Pusat Sejarah Islam
Bab 46 dari 55

Al-Ji'ranah: tawanan & ghanimah

6.000 tawanan Hawazin dikembalikan setelah utusan mereka masuk Islam. Ghanimah dibagikan kepada para muallaf, dan Nabi menenangkan hati kaum Anshar.

Dzulqa'dah 8 HSumber: Ibnu Hisyam
Sekilas

Isi bab ini

Bab ini memuat peristiwa di al-Ji'ranah menurut Ibnu Hisyam: tawanan Hawazin, utusan Hawazin, pilihan antara keluarga dan harta, hadiah budak wanita, Malik bin 'Auf yang masuk Islam, fa'i dan sehelai bulu unta, jatah para muallaf, keberatan atas pembagian, pidato kepada kaum Anshar, serta umrah dan penunjukan 'Attab bin Usaid.

Utusan Hawazin

Enam ribu tawanan Hawazin berada di al-Ji'ranah. Utusan Hawazin yang sudah masuk Islam memohon pengembalian anak-anak dan wanita; Zuhair Abu Shurad mengingatkan bahwa di antara tawanan ada para wanita yang pernah mengasuh beliau. Beliau menyerahkan jatahnya dan jatah Bani 'Abdul Muththalib, dan para sahabat menyerahkan jatah mereka.

Malik bin 'Auf

Malik, pemimpin Hawazin di Hunain, keluar dari Thaif pada malam hari, memeluk Islam, menerima kembali keluarga dan hartanya serta seratus unta, lalu diangkat memimpin orang-orang kaumnya yang telah masuk Islam.

Jatah para muallaf

Beliau memberi seratus unta kepada sebelas tokoh, antara lain Abu Sufyan, Mu'awiyah, Hakim bin Hizam, Suhail bin 'Amr, 'Uyainah bin Hishn, al-Aqra' bin Habis, Malik bin 'Auf, dan Shafwan bin Umayyah. Kaum Anshar yang tidak mendapat bagian dihibur beliau dengan sabda bahwa mereka pulang membawa Rasulullah.

Umrah dan 'Attab

Dari al-Ji'ranah beliau berumrah di bulan Dzulqa'dah, memerintahkan sisa fa'i disimpan di Majannah, lalu pulang ke Madinah. 'Attab bin Usaid ditunjuk sebagai wakil di Makkah dan Mu'adz bin Jabal mengajarkan agama dan Al-Qur'an.

Peta

Thaif, al-Ji'ranah, Makkah, dan Madinah

Titik Thaif, al-Ji'ranah, Makkah, dan Madinah diambil dari Wikipedia. Duhna dan Majannah tidak ditandai karena koordinatnya belum kami verifikasi.

Thaif, al-Ji'ranah, Makkah, dan Madinah
Tempat yang disebut Ibnu HisyamPerjalanan (garis perkiraan)
Lihat medan 3DPeta bergambar relief; titik dan garis sama dengan peta ini.
    Alur kisah

    Dari al-Ji'ranah sampai penunjukan 'Attab

    Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.

    Urutan di al-Ji'ranah dan jatah para muallaf

    Sketsa ini menata urutan peristiwa menurut Ibnu Ishaq, lalu diagram batang di bawahnya menunjukkan pemberian unta kepada para muallaf. Letak tempat, jarak, dan arah tidak digambar karena sumber tidak memberinya. Kami menggambarnya sendiri.

    URUTAN PERISTIWA MENURUT IBNU ISHAQ; ILUSTRASI KAMI, TANPA JARAK DAN ARAHTIBA DI AL-JI'RANAHtawanan Hawazin;doa untuk TsaqifUTUSAN HAWAZINmemohon; jatah beliaudiserahkanTAWANAN DIKEMBALIKANenam bagian bagiyang bertahanMALIK BIN 'AUFmasuk Islam; seratusunta123FA'I DIMINTAbulu unta; benangdan jarumJATAH MUALLAFseratus unta untuksebelas tokohKEBERATANDzu al-Khuwaishirah;kaum AnsharUMRAH DAN PULANG'Attab di Makkah;sisa fa'i di Majannah4567Sketsa urutan yang kami gambar sendiri; letak al-Ji'ranah dan Majannah serta jaraknya tidak digambar.
    PEMBERIAN UNTA KEPADA PARA MUALLAF MENURUT IBNU ISHAQ DAN IBNU HISYAMPanjang batang sebanding dengan jumlah yang disebut; batang berpola putus-putus berarti jumlahnya hanya disebut "di bawah seratus".Abu Sufyan bin Harb100 untaMu'awiyah bin Abu Sufyan100 untaHakim bin Hizam100 untaal-Harits bin al-Harits bin Kaladah100 untaSuhail bin 'Amr100 untaHuwaithib bin 'Abdul 'Uzza100 untaal-'Ala' bin Jariyah ats-Tsaqafi100 unta'Uyainah bin Hishn100 untaal-Aqra' bin Habis100 untaMalik bin 'Auf an-Nashri100 untaShafwan bin Umayyah100 untaMakhramah bin Naufal az-Zuhridi bawah 100'Umair bin Wahb al-Jumahidi bawah 100Hisyam bin 'Amrdi bawah 100Sa'id bin Yarbu' (Bani Makhzum)50 untaas-Sahmi ('Adi bin Qais, menurut Ibnu Hisyam)50 unta
    1. Utusan Hawazin yang sudah masuk Islam memohon pengembalian keluarga mereka; beliau menyerahkan jatahnya dan jatah Bani 'Abdul Muththalib.
    2. Para sahabat menyerahkan jatah mereka dan tawanan dikembalikan; yang menolak diganti enam bagian, termasuk 'Uyainah bin Hishn yang baru mengembalikan wanita tuanya setelah mendapat ganti itu.
    3. Malik bin 'Auf menyusul beliau dan masuk Islam, menerima keluarga, harta, dan seratus unta, lalu memimpin orang-orang kaumnya yang telah masuk Islam.
    4. Orang-orang mendesak agar fa'i dibagikan; beliau mengangkat sehelai bulu unta, menyatakan hanya seperlima yang menjadi bagiannya, dan meminta benang serta jarum dikembalikan.
    5. Beliau memberi jatah kepada para muallaf, seperti pada diagram batang di bawah.
    6. Seorang lelaki Tamim berkata beliau tidak adil, dan kaum Anshar bersedih; beliau melarang 'Umar menghabisi lelaki itu dan menenangkan kaum Anshar.
    7. Beliau meninggalkan al-Ji'ranah untuk berumrah, menyimpan sisa fa'i di Majannah, lalu pulang ke Madinah dan menunjuk 'Attab bin Usaid di Makkah.

    Soal peta. Ibnu Ishaq hanya menyebut al-Ji'ranah, Duhna, Majannah di Marr azh-Zhahran, Makkah, dan Madinah. Tidak ada arah mata angin atau jarak di antara tempat-tempat itu dalam teksnya, sehingga sketsa di atas hanya menata urutan. Hanya al-Ji'ranah, Makkah, Thaif, dan Madinah yang kami tandai pada peta, dari koordinat yang kami verifikasi.

    Perbedaan sumber

    Pembagian ghanimah. Haykal menulis rampasan Hunain 22.000 unta, 40.000 kambing, dan 4.000 uqiyah perak (angka ini tidak kami temukan dalam Ibnu Hisyam), dengan 6.000 tawanan dibawa ke lembah al-Ji'ranah, sama dengan jumlah tawanan Ibnu Ishaq. Utusan Hawazin. Ibnu Ishaq menyebut Zuhair Abu Shurad dari Bani Sa'ad bin Bakr sebagai pembicara; Haykal menulis utusan tanpa menyebut nama pembicara, dan menambahkan kisah asy-Syaima' binti al-Harits bin 'Abdul 'Uzza, saudari sesusuan beliau, yang beliau kenali, beliau bentangkan jubah untuknya, dan beliau antar pulang dengan hadiah; kisah ini tidak ada di bagian Ibnu Hisyam yang kami pakai. Janji ganti. Ibnu Ishaq menulis enam bagian dari setiap tawanan, mulai dari tawanan pertama yang beliau dapatkan; Haykal menulis enam kali lipat pada ekspedisi berikutnya. Yang menolak. Kedua sumber menyebut al-Aqra' bin Habis (Tamim), 'Uyainah bin Hishn, dan 'Abbas bin Mirdas (Sulaim) menolak menyerahkan jatah; Haykal menulis 'Uyainah berbicara untuk dirinya sendiri. Malik bin 'Auf. Ibnu Ishaq menulis Malik menyusul beliau dan bertemu di al-Ji'ranah atau Makkah, lalu diangkat memimpin orang-orang kaumnya yang masuk Islam; Haykal menulis ia keluar dari Thaif malam hari dengan kudanya, masuk Islam di perkemahan beliau, membawa keluarga, harta, dan seratus unta, lalu pulang, tanpa menyebut pengangkatan itu. Daftar pemberian. Haykal menyebut seratus unta untuk Abu Sufyan, Mu'awiyah, al-Harits bin al-Harits bin Kaladah, al-Harits bin Hisyam, Suhail, dan Huwaithib, dan lima puluh unta bagi tokoh yang lebih kecil; daftar seratus unta Ibnu Ishaq berbeda (memuat Hakim bin Hizam, al-'Ala' ats-Tsaqafi, 'Uyainah, al-Aqra', Malik, dan Shafwan), sedangkan al-Harits bin Hisyam hanya muncul dalam daftar Bani Makhzum tanpa jumlah. Keberatan. Kisah Ju'ail bin Suraqah dan Dzu al-Khuwaishirah tidak kami temukan di bagian Haykal yang kami baca; Haykal menulis 'Abbas bin Mirdas mengeluh dan diberi tambahan sampai puas. Sesudahnya. Haykal menulis beliau pulang ke Madinah menantikan kelahiran Ibrahim; Majannah, tanggal Dzulqa'dah, dan upah satu dirham 'Attab hanya dari Ibnu Hisyam. Khan hanya menyebut 12.000 pasukan Hunain dan tidak membahas pembagian ini.

    1. Tiba di al-Ji'ranah

      Tawanan Hawazin dan doa untuk Tsaqif

      Sekembalinya dari Thaif, beliau melintasi daerah Duhna lalu singgah di al-Ji'ranah bersama para sahabat dengan banyak tawanan Hawazin. Saat meninggalkan Tsaqif, seorang sahabat memintanya mendoakan kebinasaan mereka, tetapi beliau berdoa agar Allah memberi mereka petunjuk dan membawa mereka ke dalam Islam. Menurut Ibnu Ishaq, tawanan Hawazin berjumlah enam ribu orang, anak-anak dan wanita, beserta unta dan kambing yang banyak.

      Masjid al-Ji'ranah
      Masjid al-Ji'ranah, tempat miqat umrah di dekat Makkah (foto 12 Nov 2018; judul berkas "Al - Jaranah Mosque"). Foto masa kini; ada jamaah di dalamnya.Foto: saudipics · CC BY-SA 4.0 · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Sekembalinya dari Thaif, Rasulullah berjalan melintas di daerah Duhna kemudian singgah di Ji'ranah bersama para sahabatnya dan membawa tawanan dari kabilah Hawazin dalam jumlah besar. Salah seorang sahabat berkata kepada Rasulullah pada saat meninggalkan Tsaqif: "Wahai Rasulullah, doakan orang-orang Tsaqif agar mendapatkan kebinasaan." Rasulullah bersabda: "Ya Allah, berilah petunjuk kepada orang-orang Tsaqif dan bawalah mereka ke dalam Islam." Utusan dari kabilah Hawazin datang kepada Rasulullah saat beliau berada di al-Ji'ranah. Pada saat itu, Rasulullah membawa enam ribu orang tawanan kabilah Hawazin, anak-anak dan para wanita, serta unta dan kambing yang berjumlah banyak.1

    2. Utusan Hawazin

      Permohonan atas dasar satu keturunan

      Utusan Hawazin yang telah masuk Islam memohon pertolongan karena mereka satu keturunan dan satu keluarga besar. Zuhair Abu Shurad dari Bani Sa'ad bin Bakr berkata bahwa di tempat tawanan ada bibi-bibi beliau dan para wanita yang pernah mengasuh beliau. Ibnu Hisyam mencatat bunyi lain dari perkataan itu.

      Baca selengkapnya

      "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kita berasal dari satu keturunan dan keluarga besar. Kami telah ditimpa petaka sebagaimana engkau ketahui. Oleh karena itu, berilah kami pertolongan, semoga Allah memberimu pertolongan."2

      Salah seorang utusan kabilah Hawazin dari Bani Sa'ad bin Bakr bernama Zuhair yang biasa dipanggil Abu Shurad berdiri seraya berkata: "Wahai Rasulullah, di tempat penampungan para tawanan terdapat bibi-bibimu dari jalur ayah, bibi-bibimu dari jalur ibu, dan wanita-wanita yang biasa menyusui yang dahulu pernah mengasuhmu. Jika kami (istri-istri atau orang tua kami perempuan) menyusui al-Harits bin Abu Syamr atau an-Nu'man bin al-Mundzir, kemudian kami ditimpa petaka sebagaimana yang menimpanya, maka kami mengharapkan belas kasihan dan pertologannya kepada kami. Dan kami tahu bahwa engkau merupakan anak asuh yang paling baik."

      Ibnu Hisyam mengatakan: dalam riwayat lain dikatakan, Andaikata kami menyusui al-Harits bin Syamir atau an-Nu'man bin al-Mundzir.

    3. Memilih keluarga atau harta

      Jatah beliau dan Bani 'Abdul Muththalib

      Beliau bertanya mana yang lebih dicintai, anak-anak dan wanita atau harta; utusan memilih anak-anak dan wanita. Beliau menyerahkan jatahnya dan jatah Bani 'Abdul Muththalib serta mengajarkan ucapan permohonan sesudah shalat Zhuhur. Muhajirin dan Anshar menyerahkan jatah mereka, sedangkan al-'Aqra' bin Habis, 'Uyainah bin Hishn, dan 'Abbas bin Mirdas menolak; Bani Sulaim kemudian tetap menyerahkan jatah mereka. Beliau menjanjikan enam bagian bagi yang bertahan pada haknya.

      Baca selengkapnya

      Kemudian beliau bersabda kepada utusan kabilah Hawazin: "Manakah yang lebih kalian cintai; anak-anak dan para wanita, atau harta benda kalian?" Utusan kabilah Hawazin berkata: "Wahai Rasulullah, engkau menyuruh kami memilih antara anak keturunan dengan harta kami? Kembalikanlah para wanita dan anak-anak kami, karena mereka lebih kami cintai dari pada yang lain." Rasulullah bersabda kepada utusan kabilah Hawazin: "Jatahku dan jatah Bani 'Abdul Muththalib menjadi milik kalian. Setelah aku mengerjakan shalat Zhuhur bersama kaum Muslimin, maka berdirilah dan katakan: "Kami meminta pembelaan kepada Rasulullah dalam menghadapi kaum Muslimin dan meminta pembelaan kaum Muslimin dalam menghadapi Rasulullah dalam urusan wanita dan anak-anak kami.' Niscaya saat itu permintaan kalian akan aku kabulkan dan aku akan meminta untuk kalian."3

      Seusai beliau menunaikan shalat Zhuhur bersama kaum Muslimin, utusan Hawazin itu berdiri dan berkata sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah. Kaum Muhajirin berkata: "Jatah kami menjadi milik Rasulullah." Kaum Anshar berkata: "Jatah kami juga menjadi milik Rasulullah." Al-Aqra' bin Habis berkata: "Adapun jatahku dan jatah Bani Tamim tidak menjadi milik Rasulullah." 'Uyainah bin Hishn berkata: "Jatahku dan jatah Bani Fazarah juga tidak menjadi milik Rasulullah." 'Abbas bin Mirdas berkata: "Jatahku dan jatah Bani Sulaim tidak menjadi milik Rasulullah.” Bani Sulaim berkata: "Oh, tidak demikian, jatah kami menjadi milik Rasulullah." 'Abbas bin Mirdas berkata kepada Bani Sulaim: "Kalian telah melemahkan posisiku."

      Rasulullah bersabda: "Apabila salah seorang dari kalian tetap mempertahankan haknya atas tawanan ini, maka ia berhak atas enam bagian dari setiap tawanan; mulai dari tawanan yang pertama kali aku dapatkan." Orang-orang pun menyerahkan para tawanan anak dan wanita kepada utusan kabilah Hawazin.4

    4. Hadiah budak wanita

      'Ali, 'Utsman, dan 'Umar

      Beliau memberi 'Ali seorang budak wanita bernama Raithah binti Hilal, memberi 'Utsman seorang budak wanita bernama Zainab binti Hayyan, dan memberi 'Umar seorang budak wanita yang kemudian ia serahkan kepada putranya, 'Abdullah. 'Abdullah bin 'Umar menceritakan bahwa ia menitipkan wanita itu kepada paman-pamannya di Bani Jumah, lalu mengetahui bahwa para wanita dan anak-anak dikembalikan dan meminta mereka mengambilnya.

      Baca selengkapnya

      Abu Wajzah bin Yazid bin 'Ubaid as-Sa'di meriwayatkan kepadaku bahwa Rasulullah memberi hadiah kepada 'Ali bin Abu Thalib seorang budak wanita bernama Raithah binti Hilal bin Hayyan bin Umairah bin Hilal bin Nashirah bin Qushaiyyah bin Nashr bin Sa'ad bin Bakr, dan memberi 'Utsman bin 'Affan seorang seorang budak wanita bernama Zainab binti Hayyan bin 'Amr bin Hayyan, serta memberi 'Umar bin Khaththab seorang budak wanita yang kemudian diberikan kepada putranya, 'Abdullah bin 'Umar.1

      Aku pergi membawa budak wanita hadiah tersebut kepada paman-pamanku dari jalur ibu di Bani Jumah, agar mereka mendandaninya untukku, karena saat itu aku hendak melakukan thawaf dan sesudahnya aku kembali kepada mereka. Aku ingin menggauli budak wanita itu setelah aku melaksanakan thawaf. Seusai thawaf, aku keluar dari Masjidil Haram dan orang-orang berlarian. Aku bertanya kepada mereka: “Apa yang terjadi dengan kalian." Mereka menjawab: "Beliau mengembalikan para wanita dan anak-anak kepada kami." Aku berkata: "Salah seorang budak wanita kalian kini berada di Bani Jumah, maka pergilah kepada mereka dan ambillah dia." Mereka pun pergi ke Bani Jumah dan mengambil budak wanita tersebut.5

    5. 'Uyainah dan wanita tua

      Ganti enam bagian

      'Uyainah bin Hishn mengambil seorang wanita tua dari Hawazin dengan harapan tebusannya besar, dan menolak mengembalikannya ketika beliau mengembalikan para tawanan dengan memberi enam bagian kepada yang berhak. Zuhair Abu Shurad menyebut keadaan wanita itu, lalu 'Uyainah mengembalikannya dan menerima enam bagian. Menurut para ulama, al-'Aqra' bin Habis menegurnya setelah ia mengadu.

      Baca selengkapnya

      Adapun 'Uyainah bin Hishn, ia mengambil wanita tua dari kabilah Hawazin. Pada saat mengambil wanita itu, 'Uyainah bin Hishn berkata: "Aku menyaksikan wanita ini sudah tua dan aku berharap ia memiliki keluarga. Semoga uang tebusannya besar." Pada waktu beliau mengembalikan para tawanan wanita dengan memberi ganti enam bagian kepada orang yang berhak mendapatkannya, 'Uyainah bin Hishn menolak mengembalikan wanita tua itu. Lalu Zuhair Abu Shurad berkata kepada 'Uyainah bin Hishn: "Ambillah wanita tersebut. Demi Allah, mulutnya tidak lagi dingin, payudaranya sudah tidak lagi berisi, perutnya tidak lagi bisa mengandung, suaminya sudah tidak sedih berpisah dengannya dan air susunya tidak banyak." 'Uyainah bin Hishn pun mengembalikan wanita tua tersebut ketika Zuhair Abu Shurad mengatakan itu kepadanya dan mendapat ganti enam bagian.1

      Para ulama berpendapat bahwa 'Uyainah bin Hishn bertemu al-Aqra' bin Habis dan mengadukan masalah tersebut. Lalu al-Aqra' bin Habis berkata kepada 'Uyainah bin Hishn: "Demi Allah, mengapa engkau tidak mengambil wanita yang putih, muda belia, dan montok?."6

    6. Malik bin 'Auf masuk Islam

      Seratus unta dan pimpinan kaumnya

      Beliau menanyakan Malik bin 'Auf an-Nashri dan berpesan bahwa bila ia masuk Islam, keluarga dan hartanya akan dikembalikan dan ia diberi seratus unta. Malik keluar dari Thaif pada malam hari agar Tsaqif tidak menahannya, menyusul beliau, dan memeluk Islam; ia menyusun syair pujian. Beliau mengangkatnya pemimpin orang-orang kaumnya yang telah masuk Islam, dan bersama mereka ia memerangi Tsaqif.

      Baca selengkapnya

      Rasulullah bersabda kepada utusan suku Hawazin dan bertanya kepada mereka mengenai keberadaan Malik bin 'Auf an-Nashri? Utusan suku Hawazin menjawab: "Malik bin 'Auf an-Nashri sedang berada di Thaif." Beliau bersabda: "Sampaikan kepada Malik bahwa jika ia masuk Islam, maka keluarga dan hartanya akan aku kembalikan kepadanya, bahkan aku hadiahi seratus unta." Berita itu disampaikan kepada Malik bin 'Auf, kemudian ia keluar dari Thaif bermaksud menemui beliau. Malik bin 'Auf an-Nashri khawatir kalau orang-orang Tsaqif mengetahui tawaran Rasulullah untuknya, sebab apabila diketahui, mereka pasti menahannya. Oleh sebab itulah, ia keluar dari Thaif pada malam hari. Ia menaiki kudanya lalu memacunya sekencang-kencangnya hingga tiba di tempat untanya yang disiapkan. Lalu ia menaiki unta tersebut mengejar beliau dan bertemu beliau di Ji'ranah atau Makkah. Beliau mengembalikan keluarga dan hartanya kepadanya, serta memberinya seratus unta. Ia memeluk Islam dan keislamannya baik. Malik bin 'Auf an-Nashri berkata tatkala masuk Islam:1

      Tak pernah aku mendapati manusia seperti Muhammad di seluruh dunia

      Menepati janji dan ringan memberi jika di minta

      Kapan saja kau minta, ia jelaskan padamu apa yang terjadi di besok hari

      Jika satu pasukan tempur telah memperlihatkan senjata pembunuhnya

      Dengan tombak dan tebasan seluruh pedang India

      Beliau laksana singa terhadap anak-anak singa

      Di tengah debu yang menderu dan bagaikan singa yang sedang mengintai

      Rasulullah menunjuk Malik bin 'Auf an-Nashri sebagai komandan membawahi orang-orang dari kaumnya yang telah memeluk Islam. Suku-suku dari kaumnya yang memeluk Islam ialah Tsumalah, Salamah, dan Fahm. Bersama suku-suku inilah, Malik bin 'Auf an-Nashri memerangi orang-orang Tsaqif.

    7. Fa'i dan sehelai bulu unta

      Kembalikan benang dan jarum

      Orang-orang mendesak agar fa'i unta dan kambing dibagikan kepada mereka. Beliau menjawab bahwa seandainya hewan ternak sebanyak pohon di Tihamah menjadi hak mereka, beliau akan membaginya. Beliau mengangkat sehelai bulu unta dan menyatakan bahwa hanya seperlimanya yang menjadi bagian beliau, dan seperlimanya itu pun dibagikan; ghulul adalah aib. Seorang Anshar yang membawa gulungan benang membuangnya setelah mendengar jawaban beliau.

      Baca selengkapnya

      Usai mengembalikan para tawanan Perang Hunain kepada keluarganya, beliau naik kendaraannya dan diikuti kaum muslimin, sambil yang berkata: "Wahai Rasulullah, bagikan fa'i unta dan kambing kepada kami. Mereka terus mendesak Rasulullah hingga beliau bersabda: "Wahai manusia, demi Allah! Seandainya hewan ternak sebanyak pohon-pohon di Tihamah itu adalah hak kalian, aku pasti membagi-bagikannya, karena aku bukanlah orang bakhil, pengecut dan pendusta." Sesaat setelah itu beliau berdiri di samping unta, mengambil bulunya yang paling halus, dan mengangkatnya seraya bersabda: "Wahai manusia, demi Allah, fa'i kalian tidak halal bagiku dan tidak pula atas harta sebesar bulu ini melainkan seperlimanya saja dan seperlimanya dibagi-bagikan kepada kalian. Oleh karena itu, kembalikan benang dan jarum, karena sesungguhnya ghulul (mengambil sendiri harta rampasan perang sebelum dibagi) adalah aib, dan noda buruk di Hari Kiamat."1

      Seorang laki-laki Anshar datang dengan membawa gulungan benang dari rambut dan berkata: "Wahai Rasulullah, aku mengambil gulungan benang dari rambut ini dan memanfaatkannya sebagai alas pelana kendaraanku yang telah rusak." Beliau bersabda: "Jika ini bagianku dari rampasan perang maka kau tetap bisa saja menyimpannya bersamamu." Orang dari kaum Anshar tersebut berkata: "Kalau hanya ini, aku tidak membutuhkannya." Orang tersebut pun lalu membuangnya.

    8. Jatah para muallaf

      Seratus unta bagi tokoh kaum

      Beliau membagikan jatah kepada para muallaf, tokoh-tokoh kaum yang diharapkan dapat meluluhkan hati kaumnya. Seratus unta masing-masing diberikan kepada Abu Sufyan, Mu'awiyah, Hakim bin Hizam, al-Harits bin al-Harits bin Kaladah (Ibnu Hisyam menyebut Nushair), Suhail bin 'Amr, Huwaithib, al-'Ala' bin Jariyah ats-Tsaqafi, 'Uyainah bin Hishn, al-Aqra' bin Habis, Malik bin 'Auf, dan Shafwan bin Umayyah. Sejumlah orang Quraisy lain mendapat kurang dari seratus unta, dan dua orang lima puluh unta.

      Baca selengkapnya

      Rasulullah membagikan jatah kepada para muallaf, khususnya para tokoh terpandang setiap kaum yang diharapkan dapat menaklukkan dan meluluhkan hati kaum mereka. Beliau menganugrahi Abu Sufyan bin Harb seratus unta, Muawiyah bin Abu Sufyan bin Harb sebanyak seratus unta, Hakim bin Hizam sebanyak seratus unta. Al-Harits bin al-Harits bin Kaldah saudara Bani Abdduddar seratus unta.1

      Ia adalah Nushair bin al-Harits bin Kaladah, Suhail bin 'Amr seratus unta, Huwaithib bin 'Abdul 'Uzza bin Abu Qais seratus unta, al-'Ala' bin Jariyah ats-Tsaqafi sekutu Bani Zuhrah seratus unta, 'Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah bin Badr seratus unta, al-Aqra' bin Habis at-Tamimi seratus unta, Malik bin 'Auf an-Nashri seratus unta, dan Shafwan bin Umayyah seratus unta. Semua mendapatkan seratus unta.7

      Selain itu, beliau juga memberi sejumlah orang-orang Quraisy unta di bawah jumlah seratus ekor. Mereka adalah Makhramah bin Naufal az-Zuhri, 'Umair bin Wahb al-Jumahi, dan Hisyam bin 'Amr saudara Bani 'Amir bin Luay. Beliau menghadiahi Sa'id bin Yarbu' bin Ankatsah bin 'Amir bin Makhzum lima puluh unta, as-Sahmi -Ibnu Hisyam berkata: nama aslinya 'Adi bin Qaislima puluh unta.

      Salah seorang ulama yang tidak aku ragukan kejujurannya bercerita kepadaku dalam sanadnya dari Ibnu Syihab az-Zuhri dari 'Ubaidillah bin 'Abdullah bin 'Utbah dari Ibnu 'Abbas ia berkata: beliau membaiat orang-orang Quraisy dan yang lain. Kemudian pada Perang Ji'ranah beliau membagi jatah kepada mereka dari ghanimah Perang Hunain.78

    9. Daftar penerima

      Quraisy dan suku lain

      Ibnu Hisyam mencatat nama-nama penerima ghanimah Hunain menurut kabilah. Dari Quraisy: Bani Umayyah, 'Abduddar, Makhzum, 'Adi bin Ka'ab, Jumah, Sahm, dan 'Amir bin Luay. Dari selain Quraisy: Bani Bakr bin 'Abdu Manat, Qais (Kilab dan 'Amir bin Rabi'ah), Nashr bin Mu'awiyah, Sulaim, Ghathafan (Fazarah), dan Tamim (Handzalah).

      Baca selengkapnya

      Dari Bani Umayyah bin 'Abdu Syams, mereka adalah: Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah, Thaliq bin Sufyan bin Umayyah, Khalid bin Usaid bin Abu al-Ish bin Umayyah.

      Dari Bani 'Abduddar bin Qushai mereka adalah: Syaibah bin 'Utsman bin Abu Thalhah bin 'Abdul 'Uzza bin 'Utsman bin 'Abduddar, Abu as-Sanabil bin Ba'kak bin al-Harits bin Umailah bin as-Sabbaq bin 'Abduddar, 'Ikrimah bin 'Amir bin Hasyim bin 'Abdu Manaf bin 'Abduddar.

      Dari Bani Makhzum bin Yaqadzah, mereka adalah: Zuhair bin Abu Umayyah bin al-Mughirah, al-Harits bin Hisyam bin al-Mughirah, Khalid bin Hisyam bin al-Mughirah, Hisyam bin al-Walid bin al-Mughirah, Sufyan bin 'Abdul Asad bin 'Abdullah bin 'Umar bin Makhzum, as-Saib bin Abu as-Saib bin 'Aidz bin 'Abdullah bin 'Umar bin Makhzum.

      Dari Bani 'Adi bin Ka'ab, mereka adalah: Muthi' bin al-Aswad bin Haritsah bin Nadhlah, Abu Jahm bin Hudzaifah bin Ghanim.

      Dari Bani Jumah bin 'Amr, mereka adalah: Shafwan bin Umayyah bin Khalaf, 'Uhaihah bin Umayyah bin Khalaf, 'Umair bin Wahb bin Khalaf.

      Dari Bani Sahm ialah 'Adi bin Qais bin Hudzafah.

      Dari Bani 'Amir bin Luay, mereka adalah: Huwaithib bin 'Abdul 'Uzza bin Abu Qais bin 'Abdu Wudd, Hisyam bin 'Amr bin Rabi'ah bin al-Harits bin Hubaib.

      Orang-orang dari suku selain Quraisy yang memperoleh ghanimah (harta rampasan) Perang Hunain, mereka adalah sebagai berikut:

      Dari Bani Bakr bin 'Abdu Manat bin Kinanah ialah Naufal bin Muawiyah bin 'Urwah bin Shakhr bin Razn bin Ya'mar bin Nufatsah bin 'Adi bin ad-Dail.

      Dari Bani Qais kemudian dari Bani 'Amir bin Shasha'ah kemudian dari Bani Kilab bin Rabi'ah bin 'Amir bin Shasha'ah: 'Alqamah bin Ulatsah bin 'Auf bin al-Ahwash bin Ja'far bin Kilab, Labid bin Rabi'ah bin Malik bin Ja'far bin Kilab.

      Dari Bani 'Amir bin Rabi'ah: Khalid bin Haudzah bin Rabi'ah bin 'Amr bin 'Amir bin Rabi'ah bin 'Amir bin Shasha'ah, Harmalah bin Haudzah bin Rabi'ah bin 'Amr.

      Dari Bani Nashr bin Muawiyah adalah Malik bin 'Auf bin Sa'id bin Yarbu'. Dari Bani Sulaim bin Manshur adalah 'Abbas bin Mirdas bin Abu 'Amir, dari Bani al-Harts bin Buhtsah bin Sulaim. Dari Bani Ghathafan lalu dari Bani Fazarah ialah 'Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah bin Badr. Dari Bani Tamim lalu Bani Handzalah ialah al-Aqra' bin Habis bin Iqal dari Bani Mujasyi.

    10. Keberatan atas pembagian

      Ju'ail bin Suraqah dan Dzu al-Khuwaishirah

      Seorang lelaki bertanya mengapa 'Uyainah dan al-Aqra' diberi seratus unta sedangkan Ju'ail bin Suraqah adh-Dhamri tidak diberi sedikit pun; beliau menjawab Ju'ail manusia terbaik, tetapi pemberian itu agar hati keduanya luluh. Dzu al-Khuwaishirah dari Bani Tamim berkata pembagian itu tidak adil; beliau marah, melarang 'Umar menghabisinya, dan bersabda akan ada pengikut yang keluar dari agama seperti anak panah dari busurnya.

      Baca selengkapnya

      Muhammad bin Ibrahim bin al-Harts at-Tamimi bercerita kepadaku bahwa seseorang laki-laki berkata kepada beliau: "Wahai Rasulullah, kenapa engkau memberi 'Uyainah bin Hishn dan al-Aqra' bin Habis masing-masing seratus unta, Ju'ail bin Suraqah adh-Dhamri tidak diberi sedikitpun?" Beliau bersabda: "Demi Allah, asal kau tahu saja Juail bin Suraqah itu adalah manusia terbaik. Hanya saja aku memberikan 'Uyainah bin Hishn dan al-Aqra' bin Habis berharap agar hati keduanya luluh sehingga masuk Islam."1

      Abu 'Ubaidah bin Muhammad bin 'Ammar bin Yasir bercerita kepadaku dari Miqsam Abu al-Qasim mantan budak 'Abdullah bin al-Harits bin Naufal, ia bercerita: Aku bersama Talid bin Kilab al-Laitsi bertanya kepada 'Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash: "Apakah engkau menyaksikan langsung saat at-Tamimi mengkritik Rasulullah di Perang Hunain?" 'Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash berkata: "Ya, Dzu al-Khuwaishirah yang berasal dari Bani Tamim mendatangi Rasulullah saat beliau membagi-bagi rampasan perang kepada manusia. Dzu al-Khuwaishirah berkata: "Wahai Muhammad, aku sudah melihat sendiri apa yang engkau perbuat pada hari ini." Rasulullah bersabda: "Lalu bagaimana pendapatmu?" Dzu al-Khuwaishirah berkata: "Menurutku apa yang kau lakukan ini tidak adil." Beliau marah kemudian bersabda: "Parah sekali kau ini, jika aku saja dianggap tidak adil lalu siapa lagikah yang bisa berbuat adil?" 'Umar bin Khaththab berkata: "Wahai Rasulullah, izinkan aku menghabisi orang ini." Rasulullah bersabda: "Jangan. Abaikan saja ia karena nanti ia akan pengikut yang ahli dalam agama, namun sayangnya mereka keluar dari agama, seperti keluarnya anak panah dari busurnya. Ia terlihat di pedang, namun tak ada apapun di dalamnya. Ia terlihat di panah, tidak terdapat apapun di dalamnya. Ia terlihat di belahan ujung anak panah, ternyata tetap sama, tak ada apa-apa juga. Kotoran dan darah telah lebih dahulu berlalu."1

      Muhammad bin 'Ali bin al-Husain Abu Ja'far bercerita kepadaku seperti cerita Abu 'Ubaidah di atas dan ia menamakan orang yang bersangkutan Dzu al-Khuwaishirah.1

      'Abdullah bin Abu Naji menceritakan kisah yang sama kepadaku dari ayahnya.19

    11. Pidato kepada kaum Anshar

      Pulang membawa Rasulullah

      Kaum Anshar merasa tidak diperhitungkan karena tidak mendapat bagian, dan Sa'ad bin 'Ubadah menyampaikan keberatan mereka. Beliau mengumpulkan mereka di tempat penginapan unta dan mengingatkan bahwa Allah telah memberi mereka petunjuk, kekayaan, dan persatuan. Beliau bertanya apakah mereka tidak rela orang lain pulang membawa kambing dan unta sedangkan mereka pulang membawa Rasulullah; kaum Anshar menangis hingga jenggot mereka basah dan menyatakan bahagia.

      Baca selengkapnya

      Pada saat Rasulullah membagi-bagi rampasan perang kepada orang-orang Quraisy, suku-suku Arab, dan tidak memberikan sedikit pun kepada kaum Anshar, maka kaum Anshar bersedih hati dan merasa tidak dianggap sama sekali sampai-sampai Sa'ad bin 'Ubadah menemui Rasulullah dan menyampaikan keberatan mereka. Rasulullah lalu menyuruh Sa'ad bin 'Ubadah mengumpulkan kaum Anshar di tempat penginapan unta. Tatkala kaum Anshar telah berkumpul, beliau bersabda kepada mereka: "Wahai seluruh kaum Anshar, keluhan kalian telah aku terima? Apa kalian tidak puas dengan yang kulakukan? Bukankah aku datang kepada kalian yang dulu tersesat setelah itu Allah memberi petunjuk pada kalian, yang dulunya miskin setelah itu Allah mengkayakan kalian, dan yang dulunya bermusuhan setelah itu Allah menyatukan hati kalian?" Kaum Anshar menjawab: "Benar. Allah dan Rasul-Nya yang lebih utama." Rasulullah melanjutkan sabdanya: "Mengapa kalian diam saja dan tidak menanggapi ucapanku, hai kaum Anshar?" Kaum Anshar berkata: "Apa yang harus kami tanggapi, wahai Rasulullah? Karunia dan keutamaan hanyalah milik Allah dan Rasul-Nya." Beliau bersabda lagi: "Demi Allah, jika kalian mau, kalian pasti berbicara, kalian berkata benar, dan dibenarkan. Kalian akan mengatakan, begitu pun denganmu, datang kepada kami saat kau didustakan kemudian kami membenarkanmu, engkau terlantar kemudian kami menolongmu, engkau terusir kemudian kami menyambutmu dan menerimamu di tengah kami, dan engkau miskin kemudian kami mengkayakanmu. Hai kaum Anshar, secuil dunia inikah yang kalian persoalkan, padahal itu hanya untuk meluluhkan hati mereka agar masuk Islam, sedang aku menyerahkan kalian kepada keislaman kalian? Hai kaum Anshar, apa kalian tidak bahagia sekiranya orang-orang itu pulang membawa kambing-kambing dan unta-unta, sedang kalian pulang membawa Rasulullah ke tempat kalian? Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, kalaulah tidak karena peristiwa hijrah, pastilah aku menjadi salah seorang dari kaum Anshar. Jika manusia dan kaum Anshar melewati dua jalan berbeda, aku pasti berjalan di jalan yang dilewati kaum Anshar. Ya Allah, sayangilah dan kasihilah kaum Anshar, anak-anak kaum Anshar, dan cucu-cucu kaum Anshar." Kaum Anshar pun luluh, air mata mereka berderai hingga jenggot mereka basah karenanya. Mereka berkata: "Kami sangat bahagia Rasulullahmenjadi bagian kami." Setelah itu, Rasulullah pergi dan kaum Anshar pun berpencar.1011

    12. 'Umrah dari al-Ji'ranah

      'Attab bin Usaid di Makkah

      Beliau meninggalkan al-Ji'ranah menuju Makkah untuk berumrah dan memerintahkan sisa fa'i disimpan di Majannah, salah satu tempat di Marr azh-Zhahran. Sesudah umrah beliau pulang ke Madinah dengan membawa sisa fa'i, menunjuk 'Attab bin Usaid sebagai wakil di Makkah, dan Mu'adz bin Jabal mengajarkan agama dan Al-Qur'an kepada kaum Muslimin. Ibnu Ishaq menyebut umrah ini pada Dzulqa'dah; pada tahun itu 'Attab berhaji bersama kaum Muslimin, sedangkan Tsaqif masih musyrik sampai Ramadhan tahun 9 H.

      Baca selengkapnya

      Rasulullah meninggalkan Ji'ranah menuju Makkah untuk berumrah dan memerintahkan sisa-sisa fa'i untuk disimpan di Majannah, salah satu daerah di Marr Azh-Zhahran. Sesudah berumrah, beliau pulang ke Madinah dan menunjuk Attab bin Usaid sebagai wakil beliau di Makkah, dan menunjuk Muadz bin Jabal di Makkah untuk mengajarkan perkara-perkara agama dan al-Qur'an kepada kaum Muslimin. Rasulullah kembali ke Madinah dengan membawa sisa-sisa fa'i.1

      Diberitakan kepadaku dari Zaid bin Aslam bahwa ia berkata: beliau mengamanahi Attab bin Usaid sebagai pejabat beliau di Makkah, beliau mengupahnya satu dirham per hari. Attab bin Usaid berdiri dan berkhutbah kepada manusia: "Hai manusia, kenapa kalian mengeluh kelaparan dengan dengan uang satu dirham. Sungguh Rasulullah mengupahku satu dirham per hari. Bahkan dengan jumlah tersebut, aku sudah tidak lagi membutuhkan siapa pun."7

      Umrah beliau di atas terjadi pada bulan Dzulqa'dah. Rasulullah kembali pulang ke Madinah pada akhir bulan Dzulqadah atau di awal bulan Dzulhijjah.1

      Beliau sampai di Madinah pada tanggal dua puluh empat bulan Dzulqa'dah seperti dikatakan Abu 'Amr al-Madani.7

      Pada tahun itu, orang-orang Arab menunaikan ibadah haji sebagaimana biasanya. Pada tahun itu juga, Attab bin Usaid menunaikan ibadah haji bersama kaum Muslimin pada tahun kedelapan hijriyah. Pada tahun itu juga, orang-orang Thaif masih belum bisa meninggalkan kemusyrikan mereka antara bulan Dzulqa'dah sejak Rasulullah pulang ke Madinah hingga bulan Ramadhan tahun ke sembilan Hijriyah.112

    Catatan

    1. Ibnu Ishaq.
    2. Ibnu Ishaq. Sanad: 'Amr bin Syuaib meriwayatkan kepadaku dari ayahnya dari kakeknya, 'Abdullah bin 'Amr, yang berkata bahwa utusan kabilah Hawazin datang kepada Rasulullah dan mereka telah masuk Islam. Mereka.
    3. Ibnu Ishaq. Sanad: 'Amr bin Syuaib meriwayatkan kepadaku dari ayahnya dari kakeknya, 'Abdullah bin 'Amr.
    4. Ejaan: tercetak "kabliah", kami membaca "kabilah".
    5. Ibnu Ishaq. Sanad: Nafi' mantan budak 'Abdullah bin 'Umar meriwayatkan kepadaku dari 'Abdullah bin 'Umar.
    6. Ejaan: tercetak "Uyainah binti Hishn", kami membaca "Uyainah bin Hishn"; tercetak "menyakiskan", kami membaca "menyaksikan".
    7. Tambahan Ibnu Hisyam.
    8. Ejaan: tercetak "la adalah", kami membaca "Ia adalah"; tercetak "sanadnyz.", kami membaca "sanadnya".
    9. Nomor catatan kaki "198" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat.
    10. Tambahan Ibnu Hisyam. Sanad: Ziyad bin 'Abdullah bercerita kepadaku, Ibnu Ishaq bercerita kepadaku, 'Ashim bin 'Umar bin Qatadah bercerita kepadaku dari Mahmud bin Labid dari Abu Sa'id al-Khudri.
    11. Nomor catatan kaki "199" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat. ejaan: tercetak "Sa id", kami membaca "Sa'id".
    12. Ejaan: tercetak "Marr Adh-Dhahran", kami membaca "Marr Azh-Zhahran"; tercetak "terjadipada", kami membaca "terjadi pada".

    Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Bab berikutnya membahas Ekspedisi Tabuk.