor unta ialah ibnu labun (anak unta jantan yang berumur dua tahun), zakat pada setiap lima ekor unta ialah satu kambing, zakat pada setiap sepuluh ekor unta ialah dua kambing, zakat pada setiap empat puluh ekor sapi ialah satu sapi, zakat pada setiap tiga puluh ekor sapi ialah tabi 'jadza' (anak sapi jantan yang berusia satu tahun) atau jadza'ah (anak sapi betina yang berumur satu tahun), dan zakat pada setiap empat puluh ekor kambing yang digembalakan ialah satu kambing, maka itu semua adalah kewajiban Allah yang Dia wajibkan kepada kaum mukminin dalam zakat. Barangsiapa yang berbuat baik dan terus menambahnya, maka yang demikian itu lebih baik baginya. Barangsiapa menunaikan kewajiban tersebut, bersaksi atas keislamannya, dan membantu kaum Mukminin dalam menghadapi orang-orang musyrikin, maka ia termasuk golongan kaum Mukminin; ia mempunyai hak dan kewajiban sebagaimana kaum Mukminin lainnya, serta berhak atas jaminan Allah dan Rasul-Nya.

      Barangsiapa dari orang Yahudi atau Kristen masuk Islam, ia termasuk bagian dari kaum Mukminin; ia memiliki hak dan kewajiban sebagaimana mereka. Dan barang siapa tetap dengan ke-Yahudi-annya atau ke-Kristenannya, ia tidak boleh dipalingkan dari agamanya dan ia wajib membayar jizyah yang diambil dari orang yang telah bermimpi (aqil baligh); laki-laki atau perempuan, merdeka atau budak, sebesar satu dinar dari harga kain al-Ma'afir atau diganti pakaian. Barangsiapa menunaikan hal tersebut kepada beliau, ia berhak atas jaminan Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa menolak menunaikannya, maka ia adalah musuh Allah dan Rasul-Nya. Amma ba 'du. Sesungguhnya Muhammad yang merupakan nabi dan utusan Allah mengirim kepada Zur'ah Dzu Yazin bahwa jika para utusanku datang kepada kalian, hendaklah kalian berbuat baik kepada mereka. Para utusanku adalah Muadz bin Jabal, 'Abdullah bin Zaid, Malik bin 'Ubadah, 'Uqbah bin Namir, Malik bin Murrah, dan sahabat-sahabat mereka yang lain. Hendaklah kalian mengumpulkan zakat dan jizyah yang ada pada kalian dari daerah kalian kemudian berikan kepada utusan-utusanku, pemimpin utusanku adalah Muadz bin Jabal, dan ia jangan sekali-kali pulang kecuali dalam keadaan ridha. Amma ba 'du.

      Sesungguhnya Muhammad bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang layak disembah kecuali Allah dan bahwa ia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Malik bin Murrah ar-Rahawi menerangkan kepadaku bahwa engkau (Zur'ah Dzu Yazin) orang Himyar pertama yang memeluk Islam dan memerangi orang-orang musyrikin, oleh karena itu, aku sampaikan berita gembira padamu, memerintahkan padamu untuk berbuat baik kepada orang-orang Himyar. Jangan berkhianat, dan jangan saling menelantarkan, karena Rasulullah adalah pelindung orang kaya dan orang miskin kalian. Sesungguhnya zakat tidak halal bagi Muhammad dan keluarganya, namun zakat adalah untuk orang-orang fakir dari kaum Muslimin dan para ibnu sabil (musafir). Sesungguhnya Malik bin Murrah ar-Rahawi melaporkan berita yang dibawanya dan menjaga rahasia, oleh karena itu, aku perintahkan kalian berbuat baik kepadanya. Sesungguhnya aku akan mengutus orang-orang yang paling shalih di antara keluargaku, yang paling baik agamanya, dan yang paling banyak ilmunya kepada kalian. Oleh sebab itulah aku perintahkan kalian berbuat baik kepada mereka, karena kebaikan senantiasa diharapkan dari mereka. Wassalamu alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.7

    11. Pesan kepada Mu'adz

      Mudahkan, jangan menyulitkan

      Ketika beliau mengutus Mu'adz bin Jabal ke Yaman, beliau berpesan agar memudahkan dan tidak menyulitkan, memberi kabar gembira, dan menjawab kunci surga dengan syahadat bagi Ahli Kitab. Di Yaman seorang wanita bertanya kepada Mu'adz tentang hak suami atas istri.

      Baca selengkapnya

      'Abdullah bin Abu Bakr bercerita kepadaku bahwa ia diberitahu tatkala beliau mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman, beliau berpesan kepadanya: "Jadikanlah mudah persoalan yang rumit dan jangan merumitkan yang mudah, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari terbirit. Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari Ahli Kitab yang akan bertanya kepadamu: "Apa kunci surga?" Maka katakanlah: "Syahadat (kesaksian) bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah yang tidak ada sekutu bagiNya." Muadz bin Jabal pun meninggalkan Madinah menuju Yaman. Setibanya di sana, ia menjalankan apa saja yang diperintahkan Rasulullah kepadanya. Suatu ketika, wanita Yaman mendatangi Muadz bin Jabal dan berkata: "Wahai sahabat Rasulullah, apa hak seorang suami atas istrinya?" Muadz bin Jabal berkata kepada wanita tersebut: "Sesungguhnya seorang istri tidak akan mampu melaksanakan hak suami atas dirinya, oleh karena itu, bersungguh-sungguhlah engkau dalam menunaikan hak suamimu sesuai dengan kemampuanmu." Wanita tersebut berkata: Demi Allah, apabila engkau benar-benar sahabat beliau engkau pasti mengetahui apa hak suami atas istrinya." Muadz bin Jabal berkata kepada wanita tersebut: "Seandainya engkau pulang menemui suamimu dan kau dapatkan kedua lubang hidungnya sedang mengucurkan nanah dan darah, lalu engkau mengobatinya maka engkau masih belum menunaikan haknya."1

    12. Farwah bin 'Amr al-Judzami

      Gubernur Romawi yang masuk Islam

      Farwah bin 'Amr al-Judzami mengirim utusan yang mengabarkan keislamannya dan menghadiahkan bighal putih; ia gubernur Romawi atas orang Arab di sekitar Mu'an dan Syam. Orang Romawi menangkapnya dan menghabisinya di sebuah mata air.

      Baca selengkapnya

      "Farwah bin 'Amr bin an-Nafirah al-Judzami kemudian an-Nufatsi mengirim utusan kepada Rasulullah yang mengabarkan bahwa dirinya telah memeluk Islam dan menghadiahkan bighal putih padanya. Farwah bin 'Amr adalah gubernur kerajaan Byzantium Romawi yang membawahi orang-orang Arab yang ada di sekitar kerajaan Byzantium Romawi. Daerah kekuasaannya adalah Mu'an dan daerah-daerah Syam di sekitarnya. Tatkala orang-orang Romawi mereka mencarinya kemudian menangkapnya dan menahannya di tempat mereka. Ibnu Syihab az-Zuhri berkata bahwa tatkala orang-orang Byzantium Romawi membawa Farwah bin 'Amr untuk membunuhnya, ia berkata: Sampaikan kepada para patriot dan prajurit kaum Muslimin Bahwa aku berserah diri kepada Tuhanku tulang dan tubuhku Kemudian orang-orang Romawi menghabisi Farwah bin 'Amr al-Judzami di mata air tersebut. Mudah-mudahan Allah merahmatinya.1

    13. Bani al-Harits bin Ka'ab di Najran

      Khalid dan 'Amr bin Hazm

      Sekitar Rabiul Awal atau Jumadil Ula tahun kesepuluh Hijriyah beliau mengutus Khalid bin Walid kepada Bani al-Harits bin Ka'ab di Najran; mereka masuk Islam, Khalid mengajar mereka, lalu pulang bersama utusan mereka. Sesudah itu beliau mengutus 'Amr bin Hazm mengajarkan agama dan menulis ketentuan bagi Yahudi dan Kristen, antara lain jizyah satu dinar. Ibnu Ishaq menyebut beliau wafat empat bulan setelah utusan itu kembali.

      Baca selengkapnya

      Sekitar bulan Rabiul Awal atau Jumadil Ula tahun kesepuluh Hijriyah, Rasulullah mengutus Khalid bin Walid kepada Bani al-Harits bin Ka'ab di Najran dan memerintahkannya untuk menyeru mereka kepada Islam. Orang-orang Bani al-Harits bin Kaab pun masuk Islam, kemudian Khalid bin Walid menetap di tempat mereka untuk mengajarkan Islam, Kitabullah, dan Sunnah Nabi-Nya. Setelah itu, Khalid bin Walid pulang menghadap Rasulullah bersama utusan Bani al-Harits bin Ka'ab yang di dalamnya ada Qais bin al-Hushain bin Dzu al-Ghishshah, Yazid bin 'Abdul Madan, Yazid bin al-Muhajjal, 'Abdullah bin Qurad az-Ziyadi, Syaddad bin 'Abdullah al-Qanani, dan 'Amr bin 'Abdullah adz-Dzababi. Kemudian mereka pulang kepada kaum mereka di akhir bulan Syawal atau pada awal bulan Dzulqa'dah. Empat bulan setelah mereka di kaum mereka, beliau wafat. semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya, menurunkan,berkah-Nya, meridhainya, dan memberi kenikmatan padanya.1

      Pesan Rasulullah kepada 'Amr bin Hazm

      Pasca kembalinya utusan Bani al-Harits bin Ka'ab ke negeri mereka, Rasulullah mengutus 'Amr bin Hazm ke untuk mengajarkan masalah-masalah agama, sunnah, dan ajaran-ajaran Islam kepada mereka. Barangsiapa di antara orang Yahudi dan orang Kristen di antara mereka memeluk Islam dengan keislaman yang tulus dari sanubarinya, ia termasuk golongan kaum Mukminin; ia berhak atas hak dan kewajiban sebagaimana kaum Mukminin lainnya.1

      Barangsiapa tetap bertahan dengan ke-Kristenan-nya atau ke-Yahudi-annya, ia tidak boleh dipaksa keluar dari agamanya. Setiap orang yang telah bermimpi (baligh); laki-laki, atau perempuan, orang merdeka, atau budak, harus membayar satu dinar utuh atau yang setara dengannya yaitu pakaian sebagai gantinya. Barangsiapa menunaikan kewajiban tersebut, ia berhak atas jaminan Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa menolak membayarnya, ia musuh Allah, Rasul-Nya dan kaum Mukminin. Semoga shalawat dan salam tetap tercurah kepada Muhammad.8

    14. Rifa'ah bin Zaid dan Hamdan

      Surat dan utusan

      Rifa'ah bin Zaid al-Judzami datang saat perdamaian Hudaibiyah sebelum Perang Khaibar dan beliau menulis surat untuknya; kaumnya masuk Islam lalu berangkat ke Harrah ar-Rajla'. Utusan Hamdan, antara lain Malik bin Namath dan Dzu al-Misy'ar, berpapasan dengan beliau pulang dari Tabuk, dan beliau menulis surat tentang hak penduduk Janab.

      Baca selengkapnya

      Di tengah-tengah disepakatinya perdamaian al-Hudaibiyah sebelum terjadinya perang Khaybar, Rifa'ah bin Zaid al-Judzami dan adh-Dhubaibi datang menemui beliau lalu menghadiahi Beliau seorang budak. Rifa'ah bin Zaid al-Judzami memeluk Islam dengan keislaman yang baik. Rasulullah menulis surat kepada Rifa'ah bin Zaid al-Judzami untuk disampaikan kepada kaumnya. Berikut isi surat beliau: Bismillahirrahmanaanirrahim Ini adalah surat dari Muhammad sang utusan Allah kepada Rifa'ah bin Zaid. Aku mengutusmu kepada segenap kaummu dan untuk menyeru kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa di antara mereka memenuhi seruan tersebut, ia termasuk golongan (penganut agama) Allah dan golongan Rasul-Nya. Dan barangsiapa tidak memenuhi ajakan tersebut, ia mendapatkan jaminan keamanan selama dua bulan.1

      Sesampainya Rifa'ah bin Zaid di tengah kaumnya dan mengajak mereka masuk Islam, mereka memenuhi ajakannya dengan memeluk Islam, kemudian mereka berangkat ke Harrah ar-Rajla'. Kedatangan Utusan Hamdan

      Disampaikan orang yang tidak aku ragukan kredibilitasnya, dari 'Amr bin 'Abdullah bin Udzainah al-Abdi, dari Abu Ishaq as-Sabi'i, ia berkata: Utusan Hamdan juga datang kepada beliau. Dalam utusan Hamdan tersebut ada Malik bin Namath, Abu Tsaur yakni Dzu al-Misy'ar, Malik bin Aifa', Dhimam bin Malik as-Salmani, dan Umairah bin Malik al-Kharifi. Mereka berpapasan dengan Rasulullah saat kepulangan beliau dari Tabuk. Saat itu, mereka mengenakan pakaian dari kain kain-kain berjahit yang halus asal Yaman, sorban dari Aden, di atas unta yang gagah asal Mahrab dan Arhab. Malik bin Namath dan seseorang dari mereka berkata membanggakan kaumnya. Ia berkata: "Wahai Rasulullah, orang-orang Hamdan yang terpandang dari semua kota dan desa berkerumun mendatangimu dengan menaiki unta muda yang kencang larinya dan bersambung dengan buhul-buhul Islam. Mereka tidak khawatir oleh kecaman orang yang mengecam. Mereka berasal dari kota Kharif, Yam, dan Syakir, yang merupakan pemilik unta dan kuda. Mereka menerima dakwah Rasul, merobohkan tuhan-tuhan patung-patung. Janji mereka tidak akan dilanggar selagi gunung masih berdiri tegak dan anak kijang masih berlari dengan kencang. Surat Rasul tentang Larangan Pada Penduduk Janab Bismillahirrahmaanirrahim Surat ini datang dari Rasulullah, Muhammad, kepada distrik kota Kharif, penduduk negeri tanah tinggi (Janab), dan bukit berpasir bersama utusannya yaitu Dzu al-Misy'ar, untuk Malik bin Namath bersama siapa saja dari kaumnya yang memeluk Islam bahwa mereka berhak atas tanah dataran tinggi dan dataran rendah mereka, selagi mereka mendirikan shalat dan membayar zakat. Mereka boleh menikmati kacang-kacangan di daerah-daerah itu dan menggembalakan hewan ternak di padang rumput di daerah tersebut. Oleh karena itulah, mereka berhak dan layak atas jaminan Allah dan RasulNya. Saksi mereka adalah Muhajirin dan Anshar.2

    15. Dua pendusta dan para gubernur

      Musailamah dan al-Aswad

      Pada masa beliau ada dua pembual: Musailamah bin Habib di Yamamah dan al-Aswad bin Ka'ab al-Ansi di Shan'a. Dalam riwayat Abu Sa'id al-Khudri beliau menafsirkan dua gelang emas yang ditiup menjadi dua pendusta itu, dan menurut Abu Hurairah akan muncul tiga puluh dajjal. Beliau mengutus gubernur dan petugas zakat ke berbagai negeri; Musailamah mengirim surat yang menuntut separuh bumi, dan beliau membalasnya.

      Baca selengkapnya

      Pada saat beliau masih hidup ada dua orang yang membual tentang beragam hal: Musailamah bin Habib al-Kadzdzab di Yamamah di Bani Hanifah dan al-Aswad bin Ka'ab al-Ansi di Shan'a.1

      Yazid bin 'Abdullah bin Qusaith bercerita kepadaku, dari 'Atha' bin Yasar, atau saudaranya yaitu Sulaiman bin Yasar, dari Abu Sa'id al-Khudri, ia berkata: Aku mendengar beliau berkhutbah di atas mimbar: "Hai orang-orang sekalian, aku menyaksikan lailatul qadr kemudian aku dilupakannya. Aku melihat gelang dari emas di kedua tanganku namun aku tidak menyukainya. Lalu aku tiup gelang tersebut, ternyata keduanya terbang melayang, lalu aku tafsirkan kedua gelang tersebut adalah dua orang pendusta itu: orang Yaman dan Yamamah."1

      Orang yang tidak aku ragukan integritasnya bercerita kepadaku, dari Abu Hurairah, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda:1

      "Hari Kiamat tidak akan datang sampai muncul tiga puluh dajjal yang kesemuanya mengklaim sebagai nabi." Keberangkatan Para Gubernur Dan Petugas Penarik Zakat

      Beliau mengutus para gubernurnya dan petugas zakat ke negeri-negeri yang berada di bawah kekuasaan kaum muslimin. Beliau mengutus al-Muhajir bin Abu Umayyah bin al-Mughirah ke Shan'a. Namun al-Aswad bin Ka'ab al-Ansi melakukan pemberontakan kepadanya saat ia berada di sana. Beliau mengutus Ziyad bin Labid saudara Bani Bayadhah al-Anshari ke Hadramaut sebagai gubernur dan petugas penarik zakat di sana, mengutus 'Adi bin Hatim ke Thayyi' sebagai gubernur dan petugas zakat di sana dan Bani Asad, mengutus Malik bin Nuwairah, Ibnu Hisyam berkata: ia berasal dari Yarbu', sebagai petugas zakat di Bani Handzalah, membagi penanganan zakat Bani Sa'ad kepada dua orang dari mereka; az-Zibriqan bin Badr di salah satu daerah di sana dan Qais bin 'Ashim di daerah lainnya, mengirim al-'Ala' bin al-Hadhrami sebagai gubernur Bahrain, dan mengirim 'Ali bin Abu Thalib kepada penduduk Najran untuk menarik zakat dan menyerahkan jizyah mereka kepada beliau. Surat Musailamah al-Kadzdzab Kepada Rasulullah dan Surat Balasan Beliau Kepadanya1

      Musailamah bin Habib mengirim surat kepada Rasulullah. Yang isinya sebagai berikut:1

      Dari Musailamah Rasulullah kepada Muhammad Rasulullah, salamun alaika. Amma ba'du. "Sesungguhnya kepentingan kita dalam perkara (kenabian) ini sama. Kami berhak atas separuh bumi dan Quraisy berhak atas separuhnya lagi, namun Quraisy adalah orang-orang yang melampaui batas."

      Dua utusan membawa surat Musailamah bin Habib kepada Rasulullah.

      Salah satu syaikh dan Asyja' bercerita kepadaku, dari Salamah bin Nuaim bin Mas'ud al-Asyja'i, dari ayahnya. Nuaim, yang berkata: Aku mendengar Rasulullah bertanya kepada kedua utusan Musailamah bin Habib setelah beliau membaca surat tersebut: "Bagaimana pandangan kalian?" Kedua utusan Musailamah bin Habib tersebut berkata: "Kami sepakat dengan Musailamah bin Habib." Rasulullah bersabda: "Demi Allah, andai seorang utusan itu boleh dibunuh, aku pasti menghabisi kalian berdua."1

      Kemudian Rasulullah menulis surat kepada Musailamah bin Habib. Isi surat beliau sebagai berikut: Bismillahirrahmaanirrahim Dari Muhammad Rasulullah kepada Mu-sailamah al-Kadzdzab (si pendusta). Kedamaian atas siapa saja yang mengikuti petunjuk Amma badu. Sesungguhnya bumi ini hanyalah milik Allah yang Dia wariskan kepada siapa saja yang Dia hendaki dari hamba-hamba-Nya dan pahala itu hanya untuk orang-orang yang bertakwa. Peristiwa ini terjadi pada akhir tahun kesepuluh hijriyah.9

    Catatan

    1. Ibnu Ishaq.
    2. Tambahan Ibnu Hisyam.
    3. Ejaan: tercetak "peminpin", kami membaca "pemimpin".
    4. Ejaan: tercetak "Dersaksi", kami membaca "bersaksi".
    5. Ejaan: tercetak "keharibaab", kami membaca "keharibaan".
    6. Ejaan: tercetak "sehigga", kami membaca "sehingga".
    7. Ejaan: tercetak "Mukmimn", kami membaca "Mukminin".
    8. Ejaan: tercetak "teiah", kami membaca "telah"; tercetak "agamnya", kami membaca "agamanya".
    9. Nomor catatan kaki "207", "208", "209" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat. ejaan: tercetak "pul'uh", kami membaca "puluh"; tercetak "gubemur", kami membaca "gubernur"; tercetak "Musaiiamah", kami membaca "Musailamah"; tercetak "Salamah uin Nuaim", kami membaca "Salamah bin Nuaim".

    Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Bab berikutnya membahas Haji Wada'.