Pusat Sejarah Islam
Bab 43 dari 55

Fathu Makkah

Bani Bakr menyerang Khuza'ah sehingga perjanjian batal. 10.000 pasukan berangkat, Abu Sufyan masuk Islam di Marr azh-Zhahran, Makkah dimasuki dari beberapa arah, dan berhala-berhala dihancurkan.

20 Ramadhan 8 HSumber: Ibnu Hisyam
Sekilas

Isi bab ini

Bab ini memuat penaklukan Makkah menurut Ibnu Hisyam: serangan di al-Watir, usaha Abu Sufyan, surat Hathib, perjalanan dan Marr azh-Zhahran, Abu Sufyan masuk Islam, masuknya pasukan dari beberapa arah, bentrokan di al-Khandamah, thawaf dan khutbah di Ka'bah, orang yang dikecualikan dari amnesti, Khalid di Bani Jadzimah, al-'Uzza, dan lima belas malam di Makkah.

Pemicunya

Bani Bakr, dengan bantuan senjata dan beberapa orang Quraisy, menyerang Khuza'ah di mata air al-Watir. Khuza'ah adalah sekutu beliau, sehingga serangan itu melanggar perjanjian dengan beliau.

Sepuluh ribu orang

Beliau berangkat pada 10 Ramadhan dan berhenti di Marr azh-Zhahran bersama sepuluh ribu orang tanpa diketahui Quraisy; Abu Sufyan masuk Islam di sana dan ditahan agar melihat pasukan lewat.

Masuk dari beberapa arah

Setelah Dzu Thuwa pasukan dibagi: Khalid masuk dari al-Lith di Makkah bawah, Zubair memimpin sayap kiri, dan beliau sendiri masuk dari Adzakhir ke Makkah atas. Hanya Khalid yang bentrok, di al-Khandamah.

Pergilah, kalian bebas

Beliau thawaf, menerima kunci Ka'bah, memecahkan berhala dengan isyarat, dan berkata kepada Quraisy: "Pergilah, sesungguhnya kalian bebas." Beliau menetap lima belas malam dan penaklukan itu terjadi pada 20 Ramadhan tahun 8 H.

Peta

Madinah dan Makkah

Titik Madinah dan Makkah diambil dari Wikipedia. Al-Kudaid, Marr azh-Zhahran, Dzu Thuwa, al-Khandamah, dan Adzakhir tidak ditandai karena koordinatnya belum kami verifikasi.

Madinah dan Makkah
Tempat yang disebut Ibnu HisyamPerjalanan (garis perkiraan)
    Alur kisah

    Dari serangan di al-Watir sampai lima belas malam di Makkah

    Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.

    Jalur dan masuknya pasukan ke Makkah

    Denah skematik ini kami gambar sendiri dari Ibnu Ishaq, Haykal, dan peta buku berbahasa Indonesia yang dikirim Jagat; utara di atas, dan skala tidak digambar.

    JALUR MENURUT IBNU ISHAQ; JARAK DAN ARAH ANTAR TEMPAT TIDAK DIGAMBARMADINAHberangkat 10 Ramadhan,Abu Ruhm imam sementaraAl-Kudaidantara 'Usfan dan Amaj;berbuka puasaMarr azh-Zhahran10.000 orang, tidakdiketahui QuraisyDzu Thuwabeliau menunduk;pasukan dibagiMAKKAHmasuk dari beberapaarah1234Jalur dari Madinah menurut Ibnu Ishaq; jarak dan arah antar tempat tidak digambar
    ke Sarif, Tan'im, Hudaibiyah, dan MadinahDZU THUWA / ADZAKHIRdataran tinggi; beliau berhentijalan ke Irakjalan ke Mina, Thaif, dan Najdjalan ke JeddahPEMAKAMAN MA'LAKada'Bukit HindiBukit Qa'iq'anKadiAl-JuyutBukit UmarAL-LITHAL-KHANDAMAH (letak tidak diperinci)MASJIDIL HARAMBUKIT ABU QUBAISJabal NurGua HiraBukit Lulu Sulaimaniyah5678UDenah skematik buatan sendiri: letak relatif dari peta buku dan Haykal, kontur hanya perkiraan bentuk bukan data ketinggian, skala tidak digambar.
    1. Beliau berangkat dari Madinah pada 10 Ramadhan dengan Abu Ruhm sebagai imam sementara; kaum Muslimin berpuasa.
    2. Di al-Kudaid, antara 'Usfan dan Amaj, beliau berbuka puasa.
    3. Beliau berhenti di Marr azh-Zhahran bersama sepuluh ribu orang tanpa diketahui Quraisy; di sana Abu Sufyan datang dan masuk Islam.
    4. Di Dzu Thuwa beliau menunduk dan membagi pasukan, lalu pasukan memasuki Makkah.
    5. Khalid bin al-Walid masuk dari al-Lith di Makkah bawah (Ibnu Ishaq); Haykal menulis dari selatan, dan peta buku menggambar satu jalur melingkar di barat sampai al-Lith.
    6. Tiga jalur lain menuju bukit-bukit di barat Masjidil Haram (Hindi, Qa'iq'an, dan Kada'/Kadi). Peta buku tidak menulis siapa yang memimpinnya; Haykal menulis Zubair dari utara, Sa'd bin 'Ubadah dari barat, dan Abu 'Ubaidah dekat Gunung Hind, dan menurut Ibnu Ishaq Zubair memimpin sayap kiri dan 'Ali mengambil panji Sa'd.
    7. Beliau sendiri masuk dari Adzakhir sampai Makkah atas (Ibnu Ishaq); Haykal menulis beliau berkemah di bukit dekat makam Abu Thalib dan Khadijah, yang pada peta buku terletak di Ma'la (panah putus-putus: letak tenda hanya disambungkan dari Haykal dan peta buku).
    8. Shafwan, 'Ikrimah, dan Suhail menahan pasukan Khalid di al-Khandamah; letak al-Khandamah tidak diperinci sumber (diberi garis putus-putus dan tanpa titik); bentrokan kecil menewaskan tiga orang Muslim dan dua belas atau tiga belas musyrikin.

    Strateginya menurut Ibnu Ishaq: beliau berdoa agar Quraisy tidak mengetahui keberangkatan dan agar pasukan menyerang mengejutkan; pasukan tiba di Marr azh-Zhahran tanpa diketahui; al-'Abbas membawa Abu Sufyan, yang beliau tahan di tempat sempit di depan gunung agar melihat pasukan lewat; di Dzu Thuwa pasukan dibagi dan masuk dari beberapa arah, dengan pesan agar tidak menyakiti siapa pun kecuali yang memerangi.

    Soal denah. Kami memeriksa Ibnu Hisyam, Haykal, Wikipedia (Conquest of Mecca), dan satu peta dari buku berbahasa Indonesia yang dikirim Jagat (judul buku belum kami ketahui), berjudul "Peta lokasi dan perjalanan ke Mekah". Peta buku itu berorientasi utara di atas dan menunjukkan Dzu Thuwa/Adzakhir di dataran tinggi sebelah utara, empat panah yang berpisah dari sana (tidak diberi nama pemimpinnya), satu melingkar di barat sampai al-Lith di selatan, dan tiga menuju bukit-bukit di barat Masjidil Haram (Hindi, Qa'iq'an, dan Kada'/Kadi), dengan Ma'la di timur laut Masjidil Haram, Abu Qubais di timur, serta jalan ke Jeddah di barat dan ke Mina dan Thaif di timur. Panah ke al-Lith cocok dengan Ibnu Ishaq (Khalid dari al-Lith) dan Haykal (dari selatan), dan satu panah ke dekat Hindi cocok dengan Haykal (Abu 'Ubaidah dekat Gunung Hind); peta itu tidak menggambar jalur dari utara yang disebut Haykal untuk Zubair. Ibnu Ishaq dan Wikipedia hanya memakai kata bawah dan atas tanpa mata angin. Panah ke Ma'la dan ke al-Khandamah kami putus-putus karena hanya disambungkan dari satu sumber atau letaknya tidak diperinci. Kontur dan bentuk bukit hanyalah perkiraan bentuk dari peta buku, bukan data ketinggian. Kami menggambar ulang denah ini sendiri tanpa menyalin gambar peta buku itu. Gambar dan peta pada artikel Wikipedia tidak dapat kami baca dari teks artikel yang kami periksa, sehingga tidak kami pakai

    PasukanJumlahPeran yang disebut Ibnu Hisyam
    Kaum Muslimin10.000 (Ibnu Hisyam, Haykal, Wikipedia)Sulaim 700 atau 1.000, Ghifar 400, Aslam 400, Muzainah 1.003; sisanya Quraisy, Anshar, sekutu, dan Tamim, Qais, Asad; Zubair dan Sa'd bergabung dengan pasukan berkuda, Khalid memimpin pasukan berkuda dan sayap kanan; Abu 'Ubaidah bersama satu pasukan yang jenisnya tidak disebut.
    Quraisy di al-Khandamahtidak disebutShafwan bin Umayyah, 'Ikrimah bin Abu Jahal, dan Suhail bin 'Amr mengumpulkan orang; Himas bin Qais menyiapkan senjata; jenis pasukan tidak disebut.

    Dari Haykal. Bagian ini bukan dari Ibnu Hisyam. Haykal menulis beliau menahan Abu Sufyan di gerbang lembah, memerintahkan semua pasukan menghindari pertumpahan darah kecuali darurat, dan bahwa Sa'd digantikan putranya, Qais, setelah ucapannya. Ia menulis perlawanan hanya terjadi di bagian selatan, yang diisi orang-orang paling memusuhi, dan bahwa Shafwan, Suhail, dan 'Ikrimah lari setelah menyadari perlawanan mereka sia-sia. Ia menyebut beliau berkemah di bukit di seberang Gunung Hind dekat makam Abu Thalib dan Khadijah. Haykal juga mengutip sebagian sejarawan yang menduga ada kesepakatan sebelumnya antara al-'Abbas dan Abu Sufyan, dan ia menyebut dugaan itu sebagai dugaan.

    Dari sumber lain. Bagian ini bukan dari Ibnu Hisyam, dan belum kami periksa pada kitab asalnya. Menurut artikel Wikipedia Conquest of Mecca (https://en.wikipedia.org/wiki/Conquest_of_Mecca), kaum Muslimin berjumlah 10.000; Khalid memimpin sayap kanan dengan Aslam, Sulaim, Ghifar, Muzainah, dan Juhainah lewat jalan bawah; Zubair memimpin sayap kiri lewat sisi atas; Abu 'Ubaidah memimpin pasukan pejalan kaki lewat lembah samping. Artikel itu menulis di al-Khandamah pasukan Khalid membunuh dua belas orang dan dua orang Muslim gugur, sedangkan kotak infonya menulis dua Muslim dan tiga belas Quraisy. Ia menulis sembilan orang dinyatakan boleh dibunuh dan empat dieksekusi, serta tanggal keberangkatan dan masuknya pasukan berbeda-beda antar sumber, dengan rentang 10 sampai 20 Ramadhan tahun 8 H.

    Perbedaan sumber

    Tempat bertemu al-'Abbas. Ibnu Ishaq hanya menyebut al-'Abbas bertemu beliau di salah satu jalan; Ibnu Hisyam, dari az-Zuhri, menyebut di al-Juhfah saat al-'Abbas hendak berhijrah bersama keluarganya. Haykal menulis di al-Juhfah, tetapi mencatat sebagian penulis biografi menyebut Rabigh. Pembagian pasukan. Ibnu Ishaq menulis Khalid masuk dari al-Lith di Makkah bawah, Zubair memimpin sayap kiri, dan Sa'd bin 'Ubadah diambil panjinya oleh 'Ali. Haykal menulis empat kelompok: Zubair dari utara, Khalid dari selatan, Sa'd bin 'Ubadah dari barat, dan Abu 'Ubaidah dari utara dekat Gunung Hind; menurut Haykal Sa'd digantikan putranya, Qais. Korban di al-Khandamah. Ibnu Ishaq menyebut tiga nama Muslim yang gugur (Kurz bin Jabir, Khunais bin Khalid, dan Salamah bin al-Maila) dan dua belas atau tiga belas musyrikin tewas; Haykal menyebut Khalid kehilangan dua orang dan membunuh tiga belas atau dua puluh delapan, menurut dua versi. Abu Quhafah. Ibnu Ishaq menyebut yang menuntunnya putri bungsunya; Haykal menyebut cucu perempuannya. Yang dikecualikan. Ibnu Ishaq menyebut delapan nama (hitungan kami, termasuk dua penyanyi); Haykal menulis tujuh belas orang dikecualikan dan empat dieksekusi; Khan menulis sembilan orang dieksekusi. Adzan. Ibnu Hisyam menyebut Bilal adzan sementara Abu Sufyan, 'Attab bin Usaid, dan al-Harits bin Hisyam duduk di halaman Ka'bah; Haykal menulis Bilal adzan dari atas Ka'bah dan Khan menulis adzan dikumandangkan di Makkah untuk pertama kali. Al-'Uzza dan Jadzimah. Ibnu Ishaq menulis Khalid dikirim ke Bani Jadzimah di Tihamah bawah, kemudian ke al-'Uzza di Nakhlah; Haykal menulis ke Nakhlah lebih dulu, baru ke Jadzimah. Lama di Makkah. Ibnu Ishaq dan Haykal menulis lima belas malam atau hari; Wikipedia menulis sembilan belas hari.

    1. Serangan di al-Watir

      Bani Bakr menyerang Khuza'ah

      Beliau menetap di Madinah pada Jumadil Akhir dan Rajab setelah Mu'tah. Bani Bakr menyerang Khuza'ah di mata air al-Watir, Makkah bawah, setelah saling membalas pembunuhan; pada masa Perdamaian Hudaibiyah Bani Bakr masuk perjanjian Quraisy dan Khuza'ah masuk perjanjian beliau, dan Naufal bin Mu'awiyah ad-Daili menyerang Khuza'ah malam hari dengan bantuan senjata dan beberapa orang Quraisy sampai mereka terdesak ke tanah haram.

      Baca selengkapnya

      Kemudian beliau menetap di Madinah pada bulan Jumadil Akhir dan Rajab setelah pengiriman pasukan Islam ke Mu'tah Ibnu Ishaq berkata:Tak lama berselang, kabilah Bani Bakr bin 'Abdu Manat bin Kinanah menyerang kabilah Khuza'ah pada saat mereka berada di mata air mereka di Makkah Bawah yang bernama al-Watir. Faktor penyebab perang antara kabilah Bani Bakr dengan kabilah Khuza'ah adalah karena orang dari Bani al-Hadhrami yang bernama Malik bin 'Abbad -saat itu Bani al-Hadhrami bersepakat dengan Bani al-Aswad bin Razn ad-Daili dari kabilah Bani Bakr berangkat untuk berdagang. Pada saat ia berada di tengah-tengah kawasan Khuza'ah, orang-orang dari kabilah Khuza'ah menyerangnya dan membunuhnya kemudian mereka merampas harta miliknya. Maka sebagai balasanya, kabilah Bani Bakr balik menyerang salah seorang dari kabilah Khuza'ah yang kemudian membunuhnya. Sebelum Islam datang, orang-orang dari kabilah Khuza'ah menyerang Bani al-Aswad bin Razn ad-Daili dan mereka adalah tokoh dan pemuka kaumnya, yaitu Salma, Kultsum, dan Dhuaib, serta membunuh mereka di Araf di perbatasan tanah bertanda batu yang menunjukkan batas tanah haram.1

      Salah seorang dari Bani ad-Dail berkata kepadaku bahwa pada zaman Jahiliyah, Bani al-Aswad bin Razn ad-Dail diberi diyat dua kali lipat, sedangkan mereka membayar satu diyat. Hal tersebut karena kemuliaan mereka atas kami.1

      Pada saat kabilah Bani Bakr dan kabilah Khuza'ah terlibat konflik seperti itu, Islam meredam kedua belah pihak berperang karena masing-masing pihak lebih sibuk memikirkan Islam. Dan pada saat Perdamaian Hudaibiyah yang terjadi antara beliau dengan orang-orang Quraisy yang di dalamnya disyaratkan, sebagaimana diriwayatkan kepadaku oleh az-Zuhri dari 'Urwah bin Zubair dari al-Miswar bin Makhramah, Marwan bin al-Hakam, dan ulama-ulama lainnya bahwa barangsiapa ingin masuk ke dalam perjanjian beliau maka ia masuk ke dalamnya dan barangsiapa ingin masuk ke dalam perjanjian Quraisy maka hendaklah ia masuk ke dalamnya. Oleh sebab itu, kabilah Bani Bakr memilih masuk ke dalam perjanjian Quraisy sedang kabilah Khuza'ah masuk ke dalam perjanjian Rasulullah. Dan pada saat itulah, Bani ad-Dail dari kabilah Bani Bakr menggunakan kesempatan untuk membalas dendam atas kematian orang-orang dari Bani al-Aswad bin Razn ad-Daili yang dibunuh kabilah Khuza'ah. Oleh karena itulah, Naufal bin Muawiyah ad-Daili, pemimpin Bani ad-Dail dari kabilah Bani Bakr, keluar bersama mereka, walaupun tidak semua Bani Bakr keluar mengikutinya, ia tetap menyerang kabilah Khuza'ah yang saat itu sedang berada di Mata Air mereka yang bernama al-Watir secara tiba-tiba dan membunuh salah satu dari mereka. Dan setelah itu, setiap orang bergabung kepada kabilahnya masing-masing dan bertempur.1

      Sementara itu, Bani ad-Dail dari kabilah Bani Bakr mendapat suplai senjata dari kaum Quraisy dan beberapa orang Quraisy ikut terjun membela Bani ad-Dail dari Bani Bakr di malam hari secara sembunyi-sembunyi. Perang pun terus berkecambuk sampai akhirnya Bani ad-Dail dari kabilah Bani Bakr berhasil mendesak kabilah Khuza'ah mundur ke tanah haram. Pada saat kabilah Khuza'ah sampai di tanah haram, orang-orang Bani ad-Dail dari kabilah Bani Bakr berkata: "Wahai Naufal, kita telah memasuki tanah haram. Ingatlah engkau akan Tuhanmu. Ingatlah engkau akan Tuhanmu." Naufal bin Muawiyah ad-Daili mengucapkan kata-kata umpatan berat: "Tidak ada Tuhan di hari ini wahai Bani Bakr, maka lampiaskan semua dendam kalian. Aku bersumpah, kalian telah mencuri di tanah haram, kenapa kalian tidak melampiaskan dendam kalian di dalamnya?".

      Saat Bani ad-Dail dari kabilah Bani Bakr menyerang kabilah Khuza'ah di Mata Air al-Watir pada malam hari, mereka berhasil menangkap seorang lelaki dari kabilah Khuza'ah bernama Munabbih berhati lembut. Saat itu dia sedang keluar bersama seorang temannya, Tamim bin Asad. Munabbih berkata kepada Tamim bin Asad, "Wahai Tamim, selamatkanlah dirimu sendiri. Tinggalkanlah aku, sesungguhnya aku akan mati. Baik mereka membunuhku atau membiarkanku. Sungguh hatiku telah hancur luluh." Tamim bin Asad pun pergi dengan cepat untuk menyelamatkan diri. Bani ad-Dail dari kabilah Bani Bakr menemukan Munabbih lalu membunuhnya. Pada waktu kabilah Khuza'ah tiba di Makkah, mereka berlindung di rumah Budail bin Warqa' dan di rumah mantan budak mereka, Rafi. Tamim bin Asad lalu memohon maaf atas tindakannya meninggalkan Munabbih.

    2. Khuza'ah meminta perlindungan

      'Amr bin Salim ke Madinah

      'Amr bin Salim dari Khuza'ah pergi ke Madinah menemui beliau yang sedang duduk di masjid, dan beliau bersabda bahwa ia akan dibantu serta bahwa awan yang tampak membawa pertolongan bagi Bani Ka'ab. Budail bin Warqa' dan beberapa orang Khuza'ah melapor kepada beliau, yang bersabda bahwa Abu Sufyan akan datang menguatkan perjanjian.

      Baca selengkapnya

      Pada waktu kabilah Bani Bakr bersekongkol dengan Quraisy untuk menyerang kabilah Khuza'ah, menangkap salah seorang dari mereka, melanggar perjanjian dengan Rasulullah, serta untuk membunuh orang-orang dari kabilah Khuza'ah walaupun sebenarnya kabilah Khuza'ah adalah sekutu Rasulullah, maka 'Amr bin Salim dari Khuza'ah dari Bani Ka'ab pergi ke Madinah untuk menemui Rasulullah. Peristiwa ini merupakan faktor yang mendorong terjadinya pembebasan Makkah. 'Amr bin Salim berdiri di hadapan beliau yang sedang duduk bersama muslimin di masjid.1

      Beliau bersabda: "Wahai 'Amr bin Salim, engkau akan dibantu." Kemudian langit mendung ditampakkan kepada Rasulullah, lalu beliau bersabda: "Sesungguhnya awan ini datang membawa pertolongan bagi Bani Ka'ab, kabilah Khuza'ah. Budail bin Warqa' dan beberapa orang dari kabilah Khuza'ah pergi ke Madinah untuk menemui beliau. Setibanya di Madinah, mereka melaporkan kepada beliau apa yang menimpa kepada mereka dan tentang dukungan Quraisy terhadap kabilah Bani Bakr dalam menyerang mereka. lantas mereka kembali pulang ke Makkah. Sebelumnya, beliau bersabda: "Nampaknya Abu Sufyan bin Harb akan datang kepada kalian untuk menguatkan perjanjian dan memperpanjang masa berlakunya."1

    3. Abu Sufyan menuju Madinah

      Budail di 'Usfan

      Quraisy mengutus Abu Sufyan untuk menguatkan perjanjian karena takut atas tindakan mereka. Di 'Usfan ia bertemu Budail bin Warqa' yang mengaku hanya rekreasi, tetapi ia menemukan biji kurma pada kotoran untanya dan menyimpulkan Budail telah menemui beliau.

      Baca selengkapnya

      Budail bin Warqa' dan para sahabatnya pergi hingga bertemu dengan Abu Sufyan bin Harb di 'Usfan. Dia diutus oleh orang-orang Quraisy untuk menemui Rasulullah untuk menguatkan perjanjian dan memperpanjang masa berlakunya, sebab mereka ketakutan atas tindakan mereka sendiri membantu kabilah Bani Bakr. Pada saat Abu Sufyan bin Harb bertemu Budail bin Warqa', ia bertanya kepadanya: "Dari mana engkau datang, wahai Budail." Abu Sufyan bin Harb menduga bahwa Budail bin Warqa' baru saja menemui beliau. Budail bin Warqa' menjawab: "Aku baru saja rekreasi di pantai dan di lembah ini bersama orang-orang kabilah Khuza'ah." Abu Sufyan bin Harb bertanya: "Apakah engkau baru kembali dari Muhammad?." Budail bin Warqa' menjawab: "Tidak." Saat Budail bin Warqa' tiba di Makkah, Abu Sufyan bin Harb berkata: "Apabila Budail bin Warqa' baru datang dari Madinah, pasti untanya memakan biji kurma." Kemudian Abu Sufyan bin Harb segera mendatangi tempat pemberhentian unta Budail bin Warqa' dan mengambil kotoran untanya. Ia mengurai kotoran unta tersebut dan mendapati biji kurma padanya. Lalu ia berkata: "Aku bersumpah bahwa Budail bin Warqa' telah menemui Muhammad."2

    4. Abu Sufyan mencari pembela

      Ummu Habibah, Abu Bakar, 'Umar, dan 'Ali

      Abu Sufyan masuk rumah putrinya, Ummu Habibah, yang melipat kasur beliau agar ia tidak duduk di sana; beliau tidak menanggapinya, Abu Bakar dan 'Umar menolak membelanya, dan 'Ali menjawab bahwa beliau telah bertekad. Atas saran 'Ali ia menyatakan perlindungan di masjid, lalu pulang ke Makkah dan dicela Quraisy karena dipermainkan.

      Baca selengkapnya

      Maka berangkatlah Abu Sufyan bin Harb ke Madinah. Setibanya di sana, ia masuk ke rumah putrinya, Ummu Habibah binti Abu Sufyan bin Harb. Pada saat hendak duduk di atas kasur Rasulullah, Ummu Habibah melipatnya karena tidak menginginkan Abu Sufyan bin Harb duduk di sana. Abu Sufyan bin Harb berkata: "Wahai putriku, aku tidak tahu apakah engkau tidak menyukaiku duduk di atas kasur ini atau engkau tidak menyukai diriku." Lalu Ummu Habibah menjawab: "Kasur ini milik Rasulullah, adapun engkau adalah seorang musyrik yang najis. Aku tidak sudi engkau duduk di atas kasur itu." Abu Sufyan bin Harb berkata: "Demi Allah, setelah engkau berpisah denganku, engkau menjadi orang berperangai buruk."

      Kemudian dia keluar dan datang ke tempat beliau. Ia berbicara kepadanya, namun beliau tidak meresponnya. Lalu Abu Sufyan bin Harb pergi ke tempat Abu Bakar untuk memintanya ber bicara dengan beliau, tapi Abu Bakar pun menolaknya, ia berkata: "Aku tidak mau melakukannya." Lalu Abu Sufyan bin Harb mendatangi 'Umar bin Khaththab, tapi 'Umar bin Khaththab menimpalinya dengan ucapan: "Apakah pantas Aku memberi pembelaan untukmu di hadapan Rasulullah?!! Demi Allah, andai aku tidak memiliki apapun kecuali hanya seekor semut kecil, aku akan memerangimu dengannya." Abu Sufyan bin Harb pun keluar dari rumah 'Umar bin Khaththab dan pergi menuju rumah 'Ali bin Abu Thalib, kala itu dia sedang bersama istrinya, Fathimah dan anak mereka, Hasan bin 'Ali yang sedang merangkak dengan kedua tangannya. Abu Sufyan bin Harb berkata: "Hai 'Ali, engkau orang yang paling sayang padaku. Aku datang kepadamu untuk sebuah kepentingan. Oleh sebab itu, janganlah kalian memulangkan aku dalam keadaan kecewa. Bantulah aku di hadapan Rasulullah." 'Ali bin Abu Thalib berkata: "Wahai Abu Sufyan, Celakalah engkau!. Demi Allah, Rasulullah telah bertekad untuk melakukan sesuatu yang tidak dapat ditawar lagi."

      Abu Sufyan bin Harb melirikkan pandangannya ke arah Fathimah, lalu berkata: "Wahai putri Muhammad, maukah engkau menyuruh anak kecilmu ini untuk memberikan perlindungan kepada manusia, semoga kelak dia menjadi pemimpin Arab sepanjang zaman?" Fathimah menjawab: "Demi Allah, anakku belum mampu melindungi manusia dan tidak ada seorang pun yang bisa melindungi mereka dari beliau." kemudian Abu Sufyan bin Harb berkata kepada 'Ali bin Abu Thalib: "Wahai Abu Hasan, nampaknya persoalan ini menjadi semakin rumit bagiku, maka berilah aku nasihat." 'Ali bin Abu Thalib berkata: "Demi Allah, aku tidak mengetahui sesuatu yang bermanfaat bagimu. Engkau adalah pemimpin Bani Kinanah, maka berdiri dan lindungilah manusia, dan pulanglah ke tempat asalmu." Abu Sufyan bin Harb bertanya: "Apakah yang demikian ini berguna bagiku?" 'Ali bin Abu Thalib menjawab: Tidak, demi Allah. Aku kira hal tersebut tidak bermanfaat bagimu, namun aku tidak melihat pilihan lain yang lebih baik untukmu." Abu Sufyan bin Harb pergi ke masjid seraya berkata: "Wahai manusia, aku telah memberikan perlindungan kepada manusia." Setelah mengatakan ucapannya tadi, Abu Sufyan bin Harb menaiki untanya dan balik ke Makkah. Sesampainya di Makkah, orang-orang Quraisy bertanya padanya: "Berita apakah yang engkau bawa?" Abu Sufyan bin Harb menjawab: "Aku telah menemui Muhammad dan berbicara dengannya, namun ia tidak memberi respon sedikit pun. Kemudian aku menemui Abu Bakar, namun aku tidak melihat kebaikan terpancar padanya. Lalu aku datangi 'Umar bin Khaththab dan mendapatinya orang yang paling kencang permusuhannya.

      Kemudian aku datang kepada 'Ali bin Abu Thalib dan mendapatkan dia sebagai orang yang paling lembut. Ia memberi nasehat padaku untuk melakukan sesuatu. Tapi, demi Allah, aku tidak tahu apakah itu akan berguna bagiku atau tidak." Orang-orang Quraisy bertanya: "Apa yang 'Ali perintahkan kepadamu?" Abu Sufyan bin Harb menjawab: "la menyuruhku melindungi manusia dan aku pun melakukannya," jawab Abu Sufyan. Orang-orang Quraisy bertanya: "Apakah Muhammad mengizinkan itu?" Abu Sufyan bin Harb menjawab: "Tidak." Orang-orang Quraisy berkata: "Celakalah engkau, engkau telah dipermainkan oleh 'Ali bin Abu Thalib. Semua yang engkau katakan tadi tidak berguna bagimu." Abu Sufyan bin Harb berkata:1

      "Demi Allah, tidak ada pilihan lain bagiku."3

    5. Bersiap berangkat

      Doa agar Quraisy tidak tahu

      Beliau memerintahkan kaum Muslimin dan keluarganya bersiap; Abu Bakar bertanya kepada 'Aisyah, yang tidak tahu tujuannya. Beliau lalu mengumumkan akan berangkat ke Makkah dan berdoa agar Quraisy tidak mengetahui keberangkatan itu.

      Baca selengkapnya

      Beliau memerintahkan kaum Muslimin mempersiapkan diri mereka dan memerintahkan keluarga beliau untuk menyiapkan keperluan beliau. Abu Bakar masuk ke rumah anaknya, 'Aisyah yang sedang menyiapkan keperluan beliau lalu berkata: "Anakku, apakah Rasulullah menyuruhmu menyiapkan keperluan beliau?" 'Aisyah menjawab: "Ya," Oleh karena itu, bersiap-siaplah engkau." Jawab 'Aisyah. Abu Bakar bertanya lagi: "Apakah engkau tahu hendak kemana beliau akan pergi?" 'Aisyah menjawab: "Demi Allah, aku tidak tahu." Tidak lama kemudian, Rasulullah mengumumkan bahwa beliau segera berangkat ke Makkah dan memerintahkan kaum Muslimin untuk melakukan persiapan dengan sebaik-baiknya. Lalu beliau membaca do'a: "Ya Allah, tutuplah penglihatan dan pendengaran orang-orang Quraisy agar tidak mengetahui informasi keberangkatan kami, supaya kami bisa menyerang mereka dengan mengejutkan di dalam negeri mereka sendiri." Kaum Muslimin pun segera bersiap-siap.

    6. Syair Hassan bin Tsabit

      Menyebut korban Khuza'ah

      Hassan bin Tsabit bersyair untuk menyemangati kaum Muslimin dan menyebut korban Khuza'ah. Ibnu Hisyam menjelaskan bahwa "Anak Ummu Mujalid" ialah 'Ikrimah bin Abu Jahal.

      Baca selengkapnya

      Hassan bin Tsabit menuturkan bait-bait sya'ir untuk memberi motivasi kepada kaum muslimin dan menyebutkan perihal korban kabilah Khuza'ah:

      Aku sangat risau walaupun tidak melihat orang-orang Bani Ka'ab dipancung lehernya di lembah Makkah

      Oleh orang-orang dengan pedang mereka yang tidak terhunus

      Banyak korban yang yang dibiarkan tidak di kubur

      Kuharap; bantuanku dan tikamanku sampai kepada Suhail bin 'Amr dan Shafwan?

      Mereka unta tua yang telah terpotong dari rambut duburnya

      Inilah saat perang dimana tali-temalinya telah diikat kuat

      Hai anak Ummu Mujalid, janganlah merasa aman dari kami

      Tatkala susu murninya telah diperas dan taringnya telah bengkok

      Janganlah kalian sedih karenanya, karena pedang-pedang kami Akan membukakan pintu kematiannya

      Yang dimaksud Hassan bin Tsabit dengan bait sya'irnya, Oleh orang-orang dengan pedang mereka yang tidak terhunus ialah orang-orang Quraisy. Adapun yang dimaksud dengan Anak Ummu Mujalid adalah 'Ikrimah bin Abu Jahal.4

    7. Surat Hathib

      Wanita pembawa surat

      Hathib bin Abu Balta'ah menitipkan surat kepada seorang wanita untuk Quraisy tentang rencana beliau. Beliau mengutus 'Ali dan Zubair yang menyusul wanita itu di Khulaiqah Bani Abu Ahmad dan menemukan surat di gelungan rambutnya. Hathib menjawab bahwa ia tetap beriman dan memiliki keluarga di Makkah; 'Umar meminta izin memenggalnya, tetapi beliau menyebut Allah telah mengampuni mujahidin Badar, lalu turun QS al-Mumtahanah ayat 1 sampai 4.

      Baca selengkapnya

      Tatkala beliau mengambil keputusan untuk pergi ke Makkah, Hathib bin Abu Balta'ah mengirim surat kepada orang-orang Quraisy. Di dalamnya, Hathib bin Abu Balta'ah menjelaskan prihal keputusan beliau untuk pergi ke tempat mereka. Surat tersebut dititipkan Hathib bin Abu Balta'ah kepada seorang wanita bernama Muzainah demikian menurut Muhammad bin Ja'far, pendapat lain mengatakan, bahwa surat tersebut dititipkan kepada Sarah mantan budak wanita salah seorang dari Bani 'Abdul Muththalib. Hathib bin Abu Balta'ah akan memberi hadiah kepada wanita tadi apabila ia bersedia menyampaikan surat yang dia tulis kepada orang-orang Quraisy. Kemudian wanita tersebut menyembunyikan surat tersebut di gelungan rambut kepalanya. Dan wanita itupun berangkat menuju Makkah.5

      Beliau menerima berita dari langit tentang perbuatan Hathib bin Abu Balta'ah tersebut, maka diutuslah 'Ali bin Abu Thalib dan Zubair bin 'Awwam. Kepada mereka berdua Rasulullah bersabda: "Kejarlah wanita yang membawa surat Hathib bin Abu Balta'ah yang berisi keterangan untuk orang-orang Quraisy perihal rencana keberangkatan kita terhadap mereka." Keduanya segera berangkat dan berhasil menyusul wanita tersebut di daerah Khulaiqah Bani Abu Ahmad. Keduanya menyuruh wanita tersebut turun dari unta dan membongkar pelananya, namun kedua sahabat itu tidak menemukan apa-apa.

      'Ali bin Abu Thalib berkata kepada wanita tersebut: "Aku bersumpah dengan nama Allah bahwa beliau tidak berbohong, dan kami juga tidak berbohong. Maka serahkanlah surat tersebut kepada kami, kalau tidak, kami akan tanggalkan seluruh pakaianmu." Tatkala melihat keseriusan 'Ali bin Abu Thalib, wanita tersebut berkata: "Balikan badanmu". 'Ali bin Abu Thalib pun membalikan badannya. Setelah itu wanita tersebut membuka gelungan rambutnya dan mengeluarkan surat dari dalamnya lalu menyerahkan surat tersebut kepada 'Ali bin Abu Thalib. 'Ali bin Abu Thalib segera membawa surat tersebut kepada Rasulullah.

      Rasulullah segera memanggil Hathib bin Abu Balta'ah seraya bertanya: "Wahai Hathib, apa yang mendorongmu melakukan semua ini?" Hathib bin Abu Balta'ah menjawab: "Wahai Rasulullah, ketahuilah demi Allah, sesungguhnya aku masih beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak mengubah agamaku ataupun menggantinya. Sebenarnya, aku orang yang tidak memiliki nenek moyang di Quraisy, sedangkan aku memiliki anak dan keluarga yang kini tinggal di sana. Sebab itulah, aku lakukan itu untuk mencari simpatik dari mereka." 'Umar bin Khaththab yang hadir di tempat itu berkata: "Wahai Rasulullah, aku meminta izin untuk memenggal leher orang ini, karena ia telah berdusta." Rasulullah bersabda: "Wahai 'Umar, tidakkah engkau mengetahui bahwa Allah melihat mujahidin Badar, kemudian berfirman: "Kerjakan apa saja yang kalian inginkan, Aku telah mengampuni kalian."

      Allah berfirman perihal Hathib bin Abu Balta'ah, Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus. Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti (mu); dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir. Karib kerabat dan anak-anakmu sekali-kali tiada bermanfaat bagimu pada hari Kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja." Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah." (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali (QS. al-Mumtahanah: 1-4).6

    8. Berangkat dari Madinah

      Abu Ruhm imam sementara

      Pada 10 Ramadhan beliau berangkat ke Makkah dengan menunjuk Abu Ruhm Kultsum bin Hushain al-Ghifari sebagai imam sementara di Madinah; mereka berpuasa dan berbuka di al-Kudaid antara 'Usfan dan Amaj.

      Baca selengkapnya

      Beliau berangkat ke Makkah dan menunjuk Abu Ruhm — Kultsum bin Hushain bin 'Utbah bin Khalaf al-Ghifari— sebagai imam sementara di Madinah. Peristiwa ini terjadi padatanggal sepuluh Ramadhan sehingga beliau dan kaum Muslimin berpuasa. Setibanya di al-Kudaid, daerah yang terletak antara 'Usfan dan Amaj, beliau berbuka puasa.7

    9. Marr azh-Zhahran

      Sepuluh ribu orang

      Beliau berhenti di Marr azh-Zhahran bersama sepuluh ribu kaum Muslimin, termasuk tujuh ratus atau seribu dari Sulaim dan seribu dari Muzainah, tanpa diketahui Quraisy. Abu Sufyan, Hakim bin Hizam, dan Budail keluar menyelidiki berita, dan al-'Abbas bertemu beliau di salah satu jalan.

      Baca selengkapnya

      Beliau terus melanjutkan perjalanan hingga berhenti di Marr azh-Zhahran bersama sepuluh ribu kaum Muslimin. Tujuh ratus orang berasal dari Sulaim, pendapat yang lain mengatakan bahwa mereka berjumlah seribu orang. Pasukan dari Muzainah juga berjumlah seribu, oleh karena dari setiap kabilah terdapat orang-orang yang masuk Islam. Seluruh kaum Muhajirin dan Anshar ikut bersama Rasulullah, tak seorang pun yang tertinggal. Beliau singgah di Marr azh-Zhahran dan tidak diketahui oleh orang-orang Quraisy. Pada malam tersebut, keluarlah Abu Sufyan bin Harb, Hakim bin Hizam, dan Budail bin Warqa' untuk menyelidiki kabar dan melihat kondisi dan situasi barang kali mereka akan mendapat atau mendengar berita. Al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib bertemu Rasulullah di salah satu jalan.1

      Al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib bertemu Rasulullah di al-Juhfah saat itu dia bermaksud hijrah bersama keluarganya. Sebelumnya, al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib tinggal di Makkah untuk melayani kebutuhan air para jama'ah haji atas restu Rasulullah, demikian seperti disampaikan oleh Ibnu Syihab az-Zuhri.4

    10. Dua kerabat masuk Islam

      Abu Sufyan bin al-Harits dan 'Abdullah bin Abu Umayyah

      Di Niqul 'Uqab, antara Makkah dan Madinah, Abu Sufyan bin al-Harits dan 'Abdullah bin Abu Umayyah ingin menemui beliau, yang awalnya menolak; setelah Abu Sufyan bin al-Harits mengancam membawa anak kecilnya ke padang pasir sampai mati, hati beliau luluh, dan keduanya masuk Islam.

      Baca selengkapnya

      Abu Sufyan bin al-Harits bin 'Abdul Muththalib dan 'Abdullah bin Abu Umayyah bin al-Mughirah juga bertemu beliau di Niqul Uqab, sebuah daerah yang terletak di antara Makkah dan Madinah. Keduanya hendak masuk ke tempat Rasulullah, lalu Ummu Salamah memberitahu beliau tentang keduanya: "Wahai Rasulullah, inilah anak paman dan anak bibimu, serta iparmu." Beliau bersabda: "Aku tidak butuh mereka berdua. Adapun anak pamanku, ia telah merusak kehormatanku. Sedang anak bibiku dan iparku, ia pernah menghina diriku di Makkah." Tatkala sabda Rasulullah disampaikan kepada keduanya, Abu Sufyan bin al-Harits -yang ketika itu membawa anaknya yang masih kecil berkata: "Demi Allah, Muhammad harus memberiku izin untuk masuk.1

      Jika tidak, aku akan membawa anak kecil ini keliling padang pasir hingga kami mati kelaparan dan haus." Saat Rasulullah mendengar ucapan Abu Sufyan bin al-Harits tadi, hatinya terenyuh, akhirnya beliau mengizinkan keduanya untuk menemuinya. Keduanya pun masuk bertemu beliau dan merekapun masuk Islam.

      Para ulama mengatakan bahwa tatkala Abu Sufyan bin al-Harits melantunkan bait syair berikut kepada Rasulullah: Yang pernah kuusir, kini Allah telah mendapatkanku kemudian beliau bersabda: "Engkaulah orang yang pernah mengusirku!!18

    11. Al-'Abbas membawa Abu Sufyan

      Malam di Marr azh-Zhahran

      Al-'Abbas menaiki baghal beliau mencari seseorang yang dapat memberi tahu Quraisy, lalu mendengar Abu Sufyan dan Budail dan membawa Abu Sufyan menghadap beliau. 'Umar meminta izin memenggalnya, tetapi al-'Abbas telah melindunginya, dan beliau menyuruh al-'Abbas membawanya menginap lalu menghadap esok pagi.

      Baca selengkapnya

      Ketika Rasulullah berhenti di Marr azh-Zhahran, al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib berkata: "Wahai orang-orang Quraisy hati-hatilah di pagi ini. Demi Allah, jika beliau memasuki Makkah dengan kekerasan dan orang-orang Quraisy tidak meminta jaminan keamanan kepadanya, maka itu adalah sebuah kehancuran bagi mereka sepanjang masa."

      Al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib berkata: kemudian, aku duduk di atas baghal milik beliau yang berwarna putih dan pergi dengan menungganginya. Ketika tiba di pohon arak (siwak), aku berkata: "Mudah-mudahan aku bisa bertemu dengan salah seorang pencari kayu bakar, atau pemilik susu, atau siapa saja yang berkepentingan untuk pergi ke Makkah, yang bisa menerangkan kepada mereka tentang keberadaan Rasulullah. Kemudian mereka datang menemui beliau untuk meminta jaminan keamanan sebelum beliau datang kepada mereka dengan kekerasan. Demi Allah, aku terus berjalan dengan baghal milik beliau untuk mencari seseorang.

      Tiba-tiba aku mendengar suara percakapan Abu Sufyan bin Harb dan Budail bin Warqa'. Abu Sufyan bin Harb berkata: "Aku belum pernah melihat api dan markas tentara seperti malam ini." Budail bin Warqa' berkata: "Demi Allah, itu adalah kabilah Khuza'ah yang sedang menyalakan api." Abu Sufyan bin Harb berkata: "Api kabilah Khuza'ah dan markasnya tidak sebesar itu." Aku mengenali dengan baik suara Abu Sufyan bin Harb. Aku berkata: "Wahai Abu Hanzhalah." Abu Sufyan bin Harb juga mengenali suaraku, lalu ia berkata: "Apakah engkau Abu al-Fadhl?." Aku berkata: "Yaa, betul." Abu Sufyan bin Harb bertanya: "Ayah-ibuku menjadi tebusanmu, apa yang sedang engkau lakukan?' Aku menjawab: "Celakalah engkau wahai Abu Sufyan, kini beliau sedang bersama pengikutnya. Demi Allah, orang-orang Quraisy harus berhati-hati pada pagi ini." Abu Sufyan bin Harb bertanya: "Bagaimana caranya untuk menghindari ini semua?" Aku menjawab: "Demi Allah, jika Rasulullah berhasil menangkapmu, beliau pasti memenggal batang lehermu. Sebab itu, naiklah ke baghal ini di belakangku, hingga aku akan membawamu kepada Rasulullah, lalu mintalah jaminan keamanan darinya."

      Abu Sufyan bin Harb pun naik di belakangku, adapun kedua temannya kembali ke Makkah. Lalu aku membonceng Abu Sufyan bin Harb dan membawanya untuk bertemu Rasulullah, dan setiap kali aku melewati api kaum Muslimin, mereka berkata: "Siapa orang ini?" dan tatkala mereka mengetahui akan baghal milik Rasulullah dan aku berada di atasnya, mereka berkata: "Itu adalah paman Rasulullah sedang mengendari baghal beliau." Aku pun terus berjalan sampai melewati api 'Umar bin Khaththab. Ia bertanya: "Siapa orang ini?" kemudian ia berjalan mendekatiku dan pada saat ia melihat orang yang duduk di belakangku itu Abu Sufyan bin Harb, ia berkata: "Abu Sufyan si musuh Allah. Segala puji bagi Allah yang telah menaklukanmu tanpa perjanjian dan kesepakatan sebelumnya." Kemudian 'Umar bin Khaththab berlari menghadap beliau, sedangkan aku terus memacu baghal hingga mendahului 'Umar bin Khaththab seperti halnya hewan yang berlari pelan yang mendahului orang yang jalannya pelan.

      Aku turun dari baghal lalu masuk ke tempat beliau dan pada saat yang sama 'Umar bin Khaththab masuk ke tempat beliau. 'Umar bin Khaththab berkata: "Wahai Rasulullah, inilah Abu Sufyan, Allah telah menaklukkannya tanpa perjanjian sebelumnya dan kesepakatan. Oleh sebab itu, izinkan aku untuk memenggal lehernya." Aku berkata: "Wahai Rasulullah, aku telah melindungi Abu Sufyan bin Harb." Kemudian, aku duduk di dekat beliau dan memegang kepala beliau sambil berkata: "Demi Allah, pada malam ini tidak ada yang berbicara denganmu selain diriku." Tatkala 'Umar bin Khaththab tidak henti-henti berbicara tentang Abu Sufyan bin Harb, aku berkata: "Tahan ucapanmu wahai 'Umar. Demi Allah, jika saja Abu Sufyan bin Harb berasal dari Bani 'Adi bin Ka'ab, pastinya engkau tidak akan berkata demikian. Akan tetapi, karena engkau tau kalau Abu Sufyan bin Harb berasal dari Bani 'Abdu Manaf maka engkaupun berkata seperti itu." 'Umar bin Khaththab berkata: "Tahan ucapanmu, wahai al-'Abbas. Demi Allah, keislamanmu saat engkau masuk Islam itu lebih aku sukai daripada keislaman Khaththab apabila ia masuk Islam. Dan aku juga tahu kalau keislamanmu jauh lebih di sukai beliau daripada keislaman Khaththab apabila ia masuk Islam." Rasulullah bersabda: "Wahai al-'Abbas, pergilah bersama Abu Sufyan bin Harb ke tempat dimana kendaraanmu berada, dan apabila pagi datang, menghadaplah kembali kepadaku."9

    12. Abu Sufyan masuk Islam

      Rumah dan Masjidil Haram yang aman

      Esok pagi beliau bertanya kepada Abu Sufyan apakah belum tiba waktunya mengetahui tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa beliau utusan Allah; atas desakan al-'Abbas ia bersyahadat. Beliau menetapkan aman siapa yang masuk rumah Abu Sufyan, menutup pintunya, atau masuk Masjidil Haram, lalu meminta al-'Abbas menahan Abu Sufyan di tempat sempit di depan gunung agar melihat pasukan lewat.

      Baca selengkapnya

      Al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib berkata: "Aku membawa pergi Abu Sufyan bin Harb ke tempat kendaraanku berada dan ia menginap di tempatku. Ketika pagi datang, aku bersama Abu Sufyan bin Harb menghadap Rasulullah. Pada saat melihat Abu Sufyan bin Harb, beliau bersabda: "Celakalah engkau wahai Abu Sufyan, apakah belum tiba waktu bagimu untuk mengetahui bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah?" Abu Sufyan bin Harb berkata: "Betapa lembut, mulia, dan menyambung hubungan kekerabatan. Demi Allah, sungguh aku telah meyakini seandainya ada Tuhan lain selain Allah, maka dia pasti akan mencukupiku dengan sesuatu." Rasulullah bersabda: "Celakalah engkau wahai Abu Sufyan, apakah belum tiba waktu bagimu untuk mengetahui bahwa aku adalah utusan Allah?" Abu Sufyan bin Harb berkata: "Betapa lembut, mulia, dan menyambung hubungan kekerabatan. Adapun hal ini, demi Allah, sampai saat ini, di dalam diriku masih terdapat sesuatu yang mengganjal." Al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib berkata kepada Abu Sufyan bin Harb: "Celakalah engkau, wahai Abu Sufyan, masuk Islamlah, bersaksilah bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah sebelum lehermu dipenggal." Abu Sufyan bin Harb pun bersaksi dengan syahadat yang Haq dan masuk Islam. Aku berkata: "Wahai Rasulullah, Abu Sufyan bin Harb adalah orang yang senang dengan kebanggaan, oleh sebab itulah, berikanlah suatu kebanggan kepadanya." Rasulullah bersabda: "Ya, barangsiapa memasuki rumah Abu Sufyan bin Harb, ia aman. Barangsiapa menutup pintu rumahnya, ia aman. Dan barangsiapa memasuki Masjidil Haram, ia aman." Pada saat Abu Sufyan bin Harb telah pergi, beliau bersabda: "Hai al-'Abbas, tahanlah Abu Sufyan bin Harb di tempat sempit di depan gunung, supaya pasukan Allah melewatinya dan ia bisa leluasa melihat mereka." Aku segera keluar dan menahan Abu Sufyan bin Harb di tempat yang diperintahkan Rasulullah.10

    13. Parade pasukan

      Pasukan hijau di depan Abu Sufyan

      Setiap kabilah lewat dengan panjinya dan Abu Sufyan menanyakannya kepada al-'Abbas; terakhir beliau lewat bersama Muhajirin dan Anshar berbaju besi, dan ia berkata tak seorang pun sanggup menghadapi mereka. Sesampai di Makkah ia berseru bahwa siapa yang masuk rumahnya, menutup pintunya, atau masuk Masjidil Haram aman; Hindun memegang kumisnya dan memintanya diperangi, tetapi Quraisy berpencar ke rumah masing-masing atau Masjidil Haram.

      Baca selengkapnya

      Tidak lama berselang, setiap kabilah berjalan melewatinya dengan membawa panji masing-masing. Setiap satu kabilah lewat, Abu Sufyan bin Harb bertanya: "Hai al-'Abbas, siapa orang ini?" Aku menjawab: "Inilah kabilah Sulaim." Abu Sufyan bin Harb berkata: "Aku tidak mempunyai urusan dengan kabilah Sulaim." Kemudian kabilah lain lewat, dan Abu Sufyan bin Harb bertanya lagi: "Hai al-'Abbas, siapa orang-orang ini?" Aku menjawab: "Ini kabilah Muzainah." Abu Sufyan bin Harb berkata: "Aku tidak mempunyai urusan dengan kabilah Muzainah." Setiap kali kabilah lewat, Abu Sufyan bertanya kepadaku tentang kabilah tersebut dan di saat aku telah menjelaskan tentang mereka, ia selalu berkata: "Aku tidak mempunyai urusan dengan Bani ini dan Bani itu." Demikianlah yang terjadi hingga akhirnya Rasulullah lewat dengan pasukannya dengan pakaian yang berwarna hijau.1

      Pasukan Rasulullah dikatakan hijau karena besinya banyak dan dominasi warna hijau di dalamnya.4

      Al-Harits bin Hilzat al-Yasykari berkata:

      Kemudian datanglah Hujr yakni Ibnu Ummi Qatham Dia memiliki kuda berwarna hijau Artinya adalah batalion (squadron). Bait ini ada dalam syairnya. Sedangkan Hassan bin Tsabit berkata:

      Tatkala dia melihat tembok-tembok lembah Badr Mengalir di sana dengan pasukan Hijau dari Khazraj

      Dalam pasukan tersebut terdapat kaum Muhajirin dan Anshar. Mereka seluruhnya memakai baju besi. Abu Sufyan bin Harb berkata: "Mahasuci Allah. Siapakah mereka ini wahai al-'Abbas?" Al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib menjawab: "Mereka adalah Rasulullah bersama kaum Muhajirin dan Anshar." Abu Sufyan bin Harb berkata: "Tak seorang pun yang memiliki keberanian dan kekuatan untuk menghadapi mereka. Wahai al-'Abbas, demi Allah, esok hari urusan keponakanmu ini akan menjadi agung." Al-'Abbas bin al-Muththalib berkata: "Hai Abu Sufyan, itulah dia kenabian. "Abu Sufyan bin Harb berkata "Benar!" Al-'Abbas bin al-Muththalib berkata "Sekarang pergilah segera untuk menemu kaummu."1

      Saat Abu Sufyan bin Harb sampai di tengah-tengah kaum Quraisy, ia berteriak dengan suara lantang: "Wahai orang-orang Quraisy, inilah Muhammad datang kepada kalian dengan membawa pasukan yang tak tertandingi. Maka barangsiapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan, dia akan aman." Hindun binti 'Utbah mendekat kepada Abu Sufyan bin Harb lalu memegang kumisnya seraya berkata: "Perangilah orang yang gendut, banyak lemak, dan dagingnya. Alangkah jeleknya pemimpin kaum ini.'" Abu Sufyan bin Harb berkata: "Celakalah kalian, hati-hatilah kalian jangan sampai tertipu oleh wanita ini. Sungguh Muhammad akan datang kepada kalian dengan pasukan yang tak tertandingi. Barangsiapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan, dia akan aman." Orang-orang Quraisy berkata: "Semoga Allah mematikanmu. Apa manfaat rumahmu bagi kami?" Abu Sufyan bin Harb berkata: "Barangsiapa yang menutup pintu rumahnya, dia akan aman. Dan barangsiapa yang masuk Masjidil Haram, dia pun akan aman." Kemudian orang-orang Quraisy pun berpencar; diantara mereka ada yang pulang ke rumah mereka sendiri dan ada pula yang berjalan menuju ke Masjidil Haram.

    14. Dzu Thuwa

      Beliau menunduk

      Di Dzu Thuwa beliau menghentikan kendaraannya dan menundukkan wajah, bersorban Yaman bersulam merah, sampai jenggotnya hampir menyentuh pelana, sebagai tanda kerendahan di hadapan Allah.

      Baca selengkapnya

      'Abdullah bin Abu Bakr meriwayatkan kepadaku bahwa ketika beliau tiba di Dzu Thuwa, beliau menghentikan binatang kendaraannya lalu tertunduk. Beliau memakai sorban (burdah) dari Yaman yang bersulam benang warna merah. Beliau menundukkan wajah sebagai simbol kerendahannya di hadapan Allah Ta'ala ketika melihat penaklukan yang Allah karuniakan untuknya, hingga jenggotnya hampir menyentuh pelana bagian tengah.1

    15. Abu Quhafah masuk Islam

      Di Abu Qubais

      Abu Quhafah yang buta meminta putri bungsunya menaikkannya ke Gunung Abu Qubais dan menanyakan apa yang tampak; ia menyimpulkan itu pasukan berkuda dan minta dibawa pulang, tetapi kalung perak putrinya direbut seorang penunggang kuda. Saat beliau masuk Makkah, Abu Bakar menuntun ayahnya, yang masuk Islam, dan beliau menyuruh mengganti warna rambutnya.

      Baca selengkapnya

      Pada saat beliau berhenti di Dzu Thuwa, Abu Quhafah berkata kepada putri bungsunya: "Wahai anakku, bawalah aku naik ke Gunung Abu Qubais." -Abu Quhafah sudah buta-. Aku membawanya naik ke Gunung Abu Qubais. Ia bertanya: "Wahai putriku, apa yang engkau saksikan sekarang?" Putrinya menjawab: "Aku menyaksikan kumpulan warna hitam." Abu Quhafah berkata: "Itu adalah kuda." Putri bungsunya berkata: "Aku juga melihat orang-orang hilir-mudik berjalan di hadapannya." Abu Quhafah berkata: "Putriku, dialah sebagai pemimpinnya. Ia sedang mengatur pasukan berkuda yang berada di depannya." Putrinya berkata: "Demi Allah, warna hitam itu kini menyebar." Abu Quhafah berkata: "Demi Allah, pasukan berkuda itu telah berjalan. Maka bawalah aku sekarang juga kembali ke rumah." Kemudian putri bungsu Abu Quhafah membawa ayahnya turun dan bertemu dengan pasukan berkuda tersebut sebelum mereka sampai di rumah. Putri bungsu Abu Quhafah memakai kalung yang terbuat dari perak dan berpapasan dengan salah seorang dari pasukan berkuda, lalu dia menjabret kalung tersebut dari lehernya.11

      Saat beliau memasuki Makkah dan Masjidil Haram, Abu Bakar datang sambil menuntun ayahnya ke hadapan beliau. Saat Rasulullah melihat ayah Abu Bakar, beliau bersabda: "Wahai Abu Bakar, mengapa engkau tidak membiarkan ayahmu berdiam diri di rumah saja dan aku yang akan datang menemuinya?" Abu Bakar menjawab: "Wahai Rasulullah, ayahku lebih pantas berjalan menemuimu daripada engkau datang menemuinya." Kemudian beliau mempersilahkan Abu Quhafah duduk di hadapannya, beliau mengusap dadanya seraya bersabda: "Masuk Islam-lah." Dan Abu Quhafah pun masuk Islam.

      Tak lama kemudian, Abu Bakar membawa ayahnya yang kepalanya penuh dengan uban kembali menghadap Rasulullah. Beliau bersabda: "Gantilah warna rambutnya." Abu Bakar berdiri lalu memegang tangan saudari perempuannya seraya bertanya: "Aku bersumpah dengan nama Allah dan Islam, siapakah yang telah mengambil kalung saudari perempuanku ini.?" Namun tak ada seorangpun yang menjawab pertanyaannya, kemudian ia berkata: "Wahai saudariku, ikhlaskanlah kalungmu, berharapkanlah pahala di sisi Allah. Demi Allah, sungguh pada hari ini kejujuran di tengah manusia amat sedikit."12

    16. Memasuki Makkah

      Pembagian pasukan dari Dzu Thuwa

      Di Dzu Thuwa beliau membagi pasukan: Zubair bin 'Awwam menjadi komandan sayap kiri dan Sa'd bin 'Ubadah bergabung dengan pasukan berkuda. Setelah Sa'd mengucapkan "hari peperangan", 'Umar mengadu dan beliau menyuruh 'Ali mengambil panji dari Sa'd. Khalid masuk dari al-Lith di Makkah bawah, Abu 'Ubaidah turun ke Makkah di hadapan beliau, dan beliau sendiri masuk dari Adzakhir sampai Makkah atas, tempat tenda beliau dipancangkan.

      Pemandangan udara Masjidil Haram dan perbukitan di sekitar Makkah
      Pemandangan udara dari ketinggian sekitar 550 m ke Masjidil Haram dan bagian utara Makkah dengan perbukitan di sekelilingnya, termasuk Jabal Nur (foto 16 Juni 2011; deskripsi berkas: "Aereal view from about 550m height onto Masjidul-Haram and northern parts of Makkah including Jabal-Nur").Foto: Wurzelgnohm · CC0 · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      'Abdullah bin Abu Najih meriwayatkan kepadaku bahwa setelah Rasulullah membagi-bagi pasukan di Dzu Thuwa, beliau memerintahkan Zubair bin 'Awwam bergabung dengan salah satu pasukan kuda. Zubair bin 'Awwam menjadi komandan pasukan sayap kiri. Dan beliau juga memerintahkan Sa'ad bin 'Ubadah bergabung dengan salah satu pasukan berkuda.1

      Sebagian ulama berpendapat bahwa ketika Sa'ad bin 'Ubadah memasuki Makkah ia berkata: "Hari ini merupakan hari Peperangan, dan pada hari ini dihalalkan hal-hal diharamkan." Ucapan tersebut didengar salah seorang sahabat dari kaum Muhajirin.1

      Orang yang dimaksud adalah 'Umar bin Khaththab, kemudian dia berkata: "Wahai Rasulullah, dengarkanlah apa yang dikatakan oleh Sa'ad bin 'Ubadah, Kami tidak merasa aman jika ia memiliki kekuasaan atas Quraisy." Rasulullah bersabda kepada 'Ali bin Abu Thalib: "Carilah Sa'ad bin 'Ubadah, ambil panji perang darinya, dan masuklah engkau ke Makkah dengan panji perang tersebut."4

      'Abdullah bin Abu Najih meriwayatkan kepadaku bahwa Rasulullah memerintahkan Khalid bin Walid masuk ke Makkah dari arah al-Lith, bagian Makkah Bawah bersama salah satu pasukan. Semula, Khalid bin Walid berada di pasukan sayap kanan yang di dalamnya terdapat kabilah Aslam, kabilah Sulaim, kabilah Ghifar, kabilah Muzainah, kabilah Juhainah, dan kabilah-kabilah Arab yang lain. Sedangkan Abu 'Ubaidah bin al-Jarrah bersama salah satu pasukan kaum muslimin turun ke Makkah di hadapan Rasulullah, dan beliau sendiri masuk ke Makkah dari arah Adzakhir hingga tiba di Makkah bagian Atas, dan di sanalah tenda beliau dipancangkan.113

    17. Bentrokan di al-Khandamah

      Himas bin Qais dan pasukan Khalid

      Shafwan bin Umayyah, 'Ikrimah bin Abu Jahal, dan Suhail bin 'Amr mengumpulkan orang di al-Khandamah untuk berperang. Mereka bentrok dengan pasukan berkuda Khalid; yang tewas dari pihak Muslim ialah Kurz bin Jabir, Khunais bin Khalid, dan Salamah bin al-Maila, sedangkan musyrikin sekitar dua belas atau tiga belas orang, dan sisanya mundur.

      Baca selengkapnya

      'Abdullah bin Abu Najih dan 'Abdullah bin Abu Bakr meriwayatkan kepadaku bahwa Shafwan bin Umayyah, 'Ikrimah bin Abu Jahal, dan Suhail bin 'Amr mengumpulkan orang-orang di al-Khandamah untuk berperang. Himas bin Qais bin Khalid saudara Bani Bakr telah menyiapkan perlengkapan dan senjata sebelum Rasulullah memasuki Makkah. Istri Himas bin Qais berkata: "Untuk apakah engkau menyiapkan senjata?" Himas bin Qais menjawab: "Untuk memerangi Muhammad dan para pengikutnya." Istrinya berkata: "Demi Allah, aku mengira senjatamu tidak akan membahayakan Muhammad dan para sahabatnya sedikitpun." Dia berkata:1

      "Demi Allah, aku berharap bisa memberimu budak dari sebagian mereka." Kemudian dia bertutur: Bila mereka menyerang di hari ini maka aku tidak punya alasan menyerah Karena aku punya senjata sempurna dan dan tajam dengan dua gigi Serta pedang yang mempunyai dua matapena dan terhunus dengan cepat Himas bin Qais turut serta pada Perang al-Khandamah bersama Shafwan bin Umayyah, Suhail bin 'Amr, dan 'Ikrimah bin Abu Jahal. Saat mereka bertemu pasukan Khalid bin Walid, mereka terlibat dalam peperangan kecil sehingga menewaskan Kurz bin Jabir warga Bani Muharib bin Fihr dan Khunais bin Khalid bin Rabi'ah bin Ashram sekutu Bani Munqidz. Awalnya mereka berdua berada di pasukan berkuda Khalid bin Walid, namun keduanya memisahkan diri dari Khalid bin Walid dan menempuh jalan lain hingga akhirnya terbunuh; Khunais bin Khalid terbunuh sebelum Kurz bin Jabir. Setelah Khunais bin Khalid terbunuh, Kurz bin Jabir meletakkan jenazahnya di antara kedua kakinya, lalu ia

      berperang sambil melantunkan syair, hingga ia akhirnya ia gugur: Shafra' dari Bani Fihr yang berwajah bening dan dada bersih telah mengetahui bahwa aku akan berperang membela Abu Sakhr

      Nama panggilan Khunais bin Khalid adalah Abu Shakhr dia berasal dari kabilah Khuza'ah.4

      'Abdullah bin Abu Najih dan 'Abdullah bin Abu Bakr meriwayatkan kepadaku: "Salamah bin al-Maila merupakan orang yang terbunuh dari kabilah Juhainah, ia adalah salah seorang tentara pasukan berkuda Khalid bin Walid. Adapun korban tewas dari kaum musyrikin sekitar dua belas atau tiga belas orang. Kemudian, orang-orang musyrikin mundur termasuk Himas bin Qais hingga ia pulang ke rumahnya seraya berkata kepada istrinya: "Kuncilah pintu rumah." Istrinya bertanya: "Mana yang kau ucapankan dulu?" Himas bin Qais bertutur:1

      Andai kau saksikan Perang al-Khandamah,

      Kala Shafwan dan 'Ikrimah melarikan diri

      Abu Yazid berdiri mematung laksana wanita yang ditinggal mati suaminya yang meninggalkan anak yatimnya

      Mereka dihadang pedang-pedang kaum Muslimin

      Yang memutus semua lengan dan tengkorak kepala

      Hingga tidak ada yang bisa didengar melainkan suara yang tak dimengerti

      Mereka memiliki suara dari tenggorokan dan suara dada di belakang kami

      Pasti kau tak akan mengecam walau hanya sepatah kata

    18. Sandi pasukan

      Pada Makkah, Hunain, dan Thaif

      Sandi kaum Muslimin pada penaklukan Makkah, Hunain, dan Thaif: Muhajirin "ya bani 'Abdurrahman", Khazraj "ya bani 'Abdillah", dan Aus "ya bani 'Ubaidillah".

      Baca selengkapnya

      Sandi kaum Muslimin pada penaklukan Makkah, Perang Hunain, dan Perang Thaif adalah sebagai berikut:1

      Sandi kaum Muhajirin adalah ya bani 'Abdurrahman, Sandi kaum al-Khazraj adalah ya bani Abdillah dan adapun Sandi kaum al-Aus adalah ya bani 'Ubaidillah.

    19. Yang diperintahkan dibunuh

      Walau bergantung pada kain Ka'bah

      Beliau berpesan kepada para panglima agar tidak menyakiti siapa pun kecuali yang memerangi, dan beberapa orang yang harus dibunuh walau berlindung pada kain Ka'bah: 'Abdullah bin Sa'd, 'Abdullah bin Khathal beserta dua penyanyinya, al-Huwairits bin Nuqaidz, Miqyas bin Shubabah, Sarah, dan 'Ikrimah bin Abu Jahal. Sebagian dibunuh, sebagian diberi jaminan keamanan lalu masuk Islam.

      Baca selengkapnya

      Rasulullah berpesan kepada para panglima pasukannya -saat memasuki Makkah untuk tidak menyakiti siapa pun kecuali orang-orang yang memerangi mereka serta beberapa orang yang harus dibunuh walaupun mereka berlindung diri dengan bergantung di kain penutup Ka'bah. Mereka adalah 'Abdullah bin Sa'ad saudara Bani 'Amir bin Luay.1

      Rasulullah memerintahkan para panglima perangnya untuk membunuhnya, sebab awalnya ia seorang Muslim dan menjadi penulis wahyu untuk beliau, akan tetapi kemudian murtad dan kembali kepada orang-orang Quraisy. 'Abdullah bin Sa'ad lari kepada 'Utsman bin 'Affan -saudara sesusuannya dan 'Utsman bin 'Affan menyembunyikannya kemudian membawanya ke hadapan Rasulullah di saat kaum Muslimin dan penduduk Makkah telah merasa tenang. 'Utsman bin 'Affan meminta kepada Rasulullah jaminan keamanan untuk 'Abdullah bin Sa'ad, akan tetapi beliau diam lama sekali, lalu bersabda: "Ya." Dan di saat 'Utsman bin 'Affan pergi meninggalkan Rasulullah, beliau bersabda kepada orang-orang yang ada di sekitar beliau dari para sahabat: "Aku berdiam diri agak lama tadi karena harapan ada salah seorang dari kalian berdiri kemudian memenggal leher 'Abdullah bin Sa'ad." Salah seorang dari kaum al-Anshar berkata: "Kenapa engkau tidak memberi isyarat kepadaku, wahai Rasulullah?" Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya seorang Nabi itu tidak boleh membunuh dengan cara memberi isyarat."

      Kemudian 'Abdullah bin Sa'ad masuk Islam lagi dan 'Umar bin Khaththab menjadikannya sebagai wakil di beberapa urusannya, begitu juga 'Utsman bin 'Affan sesudah wafatnya 'Umar bin Khaththab.4

      'Abdullah bin Hazhal adalah seorang yang berasal dari Bani Tamim bin Ghalib. Beliau memerintahkan untuk dibunuh karena awalnya ia seorang muslim dan Rasulullah mengutusnya sebagai petugas zakat ke salah satu daerah bersama salah seorang dari kaum Anshar dan mantan budak 'Abdullah bin Khaththal yang muslim. Ia berhenti di suatu tempat dan menyuruh mantan budaknya untuk menyembelih kambing serta membuat makanan untuknya. Kemudian, 'Abdullah bin Khaththal tidur. Saat ia bangun, ia mendapati mantan budaknya tidak membuatkan makanan apa-apa untuknya, lalu ia membunuhnya. Kemudian ia murtad dan menjadi seorang musyrik. Ia memiliki dua penyanyi bernama Fartana dan seorang temannya. Kedua penyanyi wanita itu bernyanyi menghina Rasulullah, oleh sebab itu beliau memerintahkan keduanya dibunuh bersama 'Abdullah bin Khathal.1

      Al-Huwairits bin Nuqaidz bin Wahb bin 'Abdun bin Qushay. Ia termasuk salah seorang yang menyakiti Rasulullah di Makkah.

      Ketika 'Abdullah bin al-'Abbas membawa kedua putri Rasulullah yaitu Fathimah dan Ummu Kultsum dari Makkah ke Madinah, kemudian hewan kendaraan yang mereka berdua tunggangi ditusuk lambungnya oleh al-Huwairits bin Nuqaidz hingga mereka berdua terjatuh ke tanah.4

      Juga Miqyas bin Hubabah. Rasulullah memerintahkan untuk membunuh Miqyas bin Hubabah, karena ia telah membunuh salah seorang kaum Anshar yang membunuh saudaranya dengan tidak sengaja, selain itu, ia telah murtad dan pulang ke orang-orang Quraisy dalam keadaan musyrik.1

      Kemudian Sarah mantan budak salah seorang dari Bani 'Abdul Muththalib, dan 'Ikrimah bin Abu Jahal. Sarah termasuk salah seorang yang menyakiti Rasulullah dari kalangan wanita saat di Makkah. Sedangkan 'Ikrimah bin Abu Jahal, ia melarikan diri ke Yaman, adapun istrinya, Ummu Hakim binti al-Harits bin Hisyam, masuk Islam yang kemudian memintakan jaminan keamanan untuknya kepada Rasulullah dan beliau pun mengabulkan permintaannya. Setelah itu, Ummu Hakim binti al-Harits pergi mencari suaminya ke Yaman hingga akhirnya berhasil membawanya kepada Rasulullah dan 'Ikrimah pun masuk Islam.

      'Abdullah bin Khathal dibunuh oleh Sa'id bin Harits al-Makhzumi dan Abu Barzah al-Aslami. Sedangkan Miqyas bin Shubabah dibunuh oleh Numailah bin 'Abdullah, seorang yang berasal dari kaumnya sendiri.

      Adapun dua penyanyi wanita 'Abdullah bin Khathal, salah satunya dibunuh, sedang yang lainnya melarikan diri, kemudian ia meminta jaminan keamanan kepada Rasulullah dan beliau mengabulkan permintaannya.

      Sajah juga meminta jaminan keamanan kepada Rasulullah dan beliau mengabulkannya. Kemudian dia pun hidup dalam keamanan hingga pada masa pemerintahan Khalifah 'Umar bin Khaththab, ia diterjang oleh kuda milik seseorang di al-Abthah sebuah lembah di Makkah, akhirnya ia meninggal dunia.

      Adapun al-Huwairits bin Nuqaidz dibunuh oleh 'Ali bin Abu Thalib.14

    20. Ummu Hani'

      Melindungi dua kerabat

      Ummu Hani' binti Abu Thalib melindungi dua pamannya dari Bani Makhzum, yang hendak dibunuh saudaranya, 'Ali; ia menemui beliau di Makkah atas, yang bersabda bahwa beliau melindungi orang yang ia lindungi. Ibnu Hisyam menyebut keduanya al-Harits bin Hisyam dan Zuhair bin Abu Umayyah.

      Baca selengkapnya

      Saat beliau berhenti di bagian atas kota Makkah, dua orang pamanku yang berasal dari Bani Makhzum lari menghampiriku -Saat itu, Ummu Hani' dinikahi oleh Abu Hubairah bin Abu Wahb al-Makhzumi. Adapun saudaraku, 'Ali bin Abu Thalib, menghampiriku dan berkata: "Demi Allah, aku akan membunuh dua orang ini." Aku pun segera menutup pintu rumahku demi melindungi mereka berdua, dan akupun pergi ke tempat beliau di bagian atas kota Makkah. Aku melihat beliau sedang mandi dengan menggunakan bejana yang padanya terdapat bekas adonan roti, dan Fathimah menutupinya dengan kain. Seusai mandi, beliau mengenakan pakaian lalu melaksanakan shalat Dhuha sebanyak delapan raka'at. Kemudian beliau datang menemuiku dan bersabda: "Selamat datang wahai Ummu Hani, ada apa engkau datang ke sini?" Aku pun menjelaskan kepada beliau perihal dua orang yang berada di rumahku dan keinginan 'Ali bin Abu Thalib untuk membunuh keduanya. Lalu beliau bersabda: "Aku melindungi orang yang engkau lindungi dan memberi keamanan kepada orang yang engkau beri keamanan. karena itu, jangan sekali-kali 'Ali bin Abu Thalib membunuh kedua orang tersebut."15

      Kedua orang tersebut adalah al-Harits bin Hisyam dan Zuhair bin Abu Umayyah bin al-Mughirah.416

    21. Thawaf dan khutbah di Ka'bah

      Pergilah, kalian bebas

      Beliau thawaf di atas unta, mengambil kunci Ka'bah dari 'Utsman bin Thalhah, membuka pintunya, dan memecahkan patung burung merpati dari kayu. Di pintu Ka'bah beliau bersabda tentang janji Allah, menghapus kemuliaan Jahiliyah kecuali penjaga Ka'bah dan pemberi minum jamaah haji, menjelaskan diyat pembunuhan mirip sengaja, membaca QS al-Hujurat ayat 13, lalu berkata kepada Quraisy: "Pergilah, kalian bebas."

      Baca selengkapnya

      Pada saat beliau masuk ke Makkah dan seluruh manusia telah merasa tenang, beliau pun mendatangi Baitullah dan melaksanakan thawaf di atas unta sebanyak tujuh kali putaran dan mengusap rukun dengan tongkat. Selepas melakukan thawaf, beliau mengambil kunci Ka'bah dari 'Utsman bin Thalhah. Beliau membuka pintu Ka'bah, memasukinya, mendapati patung burung merpati dari kayu, kemudian beliau memecahkan patung tersebut dengan tangannya lalu membuangnya.17

      Kemudian Rasulullah berdiri di depan Ka'bah, dan orang-orang berkumpul di Masjidil Haram.

      Beberapa orang ulama meriwayatkan kepadaku bahwa beliau berdiri di pintu Ka'bah seraya bersabda: "Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia telah menepati janji-Nya, memenangkan hamba-Nya, dan menaklukkan pasukan sekutu dengan sendirian. Ketahuilah, seluruh kemuliaan, atau darah, atau kekayaan yang didakwakan itu berada di bawah kedua kakiku ini, kecuali pelayan Ka'bah dan pemberi minuman kepada jama'ah haji. Ketahuilah, korban pembunuhan karena ketidaksengajaan itu sama dengan pembunuhan "mirip sengaja" seperti membunuh dengan cambuk atau tongkat, maka diyatnya diperberat yaitu berupa seratus unta; empat puluh ekor diantaranya harus dalam keadaan hamil. Wahai orang-orang Quraisy, sesungguhnya Allah telah menghapuskan semangat Jahiliyah dan mengagung-agungkan nenek moyang, karena semua manusia berasal dari Adam dan Adam berasal dari tanah." Kemudian Rasulullah membaca firman Allah:1

      Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. al-Hujurat: 13). Kemudian Rasulullah melanjutkan sabdanya: "Wahai orang-orang Quraisy, menurut kalian kira-kira apa yang akan aku lakukan kepada kalian." Orang-orang Quraisy menjawab: "Kebaikan. Karena engkau adalah saudara yang mulia dan anak saudara yang mulia." Rasulullah bersabda: "Pergilah, sesungguhnya kalian bebas."18

    22. Kunci Ka'bah

      Dikembalikan kepada 'Utsman bin Thalhah

      'Ali datang membawa kunci Ka'bah dan meminta penjaga Ka'bah dan pemberi minum jamaah dikumpulkan untuk mereka; beliau memanggil 'Utsman bin Thalhah dan menyerahkan kuncinya kembali seraya bersabda bahwa hari itu hari kebaikan dan penepatan janji.

      Baca selengkapnya

      Kemudian beliau duduk di Masjidil Haram, lalu 'Ali bin Abu Thalib datang menemui beliau dengan membawa kunci Ka'bah. 'Ali bin Abu Thalib berkata: "Wahai Rasulullah, kumpulkan untuk kami penjaga Ka'bah dan pemberi air minum jama'ah haji, semoga Allah memberi kesejahteraan untukmu." Rasulullah bersabda: "Dimanakah 'Utsman bin Thalhah?" 'Utsman bin Thalhah pun dipanggil, kemudian beliau bersabda: "Inilah kuncimu, wahai 'Utsman. Hari ini hari kebaikan dan hari penepatan janji."

      Sufyan bin Uyaynah menyebutkan bahwa Rasulullah bersabda kepada 'Ali bin Abi Thalib: "Aku hanya memberikan pada kalian apa yang hilang dari kalian dan bukan yang akan hilang dari orang lain."4

    23. Lukisan di dalam Ka'bah

      Tempat shalat beliau

      Beliau melihat lukisan malaikat dan Ibrahim yang memegang undian, dan memerintahkan semuanya dihancurkan. Bilal menunjukkan tempat shalat beliau di dalam Ka'bah, dan 'Abdullah bin 'Umar kemudian shalat di tempat itu setiap masuk.

      Baca selengkapnya

      Beberapa orang ulama meriwayatkan kepadaku bahwa Rasulullah memasuki Baitullah pada hari penaklukan Makkah, lalu beliau melihat lukisan-lukisan tentang para malaikat dan yang lainnya. Beliau juga melihat lukisan Nabi Ibrahim yang digambarkan dengan memegang dadu undian di tangannya. Maka beliau bersabda: "Semoga Allah membunuh mereka. Mereka menggambarkan orang tua kita, Nabi Ibrahim, mengundi dengan undian. Apa hubungan Ibrahim dengan undian, sedang Allah Ta'ala berfirman:4

      Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik (QS. 'Ali 'Imran: 67). Kemudian, beliau memerintahkan seluruh lukisan itu dihancurkan.

      Beberapa orang ulama meriwayatkan kepadaku bahwa saat beliau memasuki Ka'bah ditemani oleh Bilal, kemudian beliau keluar sedangkan Bilal masih berada di dalam Ka'bah. Tak lama kemudian, 'Abdullah bin 'Umar masuk menemui Bilal dan bertanya kepadanya: "Di manakah tadi beliau mengerjakan shalat? 'Abdullah bin 'Umar tidak menanyakan berapa rakaat beliau mengerjakan shalat. Maka setiap kali 'Abdullah bin 'Umar memasuki Baitullah dia berjalan lurus dan menjadikan pintu Ka'bah di belakang punggungnya hingga antara dirinya dan dinding ada tiga hasta, kemudian ia shalat, karena menghendaki tempat shalatnya beliau sebagaimana yang dikatakan Bilal kepadanya.419

    24. Adzan Bilal

      Tiga orang Quraisy di halaman Ka'bah

      Saat Bilal adzan di Ka'bah, Abu Sufyan, 'Attab bin Usaid, dan al-Harits bin Hisyam duduk di halaman Ka'bah dan masing-masing mengucapkan sesuatu; beliau mengabarkan apa yang mereka katakan, dan al-Harits bin Hisyam serta 'Attab bin Usaid bersyahadat.

      Baca selengkapnya

      Beberapa orang ulama meriwayatkan kepadaku bahwa saat Rasulullah memasuki Ka'bah pada hari penaklukan Makkah, beliau ditemani oleh Bilal, kemudian beliau menyuruh Bilal mengumandangkan adzan, ketika itu Abu Sufyan bin Harb, Attab bin Usaid, dan al-Harits bin Hisyam duduk di halaman Ka'bah. Attab bin Usaid berkata: "Sungguh Allah telah memuliakan Usaid, sebab dulu dia tidak mendengar ini, namun kini ia mendengar apa yang dulu dibencinya." Al-Harits bin Hisyam berkata: "Demi Allah, jika aku tahu ia (Rasulullah) itu benar, maka aku pasti mengikutinya." Abu Sufyan bin Harb berkata: "Aku tidak akan mengatakan apa-apa, sebab bila mengatakan sesuatu, tongkat ini akan berbicara mewakiliku." Kemudian Nabi menemui ketiga orang tersebut lalu bersabda: "Aku mendengar apa yang kalian katakan tadi. Lalu beliau pun menceritakan apa yang telah mereka katakan tadi. Al-Harits bin Hisyam dan Attab bin Usaid berkata: "Kami bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah. Demi Allah, tidak ada seorang pun yang bersama kami mengetahui hal ini, sehingga tidak akan ada yang memberitahukannya kepadamu."4

    25. Ibnu al-Atswa' dibunuh

      Khuza'ah dan Khirasy bin Umayyah

      Ibnu al-Atswa' al-Hudzali, pembunuh Ahmar yang dikenal lewat dengkurannya, datang ke Makkah pada pagi setelah penaklukan dan dikepung Khuza'ah; Khirasy bin Umayyah menikam perutnya hingga tewas. Beliau menyuruh Khuza'ah berhenti membunuh dan menyatakan akan membayar diyatnya, dan menyebut Khirasy sebagai pembunuh.

      Baca selengkapnya

      "Di antara kami terdapat orang kuat dan pemberani bernama Ahmar Ba'san. Dia selalu mendengkur dengan keras pada saat tidurnya dan karena dengkurannya itu sehingga mudah untuk diketahui keberadaannya. Ia tidur di tempat yang jauh dari kampungnya. Bila kaumnya tiba-tiba mendapat serangan di malam hari, mereka berteriak, "Wahai Ahmar." Ia pun akan segera melompat laksana singa dan tidak ada seorang pun yang dapat menghalanginya. Suatu ketika, pasukan dari Hudzail datang dengan tujuan kampung Ahmar. Tatkala mereka telah mendekati perkampungan tersebut, Ibnu al-Atswa' al-Hudzali berkata: "Kalian jangan tergesa-gesa hingga aku memeriksa situasinya. Jika di sana terdapat Ahmar, maka kita tidak akan menemukan jalan untuk pergi ke sana, sebab Ahmar mempunyai suara dengkur yang mudah diketahui." Ibnu al-Atswa' al-Hudzali mencari-cari suaranya. Ketika ia mendengar suara dengkur Ahmar, ia berjalan menuju tempatnya, kemudian menusukkan pedang ke dadanya hingga tewas. Lalu menyerang kampung tersebut. Penduduk kampung tersebut pun berteriak memanggil "Hai Ahmar." Kini mereka tidak lagi memiliki Ahmar karena telah tewas terbunuh.20

      Saat penaklukan Makkah, yaitu pada pagi hari setelah penaklukan, Ibnu al-Atswa' al-Hudzali seorang musyrik datang ke Makkah untuk melihat langsung dan bertanya tentang kondisi orang-orang di sana. Saat itulah, ia dilihat oleh orang-orang kabilah Khuza'ah yang mengenalinya. Kemudian mereka mengepungnya yang pada saat itu berada di salah satu sisi tembok Makkah. Orang-orang kabilah Khuza'ah berkata: "Apakah benar engkau orang yang membunuh Ahmar?" Ibnu al-Atswa al-Hudzali menjawab: "Ya, benar. Akulah orang yang membunuh Ahmar. "Apakah yang kalian harapkan?"' Tiba-tiba Khirasy bin Umayyah datang dengan menghunus pedang seraya berkata: "Jauhilah orang ini." Demi Allah, dengan cara seperti itu, Khirasy bin Umayyah ingin menjauhkan orang-orang dari Ibnu al-Atswa' al-Hudzali. Betul, ketika kami telah menjauh dari ibnu al-Atswa' al-Hudzali, ia menyerangnya dan menikam perutnya dengan pedang. Demi Allah, aku melihat isi perut Ibnu al-Atswa al-Hudzali terurai keluar dan kedua matanya pelan-pelan terpejam seraya berkata: "Mengapa kalian melakukan ini, wahai orang-orang kabilah Khuzaah?" Demikianlah peristiwanya hingga akhirnya ia jatuh terkulai tak berdaya dan tewas.

      Rasulullah bersabda: "Hai orang-orang kabilah Khuzaah, hentikanlah tangan kalian dari membunuh. Sungguh, seandainya pembunuhan itu bermanfaat maka ia akan sangat marak. Karena kalian telah membunuh seseorang maka aku akan membayar diyatnya."

      Tatkala beliau mendengar apa yang dilakukan oleh Khirasy bin Umayyah, beliau bersabda: "Sesungguhnya Khirasy benar-benar seorang pembunuh." Sabdanya tersebut merupakan kecaman terhadap Khirasy.2122

    26. Khutbah tentang haramnya Makkah

      Abu Syuraih dan 'Amr bin Zubair

      Abu Syuraih al-Khuza'i menuturkan khutbah beliau bahwa Allah mengharamkan Makkah sejak penciptaan langit dan bumi, dan bahwa perang di sana hanya dihalalkan bagi beliau pada saat itu. Ia menyampaikannya kepada 'Amr bin Zubair, yang menolak. Ibnu Hisyam menyebut korban pertama yang dibayar diyatnya adalah Junaidib bin al-Akwa' dengan seratus unta.

      Baca selengkapnya

      Pada saat 'Amr bin Zubair tiba di Makkah untuk memerangi saudaranya, 'Abdullah bin Zubair, aku menemui 'Amr bin Zubair dan berkata kepadanya: "Wahai 'Amr bin Zubair, dahulu saat pembebasan kota Makkah aku ikut bersama beliau. Pada hari itu, orang-orang dari kabilah Khuzaah menyerang seseorang dari Hudzail dan membunuhnya dalam keadaan musyrik, kemudian Rasulullah berdiri dan memberikan khutbah kepada kami: "Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah mengharamkan Makkah sejak hari penciptaan langit dan bumi. Makkah merupakan tanah haram dan akan terus menjadi tanah mulia hingga hari Kiamat. Sebab itu, tidak dihalalkan bagi siapapun yang beriman kepada Allah dan hari akhirat untuk menumpahkan darah di dalamnya dan juga tidak diperbolehkan memotong pepohonnya. Makkah tidak dihalalkan bagi siapa pun sebelumku dan tidak halal bagi siapa pun setelah aku meninggal. Makkah tidak dihalalkan kecuali saat ini sebagai bentuk kemurkaan bagi penduduknya. Ketahuilah, sesungguhnya keharaman (kemuliaan) Makkah telah kembali seperti sebelumnya. Hendaklah orang yang hadir di tempat ini menyampaikan pesan ini kepada yang tidak hadir. Barangsiapa berkata kepada kalian bahwa beliau telah berperang di Makkah, sampaikanlah padanya bahwa Allah telah menghalalkan perang ini bagi Rasul-Nya namun tidak menghalalkannya bagi kalian. Wahai orang-orang kabilah Khuzaah, berhentilah kalian dari membunuh, sungguh jika pembunuhan itu bermanfaat maka ia akan merajalela. Sungguh karena kalian telah membunuh seseorang maka aku akan membayar diyatnya. Barangsiapa dibunuh setelah aku berdiri di tempat ini, maka keluarganya berhak atas dua pilihan; meminta darah pembunuhnya jika mereka mau atau meminta diyat jika mereka mau. Setelah itu Rasulullah membayar diyat untuk Ibnu al-Atswa' al-Hudzali yang dibunuh oleh orang-orang kabilah Khuza'ah. 'Amr bin Zubair berkata kepada Abu Syuraih: "Pergilah engkau wahai orang tua, karena aku lebih tahu tentang kemuliaan Makkah daripadamu. Sesungguhnya keharaman (kemuliaan) Makkah tidak bisa menahan Pelaku pembunuhan, orang yang tidak taat, dan orang yang tidak membayar jizyah." Abu Syuraih berkata: "Aku hadir sedangkan engkau tidak hadiri. Beliau memerintahkan siapa saja yang hadir pada peristiwa itu untuk menyampaikannya kepada yang tidak hadir. Aku telah menyampaikan pesan Rasul itu kepadamu, maka terserah padamu."23

      Seseorang meriwayatkan kepadaku bahwa korban yang pertama kali dibayar diyatnya oleh beliau ialah Junaidib bin al-Akwa' yang dibunuh oleh Bani Kaab. Beliau memberi diyat atas kematiannya dengan seratus unta.424

    27. Kekhawatiran kaum Anshar

      Hidup dan mati bersama kalian

      Saat beliau berdoa di Shafa, kaum Anshar berkata satu sama lain bahwa beliau mungkin akan menetap di Makkah; setelah mereka menjelaskannya, beliau bersabda bahwa hidup dan mati beliau bersama mereka.

      Baca selengkapnya

      Diriwayatkan kepadaku dari Yahya bin Sa'id bahwa pada hari pembebasan Makkah, Rasulullah berdiri di atas bukit Shafa untuk berdoa kepada Allah dan dikelilingi kaum Anshar. Orang-orang Anshar berkata satu sama lainnya: "Apakah kalian memiliki pemikiran Jika Allah memberi kemenangan kepada Rasul-Nya dan berhasil menaklukan negerinya, ia akan menetap di sana?" Setelah selesai berdoa, beliau bertanya kepada mereka: "Apa yang tadi kalian katakan?" Kaum Anshar menjawab: "Kami tidak mengatakan apa-apa, wahai Rasulullah." Rasulullah tetap bersama orang-orang Anshar hingga mereka menjelaskan kepada beliau apa yang telah mereka perbincangkan, kemudian beliau bersabda: "Aku berlindung kepada Allah. Kehidupanku adalah bersama kalian dan kematianku adalah bersama kalian."425

    28. Berhala-berhala roboh

      Dengan isyarat beliau

      Beliau berkeliling di atas unta dan memberi isyarat dengan sepotong kayu kepada berhala-berhala yang diikat timah di sekitar Ka'bah sambil membaca QS al-Isra' ayat 81, dan setiap berhala yang diisyaratkan jatuh tersungkur.

      Baca selengkapnya

      Seorang perawi yang sangat aku percayai meriwayatkan kepadaku dalam sanadnya dari Ibnu Syihab az-Zuhri dari 'Ubaidillah bin 'Abdullah dari Ibnu 'Abbas, ia berkata: beliau masuk ke Makkah pada hari pembebasan Kota itu dengan menaiki unta lalu mengelilinginya. Banyak terdapat berhala-berhala yang diikat dengan timah di sekitar Ka'bah, kemudian beliau memberi isyarat pada patung-patung tersebut dengan potongan kayu yang beliau pegang seraya membaca ayat:4

      Dan katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap." Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap (QS. al-Isra': 81). Setiap Rasulullah berisyarat ke wajah sebuah berhala, maka ia pasti terjungkal ke belakang dan setiap kali beliau memberi isyarat ke tengkuk suatu berhala maka berhala tersebut jatuh tersungkur. Demikianlah hingga semua berhala jatuh. Tentang peristiwa ini, Tamim bin Asad al-Khuza'i bertutur:

      Pada berhala-berhala itu ada pelajaran dan ilmu

      Untuk orang yang mengharap pahala atau adzab26

    29. Fadhalah bin 'Umair

      Dada yang ditenangkan

      Fadhalah bin 'Umair berniat membunuh beliau saat thawaf; beliau menanyakan isi hatinya, tersenyum, memohonkan ampun baginya, dan meletakkan tangan di dadanya hingga ia merasa tenang dan tak ada orang yang lebih ia cintai.

      Baca selengkapnya

      Diriwayatkan kepadaku bahwa Fadhalah bin 'Umair bin al-Mulawwah al-Laitsi berniat membunuh beliau saat beliau melaksanakan thawaf di Baitullah pada hari pembebasan Makkah. Saat ia telah berdekatan dengan Rasulullah, beliau bersabda kepadanya: "Apakah betul engkau Fadhalah?" Fadhalah bin 'Umair menjawab: "Benar, wahai Rasulullah, akulah Fadhalah." Beliau bersabda: "Apa yang telah engkau katakan kepada dirimu?" Fadhalah bin 'Umair menjawab: "Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku hanya berdzikir kepada Allah." Rasulullah tertawa lalu bersabda, "Wahai Fadhalah, mohon ampunlah engkau kepada Allah." Usai bersabda seperti itu, beliau meletakkan tangannya di dada Fadhalah bin 'Umair hingga ia merasa tenang." Fadhalah bin 'Umair berkata: "Demi Allah, sebelum Rasulullah mengangkat tangannya dari dadaku, tiba-tiba tidak ada orang yang aku lebih cintai melebihi dirinya." Setelah itu, aku pulang. Dalam perjalanan ke rumah, aku bertemu dengan wanita. Teman wanitaku berkata: "Marilah kita berbincang sejenak." Aku berkata: "Tidak."4

    30. Shafwan bin Umayyah

      Sorban sebagai jaminan

      Shafwan bin Umayyah pergi ke Juddah hendak ke Yaman; 'Umair bin Wahb meminta jaminan keamanan baginya, dan beliau memberikan sorban yang beliau pakai saat masuk Makkah sebagai bukti. Shafwan awalnya menolak, lalu kembali menghadap dan diberi waktu empat bulan.

      Baca selengkapnya

      Shafwan bin Umayyah pergi ke Juddah karena ingin pergi ke Yaman. 'Umair bin Wahb berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Shafwan bin Umayyah merupakan pemimpin kaumnya. Saat ini ia melarikan diri darimu dan hendak melemparkan dirinya ke laut, maka berilah dia jaminan keamanan, mudah-mudahan Allah menganugrahkan shalawat dan salam atasmu." Rasulullah bersabda: "Ia mendapat jaminan keamanan." 'Umair bin Wahb berkata: "Wahai Rasulullah, dapatkan engkau memberiku bukti tentang jaminan keamanan untuknya." Maka beliau memberikan sorban dipakai olehnya saat memasuki Makkah kepada 'Umair bin Wahb. kemudian, 'Umair bin Wahb pergi membawa sorban tersebut hingga bertemu Shafwan bin Umayyah yang saat itu hendak berlayar. 'Umair bin Wahb berkata: "Hai Shafwan, ayah-ibuku menjadi tebusanmu, takutlah engkau kepada Allah dan janganlah engkau bunuh diri. Inilah aku membawakan jaminan keamanan dari Rasulullah untukmu."27

      Shafwan bin Umayyah berkata: "Celakalah engkau, pergilah dan jangan bicara denganku." 'Umair bin Wahb berkata: "Wahai Shafwan, Rasulullah adalah manusia paling mulia, paling baik, paling lembut, dan sekaligus anak pamanmu. Kejayaan beliau adalah kejayaanmu, kemuliaan beliau adalah kemuliaanmu, dan kerajaan beliau juga kerajaanmu." Shafwan bin Umayyah berkata: "Namun aku khawatir atas diriku sendiri." 'Umair bin Wahb berkata: "Beliau lebih lembut dan mulia dari apa yang engkau khawatirkan." Akhirnya, 'Umair bin Wahb berhasil membawa pulang Shafwan bin Umayyah kepada Rasulullah. Sesampainya di tempat Rasulullah, Shafwan bin Umayyah berkata kepada Rasulullah: 'Umair bin Wahb mengatakan bahwa engkau telah memberi jaminan keamanan untukku." Rasulullah bersabda: "Benar." Shafwan bin Umayyah berkata: "Beri aku waktu dua bulan untuk memilih." Rasulullah: " Bahkan aku beri waktu empat bulan untukmu."

      Seorang ulama dari Quraisy meriwayatkan kepadaku bahwa Shafwan bin Umayyah berkata kepada 'Umair bin Wahb: "Celakalah engkau, pergilah dariku dan janganlah berbicara denganku, karena engkau pandai berdusta." Shafwan bin Umayyah berkata seperti itu karena sikap 'Umair bin Wahb kepadanya, dan masalah ini telah aku jelaskan pada bagian akhir dari pembahasan tentang Perang Badar.428

    31. Pemuka Makkah masuk Islam

      Ummu Hakim dan 'Ikrimah

      Ummu Hakim binti al-Harits dan Fakhitah binti al-Walid masuk Islam; Ummu Hakim meminta jaminan bagi 'Ikrimah dan menyusulnya ke Yaman. Saat 'Ikrimah dan Shafwan masuk Islam, beliau mengesahkan pernikahan mereka dengan akad lama, dan 'Abdullah bin az-Zaba'ra juga masuk Islam.

      Baca selengkapnya

      Az-Zuhri meriwayatkan kepadaku bahwa Ummu Hakim binti al-Harits bin Hisyam dan Fakhitah binti al-Walid masuk Islam. Fakhitah binti al-Walid merupakan istri Shafwan bin Umayyah, sedang Ummu Hakim adalah istri 'Ikrimah bin Abu Jahal. Ummu Hakim meminta jaminan keamanan kepada beliau untuk 'Ikrimah bin Abu Jahal dan beliau mengabulkannya. Kemudian Ummu Hakim menyusul 'Ikrimah bin Abu Jahal ke Yaman dan kembali dengan membawa 'Ikrimah bin Abu Jahal. Pada saat 'Ikrimah bin Abu Jahal dan Shafwan bin Umayyah masuk Islam, beliau melegalkan pernikahan keduanya dengan istri mereka berdua dengan akad nikahnya dahulu sebelum masuk islam.1

      Ketika berita tentang keislaman para pemuka Quraisy terdengar oleh 'Abdullah bin az-Zaba'ra, ia pun pergi menghadap Rasulullah dan masuk Islam

    32. Syair Hubairah

      Tetap kafir di Najran

      Hubairah bin Wahb al-Makhzumi menetap di Najran dan wafat dalam keadaan kafir; ketika mendengar istrinya, Ummu Hani', masuk Islam, ia bersyair.

      Baca selengkapnya

      Adapun Hubairah bin Wahb al-Makhzumi, ia menetap di Najran hingga meninggal dalam keadaan kafir. Istrinya bernama Ummu Hani' binti Abu Thalib yang bernama asli Hindun. Ketika Hubairah mendengar Ummu Hani' masuk Islam, ia bertutur:1

      Adakah engkau rindu kepada Hindun atau kau mendengar dia bertanya tentangmu ?

      Begitulah jarak itu, menghasilkan perubahan dari waktu ke waktu

      Dia tidak mampu tidur di puncak benteng kokoh di Najran

      Khayalannya melayang jauh malam demi malam

      Ia pengeritik yang bertiup membangunkanku di malam hari untuk mencelaku

      Dia menghinaku sungguh sesat apa yang ia perbuat terhadapku

      Ia kira bila aku mentaati margaku, maka aku menjadi hina

      Padahal yang membuatku hina adalah karena aku kehilangan dia dan ia membunuhku

      Aku berasal dari kaum yang jika semangat mereka meninggi dalam segala keadaannya

      Aku melindungiku keluargaku dari belakang mereka

      Tatkala mereka bergerak di bawah ujung tombak

      Tangan keluargaku memegang pedang-pedang

      Laksana pedang yang biasa dimainkan anak-anak yang ada bayangannya

      Sungguh aku benci kepada orang-orang yang dengki dan perbuatan mereka

      Rezekiku dan rezeki keluargaku berada di Tangan Allah

      Perkataan seseorang yang tidak pada tempatnya

      Adalah seperti anak panah yang meluncur tanpa pengaruh apa-apa

      Jika engkau telah mengikuti agama Muhammad

      Dan tali-tali telah menyatukan keluarga

      Maka tinggallah engkau di atas dataran tinggi sambil bolak-balik

      Yang diliputi debu kering yang lembab.29

    33. Jumlah pasukan

      Sepuluh ribu orang

      Menurut Ibnu Ishaq, pasukan pada penaklukan Makkah berjumlah sepuluh ribu: Sulaim tujuh ratus (atau seribu), Ghifar empat ratus, Aslam empat ratus, Muzainah seribu tiga orang, dan sisanya dari Quraisy, Anshar, sekutu mereka, serta kabilah Tamim, Qais, dan Asad.

      Baca selengkapnya

      Jumlah kaum Muslimin yang ikut serta pada pembebasan Makkah adalah sepuluh ribu orang; dari Bani Sulaim sebanyak tujuh ratus orang, pendapat lain mengatakan seribu orang, dari Bani Ghifar sebanyak empat ratus orang, dari Aslam empat ratus orang, dan dari Muzainah sebanyak seribu tiga orang. Adapun sisanya berasal dari Quraisy, kaum Anshar, sekutu-sekutu mereka, dan kabilah-kabilah Arab dari Tamim, Qais, dan Asad.1

    34. 'Abbas bin Mirdas

      Membakar berhala Dhimar

      'Abbas bin Mirdas membakar berhala Dhimar milik ayahnya, lalu menemui beliau dan masuk Islam.

      Baca selengkapnya

      Kisah masuk Islamnya 'Abbas bin Mirdas, -seperti diriwayatkan kepadaku oleh ulama pakar melalui syairnya bahwa ayah 'Abbas, Mirdas, memiliki berhala yang biasa disembah, yaitu berupa batu bernama Dhimar. Pada saat dia akan meninggal dunia, Mirdas berkata kepada 'Abbas: "Wahai anakku, sembahlah Dhimar, karena ia dapat memberi manfaat dan mudharat kepadamu." 'Abbas lalu mendatangi berhala Dhimar kemudian ia membakar berhala Dhimar tersebut, lalu menemui Rasulullah dan masuk Islam.4

    35. Khalid di Bani Jadzimah

      Berdakwah, bukan berperang

      Beliau mengirim pasukan ke sekitar Makkah untuk berdakwah, bukan berperang, termasuk Khalid ke Tihamah bawah. Bani Jadzimah mengambil senjata, Khalid menyuruh mereka meletakkannya, dan Jahdam menolak sampai dibujuk kaumnya; setelah mereka meletakkannya, Khalid membunuh sebagian. Beliau mengangkat tangan dan berdoa berlepas diri dari perbuatan Khalid.

      Baca selengkapnya

      Rasulullah mengirim para pasukan perang ke wilayah-wilayah di sekitar Makkah untuk mengajak manusia ke jalan Allah dan bukan untuk berperang. Di antara sahabat yang beliau kirim ialah Khalid bin Walid. Beliau menyuruh Khalid bin Walid pergi ke daerah Tihamah bagian bawah sebagai dai dan bukan sebagai tentara perang. Namun ketika Khalid bin Walid tiba di Bani Jadzimah, dia membunuh salah seorang dari Bani Jadzimah. Mengenai hal ini, 'Abbas bin Mirdas menuturkan syair:1

      Jika engkau mengangkat Khalid sebagai komandan pasukan

      Dan mengedepankannya, sungguh ia telah maju dan menjadi komandan pasukan

      Mudah-mudahan Allah memberinya petunjuk dan engkau adalah komandannya

      Dengannya, kami menangkan kebenaran atas siapa yang berlaku zalim

      Ibnu Hisyam: Bait-bait syair di atas merupakan penggalan dari syair 'Abbas bin Mirdas di Perang Hunain dan insya Allah akan aku paparkan pada bahasan yang lain.

      Setelah selesai pembebasan Makkah, beliau mengutus Khalid bin Walid sebagai dai dan bukan sebagai tentara. Khalid bin Walid berangkat menunaikan tugasnya ditemani oleh beberapa kabilah Arab; antara lain kabilah Sulaim bin Manshur dan kabilah Mudlij bin Murrah. Khalid bin Walid tiba di Bani Jadzimah bin 'Amir bin 'Abdu Manat bin Kinanah. Pada saat kabilah Bani Jadzimah melihat kedatangan Khalid bin Walid, mereka mengambil senjata. Khalid bin Walid berkata: "Turunkanlah senjata kalian, karena orang-orang telah masuk Islam."30

      Beberapa orang ulama yang berasal dari Bani Jadzimah meriwayatkan kepadaku bahwa saat Khalid bin Walid meminta kami meletakkan senjata, salah seorang dari kami bernama Jahdam, berkata: "Wahai Bani Jadzimah celakalah kalian, dia adalah Khalid. Demi Allah, yang akan terjadi setelah peletakan senjata hanyalah penawanan dan pembunuhan. Demi Allah, aku tidak akan meletakkan senjata selamanya." Kemudian Jahdam dipegang oleh beberapa orang dari kaumnya dan mereka berkata padanya: "Wahai Jahdam, apakah engkau hendak menumpahkan darah kami? Sesungguhnya orang-orang telah masuk Islam, meletakkan senjata, menghentikan perang, dan telah merasa aman." Itulah yang terjadi hingga mereka merebut senjata Jahdam dan meletakkannya atas perintah Khalid bin Walid.1

      Hakim bin Hakim meriwayatkan kepadaku dari Abu Ja'far Muhammad bin 'Ali, ia berkata bahwa ketika orang-orang Bani Jadzimah meletakkan senjata, Khalid bin Walid menyuruh mereka meletakan kedua tangan di atas pundak dan kemudian Khalid bin Walid mengacungkan pedangnya lalu membunuh orang-orang yang memberontak diantara mereka. Saat berita tentang kejadian ini sampai kepada Rasulullah, beliau mengangkat tangan ke langit, seraya berdo'a: "Ya Allah, aku berlepas diri kepada-Mu dari perbuatan Khalid bin Walid."131

    36. 'Ali ke Bani Jadzimah

      Mimpi roti haits

      Beliau bermimpi makan roti haits yang tersangkut di tenggorokan lalu dikeluarkan 'Ali; Abu Bakar menyarankan mengutus 'Ali. Seorang Jadzimah melapor, dan 'Umar menyebut 'Abdullah bin 'Umar serta Salim mantan budak Abu Hudzaifah sebagai penentang Khalid. 'Ali membayar diyat darah dan harta mereka sampai tempat minum anjing, lalu beliau menghadap kiblat dan berlepas diri dari perbuatan Khalid tiga kali.

      Baca selengkapnya

      Beberapa ulama meriwayatkan kepadaku dari Ibrahim bin Ja'far al-Mahmudi, ia berkata bahwa beliau bersabda: "Aku bermimpi makan sepotong roti haits (kurma yang dicampur mentega) dan merasakan kelezatannya, namun tiba-tiba sebagian makanan tersebut berhenti di tenggorokanku, kemudian 'Ali bin Abu Thalib memasukkan tangannya dan mengeluarkan makanan yang menyumbat tersebut." Abu Bakar ash-Shiddiq berkata: "Wahai Rasulullah, salah satu dari pasukan yang engkau kirim mendatangkan kabar yang menyenangkanmu dan pasukan lainnya mendatangkan hambatan, oleh karena itu, utuslah 'Ali untuk menyelesaikan hambatan tersebut."4

      Salah seorang dari Bani Jadzimah melarikan diri kemudian menemui beliau dan melaporkan kejadian itu kepada beliau. Beliau bersabda, "Apakah ada orang yang menentang tindakan Khalid?" Orang tersebut menjawab: "Iya ada. Tindakan Khalid bin Walid tersebut ditentang orang yang kulitnya putih dan tingginya sedang, namun ia di bentak oleh Khalid bin Walid kemudian orang tersebut diam. Tindakan Khalid bin Walid juga ditentang orang lain yang tinggi dan kurus. Kedua orang itu terus menentang sehingga terjadi perselisihan sengit." 'Umar bin Khaththab berkata: "Wahai Rasulullah, orang pertama adalah anakku, 'Abdullah bin 'Umar, sedang orang kedua adalah Salam mantan budak Abu Hudzaifah."4

      Kemudian Rasulullah memanggil 'Ali bin Abu Thalib lalu bersabda: "Wahai 'Ali, berangkatlah ke Bani Jadzimah, lihatlah masalah mereka, dan letakkan urusan jahiliyah di bawah kedua kakimu." 'Ali bin Abu Thalib pun berangkat dan tiba di Bani Jadzimah dengan membawa harta yang dikirim beliau. 'Ali bin Abu Thalib memberi diyat (ganti rugi) atas darah mereka dan kekayaan mereka, hingga memberi diyat (ganti rugi) atas tempat minum anjing milik mereka yang rusak. Seluruh darah dan kekayaan diberi diyat oleh 'Ali bin Abu Thalib hingga harta yang dibawanya hanya tersisa sedikit saja. Kemudian 'Ali bin Abu Thalib berkata kepada mereka: "Apakah ada darah dan kekayaan kalian yang lain yang belum diberi diyat? Mereka menjawab: "Tidak ada." 'Ali bin Abu Thalib berkata: "Sisa harta ini aku berikan kepada kalian sebagai wujud kehati-hatian Rasulullah atas apa yang tidak beliau ketahui dan tidak kalian ketahui." Lalu 'Ali bin Abu Thalib menyerahkan sisa harta tersebut kepada mereka, kemudian pulang menghadap beliau dan melaporkan kepadanya atas apa yang ia telah lakukan. Kemudian beliau bersabda: "Engkau bertindak benar dan baik." Setelah itu, beliau berdiri menghadap kiblat, mengangkat kedua tangannya hingga tampak ketiaknya, lalu berkata: "Ya Allah, aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang diperbuat Khalid bin Walid." Rasulullah mengucapkannya sebanyak tiga kali.3233

    37. Pembelaan Khalid

      Perselisihan dengan 'Abdurrahman bin 'Auf

      Sebagian membela Khalid dengan mengatakan 'Abdullah bin Hudzafah menyuruhnya memerangi mereka. Khalid dan 'Abdurrahman bin 'Auf berselisih soal dendam atas kematian ayah 'Abdurrahman dan paman Khalid, dan beliau menegur Khalid. Ibnu Ishaq menerangkan latarnya: al-Fakih, 'Auf, dan 'Affan berdagang ke Yaman, dua di antaranya dibunuh Khalid bin Hisyam, lalu 'Abdurrahman membunuhnya dan Jadzimah menawarkan diyat.

      Baca selengkapnya

      Sebagian orang membela Khalid bin Walid dengan berkata bahwa Khalid bin Walid berkata: Aku memerangi mereka karena disuruh oleh 'Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi yang berkata bahwa Rasulullah memerintahkanmu memerangi mereka sebab mereka menolak masuk Islam.1

      Abu 'Amr al-Madani berkata bahwa ketika orang-orang Bani Jadzimah didatangi Khalid bin Walid, mereka berkata: "Kami telah mengganti agama kami, kami telah mengganti agama kami."4

      Jahdam berkata kepada Bani Jadzimah saat ia melihat mereka menurunkan senjata dan melihat tindakan Khalid bin Walid terhadap mereka: "Wahai orang-orang Bani Jadzimah. Apa yang kalian alami saat ini, sebelumnya telah aku peringatkan kepada kalian." Khalid bin Walid berbicara dengan 'Abdurrahman bin 'Auf. Lalu 'Abdurrahman bin 'Auf berkata: "Wahai Khalid, engkau telah melakukan tindakan jahiliyah dalam Islam." Khalid bin Walid berkata: "Aku membalas dendam atas kematian ayahmu." 'Abdurrahman bin 'Auf berkata: "Engkau berdusta. Karena aku telah membunuh pembunuh ayahku dan engkau hanyalah membalas dendam atas kematian pamanmu, al-Fakih bin al-Mughirah." Demikianlah yang terjadi hingga perbincangan keduanya meruncing. Hal tersebut didengar oleh Rasulullah, lalu beliau bersabda: "Pelan-pelan wahai wahai Khalid dan biarkan sahabat-sahabatku. Demi Allah, andai engkau memiliki emas sebesar gunung Uhud, lalu engkau menginfakkannya di jalan Allah, niscaya engkau tidak akan mampu menyamai pahala salah seorang sahabatku di pagi atau di sore hari."1

      Al-Fakih bin al-Mughirah bin 'Abdullah bin 'Umar bin Makhzum, 'Auf bin 'Abdu 'Auf bin 'Abdul Harits bin Zuhrah, dan 'Affan bin Abu al-'Ash bin Umayyah bin 'Abdu Syams pergi untuk berniaga ke Yaman. 'Affan membawa putranya, 'Utsman, dan 'Auf pun membawa putranya, 'Abdurrahman. Ketika mereka kembali dari Yaman, mereka membawa harta salah seorang dari Bani Jadzimah yang wafat di Yaman untuk diserahkan kepada ahli warisnya. Harta tersebut diakui oleh salah seorang Bani Jadzimah bernama Khalid bin Hisyam dan ia menemui orang-orang Quraisy tersebut di sebuah daerah di Bani Jadzimah sebelum mereka tiba di keluarga mayit, akan tetapi mereka menolak memberikan harta tersebut kepada Khalid bin Hisyam. Kemudian Khalid bin Hisyam bersama beberapa orang dari kaumnya menyerang orang-orang Quraisy tersebut untuk merebut harta itu dan kejadian ini menewaskan 'Auf bin 'Abdu 'Auf dan al-Fakih bin al-Mughirah, adapun 'Affan bin Abu al-'Ash beserta anaknya selamat.1

      Orang-orang Bani Jadzimah merampas harta al-Fakih bin al-Mughirah dan harta 'Auf bin 'Abdu 'Auf lalu membawanya pergi. Kemudian 'Abdurrahman bin 'Auf membunuh Khalid bin Hisyam yang telah membunuh ayahnya. Setelah itu, orang-orang Quraisy hendak menyerang Bani Jadzimah, namun orang-orang Bani Jadzimah berkata kepada mereka: "Mereka tidak dibunuh oleh orang-orang kami, namun mereka dibunuh oleh salah satu kaum karena mereka tidak tahu. Kemudian mereka membunuhnya tanpa sepengetahuan kami. Kami akan membayar diyat (ganti rugi) darah dan harta kalian." Akhirnya, orang-orang Quraisy pun menerima tawaran tersebut dari Bani Jadzimah dan mengurungkan niat perangnya.34

    38. Pemuda Jadzimah

      Permintaan terakhir

      Ibnu Abu Hadrad al-Aslami menuturkan seorang pemuda Jadzimah yang terikat meminta dibawa kepada para wanita sebelum dieksekusi; lehernya dipancung, dan wanita itu menindih kepalanya, menciumnya, dan meninggal di sisinya.

      Baca selengkapnya

      Waktu itu aku ikut bersama pasukan berkuda Khalid bin Walid. Salah seorang pemuda dari Bani Jadzimah yang seusia denganku berkata kepadaku -ketika itu kedua tangannya diikat ke tengkuk dengan tali dan wanita-wanita berkumpul tidak jauh darinya: "Wahai anak muda." "Ya, ada apa?" jawabku. Ia berkata: "Sudikah engkau mengambil tali dari leherku kemudian menuntunku kepada wanita-wanita itu untuk memenuhi kebutuhanku kemudian engkau mengembalikanku ke tempat semula dan engkau dapat melakukan apa saja kepadaku?" Aku berkata: "Ya! demi Allah, betapa remeh permintaanmu itu." Kemudian, aku mengambil talinya lalu menuntun dan membawanya kepada para wanita itu. Ia berkata: "Tenanglah wahai Hubaisy walau kehidupan akan berakhir."35

      Sebagian besar pakar syair berpendapat bahwa dua bait syair terakhir bukan milik orang tersebut.4

      Wanita tersebut bertutur: "Dan engkau semoga mendapat tambahan umur tujuh belas ganjil atau delapan belas genap." Kemudian aku pergi bersama pemuda tersebut lalu lehernya dipancung.36

      Ketika kepala pemuda tadi dipenggal, wanita itu mendekat dan menindihnya. Ia terus menerus mencium pemuda tersebut hingga wanita itu pun meninggal di sisinya.37

    39. Al-'Uzza dihancurkan

      Khalid ke Nakhlah

      Beliau mengirim Khalid ke al-'Uzza di Nakhlah; penjaganya dari Bani Syaiban menggantungkan pedangnya pada berhala itu dan naik ke gunung, lalu Khalid menghancurkannya dan kembali menghadap.

      Baca selengkapnya

      Setelah itu, Rasulullah mengirim Khalid bin Walid ke lokasi berhala al-'Uzza yang terletak di daerah Nakhlah. Al-'Uzza adalah rumah yang di agung-agungkan oleh warga setempat, yaitu orang-orang Quraisy, Kinanah, dan Mudhar. Kuncen al-'Uzza adalah Bani Syaiban dari Bani Sulaim sekutu Bani Hasyim. Ketika pemilik al-'Uzza dari Bani Sulaim mengetahui keberangkatan Khalid bin Walid ke al-'Uzza, ia menggantungkan pedangnya ke atas al-'Uzza dan ia naik ke puncak gunung dimana al-'Uzza berada. Ketika Khalid bin Walid tiba di sana, ia menghancurkan berhala al-'Uzza, lalu beliau kembali ke menghadap Rasulullah.1

    40. Lima belas malam di Makkah

      Mengqashar shalat

      Setelah penaklukan beliau menetap di Makkah lima belas malam dan mengqashar shalat; penaklukan terjadi pada 20 Ramadhan tahun 8 H.

      Baca selengkapnya

      Setelah pembebasan Makkah, Rasulullah menetap di Makkah selama lima belas malam. Dan selama masa itu, beliau mengqashar shalat.38

      Pembebasan Makkah terjadi padatanggal 20 Ramadhan tahun ke delapan Hijriyah.139

    Catatan

    1. Ibnu Ishaq.
    2. Ejaan: tercetak "bertempu", kami membaca "bertemu".
    3. Ejaan: tercetak "Habibab", kami membaca "Habibah"; tercetak "depadanya", kami membaca "kepadanya"; tercetak "menjjawab", kami membaca "menjawab".
    4. Tambahan Ibnu Hisyam.
    5. Ibnu Ishaq. Sanad: Muhammad bin Ja'far bin Zubair meriwayatkan kepadaku dari 'Urwah bin Zubair dan yang lainnya. Mereka.
    6. Nomor catatan kaki "184" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat. ejaan: tercetak "Jangit", kami membaca "langit"; tercetak "mendorongnmu", kami membaca "mendorongmu"; tercetak "memilki", kami membaca "memiliki".
    7. Ibnu Ishaq. Sanad: Muhammad bin Muslim bin Syihab az-Zuhri meriwayatkan kepadaku dari 'Ubaidillah bin 'Abdullah bin 'Utbah bin Mas'ud, dari 'Abdullah bin 'Abbas.
    8. Ejaan: tercetak "lika tidak", kami membaca "Jika tidak".
    9. Ejaan: tercetak "engakau", kami membaca "engkau"; tercetak "leherya", kami membaca "lehernya".
    10. Nomor catatan kaki "185" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat. ejaan: tercetak "lelauasa", kami membaca "leluasa".
    11. Ibnu Ishaq. Sanad: Yahya bin 'Abbad bin 'Abdullah bin Zubair meriwayatkan kepadaku dari ayahnya dari neneknya, Asma' binti Abu Bakar.
    12. Nomor catatan kaki "186" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat. ejaan: tercetak "Qufahah", kami membaca "Quhafah".
    13. Ejaan: tercetak "kakum", kami membaca "kaum".
    14. Ejaan: tercetak "Altan", kami membaca "'Affan"; tercetak "sesudan", kami membaca "sesudah"; tercetak "watatnya", kami membaca "wafatnya"; tercetak "Abdulllah", kami membaca "Abdullah"; tercetak "Nugaidz", kami membaca "Nuqaidz". Penulisan nama pada terjemahan tidak seragam, misalnya "Abdullah bin Hazhal", "Abdullah bin Khaththal", dan "Abdullah bin Khathal", serta "Miqyas bin Hubabah" dan "Miqyas bin Shubabah"; kami memuatnya sebagaimana tercetak.
    15. Ibnu Ishaq. Sanad: Sa'id bin Abu Hindun meriwayatkan kepadaku dari Abu Murrah mantan budak Aqil bin Abu Thalib bahwa Ummu Hani' binti Abu Thalib.
    16. Nomor catatan kaki "187" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat. ejaan: tercetak "Habuirah", kami membaca "Hubairah"; tercetak "menghapiriku", kami membaca "menghampiriku".
    17. Ibnu Ishaq. Sanad: Muhammad bin Ja'far bin Zubair meriwayatkan kepadaku dari 'Ubaidillah bin 'Abdullah bin Abu Tsaur dari Shafiyyah binti Syaibah.
    18. Nomor catatan kaki "188" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat. ejaan: tercetak "kira-kita", kami membaca "kira-kira".
    19. Nomor catatan kaki "189" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat. ejaan: tercetak "Allah Ta'ah", kami membaca "Allah Ta'ala"; tercetak "tanganya", kami membaca "tangannya".
    20. Ibnu Ishaq. Sanad: Sa'id bin Sandar al-Aslami meriwayatkan kepadaku dari seseorang dari kaumnya.
    21. Ibnu Ishaq. Sanad: 'Abdurrahman bin Harmalah al-Aslami meriwayatkan kepadaku dari Sa'id bin al-Musayyib.
    22. Nomor catatan kaki "190" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat.
    23. Ibnu Ishaq. Sanad: Sa'id bin Abu Sa'id al-Maqburi meriwayatkan kepadaku dari Abu Syuraih al-Khuzai.
    24. Nomor catatan kaki "191" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat. ejaan: tercetak "kabliah", kami membaca "kabilah"; tercetak "duhulu", kami membaca "dahulu".
    25. Ejaan: tercetak "berilndung", kami membaca "berlindung".
    26. Nomor catatan kaki "192" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat. ejaan: tercetak "pembebeasan", kami membaca "pembebasan".
    27. Ibnu Ishaq. Sanad: Muhammad bin Ja'far meriwayatkan kepadaku dari 'Urwah bin Zubair.
    28. Ejaan: tercetak "bin Wab", kami membaca "bin Wahb".
    29. Ejaan: tercetak "keadannya", kami membaca "keadaannya".
    30. Ibnu Ishaq. Sanad: Hakim bin Hakim bin 'Abbad bin Hunaif meriwayatkan kepadaku dari Abu Ja'far Muhammad bin 'Ali.
    31. Nomor catatan kaki "193" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat. ejaan: tercetak ".pasa saat", kami membaca ". Pada saat".
    32. Ibnu Ishaq. Sanad: Hakim bin Hakim meriwayatkan kepadaku dari Abu Ja'far bin Muhammad bin 'Ali.
    33. Ejaan: tercetak "diyatV'", kami membaca "diyat?".
    34. Ejaan: tercetak "bebagian", kami membaca "sebagian"; tercetak "Abdurahman", kami membaca "Abdurrahman".
    35. Ibnu Ishaq. Sanad: Ya'qub bin 'Utbah bin al-Mughirah bin al-Akhnas meriwayatkan kepadaku dari az-Zuhri dari Ibnu Abu Hadrad al-Aslami.
    36. Ibnu Ishaq. Sanad: Ya'qub bin 'Utbah bin al-Mughirah bin al-Akhnas meriwayatkan kepadaku dari az-Zuhri dari Ibnu Abu Hadrad al-Aslami.
    37. Ibnu Ishaq. Sanad: Abu Firas bin Abu Sunbulah al-Aslami meriwayatkan kepadaku dari orang-orang tua mereka dari orang-orang yang menyaksikan peristiwa di atas.
    38. Ibnu Ishaq. Sanad: Ibnu Syihab az-Zuhri meriwayatkan kepadaku dari 'Ubaidillah bin 'Abdullah bin 'Utbah bin Mas'ud.
    39. Nomor catatan kaki "194" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat.

    Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Bab berikutnya membahas Perang Hunain.