Pusat Sejarah Islam
Bab 10 dari 55

Perjalanan ke Syam & rahib Bahira

Abu Thalib mengajak Nabi kecil ikut kafilah dagang ke Syam. Di Bushra, seorang rahib bernama Bahira melihat tanda-tanda kenabian dan meminta agar beliau segera dibawa pulang.

usia 12 (Haykal) atau 13 (Khan)Sumber: Ibnu Hisyam
Sekilas

Isi bab ini

Bab ini menceritakan perjalanan Rasulullah ﷺ semasa kecil ke Syam bersama pamannya, Abu Thalib, dan pertemuannya dengan pendeta Bahira. Empat hal berikut gambaran awalnya.

Ikut kafilah

Abu Thalib berangkat bersama rombongan dagang Quraisy ke Syam, dan Rasulullah ﷺ yang ingin ikut dibawa serta.

Pendeta Bahira

Di Bushra, Bahira membuat hidangan besar untuk rombongan, padahal sebelumnya ia tidak pernah menyapa mereka.

Tanda kenabian

Bahira melihat ciri-ciri yang ia kenal, termasuk tanda di antara dua pundak, lalu meminta Abu Thalib segera membawa beliau pulang.

Si Tepercaya

Beliau tumbuh dijaga Allah dari kotoran jahiliah, hingga kaumnya menggelarinya "al-Amin".

Peta

Dari Makkah ke Bushra

Pilih salah satu langkah di daftar yang menyertai peta. Titik-titiknya diambil dari Wikipedia.

Makkah ke Bushra
Tempat yang disebut Ibnu HisyamPerjalanan (garis perkiraan)
Sorotan Suriah dan Yordania hanya patokan kasar untuk kawasan Syam.
    Alur kisah

    Dari Makkah sampai gelar al-Amin

    Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.

    Soal usia dan tahun

    Ibnu Hisyam tidak menyebut usia Rasulullah ﷺ dalam perjalanan ini. Haykal menyebut usia 12 tahun, sedangkan Khan menyebut usia 13 tahun. Haykal dan Khan menempatkan kelahiran beliau di Tahun Gajah (570 M); Ibnu Hisyam sendiri tidak memberi padanan Masehi. Jika dihitung kasar dari 570 M, perjalanan ini jatuh sekitar 582 M (usia 12) atau 583 M (usia 13). Angka hitungan itu hitungan kami sendiri, bukan kutipan dari buku.

    1. Keberangkatan

      Abu Thalib membawa Rasulullah ke Syam

      Abu Thalib ikut rombongan dagang Quraisy ke Syam. Menurut sebagian ulama, Rasulullah ﷺ ingin ikut, dan Abu Thalib bertekad membawanya karena tidak ingin berpisah lama dengannya.

      Makam batu Qasr al-Farid berdiri sendiri di tengah padang pasir Mada'in Salih
      Padang pasir di Mada'in Salih (Hegra), Arab Saudi bagian utara, dengan makam batu Qasr al-Farid (foto 2017). Ini gambaran lanskap gurun utara Hijaz hari ini, bukan jalur kafilah Quraisy yang pasti.Ahmad AlHasanat · CC BY-SA 4.0 · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Abu Thalib menyertai rombongan dagang Quraisy menuju Syam. Ketika ia telah siap berangkat, menurut sebagian ulama, Rasulullah ﷺ berkeinginan ikut pergi bersamanya. Abu Thalib tidak kuasa meninggalkannya. Ia berkata, "Demi Allah, aku harus membawanya pergi bersamaku. Ia harus tidak berpisah denganku dan aku harus tidak berpisah dengannya untuk selama-lamanya", atau sebagaimana yang diucapkan oleh Abu Thalib. Kemudian Abu Thalib berangkat dengan membawa serta Rasulullah ﷺ bersamanya.1

    2. Di Bushra

      Pendeta Bahira dan hidangannya

      Di Bushra, kawasan di Syam, hidup pendeta Bahira, yang paling tahu tentang agama Kristen. Biasanya ia tidak mempedulikan rombongan Quraisy yang lewat, tetapi tahun itu ia menyiapkan makanan yang banyak. Menurut sebagian besar ulama itu karena sesuatu yang ia lihat di rumah ibadahnya.

      Masjid Mabrak an-Naqah di Bosra (Bushra), Suriah, dengan menara batu basalt
      Masjid Mabrak an-Naqah dan menaranya (720-721 M) di Bosra (Bushra), Suriah, keadaan sekarang (foto 2010).Foto: Mappo · CC BY-SA 4.0 · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Ketika rombongan bisnis Quraisy sampai di Busra, sebuah kawasan di Syam, di sana hidup seorang pendeta bernama Bahira di rumah ibadahnya. Ia adalah sosok yang paling tahu tentang agama Kristen. Umat Nasrani mendapatkan ilmu dari rumah ibadah itu melalui sebuah kitab yang diwariskan turun-temurun, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Demikian menurut klaim banyak ulama.

      Pada tahun itu rombongan Quraisy berhenti di dekat Bahira. Sebelumnya mereka senantiasa melewatinya, tetapi Bahira tidak pernah mau berbicara dan tidak mempedulikan mereka. Tahun itu, ketika rombongan berhenti di dekat rumah ibadahnya, ia membuatkan makanan yang banyak sekali untuk mereka. Menurut sebagian besar ulama, ia melakukannya karena ada sesuatu yang ia lihat dari dalam rumah ibadahnya. Ada pula yang mengatakan, ia melihat Rasulullah ﷺ berada di tengah rombongan Quraisy sementara awan menaungi beliau di tengah mereka.

    3. Awan dan pohon

      Pohon merunduk, beliau tertinggal menjaga perbekalan

      Rombongan berhenti di bawah pohon dekat Bahira. Bahira melihat awan menaungi beliau dan ranting pohon merunduk kepada beliau. Ia pun menyuruh pembantunya membuat makanan dan mengundang semua orang, tetapi beliau yang masih kecil tertinggal menjaga perbekalan.

      Baca selengkapnya

      Mereka berhenti di bawah rindang pohon dekat Bahira. Bahira melihat awan dan pohon menaungi Rasulullah ﷺ, dan ranting-ranting pohon merunduk luluh kepada beliau hingga beliau bernaung di bawahnya. Saat Bahira menyaksikannya, ia keluar dari rumah ibadahnya dan menyuruh pembantunya membuat makanan, lalu pergi ke tempat rombongan bisnis Quraisy.1

      Ia berkata, "Wahai orang-orang Quraisy, sungguh aku telah membuat makanan untuk kalian. Aku ingin kalian semua hadir, anak kecil, orang dewasa, budak, dan orang merdeka." Seseorang bertanya, "Demi Allah, wahai Bahira, betapa luar biasanya apa yang engkau lakukan kepada kami hari ini, padahal sebelum ini kami sering sekali melewati tempat tinggalmu. Apa gerangan yang terjadi padamu hari ini?" Bahira menjawab, "Engkau tidak salah. Aku dulu memang persis seperti yang engkau utarakan. Namun kalian adalah tamu dan aku suka menjamu kalian. Aku telah membuat makanan dan ingin kalian semua menikmatinya."

      Mereka pun masuk ke rumah Bahira, sementara Rasulullah ﷺ tidak ikut karena masih kecil. Beliau bernaung di bawah pohon untuk menjaga perbekalan rombongan Quraisy.

    4. Di meja hidangan

      "Masih ada seorang anak kecil di antara kami"

      Bahira tidak melihat ciri yang ia cari di antara para tamu, lalu mengingatkan agar tidak ada yang tidak makan. Mereka menyebut anak kecil yang tertinggal di tempat perbekalan. Bahira meminta beliau dipanggil, dan seorang Quraisy berkata, demi Al-Lata dan Al-'Uzza, memalukan jika anak 'Abdullah bin 'Abdul Muththalib tidak ikut makan.

      Baca selengkapnya

      Ketika Bahira melihat rombongan Quraisy dan tidak menyaksikan sifat yang telah ia ketahui, ia berkata, "Hai orang-orang Quraisy, saya ingatkan jangan sampai ada seorang pun yang tidak makan makananku ini." Mereka berkata, "Wahai Bahira, masih ada seorang anak kecil di antara kami yang tertinggal di tempat perbekalan rombongan." Bahira berkata, "Janganlah kalian bertindak seperti itu, panggillah dia agar makan bersama kalian."

      Salah seorang rombongan Quraisy berkata, "Demi Al-Lata dan Al-'Uzza, sungguh sebuah aib bagi kami jika anak 'Abdullah bin 'Abdul Muththalib tidak ikut makan bersama kami." Setelah itu, Bahira datang menemui Rasulullah ﷺ, mendekapnya, dan mendudukkannya bersama rombongan Quraisy lainnya.

    5. Pertanyaan Bahira

      Sumpah, jawaban, dan tanda di punggung

      Bahira memperhatikan beliau dengan teliti dan melihat sifat-sifat kenabian. Setelah makan, ia bertanya dengan menyebut Al-Lata dan Al-'Uzza. Menurut sebagian orang, beliau menjawab bahwa tidak ada yang lebih beliau benci daripada keduanya. Bahira lalu bertanya atas nama Allah, dan semua jawaban beliau sesuai dengan yang ia ketahui. Ia juga melihat tanda kenabian di antara kedua pundak beliau.

      Sumpah pertama

      Bahira bertanya dengan menyebut Al-Lata dan Al-'Uzza, karena ia mendengar kaum beliau bersumpah dengan keduanya.

      Sumpah kedua

      Bahira lalu bertanya dengan menyebut nama Allah. Beliau berkata, "Tanyakanlah kepadaku apa saja yang hendak engkau tanyakan!"

      Baca selengkapnya

      Ketika Rasulullah ﷺ datang, Bahira memperhatikan beliau dengan teliti, termasuk seluruh tubuhnya. Dari hasil penglihatannya, ia mendapatkan sifat-sifat kenabian pada beliau. Setelah mereka selesai makan, rombongan Quraisy berpencar, sedangkan Bahira mendekati Rasulullah ﷺ dan berkata, "Wahai anak muda, dengan menyebut nama Al-Lata dan Al-'Uzza aku menanyakan kepadamu, dan engkau hendaknya menjawab apa yang aku tanyakan." Bahira mengatakan itu karena ia mendengar kaum Rasulullah ﷺ bersumpah dengan Al-Lata dan Al-'Uzza.1

      Ada yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ menjawab, "Janganlah sekali-kali engkau bertanya tentang sesuatu pun kepadaku dengan menyebut nama Al-Lata dan Al-'Uzza. Demi Allah, tidak ada yang sangat aku benci melebihi keduanya." Bahira berkata, "Baiklah, aku bertanya kepadamu dengan menyebut nama Allah, dan hendaknya engkau menjawab pertanyaanku." Beliau berkata, "Tanyakanlah kepadaku apa saja yang hendak engkau tanyakan!"

      Bahira menanyakan banyak hal, tentang kondisi tidur beliau, postur tubuh beliau, dan masalah-masalah lain. Beliau menjawab apa yang ditanyakan, dan semua jawaban beliau sesuai dengan yang ia ketahui. Kemudian Bahira melihat punggung beliau dan ia melihat tanda kenabian di antara kedua pundak, persis seperti ciri-ciri Nabi yang ia ketahui.

      Tanda kenabian Rasulullah ﷺ seperti bekas bekam.2

    6. Pesan Bahira

      "Segera bawa pulang keponakanmu"

      Bahira bertanya kepada Abu Thalib apakah anak itu putranya. Setelah tahu ia keponakan yang ayahnya wafat saat ia dalam kandungan, Bahira memintanya segera dibawa pulang dan dijaga dari orang-orang Yahudi, sebab akan terjadi perkara besar pada diri beliau.

      Baca selengkapnya

      Tidak lama kemudian Bahira menyapa Abu Thalib dan bertanya, "Apakah anak muda ini anakmu?" Abu Thalib menjawab, "Benar, dia anakku!" Bahira berkata, "Tidak! Dia bukanlah anakmu. Anak muda ini tidak layak memiliki seorang ayah yang masih hidup." Abu Thalib berkata, "Oh, ya! Dia anak saudaraku." Bahira bertanya, "Apa pekerjaan ayahnya?" Abu Thalib menjawab, "Ayahnya meninggal dunia saat dia masih dalam kandungan ibunya." Bahira berkata, "Segera bawa pulang keponakanmu ini ke negeri asalmu sekarang juga! Jagalah dia dari kejahatan orang-orang Yahudi! Demi Allah, jika mereka melihatnya seperti yang aku saksikan, niscaya mereka membunuhnya. Sesungguhnya akan terjadi suatu perkara besar pada keponakanmu ini. Karena itu, bawalah dia pulang segera ke negeri asalmu!"1

      Setelah menuntaskan urusan bisnisnya di Syam, Abu Thalib segera membawa pulang Rasulullah ﷺ ke Makkah.

    7. Ahli Kitab

      Zurair, Tamam, dan Daris

      Banyak orang menyebut bahwa tiga Ahli Kitab, Zurair, Tamam, dan Daris, melihat pada diri beliau apa yang Bahira lihat, dan berusaha mencarinya. Bahira melindungi beliau dengan mengingatkan mereka kepada Allah dan kepada sifat beliau dalam kitab mereka, sampai mereka mengurungkan niat membunuhnya.

      Baca selengkapnya

      Banyak orang mengklaim bahwa Zurair, Tamam, dan Daris, ketiganya Ahli Kitab, melihat pada diri Rasulullah ﷺ persis sebagaimana yang Bahira lihat, dalam perjalanan beliau bersama pamannya, Abu Thalib. Mereka bertiga berusaha keras mencari beliau, tetapi Bahira melindunginya dari mereka. Bahira mengingatkan mereka kepada Allah, tentang nama dan sifat beliau yang bisa mereka temukan dalam kitab mereka, serta bahwa sekalipun mereka sepakat membunuh beliau, mereka tidak mungkin dapat mendekatinya. Bahira tidak henti-hentinya memberi nasihat hingga akhirnya mereka menyadari kebenaran ucapannya, membenarkannya, menarik niat membunuh beliau, dan berpaling meninggalkan Bahira.

    8. Tumbuh dewasa

      Dijaga Allah, digelari al-Amin

      Rasulullah ﷺ tumbuh dijaga Allah dari kotoran jahiliah. Setelah dewasa, beliau menjadi sosok dengan akhlak terbaik, nasab termulia, tutur paling benar, dan amanah paling agung, sehingga kaumnya menggelarinya "al-Amin". Beliau juga bercerita tentang perlindungan Allah saat masa kanak-kanak, ketika seseorang menamparnya dan menyuruhnya mengenakan kembali pakaiannya.

      Foto hitam putih tahun 1937: Ka'bah berkiswah dan jemaah di Masjidil Haram, Makkah
      Ka'bah dan jemaah di Masjidil Haram, Makkah, foto tahun 1937.Foto: pembuat tidak dicantumkan di Commons · Domain publik (menurut Commons) · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Rasulullah ﷺ tumbuh besar dan berkembang, sementara Allah menjaganya dan melindunginya dari kotoran jahiliah, karena Allah hendak memuliakan dan memberinya risalah. Ketika beliau menjadi dewasa, beliau menjadi pahlawan di tengah kaumnya: paling baik akhlak dan budi pekertinya, paling mulia nasabnya, paling baik bertetangga, teragung sikap santunnya, paling benar tutur katanya, paling agung memegang amanah, paling jauh dari kekejian dan dari akhlak-akhlak yang mengotori laki-laki. Akhirnya kaumnya menggelarinya "al-Amin", karena Allah menghimpun dalam diri beliau hal-hal yang baik.

      Rasulullah ﷺ pernah menceritakan perlindungan Allah atas dirinya dari perilaku jahiliah sejak kecil. Beliau bersabda: "Pada masa kanak-kanakku, aku bersama anak-anak Quraisy mengangkat batu untuk satu permainan yang biasa dilakukan anak-anak. Kami semua telanjang dan meletakkan baju di pundak masing-masing untuk memanggul batu. Aku ikut maju dan mundur bersama mereka. Namun tiba-tiba seseorang yang belum pernah kujumpai menamparku dengan tamparan yang amat menyakitkan sambil membisikkan, 'Kenakan kembali pakaianmu!' Segera aku mengambil pakaianku dan mengenakannya. Setelah itu, aku memanggul batu di pundakku dengan tetap berpakaian, tidak seperti teman-temanku."

    Catatan

    1. Ibnu Ishaq.
    2. Tambahan Ibnu Hisyam.

    Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Perang Fijar dibahas di bab berikutnya.