Pusat Sejarah Islam
Bab 5 dari 55

Berhala-berhala Arab

Bagaimana berhala bisa masuk ke Makkah? Ceritanya bermula dari 'Amr bin Luhay yang membawa Hubal. Bab ini juga memetakan berhala milik tiap kabilah dan di mana tempatnya.

masa jahiliyahSumber: Ibnu Hisyam
Sekilas

Isi bab ini

Bab ini menceritakan bagaimana penyembahan berhala masuk ke Makkah, lalu mendaftar berhala milik tiap kabilah beserta tempatnya. Empat hal berikut gambaran awalnya.

'Amr bin Luhay

Dari Syam ia membawa Hubal ke Makkah dan menyuruh penduduknya menyembahnya.

Asal mula lain

Ibnu Ishaq juga menuturkan sebab lain: batu tanah haram yang dibawa dan diputari saat singgah di perjalanan.

Berhala tiap kabilah

Wadd, Suwa', al-Lata, al-'Uzza, Manat, dan banyak lagi, masing-masing dengan kabilah dan tempatnya.

Hewan yang dibebaskan

Bahirah, Sa'ibah, Washilah, dan Hami: aturan hewan ternak yang ditetapkan orang Arab untuk berhala.

Peta

Letak sebagian berhala

Pilih salah satu langkah di daftar yang menyertai peta. Peta ini hanya menandai tempat, tanpa panah, dan hanya tempat yang koordinatnya kami ambil dari Wikipedia.

Tempat berhala-berhala Arab
Tempat yang disebut Ibnu Hisyam
    Alur kisah

    Dari Hubal sampai hewan yang dibebaskan

    Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.

    1. Awal mula

      'Amr bin Luhay dan Hubal

      Rasulullah ﷺ menyebut 'Amr bin Luhay sebagai orang pertama yang mengubah agama Isma'il. Menurut seorang ahli ilmu yang dikutip Ibnu Hisyam, ia membawa Hubal dari Syam ke Makkah.

      Miniatur naskah Utsmani: Ka'bah di tengah Masjidil Haram, dikelilingi serambi dan menara
      Miniatur dari naskah Utsmani tahun 1646 (Kitab-i Menasik-i Hacc) yang menggambarkan Masjidil Haram di Makkah dengan Ka'bah di tengahnya. Gambar denah, tanpa figur manusia.Naskah Utsmani, Staatsbibliothek Berlin (1646), pembuat tak diketahui · Domain publik (menurut Commons) · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Ibnu Ishaq menyampaikan, lewat 'Abdullah bin Abu Bakr bin Muhammad bin 'Amr bin Hazm dari ayahnya, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Aku melihat 'Amr bin Luhay menyeret usus-ususnya di neraka. Aku bertanya kepadanya tentang manusia (yang hidup) antara aku dengannya, ia menjawab, 'Mereka telah binasa.'" Catatan kaki penerjemah menyebut bahwa riwayat Bukhari dan Muslim tidak memuat kalimat "Aku bertanya kepadanya...", hanya langsung "mereka binasa".

      Riwayat lain datang dari Abu Hurairah. Beliau ﷺ berkata kepada Aktsam bin al-Jaun al-Khuza'i, "Hai Aktsam, aku lihat 'Amr bin Luhay bin Qama'ah bin Khindif menyeret usus-ususnya, dan aku belum pernah melihat orang yang amat mirip dengannya melainkan engkau." Aktsam bertanya apakah kemiripan itu membahayakannya. Jawab beliau, "Tidak, sebab engkau seorang Mukmin, sedangkan dia seorang kafir. Dialah orang yang pertama kali mengubah agama Isma'il, memasang berhala, mengiris telinga unta, melepaskan sa'ibah, menyambung washilah, dan melindungi (hami)."

      Ibnu Hisyam menuturkan dari seorang yang sangat mumpuni ilmunya bahwa 'Amr bin Luhay pergi dari Makkah ke Syam untuk suatu keperluan. Sampai di Ma'arib, daerah di Balqa', yang saat itu didiami al-'Amaliq, ia melihat mereka menyembah berhala. Mereka berkata bahwa berhala-berhala itu mereka mintai hujan lalu menurunkan hujan, dan mereka mohon pertolongan lalu dikabulkan. 'Amr meminta satu berhala untuk dibawa ke tanah Arab agar disembah, dan mereka memberinya Hubal. Ia tiba di Makkah, memancangkannya, dan memerintahkan penduduk untuk menyembah serta mengagungkannya.

    2. Sebab lain

      Batu dari tanah haram dan talbiyah yang tercampur

      Ibnu Ishaq menyebut sebab lain: keturunan Isma'il yang merantau membawa batu dari tanah haram sebagai bentuk hormat pada Makkah. Lama-lama batu itu sendiri yang disembah. Sebagian tetap menjalankan haji, tetapi menyisipkan berhala dalam talbiyah.

      Baca selengkapnya

      Ibnu Ishaq menuturkan bahwa ada yang mengatakan penyebab keturunan Isma'il menyembah berhala adalah ini: bila hidup di Makkah menjadi sulit lalu mereka pergi mencari rezeki ke negeri lain, mereka membawa satu batu dari batu-batu tanah suci Makkah untuk menghormati Makkah. Di tempat mereka berhenti, batu itu diletakkan dan diputari seperti mereka mengelilingi Ka'bah. Lama-lama mereka menyembah batu yang menurut mereka bagus dan menarik perhatian. Generasi berganti sampai mereka lupa sikap yang benar terhadap batu itu, lalu mengubah agama Ibrahim dan Isma'il.

      Namun masih ada sisa pengikut Ibrahim yang tetap mengagungkan Ka'bah, thawaf, haji, umrah, wukuf di 'Arafah dan Muzdalifah, menyembelih hewan, dan bertalbiyah, tetapi dengan menyisipkan hal baru. Orang Kinanah dan Quraisy bertalbiyah: "Labbaik Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka illa syarikun huwa laka, tamlikuhu wa ma malaka" (tiada sekutu bagi-Mu kecuali sekutu yang menjadi milik-Mu; Engkau memilikinya dan tiada seorang pun yang memilikinya). Ibnu Ishaq menilai mereka mentauhidkan Allah dalam seruan itu, tetapi sekaligus memasukkan berhala-berhala sebagai sekutu di tangan-Nya. Ia mengutip QS Yusuf ayat 106.

      Ibnu Ishaq lalu menyebut bahwa kaum Nuh juga punya berhala, seperti yang disebut QS Nuh ayat 23 sampai 24 (Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr). Setiap penduduk negeri membuat berhala dan menyembahnya di negerinya. Orang yang hendak bepergian mengusap berhalanya saat berangkat sebagai hal terakhir, dan saat pulang mengusapnya lagi sebagai hal pertama sebelum bertemu keluarga. Orang Arab juga membuat thaghut di samping Ka'bah, yaitu rumah-rumah yang mereka agungkan seperti Ka'bah, dengan penjaga, pelayan, dan sesajian. Mereka thawaf dan menyembelih di sana, tetapi tahu bahwa Ka'bah lebih utama sebagai rumah dan masjid Ibrahim.

      Ketika Allah mengutus Muhammad ﷺ dengan tauhid, kata Ibnu Ishaq, Quraisy berkata sebagaimana diabadikan Al-Qur'an: "Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan" (QS Shad: 5).

    3. Daftar

      Berhala milik tiap kabilah

      Ibnu Ishaq mendaftar berhala beserta kabilah pemiliknya dan letaknya. Kartu di bawah merangkum daftar itu, dan teks lengkapnya ada di bagian yang bisa dibuka.

      • WaddKalb bin Wabrah (Qudha'ah) · Dumatul Jandal
      • Suwa'Hudzail · Burhat, dekat Yanbu'
      • YaghutsAn'um (Thayyi') dan penduduk Jurasy dari Madzhaj · Jurasy
      • Ya'uqKhaiwan, kabilah Hamdan · daerah Hamdan, Yaman
      • NasrDzu al-Kula' dari Himyar · kawasan Himyar
      • UmyanisKhaulan (al-Adim) · daerah Khaulan
      • Sa'adBani Milkan bin Kinanah · tanah lapang di daerah mereka
      • Berhala 'Amr bin HumamahDaus
      • HubalQuraisy · sumur dekat Ka'bah
      • Isaf dan Na'ilahQuraisy · sumur Zamzam
      • al-'UzzaQuraisy dan Kinanah · Nakhlah
      • al-LataTsaqif · Thaif
      • ManatAus, Khazraj, dan orang Yatsrib seagama · Qudaid
      • Dzu al-KhalashahDaus, Khats'am, Bajilah · Tabalah
      • FalsThayyi' dan penghuni Gunung Salma dan Aja'
      • Ri'amHimyar dan penduduk Yaman · Shan'a
      • Rudha'Bani Rabi'ah bin Ka'b bin Sa'd (Tamim)
      • Dzu al-Ka'abaatBakr, Taghlab (anak Wa'il), dan Iyad · Sindad
      Benteng Marid di Dumatul Jandal, Arab Saudi
      Benteng Marid di Dumatul Jandal, Arab Saudi, keadaan sekarang (2020). Dumatul Jandal disebut di bab ini sebagai tempat Kalb bin Wabrah menjadikan Wadd berhala; fotonya hanya gambaran kota itu sekarang.Foto: Richard Mortel · CC BY 2.0 · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr. Ibnu Ishaq menuturkan bahwa yang membuat patung dari keturunan Isma'il dan selainnya, dan menamainya dengan nama-nama itu saat meninggalkan agama Isma'il, adalah Hudzail bin Mudrikah, yang menjadikan Suwa' sebagai berhala di Burhat dekat Yanbu'. Kalb bin Wabrah dari Qudha'ah menjadikan Wadd berhala di Dumatul Jandal. Ka'ab bin Malik al-Anshari dalam syairnya menyebut bahwa mereka telah melupakan al-Lata, al-'Uzza, dan Wadd. An'um dari Thayyi' dan penduduk Jurasy dari Madzhaj menjadikan Yaghuts berhala di Jurasy. Khaiwan, kabilah utama Hamdan, menjadikan Ya'uq berhala di Yaman. Dzu al-Kula' dari Himyar menjadikan Nasr berhala di kawasan Himyar. Malik bin Namath al-Hamdani bersyair bahwa Allah yang kuasa mendatangkan manfaat dan mudarat, sedangkan Ya'uq tidak bisa apa-apa.

      Umyanis. Khaulan punya berhala Umyanis. Mereka mengurbankan hewan dan hasil panen bagi Umyanis di samping bagi Allah. Bagian Allah yang masuk ke bagian Umyanis dibiarkan menjadi milik Umyanis, tetapi bagian Umyanis tidak diberikan kepada Allah. Ibnu Ishaq menyebut kabilah itu al-Adim, dan menyatakan QS al-An'am ayat 136 turun berkenaan dengan mereka.

      Sa'ad. Keturunan Milkan bin Kinanah punya berhala bernama Sa'ad, sebuah batu di tanah lapang. Seorang Bani Milkan membawa untanya untuk mendapat berkah dari batu itu. Unta-unta itu lari kocar-kacir melihat batu yang disirami darah. Pemiliknya marah, melempar batu itu, dan berkata: "Semoga Allah tidak memberkahimu, engkau membuat untaku lari dariku." Ia lalu mengumpulkan untanya kembali dan bersyair bahwa Sa'ad hanyalah batu di tanah tandus yang tidak bisa mengajak pada kesesatan maupun petunjuk. Di Daus ada berhala milik 'Amr bin Humamah ad-Dausi.

      Di Makkah. Quraisy membuat berhala di sumur dekat Ka'bah dan menamainya Hubal. Isaf dan Na'ilah mereka tempatkan di sumur Zamzam dan mereka menyembelih di dekatnya. Menurut Ibnu Ishaq, Isaf adalah laki-laki dan Na'ilah perempuan dari Jurhum. Isaf berhubungan dengan Na'ilah di dekat Ka'bah, lalu Allah mengubah bentuk mereka menjadi batu. 'Aisyah, dalam riwayat yang disampaikan lewat 'Amrah binti 'Abdurrahman, berkata bahwa mereka selalu mendengar kisah itu, dan menutupnya dengan "wallahu a'lam". Ibnu Ishaq juga mengutip syair Abu Thalib yang menyebut orang Asy'ari menderumkan unta di aliran air Isaf dan Na'ilah.

      Al-'Uzza, al-Lata, Manat. Quraisy dan Kinanah punya al-'Uzza di Nakhlah, dengan penjaga Bani Syaiban dari Sulaim, sekutu Bani Hasyim. Menurut Ibnu Ishaq, hewan yang disembelih dibagikan kepada orang yang hadir. Al-Lata milik Tsaqif di Thaif, dengan penjaga Bani Mu'attab. Manat milik Aus, Khazraj, dan orang Yatsrib yang seagama, di pesisir dari arah al-Musyallal, tepatnya di Qudaid. Ibnu Hisyam menambahkan bahwa Rasulullah ﷺ mengutus Abu Sufyan untuk menghancurkan Manat, dan ada yang menyebut 'Ali bin Abi Thalib.

      Dzu al-Khalashah, Fals, Ri'am, Rudha', Dzu al-Ka'abaat. Dzu al-Khalashah milik Daus, Khats'am, Bajilah, dan orang Arab di sekitar mereka di Tabalah. Ibnu Hisyam menyebut Rasulullah ﷺ mengutus Jarir bin 'Abdullah untuk menghancurkannya. Fals milik Thayyi' dan penghuni Gunung Salma dan Aja'. Ibnu Hisyam mendengar dari sebagian orang berilmu bahwa 'Ali diutus menghancurkannya dan menemukan dua pedang, Ar-Rasub dan al-Mikhdzam, yang dihadiahkan Rasulullah ﷺ kepadanya. Ri'am milik Himyar dan penduduk Yaman di Shan'a. Rudha' milik Bani Rabi'ah bin Ka'b bin Sa'd bin Zaid Manat bin Tamim; al-Mustaughir bin Rabi'ah menghancurkannya pada masa Islam. Diriwayatkan ia berumur 330 tahun, yang tertua di antara orang Mudhar. Dzu al-Ka'abaat milik Bakr, Taghlab, dan Iyad, terletak di Sindad.

    4. Hewan ternak

      Bahirah, Sa'ibah, Washilah, dan Hami

      Orang Arab menetapkan aturan khusus bagi hewan ternak tertentu, dan Ibnu Ishaq menjelaskan empat istilahnya. Ibnu Hisyam menilai penjelasan Ibnu Ishaq tentang Hami saja yang sejalan dengan pemakaian orang Arab.

      Baca selengkapnya
      Menurut Ibnu IshaqEmpat istilah dan aturannya.
      • Sa'ibah adalah unta yang melahirkan sepuluh kali, semuanya betina tanpa diselingi jantan. Ia dilepas bebas, tak boleh ditunggangi, bulunya tak boleh dicukur, dan susunya tak boleh diminum kecuali untuk tamu.
      • Bahirah adalah anak betina Sa'ibah. Telinganya dipotong lalu dilepas seperti induknya, dengan aturan yang sama.
      • Washilah adalah kambing betina yang melahirkan sepuluh anak betina berurutan dalam lima kali kehamilan, tanpa anak jantan. Bila setelah itu ia masih melahirkan, anaknya khusus bagi laki-laki, tidak bagi perempuan, kecuali bila anak itu mati, maka laki-laki dan perempuan boleh makan bersama.
      • Hami adalah unta betina yang melahirkan sepuluh anak betina berurutan tanpa diselingi jantan. Punggungnya dilindungi: tak ditunggangi, bulunya tak dipotong, dan ia dibiarkan bebas berkeliaran di tengah unta lain.
      Catatan Ibnu HisyamIa menyebut penjelasan itu tidak selaras dengan pemakaian orang Arab, kecuali untuk Hami.

      Ibnu Hisyam berkata bahwa apa yang dikatakan Ibnu Ishaq tidak selaras dengan yang biasa disebut orang Arab. Hanya penjelasan Hami yang selaras. Menurutnya, dalam pandangan orang Arab, bahirah adalah unta betina yang telinganya dipotong, tak ditunggangi, tak dipotong bulunya, dan susunya hanya diminum tamu atau disedekahkan, serta dipersembahkan bagi tuhan-tuhan mereka. Sa'ibah adalah unta betina yang dinazarkan akan dibebaskan bila pemiliknya sembuh dari sakit atau berhasil meraih sesuatu, lalu dilepas untuk tuhan-tuhan mereka dan tak boleh dimanfaatkan. Washilah adalah unta betina yang melahirkan dua anak sekaligus dalam tiap kehamilan, dan pemiliknya mempersembahkan yang betina bagi tuhan-tuhan mereka serta memakai yang jantan untuk dirinya. Ia menerima penjelasan itu dari Yunus bin Habib an-Nahwi dan para pakar lain, dan menambahkan bahwa sebagian perawi meriwayatkan apa yang tidak diriwayatkan perawi lain.

      Ayat-ayat yang dikutipIbnu Ishaq mengaitkan istilah-istilah ini dengan wahyu yang turun kemudian.

      Ibnu Ishaq menyebut bahwa ketika Allah mengutus Muhammad ﷺ, Dia menurunkan QS al-Ma'idah ayat 103: Allah tidak pernah mensyariatkan bahirah, sa'ibah, washilah, dan ham, tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah. Ia juga mengutip QS al-An'am ayat 139 tentang apa yang ada dalam perut ternak yang dikhususkan bagi laki-laki, QS Yunus ayat 59 tentang rezeki yang sebagiannya mereka haramkan dan sebagiannya mereka halalkan, dan QS al-An'am ayat 144 tentang delapan binatang berpasangan.

      Ibnu Hisyam menutup bagian ini dengan syair beberapa penyair tentang unta washilah dan unta bertelinga terpotong, lalu menyebut bentuk jamak istilah-istilahnya: bahirah menjadi baha'ir dan buhur, washilah menjadi washa'il dan wushul, sa'ibah menjadi sawa'ib dan suyyab, dan hami menjadi huwwam. Syair-syair itu tidak kami salin.

    Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai, dan syair-syair yang dikutip tidak kami salin seluruhnya. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran.