Pusat Sejarah Islam
Bab 40 dari 55

Khaibar, Fadak & kepulangan Ja'far

Satu per satu benteng Khaibar ditaklukkan, dan panji diserahkan kepada 'Ali. Fadak memilih berdamai. Ja'far pun tiba dari Habasyah tepat di hari penaklukan.

akhir Muharram 7 HSumber: Ibnu Hisyam
Sekilas

Isi bab ini

Bab ini memuat penaklukan Khaibar menurut Ibnu Hisyam: perjalanan, benteng-benteng yang jatuh, duel Marhab dan Yasir, panji 'Ali, Shafiyah, domba beracun, pembagian harta, perdamaian Fadak, kebun Khaibar sampai pengusiran di masa 'Umar, dan kedatangan Ja'far dari Habasyah beserta daftar yang hijrah ke sana.

Berangkat

Akhir Muharram tahun 7 H; Numailah bin 'Abdullah al-Laitsi imam sementara di Madinah, panji putih diserahkan kepada 'Ali. Ibnu Hisyam tidak menyebut jumlah pasukan; dasar pembagian hartanya 1.400 pejalan kaki dan 200 penunggang kuda.

Benteng demi benteng

Na'im, al-Qamush, ash-Sha'b bin Mu'adz, lalu al-Wathih dan as-Sulalim yang terakhir dan dikepung lebih dari sepuluh hari; Marhab dibunuh Muhammad bin Maslamah dan Yasir dibunuh Zubair bin 'Awwam.

Shafiyah dan Zainab

Beliau memilih Shafiyah binti Huyay dan mengadakan pesta pernikahan dengannya; Zainab binti al-Harits menghadiahkan domba beracun, dan Bisyr bin al-Barra' wafat karenanya.

Hasil

Khaibar menjadi fay' kaum Muslimin dengan penduduknya menggarap kebun untuk setengah hasil; Fadak berdamai dan menjadi milik khusus beliau; Ja'far tiba dari Habasyah pada hari Khaibar ditaklukkan.

Peta

Madinah, Khaibar, dan Fadak

Titik Madinah, Khaibar, dan Fadak diambil dari Wikipedia. Tempat-tempat lain yang disebut dalam bab ini tidak ditandai karena koordinatnya belum kami verifikasi.

Madinah, Khaibar, dan Fadak
Tempat yang disebut Ibnu HisyamPerjalanan (garis perkiraan)
    Alur kisah

    Dari berangkat ke Khaibar sampai daftar yang pulang dari Habasyah

    Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.

    Jalur dan urutan benteng di Khaibar

    Sketsa ini menata apa yang disebut Ibnu Ishaq; letak relatif dan bentuk medan tidak digambar karena sumber tidak memberinya. Kami menggambarnya sendiri.

    URUTAN YANG DISEBUT IBNU ISHAQ; LETAK ANTAR BENTENG TIDAK DIGAMBARMADINAHberangkat akhirMuharram 7 HIshrbeliau membangunmasjid di sanaAsh-Shahba'dilintasiLembah ar-Raji'di antara penduduknyadan GhathafanKHAIBARbenteng dikepungsatu demi satu1234BENTENG YANG DISEBUT IBNU ISHAQ, MENURUT URUTAN JATUHNYABenteng Na'imjatuh pertama; Mahmud binMaslamah terbunuh batupenggiling dari atasBenteng al-Qamushmilik Bani Abu al-Huqaiq;Shafiyah binti Huyaytermasuk tawananAsh-Sha'b bin Mu'adzpaling banyak makanan;jatuh setelah Bani Sahmdari Aslam kelaparanAl-Wathih, as-Sulalimbenteng terakhir, dikepunglebih dari sepuluh haripenduduk minta dibiarkan567Kawasan menurut Haykal: Natat, asy-Syiqq, al-Katibah; sumber yang kami periksa tidak memberi arah antar benteng.DUEL DAN PANJIAbu Bakar, lalu 'Umarmembawa panji putih kesatu benteng; pulang lelahtanpa menaklukkannya'Ali bin Abu Thalibsakit mata, diludahi,menerima panji danmenaklukkan benteng ituMarhabdibunuh Muhammad binMaslamah; pohon Usyarroboh di antara merekaYasirsaudara Marhab;dibunuh Zubair bin'Awwam8HASIL MENURUT IBNU ISHAQKaum Muslimin20 nama syuhada dalam daftarIbnu Ishaq (hitungan kami)Penduduk Khaibarjumlah pasukan dan korban tidakdisebut; menggarap kebun, setengah hasilHarta dan Fadakharta dibagi 1.800 bagian;Fadak berdamai, milik khusus beliau
    1. Beliau berangkat dari Madinah pada akhir Muharram dan melintasi Ishr, tempat beliau membangun masjid.
    2. Beliau melintasi ash-Shahba'.
    3. Beliau turun ke lembah ar-Raji' dan berhenti di antara penduduk lembah itu dan Ghathafan agar Ghathafan tidak membantu Khaibar; Ghathafan sempat keluar, tetapi mendengar derap dari belakang dan kembali pulang.
    4. Beliau tiba di Khaibar, mengambil harta sedikit demi sedikit, dan menaklukkan benteng satu demi satu; yang pertama Benteng Na'im.
    5. Sesudah Na'im, Benteng al-Qamush, bentengnya Bani Abu al-Huqaiq.
    6. Beliau mendoakan agar Allah menaklukkan benteng yang paling besar dan paling banyak makanannya; tak lama kemudian benteng ash-Sha'b bin Mu'adz jatuh.
    7. Beliau tiba di dua benteng terakhir, al-Wathih dan as-Sulalim, dan mengepungnya lebih dari sepuluh hari; Marhab keluar dari benteng dengan senjata lengkap.
    8. Abu Bakar membawa panji putih ke salah satu benteng tetapi pulang lelah, keesokan harinya 'Umar demikian pula, lalu 'Ali menerima panji dan menaklukkannya (kotak putus-putus: tidak berhasil; nama benteng tidak disebut).

    Strateginya menurut Ibnu Ishaq: beliau berhenti di lembah ar-Raji', antara Ghathafan dan Khaibar, agar Ghathafan tidak dapat membantu; di Khaibar beliau bermalam dan, karena tidak terdengar adzan, pagi harinya berjalan menyerang dan bertemu para pekerja Khaibar yang lari ketika melihat pasukan. Setelah itu benteng ditaklukkan satu demi satu sambil harta diambil sedikit demi sedikit, dan dua benteng terakhir dikepung lebih dari sepuluh hari. Ibnu Hisyam tidak menggambarkan susunan barisan atau jumlah pasukan penduduk Khaibar.

    Soal denah. Kami memeriksa Ibnu Hisyam, Haykal, Wikipedia (Battle of Khaybar dan Khaybar), Madain Project, dan situs makkahlive.org (yang mengutip al-Waqidi). Semuanya menyebut tiga kawasan, yaitu Natat, asy-Syiqq, dan al-Katibah, tetapi tidak satu pun memberi arah antar benteng, sehingga sketsa ini disusun menurut urutan jatuhnya benteng dan bukan menurut letak. Oasis Khaibar sendiri berada sekitar 150 km di utara Madinah.

    PasukanJumlahPeran yang disebut Ibnu Hisyam
    Kaum Muslimin1.400 pejalan kaki dan 200 penunggang kuda (dasar pembagian harta)Panji putih pada 'Ali; wakil di Madinah Numailah bin 'Abdullah al-Laitsi; Muhammad bin Maslamah dan Zubair bin 'Awwam maju berduel; Abu Bakar dan 'Umar membawa panji ke satu benteng.
    Penduduk Khaibartidak disebutMarhab dan Yasir maju berduel; Kinanah bin Rabi' menyimpan harta Bani Nadhir; bertahan di benteng Na'im, al-Qamush, ash-Sha'b bin Mu'adz, al-Wathih, dan as-Sulalim.
    Ghathafantidak disebutSempat keluar untuk bergabung dengan orang Yahudi, tetapi kembali setelah mendengar derap di belakang mereka.

    Dari Haykal. Bagian ini bukan dari Ibnu Hisyam. Haykal menulis kaum Muslimin menempuh jarak ke Khaibar dalam tiga hari dan tiba tanpa diketahui penduduknya sampai para pekerja melihat mereka di pagi hari. Menurut Haykal, setelah mendengar Sallam bin Misykam, orang Yahudi menyimpan harta dan anak-anak di al-Wathih dan as-Sulalim, menaruh persenjataan di Na'im, dan menempatkan prajurit di Natat; kedua pasukan bertemu di Natat pada hari pertama dengan lima puluh orang Muslim terluka. Al-Harits bin Abu Zainab, pengganti Sallam bin Misykam yang tewas, menyerang dari Na'im dan dipukul mundur oleh Bani Khazraj. Haykal menulis Na'im jatuh setelah Abu Bakar dan 'Umar gagal dan 'Ali berhasil, lalu al-Qamus, lalu ash-Sha'b bin Mu'adz yang menyelesaikan kekurangan makanan, lalu az-Zubair yang airnya diputus, dan terakhir al-Wathih dan as-Sulalim di al-Katibah.

    Dari sumber lain. Bagian ini bukan dari Ibnu Hisyam, dan belum kami periksa pada kitab asalnya. Menurut artikel Wikipedia Battle of Khaybar (https://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Khaybar), kaum Muslimin berjumlah 1.400 sampai 1.800 orang dengan 100 sampai 200 kuda (bagian ini ditandai butuh rujukan), pihak Yahudi disebut sekitar 10.000, dan Ghathafan 4.000 yang dicegah membantu; korban disebut 93 orang Yahudi dan 18 Muslim di bagian pembuka artikel (sekitar 20 Muslim gugur dan 50 terluka di kotak informasi); pengepungan al-Qamus berlangsung antara tiga belas dan sembilan belas hari; waktunya Maret atau April 628 M (Muharram 7 H). Artikel itu menyebut tiga belas benteng dan membagi oasis menjadi al-Natat, al-Shikk, dan al-Katiba tanpa menetapkan benteng mana berada di kawasan mana.

    Perbedaan sumber

    Jumlah pasukan. Ibnu Hisyam menulis harta dibagi atas seribu delapan ratus bagian dengan seribu empat ratus pejalan kaki dan dua ratus penunggang kuda. Haykal menulis kaum Muslimin berangkat seribu enam ratus orang, termasuk seratus penunggang kuda. Khan tidak menyebut jumlah.
    Waktu berangkat. Ibnu Ishaq menulis beliau menetap di Madinah selama Dzulhijjah dan beberapa hari Muharram, lalu berangkat pada akhir Muharram. Haykal menulis beliau baru lima belas hari (menurut riwayat lain, sebulan) kembali dari Hudaibiyah ketika memerintahkan persiapan.
    Benteng yang direbut 'Ali. Ibnu Ishaq menulis Abu Bakar, lalu 'Umar, gagal menaklukkan "salah satu benteng" tanpa menyebut namanya, lalu 'Ali menaklukkannya dengan panji; menurut Abu Rafi' dalam Ibnu Ishaq, 'Ali memakai pintu benteng sebagai perisai. Haykal menyebut bentengnya Na'im dan menulis 'Ali memakai pintu itu sebagai jembatan kecil bagi pasukannya.
    Urutan benteng. Ibnu Ishaq: Na'im, al-Qamush, ash-Sha'b bin Mu'adz, lalu al-Wathih dan as-Sulalim sebagai yang terakhir. Haykal menambah benteng az-Zubair, yang lama dikepung dan airnya diputus, sebelum al-Wathih dan as-Sulalim di kawasan al-Katibah; benteng az-Zubair tidak disebut dalam teks bab ini.
    Pimpinan pihak Yahudi. Haykal menulis Sallam bin Misykam memimpin pasukan di Natat, lalu al-Harits bin Abu Zainab menggantikannya setelah ia tewas. Ibnu Ishaq tidak menyebut Sallam bin Misykam sebagai panglima; ia menyebutnya hanya sebagai suami Zainab binti al-Harits.
    Kinanah bin Rabi'. Ibnu Ishaq: Zubair menyalakan api di dadanya, lalu beliau menyerahkannya kepada Muhammad bin Maslamah yang memenggalnya. Haykal hanya menulis Kinanah dibunuh.
    Zainab binti al-Harits. Ibnu Ishaq menulis beliau memaafkannya. Haykal menulis kebanyakan penulis menyebut beliau memaafkannya, sedangkan sebagian menyebut ia dibunuh.
    Fadak. Ibnu Ishaq menulis orang Fadak yang mengirim utusan untuk berdamai. Haykal menulis beliau yang mengirim pesan kepada orang Fadak.

    1. Berangkat ke Khaibar

      Akhir Muharram tahun ketujuh

      Sekembalinya dari Hudaibiyah, beliau menetap di Madinah selama Dzulhijjah dan beberapa hari Muharram, saat kendali haji ada di tangan orang musyrik, lalu berangkat ke Khaibar pada akhir Muharram. Ibnu Hisyam menyebut Numailah bin 'Abdullah al-Laitsi sebagai imam sementara di Madinah dan panji putih diserahkan kepada 'Ali bin Abu Thalib.

      Baca selengkapnya

      Muhammad bin Ishaq berkata: Sekembalinya dari Hudaibiyah, beliau menetap di Madinah selama bulan Dzulhijjah dan beberapa hari dari bulan Muharram. Saat itu kendali pengurusan haji berada di tangan orang-orang musyrik. Pada akhir bulan Muharram beliau berangkat ke Khaibar.

      Beliau menjadikan Numailah bin 'Abdullah bin al-Laitsi sebagai imam sementara di Madinah dan menyerahkan panji perang yang berwarna putih kepada 'Ali bin Abu Thalib.1

    2. 'Amir bin al-Akwa'

      Syair di perjalanan dan wafat oleh pedangnya sendiri

      Di perjalanan beliau meminta 'Amir bin al-Akwa' berhenti dan membacakan syair, dan beliau mendoakan rahmat baginya. 'Amir gugur di Khaibar oleh pedangnya sendiri, sehingga kaum Muslimin ragu tentang kematiannya; beliau bersabda ia syahid dan menyalatinya.

      Baca selengkapnya

      Muhammad bin Ibrahim bin al-Harits at-Taimi berkata kepadaku dari Abu al-Haitsam bin Nashr bin Dahr al-Aslami bahwa ayahnya berkata padanya ia mendengar Rasulullah bersabda kepada 'Amir bin al-Akwa' paman Salamah bin 'Amr al-Akwa' saat kepergiannya ke Khaibar. Al-Akwa' bernama asli Sinan: 'Wahai Ibnu al-Akwa', berhentilah dan perdengarkan kepada kami tentang syair dan berita-berita yang ada pada dirimu." 'Amir bin al-Akwa' berhenti, lalu membacakan syair tentang Rasulullah:2

      Demi Allah, kalau bukan karena Allah, tiadalah kita dapatkan petunjuk

      Tanpanya, tiada mungkin kita sedekah dan shalat

      Sesungguhnya kami adalah kaum jika ada menzalimi kami

      Jika mereka menginginkan huru-hara, kami akan lawan mereka

      Maka ketenangan turun kepada kami

      Dan kaki kami kokoh saat berhadapan dengan mereka

      Beliau bersabda kepada 'Amir bin al-Akwa': " Semoga Allah merahmatimu." 'Umar bin Khaththab berkata: "Wahai Rasulullah, apakah kita masih lama hidup … nikmat bersamanya." 'Amir bin al-Akwa' gugur sebagai syahid pada Perang Khaibar. Ia gugur karena pedang miliknya sendiri pada saat ia bertempur, pedang itu melukainya sangat parah sehingga ia meninggal karenanya. Kaum Muslimin ragu-ragu tentang kematiannya sehingga mereka berkata: "Senjatanya telah membunuh dirinya." Oleh sebab itu keponakannya, Salamah bin 'Amr bin al-Akwa', bertanya kepada beliau prihal tersebut dan melaporkan perkataan kaum Muslimin perihal kematian 'Amir bin al-Akwa'. Beliau bersabda: "Ia gugur sebagai syahid." Lalu beliau mensalati 'Amir bin al-Akwa' yang diikuti kaum Muslimin.3

    3. Tiba di Khaibar

      Doa beliau dan para pekerja yang lari

      Saat melihat Khaibar beliau menyuruh berhenti dan berdoa memohon kebaikan kota itu dan berlindung dari keburukannya; doa ini selalu beliau ucapkan setiap memasuki perkampungan. Menurut Anas bin Malik, beliau tidak menyerang sebelum pagi dan menahan diri bila terdengar adzan; di Khaibar tidak terdengar adzan, lalu para pekerja Khaibar yang membawa sekop dan keranjang melihat pasukan dan lari, dan beliau bertakbir.

      Baca selengkapnya

      Di saat beliau melihat Khaibar, beliau bersabda kepada para sahabatnya, dan saat itu aku ada di tengah-tengah mereka: "Berhentilah kalian!" Kemudian beliau berdoa, "Ya Allah Tuhan langit dan apa saja yang dinaunginya, Tuhan bumi dan apa saja yang terkandung di dalamnya, Tuhan setan dan apa saja yang disesatkannya, Tuhan angin dan apa saja yang diterbangkannya, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan dari kota ini, dan kebaikan penduduknya dan apa yang ada di dalamnya. Kami berlindung diri kepada-Mu dari keburukan kota ini, dari keburukan penduduknya dan yang ada di dalamnya. Majulah dengan nama Allah(Bismillah)!" Doa tersebut selalu diucapkan setiap kali beliau memasuki sebuah perkampungan.4

      Apabila beliau bermaksud menyerang sebuah kaum, beliau tidak menyerang mereka hingga menjelang pagi hari. Apabila beliau mendengar kumandang adzan beliau menahan diri dan tidak menyerbunya, apabila tidak mendengar adzan maka beliau menyerangnya. Pada saat berhenti di Khaibar di malam hari beliau bermalam hingga pagi hari, namun tidak mendengar adzan. Beliau kemudian berjalan sementara kami mengikutinya. Pada saat itu, aku berjalan di belakang Abu Thalhah dan kakiku menyentuh kaki Rasulullah. Pada saat itu kami bertemu dengan para pekerja di Khaibar yang berangkat dengan sekop dan keranjang. Pada saat mereka melihat Rasulullah dan pasukannya, mereka berkata: "Muhammad datang bersama pasukannya." Mereka lari pontang panting, lalu Rasulullah bertakbir: "Allahu Akbar", Allah Mahabesar, hancurlah Khaibar. Sesungguhnya apabila kami turun tempat sebuah kaum, maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu."5

      Harun menuturkan kepada kami dari Humaid dari Anas bin Malik dengan penuturan yang serupa dengan kisah di atas.26

    4. Rute dan Ghathafan

      Ishr, ash-Shahba', dan lembah ar-Raji'

      Dalam perjalanan ke Khaibar beliau melintasi Ishr dan membangun masjid di sana, lalu melewati ash-Shahba' dan turun ke lembah ar-Raji', berhenti di antara penduduk lembah itu dan Ghathafan agar Ghathafan tidak membantu Khaibar. Ghathafan sempat keluar, tetapi mendengar derap suara di belakang mereka, mengira dikejar, lalu kembali ke rumah.

      Baca selengkapnya

      Pada saat Rasulullah ke luar dari Madinah menuju Khaibar, beliau melintasi Ishr dan membangun masjid di tempat itu. Lalu melintasi ash-Shahba'. Beliau dan pasukannya terus berjalan hingga menuruni lembah yang dinamakan ar-Raji' kemudian berhenti di tempat yang terletak di antara penduduk lembah tersebut dengan penduduk Ghathafan dengan tujuan menghalangi mereka memberi bantuan kepada penduduk Khaibar, karena penduduk Ghathafan mereka pernah membantu penduduk Khaibar dalam melawan Rasulullah. Pada saat penduduk Ghathafan mendengar keberadaan Rasulullah di Khaibar, mereka bersatu untuk memerangi beliau dan keluar untuk bergabung dengan orang-orang Yahudi dalam memerangi Rasulullah. Baru saja berjalan beberapa langkah mereka mendengar derap suara dari belakang mereka. Mereka mengira bahwa kaum Muslimin mengejar mereka. Karenanya mereka kembali pulang dan menetap di rumah-rumah mereka dan menjaga harta-harta mereka, dan tidak ikut campur dengan apa yang terjadi antara beliau dan penduduk Khaibar.2

    5. Benteng-benteng pertama

      Na'im, al-Qamush, dan Shafiyah

      Beliau menaklukkan benteng satu demi satu; yang pertama Benteng Na'im, tempat Mahmud bin Maslamah terbunuh oleh batu penggiling yang dilempar dari atas. Berikutnya Benteng al-Qamush milik Bani Abu al-Huqaiq, tempat Shafiyah binti Huyay ditawan; beliau memilihnya untuk diri beliau dan memberikan dua putri paman Shafiyah kepada Dihyah al-Kalbi.

      Baca selengkapnya

      Secara berangsur-angsur Rasulullah dan pasukannya mendekati harta kekayaan mereka dan mengambilnya sedikit demi sedikit begitu juga beliau taklukan Benteng penduduk Khaibar satu demi satu. Dan Benteng penduduk Khaibar yang pertama kali ditaklukkan ialah Benteng Na'im. Di situ, Mahmud bin Maslamah terbunuh dikarenakan lemparan batu penggiling yang dilemparkan dari atas benteng tersebut.2

      Kemudian Benteng al-Qamush, bentengnya Bani Abu al-Huqaiq. Dari orang-orang tersebut, Rasulullah memperoleh tawanan-tawanan wanita, dan di antara tawanan tersebut adalah Shafiyah bin Huyay bin Akhthab yang saat itu adalah istri dari Kinanah bin Rabi' bin Abu al-Huqaiq beserta dua putri pamannya dari jalur ayahnya. Beliau memilih Shafiyah binti Huyay bin Akhthab untuk diri beliau sendiri. Awalnya, Dihyah bin Khalifah al-Kalbi meminta Shafiyah binti Huyay bin Akhthab dari Rasulullah, akan tetapi karena beliau memilihnya untuk dirinya sendiri, maka beliau berikan ke dua putri paman Shafiyah kepada Dihyah bin Khalifah al-Kalbi sebagai gantinya. Para tawanan wanita Khaibar tersebut dibagikan kepada kaum Muslimin secara merata.7

    6. Larangan di Khaibar

      Keledai jinak, tawanan hamil, jual-beli

      Kaum Muslimin memakan keledai jinak dan beliau melarangnya. Makhul menyebut empat larangan di Khaibar: menggauli tawanan hamil, memakan keledai jinak, memakan binatang buas bertaring, dan menjual rampasan sebelum dibagi; riwayat lain menyebut daging kuda boleh, serta larangan tukar-menukar emas dengan emas dan perak dengan perak.

      Baca selengkapnya

      Kaum Muslimin memakan daging keledai yang jinak milik orang-orang Khaibar, lalu beliau berdiri dan melarang beberapa hal yang Rasulullah sebutkan kepada Muslimin.2

      Telah sampai ke telinga kami tentang larangan Rasulullah dari memakan daging keledai jinak di saat periuk-periuk sedang mendidih memasaknya, maka kami pun berhenti dari menyantapnya.8

      Pada Perang Khaibar, beliau melarang empat hal; menggauli tawanan wanita yang sedang hamil, memakan keledai jinak, memakan binatang buas yang memiliki taring, dan menjual rampasan perang hingga dibagikan.9

      Pada saat beliau melarang kaum Muslimin memakan daging keledai jinak, maka beliau membolehkan mereka memakan daging kuda.10

      Kami memerangi kawasan Maghribi bersama Ruwaifi' bin Tsabit al-Anshari dan kami pun berhasil menaklukkan salah satu desa Maghrib yang bernama Jarbah. Ruwaifi' berdiri lalu berkhutbah di tengah kami: "Wahai manusia, sesungguhnya aku tidak mengatakan sesuatu kepada kalian kecuali seperti perkataan yang pernah aku dengar dari beliau pada Perang Khaibar. Saat itu beliau berdiri, lalu bersabda: Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir mengalirkan airnya ke tanaman orang lain. Yakni tidak boleh menggauli tawanan wanita yang hamil. Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir untuk menggauli salah satu tawanan wanita hingga ia dia suci dari Haidh. Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir untuk menjual rampasan perang hingga dibagi. Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir menaiki hewan kendaraan dari fay'i (rampasan perang) kaum Muslimin sampai kurus melainkan ia harus mengembalikan keadaannya seperti sedia kala. Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir untuk memakai pakaian dari fay'i kaum Muslimin hingga rusak melainkan ia harus mengembalikannya seperti sedia kala."11

      Ibnu Ishaq: Yazid bin 'Abdullah bin Qusaith berkata kepadanya bahwa ia diberitahu dari 'Ubadah bin ash-Shamit dimana dia berkata pada Perang Khaibar: beliau melarang kita menjual atau membeli biji emas dengan uang logam emas serupa dan biji perak dengan logam perak serupa. Beliau bersabda: "Belilah biji emas dengan uang logam perak dan biji perak dengan uang logam emas."12

    7. Benteng ash-Sha'b bin Mu'adz

      Bani Sahm dari Aslam kelaparan

      Beliau terus mengambil harta dan menaklukkan benteng-benteng. Beberapa orang Bani Sahm dari Aslam datang berkata mereka kelaparan, dan beliau berdoa agar Allah menaklukkan benteng yang paling besar dan paling banyak makanannya; tak lama kemudian benteng ash-Sha'b bin Mu'adz jatuh dan tidak ada benteng di Khaibar yang lebih banyak makanannya.

      Baca selengkapnya

      Setelah itu beliau mulai mengambil harta mereka secara berangsur dan menaklukkan benteng-benteng Khaibar satu demi satu.2

      'Abdullah bin Abu Bakr menuturkan kepadaku bahwa ia diberitahu bahwa sesungguhnya beberapa orang dari Bani Sahm dari Aslam datang menemui Rasulullah dan berkata: "Wahai Rasulullah demi Allah, kami kelaparan dan tidak punya apa-apa lagi." Dan pada saat itu, beliau tidak mempunyai apa-apa yang bisa diberikan kepada mereka. Beliau bersabda: "Ya Allah, Engkau Mahatahu keadaan mereka, mereka tidak memiliki kekuatan, sementara aku tidak memiliki apa-apa yang biasa aku berikan kepada mereka. Maka taklukkan buat mereka benteng yang paling besar, paling kaya, banyak makanan dan paling banyak gizinya. Kemudian Bani Sahm pun pergi dan tidak lama berselang Allah menaklukkan benteng ash-Sha'b bin Mu'adz di tangan mereka. Dan tidaklah ada satu benteng di Khaibar yang lebih banyak makanan dan gizinya dari benteng ini.213

    8. Marhab

      Muhammad bin Maslamah menghadapinya

      Setelah beberapa benteng jatuh beliau tiba di al-Wathih dan as-Sulalim, benteng terakhir yang ditaklukkan, dan mengepungnya lebih dari sepuluh hari. Marhab keluar dengan senjata lengkap; Muhammad bin Maslamah maju untuk membalas kematian saudaranya, dan setelah berlindung bergantian di balik pohon Usyar yang roboh, ia membunuh Marhab.

      Baca selengkapnya

      Sesudah berhasil menaklukkan beberapa benteng dari benteng-benteng Khaibar dan berhasil menguasai harta kekayaannya, Rasulullah meneruskan perjalanan hingga tiba di dua benteng, yaitu al-Wathih dan as-Sulalim. Keduanya adalah benteng terakhir yang ditaklukkan kaum Muslimin. Beliau mengepung mereka selama sepuluh hari lebih.2

      Slogan perang para sahabat Rasulullah pada Perang Khaibar adalah ya manshuur (wahai yang mendapat pertolongan), amit (bunuhlah), amit (bunuhlah).1

      Marhab si orang Yahudi itu keluar dari benteng dengan senjata lengkap.14

      Rasulullah bersabda: "Siapakah yang bersedia berhadapan dengan Marhab?' Muhammad bin Maslamah berkata: "Aku, wahai Rasulullah. Demi Allah, aku ingin membalas dendam karena kemarin saudaraku terbunuh." Rasulullah bersabda: "Berdiri dan hadapilah dia. Ya Allah, tolonglah dia!" Ketika keduanya telah saling mendekat satu sama lainnya, tiba-tiba pohon tua di antara pohon Usyar roboh di antara keduanya. Maka masing-masing dari keduanya berlindung dari lawannya di balik pohon itu. Setiap kali keduanya berlindung di balik pohon tersebut, lawannya memotong pohon yang menghalanginya dengan pedang hingga keduanya tampak oleh lawannya, kemudian keduanya seperti satu orang yang berdiri, dan di antara keduanya tidak ada lagi dahan pohon yang menghalanginya. Marhab menyerang Muhammad bin Maslamah dan memukulnya dengan pedang, namun Muhammad bin Maslamah tertahan oleh perisainya yang terbuat dari kulit. Pedang Marhab tertahan di perisai kulit Muhammad bin Maslamah. Dalam kondisi seperti itu kemudian Muhammad bin Maslamah memukul Marhab hingga tewas.1516

    9. Yasir

      Zubair bin 'Awwam menghadapi saudara Marhab

      Yasir, saudara Marhab, menantang duel. Shafiyah binti 'Abdul Muththalib khawatir bila Zubair akan terbunuh, tetapi beliau bersabda bahwa Zubair yang akan membunuhnya; Zubair maju dan membunuh Yasir.

      Baca selengkapnya

      Setelah Marhab terbunuh, majulah saudaranya yang bernama Yasir. Ia berkata dengan penuh tantangan: "Siapa yang berani duel denganku?" Hisyam bin 'Urwah mengira bahwa Zubair bin 'Awwam akan maju untuk berhadapan dengan Yasir. Ibu Zubair, Shafiyah binti 'Abdul Mutha lib, berkata: "Wahai Rasulullah, apakah dia akan membunuh anakku?" Rasulullah bersabda: "Tidak, sebaliknya, anakmu lah yang akan membunuhnya, insya Allah." Zubair bin 'Awwam pun maju. Keduanya bertarung dan akhirnya Zubair bin 'Awwam berhasil membunuh Yasir.2

      Hisyam bin 'Urwah meriwayatkan kepadaku bahwa jika dikatakan kepada Zubair bin 'Awwam: "Demi Allah, saat itu pedangmu tajam sekali." Ia menjawab: "Demi Allah, bukan pedangku yang tajam, namun aku memaksanya agar menjadi tajam."217

    10. 'Ali dan panji

      Abu Bakar dan 'Umar gagal, 'Ali membawa pintu benteng

      Salamah bin al-Akwa' menceritakan bahwa Abu Bakar membawa panji putih ke salah satu benteng tetapi pulang lelah, lalu 'Umar juga demikian. Beliau bersabda akan memberikan panji kepada orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya; 'Ali yang sakit mata diludahi matanya dan membawa panji, hingga menaklukkan benteng itu. Menurut Abu Rafi', 'Ali memakai pintu benteng sebagai perisai dan setelah menang melepaskannya, padahal delapan orang tidak sanggup mengangkatnya.

      Baca selengkapnya

      "Rasulullah mengutus Abu Bakar ash-Shiddiq dengan panji perangnya yang berwarna putih, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hisyam, ke salah satu benteng Khaibar. Abu Bakar pun berjuang untuk menaklukkannya, namun ia tidak berhasil dan pulang kembali dalam kondisi lelah.18

      Keesokan harinya Rasulullah mengirim 'Umar bin Khaththab. 'Umar pun berjuang untuk menaklukkan benteng tersebut, namun diapun gagal dan mengalami kelelahan yang sama. Kemudian Rasulullah bersabda: "Besok pagi, panji ini niscaya aku berikan kepada orang yang mencintai Allah dan mencintai Rasul-Nya. Allah akan memberi kemenangan melalui tangannya dan ia bukan orang yang melarikan diri."

      Rasulullah memanggil 'Ali bin Abu Thalib yang pada saat itu sedang menderita sakit mata. Rasulullah meludahi matanya seraya bersabda: "Ambillah panji perang ini, majulah dengannya hingga Allah memberi kemenangan bagimu." Demi Allah, saat itu 'Ali bin Abu Thalib dengan nafas terengah-engah sambil berlari-lari kecil dan kami saat itu berada di belakang mengikutinya-hingga ia menancapkan panji perang pada tumpukan batu yang berada di bawah benteng. Seorang Yahudi melihat 'Ali bin Abu Thalib dari atas benteng seraya bertanya: "Siapakah kamu?" 'Ali bin Abu Thalib menjawab: "Aku 'Ali bin Abu Thalib." Orang Yahudi tersebut berkata: "Demi kitab yang diturunkan kepada Musa. Kalian telah menang." 'Ali bin Abu Thalib tidak kembali sebelum berhasil menaklukkan benteng tersebut dengan tangannya.

      Aku pergi bersama 'Ali bin Abu Thalib saat ia dikirim oleh Rasulullah dengan membawa panji perang. Pada saat 'Ali bin Abu Thalib telah mendekat ke benteng yang akan ditaklukkannya, dengan serta merta penghuni benteng itu keluar melawan 'Ali bin Abu Thalib. Maka terjadilah pertempuran antara 'Ali bin Abu Thalib dengan mereka. Salah seorang Yahudi memukul 'Ali bin Abu Thalib yang membuat perisainya terlempar dari tangannya, kemudian 'Ali bin Abu Thalib mengambil salah satu pintu gerbang benteng itu untuk membentengi dirinya dari serangan musuh. Pintu gerbang itu dipegang 'Ali bin Abu Thalib hingga akhirnya Allah memberi kemenangan padanya. Setelah itu barulah ia melepaskan pintu gerbang tersebut. Demikianlah yang terjadi. Padahal kami dengan jumlah delapan orang saja tidak sanggup mengangkat pintu gerbang itu.19

    11. Abu al-Yasar Ka'ab bin 'Amr

      Dua ekor kambing di waktu senja

      Abu al-Yasar menceritakan bahwa pada suatu senja ia menangkap dua ekor kambing milik orang Yahudi yang hendak pulang ke benteng untuk dimakan kaum Muslimin; beliau berdoa agar mereka diberi kenikmatan dengannya. Ia sahabat yang terakhir wafat dan bila bercerita ia menangis.

      Baca selengkapnya

      Buraidah bin Sufyan al-Aslami meriwayatkan kepadanya dari beberapa orang dari Bani Salimah dari Abu al-Yasar Ka'ab bin 'Amr, ia berkata: Demi Allah, pada suatu senja ketika kami bersama beliau di Khaibar. Lalu datanglah sekawanan kambing milik orang Yahudi yang hendak balik ke benteng mereka pada saat kami sedang mengepungnya. Rasulullah bersabda: "Siapakah yang menyajikan makanan untuk kita dengan kambing-kambing tersebut?" Aku menjawab: "Aku wahai Rasulullah." Rasulullah bersabda: "Kerjakanlah." Aku pun berlari kencang laksana burung unta. Saat Rasulullah melihatku berlari, beliau bersabda: "Ya Allah, berilah kami kenikmatan dengannya." Aku berhasil menangkap dua ekor dari kawanan kambing tersebut lalu mendekapnya dan berlari kencang membawa keduanya seperti orang yang tidak membawa apa-apa lalu memberikannya kepada Rasulullah. Kemudian kaum Muslimin pun menyembelih kedua kambing itu dan menyantapnya bersama-sama. Abu al-Yasar merupakan sahabat beliau yang paling terakhir meninggal dunia. Jika ia menceritakan peristiwa ini, pasti ia menangis. Abu al-Yasar berkata: "Demi Allah, mereka diberi kenikmatan dengan jalanku hingga aku menjadi orang yang terakhir kali meninggal dunia diantara mereka."220

    12. Shafiyah binti Huyay

      Mimpi bulan dan lebam di matanya

      Bilal membawa Shafiyah dan seorang wanita lain melewati korban Yahudi; wanita itu menjerit dan beliau menyuruhnya dijauhkan, lalu menaungi Shafiyah dengan selendangnya sehingga para sahabat paham beliau memilihnya. Shafiyah pernah bermimpi bulan jatuh ke pangkuannya, dan suaminya, Kinanah, menamparnya hingga mata biru lebam karena menyangka ia menginginkan Muhammad.

      Baca selengkapnya

      Saat beliau berhasil menguasai al-Qamush benteng milik Bani Abu al-Huqaiq, Shafiyah binti Huyay bin Akhthab dan seorang wanita lainnya dibawa kepada beliau. Bilal adalah orang yang mendatangkan keduanya, dia dan kedua wanita tersebut melewati korban orang-orang Yahudi. Ketika wanita yang bersama Shafiyah melihat korban-korban orang-orang Yahudi itu, ia berteriak mencakar-cakar wajahnya, dan menaburkan tanah ke kepala. Saat beliau melihatnya beliau bersabda: "Jauhkanlah wanita setan ini dariku!" Rasulullah memerintahkan Shafiyah berjalan di belakangnya dan memakaikan selendang miliknya kepada Shafiyah. Kaum Muslimin pun memahaminya, bahwa beliau memilih Shafiyah untuk dirinya. Rasul bersabda kepada Bilal: "Wahai Bilal, sungguh rasa kasih sayang telah hilang dari dirimu tatkala engkau berjalan bersama dua wanita ini melewati korban (para suami) keduanya." Shafiyah, yang sebelumnya adalah istri Kinanah bin Rabi' Abu al-Huqaiq, pernah bermimpi kejatuhan bulan dalam pangkuannya, Lalu ia menceritakan mimpi itu kepada suaminya. Kemudian suaminya berkata: "Ini menunjukan bahwa engkau menginginkan raja Hijaz, yaitu Muhammad." Usai berkata demikian, Kinanah menamparnya hingga membuat matanya biru memar. Ketika Shafiyah dibawa menghadap Rasulullah, bekas biru memar itu masih jelas terlihat. Beliau pun menanyakan yang menyebabkan matanya biru memar itu kepada Shafiyah. Shafiyah pun menceritakan kisahnya kepadanya.2

    13. Kinanah dan Fadak

      Harta simpanan, penyerahan dua benteng, setengah hasil kebun

      Kinanah bin Rabi' menyembunyikan harta Bani Nadhir; setelah seorang Yahudi menunjukkan tempatnya, harta sebagian digali, lalu beliau menyuruh Zubair menyiksanya dan menyerahkannya kepada Muhammad bin Maslamah, yang memenggalnya karena kematian Mahmud. Penduduk al-Wathih dan as-Sulalim meminta dibiarkan pergi, dan beliau mengabulkannya; orang Fadak mengirim utusan dengan permintaan yang sama. Khaibar menjadi fay' kaum Muslimin, sedangkan Fadak khusus untuk beliau.

      Baca selengkapnya

      Kinanah bin Rabi' dibawa menghadap kepada Rasulullah, karena kekayaan Bani Nadhir ada dalam kekuasaannya. Beliau menanyakan kekayaan tersebut kepada Kinanah, namun ia tidak mengakuinya. Kemudian, salah seorang Yahudi yang lain datang menghadap kepada Rasulullah lalu ia berkata: "Aku sering menyaksikan Kinanah mengelilingi reruntuhan benteng tersebut setiap pagi." Rasulullah bersabda kepada Kinanah bin Rabi: "Bagaimana pendapatmu bila kami menemukannya padamu maka kami akan membunuhmu?" Kinanah bin Rabi' menjawab: "Silahkan!" Beliau menyuruh para sahabat untuk menggali reruntuhan benteng itu, hingga akhirnya sebagian kekayaan orang-orang Khaibar dapat dikeluarkan dari dalamnya. Kemudian Rasulullah bertanya kepada Kinanah bin Rabi' tentang kekayaan lainnya, namun ia masih saja menutup mulutnya. Lalu Rasulullah bersabda kepada Zubair bin 'Awwam: "Siksa dia hingga engkau bisa mengorek tuntas apa yang di dadanya." Zubair bin 'Awwam menyalakan api dengan batang kayu di dada Kinanah bin Rabi', kemudian Rasulullah mendorongnya kepada Muhammad bin Maslamah, kemudian dia memenggal kepalanya sebagai balasan atas kematian saudaranya, Mahmud bin Maslamah.

      Rasulullah mengepung penduduk Khaibar di kedua benteng al-Wathih dan as-Sulalim. Pada saat telah yakin kalah, penduduk khaibar meminta beliau untuk membiarkan mereka pergi dan tidak membunuhnya. Rasulullah pun mengabulkan permintaan mereka. sebelumnya, beliau telah berhasil menguasai seluruh harta penduduk Khaibar; asy-Syiqq, Nathah, dan al-Katibah dan seluruh bentengnya kecuali dua benteng yakni benteng al-Wathih dan as-Sulalim. Saat orang-orang Fadak mendengar apa yang dilakukan oleh penduduk Khaibar, mereka mengutus seseorang menemui Rasulullah untuk meminta beliau membiarkan mereka pergi tidak membunuhnya dan mereka akan meninggalkan seluruh harta kekayaan mereka untuk Rasul. Beliau pun memenuhi permintaan mereka.

      Di antara orang yang menjadi mediator antara mereka dan Rasulullah pada masalah ini ialah Muhayyishah bin Mas'ud dari Bani Haritsah. Penduduk Khaibar memohon kepada Rasulullah untuk membagi dua hasil dari kebun mereka. Mereka berkata: "Kami lebih tahu tentang pengurusan kebun tersebut dan lebih mampu memakmurkannya daripada kalian." Akhirnya, Rasulullah menyetujui permintaan itu, namun jika ingin mengusir mereka maka beliau berhak melakukannya. Rasulullah juga memperlalukan orang-orang Fadak dengan cara yang sama. Dengan demikian, Khaibar merupakan harta fay'i kaum Muslimin; adapun Fadak adalah milik khusus Rasulullah, karena kaum muslimin tidak menaklukkannya dengan membawa pasukan.21

    14. Domba beracun

      Zainab binti al-Harits

      Zainab binti al-Harits, istri Sallam bin Misykam, menghadiahkan domba panggang yang diracuni; beliau mengunyah dan memuntahkannya, sedangkan Bisyr bin al-Barra' memakan dan wafat karenanya. Zainab mengaku dan beliau memaafkannya. Menjelang wafat beliau bersabda kepada ibu Bisyr bahwa urat yang putus berasal dari makanan itu, dan setelah Khaibar beliau mengepung Wadi al-Qura beberapa malam lalu pulang ke Madinah.

      Baca selengkapnya

      Pada saat Rasulullah merasa tenang, Zainab binti al-Harits istri Sallam bin Misykam memberinya hadiah berupa seekor domba guling. Sebelumnya Zainab telah menanyakan tentang bagian domba yang paling disukai oleh Rasulullah. Maka diberitahukan padanya bahwa yang beliau sukai adalah bagian paha. Maka Zainab pun menaburkan racun sebanyak-banyaknya pada bagian paha kambing itu dan meracuni seluruh bagian kambing lalu menyuguhkannya kepada beliau. Beliau pun mengambil bagian paha kambing itu, lalu mengunyahnya dan kemudian memuntahkannya. Sedang Bisyr bin al-Barra bin Ma'rur yang saat itu berada bersamanya memakan dan menelannya. Beliau bersabda: "Sesungguhnya tulang kambing itu memberitahu aku bahwa ia mengandung racun." Rasulullah memanggil Zainab dan iapun mengakui bahwa dirinya telah meracuni domba bakar tersebut. Beliau bertanya padanya: "Mengapa engkau melakukan semua ini?" Zainab menjawab: "Engkau telah melakukan tindakan terhadap kaumku, sebagaimana yang engkau ketahui. Apabila dia seorang raja maka aku bisa merasa tenang dengan kematiannya dan apabila dia seorang nabi maka ia akan diberitahu oleh tuhan tentang racun itu."2

      Beliau pun memaafkan Zainab, sedang Bisyr meninggal dunia karena makanan yang telah dimakannya.

      Marwan bin 'Utsman bin Abu Sa'id al-Mu'alla meriwayatkan kepadaku bahwa beliau bersabda pada saat sakit yang menyebabkannya wafat, yaitu ketika ibunda Bisyr binti al-Barra' bin Ma'rur menjenguk beliau: "Wahai ibu Bisyr, aku rasa inilah waktunya, aku menemukan potongan urat dari makanan yang aku makan bersama saudaramu di Khaibar." Kaum muslimin beranggapan bahwa Rasulullah meninggal sebagai syahid di samping kenabian yang disandangnya.2

      Setelah Rasulullah berhasil menaklukan Khaibar, beliau berangkat ke arah Lembah al-Qura dan mengepung penduduknya dalam waktu beberapa malam, lalu beliau kembali pulang ke Madinah.222

    15. Budak hadiah Rifa'ah

      Mantel dari rampasan

      Seorang budak hadiah Rifa'ah bin Zaid al-Judzami gugur oleh panah di Wadi al-Qura; beliau bersabda mantel yang ia pakai membakarnya di neraka karena dicurinya dari fay' Khaibar, dan seorang sahabat yang mengambil tali sandal diberi peringatan serupa.

      Baca selengkapnya

      Kami berangkat bersama Rasulullah ke Lembah al-Qura dan tiba di sana pada waktu sore menjelang terbenamnya matahari. Ketika itu beliau ditemani oleh budak hadiah dari Rifa'ah bin Zaid al-Judzami adh-Dhabini.23

      Judzam saudara Lakhum.1

      Demi Allah, ketika budak tersebut meletakkan pelana milik Rasulullah, tiba-tiba ia mendapatkan serangan panah dari arah yang tidak jelas dan menyebabkannya gugur. Kami berkata: "Selamat, surga menjadi miliknya." Rasulullah bersabda: "Tidak, demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di TanganNya, sesungguhnya mantel yang dipakainya ini membakar dirinya di neraka. Ia telah mencurinya dari harta fay'i kaum Muslimin pada saat Perang Khaibar." Sabda Rasulullah tadi terdengar oleh salah seorang sahabatnya, kemudian ia datang kepada beliau dan berkata: "Wahai Rasulullah, aku pun telah mengambil tali untuk dua sandalku." Rasulullah bersabda: "Dua serupa dipotong untukmu di dalam neraka."24

    16. 'Abdullah bin Mughaffal

      Sekantong lemak

      'Abdullah bin Mughaffal mendapat sekantong lemak dari fay' Khaibar dan menolak membaginya; seorang lain berusaha merebutnya, beliau tersenyum dan menyuruh orang itu menyerahkannya kepadanya.

      Baca selengkapnya

      Seorang yang tidak aku ragukan integritasnya meriwayatkan dari 'Abdullah bin Mughaffal al-Muzani, ia berkata: Aku mendapatkan sekantong lemak dari fay'i Khaibar lalu aku meletakkannya di kendaraanku dan kendaraan sahabat-sahabatku. Aku berjumpa dengan orang yang memperoleh rampasan perang dimana ia berhak mendapatkannya. Ia berkata: "Mari sekantong lemak ini kita bagi di antara kaum Muslimin!" Aku berkata: "Demi Allah, aku tidak akan mengizinkannya." Namun orang itu tetap berusaha merebut kantong lemak itu dariku. Dan beliau melihat kami saat itu. Beliau pun tersenyum dan bersabda kepada orang tersebut: "Engkau tidak memiliki ayah." Berikanlah kantong lemak itu kepadanya!" Diapun melepas kantong lemak itu. Lalu aku membawa kantong lemak tersebut ke kendaraanku dan para sahabatku, kemudian menyantapnya bersama-sama.2

    17. Walimah dan Abu Ayyub

      Penjagaan di kemah, Bilal tertidur

      Beliau mengadakan pesta pernikahan dengan Shafiyah dan Ummu Sulaim yang merias; Abu Ayyub semalaman menjaga kemah dengan pedang terhunus karena khawatir, dan beliau mendoakannya. Dalam perjalanan pulang Bilal tertidur sehingga mereka bangun karena sengatan matahari; beliau bersabda siapa yang lupa shalat hendaknya shalat saat ingat.

      Baca selengkapnya

      Rasulullah melangsungkan pesta pernikahan dengan Shafiyah binti Huyay di Khaibar atau di salah satu perjalanan. Dan wanita yang merias Shafiyah binti Huyay untuk pernikahannya dengan Rasulullah, menyisir rambutnya, dan merapikannya adalah Ummu Sulaim binti Milhan ibunya Anas bin Malik. Rasulullah bermalam dengan Shafiyah binti Huyay di kemah beliau. Sedangkan Abu Ayyub Khalid bin Zaid dari Bani an-Najjar semalaman penuh menjaga dan mengitari kemah beliau dengan pedangnya yang terhunus. Pada keesokan harinya, ketika Rasulullah melihat Abu Ayyub berada di sekitar kemah, beliau bertanya: "Ada apa denganmu wahai Abu Ayyub?" Abu Ayyub menjawab: "wahai Rasulullah aku takut jika wanita ini mencelakaimu, karena engkau telah membunuh ayah, suami, dan kaumnya dan ia juga baru saja memeluk Islam, jadi, aku takut jika ia mencelakaimu." Para ulama berkeyakinan bahwa beliau berdoa: "Ya Allah, jagalah Abu Ayyub, sebagaimana ia semalam penuh menjaga diriku."2

      Ketika Rasulullah dalam perjalanan pulang dari Khaibar dan tiba di salah satu tempat pada akhir malam, beliau bersabda kepada para sahabat: "Siapa di antara kalian yang bersedia berjaga sampai shubuh untuk kita sehingga kita bisa tidur?" Bilal berkata: "Aku bersedia berjaga sampai shubuh untukmu, wahai Rasulullah." Beliau pun berhenti dan para sahabat pun ikut berhenti, lalu merekapun tidur. Kemudian Bilal shalat beberapa raka'at. Usai mengerjakan shalat, kemudian ia bersandar pada untanya untuk menanti datangnya shubuh tiba, akan tetapi ia tidak bisa mengalahkan rasa kantuk akhirnya dia pun tertidur pulas. Tidak ada yang membangunkan beliau dan para sahabat kecuali sengatan panas sinar matahari. Rasulullah bangun lebih awal dari sahabat-sahabatnya. Beliau bersabda: "Apa yang engkau perbuat terhadap kami, wahai Bilal?" Bilal menjawab: "Wahai Rasulullah Dzat yang membuatmu tidur membuatku tidur juga sebagaimana tidurmu." Rasulullah bersabda: "Engkau berkata benar." Kemudian Rasulullah menuntun untanya tidak terlalu jauh, lalu berhenti. Setelah itu Beliau berwudhu dan para sahabat pun mengikutinya, kemudian menyuruh Bilal mengumandangkan iqamah kemudian shalat bersama kaum Muslimin. Setelah mengucapkan salam, beliau menghadapkan badannya ke arah para sahabatnya sambil bersabda: "Apabila kalian lupa menunaikan shalat, maka shalatlah apabila kalian telah ingat, karena Allah Ta'ala berfirman: Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku (Thaha: 14). 1752526

    18. Wanita yang ikut

      Wanita Ghifariyah dan kalungnya

      Beberapa istri kaum Muslimin ikut ke Khaibar dan diberi sebagian fay', tanpa bagian khusus. Seorang wanita Bani Ghifar menceritakan bahwa ia diboncengkan beliau, mendapat haid pertama, disuruh bersuci dengan air bergaram, dan diberi kalung yang ia wasiatkan dimakamkan bersamanya.

      Baca selengkapnya

      Pada Perang Khaibar, Beberapa istri kaum Muslimin ikut hadir pada Perang tersebut bersama Rasulullah, kemudian beliau pun memberi mereka sebagian dari harta fay'i dan tidak menjadikan bagian khusus(As-Sahm) untuk mereka.2

      Aku menemui beliau bersama para wanita dari Bani Ghifar dan berkata: "Wahai Rasulullah, kami ingin ikut keluar bersamamu ke Khaibar, sehingga kami bisa mengobati orang yang terluka dan membantu kaum muslimin sesuai kemampuan kami."27

      Rasulullah bersabda: "Berangkatlah dengan berkah Allah." Kami pun berangkat bersama beliau. Pada saat itu, aku adalah seorang gadis yang belum balig. Oleh sebab itu, beliau memboncengku dan menempatkanku di tas pelana kudanya. Wanita dari Bani Ghifar tersebut berkata: "Demi Allah, pada saat beliau turun dari unta untuk Sholat Shubuh dan menghentikan untanya." Aku pun turun dari tas pelana unta beliau, ternyata di dalamnya terdapat darah haidku, dan itulah haidku yang pertama kali. Aku melompat ke arah unta sambil menahan malu. Pada saat beliau menyaksikan yang aku lakukan dan melihat darah, beliau bertanya: "Ada apa denganmu, mungkin engkau mengalami haid pertama kali?" Aku menjawab: "Ya, benar." Beliau bersabda: "Rapihkan dirimu dan ambillah bejana air kemudian masukkan garam ke dalamnya dan bersihkan tas pelana unta yang terkena darah dengan air garam itu, lalu naiklah kembali ke kendaraanmu." Wanita dari Bani Ghifar tersebut berkata: Pada saat beliau berhasil menaklukkan Khaibar, beliau memberi kami sebagian dari harta fay'i dan mengambil kalung yang kalian lihat di leherku ini, lalu memberikannya kepadaku, dan mengalungkannya dengan tangannya ke leherku. Demi Allah, kalung ini tidak aku lepas dariku selama-lamanya." Umayyah binti Abu ash-Shalt berkata: "Kalung tersebut tetap berada di leher wanita tersebut sampai ia meninggal dunia. Dia berwasiat agar kalung tersebut dimakamkan bersamanya. Dan tidaklah wanita itu bersuci dari haid kecuali dia juga memasukkan garam ke dalam air dan juga berwasiat agar ia dimandikan dengan air yang dicampuri garam jika meninggal dunia.28

    19. Syuhada Khaibar

      Nama-nama yang gugur

      Daftar syuhada dari Quraisy, Bani Asad, Bani Salimah, Bani Zuraiq, Aus, Bani 'Amr bin 'Auf, Bani Ghifar, Aslam, Bani Zuhrah, dan lainnya, termasuk Bisyr bin al-Barra' dan 'Amir bin al-Akwa'.

      Baca selengkapnya

      Berikut nama-nama syuhada' kaum Muslimin dari Quraisy, lalu Bani Umayyah bin 'Abdu Syams dan kolega-kolega mereka, yaitu: Rabi'ah bin Aktsam bin Sakhbarah bin 'Amr bin Lakiz bin 'Amir bin Ghanm bin Dudan bin Asad, Tsaqif bin 'Amr, Rifa'ah bin Masruh.2

      Syuhada' dari Bani Asad bin 'Abdul 'Uzza adalah 'Abdullah bin al-Hubaib Ibnu Hisyam berkata: Ada yang mengatakan al-Habib bin Uhaib bin Suhaim Bani Ghiyarah dari Bani Sa'd bin Laits kolega Bani Asad dan anak saudara perempuan mereka.

      Syuhada' dari kaum Anshar, kemudian dari Bani Salimah adalah sebagai berikut: Bisyr bin al-Barra' bin Ma'rur ia meninggal dunia karena memakan daging kambing beracun yang disiapkan Zainab Binti Haritsah untuk Rasulullah, Fudhail bin an-Nu'man. Maka jumlah seluruhnya dua orang. Dari Bani Zuraiq adalah Mas'ud bin Sa'd bin Qais bin Khaladah 'Amir bin Zuraiq. Dari kalangan al-Aus kemudian dari Bani 'Abdul Asyhal adalah Mahmud bin Maslamah bin Khalid bin 'Adi bin Majda'ah bin Haritsah bin al-Haritsah. Ia kolega mereka dari Bani Haritsah. Dari Bani 'Amr bin 'Auf adalah sebagai berikut: Abu Dhayyah bin Tsabit bin an-Nu'man bin Umayyah bin Umru'ul Qais bin Tsa'labah bin 'Amr bin 'Auf, al-Harits bin Hathib, 'Urwah bin Murrah bin Suraqah, Aus bin al-Qaid, Unaif bin Hubaib, Tsabit bin Atslah dan Thalhah.

      Sedangkan syuhada' dari Bani Ghifar adalah 'Umarah bin 'Uqbah. Ia terkena bidikan panah. Dari Aslam adalah sebagai berikut: 'Amir bin al-Akwa', dan al-Aswad ia seorang penggembala yang nama aslinya adalah Aslam.

      Al-Aswad seorang penggembala yang berasal dari Khaibar Syuhada' di Khaibar dari Bani Zuhrah adalah Mas'ud bin Rabi'ah sekutu mereka dari al-Qarah, demikian menurut az-Zuhri.1

      Syuhada' kaum Anshar dari Bani 'Amr bin 'Auf adalah Aus bin Qatadah.29

    20. Al-Aswad si penggembala

      Masuk Islam di tengah pengepungan

      Al-Aswad, penggembala kambing orang Yahudi, datang saat beliau mengepung sebuah benteng dan masuk Islam; ia disuruh memukul wajah kambing-kambing itu agar pulang ke pemiliknya, lalu bertempur dan gugur sebelum pernah shalat. Beliau memalingkan muka dan bersabda ia sedang bersama dua bidadari, istrinya.

      Baca selengkapnya

      Kisah prihal al-Aswad sang penggembala sebagaimana yang telah dituturkan kepadaku adalah sebagai berikut. Ia datang kepada beliau, saat itu beliau sedang mengepung salah satu benteng Khaibar, dengan membawa sekawanan kambing milik orang Yahudi dan ia menggembalanya untuk orang Yahudi tersebut, kemudian ia berkata: "Wahai Rasulullah, jelaskanlah kepadaku tentang Islam!" Beliau menjelaskan Islam kepadanya, maka ia masuk Islam. Dan Rasulullah tidak pernah merendahkan seseorang tatkala beliau mengajaknya kepada Islam dan begitu juga tatkala menjelaskan Islam kepadanya. Setelah masuk Islam, al-Aswad berkata: "Wahai Rasulullah, aku seorang penggembala untuk pemilik kambing-kambing ini dan kambing-kambing tersebut amanah bagiku, apa yang harus aku lakukan? Rasulullah bersabda: "Pukul bagian wajah-wajahnya, pasti kambing-kambing itu ia pulang kembali kepada pemiliknya." Atau sebagaimana yang disabdakan beliau. Kemudian al-Aswad berdiri, mengambil segenggam batu-batu kecil, dan melemparkannya ke arah wajah kambing-kambing itu sambil berkata: Kembalilah kepada pemilik kalian, demi Allah, aku tidak akan pernah lagi menemanimu untuk selamanya." Sontak, kambing-kambing itu berhimpun dan berjalan bersamaan seakan ada yang menuntun hingga memasuki benteng.2

      Kemudian, al-Aswad maju masuk ke dalam benteng bertempur bersama kaum Muslimin dan ia terkena lemparan batu dan meninggal dunia karenanya. Ia meninggal dalam keadaan belum pernah mengerjakan shalat. Al-Aswad dibawa ke hadapan Rasulullah dan diletakkan di belakang beliau dan ditutup dengan jubah yang dipakainya. Beliau melihatnya bersama beberapa orang dari para sahabat, lalu beliau memalingkan muka. Para sahabat bertanya heran: "Mengapa engkau memalingkan muka darinya, wahai Rasulullah?" Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya ia sedang bersama dua bidadari, isterinya."

      'Abdullah bin Abu Najih berkata kepadaku ia diberitahu bahwa apabila seorang syahid meninggal dunia, turun kepadanya dua istrinya dari bidadari dan mengibaskan tanah dari wajahnya sambil berkata: "Semoga Allah menjadikan tanah di atas wajah orang yang menjadikan tanah di wajahmu dan membunuh orang yang membunuhmu."2

    21. Al-Hajjaj bin Ilath

      Kabar bohong di Makkah

      Setelah Khaibar jatuh, al-Hajjaj bin Ilath as-Sulami meminta izin mengambil hartanya di Makkah; di Tsaniyyatul Baidha ia mengabarkan kepada Quraisy bahwa beliau kalah dan tertawan, sehingga mereka membantu mengumpulkan hartanya. Ia lalu memberi tahu al-'Abbas yang tiga hari kemudian thawaf berpakaian wangi dan berkata Khaibar telah jatuh dan beliau menjadi pengantin dengan putri raja mereka.

      Baca selengkapnya

      Setelah Khaibar telah ditaklukkan, al-Hajjaj bin Ilath as-Sulami berbicara kepada beliau. Ia berkata: "Wahai Rasulullah, aku memiliki harta kekayaan yang dipegang istriku, Ummu Syaibah binti Abu Thalhah, di Makkah." Ummu Syaibah adalah istri al-Hajjaj bin Ilath dan darinya ia dikaruniai anak yang bernama Mu'ridh bin al-Hajjaj. Ia melanjutkan pembicaraannya: "Aku juga memiliki harta kekayaan di tangan para pedagang Makkah, maka dari itu, berilah aku izin untuk pergi ke sana!" Beliau mengizinkannya. Ia berkata: "Wahai Rasulullah, ada satu hal yang harus aku katakan." Rasulullah bersabda, "Katakanlah." Al-Hajjaj bin Ilath berkata: "Maka akupun segera berangkat menuju Makkah. Pada saat sampai di Tsaniyyatul Baidha, aku mendapati banyak sekali orang-orang Quraisy yang sedang mencari dan menanyakan kabar tentang Rasulullah, karena berita keberangkatan beliau ke Khaibar telah sampai ke telinga mereka tentunya mereka tahu bahwa Khaibar adalah kawasan yang paling subur, kuat, dan paling banyak penduduknya di Hijaz.2

      Mereka terus mencari-cari kabar berita dan mengorek tentang kondisi Rasulullah kepada setiap musafir. Dan pada saat mereka melihatku, mereka berkata: "Itu dia al-Hajjaj bin Ilath, mereka belum mengetahui keislamanku, demi Allah, ia pasti membawa kabar." Wahai Abu Muhammad, tolong berita tahu kepada kami tentang seorang yang memutus hubungan kekerabatan (Nabi) sebab kami mendengar berita dia sedang bergerak menuju Khaibar, padahal Khaibar adalah negeri Yahudi dan kawasan di Hijaz yang paling subur." Aku menimpali: "Aku pun mendengar demikian. Aku juga mempunyai berita yang menggembirakan buat kalian." Mereka berkumpul di sekeliling untaku. Mereka berkata: "Apa gerangan berita itu wahai al-Hajjaj?" Aku berkata: "Ia kalah perang dan kalian belum pernah mendengar kekalahan seperti kekalahan yang dideritanya. Sahabat-sahabatnya terbunuh dan kalian belum pernah mendengar pembunuhan seperti yang mereka alami. Bahkan Muhammad sendiri tertawan. Orang-orang Khaibar berkata: "Kami tidak akan membunuhnya, tapi kami akan mengirim dia ke Makkah biar orang-orang Makkah sendiri yang membunuhnya sebagai tindakan balas dendam atas terbunuhnya orang-orang mereka."

      Al-Hajjaj berkata: Orang-orang Quraisy berdiri seraya berteriak: "Nah ini baru berita! Kalian tinggal menanti Muhammad digiring kepada kalian lalu dibunuh di hadapan kalian." Aku berkata: "Namun sebelum itu, bantulah aku untuk mengumpulkan hartaku di Makkah dan dari orang yang berhutang padaku, karena aku ingin pergi ke Khaibar untuk membeli barang-barang Muhammad dan sahabat-sahabatnya sebelum ada para pedagang yang lain yang mendahuluiku." Mereka pun segera mengumpulkan harta milikku dengan cepat. Aku mendatangi istriku dan bertanya kepadanya: "Dimana hartaku? Semoga aku bisa pergi ke Khaibar dan ada kesempatan membeli barang rampasan Muhammad sebelum ada pedagang lain yang mendahuluiku." Ketika al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib mendengar berita yang aku bawa, ia mendatangiku dan berdiri di sampingku, saat itu aku berada di salah satu tenda milik salah seorang pedagang. Ia bertanya: "Wahai Hajjaj, apakah berita yang engkau bawa?" Aku menjawab: "Apakah engkau bersedia menjaga sesuatu (rahasia) yang akan aku simpan padamu?" Al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib menjawab: "Ya." Aku berkata kepada al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib: "Jika demikian maka pergilah, nanti kita bertemu lagi di tempat yang sepi, sebab kini aku sibuk mengumpulkan hartaku sebagaimana yang engkau saksikan."

      Seusai mengumpulkan seluruh hartaku di Makkah dan telah siap untuk pulang, aku mendatangi al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib. Aku sampaikan kepadanya: "Jagalah pembicaraanku ini Wahai Abu al-Fadhl, karena aku khawatir diburu -ia mengatakan itu hingga tiga kali-. Katakan apa saja yang engkau inginkan selain apa yang aku bicarakan ini.!"

      Al-'Abbas bin al-Muththalib berkata: "Akan aku laksanakan."

      Aku berkata: "Demi Allah, aku tinggalkan ponakanmu itu dalam keadaan sedang menjadi pengantin dengan putri raja mereka, Shafiyah binti Huyay. Khaibar telah ia kalahkan. Ia telah mengeluarkan seluruh isi yang berada di dalamnya. Khaibar kini menjadi miliknya dan para sahabatnya." Al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib berkata: "Apakah tidak salah apa yang engkau katakan ini, wahai Hajjaj?" Aku katakan kepada al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib: "Tidak! Demi Allah, rahasiakanlah ini, sesungguhnya aku telah masuk Islam. Dan tidaklah aku datang ke sini kecuali untuk mengambil hartaku karena aku khawatir harta tersebut dirampas. Jika telah lewat tiga hari, barulah sebarkan perihal diriku seperti engkau inginkan."

      Pada hari ketiga, al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib dengan mengenakan pakaian yang dibubuhi parfum dan memakai tongkat, dia pergi ke Ka'bah dan dia pun thawaf. Pada saat orang-orang Quraisy melihatnya, mereka berkata: "Wahai Abu al-Fadhl, demi Allah, alangkah tabahnya engkau atas musibah yang berat yang sedang menimpa!" Al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib menjawab: "Tidak! demi Allah. Sungguh Muhammad telah menaklukkan Khaibar, dia kini menjadi pengantin dengan putri raja mereka, dan mengambil seluruh harta benda yang berada di dalamnya kemudian menjadi miliknya dan para sahabatnya. Mereka bertanya: "Siapakah yang membawa berita ini?" Al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib menjawab: "Berita ini disampaikan oleh orang yang telah datang kepada kalian dan menyampaikan berita yang berlainan. Sebenarnya ia datang ke tempat kalian dalam keadaan Muslim dan mengambil seluruh hartanya, lalu pergi untuk bergabung dengan Muhammad dan para sahabatnya. Sekarang orang tersebut sedang bersama dia." Mereka berkata: "Wahai hamba-hamba Allah, musuh Allah itu telah lolos. Demi Allah, andai kita mengetahui berita ini sebelumnya, maka pasti kita akan membuat perhitungan dengannya."

      Tak lama kemudian, kabar yang sebenarnya tentang nabi Muhammad sampai kepada mereka.30

    22. Pembagian harta Khaibar

      Delapan belas bagian, 1.800 orang

      Harta yang dibagi: asy-Syiqq, Nathah, dan al-Katibah. Asy-Syiqq dan Nathah dibagi untuk kaum Muslimin, sedangkan seperlima al-Katibah untuk Allah, Rasul, kerabat, anak yatim, orang miskin, dan perantara perdamaian Fadak. Harta dibagi menjadi 1.800 bagian: 1.400 pejalan kaki dan 200 penunggang kuda, dengan kuda mendapat dua bagian dan penunggangnya satu; dibagi lagi menjadi delapan belas bagian untuk seratus orang tiap bagian.

      Baca selengkapnya

      Kekayaan Khaibar yang dibagi-bagi adalah Asy-Syiqq, Nathah, dan al-Katibah. Asy-Syiqq dan Nathah dibagikan kepada kaum Muslimin karena itu memang merupakan jatah mereka. Sedang al-Katibah, seperlima darinya untuk Allah, Rasulullah, sanak kerabat beliau, anak-anak yatim, orang-orang miskin, makanan para istri beliau, dan makanan untuk orang-orang yang menjadi perantara perdamaian di antara beliau dengan penduduk Fadak. Mereka antara lain adalah Muhayyishah bin Mas'ud yang kala itu diberi tiga puluh wasaq gandum dan tiga puluh wasaq kurma. Harta dari Khaibar dibagikan kepada para sahabat yang menghadiri Perdamaian Hudaibiyah, para sahabat yang menghadiri Perang Khaibar, dan sahabat yang tidak menghadirinya sekalipun yaitu Jabir bin 'Abdullah bin 'Amr bin Haram. Rasulullah memberinya jatah seperti sahabat yang menghadiri Perang Khaibar. Lembah Khaibar adalah lembah as-Surair dan Khash. Kedua lembah itulah yang menjadi batas teritorial Khaibar. Nathah dan Asy-Syiqq mempunyai delapan belas bagian; Nathah lima bagian, sementara asy-Syiqq tiga belas bagian, kemudian dibagi menjadi seribu delapan ratus bagian. Jumlah tersebut berdasarkan jumlah bagian para sahabat dari harta Khaibar. Pejalan kaki berjumlah seribu empat ratus sedangkan pasukan berkuda berjumlah dua ratus. Setiap kuda mendapatkan dua bagian dan penunggangnya satu bagian, adapun pejalan kaki mendapatkan satu bagian. Kemudian harta itu dibagi menjadi delapan belas bagian, dari setiap bagiannya dibagi untuk seratus orang.2

      Di Khaibar, beliau memilah-milah kuda berdasarkan keturunannya, kuda Arab dan kuda campuran.1

      'Ali bin Abu Thalib merupakan ketua demikian pula dengan Zubair bin 'Awwam, Thalhah bin 'Ubaidillah, 'Umar bin Khaththab, 'Abdurrahman bin 'Auf, 'Ashim bin 'Adi dari Bani al-'Ajlan, Usaid bin al-Hudhair. Bagian al-Harits bin al-Khazraj, bagian dari Na'im, bagian Bani Bayadhah, bagian Bani 'Ubaidah, bagian Bani Haram dari Bani Salimah, bagian 'Ubaid as-Siham.2

      Dinamakan Ubadi as-Siham, karena membeli as-siham (anak panah) di Perang Khaibar. Sebenarnya dia adalah 'Ubaid bin Aus dari Bani Haritsah bin al-Harits bin al-Khazraj bin 'Amr bin Malik bin al-Aus.1

      Juga bagian Saidah, bagian Ghifar dan Aslam, bagian an-Najjar, bagian Haritsah dan bagian Aus.231

    23. Urutan bagian

      Nathah dan asy-Syiqq

      Di Nathah bagian pertama yang keluar adalah bagian Zubair bin 'Awwam, disusul bagian lain; di sana Mahmud bin Maslamah terbunuh. Di asy-Syiqq bagian pertama adalah bagian 'Ashim bin 'Adi bersama bagian beliau, lalu bagian-bagian yang lain berurutan.

      Baca selengkapnya

      Bagian yang pertama kali keluar dari harta Khaibar di Nathah adalah bagian Zubair bin 'Awwam yaitu al-Khau' disusul as-Surair, bagian kedua adalah bagian Bayadlah, bagian ketiga adalah bagian Usaid, bagian empat adalah bagian Bani al-Harits bin al-Khazraj, bagian kelima adalah bagian Na'im untuk Bani 'Auf bin al-Khazraj dan Muzayyanah dan sekutu-sekutu mereka. Di tempat inilah, Mahmud bin Maslamah terbunuh. Itulah pembagian dari Nathah.

      Sesudah itu, para sahabat memasuki Asy-Syiqq. Bagian yang pertama kali keluar adalah bagian 'Ashim bin 'Adi saudara Bani al-'Ajlan bersama bagian Rasulullah, lalu bagian 'Abdurrahman bin 'Auf, diikuti bagian Saidah, lalu bagian an-Najjar, kemudian bagian 'Ali bin Thalib, disusul bagian Thalhah bin 'Ubaidillah, disusul bagian Ghifar dan Aslam, disusul bagian 'Umar bin Khaththab, disusul dua bagian Bani 'Ubaid dan Bani Haram, disusul bagian Haritsah, disusul 'Ubaid as-Siham, disusul bagian Aus yaitu bagian al-Lafif, Juhainah, dan orang-orang Arab yang hadir di perang Khaibar. Di dekat bagian Aus terdapat bagian Rasulullah yang beliau dapatkan bersama bagian 'Ashim bin 'Adi.32

    24. Jatah al-Katibah

      Wasaq untuk kerabat dan lainnya

      Beliau membagi al-Katibah, yaitu Lembah Khash, kepada kerabat dan sejumlah laki-laki dan wanita Muslim; di antaranya Fathimah 200 wasaq, 'Ali 100 wasaq, Usamah 250 wasaq, 'Aisyah 200 wasaq, Abu Bakar 100 wasaq, dan para istri beliau 700 wasaq. Menurut Ibnu Hisyam, pembagian menurut kebutuhan sehingga Bani 'Abdul Muththalib mendapat lebih banyak.

      Baca selengkapnya

      Setelah itu, beliau membagi al-Katibah, yaitu Lembah Khash kepada sanak kerabat dan beberapa orang laki-laki dan wanita dari kaum Muslimin. Beliau memberi Fathimah dua ratus wasaq, 'Ali bin Abu Thalib seratus wasaq, Usamah bin Zaid dua ratus lima puluh wasaq biji-bijian, 'Aisyah Ummul Mukminil dua ratus wasaq, Abu Bakar bin Abu Quhafah seratus wasaq, Aqil bin Abu Thalib seratus empat puluh wasaq, anak-anak Ja'far lima puluh wasaq, Rabi'ah bin al-Harits seratus wasaq, ash-Shalt bin Makhramah dan dua anaknya seratus wasaq, untuk ash-Shalt empat puluh wasaq, untuk Abu Nabiqah lima puluh wasaq, Buat Rukanah bin 'Abdu Yazid lima puluh wasaq, Qais bin Makhramah tiga puluh wasaq, Abu al-Qasim bin Makhramah empat puluh wasaq, anak-anak putri 'Ubaidah bin al-Harits dan putri al-Hushain bin al-Harits seratus wasaq, anak-anak 'Ubaid bin 'Abdu Yazid enam puluh wasaq, anak Aus bin Makhramah tiga puluh wasaq, Misthah bin 'Atsatsah dan anak Ilyas lima puluh wasaq, Ummu Rumaitsah empat puluh wasaq, Nu'aim bin Hindun tiga puluh wasaq, Buhainah binti al-Harits tiga puluh wasaq, Ujair bin 'Abdu Yazid tiga puluh wasaq, Ummu al-Hakam binti Zubair bin al-Muththalib tiga puluh wasaq, … binti Abu Thalib tiga puluh wasaq, Ummu al-Arqam lima puluh wasaq, 'Abdurrahman bin Abu Bakar empat puluh wasaq, Hamnah binti Jahsy tiga puluh wasaq, Ummu Zubair empat puluh wasaq, Dzuba'ah binti Zubair empat puluh wasaq, anak Abu Khunais tiga puluh wasaq, Ummu Thalib empat puluh wasaq, Abu Bashrah dua puluh wasaq, Numailah al-Kalbi lima puluh wasaq, 'Abdullah bin Wahb dan kedua anaknya sembilan puluh wasaq, kedua anaknya mendapatkan empat puluh wasaq, Ummu Habib binti Jahsy tiga puluh wasaq, Malku bin Abdah tiga puluh wasaq, dan istri-istri beliau mendapatkan tujuh ratus wasaq.

      Gandum, kurma, biji-bijian, dan lain sebagainya dibagi oleh Rasulullah berdasarkan kebutuhan mereka. Kebutuhan Bani 'Abdul Muththalib lebih banyak daripada yang lain, oleh karenanya, beliau memberi mereka melebihi bagian yang lain.133

    25. Gandum Khaibar

      Para istri, wasiat menjelang wafat

      Beliau membagikan 180 wasaq gandum kepada para istrinya, 85 wasaq kepada Fathimah, dan lainnya; pembagian disaksikan 'Utsman dan ditulis al-'Abbas. Beliau juga berwasiat tiga hal: seratus wasaq gandum Khaibar bagi tiap kelompok Rahawiyin, ad-Dariyyin, as-Sibaiyyin, dan al-Asy'ariyyin; pengiriman pasukan Usamah; dan tidak boleh ada dua agama di Jazirah Arab.

      Baca selengkapnya

      Beliau membagikan seratus delapan puluh wasaq gandum kepada para isterinya, sedangkan untuk Fathimah binti Rasulullah sebanyak delapan puluh lima wasaq, Usamah bin Zaid empat puluh wasaq, al-Miqdad bin al-Aswad lima belas wasaq, dan Ummu Rumaitsah lima wasaq. Pembagian ini disaksikan oleh 'Utsman bin 'Affan dan ditulis oleh al-'Abbas.2

      Beliau mewasiatkan tiga hal sebelum wafatnya; orang-orang Rahawiyin diberi seratus wasaq gandum Khaibar, orang-orang ad-Dariyyin diberi seratus wasaq gandum Khaibar, orang-orang as-Sibaiyyin diberi seratus wasaq gandum Khaibar, orang-orang al-Asy'ariyyin diberi seratus wasaq gandum Khaibar, dan mewasiatkan untuk tetap melaksanakan pengiriman pasukan Usamah bin Zaid, dan wasiat yang ketiga agar tidak boleh ada lagi dua agama di Jazirah Arab.34

    26. Fadak berdamai

      Setengah kekayaan, milik khusus beliau

      Setelah Khaibar, Allah menimbulkan rasa takut pada orang Fadak, dan mereka mengirim utusan untuk berdamai dengan membagi dua kekayaan Fadak. Fadak menjadi milik beliau karena tidak diserang dengan pasukan berkuda atau pejalan kaki.

      Baca selengkapnya

      Setelah Rasulullah menyelesaikan penaklukan Khaibar, Allah merasukkan perasaan takut yang luar biasa ke dalam hati orang-orang Fadak saat mendengar bahwa Allah telah menimpakan hukuman kepada orang-orang Khaibar. Oleh karenanya, mereka mengirim utusan kepada beliau untuk berdamai dengan cara membagi dua kekayaan Fadak. Utusan mereka bertemu Rasulullah di Khaibar, atau di salah satu jalan, atau setelah beliau tiba di Madinah. Rasulullah pun menerima usulah perdamaian mereka. Maka Fadak murni menjadi bagian beliau sebab tidak diserang, baik dengan pasukan berkuda ataupun pasukan pejalan kaki.2

    27. Ad-Dariyyin dan penaksir kurma

      'Abdullah bin Rawahah di Khaibar

      Disebut nama-nama ad-Dariyyin yang mendapat wasiat. Beliau mengutus 'Abdullah bin Rawahah sebagai kharrash (penaksir hasil kurma) di Khaibar antara kaum Muslimin dan orang Yahudi; ia bertugas setahun karena gugur di Mu'tah dan digantikan Jabbar bin Shakhr.

      Baca selengkapnya

      Orang-orang ad-Dariyyin adalah anak keturunan Dar bin Hani bin Habib bin Numarah bin Lahm yang datang kepada beliau dari Syam. Tamim bin Aus, saudara Tamim yang bernama Nu'aim bin Aus, Yazid bin Qais, Arafah bin Malik, yang diberi nama Abdur Rahman oleh Rasulullah.2

      Ada yang mengatakan Azza bin Malik dan saudaranya yang bernama Murran bin Malik.1

      Namanya Marwan bin Malik.1

      Sedang Fakih bin Nu'man, Jabalah bin Malik, Abu Hindun bin Bar dan saudaranya yang bernama ath-Thayyib diberi nama 'Abdullah oleh beliau.2

      Rasulullah -sebagaimana yang diriwayatkan oleh 'Abdullah bin Abu Bakar kepadaku, mengutus 'Abdullah bin Rawahah kepada penduduk Khaibar sebagai kharrash (petugas yang memperkirakan hasil panen buah kurma yang masih berada di pohonnya) antara kaum Muslimin dan orang-orang Yahudi. Apabila Orang-orang Yahudi berkata: "Engkau mencurangi kami." 'Abdullah bin Rawahah berkata: "Jika kalian setuju dengan keputusan ini, maka ambillah bagian kalian, jika tidak, maka kalian tidak akan mendapatkan apa-apa." Mereka berkata: "Dengan inilah langit dan bumi menjadi tegak." Hanya dalam waktu setahun 'Abdullah bin Rawahah bertugas sebagai kharish di Khaibar, karena ia mati syahid pada Perang Mu'tah. Sepeninggalnya ia digantikan oleh Jabbar bin Shakhr bin Umayyah bin Khansa dari Bani Salimah.

    28. 'Abdullah bin Sahl terbunuh

      Sumpah dan diyat seratus unta

      'Abdullah bin Sahl ditemukan mati dengan leher terputus di sebuah mata air di Khaibar. Keluarganya menghadap beliau; mereka menolak bersumpah lima puluh kali atas sesuatu yang tidak mereka ketahui dan menolak sumpah orang Yahudi, sehingga beliau membayar diyat seratus unta dari hartanya sendiri. Riwayat lain menyebut beliau menulis surat kepada orang Yahudi.

      Baca selengkapnya

      Selama beberapa waktu, kaum Muslimin tidak melihat hal-hal yang tidak baik pada orang-orang Yahudi. Hingga suatu waktu, mereka menyerang 'Abdullah bin Sahl dari Bani Haritsah dan membunuhnya. Beliau dan kaum Muslimin menuduh mereka sebagai pembunuhnya.

      'Abdullah bin Sahl meninggal di Khaibar. Ia berangkat ke Khaibar bersama para sahabatnya untuk memetik kurma, namun ia ditemukan dalam kondisi leher terputus di salah satu mata air dan dilemparkan ke dalamnya. Para sahabat pun mengambilnya dan menguburkannya. Kemudian mereka datang kepada beliau, dan menceritakan peristiwa tersebut kepada beliau. Saudara 'Abdullah bin Sahl, 'Abdurrahman bin Sahl, menghadap kepada beliau bersama dua anak pamannya; Huwaiyyishah bin Mas'ud dan Muhayyishah bin Mas'ud. 'Abdurrahman bin Sahl adalah orang yang paling muda di antara mereka. Dia salah seorang keluarga korban, dan dikenal sangat pemberani di kalangan kaumnya. Ketika 'Abdurrahman bin Sahl berbicara mendahului kedua anak pamannya, Rasulullah bersabda: "Mulailah dari yang usianya lebih tua. Mulailah dari yang usianya tua lebih!!"35

      Mulailah dari yang usianya lebih tua, mulailah dari yang usianya lebih tua!. Demikian yang dikatakan oleh Malik bin Anas kepada saya, maka 'Abdurrahman bin Sahl pun diam. Akhirnya yang pertama kali berbicara adalah Huwaiyyishah, Muhayyishah, kemudian 'Abdurrahman.1

      Mereka menceritakan kabar terbunuhnya saudara mereka kepada beliau. Beliau bersabda kepada mereka: "Maukah kalian menyebutkan nama pembunuh saudara kalian, bersumpah atasnya sebanyak lima puluh kali, kemudian pembunuh tersebut aku serahkan kepada kalian?" Mereka menjawab: "Wahai Rasulullah, kami tidak terbiasa bersumpah atas sesuatu yang kami sendiri tidak mengetahuinya." Rasulullah bersabda: "Bagaimana kalau orang-orang Yahudi bersumpah dengan nama Allah bagi kalian bahwa mereka tidak membunuh saudara kalian dan tidak mengetahui siapa pembunuhnya, kemudian mereka dibebaskan?" Mereka bertiga menjawab: "Wahai Rasulullah, kami tidak terbiasa menerima sumpah orang-orang Yahudi, karena kekafiran yang ada pada mereka itu jauh lebih besar dari pada bersumpah atas sebuah dosa." Kemudian Rasulullah memberi mereka diyat seratus unta dari harta milik beliau sendiri. 'Abdurrahman bin Sahl berkata: "Demi Allah, aku tidak pernah melupakan seekor anak unta merah yang menendangku saat aku menggiringnya."

      Demi Allah, 'Abdurrahman bin Sahl tidak lebih tahu darinya, namun ia berusia lebih tua. Ia berkata kepada Rasulullah: "Demi Allah, permasalahannya tidak seperti ini. Sahl hanya salah paham, karena sebenarnya beliau tidak bersabda, "Bersumpahlah dengan apa yang tidak kalian ketahui," namun Rasulullah menulis surat kepada orang-orang Yahudi sesudah kaum Anshar berbicara kepada beliau. Isi suratnya adalah sebagai berikut: Telah didapatkan korban di pemukiman kalian, oleh sebab itulah, hendaklah kalian membayar tebusan darahnya (diyat)." Orang-orang Yahudi membalas surat beliau yang isi suratnya menjelaskan bahwa mereka bersumpah tidak membunuh korban tersebut juga tidak mengetahui pelakunya. Akhirnya, beliau membayar diyat untuk keluarga korban dari harta milik beliau sendiri.36

      'Amr bin Syuaib meriwayatkan kepadaku sebagaimana riwayat 'Abdurrahman bin Bujaid, hanya saja 'Amr bin Syuaib berkata dalam ceritanya bahwa Rasulullah bersabda kepada orang-orang Yahudi: "Berikan diyatnya atau bersiap-siaplah untuk perang." Merekapun menulis dan dalam suratnya bersumpah dengan nama Allah bahwa mereka tidak membunuhnya. Kemudian Rasulullah membayar diyatnya dari harta beliau sendiri.237

    29. Kebun Khaibar dan wasiat dua agama

      Abu Bakar dan 'Umar

      Menurut az-Zuhri, Khaibar ditaklukkan dengan senjata dan menjadi fay'; beliau menawarkan kebun kepada penduduknya untuk digarap dengan bagi hasil dan mengutus 'Abdullah bin Rawahah. Abu Bakar meneruskan perjanjian itu hingga wafat. 'Umar memastikan sabda "tidak boleh berkumpul dua agama di Jazirah Arab" lalu mengusir orang Yahudi yang tidak terikat perjanjian.

      Baca selengkapnya

      Aku bertanya kepada az-Zuhri bagaimana Rasulullah memberikan kebun kurma mereka kepada orang Yahudi Khaibar tatkala itu diberikan kepada mereka atas dasar sewa? Apakah itu diberikan setelah dikuasai atau diberikan karena adanya keperluan lain? Maka az-Zuhri menjelaskan kepadaku bahwa beliau menaklukkan Khaibar dengan senjata, maka Khaibar tergolong harta fay'i yang diberikan Allah Azza wa Jalla kepada beliau. Allah Ta'ala memberikan seperlimanya kepada beliau, dan membagikannya kepada kaum Muslimin, serta mengusir orang-orang Khaibar seusai perang. Beliau memanggil orang Khaibar dan bersabda kepada mereka: "Apabila kalian suka, kami akan menyerahkan kebun-kebun ini kepada kalian untuk kalian garap dan hasilnya dibagi di antara kita, aku menegakkan apa yang ditetapkan oleh Allah atas kalian." Mereka pun menerima itu dan menggarap kebun-kebun Khaibar dengan perjanjian tadi. Beliau mengutus 'Abdullah bin Rawahah untuk membagi hasil panen dengan adil. Setelah Rasulullah wafat, Abu Bakar ash-Shiddiq mengesahkan kebun-kebun tersebut berada di tangan mereka dengan cara yang pernah dilakukan beliau hingga Abu Bakar meninggal dunia.2

      Rasul pada saat beliau sakit menjelang wafat: "Tidak boleh berkumpul dua agama di Jazirah Arab." 'Umar bin Khaththab mengklarifikasi kebenaran wasiat tersebut dan mendapatkan kesimpulan bahwa wasiat tersebut memang benar adanya. Kemudian 'Umar bin Khaththab pun mengirim surat kepada orang-orang Yahudi. Dalam suratnya, ia berkata: "Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mengizinkan pengusiran kalian, karena aku mendengar bahwa Rasulullah bersabda: "Tidak boleh berkumpul dua agama di Jazirah Arab" Oleh sebab itulah, barangsiapa di antara orang-orang Yahudi yang mempunyai perjanjian dengan Rasulullah, silahkan datang kepadaku untuk aku tunaikan perjanjiannya. Adapun yang tidak mempunyai perjanjian dengan beliau, bersiap-siaplah untuk diusir." kemudian, 'Umar bin Khaththab mengusir orang-orang Yahudi yang tidak terikat perjanjian dengan beliau.38

    30. Pengusiran dan pembagian Wadi al-Qura

      'Abdullah bin 'Umar dan jatah sahabat

      'Abdullah bin 'Umar ditemukan dengan kedua tangan terkilir setelah diserang di malam hari; 'Umar menyimpulkan itu perbuatan orang Yahudi, berpidato, dan mengusir mereka. Jabbar bin Shakhr dan Yazid bin Tsabit membagi Khaibar menurut pola sebelumnya; disebutkan jatah sahabat di Lembah al-Qura, dengan tambahan pendapat Ibnu Hisyam.

      Baca selengkapnya

      Aku pergi bersama Zubair bin 'Awwam dan al-Miqdad bin al-Aswad ke kebun-kebun kami untuk mengadakan perjanjian terkait kebun itu. Ketika tiba di Khaibar, kami berpisah untuk pergi ke kebun masing-masing. Suatu malam, saat aku tidur di kasur, tiba-tiba seseorang menyerangku yang menyebabkan kedua tanganku terkilir pada bagian sikut. Keesokan harinya, kedua sahabatku berteriak memanggilku dan mendatangiku. Mereka bertanya: "Siapa yang melakukan semua ini kepadamu?" Aku menjawab: "Aku tidak tahu." Kedua sahabatku itu memijat kedua tanganku lalu keduanya membawaku menghadap 'Umar bin Khaththab. Kemudian 'Umar bin Khaththab berkata: "Ini pasti perbuatan orang-orang Yahudi." 'Umar bin Khaththab berdiri berpidato di hadapan kaum Muslimin. ia berkata: "Wahai manusia, sesungguhnya beliau telah memperlakukan Khaibar dengan baik dan kita boleh mengusir mereka kapan pun kita menghendakinya. Sebelum ini, mereka telah menyerang 'Abdullah bin 'Umar hingga kedua tangannya terkilir, dan sebelumnya mereka telah menyerang salah seorang dari kaum Anshar padahal kita tahu bahwa mereka sahabat orang-orang Yahudi itu. Kita tidak memiliki musuh selain mereka. Maka barangsiapa memiliki harta di Khaibar pergilah ke sana untuk mengambilnya, sebab aku akan mengusir mereka." Kemudian 'Umar bin Khaththab mengusir mereka.39

      Tatkala 'Umar bin Khaththab hendak mengusir orang-orang Yahudi dari Khaibar, ia pergi ke sana bersama Jabbar bin Shakhr bin Umayyah bin Khansa' dari Bani Salimah yang merupakan kharrash (ahli takar) Madinah, dan Yazid bin Tsabit. Keduanya membagi Khaibar kepada penduduknya berdasarkan pola pembagian sebelumnya. Di antara pembagian yang dilakukan 'Umar bin Khaththab terhadap Lembah al-Qura, 'Utsman bin 'Affan mempunyai satu bagian darinya, 'Abdurrahman mempunyai satu bagian, 'Umar bin Salamah mempunyai satu bagian, 'Amir bin Abu Rabi'ah mempunyai satu bagian, 'Amr bin Suraqah mempunyai satu bagian dan Usyaim satu bagian.40

      Ada pendapat ulama ahli sejarah yang mengatakan bahwa Aslam mempunyai satu bagian, Bani Ja'far satu bagian, Muaiqib satu bagian, 'Abdullah bin al-Arqam satu bagian, 'Abdullah dan 'Ubaidillah satu bagian, anak 'Abdullah bin Jahsy satu bagian, Ibnu al-Bukair satu bagian, al-Mu'tamir satu bagian, Zaid bin Tsabit satu bagian, Ubay bin Ka'ab bagian satu, Mu'adz bin Afra mempunyai satu bagian, Abu Thalhah dan Hasan satu bagian. Jabbar bin Shakhr bin 'Abdullah bin Riab satu bagian, Malik bin Sha'sha'ah dan Jabir bin 'Abdullah bin 'Amr satu bagian, Ibnu Hudhair satu bagian, Sa'd bin Mu'adz satu bagian. Salamah bin Salamah satu bagian, 'Abdurrahman bin Tsabit dan Abu Syariq satu bagian, Abu Abs bin Jabr satu bagian, Muhammad bin Maslamah satu bagian, Jabr bin 'Atik setengah bagian, Muhammad bin Maslamah satu bagian dan 'Ubadah bin Thariq satu bagian.1

      Ada pendapat yang mengatakan untuk Qatadah satu bagian.1

      Jabir bin 'Atik setengah bagian, anak al-Harits bin Qais setengah bagian, anak Hazamah dan adh-Dhahhak satu bagian. Demikianlah riwayat yang sampai kepada kami tentang penyelesaian Khaibar dan Lembah al-Qura serta pembagiannya.241

    31. Ja'far tiba dari Habasyah

      Hari penaklukan Khaibar

      Menurut asy-Sya'bi, Ja'far bin Abu Thalib tiba pada hari Khaibar ditaklukkan; beliau mencium di antara kedua mata Ja'far dan bersabda tidak tahu mana yang lebih menggembirakan, penaklukan Khaibar atau kedatangan Ja'far.

      Baca selengkapnya

      Sufyan bin 'Uyainah berkata dari al-Ajlah dari Asy-Sya'bi ia berkata: Ja'far bin Abu Thalib sampai di kediaman beliau bertepatan dengan hari di mana Khaibar ditaklukan. Beliau mencium di antara kedua mata Ja'far bin Abu Thalib kemudian merangkulnya. Beliau bersabda: "Aku tidak tahu dengan apakah aku merasa gembira, dengan penaklukan Khaibar atau dengan kedatangan Ja'far."1

    32. Yang pulang dengan dua perahu

      Enam belas orang dari Habasyah

      Ibnu Ishaq menyebut sahabat yang tinggal di Habasyah sampai 'Abdullah bin Umayyah adh-Dhamri dikirim kepada Najasyi dan membawa mereka pulang dengan dua kapal ke tempat beliau di Khaibar: Ja'far bersama istri dan anaknya, Khalid bin Sa'id dan istrinya, 'Amr bin Sa'id, Mu'aqib, Abu Musa al-Asy'ari, dan lainnya, seluruhnya enam belas laki-laki.

      Baca selengkapnya

      Di antara para sahabat beliau yang tinggal di Habasyah sampai beliau mengutus 'Abdullah bin Umayyah adh-Dhamri kepada Najasyi yang kemudian membawa mereka pulang dengan dua buah kapal hingga tiba di tempat beliau yang pada saat itu berada di Khaibar adalah sebagai berikut:2

      Dari Bani Hasyim bin 'Abdu Manaf satu orang, ia adalah Ja'far bin Abu Thalib bersama istrinya Asma binti Umais al-Khats'amiyyah, dan anaknya 'Abdullah bin Ja'far yang dilahirkan di negeri Habasyah.

      Ja'far bin Abu Thalib gugur sebagai syahid pada Perang Mu'tah, salah satu kawasan di Syam, dan ketika itu ia sebagai panglima perang Rasulullah.

      Dari Bani 'Abdu Syams bin 'Abdu Manaf adalah sebagai berikut:. Khalid bin Sa'id bin Umayyah bin 'Abdu Syams bersama istrinya Umainah binti Khalaf bin As'ad.

      Ada yang mengatakan Humainah binti Khalaf, dan kedua anak Khalid Bin Sa'id, yaitu Sa'id bin Khalid dan Amah binti Khalid. Keduanya dilahirkan di Habasyah. Khalid gugur sebagai syahid di Marj ash-Shufur sebuah daerah di Syam, pada masa pemerintahan Abu Bakar. Dan saudara Khalid, 'Amr bin Sa'id bin al-'Ash, bersama istrinya, Fathimah binti Shafwan bin Umayyah bin Muharrits al-Kinani. Fathimah binti Shafwan wafat di Habasyah, sedang Khalid gugur sebagai syahid di Ajnadin, kawasan di Syam, pada masa pemerintahan Abu Bakar.1

      Kemudian Mu'aqib bin Abu Fathimah. Penjaga Baitul Mal kaum Muslimin saat pemerintahan 'Umar bin Khaththab. Selain itu juga, dia termasuk keluarga Sa'id bin al-'Ash.

      Lalu Abu Musa al-Asy'ari 'Abdullah bin Qais kolega keluarga 'Utbah bin Rabi'ah bin 'Abdu Syams. Jadi jumlah seluruhnya adalah empat orang.

      Sedangkan dari Bani Asad bin 'Abdul 'Uzza bin Qushay cuma satu orang, dia adalah al-Aswad bin Naufal bin Khuwailid.

      Begitu juga dari Bani 'Abduddar bin Qushai cuma satu orang, dia adalah Jahm bin Qais bin 'Abdu Syurahbil bersama kedua anaknya, 'Amr bin Jahm dan Khuzaimah bin Jahm. Istri Jahm bin Qais, Ummu Harmalah binti 'Abdul al-Aswad, dan dua anaknya yang lain meninggal dunia di Habasyah. Dari Bani Zuhrah bin Kilab adalah sebagai berikut: 'Amir bin Abu Waqqash, 'Utbah bin Mas'ud kolega mereka dari Hudzail. Jadi seluruhnya dua orang.

      Dari Bani Taim bin Murrah bin Ka'ab Cuma satu orang, dia adalah al-Harits bin Khalid bin Shakhr. Ia bersama istrinya, Raithah binti al-Harits bin Jubailah, dan meninggal dunia di Habasyah. Dari Bani Jumah bin 'Amr bin Hushaish bin Ka'ab satu orang, yakni 'Utsman bin Rabi'ah bin Uhban. Dari Bani Sahm bin 'Amr bin Hushaish bin Ka'ab cuma satu orang, yakni Mahmiyyah bin al-Jaz'i kolega mereka dari Bani Zubaid. Beliau pernah memberikan seperlima bagian kaum Muslimin dan menjadikan bagiannya.

      Dari Bani 'Adi bin Ka'ab bin Luay satu orang, yakni Ma'mar bin 'Abdullah bin Nadhlah. Dari Bani 'Amir bin Luai bin Ghalib adalah sebagai berikut: Abu Hathib bin 'Amr bin 'Abdu Syams. Malik bin Rabi'ah bin Qais bin 'Abdu Syams bersama istrinya, 'Amrah binti as-Sa'di bin Waqdan bin 'Abdu Syams. Jadi seluruhnya dua orang Dari Bani al-Harits bin Fihr bin Malik cuma satu orang, dia adalah al-Harits bin 'Abdu Qais bin Laqith. Maka Itulah orang-orang yang diangkut Najasyi bersama 'Abdullah bin Umayyah adh-Dhamri ke dalam dua buah perahu. Jadi jumlah keseluruhan orang-orang yang datang kepada Rasulullah dari Habasyah enam belas orang laki-laki. Itu termasuk istri-istri kaum Muslimin yang meninggal di Habasyah yang diikutsertakan di dalam dua buah perahu tersebut.42

    33. Yang datang sesudah Badar atau wafat di sana

      Tiga puluh empat orang

      Para sahabat yang hijrah ke Habasyah tetapi tidak datang kepada beliau sampai sesudah Badar, tidak diangkut Najasyi dalam dua perahu, atau wafat di sana, di antaranya 'Ubaidillah bin Jahsy yang murtad menjadi Kristen dan istrinya Ummu Habibah. Jumlah seluruhnya tiga puluh empat orang; ada pula syair an-Nu'man bin 'Adi dan pencopotannya oleh 'Umar.

      Baca selengkapnya

      Adapun di antara para sahabat yang hijrah ke Habasyah akan tetapi tidak datang kepada Rasulullah melainkan setelah Perang Badar, dan tidak pula diangkut Najasyi ke dalam dua perahu, kemudian mereka datang setelah itu, dan ada pula yang meninggal di daerah Habasyah, adalah sebagai berikut:

      Dari Bani Umayyah bin 'Abdu Syams bin 'Abdu Manaf adalah 'Ubaidillah bin Jahsy bin Riab al-Usadi kolega Bani Umayyah bin 'Abdu Syams bersama istrinya, Ummu Habibah binti Abu Sufyan, dan putrinya, Habibah binti 'Ubaidillah. Oleh sebab itu istrinya dipanggil Ummu Habibah binti Abu Sufyan. Adapun nama asli Ummu Habibah adalah Ramlah.

      'Ubaidillah bin Jahsy hijrah bersama dengan kaum Muslimin ke Habasyah. Namun di saat tiba di sana, ia murtad dan masuk agama Kristen dan meninggal di sana. Sepeninggal suaminya, kemudian Ummu Habibah binti Abu Sufyan Bin Harb dinikahi Rasulullah.

      'Ubaidillah bin Jahsy keluar bersama kaum Muslimin dalam keadaan Muslim. Setibanya di Habasyah, ia memeluk agama Kristen. Ibn Ishaq berkata: "Apabila 'Ubaidillah lewat di hadapan kaum Muslimin, ia selalu berkata: "Aku telah berhasil membuka mata kami dan melihat, sedangkan kalian mencari penglihatan dan hingga kini belum bisa melihat."43

      Kemudian Qais bin 'Abdullah, dia adalah salah seorang dari Bani Asad bin Khuzaimah. Ia ayah Umayyah binti Qais yang ikut pergi bersama Ummu Habibah. Ia keluar bersama istrinya, Barakah binti Yasar mantan budak Abu Sufyan. Umayyah binti Qais dan Barakah menyusui anak 'Ubaidillah bin Jahsy dan Ummu Habibah. 'Ubaidillah bin Jahsy dan Ummu Habibah membawa keduanya ke Habasyah tatkala hijrah ke sana. Jadi jumlah seluruhnya dua orang.2

      Dari Bani Asad bin 'Abdul 'Uzza bin Qushai adalah sebagai berikut: Yazid bin Zam'ah bin al-Aswad bin al-Muththalib bin Asad. Ia gugur sebagai syahid di Perang Hunain. Kemudian 'Amr bin Umayyah bin al-Harits bin Asad, dia meninggal dunia di Habasyah. Jadi jumlah seluruhnya dua orang.

      Dari Bani 'Abduddar bin Qushai adalah sebagai berikut: Abu ar-Ruum bin 'Umair bin Hasyim bin 'Abdu Manaf bin 'Abduddar. Kemudian Firas bin an-Nadhr bin al-Harits bin Kaladah bin 'Alqamah bin 'Abdu Manaf bin 'Abduddar. Jadi jumlah seluruhnya dua orang.

      Dari Bani Zuhrah bin Kilab bin Miarrah Cuma satu orang, dia adalah al-Muththalib bin Azhar bin 'Abdu Manaf bin 'Abd bin al-Harits bin Zuhrah ia pergi bersama istrinya, Ramlah binti Abu 'Auf bin Dhubair bin Sa'id bin Sa'd bin Sahm. Al-Muththalib bin Azhar meninggal di Habasyah. Di …, Ramlah binti Abu 'Auf melahirkan 'Abdullah bin al-Muththalib. Ada yang mengatakan bahwa 'Abdullah bin al-Muththalib adalah seorang anak yang pertama kali mewarisi harta ayahnya dalam Islam.

      Dari Bani Taym bin Murrah bin Ka'ab bin Luay satu orang, dia adalah 'Amr bin 'Utsman bin 'Amr bin Ka'ab bin Sa'd bin Taym. Ia gugur sebagai syahid pada Perang al-Qadisiyah tatkala ikut terjun ke medan perang bersama Sa'd bin Abu Waqqash.

      Dari Bani Makhzum bin Yaqadzah bin Murrah bin Ka'ab adalah sebagai berikut: Habbar bin Sufyan bin 'Abdul Asad. Ia gugur sebagai syahid di Ajnadin salah satu kawasan di Syam pada masa pemerintahan Abu Bakar. Lalu saudara Habbar bin Sufyan, 'Abdullah bin Sufyan. Ia gugur sebagai syahid di Perang Yarmuk di Syam pada masa pemerintahan 'Umar bin Khaththab. Akan tetapi ia diragukan, apakah ia gugur di perang tersebut atau tidak. Dan Hisyam bin Abu Hudzaifah bin al-Mughirah. Jadi jumlah seluruhnya tiga orang.

      Dari Bani Jumah bin 'Amr bin Hushaish bin Ka'ab adalah sebagai berikut: Hathib bin al-Harits bin Ma'mar bin Habib bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah bersama kedua anaknya, Muhammad dan al-Harits, dan bersama istrinya, Fathimah binti al-Muhallal. Hathib bin al-Harits meninggal di Habasyah dalam keadaan Muslim, kemudian istri dan kedua anaknya tiba di Madinah dengan menaiki salah satu perahu. Kemudian saudara Hathib bin al-Harits, Haththab bin al-Harits, pergi bersama istrinya, Fukaihah binti Yasar. Haththab bin al-Harits meninggal di Habasyah dalam keadaan Muslim, kemudian istrinya pulang dengan menaiki salah satu perahu. Kemudian Sufyan bin Ma'mar bin Habib dan kedua anaknya, Junadah dan Jabir, dan juga ibu keduanya, Hasanah, dan saudara seibu keduanya, Syurahbil bin Hasanah. Sufyan bin Ma'mar dan kedua anaknya, Junadah dan Jabir, meninggal pada masa pemerintahan 'Umar bin Khaththab. Jadi jumlah seluruhnya enam orang.

      Dari Bani Sahm bin 'Amr bin Hushaish bin Ka'ab adalah sebagai berikut: 'Abdullah bin al-Harits bin Qais bin 'Adi bin Sa'd bin Sahm, Ia adalah seorang penyair dan meninggal dunia di daerah Habasyah. Qais bin Hudzafah bin Qais bin 'Adi bin Sa'id bin Sahm. Abu Qais bin al-Harits bin Qais bin 'Adi bin Sa'id bin Sahm, ia gugur sebagai syahid di Perang Yamamah pada zaman pemerintahan Abu Bakar ash-Shiddiq. 'Abdullah bin Hudzafah bin Qais bin 'Adi bin Sa'id bin Sahm, dia adalah utusan Rasulullah kepada Kisra Persia. Al-Harits bin al-Harits bin Qais bin 'Adi. Ma'mar bin al-Harits bin Qais bin 'Adi. Bisyr bin al-Harits bin Qais bin 'Adi. Saudara seibu Bisyr bin al-Harits dari Bani Tamim yang bernama Sa'id bin 'Amr, ia gugur saat Perang Ajnadin sebagai syahid pada zaman pemerintahan Abu Bakar ash-Shiddiq. Sa'id bin al-Harits bin Qais, ia gugur saat Perang Yarmuk sebagai syahid pada zaman pemerintahan 'Umar bin Khaththab. As-Saib bin al-Harits bin Qais, ia terluka di Thaif bersama beliau dan gugur saat Perang Fihl sebagai syahid pada zaman pemerintahan 'Umar bin Khaththab. Dan ada juga yang mengklaim bahwa ia gugur di Perang Khaibar, namun hal tersebut diragukan. 'Umair bin Riab bin Hudzaifah bin Mihsyam bin Sa'id bin Sahm, ia gugur di Ain at-Tamri saat bersama Khalid bin al-Walid yang waktu itu dalam perjalanan pulang dari Yamamah pada zaman pemerintahan Abu Bakar ash-Shiddiq. Jadi jumlah seluruhnya sebelas orang.

      Dari Bani 'Adi bin Ka'ab bin Luay adalah sebagai berikut: 'Urwah bin 'Abdul 'Uzza bin Hurtsan bin 'Auf bin 'Ubaid bin Uwaij bin 'Adi bin Ka'ab, ia meninggal di daerah Habasyah. 'Adi bin Nadhlah bin 'Abdul 'Uzza bin Hurtsan, ia meninggal di Habasyah. Jadi jumlah seluruhnya dua orang. Pada saat 'Adi bin Nadhlah pergi ke Habasyah, ia pergi bersama anaknya an-Nu'man bin 'Adi. Dan an-Nu'man sendiri adalah orang yang datang bersama kaum Muslimin dari Habasyah dan hidup sampai masa pemerintahan 'Umar bin Khaththab kemudian 'Umar bin Khaththab menjadikannya sebagai gubernur Maisyan, sebuah kawasan di Basrah. Di sana ia melantunkan beberapa bait syair:

      Apakah telah terdengar oleh Hasna tentang sebuah kabar?

      Bahwa suaminya di Maisyan disuguhi minum dari kaca dan guci

      Jika aku suka seluruh gadis desa bernyanyi untukku

      Juga para penari yang berlenggak-lenggok di atas jari-jarinya

      Bila kau menyesal maka berilah aku minum yang lebih banyak

      Jangan beri aku dengan minuman yang lebih sedikit

      Mungkin Amirul Mukminin berburuk sangka

      Kami menyesal berada di bawah reruntuhan bangunan nan tinggi

      Tatkala bait-bait sya'ir tersebut sampai ke telinga 'Umar bin Khaththab ia marah lalu berkata: "Ya, demi Allah, itu sangat menggangguku. Maka barangsiapa yang bertemu dengan an-Nu'man bin 'Adi, katakan padanya bahwa aku mencopot dari jabatannya." 'Umar bin Khaththab pun mencopot an-Nu'man bin 'Adi. Setelah itu, pada saat an-Nu'man bin 'Adi pulang dan tiba di hadapan 'Umar bin Khaththab, ia meminta maaf dan berkata: "Demi Allah, wahai Amirul Mukminin, aku Tidak berbuat apa-apa sebagaimana yang ada dalam syair yang engkau dengar, akan tetapi aku seorang penyair yang kelepasan bicara seperti yang biasa terjadi pada para penyair." 'Umar bin Khaththab berkata: "Demi Allah, janganlah engkau mengerjakan tugas apa pun untukku selagi aku hidup, karena ucapan yang engkau katakan."

      Kemudian dari Bani 'Amir bin Luai bin Ghalib bin Fihr cuma satu orang, ia adalah Salith bin 'Amr bin 'Abdu Syams bin 'Abdu Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisl bin 'Amir, ia adalah utusan Rasulullah kepada Haudzah bin 'Ali al-Hanafi di Yamamah.

      Dari Bani al-Harits bin Fihr bin Malik adalah sebagai berikut: 'Utsman bin 'Abdu Ghanm bin Zuhair bin Abu Syadad. Sa'd bin 'Abdu Qais bin Laqith bin 'Amir bin Umayyah bin Dzarib bin al-Harits bin Fihr dan lyadh bin Zuhair bin Abu Syadad. Jadi jumlah seluruhnya tiga orang.

      Maka jumlah seluruh orang-orang yang hijrah ke Habasyah dan tidak datang kepada Rasulullah di Makkah, tidak ikut perang Badar dan kemudian datang setelah itu dan juga tidak diangkut Najasyi dengan dua perahu adalah tiga puluh empat orang.44

    34. Wafat di Habasyah dan yang lahir di sana

      Para wanita dan anak-anak

      Disebutkan yang hijrah ke Habasyah dan wafat di sana (tujuh orang), anak yang wafat di sana (satu orang), enam belas wanita Muslimah yang hijrah, dan anak yang lahir di Habasyah: lima laki-laki dan lima perempuan.

      Baca selengkapnya

      Dari Bani 'Abdu Syams bin 'Abdu Manaf adalah 'Ubaidillah bin Jahsy bin Riab kolega Bani Umayyah. Ia meninggal dunia di Habasyah dalam keadaan Kristen.2

      Dari Bani Asad bin 'Abdul 'Uzza bin Qushay adalah 'Amr bin Umayyah bin al-Harits bin Asad. Dari Bani Jumah adalah Hathib bin al-Harits dan saudaranya, Haththab bin al-Harits. Dari Bani Sahm bin 'Amr bin Hushaish bin Ka'ab adalah 'Abdullah bin al-Harits bin Qais. Dari Bani 'Adi bin Ka'ab bin Luay adalah 'Urwah bin 'Abdul 'Uzza bin Hurtsan bin 'Auf dan 'Adi bin Nadhlah. Jadi jumlah seluruh orang-orang yang hijrah ke Habasyah dan meninggal dunia di sana adalah tujuh orang.

      Adapun dari anak-anak mereka yang meninggal dunia di Habasyah hanya dari Bani Taym bin Murrah saja yaitu satu orang, dan dia adalah Musa bin al-Harits bin Khalid bin Shakhr bin 'Amir.

      Sementara jumlah wanita Muslimah yang hijrah ke Habasyah baik yang kembali pulang atau meninggal dunia di sana, adalah enam belas orang, dan itu tidak termasuk putri-putri mereka yang lahir di sana. Dan inilah rincian nama-nama yang pulang lagi atau meninggal di sana, dan wanita-wanita yang hijrah bersama mereka:

      Dari kaum Quraisy, sebagai berikut: dari Bani Hasyim adalah Ruqaiyyah binti Rasulullah. Dari Bani Umayyah adalah Ummu Habibah binti Abu Sufyan bersama putrinya, Habibah. Ummu Habibah membawanya hijrah ke Habasyah dan juga membawanya pulang dari sana. Dari Bani Makhzum adalah Ummu Salamah binti Abu Umayyah, ia pulang bersama putrinya, Zainab yang dilahirkan di Habasyah, hasil dari pernikahannya dengan Abu Salamah. Dari Bani Taym bin Murrah adalah Raithah binti al-Harits bin Jubailah. Ia pulang bersama kedua putrinya yang lahir di Habasyah, 'Aisyah binti al-Harits dan Zainab binti al-Harits dan bersama anak laki-lakinya, Musa bin Harits, namun mereka meninggal dunia ketika di perjalanan karena air yang mereka minum di jalan. Adapun yang tiba hanya salah seorang putrinya yang lahir di Habasyah dia bernama Fathimah. Dan tidak ada yang tersisa dari anak-anaknya kecuali dia. Dari Bani Sahm bin 'Amr adalah Ramlah binti Abu 'Auf bin Dhubairah.

      Dari Bani 'Adi bin Ka'ab adalah Laila binti Abu Hatsmah bin Ghanim.

      Dari Bani 'Amir bin Luay adalah sebagai berikut: Saudah binti Zam'ah bin Qais, Sahlah binti Suhail bin 'Amr, Putri al-Muhallal, 'Amrah binti as-Satii bin Waqdan dan Ummu Kultsum binti Suhail bin 'Amr. Adapun dari orang-orang Arab yang bernasab jauh adalah sebagai berikut: Asma' binti Umais bin an-Nu'man al-Khats'amiyyah, Fathimah binti Shafwan bin Umayyah bin Muharrits al-Kinaniyah, Fukaikah binti Yasar, Barakah binti Yasar, Hasanah ibu Syurahbil bin Hasanah.

      Dari Bani Hasyim, 'Abdullah bin Ja'far bin Abu Thalib.

      Dari Bani 'Abdu Syams adalah sebagai berikut: Muhammad bin Abu Hudzaifah, Sa'id bin Khalid bin Sa'id saudara perempuan Sa'id dan Amah binti Khalid.

      Dari Bani Makhzum adalah Zainab binti Abu Salamah bin 'Abdul Asad.

      Dari Bani Zuhrah adalah 'Abdullah bin al-Muththalib bin Azhar.

      Dari Bani Taym adalah Musa bin al-Harits bin Khalid dan saudari-saudari perempuannya, yaitu 'Aisyah binti al-Harits, Fathimah binti al-Harits, dan Zainab binti al-Harits.

      Detailnya, anak laki-laki yang lahir di Habasyah berjumlah lima orang, yaitu: 'Abdullah bin Ja'far, Muhammad bin Abu Hudzaifah, Sa'id bin Khalid, 'Abdullah bin al-Muththalib dan Musa bin al-Harits. Sementara anak-anak perempuan juga berjumlah lima orang yaitu: Amah binti Khalid, Zainab binti Abu Salamah, 'Aisyah binti al-Harits bin Khalid bin Shakhr, Zainab binti al-Harits bin Khalid bin Shakhr, Fathimah binti al-Harits bin Khalid bin Shakhr.45

    Catatan

    1. Tambahan Ibnu Hisyam.
    2. Ibnu Ishaq.
    3. Nomor catatan kaki "163" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat. Kalimat 'Umar tentang "masih lama hidup … nikmat bersamanya" tidak terbaca utuh pada sumber kami; kami menandai bagian yang hilang dengan "…".
    4. Ibnu Ishaq. Sanad: Orang yang tidak aku ragukan integritasnya berkata kepadaku dari 'Atha' bin Marwan al-Aslami dari ayahnya dari Abu Mu'attib bin 'Amr.
    5. Ibnu Ishaq. Sanad: Seorang yang tidak diragukan kejujurannya meriwayatkan kepadaku dari Anas bin Malik.
    6. Nomor catatan kaki "164" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat. ejaan: tercetak "besabda", kami membaca "bersabda"; tercetak "Muattib", kami membaca "Mu'attib"; tercetak "meriyentuh", kami membaca "menyentuh"; tercetak "Rasullullah", kami membaca "Rasulullah".
    7. Ejaan: tercetak "Akhtthab", kami membaca "Akhthab"; tercetak "Akhtab", kami membaca "Akhthab"; tercetak "Huyai", kami membaca "Huyay".
    8. Ibnu Ishaq. Sanad: 'Abdullah bin 'Amr bin Dhamrah al-Fazari meriwayatkan kepadaku dari 'Abdullah bin Abu Salith dari ayahnya.
    9. Ibnu Ishaq. Sanad: 'Abdullah bin Abu Najih meriwayatkan kepadaku dari Makhul.
    10. Ibnu Ishaq. Sanad: Sallam bin Kirkarah berkata kepadaku dari 'Amr bin Dinar dari Jabir bin 'Abdullah al-Anshari, dan Jabir tidak ikut terjun pada Perang Khaibar.
    11. Ibnu Ishaq. Sanad: Yazid bin Abu Habib menuturkan kepadaku dari Marzuq mantan budak Tujib dari Hans ash-Shan'ani.
    12. Nomor catatan kaki "165", "166", "167", "168", "169" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat. ejaan: tercetak "yang yang", kami membaca "yang".
    13. Ejaan: tercetak "Rasullullah", kami membaca "Rasulullah"; tercetak "mempuyai", kami membaca "mempunyai"; tercetak "Muadz", kami membaca "Mu'adz"; tercetak "sesunguhnya", kami membaca "sesungguhnya".
    14. Ibnu Ishaq. Sanad: 'Abdullah bin Sahl bin 'Abdurrahman bin Sahl dari Bani Haritsah meriwayatkan kepadaku dari Jabir bin 'Abdullah.
    15. Ibnu Ishaq. Sanad: 'Abdullah bin Sahl meriwayatkan kepadaku dari Jabir bin 'Abdullah al-Anshari.
    16. Nomor catatan kaki "170" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat. ejaan: tercetak "As-Sulaim", kami membaca "as-Sulalim".
    17. Ejaan: tercetak "Aw warn", kami membaca "Awwam"; tercetak "lbu", kami membaca "Ibu"; tercetak "la berkata", kami membaca "Ia berkata".
    18. Ibnu Ishaq. Sanad: Buraidah bin Sufyan bin Farwah al-Aslami meriwayatkan kepadaku dari ayahnya, Sufyan, dari Salamah bin 'Amr al-Akwa'.
    19. Ibnu Ishaq. Sanad: 'Abdullah bin al-Hasan meriwayatkan kepadaku dari sebagian keluarganya dari Abu Rafi' mantan budak Rasulullah.
    20. Nomor catatan kaki "171" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat. ejaan: tercetak "belari", kami membaca "berlari".
    21. Ejaan: tercetak "As-Syiqq", kami membaca "asy-Syiqq".
    22. Nomor catatan kaki "172" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat.
    23. Ibnu Ishaq. Sanad: Tsaur bin Zaid meriwayatkan kepadaku dari Salim mantan budak 'Abdullah bin Muthi' dari Abu Hurairah.
    24. Nomor catatan kaki "173" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat.
    25. Ibnu Ishaq. Sanad: Az-Zuhri berkata kepadaku dari Sa'id bin al-Musayyib.
    26. Nomor catatan kaki "174" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat.
    27. Ibnu Ishaq. Sanad: Sulaiman bin Suhaim meriwayatkan kepadaku dari Umayyah binti Abu ash-Shalt dari seorang wanita dari Bani Ghifar.
    28. Nomor catatan kaki "176" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat. ejaan: tercetak "dari dari", kami membaca "dari"; tercetak "mengalungkkannya", kami membaca "mengalungkannya".
    29. Ejaan: tercetak "Sa'ad", kami membaca "Sa'd"; tercetak "barkata", kami membaca "berkata".
    30. Ejaan: tercetak "sampi", kami membaca "sampai"; tercetak "la kalah", kami membaca "Ia kalah".
    31. Ejaan: tercetak "As-Syiqq", kami membaca "asy-Syiqq"; tercetak "Muhaiyyishah", kami membaca "Muhayyishah"; tercetak "tentorial", kami membaca "teritorial"; tercetak "Nairn", kami membaca "Na'im"; tercetak "Ibnu Hiyam", kami membaca "Ibnu Hisyam".
    32. Ejaan: tercetak "Nairn", kami membaca "Na'im"; tercetak "Nathat", kami membaca "Nathah".
    33. Ejaan: tercetak "putuh", kami membaca "puluh"; tercetak "Juman^th", tidak jelas sehingga kami menandainya "…".
    34. Ibnu Ishaq. Sanad: Shalih bin Kaisan meriwayatkan kepadaku dari Ibnu Syihab az-Zuhri dari 'Ubaidillah bin 'Abdullah bin 'Utbah bin Mas'ud.
    35. Ibnu Ishaq. Sanad: Az-Zuhri dan Busyair bin Yasar bekas budak Bani Haritsah meriwayatkan kepadaku dari Sahl bin Abu Hatsmah.
    36. Ibnu Ishaq. Sanad: Muhammad bin Ibrahim bin al-Harits at-Taimi meriwayatkan kepadaku dari 'Abdurrahman bin Bujaid bin Qaidhi saudara Bani Haritsah. Muhammad bin Ibrahim.
    37. Nomor catatan kaki "177" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat. ejaan: tercetak "Abdur Rahman bin Shal", kami membaca "Abdurrahman bin Sahl"; tercetak "suianya", kami membaca "usianya"; tercetak "diatnya", kami membaca "diyatnya".
    38. Nomor catatan kaki "178", "179" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat.
    39. Ibnu Ishaq. Sanad: Nafi' mantan budak 'Abdullah bin 'Umar meriwayatkan kepadaku dari 'Abdullah bin 'Umar.
    40. Ibnu Ishaq. Sanad: 'Abdullah bin Abu Bakr meriwayatkan kepadaku dari 'Abdullah bin Maknaf dari Bani Haritsah.
    41. Ejaan: tercetak "Sa'ad", kami membaca "Sa'd"; tercetak "Muadz", kami membaca "Mu'adz".
    42. Ejaan: tercetak "Muaqib", kami membaca "Mu'aqib"; tercetak "Baitul Mai", kami membaca "Baitul Mal"; tercetak "Rabi ah", kami membaca "Rabi'ah"; tercetak "Jahm bih", kami membaca "Jahm bin"; tercetak "ltulah", kami membaca "Itulah"; tercetak "temasuk", kami membaca "termasuk".
    43. Ibnu Ishaq. Sanad: Muhammad bin Ja'far bin Zubair berkata kepadaku dari 'Urwah.
    44. Ejaan: tercetak "Ubadillah", kami membaca "Ubaidillah"; tercetak "sanateh", tidak jelas sehingga kami menandainya "…"; tercetak "Muththatib", kami membaca "Muththalib"; tercetak "Sa'ad", kami membaca "Sa'd"; tercetak "la adalah", kami membaca "Ia adalah"; tercetak "Ai-Harits", kami membaca "al-Harits".
    45. Ejaan: tercetak "A-Harits", kami membaca "al-Harits"; tercetak "Habsyah", kami membaca "Habasyah"; tercetak "bepjumlah", kami membaca "berjumlah".

    Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Bab berikutnya membahas umrah qadha.