Isi bab ini
Bab ini memuat sakit dan wafat beliau menurut Ibnu Hisyam: ziarah ke Baqi', dirawat di rumah 'Aisyah, perintah tentang Usamah, wasiat untuk Anshar, Abu Bakar sebagai imam, hari Senin, dan wafat di pangkuan 'Aisyah.
Ziarah ke Baqi'
Sakit beliau bermula sesudah menziarahi Baqi' al-Gharqad pada pertengahan malam, pada akhir Shafar atau awal Rabi'ul Awwal. Abu Muwaihibah menuturkan beliau diberi pilihan antara kunci-kunci dunia dan bertemu Tuhannya serta surga, dan beliau memilih yang kedua.
Rumah 'Aisyah
Sakit makin parah di rumah Maimunah. Beliau meminta izin para istri untuk dirawat di rumah 'Aisyah dan mereka mengizinkan; beliau masuk ke sana dipapah al-Fadhl bin al-'Abbas dan seorang lain, yang menurut Ibnu 'Abbas adalah 'Ali.
Abu Bakar menjadi imam
Beliau memerintahkan Abu Bakar mengimami shalat. 'Aisyah berkeberatan, tetapi beliau mengulang perintahnya dan, ketika 'Umar sempat bertakbir, bersabda: "Di mana Abu Bakar?"
Pasukan Usamah
Beliau melarang kaum Muslimin menghalangi pengiriman pasukan Usamah. Usamah dan pasukannya berhenti di al-Jurf, satu farsakh dari Madinah, karena sakit beliau makin kritis.
Madinah dan Baqi' al-Gharqad
Titik Madinah dan Baqi' al-Gharqad diambil dari Wikipedia.
Dari Baqi' sampai wafat
Tiap bagian diawali ringkasan singkat, dan teks lengkapnya bisa dibuka.
Urutan sakit hingga wafat
Bab ini bukan pertempuran, sehingga tidak ada jumlah pasukan atau spesialisasi pasukan yang dapat dicatat. Sketsa menata urutan penuturan Ibnu Ishaq dari ziarah ke Baqi' sampai wafat, dan tabel di bawahnya membandingkan dua penuturan tentang pagi hari Senin. Kami menggambarnya sendiri.
| Perawi | Yang beliau lakukan | Tanggapan kaum Muslimin |
|---|---|---|
| Anas bin Malik (lewat az-Zuhri) | Mengangkat kain penutup kamar dan berdiri di pintu 'Aisyah; memberi isyarat agar mereka tetap shalat; tersenyum; lalu pulang | Kaum Muslimin hampir membatalkan shalat karena gembira, merenggangkan shaf, dan yakin beliau sembuh |
| Abu Bakar bin 'Abdullah bin Abu Mulaikah | Keluar dari kamar ke masjid; mendorong Abu Bakar kembali ke tempat imam; shalat sambil duduk di sebelah kanan Abu Bakar; lalu berbicara kepada manusia dengan suara tinggi | Kaum Muslimin merasa lega; Abu Bakar kemudian minta izin dan pulang ke rumahnya di kebun Sunh |
Dua penuturan tentang pagi hari Senin ini sama-sama dimuat Ibnu Ishaq tanpa menyatukannya.
- Beliau menziarahi Baqi' al-Gharqad pada tengah malam, dan keesokan harinya jatuh sakit.
- Sakit makin parah di rumah Maimunah; para istri mengizinkan beliau dirawat di rumah 'Aisyah.
- Beliau keluar ke mimbar, menyebut pilihan seorang hamba, dan menyuruh menutup pintu-pintu kecuali rumah Abu Bakar.
- Beliau melarang menghalangi pasukan Usamah, yang berhenti di al-Jurf.
- Beliau berwasiat tentang Anshar, lalu pingsan dan diberi obat oleh al-'Abbas dan para wanita.
- 'Aisyah mendengar ucapan terakhir beliau: bersama teman yang paling tinggi di surga.
- Abu Bakar mengimami shalat atas perintah beliau; 'Umar sempat bertakbir lalu beliau bertanya di mana Abu Bakar.
- Hari Senin, beliau terlihat di masjid pada waktu Subuh menurut dua penuturan.
- Al-'Abbas mengajak 'Ali bertanya soal penerus beliau, tetapi 'Ali menolak.
- Beliau wafat di pangkuan 'Aisyah ketika matahari telah naik memasuki waktu dhuha.
Soal peta. Ibnu Ishaq menyebut Baqi', rumah 'Aisyah, dan al-Jurf tanpa jarak. Pada peta hanya Madinah dan Baqi' al-Gharqad yang bertitik; al-Jurf belum bertitik karena koordinatnya belum kami verifikasi.
Perbedaan sumber
Tanggal. Ibnu Hisyam menulis sakit bermula pada akhir Shafar atau awal Rabi'ul Awwal dan beliau wafat hari Senin waktu dhuha; ia tidak menyebut tanggal wafat. Khan menulis beliau wafat pada Senin, 12 Rabi'ul Awwal tahun 10 H (8 Juni 632 M) pada usia 63 tahun. Haykal menulis hari wafat itu "8 Juni 632 M", dan menulis beliau dimakamkan pada malam Selasa 14 Rabi'ul Awwal, "dua hari setelah wafatnya", tahun 10 H. Baqi'. Haykal juga menuturkan ziarah ke Baqi' al-Gharqad bersama Abu Muwaihibah dan pilihan antara kunci dunia dan surga; ia menambahkan bahwa beliau saat itu sulit tidur, dan bahwa banyak sejarawan meragukan riwayat Abu Muwaihibah, sedangkan ia sendiri tidak menolak adanya ziarah itu. Pindah ke rumah 'Aisyah. Ibnu Hisyam menulis beliau dipapah al-Fadhl bin al-'Abbas dan seorang lain (menurut Ibnu 'Abbas, 'Ali); Haykal menulis beliau berjalan bersandar pada 'Ali di satu sisi dan al-'Abbas di sisi lain, dan pada Senin pagi bersandar pada 'Ali dan al-Fadhl. Mimbar. Ibnu Hisyam memisahkan penuturannya: pilihan seorang hamba dan pintu Abu Bakar, perintah tentang Usamah, serta wasiat untuk Anshar, masing-masing dengan perawi sendiri; Haykal menyatukannya dalam satu pidato di mimbar. Yang hanya ada di Haykal. Bisikan beliau kepada Fathimah, keinginan beliau menulis wasiat dengan pena dan kertas, tujuh dinar yang beliau minta disedekahkan pada hari Ahad, dan kalimat beliau tentang kuburan yang dijadikan masjid pada Senin pagi tidak kami temukan di bab Ibnu Hisyam ini; penerjemah Haykal memberi catatan yang meragukan keaslian kisah penulisan wasiat dan kalimat tentang kuburan itu. Haykal juga menulis beliau memerintahkan semua yang ada di rumah, kecuali al-'Abbas, mencicipi obat yang diberikan; Ibnu Hisyam tidak menyebut hal ini. Yang hanya ada di Ibnu Hisyam. Percakapan al-'Abbas dan 'Ali tentang siapa penerus beliau tidak kami temukan di bagian Haykal yang kami baca. Perintah mengimami shalat. Dalam Ibnu Hisyam beliau menyebut sahabat-sahabat Yusuf ketika 'Aisyah berkeberatan; dalam Haykal (terjemahan Inggris) beliau berseru "How obsessive are women!" dan menyuruh Abu Bakar segera mengimami. Kedua sumber memuat kisah 'Umar yang sempat bertakbir. Ucapan terakhir. Ibnu Hisyam menulis "Bersama teman yang paling tinggi di surga"; Haykal (terjemahan Inggris) menulis "Rather, God on High and Paradise". Khan hanya menulis beliau shalat Subuh dengan Abu Bakar sebagai imam, lalu wafat pada hari itu, dan tidak memuat pindah ke rumah 'Aisyah.
- Ziarah ke Baqi'
Awal sakit beliau
Ketika kaum Muslimin bersiap berangkat bersama Usamah, beliau jatuh sakit pada akhir Shafar atau awal Rabi'ul Awwal. Sakit itu bermula setelah beliau menziarahi Baqi' al-Gharqad pada pertengahan malam untuk memintakan ampunan bagi para penghuninya. Abu Muwaihibah, mantan budak beliau, menuturkan bahwa beliau diberi pilihan antara kunci-kunci kekayaan dunia dan bertemu Tuhannya serta surga, dan beliau memilih yang kedua.
Baca selengkapnya
Tatkala kaum Muslimin tengah bersiap-siap untuk berangkat bersama Usamah bin Zaid, beliau jatuh sakit, karena Allah ingin memuliakannya dan merahmatinya pada akhir Shafar atau awal Rabiul Awwal. Awal mula sakitnya Rasulullah, sebagaimana dituturkan kepadaku, adalah bahwa beliau keluar untuk menziarahi kuburan Baqi' al-Gharqad pada pertengahan malam untuk memintakan ampunan bagi para penghuninya, setelah itupun beliau pulang ke rumahnya. Dan keesokan harinya beliau jatuh sakit.1
'Abdullah bin 'Umar bercerita kepadaku, dari 'Ubaid bin Jubair mantan budak al-Hakam bin Abu al-'Ash, dari 'Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash, dari Abu Muwaihibah, mantan budak Rasulullah, ia bercerita: Menjelang tengah malam Rasulullah bersabda padaku: "Wahai Abu Muwaihibah, aku diperintah agar memintakan ampunan bagi para penghuni kuburan al-Baqi'. Maka, ikutlah engkau bersamaku." Kemudian aku pun menemani beliau. Tatkala berdiri di tengah-tengah kuburan al-Baqi', Rasulullah bersabda: "As-Salamu 'Alaikum, wahai penghuni kuburan, berbahagialah kalian semua dengan apa yang kalian rasakan di dalamnya, daripada apa yang kini dirasakan manusia. Banyak cobaan kini datang bagaikan serpihan malam yang gelap gulita dimana cobaan terakhir menyusul cobaan pertama dan cobaan terakhir lebih buruk daripada cobaan pertama." Kemudian beliau menghadapkan wajahnya kepadaku dan bersabda: "Wahai Abu Muwaihibah, telah diberikan kepadaku kunci-kunci kekayaan dunia, keabadian di dalamnya, dan surga, lalu aku perintahkan untuk memilih di antaranya atau aku memilih dengan pilihan bertemu Tuhanku dan surga." Aku berkata: "Wahai Rasulullah, ambillah kunci-kunci kekayaan dunia, keabadian di dalamnya, dan surga." Beliau bersabda: "Tidak, demi Allah, wahai Abu Muwaihibah, aku lebih mencintai bertemu dengan Tuhanku dan surga." Setelah itu, beliau memohonkan ampunan bagi penghuni kuburan al-Baqi', setelah itu pulang, dan esokna mulai sakit-sakitan yang membuatnya meninggal dunia.12
- Pindah ke rumah 'Aisyah
Sakit kepala dan izin para istri
Menurut 'Aisyah, sepulang dari Baqi' ia sakit kepala, dan beliau menjawab kepalanya justru lebih sakit. Sakit beliau makin parah, tetapi beliau tetap mengunjungi istri-istrinya sampai sakitnya berat di rumah Maimunah. Beliau memanggil para istri dan meminta izin dirawat di rumah 'Aisyah, dan mereka mengizinkan.
Baca selengkapnya
Sepulang beliau dari kuburan al-Baqi' beliau mendapatiku sakit kepala. Aku berkata: "Aduh, kepalaku sakit sekali." Rasulullah bersabda: "Demi Allah, wahai 'Aisyah, kepalaku ini justru jauh lebih sakit."3
'Aisyah berkata: Kemudian Rasulullah bersabda lagi: "Bagaimana kiranya jika engkau meninggal dunia sebelum aku lalu engkau kumandikan dan kafani, setelah itu ku shalati dan kukuburkan?" Aku berkata: "Demi Allah, jika itu yang terjadi padaku engkau pasti pulang ke rumahku lalu bermesraan dengan salah seorang istrimu." Mendengar itu Rasulullah tersenyum. Hari berganti hari sakit beliau semakin parah. Walau demikian beliau tetap menyempatkan diri mengunjungi istri-istrinya hingga akhirnya sakit beliau semakin parah tatkala beliau berada di rumah Maymunah. Beliau lalu memanggil istri-istri beliau dan meminta izin kepada mereka untuk dirawat di rumahku. Mereka memberi izin kepada beliau sehingga aku bisa merawat beliau di rumahku.4
- Mimbar dan pintu Abu Bakar
Dirawat di rumah 'Aisyah
Beliau dipapah al-Fadhl bin al-'Abbas dan seseorang lain, yang menurut Ibnu 'Abbas adalah 'Ali, masuk ke rumah 'Aisyah. Setelah disiram tujuh gayung air dari beragam sumur, beliau keluar ke mimbar, memintakan ampunan bagi syuhada Uhud, dan bersabda bahwa seorang hamba diberi dua pilihan lalu memilih apa yang ada di sisi Allah. Abu Bakar menangis, dan beliau menyuruh menutup pintu-pintu menuju masjid kecuali rumah Abu Bakar.
Baca selengkapnya
Yaqub bin 'Utbah bercerita kepadaku, dari Muhammad bin Muslim az-Zuhri, dari 'Ubaidillah bin 'Abdullah bin 'Utbah, dari 'Aisyah, istri beliau, ia berkata: Dalam perjalanan pulang dari rumah salah seorang istrinya Rasulullah di papah oleh dua orang, yaitu al-Fadhl bin al-'Abbas dan seseorang lainnya hingga beliau masuk ke rumahku. 'Ubaidillah berkata: Aku menanyakan 'Abdullah bin 'Abbas siapa orang itu, 'Abdullah bin 'Abbas berkata: "Dia adalah 'Ali bin Abu Thalib."1
'Aisyah melanjutkan: Rasulullah tidak sadarkan diri dan sakitnya pun bertambah parah. Setelah itu, beliau bersabda: "Siramkan kepadaku tujuh gayung dari beragam sumur agar aku fit kembali dan dapat keluar menemui orang-orang dan memberi wasiat kepada mereka. Aku mendudukkan beliau di gentong air milik Hafshah binti 'Umar bin Khaththab dan menyiramkan air kepada beliau, hingga beliau berkata: "Sudah cukup. Sudah cukup."
Az-Zuhri berkata: Ayyub bin Basyir bercerita kepadaku bahwa beliau keluar rumah menuju mimbar. Sesampainya di mimbar beliau duduk kemudian mendoakan para syuhada Perang Uhud, memintakan ampunan untuk mereka, memperbanyak mengucapkan shawalat untuk mereka, lalu bersabda: "Sesungguhnya salah seorang hamba Allah diberi dua pilihan; dunia atau apa yang ada di sisi-Nya, kemudian hamba tersebut memilih apa yang ada di sisi-Nya" Abu Bakar menyadari bahwa yang beliau maksud dengan hamba pada sabdanya adalah beliau sendiri. Oleh karena itu, ia spontan menangis. Abu Bakar berkata: "Biarkan kami menebus engkau dengan jiwa kami dan anak-anak kami." Beliau bersabda: "Tahanlah emosimu, wahai Abu Bakar." Setelah itu Rasulullah bersabda: "Lihatlah pintu-pintu menuju masjid ini, kemudian tutuplah semua kecuali rumah Abu Bakar, karena aku tidak dapatkan orang yang lebih baik persahabatannya denganku daripada Abu Bakar."1
Ada yang meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: "Kecuali pintu Abu Bakar."5
'Abdurrahman bin 'Abdullah bercerita kepadaku dari keluarga Abu Sa'id bin al-Ma'alli bahwa tatkala itu Rasulullah bersabda: "Seandainya aku boleh menjadikan seseorang sebagai kekasihku, tentu aku pasti mengambil Abu Bakar sebagai kekasihku, tapi yang ada hanyalah persahabatan dan persaudaraan seiman hingga Allah menghimpun aku dengannya."16
- Perintah Usamah
Jangan menghalangi pasukan Usamah
Sebagian kaum Muslimin mempersoalkan pengangkatan Usamah yang masih muda. Beliau naik mimbar dan bersabda agar mereka tidak menghalangi pengiriman pasukan Usamah, sebab mempersoalkan Usamah berarti mempersoalkan ayahnya sebelumnya. Usamah berangkat sampai al-Jurf, satu farsakh dari Madinah, memancang tenda di sana, dan tidak meneruskan perjalanan karena sakit beliau makin kritis.
Baca selengkapnya
Muhammad bin Ja'far bin Zubair bercerita kepadaku, dari 'Urwah bin Zubair dan ulama lain bahwa kaum muslimin mencoba menahan kepergian pasukan Usamah bin Zaid sewaktu beliau sakit. Mereka mempersoalkan pengangkatan Usamah bin Zaid sebagai komandan perang. Mereka berkata: "Rasulullah mengangkat anak yang terlalu muda untuk menjadi komandan perang padahal di sana ada sahabat-sahabat utama dari kaum Muhajirin dan kaum Anshar." Sesaat setelah itu beliau keluar lalu duduk di atas mimbar. Rasulullah memuji Allah, menyanjung-Nya dengan sanjungan yang pantas Dia terima, kemudian bersabda: "Wahai manusia, jangan kalian menghalang-halangi pengiriman pasukan Usamah bin Zaid. Aku bersumpah, jika kalian mempersoalkan jabatan komandan perang Usamah, berarti kalian juga mempersoalkan jabatan ayahnya sebelum itu, sebagai komandan. Sungguh Usamah sangat pantas mengemban amanah tersebut sebagaimana ayahnya pantas menerimanya." Kemudian beliau turun dari mimbar dan kaum Muslimin pun bersiap-siap untuk berangkat. Sementara itu beliau semakin parah. Usamah bin Zaid bersama pasukannya berangkat. Tatkala tiba di al-Jurf, daerah yang berjarak satu farsakh dari Madinah, ia berhenti dan memancang tenda di sana. Di sisi lain, sakit Rasulullah semakin kritis. Usamah bin Zaid dan pasukannya tidak meneruskan perjalanan untuk memantau apa yang ditakdirkan Allah untuk Rasulullah.1
- Wasiat untuk Anshar
Obat dari Habasyah
Beliau berpesan agar kaum Muhajirin berbuat baik kepada Anshar, yang beliau sebut pembelanya dan tempat menjaga rahasianya. Sakit beliau lalu makin kritis hingga tidak sadarkan diri; al-'Abbas memasukkan obat ke mulut beliau, dan beliau bersabda bahwa penyakit pleurisy tidak akan Allah timpakan kepadanya. Usamah menuturkan ia pulang ke Madinah dan beliau menengadahkan tangan ke langit lalu meletakkannya kepadanya.
Baca selengkapnya
Az-Zuhri berkata: 'Abdullah bin Ka'ab bin Malik bercerita kepadaku pada saat Rasulullah mendoakan para syuhada' Uhud, memohonkan ampunan untuk mereka, dan menyebutkan tentang mereka, beliau juga bersabda: "Wahai seluruh kaum Muhajirin, tetaplah kalian berbuat baik terhadap kaum Anshar, karena jumlah kalian terus terus bertambah, sedang tidaklah bertambah kecuali sebagaimana keadaan mereka pada hari ini. Sesungguhnya kaum Anshar adalah pembelaku dan tempat menjaga rahasiaku yang aku berlindung kepadanya. Maka berbuat baiklah kepada siapa saja di antara mereka yang berbuat baik dan maafkan siapa saja di antara mereka yang melakukan kesalahan." 'Abdullah berkata: Setelah itu Rasulullah turun dari mimbar lalu masuk ke rumahnya sementara sakitnya semakin kritis hingga beliau tidak sadarkan diri.1
Istri-istri Rasulullah seperti Ummu Salamah dan Maimunah, serta wanita-wanita kaum Muslimin seperti Asma' binti Unais berkumpul di sekitar Rasulullah. Al-'Abbas, paman Rasulullah, juga berada di sisi beliau. Mereka sepakat untuk memasukkan obat ke mulut beliau. Kemudian al-'Abbas memasukkan obat ke mulut Rasulullah. Tatkala siuman, beliau bersabda: "Siapa yang melakukan ini terhadapku?" Orang-orang menjawab: "Wahai Rasulullah, pamanmu sendiri." Rasulullah bersabda: "Itu adalah obat yang dibawa wanita-wanita yang datang dari Habasyah. "Rasulullah bersabda lagi: "Kenapa kalian berbuat seperti itu?" Al-'Abbas menjawab: "Wahai Rasulullah, kami semua khawatir engkau terkena serangan penyakit pleurisy (radang selaput dada)." Rasulullah bersabda: "Penyakit tersebut tidak akan Allah timpakan kepadaku."
Sa'id bin 'Ubaid as-Sabbaq berkata padaku, dari Muhammad bin Usamah, dari ayahnya, Usamah bin Zaid, ia berkata: "Tatkala sakit beliau semakin kritis, aku dan anak buahku pulang ke Madinah, kemudian aku menemui Rasulullah yang pada saat itu diam tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun. Beliau menengadahkan tangan ke langit kemudian meletakkan tangannya kepadaku. Aku pun paham bahwa beliau sedang mendoakanku."17
- Pilihan para nabi
Bersama teman yang paling tinggi
Menurut 'Aisyah, Allah hanya mewafatkan para nabi setelah memberi mereka pilihan. Ucapan terakhir yang ia dengar dari beliau menjelang wafat adalah "Bersama teman yang paling tinggi di surga."
Baca selengkapnya
Ibnu Syihab az-Zuhri berkata: "'Ubaidillah bin 'Abdullah bin 'Utbah bercerita kepadaku, dari 'Aisyah ia berkata: "Saat itu, aku seringkali mendengar Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya Allah hanya akan mewafatkan para nabi apabila Dia sudah memberinya pilihan." Menjelang wafat, ucapan terakhir yang aku dengar dari beliau adalah: "Bersama teman yang paling tinggi di surga." Aku berkata: "Jika demikian, demi Allah, Rasulullah tidak memilih kami dan tahulah aku bahwa beliaulah yang pernah bersabda kepada kami: "Sesungguhnya Allah hanya akan mewafatkan para nabi apabila Dia sudah memberinya pilihan."18
- Abu Bakar menjadi imam
Perintah mengimami shalat
Beliau menyuruh orang-orang mengangkat Abu Bakar sebagai imam shalat. 'Aisyah berkeberatan karena Abu Bakar bersuara rendah dan sering menangis saat membaca Al-Qur'an, tetapi beliau mengulang perintahnya. Menurut 'Abdullah bin Zam'ah, 'Umar sempat bertakbir sebagai imam; beliau bertanya di mana Abu Bakar, lalu Abu Bakar dicari dan mengimami shalat.
Baca selengkapnya
Az-Zuhri berkata: Hamzah bin 'Abdullah bin 'Umar bercerita kepadaku bahwa 'Aisyah berkata: Tatkala sakit Rasulullah bertambah parah, beliau bersabda: "Beritahukan orang-orang untuk segera mengangkat Abu Bakar sebagai imam shalat bagi kaum muslimin." Aku berkata: "Wahai Nabi Allah, sesungguhnya Abu Bakar adalah sosok melankolis, bersuara rendah, dan sering menangis apabila sedang membaca al-Qur'an." Rasulullah tetap bersabda: "Perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam shalat bagi kaum muslimin." Aku memberi masukan seperti tadi kepada Rasulullah, kemudian beliau menanggapi: "Kalian hampir sama dengan sahabat-sahabat Yusuf. Segera perintahkan Abu Bakar menjadi imam shalat bersama kaum muslimin." Demi Allah, aku tetap berkata seperti itu agar tugas imam tidak diserahkan kepada Abu Bakar dan karena aku tahu bahwa orang-orang tidak menyukai seseorang yang berdiri menggantikan tempat beliau serta bahwa mereka akan mencelanya apabila melakukan kesalahan. Aku ingin agar tugas tersebut tidak dibebankan kepada Abu Bakar."
Ibnu Syihab berkata: 'Abdul Malik bin Abu Bakr bin 'Abdurrahman bin al-Harits bin Hisyam bercerita kepadaku, dari ayahnya, dari 'Abdullah bin Zam'ah bin al-Aswad bin al-Muththalib bin Asad, ia berkata: "Tatkala sakit beliau semakin parah, aku berada di tempat beliau bersama beberapa orang dari kaum Muslimin. Bilal bin Rabah mengumandangkan adzan shalat, kemudian Rasulullah bersabda: "Perintahkan seseorang mengimami orang-orang untuk shalat." Aku segera keluar, ternyata 'Umar bin Khaththab sudah berada di tengah-tengah kaum Muslimin. Aku berkata: "Wahai 'Umar, berdirilah dan imamilah orang-orang untuk shalat." 'Umar bin Khaththab pun berdiri. Tatkala ia bertakbir, Rasulullah mendengar suaranya yang sangat lantang, kemudian beliau bersabda: "Dimana Abu Bakar? Allah dan kaum Muslimin tidak menginginkan ini semua. Allah dan kaum Muslimin tidak menginginkan ini semua." Abu Bakar pun lalu dicari. Setelah lama dicari akhirnya Abu Bakar datang lalu Ia mengimami shalat kaum Muslimin. 'Umar bin Khaththab bercerita kepadaku: "Sial wahai anak Zam'ah, apa yang sebenarnya terjadi? Demi Allah, tatkala engkau menyuruhku untuk menjadi imam kaum muslimin, aku pikir Rasulullah memerintahkan itu padamu. Andaikata aku tahu Rasulullah tidak menyuruhmu seperti itu, aku tidak akan mau menjadi imam kaum Muslimin." Aku berkata: "Demi Allah, Rasulullah tidak menyuruhku seperti itu. Hanya saja tatkala aku tidak mendapatkan Abu Bakar, maka aku memandangmu sebagai orang yang paling pantas menjadi imam bagi kaum muslimin."19
- Hari Senin
Subuh terakhir di masjid
Pada hari Senin, hari beliau wafat, Anas menuturkan beliau mengangkat kain penutup kamarnya dan berdiri di pintu 'Aisyah sementara kaum Muslimin shalat Subuh. Abu Bakar bin 'Abdullah bin Abu Mulaikah menuturkan beliau keluar ke masjid dan shalat sambil duduk di sebelah kanan Abu Bakar. Seusai shalat Abu Bakar pulang ke rumahnya di kebun Sunh.
Baca selengkapnya
Az-Zuhri berkata: Anas bin Malik bercerita kepadaku bahwa pada hari Senin, hari dimana Rasulullah wafat, beliau keluar melihat kaum Muslimin yang sedang menunaikan shalat Shubuh. Beliau mengangkat kain penutup kamarnya lalu keluar berdiri di pintu 'Aisyah. Kaum Muslimin hampir saja membatalkan shalat mereka tatkala mereka melihat beliau karena demikian riang gembira. Mereka merenggangkan shaf agar beliau dapat berjalan ke tempat imam, namun beliau memberi isyarat kepada mereka agar tetap berada dalam shalat. Rasulullah tersenyum bahagia melihat shalat kaum Muslimin dan aku belum pernah melihat beliau berpenampilan indah mempesona seindah Shubuh hari itu. Setelah itu, beliau pulang begitu juga dengan kaum Muslimin lainnya yang kali ini sangat yakin bahwa beliau telah sembuh dari sakitnya.1
Abu Bakar bin 'Abdullah bin Abu Mulaikah bercerita kepadaku bahwa pada hari Senin, Rasulullah keluar dari kamarnya menuju masjid untuk menunaikan shalat Shubuh. Tatkala Rasulullah berada di masjid, kaum Muslimin merasa lega dan Abu Bakar pun tahu bahwa kaum Muslimin berbuat seperti itu demi beliau. Oleh sebab itulah, Abu Bakar melangkah mundur dari tempat imam, namun Rasulullah mendorongnya dari belakang sambil bersabda: "Tetaplah engkau menjadi imam shalat untuk kaum muslimin." Rasulullah duduk di samping Abu Bakar dan bertakbir melaksanakan shalat sambil duduk di sebelah kanan Abu Bakar. Seusai shalat, Ra-sulullah berbicara kepada kaum Muslimin dengan nada yang tinggi hingga suaranya keluar dari pintu masjid. Rasulullah bersabda: "Wahai manusia, neraka telah dinyalakan dan terus berkobar-kobar dan beragam ujian telah datang bagaikan serpihan malam yang malam gelap gulita. Demi Allah, kalian tidak bisa meletakkan tugas kewajibanku. Sungguh aku tidak menghalalkan apapun kecuali yang dihalalkan al-Qur'an dan tidak mengharamkan apapun kecuali yang diharamkan al-Qur'an."1
Seusai Rasulullah bersabda seperti itu, Abu Bakar berkata: "Wahai Nabi Allah, pada pagi ini engkau sungguh terlihat berada dalam nikmat Allah dan keutamaan-Nya sebagaimana yang kami harapkan. Hari ini adalah hari Bintu Kharijah, bolehkah aku datang menemuinya? Rasulullah bersabda: "Ya." Abu Bakar pun pulang ke rumahnya di kebun Sunh.10
- 'Abbas dan 'Ali
Siapa penerus beliau
Menurut Ibnu 'Abbas, kaum Muslimin bertanya kabar beliau kepada 'Ali, yang menjawab beliau sehat bugar. Al-'Abbas berkata bahwa ia melihat rona kematian di wajah beliau dan mengajak 'Ali menanyakan siapa penerus beliau, tetapi 'Ali menolak. Beliau wafat ketika matahari telah naik memasuki waktu dhuha pada hari itu.
Baca selengkapnya
Az-Zuhri berkata: 'Abdullah bin Ka'ab bin Malik bercerita kepadaku, dari 'Abdullah bin 'Abbas, ia berkata: "Pada hari Senin tersebut kaum muslimin menanti-nanti kabar Rasulullah dari 'Ali bin Abu Thalib yang kala itu telah keluar dari kediaman Rasulullah. Mereka berkata: "Wahai Abu Hasan, bagaimana kondisi Rasulullah pada pagi ini?" 'Ali bin Abu Thalib menjawab: "Alhamdulillah, pagi ini beliau sehat bugar." Al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib memegang tangan 'Ali bin Abu Thalib, kemudian berkata: "Wahai 'Ali, setelah tiga hari engkau akan menjadi seorang budak." Al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib berkata lagi: "Aku bersumpah dengan nama Allah, sungguh aku melihat rona kematian di wajah Rasulullah sebagaimana pernah aku lihat pada wajah-wajah Bani al-Muththalib. Mari kita masuk ke tempat Rasulullah. Jika perkara siapa penerus beliau berada di tangan kita maka kita akan mengetahuinya, namun apabila perkara ini diberikan kepada orang selain kita maka kita minta beliau berwasiat untuk kita kepada manusia. 'Ali bin Abu Thalib berkata kepada al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib: "Demi Allah, aku tidak mau melakukannya. Demi Allah, jika perkara ini tidak diserahkan kepada kita, maka ia tidak akan diberikan kepada siapa pun sepeninggal beliau. Kemudian Rasulullah wafat tatkala matahari telah naik memasuki waktu dhuha pada hari itu."111
- Wafat
Di pangkuan 'Aisyah
Menurut 'Aisyah, beliau berbaring di pangkuannya dan menginginkan siwak yang dibawa 'Ali dan seseorang dari keluarga Abu Bakar. Setelah menggosok gigi, beliau bersabda "Bersama teman yang paling tinggi di surga", lalu wafat. 'Aisyah berkata beliau wafat di pangkuannya dan pada hari gilirannya.
Baca selengkapnya
Yaqub bin 'Utbah bercerita kepadaku dari az-Zuhri, dari 'Urwah, hari itu, Rasulullah pulang dari Masjid beliau kemudian berbaring di atas pangkuanku. Tiba-tiba masuklah 'Ali bin Abu Thalib dan seseorang dari keluarga Abu Bakar dengan membawa siwak berwarna hijau. Beliau melihat siwak yang ada di tangan sahabat tersebut dan dari isyarat itu aku memahami bahwa beliau menginginkan siwak tersebut. Aku berkata: "Wahai Rasulullah, apakah engkau mau aku beri siwak ini?" Rasulullah menjawab: "Ya." Aku ambil siwak lalu mengunyahnya hingga lembek, dan memberikannya kepada Rasulullah. Lalu beliau menggosok giginya dengan siwak tersebut dan sejujurnya aku belum pernah melihat beliau menggosok giginya seperti itu sebelumnya, kemudian beliau meletakkan siwak tersebut. Aku rasa tubuh Rasulullah terasa berat di pangkuanku. Aku lihat wajah beliau, ternyata pandangan beliau terbuka tajam. Beliau bersabda: "Bersama teman yang paling tinggi di surga." Aku berkata kepada Rasulullah: "Engkau diperintah untuk memilih, lalu engkau telah memilih. Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran." Kemudian Rasulullah wafat.1
Yahya bin 'Abbad bin 'Abdullah bin Zubair bercerita kepadaku, dari ayahnya, 'Abbad, ia berkata: Aku mendengar 'Aisyah berkata: "Rasulullah wafat di pangkuanku dan pada hari giliranku. Aku tidak pernah menzalimi siapa pun. Oleh karena kebodohanku karena masih … dan memukul wajahku bersama wanita-wanita yang-lain."112
Catatan
- Ibnu Ishaq.
- Nomor catatan kaki "216" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat. ejaan: tercetak "untukberangkat", kami membaca "untuk berangkat"; tercetak "menyuSul", kami membaca "menyusul"; tercetak "perin tahkan", kami membaca "perintahkan".
- Ibnu Ishaq. Sanad: Yaqub bin 'Utbah bercerita kepadaku dari Muhammad bin Muslim az-Zuhri dari 'Ubaidillah bin 'Abdullah bin 'Utbah bin Mas'ud, dari 'Aisyah, istri Rasulullah.
- Nomor catatan kaki "217", "218" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat.
- Tambahan Ibnu Hisyam.
- Nomor catatan kaki "219" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat.
- Nomor catatan kaki "220", "221", "222" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat. ejaan: tercetak "meletekkar", kami membaca "meletakkan"; tercetak "bahwj", kami membaca "bahwa"; tercetak "Rasullullah", kami membaca "Rasulullah".
- Nomor catatan kaki "223" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat.
- Nomor catatan kaki "224", "225" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat.
- Ejaan: tercetak "h&ri", kami membaca "hari".
- Ejaan: tercetak "pemah", kami membaca "pernah".
- Nomor catatan kaki "226", "227" yang tercetak di dalam teks (beserta kata "ibid" bila ada) tidak kami muat. ejaan: tercetak "temanyang", kami membaca "teman yang"; tercetak "engkau engkau telah", kami membaca "engkau telah". Pada akhir riwayat 'Aisyah ("Oleh karena kebodohanku karena masih ..."), teks cetak terputus antara "karena masih" dan "dan memukul wajahku", sehingga kami menandainya dengan "…" dan tidak menambah kata apa pun.
Bab ini bersumber dari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, yang banyak mengutip Ibnu Ishaq. Ejaan nama mengikuti edisi terjemahan yang kami pakai. Rujukan halaman akan dimuat di lampiran. Bab berikutnya membahas istri-istri beliau.