Pusat Sejarah Islam
Bab 38 dari 55

Bani al-Mushthaliq & Hadits al-Ifk

Ghazwah ke sumur al-Muraisi'. Nabi menikahi Juwairiyah, dan 100 keluarga kaumnya dibebaskan. Dalam perjalanan pulang muncul fitnah terhadap 'Aisyah, sampai turun surat an-Nur.

Sya'ban 6 HSumber: Ibnu Hisyam
Sekilas

Isi bab ini

Bab ini memuat Perang Bani Mushthaliq di sumur al-Muraisi' menurut Ibnu Hisyam: ucapan 'Abdullah bin Ubay, pernikahan beliau dengan Juwairiyah, Hadits al-Ifk (berita bohong tentang 'Aisyah) dengan ayat-ayat an-Nur, dan syair Hassan bin Tsabit.

Sumur al-Muraisi'

Beliau menyerbu Bani Mushthaliq pada Sya'ban tahun 6 H; panglima mereka al-Harits bin Abu Dhirar. Ibnu Hisyam tidak menyebut jumlah pasukan kedua pihak.

'Abdullah bin Ubay

Setelah pertengkaran di sumur, ia berkata bahwa orang mulia akan mengusir orang hina dari Madinah; Zaid bin Arqam melapor, dan beliau menolak usul 'Umar untuk membunuhnya.

Juwairiyah

Putri al-Harits bin Abu Dhirar, tawanan yang ditebus dan dinikahi beliau; menurut 'Aisyah, seratus keluarga Bani Mushthaliq dibebaskan karenanya.

Hadits al-Ifk

'Aisyah tertinggal mencari kalungnya dan dibawa pulang oleh Shafwan bin al-Mu'aththal; berita bohong tersebar hingga turun QS an-Nur ayat 11 sampai 22.

Peta

Madinah dan Makkah

Titik Makkah dan Madinah diambil dari Wikipedia. Tempat-tempat lain yang disebut dalam bab ini tidak ditandai karena koordinatnya belum kami verifikasi.

Madinah dan Makkah
Tempat yang disebut Ibnu HisyamPerjalanan (garis perkiraan)
    Alur kisah

    Dari al-Muraisi' sampai Hadits al-Ifk

    Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.

    Strategi dan jalur di al-Muraisi'

    Sketsa ini menata apa yang disebut Ibnu Ishaq; letak relatif dan bentuk medan hanyalah perkiraan dan tidak berskala. Kami menggambarnya sendiri.

    URUTAN YANG DISEBUT IBNU ISHAQ; LETAK DAN JARAK TIDAK BERSKALAMADINAHwakil: Abu Dzar al-Ghifari(pendapat lain: Numailah bin'Abdullah al-Laitsi)Kaum Musliminberangkat setelah kabar BaniMushthaliq bersatu memerangi;jumlah: tidak disebutsumural-Muraisi'Bani Mushthaliqpanglima: al-Harits bin Abu Dhirarjumlah: tidak disebut123Perjalanan pulangsehari semalam hingga terikpagi; berhenti, lalu tidurSumur Baq'a di Hijazangin kencang bertiupRifa'ah bin Zaid wafatDekat Madinahbermalam; 'Aisyah mencarikalungnya dan tertinggal456HASIL DI AL-MURAISI' MENURUT IBNU ISHAQKaum MusliminHisyam bin Shubabah gugur(dibunuh seorang Anshar)Bani Mushthaliqbanyak tewas; 'Ali membunuh duaorang, 'Abdurrahman bin 'Aufseorang penunggang kudaTawanan dan hartabanyak tawanan, dibagi merata;anak-anak, istri-istri, hartadikuasai beliau
    1. Beliau berangkat dari Madinah setelah mendengar Bani Mushthaliq bersatu memeranginya (garis putus-putus: jalur tidak disebut).
    2. Kedua pihak bertemu dan bertempur di sumur al-Muraisi'; Allah mengalahkan Bani Mushthaliq.
    3. Sesudah pertengkaran di sumur dan ucapan Ibnu Ubay dilaporkan, beliau menyuruh semua orang pulang; mereka berjalan sehari semalam sampai terik pagi, lalu berhenti dan tertidur.
    4. Perjalanan dilanjutkan melewati Hijaz dan singgah di sumur Baq'a; angin kencang bertiup dan di Madinah diketahui Rifa'ah bin Zaid wafat pada hari itu.
    5. Dekat Madinah rombongan bermalam; 'Aisyah keluar mencari kalungnya yang terlepas dan tertinggal.
    6. Rombongan tiba di Madinah; Shafwan bin al-Mu'aththal datang menuntun unta yang dinaiki 'Aisyah.

    Strateginya menurut Ibnu Ishaq: beliau berangkat setelah mendengar kabar bahwa Bani Mushthaliq bersatu memeranginya dan bertemu mereka di sumur al-Muraisi', tempat kedua pihak saling serang hingga Allah mengalahkan mereka. Ibnu Hisyam tidak menggambarkan taktik, susunan barisan, jumlah pasukan, atau pembagian tugas pasukan; sketsa ini hanya menata tempat dan peristiwa yang disebut. Panah menandai urutan yang disebut, bukan jalur sebenarnya di peta.

    PasukanJumlahPeran yang disebut Ibnu Hisyam
    Kaum Muslimintidak disebutBerangkat bersama beliau; wakil di Madinah Abu Dzar al-Ghifari (atau Numailah bin 'Abdullah al-Laitsi); satu orang gugur, Hisyam bin Shubabah.
    Bani Mushthaliqtidak disebutDipimpin al-Harits bin Abu Dhirar; banyak yang tewas, termasuk dua orang yang dibunuh 'Ali dan seorang penunggang kuda yang dibunuh 'Abdurrahman bin 'Auf.
    Tawanan"banyak" (jumlah tidak disebut)Dibagikan merata kepada kaum Muslimin; menurut 'Aisyah, seratus keluarga dibebaskan setelah beliau menikahi Juwairiyah.

    Dari Haykal. Bagian ini bukan dari Ibnu Hisyam. Haykal menulis bahwa beliau mendengar Bani al-Mushthaliq, cabang suku Khuza'ah di dekat Makkah, bersiap perang dan menghasut kabilah sekitarnya untuk membunuh beliau; pemimpinnya al-Harits bin Abu Dirar. Beliau bergerak cepat agar menyerang secara mendadak, dengan dua barisan, Muhajirin di bawah Abu Bakr dan Anshar di bawah Sa'd bin 'Ubadah. Kaum Muslimin berkemah dekat sumur al-Muraisi', tidak jauh dari perkemahan musuh; sekutu Bani Mushthaliq lari ketika mendengar pasukan mendekat, sehingga Bani Mushthaliq sendiri segera terkepung. Dalam pertempuran singkat itu kaum Muslimin kehilangan satu orang dan Bani Mushthaliq sepuluh orang; mereka lalu menyerah, semuanya ditawan, dan ternak mereka disita. Haykal tidak menyebut jumlah pasukan kedua pihak.

    Dari sumber lain. Bagian ini bukan dari Ibnu Hisyam. Menurut artikel Wikipedia Banu Mustaliq (https://en.wikipedia.org/wiki/Banu_Mustaliq), peristiwa ini terjadi pada Desember 627 M (Sya'ban 6 H), dengan catatan lain di artikel yang sama menyebut Sya'ban tahun 626 M (5 H), di mata air al-Muraysi'; 200 keluarga ditawan dan diambil 200 unta serta 5.000 domba dan kambing. Artikel itu tidak menyebut jumlah pasukan maupun korban. Angka tawanan itu berbeda dari Ibnu Hisyam, yang hanya menyebut seratus keluarga dibebaskan setelah pernikahan beliau dengan Juwairiyah, bukan jumlah seluruh tawanan. Kami belum memeriksa angka-angka itu pada kitab asalnya.

    Perbedaan sumber

    Yang gugur dari kaum Muslimin. Ibnu Ishaq menyebut Hisyam bin Shubabah dari Bani Kalb bin 'Auf, dibunuh seorang Anshar (alasannya tercetak tidak jelas), dan menulis korban Bani Mushthaliq "banyak". Haykal menulis Hisyam bin al-Khaththab, yang terbunuh tanpa sengaja oleh sesama Muslim, dan Bani Mushthaliq kehilangan sepuluh orang lalu menyerah.
    Pimpinan pasukan. Ibnu Hisyam menyebut Abu Dzar al-Ghifari sebagai wakil di Madinah (pendapat lain: Numailah bin 'Abdullah al-Laitsi). Haykal menulis dua barisan, Muhajirin di bawah Abu Bakr dan Anshar di bawah Sa'd bin 'Ubadah.
    Usul membunuh Ibnu Ubay. Ibnu Ishaq menyebut 'Umar meminta beliau memerintahkan 'Abbad bin Bisyr; Haykal menyebut Bilal.
    Juwairiyah. Dalam tuturan 'Aisyah, Juwairiyah masuk bagian Tsabit bin Qais atau anak pamannya dan menebus dirinya dengan mencicil. Haykal menulis ia jatuh kepada seorang Anshar yang tidak disebut namanya dan meminta harga tebusan yang sangat tinggi; Haykal juga memuat dua riwayat lain, yaitu ayahnya datang menebus lalu masuk Islam dengan mahar empat ratus dirham (riwayat ini juga dimuat Ibnu Hisyam), dan seorang kerabat menyerahkannya kepada beliau tanpa persetujuan ayahnya.
    Tempat beliau meminta pendapat. Ibnu Ishaq: setelah turun dari mimbar, beliau masuk ke rumahnya dan memanggil 'Ali dan Usamah bin Zaid. Haykal: beliau menuju rumah Abu Bakr dan memanggil keduanya di sana.
    Hukuman bagi penyebar berita. Ibnu Ishaq menulis Misthah, Hassan, dan Hamnah "dikenakan hukuman had" tanpa menyebut jumlah. Haykal menulis masing-masing dicambuk delapan puluh kali sesuai QS an-Nur ayat 4.

    1. Berangkat ke Bani Mushthaliq

      Sumur al-Muraisi' pada Sya'ban tahun keenam

      Setelah beberapa hari di Madinah pada bulan Jumadil Akhir dan Rajab, beliau menyerbu Bani Mushthaliq pada Sya'ban tahun 6 H. Ibnu Hisyam menyebut Abu Dzar al-Ghifari sebagai wakil di Madinah, dengan pendapat lain Numailah bin 'Abdullah al-Laitsi. Bani Mushthaliq dipimpin al-Harits bin Abu Dhirar, ayah Juwairiyah. Kedua pihak bertempur di sumur al-Muraisi' dan Allah mengalahkan mereka; banyak yang tewas, dan beliau menguasai anak-anak, istri-istri, dan harta mereka. Hisyam bin Shubabah dari kaum Muslimin gugur dibunuh seorang Anshar.

      Baca selengkapnya

      Beliau menetap di Madinah beberapa hari dari bulan Jumadil Akhir dan Rajab. Sesudah itu, Nabi menyerbu Bani Mushthaliq pada bulan Syaban tahun keenam Hijriyah.1

      Beliau menunjuk Abu Dzar al-Ghifari sebagai imam sementara di Madinah. Pendapat lain mengatakan bahwa yang ditunjuk sebagai imam sementara saat itu adalah Numailah bin 'Abdullah al-Laitsi.2

      'Ashim bin 'Umar bin Qatadah, 'Abdullah bin Abu Bakr, dan Muhammad bin Yahya bin Hibban menceritakan kepadaku. Mereka semuanya hanya menceritakan sebagian tentang peristiwa Perang Bani al-Mushthaliq kepadaku, mereka mengatakan: Rasulullah mendapat berita bahwa Bani al-Mushthaliq bersatu untuk memeranginya, sedangkan panglima perang mereka adalah al-Harits bin Abu Dhirar ayah Juwairiyah binti al-Harits istri Rasulullah. Setelah mendengar rencana mereka tersebut, Rasulullah berangkat hingga bertemu mereka di sebuah sumur yang bernama al-Muraisi'. Dari arah Qudaid ke Sahi. Di sana, kedua belah pihak saling serang dan bertempur hingga akhirnya Allah mengalahkan Bani Mushthaliq. Banyak pasukan dari mereka yang tewas, dan Rasulullah pun menguasai anak-anak, istri-istri, dan kekayaan mereka. Allah memberikan fay'i kepada Rasulullah berupa mereka (anak-anak, para istri dan harta mereka). Pada perang ini, salah seorang dari kaum muslimin yang berasal dari Bani Kalb bin 'Auf bin 'Amir bin Laits bin Bakr yang bernama Hisyam bin Shubabah gugur. Ia dibunuh oleh salah seorang dari kaum Anshar yaitu kabilah 'Ubadah bin ash-Shamit karena ia … musuh.13

    2. Pertengkaran di sumur

      Ucapan 'Abdullah bin Ubay bin Salul

      Di sumur al-Muraisi', Jahjah bin Mas'ud (pekerja 'Umar dari Bani Ghifar) berebut air dengan Sinan bin Wabar al-Juhani, sekutu Bani 'Auf bin Khazraj; keduanya berteriak memanggil kaumnya, Anshar dan Muhajirin. 'Abdullah bin Ubay bin Salul, bersama beberapa orang dari kaumnya termasuk Zaid bin Arqam yang masih muda, berkata bahwa bila sampai di Madinah, orang-orang mulia akan mengusir orang-orang hina, lalu menyalahkan kaumnya karena telah menampung dan memberi harta kepada kaum Muhajirin.

      Baca selengkapnya

      Pada saat beliau berada di dekat sumur al-Muraisi', orang-orang dan pekerja 'Umar bin Khaththab dari Bani Ghifar bernama Jahjah bin Mas'ud yang menuntun kuda datang ke sumur tersebut. Di sana, Jahjah bin Mas'ud berebut air dengan Sinan bin Wabar al-Juhani sekutu Bani 'Auf bin Khazraj hingga keduanya terlibat perkelahian. Sinan bin Wabar Juhani berteriak: "Wahai orang-orang Anshar." Sedangkan Jahjah berteriak: "Wahai orang-orang Muhajirin."1

      Akibat peristiwa di itu, 'Abdullah bin Ubay bin Salul yang saat itu bersama beberapa orang dari kaumnya, di antaranya Zaid bin Arqam -anak muda - marah besar kemudian berkata: "Sungguh mereka telah melakukannya. Mereka mengalahkan dan mengungguli kita di negeri kita. Demi Allah, aku tidak mengibaratkan apa yang dilakukan orang-orang hina Quraisy tersebut melainkan hal ini seperti kata pepatah nenek moyang dahulu: 'Gemukkan anjingmu niscaya ia memakanmu.' Demi Allah, jika kita sampai di Madinah, orang-orang mulia di sana akan mengusir orang-orang hina." 'Abdullah bin Ubay bin Salul menemui beberapa orang dari kaumnya yang berada di sana. Kemudian berkata kepada mereka: "Inilah yang kalian perbuat terhadap diri kalian. Setelah kalian memberi tempat mereka di negeri kalian dan membagi harta kalian untuk mereka. Demi Allah, andai kalian tidak memberikan harta kepada mereka, mereka akan minggat ke negeri yang lain."14

    3. Zaid bin Arqam melapor

      'Umar meminta ia dibunuh, beliau menolak

      Zaid bin Arqam menyampaikan ucapan itu kepada beliau yang sedang bersama 'Umar. 'Umar meminta beliau memerintahkan 'Abbad bin Bisyr membunuhnya, tetapi beliau menolak karena orang akan mengatakan Muhammad membunuh sahabat-sahabatnya, dan menyuruh semua orang pulang. 'Abdullah bin Ubay bersumpah tidak mengatakannya, dan seorang Anshar membelanya. Usaid bin Hudhair kemudian menasihati agar beliau lembut kepadanya karena kaumnya dahulu hendak menjadikannya raja.

      Baca selengkapnya

      Zaid bin Arqam mendengar hasutan 'Abdullah bin Ubay bin Salul itu, lalu ia pergi kepada Rasulullah. Kejadian ini terjadi setelah Rasulullah berhasil menaklukkan musuhnya. Zaid bin Arqam melaporkan ucapan 'Abdullah bin Ubay bin Salul kepada Rasulullah yang kala itu tengah bersama 'Umar bin Khaththab. Maka 'Umar berkata kepada Rasulullah: "Perintahkanlah 'Abbad bin Bisyr untuk membunuhnya." Rasulullah kepada 'Umar bin Khattab: "Bagaimana pendapatmu wahai 'Umar, apabila orang-orang mengatakan bahwa Muhammad membunuh sahabat-sahabatnya. Tidak, namun perintahkanlah agar semua orang pulang." Ketika itu Rasulullah tidak pulang ke Madinah, namun para sahabat pulang.1

      Pada saat 'Abdullah bin Ubay bin Salul mengetahui bahwa Zaid bin Arqam melaporkan hasutannya kepada beliau, ia pergi menghadap Rasulullah dan bersumpah dengan nama Allah seraya berkata: "Aku tidak mengatakan apa yang dilaporkan Zaid bin Arqam." 'Abdullah bin Ubay bin Salul merupakan salah seorang tokoh penting di tengah kaumnya. Seorang sahabat Anshar berkata kepada Rasulullah: "Wahai Rasulullah, bisa jadi anak muda tersebut (Zaid bin Arqam) salah tanggap dan tidak hafal seluruh perkataan 'Abdullah bin Ubay bin Salul." Dia mengatakan itu demi melindungi 'Abdullah bin Ubay bin Salul.1

      Dalam perjalanan pulang ke Madinah, Rasulullah bertemu dengan Usaid bin Hudhair. Ia mengucapkan salam, dan berkata: "Wahai Nabi Allah, demi Allah sungguh engkau pulang pada saat yang tidak menyenangkan, yang tidak pernah engkau lakukan sebelum ini."1

      Rasulullah bersabda kepada Usaid bin Hudhair: "Apakah engkau telah mendengar apa yang dikatakan oleh sahabat kalian?"

      Usaid bin Hudhair berkata: "Siapa yang engkau maksud, wahai Rasulullah?"

      Rasulullah bersabda: "'Abdullah bin Ubay bin Salul." Usaid bin Hudhair berkata: "Apa yang ia katakan?"

      Rasulullah bersabda, "Ia menyangka bahwa jika ia tiba di Madinah, orang mulia di dalamnya akan mengusir orang hina." Usaid bin Hudhair berkata: "Wahai Rasulullah, engkaulah yang akan mengusirnya dari Madinah, bila engkau menghendakinya. Demi Allah, dialah orang yang hina sedangkan engkau orang yang mulia." Usaid bin Hudhair berkata lagi: "Wahai Rasulullah, bersikap lembutlah kepadanya. Demi Allah, pada saat engkau datang kepada kami, saat itu kaumnya meminta pendapatnya dalam posisinya sebagai raja dan kini ia beranggapan bahwa engkau telah merampas kekuasaannya."5

    4. Perjalanan sepanjang hari

      Angin kencang dan wafatnya Rifa'ah bin Zaid

      Beliau berjalan sehari semalam sampai terik pagi berikutnya, lalu berhenti dan para sahabat tertidur supaya mereka melupakan pembicaraan Ibnu Ubay. Dalam perjalanan melewati Hijaz dan singgah di sumur Baq'a, angin kencang bertiup; beliau bersabda angin itu karena kematian seorang pembesar orang kafir. Di Madinah mereka mendengar bahwa Rifa'ah bin Zaid dari Bani Qainuqa' meninggal pada hari itu. Turun surat yang menyebut orang-orang munafik, dan beliau memegang telinga Zaid bin Arqam dan bersabda, "Inilah orang yang menepati janji kepada Allah dengan telinganya."

      Baca selengkapnya

      Kemudian Rasulullah berjalan bersama kaum Muslimin pada siang hari itu hingga menjelang sore, dan pada malam harinya hingga pagi hari berikutnya, serta awal pagi hari berikutnya hingga terik matahari. kemudian, beliau dan kaum muslimin berhenti. Tak lama kemudian mereka mengantuk dan tertidur. Rasulullah beristirahat agar kaum Muslimin melupakan pembicaraan tentang hasutan 'Abdullah bin Ubay bin Salul yang terjadi pada hari kemarin.1

      Kemudian Rasulullah meneruskan perjalanan bersama kaum Muslimin hingga melewati Hijaz dan singgah di sebuah sumur yang terdapat di Hijaz bernama Baq'a. Pada saat berjalan, tiba-tiba angin kencang bertiup ke arah kaum Muslimin hingga mereka jatuh sakit dan menjadikan mereka dilanda rasa takut. Rasulullah bersabda: "Janganlah kalian takut akan angin kencang ini. Ini bertiup karena kematian seorang pembesar orang-orang kafir." Saat kaum Muslimin tiba di Madinah, mereka mendengar Rifa'ah bin Zaid bin at-Tabut salah seorang warga Bani Qainuqa' yang merupakan pemuka orang-orang Yahudi dan pelindung orang-orang munafik meninggal tepat pada hari bertiupnya angin kencang tersebut.

      Kemudian turunlah surat al-Qur'an, di dalamnya Allah menceritakan orang-orang munafik yaitu 'Abdullah bin Ubay bin Salul dan mereka yang memiliki kesamaan sifat dengannya. Ketika surat itu diturunkan, Rasulullah memegang telinga Zaid bin Arqam kemudian bersabda: "Inilah orang yang menepati janji kepada Allah dengan telinganya." 'Abdullah bin 'Abdullah bin Ubay bin Salul mendengar masalah yang terjadi pada ayahnya.6

    5. Anak 'Abdullah bin Ubay

      Permintaan seorang anak yang berbakti

      'Abdullah bin 'Abdullah bin Ubay meminta izin beliau untuk membunuh ayahnya sendiri, karena ia khawatir bila orang lain yang membunuhnya ia akan membunuh pembunuh itu dan masuk neraka. Beliau menjawab bahwa mereka akan bersikap lembut selama ayahnya hidup bersama mereka. Sesudah itu kaumnya sendiri yang mengecam Ibnu Ubay, dan 'Umar mengakui perintah beliau lebih berkah daripada perintahnya.

      Baca selengkapnya

      'Ashim bin 'Umar bin Qatadah menceritakan kepadaku bahwa 'Abdullah bin 'Abdullah bin Ubay bin Salul menghadap Rasulullah lalu berkata: "Wahai Rasulullah, aku mendengar rencana engkau hendak membunuh ayahku karena ucapannya. Jika itu harus dilakukan, izinkan aku untuk membunuhnya, niscaya aku akan bawa kepalanya ke hadapanmu. Demi Allah, seluruh orang Khazraj mengetahui dengan baik bahwa di kalangan mereka tidak ada anak yang lebih berbakti kepada orang tuanya selain aku. Aku khawatir engkau menyuruh orang lain untuk membunuhnya. Maka jangan biarkan diriku melihat pembunuh ayahku berada di sekitar kita kemudian aku membunuhya. Jika itu terjadi, berarti aku membunuh orang Mukmin yang telah membunuh orang kafir. Karena itu akan menyebabkanku masuk neraka.1

      Rasulullah bersabda: Kita akan bersikap lembut dan bermu'amalah dengan baik selama ia hidup berdampingan bersama kita.

      Setelah peristiwa itu, jika 'Abdullah bin Ubay bin Salul mengerjakan kesalahan, maka kaumnya sendiri yang mengecamnya, menindak, dan memarahinya.

      Rasulullah bersabda kepada 'Umar bin Khaththab ketika mendengar sikap kaum 'Abdullah bin Ubay bin Salul seperti itu: "Bagaimana pendapatmu wahai 'Umar?. Demi Allah, jika aku membunuhnya saat engkau memintaku untuk membunuhnya, niscaya beritanya akan menggemparkan. Namun, jika sekarang engkau memintaku untuk membunuhnya, aku pasti akan membunuhnya." 'Umar bin Khaththab berkata: "Demi Allah, aku tahu bahwa perintah beliau itu lebih agung keberkahannya daripada perintahku."

    6. Miqyas bin Shubabah

      Muslim yang menipu, lalu murtad

      Miqyas bin Shubabah datang dari Makkah ke Madinah tampak seperti telah masuk Islam dan meminta diyat atas saudaranya yang dibunuh karena salah sasaran. Beliau memerintahkan diyat dibayarkan; sesudahnya Miqyas membunuh sahabat yang telah membunuh saudaranya, lalu pulang ke Makkah dalam keadaan murtad. Ibnu Hisyam menyebut seruan perang kaum Muslimin pada perang ini.

      Baca selengkapnya

      Miqyas bin Shubabah datang dari Makkah ke Madinah dengan dengan penampilan seolah-olah dia telah masuk Islam. Ia berkata: "Wahai Rasulullah, aku menghadap kepadamu dalam keadaan Muslim dan bertujuan untuk meminta diyat atas saudaraku. Ia dibunuh karena salah sasaran." Rasulullah pun memerintahkan sahabat untuk membayar diyat kepadanya. Miqyas bin Shubabah tinggal di Madinah dalam waktu singkat, kemudian mengintai sahabat yang telah membunuh saudaranya dan membunuhnya, kemudian, ia pulang ke Makkah dalam keadaan murtad.1

      Selogan perang kaum Muslimin di Perang Bani al-Mushthaliq adalah ya manshuur amit, amit (wahai orang yang menang, bunuhlah, bunuhlah).2

    7. Korban dan tawanan

      'Ali, 'Abdurrahman bin 'Auf, dan Juwairiyah

      Korban Bani Mushthaliq banyak. 'Ali membunuh dua orang (Malik dan anaknya), dan 'Abdurrahman bin 'Auf membunuh seorang penunggang kuda bernama Ahmar atau Uhaimar. Banyak orang Bani Mushthaliq ditawan dan dibagikan kepada kaum Muslimin secara merata; Juwairiyah binti al-Harits termasuk tawanan wanita, dan akhirnya beliau menikahinya.

      Baca selengkapnya

      Ibnu Ishaq: Korban dari Bani al-Mushthaliq banyak sekali. 'Ali bin Abu Thalib membunuh dua orang, mereka adalah Malik dan anaknya. 'Abdurrahman bin 'Auf membunuh seorang penunggang kuda dari mereka yang bernama Ahmar atau Uhaimar. Pada perang ini beliau menawan banyak sekali dari orang-orang Bani al-Mushthaliq lalu seluruh tawanan tersebut dibagikan kepada kaum Muslimin secara merata. Dan Juwairiyah binti al-Harits bin Abu Dhirar ketika itu termasuk di antara daftar nama-nama tawanan wanita Bani al-Mushthaliq yang akhirnya beliau memperistrinya.7

    8. Juwairiyah binti al-Harits

      Penebusan dan pernikahan, menurut 'Aisyah

      'Aisyah menuturkan bahwa Juwairiyah masuk bagian Tsabit bin Qais atau anak pamannya dan menebus dirinya dengan mencicil. Ia datang meminta bantuan beliau; beliau menawarkan sesuatu yang lebih baik, yaitu melunasi cicilannya dan menikahinya, dan ia setuju. Ketika berita menyebar, orang-orang membebaskan tawanan mereka sehingga seratus keluarga Bani Mushthaliq dibebaskan, dan 'Aisyah berkata ia tidak tahu wanita yang lebih berkah bagi kaumnya.

      Baca selengkapnya

      Pada saat beliau membagibagi para tawanan wanita dari Bani al-Mushthaliq kepada para Shahabat, Juwairiyah binti al-Harits masuk ke dalam bagian Tsabit bin Qais bin Asy-Syammas atau anak pamannya, lalu ia menebus dirinya dengan cara mencicil. Ia wanita yang manis cantik nan rupawan. Siapapun yang melihatnya, pasti kepincut kepadanya. Pada suatu ketika, ia menemui Rasulullah untuk meminta bantuan beliau dalam penebusan dirinya. 'Aisyah berkata: Demi Allah, aku melihat dia berdiri di depan pintu kamarku dan aku sangat membencinya. Aku tahu bahwa Rasulullah akan melihat kecantikannya sebagaimana aku telah melihatnya. Ia pun masuk menemui Rasulullah lalu berkata: "Wahai Rasulullah, aku Juwairiyah binti al-Harits bin Abu Dhirar dan ayahku adalah seorang pemimpin di tengah kaumnya. Aku tertimpa musibah dan engkau pasti mengetahuinya aku masuk kedalam bagian yang menjadi jatah Tsabit bin Qais bin Asy-Syammas atau anak pamannya, lalu aku menebus diriku dengan cara mencicil. Dan saat ini aku menemuimu untuk meminta bantuanmu dalam pembayaran cicilan tersebut."8

      Rasulullah bersabda: "Apakah engkau menginginkan sesuatu yang lebih baik dari itu?" Ia berkata: "Apakah yang kau maksud wahai Rasulullah?' Rasulullah bersabda: "Aku bantu kamu lunasi cicilan pembebasanmu dan menikahimu." Ia menjawab: "Ya, wahai Rasulullah."

      Rasulullah bersabda: "Itu telah aku lakukan."

      'Aisyah berkata: Berita pun menyebar bahwa Rasulullah menikah dengan Juwairiyah binti al-Harits. Mereka berkata: "Ia menjadi keluarga Rasulullah." Mereka kirim apa yang ada di tangan mereka. Dengan pernikahan ini, seratus keluarga dari Bani al-Mushthaliq dibebaskan. Aku tidak tahu ada wanita yang lebih berkah di antara kaumnya daripada Juwairiyah binti al-Harits.

    9. Riwayat lain tentang Juwairiyah dan al-Walid bin 'Uqbah

      Fidyah al-Harits dan ayat al-Hujurat

      Ibnu Hisyam menyebut riwayat lain: al-Harits bin Abu Dhirar datang menebus putrinya dengan unta, menyembunyikan dua ekor di lembah al-'Aqiq, tetapi beliau mengetahuinya sehingga al-Harits dan sebagian kaumnya masuk Islam; beliau melamar Juwairiyah dengan mahar empat ratus dirham. Ibnu Ishaq lalu menuturkan utusan al-Walid bin 'Uqbah kepada Bani Mushthaliq, yang pulang melapor bahwa mereka hendak membunuhnya; utusan Bani Mushthaliq menjelaskan, dan turun QS al-Hujurat ayat 6 sampai 7.

      Baca selengkapnya

      Ada yang mengatakan bahwa ketika tiba di Dzatul Jaisy, Rasulullah yang pada waktu itu dalam perjalanan pulang dari perang Bani al-Mushthaliq dan di sertai Juwairayah binti al-Haris, beliau menitipkan Juwairiyah binti al-Harits kepada salah seorang dari kaum Anshar dan menyuruhnya untuk menjaganya sesudah itu beliau melanjutkan perjalanan hingga sampai di Madinah. Kemudian datanglah ayah Juwairiyah, al-Harits bin Abu Dhirar, dengan maksud menebus putrinya. Pada saat ia berada di al-Aqiq, ia mengamati unta-unta yang ia siapkan sebagai tebusan bagi putrinya dan ia pun tertarik dengan dua unta dari unta-unta yang ada. Dan ia menyembunyikannya di salah satu lembah di al-Aqiq. Sesudah itu ia datang menemui Rasulullah dan berkata: "Wahai Muhammad, engkau tawan putriku dan ini sebagai tebusannya." Rasulullah bersabda: "Lalu mana dua unta yang engkau sembunyikan di salah satu lembah di al-Aqiq?" Al Harits bin Abu Dhirar berkata: "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Demi Allah, tidak ada yang melihat kedua unta tersebut kecuali Allah." Maka al-Harits masuk Islam yang diikuti dua anaknya dan sejumlah orang dari kaumnya. Kemudian dia menyuruh seseorang untuk mengambil dua unta yang dia sembunyikan, yang kemudian dibawa ke tempat dia berada dan diserahkan kepada Rasulullah, dan putrinya, Juwairiyah binti al-Harits diserahkan kepadanya. Juwairiyah binti al-Harits masuk Islam dan keislamannya sangat baik. Lalu Rasulullah melamar beliau kepada ayahnya kemudian ayahnya menikahkan beliau dengan Juwairiyah dengan mahar empat ratus dirham.2

      Yazid bin Ruman menuturkan kepadaku bahwa setelah masuk orang-orang Bani al-Mushthaliq masuk Islam, Rasulullah mengutus al-Walid bin 'Uqbah bin Abu Mu'aith kepada mereka. Mereka mendengar kedatangan al-Walid bin 'Uqbah bin Abu Mu'aith. Mereka berangkat kepadanya. Namun ketika al-Walid bin 'Uqbah bin Abu Mu'aith mendengar keberangkatan mereka, ia takut kepada mereka, oleh karena itu ia pulang kepada Rasulullah dan melaporkan bahwa mereka hendak membunuhnya dan mencegahnya untuk mengambil zakat dari mereka. Banyak di antara kaum muslimin yang mengusulkan agar mereka diperangi. Hingga Rasulullah pun berniat untuk menyerang mereka. Pada saat kaum muslimin telah siap, tiba-tiba datanglah utusan mereka kepada Rasulullah seraya berkata: "Wahai Rasulullah, kami telah mendapat kabar tentang kedatangan utusanmu kepada kami. Karena itulah, kami keluar kepadanya untuk menghormati dan menyerahkan zakat kepadanya, tapi ia buru-buru dan langsung kembali ke Madinah. Kemudian, kami mendapat kabar dia melaporkan padamu bahwa kami akan membunuhnya. Demi Allah, kami tidak memiliki niatan untuk tujuan itu."1

      Mengenai al-Walid bin 'Uqbah bin Abu Mu'aith dan delegasi Bani al-Mushthaliq tadi, Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya berikut:

      Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita. maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus (QS. al-Hujuraat: 6-7).

      Rasulullah meneruskan perjalanan dari tempat tersebut, seperti dituturkan kepadaku oleh orang yang tidak aku ragukan integritasnya, dari jalan az-Zuhri dari 'Urwah bin Zubair dari 'Aisyah. Pada saat Rasulullah tiba di dekat Madinah, dimana saat itu 'Aisyah bersama beliau, orang-orang mengatakan berita bohong tentang 'Aisyah.

    10. Hadits al-Ifk: para perawi dan undian

      'Aisyah ikut dalam perjalanan

      Ibnu Ishaq menyebut para perawi kisah ini dari 'Aisyah: az-Zuhri dari 'Alqamah bin Waqqash, Sa'id bin Jubair, 'Urwah bin Zubair, dan 'Ubaidillah bin 'Abdullah bin 'Utbah, serta Yahya bin 'Abbad dan 'Abdullah bin Abu Bakar. 'Aisyah menuturkan bahwa beliau mengundi istri-istrinya sebelum bepergian; pada Perang Bani Mushthaliq namanyalah yang keluar.

      Baca selengkapnya

      Az-Zuhri meriwayatkan kepadaku dari 'Alqamah bin Waqqash, Sa'id bin Jubair, dan 'Urwah bin Zubair dari 'Ubaidillah bin 'Abdullah bin 'Utbah. Mereka semua mengisahkan sebagian berita ini kepadaku dan sebagian dari mereka lebih menguasai dari sebagian lain, dan aku telah mengumpulkan seluruh berita tersebut.1

      Muhammad bin Ishaq berkata: Yahya bin 'Abbad bin 'Abdullah bin Zubair meriwayatkan kepadaku dari ayahnya dari 'Aisyah. 'Abdullah bin Abu Bakar juga meriwayatkan kepadaku dari 'Amrah binti 'Abdurrahman dari 'Aisyah sendiri ketika orang-orang menyebarkan kebohongan tentang dirinya. Mereka semua membahas kabar tentang 'Aisyah dari 'Aisyah sendiri; sebagian dari mereka meriwayatkan apa yang tidak diriwayatkan oleh yang lain. Mereka yang meriwayatkan hadits tersebut dari 'Aisyah adalah orang-orang yang sangat kredibel dan masing-masing meriwayatkan apa yang mereka dengar langsung dari 'Aisyah.

      'Aisyah berkata: Apabila Rasulullah hendak melakukan perjalanan, beliau selalu mengadakan undian di antara istri-istrinya. Isteri yang namanya keluar dalam undian itu, dialah yang berhak menemaninya dalam perjalanan. Pada Perang Bani al-Mushthaliq, Rasulullah mengundi istriistrinya sebagaimana yang biasa dilakukannya. Dalam undian kali ini, namakulah yang keluar. Maka aku yang beliau bawa dalam perjalanan itu. Pada masa itu, kebiasaan makan para wanita hanya beberapa suap saja, sehingga bobot badan mereka tidak berat. Ketika untaku sudah disiapkan, aku duduk di dalam sekedup, kemudian orang-orang datang untuk membawaku. Mereka mengangkat sekedup itu dengan memegang bagian bawahnya, lalu meletekannya di atas punggung unta dan …, kemudian mereka memegang tali kendali unta tersebut lalu berangkat dengannya.9

    11. Kalung yang hilang

      'Aisyah tertinggal dan Shafwan bin al-Mu'aththal

      Di dekat Madinah rombongan bermalam lalu berangkat lagi. 'Aisyah keluar menunaikan hajat, kalungnya terlepas, dan ia mencarinya hingga rombongan berangkat karena mengira ia ada di dalam sekedup. Ia menunggu di tempat itu hingga Shafwan bin al-Mu'aththal as-Sulami, yang berjalan di belakang rombongan, menemukannya, mendekatkan untanya tanpa berbicara, dan menuntunnya ke Madinah. Pada saat itu para penyebar berita bohong mulai berbicara.

      Baca selengkapnya

      Setelah permasalahan Bani al-Mushthaliq selesai, Rasulullah pun kembali ke Madinah. Sesampainya di dekat Madinah, beliau berhenti di suatu tempat untuk istirahat malam. Kemudian memerintahkan kaum Muslimin untuk melanjutkan kembali perjalanan. Mereka pun berangkat, sedang aku saat itu keluar untuk membuang hajat dengan mengenakan kalung yang padanya terdapat batu akik dari kota Zhifar. Ketika selesai membuang hajat, ternyata kalung yang aku pakai terlepas tanpa aku sadari. Aku pun kembali ke tempat pemberhentian rombongan yang tadi untuk mencari kalungku, tapi sayang sekali aku tidak berhasil menemukannya. Pada waktu itu, kaum Muslimin mulai bergerak meninggalkan tempat untuk melanjutkan perjalanan. Aku pergi lagi ke tempat aku membuang hajat untuk mencari kalungku yang jatuh sampai aku menemukannya. Kemudian, datanglah orang-orang yang menyiapkan unta untukku lalu langsung mengangkat sekedup karena mengira aku berada di dalamnya. Mereka mengangkat sekedup itu dan mengikatkannya ke atas unta karena mereka yakin bahwa aku telah berada di dalamnya. Kemudian mereka berjalan menuntun untanya. Ketika aku kembali lagi ke tempat pemberhentian rombongan tak ada seorang pun di sana, karena semuanya telah berangkat. Kemudian aku menutup diriku dengan jilbab dan tertidur di tempat tersebut. Aku merasa yakin, bila mereka sadar dan tahu diriku tidak dalam rombongan, pasti mereka kembali ke tempat ini. Demi Allah, saat aku tidur, tiba-tiba saja Shafwan bin al-Mu'aththal as-Sulami berjalan melintas. Dia memang sengaja berjalan di belakang kaum Muslimin untuk memenuhi salah satu kebutuhannya. Kemudian dia melihat bayangan hitam diriku lalu menghampiriku. Dia pernah melihat wajahku pada saat hijab belum diwajibkan. Pada saat dia melihatku, dia pun berkata: "Inna lillahi wa inna Ilaihi raaji'uun. Ini adalah istri Rasulullah!! Aku pun langsung menutup diriku dengan jilbab. Shafwan bin al-Mu'aththal as-Sulami bertanya: "Mengapa engkau tertinggal?" Aku tidak menjawab pertanyaannya. Kemudian dia mendekatkan untanya kepadaku seraya berkata: "Naiklah ke punggung unta ini." Lalu, dia menjauh dariku dan aku pun segera menaikinya. Setelah aku berada di atas'unta, dia memegang tali kendali unta lalu berjalan dengan cepat dengan tujuan bisa menyusul kaum Muslimin. Demi Allah, kami tidak berhasil menyusul mereka dan kaum Muslimin tidak sadar akan kehilangan diriku hingga hari berikutnya, bahkan hingga tiba di Madinah. Pada saat mereka sedang istirahat di Madinah, Shafwan bin al-Mu'aththal as-Sulami datang dengan menuntun unta yang membawa diriku. Maka ketika itulah para penyebar berita bohong mengatakan perkataan mereka. Maka terjadilah kegemparan di Madinah. Sementara itu, demi Allah, aku tidak mendengar apa-apa tentang kabar yang menggemparan tersebut.10

    12. 'Aisyah jatuh sakit

      Sikap beliau dan kabar dari Ummu Misthah

      Sesampainya di Madinah 'Aisyah sakit, tanpa tahu kabar yang menyebar, dan merasakan beliau tidak seramah biasanya. Ia pulang ke rumah ibunya dan sembuh lebih dari dua puluh hari. Suatu malam Ummu Misthah terjatuh dan mengumpat anaknya, Misthah; lalu ia menceritakan kabar bohong itu kepada 'Aisyah, yang menangis tanpa henti, dan ibunya menenangkannya.

      Baca selengkapnya

      Tak lama setelah kami tiba di Madinah aku sakit. Selama itu, aku tidak pernah mendapat berita yang menyebar di tengah masyarakat. Berita tentang diriku juga terdengar oleh Rasulullah dan kedua orang tuaku, namun mereka tidak menceritakannya kepadaku. Tapi ada sesuatu yang tidak biasa, dimana aku tidak lagi merasakan keramahan beliau. Sebab, biasanya jika aku sakit, beliau menyayangiku dan sangat ramah kepadaku. Namun kali kini, itu semua tidak beliau berikan kepadaku. Saat itu, apabila beliau masuk ke kamarku dan di sampingku ada ibuku yang sedang merawatku beliau hanya sekedar berkata: "Bagaimana keadaanmu?" Tidak lebih dari itu.

      Ibu 'Aisyah adalah Ummu Ruman. Ia bernama asli Zainab binti 'Abdu Duhman salah seorang dari Bani Faras bin Ghanm bin Malik bin Kinanah.2

      Diriku dibuat sedih karenanya. Aku berkata tatkala merasakan ketidakramahan beliau: "Wahai Rasulullah, apakah engkau mengizinkanku pulang ke rumah ibuku sehingga aku dirawat olehnya?" Rasulullah menjawab: "Silahkan, tidak apa-apa." Maka akupun pulang ke rumah ibuku dan sama sekali tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi sampai aku sembuh dari sakitku selama dua puluh hari lebih. Kami adalah orang Arab yang memiliki adat kebiasaan tidak membuat WC di dalam rumah, tidak seperti yang dilakukan oleh orang-orang non-Arab, karena kami tidak menyukainya dan lebih terbiasa pergi ke padang pasir di Madinah. Apabila para wanita hendak buang hajat, mereka keluar rumah pada malam hari. Suatu malam, aku keluar rumah untuk membuang hajat dan ditemani oleh Ummu Misthah binti Abu Ruhm bin al-Muththalib bin 'Abdu Manaf. Ibu Misthah adalah putri Shakhr bin 'Amir bin Ka'ab bin Sa'd bin Taim dan Ummu Misthar adalah bibi ayahku dari garis keturunan ibu. Demi Allah, Ummu Misthah yang berjalan bersamaku, tiba-tiba jatuh karena pakaiannya tersangkut. Ia berkata: "Celakalah Misthah." Misthah merupakan julukan, sedangkan nama aslinya adalah 'Auf. Aku berkata: "Demi Allah sungguh jelek perkataanmu terhadap salah seorang dari Muhajirin yang ikut terjun Perang Badar." Ummu Misthah berkata: "Apakah engkau tidak mendengar kabar tersebut wahai putri Abu Bakar?' Aku bertanya: "Berita apakah itu?" Ummu Misthah pun menceritakan padaku apa yang diucapkan oleh para penyebar berita bohong. Aku bertanya lagi kepada Ummu Misthah: "Apakah kabar ini telah menyebar luas?" Beliau menjawab: "Ya betul, demi Allah." Demi Allah, akupun tidak jadi buang hajat dan segera kembali ke rumah. Demi Allah, aku terus menerus menangis hingga aku mengira tangisanku akan menghentikan detak jantungku. Aku berkata kepada ibuku: "Semoga Allah mengampunimu, orang-orang ramai membicarakan diriku, namun mengapa engkau tidak bercerita apapun kepadaku?" Ibuku berkata: "Putriku, janganlah engkau menganggap apa yang menimpamu ini sebagai masalah yang berat. Demi Allah, jika ada seorang istri cantik yang dicintai suaminya, sedangkan suaminya itu mempunyai istri yang lain, niscaya mereka dan orang lain akan banyak membincangkan istri yang cantik itu."11

    13. Khutbah beliau

      Perselisihan Aus dan Khazraj

      Beliau berkhutbah bahwa keluarganya orang baik dan laki-laki yang disebut-sebut tidak pernah masuk rumahnya kecuali bersamanya. 'Aisyah menyebut penyebar utama berita bohong adalah 'Abdullah bin Ubay bin Salul bersama Misthah dan Hamnah binti Jahsy, dan Hamnah ikut karena membela saudarinya, Zainab. Usaid bin Hudhair dan Sa'd bin 'Ubadah saling menuduh dusta sehingga hampir terjadi perang antara Aus dan Khazraj.

      Baca selengkapnya

      Rasulullah berkhutbah kepada para sahabat tanpa sepengetahuanku. Beliau memuji Allah dan mengagungkan-Nya. Kemudian, beliau bersabda: "Wahai manusia, mengapa orang-orang menyakitiku dengan jalan menyakiti keluargaku dan menyebarkan berita tidak benar tentang mereka. Demi Allah, yang aku ketahui, keluargaku adalah orang baik. Kenapa pula mereka mengatakan yang tidak benar tentang seorang laki-laki yang aku tidak dapatkan padanya kecuali kebaikan dan dia tidak pernah sama sekali masuk salah satu rumahku kecuali bersamaku."

      'Aisyah berkata: Orang yang paling gencar menyebarkan berita bohong ini adalah 'Abdullah bin Ubay bin Salul. Ia menyebarkannya di perkumpulan orang-orang Khazraj bersama Misthah dan Hamnah binti Jahsy. Hamnah binti Jahsy turut menyebarkan berita bohong ini karena saudarinya, Zainab binti Jahsy adalah istri beliau dan dia merupakan satu-satunya istri beliau yang menyaingi kedudukanku di sisi Rasulullah. Sedangkan Zainab binti Jahsy sendiri, Allah Ta'ala melindunginya dan tidak mengatakan apapun kecuali yang baik-baik. Sedang Hamnah binti Jahsy ikut menyebar luaskan berita bohong ini dan konfrontasi denganku karena ingin membela saudarinya. Maka merugilah dia.

      Sesudah Rasulullah mengatakan ungkapan di atas Usaid bin Hudhair berkata: "Wahai Rasulullah, jika orang yang menyakitimu adalah dari kabilah al-Aus, kami akan melindungimu dari mereka. Jika yang engkau maksud adalah orang-orang Khazraj, maka kami akan melaksanakan apa yang engkau perintahkan, karena demi Allah, leher mereka layak untuk dipenggal." 'Aisyah berkata: Maka berdirilah Sa'd bin 'Ubadah, sebelum itu ia terlihat sebagai sosok yang shalih, kemudian berkata kepada Usaid bin Hudhair: "Demi Allah, engkau telah berdusta, janganlah engkau memenggal leher mereka. Demi Allah, engkau mengatakan demikian, karena engkau telah mengetahui bahwa yang menyebarkan berita bohong itu adalah orang-orang Khazraj. Akan tetapi jika mereka berasal dari kaummu, pastilah engkau tidak akan mengatakan semua tadi." Usaid bin Hudhair berkata kepada Sa'd bin 'Ubadah: "Demi Allah, engkau telah berdusta, dan engkau seorang munafik yang membela orang-orang munafik." Orang-orang pun terpancing amarahnya hingga hampir saja perang meletus antara kedua kabilah tersebut: Aus dan Khazraj.12

    14. Beliau meminta pendapat

      'Ali, Usamah, dan Barirah

      Beliau turun dari mimbar dan memanggil 'Ali serta Usamah bin Zaid. Usamah memuji 'Aisyah dan menyebut kabar itu kebohongan, sedangkan 'Ali berkata masih banyak wanita lain dan menyarankan bertanya kepada budak wanita. Barirah dipanggil, dan menurut 'Aisyah, ia hanya menyebut sekali 'Aisyah tertidur saat menjaga adonan roti sehingga dimakan kambing.

      Baca selengkapnya

      Beliau turun dari mimbar lalu masuk ke dalam rumahnya. 'Aisyah berkata: Beliau memanggil 'Ali bin Abu Thalib dan Usamah bin Zaid untuk meminta pendapat dari keduanya. Adapun Usamah bin Zaid, ia memujiku dan berkata baik tentang diriku. Usamah bin Zaid berkata: "Wahai Rasulullah, ia istrimu dan kami tidak dapatkan darinya kecuali yang baik-baik dan engkau juga tidak dapatkan darinya kecuali yang baik-baik saja. Ini adalah sebuah kebohongan dan kebatilan." Sedangkan 'Ali bin Abu Thalib berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya masih banyak wanita lain dan engkau mampu mencari wanita yang menggantikannya. Maka tanyakanlah hal ini kepada budak wanita, pasti ia akan membenarkanmu." Beliau memanggil Barirah untuk bertanya kepadanya tentang masalah ini. 'Ali bin Abu Thalib berdiri dan menghampiri Barirah kemudian memukulnya dengan pukulan keras seraya berkata: "Katakanlah dengan jujur kepada beliau." Barirah berkata: "Demi Allah, aku tidak dapatkan pada 'Aisyah kecuali yang baik-baik saja. Aku tidak pernah mencela sesuatu apapun pada 'Aisyah melainkan satu hal dimana aku pernah membuat adonan roti lalu menyuruhnya untuk menjaganya tapi ia tertidur hingga akhirnya kambing datang dan memakan adonan roti itu.13

    15. Ayat tentang kesucian 'Aisyah

      Beliau menenangkan, lalu turun wahyu

      Beliau masuk ke kamar 'Aisyah dan menasihatinya agar bertakwa dan bertaubat bila bersalah. 'Aisyah menangis, menolak mengakui sesuatu yang tidak terjadi, dan mengutip ucapan ayah Nabi Yusuf (QS Yusuf: 18). Beliau tiba-tiba tak sadarkan diri, lalu bersabda bahwa Allah menurunkan ayat tentang kesucian 'Aisyah. Beliau keluar berkhutbah membacakan ayat, dan Misthah bin Atsatsah, Hassan bin Tsabit, dan Hamnah binti Jahsy dikenai hukuman had.

      Baca selengkapnya

      'Aisyah berkata: Rasulullah masuk ke dalam kamarku. Saat itu aku sedang ditemani kedua orang tuaku dan salah seorang wanita dari kalangan Anshar. Aku menangis dan wanita dari Anshar tersebut ikut pula menangis. Rasulullah duduk, memuji Allah, mengagungkan-Nya, kemudian bersabda: "Hai 'Aisyah, engkau telah mendengar gunjingan orang tentang dirimu, maka bertakwalah kepada Allah. Dan jika engkau telah melakukan kesalahan, maka bertaubatlah kepada Allah, karena Allah maha menerima taubat hamba-hamba-Nya."

      'Aisyah berkata: Demi Allah, tidaklah beliau bersabda seperti itu, kecuali air mataku jatuh tercurah dari kelopak mataku tanpa kusadari. Dan aku menunggu kedua orang tuaku menjawab pernyataan beliau untuk mewakiliku, namun keduanya tidak berbicara apapun. Demi Allah, aku merasa terlalu kecil dan tak berarti kalau Allah menurunkan ayat al-Qur'an tentang diriku dan itu dibaca di masjid-masjid dan dibaca pada saat shalat. Namun, tetap ada harapan, semoga Rasulullah melihat sesuatu dalam mimpinya dimana Allah tidak membenarkan ucapannya, sebab Allah Mahamengetahui akan kesucian diriku atau Allah memberitahukan sesuatu kepada beliau. Adapun al-Qur'an yang diturunkan tentang diriku, demi Allah itu sesuatu yang tidak mungkin terjadi, karena diriku bukan siapa-siapa.

      Ketika kuperhatikan kedua orang tuaku tidak juga berbicara, aku bertanya kepada mereka: "Mengapa kalian tidak menjawab pertanyaan Rasulullah?" Mereka menjawab: "Demi Allah, kami tidak tahu harus menjawab apa." Demi Allah, aku tidak tahu ada keluarga yang ditimpa musibah melebihi apa yang menimpa keluarga Abu Bakar saat itu.

      Pada saat kedua orang tuaku tutup mulut tentang diriku, aku sangat sedih dan tangisanku meledak. Aku berkata kepada beliau: "Demi Allah, aku tidak akan bertaubat kepada Allah selama-lamanya dari apa yang engkau katakan itu. Demi Allah, bila aku mengakui apa yang diomongkan oleh orang-orang, sementara Allah Mahamengetahui akan diriku yang jauh dari kebenaran omongan itu, maka itu berarti bahwa aku mengatakan sesuatu yang tidak terjadi. Dan bila aku mengingkari apa yang mereka katakan, pasti kalian tidak akan mempercayaiku." Aku mengingat-ingat nama Ya'qub, namun tidak mampu mengingatnya. Maka aku katakan: "Tapi aku akan mengatakan sebagaimana yang pernah dikatakan ayah Nabi Yusuf:

      "Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan. " (QS. Yusuf: 18).

      'Aisyah berkata: Sebelum beranjak dari tempat duduknya, tiba-tiba Rasulullah tidak sadarkan diri. Lalu beliau diselimuti dengan pakaiannya sementara bantal dari kulit diletakkan di bawah kepalanya. Walaupun melihat kejadian tersebut, demi Allah, aku tidak merasa gentar dan tidak mempedulikannya, karena aku merasa suci bersih dan bebas dari tuduhan itu dan Allah tidak akan mendzalimi diriku. Sedang kedua orang tuaku, -demi jiwa 'Aisyah yang berada ditangan-Nya,keduanya terlihat tidak menyukai apa yang terjadi pada beliau hingga aku berkeyakinan bahwa keduanya akan meninggal karena khawatir datang sesuatu dari Allah yang membenarkan apa yang digunjingkan oleh orang-orang. Lalu kedua orangtuaku terlihat gembira saat melihat keadaan Rasulullah sadar dan kembali duduk. Keringat mengucur dari tubuh Rasulullah seperti biji intan berlian di musim hujan. Beliau mengusap keringat dari keningnya, lalu bersabda: "Wahai 'Aisyah. Bergembiralah engkau, sebab Allah telah menurunkan ayat tentang kesucian dirimu' Aku langsung berkata alhamdulillah, dan beliau keluar untuk menemui orang-orang, lalu berkhutbah di hadapan mereka serta membacakan ayat al-Quran yang diturunkan Allah kepada beliau tentang masalah ini. Setelah itu, beliau meminta untuk dipanggilkan Misthah bin 'Atsatsah, Hassan bin Tsabit, dan Hamnah binti Jahsy yang telah ikut menyebarluaskan berita bohong tentang diriku, lalu mereka dikenakan hukuman had.14

    16. Abu Ayyub dan ayat-ayat an-Nur

      Abu Bakar kembali menafkahi Misthah

      Abu Ayyub bin Khalid menanggapi pertanyaan istrinya, Ummu Ayyub, bahwa kabar itu bohong dan 'Aisyah jauh lebih baik daripada dirinya. Ibnu Ishaq lalu memuat QS an-Nur ayat 11, 12, 15, dan 22. Ibnu Hisyam menyebut pendapat lain tentang siapa yang dimaksud ayat 11, yaitu 'Abdullah bin Ubay bin Salul. Setelah ayat 22 turun, Abu Bakar kembali menafkahi Misthah dan berkata tidak akan menghentikannya selama-lamanya.

      Baca selengkapnya

      Abu Ishaq bin Yasar meriwayatkan kepadaku dari beberapa orang dari Bani an-Najjar yang menceritakan bahwa Abu Ayyub bin Khalid bin Zaid ditanya oleh istrinya, Ummu Ayyub: "Wahai Abu Ayyub, apakah engkau tidak mendengar apa yang dikatakan orang-orang tentang 'Aisyah?" Abu Ayyub bin Khalid bin Zaid menjawab, "Ya, aku mendengarnya dan itu semua bohong. Wahai Ummu Ayyub apakah engkau melakukan hal sepereti itu?" Ummu Ayyub menjawab: "Tidak, demi Allah, karena tidak selayaknya aku untuk melakukan hal itu." Abu Ayyub bin Khalid bin Zaid berkata: "Demi Allah, 'Aisyah jauh lebih baik dari dirimu."1

      'Aisyah melanjutkan: Ketika ayat al-Qur'an turun dan menyebutkan orang yang menceritakan berita bohong itu. Allah Ta'ala berfirman:

      Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. (QS. an-Nuur: 11).

      Pelakunya adalah Hassan bin Tsabit dan para sahabatnya.

      Ada pendapat yang mengatakan bahwa mereka yang dimaksud adalah 'Abdullah bin Ubay bin Salul dan para sahabatnya. Orang yang memiliki peran besar pada penyebaran berita bohong itu adalah 'Abdullah bin Ubay bin Salul dan itu telah disebutkan Ibnu Ishaq pada pemaparan peristiwa di atas.2

      Lalu Allah berfirman:

      Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, yakni mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Ayyub dan isterinya, dan (mengapa tidak) berkata: "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata." (QS. an-Nuur: 12).

      Lalu Allah berfirman:

      (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal itu di pada sisi Allah adalah besar. (QS. an-Nuur: 15).

      Pada saat ayat di atas diturunkan untuk 'Aisyah dan orang-orang yang telah menggunjingnya, Abu Bakar yang sebelumnya menafkah Misthah karena ada hubungan kerabat dan juga ia miskin, berkata: "Demi Allah, aku tidak akan memberinya lagi suatu kepada Misthah untuk selama-lamanya setelah ia berkata sesuatu yang tidak benar tentang 'Aisyah dan memasukkan musibah kepada kita." Kemudian Allah menurunkan ayat tentang perkataan Abu Bakar itu dalam firman-Nya:

      Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. an-Nuur: 22).

      Abu Bakar berkata: "Ya, demi Allah, aku ingin Allah mengampuni diriku." Usai mengatakan itu, ia kembali menafkahi Misthah seperti yang dia lakukan sebelumnya dan berkata: "Demi Allah, aku tidak akan menghentikan pemberian nafkah kepadanya selama-lamanya."15

    17. Shafwan dan Hassan bin Tsabit

      Pedang, Tsabit bin Qais, dan diyat dari beliau

      Shafwan bin al-Mu'aththal mendatangi Hassan bin Tsabit dengan pedang setelah mendengar syair Hassan yang menyindirnya, dan memukulnya. Tsabit bin Qais mengikat tangan Shafwan, tetapi 'Abdullah bin Rawahah menyuruhnya melepaskan karena beliau belum mengetahuinya. Beliau memanggil keduanya dan menyuruh Hassan berbuat baik kepada yang memukulnya; beliau memberi Hassan Bayruha' dan Sirin sebagai ganti rugi. 'Aisyah menuturkan bahwa Shafwan tidak mampu menggauli wanita dan kemudian meninggal sebagai syahid.

      Baca selengkapnya

      "Shafwan bin al-Mu'aththal datang kepada Hassan bin Tsabit dengan membawa pedang, ini terjadi setelah dia mendengar ucapan Hassan bin Tsabit tentang dirinya. Sebelum itu, Hassan bin Tsabit mengatakan syair dan dalam syairnya, Hassan bin Tsabit menyindir Shafwan bin al-Mu'aththal dan orang-orang Arab dari Mudhar yang masuk Islam.1

      Muhammad bin Ibrahim bin al-Harits at-Taimi menceritakan kepadaku bahwa Tsabit bin Qais bin Asy-Syammas melompat ke arah Shafwan bin al-Mu'aththal setelah ia memukul Hassan bin Tsabit. Kemudian mengikat kedua tangannya ke leher lalu membawanya ke Bani al-Harits bin al-Khazra. Dalam perjalanannya, Tsabit bin Qais bin Asy-Syammas bertemu dengan 'Abdullah bin Rawahah yang bertanya: "Apa yang terjadi dengan ini semua?" Tsabit bin Qais bin Asy-Syammas berkata: "Tidakkah engkau merasa heran. Dia telah memukul Hassan bin Tsabit dengan pedang. Demi Allah, aku berpendapat ia pantas untuk dibunuh." 'Abdullah bin Rawahah berkata kepada Tsabit bin Qais bin Asy-Syammas: "Apakah Rasulullah telah mengetahui apa yang engkau lakukan ini?" Tsabit bin Qais Asy-Syammas menjawab:1

      "Demi Allah, Tidak!" 'Abdullah bin Rawahah berkata: "Engkau telah melakukan sesuatu di luar batas. Lepaskanlah lelaki itu!!" Tsabit bin Qais bin Asy-Syammas melepas Shafwan bin al-Mu'aththal. kemudian para sahabat datang kepada Rasulullah dan menceritakan kejadian di atas kepada beliau. Lalu beliau memanggil Hassan bin Tsabit dan Shafwan bin al-Mu'aththal. Shafwan bin al-Mu'aththal berkata: "Wahai Rasulullah, Hassan bin Tsabit menyakiti dan menghinaku kemudian emosi kemarahanku mendorongku untuk memukulnya."

      Rasulullah bersabda: "Wahai Hassan, berbuat baiklah, apakah engkau hendak meremehkan kaumku, padahal Allah telah memberi mereka petunjuk kepada Islam?"

      Rasulullah bersabda lagi kepada Hassan bin Tsabit: "Wahai Hassan, berbuat baiklah kepada orang yang telah memukulmu!" Hassan bin Tsabit berkata: "Aku akan menaatimu wahai Rasulullah!"

      Apakah kalian melakukan ini setelah Allah memberi petunjuk kepada kalian dengan agama Islam?2

      Muhammad bin Ibrahim meriwayatkan kepadaku bahwa Rasulullah memberi Hassan bin Tsabit 'iwadh (ganti rugi) berupa Bayruha' yaitu istana Bani Hudailah di Madinah. Awalnya, Bayruha' tersebut adalah milik Thaihah bin Sahl, namun dia menghadiahkannya kepada Rasulullah, kemudian beliau memberikannya kepada Hassan bin Tsabit atas pemukulan itu. Selain itu, beliau memberikan Sirin, budak wanita dari Mesir, kepada Hassan bin Tsabit yang kemudian darinya lahir putranya yang diberi nama 'Abdurrahman bin Hassan.1

      'Aisyah berkata: Orang-orang bertanya tentang keadaan Shafwan bin al-Mu'aththal, dan ternyata mereka mendapatinya seorang yang memiliki penyakit impotensi yang tidak mampu menggauli wanita. Tak lama kemudian, Shafwan bin al-Mu'aththal meninggal sebagai syahid.16

    18. Syair Hassan bin Tsabit

      Permintaan maaf dan syair tentang hukuman

      Hassan meminta maaf lewat syair yang memuji 'Aisyah. Ibnu Hisyam menyebut sebagian bait berasal dari riwayat Abu Zaid al-Anshari, dan menuturkan 'Aisyah menanggapi pujian atas putri Hassan dengan mengatakan justru ayahnya yang harus dicurigai. Ibnu Ishaq menutup bagian ini dengan syair seorang Muslim tentang hukuman Hassan, Hamnah, dan Misthah.

      Baca selengkapnya

      Hassan bin Tsabit meminta maaf atas ucapan yang pernah diucapkannya tentang 'Aisyah dalam sebuah syair:

      Ia suci, teguh, dan tidak layak untuk dituduh

      Serta tidak berkata batil tentang wanita yang suci yang terhindar dari kesia-siaan

      Orang mulia dari kampung dari Luay bin Ghalib

      Usaha mereka mulia dan kejayaannya lestari

      Ia terdidik, Allah mempercantik wataknya

      Dan menyucikannya dari semua keburukan dan kebathilan

      Jika aku telah mengatakan sesuatu yang kalian sangka

      Cemeti pukulan terhadapku itu tidak naik ke ujung jemariku

      Bagaimana tidak kecintaan dan pertolonganku selama hidupku

      Kepada keluarga Rasulullah hiasan para pasukan

      Beliau berkedudukan tinggi atas para manusia

      Kehebatan lompatan tetap tidak mampu mendekatinya

      Apa yang telah dikatakan itu tak akan dapat menempel

      Dia hanya kata dari orang yang menebar kabar bohong

      Bait,'Orang mulia dari kampung, dan setelahnya dan bait,'Beliau mempunyai kedudukan yang tinggi,' berasal dari riwayat Abu Zaid al-Anshari.2

      Abu 'Ubaidah menceritakan kepadaku bahwa seorang memuji putri Hassan bin Tsabit di hadapan 'Aisyah:2

      Ia suci, teguh, dan tidak layak dituduh

      Tiada berkata batil tentang wanita yang suci

      'Aisyah berkata: "Justru ayahnya-lah yang harus dicurigai."

      Salah seorang dari kaum Muslimin berkata tentang hukuman terhadap Hassan bin Tsabit dan kedua temannya karena berita bohongnya terhadap 'Aisyah.1

      Orang tersebut berkata tentang hukuman terhadap Hassan bin Tsabit dan dua sahabatnya.2

      Hassan telah merasakan rajam karena ia pantas mendapatkannya

      Juga Hamnah dan Misthah

      Ketika mereka menduga kotor tentang istri Nabinya

      Mereka terkena murka Pemilik Arasy yang Mulia

      Mereka telah menyakiti Rasul karenanya Yang menyebar di tengah manusia dan mereka dilanda kesedihan

      Dan diliputi dengan kehinaan abadi

      Cambukan dikenakan atas mereka

      Laksana hujan yang tercurah dari ketinggian17

    Catatan

    1. Ibnu Ishaq.
    2. Tambahan Ibnu Hisyam.
    3. Ejaan: tercetak "iniam", kami membaca "imam"; tercetak "mengairanya", tidak jelas sehingga kami menandainya "…". Kalimat tentang letak sumur ("Dari arah Qudaid ke Sahi") tercetak terputus; kami memuatnya sebagaimana tercetak.
    4. Ejaan: tercetak "neneng", kami membaca "nenek".
    5. Ejaan: tercetak "kepada kepada", kami membaca "kepada"; tercetak "Ubai", kami membaca "Ubay". Pada paragraf kedua, kalimat "Rasulullah … kepada Umar bin Khattab" tercetak tanpa kata kerja; kami memuatnya sebagaimana tercetak. Nama Usaid tercetak "Hudhair" di sini, sedangkan di bab sebelumnya tercetak "Dhuhair".
    6. Ejaan: tercetak "tapat", kami membaca "tepat"; tercetak "Qainuqa", kami membaca "Qainuqa'".
    7. Ejaan: tercetak "adlah", kami membaca "adalah".
    8. Ibnu Ishaq. Sanad: Muhammad bin Ja'far bin Zubair berkata kepadaku dari 'Urwah bin Zubair dari 'Aisyah.
    9. Nomor catatan kaki "141" yang tercetak di dalam teks tidak kami muat. ejaan: tercetak "meng-ingatnya", tidak jelas sehingga kami menandainya "…".
    10. Ejaan: tercetak "Muaththal", kami membaca "Mu'aththal"; tercetak "Muaththai", kami membaca "Mu'aththal".
    11. Ejaan: tercetak "Sa'ad", kami membaca "Sa'd".
    12. Ejaan: tercetak "Sa'ad", kami membaca "Sa'd".
    13. Nomor catatan kaki "142" yang tercetak di dalam teks tidak kami muat.
    14. Nomor catatan kaki "143" yang tercetak di dalam teks tidak kami muat. ejaan: tercetak "Jahys", kami membaca "Jahsy".
    15. Ejaan: tercetak "sedikitjuga", kami membaca "sedikit juga".
    16. Ejaan: tercetak "AlMuaththal", kami membaca "Al-Mu'aththal"; tercetak "Muaththal", kami membaca "Mu'aththal".
    17. Ejaan: tercetak "la suci", kami membaca "Ia suci"; tercetak "la terdidik", kami membaca "Ia terdidik".

    Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Bab berikutnya membahas Perjanjian Hudaibiyah.