Isi bab ini
Bab ini menceritakan peristiwa yang membuat tahun itu dikenang sebagai Tahun Gajah (570 M). Empat hal berikut gambaran awalnya.
Gereja Abrahah
Abrahah membangun gereja besar di Yaman dan ingin orang Arab berhaji ke sana. Seorang lelaki Kinanah marah dan menodainya.
Menuju Makkah
Abrahah berangkat bersama gajah, melewati Khats'am dan Thaif, lalu sampai di al-Mughammis.
Rumah ini ada Tuhannya
'Abdul Muththalib hanya meminta untanya kembali, sebab Baitullah ada yang menjaganya.
Burung dan batu
Gajah Mahmud menolak maju. Burung-burung melempari pasukan itu, dan Abrahah tiba di Shan'a dalam keadaan parah.
Perjalanan pasukan Abrahah
Pilih salah satu langkah di daftar yang menyertai peta. Buku menyebut urutan tempatnya dengan jelas, tetapi tidak menyebut jalurnya, jadi garisnya lurus dan hanya perkiraan. Titik-titiknya diambil dari Wikipedia.
Dari gereja sampai Shan'a
Berikut urutan ceritanya. Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.
- Awal peristiwa
Gereja Abrahah dan kemarahan orang Kinanah
Abrahah membangun gereja besar dan menginginkan orang Arab berhaji ke sana. Seorang lelaki dari Kinanah marah dan menodai gereja itu, sehingga Abrahah bersumpah menghancurkan Ka'bah.
Baca selengkapnya
Abrahah membangun gereja yang sangat besar dan tinggi, tak ada tandingannya pada zaman itu. Ia menulis kepada Najasyi bahwa gereja itu belum pernah dibangun untuk raja mana pun sebelumnya, dan ia tidak akan puas sampai orang-orang Arab melaksanakan haji di sana.
Ketika surat itu jadi perbincangan di kalangan Arab, seorang lelaki dari Bani Fuqaim marah. Mereka adalah golongan Nas'ah, yaitu orang-orang yang dahulu menggeser bulan-bulan haram. Lelaki yang disebut "al-Kinani" itu pergi sampai ke gereja, duduk di sana, dan menurut Ibnu Hisyam buang air di dalamnya, lalu pulang ke negerinya. Terjemahan yang kami pakai tidak memuat bagian perjalanan lelaki itu menuju gereja.
Abrahah diberi tahu bahwa pelakunya orang Arab dari pemilik rumah tempat haji di Makkah. Orang itu marah ketika mendengar seruan agar haji orang Arab dialihkan ke gereja, dan perbuatannya dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa gereja itu tidak layak dijadikan tempat haji. Abrahah murka, bersumpah akan menghancurkan Baitullah, dan memerintahkan orang Habasyah bersiap. Ia berangkat dengan menunggang gajah. Kabar itu sampai kepada orang-orang Arab, dan mereka sangat ketakutan.
Apa itu Nas'ah?Cara orang Arab menggeser bulan haram, dan siapa saja yang menjalankannya.
Nas'ah adalah penundaan bulan: orang Arab di masa jahiliyah menghalalkan sebuah bulan haram lalu mengharamkan bulan lain sebagai gantinya, agar jumlah bulan haram tetap empat. Allah menurunkan QS at-Taubah ayat 37 tentang hal ini.
Menurut Ibnu Ishaq, orang pertama yang menjalankannya adalah al-Qalammas (Hudzaifah bin 'Abd Fuqaim), lalu diteruskan putranya 'Abbad, kemudian Qala' bin 'Abbad, Umayyah bin Qala', 'Auf bin Umayyah, dan terakhir Abu Tsumamah Junadah bin 'Auf. Islam datang pada masa Junadah.
Seusai haji, orang-orang berkumpul menemui al-Qalammas. Ia mengumumkan empat bulan haram, yaitu Rajab, Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Bila ia ingin menghalalkan Muharram, ia menggantinya dengan Shafar. Ibnu Hisyam menambahkan bahwa bulan haram yang pertama adalah Muharram.
- Dalam perjalanan
Dzu Nafar, Nufail, dan Thaif
Beberapa tokoh Arab mencoba menghadang Abrahah, tetapi kalah. Yang tersisa menjadi penunjuk jalan: Nufail bin Habib, lalu Abu Righal dari Thaif.

Istana Shubra (dibangun 1905) di Thaif, keadaan sekarang (2021). Gambaran kota Thaif hari ini.Foto: Richard Mortel · CC BY 2.0 · Wikimedia Commons Baca selengkapnya
Dzu Nafar, salah seorang tokoh Yaman, menyeru kaumnya dan orang-orang Arab yang bersimpati untuk membela Baitullah. Ia memerangi Abrahah dan kalah, lalu ditawan. Ketika Abrahah hendak membunuhnya, Dzu Nafar memohon agar dibiarkan hidup. Abrahah, yang dikenal santun dan sabar, hanya memenjarakannya dalam belenggu.
Di wilayah Khats'am, Nufail bin Habib al-Khats'ami bersama kabilah Syahran dan Nahis menghadang Abrahah. Ia kalah dan ditawan. Nufail memohon agar tidak dibunuh karena bisa menjadi penunjuk jalan, dan menjamin dua kabilah Khats'am itu tunduk. Abrahah membiarkannya pergi, lalu Nufail menjadi penunjuk jalan.
Ketika melewati Thaif, Abrahah dihadang Mas'ud bin Mu'attib bersama orang-orang Tsaqif. Mereka berkata bahwa mereka adalah hamba sang raja dan rumah mereka (maksudnya al-Lat) bukan yang dicari, karena yang dituju adalah rumah di Makkah. Abrahah mengampuni mereka. Al-Lat adalah rumah ibadah mereka di Thaif yang mereka agungkan seperti Ka'bah. Mereka mengutus Abu Righal bersama Abrahah sebagai penunjuk jalan sampai al-Mughammis, tempat ia wafat. Orang-orang Arab melempari kuburnya, dan hal itu masih dilakukan orang-orang di al-Mughammis sampai sekarang, menurut Ibnu Ishaq.
- Di Makkah
'Abdul Muththalib dan dua ratus unta
Pasukan Abrahah merampas 200 unta milik 'Abdul Muththalib. Ia menemui Abrahah hanya untuk meminta untanya, dan berkata bahwa Rumah itu ada Tuhannya yang akan melindungi.

Panorama Makkah dan Masjidil Haram dari ketinggian, foto lama bertarikh 1297 H (1880 M). Tampak Ka'bah di tengah dan kota di sekelilingnya.Foto: Muhammad Sadiq Bey · koleksi Khalili (unggahan: Khalili Collections) · CC BY-SA 3.0 · Wikimedia Commons Baca selengkapnya
Di al-Mughammis, Abrahah mengutus seorang Habasyah bernama al-Aswad bin Maqshud dengan pasukan berkuda ke Makkah. Mereka merampas harta orang Tihamah, baik milik Quraisy maupun bukan, termasuk dua ratus unta 'Abdul Muththalib, yang saat itu pemimpin Quraisy. Quraisy, Kinanah, Hudzail, dan orang-orang di sekitar Baitul Haram sempat ingin melawan, tetapi sadar tak akan sanggup, sehingga membiarkannya.
Abrahah lalu mengutus Hunathah al-Himyari ke Makkah dengan pesan: ia tidak datang untuk memerangi, hanya untuk menghancurkan rumah itu, dan bila tidak dihalangi maka darah tak perlu tertumpah. Hunathah bertanya siapa pemimpin Quraisy, dan dikatakan padanya 'Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay. 'Abdul Muththalib menjawab bahwa mereka tidak ingin perang dan tidak punya kekuatan untuk itu. Ini Baitullah dan rumah Khalilullah Ibrahim ‘alaihissalam: bila Allah melindunginya, itu rumah dan tanah haram-Nya, dan bila Dia membiarkannya, mereka tak mampu membelanya.
Bersama sebagian putranya, ia berangkat ke markas Abrahah. Di sana ia menemui sahabatnya, Dzu Nafar, yang sedang ditahan. Dzu Nafar tak bisa membantu langsung, tetapi menulis kepada Unais, pengendali unta Abrahah, untuk memintakan izin bertemu. Unais menyampaikan bahwa pemimpin Quraisy yang memberi makan manusia di dataran rendah dan binatang buas di puncak gunung ada di depan pintu.
Abrahah mengagumi 'Abdul Muththalib yang tampan dan mulia, lalu turun dari singgasana dan mendudukkannya di sisinya di atas permadani. Ketika ditanya keperluannya, 'Abdul Muththalib hanya meminta dua ratus untanya dikembalikan. Abrahah berkata kekagumannya memudar: ia datang menghancurkan Rumah yang menjadi simbol agama nenek moyang 'Abdul Muththalib, tetapi yang diminta hanya unta.
“Aku hanyalah penguasa unta-unta itu, sedangkan Rumah ini ada Tuhannya yang akan memberikan perlindungan.”Jawaban 'Abdul Muththalib kepada Abrahah, menurut Ibnu Ishaq
Abrahah berkata Dia tidak mungkin melindunginya dari dirinya. 'Abdul Muththalib menjawab, "Terserah engkau!" Sebagian ilmuwan menyebut bahwa 'Abdul Muththalib datang bersama Ya'mur bin Nufatsat (pemimpin Bani Bakr) dan Khuwailid bin Watsilah al-Hudzali (pemimpin Bani Hudzail). Mereka menawarkan sepertiga kekayaan Tihamah agar Abrahah pulang tanpa menghancurkan Baitullah, tetapi ditolak. Ibnu Ishaq menambahkan, "Allah Mahatahu apa yang sebenarnya terjadi." Abrahah lalu mengembalikan dua ratus unta itu.
Kembali ke Quraisy, 'Abdul Muththalib menyuruh semua orang keluar dari Makkah dan berlindung di puncak-puncak gunung. Sambil memegang rantai pintu Ka'bah bersama beberapa orang Quraisy, ia berdoa agar Allah menghancurkan Abrahah dan pasukannya. Doanya berisi permohonan agar Allah menjaga rumah-Nya, sebagaimana seseorang menjaga tempat tinggalnya, dan agar salib serta kekuatan mereka tidak mengalahkan kekuatan-Nya. Ibnu Hisyam menyebut itulah ucapannya yang benar. 'Ikrimah bin 'Amir juga berdoa dalam syair agar al-Aswad bin Maqshud dihinakan. Setelah itu 'Abdul Muththalib melepas rantai Ka'bah dan menyusul Quraisy ke puncak gunung.
- Hari penentuan
Mahmud menderum, burung-burung datang
Gajah Mahmud menolak menghadap Makkah, walau dipukul dan dibalik arah. Lalu datang burung-burung dari laut yang melempari pasukan dengan batu kecil.
Baca selengkapnya
Abrahah sudah bertekad menghancurkan Baitullah lalu kembali ke Yaman. Nama gajah tunggangannya Mahmud. Ketika gajah-gajah diarahkan ke Makkah, Nufail bin Habib berdiri di samping gajah itu, memegang telinganya, dan berbisik agar Mahmud menderum atau pulang dengan damai, karena ia berada di negeri haram. Setelah itu ia melepas telinga gajah dan segera naik ke gunung.
Pasukan Abrahah memukul gajah itu supaya berdiri. Mereka memukul kepalanya dengan batang besi dan menusuk perutnya dengan mahjan (tongkat berujung bengkok), tetapi Mahmud tetap menderum. Ketika diarahkan ke Yaman, ia berdiri dan berlari. Diarahkan ke Syam atau ke timur, ia melakukan hal yang sama. Namun begitu dihadapkan ke Makkah, ia menderum lagi.
Lalu Allah mengirim burung-burung dari laut, seperti burung layang-layang dan burung balsan. Setiap burung membawa tiga batu, satu di paruh dan dua di kaki, sebesar kacang dan adas. Siapa pun yang terkena batu itu tewas seketika, tetapi tidak semua orang terkena. Pasukan itu mundur lewat jalan yang tadi mereka lalui dan mencari Nufail agar menunjukkan jalan ke Yaman. Melihat kondisi mereka, Nufail bersyair: ke mana tempat lari dari Allah yang sedang memburu, sementara Abrahah al-Asyram kalah dan tidak menang. Ia juga bersyair bahwa ia memuji Allah ketika melihat burung-burung itu, karena takut batunya dilemparkan kepada mereka.
- Sesudahnya
Akhir Abrahah dan akibat peristiwa itu
Pasukan itu bergelimpangan di jalan. Abrahah sendiri tiba di Shan'a dalam keadaan parah lalu wafat. Orang Arab semakin menghormati Quraisy.

Rumah-rumah di kota tua Shan'a, Yaman, keadaan sekarang (2013).Foto: Rod Waddington · CC BY-SA 2.0 · Wikimedia Commons Baca selengkapnya
Mereka bergelimpangan di jalan-jalan dan mati di setiap tempat air. Abrahah terkena lemparan batu, lalu ditandu pergi bersama mereka. Setiap kali mereka bergerak, jarinya lepas satu per satu, dan setiap jari yang lepas disertai nanah bercampur darah. Sampai di Shan'a, tubuhnya sudah laksana anak burung. Menurut sebagian riwayat, ketika ia wafat, badan dan hatinya terpisah.
Ya'qub bin Utbah menyampaikan kabar bahwa pada tahun itulah campak dan cacar pertama kali muncul di tanah Arab, dan tampak pula pohon-pohon pahit seperti harmal, hanzhal, dan 'usyr. 'Aisyah berkata bahwa ia melihat para penunggang dan penuntun gajah di Makkah dalam keadaan buta, duduk mengemis makanan.
Setelah Allah memulangkan orang-orang Habasyah dari Makkah, orang Arab semakin mengagungkan Quraisy dan berkata: mereka wali-wali Allah, yang Allah sendiri membela dan mengusirkan musuhnya. Ketika Muhammad ﷺ diutus, beliau sering mengingatkan Quraisy akan nikmat ini. Ibnu Ishaq menyebut dua surat yang turun berkenaan dengan itu: QS al-Fil ayat 1 sampai 5 dan QS Quraisy ayat 1 sampai 4.
Setelah Abrahah wafat, putranya Yaksum bin Abrahah menggantikannya sebagai penguasa Habasyah. Setelah Yaksum wafat, saudaranya Masruq bin Abrahah memimpin orang-orang Habasyah di Yaman.
Arti beberapa kata dalam surat al-Fil dan QuraisyAbabil, sijjil, 'ashf, dan iilaf, menurut penjelasan Ibnu Hisyam.
- Ababil berarti berkelompok-kelompok. Menurut Ibnu Hisyam, sepengetahuannya belum ada orang Arab yang memakainya dalam bentuk tunggal.
- Sijjil berarti sangat keras, menurut Yunus an-Nahwi dan Abu 'Ubaidah. Sebagian ahli tafsir berpendapat kata ini dari bahasa Persia, dari sanju (batu) dan jallu (tanah), yaitu kerikil dari bahan batu dan tanah.
- 'Ashf adalah daun tanaman yang belum layak dipanen. Bentuk tunggalnya 'ashfah, dan Abu 'Ubaidah menyebut juga 'ushafah atau 'ashifah.
- Iilaf dalam surat Quraisy berkaitan dengan kebiasaan Quraisy berdagang ke Syam dua kali setahun, pada musim dingin dan musim panas. Ibnu Hisyam menjelaskan bahwa kata kerjanya punya beberapa arti, antara lain menyatukan sesuatu dengan sesuatu yang lain, atau sebuah kaum yang jumlahnya mencapai seribu.
Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Syair-syair yang dikutip Ibnu Hisyam tidak kami salin seluruhnya, dan rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Kisah Sayf bin Dzi Yazan yang mengusir Habasyah dari Yaman dibahas di bab berikutnya. Padanan Masehi dalam tanda kurung bukan dari Ibnu Hisyam, melainkan dari buku-buku pembanding.