Pusat Sejarah Islam
Bab 6 dari 55

Makkah, Quraisy & Qushay

Makkah pernah dikelola suku Jurhum, lalu Khuza'ah. Kemudian datang Qushay yang menyatukan Quraisy, membangun Darun Nadwah, dan memegang urusan Ka'bah.

sebelum kelahiranSumber: Ibnu Hisyam
Sekilas

Isi bab ini

Bab ini menceritakan siapa saja yang pernah mengurus Makkah sebelum Quraisy, lalu bagaimana Qushay menyatukan Quraisy dan membagi tugas-tugas Ka'bah. Empat hal berikut gambaran awalnya.

Jurhum dan Qathura'

Dua rombongan dari Yaman singgah di Makkah. Mudhadh memimpin Jurhum di Makkah atas, as-Samaida' memimpin Qathura' di Makkah bawah.

Dari Jurhum ke Khuza'ah

Karena kezaliman Jurhum, mereka diusir dan pulang ke Yaman. Ka'bah lalu dikelola Khuza'ah.

Qushay "al-Mujammi'"

Qushay merebut urusan Ka'bah dan Makkah, menyatukan Quraisy, dan membangun Darun Nadwah.

Dua kubu dan Hilful Fudhul

Setelah Qushay wafat, Quraisy terbelah dua, lalu berdamai. Lahir pula perjanjian untuk membela yang terzalimi.

Peta

Perjalanan di sekitar Makkah

Pilih salah satu langkah di daftar yang menyertai peta. Titik-titiknya diambil dari Wikipedia.

Makkah dan sekitarnya
Tempat yang disebut Ibnu HisyamPerjalanan (garis perkiraan)Yaman (batas sekarang)
Buku hanya menyebut "Yaman" sebagai asal dan tujuan Jurhum, jadi pangkal panah itu hanya penanda arah.
    Bagan nasab

    Dari Kinanah sampai Nabi Muhammad ﷺ

    Nasab ini melanjutkan bagan di Bab 1. Garis ayah dan garis ibu Nabi ﷺ bertemu di Kilab bin Murrah.

    Garis ayah
    1. Kinanah bin KhuzaimahPunya empat putra: an-Nadhr, Malik, 'Abdu Manat, dan Milkan.
    2. an-NadhrMenurut Ibnu Hisyam, an-Nadhr itulah Quraisy.
    3. Malik bin an-Nadhr
    4. Fihr bin MalikAda yang menyebut Fihr-lah Quraisy.
    5. Ghalib bin Fihr
    6. Luay bin GhalibPunya empat putra: Ka'ab, 'Amir, Samah, dan 'Auf.
    7. Ka'ab bin Luay
    8. Murrah bin Ka'ab
    9. Kilab bin Murrah
    10. Qushay bin Kilab
    11. 'Abdu Manaf bin QushayNama aslinya al-Mughirah.
    12. Hasyim bin 'Abdu Manaf
    13. 'Abdul Muththalib bin Hasyim
    14. 'Abdullah bin 'Abdul Muththalib
    15. Muhammad ﷺ
    Garis ibu
    1. Kilab bin MurrahTitik temu dengan garis ayah.
    2. Zuhrah bin KilabSaudara Qushay, dari ibu yang sama.
    3. 'Abdu Manaf bin Zuhrah
    4. Wahb bin 'Abdu Manaf
    5. Aminah binti WahbIbunda Rasulullah ﷺ. Ibunya Barrah binti 'Abdul 'Uzza, dan ibu Barrah adalah Ummu Habib binti Asad bin 'Abdul 'Uzza bin Qushay.

    Kata Ibnu Hisyam

    Rasulullah ﷺ adalah keturunan Adam yang paling mulia nasabnya, baik dari garis ayah maupun ibu.

    Alur kisah

    Dari Jurhum sampai Hasyim

    Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.

    1. Penguasa pertama

      Jurhum dan Qathura' di Makkah

      Setelah Isma'il wafat, Ka'bah diurus putranya Nabit, lalu Mudhadh bin 'Amr dari Jurhum. Jurhum dan Qathura' singgah di Makkah, berselisih, lalu berdamai dengan Mudhadh sebagai raja.

      Gambar cetak tahun 1721: Masjidil Haram dan kota Makkah dilihat dari ketinggian
      Gambar cetak lama (1721): Masjidil Haram dan sebagian kota Makkah, dengan perbukitan di latar belakang.Gambar: Johann Bernhard Fischer von Erlach (1721) · Domain publik (menurut Commons) · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Ibnu Hisyam membawakan riwayat dari Ibnu Ishaq: ketika Isma'il bin Ibrahim wafat, Baitullah diurus oleh putranya, Nabit bin Isma'il, dalam batas waktu tertentu, lalu oleh Mudhadh bin 'Amr al-Jurhumi. Anak-anak Isma'il dan Nabit tinggal bersama kakek dari pihak ibu mereka, Mudhadh, dan paman-paman mereka dari Jurhum. Jurhum dan Qathura' adalah dua sepupu yang datang dari Yaman, ikut dalam satu rombongan musafir. Orang Yaman, kata Ibnu Ishaq, bila keluar dari Yaman tidak keluar kecuali dengan seorang raja yang mengatur mereka.

      Sampai di Makkah, keduanya melihat kawasan kaya air dan pohon, lalu berhenti di sana. Mudhadh dan orang Jurhum tinggal di Makkah atas, di Qu'aiqi'an. As-Samaida', pemimpin Qathura', tinggal di Makkah bawah, di Ajyad. Mudhadh menarik pungutan dari orang yang memasuki Makkah dari atas, dan as-Samaida' dari orang yang memasuki dari bawah. Keduanya tidak memasuki kawasan yang lain.

      Lama-kelamaan keduanya berebut kekuasaan. Mudhadh didukung anak keturunan Isma'il dan Nabit, dan memegang hak mengelola Baitullah yang tidak dimiliki as-Samaida'. Pasukan Mudhadh bergerak dari Qu'aiqi'an dengan tombak, perisai, pedang, dan tempat panah yang gemerincing, sehingga tempat itu dinamai Qu'aiqi'an. Pasukan as-Samaida' bergerak dari Ajyad bersama kuda-kuda, dan tempat itu dinamai Ajyad. Mereka bertemu di Fadhih, dan as-Samaida' tewas. Qathura' dipermalukan (fadhaha), dan itulah asal nama Fadhih.

      Mereka lalu berdamai di al-Mathabikh, jalan di antara dua bukit di Makkah atas, dan menyerahkan urusan kepada Mudhadh sebagai raja Makkah. Mudhadh menyembelih hewan dan memberi makan orang banyak, dan dari kata thabakha (memasak) itulah nama al-Mathabikh. Sebagian pakar berpendapat nama itu berasal dari orang-orang Tubba' yang menyembelih dan memberi makan warganya di sana. Menurut sebagian besar pakar, perselisihan antara Mudhadh dan as-Samaida' adalah pelanggaran pertama di kota Makkah.

      Allah lalu menebarkan anak cucu Isma'il di Makkah, sementara paman-paman mereka dari Jurhum menjadi pengelola Baitullah dan penguasa Makkah tanpa perlawanan dari mereka, karena Jurhum adalah kerabat mereka dan demi menjaga kehormatan Makkah. Ketika Makkah terasa sempit, mereka menyebar ke berbagai negeri, dan Allah menolong mereka mengalahkan musuh.

    2. Berganti penjaga

      Khuza'ah mengusir Jurhum

      Jurhum berlaku zalim di tanah haram. Bani Bakr dan Ghubsyan dari Khuza'ah memerangi dan mengusir mereka, lalu Khuza'ah mengelola Ka'bah. Orang Quraisy saat itu masih tersebar di tenda-tenda kaum mereka.

      Baca selengkapnya

      Setelah waktu berlalu lama, Jurhum menghalalkan kehormatan tanah suci, menzalimi pendatang di luar warga Makkah, dan memakan harta hadiah untuk Ka'bah. Urusan mereka pun kacau. Bani Bakr bin 'Abdu Manaf bin Kinanah dan Ghubsyan dari Khuza'ah sepakat memerangi dan mengusir mereka, lalu berperang terbuka sampai Jurhum kalah dan terusir. Pada masa jahiliyah, kezaliman tidak boleh terjadi di Makkah, dan siapa pun yang melanggar harus diusir. Makkah dahulu dinamai an-Nassah, dan raja yang ingin menghalalkan keharamannya akan binasa. Ada yang menyebut Makkah disebut Bakkah karena ia "menghancurkan" (bakka) leher para tiran. Abu 'Ubaidah mengatakan kepada Ibnu Hisyam bahwa Bakkah adalah nama satu lembah di Makkah, dinamai demikian karena orang berdesakan di dalamnya.

      'Amr bin al-Harits bin Mudhadh al-Jurhumi, kata Ibnu Ishaq, berangkat membawa dua patung kijang emas milik Ka'bah dan dua batu, lalu menanamnya di sumur Zamzam. Setelah itu orang Jurhum pulang ke Yaman, sangat terpukul karena kehilangan kesempatan mengelola Ka'bah. 'Amr bersyair dengan air mata tentang Makkah yang tak lagi ia huni, bahwa mereka dahulu penguasa Makkah, dan bahwa waktu telah mengubah segalanya. Syair itu tidak kami salin lengkap. Seorang pakar syair mengatakan kepada Ibnu Hisyam bahwa bait-bait itu adalah syair pertama tentang orang Arab, yang ditulis pada sebuah batu di Yaman.

      Ghubsyan dari Khuza'ah lalu ditunjuk mengelola Baitullah, bukan Bani Bakr. Yang menjalankannya di antara mereka adalah 'Amr bin al-Harits al-Ghubsyani. Sementara itu Quraisy terdiri dari kelompok-kelompok yang rumah dan tendanya tersebar di tengah kaum mereka, Bani Kinanah. Khuza'ah mengelola Baitullah turun-temurun, dan yang terakhir adalah Hulail bin Hubsyiyah bin Salul bin Ka'b bin 'Amr al-Khuza'i.

      Di tengah pembahasan ini, Ibnu Hisyam sempat menyebut mimpi 'Abdul Muththalib yang diperintah menggali Zamzam, yang tertimbun di antara Isaf dan Na'ilah. Kisah penggaliannya dibahas di bab berikutnya.

    3. Qushay bin Kilab

      Qushay merebut Ka'bah dan menyatukan Quraisy

      Qushay menikahi putri Hulail, lalu mengajak Quraisy, Kinanah, dan Qudha'ah mengusir Khuza'ah dan Bani Bakr. Perselisihan diselesaikan Ya'mur bin 'Auf yang memutuskan Qushay lebih berhak atas Ka'bah dan Makkah.

      Panel ubin Iznik bergambar perkemahan di Gunung 'Arafah
      Panel ubin keramik Iznik bergambar perkemahan di Gunung 'Arafah, di halaman Valide Sultan, Istana Topkapi, Istanbul. Ini gambar dari tradisi Utsmani, bukan foto tempatnya.Foto panel: Myrabella (2012) · Domain publik (menurut Commons) · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Qushay bin Kilab melamar Hubba, putri Hulail bin Hubsyiyah, dan Hulail menikahkannya. Dari pernikahan itu lahir 'Abduddar, 'Abdu Manaf, 'Abdul 'Uzza, dan 'Abdu. Ketika anak-anaknya menyebar dan hartanya bertambah, Hulail wafat. Qushay memandang dirinya paling berhak mengelola Ka'bah dan memimpin Makkah daripada Khuza'ah dan Bani Bakr, sebab Quraisy adalah keturunan Isma'il yang paling baik dan paling jelas nasabnya. Ia melobi tokoh-tokoh Quraisy dan Kinanah, dan mereka menyambutnya.

      Sebelumnya, setelah Kilab wafat, Rabi'ah bin Haram dari 'Udzrah bin Sa'd tiba di Makkah dan menikahi Fathimah binti Sa'd bin Sayal, ibu Qushay. Saat itu Zuhrah sudah dewasa, sedangkan Qushay baru disapih. Rabi'ah membawa Fathimah ke negerinya, dan Fathimah membawa Qushay, sementara Zuhrah tetap di Makkah. Dari Rabi'ah, Fathimah melahirkan Rizah. Setelah Qushay dewasa, ia pergi ke Makkah dan menetap di sana. Ketika kaumnya menyambut ajakannya, ia menulis kepada saudara seibunya, Rizah, untuk meminta bantuan. Rizah berangkat bersama saudara-saudaranya, Hunn, Mahmud, dan Julhumah (berlainan ibu), serta orang-orang Qudha'ah yang berhaji bersama mereka.

      Khuza'ah mengira Hulail telah menyuruh Qushay bertindak demikian. Ibnu Ishaq menulis bahwa ini hanya mereka yang menyatakannya, dan menutupnya dengan "wallahu a'lam".

      Pada musim haji itu, para shufah sedang bertugas seperti biasa. Qushay datang bersama orang Quraisy, Kinanah, dan Qudha'ah di 'Aqabah dan berkata bahwa merekalah yang lebih pantas mengurus haji. Pertempuran sengit pecah dan para shufah kalah, lalu Qushay merebut apa yang ada di tangan mereka. Khuza'ah dan Bani Bakr menjauh karena sadar mereka berikutnya akan dilarang. Qushay menunjukkan permusuhan dan bertekad memerangi mereka, dan mereka pun keluar menghadangnya. Banyak korban jatuh di kedua pihak, lalu keduanya menawarkan damai dan menyerahkan keputusan kepada Ya'mur bin 'Auf bin Ka'b bin 'Amir bin Laits bin Bakr bin 'Abdu Manaf bin Kinanah.

      Ya'mur memutuskan bahwa Qushay lebih berhak atas Ka'bah dan Makkah daripada Khuza'ah. Darah Khuza'ah dan Bani Bakr yang ditumpahkan Qushay tidak perlu diganti, sedangkan darah Quraisy, Kinanah, dan Qudha'ah yang ditumpahkan Khuza'ah wajib diganti. Sejak itu Ya'mur dijuluki Asy-Syaddakh, karena ia "menggugurkan" tuntutan darah. Setelah perang usai, Rizah pulang ke negerinya bersama pengikutnya. Rizah dan salah seorang pengikutnya, Tsa'labah bin 'Abdullah al-Qudha'i, bersyair tentang kudanya yang berlari cepat menyambut seruan Qushay, dan Qushay bersyair bahwa ia putra para penjaga dari Bani Luay dan Rizah penolongnya. Syair-syair itu tidak kami salin lengkap.

    4. Penguasa Makkah

      Darun Nadwah dan tugas-tugas Ka'bah

      Qushay memegang penjagaan Ka'bah, Zamzam, jamuan haji, Darun Nadwah, dan komando perang. Orang Quraisy menyebutnya al-Mujammi' (pemersatu). Saat tua, ia menyerahkan semua tugas itu kepada putra sulungnya, 'Abduddar.

      1. Penjagaan Ka'bahmemegang kuncinya
      2. Zamzammemberi minum jamaah
      3. Jamuan hajimakanan bagi jamaah
      4. Darun Nadwahtempat musyawarah
      5. Komando perangbendera Quraisy
      Baca selengkapnya

      Qushay berkuasa atas Ka'bah dan Makkah. Ia memboyong pengikutnya dari negeri mereka ke Makkah dan menjadi raja bagi kaumnya dan penduduk Makkah. Namun ia tetap mengizinkan orang Arab menjalankan kebiasaan mereka, karena menganggapnya bagian dari agama. Ia mengizinkan keluarga Shafwan, Adwan, an-Nasa'ah, dan Murrah bin 'Auf melanjutkan tugas mereka sampai Islam datang dan menghapusnya. Qushay adalah orang pertama dari Bani Ka'b bin Luay yang menjadi raja yang ditaati kaumnya. Penjagaan Ka'bah, Zamzam dan pemberian minum jamaah, jamuan makan, Darun Nadwah, dan komando perang sepenuhnya ada di tangannya. Ia menempatkan setiap kaum Quraisy pada posisinya di Makkah seperti sebelumnya.

      Sebagian orang menduga Quraisy tidak berani menebang pohon tanah suci di rumah-rumah mereka, tetapi Qushay bersama para pendukungnya menebangnya. Quraisy menyebutnya "al-Mujammi'" (pemersatu) karena ia menyatukan perpecahan, dan mereka merasa mendapat pertanda baik dari kepemimpinannya. Pernikahan, musyawarah, dan keputusan perang Quraisy semuanya dilakukan di rumah Qushay. Bila seorang gadis telah cukup umur dan ingin mengenakan pakaian longgar, ia baru memakainya di rumah Qushay. Perintah Qushay bagi Quraisy, semasa hidup maupun sepeninggalnya, bagaikan agama yang tidak boleh diganti. Ia memilih Darun Nadwah sebagai rumahnya, dengan pintu menghadap Ka'bah, dan di sanalah Quraisy memutuskan seluruh perkaranya. Ibnu Ishaq juga menyampaikan bahwa 'Umar bin Khaththab tidak menyangkal ketika dibicarakan bahwa Qushay menyatukan Makkah dan mengusir Khuza'ah dan Bani Bakr.

      Qushay mewajibkan Quraisy mengeluarkan sebagian harta tiap musim haji untuk membuat makanan bagi jamaah yang tak punya bekal. Ia berkata bahwa Quraisy adalah tetangga Allah, penduduk Rumah-Nya, dan penghuni tanah haram, sedangkan jamaah adalah tamu-tamu Allah dan penziarah Rumah-Nya, yang pantas dimuliakan. Quraisy menaati perintah itu. Kebiasaan ini berlaku sejak jahiliyah, tetap berlaku dalam Islam, dan menurut Ibnu Ishaq hingga kini penguasa membuatkan makanan itu di Mina tiap tahun.

      Ketika Qushay sudah tua dan tulangnya melemah, 'Abduddar adalah putra sulungnya, sedangkan 'Abdu Manaf sudah harum namanya sejak ayahnya masih hidup. Qushay berkata kepada 'Abduddar bahwa ia akan menempatkannya setara dengan saudara-saudaranya yang lebih terhormat: tak seorang pun masuk Ka'bah sampai 'Abduddar membukanya, bendera perang Quraisy hanya dipasang di tangannya, tak seorang pun di Makkah minum kecuali dari air minumnya, tak seorang jamaah makan kecuali dari makanannya, dan tak ada perkara Quraisy diputuskan kecuali di rumahnya. Qushay menyerahkan rumahnya, Darun Nadwah, serta hak menjaga Ka'bah, bendera perang, pemberian minum, dan jamuan kepada 'Abduddar. Hal ini disampaikan lewat Abu Ishaq bin Yasar dari al-Hasan bin Muhammad bin 'Ali bin Abi Thalib kepada Nubaih bin Wahb dari Bani 'Abduddar. Apa yang diputuskan Qushay tidak boleh ditentang.

      Tugas haji sebelum QushayShufah, Adwan, dan 'Amir bin Zharb.

      Shufah. Al-Ghauts bin Murr bin Udd bin Thabikhah menjabat sebagai pelayan jamaah haji dari 'Arafah, dan tugas itu berlanjut pada keturunannya, yang disebut Shufah. Ibunya, yang berasal dari Jurhum dan tak kunjung hamil, bernazar bila punya anak laki-laki akan menyedekahkannya kepada Ka'bah. Shufah berangkat bersama rombongan dari 'Arafah, dan di Mina mereka yang pertama melempar jumrah: jamaah baru melempar setelah Shufah melempar, yaitu setelah matahari condong ke barat. Saat meninggalkan Mina, jamaah berhenti di 'Aqabah sampai Shufah beranjak. Setelah keturunan mereka punah, tugas itu diwarisi Bani Sa'd bin Zaid Manat bin Tamim, keluarga Shafwan bin al-Harits bin Syijnah, dan yang terakhir dalam Islam adalah Karib bin Shafwan.

      Adwan. Kepemimpinan perjalanan jamaah meninggalkan Muzdalifah dipegang Adwan secara turun-temurun, dan yang terakhir dalam Islam adalah Abu Sayyarah 'Umailah bin al-A'zal, yang memimpin jamaah dari atas keledainya. Dzu al-Ashba' al-Adwani bersyair tentang hal itu.

      'Amir bin Zharb. Dari Adwan juga ada 'Amir bin Zharb al-Adwani, tempat orang Arab menyerahkan perkara rumit mereka. Ketika ditanya tentang hukum waris orang yang berkelamin ganda, apakah dihitung laki-laki atau perempuan, ia sampai tak bisa tidur memikirkannya. Budak perempuannya, Sukhailah, mengusulkan agar diputuskan menurut cara orang itu buang air kecil. 'Amir pun memutuskan dengan cara itu esok harinya.

    5. Setelah Qushay

      Dua kubu: al-Muthayyibun dan al-Ahlaf

      Anak-anak 'Abdu Manaf ingin mengambil tugas yang dipegang 'Abduddar. Quraisy terbelah dua, hampir berperang, lalu berdamai dengan membagi tugas.

      Al-Muthayyibun (pihak 'Abdu Manaf)

      • Dipimpin 'Abdu Syams bin 'Abdu Manaf, yang tertua.
      • Pendukung: Bani Asad bin 'Abdul 'Uzza, Zuhrah bin Kilab, Taim bin Murrah, dan al-Harits bin Fihr.
      • Dinamai demikian karena mereka mencelupkan tangan ke cawan berisi wewangian di sisi Ka'bah saat berjanji.

      Al-Ahlaf (pihak 'Abduddar)

      • Dipimpin 'Amir bin Hasyim bin 'Abdu Manaf bin 'Abduddar.
      • Pendukung: Makhzum bin Yaqazhah, Sahm bin 'Amr, Jumah bin 'Amr, dan 'Adi bin Ka'b.
      • Dinamai al-Ahlaf (konfederasi) karena janji kokoh mereka di sisi Ka'bah.

      Dua kabilah, 'Amir bin Luay dan Muharib bin Fihr, tidak memihak kubu mana pun.

      Baca selengkapnya

      Sepeninggal Qushay, anak-anaknya memimpin kaumnya, tetapi mereka membagi-bagi Makkah yang dahulu disatukan Qushay, untuk kaum dan sekutu mereka, bahkan menjualnya. Quraisy ikut dalam hal ini tanpa konflik. Setelah itu anak-anak 'Abdu Manaf, yaitu 'Abdu Syams, Hasyim, al-Muththalib, dan Naufal, bersatu merebut hak yang dipegang 'Abduddar bin Qushay: penjagaan Ka'bah, komando perang, pemberian minum jamaah, dan jamuan. Mereka merasa lebih berhak karena lebih terpandang dan lebih mulia di kaumnya. Quraisy terbelah: pendukung 'Abdu Manaf berkata mereka lebih berhak karena kedudukannya, sedangkan pendukung 'Abduddar berkata apa yang diserahkan Qushay tidak boleh diambil kembali.

      Bani 'Abdu Manaf mengeluarkan cawan penuh wewangian, yang menurut pengakuan mereka diberikan sebagian perempuan Bani 'Abdu Manaf, lalu meletakkannya di sisi Ka'bah. Mereka mencelupkan tangan ke dalamnya, saling berjanji bersama sekutu, dan mengusapkan tangan ke Ka'bah untuk menguatkan janji. Karena itu mereka dinamai al-Muthayyibun. Bani 'Abduddar dan sekutunya mengadakan perjanjian sama kokoh di sisi Ka'bah bahwa mereka tidak akan saling menelantarkan atau menyerahkan satu sama lain, dan dinamai al-Ahlaf. Setiap kabilah merapatkan barisan: Bani 'Abdu Manaf dihadapkan pada Bani Sahm, Bani Asad pada Bani 'Abduddar, Bani Zuhrah pada Bani Jumah, Bani Taim pada Bani Makhzum, dan Bani al-Harits bin Fihr pada Bani 'Adi bin Ka'b.

      Ketika dua pasukan sudah siap berperang, kedua pihak mengajak berdamai dengan syarat: pemberian minum dan jamuan jamaah haji diberikan kepada Bani 'Abdu Manaf, sedangkan penjagaan Ka'bah, komando perang, dan Darun Nadwah tetap pada Bani 'Abduddar seperti sebelumnya. Semua menyepakati, menahan diri dari perang, dan tetap demikian sampai Islam datang. Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak ada perdamaian apa pun pada masa jahiliyah, melainkan Islam pasti semakin menguatkannya." (Catatan kaki penerjemah menyebutnya hadits hasan riwayat Ahmad.)

    6. Perjanjian

      Hilful Fudhul

      Beberapa kabilah Quraisy berkumpul di rumah 'Abdullah bin Jud'an dan berjanji membela siapa pun yang dizalimi di Makkah. Nabi ﷺ menyatakan pernah menyaksikannya dan akan memenuhinya lagi bila diajak dalam Islam.

      Baca selengkapnya

      Menurut Ibnu Ishaq, kabilah-kabilah Quraisy mengajak diadakannya satu perjanjian. Mereka berkumpul di rumah 'Abdullah bin Jud'an bin 'Amr bin Ka'b bin Sa'd bin Taim bin Murrah, karena kedudukannya yang terhormat dan usianya yang paling tua. Yang hadir adalah Bani Hasyim, Bani al-Muththalib, Asad bin 'Abdul 'Uzza, Zuhrah bin Kilab, dan Taim bin Murrah. Mereka bersepakat bahwa bila melihat orang yang dizalimi di Makkah, baik penduduk asli maupun pendatang, mereka akan berdiri di pihaknya, dan orang yang menzalimi wajib mengembalikan apa yang diambilnya. Quraisy menamai perjanjian itu Hilful Fudhul.

      Rasulullah ﷺ bersabda: "Aku telah ikut menyaksikan perjanjian di rumah 'Abdullah bin Jud'an. Sebuah perjanjian lebih aku sukai daripada unta merah. Jika dalam Islam aku diundang untuk memaklumatkan perjanjian seperti itu, pasti aku akan mendatanginya." (Catatan kaki penerjemah menyebutnya hadits shahih.)

      Ibnu Ishaq juga menyampaikan dua kisah sesudahnya. Pertama, al-Husain bin 'Ali berselisih soal harta di Dzi al-Marwa dengan al-Walid bin 'Utbah, gubernur Madinah yang diangkat pamannya, Mu'awiyah. Al-Husain berkata bahwa bila haknya tidak diberikan, ia akan mengambil pedang, berdiri di Masjid Rasulullah ﷺ, dan menyeru diadakannya Hilful Fudhul. 'Abdullah bin Zubair yang ada di tempat al-Walid ikut bersumpah akan membelanya, begitu pula al-Miswar bin Makhramah dan 'Abdurrahman bin 'Utsman at-Taimi. Mendengar itu, al-Walid memberikan hak al-Husain dengan lapang dada. Kedua, setelah 'Abdullah bin Zubair terbunuh, 'Abdul Malik bin Marwan bertanya kepada Muhammad bin Jubair bin Muth'im apakah Bani 'Abdu Syams dan Bani Naufal ikut dalam Hilful Fudhul. Muhammad bin Jubair menjawab, "Demi Allah, kita telah keluar dari perjanjian tersebut, dan kalian termasuk di dalamnya." 'Abdul Malik berkata, "Engkau telah berkata benar."

    7. Keluarga Nabi ﷺ

      Hasyim, al-Muththalib, dan Syaibah

      Hasyim menjamu jamaah haji dan, menurut sebagian pakar, merintis dua perjalanan dagang Quraisy. Ia wafat di Gaza. Putranya, Syaibah, dibawa pamannya al-Muththalib dari Madinah ke Makkah dan dikenal sebagai 'Abdul Muththalib.

      Foto hitam putih tahun 1922: masjid berkubah dan menara di antara pohon kurma di Gaza
      Masjid Said-Hachem (Sayyid Hasyim) di Gaza, foto tahun 1922. Bab ini mencatat Hasyim wafat di Gaza; keterangan Commons tidak mengaitkan masjid ini dengan beliau, jadi foto ini hanya gambaran kota Gaza tempo dulu.Foto: École biblique et archéologique française de Jérusalem (1922) · Domain publik (menurut Commons) · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Tugas menjamu jamaah haji kemudian dipegang Hasyim bin 'Abdu Manaf, karena 'Abdu Syams adalah pengembara yang jarang berdiam di Makkah, miskin, dan beranak banyak. Menurut terjemahan yang kami pakai, saat musim haji tiba 'Abdu Syams berdiri di hadapan Quraisy dan berkata bahwa mereka adalah tetangga Allah dan penjaga Rumah-Nya, jadi hendaknya mereka menyiapkan makanan bagi tamu-tamu Allah, dan Quraisy mengeluarkan harta sesuai kemampuan. (Kalimat sebelumnya menyebut tugas ini dipegang Hasyim. Kami menulis nama pembicara persis seperti di terjemahan.) Menurut sebagian pakar, Hasyim adalah orang pertama yang menetapkan dua perjalanan Quraisy, pada musim dingin dan musim panas, dan orang pertama yang memberi jamaah haji di Makkah makanan sejenis bubur. Nama aslinya 'Amr, dan ia dinamai Hasyim karena meremas-remas roti hingga hancur bagi kaumnya.

      Hasyim wafat di Gaza, daerah di Syam, ketika sedang berdagang di sana. Tugas memberi minum dan menjamu jamaah lalu beralih kepada al-Muththalib bin 'Abdu Manaf, yang lebih muda dari 'Abdu Syams dan Hasyim. Quraisy menamainya al-Muththalib al-Faydh karena kelapangan dada dan keutamaannya.

      Setibanya di Madinah, Hasyim menikahi Salma binti 'Amr dari Bani 'Adi bin an-Najjar, yang sebelumnya menikah dengan Uhaihah bin al-Julah dan melahirkan 'Amr bin Uhaihah. Salma tidak mau menikah dengan laki-laki biasa karena kedudukannya di kaumnya, dan memberi syarat bahwa otoritas ada di tangannya dan ia bebas meninggalkan suami yang tak lagi ia sukai. Dari Hasyim, Salma melahirkan Syaibah. Hasyim meninggalkan Syaibah dalam asuhan istrinya sampai ia baligh atau sesudahnya. Al-Muththalib datang hendak membawanya ke negeri dan kaumnya. Salma semula menolak. Al-Muththalib berkata ia tak akan beranjak sebelum membawa Syaibah, karena keponakannya sudah baligh dan terasing di antara bukan kaumnya, sedangkan kaumnya terhormat dan memberinya ruang lebih baik. Syaibah sendiri berkata ia tak akan berpisah dengan ibunya tanpa izin. Akhirnya Salma mengizinkan.

      Al-Muththalib membawa Syaibah masuk ke Makkah dengan membonceng untanya. Orang Quraisy berkata, "Inilah budak al-Muththalib, ia telah membelinya." Karena itu ia dinamai 'Abdul Muththalib (budak al-Muththalib). Al-Muththalib menjawab, "Celaka kalian. Ini keponakanku, anak saudaraku Hasyim. Aku telah membawanya dari Madinah."

      Menurut Ibnu Ishaq, al-Muththalib wafat di Radman. Teks yang kami pakai menyebut Radman sebagai daerah di Syam pada satu kalimat dan di Yaman pada kalimat berikutnya, sehingga kami tidak menandainya di peta. Mathrud bin Ka'b al-Khuza'i menggubah syair duka ketika mendengar kabar Naufal, anak 'Abdu Manaf yang terakhir wafat. Hasyim wafat di Gaza, 'Abdu Syams di Makkah, al-Muththalib di Radman, dan Naufal di Salman, kawasan Irak. 'Abdul Muththalib kemudian memegang tugas pemberian minum dan jamuan jamaah haji setelah pamannya. Ia memperoleh kehormatan di kaumnya yang tak pernah dicapai nenek moyangnya, dicintai kaumnya, dan keberadaannya sangat berarti bagi mereka.

    8. Catatan nasab

      Quraisy, Samah, 'Auf, dan putra-putri 'Abdul Muththalib

      Bagian ini memuat asal nama Quraisy, kisah dua putra Luay yang pergi (Samah ke Oman dan 'Auf ke Ghathafan), serta daftar putra-putri 'Abdul Muththalib.

      Baca selengkapnya
      Asal nama QuraisyDua pendapat, dari an-Nadhr atau dari Fihr.

      Menurut Ibnu Hisyam, an-Nadhr tak lain adalah Quraisy: keturunannya disebut Quraisy dan yang bukan keturunannya tidak. Ada yang menyebut Fihr bin Malik-lah Quraisy. Quraisy dinamai demikian karena taqarrusy, yaitu berniaga dan mencari harta. Ibnu Ishaq menyebut pula pendapat lain: dinamai demikian karena mereka bersatu setelah sebelumnya berpecah-belah, dan kata tajammu' kadang disinonimkan dengan taqarrusy.

      An-Nadhr punya dua putra, Malik dan Yakhlud, dan Ibnu Hisyam menambahkan ash-Shalt bin an-Nadhr. Malik punya putra Fihr, ibunya Jandalah binti al-Harits al-Jurhumi. Fihr punya empat putra: Ghalib, Muharib, al-Harits, dan Asad. Ghalib punya dua putra, Luay dan Taim (Bani al-Adram), dan Ibnu Hisyam menambahkan Qais. Luay punya empat putra: Ka'b, 'Amir, Samah, dan 'Auf.

      Samah bin Luay pergi ke OmanDua kisah tentang kepergiannya dan wafatnya.

      Menurut Ibnu Ishaq, Samah pergi ke Oman dan tinggal di sana. Ada yang mengatakan ia diusir 'Amir bin Luay karena cekcok, ketika Samah mencungkil mata 'Amir dan diancam keras. Banyak yang beranggapan bahwa saat ia berada di atas untanya yang sedang makan rumput, seekor ular mematuk bibir unta itu hingga ambruk, lalu mematuk Samah sampai tewas. Ia disebut bersyair merindukan 'Amir dan Ka'b. Ibnu Hisyam menyampaikan bahwa keturunan Samah pernah menemui Rasulullah ﷺ dan mengaku bernasab kepadanya. Beliau bertanya, "Apakah Samah bin Luay sang penyair itu?" Seorang sahabat menyebut bait tentang tak ada yang kuasa menepis kematian, dan beliau menjawab, "Ya, betul."

      'Auf bin Luay dan GhathafanDari Makkah ke Ghathafan, dan delapan bulan Basl.

      Menurut pandangan mereka, 'Auf keluar bersama rombongan musafir Quraisy. Sampai di wilayah Ghathafan ia beristirahat sementara kaumnya melanjutkan perjalanan. Tsa'labah dari Bani Dzubyan menahannya, menikahkannya, menyatukan nasabnya, dan menjadikannya saudara, sehingga nasabnya dikenal luas di Bani Ghathafan. 'Umar bin Khaththab, kata Ibnu Ishaq, pernah berkata bahwa bila ia boleh bernasab kepada salah satu kabilah Arab, ia akan memilih Bani Murrah bin 'Auf. Dalam riwayat lain 'Umar berkata kepada sebagian Bani Murrah bahwa bila mau kembali ke nasab mereka, silakan. Genealogis Ghathafan, bila nasab itu dinisbatkan kepada mereka, berkata bahwa mereka tidak menolaknya karena itu nasab yang paling mereka sukai.

      Ibnu Ishaq menyebut Bani Murrah bin 'Auf sebagai kaum mulia dan pemimpin di antara Ghathafan, di antaranya Harim bin Sinan, Kharijah bin Sinan, al-Harits bin 'Auf, al-Hushain bin al-Humam, dan Hasyim bin Harmalah. Di tengah mereka ada Basl, yaitu delapan bulan dalam setahun yang diharamkan bagi mereka di antara orang Arab. Orang Arab mengetahuinya dan tidak mengingkarinya, dan selama bulan-bulan itu mereka bebas bepergian ke wilayah Arab mana pun tanpa takut. Beberapa syair dikutip terkait hal ini, antara lain syair al-Harits bin Zalim dan al-Hushain, dan tidak kami salin.

      Putra-putri 'Abdul MuththalibSepuluh putra dan enam putri, menurut Ibnu Hisyam.
      • al-'Abbasibu: Nutailah binti Janab
      • Hamzahibu: Halah binti Wuhaib
      • 'Abdullahibu: Fathimah binti 'Amr · ayah Nabi ﷺ
      • Abu Thalibnama aslinya 'Abdu Manaf
      • az-Zubairibu: Fathimah binti 'Amr
      • al-Haritsibu: Samra' binti Jundub
      • Hajldigelari al-Ghaidaq · ibu: Halah
      • al-Muqawwimibu: Halah
      • Dhiraribu: Nutailah
      • Abu Lahabnama aslinya 'Abdul 'Uzza · ibu: Lubna binti Hajar

      Enam putrinya: Shafiyyah, Ummu Hakim al-Baidha', 'Atikah, Umaimah, Arwa, dan Barrah. Ibu mereka (selain Shafiyyah, yang ibunya Halah) adalah Fathimah binti 'Amr. Hasyim sendiri punya empat putra (termasuk 'Abdul Muththalib, Asad, Abu Shaifi, dan Nadhlah) dan lima putri, dan ibu 'Abdul Muththalib adalah Salma binti 'Amr dari Bani an-Najjar.

    Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai, dan syair-syair yang dikutip tidak kami salin seluruhnya. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran.