Isi bab ini
Bab ini memuat Perang Hunain menurut Ibnu Hisyam: Hawazin dan Tsaqif berkumpul di Authas di bawah Malik bin 'Auf, nasihat Duraid bin ash-Shimmah, pengintai, baju besi pinjaman dari Shafwan, pohon Dzatu Anwath, serangan mendadak di lembah, ketegaran beliau, seruan al-'Abbas, kekalahan Hawazin, gugurnya Duraid dan Abu 'Amir, Syaima' saudari sesusuan beliau, serta daftar syuhada'.
Hawazin dan Tsaqif berkumpul
Setelah Makkah dibebaskan, Malik bin 'Auf an-Nashri menyatukan Hawazin dan seluruh Tsaqif, ditambah Nashr, Jusyam, Sa'ad bin Bakr, dan sedikit dari Bani Hilal. Mereka berangkat membawa harta, istri, dan anak-anak sampai Lembah Authas; nasihat Duraid bin ash-Shimmah untuk menempatkan keluarga di tempat yang sulit dijangkau ditolak.
Dua belas ribu orang
Beliau meminjam seratus baju besi dari Shafwan bin Umayyah dan berangkat bersama dua ribu orang Makkah dan sepuluh ribu orang dari penaklukan Makkah, total dua belas ribu; 'Attab bin Usaid memimpin Makkah.
Disergap di lembah
Menurut Jabir, kaum Muslimin singgah di lembah Tihamah pada tengah malam yang gelap, sedangkan Hawazin sudah bersembunyi di salah satu jalan lebih dulu. Mereka menyerang serentak dan pasukan lari kocar-kacir; hanya sedikit yang bertahan bersama beliau.
Seruan al-'Abbas
Atas perintah beliau, al-'Abbas berseru memanggil orang-orang Anshar dan pemilik samurah; mereka menjawab "labbaika" dan kembali. Tujuh puluh orang Tsaqif Bani Malik terbunuh, dan Ibnu Ishaq menyebut empat syuhada' Muslimin (hitungan kami).
Makkah, Hunain, Thaif, dan al-Ji'ranah
Titik Makkah, Hunain, Thaif, dan al-Ji'ranah diambil dari Wikipedia; titik Hunain berpresisi rendah. Authas dan Nakhlah tidak ditandai karena koordinatnya belum kami verifikasi.
Dari Authas sampai syuhada' Hunain
Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.
- Hawazinberkumpul
- Duraidbin ash-Shimmah
- PengintaiMalik
- Abu Hadradmenyelidiki
- Baju besiShafwan
- PohonDzatu Anwath
- Seranganmendadak
- Ucapandendam
- Syaibahbin Utsman
- Seruanal-'Abbas
- UmmuSulaim
- Abu Qatadahdan salab
- Hawazinkalah
- Duraidterbunuh
- Malikdi jalan sempit
- Abu 'Amiral-Asy'ari
- Laranganmembunuh wanita
- Bijaddan Syaima'
- Ayat dansyuhada'
Denah dan urutan pertempuran di lembah Hunain
Denah skematik lembah ini kami gambar sendiri dari Haykal, Khan, dan peta skematik Wikipedia; urutan peristiwa dari Ibnu Ishaq. Arah mata angin dan skala tidak digambar karena tidak ada sumber yang memberinya.
- Hawazin dan Tsaqif masuk lembah lebih dulu dan bersembunyi: menurut Jabir dalam Ibnu Ishaq di salah satu jalan, menurut Haykal di sisi-sisi ngarai dan bukit-bukit Sulaim di pintu lembah (tempat kaum Muslimin berkemah semalam), menurut Khan di bukit-bukit di atas, dan menurut peta skematik Wikipedia di kedua sisi lembah.
- Pasukan Muslim melewati lembah. Menurut Haykal Khalid dan Bani Sulaim di depan dan beliau di belakang; pemanah Hawazin menyerang dari kedua sisi, lalu pasukan menyerbu serentak (kotak putus-putus: pasukan berkuda di ujung lembah hanya ada pada peta Wikipedia).
- Kaum Muslimin lari kocar-kacir; beliau bergeser ke kanan dan menyeru mereka, tetapi hanya beberapa orang Muhajirin, Anshar, dan keluarga beliau yang bertahan.
- Atas sabda beliau, al-'Abbas berseru memanggil Anshar dan pemilik samurah, dan mereka menjawab "labbaika".
- Sekitar seratus orang berkumpul di sisi beliau, lalu maju; 'Ali dan seorang Anshar menjatuhkan pembawa panji Hawazin, dan para tawanan segera tampak terikat di samping beliau.
- Malik berhenti bersama pasukan berkudanya di jalan sempit sebuah gunung agar yang lemah lewat lebih dulu; Zubair bin 'Awwam mengusir mereka.
- Kaum musyrik pergi ke Thaif bersama Malik; sebagian berkemah di Lembah Authas dan sebagian ke Nakhlah, tempat hanya Bani Ghiyarah dari Tsaqif pergi.
- Beliau memerintahkan tawanan dan rampasan dibawa ke al-Ji'ranah dan dijaga oleh Mas'ud bin 'Amr al-Ghifari.
Strategi Hawazin menurut Ibnu Ishaq: Malik membawa keluarga dan harta ke belakang barisan agar setiap orang membela mereka; ia memerintahkan pasukannya mematahkan sarung pedang dan menyerang seperti satu orang, dan ia mengirim pengintai. Duraid bin ash-Shimmah menyarankan menempatkan keluarga di tempat sulit dijangkau lalu menghadapi kaum Muslimin di atas kuda, tetapi Malik menolak. Strategi kaum Muslimin: beliau mengirim 'Abdullah bin Abu Hadrad menyelidiki, meminjam seratus baju besi dari Shafwan, dan berangkat dengan dua belas ribu orang.
Soal denah. Kami memeriksa Ibnu Hisyam, Haykal, Khan, teks artikel Wikipedia (Battle of Hunayn) beserta peta skematiknya, dan Wikishia. Tidak satu pun memberi arah mata angin di dalam lembah: Ibnu Ishaq hanya menyebut "salah satu jalan", Haykal "puncak bukit-bukit Sulaim di pintu lembah" dan "sisi-sisi ngarai", Khan "bukit-bukit di atas", teks Wikipedia "jalan, pintu masuk, dan tempat sembunyi sempit". Bentuk koridor dengan sisi bukit kami ambil dari Haykal, Khan, dan peta skematik Wikipedia, yang menempatkan titik sergap di kedua sisi; peta itu tidak menyebut sumbernya, sehingga pasukan berkuda di ujung lembah yang hanya ada padanya kami beri kotak putus-putus. Letak Khalid kami ikuti dari Haykal, bukan dari peta itu. Skala dan mata angin tidak digambar.
| Pasukan | Jumlah | Peran yang disebut Ibnu Hisyam |
|---|---|---|
| Kaum Muslimin | 12.000 (Ibnu Hisyam, Haykal, Khan, Wikipedia) | 2.000 dari Makkah dan 10.000 dari penaklukan Makkah (Ibnu Hisyam); Haykal menyebut pasukan berkuda dan unta pengangkut perbekalan di depan, serta Khalid dengan Bani Sulaim sebagai barisan depan; seratus baju besi pinjaman dari Shafwan; 'Attab bin Usaid memimpin Makkah. |
| Hawazin dan sekutu | tidak disebut (Ibnu Hisyam, Haykal) | Hawazin, Tsaqif, Nashr, Jusyam, Sa'ad bin Bakr, sedikit Bani Hilal; Ka'ab dan Kilab tidak ikut; di belakang mereka ikut keluarga, harta, dan ternak; pasukan berkuda disebut saat Malik bertahan di jalan sempit; jenis pasukan lain tidak disebut. |
Dari Haykal. Bagian ini bukan dari Ibnu Hisyam. Haykal menulis Malik berusia tiga puluh tahun dan Duraid buta, dan bahwa Malik memerintahkan pasukannya berdiri di puncak bukit-bukit Sulaim di pintu lembah lalu menyerbu serentak saat kaum Muslimin lewat berbaris di ngarai. Ia menulis kaum Muslimin tiba pada sore hari dan berkemah di pintu lembah, bergerak saat fajar, dan diserang sebelum fajar dengan panah lalu serbuan. Ia menulis di sekitar beliau berdiri beberapa ratus orang, lalu barisan bertambah ketika yang lari kembali; beliau melempar segenggam kerikil dan berseru, lalu kaum Muslimin menyerbu. Ia menulis kaum Muslimin mengejar sampai dataran Authas, dan dua kabilah Muslim hampir habis.
Dari sumber lain. Bagian ini bukan dari Ibnu Hisyam, dan belum kami periksa pada kitab asalnya. Menurut artikel Wikipedia Battle of Hunayn (https://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Hunayn), Malik memerintahkan pasukannya bersembunyi di dalam lembah "pada jalan, pintu masuk, dan tempat sembunyi yang sempit", dan pasukan Muslim tiba pada malam Rabu 10 Syawal; kotak info menulis 12.000 orang Muslim dan 20.000 musuh dengan empat Muslim gugur. Artikel itu memuat peta skematik karya SPQR10 (CC0, berjudul Battle of Hunayn (630 CE) - Schematic Map) yang kami lihat dari tangkapan layar Jagat; peta itu menunjukkan lembah dengan titik sergap dan pemanah Hawazin di kedua sisi, pasukan berkuda Hawazin di ujung lembah, pasukan Muslim di ujung yang menuju Makkah, serta Khalid dan beliau bersama al-'Abbas di tengah, menulis 12.000 pasukan Muslim dan 20.000 Hawazin dan Tsaqif, dan tidak menyebut sumbernya. Menurut Wikishia (https://en.wikishia.net/view/Battle_of_Hunayn), Hunain di timur laut Makkah, dan al-Ji'ranah di barat laut lembah Hunain; kotak infonya menulis empat Muslim gugur serta 70 orang Bani Malik dan 150 Hawazin terbunuh, sedangkan teksnya hanya menyebut 70 orang Bani Malik. Khan (bagian 98) menulis dua belas ribu orang terjebak di lembah dalam dan diserang dari bukit-bukit di atas mereka.
Perbedaan sumber
Waktu dan tempat berhenti. Menurut Jabir dalam Ibnu Ishaq, kaum Muslimin singgah di lembah Tihamah pada tengah malam yang gelap, dan Hawazin sudah lebih dulu bersembunyi di salah satu jalan. Haykal menulis mereka tiba pada sore hari, berkemah di pintu lembah sampai subuh, lalu bergerak saat fajar dan diserang sebelum fajar di ngarai. Khan menulis kaum Muslimin terjebak di lembah dalam dan diserang dari bukit-bukit di atas mereka. Letak Hawazin. Haykal menulis Hawazin tinggal beberapa mil di tenggara Makkah, sedangkan artikel Wikipedia dan Wikishia menulis Hunain di timur laut Makkah. Barisan. Haykal menulis Khalid memimpin Bani Sulaim di barisan depan dan beliau di atas bighal putih di belakang, sedangkan peta skematik Wikipedia menempatkan Khalid di tengah dekat beliau dan al-'Abbas; Ibnu Ishaq hanya menyebut beliau di atas bighal putih dengan al-'Abbas memegang kekangnya. Tempat persembunyian Hawazin. Haykal menulis Malik memerintahkan pasukannya berdiri di puncak bukit-bukit Sulaim di pintu lembah dan menggali parit di sisi-sisi ngarai; Ibnu Ishaq menulis mereka bersembunyi di salah satu jalan. Seruan. Ibnu Ishaq menulis al-'Abbas berseru atas sabda beliau, "Wahai orang-orang Anshar, wahai pemilik samurah"; Haykal menulis al-'Abbas berseru kepada Anshar, Muhajirin, dan orang-orang yang berbaiat di bawah pohon. Segenggam kerikil. Haykal dan Wikipedia menulis beliau melempar segenggam kerikil atau tanah ke arah musuh; teks Ibnu Hisyam yang kami muat tidak memuatnya. Pembunuh Duraid. Ibnu Ishaq menulis Rabi'ah bin Rufay'i, dan Ibnu Hisyam menyebut pendapat lain yaitu 'Abdullah bin Qunay'i; Haykal menulis Ibnu ad-Dughunnah; Wikipedia menulis Rabi'ah bin Rafi'. Ke mana Malik lari. Ibnu Ishaq menulis kaum musyrik pergi ke Thaif bersama Malik, sebagian berkemah di Authas dan sebagian pergi ke Nakhlah; Haykal menulis Malik lari ke Nakhlah lalu ke Thaif. Jumlah musuh. Ibnu Ishaq dan Haykal tidak menyebutnya; kotak info Wikipedia menulis 20.000, sedangkan teksnya hanya menyebut 4.000 orang dalam pasukan penyergap. Tawanan dan rampasan. Haykal menulis 6.000 tawanan, 22.000 unta, 40.000 kambing, dan 4.000 ons perak; Wikipedia menulis 6.000 tawanan dan 24.000 unta; teks Ibnu Hisyam bab ini tidak menyebut angkanya.
- Hawazin berkumpul
Malik bin 'Auf menghimpun Hawazin dan Tsaqif
Ketika Hawazin mendengar penaklukan Makkah, Malik bin 'Auf an-Nashri menyatukan mereka bersama seluruh Tsaqif, Nashr, Jusyam, Sa'ad bin Bakr, dan sedikit dari Bani Hilal. Ka'ab dan Kilab tidak ikut. Mereka berangkat membawa harta, istri, dan anak-anak.
Baca selengkapnya
Ketika kabilah Hawazin mendengar berita tentang beliau dan pembebasan Makkah yang dianugerahkan Allah kepada beliau, mereka segera disatukan Malik bin 'Auf an-Nashri. Selain Kabilah Hawazin bergabung pula seluruh penduduk kabilah Tsaqif dengannya. Demikian pula seluruh penduduk kabilah Nashr, kabilah Jusyam, Sa'ad bin Bakr, dan beberapa orang dari Bani Hilal walaupun dalam jumlah yang sangat kecil. Dari Qais Ailan tidak ada yang ikut serta pada Perang Hunain kecuali orang-orang tadi. Orang-orang kabilah Hawazin yang tidak ikut serta pada perang Hunain ialah kabilah Ka'ab dan Kilab serta tak seorang pun dari mereka yang namanya diketahui ikut serta di perang ini. Dari Bani Jusyam terdapat Duraid bin ash-Shimmah, Ia seorang yang sudah tua namun pendapatnya brilian, ahli perang, dan sangat berpengalaman. Dari kabilah Tsaqif terdapat dua tokoh mereka. Dari Ahlaf ialah Qarib bin al-Aswad bin Mas'ud bin Muattib. Dari Bani Malik terdapat Dzu al-Khimar yang tidak lain adalah Subay'i bin al-Harits bin Malik dan saudaranya bernama Ahmar bin al-Harits. Pusat komando ada pada Malik bin 'Auf an-Nashri. Ketika Malik bin 'Auf an-Nashri telah bertekad bulat untuk menyerang Rasulullah, ia berangkat bersama pasukannya lengkap dengan harta, istri, dan anak-anak mereka.1
- Duraid bin ash-Shimmah
Nasihat orang tua yang tidak dituruti
Di Lembah Authas, Duraid bin ash-Shimmah mendengar suara unta, keledai, dan anak-anak, lalu mencela Malik karena membawa keluarga dan harta ke medan perang serta menyarankan menempatkan mereka di tempat yang sulit dijangkau. Malik menolak dan mengancam bersandar pada pedangnya, dan Hawazin berkata akan menaatinya.
Baca selengkapnya
Pada saat ia tiba di Lembah Authas, orang-orang berkumpul di tempat Malik bin 'Auf an-Nashri, termasuk Duraid bin ash-Shimmah yang berangkat dalam sekedup khusus. Saat Duraid bin ash-Shimmah turun dari sekedupnya, ia bertanya: "Di lembah manakah kalian berhenti?" Orang-orang menjawab: "Di Lembah Authas." Duraid bin ash-Shimmah berkata: "Tempat ini merupakan tempat terbaik untuk kuda. Tidak terlalu berbatu dan tidak pula terlalu banyak debu. Namun mengapa aku mendengar suara erangan unta, ringkik keledai, tangisan anak kecil, dan kambing mengembik?" Mereka menjawab: "Malik bin 'Auf an-Nashri berangkat bersama orang-orang dengan membawa serta seluruh harta, istri, dan anak mereka." Duraid bin ash-Shimmah bertanya: "Dimanakah Malik?" Malik bin 'Auf an-Nashri pun dipanggil. Duraid bin ash-Shimmah berkata: "Wahai Malik, kini engkau telah menjadi pemimpin kaummu dan sesungguhnya hari perang itu akan terjadi dan tidak akan terjadi lagi setelahnya. Namun mengapa mengapa aku mendengar suara unta, ringkik keledai, tangisan anak kecil, dan kambing mengembik?" Malik bin 'Auf an-Nashri menjawab, "Aku membawa orang-orang dengan mengikutsertakan seluruh harta, istri-istri, dan anak-anak mereka." Duraid bin ash-Shimmah bertanya: "Mengapa?" Malik bin 'Auf an-Nashri menjawab: "Aku ingin menempatkan istri dan harta di belakang setiap orang, agar ia berperang membela mereka." Duraid bin ash-Shimmah menghardik keras Malik bin 'Auf an-Nashri, kemudian Duraid bin ash-Shimmah berkata: "Demi Allah, strategi ini laksana penggembala kambing. Adakah sesuatu yang dapat menahan mundurnya seseorang yang lari dari medan laga? Jika engkau memperoleh kemenangan maka sesungguhnya yang bermanfaat bagimu hanyalah seseorang dengan pedang dan tombaknya. Jika kamu mengalami kekalahan, maka keluargamu akan mendapat malu pada keluarga dan hartamu." Duraid bin ash-Shimmah bertanya lagi: "Apa yang dilakukan kabilah Ka'ab dan kabilah Kilab?" Orang-orang menjawab: "Tak seorangpun di antara mereka yang ikut serta." Duraid bin ash-Shimmah berkata: "Kekuatan dan keberanian telah sirna. Bila yang akan terjadi adalah kejayaan, pasti tidak ada seorangpun yang tidak ikut serta dari kabilah Ka'ab dan kabilah Kilab.
Sungguh aku menginginkan kalian berbuat seperti apa yang dilakukan oleh kabilah Ka'ab dan Kilab. Lalu siapa saja yang ikut serta di antara kalian?" Orang-orang menjawab: "'Amr bin 'Amir dan 'Auf bin 'Amir." Duraid bin ash-Shimmah berkata: "Dua orang itu anak muda yang tidak memiliki strategi perang yang tidak memberi manfaat dan bahaya. Wahai Malik, engkau sedikit pun tidak mendekatkan para pemuka Hawazin ke leher kuda. Tempatkan mereka dan harta di tempat yang sulit dijangkau dan mudah dipertahankan di tanah mereka, lalu hadapilah orang-orang yang keluar dari agama nenek moyang itu (ummat Islam) di atas punggung kuda. Jika kemenangan berpihak padamu, maka orang-orang yang ada di belakangmu pasti menyusulmu. Apabila engkau menderita kekalahan, aku bisa menemuimu di tempat itu, sungguh engkau telah melindungi keluarga dan hartamu." Malik bin 'Auf an-Nashri berkata: "Itu semua takkan aku lakukan. Wahai Duraid bin ash-Shimmah, engkau seorang yang sepuh dan akalmu juga telah menua. Demi Allah, kalian harus taat kepadaku wahai orang-orang Hawazin. Jika tidak, aku akan bersandar di atas pedang ini hingga menembus keluar dari punggungku." Malik bin 'Auf an-Nashri tidak ingin Duraid bin ash-Shimmah mempunyai kontribusi atau ide dalam persoalan ini. Orang-orang kabilah Hawazin pun berkata: "Kami akan menta'atimu." Duraid bin ash-Shimmah bertutur: "Inilah hari yang tidak akan aku saksikan dan tidak akan aku biarkan, lalu ia melantunkan syair:
Andai saja pada perang ini aku seorang pemuda
Yang berjalan menyelinap dan berjalan di dalamnya
Aku tuntun kuda yang berambut panjang menjulur di kakinya
Laksana kijang muda yang berlari cepat
Tidak sedikit orang yang meriwayatkan bait syair: Andai saja pada perang ini aku seorang pemuda.2
"Setelah itu, Malik bin 'Auf an-Nashri berkata kepada pasukannya: "Apabila kalian melihat mereka, patahkan sarung pedang kalian, lalu seranglah mereka ibarat serangan satu orang."13
- Pengintai Malik
Orang putih di atas kuda belang
Mata-mata yang diutus Malik kembali dalam keadaan ketakutan karena melihat orang-orang putih di atas kuda belang, tetapi hal itu tidak menyurutkan tekad Malik.
Baca selengkapnya
Umayyah bin 'Abdullah bin 'Amr bin 'Utsman meriwayatkan kepadaku ia diberitahu bahwa Malik bin 'Auf an-Nashri mengirim beberapa orang dari pasukannya untuk menjadi mata-mata. Tak lama kemudian, mereka menemui Malik bin 'Auf an-Nashri dalam keadaan ketakutan. Malik bin an-Nashri berkata kepada mereka: "Celaka kalian, apa yang terjadi ?" Mata-mata tersebut berkata: "Kami melihat orang-orang putih mengendarai kuda belang. Demi Allah, tiba-tiba kami diguncang ketakutan luar biasa seperti yang kini engkau lihat." Demi Allah, kejadian itu tidak menyurutkan tekad Malik bin 'Auf an-Nashri merealisasikan niatnya.1
- Abu Hadrad menyelidiki
Berita dari dalam barisan Hawazin
Beliau mengutus 'Abdullah bin Abu Hadrad al-Aslami menyelinap ke tempat Hawazin; ia pulang membawa kabar bahwa mereka telah bersatu di bawah Malik. 'Umar menyatakan ia berdusta, dan beliau menegur 'Umar.
Baca selengkapnya
Ketika Rasulullah mendapat berita tentang Malik bin 'Auf an-Nashri dan pasukannya, beliau mengutus 'Abdullah bin Abu Hadrad al-Aslami dan menyuruhnya untuk menyelinap ke tempat mereka untuk mengetahui kondisi mereka. Kemudian kembali kepada beliau dengan membawa informasi. 'Abdullah bin Abu Hadrad pun berangkat, menyelinap ke tempat mereka. Ia berada di sana hingga mengetahui bahwa orang-orang kabilah Hawazin telah bersatu dengan Malik bin 'Auf an-Nashri untuk memerangi beliau. Ia juga mendengar perbincangan Malik bin 'Auf an-Nashri dan kondisi terakhir orang-orang kabilah Hawazin. Setelah mendapatkan semua informasi itu, 'Abdullah bin Abu Hadrad segera pulang menemui Rasulullah. Ia melaporkan hasil temuannya. Setelah itu beliau memanggil 'Umar bin Khaththab dan menyampaikan tentang berita itu kepadanya. 'Umar bin Khaththab berkata: "'Abdullah bin Abu Hadrad berkata dusta." 'Abdullah bin Abu Hadrad berkata: "Apabila engkau tidak mempercayaiku, mungkin engkau tidak mempercayai kebenaran wahai 'Umar. Sungguh engkau tidak mempercayai orang yang lebih baik dariku." Rasulullah bersabda: "Wahai 'Umar, sesungguhnya engkau dahulu dalam keadaan tersesat, lalu Allah memberimu petunjuk."14
- Meminjam baju besi
Dua belas ribu orang berangkat
Beliau meminjam seratus baju besi dan senjata dari Shafwan bin Umayyah yang masih musyrik, dengan jaminan akan dikembalikan. Beliau berangkat bersama dua ribu orang Makkah dan sepuluh ribu orang dari penaklukan Makkah, total dua belas ribu, dengan 'Attab bin Usaid memimpin Makkah.
Baca selengkapnya
Saat beliau memutuskan untuk pergi ke tempat orang-orang Hawazin untuk menghadapi mereka, beliau mendapat kabar bahwa Shafwan bin Umayyah memiliki baju besi dan senjata. Sebab itu, beliau pergi menemui Shafwan bin Umayyah yang pada saat itu masih dalam keadaan musyrik lalu bersabda: "Hai Abu Umayyah, pinjamkanlah kepada kami senjatamu untuk menghadapi musuh kami esok pagi." Shafwan bin Umayyah bertanya: "Apakah ini merupakan perampasan, wahai Muhammad?" Rasulullah menjawab: "Tidak, ini adalah pinjaman yang diberi jaminan dan akan aku serahkan kembali kepadamu." Shafwan bin Umayyah berkata: "Bila demikian adanya, maka tidak apa-apa." Shafwan bin Umayyah pun memberikan seratus baju besi yang cukup sebagai senjata kepada beliau. Pendapat lain mengatakan bahwa Rasulullah meminta Shafwan bin Umayyah membantu kaum Muslimin dengan membawa baju besi tersebut dan ia pun menyepakatinya.1
Kemudian Rasulullah berangkat bersama dua ribu warga Makkah dan sepuluh ribu sahabat yang ikut berangkat bersama beliau dalam pembebasan Makkah. Jadi jumlah keseluruhan pasukan Islam pada perang kali ini adalah dua belas ribu tentara.
Rasulullah memilih Attab bin Usaid bin Abu al-Ish bin Umayyah bin 'Abdu Syams sebagai pemimpin Makkah bagi orang-orang yang tidak bisa berangkat perang bersama beliau. Kemudian Rasulullah berangkat untuk menghadapi orang-orang kabilah Hawazin.
- Pohon Dzatu Anwath
Permintaan di tengah jalan
Dalam perjalanan, sebagian orang meminta dibuatkan pohon Dzatu Anwath seperti milik kaum musyrik; beliau bersabda bahwa itu seperti permintaan kaum Musa dan bahwa mereka akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum mereka.
Baca selengkapnya
Kami berangkat ke Hunain bersama Rasulullah, ketika itu kami baru saja lepas dari telikungan jahiliyah. Orang-orang kafir Quraisy dan orang-orang Arab memiliki pohon besar yang rindang nan hijau di sekitar mereka bernama Dzatu Anwath. Mereka rutin datang ke pohon tersebut setiap tahun kemudian menggantungkan senjata padanya, menyembelih hewan di sekitarnya, dan tinggal di bawahnya selama sehari. Ketika kami berjalan bersama Rasulullah, kami melihat pohon hijau dan besar tersebut. Kami saling berseru dari samping jalan: "Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami pohon Dzatu Anwath seperti yang mereka miliki." Rasulullah bersabda: "Allahu Akbar, demi Dzat dimana jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh kalian telah berkata seperti yang pernah dikatakan kaum Nabi Musa kepada Nabinya: Hai Musa, buatkanlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)." Musa menjawab: "Sesungguhnya kalian ini adalah kaum yang bodoh." (Al-A'raaf: 138). Sesungguhnya ini merupakan salah satu tradisi dan sungguh kalian akan mengerjakan tradisi-tradisi orang-orang sebelum kalian.”56
- Serangan mendadak
Beliau bergeser ke kanan
Menurut Jabir, kaum Muslimin singgah di lembah Tihamah pada tengah malam yang gelap, sedangkan Hawazin telah lebih dulu bersembunyi di salah satu jalan, lalu menyerang serentak. Orang-orang lari kocar-kacir; beliau bergeser ke kanan dan menyeru mereka, tetapi hanya sedikit Muhajirin, Anshar, dan ahlul bait yang bertahan.

Kawasan Hunain di dekat Masjid Ji'ranah, Makkah, kondisi sekarang (foto 2 April 2011; deskripsi berkas: "Grave Yard of Jang Hunain Near Masjid Jaranan"; koordinat 21,32 LU, 39,88 BT). Tampak pemakaman tua di tengah perbukitan dan semak.Foto: Najamuddin Shahwani · CC BY 3.0 · Wikimedia Commons Baca selengkapnya
Ketika kami berjalan menuju Hunain, kami turun di salah satu lembah Tihamah yang luas, saat itu seharusnya kami singgah dengan santai, namun kami singgah dengan tergesa-gesa. Ini terjadi pada tengah malam yang gelap gulita. Sementara itu kabilah Hawazin telah tiba lebih awal mendahului kami di lembah tersebut. Kemudian mereka bersembunyi dari penglihatan kami di salah satu jalan. Mereka telah bertekad bulat dan siap tempur. Demi Allah, tidak ada yang membuat kami saat kami singgah, selain pasukan mereka yang menyerang kami dengan serentak ibarat serangan satu orang. Kami lari kocar-kacir sehingga tak seorang pun yang memperdulikan orang lain.7
Rasulullah bergeser ke sebelah kanan, kemudian berseru lantang: "Wahai manusia mendekatlah kepadaku, aku adalah Rasulullah. Aku Muhammad bin 'Abdullah." Namun tidak ada respon, sebagian unta pergi meninggalkan unta lain dan seluruh orang berlarian. Hanya beberapa orang dari kaum Muhajirin, kaum Anshar, dan ahlul bait yang tetap bertahan bersama Rasulullah. Di antara para sahabat yang tetap setia bertahan bersama beliau dari kalangan kaum Muhajirin ialah Abu Bakar dan 'Umar bin Khaththab. Adapun yang tetap bertahan bersama beliau dari ahlul bait ialah 'Ali bin Abu Thalib, al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib, Abu Sufyan bin al-Harits beserta putranya, al-Fadhl bin al-'Abbas, Rabi'ah bin al-Harits, Usamah bin Zaid, dan Aiman bin Ummu Aiman bin 'Ubaid yang ketika itu gugur sebagai syahid.
Nama putra Abu Sufyan bin al-Harits ialah Ja'far dan nama Abu Sufyan sendiri ialah al-Mughirah. Sebagian ulama memasukkan nama Qutsam bin al-'Abbas ke dalam daftar orang-orang yang tetap bertahan bersama Rasulullah dan tidak mencantumkan nama Abu Sufyan bin al-Harits.2
Seseorang dari kabilah Hawazin mengendarai unta merah dengan memegang panji perang berwarna hitam di ujung tombaknya yang panjang, ia berjalan di depan orang-orang Hawazin, sementara itu orang-orang Hawazin berjalan di belakangnya. Jika ia melihat sesuatu, ia menghunjamkan tombaknya ke tanah. Dan tatkala ia tidak melihat apa-apa, ia mengangkat tombak dan mengarahkannya kepada orang-orang yang ada di belakangnya, kemudian mereka ber-jalan mengikutinya.89
- Ucapan yang menyimpan dendam
Abu Sufyan, Kaladah, dan Shafwan
Saat pasukan lari, Abu Sufyan bin Harb berkata bahwa mereka tidak akan berhenti sampai di laut, dan saudara Shafwan bin Umayyah berteriak bahwa sihir telah kalah; Shafwan menyuruhnya diam. Hassan bin Tsabit mencibir dalam syair.
Baca selengkapnya
Ketika orang-orang kalah dan lari dari medan Perang Hunain dan salah seorang yang bersama Rasulullah melihat kekalahan tersebut, berkatalah beberapa orang dari mereka yang menyimpan dendam di dalam hatinya. Abu Sufyan bin Harb berkata: "Pelarian mereka tidak akan berakhir hingga mereka sampai di laut. Panah undian pasti berada di busur panahnya." Jabalah bin al-Hanbal, (Ibnu Hisyam mengatakan Kaladah bin al-Hanbal) dan saudaranya Shafwan bin Umayyah -seorang yang masih musyrik dalam kurun waktu yang telah ditentukan oleh Rasulullahberteriak kencang: "Ketahuilah, pada hari ini sihir telah kalah." Shafwan bin Umayyah berkata kepada Jabalah atau Kaladah bin al-Hanbal: "Diamlah kamu, semoga Allah memecahkan gigimu. Demi Allah, jika aku dipimpin seseorang dari Quraisy, itu lebih aku sukai ketimbang dipimpin seseorang yang berasal dari kabilah Hawazin."1
Hassan bin Tsabit mencibir Kaladah atau Jabalah bin al-Hanbal:2
Kulihat orang hitam dari jauh dan aku pun takut olehnya
Abu Hanbal menggauli Ummu Hanbal Orang yang berada di atas perut Ummu Hanbal
Bagaikan lengan-lengan unta muda hasil perbuatan Ibnu 'Izhil
Bait-bait syair tersebut dibacakan kepadaku oleh Abu Zaid. Selain itu, dikatakan kepadaku bahwa Hassan bin Tsabit menujukan bait-bait syair tadi kepada Shafwan bin Umayyah yang merupakan saudara seibu Kaladah (atau Jabalah).
- Syaibah bin Utsman
Niat membalas dendam yang gagal
Syaibah bin Utsman bin Abu Thalhah berniat membunuh beliau untuk membalas ayahnya yang terbunuh di Uhud, tetapi hatinya tertutup dan ia sadar beliau terlindungi. Dikisahkan pula ucapan "kita tidak akan dikalahkan karena jumlah yang sedikit", yang menurut sebagian ulama berasal dari seseorang Bani Bakr.
Baca selengkapnya
Syaibah bin 'Utsman bin Abu Thalhah dari Bani 'Abduddar berkata: "Pada hari ini, aku bisa melampiaskan dendamku -karena ayahnya terbunuh di Perang Uhud-. Hari ini, aku akan membunuh Muhammad. Aku mengitarinya untuk membunuhnya, namun tiba-tiba ada sesuatu datang menutup hatiku yang membuat aku sama sekali tidak berdaya. Akhirnya aku sadar bahwa beliau terlindungi dariku."1
Beberapa orang warga Makkah meriwayatkan kepadaku bahwa Rasulullah bersabda -pada saat berangkat dari Makkah menuju Hunain dan melihat terdapat banyak tentara-tentara Allah yang ikut serta bersamanya-: "Pada hari ini, kita tidak akan dikalahkan karena jumlah yang sedikit."1
Sebagian ulama mengingatkan bahwa ucapan di atas merupakan ucapan seseorang yang berasal dari kabilah Bani Bakr.110
- Seruan al-'Abbas
Kaum Muslimin kembali
Atas perintah beliau, al-'Abbas berseru memanggil orang-orang Anshar dan pemilik samurah; mereka menjawab "labbaika" dan kembali. Setelah sekitar seratus orang berkumpul, mereka bertempur. 'Ali dan seorang Anshar menjatuhkan pembawa panji Hawazin, dan para tawanan segera tampak terikat di samping beliau.
Baca selengkapnya
"Aku bersama Rasulullah memegang tali kekang bighal (binatang hasil perkawinan antara kuda dan keledai) beliau yang berwarna putih. Aku letakkan tali kekang bighal tersebut di antara dagunya. Aku adalah orang dengan perawakan besar dan memiliki suara keras. Ketika melihat orang-orang lari dari medan perang Rasulullah bersabda: "Pada pergi kemana orang-orang?" Aku tidak melihat orang-orang menoleh kepada sesuatu apa pun. Karena itu, Rasulullah bersabda: "Wahai 'Abbas, katakanlah dengan lantang: "Wahai sekalian orang-orang Anshar, wahai seluruh orang-orang pemilik samurah." Mereka menjawab: "Labbaika, labbaika (kami memenuhi panggilanmu)." Kemudian ada seseorang yang berusaha untuk membelokkan untanya, namun ia tidak kuasa. Kemudian ia memakai baju besinya dan melemparkan dirinya dari atas unta. Lalu ia mengambil pedang dan tameng, kemudian berjalan tanpa mengendarai untanya menuju suaraku hingga ia tiba di sisi beliau. Ketika seratus orang telah berkumpul di tempat Rasulullah, mereka maju menghadapi musuh dan bertempur melawan mereka. Panggilan pertama dikumandangkan kepada orang anshar: "Hai orang-orang Anshar!" kemudian ditujukan kepada orang al-Khajraj: "Wahai orang-orang al-Khazraj." Orang-orang al-Khazraj dari kalangan Anshar merupakan orang-orang yang paling sabar dalam peperangan. Beliau melihat medan perang dari atas hewan kendaraannya ketika kedua belah pihak saling bertempur, kemudian bersabda: "Saat ini perang telah berkecamuk."11
Pada saat kabilah Hawazin pemegang panji perang tengah berada di atas unta melakukan apa yang biasa dilakukan, tiba-tiba 'Ali bin Abu Thalib dan seseorang dari Anshar menghampirinya. 'Ali bin Abu Thalib datang kepada pemegang panji perang kabilah Hawazin tersebut dari arah belakang kemudian memukul dua urat tumit untanya dengan pedang hingga ia pun jatuh tersungkur. Pada saat yang bersamaan, sahabat dari kaum Anshar melompat ke arah pemegang panji kabilah Hawazin tersebut, lalu memukulinya dengan pedang hingga kakinya terputus. Pemegang panji perang kabilah Hawazin tersebut pun tersungkur. Kedua belah pihak terus bertempur. Demi Allah, para sahabat yang semula lari dari peperangan, kini mereka melihat para tawanan dalam keadaan terikat berada di samping beliau.12
Rasulullah melirik ke arah Abu Sufyan bin al-Harits bin 'Abdul Muththalib ia termasuk salah seorang yang bersabar bersama beliau di perang tersebut, Saat ia masuk Islam, keislamannya baik. Dia adalah orang yang memegang tali belakang pelana bighal Rasulullah. Beliau bertanya: "Siapakah orang ini?'"Abu Sufyan bin al-Harits bin 'Abdul Muththalib menjawab: "Aku anak pamanmu, wahai Rasulullah."13
- Ummu Sulaim
Pisau dan syair Malik
Ummu Sulaim binti Milhan ikut bertempur bersama suaminya, Abu Thalhah, dalam keadaan hamil dan membawa pisau. Malik bin 'Auf bersyair kepada kudanya saat pasukannya lari; Ibnu Hisyam menyebut syair itu bukan miliknya.
Baca selengkapnya
'Abdullah bin Abu Bakr meriwayatkan kepadaku bahwa Rasulullah menoleh dan melihat Ummu Sulaim binti Milhan yang pada saat itu ikut terjun ke medan perang bersama suaminya, Abu Thalhah. Ummu Sulaim mengikat pinggangnya dengan kain burdah karena sedang mengandung 'Abdullah bin Abu Thalhah, dan menaiki unta milik suaminya, ia khawatir terlempar dari untanya. Oleh sebab itu ia mendekatkan kepala unta kepadanya dan menggulungkan tali kendali unta tersebut di tangannya. Beliau bersabda kepada Ummu Sulaim: "Apakah engkau Ummu Sulaim?" Ummu Sulaim menjawab: "Benar! wahai Rasulullah. Bagaimana kalau engkau membunuh mereka yang melarikan diri darimu sebagaimana engkau membunuh orang-orang yang memerangimu, karena mereka layak diperlakukan demikian." Rasulullah bersabda: "Cukuplah Allah bagiku, wahai Ummu Sulaim?" Pada saat itu, Ummu Sulaim membawa pisau. Abu Thalhah bertanya kepada Ummu Sulaim: "Mengapa engkau membawa pisau, wahai Ummu Sulaim?" Ummu Sulaim menjawab: "Pisau ini sengaja aku bawa. Dan apabila ada salah seorang dari kaum musyrikin mendekat padaku, aku akan menikamnya dengan pisau ini." Abu Thalhah berkata: "Wahai Rasulullah, tidakkah engkau mendengar apa yang dikatakan oleh Ummu Sulaim ar-Rumaisha?"1
"Ketika Rasulullah berangkat menuju Hunain, Bani Salim bersatu dengan adh-Dhahhak bin Sufyan al-Kilabi. Pada saat orang-orang melarikan diri, Malik bin 'Auf an-Nashri bertutur kepada kudanya:1
Majulah hai Muhaj, mereka adalah pemimpin perang yang baik
Janganlah engkau tertipu bahwa musuh sudah berlalu
Kedua bait di atas bukanlah syair Malik bin 'Auf an-Nashri dan dilantunkan bukan pada Perang Hunain.214
- Abu Qatadah dan salab
Harta rampasan yang dikembalikan
Abu Qatadah membunuh seorang musyrik; seorang Makkah mengaku memegang harta (salab) milik korban itu. Abu Bakar menyuruh mengembalikannya dan beliau membenarkan. Dari hasilnya Abu Qatadah membeli kebun kurma, harta pertamanya, dan menurut Anas ia memperoleh salab dari dua puluh orang.
Baca selengkapnya
'Abdullah bin Abu Bakr meriwayatkan kepadaku bahwa ia diberitahu dari Abu Qatadah al-Anshari. Aku juga diberitahu orang yang tidak aku ragukan integritasnya dari Nafi' mantan budak Bani Ghifar Abu Muhammad dari Abu Qatadah, ia berkata: "Pada Perang Hunain, aku melihat dua orang; muslim dan kafir sedang bertempur. Tiba-tiba salah seorang dari kaum musyrikin ingin membantu temannya untuk menghadapi lawannya yang muslim. Aku hampiri orang itu dan aku tebas tangannya hingga terputus. Lalu ia merangkulku dengan tangan kirinya. Demi Allah, ia tidak membiarkanku hingga aku mencium aroma darah. Menurut Ibnu Hisyam, aroma kematian, dan hampir saja ia membunuhku andai ia tidak kehabisan darah. Lalu ia terjatuh, kemudian aku menyerangnya kembali hingga ia pun tewas. Perang membuatku menjauh dari orang tersebut, tiba-tiba seseorang dari warga Makkah melewati orang tadi kemudian mengambil barang yang ada pada tubuhnya. Setelah perang berakhir dan kami berhasil mengalahkan musuh, beliau bersabda: "Barangsiapa membunuh salah seorang korban, ia berhak atas salab (harta kekayaan) korban itu." Aku berkata: "Wahai Rasulullah, demi Allah, aku telah membunuh salah seorang musuh yang mempunyai salab (kekayaan) kemudian kecamuk perang memisahkanku dari orang tersebut sehingga aku tidak tahu siapa yang mengambilnya." Seseorang dari warga Makkah berkata: "Ia (Abu Qatadah) berkata benar, wahai Rasulullah. Harta orang yang ia bunuh kini ada padaku." Mintakanlah untukku agar ia (Abu Qatadah) merelakannya untuk aku miliki." Abu Bakar ash-Shiddiq berkata kepada orang Makkah tersebut: "Tidak, Allah tidak meridhai hal ini. Engkau sengaja mendekat kepada salah seorang singa Allah yang berperang karena Allah karena maksud agar dapat berbagi rampasan dengannya. Kembalikanlah barang itu kepada pemiliknya." Rasulullah bersabda kepada orang Makkah tersebut: "Abu Bakar berkata benar, kembalikanlah salab itu kepada pemiliknya." Aku pun segera mengambil salab dari orang itu kemudian menjualnya. Uang dari hasil penjualannya, aku gunakan untuk membeli sebuah kebun kurma dan itulah kekayaan pertama yang aku miliki.1
Abu Qatadah sendiri berhasil mendapatkan rampasan (salab) dari dua puluh orang di Perang Hunain.1516
- Hawazin kalah
Malaikat, korban Tsaqif, dan panji-panji
Jubair bin Muth'im melihat semut hitam memenuhi lembah, yang ia yakini malaikat. Tujuh puluh orang Tsaqif Bani Malik terbunuh, termasuk 'Utsman bin 'Abdullah; Qarib bin al-Aswad menyandarkan panjinya pada pohon dan lari, sehingga hanya dua orang al-Ahlaf yang terbunuh.
Baca selengkapnya
Sebelum kekalahan musuh dan saat kedua belah pihak bertempur, aku melihat seperti gumpalan hitam turun dari langit di tempat antara kami dan musuh. Aku perhatikan, ternyata gumpalan hitam itu adalah semut yang berserakan dan memenuhi lembah. Aku yakin bahwa itu adalah para malaikat, karena yang terjadi setelah itu adalah kekalahan musuh.17
Saat Allah Ta'ala mengalahkan orang-orang musyrikin pada Perang Hunain dan memberikan kemenangan kepada beliau, seorang wanita dari kaum Muslimin melantunkan syair:1
Kuda Allah telah mengalahkan kuda al-Lata Dan Allah lebih Perkasa
Salah seorang pakar syair membacakan kepadaku syair berikut: Sungguh kuda Allah telah mengalahkan kuda al-Lata Dan kuda-Nya itu lebih perkasa2
Ketika orang-orang kabilah Hawazin menyerah, terdapat banyak korban di pihak Tsaqif Bani Malik; tujuh puluh orang dari mereka terbunuh, termasuk di dalamnya 'Utsman bin 'Abdullah bin Rabi'ah bin al-Harits bin Habib. Pada awalnya panji perang mereka dipegang oleh Dzu al-Khimar. Setelah Dzu al-Khimar tewas, panji perang itu diambil-alih oleh 'Utsman bin 'Abdullah yang kemudian bertempur dengan panji itu hingga tewas.1
Aku diberitahu 'Amir bin Wahb bin al-Aswad, ia mengatakan: Ketika beliau mengetahui tewasnya 'Utsman bin 'Abdullah, beliau bersabda: "Semoga Allah melaknatnya, karena dulu ia membenci orang-orang Quraisy."1
Ya'qub bin 'Utbah bin al-Mughirah bin al-Akhnas meriwayatkan kepadaku bahwa korban yang lainnya yang tewas terbunuh selain 'Utsman bin 'Abdullah ialah budak Kristennya. Al-Mughirah bin Syu'bah berkata: Tatkala salah seorang dari kaum Anshar mengambil salab (harta rampasan) dari para korban Tsaqif, ia mendapati budak tersebut tidak dikhitan. kemudian ia berteriak: "Wahai orang-orang Arab, Allah mengetahui bahwa orang-orang Tsaqif tidak dikhitan." Aku pegang tangan orang Anshar tersebut, karena aku khawatir ia bercerita tentang kami kepada orang-orang Arab. Aku berkata padanya: "janganlah engkau berkata seperti itu. Sesungguhnya orang tersebut adalah budak kami yang beragama Kristen." Lalu aku memperlihatkan korban lain kepada orang Anshar tersebut dan aku berkata: "Tidak engkau melihat mereka dikhitan?"1
Panji perang al-Ahlaf ada pada Qarib bin al-Aswad. Ketika orang-orang kabilah Hawazin kalah, ia sandarkan panji perangnya pada sebuah pohon, lalu ia bersama anak-anak paman dan kaumnya dari al-Ahlaf melarikan diri. Dengan demikian, yang terbunuh dari orang-orang al-Ahlaf hanyalah dua orang; seorang dari Bani Ghiyarah bernama Wahb dan yang lain berasal dari Bani Kabbah bernama al-Julah.1
Ketika Rasulullah mendengar kabar tewasnya al-Julah, beliau bersabda: "Hari ini, pemuda terbaik Tsaqif telah terbunuh, kecuali apa yang terjadi pada Ibnu Hunaidah." -Yang dimaksud dengan Ibnu Hunaidah ialah al-Harits bin Uwais-.18
- Duraid terbunuh
Ke Authas dan Nakhlah
Kaum musyrik lari ke Thaif bersama Malik; sebagian berkemah di Authas dan sebagian pergi ke Nakhlah. Rabi'ah bin Rufay'i menebas Duraid bin ash-Shimmah, yang menyuruhnya memakai pedangnya sendiri dan mengaku banyak menyelamatkan wanita; ibu Rabi'ah mengatakan Duraid telah memerdekakan tiga ibu dari keluarganya.
Baca selengkapnya
Saat kaum musyrik kalah di Perang Hunain, mereka pergi ke Thaif bersama Malik bin 'Auf an-Nashri, sebagian dari mereka berkemah di Lembah Authas dan sebagian lainnya pergi ke Nakhlah, dan hanya Bani Ghiyarah dari Tsaqif saja yang pergi ke Nakhlah. Pasukan berkuda Rasulullah membuntuti orang-orang yang melintasi Nakhlah namun tidak membuntuti orang-orang yang melewati perbatasan.1
Rabi'ah bin Rufay'i bin Uhban bin Tsa'labah bin Rabi'ah bin Yarbu' bin Sammal bin 'Auf bin Umru'ul Qais -Rabi'ah yang dikenal dengan panggilan Ibnu ad-Dughunah dan ad-Dughunah adalah ibunya. Ia lebih dikenal dengan sebutan ini. Pendapat lain mengatakan Ibnu Ladz'ah, ia menemukan Duraid bin ash-Shimmah, kemudian Rabi'ah bin Rufay'i memegang untanya karena Rabi'ah bin Rufay'i mengira bahwa Duraid bin ash-Shimmah seorang wanita, sebab saat itu Duraid bin ash-Shimmah berada di dalam sekedup, tapi ternyata Duraid bin ash-Shimmah adalah seorang lelaki. Rabi'ah bin Rufay'i mendudukkan unta Duraid bin ash-Shimmah, dan didapatinya ia telah tua, namun Rabi'ah bin Rufay'i tidak mengenalnya.
Duraid bin ash-Shimmah berkata kepada Rabi'ah bin Rufay'i: "Apa yang engkau inginkan dariku?" Rabi'ah bin Rufay'i menjawab: "Aku ingin membunuhmu." Duraid bin ash-Shimmah berkata: "Siapakah dirimu?" Rabi'ah bin Rufay'i menjawab: "Aku adalah Rabi'ah bin Rufay'i as-Sulami." Kemudian Rabi'ah bin Rufay'i menebas Duraid bin ash-Shimmah dengan pedangnya, namun tebasan pedangnya tidak menyebabkan pengaruh apapun. Duraid bin ash-Shimmah berkata: "Alangkah jeleknya senjata yang diberikan ibumu. Ambillah pedangku di belakang pelana yang terletak di sekedup, kemudian tebaslah aku dengan pedang tersebut seperti itulah dahulu aku biasa menyerang orang. Setelah itu, temui ibumu dan katakan padanya bahwa engkau telah berhasil membunuh Duraid bin ash-Shimmah. Demi Allah, aku banyak menyelamatkan wanita-wanitamu." Orang-orang Bani Sulaim meriwayatkan bahwa Rabi'ah bin Rufay'i berkata: "Ketika aku memukul Duraid bin ash-Shimmah dengan pedangnya, ia terjatuh dan pakaiannya tersingkap, ternyata pantat dan pahanya bagaikan kertas karena ia sering mengendarai kuda tanpa mengenakan pelana." Ketika Rabi'ah bin Rufay'i pulang menemui ibunya dan bercerita tentang pembunuhannya terhadap Duraid bin ash-Shimmah di tangannya, ibunya berkata: "Demi Allah, ia telah memerdekakan tiga orang ibu dari keluargamu."
Pendapat lain mengatakan bahwa orang yang membunuh Duraid bin ash-Shimmah adalah 'Abdullah bin Qunay'i bin Ahban bin Tsa'labah bin Rabi'ah.2
Rasulullah memerintahkan Abu 'Amir al-Asy'ari untuk menelusuri jejak-jejak kaum musyrikin yang pergi ke arah Lembah Authas. Abu 'Amir al-Asy'ari menemukan sebagian orang musyrikin yang kalah, kemudian perang terjadi di antara ke dua belah pihak. Pada perang tersebut, Abu 'Amir al-Asy'ari terkena panah hingga gugur, kemudian panji perang diambil alih oleh Abu Musa al-Asy'ari yang merupakan anak paman Abu 'Amir al-Asy'ari. Abu Musa al-Asy'ari bertempur melawan orang-orang musyrikin, hingga akhirnya Allah memberikan kemenangan.1
Para ulama berkata bahwa Salamah bin Duraid bin ash-Shimmah adalah orang yang melempar Abu 'Amir al-Asy'ari dengan panah yang mengenai lututnya dan menyebabkannya gugur. Samadir adalah ibu Salamah bin Duraid bin ash-Shimmah.
Korban tewas terbanyak adalah dari Bani Nashr tepatnya dari Bani Riab. Para ulama meriwayatkan bahwa 'Abdullah bin Qais yang terkenal dengan panggilan Ibnu al-Aura' yang juga merupakan salah seorang anak keturunan Wahb bin Riab berkata: "Wahai Rasulullah, banyak orang yang meninggal dunia dari Bani Riab." Mereka mengatakan bahwa Rasulullah berdoa: "Ya Allah, berilah ganti atas musibah mereka."19
- Malik di jalan sempit
Zubair mengusir mereka
Malik berhenti dengan pasukan berkudanya di jalan sempit sebuah gunung agar yang lemah berjalan lebih dulu. Ia mengenali pasukan berkuda yang muncul dari Bani Sulaim, Aus dan Khazraj, lalu Zubair bin 'Awwam, yang mengusir mereka.
Baca selengkapnya
Saat orang-orang kabilah Hawazin menderita kekalahan, Malik bin 'Auf an-Nashri pergi lalu berhenti di tengah-tengah pasukan berkuda kaumnya di jalan sempit di sebuah gunung. Ia berkata kepada para pengikutnya: "Berhentilah hingga orang-orang lemah dari kalian dapat berjalan di depan dan teman-teman kalian di belakang dapat menyusul." Di sana, Malik bin 'Auf an-Nashri dan para pengikutnya berhenti hingga orang-orang musyrikin yang kalah bisa menyusul mereka.
Sebuah riwayat sampai padaku bahwa pasukan berkuda muncul saat Malik bin 'Auf an-Nashri berada di jalan sempit. Malik bin 'Auf an-Nashri berkata kepada pasukannya: "Apa yang kalian saksikan?" Pasukannya menjawab: "Kami melihat sebuah kaum yang meletakkan tombak-tombak di antara telinga kuda mereka dan bagian dalam paha mereka." Malik bin 'Auf an-Nashri berkata: "Mereka Bani Sulaim, kalian tidak perlu khawatir bertemu dengan mereka." Ketika pasukan berkuda tersebut semakin dekat, mereka berjalan melintasi bagian bawah lembah. Tiba-tiba pasukan berkuda lain datang. Malik bin 'Auf an-Nashri berkata kepada pasukannya: "Apa yang kalian saksikan?" Anak buahnya menjawab: "Kami melihat kaum yang mengangkat tombak-tombak dalam kondisi lalai di atas kuda-kuda mereka." Malik bin 'Auf an-Nashri berkata: "Mereka adalah orang-orang dari Aus dan Khazraj. Kalian tidak perlu khawatir dari mereka." Ketika pasukan berkuda tersebut tiba di jalan itu, mereka berjalan melintasi jalan Bani Sulaim. Namun tak lama kemudian, muncullah penunggang kuda, kemudian Malik bin 'Auf an-Nashri berkata kepada pasukannya: "Apa yang kalian saksikan?" pasukannya menjawab: "Kami melihat seorang penunggang kuda yang pahanya panjang, meletakkan tombak di atas pundaknya, dan mengikat kepalanya dengan kain berwarna merah." Malik bin 'Auf an-Nashri berkata: "Dia adalah Zubair bin 'Awwam. Aku bersumpah dengan al-Lata, ia pasti akan menghancurkan barisan kalian, maka hendaklah kalian tetap tegar saat menghadapinya." Ketika Zubair bin 'Awwam tiba di ujung jalan itu, ia memperhatikan Malik bin 'Auf an-Nashri dan pasukannya, kemudian berjalan menuju mereka dan ia terus mengganggu mereka hingga berhasil mengusir mereka.220
- Abu 'Amir al-Asy'ari
Syair Salamah dan gugurnya Abu 'Amir
Salamah bin Duraid bersyair; Abu 'Amir al-Asy'ari mengajak sepuluh bersaudara masuk Islam sambil melawan mereka, lalu gugur terkena serangan dua orang dari Bani Jusyam, dan Abu Musa al-Asy'ari mengambil alih komando serta membunuh keduanya.
Baca selengkapnya
Salamah bin Duraid bin ash-Shimmah bersenandung sambil menuntun istrinya hingga membuat semangat orang-orang musyrikin lemah:1
Engkau melupakanku, padahal engkau tidak terluka Walaupun kau tahu di hari itu di kaki al-Adhrub Bahwa aku telah melindungimu, sementara para tentara melarikan diri Aku berjalan di belakangmu laksana jalannya orang yang miring salah satu pundaknya Kala orang-orang terlatih dengan kepala tertutup melarikan diri Dari ibunya dan tak akan pernah lagi kembali pada temannya
Seorang ulama pakar syair yang tidak aku ragukan integritasnya menuturkan kepadaku bahwa Abu 'Amir al-Asy'ari bertemu dengan sepuluh bersaudara dari kaum musyrikin di perang Authas. Salah seorang dari kesepuluh bersaudara tersebut menyerang Abu 'Amir al-Asy'ari dan beliau menghadapinya dengan mengajaknya masuk Islam, ia kepadanya: "Ya Allah, saksikanlah." Kemudian orang tersebut dibunuh oleh Abu 'Amir al-Asy'ari. lalu satu demi satu dari kesepuluh bersaudara tersebut menyerang Abu 'Amir al-Asy'ari dan Abu 'Amir al-Asy'ari menghadapinya sambil mengajaknya masuk Islam seraya berkata: "Ya Allah, saksikanlah dia." Kemudian orang tersebut dibunuh oleh Abu 'Amir al-Asy'ari. Kejadian seperti itu terus terulang hingga tersisa satu orang dari mereka. Orang terakhir dari sepuluh bersaudara tersebut menyerang Abu 'Amir al-Asy'ari, lalu Abu 'Amir al-Asy'ari menghadapinya dengan berkata kepadanya: "Ya Allah, saksikanlah dia." Orang tersebut berkata: "Ya Allah, janganlah Engkau bersaksi terhadapku." Abu 'Amir al-Asy'ari menahan dirinya, kemudian orang itu melarikan diri. Setelah itu, orang tersebut masuk Islam dan keislamannya baik. Setiap kali Rasulullah melihat orang itu, beliau bersabda: "Orang ini adalah orang yang lari dari Abu 'Amir." Setelah itu, Abu 'Amir diserang oleh dua orang; al-'Ala' dan 'Aufa, keduanya merupakan anak al-Harits dari Bani Jusyam bin Muawiyah. Serangan salah seorang dari keduanya mengenai ulu hati Abu 'Amir al-Asy'ari sedang serangan yang lainnya mengenai lutut. kemudian Abu 'Amir al-Asy'ari meninggal akibat serangan kedua orang tersebut.2
Setelah itu, komando kaum Muslimin diambil alih oleh Abu Musa al-Asy'ari yang kemudian menyerang kedua orang yang telah membunuh Abu 'Amir al-Asy'ari dan beliau berhasil membunuh mereka berdua
- Larangan membunuh wanita
Pesan untuk Khalid
Beliau melewati jenazah wanita yang dibunuh Khalid dan menyuruh seorang sahabat menyampaikan larangan membunuh anak-anak, wanita, dan budak sewaan.
Baca selengkapnya
Beberapa ulama meriwayatkan kepadaku bahwa Rasulullah berjalan melintasi wanita yang dibunuh oleh Khalid bin Walid yang sedang dikerumuni oleh banyak orang. Beliau bertanya: "Ada apa ini?" Orang-orang menjawab: "Ada mayat wanita yang dibunuh Khalid bin Walid." Rasulullah bersabda kepada seorang sahabat yang ketika itu bersama beliau: "Carilah Khalid dan katakan kepadanya bahwa beliau melarangmu membunuh anak-anak, wanita dan budak sewaan."1
- Bijad dan Syaima'
Saudari sesusuan beliau
Beliau berpesan agar Bijad dari Bani Sa'ad bin Bakr ditangkap. Syaima' binti al-Harits, saudari sesusuan beliau, dikenali dari bekas gigitan di punggungnya; beliau menggelar burdahnya, lalu memulangkan Syaima' kepada kaumnya dengan pemberian.
Baca selengkapnya
Beberapa orang dari Bani Sa'ad bin Bakr meriwayatkan kepadaku bahwa pada saat itu beliau bersabda: "Apabila kalian berhasil menangkap Bijad, seorang berasal dari Bani Sa'ad bin Bakr, maka jangan biarkan dia lepas dari kalian." Sebelumnya, Bijad membuat ulah. Pada saat kaum Muslimin berhasil menangkapnya, mereka menggiring Bijad bersama keluarganya, termasuk Syaima' binti al-Harits bin 'Abdul 'Uzza yang merupakan saudari sesusuan Rasulullah. Saat itu kaum Muslimin berprilaku kasar terhadap Syaima' binti al-Harits. Karenanya Syaima' binti al-Harits berkata kepada mereka: "Ketahuilah, aku adalah saudari sesusuan sahabat (Nabi) kalian." Kaum Muslimin tidak mempercayai pengakuan Syaima' itu hingga mereka membawanya kepada beliau.1
Yazid bin 'Ubaid as-Sa'adi meriwayatkan kepadaku bahwa pada saat kaum Muslimin datang kepada Rasulullah dengan membawa Syaima', Syaima' binti al-Harits berkata kepada beliau: "Wahai Rasulullah, aku adalah saudari sesusuanmu." Rasulullah bertanya: "Apa buktinya?" Syaima' binti al-Harits menjawab: "Bekas gigitan. Engkau pernah menggigit punggungku saat aku menggendongmu." Rasulullah pun mengenali bukti tersebut, kemudian beliau menggelar burdahnya untuk Syaima' binti al-Harits lalu menyuruhnya duduk di atas kain burdah tersebut, serta mengajukan beberapa tawaran baginya. Rasulullah bersabda kepada Syaima' binti al-Harits: "Apabila engkau mau tinggal bersamaku, maka sesungguhnya engkau akan dicintai dan dimuliakan. Namun jika engkau menginginkanku memberimu sesuatu dan kembali kepada kaummu, itu juga akan aku penuhi." Syaima' binti al-Harits berkata: "Aku menginginkanmu memberi sesuatu kepadaku dan memulangkan aku kepada kaumku." Ke mudian Rasulullah memberikan sesuatu kepada Syaima binti al-Harits dan memulangkannya kepada kaumnya. Bani Sa'ad mengatakan bahwa beliau memberi seorang budak laki-laki yang bernama Makhul dan seorang budak wanita Syaima binti al-Harits. Kemudian kedua budak itu menikah satu sama lainnya dan anak keturunannya masih ada hingga saat ini.1
- Ayat dan para syuhada'
Daftar korban Muslimin dan ke al-Ji'ranah
Allah menurunkan QS at-Taubah ayat 25 sampai 26 tentang Hunain. Ibnu Ishaq menyebut empat syuhada' Muslimin; seluruh tawanan dan harta rampasan dibawa ke al-Ji'ranah dan dijaga Mas'ud bin 'Amr al-Ghifari.
Baca selengkapnya
Allah menurunkan firman-Nya tentang perang Hunain:2
Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir. (QS. at-Taubah: 25-26).
Berikut ini adalah daftar nama para syuhada' kaum Muslimin pada Perang Hunain: Dari Quraisy kemudian lebih pasnya dari Bani Hasyim ialah Aiman bin 'Ubaid. Dari Bani Asad bin 'Abdul 'Uzza, Yazid bin Zam'ah bin al-Aswad bin al-Muththalib bin Asad. Ia gugur karena kudanya yang bernama al-Janah enggan berlari.1
Dari kaum Anshar ialah Suraqah bin al-Harits bin 'Adi.
Dari Bani al-'Ajlan dari orang-orang al-Asy'ari ialah Abu 'Amir al-Asy'ari. Seluruh tawanan dan harta rampasan dari Perang Hunain diserahkan kepada Rasulullah. Harta rampasan itu kemudian dijaga oleh Mas'ud bin 'Amr al-Ghifari. Rasulullah memerintahkan para tawanan dan harta rampasan agar dibawa ke al-Ji'ranah dan disimpan di sana.21
Catatan
- Ibnu Ishaq.
- Tambahan Ibnu Hisyam.
- Ejaan: tercetak "Shimah", kami membaca "Shimmah"; tercetak "betutur", kami membaca "bertutur".
- Ejaan: tercetak "sesungguh", kami membaca "sesungguhnya".
- Ibnu Ishaq. Sanad: Ibnu Syihab az-Zuhri meriwayatkan kepadaku dari Sinan bin Abu Sinan ad-Duali dari Abu Waqid al-Laitsi bahwa al-Harits bin Malik.
- Nomor catatan kaki "195" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat.
- Ibnu Ishaq. Sanad: 'Ashim bin 'Umar bin Qatadah meriwayatkan kepadaku dari 'Abdurrahman bin Jabir dari ayahnya, Jabir bin 'Abdullah.
- Ibnu Ishaq. Sanad: 'Ashim bin 'Umar bin Qatadah meriwayatkan kepadaku dari 'Abdurrahman bin Jabir dari ayahnya, Jabir bin 'Abdullah.
- Ejaan: tercetak "Mujahirin", kami membaca "Muhajirin"; tercetak "Khathathab", kami membaca "Khaththab"; tercetak "berwama", kami membaca "berwarna".
- Ejaan: tercetak "meriwayat", kami membaca "meriwayatkan".
- Ibnu Ishaq. Sanad: Ibnu Syihab az-Zuhri meriwayatkan kepadaku dari Katsir bin al-'Abbas dari ayahnya, al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib.
- Ibnu Ishaq. Sanad: 'Ashim bin 'Umar bin Qatadah meriwayatkan kepadaku dari 'Abdurrahman bin Jabir dari ayahnya, Jabir bin 'Abdullah.
- Nomor catatan kaki "196" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat. ejaan: tercetak "dirinyaa", kami membaca "dirinya"; tercetak "perangan", kami membaca "peperangan".
- Ejaan: tercetak "peminpin", kami membaca "pemimpin".
- Ibnu Ishaq. Sanad: Orang yang tidak aku ragukan integritasnya meriwayatkan kepadaku dari Abu Salamah dari Ishaq bin 'Abdullah bin Abu Thalhah dari Anas bin Malik.
- Nomor catatan kaki "197" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat.
- Ibnu Ishaq. Sanad: Abu Ishaq bin Yasar meriwayatkan kepadaku dari Jubair bin Muth'im.
- Ejaan: tercetak "koraban", kami membaca "korban".
- Ejaan: tercetak "seroang", kami membaca "seorang"; tercetak "Asy'ri", kami membaca "Asy'ari".
- Ejaan: tercetak "Aur An-Nashri", kami membaca "Auf An-Nashri"; tercetak "pasukannnya", kami membaca "pasukannya".
- Ejaan: tercetak "tnedan", kami membaca "medan"; tercetak "Hasyam", kami membaca "Hasyim"; tercetak "Asy'ariSeluruh", kami membaca "Asy'ari. Seluruh".
Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Bab berikutnya membahas pengepungan Thaif.