Isi bab ini
Bab ini memuat perang Mu'tah pada Jumadal Ula tahun 8 H menurut Ibnu Hisyam: tiga panglima, singgah di Ma'an, gugurnya Zaid, Ja'far, dan 'Abdullah bin Rawahah, Khalid memegang panji, mimpi tentang singgasana, duka di rumah Ja'far, sambutan di Madinah, dan daftar syuhada.
Tiga panglima
Pada Jumadal Ula tahun 8 H beliau mengirim pasukan tiga ribu ke Mu'tah dan menunjuk Zaid bin Haritsah; bila ia gugur diganti Ja'far bin Abu Thalib, lalu 'Abdullah bin Rawahah.
Dua malam di Ma'an
Di Ma'an mereka mendengar Heraklius telah tiba di Ma'ab dengan seratus ribu tentara Romawi dan seratus ribu sekutu Arab. Mereka tinggal dua malam untuk berunding sebelum berangkat.
Panji berpindah
Zaid, Ja'far, dan 'Abdullah bin Rawahah gugur bergantian; Tsabit bin Arqam mengambil panji lalu menyerahkannya kepada Khalid bin al-Walid, yang menyerang musuh, kemudian mundur dan pulang bersama pasukan.
Pulang ke Madinah
Sebagian orang menaburkan tanah ke arah pasukan dan menyebut mereka orang yang lari, tetapi beliau bersabda bahwa mereka akan kembali, insya Allah.
Madinah, Ma'an, dan Mu'tah
Titik Madinah dan Ma'an diambil dari Wikipedia, dan titik Mu'tah berpresisi rendah. Masyarif dan Ma'ab tidak ditandai karena koordinatnya belum kami verifikasi.
Dari tiga panglima sampai daftar syuhada Mu'tah
Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.
Jalur, denah, dan peralihan panji di Mu'tah
Sketsa jalur dan peralihan panji menata apa yang disebut Ibnu Ishaq. Denah pertempuran memadukan Ibnu Ishaq (garis tegas) dengan peta skematik Wikipedia (garis putus-putus). Kami menggambarnya sendiri.
- Pasukan berangkat dari Madinah dilepas beliau dan para sahabat; 'Abdullah bin Rawahah menangis karena teringat ayat tentang neraka.
- Di Ma'an mereka tinggal dua malam, mendengar Heraklius telah tiba di Ma'ab, lalu berangkat setelah 'Abdullah bin Rawahah mengingatkan bahwa yang mereka cari adalah mati syahid.
- Di Masyarif, di perbatasan al-Balqa', pasukan berpapasan dengan Romawi dan sekutu Arab; kedua pasukan saling merapat tetapi kaum Muslimin bergerak ke Mu'tah.
- Zaid bin Haritsah gugur oleh tikaman tombak sambil memegang panji perang.
- Ja'far bin Abu Thalib mengambil panji, turun dari kudanya dan menyembelihnya, lalu bertempur sampai gugur.
- 'Abdullah bin Rawahah mengambil panji dengan berkuda, sempat ragu, lalu bertempur sampai gugur.
- Tsabit bin Arqam mengambil panji dan meminta kaum Muslimin memilih panglima; ia sendiri menolak, dan mereka mengangkat Khalid bin al-Walid.
- Khalid menyerang musuh, kemudian mundur dan pulang bersama kaum Muslimin ke Madinah.
Strateginya menurut Ibnu Ishaq: ia tidak menguraikan rencana pertempuran. Yang ia sebut hanya bahwa pasukan berpapasan dengan musuh di Masyarif, kedua pasukan saling merapat, kaum Muslimin bergerak ke Mu'tah dan berhadapan di sana dengan sayap kanan dan kiri yang sudah ditunjuk, lalu Khalid menyerang dan mundur setelah tiga panglima gugur.
Soal denah. Kami memeriksa Ibnu Hisyam, Haykal, Wikipedia (Battle of Mu'tah), situs islamiclandmarks.com, dan Karak Resources Project. Tak satu pun teks memberi arah mata angin, letak sayap, atau letak Masyarif terhadap Mu'tah. Artikel Wikipedia juga memuat peta skematik karya SPQR10 (CC0, Battle of Mu'tah - Strategic Map (629 AD)) yang kami lihat dari tangkapan layar Jagat: kaum Muslimin (3.000) dalam tiga blok (sayap kanan, tengah, sayap kiri) di satu sisi, Bizantium dan Ghassan (perkiraan 100.000) di sisi lain dengan pasukan berkuda di kedua tepi, infanteri di tengah, dan pasukan pembantu Ghassan di belakang, permukiman Mu'tah di dekat sayap kanan Muslim, tiga komandan Muslim yang gugur ditandai di depan blok masing-masing, dan garis putus-putus mundurnya Khalid ke arah Madinah, dengan skala perkiraan 1 km. Peta itu tidak menyebut sumbernya dan tidak ada kompasnya; penempatan Zaid, Ja'far, dan Ibnu Rawahah pada sayap atau tengah, serta pasukan berkuda dan pembantu Bizantium, tidak ada dalam teks Ibnu Hisyam maupun Haykal, sehingga tidak kami pakai pada sketsa kami. Wikipedia, islamiclandmarks.com, dan Karak Resources Project menempatkan Mu'tah di sekitar Karak, dan Karak Resources Project menulis bahwa lokasi pasti pertempuran tidak diketahui dan hanya secara tradisi dikaitkan dengan kota Mu'tah. Karena itu sketsa ini kami susun sebagai urutan, bukan denah.
| Pasukan | Jumlah | Peran yang disebut Ibnu Hisyam |
|---|---|---|
| Kaum Muslimin | 3.000 (Ibnu Hisyam, Haykal, Wikipedia) | Panji pada Zaid, lalu Ja'far, 'Abdullah bin Rawahah, Tsabit bin Arqam, dan Khalid; sayap kanan Quthbah bin Qatadah, sayap kiri 'Ubayah bin Malik; keahlian unit tidak disebut. |
| Romawi | 100.000 (Ibnu Hisyam) | Heraklius di Ma'ab menurut kabar yang diterima di Ma'an; keahlian pasukan tidak disebut. |
| Sekutu Arab | 100.000 (Ibnu Hisyam) | Lakhm, Judzam, al-Yaqin, Bahra', dan Baly di bawah Malik bin Zafilah, yang dibunuh Quthbah bin Qatadah; keahlian pasukan tidak disebut. |
Dari Haykal. Bagian ini bukan dari Ibnu Hisyam. Haykal menulis tiga ribu orang, bahwa beliau melarang membunuh perempuan, anak-anak, dan orang sakit serta merusak rumah dan pohon, bahwa Khalid ikut untuk membuktikan kesetiaannya, dan bahwa kaum Muslimin sampai di Ma'an tanpa tahu apa yang menanti. Menurutnya Syurahbil, wakil Heraklius di Syam, mengerahkan suku-suku sekitarnya dan meminta tambahan pasukan. Setelah tiga panglima gugur, Khalid menata ulang barisan, hanya membiarkan bentrokan kecil, dan malam itu mengirim sebagian orang ke belakang agar tampak bala bantuan datang dari Madinah; menurut Haykal siasat itu berhasil dan Bizantium meninggalkan medan.
Dari sumber lain. Bagian ini bukan dari Ibnu Hisyam, dan belum kami periksa pada kitab asalnya. Menurut artikel Wikipedia Battle of Mu'tah (peta skematiknya diuraikan pada Soal denah di atas) (https://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Mu'tah), kaum Muslimin sekitar 3.000 dan Bizantium bersama Ghassan sekitar 10.000 menurut kotak infonya. Artikel itu menulis al-Waqidi menyebut sekitar 100.000 pasukan Bizantium dan Ibnu Ishaq 200.000, dan sejarawan modern menyebut angka itu sangat dilebihkan; Walter Kaegi menilai pasukan di Mu'tah tidak mungkin lebih dari 10.000. Artikel itu menulis Theodore (Theodorus) memimpin pasukan Bizantium, dan bahwa kubu Bizantium berada di dekat desa Musharif, yang diserang kaum Muslimin sebelum mundur ke Mu'tah. Ia mencantumkan 12 korban Muslim yang disebut namanya, empat Muhajirin dan delapan Anshar, dan menulis hasilnya kemenangan Bizantium di kotak info; menurut artikel itu, riwayat al-Waqidi yang tertua menggambarkan kekalahan Muslim, sedangkan sumber Muslim yang lebih belakang menyebut kemenangan karena sebagian besar pasukan pulang selamat. Daftar nama syuhada dalam Ibnu Hisyam berjumlah 12 nama menurut hitungan kami, empat dari Muhajirin dan delapan dari Anshar.
Perbedaan sumber
Penyebab. Ibnu Hisyam tidak menyebut penyebab pengiriman pasukan. Haykal menyebut dua versi: terbunuhnya lima belas utusan di Dzat ath-Thalh, atau terbunuhnya utusan beliau kepada penguasa Bushra oleh seorang dari Ghassan. Pasukan musuh. Ibnu Hisyam menulis seratus ribu tentara Romawi dan seratus ribu sekutu Arab. Haykal menulis sebagian sejarawan menyebut Heraklius sendiri di Ma'ab dengan seratus ribu tentara Romawi dan seratus ribu dari Lakhm, Judzam, al-Qain, Bahra', dan Baly, sedangkan riwayat lain menyebut pemimpinnya Teodorus, saudara Heraklius, dan jumlah musuh seratus atau dua ratus ribu. Gugurnya Zaid. Ibnu Hisyam menulis ia gugur oleh tikaman tombak; Haykal menulis oleh anak panah. Sebelum bertempur. Ibnu Hisyam menulis kedua pasukan saling merapat lalu kaum Muslimin bergerak ke Mu'tah; Haykal menulis musuh menyerang, lalu kaum Muslimin mundur ke desa Mu'tah yang menurutnya memberi keuntungan strategis dan memperkuat posisi di sana. Sayap pasukan. Ibnu Hisyam menyebut Quthbah bin Qatadah pada sayap kanan dan 'Ubayah (atau 'Ubadah) bin Malik pada sayap kiri; Haykal tidak menyebut sayap. Khalid. Ibnu Ishaq menulis Khalid menyerang musuh lalu mundur dan pulang bersama pasukan; az-Zuhri dalam Ibnu Hisyam menulis Khalid memimpin sampai Allah memberi kemenangan kepada mereka. Haykal menulis Khalid menata ulang barisan, hanya membiarkan bentrokan kecil, dan pada malam hari mengirim sejumlah orang ke belakang agar esok paginya tampak bala bantuan dari Madinah; Bizantium memutuskan meninggalkan medan, dan menurut Haykal kaum Muslimin tidak menang dan tidak kalah. Khan tidak menyebut perang ini.
- Tiga panglima
Zaid, Ja'far, dan 'Abdullah bin Rawahah
Pada Jumadal Ula tahun kedelapan beliau mengirim pasukan tiga ribu ke Mu'tah dan menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai panglima, dengan Ja'far bin Abu Thalib lalu 'Abdullah bin Rawahah sebagai pengganti berurutan. 'Abdullah bin Rawahah menangis saat dilepas karena teringat ayat tentang neraka dan tidak tahu nasibnya setelah mati.
Baca selengkapnya
Beliau tinggal di Madinah pada sisa bulan Dzulhijjah dan terus hingga bulan Muharram, Shafar, Rabiul Awal, dan Rabiul Akhir. Pada bulan Jumada Ula, beliau mengirim pasukan ke Syam yang kemudian diantara mereka ada yang gugur di perang Mu'tah.1
Pada bulan Jumadal Ula tahun kedelapan Hijriyah beliau mengirim pasukan ke Mu'tah dan menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai panglima. Rasulullah bersabda: "Apabila Zaid gugur, maka panglima pasukan digantikan oleh Ja'far bin Abu Thalib. Apabila Ja'far bin Abu Thalib gugur, maka digantikan oleh 'Abdullah bin Rawahah."2
Pasukan Islam segera mengadakan persiapan dan bersiaga penuh untuk berangkat melaksanakan tugas dan kewajiban. Pasukan itu berjumlah tiga ribu personel. Saat keberangkatan tiba, kaum Muslimin melepas keberangkatan mereka dan mengucapkan salam perpisahan kepada para panglima pasukan. Ketika 'Abdullah bin Rawahah diberi ucapan selamat jalan oleh orang-orang yang melepas kepergian para panglima pasukan, ia menangis. Para sahabat bertanya: "Wahai Ibnu Rawahah mengapa engkau menangis?" 'Abdullah bin Rawahah menjawab: "Demi Allah, aku menangis bukan karena kecintaanku pada dunia atau kerinduanku pada kalian, namun karena aku pernah mendengar Rasulullah membaca ayat al-Qur'an tentang neraka:
Dan tidak ada seorang pun dari kalian, melainkan mendatangi neraka tersebut; hal ini bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan (QS. Maryam: 71).
Aku tidak tahu seperti apa nasib diriku setelah kematian. Kaum Muslimin berkata: Semoga Allah menyertai, melindungi serta mengembalikan kalian kepada kami dalam keadaan selamat. Kemudian 'Abdullah bin Rawahah menuturkan syair:3
- Syair perpisahan
Doa 'Abdullah bin Rawahah
'Abdullah bin Rawahah menuturkan syair memohon ampunan dan mati syahid, lalu menghadap beliau untuk berpamitan, dan sesudah dilepas ia melantunkan syair salam bagi yang ditinggalkan di Madinah.
Baca selengkapnya
Aku memohon ampunan pada Sang Maha Penyayang
Dan pukulan dahsyat yang memancarkan darah
Atau tikaman oleh manusia haus darah
Dengan tombak yang menembus usus dan hati
Hingga orang-orang berkata tatkala melewati kuburanku,
Semoga Allah memberi petunjuk kepada tentara dan ia telah menggapainya
Pada saat pasukan siap untuk berangkat, 'Abdullah bin Rawahah menghadap Rasulullah dan mengucapkan salam perpisahan kepadanya.1
Lalu pasukan tersebut berangkat dan dilepas oleh Rasulullah. Setelah beliau melepas dan berpisah dengan mereka, 'Abdullah bin Rawahah bertutur:1
Semoga damai tercurah kepada orang yang ku tinggalkan di Madinah Sebaik-baik penjaga dan sahabat
- Singgah di Ma'an
Kabar tentang pasukan Heraklius
Pasukan singgah di Ma'an dan mendengar Heraklius telah tiba di Ma'ab, al-Balqa', dengan seratus ribu tentara Romawi dan seratus ribu sekutu dari Lakhm, Judzam, al-Yaqin, Bahra', dan Baly di bawah Malik bin Zafilah. Mereka tinggal dua malam, ada yang mengusulkan menulis kepada beliau, tetapi 'Abdullah bin Rawahah mengingatkan bahwa yang mereka cari adalah mati syahid, dan pasukan pun berangkat.
Baca selengkapnya
Kemudian pasukan Islam berangkat dan singgah di sebuah daerah di Syam bernama Ma'an. Di sana, mereka mendengar kabar bahwa Heraklius telah tiba di Ma'ab, sebuah daerah di al-Balqa', dengan membawa seratus ribu tentara Romawi dan seratus ribu tentara sekutu dari Lakhm, Judzam, al-Yaqin, Bahra', dan Baly yang dipimpin salah seorang dari Baly kemudian dari Irasyah yang bernama Malik bin Zafilah. Pada saat kaum Muslimin mendapatkan informasi itu, mereka tinggal di Ma'an selama dua malam untuk berfikir mencari solusi. Sebagian mereka berpendapat: "Kita harus mengirim surat kepada beliau untuk memberitahukan kepadanya jumlah kekuatan pasukan musuh, agar beliau mengirim pasukan tambahan atau memerintahkan kita kembali pulang."1
'Abdullah bin Rawahah memotivasi mereka seraya berkata: "Wahai kaum Muslimin, demi Allah, sesungguhnya hal yang kalian takuti ini pada hakikatnya inilah yang kalian cari yaitu mati syahid. Kita tidak memerangi musuh karena jumlah kita banyak atau kekuatan. Tapi, kita memerangi mereka dengan agama ini yang menjadikan kita dimuliakan oleh Allah. Berangkatlah, kalian akan memperoleh salah satu dari dua kebaikan: kemenangan atau mati syahid." Kaum Muslimin berkata: "Demi Allah, apa yang dikatakan 'Abdullah bin Rawahah adalah benar." Maka kaum muslimin pun berangkat.
- Syair di perjalanan
Zaid bin Arqam di kantong pelana
Zaid bin Arqam, anak yatim dalam asuhan 'Abdullah bin Rawahah, menuturkan bahwa ia dibawa di kantong pelana dan mendengar syair sang pengasuh di malam hari; ia menangis, dipukul dengan tongkat kecil, dan 'Abdullah bin Rawahah melanjutkan syairnya.
Baca selengkapnya
Pasukan kaum Muslimin pun berangkat. Kemudian 'Abdullah bin Abu Bakr meriwayatkan kepadaku bahwa ia diberitahu dari Zaid bin Arqam, ia berkata: Aku adalah seorang anak yatim dalam asuhan 'Abdullah bin Rawahah. Dalam perjalanan ini, ia membawaku dan menempatkanku di kantong besar yang ada pada unta. Demi Allah, pada saat ia berjalan pada suatu malam, aku mendengarnya menuturkan syair berikut ini:1
Bila engkau membawaku mengangkut perbekalanku
Dalam perjalanan empat hari di tanah berair penuh batu
Maka nikmatilah hidup dan kau tidak tercela
Dan aku tidak akan kembali ke keluarga di belakang
Kaum Muslimin telah pergi dan mereka meninggalkan aku
Di daerah Syam karena senang berdiam di sana
Engkau wahai kudaku, ditinggalkan orang yang memiliki nasab dekat
Kepada ar-Rahman dalam keadaan persaudaraan yang terputus
Disana, aku tidak peduli dengan buah-buahan yang tergantung pada hujan
Dan kurma yang akarnya disirami oleh manusia
Saat mendengar untaian bait-bait syair tersebut, aku menangis. 'Abdullah bin Rawahah memukulku dengan tongkat kecil seraya berkata: "Anakku, apa salahnya jika Allah menganugrahkan kepadaku mati syahid dan engkau pulang pada salah satu kantong pelana unta ini?" …, 'Abdullah bin Rawahah bertutur:
Wahai Zaid, wahai Zaid unta yang berjalan cepat, malam telah berlalu
Engkau telah mendapat petunjuk, maka turunlah4
- Bertemu di Masyarif
Susunan sayap pasukan
Di perbatasan al-Balqa', di desa Masyarif, pasukan berpapasan dengan Romawi dan sekutu Arabnya; kedua pasukan saling merapat, tetapi kaum Muslimin bergerak ke Mu'tah dan di sanalah mereka berhadapan. Sayap kanan dipimpin Quthbah bin Qatadah dari Bani Udzrah dan sayap kiri 'Ubayah bin Malik dari Anshar.
Baca selengkapnya
Pasukan Islam terus berjalan. Ketika mereka tiba di perbatasan al-Balqa' tepatnya di desa Masyarif, mereka berpapasan dengan pasukan Romawi dan pasukan sekutu Arab. Kedua pasukan itu saling merapat, namun kaum Muslimin bergerak menuju daerah Mu'tah. Di sanalah, kedua belah pihak berhadapan. Kaum Muslimin bersiap-siap menghadapi musuh dengan menunjuk Quthbah bin Qatadah seorang sahabat dari Bani Udzrah sebagai pemimpin pasukan sayap kanan sedangkan pada sayap kiri dipimpin oleh 'Ubayah bin Malik seorang sahabat dari kaum Anshar.1
Pendapat lain mengatakan namanya 'Ubadah bin Malik.5
- Zaid dan Ja'far gugur
Panji berpindah tangan
Zaid bin Haritsah gugur oleh tikaman tombak sambil memegang panji. Ja'far bin Abu Thalib turun dari kudanya, menyembelihnya, dan bertempur sampai gugur; ia disebut pertama yang menyembelih kudanya di medan perang dalam sejarah Islam.
Baca selengkapnya
Kedua belah pihak saling berhadapan lalu saling serang. Zaid bin Haritsah bertempur dengan memegang panji perang Rasulullah hingga gugur karena terkena tikaman tombak musuh.1
Kemudian panji perang diambil alih oleh Ja'far bin Abu Thalib. Saat perang berkecamuk, Ja'far bin Abu Thalib turun dari kudanya dan menyembelih kudanya tersebut. Kemudian ia bertempur hingga gugur. Dalam sejarah Islam, Ja'far bin Abu Thalib merupakan orang yang pertama kali menyembelih kudanya di medan perang.
Ayahku adalah warga Bani Murrah bin 'Auf dan hadir pada Perang Mu'tah, Ia berkata: "Demi Allah, pada saat aku menyaksikan Ja'far bin Abu Thalib turun dari kudanya, lalu menyembelihnya, kemudian bertempur hingga terbunuh, ia bertutur:6
Betapa indah dan dekatnya surga
Minumannya baik dan menyegarkan
Orang-orang Romawi sungguh dekat siksanya
Mereka kafir dan bernasab jauh
Jika bertemu, akan kuserang mereka
Seorang yang aku percayai meriwayatkan kepadaku bahwa Ja'far bin Abu Thalib mempertahankan panji perang dengan tangan kanannya hingga putus, kemudian ia memegangnya dengan tangan kiri hingga putus, lalu ia dekap dengan kedua lengannya hingga ia pun gugur pada usianya yang ketiga puluh tiga tahun. Allah Ta'ala memberinya balasan berupa dua buah sayap sehingga ia dapat terbang di dalam surga sesuka hatinya. Pendapat lain mengatakan bahwa salah seorang tentara Romawi memukulnya dan tubuhnya terbelah menjadi dua bagian.57
- 'Abdullah bin Rawahah gugur
Ragu sejenak lalu maju
'Abdullah bin Rawahah mengambil panji, sempat ragu, lalu menyemangati dirinya dengan syair; saat sepupunya menyodorkan sepotong tulang berdaging ia menggigitnya sebentar, mendengar suara pertempuran, membuangnya, dan bertempur sampai gugur.
Baca selengkapnya
Ayahku merupakan warga Bani Murrah bin 'Auf, ia kepadaku: Tatkala Ja'far bin Abu Thalib menemui kesyahidannya, 'Abdullah bin Rawahah cepat bertindak dengan mengambil alih panji perang. Ia maju dengan membawa bendera perang itu dengan mengendarai kuda dan terjun ke medan perang, namun dia sedikit ragu, kemudian ia bertutur:8
Aku bersumpah: Wahai diriku engkau harus terjun ke medan laga
Kau harus terjun ke medan laga atau kupaksa engkau menerjuninya
Manusia telah siaga dan berteriak kencang
Lalu kenapa kulihat kau tak suka surga
Sudah sekian lama engkau merasa tentram
Engkau hanyalah setetes air mani di himpitan daging
'Abdullah bin Rawahah juga bertutur:
Wahai diriku jika tidak terbunuh, engkaupun kan mati jua
Kekang kematian kini telah mengenaimu
Apa yang engkau impikan telah diberikan kepadamu
Jika engkau mengerjakan perbuatan keduanya, kau pasti dapat petunjuk
Adapun yang dimaksud dengan "keduanya" pada bait syair itu ialah Zaid bin Haritsah dan Ja'far bin Abu Thalib.
Kemudian, 'Abdullah bin Rawahah maju ke medan laga. Kala itu, ia dihampiri saudara sepupunya yang membawa sepotong tulang yang masih terdapat daging padanya. Saudara sepupunya itu berkata: "Makanlah daging ini agar badanmu tambah kuat, sesungguhnya hari-hari ini engkau berada dalam hari-hari yang melelahkan." 'Abdullah bin Rawahah pun mengambil daging tersebut menggigitnya. Tiba-tiba dia mendengar suara pertempuran, ia pun berkata: "Apakah engkau masih hidup di dunia?!". Ia pun segera membuang daging tersebut dan mengambil pedangnya lalu bertempur hingga gugur sebagai syahid.1
- Tsabit bin Arqam dan Khalid
Panji ke tangan Khalid
Tsabit bin Arqam mengambil panji dan meminta kaum Muslimin memilih panglima; mereka menunjuknya, ia menolak, lalu mereka mengangkat Khalid bin al-Walid, yang menyerang musuh, kemudian mundur dan pulang bersama kaum Muslimin.
Baca selengkapnya
Sepeninggal 'Abdullah bin Rawahah, panji perang diambil alih oleh Tsabit bin Arqam dari Bani al-'Ajlan. Ia berkata: "Wahai kaum Muslimin, pilihlah salah seorang dari kalian untuk menjadi panglima pasukan." Kaum Muslimin berkata: "Engkaulah panglima perang kami." Tsabit bin Arqam berkata: "Aku tidak bersedia." Kemudian kaum Muslimin mengangkat Khalid bin Walid untuk menjadi panglima pasukan. Ketika Khalid bin Walid mengambil panji perang, ia pun menyerang musuh, namun kemudian mundur dan pulang bersama kaum Muslimin.
- Kabar dari beliau
Mimpi tentang singgasana
Ketika para panglima gugur beliau menyampaikan nasib mereka satu per satu, lalu mengabarkan mimpi: ketiganya berada di surga di atas singgasana emas, singgasana 'Abdullah bin Rawahah miring karena ia sempat ragu.
Baca selengkapnya
Ketika para panglima pasukan Islam gugur, Rasulullah bersabda: "Panji perang dipegang Zaid bin Haritsah kemudian dia bertempur hingga gugur sebagai syahid, lalu panji perang diambil alih oleh Ja'far bin Abu Thalib, diapun bertempur hingga gugur sebagai syahid." Kemudian Rasulullah terdiam sejenak hingga rona wajah orang-orang Anshar berubah dan mengira telah terjadi sesuatu yang tidak mereka sukai pada 'Abdullah bin Rawahah. Kemudian Rasulullah melanjutkan sabdanya: "Kemudian panji perang diambil alih oleh 'Abdullah bin Rawahah, lalu dia bertempur hingga gugur sebagai syahid." Beliau terus melanjutkan sabdanya: "Diperlihatkan kepadaku dalam mimpi, bahwa mereka berada di surga di atas singgasana terbuat dari emas. Aku melihat singgasana 'Abdullah bin Rawahah miring tidak seperti singgasana dua sahabatnya. Aku bertanya: "Mengapa singgasana 'Abdullah bin Rawahah miring?" Dikatakan kepadaku: "Tatkala Zaid bin Haritsah dan Ja'far bin Abu Thalib maju ke medan laga tanpa ragu, sedang 'Abdullah bin Rawahah sedikit ragu sebelum ia bertempur."19
- Duka di rumah Ja'far
Asma' dan 'Aisyah menuturkan
Asma' binti 'Umais menuturkan bagaimana beliau datang menghiburnya, mencium anak-anak Ja'far sambil menangis, lalu berpesan agar keluarga Ja'far dibuatkan makanan; 'Aisyah menuturkan wajah duka beliau dan perintah kepada para wanita yang meratap.
Baca selengkapnya
'Abdullah bin Abu Bakr meriwayatkan kepadaku dari Ummu 'Isa al-Khuza'iyyah dari Ummu Ja'far binti Muhammad bin Ja'far bin Abu Thalib dari neneknya, Asma' binti 'Umais, ia menceritakan: Ketika Ja'far dan para sahabat gugur, beliau datang berta'ziah kepadaku. Saat itu, aku baru selesai menyamak sebanyak empat puluh kulit, membuat adonan roti, memandikan anak-anakku, meminyaki rambut, dan membersihkan mereka. Rasulullah bersabda: "Bawalah kemari anak-anak Ja'far." Aku pun segera membawa anak-anakku ke hadapan beliau, lalu Rasulullah mencium mereka satu persatu dengan air mata berlinang. Aku berkata: "Wahai Rasulullah, apa yang membuat engkau menangis? Apakah engkau telah mendapat berita tentang Ja'far dan para sahabatnya?" Rasulullah bersabda: "Mereka gugur pada hari ini." Aku pun berdiri dan berteriak hingga wanita-wanita berkumpul di sekitarku. Lalu beliau keluar dari rumahku seraya bersabda: "Janganlah kalian lupa memasak makanan bagi keluarga Ja'far, sebab mereka telah disibukkan dengan kematian Ja'far."1
Saat berita tentang gugurnya Ja'far bin Abu Thalib sampai, aku melihat rona duka pada wajah beliau.10
Salah seorang sahabat masuk ke tempat beliau dan berkata: "Wahai Rasulullah, para wanita membuat kami repot dan sangat mengganggu." Rasulullah bersabda: "Temuilah mereka dan perintahkan agar mereka diam!" Sahabat tersebut pergi namun datang kembali dan mengatakan hal yang sama. Aku berkata: "Bisa saja berlebih-lebihan akan membahayakan pelakunya." Rasulullah bersabda: "Pergilah ke tempat mereka dan suruhlah mereka untuk diam. Jika mereka tetap tidak diam, maka taburkan tanah ke mulut mereka." Aku berkata dalam hati tentang sahabat tersebut: "Demi Allah, engkau tidak membiarkan dirimu bebas dan kau tidak taat kepada Rasulullah." Aku tahu sahabat itu tidak sanggup menaburkan tanah ke mulut para wanita tersebut.11
- Malik bin Zafilah
Syair Quthbah dan dukun wanita Hadas
Quthbah bin Qatadah, pemimpin sayap kanan, menewaskan Malik bin Zafilah dan bersyair tentangnya; Ibnu Hisyam mencatat bait ketiga berasal dari Khallad bin Qurrah. Dukun wanita dari Hadas memperingatkan kaumnya, yang lalu menyingkir dari Lakhm.
Baca selengkapnya
Quthbah bin Qatadah al-Udzri, pemimpin pasukan sayap kanan tentara kaum Muslimin menyerang Malik bin Zafilah dan berhasil menewaskannya. Quthbah bin Qatadah bertutur:1
Ku tusuk anak Zafilah bin al-Irasy
Dengan tombak yang menembus tubuhnya kemudian merobeknya
Aku pukul lehernya hingga miring laksana miringnya ranting pohon as-Salam
Kami giring wanita-wanita sepupunya
Pada hari Ruqaiqah laksana domba-domba
Kata "Bin al-Irasy," bukan berasal dari Ibnu Ishaq. Sedangkan bait ketiga berasal dari Khallad bin Qurrah. Pendapat lain mengatakan Malik bin Rafilah.5
Pada saat mendengar kepulangan pasukan kaum Muslimin, dukun wanita dari Hadas berkata mengingatkan kaumnya di sebuah perkampungan yang bernama Bani Ghanm: "Aku peringatkan kalian terhadap sebuah kaum yang melihat dengan memicingkan mata dan penuh lirikan, menuntun unta dengan berurutan, dan menumpahkan darah kotor." Orang-orang Bani Ghanm mematuhi ucapan dukun wanita itu dan menyingkir dari Lakhm. Setelah itu Hadas tetap menjadi sebuah kabilah yang besar dan makmur.1
Sedangkan orang-orang yang menyulut api perang pada saat itu adalah Bani Tsa'labah, merupakan salah satu kabilah di Hadas yang terus berkurang setelah itu. Setelah Khalid bin Walid berhasil mundur, ia pulang ke Madinah bersama para pasukan Islam.
- Pulang ke Madinah
Sambutan dan tuduhan melarikan diri
Pasukan dijemput beliau dan anak-anak; kaum Muslimin menaburkan tanah ke wajah pasukan sambil menyebut mereka orang yang lari dari jalan Allah, tetapi beliau bersabda mereka akan kembali, insya Allah. Ibnu Hisyam mencatat az-Zuhri menulis Khalid memimpin sampai Allah memberi kemenangan.
Baca selengkapnya
Pada saat pasukan kaum Muslimin mendekati kawasan Madinah, mereka disambut beliau, kaum Muslimin, dan anak-anak sambil berlarian. Beliau bersama kaum Muslimin datang ke tempat itu dengan menunggang kuda. Beliau bersabda: "Ambillah anak-anak, bawa mereka, dan berikan kepadaku anak Ja'far. Maka 'Abdullah bin Ja'far dibawa kehadapan Rasulullah kemudian beliau mengambilnya dan membawanya. Adapun Kaum Muslimin menaburkan tanah ke arah pasukan kaum Muslimin sambil berkata: "Wahai orang-orang yang lari, kalian lari dari jalan Allah." Rasulullah bersabda: "Mereka tidak melarikan diri, namun akan balik kembali, Insya Allah."12
'Abdullah bin Abu Bakr berkata kepadaku, dari 'Amir bin 'Abdullah bin Zubair, dari beberapa anggota keluarga al-Harits bin Hisyam —mereka adalah paman-pamannya— yang berkata: Dari Ummu Salamah, isteri Rasulullah: Ia bertanya kepada istri Salamah bin Hisyam bin al-'Ash bin al-Mughirah: "Kenapa aku tidak melihat Salamah ikut shalat berjamaah bersama beliau dan para sahabatnya?" Istri Salamah bin Hisyam menjawab: 'Demi Allah, ia tidak bisa keluar, sebab setiap kali ia keluar, orang-orang selalu mengejeknya: "Hai orang-orang yang lari, kalian lari dari jalan Allah." Oleh sebab itulah, ia berdiam diri di rumah dan tidak berani keluar."1
Perihal apa yang terjadi pada pasukan kaum Muslimin dan keputusan Khalid bin Walid untuk menghindari musuh, serta kepulangannya bersama pasukan. Dengan demikian Qais menjelaskan apa yang menjadi perselisihan di tengah penduduk Madinah dalam syairnya ini. Bahwa banyak orang yang tidak suka dan mengelak dari kematian dan dia menyatakan bahwa langkah Khalid bersama pasukannya adalah benar.1
Az-Zuhri berkata bahwa setelah ketiga panglima pasukan kaum Muslimin gugur, maka kaum Muslimin di pimpin oleh Khalid bin Walid hingga Allah memberi kemenangan kepada mereka. Khalid bin Walid tetap menjadi panglima pasukan hingga tiba di tempat Rasulullah.513
- Syuhada' Mu'tah
Nama-nama yang gugur
Ibnu Ishaq mendaftar syuhada Quraisy dari Bani Hasyim dan Bani 'Adi, Bani Malik bin Hisl, serta kaum Anshar dari Bani al-Harits bin al-Khazraj, Bani Ghanm bin Malik, dan Bani Mazin bin an-Najjar; Ibnu Hisyam menambah nama dari Bani Mazin dan Bani Malik bin Afsha.
Baca selengkapnya
Di antara para syuhada' dari kaum Quraisy, kemudian dari Bani Hasyim adalah sebagai berikut: Ja'far bin Abu Thalib dan Zaid bin Haritsah. Dari Bani 'Adi bin Ka'ab adalah Mas'ud bin al-Aswad bin Haritsah bin Nadhlah. Dari Bani Malik bin Hisl adalah Wahb bin Sa'ad bin Abu Sarh.1
Adapun para syuhada dari kaum Anshar, kemudian dari Bani al-Harits bin al-Khazraj adalah sebagai berikut: 'Abdullah bin Rawahah, 'Abbad bin Qais.
Dari Bani Ghanm bin Malik bin an-Najjar adalah al-Harits bin Nu'man bin Isaf bin Nadhlah bin 'Abdun bin 'Auf bin Ghanm.
Dari Bani Mazin bin an-Najjar adalah Suraqah bin 'Amr bin 'Athiyyah bin Khansa.
Ibnu Syihab berkata: Di antara syuhada Perang Mu'tah dari Bani Mazin bin an-Najjar adalah kedua anak 'Amr bin Zaid bin 'Auf bin Mabdzul yakni Abu Kulaib dan Jabir. Mereka berdua adalah saudara kandung.5
Dari Bani Malik bin Afsha adalah sebagai berikut: 'Amr dan 'Amir bin Sa'ad bin al-Harits bin 'Abbad bin Sa'ad bin 'Amir bin Tsa'labah bin Malik bin Afsha.
Ada yang mengatakan bahwa Abu Kilab dan Jabir adalah kedua anak 'Amr.5
Catatan
- Ibnu Ishaq.
- Ibnu Ishaq. Sanad: Muhammad bin Ja'far bin Zubair meriwayatkan kepadaku dari 'Urwah bin Zubair.
- Nomor catatan kaki "180" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat.
- Ejaan: tercetak "mendengarya", kami membaca "mendengarnya"; tercetak "situ", tidak jelas sehingga kami menandainya "…".
- Tambahan Ibnu Hisyam.
- Ibnu Ishaq. Sanad: Yahya bin 'Abbad bin 'Abdullah bin Zubair meriwayatkan kepadaku dari ayahnya, 'Abbad.
- Ejaan: tercetak "berkara", kami membaca "berkata".
- Ibnu Ishaq. Sanad: Yahya bin 'Abbad bin 'Abdullah bin Zubair meriwayatkan kepadaku dari ayahnya, 'Abbad.
- Nomor catatan kaki "181" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat.
- Ibnu Ishaq. Sanad: 'Abdurrahman bin al-Qasim bin Muhammad meriwayatkan kepadaku dari ayahnya dari 'Aisyah.
- Nomor catatan kaki "182", "183" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat. ejaan: tercetak "anak-nakku", kami membaca "anak-anakku".
- Ibnu Ishaq. Sanad: Muhammad bin Ja'far bin Zubair berkata kepadaku dari 'Urwah bin Zubair.
- Ejaan: tercetak "Maka'", kami membaca "Maka". Paragraf tentang Qais merujuk "syairnya", tetapi syair itu tidak tercetak pada terjemahan yang kami pakai.
Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Bab berikutnya membahas Fathu Makkah.