Pusat Sejarah Islam
Bab 4 dari 55

Sayf bin Dzi Yazan & Persia di Yaman

Sayf bin Dzi Yazan meminta bantuan Kaisar dan Kisra untuk mengusir Habasyah. Kisra mengirim Wahriz dan pasukannya, dan Persia pun berkuasa di Yaman sampai masa Badzan. Bab ini juga memuat kisah kerajaan al-Hadhar dan anak-anak Nizar.

akhir masa Habasyah di YamanSumber: Ibnu Hisyam
Sekilas

Isi bab ini

Bab ini menutup kisah Yaman sebelum kelahiran Nabi ﷺ, lalu singgah sebentar ke dua kisah lain yang dicatat Ibnu Hisyam. Empat hal berikut gambaran awalnya.

Sayf menemui Kisra

Sayf bin Dzi Yazan meminta bantuan untuk mengusir Habasyah dari Yaman. Kisra akhirnya mengirim delapan ratus tahanan.

Wahriz dan Shan'a

Dua dari delapan kapal tenggelam. Wahriz memanah Masruq, lalu memasuki Shan'a.

Persia sampai Badzan

Setelah Wahriz, Yaman diperintah keturunannya, lalu Badzan, yang menerima surat Kisra dan akhirnya masuk Islam.

Al-Hadhar dan anak Nizar

Kisah jatuhnya benteng al-Hadhar, lalu keturunan Nizar sampai Qama'ah, kakek Khuza'ah.

Peta

Hirah, Aden, dan Shan'a

Pilih salah satu langkah di daftar yang menyertai peta. Titik-titiknya diambil dari Wikipedia. Hanya ada satu garis, dan itu perkiraan: buku menyebut tempat-tempatnya, tetapi tidak menyebut jalurnya.

Dari Hirah ke Shan'a
Tempat yang disebut Ibnu HisyamPerjalanan (garis perkiraan)Yaman dan Irak (batas sekarang)
Batas negara masa kini hanya patokan. Tempat Kisra bertakhta dan pelabuhan asal kapal Persia juga tidak disebut.
    Alur kisah

    Dari istana Kisra sampai anak-anak Nizar

    Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.

    1. Meminta bantuan

      Sayf bin Dzi Yazan menemui Kisra

      Setelah lama Yaman ditekan Habasyah, Sayf bin Dzi Yazan pergi mencari bantuan. Kisra mula-mula menolak mengirim pasukan, tetapi akhirnya mengirim delapan ratus tahanan di bawah pimpinan Wahriz.

      Foto lama reruntuhan bangunan di al-Hirah dengan hiasan batu berukir
      Reruntuhan sebuah bangunan di al-Hirah, selatan Najaf (Irak), difoto ekspedisi Jerman tahun 1919.Foto: ekspedisi Jerman 1919 (diunggah ke Commons) · Domain publik (menurut Commons) · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Sayf bin Dzi Yazan al-Himyari, yang bergelar Abu Murrah, keluar mencari pertolongan setelah Yaman lama dilanda bencana di bawah Habasyah. Kalimat pembuka dalam terjemahan yang kami pakai agak kabur. Dari bagian-bagian berikutnya terbaca bahwa Sayf lebih dulu menemui Kaisar, yaitu dalam syair yang dikutip Ibnu Hisyam ("Kala waktu perjalanan datang dia menemui Kaisar, namun tidak dia dapatkan sebagian apa pun yang dia minta") dan dalam keterangan Abu 'Ubaidah. Setelah itu ia datang kepada Nu'man bin Mundzir, gubernur Kisra di Hirah dan sekitar Irak, lalu mengadukan keadaan Yaman.

      Nu'man berkata bahwa ia punya waktu khusus tiap tahun untuk mengunjungi Kisra, dan meminta Sayf menunggu sampai saat itu. Ketika waktunya tiba, Nu'man membawanya menghadap. Kisra duduk di singgasana dengan mahkota besar bertatahkan yaqut, mutiara, intan, rubi, dan topaz, yang digantung dengan rantai emas. Lehernya tak kuat menyangga mahkota itu, jadi mahkota disembunyikan di balik kain, dan ia memasukkan kepalanya ke sana setelah duduk. Orang yang baru pertama melihatnya pun bersimpuh karena segan. Sayf juga bersimpuh.

      Menurut Abu 'Ubaidah dalam riwayat Ibnu Hisyam, saat menemui Kaisar, Sayf menundukkan kepala. Kaisar menyindir bahwa orang bodoh ini masuk dari pintu yang panjang lalu mengangguk-anggukkan kepala. Sayf menjawab bahwa ia melakukannya karena kesedihan dan beban yang menekannya.

      Kepada Kisra, Sayf mengadu bahwa negerinya dikalahkan orang-orang asing. Kisra bertanya apakah yang dimaksud orang Habasyah atau Sindi. Sayf menjawab Habasyah, dan menawarkan bahwa kerajaan Yaman akan menjadi milik Kisra bila ia membantu. Kisra menolak: negeri itu jauh dan sumber kekayaannya sedikit, dan ia tidak ingin pasukan Persia kesulitan di negeri Arab. Sayf diberi hadiah sepuluh ribu dirham dan pakaian indah.

      Begitu keluar dari istana, Sayf menebarkan hadiah itu kepada banyak orang. Kisra mendengarnya dan mengutus orang untuk bertanya. Sayf menjawab bahwa negeri asalnya gunung-gunungnya emas dan perak, jadi hadiah itu tak berarti baginya. Kata Ibnu Ishaq, ia mengatakannya untuk menarik hati Kisra. Kisra lalu mengumpulkan para menterinya. Salah satunya menyarankan agar tahanan yang menunggu hukuman mati dikirim bersama Sayf: bila mereka tewas, itu memang yang diinginkan, dan bila menang, Kisra mendapat kerajaan baru. Kisra pun mengirim delapan ratus tahanan, dan mengangkat Wahriz, salah seorang yang tertua di antara mereka dan berasal dari keturunan yang baik, sebagai pemimpin.

    2. Berlayar dan bertempur

      Delapan kapal, enam sampai di Aden

      Dua kapal tenggelam, enam sampai di pantai Aden. Wahriz memanah raja Habasyah, Masruq, tepat di rubi di keningnya, lalu pasukan Persia masuk Shan'a.

      Kota lama Aden di kaki tebing gunung, dengan dua menara masjid putih
      Kota lama Aden, Yaman, yang berada di kawah gunung api yang sudah padam. Foto September 1999.Foto: Jialiang Gao · CC BY-SA 3.0 · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Mereka berangkat dengan delapan kapal. Dua tenggelam, dan enam sampai di pantai Aden. Sayf menggabungkan orang-orang yang ia himpun dengan pasukan Wahriz dan berkata: "Kakiku akan bersama kakimu hingga kita mati atau kita menang." Wahriz menjawab bahwa itu adil.

      Masruq bin Abrahah, raja Yaman, keluar menyongsong mereka dengan pasukannya. Wahriz lebih dulu mengirim putranya untuk berperang agar mendapat pengalaman, dan putranya terbunuh. Itu menambah kemarahannya. Setelah barisan rapi, Wahriz meminta ditunjukkan raja musuh. Ia diberi tahu bahwa raja itu terlihat menunggang gajah dengan mahkota di kepala dan yaqut merah di antara kedua matanya. Wahriz menyuruh mereka menunggu. Berkali-kali ia bertanya, dan berkali-kali ia diberi tahu bahwa Masruq berganti kendaraan: dari gajah ke kuda, lalu ke keledai. Wahriz berkata bahwa raja itu dan kerajaannya akan hina. Ia lalu menyuruh pasukannya diam di tempat. Bila pasukan musuh berkumpul melingkari rajanya, berarti panahnya mengena, dan saat itulah mereka menyerang.

      Menurut cerita, anak panahnya begitu berat sehingga hanya ia yang mampu mengangkatnya. Panah itu mengenai tepat di antara kedua alis Masruq, memecahkan rubi di keningnya, dan menembus kepalanya sampai belakang leher. Masruq jatuh. Orang-orang Habasyah berkumpul mengelilinginya, pasukan Persia pun menyerang, dan Habasyah kalah lalu lari bercerai-berai.

      Wahriz bergerak memasuki Shan'a. Di gerbang kota ia berkata agar panjinya tidak dimasukkan dalam keadaan terbalik, lalu memerintahkan gerbang dihancurkan. Gerbang hancur, dan ia masuk dengan panji tertancap tegak.

      Sayf bin Dzi Yazan bersyair tentang peristiwa ini: orang mengira dua raja telah berdamai, tetapi mereka membunuh raja Masruq dan menyirami pasir dengan darah. Ibnu Hisyam juga mengutip syair Abu Shalt (dalam riwayat lain Ibnu Abi Shalt) yang memuji peristiwa itu dan mengajak Sayf minum dengan tenang di puncak Ghumdan, serta syair 'Adi bin Zaid al-Hiri tentang Shan'a. Syair-syair itu tidak kami salin lengkap.

    3. Sesudahnya

      Persia di Yaman sampai Badzan

      Habasyah berkuasa sekitar 72 tahun lewat empat penguasa. Setelah itu Persia memerintah lewat Wahriz dan keturunannya sampai Badzan. Badzan masuk Islam setelah kematian Kisra sesuai kabar dari Rasulullah ﷺ.

      Foto lama kota tua Shan'a tahun 1962 dengan menara masjid dan rombongan unta
      Shan'a lama pada tahun 1962.Foto: العمري · Domain publik (menurut Commons) · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Wahriz dan orang-orang Persia tinggal di Yaman, dan keturunan mereka masih ada di sana, kata Ibnu Ishaq. Masa Habasyah di Yaman adalah sejak masuknya Aryath sampai terbunuhnya Masruq, sekitar tujuh puluh dua tahun. Kekuasaan itu bergilir pada empat orang: Aryath, Abrahah, Yaksum bin Abrahah, dan Masruq bin Abrahah.

      Menurut Ibnu Hisyam, setelah Wahriz wafat, Kisra mengangkat putranya, Marzuban bin Wahriz. Sesudah Marzuban wafat, Kisra mengangkat putranya, Taynujan bin Marzuban. Setelah Taynujan wafat, putranya sempat diangkat menggantikannya lalu diturunkan, dan Badzan diangkat. Badzan berkuasa di Yaman sampai Allah mengutus Nabi Muhammad ﷺ.

      Az-Zuhri menuturkan bahwa Kisra menulis surat kepada Badzan: telah sampai kabar bahwa seorang lelaki Quraisy muncul di Makkah dan mengaku nabi. Badzan diperintahkan menyuruhnya bertobat, dan bila tidak, mengirimkan kepalanya. Badzan meneruskan surat itu kepada Rasulullah ﷺ. Beliau membalas bahwa Allah telah menjanjikan Kisra akan terbunuh pada hari dan bulan tertentu. Badzan terhenyak lalu berkata, "Jika dia benar seorang nabi, maka apa yang dia katakan akan menjadi kenyataan!" Allah mematikan Kisra pada hari yang disebutkan. Menurut Ibnu Hisyam, ia terbunuh di tangan putranya, Syirawih.

      Ketika kabar itu sampai, Badzan mengutus orang kepada Rasulullah ﷺ dan menyatakan keislamannya, begitu pula orang-orang Persia yang bersamanya. Utusan itu bertanya kepada siapa mereka bergabung. Jawab beliau, "Kalian adalah bagian dari kami dan kepada kami ahli Bait." Ibnu Hisyam menyampaikan kabar dari az-Zuhri bahwa karena itulah beliau bersabda, "Salman bagian dari kami."

      Prasasti "Kerajaan Dzimar"Tulisan di batu cadas Yaman yang disebut Ibnu Ishaq.

      Ibnu Ishaq menyebut bahwa di salah satu batu cadas di Yaman, menurut sangkaan mereka, ada tulisan Zabur dari masa-masa awal. Isinya pertanyaan "Kepunyaan siapa kerajaan Dzimar?" dengan empat jawaban berurutan: orang-orang Himyar yang berbudi luhur, orang-orang Habasyah yang kejam, orang-orang Persia yang dimerdekakan, dan orang-orang Quraisy, para pedagang.

      Yang dimaksud Dzimar adalah Yaman atau Shan'a. Ibnu Hisyam menambahkan bahwa pengucapannya "dzamar" dengan fathah, sebagaimana disampaikan Yunus kepadanya.

      Sathih dan SyiqDua nama yang dikaitkan Ibnu Hisyam dengan peristiwa ini.

      Ibnu Hisyam mengaitkan kejadian ini dengan ucapan Sathih dan Syiq. Menurutnya, yang dimaksud Sathih adalah Iram bin Dzi Yazan yang keluar menyerang dari Aden sampai tak ada orang Habasyah tersisa di Yaman. Ucapan Syiq, "Seorang lelaki yang tidak hina, tidak pula menghinakan", dimaksudkan untuk lelaki yang keluar dari rumah Dzi Bazan.

      Ia juga mengaitkan ucapan Sathih "Seorang Nabi Suci yang menerima wahyu dari Dzat Yang Mahatinggi" dan ucapan Syiq tentang terputusnya kerajaan dengan datangnya nabi yang diutus, dengan kisah masuk Islamnya Badzan. Teks ramalan mereka sendiri tidak ada di bab ini dalam terjemahan yang kami pakai.

    4. Kisah lain

      Kerajaan al-Hadhar dan benteng yang dibukakan putri raja

      Raja Sathirun dari al-Hadhar dikepung Kisra Sabur dua tahun. Putrinya membukakan pintu benteng karena tertarik pada Sabur, tetapi Sabur akhirnya membunuhnya.

      Baca selengkapnya

      Ibnu Hisyam menuturkan, lewat Khallad bin Qurrah dari Jannad atau sebagian ulama Kufah yang ahli nasab, bahwa disebutkan an-Nu'man bin Mundzir termasuk keturunan Sathirun, raja al-Hadhar. Al-Hadhar adalah benteng yang sangat besar, laksana kota, di tepi sungai Eufrat. 'Adi bin Zaid dalam syairnya menyebut orang-orang Hadhar membangunnya di tepi Dajlah dan Khabur, dilapisi marmer dan dicat gipsum, dengan burung bersarang di atapnya.

      Kisra Sabur Dzul Aktaf menyerang Sathirun dan mengepung benteng itu dua tahun. Suatu hari putri Sathirun melihat Sabur dari benteng: lelaki tampan yang mengenakan pakaian sutra dan mahkota emas bertatahkan batu mulia. Secara diam-diam ia mengirim pesan, menanyakan apakah Sabur mau menikahinya bila ia membukakan pintu al-Hadhar. Sabur menjawab ya.

      Malam harinya Sathirun minum sampai mabuk, seperti biasanya. Putrinya mengambil kunci-kunci benteng dari bawah kepala ayahnya dan mengirimkannya lewat seorang bekas budak kepada Sabur. Sabur membuka pintu, masuk, membunuh Sathirun, lalu menyerahkan al-Hadhar kepada tentaranya hingga porak-poranda. Putri itu dibawa dan dinikahinya.

      Pada malam pertama, putri itu gelisah dan tak bisa tidur. Sabur menyalakan lilin dan memeriksa tempat tidurnya, lalu menemukan sebatang pohon kecil berwarna terang di kasurnya. Sabur bertanya apakah itu yang membuatnya tak bisa tidur, dan ia menjawab ya. Sabur bertanya bagaimana ayahnya memperlakukannya. Putri itu menjawab bahwa ayahnya menghamparkan kasur brokat, memberinya baju sutra, memberinya makan sumsum, dan memberinya minum anggur. Sabur berkata bahwa bila begitu caranya membalas ayahnya, tak lama lagi ia akan lebih cepat mengkhianati dirinya. Ia memerintahkan pengawalnya mengikat rambut wanita itu pada ekor kuda, dan kuda itu berlari kencang hingga ia meninggal.

      A'sya bin Qais dan 'Adi bin Zaid bersyair tentang kejatuhan al-Hadhar. Syair 'Adi menyalahkan gadis yang tak melindungi ayahnya dan memberinya arak, lalu menggambarkan al-Hadhar yang hancur dan gantungan pakaiannya dibakar. Syair-syair itu tidak kami salin lengkap.

    5. Silsilah

      Anak-anak Nizar sampai Qama'ah

      Nizar punya tiga putra: Mudhar, Rabi'ah, dan Anmar. Dari Mudhar lahir Ilyas, dan dari Ilyas lahir Mudrikah, Thabikhah, dan Qama'ah. Dari Qama'ah, menurut ahli nasab Mudhar, berasal Khuza'ah.

      Baca selengkapnya

      Ibnu Ishaq menyebut Nizar punya tiga anak: Mudhar, Rabi'ah, dan Anmar. Ibnu Hisyam menambahkan Iyad bin Nizar dan mengutip syair al-Harits bin Daus al-Iyadi (juga diriwayatkan dari Abu Duad al-Iyadi) yang menyebut para pemuda elok dari Iyad bin Nizar bin Ma'ad. Ibu Mudhar dan Iyad adalah Saudah binti 'Akk bin 'Adnan. Ibu Rabi'ah dan Anmar adalah Syuqaiqah binti 'Akk bin 'Adnan, ada juga yang menyebut namanya Jumu'ah binti 'Akk.

      Anmar, kata Ibnu Ishaq, adalah ayah Khats'am dan Bajilah, dan dari Bajilah itu Jarir bin 'Abdullah al-Bajili, pemuka Bajilah. Mereka pergi ke Yaman dan menjadi penduduk Yaman. Ibnu Hisyam menambahkan bahwa orang-orang Yaman dan Bajilah menyebut nasabnya sebagai Anmar bin Irasy bin Lihyan bin 'Amr bin al-Ghauts bin Nabt bin Malik bin Zaid bin Kahlan bin Saba'.

      Mudhar punya dua putra, Ilyas dan 'Aylan, yang menurut Ibnu Hisyam ibunya dari Jurhum. Ilyas punya tiga putra: Mudrikah, Thabikhah, dan Qama'ah, dengan ibu bernama Khindif, wanita dari Yaman.

      Asal nama Mudrikah, Thabikhah, dan KhindifKisah dua bersaudara yang berburu dan unta yang diserang singa.

      Nama Mudrikah sebenarnya 'Amir, dan nama Thabikhah sebenarnya 'Amran (dalam percakapan di teks itu ia disebut 'Amr). Konon keduanya menggembala unta, lalu berburu. Setelah dapat buruan, mereka duduk memasaknya. Tiba-tiba seekor singa menyerang unta mereka. 'Amir bertanya kepada 'Amr apakah ia akan mengejar unta atau memasak buruan. 'Amr memilih memasak, maka 'Amir mengejar unta itu dan berhasil menemukannya kembali.

      Ketika pulang dan menceritakannya, sang ayah berkata kepada 'Amir, "Engkau Mudrikah (yang menemukan)", dan kepada 'Amr, "Engkau Thabikhah (tukang masak)." Ibu mereka keluar dengan sangat cepat ketika mendengar kabar itu, maka suaminya berkata, "Engkau ini takhandafin (berlari berderap)", dan ia pun disebut Khindif.

      Adapun Qama'ah, ahli nasab Mudhar mengatakan bahwa Khuza'ah adalah anak 'Amr bin Luhay bin Qama'ah bin Ilyas. Bab berikutnya membahas 'Amr bin Luhay dan berhala-berhala Arab.

    Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai, dan beberapa bagiannya tidak jelas dalam terjemahan itu sehingga ditandai di dalam teks. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran.