Pusat Sejarah Islam
Bab 47 dari 55

Ekspedisi Tabuk

Perjalanan jauh di tengah musim panas untuk menghadapi Romawi. Pasukan melewati al-Hijr, negeri kaum Tsamud. Di Tabuk, Aylah, Jarba' dan Adzruh berdamai, dan Khalid membawa Ukaidir Dawmah dari Kindah.

Rajab 9 HSumber: Ibnu Hisyam
Sekilas

Isi bab ini

Bab ini memuat Perang Tabuk menurut Ibnu Hisyam: persiapan di musim sulit, orang-orang munafik, infak 'Utsman, 'Ali di al-Jurf, perhentian di al-Hijr, perjanjian dengan penguasa Aylah, Ukaidir Dawmah, masjid Dhirar, dan kisah tiga sahabat yang tertinggal.

Waktu dan arah

Beliau menyiapkan pasukan dari Dzulhijjah sampai Rajab untuk menyerbu Romawi, di musim panas terik ketika buah-buahan mulai ranum. Pasukan berjalan dari Madinah ke Tabuk di utara, singgah di al-Jurf dan al-Hijr, lalu pulang lewat Wadi al-Musyaqqaq dan Dzu Awan.

Pasukan dan sumbangan

Ibnu Hisyam tidak menyebut jumlah pasukan; Ka'ab bin Malik hanya berkata nama peserta tidak tercatat dalam satu buku. Yang disebut berupa angka adalah infak 'Utsman bin 'Affan sebanyak seribu dinar untuk Jaisy al-'Usrah dan lebih dari delapan puluh orang yang tertinggal.

Perjanjian di utara

Di Tabuk, Johannes bin Ru'bah penguasa Aylah berdamai dan membayar jizyah, begitu pula penduduk Jarba' dan Adzruh. Khalid bin Walid membawa Ukaidir Dawmah dari Kindah, yang berdamai, membayar jizyah, lalu dibebaskan.

Masjid Dhirar dan tiga sahabat

Sepulang dari Tabuk masjid Dhirar dihancurkan dan dibakar. Tiga sahabat yang jujur, Ka'ab bin Malik, Murarah bin ar-Rabi', dan Hilal bin Umayyah, dikucilkan lima puluh malam hingga taubat mereka diterima.

Peta

Madinah, Tabuk, Aylah, dan Adzruh

Titik Madinah, Tabuk, Aylah, Adzruh, dan Dumat al-Jandal diambil dari Wikipedia.

Madinah, Tabuk, Aylah, dan Adzruh
Tempat yang disebut Ibnu HisyamPerjalanan (garis perkiraan)
Lihat medan 3DPeta bergambar relief; titik dan garis sama dengan peta ini.
    Alur kisah

    Dari persiapan sampai tiga sahabat dikucilkan

    Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.

    Urutan perjalanan dan masjid di sepanjang jalan

    Bab ini bukan pertempuran, karena Ibnu Ishaq dan Haykal sama-sama tidak menuturkan pertempuran di Tabuk. Sketsa menata urutan perjalanan menurut Ibnu Ishaq; di bawahnya daftar masjid beliau antara Madinah dan Tabuk menurut Ibnu Ishaq. Jumlah pasukan tidak disebut Ibnu Hisyam (lihat kotak Perbedaan sumber). Kami menggambarnya sendiri.

    URUTAN PENUTURAN IBNU ISHAQ; ILUSTRASI KAMI, TANPA JARAK DAN ARAHPERSIAPANDzulhijjah sampai Rajab;infak 'UtsmanTSANIYYATUL WADA'berkemah; wakil diMadinah ditunjukAL-JURF'Ali menyusul lalukembali ke MadinahAL-HIJRair sumur; hujanturun123TABUKAylah, Jarba', Adzruhmembayar jizyahUKAIDIR DAWMAHKhalid membawanya;berdamaiPULANGair Musyaqqaq;Dzu Awan: DhirarDI MADINAHtiga sahabatdikucilkan4567Sketsa urutan yang kami gambar sendiri, tanpa jarak dan arah.
    MASJID BELIAU ANTARA MADINAH DAN TABUK MENURUT IBNU ISHAQUrutan sebagaimana tercetak; jarak dan arah tidak disebut.1. Tabuk2. Tsaniyyah Midran3. Dzatu az-Zirab4. al-Akhdhar5. Dzatu al-Khithmi6. Ala'7. Tharf al-Batra'8. Jalan menuju Tara9. Dzi al-Jifah10. Shadr Haudha11. al-Hijr12. al-Wadi (Wadi al-Qura)13. ar-Ruq'ah14. Dzu al-Marwah15. al-Faifa'16. Dzu Khusyub
    1. Beliau menyiapkan pasukan dari Dzulhijjah sampai Rajab; orang-orang kaya diseru berinfak dan 'Utsman berinfak seribu dinar.
    2. Beliau berkemah di Tsaniyyatul Wada' dan menunjuk Muhammad bin Maslamah di Madinah; 'Abdullah bin Ubay berkemah sendiri menghadap Gunung Dzubab lalu tidak ikut.
    3. 'Ali dijadikan penjaga keluarga beliau dan menyusul sampai al-Jurf; beliau menyuruhnya kembali dengan sabda tentang kedudukan Harun di sisi Musa.
    4. Di al-Hijr para sahabat mengambil air sumur; dua orang melanggar perintah, dan keesokan harinya hujan turun setelah beliau berdoa.
    5. Di Tabuk Johannes bin Ru'bah dari Aylah berdamai; penduduk Jarba' dan Adzruh juga membayar jizyah, dan beliau menulis surat perjanjian.
    6. Ukaidir Dawmah dari Kindah dibawa Khalid bin Walid, berdamai dengan jizyah, dan dibebaskan. Dalam perjalanan pulang orang munafik mengambil air Wadi al-Musyaqqaq, dan masjid Dhirar dihancurkan.
    7. Di Madinah orang-orang yang tertinggal datang dengan alasan; tiga sahabat yang jujur dikucilkan lima puluh malam sampai taubat mereka diterima.

    Soal peta. Ibnu Ishaq menyebut Tsaniyyatul Wada', al-Jurf, al-Hijr, Tabuk, Aylah, Jarba', Adzruh, Wadi al-Musyaqqaq, dan Dzu Awan, tanpa arah mata angin atau jarak di antaranya, sehingga sketsa di atas hanya menata urutan. Titik pada peta (Madinah, Tabuk, Aylah, Adzruh, dan Dumat al-Jandal) memakai koordinat yang kami verifikasi; Haykal menyebut Khalid pergi ke Dumah dan Wikipedia mengaitkan ekspedisi Khalid dengan Dumat al-Jandal.

    Perbedaan sumber

    Sebab keberangkatan. Ibnu Ishaq hanya menulis beliau menyiapkan pasukan untuk menyerbu Romawi; Haykal menambahkan kabar bahwa Bizantium mengumpulkan pasukan untuk membalas Mu'tah. Wikipedia juga menyebut laporan tentang Heraklius yang mengumpulkan pasukan, tetapi menulis sebagian peneliti menilai kabar itu dilebih-lebihkan dan tidak ada pasukan Bizantium yang ditemui. Musim. Ibnu Hisyam menulis musim panas terik dengan buah-buahan mulai ranum; Haykal menulis musim gugur yang panasnya di awal musim lebih mematikan daripada musim panas. Jumlah pasukan. Ibnu Hisyam tidak menyebut angka; Haykal menulis 30.000 orang dan menyebut barisan depan 10.000 penunggang kuda; Wikipedia menulis 30.000 orang termasuk 10.000 penunggang kuda dengan rujukan Lings, tanpa jumlah unta atau kuda lain. Rincian pasukan menurut spesialisasi tidak diberikan sumber mana pun yang kami baca. Wakil di Madinah. Ibnu Hisyam menulis Muhammad bin Maslamah, dengan riwayat lain Siba' bin 'Urfuthah, dan 'Ali menjaga keluarga beliau lalu menyusul sampai al-Jurf dan disuruh kembali; Haykal menulis Muhammad bin Maslamah memegang pemerintahan dan 'Ali menjaga keluarga beliau, tanpa kisah al-Jurf, serta menulis beliau menyerahkan pasukan di bawah komando Abu Bakar yang mengimami shalat, dan komando itu dikembalikan ketika beliau datang; Wikipedia menulis 'Ali tidak ikut karena memegang komando di Madinah. 'Abdullah bin Ubay. Ibnu Ishaq menulis ia berkemah sendiri menghadap Gunung Dzubab lalu tidak ikut bersama orang-orang munafik; Haykal menulis ia keluar dengan sekelompok kecil pasukan, tetapi beliau lebih suka ia tinggal di Madinah. Rumah Suwailim. Ibnu Hisyam menyebut Jasum dan adh-Dhahhak bin Khalifah yang kakinya patah; Haykal menulis rumah seorang Yahudi bernama Suwaylim dibakar Thalhah dan seseorang yang meloncat dari atap patah kakinya, tanpa nama Jasum dan adh-Dhahhak. Al-Hijr. Ibnu Ishaq menulis satu dari dua orang yang melanggar perintah tercekik dan yang lain terbawa angin ke dua gunung Thayyi'; Haykal menulis satu terbawa angin dan yang lain terkubur pasir, sumur penuh pasir, lalu hujan turun. Aylah. Ibnu Ishaq menyebut Aylah, Jarba', dan Adzruh membayar jizyah dan memuat teks surat untuk Johannes bin Ru'bah; Haykal menulis Yuhanna datang membawa salib emas, menyerahkan kunci pulaunya, dan jizyah tahunan Aylah tiga ratus dinar (angka ini tidak ada di bagian Ibnu Hisyam yang kami pakai). Ukaidir. Ibnu Ishaq menulis Khalid membawa Ukaidir yang berdamai, membayar jizyah, dan dibebaskan; Haykal menulis Khalid diutus dengan lima ratus penunggang kuda ke Dumah, membunuh saudara Ukaidir bernama Hassan, mengambil 2.000 unta, 800 kambing, 400 muatan gandum, dan 400 baju besi, dan Ukaidir masuk Islam serta menjadi sekutu. Lama tinggal. Haykal dan Wikipedia menulis sekitar dua puluh hari di Tabuk; Ibnu Hisyam tidak menyebut lamanya. Masjid Dhirar. Ibnu Hisyam menyebut Dzu Awan, utusan Malik bin ad-Dukhsyum dan Ma'na atau 'Ashim bin 'Adi, dan dua belas pembangunnya; Haykal menulis masjid di Dzu Awan sejarak satu jam berkuda dari Madinah dan dibakar sesudah beliau kembali. Tiga sahabat. Kedua sumber menyebut lima puluh (malam atau hari); kisah panjang Ka'ab hanya dari Ibnu Hisyam. Hal lain. Kisah Abu Dzar, Wadi'ah bin Tsabit, air Wadi al-Musyaqqaq, dan daftar masjid hanya kami temukan dalam Ibnu Hisyam; Haykal menyebut al-Bakka'un (mereka yang menangis karena tidak mendapat kendaraan) dan wafatnya 'Abdullah bin Ubay dua bulan sesudah Tabuk, yang tidak ada di bagian Ibnu Hisyam yang kami pakai. Khan menyinggung Tabuk tanpa menyebut namanya.

    1. Persiapan di musim sulit

      Al-Jadd bin Qais dan alasan tidak ikut

      Dari Dzulhijjah hingga Rajab beliau menyiapkan pasukan untuk menyerbu Romawi. Para ulama menyebut musim itu sulit: cuaca terik, buah-buahan mulai ranum, perjalanan jauh, dan musuh banyak. Al-Jadd bin Qais dari Bani Salamah meminta izin tidak ikut karena takut terfitnah oleh wanita Romawi; beliau memberinya izin, lalu turun QS. at-Taubah: 49.

      Baca selengkapnya

      Abu Muhammad 'Abdul Malik bin Hisyam berkata: Ziyad bin 'Abdullah al-Bakkai bercerita kepadaku dari Muhammad bin Ishaq al-Muththalibi yang berkata: beliau tinggal di Madinah antara bulan Dzulhijjah hingga Rajab, dalam rentang waktu tersebut beliau menyiapkan pasukan perang kaum muslimin untuk menyerbu Romawi.

      Az-Zuhri, Yazid bin Ruman, 'Abdullah bin Abu Bakr, 'Ashim bin 'Umar bin Qatadah, dan ulama-ulama kami lainnya, semuanya bercerita kepadaku. Mereka berkata: Saat akan terjadinya Perang Tabuk kaum Muslimin mengalami masa-masa sulit, cuaca panas membakar, sedang musim panas, buah-buahan mulai ranum, orang-orang lebih menyukai berada di buah-buahan mereka dan tempat tempat bernaung mereka, serta tidak suka berangkat dalam kondisi seperti itu karena perjalanannya sangat jauh dan banyaknya musuh yang ingin beliau tuju. Dan pada saat beliau tengah bersiap-siap untuk perang, beliau bersabda kepada al-Jadd bin Qais, salah seorang dari Bani Salamah: "Hai al-Jadd, apa kau akan ikut memerangi orang-orang berkulit pucat (bangsa Romawi)?" Al-Jadd bin Qais berkata: "Wahai Rasulullah, berilah aku izin untuk tidak ikut dan janganlah engkau libatkan aku ke dalam fitnah wanita, karena aku adalah laki-laki yang lebih gampang tertarik kepada perempuan daripada aku. Oleh karena itu, aku khawatir jika aku melihat wanita-wanita berkulit pucat, aku tidak mampu sabar. Rasulullah memalingkan muka dari al-Jadd bin Qais dan bersabda: "Aku memberimu izin." Tentang al-Jadd bin Qais ini, turunlah wahyu Allah: Di antara mereka ada orang yang berkata: "Berilah saya izin (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah." Ketahuilah, bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir. (QS. at-Taubah: 49). Maksudnya adalah seandainya saja al-Jadd bin Qais benar-benar kuatir tergoda wanita-wanita Romawi, dan mengharapkan itu tidak akan terjadi padanya. Harusnya fitnah yang ia telah jatuh ke dalamnya itu, yaitu tidak ikut berangkat perang bersama beliau dan lebih mencintai dirinya daripada diri beliau lebih ia khawatirkan lagi karena fitnah itu lebih besar dari wanita. Oleh karena itulah, Allah Taala berfirman: Sesungguhnya Jahannam benar-benar ada di belakangnya.1

    2. Orang-orang munafik

      Rumah Suwailim dibakar

      Orang-orang munafik saling berkata agar tidak berangkat dalam panas terik, lalu turun QS. at-Taubah: 81-82. Menurut riwayat Ibnu Hisyam, mereka berkumpul di rumah Suwailim, seorang Yahudi di Jasum, dan mengompori orang agar tidak ikut. Beliau mengutus Thalhah bin Ubaidillah dan beberapa sahabat membakar rumah itu; adh-Dhahhak bin Khalifah meloncat hingga kakinya patah.

      Baca selengkapnya

      Orang-orang munafik saling berkata-kata: "Musim panas terik seperti ini sebaiknya kita tetap di sini saja dan tidak ikut berangkat." Setelah itu Allah Tabaraka wa Taala menurunkan ayat tentang mereka: Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: "Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini." Katakanlah: "Api neraka Jahanam itu lebih sangat panas (nya)",jika mereka mengetahui. Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. at-Taubah: 81-82).

      Orang-orang munafik berkumpul di rumah Suwailim seorang Yahudi yang terletak di Jasum. Orang-orang munafik mengompori manusia agar mereka tidak berangkat bersama Rasulullah di Perang Tabuk. Mengetahui kondisi itu Rasulullah lalu mengutus Thalhah bin 'Ubaidillah beserta sejumlah sahabat dan memerintahkan mereka membakar rumah Suwailim. Thalhah bin 'Ubaidillah dan anak buahnya melaksanakan perintah Rasulullah. Adh-Dhahhak bin Khalifah meloncat dari atas rumah Suwailim hingga kakinya patah dan sahabat-sahabatnya menyerbu, sementara mereka melarikan diri.2

    3. Sumbangan dan keberangkatan

      Utsman, para sahabat yang tertinggal, dan Tsaniyyatul Wada'

      Beliau menyeru orang-orang kaya berinfak. Ibnu Hisyam mencatat 'Utsman bin 'Affan berinfak seribu dinar untuk pasukan yang kesulitan (Jaisy al-'Usrah). Beberapa sahabat yang jujur keislamannya kurang bersiap hingga tertinggal: Ka'ab bin Malik, Murarah bin Rabi', Hilal bin Umayyah, dan Abu Khaitsamah. Beliau berkemah di Tsaniyyatul Wada' dan menunjuk Muhammad bin Maslamah sebagai wakil di Madinah.

      Baca selengkapnya

      Rasulullah tetap bergairah untuk berangkat, memerintahkan manusia bersiap-siap dan menyeru orang-orang kaya supaya berinfak dan membiayai jihad di menyumbang dalam jumlah yang banyak sekali.3

      Orang yang aku percayai bercerita kepadaku bahwa 'Utsman bin 'Affan berinfak sebanyak seribu dinar untuk membantu para tentara yang mengalami kesulitan (Jaisy al-'usrah) di Perang Tabuk. Rasulullah bersabda: "Ya Allah, ridhailah 'Utsman, sebagaimana aku ridha padanya."1

      Rasulullah telah menentukan waktu pemberangkatan. Namun di lain pihak, beberapa orang dari para sahabat kurang mempersiapkan diri dengan baik hingga mereka tertinggal dari beliau bukan karena mereka munafik, di antara mereka adalah Ka'ab bin Malik bin Abu Ka'ab saudara Bani Salamah, Murarah bin Rabi' saudara Bani 'Amr bin 'Auf, Hilal bin Umayyah saudara Bani Waqif, dan Abu Khaitsamah saudara Bani Salim bin 'Auf. Mereka adalah orang-orang jujur dan dengan keislaman yang meyakinkan. Tatkala beliau berangkat, beliau membuat tenda di Tsaniyyatul Wada'.3

      Rasulullah menunjuk Muhammad bin Maslamah al-Anshari sebagai wakil beliau di Madinah. 'Abdul Aziz bin Muhammad ad-Darawardi berkata dari ayahnya dari Rasulullah bahwa tatkala beliau berangkat ke Tabuk, beliau menunjuk Siba' bin 'Urfuthah sebagai wakil sementara beliau di Madinah.1

      'Abdullah bin Ubay bin Salul memancangkan tendanya menyendiri di bawah Rasulullah menghadap ke Gunung Dzubab. Para ulama berkata bahwa tenda 'Abdullah bin Ubay bin Salul bukan kemah yang kecil. Tatkala beliau meneruskan perjalanan, 'Abdullah bin Ubay bin Salul bersama orang-orang munafik dan orang-orang yang hati mereka diliputi keraguan tidak ikut berangkat bersama Sang Nabi.3

    4. 'Ali di Madinah

      Kedudukan seperti Harun di sisi Musa

      Beliau mempercayakan keluarganya kepada 'Ali bin Abu Thalib. Orang-orang munafik menebarkan isu, lalu 'Ali menyusul dengan senjata hingga bertemu beliau di al-Jurf. Beliau menjawab bahwa ia ditinggalkan untuk menjaga keluarganya, dan bersabda tentang kedudukan seperti Harun di sisi Musa. 'Ali pun kembali ke Madinah.

      Baca selengkapnya

      Kondisi 'Ali Pada Perang Tabuk

      Rasulullah mempercayakan 'Ali bin Abu Thalib untuk menjaga keluarga beliau dan tak disangka hal ini dijadikan isu panas oleh orang-orang munafik. Tak tinggal diam, 'Ali bin Abu Thalib mengambil senjata dan cepat-cepat berangkat hingga berhasil menyusul beliau yang tatkala itu berhenti di al-Jurf. 'Ali bin Abu Thalib berkata: "Wahai Nabi Allah, orang-orang munafik menebarkan isu bahwa engkau meninggalkanku di Madinah karena aku dianggap memberatkanmu dan agar engkau menjadi ringan tanpa aku." Rasulullah bersabda: "Mereka dusta. Aku meninggalkanmu di Madinah untuk menjaga keluargaku, oleh karena itu, pulanglah dan jagalah keluargaku dan keluargamu. Wahai 'Ali, apakah engkau tidak rela jika kedudukanmu di sisiku itu bagaikan kedudukan Nabi Harun di sisi Nabi Musa? Namun tidak ada nabi setelahku." 'Ali bin Abu Thalib pun kembali ke Madinah, sementara Rasulullah melanjutkan perjalanan.3

      Muhammad bin Thalhah bin Yazid bin Rukanah bercerita kepadaku dari Ibrahim bin Sa'ad bin Abu Waqqash dari ayahnya, Sa'ad bin Abu Waqqash, bahwa ia mendengar beliau bersabda demikian sebagaimana disebutkan di atas kepada 'Ali bin Abu Thalib.34

    5. Di al-Hijr

      Dua orang Bani Sa'idah dan hujan

      Di al-Hijr para sahabat mengambil air dari sumur dan beristirahat. Dua orang dari Bani Saidah melanggar perintah: yang satu tercekik di tempat buang hajat, yang lain terbawa angin hingga ke dua gunung Thayyi'. Beliau mendoakan yang tercekik hingga sembuh; keesokan harinya saat tidak ada air, beliau berdoa dan Allah mengirim awan yang menurunkan hujan.

      Makam berpahat di Hegra
      Salah satu makam berpahat di Hegra (Mada'in Shalih), al-'Ula (foto 12 Feb 2024; judul berkas "27, Hegra (Mada'in Salih), Saudi Arabia"). Foto masa kini sebagai gambaran situs al-Hijr.Foto: Flickr (lihat halaman berkas) · CC BY-SA 2.0 · Wikimedia Commons
      Baca selengkapnya

      Nabi dan Kaum Muslimin di Hijr

      Tatkala beliau berjalan menyusuri al-Hijr, beliau beristirahat di sana dan para sahabat mengambil air dari sumurnya. Para sahabat mentaati perintah beliau tersebut, kecuali dua orang dari Bani Saidah. Salah seorang dari mereka berdua keluar untuk buang hajat, sedang yang satu lagi keluar mencari untanya. Orang yang keluar untuk buang hajat tercekik di tempat buang hajatnya. Sementara temannya yang mencari untanya, terbawa angin hingga terlempar di dua gunung Thayyi'. Peristiwa ini dilaporkan kepada Rasulullah kemudian beliau mendoakan orang yang tercekik di tempat buang hajat kemudian ia sembuh. Adapun orang satunya terlempar angin di dua gunung Thayyi', orang-orang Thayyi' menyerahkannya kepada beliau tatkala beliau kembali ke Madinah.3

      Disampaikan kepadaku dari az-Zuhri yang berkata: Tatkala beliau berjalan menyusuri al-Hijr sembari bersabda: "Rumah orang-orang yang berbuat zalim tidak boleh kalian masuki, kecuali kalian dalam keadaan menangis karena khawatir tertimpa musibah seperti yang mereka alami."1

      Keesokan harinya, kaum Muslimin mencari-cari air namun mereka tidak menemukannya, lalu hal tersebut dilaporkan kepada beliau yang kemudian berdoa. Tak lama berselang, Allah mengirim awan yang menurunkan air hujan hingga kaum Muslimin tidak lagi kehausan dan bisa membawa perbekalan air sesuai kebutuhan mereka.35

    6. Abu Dzar al-Ghifari

      Berjalan sendirian

      Abu Dzar tertinggal karena untanya lamban, lalu meninggalkannya dan mengejar beliau dengan berjalan kaki. Saat seorang sahabat melihat bayangan hitam, beliau bersabda bahwa itu Abu Dzar, dan mendoakan rahmat bagi Abu Dzar yang berjalan sendirian, meninggal sendirian, dan dibangkitkan sendirian. Ibnu Ishaq lalu menyebut riwayat tentang wafat Abu Dzar di ar-Rabadzah.

      Baca selengkapnya

      Abu Dzar al-Ghifari

      Rasulullah lalu melanjutkan perjalanannya. Namun tak disangka salah seorang sahabatnya, yaitu Abu Dzar tertinggal karena untanya berjalan lamban. Abu Dzar mencela untanya yang berjalan seperti siput. Karena untanya tetap berjalan lamban, Abu Dzar lalu meninggalkannya lalu mengejar beliau. Di saat yang sama, Rasulullah berhenti di salah satu jalan, tiba-tiba salah seorang dari kaum Muslimin melihat bayangan hitam kemudian ia berkata: "Wahai Rasulullah, ada orang berjalan kaki sendirian." Rasulullah bersabda: "Dialah Abu Dzar." Tatkala orang-orang melihatnya, mereka berkata: "Wahai Rasulullah, demi Allah, betul sekali dia itu Abu Dzar." Rasulullah bersabda: "Semoga Allah merahmati Abu Dzar yang berjalan sendirian, meninggal sendirian, dan dibangkitkan di hari kiamat sendirian."3

      Tatkala 'Utsman bin 'Affan mengisolir Abu Dzar ke ar-Rabadzah dan ia menemui takdirnya, ia hanya bersama dengan istri dan budaknya.6

    7. Ucapan bersenda gurau

      Wadi'ah bin Tsabit dan Mukhasysyin

      Di tengah perjalanan beberapa orang munafik, antara lain Wadi'ah bin Tsabit dan Mukhasysyin bin Humayyir, mengeluarkan ucapan yang menakut-nakuti kaum Muslimin. Mereka meminta maaf dengan alasan bersenda gurau, lalu turun QS. at-Taubah: 65. Mukhasysyin mengganti namanya menjadi 'Abdurrahman dan gugur di Perang Yamamah tanpa diketahui tempatnya.

      Baca selengkapnya

      Di tengah perjalanan menuju Tabuk Rasulullah dibuntuti beberapa orang munafik, seperti Wadi'ah bin Tsabit saudara Bani 'Amr bin 'Auf dan salah seorang dari Asyja sekutu Bani Salamah yang bernama Mukhasysyin bin Humayyir. Mereka mengeluarkan ucapan yang menakut-nakuti dan menggoyahkan sikap kaum Muslimin. Rasulullah mendengar hal tersebut dan marah kepada mereka, kemudian mereka mendatangi Rasulullah guna meminta maaf kepada beliau. Wadi'ah bin Tsabit berkata dengan memegang tali kekang unta Rasulullah yang saat berada di atas unta: "Wahai Rasulullah, kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja." Setelah itu Allah menurunkan firmanNya: Danjika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja." Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" (QS. at-Taubah: 65) Di antara orang yang dimaafkan di ayat tadi ialah Mukhasysyin bin Humayyir yang merubah namanya menjadi 'Abdurrahman. Ia memohon kepada Allah agar dirinya gugur sebagai syahid yang tempat syahidnya tidak diketahui manusia. Kemudian ia gugur di Perang Yamamah tanpa diketahui tempat syahidnya.3

    8. Perjanjian di Tabuk

      Johannes bin Ru'bah, penguasa Aylah

      Setibanya di Tabuk, beliau didatangi Johannes bin Ru'bah, penguasa Aylah, yang berdamai dan bersedia membayar jizyah. Penduduk Jarba' dan Adzruh juga membayar jizyah. Beliau menulis surat perjanjian untuk mereka, dan surat untuk Johannes memberi jaminan keamanan bagi kapal dan kendaraan dagang di darat dan laut.

      Baca selengkapnya

      Surat beliau Pada Johannes

      Tatkala Rasulullah tiba di Tabuk, beliau didatangi Johannes bin Ru'bah, penguasa Aylah, yang kemudian berdamai dengan beliau dan dia bersedia membayar jizyah. Begitupula dengan penduduk Jarba' dan Adzruh yang kemudian membayar jizyah pula. Rasulullah menulis surat perjanjian untuk mereka dan sampai sekarang surat perjanjian tersebut masih berada di tangan mereka. Beliau menulis surat perjanjian untuk Johannes bin Ru'bah seperti berikut:3

      Bismillahirrahmanirrahim. Ini adalah jaminan keamanan dari Allah dan Muhammad, Nabi dan Rasulullah, untuk Johannes bin Ru'bah dan penduduk Aylah yang mencakup kapal-kapal dan kendaraan-kendaraan bisnis mereka di darat dan laut. Mereka berhak mendapatkan jaminan Allah dan jaminan Muhammad, termasuk penduduk Syam, Yaman, dan al-Bahr. Barangsiapa di antara mereka membangkang dan membuat ulah, harta tidak terlindungi lagi dan menjadi halal bagi siapa saja di antara manusia yang menemukannya. Orang-orang selain mereka pun berhak mendatangi mata air dan berjalan di salah satu jalan yang mereka inginkan; di daratan maupun di lautan.

    9. Ukaidir Dawmah

      Khalid membawanya, lalu ia berdamai

      Beliau memanggil Khalid bin Walid untuk menaklukkan Ukaidir Dawmah bin 'Abdul Malik, raja Kristen dari Kindah. Khalid membawanya kepada beliau; ia berdamai, bersedia membayar jizyah, lalu dibebaskan dan pulang kepada kerabatnya.

      Baca selengkapnya

      Penawanan Ukaidir dan Perdamaian Dengannya

      Rasulullah memanggil Khalid bin Walid untuk menaklukan Ukaidir Dawmah bin 'Abdul Malik. Ia adalah Raja Kristen yang berasal dari Kindah. Kemudian Khalid bin Walid datang membawa Ukaidir Dawmah kepada RasululhhShallalahu 'alaihi wa Sallam. Ia pun berdamai dan mau membayar jizyah, setelah itu ia dibebaskan. Ukaidir Dawmah lalu pulang kepada kerabatnya.3

    10. Air di Wadi al-Musyaqqaq

      Perjalanan pulang dari Tabuk

      Dalam perjalanan pulang beliau melewati air yang keluar dari sela batu di Wadi al-Musyaqqaq, cukup untuk satu sampai tiga orang. Beliau berpesan agar tidak ada yang mengambilnya lebih dulu, tetapi orang-orang munafik mendahului dan mengambil seluruh airnya. Beliau mengutuk mereka, menyentuh air itu dengan tangannya dan berdoa; terdengar gemuruh dari air itu dan orang-orang pun meminumnya.

      Baca selengkapnya

      Ulah Kaum Munafik

      Di tengah perjalanan pulang dari Tabuk, beliau melewati air yang keluar dari sela-sela batu di Lembah al-Musyaqqaq dimana air tersebut hanya cukup untuk satu, dua, atau tiga orang saja. Rasulullah bersabda: "Bila ada di antara kalian yang sampai ke sana lebih awal, maka janganlah ia mengambil sedikit pun airnya hingga kita tiba di sana." Ternyata orang-orang munafik diam-diam bergerak lebih awal menuju ke sana kemudian mereka mengambil seluruh air yang berada di tempat tersebut. Tatkala Rasulullah tiba di tempat tersebut, beliau tidak melihat air tersebut. Rasulullah bersabda: "Siapa yang pertama kali tiba di sini dan mengambil air ini dari kami?" Diberitahukan kepada beliau: "Wahai Rasulullah, yang pertama kali tiba di air tersebut adalah si fulan dan si fulan." Rasulullah mengutuk mereka dan mendoakan keburukan untuk mereka. Setelah itu, beliau menyentuh air tersebut dengan tangannya, dan berdoa dengan doa tertentu, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari air tersebut dan suara tersebut didengar semua orang yang mendengarnya, kemudian mereka meminum air tersebut.3

    11. Masjid Dhirar

      Dihancurkan sepulang dari Tabuk

      Sebelum berangkat, para pemilik masjid Dhirar meminta doa restu beliau. Ketika berhenti di Dzu Awan beliau mendapat kabar tentang masjid itu, lalu mengutus Malik bin ad-Dukhsyum dan Ma'na bin 'Adi atau saudaranya 'Ashim bin 'Adi untuk menghancurkan dan membakarnya; turunlah QS. at-Taubah: 107. Ibnu Hisyam menyebut dua belas pembangunnya dan daftar masjid beliau antara Madinah dan Tabuk.

      Baca selengkapnya

      Masjid Dhirar Sepulangnya beliau dari Perang Tabuk

      Pada saat beliau bersiap-siap untuk berangkat ke Tabuk, para pemilik masjid Dhirar datang menemui beliau dan meminta doa restu beliau. Tatkala Rasulullah berhenti di Dzu Awan, beliau mendapat kabar tentang masjid tersebut, kemudian beliau memanggil Malik bin ad-Dukhsyum saudara Bani Salim bin 'Auf dan Ma'na bin 'Adi atau saudaranya yang bernama 'Ashim bin 'Adi untuk menghancurkan dan membakar masjid tersebut. Mereka berdua membakar dan meruntuhkan masjid itu hingga para penghuninya lari tunggang-langgang sehingga turunlah ayat:3

      Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan mesjid untuk menimbulkan kemudaratan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin (QS. at-Taubah: 107), hingga akhir kisah. Orang-orang yang membangun masjid Dhirar ada dua belas orang. Nama-nama mereka adalah sebagai berikut:

      Khidam bin Khalid dari Bani Zaid, salah seorang warga Bani 'Amr bin 'Auf. Dari perkampungannya, masjid Asy-Syaqqaq dibangun, Tsa'labah bin Hathib dari Bani Umayyah bin Zaid, Muattib bin Qusyair dari Bani Dzubai'ah bin Zaid, Abu Habibah bin al-Az'ur dari Bani Dzubai'ah bin Zaid, 'Abbad bin Hunaif saudara Sahl bin Hunaif dari Bani 'Amr bin 'Auf, Jariyah bin 'Amir, dan kedua anaknya Mujammi' bin Jariyah dan Zaid bin Jariyah, Nabtal bin al-Harits dari Bani Dhubai'ah bin Zaid, Bahzaj dari Bani Dhubai'ah bin Zaid, Bijad bin 'Utsman dari Bani Dhubai'ah bin Zaid. dan Wadi'ah bin Tsabit dari Bani Umayyah bin Zaid yang merupakan warga Abu Lubabah bin al-Mundzir.

      Masjid-masjid beliau di antara Madinah dengan Tabuk adalah sebagai berikut: Masjid di Tabuk, Masjid di Tsaniyyah Midran, Masjid di Dzatu az-Zirab, Masjid di al-Akhdhar, Masjid di Dzatu al-Khithmi, Masjid di Ala', Masjid di Tharf al-Batra', Masjid di jalan menuju Tara, Masjid di Dzi al-Jifah, Masjid di Shadr Haudha, Masjid di al-Hijr, Masjid di al-Wadi yang sekarang dikenal dengan nama Wadi al-Qura, Masjid di ar-Ruq'ah dari arah Bani Udzrah, Masjid di Dzu al-Marwah, Masjid di al-Faifa', Masjid di Dzu Khusyub.3

    12. Tiga sahabat yang tertinggal

      Orang munafik dan tiga orang yang jujur

      Yang tidak berangkat ke Tabuk terdiri atas sejumlah orang munafik dan tiga Muslim yang lurus hatinya: Ka'ab bin Malik, Murarah bin ar-Rabi', dan Hilal bin Umayyah. Orang munafik bersumpah dan beliau menerima alasan mereka, sedangkan ketiganya dikucilkan hingga Allah menerima taubat mereka. Ka'ab lalu menuturkan kisahnya, dimulai dari ketertinggalannya sebelum keberangkatan.

      Baca selengkapnya

      Tentang Tiga Sahabat yang Tidak Ikut Berangkat ke Tabuk dan Orang-orang yang Diizinkan untuk Tidak Ikut Berangkat

      Orang-orang yang tidak berangkat bersama beliau ke Tabuk terdiri atas sejumlah orang munafik dan tiga orang dari kaum Muslimin yang lurus hatinya namun dihalangi oleh udzur. Ketiga orang tersebut adalah Ka'ab bin Malik, Murarah bin ar-Rabi', dan Hilal bin Umayyah. Beliau bersabda kepada para sahabat: "Janganlah kalian sekali-kali berbicara dengan salah seorang dari ketiga orang tersebut." Orang-orang munafik yang tidak ikut berangkat ke Tabuk datang kepada beliau kemudian bersumpah kepada beliau, meminta ijin dan maaf, dan beliau memaafkan mereka. Namun Allah dan Rasul-Nya sebenarnya tidak memberi maaf kepada mereka. Kemudian para sahabat mengucilkan ketiga sahabat dari kaum Muslimin." Namun setelah itu Allah menerima taubat mereka karena penangguhan taubat mereka hanya untuk melihat ketulusan mereka dibanding orang-orang munafik yang suka bersandiwara. Hadis Ka'ab bin Malik, ia bercerita, aku belum pernah tertinggal dari beliau dalam peperangan apapun yang beliau lakukan, kecuali dalam perang Tabuk. Memang aku tertinggal dalam perang Badar. Tetapi tidak seorang pun dicela lantaran tidak ikut perang Badar tersebut. Sebab, beliau bersama kaum muslimin keluar pada waktu itu hanyalah bermaksud menghadang kafilah dagang milik kaum Quraisy, lalu tanpa terduga Allah mempertemukan mereka dengan musuh. Sungguh, aku pernah mengikuti pertemuan bersama beliau pada malam hari di dekat Jumrah Aqabah, ketika kami mengokohkan janji memeluk agama Islam. Tidak lah aku merasa lebih senang seandainya aku bisa mengikuti perang Badar, meskipun tidak mengikuti bai'at di Jumrah Aqabah, walaupun perang Badar disebut-sebut dikalangan manusia itu lebih utama daripada bai'at Jumrah Aqabah. Di antara ceritaku pada waktu tertinggal dari beliau dalam pertempuran Tabuk, adalah sebagai berikut, "Aku sama sekali tidak pernah merasa lebih kuat dan lebih mudah (mencari perlengkapan perang), daripada ketika aku tertinggal dari beliau dalam perang Tabuk tersebut. Demi Allah, sebelumnya aku tidak dapat mengumpulkan dua kendaraan sekaligus. Namun pada waktu perang Tabuk itu, kalau mau aku bisa melakukannya. Beliau berangkat ke pertempuran Tabuk pada hari yang sangat panas dan menempuh perjalanan yang cukup jauh dan sulit. Musuh yang akan dihadapi berjumlah sangat besar. Karena itu, beliau merasa perlu menjelaskan kepada kaum muslimin tentang kesulitan-kesulitan yang mungkin dihadapi, agar mereka membuat persiapan-persiapan yang cukup. Beliau menjelaskan tentang tujuan mereka. Pada saat itu kaum muslimin yang ikut berangkat bersama beliau berjumlah cukup banyak. Tetapi nama-nama mereka tidak tercatat dalam sebuah buku. Sedikit sekali kaum laki-laki yang ingin absen. Orang yang absen mengira kalau beliau tidak akan mengetahuinya, selama wahyu Allah Ta'ala mengenai hal itu tidak turun. Beliau berangkat ke pertempuran Tabuk bertepatan dengan masa buah-buahan dan tumbuh-tumbuhan kelihatan bagus. Karena itu, hatiku lebih condong kesana. Ketika beliau dan kaum muslimin yang hendak berangkat bersama beliau sedang mempersiapkan segala sesuatunya, aku pun bergegas keluar guna mempersiapkan diri bersama mereka. Namun kemudian aku kembali tanpa menghasilkan apa-apa. Padahal dalam hati aku berkata, "Aku mampu mengadakan perlengkapan, kalau aku benar-benar mau." Yang demikian terus berlangsung, sampai kemudian kesibukan kaum muslimin semakin memuncak dan akhirnya pagi-pagi beliau beserta kaum muslimin berangkat. Sementara aku belum mengadakan persiapan sedikit pun. Lalu aku keluar (untuk mencari perlengkapan), tetapi aku kembali dengan tangan hampa. Begitulah, aku terus menunda-nunda, sehingga kaum muslimim sudah bertambah jauh dan pertempuran menjadi semakin dekat. Kemudian aku bertekad hendak berangkat menyusul kaum muslimin. Namun ternyata takdir menentukan lain bagi diriku. Akibatnya, jika aku keluar bergaul dengan masyarakat sesudah keberangkatan beliau, aku merasa sedih. Soalnya aku melihat diriku tidak lebih hanyalah seorang lelaki yang bisa disebut munafik, atau orang yang diberi keringanan oleh Allah karena dianggap lemah. Beliau tidak pernah menyebut-nyebutku sampai beliau tiba di Tabuk. Dan ketika tiba di Tabuk, barulah beliau bertanya, "Apa sebenarnya yang dilakukan oleh Ka'ab bin Malik?" Seorang sahabat dari Bani Salamah menjawab, "Wahai Rasulullah, ia terhalang oleh selendangnya dan sedang asyik memandang kedua pinggangnya." Mu'adz bin Jabal membentak orang itu, "Buruk sekali ucapanmu itu. Demi Allah, wahai Rasulullah, setahu kami Ka'ab adalah orang yang baik." Beliau pun terdiam tanpa berkata apa-apa. Pada saat itulah beliau melihat seseorang lelaki berpakaian putih sedang berjalan dari kejauhan. Beliau bersabda, "Mudah-mudahan saja itu adalah Abu Khaitsamah." Ternyata benar, orang itu adalah Abu Khaitsamah al-Anshari. Dialah orang yang bersedekah segantang kurma, ketika diolok-olok oleh orang-orang munafik.37

    13. Ka'ab menghadap beliau

      Mengaku jujur

      Mendengar beliau pulang, Ka'ab sempat mereka-reka alasan, tetapi memutuskan berkata jujur. Beliau tiba di Madinah, shalat di masjid, lalu menerima orang-orang yang tertinggal, lebih dari delapan puluh orang, yang bersumpah. Ka'ab mengaku tidak punya uzur; beliau bersabda ia berkata benar dan menyuruhnya menunggu keputusan Allah. Murarah dan Hilal mengalami hal yang sama.

      Baca selengkapnya

      Ketika aku mendengar bahwa beliau sudah berada dalam perjalanan pulang dari Tabuk, aku semakin merasa gelisah. Aku mulai mereka-reka kebohongan yang sekiranya mungkin bisa menyelamatkan aku dari kekecewaan beliau besok. Oleh karena itu, aku juga meminta bantuan kepada keluargaku yang mempunyai pendapat bagus. Tetapi ketika dikabarkan bahwa beliau sudah semakin dekat, hilanglah dari hatiku segala macam kebohongan yang telah aku reka-reka, sehingga aku yakin bahwa tidak ada sesuatupun yang dapat menyelamatkan aku dari kegusaran beliau. Karena itu aku bermaksud untuk mengatakan yang sebenarnya kepada beliau.

      Keesokan harinya beliau pun tiba di Madinah. Dan biasanya setiap baru datang dari bepergian, tempat yang pertama kali beliau tuju ialah masjid. Setelah melakukan shalat dua raka'at, beliau duduk menunggu kaum muslimin. Pada saat itulah orang-orang yang tidak ikut ke Tabuk berdatangan menemui beliau. Mereka mengemukakan alasan masing-masing kepada beliau disertai dengan sumpah-sumpah. Mereka yang tertinggal ada delapan-puluh orang lebih. Secara lahiriah beliau menerima alasan mereka. Beliau memperkenankan mereka memperbaharui bai'at dan memohonkan ampun bagi mereka, sedangkan urusan batin mereka beliau serahkan pada Allah Ta'ala. Tibalah giliranku menghadap. Ketika aku mengucapkan salam, beliau malah tersenyum sinis", lalu bersabda, "Kemarilah." Aku berjalan menghampiri beliau, lalu duduk dihadapannya. Lalu beliau mulai bertanya, "Kenapa kamu tidak ikut berangkat? Bukankah kamu sudah membeli kendaraan (untuk berperang)?" Aku menjawab, "Wahai Rasulullah, demi Allah, seandainya aku duduk dihadapan orang selain Anda, tentu aku yakin akan bebas dari kemarahanya dengan mengemukakan alasan yang bisa diterima. Aku memang pandai berbicara. Namun, demi Allah aku benar-benar yakin, seandainya hari ini aku memberikan jawaban yang bohong kepada Anda, lalu Anda percaya, namun aku yakin tidak lama setelah itu Allah pasti menggerakan hati Anda untuk murka kepadaku. Sebaliknya kalau aku memberikan jawaban jujur yang membuat Anda murka kepadaku, maka setidaknya aku dapat mengharapkan penyelesaian yang baik dari Allah. Demi Allah, aku tidak mempunyai uzur. Demi Allah, aku sama sekali tidak pernah merasa lebih kuat dan lebih mudah daripada ketika aku tidak mengikuti Anda." Beliau bersabda, "Orang ini sudah berkata benar. Sekarang pulanglah. Tunggu saja keputusan Allah terhadapmu." Aku pun berdiri dan berlalu. Beberapa orang dari Bani Salimah berloncatan mengejarku. Mereka berkata kepadaku, "Demi Allah! Kami belum pernah melihat kamu melakukan kesalahan sebelum ini. Kamu benar-benar tidak mampu mengemukakan alasan kepada beliau, seperti yang dilakukan oleh orang-orang lain yang tidak ikut ke Tabuk. Mestinya kamu merasa cukup kalau beliau sudah memaafkanmu dan memohon ampunan kepada Allah untukmu." Kata Ka'ab lebih lanjut, "Demi Allah, orang-orang Bani Salimah itu terus menerus menyalahkan aku, sehingga ingin rasanya aku kembali kepada beliau untuk meralat ucapanku. Kemudian aku bertanya kepada orang-orang Bani Salimah itu, "Adakah orang lain yang mengalami seperti yang aku alami ini?" Mereka menjawab, "Tentu. Ada dua orang yang mengatakan seperti yang kamu katakan tadi, dan mereka pun mendapat jawaban yang sama seperti jawaban yang kamu terima." Aku bertanya, "Siapa mereka itu?" Mereka menjawab, "Murarah bin Rabi'ah al-Amiri dan Hilal bin Umayyah al-Waqifi." Mereka menyebutkan kepadaku dua orang saleh veteran perang Badar yang aku ikuti. Aku lalu pulang, setelah mereka menyebutkan kedua nama orang tersebut. Sejak saat itu, beliau melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga yang sama-sama absen dalam perang Tabuk. Kaum muslimin mulai menjauhi kami, sehingga bumi terasa asing bagiku. Seolah-olah bumi yang aku pijak ini bukan bumi8

    14. Lima puluh malam dikucilkan

      Surat raja Ghassan dan taubat diterima

      Selama lima puluh malam kaum Muslimin tidak berbicara kepada ketiganya; Abu Qatadah baru menjawab setelah ditanya tiga kali. Seorang petani Nashrani dari Syam menyerahkan surat raja Ghassan yang mengajak Ka'ab; ia membakarnya. Sesudah itu taubat mereka diterima, turun QS. at-Taubah: 117-119, dan Ka'ab bersyukur karena jujur.

      Baca selengkapnya

      yang sudah sangat aku kenal. Kami mengalami keadaan demikian selama lima puluh malam. Dua orang temanku sengaja menyembunyikan diri, dan memilih berdiam di rumah masing-masing sambil terus menerus menangis. Sementara aku adalah yang paling muda dan kuat di antara kami bertiga. Aku tetap keluar rumah untuk menunaikan shalat jamaah bersama kaum muslimin. Aku juga tetap pergi ke pasar. Tetapi, tidak ada seorang pun yang sudi berbicara kepadaku. Aku lalu menemui beliau untuk sekedar mengucapkan salam kepada beliau yang masih berada di tempat duduk beliau sesudah shalat. Aku berkata dalam batin, "Apakah beliau berkenan menjawabi salamku atau tidak ya?" Aku sengaja shalat di tempat yang dekat dengan beliau, supaya bisa melirik beliau. Saat aku menghadap ke shalatku, beliau memandangku. dan kalau aku menengok ke arah beliau, beliau berpaling dariku. Peristiwa kaum muslimin mendiamkan aku ini terus berlarut-larut, dan aku tetap menahan diri, sampai akhirnya pada suatu ketika aku berjalan-jalan, lalu melompati pagar pekarangan Abu Qatadah, sepupuku yang sangat aku sayangi. Aku mengucapkan salam kepadanya. Tetapi demi Allah, ia juga tidak mau menjawab salamku. Kemudian aku bertanya kepadanya, "Wahai Abu Qatadah, aku ingin bertanya kepadamu, demi Allah, tahukah kamu kalau aku ini mencintai Allah dan Rasul-Nya?" Tetapi ia tetap diam saja. Aku bertanya lagi kepadanya. dan ia juga tetap diam saja. dan setelah aku tanya untuk yang ketiga kalinya, ia baru mau menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu."

      Seketika itu mengalir air mataku. Aku langsung berbalik dengan melompati pagar untuk pulang. Pada suatu hari ketika aku sedang berjalan-jalan di pasar Madinah, tiba-tiba ada seorang petani beragama Nashrani dari Syam datang ke Madinah untuk menjual bahan makanan. Petani itu bertanya (kepada orang-orang yang berada di pasar), "Siapa yang bisa menolong menunjukan aku pada Ka'ab bin Malik?" Orang-orang memberikan isyarat kepada petani itu ke arahku. Ia menghampiri aku dan menyerahkan sepucuk surat kepadaku dari raja Ghassan. Aku membacanya. Isinya sebagai berikut, "Selanjutnya. Sungguh kami sudah mendengar bahwa temanmu itu (Nabi Muhammad) mendiamkanmu. Padahal Allah sendiri tidak menjadikan kamu untuk tinggal di tempat hina dan tersia-sia. Oleh karena itu datanglah ke negeri kami. Kami pasti menolongmu." Selesai membaca surat itu, aku berkata pada diriku sendiri, "Ini juga merupakan cobaan." Aku bawa surat itu ke dapur lalu membakarnya. Waktu sudah berlalu selama empat puluh hari dari yang lima puluh hari. Namun wahyu dari Allah belum juga kunjung turun. Tiba-tiba seorang kurir beliau datang menemuiku dan berkata, "Beliau menyuruh kamu agar menjauhi isterimu." Aku bertanya, "Apakah aku harus menceraikanya atau bagaimana?" Ia menjawab: "Tidak, tetapi hindarilah dia, kedatanganku, Thalhah bin 'Ubaidillah segera berdiri menyongsongku, menjabat tanganku, dan juga memberi ucapan selamat kepadaku. Demi Allah, tidak ada seorang pun di antara mereka yang berdiri kecuali dia. Ketika aku mengucapkan salam kepada beliau, beliau bersabda dengan wajah berseri-seri karena gembira, "Bergembiralah, karena hari ini merupakan hari paling baik yang kamu lewati sejak kamu dilahirkan ibumu." Aku bertanya, "Apakah itu dari Anda sendiri, wahai Rasulullah, atau dari sisi Allah?" Beliau bersabda, "Bukan dariku, melainkan dari sisi Allah yang Maha Agung lagi Maha Tinggi." Adalah beliau jika sedang merasa gembira, wajahnya bersinar terang laksana potongan rembulan. Dan aku tahu saat itu beliau benar-benar sedang merasa senang hatinya. Ketika sudah berada di hadapan beliau, aku berkata, "Wahai Rasulullah, sungguh sebagai rasa syukur karena Allah telah berkenan menerima taubatku, aku bermaksud menyerahkan harta-bendaku sebagai sedekah untuk mendapatkan keridhaan Allah dan Rasul-Nya." Beliau bersabda, "Simpan sebagiannya, dan jangan kamu serahkan seluruhnya. Itu lebih baik." Aku berkata, "Aku masih mempunyai tanah yang menjadi bagianku dari rampasan perang di Khaibar." Lebih lanjut aku berkata, "Wahai Rasulullah, sungguh Allah telah menyelamatkan aku juga karena aku telah mengatakan yang sebenarnya. dan aku nyatakan dengan sesungguhnya, bahwa termasuk taubatku ialah, aku tidak akan berbicara selain yang benar, selama hidupku. Demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang pun di antara kaum muslimin yang diuji oleh Allah Ta'ala dalam hal benarnya pembicaraan -sejak aku berjanji di depan beliau sampai hari ini- yang lebih baik caranya menghadapi ujian tersebut daripada diriku. Demi Allah, sejak aku berjanji di depan beliau hingga kini, aku tidak pernah sengaja berbohong. dan aku berharap semoga Allah menjagaku dalam sisa hidupku. Selanjutnya Allah menurunkan ayat, "Sesungguhnya Allah benar-benar telah menerima taubat Nabi, shahabat-shahabat Muhajirin dan sahabat-sahabat Anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, sesudah hati segolongan dari para shahabat tersebut hampir saja berpaling, setelah itu Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang terhadap mereka dan juga terhadap tiga orang yang ditangguhkan taubat mereka, sehingga ketika bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit oleh mereka, serta mereka tahu bahwa tidak ada tempat lari dari siksa Allah melainkan kepada-Nya saja. Setelah itu Allah menerima taubat mereka, agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah adalah Zat Yang Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang. Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kalian berkumpul dengan orang-orang yang benar." (QS. at-Taubah:117-119) Demi Allah, belum pernah sama sekali Allah memberiku nikmat -sesudah Dia memberiku petunjuk memeluk islam- yang melebih ucapan benarku kepada beliau. Sebab, seandainya aku berkata bohong kepada beliau, tentu bencana akan menimpaku, sebagaimana yang dialami oleh orang-orang munafik yang berdusta kepada beliau. Sungguh, Allah telah berfirman untuk orang-orang yang mendustai beliau dengan firman yang menunjukkan betapa jelek dan jahat mereka itu, yakni firman-Nya, "Orang-orang munafik itu akan bersumpah dengan nama Allah kepada kalian, apabila kalian kembali kepada mereka, agar kalian berpaling dari mereka. Maka berpalinglah kalian dari mereka, karena sesungguhnya mereka itu najis dan tempat mereka adalah jahannam, sebagai balasan atas apa yang mereka perbuat. Mereka akan bersumpah kepada kalian, supaya kalian ridha terhadap mereka. Tetapi jika sekiranya kalian ridha terhadap mereka, maka ketahuilah sesungguhnya Allah tidak ridha terhadap orang-orang yang fasik." (QS. at-Taubah: 95-96)

      Urusan kami bertiga ditunda dari urusan orang-orang munafik, ketika mereka bersumpah kepada beliau, lalu beliau menerima bai'at mereka dan memintakan ampun kepada Allah bagi mereka. Tetapi persoalan kami ditunda oleh beliau sampai Allah memutuskan menerima taubat kami. Oleh sebab Allah Ta'ala berfirman, "Dan kepada tiga orang yang tertinggal..." (QS. at-Taubah: 118) Firman Allah ini bukan berarti kami bertiga ketinggalan dari perang Tabuk. Tetapi persoalan kami bertiga diundurkan dari orang-orang munafik yang bersumpah kepada beliau dan menyampaikan bermacam-macam alasan, dan beliau pun menerimanya."9

    Catatan

    1. Tambahan Ibnu Hisyam.
    2. Tambahan Ibnu Hisyam. Sanad: Orang yang aku percaya bercerita kepadaku dari seseorang yang berkata kepadanya dari Muhammad bin Thalhah bin 'Abdurrahman dari Ishaq bin Ibrahim bin 'Abdullah bin Haritsah dari ayahnya dari kakeknya.
    3. Ibnu Ishaq.
    4. Nomor catatan kaki "200" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat.
    5. Nomor catatan kaki "201" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat.
    6. Ibnu Ishaq. Sanad: Buraidah bin Sufyan al-Aslami bercerita kepadaku dari Muhammad bin Ka'ab al-Quradhi dari 'Abdullah bin Mas'ud.
    7. Nomor catatan kaki "202" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat.
    8. Ejaan: tercetak "memehonkan", kami membaca "memohonkan"; tercetak "tesebut", kami membaca "tersebut".
    9. Nomor catatan kaki "203" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat. ejaan: tercetak "depart", kami membaca "depan"; tercetak "Alah menurunkan", kami membaca "Allah menurunkan"; tercetak "kapada", kami membaca "kepada"; tercetak "kaliam", kami membaca "kalian"; tercetak "mnerima", kami membaca "menerima"; tercetak "bai at", kami membaca "bai'at". teks terjemahan terputus di antara "hindarilah dia" dan "kedatanganku": kalimat di antara keduanya tidak tercetak, dan kami memuatnya apa adanya.

    Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Bab berikutnya membahas Utusan Tsaqif dan keislaman mereka.