Pusat Sejarah Islam
Bab 36 dari 55

Perang Khandaq & Bani Quraizhah

Pasukan gabungan 10.000 orang mengepung Madinah, tapi tertahan oleh parit. Bani Quraizhah membatalkan perjanjian. Nu'aim bin Mas'ud berhasil memecah koalisi, lalu Bani Quraizhah dikepung 25 malam.

Syawal–Dzulqa'dah 5 HSumber: Ibnu Hisyam
Sekilas

Isi bab ini

Bab ini memuat Perang Khandaq dan Bani Quraizhah menurut Ibnu Hisyam: persekutuan Yahudi, Quraisy, dan Ghathafan; penggalian parit; duel 'Ali dan 'Amr bin 'Abdu Wudd; Nu'aim bin Mas'ud; pengepungan Bani Quraizhah, Abu Lubabah, dan Sa'd bin Mu'adz; surat al-Ahzab; serta daftar syuhada dan korban.

Dua pasukan

Quraisy dan sekutunya berjumlah sepuluh ribu orang menurut Ibnu Ishaq, melawan tiga ribu kaum Muslimin di Gunung Sil'un.

Parit

Dibuat di sekitar Madinah; Ibnu Hisyam menyebut Salman al-Farisi yang mengusulkannya, dan beliau ikut menggali.

Korban

Enam syuhada kaum Muslimin dan tiga korban kaum musyrikin di Khandaq; dua syuhada Muslim di Bani Quraizhah.

Bani Quraizhah

Dikepung dua puluh lima malam; Sa'd bin Mu'adz ditunjuk sebagai hakim, dan laki-laki dewasa mereka dibawa ke parit di pasar Madinah.

Peta

Madinah dan sekitarnya

Titik Makkah, Madinah, Gunung Sal', dan Uhud diambil dari Wikipedia. Dumah, Dzanab Naqma, dan Bani Quraizhah tidak ditandai karena koordinatnya belum kami verifikasi.

Madinah dan sekitarnya
Tempat yang disebut Ibnu HisyamPerjalanan (garis perkiraan)
    Alur kisah

    Dari persekutuan sampai Bani Quraizhah

    Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.

    Strategi di Khandaq

    Sketsa ini menata apa yang disebut Ibnu Hisyam; letak relatif dan bentuk medan hanyalah perkiraan dan tidak berskala. Kami menggambarnya sendiri.

    Peta Pertempuran Khandaq: parit, gunung, lembah, perkampungan, dan arah pasukan Quraisy dan sekutunya
    Peta Pertempuran Khandaq di Madinah, dengan parit, perkampungan, gunung, dan arah gerak pasukan musuh (label peta berbahasa Inggris; deskripsi berkas: tribes, mosques, castles, roads, valleys, mountains, and enemy movements).Peta: DrZubairRashid · CC BY-SA 4.0 · Wikimedia Commons
    UHUD G. SIL'UN (SALA') PARIT sisi utara dan barat laut Madinah; panjang tidak disebut Lembah Kanat U Ghathafan dan orang Najddi Dzanab Naqma, samping Uhud; 'Uyainah (Fazarah),al-Harits (Murrah), Mis'ar (Asyja'); jumlah: tidak disebut Quraisy dan sekutu: 10.000berhenti di Dumah; pemimpinAbu Sufyan bin Harb; dariAhabisy, Bani Kinanah,dan Bani Tihamah Penunggang Quraisy'Amr bin 'Abdu Wudd, 'Ikrimah,Hubairah, Dhirar(jumlah: tidak disebut) MADINAHIbnu Ummi Maktum imam sementara;anak-anak dan wanita di balik benteng'Aisyah di benteng Bani Haritsah;Shafiyyah di benteng Hassan bin Tsabit Kaum Muslimin: 3.000markas di Gunung Sil'un,parit di depan mereka 'Ali dan beberapa Musliminmenutup celah antara paritdan Sala' (jumlah: tidak disebut) Bani Quraizhahmembatalkan perjanjian; letak ditenggara menurut peta Wikipedia;jumlah: tidak disebut 1 1 2 3 4 5
    1. Quraisy tiba dan berhenti di Dumah; Ghathafan dan orang Najd berhenti di Dzanab Naqma di samping Uhud. Keduanya datang dari arah barat laut dan utara.
    2. Beliau bersama tiga ribu kaum Muslimin keluar ke Gunung Sil'un dan membuat markas; parit memisahkan mereka dari musuh.
    3. Penunggang Quraisy memacu kuda hingga ke parit dan menerobos celah antara parit dan Sala'.
    4. 'Ali dan beberapa Muslimin menutup jalan masuk; 'Ali membunuh 'Amr bin 'Abdu Wudd, dan penunggang lain lari.
    5. Setelah musuh menarik pasukan dan pulang ke daerah masing-masing, beliau berangkat ke Bani Quraizhah dengan 'Ali membawa panji, lalu mengepung mereka dua puluh lima malam (garis putus-putus: jalur tidak disebut).

    Denah medan (parit di sisi utara dan barat laut Madinah, Gunung Sala' di barat daya parit, Uhud di timur laut, Bani Quraizhah di tenggara) mengikuti peta Wikipedia di atas, dan kami cocokkan dengan keterangan beberapa situs sejarah (parit digali di sisi utara Madinah, dekat Gunung Sala' dan sebelah barat Masjid Nabawi); posisi dan jumlah pasukan mengikuti Ibnu Hisyam. Penarikan pasukan musuh tidak digambar karena arah pulangnya tidak disebut.

    Strateginya menurut Ibnu Hisyam: bertahan di dalam kota dengan parit di sekitar Madinah, wanita dan anak-anak di balik benteng, dan tidak ada pertempuran terbuka; hampir sebulan kedua pihak hanya saling lempar panah, selain duel 'Ali dan 'Amr. Panah 1 sampai 5 hanya gerakan yang disebut Ibnu Hisyam; jalurnya digambar perkiraan. Ibnu Hisyam tidak menyebut panjang parit, jumlah Muslim yang berjaga di tiap sisi, atau pembagian pejalan kaki, pemanah, dan pasukan berkuda.

    PasukanJumlahPeran yang disebut Ibnu Hisyam
    Kaum Muslimin3.000Markas di Gunung Sil'un dengan parit di depan; Ibnu Ummi Maktum menjadi imam sementara di Madinah.
    Quraisy dan sekutu10.000Dipimpin Abu Sufyan bin Harb; berhenti di Dumah; berasal dari Ahabisy, Bani Kinanah, dan Bani Tihamah.
    Ghathafan dan orang Najdtidak disebutDi Dzanab Naqma; 'Uyainah bin Hishn (Bani Fazarah), al-Harits bin 'Auf (Bani Murrah), Mis'ar bin Rukhailah (Bani Asyja').
    Penunggang Quraisytidak disebut'Amr bin 'Abdu Wudd, 'Ikrimah bin Abu Jahl, Hubairah bin Abu Wahb, dan Dhirar bin al-Khaththab menerobos celah dekat Sala'.
    'Ali dan beberapa Muslimintidak disebutMenutup jalan masuk; 'Ali membunuh 'Amr bin 'Abdu Wudd.
    Bani Quraizhahtidak disebut (laki-laki yang dihabisi: 600 atau 700)Membatalkan perjanjian; kemudian dikepung dua puluh lima malam.

    Dari Haykal. Bagian ini bukan dari Ibnu Hisyam. Haykal menulis Quraisy mengirim empat ribu pejalan kaki, tiga ratus berkuda, dan seribu lima ratus unta di bawah Abu Sufyan, dengan panji Makkah dipegang 'Utsman bin Thalhah; Bani Fazarah menyumbang pejalan kaki dan seribu unta di bawah 'Uyainah bin Hishn; Bani Asyja' dan Bani Murrah masing-masing empat ratus orang di bawah al-Harits bin 'Auf dan Mis'ar bin Rukhailah; Bani Sulaim tujuh ratus; Bani Sa'd dan Bani Asad menambah pasukan sehingga seluruhnya sepuluh ribu atau lebih. Haykal juga menulis kaum Muslimin menaruh batu di sisi dalam parit sebagai peluru bila perlu.

    Dari sumber lain. Bagian ini bukan dari Ibnu Hisyam. Menurut artikel Wikipedia Battle of the Trench (https://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_the_Trench), kaum Muslimin berjumlah 3.000; pasukan sekutu antara 7.500 dan 10.000 (sekitar 10.000 orang dan 600 berkuda), di antaranya Ghathafan sekitar 2.000 orang dan 300 berkuda di bawah 'Uyainah, Murrah 400 orang di bawah al-Harits bin 'Auf, Asyja' 700 orang di bawah Sufyan bin 'Abdu Syams, dan Sulaim 700 orang. Artikel itu menyebut penggalian parit enam hari, pengepungan di parit 20 malam, korban 6 Muslim dan 3 Quraisy, pengepungan Bani Quraizhah 25 hari, dan jumlah laki-laki Bani Quraizhah yang dihukum mati antara 400 dan 900 menurut Ibnu Ishaq (berbeda dari 600 atau 700 yang tercetak di Ibnu Hisyam). Kami belum memeriksa angka-angka itu pada kitab asalnya.

    Perbedaan sumber

    Jumlah pasukan musuh. Ibnu Ishaq menyebut sepuluh ribu orang tanpa rincian per kabilah. Haykal menyebut Quraisy mengirim empat ribu pejalan kaki, tiga ratus berkuda, dan seribu lima ratus unta; Bani Fazarah dengan seribu unta di bawah 'Uyainah bin Hishn; Bani Asyja' dan Bani Murrah masing-masing empat ratus orang; Bani Sulaim tujuh ratus; seluruhnya sepuluh ribu atau lebih. Khan menyebut sepuluh ribu orang bersenjata.

    Tempat Quraisy berhenti. Ibnu Hisyam menulis Quraisy berhenti di "Dumah" dan Ghathafan di Dzanab Naqma di samping Uhud. Haykal menulis Quraisy berkemah di dataran bernama "Rumah", dan Ghathafan di Dzanab Naqma.

    Penggalian parit. Ibnu Hisyam tidak menyebut lamanya penggalian. Haykal menulis seluruh parit selesai dalam enam hari.

    Lama pengepungan Bani Quraizhah. Ibnu Hisyam menulis dua puluh lima malam. Haykal menulis dua puluh lima hari dan malam. Khan menulis "hampir sebulan".

    Putusan atas Bani Quraizhah. Haykal menuliskan isi putusan Sa'd bin Mu'adz: laki-laki dibunuh, harta menjadi rampasan, dan wanita serta anak-anak ditawan. Dalam teks Ibnu Hisyam di bab ini, ucapan putusan itu tidak dikutip; yang disebut adalah tindakan sesudahnya (laki-laki dibawa ke parit, harta, wanita, dan anak-anak dibagi). Khan menulis Bani Quraizhah mula-mula memohon boleh tetap tinggal di Madinah dan permohonan itu dikabulkan, sampai mereka belakangan memberontak lagi lalu laki-lakinya dihukum mati; kisah ini tidak ada dalam teks Ibnu Hisyam di bab ini. Khan juga menaruh pengusiran Bani Nadheer sesudah peristiwa Khandaq, berbeda dari Ibnu Hisyam yang memuatnya sebelum Khandaq.

    Jasad Naufal bin 'Abdullah. Ibnu Ishaq menulis beliau menjawab "Kami tidak butuh jasad dan harganya" dan membiarkan Quraisy mengambil jasadnya; Ibnu Hisyam menambahkan, dari az-Zuhri, bahwa Quraisy memberi sepuluh ribu dirham. Haykal menulis Abu Sufyan meminta tebusan seratus unta dan beliau menolaknya.

    Angin dingin. Khan menulis, sesudah menunggu dua pekan, angin dingin bertiup tiga hari tiga malam sehingga musuh menderita. Ibnu Hisyam memuat ayat tentang "angin topan dan tentara" (QS al-Ahzab: 9) tetapi tidak menceritakan angin dingin itu dalam penuturan peristiwanya.

    1. Yahudi menghasut Quraisy dan Ghathafan

      Persekutuan yang berangkat menuju Madinah

      Menurut Ibnu Ishaq, beberapa tokoh Yahudi dari Bani an-Nadhir dan Bani Wa'il (di antaranya Sallam bin Abu al-Huqaiq, Huyay bin Akhthab, dan Kinanah bin ar-Rabi') pergi ke Makkah dan menghasut Quraisy untuk memerangi beliau. Mereka lalu mendatangi Ghathafan, dan pasukan sekutu pun berangkat: Quraisy di bawah Abu Sufyan bin Harb, Ghathafan di bawah beberapa pemimpin kabilah.

      Baca selengkapnya

      Ziyad bin 'Abdullah bin al-Bakkai berkata kepadaku dari Muhammad bin Ishaq al-Muththalibi yang berkata bahwa setelah itu meletuslah Perang Khandaq yang terjadi pada bulan Syawwal tahun kelima Hijriyah.1

      Yazid bin Ruman eks budak keluarga Zubair berkata kepadaku dari 'Urwah bin Zubair dan dari orang yang tidak aku ragukan integritasnya dari 'Abdullah bin Ka'ab bin Malik dan Muhammad bin Ka'ab al-Quradhi. Az-Zuhri, 'Ashim bin 'Umar bin Qatadah, 'Abdullah bin Abu Bakr dan ulama-ulama lainnya dimana penuturan mereka tentang Perang Khandaq tidak berbeda namun ada sebagian dari mereka yang menambahkan ceritanya.2

      Dikisahkan bahwa sebab meletusnya perang Khandaq karena beberapa orang Yahudi di antaranya Sallam bin Abu al-Huqaiq an-Nadhri, Huyay bin Akhthab an-Nadhri, Kinanah bin ar-Rabi bin Abu al-Huqaiq an-Nadhri, Haudzah bin Qais al-Waili, dan Abu 'Ammar al-Waili -dalam kelompok orang-orang dari Bani an-Nadhir dan Bani Wail yang membentuk pasukan sekutu untuk melawan beliau keluar dari Madinah dan tiba di tempat orang-orang Quraisy di Makkah. Mereka menghasut orang-orang Quraisy menyerang beliau. Mereka berkata: "Kami senantiasa akan bersama kalian dalam menghadapi dia hingga kita berhasil membabatnya habis." Orang-orang Quraisy berkata kepada orang-orang Yahudi: "Wahai orang-orang Yahudi, sesungguhnya kalian adalah ahli Kitab yang pertama mempunyai pengetahuan tentang perselisihan kami dengan Muhammad; Apakah agama kami yang lebih baik atau agama Muhammad?" Orang-orang Yahudi menjawab: "Agama kalian lebih baik daripada agama Muhammad dan kalian lebih pantas untuk mendapatkan kebenaran daripada dia."

      Tentang orang-orang Yahudi itulah, Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya berikut: Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Barang siapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya. (An Nisa: 51-52) hingga firman-Nya "ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar. Maka di antara mereka (orang-orang yang dengki itu), ada orang-orang yang beriman kepadanya, dan di antara mereka ada orang-orang yang menghalangi (manusia) beriman kepadanya. Dan cukuplah (bagi mereka) Jahanam yang menyala-nyala apinya. (QS. an-Nisa': 54-55). Yang dimaksud dengan karunia (fadhlihi) pada ayat di atas ialah nubuwwat.

      Pada saat orang-orang Yahudi berkata seperti itu kepada orang-orang Quraisy, mereka sangat gembira dan segera menyambut ajakan orang-orang Yahudi untuk memerangi beliau. Kemudian dua kekuatan tersebut bersatu lalu mereka bersiap-siap.

      Orang-orang Yahudi lalu meninggalkan Makkah menuju Ghathafan untuk menyeru mereka untuk memerangi beliau. Mereka provokasi orang-orang Ghathafan agar mengikuti kehendak mereka dan mereka jelaskan bahwa orang-orang Quraisy telah mendukung ide ini. Orang-orang Ghathafan pun bersatu dengan orang-orang Yahudi.2

      Lalu, berangkatlah orang-orang Quraisy di bawah pimpinan Abu Sufyan bin Harb, sedangkan orang-orang Ghathafan berada di bawah komando 'Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah bin Badr bersama orang-orang Bani Fazarah, al-Harits bin 'Auf bin Abu Haritsah al-Muri bersama orang-orang Bani Murrah, Mis'ar bin Rukhailah bin Nuwairah bin Tharif bin Suhmah bin 'Abdullah bin Hilal bin Khulawah bin Asyja' bin Raits bin Ghathafan bersama orang-orang yang ikut dengannya dari Bani Asyja'.2

    2. Parit digali di sekeliling Madinah

      Beliau ikut menggali, dan ayat tentang orang yang meminta izin

      Mendengar rencana mereka, beliau membuat parit di sekitar Madinah dan ikut menggalinya. Orang-orang munafik bekerja sedikit lalu pulang diam-diam, sedangkan kaum Mukminin meminta izin dahulu bila ada keperluan. Tentang keduanya turun QS an-Nur ayat 62 sampai 64.

      Baca selengkapnya

      Tatkala beliau mendengar rencana orang-orang musyrikin tersebut, beliau membuat parit di sekitar Madinah. Beliau terlibat langsung dalam pembuatannya untuk memberi semangat pada kaum Muslimin dalam berburu pahala. Beliau demikian bersemangat dalam menggali parit itu demikian pula dengan para sahabatnya. Hanya beberapa orang-orang munafik sajalah yang kerjanya bermalas-malasan. Orang-orang munafik kerja sedikit kemudian pulang secara diam-diam ke rumah mereka tanpa sepengetahuan beliau apalagi meminta izinnya. Pada saat yang sama, apabila salah seorang dari kaum Muslimin mempunyai kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditinggalkan, ia memberitahukan dan meminta izin kepada beliau kemudian beliau mengizinkannya pulang ke rumah untuk menyelesaikan urusan keluarganya. Apabila selesai, ia kembali kerja membuat parit karena ingin mendapatkan kebaikan dan pahala dari Allah. Allah menurunkan wahyu tentang kaum Mukminin tersebut:

      Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sesungguhnya ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. an-Nuur: 62)

      Wahyu di atas turun kepada kaum Muslimin yang mengharapkan kebaikan di sisi Allah, taat kepadaNya dan kepada Rasul-Nya. Setelah itu Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang orang-orang munafik yang malas-malasan bekerja dan pulang ke rumah tanpa meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu Ala wa Sallam:

      Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih. (QS. an-Nuur: 63).

      Al-Liwadz bermakna bertutup sesuatu saat melarikan diri. Hassan bin Tsabit berkata:1

      Orang-orang Quraisy lari dari kami dengan menutup diri

      Mereka tidak tenang diam dengan pikiran yang tidak stabil

      Bait syair ini telah saya paparkan pada saat membahas tentang perang Uhud.

      Kemudian Allah berfirman:

      Ketahuilah sesungguhnya kepunyaan Allah lah apa yang di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia mengetahui keadaan yang kamu berada di dalamnya (sekarang). (QS. an-Nuur: 64). Maksudnya, Allah tahu siapa yang jujur dan yang dusta.

      Kemudian Allah berfirman:

      Dan (mengetahui pula) hari (manusia) dikembalikan kepada-Nya, lalu diterangkan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. an-Nuur: 64).

      Kaum Muslimin bersungguh-sungguh dalam pembuatan parit hingga berhasil menyelesaikannya.23

    3. Batu keras dan tiga cahaya

      Riwayat Jabir dan Salman al-Farisi

      Ibnu Ishaq menyebut dua riwayat ibrah dari penggalian parit. Menurut Jabir, tanah berbatu hancur menjadi pasir setelah beliau meludah ke dalam air dan berdoa. Menurut Salman, beliau menghantam batu keras tiga kali sehingga memercikkan cahaya, dan beliau menjelaskan tiga cahaya itu sebagai tanda penaklukan Yaman, Syam dan negeri-negeri Barat, serta negeri-negeri timur.

      Baca selengkapnya

      Ada banyak sekali peristiwa yang mengandung ibrah tentang kebenaran beliau dalam penggalian parit, kenabiannya yang langsung dilihat langsung oleh kaum Muslimin. Salah satu peristiwa yang sampai kepadaku ialah hadits yang diriwayatkan dari Jabir bin 'Abdullah yang berkata: Kaum Muslimin sempat kesulitan menggali sebagian tanah berbatu, maka mereka mengutarakan kepada beliau. Beliau meminta disediakan air kemudian meludah ke dalamnya, lalu berdoa kepada Allah dan menuangkan air tersebut ke atas tanah tersebut. Para sahabat yang hadir ketika itu berkata: Demi Dzat yang mengutusnya sebagai nabi dengan membawa kebenaran, tanah berbatu tersebut hancur lebur hingga menjadi seperti pasir padahal tadinya tidak mempan dipukul dengan kapak cangkul.2

      Aku mendapat berita yang berasal dari Salman al-Farisi yang berkata: "Saat aku sedang menggali aku temukan ada batu yang keras sehingga tidak mampu aku pecahkan, sementara beliau berada di dekatku. Ketika beliau melihatku kesulitan memecahkan batu tersebut beliau turun kemudian mengambil alih cangkul dari tanganku. Beliau menghantam batu tersebut sehingga memercikkan cahaya terang berkemilau. Beliau terus menghantam batu tersebut hingga tiga kali sehingga memercikkan cahaya terang di bawah kapak. Aku berkata, "Wahai Rasulullah, cahaya apakah yang aku lihat: ketika engkau menghantam batu tersebut?"2

      Beliau bersabda: "Wahai Salman apakah engkau melihatnya?"

      Aku menjawab, "Ya, tentu saja."

      Beliau bersabda: "Adapun cahaya pertama, itu adalah tanda bahwa Allah akan menaklukkan Yaman untukku. Sedangkan cahaya kedua. adalah tanda aku akan menaklukkan Syam dan negeri-negeri Barat (Maghribi) untukku. Sedang cahaya ketiga, adalah tanda aku akan menaklukkan negeri-negeri timur."4

    4. Dua pasukan berhadapan

      Sepuluh ribu lawan tiga ribu

      Setelah parit selesai, Quraisy datang dengan sepuluh ribu orang dan berhenti di Dumah, sedangkan Ghathafan dan orang-orang Najd berhenti di Dzanab Naqma di samping Uhud. Beliau bersama tiga ribu kaum Muslimin keluar ke Gunung Sil'un dan membuat markas di sana; parit memisahkan mereka dari musuh.

      Situs peninggalan Khandaq di pinggiran Madinah: bukit berbatu, bangunan batu kecil, dan peziarah
      Situs peninggalan Khandaq di pinggiran Madinah, keadaan sekarang (deskripsi berkas: "Battle of Trench site, Medina"; di papan informasi tertulis situs Perang Khandaq, tujuh masjid).Foto: Md iet · CC BY-SA 3.0 · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Tatkala selesai beliau menggali parit, datanglah orang-orang Quraisy yang kemudian berhenti di Dumah. Mereka datang ketempat tersebut dengan membawa sepuluh ribu orang dari orang-orang Ahabisy (non Arab), Bani Kinanah, dan Bani Tihamah. Orang-orang dari Ghathafan bersama orang-orang Najed juga datang kemudian berhenti di Dzanab Naqma di samping Uhud. Sementara, beliau bersama tiga ribu kaum muslimin keluar ke Gunung Sil'un. Di sanalah beliau membuat markas, sedang parit membatasi mereka dengan musuh.2

      Beliau menganugerahi Ibnu Ummi Maktum menjadi imam sementara di Madinah. Beliau mengamankan anak-anak dan wanita-wanita di balik benteng.15

    5. Bani Quraizhah membatalkan perjanjian

      Huyay bin Akhthab dan ucapan Mu'attib

      Huyay bin Akhthab menemui Ka'ab bin Sa'd al-Quradhi dari Bani Quraizhah, yang akhirnya membatalkan perjanjiannya dengan beliau. Kaum Muslimin pun goyah, dan orang-orang munafik tampak, seperti Mu'attib bin Qusyair. Hampir sebulan pertempuran hanya berupa saling lempar panah.

      Baca selengkapnya

      Musuh Allah, Huyay bin Akhthab an-Nadhri, keluar menemui Ka'ab bin Sa'd al-Quradhi, wakil Bani Quraizhah yang masih terikat perjanjian dengan beliau. Sayangnya, Ka'ab termakan provokasi Huyai sehingga ia membatalkan perjanjian tersebut. Ketika berita pembatalan perjanjian di atas terdengar oleh beliau dan kaum Muslimin, beliau kecewa sekali kepada mereka.2

      Kaum Muslimin mengalami krisis kepercayaan diri karena hal tersebut, sebab musuh datang dari atas dan bawah mereka hingga kedok orang munafik pun terbuka dengan sendirinya. Seperti Mu'attib bin Qusyair dari Bani 'Amr bin 'Auf yang berkata: "Muhammad pernah menjanjikan kepada kita bahwa kita akan menguasai kekayaan Kisra dan Kaisar, padahal pada hari ini salah seorang dari kita untuk buang air saja tidak merasa aman."

      Ulama yang aku percaya berkata kepadaku bahwa Mu'attib bin Qusyair tidak masuk barisan orang-orang munafik. Dengan alasan bahwa Mu'attib bin Qusyair ikut hadir terjun pada Perang Badar.1

      Hampir sebulan, perang beliau dengan orang-orang musyrikin hanya saling lempar panah.6

    6. Penunggang Quraisy tiba di parit

      Salman termasuk keluarga beliau

      Beberapa penunggang kuda Quraisy memacu kudanya hingga ke parit dan terkejut melihatnya. Ibnu Hisyam menyebut Salman al-Farisi yang mengusulkan parit, dan sabda beliau bahwa Salman termasuk keluarga (ahlul bait) beliau.

      Baca selengkapnya

      Beliau bersama kaum Muslimin masih bertahan di dalam kota Madinah, sedang musuh mengepung mereka, tapi perang tetap tidak berkobar di antara mereka. Beberapa tentara berkuda Quraisy di antaranya 'Amr bin 'Abdu Wudd bin Abu Qais dari Bani 'Amir bin Luay.2

      "Ada yang mengatakan bahwa 'Amr adalah anak 'Abd bin Abu Qais, 'Ikrimah bin Abu Jahal dari Bani Makhzum, Hubairah bin Abu Wahb dari Bani Makhzum, dan Dhirar bin Khaththab bin Mirdas dari Bani Muharits bin Fihr mengambil ancang-ancang berjalan melintasi kampung-kampung Bani Kinanah, mereka berkata: "Wahai Bani Kinanah, bangkitlah kalian untuk perang, karena pada hari ini kalian akan tahu siapa sesungguhnya pasukan berkuda itu." Setelah mengatakan itu, orang-orang Quraisy tersebut melecut kencang kuda-kuda mereka hingga tiba di parit. Tatkala melihat parit tersebut, mereka ber-kata: "Demi Allah, jebakan ini tidak pernah dilakukan oleh orang-orang Arab."1

      Salman al-Farisi adalah sahabat yang mengusulkan ide kepada beliau agar membuat parit tersebut.1

      Salah seorang pakar bercerita kepadaku bahwa pada perang Khandaq kaum Muhajirin berkata: "Salman termasuk kelompok kami." Orang-orang dari kaum Anshar berkata: "Salman bagian dari kami." Kemudian beliau bersabda: "Salman bagian dari keluarga (ahlul Bait) Nabi."17

    7. 'Ali dan 'Amr bin 'Abdu Wudd

      Duel di celah parit

      Para penunggang Quraisy menerobos celah antara parit dan Sala', lalu 'Ali bersama beberapa Muslimin menutup jalannya. 'Amr bin 'Abdu Wudd menantang duel, turun dari kudanya, menyembelihnya, dan bertempur dengan 'Ali hingga 'Ali membunuhnya. Penunggang Quraisy lainnya melarikan diri, termasuk 'Ikrimah bin Abu Jahl.

      Baca selengkapnya

      Kemudian orang-orang Quraisy tersebut mencari celah agar bisa melewati parit-parit tersebut lalu kuda-kuda mereka pun akhirnya masuk ke tempat tersebut, kemudian mereka menerobos celah yang ada di antara parit dan Sala'. Pada saat yang bersamaan, 'Ali bin Abu Thalib bersama beberapa orang dari kaum Muslimin memblokade jalan masuknya orang-orang Quraisy. Penungang-penunggang kuda Quraisy berjalan cepat dengan kuda-kuda mereka ke tempat 'Ali bin Abu Thalib dan sahabat-sahabatnya. 'Amr bin 'Abdu Wudd ikut hadir di Perang Badar hingga terluka berat sehingga absen di Perang Uhud. Pada Perang Khandaq, ia keluar dengan mengenakan tanda pengenal supaya mudah dikenali. Ketika kudanya berhenti, ia berteriak menantang: "Siapa yang siap duel berhadapan denganku?" 'Ali bin Abu Thalib tampil kemudian berkata: "Wahai 'Amr, sungguh engkau telah berjanji kepada Allah bahwa bila ada seorang Quraisy mengajakmu kepada dua hal maka engkau akan menyambutnya." 'Amr bin 'Abdu Wudd menjawab: "Benar!" 'Ali bin Abu Thalib berujar melanjutkan: "Sekarang aku mengajakmu kepada Allah, Rasul-Nya, dan Islam." 'Amr bin 'Abdu Wudd menjawab: "Aku tidak butuh itu semua!!" 'Ali bin Abu Thalib berkata: "Jika demikian maka aku ajak engkau berperang." 'Amr bin 'Abdu Wudd berkata: "Mengapa demikian?" Demi Allah, aku tidak berniat menghabisimu." 'Ali bin Abu Thalib berkata: "Namun demi Allah, aku bergairah sekali untuk membunuhmu." 'Amr bin 'Abdu Wudd bangkit marahnya mendengar tantangan 'Ali bin Abu Thalib. Ia turun dari atas kuda, kemudian menyembelihnya, memukul wajah kudanya, dan maju ke hadapan 'Ali bin Abu Thalib. Keduanya bertempur sangat sengit hingga akhirnya 'Ali bin Abu Thalib berhasil menghabisi 'Amr bin 'Abdu Wudd, sedang kuda-kuda Quraisy lari kocar-kacir tak menentu.2

      Saat itu, 'Ikrimah bin Abu Jahal lari menyelamatkan diri meninggalkan 'Amr bin 'Abdu Wudd.2

      Tentang kaburnya 'Ikrimah bin Abu Jahal, Hassan bin Tsabit berkata:2

      Ia melarikan diri dan membiarkan tombaknya untuk kami

      Sesuatu yang tidak kau yang tidak pernah engkau lakukan sebelum ini

      Kau kabur bagaikan burung unta ketika berpaling dari jalan

      Engkau tidak membiarkan punggungmu berjalan dengan jinak

      Punggungmu laksana dagu biawak kecil

      Sandi perang sahabat-sahabat beliau di Perang Khandaq dan Perang Bani Quraizhah adalah, Haamm miim, laa yun sharuun.18

    8. Para wanita di benteng

      'Aisyah dan Shafiyyah binti 'Abdul Muththalib

      Ibnu Ishaq menyebut 'Aisyah berada di benteng Bani Haritsah dan Shafiyyah binti 'Abdul Muththalib di benteng Hassan bin Tsabit bersama para wanita dan anak-anak. Beliau dan para sahabat dilanda ketakutan karena musuh datang dari segala arah.

      Baca selengkapnya

      Abu Laila 'Abdullah bin Sahl bin 'Abdurrahman bin Sahl Anshari dari Bani Haritsah bercerita kepadaku bahwa pada Perang Khandaq Ummul Mukminin, 'Aisyah, berada di benteng Bani Haritsah, bentang terkuat di Madinah.2

      Yahya bin 'Abbad bin 'Abdullah bin Zubair bercerita kepadaku dari ayahnya, 'Abbad yang berkata bahwa Shafiyyah binti 'Abdul Muththalib berada di benteng tinggi kepunyaan Hassan bin Tsabit. Shafiyyah binti 'Abdul Muththalib berkata bahwa Hassan bin Tsabit berada di benteng tersebut bersama para wanita dan anak-anak.2

      Beliau dan sahabat-sahabatnya dilanda ketakutan dan kegundahan yang luar biasa, karena persekutuan musuh untuk menghadapi mereka dan musuh-musuh itu datang dari segala arah.2

    9. Nu'aim bin Mas'ud mengacaukan barisan musuh

      Perang adalah tipu daya

      Nu'aim bin Mas'ud masuk Islam tanpa diketahui kaumnya, lalu atas izin beliau ia mengadu domba Bani Quraizhah, Quraisy, dan Ghathafan. Hudzaifah bin al-Yaman diutus beliau mengintai musuh pada malam hari, dan ternyata mereka telah menarik pasukan serta pulang ke daerah masing-masing. Pagi harinya beliau kembali ke Madinah dan meletakkan senjata.

      Baca selengkapnya

      Lalu Nu'aim bin Mas'ud bin 'Amir bin Unaif bin Tsa'labah bin Qunfudz bin Hilal bin Khalawah bin Asyja' bin Raits bin Ghathafan datang ke tempat beliau dan berkata: "Wahai Rasulullah, aku telah masuk Islam sementara kaumku belum ada yang tahu keislamanku. Oleh karena itu aku siap dengan tugas darimu."2

      Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya engkau salah seorang dari kami. Karena itulah, kacaukanlah persatuan mereka apabila engkau mampu, karena perang adalah tipu daya." Nu'aim bin Mas'ud pergi menemui Bani Quraizhah dan ia adalah sahabat mereka pada masa jahiliyah. Kemudian Nu'aim bin Mas'ud pergi ke tempat orang-orang Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan bin Harb.

      Kemudian Nu'aim bin Mas'ud pergi ke tempat-orang orang Ghathafan. Nu'aim berhasil mengadu domba di antara mereka.

      Beliau mendengar berita tentang sengketa dan konflik yang terjadi di antara mereka, lalu beliau memanggil Hudzaifah bin al-Yaman kemudian mengutusnya pergi kepada mereka untuk mencan tanu apa yang akan mereka kerjakan pada malam hari.2

      Ternyata mereka semua telah menarik pasukan mereka dan pulang kembali ke daerah asal mereka masing-masing.

      Tatkala pagi menjelang Rasulullah pulang dari Khandaq ke Madinah bersama dengan kaum muslimin dan meletakkan senjata.29

    10. Jibril memerintahkan berangkat ke Bani Quraizhah

      'Ali membawa panji

      Pada waktu Zhuhur Jibril datang dan berkata bahwa para malaikat belum meletakkan senjata dan Allah menyuruh beliau berangkat ke Bani Quraizhah. Beliau menyeru agar tidak ada yang shalat Ashar kecuali sudah sampai di Bani Quraizhah, dan 'Ali membawa panji pasukan.

      Baca selengkapnya

      Berkata padaku az-Zuhri pada waktu Zhuhur Malaikat Jibril 'alaihis salam mendatangi beliau, ia kemudian bertanya: "Apakah engkau melakukan gencatan senjata?' beliau menjawab, "Ya." Malaikat Jibril berkata: "Para malaikat tidak melakukan gencatan senjata. Kini mereka sedang mengejar kaum tersebut. Hai Muhammad sesungguhnya Allah menyuruhmu berangkat ke Bani Quraizhah aku juga akan berangkat ke sana untuk memerangi mereka."2

      Setelah itu, beliau memerintahkan seseorang untuk menyeru Kaum Muslimin: "Barangsiapa mendengar dan taat, maka janganlah ia menunaikan shalat Ashar kecuali ia sudah sampai di Bani Quraizhah."

      Beliau menunjuk sementara Ibnu Ummi Maktum sebagai Imam di Madinah.1

      Beliau menunjuk 'Ali bin Abu Thalib sebagai komandan pasukan dengan membawa panji perang dalam perjalanan menuju Bani Quraizhah sedangkan kaum Muslimin berjalan di belakangnya. Rasulullah berjalan melewati beberapa sahabat di as-Shaurain sebelum sampai di Bani al-Quraizhah, lalu beliau bertanya kepada mereka: "Apakah ada seseorang melewati kalian sebelum aku?" Mereka menjawab: "Ya ia adalah Dihyah bin Khalifah al-Kalbi." Beliau bersabda: "Bukan! Dia itu Jibril yang di kirim kepada Bani Quraizhah guna menghancurkan benteng-benteng dan menghunjamkan rasa takut ke hati mereka."2

      Tatkala beliau tiba di Bani Quraizhah, beliau istirahat di salah satu sumur Bani Quraizhah di sisi kebun mereka yang bernama sumur Una.

      Ibnu Hisyam berkata ada pula yang mengatakan sumur Anna.10

    11. Shalat Ashar di Bani Quraizhah dan pengepungan

      Dua puluh lima malam

      Sebagian sahabat tiba setelah Isya' dan baru shalat Ashar di sana karena berpegang pada seruan beliau; Allah tidak mencela mereka dan beliau tidak marah. Beliau mengepung Bani Quraizhah selama dua puluh lima malam hingga mereka dilanda ketakutan.

      Baca selengkapnya

      Setelah itu, kaum Muslimin tiba berombongan. Namun, ada beberapa orang di antara mereka yang tiba setelah Isya' akhir dan belum mengerjakan shalat ashar karena berpedoman kepada sabda beliau, "Janganlah seorangpun di antara kalian mengerjakan shalat ashar kecuali sudah tiba di Bani Quraizhah." Kemudian mereka mengerjakan shalat Ashar di Bani Quraizhah setelah shalat Isya. Allah tidak mencela mereka dalam Kitab Sucinya atas peristiwa tadi dan beliau juga tidak marah pada mereka. Hadits ini di sampaikan kepadaku oleh Abu Ishaq bin Yasar dari Ka'ab bin Ka'ab bin Malik al-Anshari.2

      Beliau mengepung Bani Quraizhah selama dua puluh lima malam hingga mereka menderita karena pengepungan ini dan Allah merasukkan rasa takut luar biasa ke dalam hati mereka.211

    12. Abu Lubabah

      Isyarat di tenggorokan dan taubatnya

      Bani Quraizhah meminta Abu Lubabah untuk dimintai pendapat; ia berisyarat dengan tangan ke tenggorokan, lalu menyesal dan mengikat dirinya di tiang masjid. Taubatnya diterima menjelang shubuh, dan beliau sendiri melepaskan ikatannya.

      Baca selengkapnya

      Tatkala Bani Quraizhah meyakini sepenuhnya bahwa beliau tidak akan berbalik meninggalkan mereka sampai mengalahkan mereka. Maka mereka mengirim utusan kepada beliau dengan membawa pesan: "Datangkanlah kepada kami Abu Lubabah bin 'Abdul Mundzir dari Bani 'Amr bin 'Auf dan sekutu orang-orang Aus agar kita bisa berkonsultasi dengannya dalam masalah kami ini." Beliau mengirim Abu Lubabah kepada Bani Quraizhah. Ketika mereka melihat Abu Lubabah maka orang laki-laki, wanita-wanita, dan anak-anak berdatangan kepadanya kemudian menangis di hadapannya hingga Abu Lubabah merasa kasihan kepada mereka. Orang-orang Yahudi Bani Quraizhah berkata kepada Abu Lubabah: "Wahai Abu Lubabah, bagaimana pendapatmu apabila kita menyerah kepada hukum Muhammad?" Abu Lubabah berkata: "Ya!" Sambil berisyarat dengan tangan pada tenggorokannya, itu artinya dipenggal." Abu Lubabah berkata: "Demi Allah, apa yang kulakukan? Aku telah mengkhianati Allah dan beliau!" Kemudian, Abu Lubabah pergi. Ketika sampai di tempat beliau, ia langsung mengikat diri pada salah satu tiang masjid. Abu Lubabah berkata: "Aku akan terus begini di sini hingga Allah menerima taubatku atas apa yang telah aku perbuat. Aku berjanji kepada Allah untuk tidak memasuki benteng Bani Quraizhah untuk selama-lamanya namun hal itu malah kulakukan."2

      Allah lalu menurunkan ayat tentang Abu Lubabah seperti diceritakan Sufyan bin 'Uyainah dari Ismail bin Abu Khalid bin 'Abdullah bin Abu Qatadah:1

      Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (QS. al-Anfaal: 27)

      Yazid bin 'Abdullah bin Qusaith bercerita kepadaku bahwa berita taubatnya Abu Lubabah diterima beliau menjelang shubuh pada saat beliau sedang berada di rumah Ummu Salamah. Ummu Salamah berkata: Saat menjelang shubuh, aku mendengar beliau tertawa. Aku berkata: "Apa yang membuatmu tertawa wahai Rasulullah?"2

      Beliau bersabda: "Allah telah menerima taubat Abu Lubabah."

      Aku berkata: "Bolehkah aku kabarkan kabar gembira ini kepadanya?"

      Beliau bersabda: "Silahkan sampaikan saja." Ummu Salamah berdiri di depan pintu kamarnya, peristiwa ini terjadi sebelum diwajibkannya hijab- kemudian berkata: "Wahai Abu Lubabah sambutlah kebahagianmu karena Allah telah menerima taubatmu." Para sahabat lalu mengerumuninya untuk melepaskan ikatannya. Namun ia berkata: "Tidak, demi Allah, aku tidak suka kalian lakukan hal ini, hingga beliau sendiri yang melepaskan ikatanku dengan kedua tangannya." Pada saat beliau keluar untuk melaksanakan shalat Shubuh, beliau berjalan melewati Abu Lubabah dan melepaskan ikatannya.

      Selama enam hari Abu Lubabah terus mengikat dirinya. Sepanjang waktu tersebut, istrinya senantiasa datang setiap waktu shalat untuk melepaskan ikatan agar ia bisa melaksanakan shalat. Sesuai shalat kembali ia mengikat diri lagi. Demikianlah yang terjadi, sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama kepadaku.1

    13. Bani Quraizhah tunduk dan Sa'd bin Mu'adz ditunjuk

      Kemah Rufaidah

      Esok harinya Bani Quraizhah tunduk kepada hukum beliau. Sa'd bin Mu'adz, yang terkena panah di Khandaq dan dirawat di kemah Rufaidah di masjid, ditunjuk sebagai hakim. Kaumnya menaikkannya ke atas keledai dan meminta ia berbuat baik kepada sekutunya, tetapi Sa'd menjawab bahwa kini telah tiba saatnya ia bangkit menghadapi orang yang mengecamnya di jalan Allah.

      Baca selengkapnya

      Keesokan harinya, Bani Quraizhah tunduk kepada hukum beliau.2

      Sebelum mengepung Bani Quraizhah, beliau telah mengepung Bani Qainuqa' sekutu al-Khazraj kemudian mereka tunduk kepada hukum beliau.

      Sebelumnya, beliau menempatkan Sa'd bin Mu'adz di sebuah kemah milik seorang wanita dari Aslam, yang bernama Rufaidah. Kemah itu berada di masjid Rasulullah, sedangkan Rufaidah mengobati orang-orang yang terluka dan mewakafkan diri untuk melayani siapa saja di antara kaum Muslimin yang terluka. Ketika Sa'd bin Mu'adz terkena anak panah di Perang Khandaq, beliau bersabda kepada kaumnya: "Rawatlah Sa'd bin Mu'adz di kemah milik Rufaidah agar aku dapat mengunjunginya dari dekat. Ketika beliau menunjuk Sa'd bin Mu'adz sebagai mediator bagi Bani Quraizhah, kaum Sa'd bin Mu'adz datang kepada Sa'd bin Mu'adz kemudian mereka menaikkannya di atas keledai. Mereka pergi bersama Sa'd bin Mu'adz kepada beliau. Mereka berkata: "Wahai Abu 'Amr, berbuat baiklah kepada sekutumu, karena beliau menunjukmu sebagai hakim agar engkau berbuat baik kepada mereka." Ketika mereka banyak bicara kepada Sa'd bin Mu'adz, Sa'd bin Mu'adz berkata: "Kini telah tiba saatnya bagi Sa'd bin Mu'adz untuk bangkit menghadapi orang yang mengecamnya di jalan Allah." Setelah itu, beberapa orang dari kaum Sa'd bin Mu'adz yang tadinya menemani Sa'd bin Mu'adz pulang ke perkampungan 'Abdul Asyhal dan menceritakan apa yang dikatakan Sa'd bin Mu'adz kepada beberapa orang dari Bani Quraizhah sebelum Sa'd bin Mu'adz sampai di tempat mereka. Pada saat Sa'd bin Mu'adz dan kaumnya tiba di tempat beliau, beliau bersabda: "Berdirilah untuk menyambut pemimpin kalian!"12

    14. Laki-laki dewasa Bani Quraizhah

      Parit di pasar Madinah

      Ibnu Hisyam menulis bahwa laki-laki Bani Quraizhah diturunkan dan dibawa ke parit yang digali di pasar Madinah; di antara mereka Huyay bin Akhthab dan Ka'ab bin Asad, berjumlah enam ratus atau tujuh ratus orang. Ibnu Ishaq menyebut beliau hanya memerintahkan membunuh yang sudah dewasa.

      Baca selengkapnya

      Sebagian orang yang tidak aku ragukan integritasnya berkata kepadaku bahwa 'Ali bin Abu Thalib berteriak keras pada saat kaum Muslimin mengepung Bani Quraizhah. Setelah itu, orang-orang laki-laki Yahudi Bani Quraizhah disuruh turun, kemudian beliau memerintahkan orang-orang Yahudi Bani Quraizhah dibawa ke parit yang telah digali dipasar Madinah dan menghabisi mereka di dalamnya. Termasuk di dalamnya musuh Allah Huyay bin Akhthab, Kaab bin Asad tokoh Bani Quraizhah bersama dengan enam ratus atau tujuh ratus orang-orang Bani Quraizhah.1

      Beliau hanya memerintahkan membunuh orang-orang Bani Quraizhah yang telah dewasa.2

      "Beliau memerintahkan menghabisi orang-orang Bani Quraizhah yang telah dewasa. Kala itu, aku masih anak-anak, makanya mereka membebaskanku.1314

    15. Pembagian fa'i Bani Quraizhah

      Jatah pasukan berkuda dan pejalan kaki, dan Raihanah

      Beliau membagi harta, wanita, dan anak-anak Bani Quraizhah setelah mengeluarkan seperlima; penunggang kuda mendapat tiga jatah (dua untuk kuda dan satu untuk penunggang), pejalan kaki satu jatah. Kuda Bani Quraizhah ada tiga puluh enam ekor. Beliau memilih Raihanah binti 'Amr untuk diri beliau, dan Raihanah kemudian masuk Islam.

      Baca selengkapnya

      Beliau membagi-bagikan harta kekayaan, wanita-wanita, dan anak-anak Bani Quraizhah kepada kaum Muslimin. Disaat yang sama, beliau juga mewartakan jumlah bagian yang didapat pasukan berkuda, dan tentara pejalan kaki, dan mengeluarkan seperlima dari seluruh rampasan perang itu. Tentara berkuda mendapat tiga jatah; dua jatah untuk kuda dan satu jatah untuk penunggangnya. Adapun tentara pejalan kaki mereka mendapatkan satu jatah. Jumlah kuda Bani Quraizhah saat itu ada tiga puluh enam ekor. Itulah fa'i yang pertama kali dibagi sesuai dengan jatahnya, seperlima daripadanya dikeluarkan, dan merupakan sunnah beliau dalam pembagian fa'i di medan perang. Setelah itu, beliau mengutus Sa'd Zaid al-Anshari saudara Bani 'Abdul Asyhal membawa tawanan-tawanan wanita Bani Quraizhah ke Najed dan menukar mereka dengan kuda-kuda dan peralatan perang.2

      Beliau memilih salah seorang wanita Bani Quraizhah yang bernama Raihanah binti 'Amr bin Junafah untuk diri beliau sendiri. Ia berasal Bani 'Amr bin Quraizhah dan tetap dalam kepemilikan beliau pada saat beliau wafat. Saat beliau menawan Raihanah binti 'Amr, ia tetap memilih menjadi seorang wanita Yahudi. Rasulullah sedih karena sikapnya itu kemudian melepaskannya. Ketika beliau sedang bersama para sahabat, tiba-tiba Tsa'labah bin Sa'yah datang dan ia berkata: "Wahai Rasulullah, Raihanah telah memeluk Islam." Beliau sangat gembira dengan berita tersebut.215

    16. Surat al-Ahzab (1)

      QS al-Ahzab: 9-17

      Ibnu Ishaq menyebut Allah menurunkan surat al-Ahzab tentang Khandaq dan Bani Quraizhah. Ayat 9 sampai 17 mengingatkan datangnya tentara dari atas dan bawah, goncangan hati kaum Mukminin, dan ucapan orang-orang munafik.

      Baca selengkapnya

      Tentang Perang Khandaq dan Bani Quraizhah, Allah Ta'ala menurunkan surat al-Ahzab. Dalam surat tersebut, Allah Ta'ala mengisahkan musibah yang menimpa kaum Muslimin, nikmat-Nya kepada mereka, perlindungan-Nya, dan bagaimana Allah mencabut musibah tersebut dari mereka karena ucapan orang-orang munafik. Allah berfirman:2

      Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara (orang-orang Quraisy, Ghathafan, Bani Quraizah), lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara (angin dan para malaikat) yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Ahzab: 9)

      (Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan (mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. (QS. al-Ahzab:10)

      Orang-orang yang mengepung kaum muslimin dari atas mereka adalah orang-orang Bani Quraizhah, sedangkan yang mengepung dari bawah mereka adalah orang-orang Quraisy dan Ghathafan.

      Kemudian Allah Ta'ala berfirman:

      Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat. Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: "Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya." (QS. al-Ahzab: 11-12)

      Orang yang mengatakan perkataan seperti diatas adalah Mu'attib bin Qusyair, Kemudian Allah Ta'ala berfirman:

      Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata: "Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu." Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata: "Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)." Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari. (QS. al-Ahzab: 13).

      Disebabkan perkataan Aus bin Qaidhi dan orang-orang dari kaumnya yang seirama dengannya.

      Kemudian Allah Ta'ala berfirman:

      Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, kemudian diminta kepada mereka supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya; dan mereka tiada akan menunda untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat. (QS. al-Ahzab: 14). Maksud kata "fitnah" pada ayat di atas ialah kembali kepada kesyirikan, kemudian Allah berfirman:

      Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah: "Mereka tidak akan berbalik ke belakang (mundur)" Dan adalah perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. al-Ahzab: 15)

      Mereka adalah Bani Haritsah yang ingin mundur di Perang Uhud bersama Bani Salimah, kemudian berjanji kepada Allah tidak akan mengulanginya lagi untuk selama-lamanya. Allah menyebutkan kepada mereka apa yang pernah mereka janjikan. Kemudian Allah Ta'ala berfirman:

    17. Surat al-Ahzab (2)

      QS al-Ahzab: 18-20

      Ayat 18 sampai 20 menyebut orang-orang yang menghalangi, yang berkata "Marilah kepada kami", dan yang mengira golongan sekutu belum pergi.

      Baca selengkapnya

      Katakanlah: "Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja." Katakanlah: "Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?" Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah. (QS. al-Ahzab: 16-17)

      Selanjutnya Allah berfirman: Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu (Al Ahzab: 18), yakni orang munafik.

      Kemudian Allah Ta'ala berfirman:

      Dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya: "Marilah kepada kami.” Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar. (QS. al-Ahzab: 18)

      Yakni sekedar berlindung diri dan sebagai alasan, kemudian Allah Ta'ala berfirman: Dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS. al-Ahzab: 19), mereka meledek sekalian dengan ungkapan yang tidak kalian senangi. Sebab mereka tidak pernah sedikitpun mengharapkan akhirat, tidak menabung pahala di sisi Allah, dan mereka sangat takut mati.

      Salaquukum yakni berlebihan dalam celaan kepada kalian. Maka mereka membakar dan menyakiti kalian. Seperti dikatakan orang Arab: Khathibun Sallaq dan Khathibun Musliq dan Mislaq, artinya khatib yang membikin sakit hati pendengarnya. A'sya Bani Qais bin Tsa'labah berkata:1

      Pada mereka ada kemulian tolerasani dan pertolongan

      Di tengah mereka ada para khatib yang melukai jiwa

      Kemudian Allah Ta'ala berfirman:

      Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; yakni orang-orang Quraisy dan Ghathafan (QS. al-Ahzab: 20), yakni adalah orang-orang Quraisy dan Ghathafan.

      Kemudian Allah Ta'ala berfirman:

      dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badwi, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu. Dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja. (QS. al-Ahzab: 20)16

    18. Surat al-Ahzab (3)

      QS al-Ahzab: 21-27

      Ayat 21 sampai 27 menyebut suri teladan pada diri beliau, kaum Mukminin yang menepati janji, dan turunnya Ahli Kitab (Bani Quraizhah) dari benteng-benteng mereka.

      Baca selengkapnya

      Kemudian Allah mengarahkan firman kepada kaum mukmin dalam firman-Nya:

      Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. al-Ahzab: 21) dengan tujuan agar orang-orang beriman tidak lebih mencintai diri mereka daripada diri beliau dan kedudukan beliau. Setelah itu, Allah Ta'ala menemui kaum Mukminin, yang tahan cobaan. Allah Ta'ala berfirman:

      Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: "Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita." Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. (QS. al-Ahzab: 22).

      Semua ini menguatkan kesabaran mereka atas musibah yang terjadi, kepasrahan kepada takdir, dan pembenaran terhadap yang dijanjikan.

      Allah Ta'ala berfirman:

      Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur (QS. Al-Ahzab: 23), di antara mereka ada yang telah menuntaskan tugasnya dan telah pulang menuju dalam keadaan gugur sebagai syuhada pada perang Badar dan Perang Uhud.

      Qadha nahbahu artinya meninggal dunia. Adapun makna an-nahb adalah jiwa, sebagaimana dikatakan oleh Abu 'Ubaidah kepadaku dan jamaknya adalah nuhub. Dzu Rummah berkata:1

      Di senja hari orang-orang Harits melarikan diri

      Setelah Hawbar kehilangan jiwa di pertempuran kuda

      Hawbar termasuk Bani Harits bin Ka'ab. Yang dimaksud di sini adalah Yazid bin Hawbar. Nahbu juga bermakna nazar sebagaimana dikatakan oleh Jarir bin al-Khathfai dalam syairnya.

      Ibnu Ishaq berkata mengomentari firman Allah: Di antara mereka ada yang menanti, yakni menanti janji Allah, yaitu kemenangan atau syahadah sebagaimana dicapai oleh sahabat-sahabatnya terdahulu.

      Kemudian Allah berfirman:

      Dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya), (QS. al-Ahzab: 23), mereka tidak ragu-ragu sedikitpun terhadap agama mereka, dan tidak menukar agamanya dengan agama lain.

      Kemudian Allah berfirman:

      Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang dalam keadaan penuh kejelekan (QS. al-Ahzab: 24), yakni, orang-orang Quraisy dan Ghathafan. (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, (QS. al-Ahzab: 25-26), Ahli Kitab pada ayat diatas adalah orang-orang Bani Quraizhah. dan Dia memasukkan rasa takut dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan. (Al Ahzab: 26), yakni pembunuhan orang laki-laki, penawanan anak-anak dan wanita-wanita.

      Kemudian Allah berfirman:

      Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu. (QS. alAhzab: 27)17

    19. Wafatnya Sa'd bin Mu'adz

      Arasy bergetar

      Ibnu Ishaq menyebut riwayat tentang wafatnya Sa'd bin Mu'adz: Jibril bertanya jenazah siapa yang membuat pintu langit dibuka dan Arasy bergetar, dan jenazah Sa'd terasa ringan dipikul. Beliau bersabda tentang malaikat yang memikulnya dan tentang kuburnya.

      Baca selengkapnya

      Mu'adz bin Rif'ah Az Zuraqa berkata kepadaku bahwa orang-orang dari kaumku berkata kepadaku: 'Tak berapa lama setelah syahid Sa'd bin Mu'adz, Malaikat Jibril 'alaihis salam datang kepada beliau dengan mengenakan sorban dari sutra pada pertengahan malam, kemudian berkata: "Wahai Muhammad, siapakah jenazah yang membuat pintu-pintu langit dibuka dan Arasy bergetar dibuatnya?" Beliau berdiri mencari Sa'd bin Mu'adz ternyata ia telah meninggal dunia.2

      Sa'd bin Mu'adz adalah seorang yang bertubuh gemuk. Anehnya pada saat orang-orang mengusung jenazahnya, mereka merasakan ringan." Beliau, bersabda: "Sesunguhnya Sa'd bin Mu'adz dipikul oleh para pemikul selain kalian. Demi Allah para malaikat sangat gembira dengan ruh Sa'd bin Mu'adz sampai-sampai Arasy bergetar dibuatnya."18

      Pada saat Sa'd bin Mu'adz dikubur, kami menemani beliau kemudian beliau bertasbih, diikuti bertakbir dan para sahabat pun ikut melakukannya. Mereka bertanya: "Wahai Rasulullah, kenapa engkau bertasbih?"' beliau bersabda: "Sungguh kuburan ini menyempit untuk hamba yang shalih ini namun Allah melonggarkannya."19

      Hadits yang senada adalah ucapan 'Aisyah yang bercerita bahwa beliau bersabda: "Sesungguhnya kuburan menjepit dan jika ada orang yang selamat daripadanya tentu ia adalah Sa'd bin Mu'adz."120

    20. Syuhada kaum Muslimin di Khandaq

      Enam orang

      Ibnu Ishaq menyebut enam syuhada Muslim pada Perang Khandaq: Sa'd bin Mu'adz, Anas bin Aus, dan 'Abdullah bin Sahl dari Bani 'Abdul Asyhal; ath-Thufail bin an-Nu'man dan Tsa'labah bin Ghanamah dari Bani Salimah; dan Ka'ab bin Zaid dari Bani an-Najjar.

      Baca selengkapnya

      Ada enam orang yang syahid dari kaum muslimin pada Perang Khandaq. Syuhada' dari Bani 'Abdul Asyhal adalah sebagai berikut: Sa'd bin Mu'adz, Anas bin Aus bin 'Atik bin 'Amr, 'Abdullah bin Sahi. Jumlah seluruhnya tiga orang.2

      Syuhada dari Bani Jusyam bin al-Khazraj kemudian dari Bani Salimah adalah sebagai berikut: ath-Thufail bin an-Nu'man, Tsa'labah bin Ghanamah. Jumlah seluruhnya hanya dua orang. Syuhada' dari Bani an-Najjar kemudian dari Bani Dinar adalah Ka'ab bin Zaid. la terkena anak panah misterius yang tidak diketahui siapa yang melemparkannya hingga kemudian membuatnya gugur sebagai syahid.21

    21. Korban tewas kaum musyrikin di Khandaq

      Tiga orang

      Menurut Ibnu Ishaq korban dari kaum musyrikin hanya tiga orang: Munabbih bin 'Utsman, Naufal bin 'Abdullah, dan 'Amr bin 'Abdu Wudd. Orang Quraisy mendesak membeli jasad Naufal, dan beliau menjawab bahwa beliau tidak butuh jasad maupun harganya.

      Baca selengkapnya

      Korban dari kaum musyrikin hanya tiga orang. Yaitu, korban dari Bani 'Abduddar bin Qushai adalah Munabbih bin 'Utsman bin 'Ubaid bin as-Sabbaq bin 'Abduddar. Ia terpanah dan kemudian meninggal dunia karenanya di Makkah.2

      'Utsman yang dimaksud ialah 'Utsman anak Umayyah bin Munabbih bin 'Ubaid bin as-Sabbaq.1

      Korban dari Bani Makhzum bin Yaqadzah adalah Naufal bin 'Abdu bin 'Abdullah bin al-Mughirah. Orang-orang Quraisy mendesak beliau agar beliau menjual jasad Naufal bin 'Abdullah kepada mereka. Pada saat Perang Khandaq, ia menerobos parit dan ia terjebak di dalamnya lalu dia tewas. Beliau bersabda: "Kami tidak butuh jasad dan harganya." Rasulullah pun membiarkan jasad Naufal bin 'Abdullah diambil oleh orang-orang Quraisy.

      Orang-orang Quraisy memberi uang sebanyak sepuluh ribu dirham kepada beliau untuk tebusan jasad Naufal bin 'Abdullah sebagaimana dituturkan az-Zuhri kepadaku.1

      Korban dari Bani 'Amir bin Luay kemudian dari Bani Malik bin Hisl adalah 'Amr bin 'Abdu Wudd. Ia tewas dibunuh oleh 'Ali bin Abu Thalib.

      Orang yang aku yakini integritasnya berkata kepadaku bahwa ia diberitahu oleh az-Zuhri: Pada Perang Khandaq, 'Ali bin Abu Thalib membunuh 'Amr bin 'Abdu Wudd dan juga putranya yaitu Hisl bin 'Amr.1

      Ada pendapat yang menyebutkan namanya adalah 'Amr bin 'Abdu Wudd, namun ada juga pendapat yang menyebutnya 'Amr bin 'Abdin.1

    22. Syuhada di Bani Quraizhah dan sabda beliau sesudah Khandaq

      "Kalianlah yang akan menyerang mereka"

      Syuhada Muslim di Perang Bani Quraizhah menurut Ibnu Ishaq adalah Khallad bin Suwaid dan Abu Sinan bin Mihshan. Sepulang dari Khandaq beliau bersabda bahwa sesudah tahun itu Quraisy tidak akan menyerang kaum Muslimin, tetapi kaum Muslimin yang akan menyerang mereka.

      Baca selengkapnya

      Syuhada kaum Muslimin yang gugur di Perang Bani Quraizhah dari Bani Al Harits bin al-Khazraj adalah Khallad bin Suwaid bin Tsa'labah bin 'Amr. Ia terkena lemparan batu penggiling sampai tengkorak kepalanya hancur. Ada riwayat yang mengatakan bahwa beliau bersabda: "Sesungguhnya Khallad bin Suwaid mendapatkan pahala dua orang syahid".2

      Abu Sinan bin Mihshan bin Hurtsan saudara Bani Asad bin Khuzaimah, ia gugur pada saat beliau mengepung Bani Quraizhah. Jenazah Abu Sinan bin Mihshan dikebumikan di pemakaman Bani Quraizhah.

      Tatkala para sahabat kembali dari khandaq beliau bersabda: "Setelah tahun ini, orang-orang Quraisy tidak akan menyerang kalian, tapi kalianlah yang akan menyerang mereka."

      Sejak tahun itu, orang-orang Quraisy tidak menyerang kaum Muslimin, sebaliknya beliau yang menyerang mereka hingga Allah menaklukkan kota Makkah untuk kemengan rasul-Nya.

    Catatan

    1. Tambahan Ibnu Hisyam.
    2. Ibnu Ishaq.
    3. Ejaan: tercetak "yangpedih", kami membaca "yang pedih"; tercetak "tenangdiam", kami membaca "tenang diam"; tercetak "yangdi", kami membaca "yang di".
    4. Nomor catatan kaki "129", "130" yang tercetak di dalam teks tidak kami muat.
    5. Ejaan: tercetak "seiesai", kami membaca "selesai".
    6. Ejaan: tercetak "Sa'ad", kami membaca "Sa'd"; tercetak "Akthab", kami membaca "Akhthab"; tercetak "Muattib", kami membaca "Mu'attib".
    7. Kalimat tentang para penunggang Quraisy tercetak dengan sisipan Ibnu Hisyam ("Ada yang mengatakan bahwa 'Amr adalah anak 'Abd bin Abu Qais") di tengah daftar nama, tanpa penutup; kami memuatnya sebagaimana tercetak. Tempat markas kaum Muslimin tercetak "Sil'un" pada bagian sebelumnya dan "Sala'" di sini; kami memuat keduanya sebagaimana tercetak.
    8. Baris kedua syair 'Ikrimah tercetak "Sesuatu yang tidak kau yang tidak pernah engkau lakukan sebelum ini"; kami memuatnya sebagaimana tercetak.
    9. Nomor catatan kaki "131" yang tercetak di dalam teks tidak kami muat. Kalimat "Kemudian Nu'aim bin Mas'ud pergi ke tempat-orang orang Ghathafan" tercetak dengan tanda hubung di tengah kata; kami memuatnya sebagaimana tercetak.
    10. Nomor catatan kaki "132" yang tercetak di dalam teks tidak kami muat. ejaan: tercetak "Rasjilullah", kami membaca "Rasulullah"; tercetak "Musilmin", kami membaca "Muslimin".
    11. Nomor catatan kaki "133" yang tercetak di dalam teks tidak kami muat. ejaan: tercetak "rnerasukkan", kami membaca "merasukkan".
    12. Nomor catatan kaki "134", "135" yang tercetak di dalam teks tidak kami muat. ejaan: tercetak "Qainuqa", kami membaca "Qainuqa'"; tercetak "Sa'ad", kami membaca "Sa'd"; tercetak "Muadz", kami membaca "Mu'adz"; tercetak "mesjid", kami membaca "masjid".
    13. Ibnu Ishaq. Sanad: Syu'bah bin al-Hajjaj berkata kepadaku dari 'Abdul Malik bin 'Umair dari 'Athiyyah al-Qurazhi.
    14. Nomor catatan kaki "136" yang tercetak di dalam teks tidak kami muat.
    15. Ejaan: tercetak "Sa'ad", kami membaca "Sa'd".
    16. Ejaan: tercetak "Ghathfan", kami membaca "Ghathafan".
    17. Ejaan: tercetak "Ghathfan", kami membaca "Ghathafan".
    18. Ibnu Ishaq. Sanad: Orang yang tidak aku ragukan integritasnya berkata kepadaku dari Al Hasan al-Bashri.
    19. Ibnu Ishaq. Sanad: Mu'adz bin Rifa'ah bercerita kepadaku dari Mahmud bin 'Abdurrahman bin 'Amr bin al-Jamuh dari Jabir bin 'Abdullah.
    20. Nomor catatan kaki "137", "138" yang tercetak di dalam teks tidak kami muat. ejaan: tercetak "Sa'ad", kami membaca "Sa'd"; tercetak "Muadz", kami membaca "Mu'adz".
    21. Ejaan: tercetak "Sa'ad", kami membaca "Sa'd"; tercetak "Muadz", kami membaca "Mu'adz".

    Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Bab berikutnya membahas pembunuhan Abu Rafi', Bani Lahyan, dan Dzu Qarad.