Isi bab ini
Bab ini tentang kakek Nabi ﷺ, 'Abdul Muththalib: sumur Zamzam yang ia gali kembali, nazar yang hampir merenggut putranya, dan pernikahan 'Abdullah dengan Aminah. Empat hal berikut gambaran awalnya.
Mimpi di Hijr
Empat malam berturut-turut 'Abdul Muththalib diperintah menggali, sampai disebut namanya: Zamzam.
Zamzam ditemukan
Di dalamnya ada dua kijang emas, pedang, dan baju besi peninggalan Jurhum. Pembagiannya ditentukan dengan undian.
Nazar dan 100 unta
Undian nazar jatuh pada 'Abdullah, lalu ia ditebus dengan unta sampai berjumlah seratus.
'Abdullah dan Aminah
'Abdullah menikah dengan Aminah binti Wahb. Aminah mengandung Rasulullah ﷺ, dan 'Abdullah wafat sebelum beliau lahir.
Dari Makkah ke Khaibar, dan cahaya sampai Bushra
Pilih salah satu langkah di daftar yang menyertai peta. Titik-titiknya diambil dari Wikipedia. Garis putus-putus adalah perkiraan, karena buku menyebut tempat yang dituju tetapi tidak menyebut jalurnya.
Dari mimpi di Hijr sampai kandungan Aminah
Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.
- Riwayat 'Ali bin Abi Thalib
Empat malam, empat nama
'Abdul Muththalib tidur di Hijr, di sisi Ka'bah. Seseorang datang dalam mimpinya empat malam berturut-turut, menyuruhnya menggali dengan nama yang berbeda-beda, sampai akhirnya disebut: Zamzam.
- Malam 1"Galilah Thaibah"
- Malam 2"Galilah Barrah"
- Malam 3"Galilah al-Madhnunah"
- Malam 4"Galilah Zamzam"

Bibir sumur Zamzam lama beserta katrol dan timba kuningannya (foto 2013). Keterangan di berkas menyebut katrolnya berasal dari akhir abad ke-14 H dan timbanya dari 1299 H, jadi ini bukan sumur di zaman 'Abdul Muththalib.Foto: Mohammad Bahareth · CC BY-SA 2.0 · Wikimedia Commons Baca selengkapnya
Ibnu Ishaq menyampaikan riwayat ini lewat Yazid bin Abu Habib al-Mishri, dari Martsad bin 'Abdullah al-Yazani, dari 'Abdullah bin Zurair al-Ghafiqi, yang mendengar 'Ali bin Abi Thalib bercerita. 'Abdul Muththalib berkata: ia sedang tidur di Hijr, lalu seseorang datang dan berkata, "Galilah Thaibah." Ia bertanya apa itu Thaibah, dan orang itu menghilang. Esoknya ia tidur lagi di tempat yang sama, dan orang itu berkata, "Galilah Barrah." Esoknya lagi, "Galilah al-Madhnunah." Setiap kali ia bertanya, orang itu menghilang.
Pada malam keempat orang itu berkata, "Galilah Zamzam." Ketika ditanya apa itu Zamzam, ia menjawab bahwa airnya tidak pernah habis, melimpah, dan akan menjadi minuman jamaah haji yang agung. Letaknya di antara kotoran dan darah, di sekitar tempat gagak bersayap putih beterbangan, di dekat sarang semut.
Zamzam adalah sumur Nabi Isma'il. Di bagian buku yang lebih awal, Ibnu Ishaq menceritakan asalnya: ketika Isma'il kecil kehausan, ibunya berdiri di Shafa berdoa memohon pertolongan, lalu pergi ke Marwah dan melakukan hal yang sama. Allah mengutus Jibril, dan air keluar dari tanah tempat Isma'il menggerak-gerakkan tumitnya. Ibunya lalu menggali lubang kecil. Sumur itu kemudian ditimbun Jurhum ketika mereka meninggalkan Makkah.
- Sengketa pertama
Air di padang tandus
Quraisy menuntut bagian dari Zamzam. Dalam perjalanan menuju dukun yang akan memutuskan, rombongan kehabisan air, lalu air memancar dari bawah kaki unta 'Abdul Muththalib. Quraisy pun mengakui haknya.
Baca selengkapnya
Masih dari riwayat 'Ali: setelah ditunjukkan tempatnya, 'Abdul Muththalib mengambil cangkul bersama al-Harits, satu-satunya putranya saat itu, dan menggali. Ketika melihat isinya, ia bertakbir. Quraisy datang dan berkata bahwa sumur itu milik nenek moyang mereka, Isma'il, dan mereka berhak atasnya. 'Abdul Muththalib menolak: urusan ini diberikan khusus kepadanya. Mereka mengancam akan melawan, maka ia meminta mereka memilih hakim. Mereka memilih dukun wanita dari Bani Sa'd Hudzaim yang tinggal di pinggiran Syam.
'Abdul Muththalib berangkat bersama beberapa orang Bani 'Abdu Manaf, diikuti beberapa orang dari setiap kabilah Quraisy. Di salah satu padang tandus antara Hijaz dan Syam, air rombongan 'Abdul Muththalib habis. Kabilah-kabilah Quraisy menolak berbagi air karena khawatir mengalami hal yang sama. 'Abdul Muththalib mengusulkan agar setiap orang menggali lubang untuk dirinya, supaya bila ada yang mati, kawannya bisa menguburkannya, karena kehilangan satu orang lebih ringan daripada kehilangan semua.
Namun kemudian ia berkata bahwa menyerahkan diri pada kematian tanpa berusaha adalah kelemahan, dan menyuruh rombongannya berangkat mencari air. Ketika untanya mulai berjalan, air tawar memancar dari bawah telapak kakinya. 'Abdul Muththalib bertakbir, minum bersama rombongannya, dan mengisi wadah-wadah air. Lalu ia memanggil kabilah-kabilah Quraisy untuk ikut minum. Mereka berkata bahwa perkara ini dimenangkan untuknya, dan bahwa Dzat yang memberinya air di padang tandus pastilah yang memberinya Zamzam. Mereka tidak akan melawannya lagi. Semua pulang tanpa menemui dukun itu.
- Riwayat lain
Rumah semut, gagak, dan isi sumur
Dalam riwayat lain yang didengar Ibnu Ishaq, 'Abdul Muththalib diberi tanda: rumah semut dan gagak yang mematuk tanah. Tempatnya di antara Isaf dan Na'ilah. Di dalam sumur ia menemukan dua kijang emas, pedang, dan baju besi yang ditimbun Jurhum.
2 dadu kuning · Ka'bahKeluar. Dua kijang emas menjadi milik Ka'bah.2 dadu hitam · 'Abdul MuththalibKeluar. Pedang dan baju besi menjadi miliknya.2 dadu putih · QuraisyTidak keluar. Quraisy tidak mendapat bagian.Baca selengkapnya
Ibnu Ishaq juga mendengar dari orang yang berbicara tentang 'Abdul Muththalib bahwa ketika diperintah menggali Zamzam, ia diberi seruan berirama: ajaklah orang-orang kepada air pelepas dahaga yang tidak keruh, yang memberi minum jamaah haji, dan tak perlu risau kehabisan. Ia menemui Quraisy dan berkata bahwa ia diperintah menggali Zamzam untuk mereka. Mereka bertanya apakah tempatnya sudah dijelaskan. Ia menjawab belum. Mereka menyarankan agar ia tidur lagi di tempat yang sama: bila ucapan itu dari Allah, akan dijelaskan, dan bila dari setan, tidak akan kembali.
Dalam tidurnya, orang itu datang lagi dan menyuruhnya menggali Zamzam, peninggalan ayahnya yang teragung, yang airnya tak pernah habis. Ibnu Hisyam berkomentar bahwa ucapan ini, juga ucapan dalam riwayat 'Ali sebelumnya, menurutnya adalah sajak biasa, bukan syair. Ketika 'Abdul Muththalib bertanya di mana Zamzam berada, menurut anggapan mereka ia dijawab: di dekat rumah semut, tempat seekor gagak akan mematuk-matuk tanah esok hari. Ibnu Ishaq menutupnya dengan "wallahu a'lam".
Esoknya ia pergi bersama al-Harits, menemukan rumah semut dan gagak yang mematuk tanah, tepat di antara Isaf dan Na'ilah, tempat Quraisy menyembelih kurban. Ketika ia mulai menggali, Quraisy datang dan berkata tidak akan membiarkannya menggali di antara dua berhala mereka. Ia meminta al-Harits melindunginya sampai selesai. Melihat ia tidak menyerah, Quraisy membiarkannya. Tak lama kemudian ia melihat isi sumur, bertakbir, lalu menemukan dua patung kijang dari emas yang ditimbun Jurhum, beberapa pedang dari Qal'ah, dan baju besi.
Quraisy menuntut bagian. 'Abdul Muththalib menolak, tetapi mengusulkan undian: dua dadu untuk Ka'bah, dua untuknya, dan dua untuk Quraisy. Yang dadunya keluar mendapat bagian. Ia membuat dua dadu kuning untuk Ka'bah, dua hitam untuk dirinya, dan dua putih untuk Quraisy, lalu menyerahkannya kepada penjaga dadu di samping Hubal. Hubal terletak di dalam Ka'bah dan merupakan berhala terbesar mereka, yang kelak diseru Abu Sufyan di Perang Uhud. 'Abdul Muththalib berdiri berdoa kepada Allah. Dadu kuning dan hitam keluar, dadu Quraisy tidak.
'Abdul Muththalib memasang pedang-pedang itu sebagai pintu Ka'bah, dihiasi dua kijang emas. Menurut para ahli, itulah emas pertama yang dipakai di Ka'bah. Setelah itu ia memberi minum jamaah haji dengan air Zamzam.
- Sebelum Zamzam
Sumur-sumur Quraisy di Makkah
Sebelum Zamzam digali kembali, keluarga-keluarga Quraisy sudah punya sumur sendiri. Setelah ada Zamzam, orang lebih memilihnya karena dekat Masjidil Haram dan merupakan sumur Isma'il.
- ath-Thawiydigali 'Abdu Syams · Makkah atas, al-Baidha'
- Badzdzardigali Hasyim · untuk banyak orang
- Sajlahdigali Hasyim · kemudian milik al-Muth'im bin 'Adi
- al-Hafrudigali Umayyah bin 'Abdu Syams
- SaquyyahBani Asad bin 'Abdul 'Uzza
- Ummu AhradBani 'Abduddar
- as-SunbulahBani Jumah · milik Khalaf bin Wahb
- al-GhamruBani Sahm
- Rummsumur lama · Murrah bin Ka'b
- Khammsumur lama · Bani Kilab bin Murrah
Baca selengkapnya
Ibnu Hisyam menyampaikan dari Ibnu Ishaq bahwa sebelum Zamzam digali, Quraisy sudah menggali banyak sumur di Makkah. Sumur ath-Thawiy digali 'Abdu Syams bin 'Abdu Manaf di Makkah atas, di al-Baidha', di rumah Muhammad bin Yusuf ats-Tsaqafi. Badzdzar digali Hasyim di al-Mustandzar, di atas lorong jalan milik Abu Thalib, dan ada yang menyebut Hasyim berkata akan menjadikannya untuk keperluan banyak orang. Hasyim juga menggali Sajlah, yang kemudian milik al-Muth'im bin 'Adi bin Naufal. Bani Naufal mengaku al-Muth'im membelinya dari Asad bin Hasyim, sedangkan Bani Hasyim mengaku sumur itu dihibahkan ketika Zamzam muncul, karena mereka sudah merasa cukup dengan Zamzam.
Sumur-sumur lama sudah ada sejak masa Murrah bin Ka'b dan Kilab bin Murrah, yaitu Rumm milik Murrah bin Ka'b, Khamm milik Bani Kilab, dan al-Hafru. Hudzaifah bin Ghanim, ayah Abu Jahm, bersyair tentang hal ini.
Menurut Ibnu Ishaq, air Zamzam lebih bersih dari air-air sebelumnya, dan jamaah haji berdatangan kepadanya karena dekat dengan Masjidil Haram dan karena merupakan sumur Isma'il. Bani 'Abdu Manaf berbangga atas Zamzam di hadapan seluruh Quraisy dan bangsa Arab, dan Musafir bin Abu 'Amr bin Umayyah bersyair tentang kebanggaan itu.
- Nazar
Undian di sisi Hubal jatuh pada 'Abdullah
Saat menggali Zamzam, 'Abdul Muththalib bernazar: bila punya sepuluh anak yang tumbuh besar, ia akan menyembelih salah satunya di sisi Ka'bah. Ketika jumlahnya genap sepuluh, ia mengundi mereka, dan undian jatuh pada 'Abdullah, putra yang paling ia cintai.
Baca selengkapnya
Menurut sebagian besar orang, kata Ibnu Ishaq (dan hanya Allah yang lebih tahu), 'Abdul Muththalib bernazar ketika menghadapi perlawanan Quraisy saat menggali Zamzam: bila ia punya sepuluh anak yang tumbuh besar dan ia mampu melindungi mereka, ia akan menyembelih salah satunya untuk Allah di sisi Ka'bah. Ketika anaknya sudah sepuluh, ia mengumpulkan mereka, menjelaskan nazarnya, dan mengajak mereka menunaikannya. Mereka taat. Setiap anak mengambil satu dadu dan menulis namanya di atasnya, lalu ia membawa mereka ke Hubal di dalam Ka'bah.
'Abdullah adalah anak bungsu 'Abdul Muththalib. Ibunya, sama dengan ibu az-Zubair dan Abu Thalib, adalah Fathimah binti 'Amr dari Bani Makhzum. Menurut sebagian pakar, 'Abdullah adalah anak yang paling dicintai 'Abdul Muththalib, dan ia berharap undian tidak jatuh padanya. 'Abdul Muththalib berdiri berdoa kepada Allah di sisi Hubal sementara penjaga dadu mengocok, dan yang keluar adalah nama 'Abdullah. Ia mengambil pisau panjang dan membawa 'Abdullah ke Isaf dan Na'ilah untuk disembelih.
Quraisy keluar dari balai pertemuan mereka dan bertanya apa yang hendak ia lakukan. Ia menjawab akan menyembelihnya. Quraisy dan anak-anak 'Abdul Muththalib berkata bahwa ia tidak boleh melakukannya sebelum punya alasan kuat, karena bila ia lakukan, setiap orang akan menyembelih anaknya. Al-Mughirah bin 'Abdullah dari Bani Makhzum berkata bahwa bila tebusannya dengan harta, mereka akan menebusnya. Mereka menyarankan agar 'Abdul Muththalib menemui seorang peramal wanita di Hijaz yang punya pendamping jin, dan menaati keputusannya.
Tujuh dadu di sisi HubalCara Quraisy memutuskan perkara dengan undian.
Hubal terletak di atas sumur di dalam Ka'bah, tempat dikumpulkannya persembahan untuk Ka'bah. Di sisinya ada tujuh dadu, masing-masing bertulisan:
- al-'Aqlsiapa yang menanggung diyat
- Na'am"ya", kerjakan
- La"tidak", tunda sampai tahun depan
- Minkumorang itu bagian dari kalian
- Min Ghairikumorang itu sekutu
- Mulshaqditempatkan tanpa nasab dan tanpa persekutuan
- al-Miyahuntuk urusan menggali sumur
Bila Quraisy hendak mengkhitan, menikahkan, memakamkan, atau ragu tentang nasab seseorang, mereka membawanya ke Hubal dengan seratus dirham dan hewan sembelihan untuk penjaga dadu, lalu meminta undian. Mereka menggantungkan perkara mereka pada dadu yang keluar.
- Tebusan
Dari sepuluh sampai seratus unta
Peramal di Khaibar menyuruh mereka mengundi antara 'Abdullah dan sepuluh unta, sesuai besar diyat saat itu, dan menambah sepuluh unta setiap kali undian jatuh pada 'Abdullah. Undian baru jatuh pada unta ketika jumlahnya seratus.
- 10 unta'Abdullah
- 20 unta'Abdullah
- 30 unta'Abdullah
- 40 unta'Abdullah
- 50 unta'Abdullah
- 60 unta'Abdullah
- 70 unta'Abdullah
- 80 unta'Abdullah
- 90 unta'Abdullah
- 100 untajatuh pada unta

Benteng Qamus di Khaibar, Arab Saudi, dilihat dari oase (foto 2020).Foto: Hardscarf · CC BY-SA 4.0 · Wikimedia Commons Baca selengkapnya
Mereka berangkat. Sampai di Madinah, peramal itu tidak ada, ternyata sedang di Khaibar, maka mereka memacu kendaraan ke sana. 'Abdul Muththalib menceritakan dirinya, anaknya, dan nazarnya. Peramal itu menyuruh mereka pulang dulu sampai jin pendampingnya datang. Setelah mereka keluar, 'Abdul Muththalib berdiri berdoa kepada Allah. Saat mereka kembali, peramal itu bertanya berapa besar diyat di tempat mereka. Mereka menjawab sepuluh unta, dan memang begitulah besar diyat saat itu.
Peramal itu menyuruh mereka pulang, menghadapkan 'Abdullah dan sepuluh unta, lalu mengundi keduanya. Bila undian jatuh pada 'Abdullah, unta ditambah sampai Tuhan ridha. Bila jatuh pada unta, unta itu disembelih sebagai gantinya.
Di Makkah, mereka melakukannya sementara 'Abdul Muththalib berdiri berdoa kepada Allah di sisi Hubal. Undian jatuh pada 'Abdullah berulang kali, dan setiap kali ditambah sepuluh unta, sampai jumlahnya seratus, barulah undian jatuh pada unta. Quraisy dan yang hadir berkata bahwa keridhaan Tuhannya telah tercapai. Ada yang menyebut 'Abdul Muththalib menolak sebelum mengundi tiga kali lagi. Tiga kali undian diulang, dan ketiganya jatuh pada unta. Seratus unta itu disembelih dan orang-orang dibiarkan bebas mengambilnya. Ibnu Hisyam menambahkan: yang dibiarkan mengambil hanya manusia, bukan binatang buas. Ia juga menyebut ada banyak syair tentang peristiwa ini yang tidak dikenal para pakar syair di kalangannya.
- Pernikahan
'Abdullah dan Aminah binti Wahb
'Abdul Muththalib menikahkan 'Abdullah dengan Aminah binti Wahb, wanita Quraisy yang paling baik nasab dan kedudukannya. Ibnu Ishaq menuturkan dua kisah tentang wanita yang menawarkan diri kepada 'Abdullah sebelumnya.
Baca selengkapnya
'Abdul Muththalib pulang menggandeng tangan 'Abdullah. Menurut sebagian orang, mereka melewati seorang wanita dari Bani Asad bin 'Abdul 'Uzza, saudari Waraqah bin Naufal, di samping Ka'bah. Ia menawarkan kepada 'Abdullah unta sebanyak yang disembelih untuknya bila 'Abdullah mau menggaulinya saat itu juga. 'Abdullah menjawab bahwa ia sedang bersama ayahnya dan tidak bisa menentang atau berpisah darinya.
Mereka sampai di rumah Wahb bin 'Abdu Manaf bin Zuhrah, tokoh Bani Zuhrah yang paling baik nasab dan paling terhormat. Wahb menikahkan 'Abdullah dengan putrinya, Aminah. Ibunya Barrah binti 'Abdul 'Uzza, ibu Barrah adalah Ummu Habib binti Asad, dan ibu Ummu Habib adalah Barrah binti 'Auf.
Kisah pertama (menurut sebagian orang)
Setelah bersama Aminah dan Aminah mengandung Rasulullah ﷺ, 'Abdullah kembali kepada wanita yang menawarkan diri itu dan bertanya mengapa ia tidak menawarkan lagi. Wanita itu menjawab bahwa cahaya yang kemarin ada pada 'Abdullah kini sudah tiada. Ia pernah mendengar dari saudaranya, Waraqah, seorang Nasrani yang mengikuti kitab-kitab, bahwa akan ada nabi di umat ini.
Kisah kedua (dari Abu Ishaq bin Yasar)
'Abdullah sebelumnya mengajak menikah seorang wanita lain selain Aminah, tetapi wanita itu lambat menanggapi karena melihat bekas tanah di badan 'Abdullah yang baru bekerja di tanahnya. 'Abdullah membersihkan diri, lalu pergi ke rumah Aminah melewati wanita itu, yang kini mengajaknya, tetapi tidak ia tanggapi. Setelah Aminah mengandung, wanita itu berkata bahwa tadi ada warna putih di antara kedua mata 'Abdullah, seperti warna putih pada kuda, dan kini sudah sirna.
- Masa kandungan
Mimpi Aminah dan wafatnya 'Abdullah
Menurut yang dikatakan banyak orang, Aminah bermimpi diberi tahu bahwa ia mengandung penghulu umat ini dan diminta menamainya Muhammad. Tak lama kemudian 'Abdullah wafat saat Rasulullah ﷺ masih dalam kandungan.

Bagian dalam Benteng Bosra (Bushra), Suriah, keadaan sekarang (foto 2008).Foto: Vyacheslav Argenberg · CC BY 4.0 · Wikimedia Commons Baca selengkapnya
Banyak orang mengatakan, dan hanya Allah yang lebih tahu, bahwa Aminah bercerita bahwa saat mengandung Rasulullah ﷺ ia bermimpi didatangi seseorang yang berkata, "Sesungguhnya engkau sedang mengandung penghulu umat ini. Jika dia telah lahir ke bumi, ucapkanlah: 'Aku berlindung kepada Allah Tuhan Yang Esa dari keburukan semua pendengki', dan namakanlah dia Muhammad." Saat mengandung, ia juga melihat cahaya keluar dari perutnya, yang dengannya ia bisa melihat istana-istana Bushra di wilayah Syam.1
Tak lama kemudian, 'Abdullah bin 'Abdul Muththalib wafat, saat Rasulullah ﷺ masih dalam kandungan ibunya. Ibnu Ishaq menutup bagian ini dengan menyatakan bahwa Rasulullah ﷺ adalah orang Quraisy yang paling baik nasabnya dan paling terhormat, dari jalur ayah maupun ibu. Kisah kelahiran beliau dibahas di bab berikutnya.
Catatan
- Ibnu Ishaq.
Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai, dan syair-syair yang dikutip tidak kami salin seluruhnya. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran.