Isi bab ini
Bab ini memuat umrah yang berakhir di Hudaibiyah menurut Ibnu Hisyam: perjalanan lewat jalan lain, utusan Budail, Mikraz, al-Hulais, dan 'Urwah, Bai'atur Ridhwan, isi perjanjian, surat al-Fath, kisah Abu Bashir, dan ayat tentang wanita beriman yang hijrah.
Umrah, bukan perang
Beliau berangkat pada Dzulqa'dah tahun 6 H (Maret 628 M) untuk umrah, membawa hewan sembelihan dan berpakaian ihram agar Quraisy merasa aman.
Bai'atur Ridhwan
Setelah kabar bahwa 'Utsman dibunuh, beliau mengajak para sahabat berbaiat di bawah sebuah pohon; menurut Jabir, baiat itu agar tidak melarikan diri.
Isi perjanjian
Gencatan senjata sepuluh tahun; orang Quraisy yang datang tanpa izin walinya dikembalikan, pengikut Muhammad yang ke Quraisy tidak; pulang tahun ini, datang tahun depan tiga hari.
Surat al-Fath
Turun dalam perjalanan pulang antara Makkah dan Madinah; menurut az-Zuhri, tidak ada penaklukan sebelum Fathu Makkah yang lebih besar daripada perdamaian Hudaibiyah.
Madinah, Dzul Hulaifah, dan Makkah
Titik Makkah, Madinah, dan Dzul Hulaifah diambil dari Wikipedia. Hudaibiyah dan tempat lain yang disebut dalam bab ini tidak ditandai karena koordinatnya belum kami verifikasi.
Dari berangkat umrah sampai ayat al-Mumtahanah
Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.
- Berangkatumrah, bukan perang
- Jumlahrombongan
- BisyrQuraisy di Dzu Thawa
- Jalan lainDzatul Yamin
- Unta berhentiair memancar
- Najiyahatau al-Barra'
- BudailKhuza'ah
- Mikrazutusan Quraisy
- Al-Hulaishewan sembelihan
- 'Urwahkesetiaan sahabat
- Khirasypara penyusup
- 'Utsmankabar terbunuh
- Ridhwanbaiat di bawah pohon
- Suhail'Umar bertanya
- Perjanjian'Ali menulis
- Abu Jandaldan saksi
- Sembelihdan bercukur
- Al-Fath (1)kemenangan nyata
- Al-Fath (2)rida Allah
- Abu Bashiral-Ish
- Ummu Kultsumwanita hijrah
- Al-Mumtahanahwanita tidak dikembalikan
Jalur dan urutan di Hudaibiyah
Sketsa ini menata apa yang disebut Ibnu Ishaq; letak relatif dan bentuk medan hanyalah perkiraan dan tidak berskala. Kami menggambarnya sendiri.
- Beliau berangkat dari Madinah dan tiba di 'Usfan, tempat Bisyr bin Sufyan al-Ka'bi mengabarkan kesiapan Quraisy (garis putus-putus: jalur tidak disebut).
- Beliau menanyakan siapa yang mengetahui jalan lain, dan seorang dari Aslam bersedia menuntun rombongan.
- Rombongan lewat jalan berpepohonan di antara jalan-jalan menuju gunung, keluar di tanah datar di ujung lembah, dan beliau menyuruh mereka mengucapkan permohonan ampun dan taubat.
- Beliau menyuruh melewati Dzatul Yamin, jalan yang keluar di Tsaniyyatul Mirar, tempat pemberhentian di al-Hudaibiyah dari bawah Kota Makkah.
- Di Tsaniyyatul Mirar unta beliau berhenti; mereka beristirahat di sebuah sumur yang airnya memancar setelah anak panah ditancapkan.
- Budail bin Warqa' dan orang Khuza'ah menemui beliau, lalu kembali dan memberi tahu Quraisy bahwa beliau datang bukan untuk perang; Quraisy mengutus Mikraz.
- Mikraz bin Hafsh kembali menyampaikan penjelasan beliau, dan Quraisy mengutus al-Hulais.
- Al-Hulais bin 'Alqamah pulang setelah melihat hewan sembelihan dan mengancam keluar bersama orang Ahabisy; kemudian Quraisy mengutus 'Urwah.
- 'Urwah bin Mas'ud kembali kepada Quraisy; dalam urutan Ibnu Ishaq berikutnya beliau mengutus Khirasy bin Umayyah, yang untanya disembelih.
- Beliau memanggil 'Utsman bin 'Affan sebagai utusan; ia ditahan dan kabar yang sampai ialah bahwa ia dibunuh.
- Beliau mengajak para sahabat berbaiat di bawah sebuah pohon (Baiat ar-Ridhwan).
- Quraisy mengutus Suhail bin 'Amr; terjadi perundingan, 'Ali menulis naskah, dan perjanjian disepakati.
Strateginya menurut Ibnu Ishaq: beliau tidak berangkat untuk perang, tetapi tetap menghindari jalan utama yang dijaga pasukan berkuda Khalid dengan memakai jalan lain lewat Dzatul Yamin ke Tsaniyyatul Mirar. Di sana unta beliau berhenti, dan beliau bersabda bahwa bila Quraisy mengajak menjalin kerabat, beliau pasti menyepakatinya. Kisah selanjutnya adalah bolak-balik utusan antara kedua pihak, bukan pertempuran besar; Ibnu Hisyam tidak menyebut susunan barisan, pembagian tugas pasukan, atau jumlah pasukan Quraisy. Sketsa ini hanya menata urutan yang disebut.
| Pasukan | Jumlah | Peran yang disebut Ibnu Hisyam |
|---|---|---|
| Kaum Muslimin | 700 menurut az-Zuhri; 400 menurut Jabir; 1.400 menurut Jabir dalam keterangan Ibnu Hisyam | Berpakaian ihram, membawa hewan sembelihan (tujuh puluh unta menurut az-Zuhri); wakil di Madinah Numailah bin 'Abdullah al-Laitsi; pemandu dari Aslam menuntun lewat jalan lain. |
| Quraisy | tidak disebut | Keluar bersama istri dan anak mereka, berkumpul di Dzu Thawa; Khalid bin al-Walid dengan pasukan berkuda di Kuraul Ghamim; sekutu Ahabisy dipimpin al-Hulais bin 'Alqamah. |
| Utusan | Budail, Mikraz, al-Hulais, 'Urwah, Khirasy, 'Utsman, Suhail | Utusan Quraisy: Mikraz, al-Hulais, 'Urwah, Suhail. Utusan beliau: Khirasy bin Umayyah dan 'Utsman bin 'Affan. Budail dari Khuza'ah menemui beliau lebih dahulu. |
Perbedaan sumber
Jumlah rombongan. Ibnu Ishaq memuat tiga angka: tujuh ratus orang dengan tujuh puluh unta menurut az-Zuhri, empat ratus menurut Jabir, dan di akhir bab Ibnu Hisyam menulis seribu empat ratus menurut Jabir. Haykal dan Khan sama-sama menyebut sekitar seribu empat ratus; Haykal juga menyebut tujuh puluh unta, Khan menyebut unta dan domba sebagai hewan sembelihan.
Pasukan Quraisy. Dalam tuturan Bisyr bin Sufyan di Ibnu Ishaq, Khalid bin al-Walid dengan pasukan berkudanya dikerahkan ke Kuraul Ghamim. Haykal menulis pasukan Quraisy termasuk dua ratus penunggang kuda di bawah Khalid dan 'Ikrimah bin Abu Jahl, yang maju ke Dzu Thawa.
Isi baiat dan nasib 'Utsman. Menurut Jabir dalam Ibnu Ishaq, baiat itu agar tidak melarikan diri, bukan untuk mati; kabar tentang 'Utsman yang tercetak di bab ini hanya bahwa ia ditahan dan dikabarkan dibunuh. Haykal menulis para sahabat berbaiat untuk berperang sampai orang terakhir, lalu 'Utsman ternyata selamat dan kembali; Khan menulis mereka berjanji akan bersama-sama menang atau gugur, dan 'Utsman ternyata hidup.
Lama gencatan. Ibnu Ishaq, Khan, dan sebagian besar penulis biografi menurut Haykal menulis sepuluh tahun; Haykal juga menyebut al-Waqidi, yang menulis dua tahun.
Abu Jandal. Ibnu Ishaq menulis Suhail memukul wajahnya dan mencengkeram kerah bajunya; Haykal menulis Suhail memukul wajahnya dan menariknya pada rambutnya.
Syarat membawa senjata tahun depan. Ibnu Ishaq menulis hanya pedang di sarungnya; Khan menulis mereka datang tanpa senjata (unarmed), dan Haykal menulis tidak membawa lebih dari pedang di sarungnya.
- Berangkat untuk umrah
Dzulqa'dah tahun keenam, bukan untuk berperang
Setelah menetap di Madinah selama Ramadhan dan Syawal, beliau berangkat pada Dzulqa'dah untuk umrah, bukan untuk perang, dengan Numailah bin 'Abdullah al-Laitsi sebagai imam di Madinah untuk sementara waktu. Beliau mengajak orang Arab dan Badui di sekitarnya karena khawatir Quraisy memerangi atau menghalanginya, tetapi banyak Badui menolak. Beliau berangkat bersama Muhajirin, Anshar, dan orang Arab lain, membawa hewan sembelihan dan berpakaian ihram agar Quraisy merasa aman.
Baca selengkapnya
Kemudian, Rasulullah menetap di Madinah sepanjang bulan Ramadhan dan Syawal. Pada bulan Dzulqa'dah beliau keluar dari Madinah untuk melaksanakan umrah dan bukan untuk perang.1
Rasulullah meminta Numailah bin 'Abdullah al-Laitsi sebagai imam di Madinah untuk sementara waktu.2
Beliau menyeru orang-orang Arab dan Badui yang ada di sekitarnya untuk pergi bersama beliau, karena khawatir orang-orang Quraisy akan memerangi atau menghalanginya berkunjung ke Baitullah. Tak sedikit orang Badui yang menampik ajakannya. Walau demikian, Rasulullah tetap berangkat bersama para sahabat dari kaum Muhajirin, kaum Anshar, dan orang-orang Arab lainnya. Rasulullah membawa hewan sembelihan dan berpakaian ihram untuk umrah agar orang-orang Quraisy merasa aman dan mengetahui bahwa kedatangannya untuk mengunjungi Baitullah dan untuk mengagungkannya.13
- Jumlah rombongan
Tujuh ratus menurut az-Zuhri, empat ratus menurut Jabir
Menurut az-Zuhri dari Miswar bin Makhramah dan Marwan bin al-Hakam, beliau membawa tujuh puluh unta dan jumlah sahabat tujuh ratus, jadi satu unta untuk sepuluh orang. Jabir bin 'Abdullah menyebut empat ratus. Pada akhir bab, Ibnu Hisyam menyebut seribu empat ratus menurut Jabir.
Baca selengkapnya
"Beliau pada Tahun Hudaibiyah pergi untuk mengunjungi Baitullah, bukan untuk berperang, beliau membawa tujuh puluh unta untuk di sembelih. Jumlah sahabat yang ikut bersamanya adalah tujuh ratus ekor orang. Sehingga satu unta untuk sepuluh orang." Sedangkan Jabir bin 'Abdullah, sebagaimana diriwayatkan kepadaku bertutur bahwa jumlah para sahabat yang ikut serta ke al-Hudaibiyah adalah empat ratus orang.45
- Kabar dari Bisyr bin Sufyan
Quraisy bersiap di Dzu Thawa
Di 'Usfan beliau bertemu Bisyr bin Sufyan al-Ka'bi, yang mengabarkan bahwa Quraisy telah keluar bersama istri dan anak-anak mereka, berkumpul di Dzu Thawa, dan bersumpah beliau tidak boleh masuk, sementara Khalid bin al-Walid dengan pasukan berkudanya mereka kerahkan ke Kuraul Ghamim. Beliau bersabda tentang Quraisy, lalu menanyakan siapa yang mengetahui jalan lain.
Baca selengkapnya
Sementara itu az-Zuhri berkata: Rasulullah berjalan dan pada saat beliau tiba di 'Usfan, berjumpa dengan Bisyr bin Sufyan al-Ka'bi.
Ada yang menyebutkan namanya Busyr. Bisyr bin Sufyan berkata kepada Rasulullah: Wahai Rasulullah, orang-orang Quraisy telah mengetahui keberangkatanmu, karenanya mereka keluar bersama para isteri dan anak-anak mereka dengan mengenakan kulit-kulit dari harimau dan berkumpul di Dzu Thawa. Mereka bersumpah dengan nama Allah bahwa engkau tidak boleh masuk ke daerah mereka untuk selama-lamanya. Kemudian Khalid bin Walid dengan pasukan berkudanya telah mereka kerahkan ke Kuraul Ghamim.2
Rasulullah bersabda: "Celakalah orang-orang Quraisy itu, sungguh mereka telah dimakan api perang. Apa salahnya apabila mereka membiarkan aku berinteraksi dengan semua orang Arab. Jika orang-orang Arab tersebut mengalahkanku, memang sepeti itulah yang mereka harapkan. Namun, jika Allah memenangkanku atas mereka, maka mereka akan masuk Islam dengan berbondong-bondong. Dan bila mereka tidak masuk Islam mereka akan berperang karena mereka mempunyai kekuatan. Demi Allah, orang-orang Quraisy janganlah berprasangka salah, sesungguhnya aku tidak pernah berhenti memperjuangkan risalah yang aku bawa dari Allah hingga Dia memenangkannya atau aku mati karenanya." Rasulullah melanjutkan sabdanya: "Siapakah yang mengetahui jalan lain untuk kita lalui selain jalan yang akan dihadang oleh mereka?"6
- Jalan lain menuju Hudaibiyah
Pemandu dari Aslam dan Dzatul Yamin
Seorang dari Aslam menunjukkan jalan yang penuh pepohonan di antara jalan-jalan menuju gunung. Setelah keluar dari jalan itu dan tiba di tanah datar di ujung lembah, beliau menyuruh para sahabat mengucapkan permohonan ampun dan taubat, seperti yang ditawarkan kepada Bani Israil. Beliau lalu menyuruh mereka melewati Dzatul Yamin menuju Tsaniyyatul Mirar, dan pasukan berkuda Quraisy yang melihat debu di jalan yang berbeda pulang kepada kaumnya.
Baca selengkapnya
'Abdullah bin Abu Bakr meriwayatkan kepadaku bahwa seseorang dari Aslam berkata: "Aku, wahai Rasulullah." Kemudian orang tersebut berjalan bersama kaum Muslimin melewati jalan yang penuh dengan pepohonan di antara jalan-jalan menuju gunung sehingga sulit dilalui. Pada saat mereka keluar dari jalan tersebut dalam keadaan lelah dan kini mereka berada di tanah datar di ujung lembah, Rasulullah bersabda: "Katakanlah kami memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya." Para sahabatpun mengucapkannya. Beliau bersabda lagi: "Demi Allah, itulah perkataan (hiththah) yang dulu pernah ditawarkan oleh Allah kepada Bani Israel, namun mereka enggan untuk mengatakannya." Az-Zuhri berkata: Kemudian Rasulullah memberi perintah kepada kaum Muslimin seraya bersabda: "Hendaklah kalian berjalan melewati Dzatul Yamin. Dzatul Yamin terletak di antara tepi al-Hamsy jalan yang mengeluarkan kalian di Tsaniyyatul Mirar, tempat pemberhentian di al-Hudaibiyah, dari bawah Kota Makkah." Mereka pun berjalan melewati jalan tersebut. Pada saat pasukan berkuda Quraisy melihat kepulan debu dari jalan yang berbeda dengan jalan yang sedang mereka lalui, mereka segera pulang menemui orang-orang Quraisy.1
- Unta berhenti dan air memancar
Anak panah dari tabung beliau
Di Tsaniyyatul Mirar unta beliau berhenti; beliau bersabda bahwa unta itu ditahan oleh Dzat yang dahulu menahan gajah, dan bahwa bila Quraisy mengajak menjalin kerabat, beliau pasti menyepakatinya. Karena lembah itu tidak punya mata air, beliau memberikan anak panah dari tabungnya kepada seorang sahabat untuk ditancapkan ke sebuah sumur, lalu air memancar hingga tanah di sekitarnya basah.
Baca selengkapnya
Pada saat yang sama, beliau terus melanjutkan perjalan dan saat berjalan di Tsaniyyatul Mirar, tiba-tiba unta beliau berhenti dan para sahabat berkata: "Unta ini tidak mau berjalan." Rasulullah bersabda: "Bukannya ia tidak mau berjalan sebab yang demikian ini bukan kebiasaannya, tapi ia ditahan oleh Dzat yang dulu pernah menahan gajah untuk sampai di Makkah. Apabila pada hari ini orang-orang Quraisy mengajakku menjalin kembali hubungan kekerabatan, pasti aku menyepakatinya." Beliau melanjutkan sabdanya: "Berhentilah kalian." Salah seorang sahabat berkata kepada beliau: "Wahai Rasulullah, di lembah ini tidak ada mata air. Maka janganlah kita berhenti di tempat ini." kemudian beliau mengeluarkan anak panah dari tabungnya lalu memberikannya kepada salah seorang sahabat, lalu dia turun dengan membawa anak panah tersebut ke sebuah sumur yang terdapat di sekitar situ, lalu dia menancapkan anak panah itu ke dalamnya. Air pun memancar dari sumur itu hingga tanah di sekitarnya menjadi basah, lalu mereka beristirahat di sana.
- Siapa yang membawa anak panah
Najiyah bin Jundab atau al-Barra' bin 'Azib
Menurut sebagian ulama, sahabat yang turun ke sumur dengan anak panah adalah Najiyah bin Jundab dari Aslam, penuntun unta beliau; yang lain menyebut al-Barra' bin 'Azib. Ibnu Ishaq mengira Najiyah dan menyebut syair seorang budak wanita Anshar yang menimba air serta syair Najiyah.
Baca selengkapnya
Sebagian ulama menceritakan kepadaku dari seorang yang berasal dari Aslam bahwa sahabat yang turun ke sumur dengan membawa anak panah dari Rasulullah adalah Najiyah bin Jundab bin 'Umair bin Ya'mur bin Darim bin 'Amr bin Watsilah bin Sahm bin Mazin bin Salaman bin Aslam bin Afsha bin Abu Haritsah. Dialah orang yang menuntun unta Rasulullah.1
Afsha adalah anak Haritsah.2
Dan beberapa ulama menceritakan kepadaku bahwa al-Barra' bin Azib pernah berkata: "Aku orang yang turun membawa panah Rasulullah." Wallahu a'lam mana yang benar di antara kedua riwayat tersebut.1
Orang-orang dari Aslam membacakan bait-bait syair yang pernah di lantunkan oleh Najiyah bin Jundab dan saya mengira dialah orang yang turun membawa panah Rasulullah. Orang-orang Aslam berpendapat bahwa budak wanita dari Anshar datang dengan membawa timba, sedang Najiyah bin Jundab memenuhi timba orang-orang yang datang tersebut dengan air. Budak wanita tersebut berkata:
Ku lihat orang-orang memujimu
Wahai pengisi timba timbaku ada di dekatmu
Mereka menyanjungmu dengan baik dan memuliakanmu
Ibnu Hisyam berkata diriwayatkan:
Ku lihat orang-orang memujimu
Najiyah bin Jundab yang mengisi timba di sumur berkata:
Budak wanita asal Yaman tahu akulah pengisi timba dan aku bernama Najiyah
Aku tusukkan sumur pada dada orang-orang yang memusuhi
Tusukan yang dalam dan lebar
- Budail bin Warqa' al-Khuza'i
Utusan Khuza'ah menemui beliau
Ketika beliau beristirahat, Budail bin Warqa' al-Khuza'i dan beberapa orang Khuza'ah datang dan menanyakan maksud kedatangannya. Beliau menjelaskan beliau datang untuk berziarah ke Baitullah, bukan untuk perang. Budail menyampaikannya kepada Quraisy, tetapi mereka curiga dan berkata beliau tidak boleh masuk dengan kekerasan, agar orang Arab tidak mengatakan mereka dikalahkan.
Baca selengkapnya
Az-Zuhri berkata dalam haditsnya: "Tatkala beliau istirahat Budail bin Warqa' al-Khuzai dan bersama beberapa orang dari Khuza'ah datang menemui Rasulullah. Mereka berbicara dan menanyakan apa alasan beliau datang ke Makkah. Beliau menjelaskan pada mereka bahwa kedatangannya bukan untuk tujuan perang, akan tetapi untuk berziarah ke Baitullah dan mengagungkannya, kemudian beliau bersabda kepada mereka seperti yang beliau sabdakan kepada Bisyr bin Sufyan. Setelah mendapatkan klarifikasi, Budail bin Warqa' al-Khuzai dan anak buahnya kembali ke tempat orang-orang Quraisy lalu berkata: Wahai orang-orang Quraisy, sesungguhnya kalian terlalu tergesa-gesa terhadap Muhammad. Ketahuilah bahwa sesungguhnya dia datang bukan untuk tujuan perang, dia datang untuk mengunjungi Baitullah. Namun orang-orang Quraisy curiga dan menolak mereka dengan kata-kata kasar. Orang-orang Quraisy berkata: Jika ia datang untuk tujuan tersebut dan bukan untuk tujuan perang, maka janganlah dia masuk ke tempat kita dengan kekerasan untuk selama-lamanya, bila tidak maka orang-orang Arab akan mengatakan bahwa kita telah dikalahkan." Az-Zuhri berkata: Orang-orang Khuzaah, baik yang Muslim atau yang kafir adalah sahabat dekat Rasulullah yang tidak menyembunyikan apapun yang terjadi di Makkah pada Rasulullah.7
- Mikraz bin Hafsh
Utusan Quraisy yang pertama
Quraisy mengutus Mikraz bin Hafsh dari Bani 'Amir bin Luay. Beliau menyebutnya pengkhianat saat melihatnya datang, lalu memberi penjelasan yang sama seperti kepada Budail, dan Mikraz kembali menyampaikannya kepada Quraisy.
Baca selengkapnya
Az-Zuhri berkata: kemudian Mereka mengutus Mikraz bin Hafsh bin al-Akhyaf dari Bani 'Amir bin Luay kepada Rasulullah. Di saat Rasulullah melihat kedatangannya beliau bersabda: "Orang ini pengkhianat" Di saat Mikraz bin Hafsh tiba di hadapan Rasulullah dan berbicara padanya, beliau bersabda sebagaimana yang disabdakan kepada Budail bin Warqa' dan teman-temannya. Kemudian Mikraz bin Hafsh pun kembali kepada orang-orang Quraisy dan menceritakan kepada mereka apa yang disabdakan Rasulullah.8
- Al-Hulais bin 'Alqamah
Hewan sembelihan yang membuatnya pulang
Quraisy mengirim al-Hulais bin 'Alqamah, pemimpin Ahabisy. Beliau menyuruh hewan sembelihan ditempatkan di hadapannya; melihatnya, al-Hulais pulang tanpa menemui beliau karena hormat. Quraisy menyebutnya orang pedalaman yang tidak banyak tahu, dan ia marah serta mengancam keluar bersama orang-orang Ahabisy bila Muhammad tidak diizinkan mengunjungi Baitullah.
Baca selengkapnya
Az-Zuhri berkata: Orang-orang Quraisy mengirim al-Hulais bin 'Alqamah atau bin Zabban kepada Rasulullah. Saat itu, al-Hulais bin 'Alqamah adalah pemimpin orang-orang Ahabisy (non Arab) dan warga Bani al-Harits bin 'Abdu Manat bin Kinanah. Tatkala melihat kedatangannya, Rasulullah bersabda: "Orang ini berasal dari kaum yang taat beribadah maka tempatkan hewan sembelihan di hadapannya agar ia bisa melihatnya. Tatkala al-Hulais bin 'Alqamah melihat hewan sembelihan berdatangan kepadanya dari sisi samping lembah dengan kalung di lehernya sebagai tanda akan disembelih dan bulu-bulunya telah habis akibat terlalu lama berada di tempat untuk disembelih, ia bergegas kembali kepada orang-orang Quraisy dan tidak jadi menemui Rasulullah karena hormat terhadap apa yang dia saksikan. Ia ceritakan apa yang dilihatnya kepada orang-orang Quraisy, lalu orang-orang Quraisy berkata kepadanya: "Duduklah, karena engkau orang Arab pedalaman yang tidak tau banyak ilmu."1
'Abdullah bin Abu Bakr berkata kepadaku bahwa al-Hulais bin 'Alqamah marah besar ketika mendengar perkataan orang-orang Quraisy. Ia berkata: "Hai orang-orang Quraisy, demi Allah, kami bersepakat dan mengikat perjanjian dengan kalian bukan untuk hal seperti ini. Pantaskah kalian larang orang yang bermaksud mengagungkan Baitullah? Demi Dzat yang jiwa al-Hulais berada di tangan-Nya, kalian izinkan Muhammad mengunjungi Baitullah atau aku keluar dari kalian bersama orang-orang Ahabisy secara serentak." Orang-orang Quraisy berkata kepada al-Hulais bin 'Alqamah: "Sabarlah wahai al-Hulais, sampai kami bisa mengambil keputusan yang terbaik bagi kami."19
- 'Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi
Janggut beliau dan kesetiaan para sahabat
'Urwah bin Mas'ud menawarkan diri kepada Quraisy untuk menemui beliau. Di hadapan beliau ia berkata bahwa para pengikut beliau akan meninggalkannya; Abu Bakar menjawab dengan keras, dan al-Mughirah bin Syu'bah menghalau tangan 'Urwah yang hendak memegang janggut beliau. Pulang kepada Quraisy, 'Urwah berkata ia belum pernah melihat seorang raja di tengah rakyatnya seperti Muhammad di tengah para sahabatnya.
Baca selengkapnya
Az-Zuhri berkata dalam haditsnya: Setelah itu orang-orang Quraisy mengutus 'Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi untuk berjumpa dengan Rasulullah. 'Urwah bin Mas'ud berkata: "Hai orang-orang Quraisy sungguh aku tahu kata-kata kasar dan buruk yang kalian sampaikan kepada Muhammad melalui orang-orang yang kalian utus. Kalian tahu bahwa kalian adalah orang tuaku sedang aku anakmu, 'Urwah adalah anak Subai'ah binti 'Abdu Syams. Aku mendengar apa yang telah menimpa kalian, maka aku kumpulkan orang-orang yang taat dari kaumku kepadaku, kemudian aku datang untuk membantu kalian dengan diriku sendiri." Orang-orang Quraisy berkata: "Benar. Engkau bukanlah orang yang tertuduh di tempat kami." Setelah itu, 'Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi berangkat ke tempat beliau. Pada saat tiba di hadapan Rasulullah, ia duduk dihadapan beliau seraya berkata: "Hai Muhammad, apakah engkau kumpulkan orang banyak untuk membunuh keluarga besarmu? Sungguh orang-orang Quraisy telah keluar dengan membawa alat pelindung serta mengenakan pakaian yang terbuat dari kulit-kulit harimau. Mereka bersumpah untuk melarangmu masuk ke tempat mereka selama-lamanya. Demi Allah, sepertinya kami lihat pengikut kalian akan meninggalkanmu besok pagi."1
Abu Bakar ash-Shiddiq yang duduk di belakang beliau berkata: "Lancang sekali kau. Apakah kamu mengira kami akan meninggalkan beliau?" 'Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi berkata: "Siapa dia, wahai Muhammad?" Beliau menjawab: "Dia anak Abu Quhafah." 'Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi berkata: "Demi Allah, andai aku tidak memiliki hutang budi padanya, pasti aku balas ucapannya dengan ucapan yang jauh lebih menyakitkan, namun perkataanku ini sudah kuanggap cukup." 'Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi berusaha memegang jenggot beliau sambil berbicara dengan beliau. Al-Mughirah bin Syu'bah yang tatkala itu berada di depan Rasulullah berupaya menghalau tangan 'Urwah bin Mas'ud dengan memukulkan pedang ke tangannya, seraya berkata: "Turunkan tanganmu dari wajah Rasulullah sebelum pedang ini mengenaimu." 'Urwah bin Mas'ud Ats Tsaqafi berkata: "Celakalah engkau. Alangkah kasarnya engkau!" Rasulullah tersenyum. 'Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi berkata kepada beliau: "Siapakah dia, hai Muhammad?"
Rasulullah menjawab: Dia anak saudaramu, yaitu al-Mughirah bin Syu'bah." 'Urwah bin Mas'ud berkata: "Hai pengkhianat, bukankah aku baru membersihkan aibmu kemarin."
Dengan perkataan itu, 'Urwah bin Mas'ud Ats Tsaqafi hendak menjelaskan bahwa al-Mughirah bin Syu-bah sebelum masuk Islam telah membunuh tiga belas orang dari keluarga Tsakif keturunan Bani Malik. Akibatnya kabilah Bani Malik yang tidak lain adalah keluarga korban dan kabilah al-Ahlaf keluarga al-Mughirah bin Syu'bah marah, kemudian 'Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi memberi diyat kepada ketiga belas keluarga korban dan persoalanpun tuntas.2
Az-Zuhri berkata: Kemudian Rasulullah menjelaskan kepada 'Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi seperti yang telah beliau jelaskan kepada teman-teman 'Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi sebelumnya bahwa beliau datang bukan untuk tujuan perang. Kemudian 'Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi beranjak dari tempat beliau namun sebelum itu, ia menyaksikan apa yang dilakukan oleh para sahabat terhadap Nabinya tatkala berwudhu dimana mereka memperebutkan bekas air wudhu beliau. Apabila Rasulullah meludah mereka memperebutkannya, dan apabila rambutnya jatuh mereka berebut untuk mengambilnya. 'Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi kembali pulang menemui orang-orang Quraisy dan berkata: "Hai orang-orang Quraisy, sungguh aku telah mengunjungi Kisra (raja Persia) di istananya, dan Kaisar (gelar raja Romawi) di istananya, juga Najasyi (Negus) di istananya, namun demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang raja di tengah rakyatnya sebagaimana Muhammad di tengah-tengah para sahabatnya. Sungguh aku melihat kaum yang tidak akan membiarkan Muhammad begitu saja untuk selama-lamanya. Maka pertimbangkan kembali pendapat kalian."110
- Khirasy dan para penyusup
Utusan yang untanya disembelih
Beliau mengutus Khirasy bin Umayyah al-Khuza'i menunggangi untanya, ats-Tsa'lab; Quraisy menyembelih unta itu dan hendak membunuhnya, tetapi dicegah orang-orang Ahabisy. Menurut Ibnu 'Abbas, Quraisy juga mengirim empat puluh atau lima puluh orang mengitari markas untuk menculik seorang sahabat, tetapi mereka tertangkap dan beliau memaafkan dan melepas mereka.
Baca selengkapnya
Beberapa ulama berkata kepadaku bahwa Rasulullah memanggil Khirasy bin Umayyah al-Khuzai dan mengirimnya untuk menemui orang-orang Quraisy Beliau menyuruhnya untuk menunggangi unta beliau yang bernama ats-Tsa'lab untuk menyampaikan pesan kepada pembesar-pembesar Quraisy. Pada saat Khirasy bin Umayyah sampai di tempat orang-orang Quraisy, mereka menyembelih unta yang dikendarai Khirasy bin Umayyah dan bermaksud membunuh Khirasy bin Umayyah namun niat mereka itu dicegah orang-orang Ahabisy. Mereka membebaskan Khirasy bin Umayyah hingga ia bisa kembali di tempat beliau.1
Seorang yang tidak aku ragukan integritasnya berkata kepadaku dari 'Ikrimah mantan budak Ibnu 'Abbas dari Ibnu 'Abbas yang berkata bahwa orang-orang Quraisy mengirim empat puluh atau lima puluh orang dan memerintahkan mereka untuk mengitari markas beliau guna menculik salah seorang dari sahabat beliau. Namun yang terjadi adalah sebaliknya, justru mereka sendiri yang tertangkap. Mereka dihadapkan kepada Rasulullah dan beliau memaafkan dan melepas mereka. Sebelum itu, mereka menghujani markas beliau dengan batu dan anak panah.111
- 'Utsman bin 'Affan menemui Quraisy
Kabar bahwa ia terbunuh
Beliau hendak mengutus 'Umar, tetapi 'Umar menyebut tidak ada Bani 'Adi di Makkah yang melindunginya dan menunjuk 'Utsman bin 'Affan yang lebih mulia di Makkah. 'Utsman dilindungi Aban bin Sa'id dan menyampaikan surat beliau kepada Abu Sufyan dan para pemuka Quraisy. Ia menolak thawaf sebelum beliau thawaf, lalu ditahan Quraisy, dan kabar yang sampai kepada beliau adalah bahwa ia telah dibunuh.
Baca selengkapnya
Kemudian Rasulullah memanggil 'Umar bin Khaththab untuk dikirim ke Makkah guna menyampaikan pesan beliau kepada para pemuka Quraisy. 'Umar bin Khaththab berkata: "Wahai Rasulullah, aku khawatir pada tindakan orang-orang Quraisy atas diriku karena di Makkah saat ini, tidak ada seorang pun dari Bani 'Adi bin Ka'ab yang bisa memberi perlindungan untukku. Selain itu juga, orang-orang Quraisy mengetahui permusuhanku terhadap mereka. Namun aku akan tunjukkan kepadamu seseorang yang lebih mulia di Makkah daripada aku yaitu 'Utsman bin 'Affan." Rasulullah memanggil 'Utsman bin 'Affan dan memerintahkannya untuk menemui Abu Sufyan bin Harb dan pemuka-pemuka Quraisy lainnya serta memberitahukan kepada mereka bahwa kedatangan beliau bukan untuk tujuan perang, namun untuk berziarah ke Baitullah dan mengagungkannya.1
'Utsman bin 'Affan pergi menuju Makkah, pada saat memasuki Makkah atau hendak memasukinya dia bertemu dengan Aban bin Sa'id Ash yang kemudian membawa 'Utsman bin 'Affan di depannya dan melindunginya hingga ia menyampaikan surat Rasulullah. Kemudian, 'Utsman bin 'Affan menemui Abu Sufyan bin Harb pemuka-pemuka Quraisy, dan menyampaikan surat Rasulullah kepada mereka. Setelah mereka menerima surat itu kemudian mereka berkata kepada 'Utsman bin 'Affan: "Apabila engkau mau thawaf di Baitullah, silahkan saja." 'Utsman bin 'Affan menjawab: "Aku tidak akan melakukan ibadah thawaf hingga Rasulullah sendiri yang memulainya." 'Utsman bin 'Affan ditawan orang-orang Quraisy di tempat mereka, tapi kabar yang sampai kepada Rasulullah dan kaum Muslimin adalah 'Utsman bin 'Affan telah dibunuh.112
- Bai'atur Ridhwan
Baiat di bawah pohon
Mendengar kabar terbunuhnya 'Utsman, beliau bersabda bahwa mereka tidak akan pulang sebelum menaklukkan kaum itu dan mengajak berbaiat di bawah sebuah pohon. Jabir berkata beliau tidak membaiat untuk mati tetapi agar tidak melarikan diri. Al-Jadd bin Qais hadir tetapi tidak berbaiat dan kemudian menjelaskan bahwa kabar itu bohong. Ibnu Hisyam menambahkan riwayat orang pertama yang berbaiat dan baiat beliau untuk 'Utsman.
Baca selengkapnya
'Abdullah bin Abu Bakr berkata kepadaku: Pada saat Rasulullah mendengar kabar bahwa 'Utsman bin 'Affan telah dibunuh, beliau bersabda: "Kita tidak akan pernah pulang hingga menaklukkan kaum tersebut." Rasulullah mengajak kaum Muslimin berbaiat. Maka berlangsung Baiat ar-Ridhwan di bawah sebuah pohon. Kaum Muslimin berkata: "Rasulullah membaiat kaum Muslimin untuk mati." Jabir bin 'Abdullah berkata: "Sesungguhnya Rasulullah tidak membaiat kita untuk mati, namun agar kita tidak melarikan diri."1
Al-Jadd bin Qais saudara Bani Salimah adalah salah satu di antara kaum Muslimin yang hadir pada peristiwa Baiat ar-Ridhwan akan tetapi dia tidak ikut berbaiat. Jabir bin 'Abdullah berkata: "Demi Allah, seakan aku lihat al-Jadid bin Qais merapat ke perut untanya dan bersembunyi di dalamnya menghindari tatapan manusia. Kemudian, ia datang kepada Rasulullah menjelaskan kepada beliau bahwa kabar terbunuhnya 'Utsman bin 'Affan adalah kabar bohong adanya.1
Waki menuturkan dari Ismail bin Abu Khalid dari Asy-Sya'bi yang mengatakan orang pertama yang berbaiat kepada Rasulullah di Baiat ar-Ridhwan adalah Abu Sinan al-Asadi.2
Orang yang aku tidak ragukan integritasnya berkata kepadaku dari orang yang berkata kepadanya dengan sanadnya dari Ibnu Abu Mulaikah dari Ibnu 'Umar yang berkata:Rasulullah membaiat untuk 'Utsman bin 'Affan dan memukulkan salah satu tangannya ke tangannya yang lain.213
- Suhail bin 'Amr datang
'Umar mempertanyakan perjanjian
Quraisy mengutus Suhail bin 'Amr dengan pesan agar perdamaian berisi bahwa beliau harus pergi tahun ini. Melihatnya, beliau bersabda bahwa Quraisy tentu menginginkan perdamaian. Setelah perundingan, 'Umar bertanya kepada Abu Bakar dan kepada beliau mengapa agama diberi kehinaan; Abu Bakar dan beliau menjawab dengan menegaskan bahwa beliau adalah utusan Allah, dan 'Umar kemudian banyak bersedekah, berpuasa, shalat, dan memerdekakan budak karena khawatir atas ucapannya.
Baca selengkapnya
Az-Zuhri berkata: Kemudian orang-orang Quraisy mengutus Suhail bin 'Amr saudara Bani 'Amir bin Luay menemui beliau. Mereka berkata kepada Suhail bin 'Amr: "Pergilah untuk menemui Muhammad, berdamailah dengannya, dan tidaklah ada dalam perjanjian damai kecuali bahwa ia harus pergi dari tempat kita tahun ini. Demi Allah, orang-orang Arab tidak boleh mengatakan bahwa ia datang kepada kita dengan cara kekerasan." Suhail bin 'Amr datang kepada beliau. Pada saat melihat kedatangan Suhail bin 'Amr, beliau bersabda: "Ketika mengutus orang ini pastilah orang-orang Quraisy menginginkan perdamaian." Pada saat Suhail bin 'Amr tiba di tempat beliau, ia berbicara panjang lebar dengan beliau, saling adu argumentasi, dan sesudah itu berlangsunglah perdamaian. Pada saat semuanya rampung dan tinggal penulisan teks perjanjian, 'Umar bin Khaththab bergerak bangkit kemudian mendatangi Abu Bakar dan berkata padanya: "Wahai Abu Bakar, bukankah beliau Utusan Allah?" Abu Bakar menjawab: "Ya betul." 'Umar bin Khaththab berkata. "Bukankah kita orang-orang Islam?' Abu Bakar menjawab: "Ya, benar." 'Umar bin Khaththab berkata: "Bukankah mereka orang-orang musyrikin?" Abu Bakar menjawab: "Benar!" 'Umar bin Khaththab berkata: Jika demikian, lalu mengapa kita harus menerima kehinaan untuk agama kita?" Abu Bakar berkata: "Wahai 'Umar, komitmenlah dengan perintah dan larangannya. Sesungguhnya aku bersaksi bahwa beliau utusan Allah." 'Umar bin Khaththab berkata: "Aku juga bersaksi bahwa beliau utusan Allah." Kemudian 'Umar bin Khaththab datang menemui Rasulullah dan berkata: "Wahai Rasulullah, bukankah engkau adalah utusan Allah?"1
Rasulullah menjawab: "Ya, benar!" 'Umar bin Khaththab berkata: "Bukankah kita orang-orang Islam?"
Rasulullah menjawab: "Benar!" 'Umar bin Khaththab berkata: "Bukankah mereka orang-orang musyrik?"
Rasulullah menjawab: "Ya, Benar!" 'Umar bin Khaththab berkata: "Jika demikian, lalu mengapa kita menerima kehinaan untuk agama kita?" Beliau bersabda: "Aku hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak menentang perintah Allah dan Dia tidak akan pernah menyianyiakanku."
'Umar bin Khaththab berkata: Aku selalu bersedekah, berpuasa, shalat, dan memerdekakan budak karena khawatir atas ucapanku tersebut, dengan harapan menjadi kebaikan.14
- Isi perjanjian Hudaibiyah
'Ali menulis, sepuluh tahun gencatan senjata
'Ali diminta menulis bismillah, tetapi Suhail meminta ditulis "Bismikallahumma" dan menolak sebutan "Rasulullah" sehingga ditulis Muhammad bin 'Abdullah. Isinya: gencatan senjata sepuluh tahun; orang Quraisy yang datang tanpa izin walinya dikembalikan, sedangkan pengikut Muhammad yang datang ke Quraisy tidak dikembalikan; tidak ada pencurian rahasia dan pengkhianatan; Khuza'ah masuk perjanjian beliau dan Bani Bakr masuk perjanjian Quraisy. Beliau harus pergi tahun ini dan datang tahun depan tiga hari dengan hanya pedang di sarungnya.
Baca selengkapnya
Az-Zuhri berkata: Rasulullah memanggil 'Ali bin Abu Thalib dan bersabda kepadanya: "Tulislah Bismillahir Rahmaanir Rahiim." Suhail bin 'Amr berkata: Aku tidak tahu kata-kata itu, namun tulislah Bismikallahumma (dengan nama-Mu, ya Allah). Rasulullah bersabda kepada 'Ali bin Abu Thalib: "Tulislah Bismikallahumma" 'Ali bin Abu Thalib lalu menuliskannya. Rasulullah bersabda kepada 'Ali bin Abu Thalib: "Ketahuilah wahai 'Ali, ini adalah perdamaian antara Rasulullah dengan Suhail bin 'Amr." Suhail bin 'Amr berkata: "Kalau aku bersaksi bahwa engkau sebagai Rasulullah, aku tidak memerangimu, akan tetapi tulislah namamu dan nama ayahmu." Beliau bersabda kepada 'Ali bin Abu Thalib: "Tulislah, ini adalah perdamaian antara Muhammad bin 'Abdullah dengan Suhail bin 'Amr. Keduanya bersepakat untuk menghentikan perang selama sepuluh tahun, masing-masing pihak saling memberikan rasa aman dan saling menahan diri atas pihak lainnya selama jangka waktu tersebut. Barangsiapa di antara orang-orang Quraisy datang kepada Muhammad tanpa seizin walinya maka ia harus dikembalikan kepadanya, dan barangsiapa di antara pengikut Muhammad datang kepada orang-orang Quraisy maka ia tidak harus dikembalikan kepadanya, kita harus patuh dengan isi perdamaian, tidak ada pencurian rahasia dan pengkhianatan, barangsiapa yang suka dengan perjanjian Muhammad maka ia masuk ke dalamnya, dan barangsiapa yang suka dengan perjanjian orang Quraisy maka ia masuk ke dalamnya." Orang-orang Khuza'ah berdiri dan berkata: "Kami masuk ke dalam perjanjian Muhammad." Orang-orang Bani Bakr juga berdiri dan berkata: "Kami masuk ke dalam perjanjian orang Quraisy." Engkau (Muhammad) harus pergi dari tempat kami tahun ini dan tidak boleh masuk ke Makkah. Dan di tahun yang akan datang, kami akan keluar Makkah, setelah itu engkau dan sahabat-sahabatmu boleh memasuki Makkah, dan engkau boleh berada di sana selama tiga hari dengan membawa senjata seperti halnya musafir yaitu hanya pedang berada di sarungnya dan tidak boleh membawa senjata selain pedang.115
- Abu Jandal
Saksi perjanjian
Saat perjanjian ditulis, Abu Jandal bin Suhail yang lolos dari Quraisy tiba. Suhail memukul wajahnya dan menyeretnya kembali; beliau meminta Abu Jandal bersabar dan bersabda bahwa mereka telah mengikat perjanjian. Para sahabat bertambah sedih, dan 'Umar berjalan di samping Abu Jandal. Para saksi dari kedua pihak disebut, dengan 'Ali sebagai penulis.
Baca selengkapnya
Di saat Rasulullah sedang menulis teks perdamaian dengan Suhail bin 'Amr, tiba-tiba Abu Jandal bin Suhail bin 'Amr datang dengan membawa pedang, dia adalah orang yang berhasil lolos dari orang-orang Quraisy dan sampai ke Rasulullah. Sebenarnya para sahabat tidak merasa ragu akan pembebasan kota Makkah di saat mereka keluar dari Madinah, di karenakan mimpi Rasulullah. Maka ketika mereka menyaksikan apa yang terjadi dari proses perdamaian, sikap mengalah atas orang-orang Quraisy, dan apa yang dirasakan Rasulullah, mereka merasa sedih dan terpukul, dan keragu-raguan pun menghampiri dan masuk ke hati mereka hingga hampir saja rasa ragu-ragu itu membinasakan mereka.
Di saat Suhail bin 'Amr melihat Abu Jandal, ia berdiri kemudian memukul wajahnya dan mencengkeram kerah bajunya, lalu berkata: "Wahai Muhammad, perjanjian di antara kita telah usai sebelum orang ini datang menemuimu."
Rasulullah bersabda: "Engkau berkata benar." Maka Suhail bin 'Amr mencengkeram lebih keras kerah baju Abu Jandal dan menyeretnya untuk dibawa kepada orang-orang Quraisy. Abu Jandal berteriak dengan suaranya yang paling kencang: "Wahai kaum Muslimin, apakah kalian akan membiarkanku di seret dan dibawa kepada kaum musyrikin lalu mereka menyiksaku karena agamaku?" Kaum Muslimin bertambah sedih menyaksikan peristiwa yang menimpa Abu Jandal.
Beliau bersabda: "Wahai Abu Jandal, bersabarlah dan berharaplah pahala di sisi Allah, sesungguhnya Allah akan membuka jalan keluar bagimu dan bagi orang-orang tertindas sepertimu. Sungguh, kita telah menandatangani perjanjian dengan kaum tersebut. Kita berikan kepada mereka pejanjian dan mereka berikan kepada kita janji Allah, kita tidak akan mengkhianati mereka."
Az-Zuhri berkata: 'Umar bin Khaththab berdiri menghampiri Abu Jandal lalu berjalan di sampingnya dan berkata: "Bersabarlah engkau, wahai Abu Jandal, sesungguhnya mereka orang-orang musyrikin dan darah mereka adalah darah anjing." 'Umar bin Khaththab merapatkan gagang pedang kepada Abu Jandal. 'Umar bin Khaththab berkata: "Aku berharap agar Abu Jandal mencabut pedang tersebut lalu menebaskan pedang tersebut kepada ayahnya. Akan tetapi dia tidak berbuat apapun terhadap ayahnya, sehingga selesailah permasalahannya."
Az-Zuhri berkata: Setelah perdamaian ditulis, beberapa orang dari kaum Muslimin dan kaum musyrikin menjadi saksi atas perdamaian tersebut. Dan di antara para saksi tersebut adalah Abu Bakar, 'Umar bin Khaththab, 'Abdurrahman bin 'Auf, 'Abdullah bin Suhail bin 'Amr, Sa'd bin Abu Waqqash, Mahmud bin Maslamah, Mikraz bin Hafsh -yang waktu itu masih dalam keadaan musyrik, dan 'Ali bin Abu Thalib, sekaligus penulis teks perdamaian tersebut.16
- Menyembelih dan bercukur
Doa untuk yang mencukur
Setelah perdamaian selesai, beliau menyembelih hewan dan mencukur rambut, dan Khirasy bin Umayyah disebut sebagai yang mencukurnya; kaum Muslimin lalu mengikuti. Beliau mendoakan rahmat bagi yang mencukur sampai tiga kali sebelum mendoakan yang memendekkan, karena mereka yang mencukur tidak ragu-ragu. Beliau juga menyembelih unta milik Abu Jahal yang berkalung perak.
Baca selengkapnya
Ibnu Ishaq: Rasulullah demikian terguncang dengan peristiwa dimana Rasulullah berada dalam keadaan tahallul sedangkan beliau shalat dalam keadaan ihram. Setelah Rasulullah menyelesaikan perdamaian, beliau berjalan ke arah hewan sembelihannya lalu menyembelihnya, duduk dan mencukur rambutnya. Adapun orang yang mencukur rambut beliau seperti yang telah dituturkan kepadaku, adalah Khirasy bin Umayyah bin al-Fadhl al-Khuzai. Pada saat kaum Muslimin menyaksikan beliau menyembelih hewan sembelihan dan mencukur rambut, mereka pun beramai-ramai menyembelih hewan sembelihan dan mencukur rambutnya.
Pada peristiwa al-Hudaibiyah, sebagian orang mencukur rambutnya dan sebagian lain memendekkannya. Rasulullah bersabda: "Semoga Allah merahmati orang-orang yang mencukur rambutnya." Para sahabat berkata: "Bagaimana halnya dengan orang-orang yang hanya memendekkannya, wahai Rasulullah?" Rasulullah bersabda: "Semoga Allah merahmati orang-orang yang mencukur rambutnya." Mereka berkata: "Bagaimana halnya dengan orang-orang yang hanya memendekkannya, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda: "Semoga Allah merahmati orang-orang yang mencukur rambutnya." Mereka berkata: "Bagaimana halnya dengan orang-orang yang hanya memendekkannya, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda: "Semoga Allah juga merahmati orang-orang yang memendekannya." Mereka berkata: "Wahai Rasulullah, mengapa engkau mengulang-ulang doa untuk orang-orang yang mencukur rambutnya dan tidak untuk orang-orang yang memendekkannya?" Rasulullah bersabda: "Mereka tidak ragu-ragu.” 'Abdullah bin Abu Najih berkata bahwa Mujahid berkata dari Ibnu 'Abbas ia berkata: Pada peristiwa al-Hudaibiyah tersebut, Rasulullah menyembelih banyak hewan sembelihan. Dan di antara hewan sembelihan tersebut ada unta yang tadinya milik Abu Jahal yang di kepalanya terdapat kalung dari perak. Agar orang-orang musyrikin marah karenanya.1718
- Surat al-Fath (1)
Kemenangan yang nyata dan baiat
Dalam perjalanan pulang antara Makkah dan Madinah turun surat al-Fath. Ibnu Ishaq memuat ayat 1-2, 10, 11, dan 15, tentang kemenangan yang nyata, baiat sebagai janji kepada Allah, dan orang-orang Badui yang tertinggal. Ibnu 'Abbas menyebut kaum yang sangat kuat itu orang Persia, sedangkan menurut az-Zuhri Bani Hanifah dan Musailamah.
Baca selengkapnya
Az-Zuhri berkata dalam haditsnya: Kemudian Rasulullah kembali pulang dari tempat tersebut bersama rombongan. Dan di saat beliau berada di antara Makkah dengan Madinah, Allah menurunkan surat al-Fath. Allah Ta'ala berfirman:1
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus (QS. al-Fath: 1-2).
Kisah tentang Rasulullah dan para sahabat berlanjut sampai pemaparan tentang Ba'iat Ar Ridhwan. Allah Ta'ala berfirman:
Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar (QS. al-Fath: 10)
Kemudian, Allah Ta'ala memaparkan tentang orang-orang Arab Badui yang tidak ikut bersama Rasulullah lalu berfirman ketika menyeru mereka untuk berangkat bersama beliau, akan tetapi mereka tetap enggan dan tidak mau berangkat:
Orang-orang Badui yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiah) akan mengatakan: "Harta dan keluarga kami telah merintangi kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami"; mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah: "Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudaratan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. al-Fath: 11)
Kisah dilanjutkan tentang orang-orang Arab Badui hingga berakhir pada firman Allah Ta'ala:
Orang-orang Badui yang tertinggal itu akan berkata apabila kamu berangkat untuk mengambil barang rampasan: "Biarkanlah kami, niscaya kami mengikuti kamu;" mereka hendak merubah janji Allah. Katakanlah: "Kamu sekali-kali tidak (boleh) mengikuti kami:" demikian Allah telah menetapkan sebelumnya (QS. al-Fath: 15)
Kisah dilanjutkan tentang orang-orang Arab Badui tersebut dan penawaran jihad kepada mereka menghadapi musuh yang sangat kuat dan tangguh.
"Kaum yang sangat kuat tersebut adalah orang-orang Persia.19
Kaum yang sangat kuat tersebut adalah Hanifah dan Musailamah sang pendusta (al-Kadzdzab).2021
- Surat al-Fath (2)
Rida Allah dan "kemenangan yang dekat"
Ibnu Ishaq lalu memuat ayat 18 sampai 27 tentang rida Allah kepada yang berbaiat di bawah pohon, tangan yang ditahan di tengah Makkah, laki-laki dan perempuan Mukmin yang tidak diketahui di Makkah, kesombongan jahiliah, dan kebenaran mimpi beliau. Az-Zuhri menyebut tidak ada penaklukan yang lebih besar dari perdamaian Hudaibiyah sebelum Fathu Makkah, dan Ibnu Hisyam menghitungnya dari 1.400 berangkat ke Hudaibiyah menjadi 10.000 pada tahun penaklukan Makkah.
Baca selengkapnya
Kemudian Allah berfirman:
Sesungguhnya Allah telah rida terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dengan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). Serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan) mu (agar kamu mensyukuri-Nya) dan agar hal itu menjadi bukti bagi orang-orang mukmin dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus. Dan (telah menjanjikan pula kemenangan-kemenangan) yang lain (atas negeri-negeri) yang kamu belum dapat menguasainya yang sungguh Allah telah menentukan-Nya. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. al-Fath: 18-21).
Kemudian Allah berfirman:
Dan Dialah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Mekah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka, dan adalah Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Fath: 24).
Kemudian Allah menyebutkan tentang ditahannya Rasulullah dan dicegahnya dia dari perang, setelah kemenangan atas mereka, yakni orang-orang yang berhasil ditangkap dan Allah mencegah mereka untuk tidak menyerang Rasulullah.
Setelah itu, Allah berfirman:
Merekalah orang-orang yang kafir yang menghalangi kamu dari (masuk) Masjidil haram dan menghalangi hewan kurban sampai ke tempat (penyembelihan) nya (QS. al-Fath: 25).
Al-Makuf artinya al-mahbus (yang ditahan).2
Allah berfirman:1
Dan kalau tidaklah karena laki-laki yang mukmin dan perempuan-perempuan yang mukmin yang tiada kamu ketahui, bahwa kamu akan membunuh mereka yang menyebabkan kamu ditimpa kesusahan tanpa pengetahuanmu (tentulah Allah tidak akan menahan tanganmu dari membinasakan mereka)
(QS. al-Fath:25). Al-Ma'arrah adalah "tebusan" yakni kalian ditimpa hutang tanpa kalian ketahui sehingga kalian mengeluarkan tebusan perang, adapun dosa maka tidak dikhawatirkan atas mereka
Aku mendapatkan berita dari Mujahid yang berkata: Ayat di atas turun tentang al-Walid bin al-Walid bin al-Mughirah, Salamah bin Hisyam, 'Ayyas bin Abu Rabi'ah, Abu Jandal bin Suhail, dan orang-orang seperti mereka.2
Kemudian Allah berfirman:1
Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliah. (QS. al-Fath: 26)
Yang di maksud dengan orang-orang kafir pada ayat di atas adalah Suhail bin 'Amr tatkala ia menolak untuk menulis Bismillahir rahmaanir rahiim dan Rasulullah. Setelah itu, Allah Ta'ala berfirman:
Lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan
patut memilikinya (QS. al-Fath: 26) Kalimat takwa pada ayat di atas adalah kalimat tauhid yakni kesaksian tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya:
Kemudian Allah berfirman:
Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu
kemenangan yang dekat. (QS. al-Fath: 27). Yakni karena mimpi Rasulullah yang beliau lihat akan masuk Makkah dengan aman tanpa rasa takut. Adapun yang dimaksud dengan kemenangan yang dekat adalah Perdamaian Hudaibiyah. Sesuai dengan firman Allah di atas.
Az Zuhri berkata: Sebelum penaklukan Makkah, tidak ada penaklukan yang lebih besar daripada perdamaian Hudaibiyah. Dan dikatakan sebelumnya perang adalah karena kedua belah saling berhadapan. Di saat gencatan senjata terjadi, perang dihentikan, kedua belah pihak saling memberikan rasa aman, dan mereka bertemu, melakukan dialog, perdebatan, dan tidak ada seorangpun yang dibicarakan Islam padanya melainkan ia masuk ke dalamnya. Dalam jangka waktu dua tahun tersebut, orang yang memeluk Islam jumlahnya sama dengan orang-orang yang masuk Islam pada tahun-tahun sebelumnya atau bahkan lebih.
Pendapat Az Zuhri ini didasarkan pada fakta bahwa Rasulullah berangkat ke Hudaibiyah dengan seribu empat ratus sahabat, sebagaimana ucapan Jabir bin 'Abdullah, ternyata dua tahun kemudian pada tahun penaklukan Makkah, Rasulullah berangkat dengan sepuluh ribu orang.222
- Abu Bashir
Penebusan yang tidak dikembalikan
Abu Bashir 'Utbah bin Usaid, yang tertahan di Makkah, tiba di Madinah, dan Quraisy mengirim dua utusan menuntutnya kembali. Beliau mengembalikannya sesuai perjanjian; di Dzul Hulaifah Abu Bashir membunuh seorang utusan dengan pedangnya, dan yang lain lari ke beliau. Abu Bashir keluar ke al-Ish di jalan Quraisy menuju Syam dan sekitar tujuh puluh Muslim dari Makkah bergabung dengannya dan menghalangi kafilah Quraisy. Quraisy akhirnya mengirim surat agar beliau melindungi keluarga dan kerabat mereka, dan beliau memberi perlindungan. Suhail bersumpah tidak beranjak dari dinding Ka'bah sebelum diyat dibayar, tetapi Abu Sufyan menyebut itu tindakan bodoh.
Baca selengkapnya
Pada saat Rasulullah tiba Madinah, beliau didatangi Abu Bashir 'Utbah bin Usaid bin Jariyah. Ia adalah salah seorang yang tertahan di Makkah. Di saat Abu Bashir sampai di tempat beliau, maka Azhar bin 'Abdu 'Auf bin 'Abdul Harits bin Zuhrah dan al-Akhnas bin Syariq bin 'Amr bin Wahb ats-Tsaqafi mengutus salah seorang dari Bani 'Amir bin Luay dan ditemani seorang mantan budak mereka dengan membawa surat yang mereka tulis untuk beliau. Ketika kedua utusan tersebut sampai di hadapan beliau dengan membawa surat Azhar bin Abu 'Auf dan al-Akhnas Syariq, beliau bersabda kepada Abu Bashir: "Wahai Bashir, sebagaimana telah engkau ketahui, sesungguhnya kita telah mengikat perjanjian dengan mereka, dan agama kita melarang kita untuk berkhianat, sesungguhnya Allah akan memberimu dan orang-orang lemah yang semisalmu jalan keluar, maka kembalilah kepada kaummu." Abu Bashir berkata: "wahai Rasulullah, apakah engkau akan kembalikan aku kepada orang-orang musyrikin lalu mereka menyiksaku karena agama yang aku peluk?"1
Rasulullah bersabda: "Wahai Abu Bashir, kembalilah, karena Allah akan memberimu dan orang-orang lemah sepertimu jalan keluar." Abu Bashir pun pergi meninggalkan Rasulullah bersama kedua utusan orang Quraisy tersebut. Di saat mereka sampai di Dzul al-Hulaifah, Abu Bashir duduk bersandar ke sebuah tembok kemudian kedua utusan tersebut ikut duduk. Abu Bashir berkata: "Wahai saudara Bani 'Amir, apakah pedang milikmu itu tajam?" Utusan Quraisy tersebut menjawab: 'Tentu saja.' Abu Bashir berkata: "Bolehkah aku melihatnya?" Utusan orang-orang Quraisy tersebut berkata: "Silahkan saja, jika engkau suka." Abu Bashir mengeluarkan pedang tersebut dari sarungnya, lalu menebaskannya pada utusan orang Quraisy tersebut hingga tewas. Melihat kejadian tersebut, mantan budak orang-orang Quraisy segera kembali menghadap beliau dan tiba di tempat beliau yang pada saat itu sedang duduk di masjid.
Tatkala Rasulullah melihat kedatangannya, beliau bersabda: "Sesungguhnya orang ini baru saja menyaksikan sesuatu yang sangat menakutkan." Dan di saat orang tersebut berada di hadapannya, beliau bersabda: "Celakalah engkau, apa yang menimpamu?" Mantan budak orang-orang Quraisy tersebut menjawab: "Sahabat kalian telah membunuh sahabatku." Tidak lama kemudian, Abu Bashir datang kepada beliau dengan pedang terhunus, sampai dia berada tepat di hadapan beliau. Ia berkata: "Wahai Rasulullah, tanggunganmu telah terpenuhi, dan Allah telah menunaikannya. Engkau berikan aku kepada orang-orang tersebut, namun karena agamaku aku menolaknya, aku tidak mau disiksa atau diremehkan. Beliau bersabda: "Celakalah ibunya, dia orang yang menyalakan api perang andai saja banyak banyak orang." Kemudian Abu Bashir keluar hingga sampai di al-Ish dari arah Dzi al-Marwah di atas pantai di jalan yang biasa dilalui orang-orang Quraisy apabila hendak pergi menuju Syam. Pada saat yang bersamaan, apa yang disabdakan beliau kepada Abu Bashir "Celakalah ibunya, dia orang yang menyalakan api perang andai saja bersama banyak orang" sampai ke telinga kaum Muslimin yang tertahan di Makkah. Maka mereka keluar dari Makkah menuju al-Ish guna menemui Abu Bashir. Maka berkumpullah sekitar tujuh puluh orang. Mereka menekan dan menyempitkan ruang gerak orang-orang Quraisy dan tidak seorangpun yang berhasil mereka tangkap dari orang Quraisy kecuali pasti membunuhnya dan tidaklah rombongan orang-orang Quraisy jalan melewati mereka dengan barang dagangannya kecuali mereka merampasnya. Demikian yang terjadi hingga akhirnya orang-orang Quraisy mengirim surat kepada beliau untuk meminta beliau melindungi kelurga dan kerabat mereka. Karena mereka tidak berarti lagi. Lalu Rasulullah memberikan perlindungan pada mereka, hingga mereka tiba di Madinah. Pada saat Suhail bin 'Amr mendengar berita pembunuhan Abu Bashir terhadap sahabatnya dari Bani 'Amir, dia sandarkan punggungnya ke dinding Ka'bah, lalu berkata: "Demi Allah, aku tidak akan menggeserkan punggungku sedikitpun dari dinding Ka'bah ini hingga orang tersebut diberi diyat (tebusan darah)." Abu Sufyan bin Harb berkata: "Demi Allah, ini tindakan bodoh. Demi Allah, orang itu tidaklah pantas diberi diyat." Abu Sufyan bin Harb mengatakan itu sebanyak tiga kali.23
- Ummu Kultsum binti 'Uqbah
Wanita Mukminah yang hijrah
Ketika Ummu Kultsum binti 'Uqbah bin Abu Mu'aith hijrah kepada beliau, kedua saudaranya, 'Imarah dan al-Walid bin 'Uqbah, meminta beliau menyerahkannya sesuai perjanjian, tetapi beliau menolak karena Allah tidak menghendakinya.
Baca selengkapnya
Pada saat Ummu Kultsum binti 'Uqbah bin Abu Mu'aith hijrah kepada Rasulullah, maka kedua saudaranya yang bernama Imarah bin 'Uqbah dan al-Walid bin 'Uqbah datang kepada beliau dengan tujuan meminta Rasulullah untuk menyerahkan Ummu Kultsum kepada mereka berdua sesuai dengan perjanjian beliau dengan orang-orang Quraisy di Hudaibiyah. Beliau menolak permintaan mereka, karena Allah tidak menghendakinya.1
- Ayat al-Mumtahanah
Wanita beriman tidak dikembalikan
Az-Zuhri menanyakan maksud QS al-Mumtahanah ayat 10 dan 11, dan 'Urwah bin Zubair menulis kepadanya bahwa wanita beriman yang hijrah tidak dikembalikan, sedangkan maharnya dikembalikan kepada suami musyrik mereka bila kaum musyrikin juga mengembalikan mahar wanita Muslimah yang ada pada mereka. Di antara sahabat yang menceraikan istrinya yang masih musyrik adalah 'Umar bin al-Khaththab. Ibnu Hisyam menutup dengan jawaban beliau kepada para sahabat bahwa beliau tidak pernah menyebut masuk Makkah itu terjadi pada tahun itu.
Baca selengkapnya
Az-Zuhri bertutur kepadaku dari 'Urwah bin Zubair yang berkata: Aku pernah masuk ke tempat az-Zuhri yang sedang menulis surat untuk dikirimkan kepada Ibnu Abu Hunaidah sahabat al-Walid bin 'Abdul Malik. Dalam surat itu az-Zuhri bertanya tentang maksud dari firman Allah ini:1
Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami-suami) mereka mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir. (QS. Al-Mumtahanah: 10)
Kata tunggal dari 'awashim adalah 'ishmah yang berarti tali atau sebab. Al-A'sya bin Qais bin Tsa'labah berkata dalam syairnya:2
Kita lakukan perjalanan panjang menemui Imruul Qais
Dan kita ambil tali dari setiap kabilah
Ini adalah syair miliknya.
Dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar; dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. al-Mumtahanah: 10)
Lalu 'Urwah bin Zubair menulis surat kepada az-Zuhri bahwa beliau berdamai dengan orang-orang Quraisy di Hudaibiyah dengan ketentuan siapa saja yang datang kepada beliau tanpa izin mereka beliau harus mengembalikannya kepada mereka di Makkah. Pada saat wanita-wanita mukminah hijrah kepada beliau dan Islam, Allah tidak menghendaki pemulangan mereka pada orang-orang musyrik karena mereka telah disiksa karena keislaman mereka sehingga orang-orang musyrik menyadari bahwa mereka datang ke Madinah karena kecintaan mereka terhadap Islam. Di samping itu, Allah memerintahkan pengembalian mahar wanita-wanita Muslimah tersebut kepada orang-orang musyrik apabila wanita-wanita muslimah tersebut tidak mau kembali kepada suami-suami mereka yang masih musyrikin dan orang-orang musyrik tersebut juga mengembalikan mahar wanita-wanita kaum Muslimin yang ada pada mereka. Demikianlah keputusan Allah yang diputuskan untuk kalian dan Allah Maha Mengetahui dan Mahabijaksana. Maka Rasulullah menahan dan tidak memulangkan wanita-wanita muslimah yang datang dari Makkah, dan memulangkan laki-laki Muslim yang datang dari Makkah, lalu meminta apa yang diperintahkan Allah kepada beliau yaitu meminta mahar wanita-wanita Mukminah yang ada pada kaum musyrikin, dan beliau mengembalikan mahar wanita-wanita Mukminah yang tidak mau kembali kepada mereka jika mereka mengembalikan mahar wanita-wanita yang ada pada mereka. Andaikata Allah tidak memberikan keputusan seperti itu, beliau pasti mengembalikan wanita-wanita Muslimah yang hijrah kepada beliau pasca ditandanganinya Perdamaian Hudaibiyah seperti halnya beliau mengembalikan laki-laki Muslim yang hijrah kepada beliau ke Makkah sebelumnya. Dan andai saja tidak ada gencatan senjata dan perdamaian antara Rasulullah beliau dengan orang-orang Quraisy di peristiwa Hudaibiyah, pastinya beliau tidak akan mengembalikan wanita-wanita Muslimah dan tidak mengembalikan mahar-mahar mereka kepada suami-suami mereka yang musyrik. Demikianlah yang beliau lakukan atas wanita-wanita Muslimah yang datang kepada beliau sebelum ditandatanganinya perjanjian Hudaibiyah.1
Aku pernah bertanya kepada az-Zuhri tentang ayat di atas dan firman Allah Ta'ala:1
Dan jika seseorang dari istri-istri kalian lari kepada orang-orang kafir lalu kalian mengalahkan mereka maka bayarkanlah kepada orang-orang yang lari istrinya itu mahar sebanyak yang telah mereka bayar dan takwalah kepada Allah Yang kepada-Nya kalian beriman. (QS. al-Mumtahanah: 11).
Az-Zuhri menjawab: Yakni, bila istri salah seorang dari kalian lari kepada orang-orang kafir dan tidak ada wanita yang bisa kalian ambil seperti halnya mereka mengambil istri dari kalian, maka berilah ganti orang tersebut dari harta fay'i jika kalian mendapatkannya.
Maka tatkala turun ayat:
Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami-suami) mereka mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir (QS. al-Mumtahanah: 10), di antara sahabat yang menceraikan istrinya adalah 'Umar bin Khaththab. Ia menceraikan istrinya yang bernama Quraibah binti Abu Umayyah bin al-Mughirah yang kemudian dinikahi Muawiyah bin Abu Sufyan saat mereka berdua masih musyrik di Makkah. 'Umar bin Khaththab juga menceraikan istri lainnya yang masih kafir, yang bernama Ummu Kultsum binti Jarwal al-Khuzaiyah ibu 'Ubaidillah bin 'Umar yang kemudian dinikahi Abu Jahm Hudzaifah bin Ghanim dari kaum yang sama dengan 'Umar bin Khaththab dan keduanya dalam keadaan musyrik di Makkah.
Abu 'Ubaidah menuturkan kepadaku bahwa ada beberapa sahabat yang pernah bersama beliau berkata kepada beliau saat beliau sampai di Madinah: "Wahai Rasulullah, bukankah engkau pernah mengatakan bahwa engkau akan memasuki Makkah dengan aman? "Beliau bersabda: "Benar. tapi apakah aku pernah mengatakan bahwa itu akan terjadi pada tahun ini?" Mereka menjawab: "Tidak!" Beliau bersabda: "Itu sama dengan apa yang dikatakan kepadaku oleh Malaikat Jibril "Alaihis Salam."224
Catatan
- Ibnu Ishaq.
- Tambahan Ibnu Hisyam.
- Ejaan: tercetak "untuk untuk", kami membaca "untuk".
- Ibnu Ishaq. Sanad: Muhammad bin Muslim bin Syihab az-Zuhri meriwayatkan kepadaku dari 'Urwah bin Zubair dari Miswar bin Makhramah dan Marwan bin al-Hakam yang keduanya.
- Nomor catatan kaki "144" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat. Angka dari Jabir tercetak "empat ratus" di sini, sedangkan penjelasan Ibnu Hisyam di akhir bab menyebut "seribu empat ratus" menurut Jabir; kami memuat keduanya sebagaimana tercetak.
- Nomor catatan kaki "145" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat. ejaan: tercetak "berperasangka", kami membaca "berprasangka".
- Nomor catatan kaki "146" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat.
- Nomor catatan kaki "147" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat. ejaan: tercetak "Makraz", kami membaca "Mikraz"; tercetak "kemudin", kami membaca "kemudian"; tercetak "temanya", kami membaca "temannya".
- Nomor catatan kaki "148" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat. ejaan: tercetak "Husail", kami membaca "Hulais"; tercetak "la berkata", kami membaca "Ia berkata".
- Nomor catatan kaki "149", "150" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat. ejaan: tercetak "Sy'ams", kami membaca "Syams"; tercetak "Masud", kami membaca "Mas'ud"; tercetak "Urwa", kami membaca "Urwah".
- Nomor catatan kaki "151" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat.
- Nomor catatan kaki "152", "153" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat. ejaan: tercetak "Sa id", kami membaca "Sa'id".
- Nomor catatan kaki "154" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat.
- Nomor catatan kaki "155", "156" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat.
- Nomor catatan kaki "157", "158" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat.
- Nomor catatan kaki "159" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat. ejaan: tercetak "Abu Jundal", kami membaca "Abu Jandal"; tercetak "Sa'ad", kami membaca "Sa'd".
- Ibnu Ishaq. Sanad: 'Abdullah bin Abu Najih berkata kepadaku dari Mujahid dari Ibnu 'Abbas.
- Nomor catatan kaki "160", "161" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat. ejaan: tercetak "yang yang", kami membaca "yang". Pada paragraf pertama, kalimat tentang beliau yang "berada dalam keadaan tahallul sedangkan beliau shalat dalam keadaan ihram" tercetak terputus dengan potongan kalimat "Setelah"; kami memuatnya sebagaimana tercetak.
- Ibnu Ishaq. Sanad: 'Abdullah bin Abu Najih berkata kepadaku dari 'Atha' bin Abu Rabah dari Ibnu 'Abbas.
- Ibnu Ishaq. Sanad: seorang yang tidak aku ragukan … integritasnya berkata kepadaku dari Az Zuhri.
- Ejaan: tercetak "al-Fath: 12)", kami membaca "al-Fath: 1-2)"; tercetak "keju", tidak jelas sehingga kami menandainya "…".
- Ejaan: tercetak "adapaun", kami membaca "adapun"; tercetak "Suhai", kami membaca "Suhail".
- Nomor catatan kaki "162" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat. ejaan: tercetak "akhimya", kami membaca "akhirnya".
- Ejaan: tercetak "sampaing", kami membaca "samping"; tercetak "kecintan", kami membaca "kecintaan"; tercetak "mukminan", kami membaca "mukminah"; tercetak "mendapatkanya", kami membaca "mendapatkannya".
Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Bab berikutnya membahas keberangkatan menuju Khaibar.