Isi bab ini
Bab ini memuat tiga kisah menurut Ibnu Hisyam: terbunuhnya Sallam bin Abu al-Huqaiq (Abu Rafi') di Khaibar, masuk Islamnya 'Amr bin al-'Ash dan Khalid bin al-Walid, lalu perjalanan beliau ke Bani Lahyan dan Perang Dzu Qarad.
Abu Rafi' di Khaibar
Lima orang Bani Salimah dipimpin 'Abdullah bin 'Atik menemui Sallam bin Abu al-Huqaiq pada malam hari; pedang 'Abdullah bin Unais yang beliau sebut telah membunuhnya.
'Amr dan Khalid
'Amr bin al-'Ash berbaiat kepada Najasyi, lalu bertemu Khalid bin al-Walid di jalan; keduanya masuk Islam di Madinah, dan menurut Ibnu Ishaq 'Utsman bin Thalhah ikut masuk Islam.
Bani Lahyan
Beliau keluar pada Jumadil Ula, enam bulan setelah Bani Quraizhah; Bani Lahyan sudah siaga di puncak gunung, sehingga beliau turun ke Usfan bersama dua ratus pejalan kaki lalu pulang.
Dzu Qarad
'Uyainah bin Hishn menyerang unta-unta beliau di al-Ghabah; delapan penunggang kuda mengejar di bawah Sa'd bin Zaid, dan Muhriz bin Nadhlah gugur.
Madinah, Khaibar, dan Makkah
Titik Makkah, Madinah, dan Khaibar diambil dari Wikipedia. Tempat-tempat lain yang disebut dalam bab ini tidak ditandai karena koordinatnya belum kami verifikasi.
Dari Khaibar sampai Dzu Qarad
Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.
- Izin membunuhSallam bin Abu al-Huqaiq
- Malam di Khaibarrumah Sallam
- Kematiannya dipastikanpedang 'Abdullah bin Unais
- 'Amr di Najasyibaiat masuk Islam
- 'Amr dan Khalidtiba di Madinah
- Menuju Bani LahyanGhurab sampai Ghuran
- Usfan200 pejalan kaki
- Dzu Qaradal-Ghabah diserang
- Salamah mengejarmemanah dari Sal'u
- Delapan penunggangSa'd bin Zaid
- Muhriz gugurkuda pinjaman
- Nama kudadaftar Ibnu Hisyam
- Korban dan untadibagi per seratus
- Nazar wanita Ghifartidak boleh ditunaikan
Strategi dan jalur di Bani Lahyan
Sketsa ini menata apa yang disebut Ibnu Ishaq; letak relatif dan bentuk medan hanyalah perkiraan dan tidak berskala. Kami menggambarnya sendiri.
- Beliau keluar dari Madinah seolah menuju Syam dan melewati Ghurab, Makhidh, dan al-Batra'.
- Belok kiri ke Dzatu al-Masar, lalu keluar di Bain.
- Melewati Shukhairatul Yamam dan lurus menuju al-Mahajjah dari jalur Makkah.
- Mempercepat perjalanan hingga turun di Ghuran, lembah Bani Lahyan, yang ternyata sudah siaga di puncak gunung.
- Serangan tanpa diduga gagal; beliau bersabda bahwa bila turun ke Usfan, orang Makkah akan melihat mereka, lalu berjalan ke Usfan bersama dua ratus pejalan kaki.
- Dua penunggang kuda diutus hingga tiba di Kural Ghamim dan Kura.
- Beliau kembali ke Madinah, dan Jabir bin 'Abdullah mendengar doa beliau dalam perjalanan pulang.
Strateginya menurut Ibnu Ishaq: berangkat dengan tampak menuju Syam agar Bani Lahyan tidak menduga, tetapi mereka sudah siaga dan berlindung di puncak gunung sehingga serangan mendadak itu gagal. Sketsa ini hanya menata nama tempat dalam urutan yang disebut Ibnu Ishaq; ia tidak menyebut jarak, jumlah Bani Lahyan, maupun pembagian pasukan selain dua ratus pejalan kaki dan dua penunggang kuda. Panah menandai perjalanan yang disebut, bukan jalur sebenarnya di peta.
| Pasukan | Jumlah | Peran yang disebut Ibnu Hisyam |
|---|---|---|
| Rombongan beliau | 200 pejalan kaki | Turun di Usfan setelah serangan di Ghuran/Sayah tidak jadi; Ibnu Ummi Maktum menjadi imam sementara di Madinah. |
| Dua penunggang kuda | 2 | Diutus hingga tiba di Kural Ghamim dan Kura; nama keduanya tidak disebut. |
| Bani Lahyan | tidak disebut | Siaga dan berlindung di puncak gunung di Ghuran. |
Dari Haykal. Bagian ini bukan dari Ibnu Hisyam. Haykal menulis bahwa beliau mengumumkan hendak ke Syam dan memimpin pasukan ke utara, lalu berbalik ke arah Makkah dengan sangat cepat hingga tiba di tempat berkemah Bani Lahyan di `Uran; sebagian orang menyadari perubahan arahnya, sehingga Bani Lahyan mendapat kabar dan berlindung di puncak pegunungan sekitar dengan membawa ternak dan harta mereka. Beliau mengutus Abu Bakr bersama seratus penunggang kuda mengejar sampai `Usfan, dekat Makkah, sedangkan beliau sendiri pulang ke Madinah pada hari yang sangat panas. Haykal tidak menyebut nama Ghurab, Makhidh, dan tempat-tempat lain di jalur itu.
Dari sumber lain. Kami tidak berhasil membuka halaman Wikipedia tentang peristiwa ini, sehingga bagian ini tidak memuat sumber lain di luar Haykal.
Strategi di Dzu Qarad
Sketsa ini menata apa yang disebut Ibnu Ishaq; letak relatif dan bentuk medan hanyalah perkiraan dan tidak berskala. Kami menggambarnya sendiri.
- 'Uyainah bin Hishn dan pasukan berkuda Ghathafan menyerang unta-unta hamil di al-Ghabah, membunuh seorang laki-laki Bani Ghifar dan membawa istrinya di atas unta.
- Salamah bin 'Amr bin al-Akwa' lebih dahulu melihat mereka: pagi hari ia membawa busur ke al-Ghabah, melihat kuda-kuda 'Uyainah dari Tsaniyyatul Wada', mendaki Sal'u, dan berseru meminta bantuan.
- Ia mengejar dengan berjalan kaki, memanah, dan melarikan diri bila pasukan berkuda mendatanginya.
- Para penunggang kuda memacu kudanya menuju beliau; beliau menunjuk Sa'd bin Zaid sebagai pemimpin dan menyuruh mereka mengejar.
- Muhriz bin Nadhlah menyusul lebih dahulu dan berseru agar mereka menunggu Muhajirin dan Anshar; ia dibunuh. Abu Qatadah membunuh Habib bin 'Uyainah dan 'Ukkasyah membunuh 'Awbar beserta anaknya; unta yang dirampas direbut kembali.
- Rombongan 'Uyainah mundur; menurut sabda beliau, mereka sedang dijamu di Ghathafan (garis putus-putus: jalur tidak disebut).
- Beliau melintasi gunung Dzu Qarad, berkemah sehari semalam, membagi unta, lalu pulang ke Madinah (garis putus-putus: jalur tidak disebut).
Strateginya menurut Ibnu Ishaq: seorang pemanah berjalan kaki menahan musuh sambil memanggil bantuan, lalu pasukan berkuda dari Madinah menyusul di bawah Sa'd bin Zaid; setelah unta direbut kembali, beliau tidak mengirim pasukan mengejar sampai ke Ghathafan. Sketsa ini tidak menyebut jarak atau bentuk medan yang pasti, dan Ibnu Ishaq tidak menyebut jumlah pasukan 'Uyainah maupun jumlah seluruh kaum Muslimin yang keluar.
| Pasukan | Jumlah | Peran yang disebut Ibnu Hisyam |
|---|---|---|
| Salamah bin 'Amr bin al-Akwa' | 1 (sendirian, berjalan kaki) | Pemanah; orang pertama yang melihat pasukan 'Uyainah dan berseru meminta bantuan. |
| Penunggang kuda | 8 menurut Ibnu Ishaq | al-Miqdad, 'Abbad bin Bisyr, Sa'd bin Zaid (pemimpin), Usaid bin Dhuhair, 'Ukkasyah bin Mihshan, Muhriz bin Nadhlah, Abu Qatadah, dan 'Ayyas; sebagian ahli sejarah memasukkan Salamah dan mengeluarkan Usaid. |
| Pasukan 'Uyainah | tidak disebut | Pasukan berkuda dari Ghathafan. |
| Kaum Muslimin lainnya | tidak disebut | Menyusul bersama beliau; pembagian satu unta untuk setiap seratus sahabat tidak menyebut jumlah seluruhnya. |
Dari Haykal. Bagian ini bukan dari Ibnu Hisyam. Haykal menulis bahwa beberapa hari setelah beliau kembali, rombongan di bawah 'Uyainah bin Hishn menyerbu pinggiran Madinah, merampas unta yang sedang digembalakan, membunuh gembalanya dan membawa istrinya. Salamah bin 'Amr bin al-Akwa' al-Aslami, yang kebetulan menuju hutan dengan busur dan anak panah, melihat mereka lewat di Tsaniyyatul Wada' dekat Sal', lalu mengejar, memanah, dan berseru meminta tolong. Beliau membangunkan penduduk Madinah dan para penunggang kuda keluar dari segala arah; beliau menyusul sedikit kemudian dengan pasukan lain sampai ke gunung Dzu Qarad. Pasukan berkuda Madinah menyusul bagian belakang musuh, merebut unta, dan membebaskan wanita itu; beliau mencegah pengejaran lebih jauh karena 'Uyainah dan kawan-kawannya sudah sampai di Ghathafan dan berada dalam perlindungan mereka. Haykal tidak menyebut jumlah pasukan.
Dari sumber lain. Bagian ini bukan dari Ibnu Hisyam. Menurut artikel Wikipedia Expedition of Dhu Qarad (https://en.wikipedia.org/wiki/Expedition_of_Dhu_Qarad), kejadian ini berlangsung sekitar September 627 M (bulan keempat atau kedua belas tahun 6 H); 500 sampai 700 orang Muslim berkumpul tetapi hanya 8 yang dikirim, semuanya berkuda; pihak penyerang hanya 40 penunggang kuda di bawah 'Abdurrahman bin 'Uyainah bin Hishn; korban 4 orang di masing-masing pihak; penyerang membawa 20 unta perah dan sekitar setengahnya direbut kembali. Angka-angka itu berbeda dari Ibnu Ishaq (hanya Muhriz yang gugur dari kaum Muslimin, dan Ibnu Ishaq menyebut pemimpin pasukan 'Uyainah bin Hishn sendiri). Kami belum memeriksa angka-angka itu pada kitab asalnya.
Perbedaan sumber
Waktu terbunuhnya Abu Rafi'. Ibnu Ishaq menempatkannya setelah Khandaq dan penanganan Bani Quraizhah. Haykal menulis bahwa Sallam bin Abu al-Huqaiq dan al-Yasir bin Razzam, dua pemimpin Khaibar, dibunuh kaum Muslimin sebelum beliau berangkat ke Khaibar.
Masuk Islamnya Khalid dan 'Amr. Dalam tuturan 'Amr, Ibnu Ishaq menyebut pertemuan 'Amr dan Khalid terjadi menjelang penaklukan Makkah, dan menuturkan kisah Najasyi. Haykal menaruhnya sesudah kaum Muslimin meninggalkan Makkah seusai haji kecil mereka: Khalid dahulu, lalu 'Amr bin al-'Ash dan 'Utsman bin Thalhah; pada bagian itu Haykal tidak menyebut Najasyi.
Bani Lahyan. Ibnu Ishaq menyebut tempatnya Ghuran; Haykal menulis `Uran, dan kami belum memastikan apakah keduanya tempat yang sama. Ibnu Ishaq menyebut beliau turun di Usfan bersama dua ratus pejalan kaki dan mengutus dua penunggang kuda ke Kural Ghamim dan Kura; Haykal menulis beliau mengutus Abu Bakr bersama seratus penunggang kuda sampai ke Usfan, lalu beliau sendiri pulang ke Madinah.
Dzu Qarad. Salamah bin 'Amr bin al-Akwa' disebut Ibnu Ishaq dari Bani Sulaim (as-Sulami); Haykal menulisnya al-Aslami. Haykal tidak menyebut delapan penunggang kuda yang bernama, tidak menyebut Muhriz bin Nadhlah, dan menggambarkan korban rampasan sebagai unta yang sedang digembalakan serta gembalanya (Ibnu Ishaq: unta-unta hamil, seorang laki-laki Bani Ghifar dan istrinya).
- Izin membunuh Sallam bin Abu al-Huqaiq
Aus dan Khazraj berlomba berbuat baik untuk beliau
Setelah Khandaq dan urusan Bani Quraizhah selesai, orang-orang Khazraj meminta izin membunuh Sallam bin Abu al-Huqaiq (Abu Rafi') yang saat itu berada di Khaibar, karena ia ikut menyusun pasukan sekutu. Menurut 'Abdullah bin Ka'ab bin Malik, Aus dan Khazraj selalu bersaing berbuat kebaikan untuk beliau; setelah Aus membunuh Ka'ab bin al-Asyraf, Khazraj mencari musuh beliau yang sepadan. Beliau mengizinkan, lalu berangkatlah lima orang di bawah pimpinan 'Abdullah bin 'Atik, dengan pesan agar tidak membunuh anak-anak dan wanita.
Baca selengkapnya
Setelah Perang Khandaq usai dan penanganan terhadap Bani Quraizhah selesai, maka orang-orang Khazraj meminta izin kepada beliau untuk membunuh Sallam bin Abu al-Huqaiq yang ketika itu berada di Khaibar dan beliau memberi izin kepada mereka untuk membunuhnya. Sallam bin Abu al-Huqaiq alias Abu Rafi' terlibat dalam pembentukan pasukan sekutu untuk memerangi beliau, dan orang-orang Aus membunuh Ka'ab bin al-Asyraf sebelum Perang Uhud karena permusuhannya kepada beliau dan provokasinya.1
Di antara kebaikan yang berikan oleh Allah untuk Rasul-Nya adalah bahwa dua pemukiman kaum Anshar; Aus dan Khazraj, selalu bersaing untuk memberikan kebaikan kepada beliau, laksana persaingan dua ekor kuda dalam pacuan. Apabila para sahabat dari Aus mengerjakan sesuatu kebaikan untuk beliau, para sahabat dari Khazraj berkata kepada mereka: "Demi Allah, kalian tidak boleh melenggang dengan kebaikan tersebut dan tidak boleh lebih baik daripada kami di sisi beliau." Para sahabat Khazraj pun tidak berhenti berbuat hingga bisa mengejar ketertinggalan mereka dari para sahabat dari Aus. Sebaliknya, apabila para sahabat al-Khazraj mengerjakan suatu kebaikan para sahabat dari Aus juga mengatakan hal yang sama.2
Tatkala para sahabat dari Aus berhasil membunuh Ka'ab bin al-Asyraf karena permusuhannya kepada beliau, maka para sahabat dari kalangan Khazraj berkata: "Demi Allah, kalian tidak boleh melenggang dengan prestasi tersebut dan menjadi lebih baik daripada kami untuk selamanya." Para sahabat dari Khazraj membuat daftar siapa saat ini yang memusuhi beliau sebagaimana Ka'ab bin al-Asyraf. Kemudian mereka mengingat nama Sallam bin Abu al-Huqaiq yang ketika itu berada di Khaibar. Lantas mereka pun minta izin kepada beliau untuk membunuhnya dan beliaupun mengizinkannya. Maka berangkatlah lima orang dari Bani Salimah ke tempat Sallam bin al-Huqaiq. Kelima sahabat tersebut adalah sebagai berikut:
'Abdullah bin 'Atik, Mas'ud bin Sinan, 'Abdullah bin Unais, Abu Qatadah al-Harits bin Rib'i, Khuza'ah bin Aswad sekutu mereka dari Aslam.
Mereka berangkat dan 'Abdullah bin 'Atik ditunjuk oleh beliau sebagai pemimpin rombongan, beliau pun melarang mereka untuk membunuh anak-anak dan para wanita.
- Malam di rumah Sallam
Tangga kurma, pintu yang dikunci, dan pedang 'Abdullah bin Unais
Kelima sahabat tiba di Khaibar pada malam hari, menyuruh penduduk kampung menutup pintu rumah, lalu naik ke kamar Sallam lewat tangga batang kurma. Setelah masuk, mereka mengunci pintu dari dalam, dan 'Abdullah bin Unais menusukkan pedangnya ke perut Sallam. Salah seorang dari mereka tidak jadi mengayunkan pedang ke istri Sallam karena teringat larangan beliau. 'Abdullah bin 'Atik terjatuh dari tangga dan tangannya memar; mereka bersembunyi di tempat aliran air masuk ke benteng.
Baca selengkapnya
Tatkala tiba di Khaibar, mereka mendatangi rumah Sallam bin Abu al-Huqaiq pada malam hari. Rombongan para sahabat tersebut menyuruh semua orang di kampung itu untuk menutup pintu rumah mereka. Untuk menaiki ke lantai dua rumah milik Sallam bin Abu al-Huqaiq terdapat sebuah tangga terbuat dari batang kurma. Mereka naik ke kamar Sallam bin Abu al-Huqaiq yang terdapat di atas melalui tangga tersebut hingga mereka pun berdiri depan pintu kamarnya, lalu meminta izin untuk masuk, namun mereka ditemui istri Sallam bin Abu al-Huqaiq. Istri Sallam bin Abu al-Huqaiq bertanya: "Siapa kalian?!" Para sahabat menjawab: "Kami orang-orang Arab yang sedang mencari makanan." Istri Sallam bin Abu al-Huqaiq berkata: "Itu dia sahabat kalian, silahkan masuk!" setelah mereka berhasil masuk ke tempat Sallam bin Abu al-Huqaiq, mereka menutup pintu rumah dan pintu kamarnya karena khawatir ada jalan yang memungkinkan seseorang masuk kemudian menggagalkan misi mereka membunuh Sallam bin Abu al-Huqaiq. Kemudian mereka pergi dengan pedang terhunus ke tempat Sallam bin Abu Huqaiq yang pada saat itu berada di atas ranjangnya. Demi Allah, tidak ada yang menunjukkan mereka kepadanya di tengah malam yang gelap itu melainkan kulitnya yang amat putih laksana kain dari Mesir yang digelar terbuka. Isteri Sallam bin Abu al-Huqaiq berteriak, pada saat istri Sallam bin Abu al-Huqaiq berteriak, salah seorang dari mereka mengayunkan pedang untuk membunuhnya, namun dia mengurungkan niatnya sebab ingat akan larangan beliau. Andai saja mereka tidak mengingat larangan itu, pasti kami membunuhnya pada malam itu. Ketika mereka telah memukul Sallam bin Abu al-Huqaiq dengan pedang-pedang mereka, 'Abdullah bin Unais menusukkan pedang ke perut Sallam bin Abu al-Huqaiq hingga tembus. Saat itulah, Sallam bin Abu al-Huqaiq berkata: "Cukup! Cukup!"
Kemudian kelima sahabat tersebut keluar. Karena 'Abdullah bin 'Atik kurang baik penglihatannya, ia jatuh dari tangga hingga tangannya mengalami luka memar.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa yang mengalami luka memar adalah kakinya. Mereka menggotong 'Abdullah bin 'Atik hingga tiba di tempat masuknya aliran air ke benteng kemudian kami masuk ke dalamnya.34
- Memastikan kematiannya
Pedang yang dikenali beliau
Penduduk setempat mencari para penyerang ke seluruh kampung, lalu memeluk Sallam yang meninggal di hadapan mereka. Salah seorang sahabat menyelinap ke kerumunan dan mendengar istri Sallam berkata bahwa Sallam telah tewas. Kelimanya membawa 'Abdullah bin 'Atik kepada beliau dan masing-masing mengaku telah membunuhnya; beliau meminta pedang mereka dan bersabda bahwa pedang 'Abdullah bin Unais-lah yang telah membunuhnya.
Baca selengkapnya
Penduduk setempat segera menyalakan lampu dan berkeliling kampung berusaha mencari kelima sahabat itu ke segala penjuru kampung. Ketika mereka putus asa tidak berhasil menemukan, mereka pergi ke tempat Sallam bin Abu al-Huqaiq dan memeluknya. Sallam bin Abu al-Huqaiq meninggal dunia di hadapan mereka. Salah seorang dari kelima sahabat berkata: "Bagaimana caranya agar kita mengetahui dengan pasti bahwa musuh Allah tersebut telah benar-benar mati?" Salah seorang dari mereka berkata: "Aku akan pergi ke sana untuk melihat keadaannya sekarang." Sahabat tersebut berangkat hingga berhasil menyelinap ke tengah kerumunan manusia. Ia berkata: "Aku melihat istri Sallam bin Abu al-Huqaiq memegang lampu melihat wajah Sallam bin Abu al-Huqaiq bersama orang-orang Yahudi. Istri Sallam bin Abu al-Huqaiq berkata kepada orang-orang Yahudi: "Demi Allah, tadi aku mendengar suara 'Abdullah bin 'Atik, namun aku tidak mempercayainya, mana ada 'Abdullah bin 'Atik di negeri kita ini?" Setelah itu. istri Sallam bin Abu al-Huqaiq mendekat kepada Sallam bin Abu al-Huqaiq lalu berkata. "Demi Tuhan orang-orang Yahudi, Ia telah tewas." Sahabat tersebut berkata, Aku tidak pernah mendengar ungkapan yang lebih enak didengar daripada apa yang dikatakan istri Sallam bin Abu al-Huqaiq tersebut. Setelah itu, sahabat tadi datang ke tempat persembunyian para sahabat lainnya dan menceritakan peristiwa tadi.1
Kemudian mereka menggotong 'Abdullah bin 'Atik yang tangannya luka memar menemui beliau. Tatkala tiba di kediaman Rasulullah, mereka melaporkan tentang tewasnya musuh Allah tersebut. Masing-masing dari mereka mengaku dirinyalah yang telah membunuh Sallam bin Abu al-Huqaiq. Beliau bersabda: "Bawalah ke hadapanku seluruh pedang kalian!" Mereka pun datang lagi kepada beliau dengan pedang masing-masing. Beliau mengamati pedang-pedang tersebut kemudian bersabda tentang pedang 'Abdullah bin Unais: "Pedang inilah yang telah membunuhnya. Aku melihat bekas makanan padanya."5
- 'Amr bin al-'Ash di hadapan Najasyi
Hadiah kulit dan baiat masuk Islam
'Amr bin al-'Ash menuturkan, ia mengusulkan kepada para pemuka Quraisy agar mereka pergi ke Najasyi dan menetap di sana bila Muhammad menang. Di sana ia bertemu 'Amr bin Umayyah ad-Dhamri, utusan beliau, dan meminta Najasyi menyerahkannya untuk dibunuh. Najasyi marah dan mengingatkan bahwa beliau berada di atas kebenaran. 'Amr lalu berbaiat masuk Islam kepada Najasyi dan merahasiakannya.
Baca selengkapnya
Yazid bin Abu Habib meriwayatkan kepadaku dari Rasyid mantan budak Habib bin Abu Aus at-Tsaqafi dari Habib bin Abu Aus ats-Tsaqafi, ia berkata kepadaku beberapa orang Quraisy yang bisa diajak bermusyawarah dan mendengarkan pendapatku. Aku berkata kepada mereka: "Demi Allah, kalian semua telah mengetahui, aku berpandangan bahwa persoalan Muhammad telah memuncak dan sangat sulit untuk bisa ditandingi. Aku memiliki suatu pandangan, bagaimana menurut kalian?" Mereka bertanya: Apa pendapatmu itu?" aku menjawab: "Menurut pandanganku, sebaiknya kita pergi ke tempat Najasyi dan menetap di sana bersamanya. Apabila Muhammad berhasil mengalahkan kaum kita, maka kita menetap di negeri Najasyi, karena kita lebih suka dikuasai Najasyi ketimbang dikuasai oleh Muhammad. Namun apabila kaum kita berhasil mengalahkan Muhammad, kita orang yang telah dikenal di kalangan mereka, maka hanya kebaikan yang akan kembali kepada kita." Mereka berkata: "Ini pendapat yang pas."1
Aku berkata: "Jika demikian, kumpulkanlah hadiah untuk kita berikan kepada raja an-Najasy."
'Amr bin al-'Ash berkata: Barang istimewa yang selalu menjadi oleh-oleh khas dan istimewa dari daerah kami, dan paling kami sukai untuk dijadikan hadiah bagi Najasyi adalah kulit. Sebab itu, kami mengumpulkan kulit sebanyak-banyaknya, kemudian kami pun pergi ke sana. Demi Allah, ketika kami berada di tempat Najasyi, tiba-tiba 'Amr bin Umayyah adh-Dhamri datang ke sana yang sengaja dikirim oleh beliau untuk menanyakan tentang Ja'far dan sahabat-sahabatnya. 'Amr bin Umayyah adh-Dhamri masuk ke tempat Najasyi, tak lama kemudian diapun keluar. Aku berkata kepada sahabat-sahabatku: "Inilah 'Amr bin Umayyah adh-Dhamri, jika kepalanya. Jika hal itu berhasil aku lakukan, orang-orang Quraisy akan tahu bahwa aku telah mewakilinya membunuh utusan Muhammad." Aku pun segera masuk ke ruangan Najasyi dan sujud kepadanya sebagaimana biasa aku lakukan. Najasyi berkata: "Selamat datang sahabatku. Hadiah apa yang engkau bawa dari negerimu?" aku menjawab: "Ya, wahai raja aku hadiahkan untukmu kulit yang sangat banyak." Kemudian aku dekatkan kulit tersebut kepadanya, dan ia pun mengaguminya dan terlihat senang dengannya. Aku berkata: "Wahai raja, sungguh baru saja kulihat seseorang keluar dari tempatmu yang tak lain adalah utusan musuh kami. Serahkanlah dia padaku untuk kami bunuh, karena ia telah membunuh tokoh-tokoh dan orang-orang pilihan di antara kami."
'Amr bin al-'Ash berkata: Najasyi marah besar. Ia mengangkat tangan dan memukulkannya ke hidungku, aku mengira pukulan tersebut membuat hidungku pecah. Apabila bumi terbelah untukku saat itu, aku pasti masuk ke dalamnya karena takut akan kemarahannya. Aku berkata: "Wahai raja, demi Allah, jika aku tahu bahwa baginda raja tidak menyukai permintaanku, pastilah aku tidak akan mengajukannya kepadamu." Najasyi bertanya: "Pantaskah engkau meminta padaku untuk memberikan padamu utusan orang yang didatangi Malaikat Jibril yang pernah datang kepada Nabi Musa, untuk kemudian engkau bunuh utusan itu?"
Aku berkata: "Wahai raja, betulkah yang engkau katakan itu?" Najasyi berkata: "Celakalah engkau wahai 'Amr, taatilah aku dan ikutilah Muhammad. Demi Allah, ia berada di atas kebenaran dan Allah pasti memenangkannya atas siapa saja yang menentangnya, sebagaimana Allah memberikan kemenangan kepada Musa atas Fir'aun dan bala tentaranya." Aku bertanya: "Maukah engkau membaiatku masuk Islam mewakilinya?" Najasyi menjawab: ya, kemudian Najasyi mengulurkan tangannya, lalu aku berbaiat kepadanya untuk masuk Islam. Setelah itu, aku menemui teman-temanku dengan pendapat yang berbeda dari sebelumnya. Akupun merahasiakan keislamanku.6
- 'Amr dan Khalid menuju Madinah
Ikut pula 'Utsman bin Thalhah
Di tengah perjalanan, 'Amr bertemu Khalid bin al-Walid yang datang dari Makkah dan juga hendak masuk Islam. Keduanya tiba di Madinah; Khalid berbaiat, lalu 'Amr berbaiat dengan syarat dosa-dosanya yang lalu diampuni, dan beliau bersabda bahwa Islam dan hijrah menghapus dosa-dosa sebelumnya. Ibnu Ishaq menambahkan bahwa 'Utsman bin Thalhah juga masuk Islam bersama mereka.
Baca selengkapnya
'Amr bin al-'Ash berkata: Kemudian aku sengaja pergi ke tempat beliau untuk memeluk Islam. Di tengah perjalanan aku bertemu dengan Khalid bin Walid. Peristiwa ini terjadi menjelang penaklukan Makkah dan saat itu Khalid bin Walid datang dari Makkah. Aku berkata: "Wahai Abu Sulaiman, hendak pergi ke mana engkau?" Khalid bin Walid menjawab: "Demi Allah, sungguh kini segala sesuatu telah menjadi jelas bahwa lelaki ini (Muhammad) benar-benar seorang nabi. Aku akan pergi menemuinya untuk masuk Islam. Lalu engkau sendiri sampai kapan akan terus memusuhinya?"
Aku menjawab: "Demi Allah, tidaklah aku datang ke tempat ini kecuali untuk masuk Islam." Kami berdua tiba di Madinah, di tempat kediaman beliau. Khalid bin Walid maju ke depan kemudian masuk Islam dan berbaiat. Kemudian aku mendekat kepada beliau dan berkata kepada beliau: " Wahai Rasulullah, aku akan berbaiat kepadamu dengan syarat dosa-dosa masa laluku diampuni." Aku tidak menyebutkan dosa-dosaku pada masa mendatang. Beliau bersabda: "Wahai 'Amr, berbaiatlah, karena Islam dan hijrah itu menghapuskan dosa-dosa masa lalu." Aku pun berbaiat kepada beliau kemudian segera mohon diri untuk pulang.
Orang yang tidak aku ragukan integritasnya berkata kepadaku bahwa 'Utsman bin Thalhah bin Abu Thalhah juga masuk Islam bersamaan dengan 'Amr bin al-'Ash dan Khalid bin Walid. Penaklukan Bani Quraizhah terjadi pada bulan Dzulqa'dah dan awal bulan Dzulhijjah. Saat itu, masih orang-orang musyrik Makkah yang menangani urusan para jamaah haji.17
- Menuju Bani Lahyan
Dari Madinah hingga Ghuran
Enam bulan setelah penaklukan Bani Quraizhah, pada bulan Jumadil Ula, beliau keluar mencari para sahabat yang dikirim ke ar-Raji' (Khubaib bin 'Adi dan kawan-kawannya). Beliau tampak hendak ke Syam agar bisa menyerang Bani Lahyan tanpa diduga. Ibnu Ishaq menyebut jalurnya: Ghurab, Makhidh, al-Batra', Dzatu al-Masar, Bain, Shukhairatul Yamam, al-Mahajjah, hingga turun di Ghuran, lembah Bani Lahyan di antara Amaj dan Usfan. Bani Lahyan ternyata sudah siaga di puncak gunung.
Baca selengkapnya
Setelah itu, beliau menetap di Madinah selama bulan Dzulhijjah, Muharram, Shafar, Rabi'ul Awwal, dan Rabi'ul Akhir. Pada bulan Jumadil Ula, enam bulan setelah penaklukan Bani Quraizhah, beliau keluar dari Madinah menuju Bani Lahyan untuk mencari para sahabat yang dikirim ke ar-Raji' yaitu Khubaib bin 'Adi dan yang lainnya. Beliau terlihat seperti hendak pergi ke Syam agar bisa menyerang Bani Lahyan dengan tanpa diduga sebelumnya.8
Beliau menunjuk Ibnu Ummi Maktum untuk sementara sebagai imam di Madinah.3
Beliau berjalan melintasi Ghurab, gunung di Madinah, dengan tujuan Syam, melintasi Makhidh, al-Batra', belok kiri ke Dzatu al-Masar, lalu keluar di Bain, kemudian melintasi Shukhairatul Yamam, berjalan lurus menuju al-Mahajjah dari jalur Makkah, kemudian meningkatkan ritme perjalanan hingga turun di Ghuran, lembah tempat tinggal Bani Lahyan. Ghuran adalah lembah yang berada di antara Amaj dengan 'Usfan, yang mengarah ke daerah yang bernama Sayah. Di sana beliau mendapati orang-orang Bani Lahyan dalam keadaan siap siaga dengan berlindung di puncak gunung.1
- Usfan dan perjalanan pulang
Dua ratus pejalan kaki dan doa dari Jabir
Rencana menyerang tanpa diduga gagal. Beliau bersabda bahwa bila turun di Usfan, orang Makkah akan melihat mereka, lalu berjalan ke Usfan bersama dua ratus pejalan kaki, mengutus dua penunggang kuda ke Kural Ghamim dan Kura, dan kembali ke Madinah. Jabir bin 'Abdullah mendengar doa beliau dalam perjalanan pulang itu.
Baca selengkapnya
Pada saat beliau turun di Sayah dan berencana menyerang Bani Lahyan dengan tanpa diduga, beliau mengalami kegagalan, lalu beliau bersabda: "Seandainya kita turun ke 'Usfan, orang-orang Makkah pasti melihat kita dan akan mengira kita hendak mendatangi mereka." Setelah itu, beliau melanjutkan perjalanan bersama dengan dua ratus pejalan kaki dari para sahabatnya hingga turun di 'Usfan. Beliau mengutus dua penunggang kuda dari para sahabat hingga keduanya tiba di Kural Ghamim dan Kura. Sedangkan beliau sendiri memilih pulang ke Madinah.
Jabir bin 'Abdullah berkata: Tatkala Rasulullah hendak pulang ke Madinah, aku mendengar Rasulullah bersabda: "Mereka adalah orang-orang yang kembali, dan orang-orang yang bertaubat insya Allah mereka juga merupakan orang-orang yang selalu memuji Tuhan. Aku berlindung diri dari kesulitan perjalanan, sedihnya kepulangan, penglihatan buruk terhadap keluarga dan harta." Hadits tentang Perang Bani Lahyan adalah berasal dari 'Ashim bin 'Umar bin Saadah dan 'Abdullah bin Abu Bakr dari 'Abdullah bin Ka'ab bin Malik.9
- Dzu Qarad: unta diserang di al-Ghabah
'Uyainah bin Hishn dan pasukan berkuda Ghathafan
Beberapa malam setelah kembali, 'Uyainah bin Hishn al-Fazari bersama pasukan berkuda Ghathafan menyerang unta-unta hamil milik beliau di al-Ghabah, membunuh seorang laki-laki Bani Ghifar dan membawa istrinya di atas unta.
Baca selengkapnya
Kemudian beliau kembali pulang ke Madinah dan hanya menetap beberapa malam di sana. Karena tak lama setelah itu, 'Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah bin Badr al-Fazari bersama pasukan berkuda yang berasal dari Ghathafan menyerang unta-unta hamil milik rasulullah di al-Ghabah. Di al-Ghabah itu ada seseorang lelaki dari Bani Ghifar dan seorang istrinya. 'Uyainah bin Hishn membunuh lelaki tersebut dan membawa istrinya dengan meletakkannya di unta hamil tersebut.1
- Salamah bin al-Akwa' mengejar
Panah dari Tsaniyyatul Wada' dan seruan di Madinah
Salamah bin 'Amr bin al-Akwa' adalah orang pertama yang melihat pasukan 'Uyainah. Dari Tsaniyyatul Wada' ia mendaki Sal'u, berseru memanggil bantuan, lalu mengejar dengan berjalan kaki sambil memanah dan melantunkan kalimat perangnya. Pasukan berkuda Madinah pun memacu kuda menuju beliau.
Baca selengkapnya
'Ashim bin 'Umar bin Qatadah dan 'Abdullah bin Abu Bakr serta orang yang tidak aku ragukan integritasnya menceritakan kepadaku dari 'Abdullah bin Ka'ab bin Malik. Mereka semua hanya menceritakan sebagian Perang Dzu Qarad. Mereka berkata: "Orang yang pertama kali melihat kedatangan 'Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah bin Badr al-Fazari beserta pasukannya adalah Salamah bin 'Amr bin al-Akwa' as-Sulami. Ia pergi ke al-Ghabah pada waktu pagi dengan membawa busur lengkap dengan anak panahnya, dia ditemani seorang budak milik Thalhah bin 'Ubaidillah yang menuntun kudanya. Ketika Salamah bin 'Amr berada di atas Tsaniyyatul Wada', ia melihat sebagian kuda-kuda 'Uyainah bin Hishn, kemudian dia mendaki Sal'u untuk mengintainya lalu dia berteriak: "Hai orang-orang yang terjaga di pagi hari!" Kemudian Salamah bin 'Amr bergerak menelusuri jejak 'Uyainah bin Hishn. Dalam kondisi seperti itu Salamah bin 'Amr laksana binatang buas. ia terus mengejar hingga berhasil mendekati mereka, kemudian menyerang mereka dengan anak panah. Setiap kali ia memanah, ia berkata: "Rasakanlah anak panah ini, aku anak al-Akwa'! Hari ini hari kematian orang jahat."1
Jika pasukan berkuda 'Uyainah bin Hishn berlari ke arahnya, ia melarikan diri dan menjauhi mereka. Jika terbuka kesempatan untuk memanah, ia memanah mereka sambil berkata: "Rasakanlah anak panah ini, aku adalah anak al-Akwa'! Hari ini hari kematian orang jahat."10
- Delapan penunggang kuda
Sa'd bin Zaid ditunjuk memimpin
Penunggang yang tiba di hadapan beliau berturut-turut disebut: al-Miqdad bin 'Amr, 'Abbad bin Bisyr, Sa'd bin Zaid, Usaid bin Dhuhair, 'Ukkasyah bin Mihshan, Muhriz bin Nadhlah, Abu Qatadah, dan 'Ayyas (Abu 'Ubaid bin Zaid) atau menurut Bani Zuraiq Mu'adz atau 'Aidz bin Ma'ish yang menerima kuda Abu 'Ayyas. Beliau menunjuk Sa'd bin Zaid sebagai pemimpin. Ibnu Ishaq menyebut perbedaan pendapat tentang apakah Salamah termasuk delapan itu.
Baca selengkapnya
Demikianlah yang terjadi hingga salah seorang dari anak buah 'Uyainah bin Hishn berkata: "Alangkah buruknya nasib kita sejak berseru di Madinah: Bergeslah! Bergegaslah!. Para sahabat penunggang kuda memacu kudanya menuju Rasulullah. Penunggang kuda yang pertama kali tiba di tempat beliau adalah al-Miqdad bin 'Amr. Dialah sahabat yang dikenal dengan nama al-Miqdad bin al-Aswad sekutu Bani Zuhrah. Sedangkan orang kedua yang tiba di tempat beliau setelah al-Miqdad bin 'Amr ialah 'Abbad bin Bisyr bin Waqasy bin Zughbah bin Zaura' salah seorang warga Bani 'Abdul Asyhal dari kalangan Anshar, kemudian Sa'd bin Zaid salah seorang warga Bani Ka'ab bin 'Abdul Asyhal, lalu Usaid bin Dhuhair saudara Bani Haritsah bin al-Haritsah, namun riwayat tentangnya diragukan, kemudian 'Ukkasyah bin Mihshan saudara Bani Asad bin Khuzaimah, lalu Muhriz bin Nadhlah saudara Bani Asad bin Khuzaimah, lalu Abu Qatadah al-Harits bin Rib'i saudara Bani Salamah, dan 'Ayyas alias Abu 'Ubaid bin Zaid bin ash-Shamit saudara Bani Zuraiq.
Pada saat para sahabat penunggang kuda berkumpul di tempat Rasulullah, beliau menunjuk Sa'd bin Zaid sebagai pemimpin pasukan, kemudian beliau bersabda: "Kejarlah kaum tersebut hingga kalian bertemu dengan mereka." Sebelumnya, Rasulullah bersabda kepada Abu 'Ayyas, "Wahai Abu 'Ayyas, apa pendapatmu jika kudamu engkau serahkan kepada orang lain yang lebih pintar daripada engkau dalam menunggang kuda, hingga ia mampu mengejar musuh?" Abu 'Ayyas berkata: "Wahai Rasulullah, aku adalah orang yang paling pintar mengendarai kuda." Kata Abu 'Ayyas: Usai mengatakan itu, aku lantas memukul kudaku. Demi Allah, kuda tersebut baru saja berlari sejauh lima puluh hasta, aku terjatuh. Aku merasa teringat akan sabda Rasulullah tadi: "Bagaimana kalau kudamu engkau serahkan kepada orang lain yang lebih pintar mengendarai kuda?" Dan aku menjawab: "Aku adalah orang yang paling pintar mengendarai kuda." Orang-orang Bani Zuraiq mengatakan bahwa Rasulullah memberikan kuda Abu 'Ayyas kepada Mu'adz bin Ma'ish atau 'Aidz bin Ma'ish bin Qais bin Khaladah penunggang kuda kedelapan. Sebagian ahli sejarah memasukkan Salamah bin 'Amr bin al-Akwa' sebagai salah satu dari kedelapan penunggang kuda dan menghapus Usaid Dhuhair dari Bani Haritsah. Wallahu a'lam mana pendapat yang paling benar dalam masalah ini.
Pada saat itu, sebenarnya Salamah bin 'Amr bukan seorang penunggang kuda, akan tetapi ia adalah merupakan orang yang pertama kali mengejar 'Uyainah bin Hishn dan rombongannya dengan berjalan kaki. Kemudian pasukan berkuda keluar untuk mengejar mereka sampai akhirnya mereka saling berpapasan.11
- Muhriz bin Nadhlah gugur
Kuda pinjaman dari wanita Bani 'Abdul Asyhal
Penunggang pertama yang menyusul pasukan 'Uyainah adalah Muhriz bin Nadhlah (al-Akhram atau Qumair) dari Bani Asad bin Khuzaimah, dengan kuda Mahmud bin Maslamah yang dipinjamkan para wanita Bani 'Abdul Asyhal. Ia berseru agar mereka menunggu pasukan Muhajirin dan Anshar, tetapi seorang dari rombongan 'Uyainah membunuhnya. Menurut Ibnu Ishaq hanya Muhriz yang gugur dari kaum Muslimin; Ibnu Hisyam menambahkan Waqqash bin Mujazziz al-Mudliji.
Baca selengkapnya
'Ashim bin 'Umar bin Qatadah menceritakan padaku bahwa penunggang kuda yang pertama kali mengejar 'Uyainah bin Hishn dan rombongannya adalah Muhriz bin Nadhlah dari Bani Asad bin Khuzaimah. Ia dikenal dengan panggilan al-Akhram atau Qumair.1
Pada saat Rasulullah berteriak: bergegaslah, bergegaslah! kuda jinak milik Mahmud bin Maslamah berjalan di pekarangan, para wanita Bani 'Abdul Asyhal berkata kepada Muhriz bin Nadhlah saat mereka melihat kuda tersebut berjalan di pekarangan sedang … pelapah kurma yang diikatkan di punggungnya,: "Wahai Qumair, apakah engkau siap menunggang kuda seperti ini agar kamu dapat menyusul Rasulullah dan kaum Muslimin?" Muhriz bin Nadhlah menjawab: "Ya!" Kemudian merekapun memberikan kuda tersebut kepada Muhriz bin Nadhlah, lalu dia pun menaiki kuda itu. Tanpa membutuhkan waktu yang lama, kuda itu mampu menyusul kuda-kuda lainnya dan akhirnya dapat mengejar 'Uyainah bin Hishn dan rombongannya.
Muhriz bin Nadhlah berdiri di hadapan rombongan 'Uyainah dan berkata kepada mereka: "Berhentilah kalian, tunggulah di situ hingga kalian ditemui oleh kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang berada di belakang kalian!" Kemudian seorang lelaki dari rombongan 'Uyainah bin Hishn naik ke kuda Muhriz bin Nadhlah lalu membunuhnya. Kuda Muhriz bin Nadhlah mengamuk lalu lari hingga tiba di tempat diikatnya kuda-kuda di Bani 'Abdul Asyhal. Dalam kejadian ini hanya Muhriz bin Nadhlah yang gugur dari kaum Muslimin.
Dalam peristiwa itu, selain Muhriz bin Nadhlah gugur pula Waqqash bin Mujazziz al-Mudliji dari kaum muslimin, seperti dikatakan kepadaku oleh beberapa ulama ahli sejarah.312
- Nama kuda kaum Muslimin
Daftar dari Ibnu Ishaq dan Ibnu Hisyam
Ibnu Ishaq dan Ibnu Hisyam menyebut nama sejumlah kuda para penunggang. Ibnu Ishaq menyebut Dzu al-Limmah untuk kuda Mahmud bin Maslamah, dan Ibnu Hisyam menyebut nama kuda Sa'd bin Zaid, al-Miqdad, 'Ukkasyah, Abu Qatadah, 'Abbad bin Bisyr, Usaid bin Dhuhair, dan Abu 'Ayyas.
Baca selengkapnya
Kuda milik Mahmud bin Maslamah bernama Dzu al-Limmah.1
Kuda milik Sa'd bin Zaid berjuluk Lahiq. Kuda milik al-Miqdad berjuluk Ba'zajah. Namun ada pula ulama yang menyebutkan kudanya berjuluk Sabhah. Kuda milik 'Ukkasyah bin Mihshan berjuluk Dzu al-Limmah. Kuda milik Abu Qatadah berjuluk Hazrah. Kuda milik 'Abbad bin Bisyr berjuluk Lama'. Kuda milik Usaid bin Dhuhair berjuluk Masnun. Dan kuda milik Abu 'Ayyas berjuluk Julwah.3
Orang yang tidak aku ragukan integritasnya menceritakan kepadaku dari 'Abdullah bin Ka'ab bin Malik, ia berkata bahwa Muhriz bin Nadhlah menunggangi kuda milik 'Ukkasyah bin Mihshan yang berjuluk al-Junah, Muhriz bin Nadhlah gugur dibunuh oleh salah seorang anak buah 'Uyainah bin Hishn sementara kuda yang ditungganginya dirampas.113
- Korban kaum musyrikin dan pembagian unta
Burdah Abu Qatadah dan 'Ukkasyah bin Mihshan
Abu Qatadah membunuh Habib bin 'Uyainah dan menutupi jasadnya dengan burdah agar kaum Muslimin tahu siapa pembunuhnya; beliau menjelaskannya ketika mereka mengira Abu Qatadah gugur. 'Ukkasyah bin Mihshan menombak 'Awbar dan anaknya, 'Amr bin 'Awbar. Unta yang dirampas direbut kembali. Beliau berkemah sehari semalam di Dzu Qarad, menolak usul Salamah mengejar lagi karena musuh sedang dijamu di Ghathafan, lalu membagi satu unta untuk setiap seratus sahabat.
Baca selengkapnya
Pada saat pasukan kuda kaum Muslimin berdatangan, Abu Qatadah alias al-Harits bin Rib'i saudara Bani Salamah membunuh Habib bin 'Uyainah bin Hishn dan menutupi jasadnya dengan kain burdah. kemudian beliau mengejar pasukan musuh yang lain dan di sana beliau bergabung dengan Rasulullah dan kaum Muslimin.1
Pada saat itu, Ibnu Ummi Maktum ditunjuk oleh Rasulullah untuk menjadi imam sementara di Madinah.3
Tatkala kaum muslimin menemukan sesosok jasad ditutup dengan kain burdah milik Abu Qatadah, mereka meminta pulang. Kaum Muslimin berkata: "Abu Qatadah telah terbunuh." Rasulullah bersabda: "Ini bukan jasad Abu Qatadah, melainkan jasad orang yang dibunuh oleh Abu Qatadah. Dia sengaja menutup jasad itu dengan burdahnya agar kalian tahui bahwa dialah yang telah membunuhnya."1
'Ukkasyah bin Mihshan mampu mengejar Awbar dan anaknya, 'Amr bin Awbar, yang keduanya menaiki satu unta secara bersama. 'Ukkasyah bin Mihshan menusuk keduanya hingga tewas dengan tombak miliknya. Akhirnya, kaum Muslimin berhasil merebut kembali beberapa unta yang sedang hamil yang telah dirampas oleh pasukan 'Uyainah bin Hishn.
Rasulullah terus berjalan hingga melintasi gunung dari Dzu Qarad. Di sana, beliau bertemu dengan kaum muslimin yang lain. Rasulullah berkemah di tempat itu selama sehari semalam. Kemudian Salamah bin al-Akwa' berkata kepada beliau: "Wahai Rasulullah, jika engkau mengirimku bersama seratus orang, aku pasti mampu menyelamatkan sisa-sisa unta hamil yang belum berhasil diselamatkan dan aku penggal para musuh itu." Rasulullah bersabda, seperti diriwayatkan kepadaku: "Saat ini mereka sedang diberi jamuan sore di Ghathafan."
Kemudian Rasulullah membagi-bagikan unta, untuk setiap seratus sahabat diberi satu ekor unta dan mereka berpesta dengan daging unta. Setelah itu, Rasulullah dan kaum muslimin kembali pulang ke Madinah.14
- Nazar wanita Bani Ghifar
Nazar yang tidak boleh ditunaikan
Seorang wanita Bani Ghifar datang dengan menunggangi unta beliau dan bernazar menyembelihnya bila Allah menyelamatkannya. Beliau tersenyum dan bersabda bahwa itu nazar dalam kemaksiatan dan atas sesuatu yang bukan miliknya, lalu menyuruhnya pulang kepada keluarganya.
Baca selengkapnya
Salah seorang sahabat wanita dari Bani Ghifar datang dengan menunggangi salah satu unta milik Rasulullah. Setelah dia menceritakan kronologi kejadian ini kepada Rasulullah, Lalu dia berkata: "Wahai Rasulullah, aku telah bernazar untuk menyembelih unta ini apabila Allah menyelamatkanku dengannya." Rasulullah pun tersenyum, lalu bersabda: "Alangkah buruknya balas budimu. Allah menyelamatkanmu di atasnya lalu engkau akan menyembelihnya? Sungguh itu merupakan nazar dalam kemaksiatan kepada Allah dan engkau bernadzar dengan sesuatu yang bukan milikmu. Sesungguhnya unta ini milikku. Maka pulanglah kepada keluargamu, semoga Allah memberkahimu." Hadits tentang wanita dari Bani Ghifar tersebut dan tentang ceritanya itu merupakan riwayat dari Abu Zubair al-Makki dari jalan al-Hasan bin Abu al-Hasan al-Bashri.15
Catatan
- Ibnu Ishaq.
- Ibnu Ishaq. Sanad: Muhammad bin Muslim bin Syihab az-Zuhri meriwayatkan kepadaku dari 'Abdullah bin Ka'ab bin Malik.
- Tambahan Ibnu Hisyam.
- Ejaan: tercetak "mengagalkan", kami membaca "menggagalkan". Dalam catatan Ibnu Hisyam tentang tempat aliran air, kalimat tercetak "kemudian kami masuk ke dalamnya" dengan kata "kami" di tengah riwayat orang ketiga; kami memuatnya sebagaimana tercetak.
- Ejaan: tercetak "istn", kami membaca "istri"; tercetak "Setelak", kami membaca "Setelah".
- Ejaan: tercetak "Amr bin Ash", kami membaca "Amr bin al-'Ash". Pada kalimat 'Amr tentang 'Amr bin Umayyah ad-Dhamri, tercetak "jika kepalanya. Jika hal itu berhasil aku lakukan", sehingga ada bagian kalimat yang terputus; kami memuatnya sebagaimana tercetak.
- Nomor catatan kaki "139" yang tercetak di dalam teks tidak kami muat.
- Tambahan Ibnu Hisyam. Sanad: Ziyad bin 'Abdullah al-Bakkai berkata kepadaku dari Muhammad bin Ishaq al-Muththallabi.
- Nomor catatan kaki "140" yang tercetak di dalam teks tidak kami muat.
- Ejaan: tercetak "kemdudian", kami membaca "kemudian".
- Ejaan: tercetak "saudadra", kami membaca "saudara"; tercetak "Sa'ad", kami membaca "Sa'd"; tercetak "Al Akwa", kami membaca "Al Akwa'"; tercetak "terinat", kami membaca "teringat"; tercetak "penungang", kami membaca "penunggang"; tercetak "Muadz", kami membaca "Mu'adz".
- Ejaan: tercetak "menanggut", tidak jelas sehingga kami menandainya "…"; tercetak "Kemudia", kami membaca "Kemudian".
- Ejaan: tercetak "benama", kami membaca "bernama"; tercetak "Sa'ad", kami membaca "Sa'd". Nama kuda Mahmud bin Maslamah dan nama kuda 'Ukkasyah bin Mihshan sama-sama tercetak "Dzu al-Limmah"; kami memuatnya sebagaimana tercetak. Paragraf terakhir bagian ini menyebut Muhriz menunggangi kuda 'Ukkasyah bin Mihshan yang berjuluk al-Junah, sedangkan bagian sebelumnya menyebut kuda Mahmud bin Maslamah; kami memuat keduanya sebagaimana tercetak.
- Ejaan: tercetak "yg", kami membaca "yang"; tercetak "sesesok", kami membaca "sesosok"; tercetak "dengar kain", kami membaca "dengan kain"; tercetak "Ishak", kami membaca "Ishaq"; tercetak "Mihshar", kami membaca "Mihshan"; tercetak "milikinya", kami membaca "miliknya".
- Ejaan: tercetak "mencertikan", kami membaca "menceritakan".
Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Bab berikutnya membahas Perang Bani Mushthaliq.