Pusat Sejarah Islam
Bab 9 dari 55

Wafat Aminah & 'Abdul Muththalib

Saat usia 6 tahun, ibunda Aminah wafat di al-Abwa' sepulang mengunjungi paman-pamannya dari Bani 'Adi bin an-Najjar. Dua tahun kemudian sang kakek, 'Abdul Muththalib, juga wafat. Sejak itu Nabi diasuh pamannya, Abu Thalib.

usia 6 dan 8 tahunSumber: Ibnu Hisyam
Sekilas

Isi bab ini

Bab ini menceritakan masa kecil Rasulullah ﷺ yang kehilangan ibu dan kakek, lalu diasuh pamannya, Abu Thalib. Empat hal berikut gambaran awalnya.

Aminah wafat

Saat beliau berusia enam tahun, Aminah wafat di al-Abwa' dalam perjalanan pulang setelah mengunjungi paman-paman ibunya.

Permadani kakek

'Abdul Muththalib melindungi cucunya saat para paman melarangnya duduk di permadani sang kakek.

Kakek wafat

Saat beliau berusia delapan tahun, 'Abdul Muththalib wafat. Tugas memberi minum jamaah beralih ke al-'Abbas.

Diasuh Abu Thalib

Abu Thalib, saudara sekandung 'Abdullah, mengasuh beliau, dan seorang peramal bernama Lihb meramalkan masa depannya.

Peta

Perjalanan ke Madinah dan pulang

Pilih salah satu langkah di daftar yang menyertai peta. Titik-titiknya diambil dari Wikipedia.

Perjalanan Aminah dan Nabi ﷺ
Tempat yang disebut Ibnu HisyamPerjalanan (garis perkiraan)
Buku di bab ini hanya menyebut Bani 'Adi bin an-Najjar; titik Madinah memakai keterangan Bab 6 bahwa Syaibah dibawa dari Madinah dan ibunya, Salma, dari Bani an-Najjar.
    Alur kisah

    Dari al-Abwa' sampai asuhan Abu Thalib

    Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.

    1. Lahirtahun Gajah (570 M)
    2. 2 tahundisapih Halimah
    3. 6 tahunAminah wafat
    4. 8 tahun'Abdul Muththalib wafat
    5. Abu Thalibmengasuh beliau
    1. Usia enam tahun

      Aminah wafat di al-Abwa'

      Rasulullah ﷺ hidup bersama ibunya dan kakeknya dalam pemeliharaan Allah. Saat berusia enam tahun, Aminah wafat di al-Abwa', di antara Makkah dan Madinah, dalam perjalanan pulang setelah mengunjungi paman-paman ibunya.

      Litograf Utsmani sekitar 1883: kota Madinah dengan masjid berkubah hijau dikelilingi menara
      Litograf Utsmani sekitar 1883: kota Madinah beserta masjidnya (judul berkas di Commons: "Medina. Das erleuchtete Medina").Mehmed Hulusi (sekitar 1883) · Domain publik (menurut Commons) · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Rasulullah ﷺ kemudian hidup bersama ibunya, Aminah binti Wahb, dan kakeknya, 'Abdul Muththalib, dalam pemeliharaan dan perlindungan Allah. Allah menumbuhkan beliau dengan perkembangan yang baik karena hendak memuliakannya. Ketika beliau berusia enam tahun, Aminah meninggalkannya untuk selamanya.1

      'Abdullah bin Abu Bakr bin Muhammad bin 'Amr bin Hazm menyampaikan bahwa Aminah wafat di al-Abwa', sebuah kawasan di antara Makkah dan Madinah. Aminah membawa beliau mengunjungi paman-pamannya dari pihak ibu di Bani 'Adi bin an-Najjar, lalu wafat dalam perjalanan pulang menuju Makkah. Ibnu Hisyam menambahkan bahwa ibu 'Abdul Muththalib adalah Salma binti 'Amr an-Najjariyah, dan hubungan kepamanan itulah yang diuraikan Ibnu Ishaq ketika membahas paman-paman Rasulullah ﷺ dari Bani 'Adi bin an-Najjar.

    2. Bersama kakek

      Permadani 'Abdul Muththalib

      'Abdul Muththalib punya permadani di Ka'bah yang tak seorang pun anaknya berani duduki. Rasulullah ﷺ, saat masih kecil, duduk di atasnya. Ketika paman-pamannya menyingkirkan beliau, 'Abdul Muththalib berkata bahwa kelak cucunya akan menjadi orang besar.

      Baca selengkapnya

      Setelah itu Rasulullah ﷺ hidup bersama kakeknya. 'Abdul Muththalib mempunyai permadani di Ka'bah. Anak-anaknya duduk di sekitar permadani itu sampai ia duduk di atasnya, dan tak seorang pun dari mereka berani duduk di atasnya karena hormat kepadanya. Saat masih kecil, Rasulullah ﷺ datang dan duduk di atas permadani itu. Para paman mengambil beliau dari sana untuk menjauhkan beliau dari 'Abdul Muththalib.

      Melihat perlakuan itu, 'Abdul Muththalib berkata dengan bijak: "Jangan larang anakku (cucuku) ini duduk di atas permadani ini. Demi Allah, kelak di kemudian hari dia akan menjadi orang besar." Ia mendudukkan beliau bersamanya, membelainya dengan tangannya, dan senang atas apa yang diperbuatnya.

    3. Usia delapan tahun

      'Abdul Muththalib wafat

      Saat Rasulullah ﷺ berusia delapan tahun, delapan tahun setelah tahun Gajah (570 M), 'Abdul Muththalib wafat. Sebelum wafat, ia meminta keenam putrinya menangis di hadapannya. Tugas pengelolaan Zamzam dan pemberian minum jamaah dipegang al-'Abbas.

      Baca selengkapnya

      Ketika Rasulullah ﷺ berusia delapan tahun, kakeknya, 'Abdul Muththalib, wafat, delapan tahun setelah tahun Gajah (570 M). Hal ini disampaikan al-'Abbas bin 'Abdullah bin Ma'bad bin al-'Abbas dari sebagian keluarganya.1

      Muhammad bin Sa'id bin al-Musayyib menyampaikan bahwa ketika 'Abdul Muththalib merasa ajalnya dekat, ia mengumpulkan enam putrinya: Shafiyyah, Barrah, 'Atikah, Ummu Hakim al-Baidha', Umaimah, dan Arwa. Ia berkata, "Menangislah kalian untukku agar aku bisa mendengar apa yang kalian katakan sebelum aku menghembuskan napas terakhirku!" Terjemahan yang kami pakai memuat judul "Syair-syair Elegi Duka untuknya", tetapi syair-syairnya tidak kami temukan di teks.

      Setelah 'Abdul Muththalib wafat, pengelolaan Zamzam dan pemberian minum jamaah haji diambil alih al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib, putra bungsu di antara saudara-saudaranya. Ia memegang tugas itu sampai Islam datang, lalu Rasulullah ﷺ menetapkannya sebagaimana semula. Menurut Ibnu Ishaq, jabatan itu tetap pada keluarga al-'Abbas hingga sekarang.

    4. Asuhan paman

      Abu Thalib dan peramal Lihb

      Menurut para ulama, sesuai wasiat 'Abdul Muththalib, Abu Thalib mengasuh Rasulullah ﷺ. Abu Thalib dan 'Abdullah adalah saudara sekandung. Seorang peramal bernama Lihb melihat beliau dan berkata ia akan menjadi orang besar.

      Foto lama kota tenda jemaah haji di luar Makkah dengan pegunungan di belakangnya, sekitar 1910
      Foto lama sekitar 1910: kota tenda di luar Makkah, dilihat dari ketinggian.Foto: American Colony (Yerusalem), Photo Dept. · Domain publik di AS (menurut Commons) · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Sepeninggal 'Abdul Muththalib, Rasulullah ﷺ diasuh pamannya, Abu Thalib, menurut para ulama sesuai wasiat kakeknya, karena 'Abdullah dan Abu Thalib adalah saudara sekandung, dan ibu mereka berdua adalah Fathimah binti 'Amr bin 'A'idz bin 'Abd bin 'Imran bin Makhzum. Beliau diserahkan kepada Abu Thalib dan senantiasa bersamanya.1

      Yahya bin 'Abbad bin 'Abdullah bin az-Zubair menyampaikan dari ayahnya bahwa seseorang dari Lahab (Ibnu Hisyam menyebut Lihb, dari Azd Syanu'ah) adalah juru tenung. Bila ia datang ke Makkah, Quraisy membawa anak-anak mereka agar ia meramal masa depan mereka. Abu Thalib datang membawa Rasulullah ﷺ yang masih belia bersama orang Quraisy lainnya. Ketika Lihb melihat beliau, ia terlena sampai lupa urusan lain, dan berkata, "Dekatkan anak muda itu padaku!" Abu Thalib merasakan kesungguhan Lihb dan menjauhkan beliau dari pandangannya. Lihb berkata, "Sialan kalian semua, bawalah anak muda yang tadi kulihat. Demi Allah, dia akan menjadi orang besar di belakang hari." Abu Thalib pun segera membawa beliau pergi.

    Catatan

    1. Ibnu Ishaq.

    Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Perjalanan ke Syam bersama Abu Thalib dibahas di bab berikutnya. Padanan Masehi dalam tanda kurung bukan dari Ibnu Hisyam, melainkan dari buku-buku pembanding.