Pusat Sejarah Islam
Bab 2 dari 55

Yaman, Najran & Ashabul Ukhdud

Bab ini dibuka dengan kepindahan 'Amr bin 'Amir dari Yaman dan bendungan Ma'rib yang akhirnya hancur. Setelah itu ada cerita raja-raja Yaman, masuknya agama Yahudi dan Nasrani, tragedi parit di Najran, sampai datangnya pasukan Habasyah.

sebelum Tahun Gajah (570 M)Sumber: Ibnu Hisyam
Sekilas

Isi bab ini

Bab ini menelusuri bagaimana Yaman berubah dari negeri para raja Himyar menjadi negeri yang dikuasai pasukan Habasyah, sampai berdirinya kekuasaan Abrahah.

Bendungan Ma'rib

'Amr bin 'Amir meninggalkan Yaman, kabilah-kabilahnya tersebar, lalu bendungan itu hancur diterjang banjir.

Raja-raja Yaman

Dari Rabi'ah bin Nashr dan Tubba', Hassan dan 'Amr, Lakhni'ah, sampai Dzu Nuwas sebagai raja Himyar terakhir.

Najran dan Ukhdud

Dari kisah Faymiyun sampai parit api yang menewaskan orang-orang beriman di Najran.

Datangnya Habasyah

Najasyi mengirim 70.000 pasukan. Beberapa tahun kemudian, Abrahah menggeser Aryath dan menetap di Yaman.

Peta

Yaman, Najran dan Hijaz

Pilih salah satu langkah di daftar yang menyertai peta. Hanya perjalanan Tubba' yang disebut berurutan di bab ini, jadi hanya itu yang diberi panah. Garisnya lurus karena buku tidak menyebut jalur persisnya, dan titik-titiknya diambil dari Wikipedia.

Yaman, Najran dan Hijaz
Tempat yang disebut Ibnu HisyamPerjalanan (garis perkiraan)Yaman (batas sekarang)
Sorotan Yaman memakai batas negara masa kini hanya sebagai patokan.
    Alur kisah

    Dari Ma'rib sampai Abrahah

    Berikut urutan ceritanya, sesuai urutan yang dipakai Ibnu Hisyam. Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.

    1. Awal cerita

      'Amr bin 'Amir meninggalkan Yaman

      'Amr melihat tikus melubangi bendungan Ma'rib, lalu pergi dari Yaman dengan siasat. Kabilahnya akhirnya tersebar ke Syam, Yatsrib, Marra, As-Sarah, dan Oman.

      Sisa dinding bendungan kuno Ma'rib di Yaman
      Sisa bendungan kuno Ma'rib di Yaman, difoto tahun 1988.Foto: H. Grobe · CC BY-SA 3.0 · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Ibnu Hisyam mengawali sejarah ini dengan kepindahan 'Amr bin 'Amir dari Yaman. Menurut penuturan Abu Yazid al-Anshari, 'Amr melihat seekor tikus besar melubangi bendungan Ma'rib, tempat air disimpan lalu dialirkan ke tanah mereka. Ia paham bendungan itu tidak akan bertahan lama, lalu bertekad pergi dengan cara yang cerdik.

      'Amr meminta putra bungsunya menamparnya di depan orang banyak, lalu berkata bahwa ia tak sudi tinggal di negeri tempat anaknya berani menampar wajahnya. Ia menjual hartanya, dan para pembesar Yaman yang melihat 'Amr sedang marah buru-buru membelinya. Ia berangkat bersama anak cucunya, dan orang-orang Azd ikut karena tak mau tinggal tanpa dirinya.

      Mereka singgah di negeri Akk. Kabilah Akk memerangi mereka, dan peperangan itu berlangsung kalah-menang. Setelah itu rombongan 'Amr bercerai-berai: keluarga Jafnah bin 'Amr menetap di Syam, Aus dan Khazraj di Yatsrib (Madinah), Khuza'ah di Marra, Azd di As-Sarah, dan Azd Amman di Oman. Sesudahnya, Allah mengirim banjir bandang yang menghancurkan bendungan itu, sebagaimana diberitakan dalam QS Saba' ayat 15 sampai 16. Ibnu Hisyam menambahkan bahwa kata al-'arim dalam ayat itu berarti bendungan.

    2. Zaman Rabi'ah bin Nashr

      Mimpi sang raja dan dua peramal

      Dua peramal, Sathih dan Syiq, menafsirkan mimpi Rabi'ah: Habasyah akan menguasai Yaman, kelak terusir, dan akhirnya kekuasaan terputus oleh seorang Nabi.

      Baca selengkapnya

      Rabi'ah bin Nashr adalah salah seorang raja Tubba' di Yaman. Suatu malam ia bermimpi sesuatu yang membuatnya gelisah, lalu memanggil semua dukun dan peramal di negerinya. Syaratnya berat: mereka harus lebih dulu menyebutkan mimpinya, baru menafsirkannya. Atas saran mereka, dipanggillah dua orang yang paling berilmu, Sathih dan Syiq. Keduanya datang bergantian, dan sang raja sengaja tidak memberi tahu Syiq apa yang sudah dikatakan Sathih.

      Keduanya menyebut mimpi yang sama: api muncul dari laut yang gelap, jatuh di tanah datar (kata Sathih) atau di taman (kata Syiq), lalu melahap semua yang ada di sana.

      Menurut Sathih

      • Orang-orang Habasyah akan menguasai tanah Yaman, dari Abyan sampai Jurasy.
      • Itu terjadi lebih dari enam puluh atau tujuh puluh tahun sesudah masa sang raja.
      • Kekuasaan mereka terputus selama lebih dari tujuh puluh tahun. Lalu Iram bin Dzi Yazan keluar dari Aden dan mengusir mereka.
      • Kekuasaan itu terputus lagi oleh seorang Nabi suci yang menerima wahyu, dari keturunan Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr.

      Menurut Syiq

      • Orang-orang berkulit hitam akan menguasai tanah Yaman, dari Abyan sampai Najran.
      • Itu terjadi beberapa tahun setelah masa sang raja.
      • Seorang yang agung dari rumah Dzi Bazan (ejaan terjemahan) akan menyelamatkan Yaman dan tidak membiarkan seorang pun dari mereka tersisa.
      • Kekuasaannya terputus oleh seorang nabi yang diutus dengan keadilan dan kebenaran.

      Ucapan keduanya begitu membekas. Rabi'ah menyiapkan anak-anak dan kerabatnya untuk berangkat ke Irak, dengan surat kepada raja Persia, Sabur bin Khurrazadz, dan mereka ditempatkan di Hirah. Nu'man bin Mundzir, yang bernasab Yaman, adalah salah satu keturunan Rabi'ah yang tersisa: Nu'man bin Mundzir bin Nu'man bin Mundzir bin 'Amr bin 'Adi bin Rabi'ah bin Nashr.

    3. Zaman Tubban As'ad Abu Karib

      Tubba' di Madinah, Makkah, dan Yaman

      Tubba' hampir menghancurkan Madinah tetapi dicegah dua rahib. Di Makkah ia menutup Ka'bah dengan kain, lalu pulang ke Yaman dan membawa agama Yahudi ke sana.

      Baca selengkapnya

      Setelah Rabi'ah wafat, menurut Ibnu Ishaq seluruh kerajaan Yaman kembali ke Hassan bin Tubban As'ad Abu Karib. Ibnu Ishaq menyebut Tubban sebagai raja terakhir dari para Tubba', dan nasabnya naik sampai Himyar bin Saba' dan Qahthan. Tubban bin As'ad Abu Karib inilah yang pernah datang ke Madinah dan membawa dua rahib Yahudi ke Yaman.

      Di Madinah. Tubba' datang dari timur dan melintasi Madinah. Ia meninggalkan seorang putranya di sana, yang kemudian dibunuh penduduk Madinah secara keji. Ia pun kembali dengan niat menghancurkan kota itu dan menebang pohon kurmanya. Kaum Anshar bersatu di bawah pimpinan 'Amr bin Thallah dari Bani Najjar. Mereka melawan Tubba' di siang hari, tetapi menjamunya sebagai tamu di malam hari, dan sikap itu membuat Tubba' kagum.

      Di tengah perang, datang dua rahib Yahudi Bani Quraizhah. Mereka mencegah Tubba', karena Madinah akan menjadi tempat hijrah seorang Nabi dari tanah haram Quraisy di akhir zaman. Tubba' membatalkan niatnya, memeluk agama kedua rahib itu, lalu pergi. Ibnu Hisyam menilai bait syair yang dikaitkan dengan Tubba' dalam kisah ini sebagai syair buatan.

      Di Makkah. Dalam perjalanan pulang ke Yaman, Tubba' menuju Makkah. Di antara 'Usfan dan Amaj, sekelompok orang Hudzail menghasutnya: ada rumah di Makkah yang penuh harta simpanan. Maksud mereka sebenarnya membinasakan Tubba', karena siapa pun raja yang berniat buruk kepada rumah itu akan celaka. Kedua rahib memperingatkan Tubba': itu rumah leluhur mereka, Ibrahim, dan hanya berhala serta darah yang membuat mereka tidak berani mengunjunginya. Tubba' memotong tangan dan kaki orang-orang Hudzail itu, lalu masuk Makkah. Ia thawaf, berkurban, bercukur, tinggal enam hari, menjamu penduduk dengan daging dan minuman madu, dan memasang kiswah untuk Ka'bah.

      Mimpinya menuntunnya memakai kain yang makin bagus: pelepah kurma, lalu kain ma'afir dari Yaman, lalu mula' dan washail. Karena itu, menurut anggapan mereka, Tubba' adalah orang pertama yang menutup Ka'bah dengan kain. Ia berpesan kepada para gubernurnya agar menjaga Ka'bah dari darah, bangkai, dan darah haid, serta membuatkan pintu dan kunci.

      Di Yaman. Kembali ke Yaman, Tubba' mengajak kaumnya masuk agama barunya. Orang Himyar menghadangnya dan mengajak menyelesaikan perkara di depan api, yang menurut kepercayaan Yaman membinasakan orang zalim dan membiarkan orang yang terzalimi. Menurut satu riwayat, api itu menyergap orang-orang Himyar beserta berhala mereka, sedangkan kedua rahib keluar selamat dengan mushaf di leher. Menurut riwayat lain, kedua rahib membaca Taurat sehingga api itu mundur. Ibnu Ishaq menutupnya dengan "Wallahu a'lam" mana yang benar. Sejak itu Yahudi masuk Yaman.

      Ibnu Ishaq juga menyebut sebuah rumah bernama Riam yang diagungkan orang Yaman. Kedua rahib mengatakan itu setan yang mempermainkan mereka. Dengan izin Tubba', keduanya mengeluarkan seekor anjing hitam, menyembelihnya, lalu menghancurkan rumah itu.

    4. Sesudah Tubba'

      Hassan, 'Amr, Lakhni'ah, dan Dzu Nuwas

      Dari terbunuhnya Hassan oleh saudaranya sendiri sampai Dzu Nuwas naik takhta sebagai raja terakhir dari Himyar.

      Baca selengkapnya

      Setelah Tubban, putranya Hassan bin Tubban memimpin penduduk Yaman untuk menguasai tanah Arab dan Persia. Ketika sampai di sebagian negeri Irak (menurut sebagian ahli ilmu, di Bahrain), orang-orang Himyar enggan melanjutkan perjalanan dan membujuk saudara Hassan, 'Amr, untuk membunuh Hassan lalu menjadi raja. Dzu Ru'ain al-Himyari menasihati 'Amr agar tidak melakukannya. Ketika 'Amr menolak, ia menulis dua bait syair di secarik kertas, menyegelnya, dan menitipkannya kepada 'Amr.

      'Amr membunuh saudaranya dan pulang ke Yaman, lalu terserang insomnia parah. Seorang dukun berkata bahwa orang yang membunuh saudaranya akan mengalami hal itu. 'Amr pun membunuh semua pembesar yang dulu mendorongnya, sampai tiba giliran Dzu Ru'ain. Dzu Ru'ain menunjukkan surat titipannya, dan 'Amr melepaskannya karena menganggap Dzu Ru'ain sudah menasihatinya. Setelah 'Amr wafat, kerajaan Yaman kacau dan terpecah.

      Lakhni'ah Yanuf Dzu Syanatir, seorang Himyar di luar keluarga raja, merebut takhta, membunuh para pembesar, dan menistakan pemuda-pemuda keturunan raja agar mereka tidak pernah menjadi penguasa. Pada suatu hari Lakhni'ah memanggil Zur'ah Dzu Nuwas, adik Hassan yang masih kecil saat Hassan dibunuh. Dzu Nuwas sudah menyiapkan pisau kecil, lalu membunuh Lakhni'ah, memenggal kepalanya, dan meletakkannya di jendela. Ia meletakkan siwak di mulut kepala itu, tanda yang biasa dipakai Lakhni'ah, lalu keluar menemui orang-orang. Ketika mereka bertanya apakah urusannya sudah beres, ia menjawab, "Tanyakan pada kepala itu." Mereka melihat ke jendela dan mengejarnya. Namun, bukannya menghukum, mereka berkata bahwa tak ada yang lebih pantas menjadi raja karena ia sudah membebaskan mereka dari orang yang bejat itu.

      Dzu Nuwas adalah raja terakhir dari Himyar. Ia menyebut dirinya Yusuf, dan ia dikenal sebagai Shahibul Ukhdud.

    5. Najran

      Dari Faymiyun sampai Abdullah bin Tsamir

      Dua riwayat tentang awal agama Kristen di Najran: lewat Faymiyun, dan lewat Abdullah bin Tsamir.

      Baca selengkapnya

      Najran adalah kawasan di tengah negeri Arab yang saat itu semuanya menyembah berhala. Di sana ada sisa pengikut Nabi 'Isa yang berpegang pada Injil dan dipimpin Abdullah bin Tsamir. Ibnu Ishaq membawakan dua riwayat tentang awal mula agama Kristen di Najran.

      Menurut Wahb bin Munabbih

      Faymiyun adalah seorang saleh, tukang bangunan yang makan dari hasil tangannya sendiri dan mengosongkan hari Ahad untuk beribadah. Ia berpindah-pindah desa, dan seorang bernama Shaleh mengikutinya.

      Doanya mematikan seekor ular berkepala tujuh dan menyembuhkan seorang anak yang buta. Ketika dikenal orang, ia pergi. Di Syam, sebuah suara dari pohon besar memanggilnya, dan seorang lelaki memintanya mendoakan jenazahnya. Di tanah Arab, sekelompok pelancong membawa keduanya dan menjualnya di Najran. Orang Najran saat itu menyembah pohon kurma tinggi dengan perayaan tahunan.

      Rumah tuan Faymiyun menjadi terang tiap kali ia shalat malam. Tuannya berjanji masuk agamanya bila pohon itu bisa dibinasakan. Faymiyun shalat dua rakaat dan berdoa, lalu angin kencang mencabut pohon itu dari akarnya. Orang Najran pun memeluk agama 'Isa.

      Menurut Muhammad bin Ka'b al-Qurazhi dan penduduk Najran

      Di sebuah desa dekat Najran ada ahli sihir yang mengajari anak-anak Najran, dan Faymiyun mendirikan kemah di antara kedua tempat itu. Abdullah bin Tsamir, putra Tsamir, sering mampir mendengar nasihatnya dan akhirnya mengesakan Allah.

      Abdullah menuliskan nama-nama Allah pada tongkat kecil dan melemparnya ke api satu per satu. Tongkat bertuliskan Nama Teragung melayang keluar tanpa bekas terbakar, jadi ia tahu nama itu. Ia lalu mendoakan orang sakit di Najran dan mereka sembuh, asalkan mau mengesakan Allah.

      Raja Najran memanggilnya dan berniat mencincangnya. Ia dilempar dari gunung yang panjang dan dibawa ke laut Najran, tetapi selamat dua kali. Ia lalu berkata bahwa raja baru bisa membunuhnya bila ia lebih dulu beriman. Raja bersyahadat, memukulnya dengan tongkat sampai luka kecil, dan Abdullah wafat. Raja pun wafat setelah itu. Penduduk Najran lalu mengikuti agama Abdullah.

      Ibnu Ishaq menutup kedua riwayat itu dengan "Wallahu a'lam" mana yang paling benar.

    6. Ashabul Ukhdud

      Parit api di Najran

      Dzu Nuwas memberi pilihan: masuk Yahudi atau dibunuh. Yang menolak dimasukkan ke parit api, sekitar dua puluh ribu orang.

      Reruntuhan dinding batu di situs al-Ukhdud, Najran
      Situs arkeologi al-Ukhdud di Najran, Arab Saudi, keadaan sekarang (2020).Foto: Richard Mortel · CC BY 2.0 · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Dzu Nuwas berangkat dengan pasukannya dan menawarkan dua pilihan kepada penduduk Najran: masuk Yahudi atau dibunuh. Mereka memilih dibunuh. Mereka dimasukkan ke dalam parit lalu dibakar, sebagian dibunuh dengan pedang dan dicincang, sampai korbannya mencapai sekitar dua puluh ribu orang. Berkaitan dengan peristiwa ini, Allah menurunkan QS al-Buruj ayat 4 sampai 8 tentang orang-orang yang membuat parit dan menyiksa orang beriman semata karena keimanan mereka.

      Ibnu Hisyam menjelaskan bahwa ukhdud berarti lubang memanjang di bumi, seperti parit atau anak sungai, dan jamaknya akhadid. Menurut satu keterangan, Abdullah bin Tsamir termasuk yang dibunuh Dzu Nuwas.

      Abdullah bin Abi Bakar bin Muhammad bin 'Amr bin Hazm menyampaikan kabar bahwa di zaman 'Umar bin Khaththab, seorang penduduk Najran menggali reruntuhan untuk suatu keperluan dan menemukan jasad Abdullah bin Tsamir dalam keadaan duduk. Tangannya menekan luka di kepalanya. Bila tangan itu diangkat, darah mengalir, dan bila dilepas, tangan itu kembali menutup luka. Di tangannya tertulis "Rabbi Allah" (Tuhanku adalah Allah). Para penduduk menulis surat kepada 'Umar, dan 'Umar memerintahkan agar jasad itu dibiarkan seperti semula.

    7. Datangnya Habasyah

      Daus meminta bantuan, Aryath mendarat

      Daus selamat dan meminta bantuan Romawi, lalu Habasyah. Pasukan Aryath yang berjumlah 70.000 mendarat, dan Dzu Nuwas tenggelam di laut.

      Baca selengkapnya

      Seorang di antara korban, Daus Dzu Tsa'laban, selamat dari pembantaian itu. Dengan menunggang kuda melewati tanah berpasir, ia lolos dari kejaran sampai bertemu Kaisar Romawi dan meminta bantuan. Kaisar menjawab bahwa negeri Daus terlalu jauh, tetapi raja Habasyah seagama dengan mereka dan lebih dekat ke Yaman, lalu menulis surat kepadanya.

      Najasyi mengirim 70.000 pasukan di bawah Aryath, dengan Abrahah al-Asyram di antara mereka. Mereka menyeberangi laut dan mendarat di pantai Yaman, dengan Daus ikut bersama mereka. Dzu Nuwas dan orang-orang Himyar menyambut mereka. Setelah pertempuran, Dzu Nuwas kalah, memacu kudanya ke laut yang makin dalam, dan tenggelam. Aryath memasuki Yaman dan menguasainya.

      Aryath menghancurkan benteng-benteng Baynun, Silhin (di terjemahan Silhan), dan Ghumdan. Ibnu Hisyam mengutip syair Dzu Jadan al-Himyari yang meratapi kejayaan yang hilang, dan peribahasa "tidak seperti Daus" yang masih berlaku di Yaman. Ia lalu mengaitkan semuanya dengan ucapan Sathih dan Syiq: orang-orang Habasyah menginjak tanah Yaman, dari Abyan sampai Jurasy atau Najran.

    8. Akhir bab

      Abrahah menggeser Aryath

      Abrahah mengalahkan Aryath lewat duel satu lawan satu, lalu tetap berkuasa di Yaman dengan restu Najasyi.

      Baca selengkapnya

      Beberapa tahun kemudian, Aryath dan Abrahah bersaing, sehingga pasukan Habasyah terpecah dua. Saat kedua pasukan saling mendekat, Abrahah mengirim surat: jangan biarkan orang Habasyah saling membunuh, mari berduel satu lawan satu. Aryath menyetujuinya.

      Abrahah bertubuh pendek dan gemuk, penganut Kristen, dengan pelayan bernama Ataudah (di terjemahan juga Awtada) yang melindungi punggungnya. Aryath tinggi dan tampan, dan lembingnya membelah kepala Abrahah dari alis, hidung, mata, sampai bibir. Karena itulah ia dijuluki al-Asyram. Ataudah lalu menikam Aryath sampai tewas. Pasukan Aryath mengangkat Abrahah sebagai pemimpin, dan Abrahah membayar diyat atas kematian Aryath.

      Najasyi murka dan bersumpah tidak akan membiarkan Abrahah sebelum menginjak negerinya dan memotong ubun-ubunnya. Abrahah mencukur rambut kepalanya, mengisi kantong kulit dengan tanah Yaman, dan mengirimkannya kepada Najasyi dengan surat yang menyatakan kesetiaannya, agar diletakkan di bawah kaki Najasyi sehingga sumpahnya tidak berlaku atas dirinya. Najasyi menerimanya dan memerintahkan Abrahah tetap di Yaman sampai ada perintah berikutnya.1

    Catatan

    1. Kisah Abrahah membangun gereja dan menyerang Ka'bah ada di bab berikutnya.

    Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Syair-syair panjang yang dikutip Ibnu Hisyam tidak kami salin di sini, dan rujukan halaman akan dimuat di lampiran.